GERHANA TEBING NERAKA
Oleh Barata
© Penerbit Wirautama, Jakarta
Cetakan Pertama
Dilarang mengutip, memproduksi
dalam bentuk apapun tanpa ijin tertulis dari penerbit
Serial Pendekar Cambuk Naga episode
Gerhana Tebing Neraka
Wirautama, 1991
128 Hal.; 12.18 Cm.; 01.1290.50.4
1
DEBU beterbangan dan denting senjata tajam
beradu semakin tiada hentinya. Seorang kakek ber-
jenggot panjang memainkan tongkat besinya dengan
gerakan cepat, ia menangkis pedang bermata dua yang
dilancarkan ke arahnya. Bukan hanya pedang bermata
dua yang ia layani, namun sebuah tombak bermata
pedang pun sesekali ditangkisnya dengan gerakan me-
liuk-liuk.
Kakek berjenggot panjang berwarna putih ke-
merah-merahan itulah yang dikenal sebagai Si Tongkat
Besi. Sedangkan kedua lawannya itu, sebelum mereka
menyerang, mereka telah memperkenalkan diri sebagai
Perampok Bergolo. Nama Perampok Bergolo cukup
kondang kekejamannya. Mereka adalah: Naroma dan
Mando. Keduanya dikenal sebagai manusia haus da-
rah. Setiap bertemu dengan orang yang melintasi hu-
tan Bergolo, mereka selalu tidak memberikan orang
tersebut untuk bernafas seterusnya. Tak peduli lelaki
atau perempuan, besar atau kecil, asal lewat kawasan
hutan Bergolo, pasti mereka bunuh. Adakalanya mere-
ka cincang mayat orang tersebut dan direbus untuk di-
jadikan santapan.
"Rupanya kau cukup tangguh juga, Kakek
peot!" kata Mando dengan mengibaskan pedangnya ke
arah perut si Tongkat Besi. Tetapi menangkisnya sam-
bil mengayunkan kaki kanannya ke wajah Mando.
"Heaaat...!" pekik Naroma seraya meloncat dan
menerjang Tongkat Besi. Pinggang kakek tua itu terke-
na tendangan Naroma hingga ia tersungkur ke depan.
Tongkatnya segera menancap di tanah, dan kakek tua
itu tak sempat roboh. Tubuhnya bagai ditopang tong
kat besi berkepala monyet. Ujung tongkat yang berben-
tuk kepala monyet dari ukiran besi itu segera menyo-
dok Naroma dengan gerakan balik yang cukup menga-
getkan Naroma sendiri.
"Heeg...!" Naroma mendelik, dan ujung tongkat
yang lain segera berputar ke atas lalu menghantam
kepala Naroma. Lelaki berpakaian serba merah itu
mengaduh sambil berjungkir balik di tanah. Senjata
pedang bermata dua dari Mando menebas dari arah
belakang kakek tua. Tapi dengan tanpa memandang
lawannya, kakek tua itu menggerakkan tongkatnya,
menyodok ke belakang dan tepat mengenai selangkan-
gan Mando. Akibatnya, lelaki bercelana hitam dengan
bajunya yang hitam pula itu menyeringai kesakitan. Ia
sempat terpincang-pincang menjauhi Tongkat Besi.
Kakek tua itu terkekeh sebentar, sambil berdiri
seenaknya menunggu serangan berikutnya. "Masa' pe-
rampok yang sudah kesohor kekejamannya cuma bisa
mengaduh dan meringis? Ayo, keluarkan semua ilmu
kalian, jangan sungkan-sungkanlah... aku siap mene-
rimanya."
"Kakek sombong!" geram Naroma dengan sen-
git. "Terimalah jurus Tapak Braja-ku ini, hiaaat...!"
Kedua tangan Naroma terbuka, diarahkan ke
kakek tua dengan satu gerak pukulan berganda. Tong-
kat Besi berdiri tegak, kedua kakinya sedikit meren-
tang, dan kedua tangannya ditarik mundur, sehingga
seakan ia menonjolkan dadanya. Dengan telak sekali
kedua telapak tangan Naroma menghantam dada
Tongkat Besi.
"Daab...!" Lalu keluarlah asap dari pukulan itu.
Namun si Tongkat Besi yang berjubah kuning itu
hanya terkekeh selagi kedua telapak tangan Naroma
belum terlepas dari dadanya. Kakek tua itu malahan
mengangkat pundaknya dengan tangan terbuka, sea-
kan menyepelekan pukulan Tapak Braja tersebut.
Melihat temannya disepelekan oleh kakek tua,
maka Mando buru-buru melepas senjatanya dan ber-
gerak gesit mengerahkan tenaganya. Jurus yang dipa-
kai hampir sama gerakannya dengan yang digunakan
Naroma tadi. Hanya saja, Mando tidak membuka tela-
pak tangannya, namun ada dua jari yang terlipat, jari
kelingking dan jari manis. Kedua jari itu ditekuk se-
dang yang lainnya mengejang kaku. Kedua tangan
yang berposisi demikian itu disodokkan dengan kuat-
kuat ke arah punggung kakek tua. "Jubb...!" Kedua jari
dari masing-masing tangan Mando bagai membenam di
punggung kakek tua. Asap tipis mengepul berwarna
abu-abu. Saat itu pula, asap putih yang mengepul dari
tangan Naroma masih terlihat menempel di dada kakek
tua.
Si Tongkat Besi terkekeh-kekeh. Lalu menung-
gu sejenak, dan ia mencibirkan bibirnya dengan wajah
kecewa. Mando dan Naroma segera mundur, mencabut
pukulan andalan masing-masing. Mereka sama-sama
memandang bengong dan terheran-heran. Mando
mendekat Naroma dan berbisik, "Setan alas! Jurus an-
dalan kita tidak membuatnya bergeming sedikit pun."
"Ada lagi?" tanya Si Tongkat Besi dengan sorot
mata orang yang sedang kecewa. "Jangan jadi peram-
pok kalau tidak bisa membunuh orang. Jadi penari sa-
jalah...." ejek Tongkat Besi dengan sinis.
Kedua perampok Bergolo itu semakin geram.
Mereka merasa tidak dihargai sama sekali. Baru seka-
rang mereka menemukan lawan yang sama sekali ti-
dak punya rasa takut atau pun ngeri terhadap mereka.
Baru kali ini juga pukulan Tapak Braja Naroma sama
sekali tidak berguna. Biasanya batu besar saja hancur
oleh pukulan Tapak Braja, tetapi kali ini bahkan ma-
nusia tua seperti Si Tongkat Besi, benar-benar melebi-
hi dari batu manapun. Bergeming saja tidak, malah
sempat menyepelekan dan mengejeknya. "Gila! Orang
macam apa dia?" pikir Naroma. Demikian pula Mando
yang berbisik geram kepada Naroma: "Kita ketemu se-
tan. Sukar dipercaya kalau pukulan Gempur Batu-ku
tak punya kekuatan sama sekali buat menghancurkan
si tua bangka ini! Bah!"
Tongkat Besi bersandar di pohon serapa berka-
ta, "Yah... berembuklah dulu sana. Cari jurus yang bi-
sa buat membunuh. Jangan cari jurus yang hanya bi-
sa buat membakar jagung, Tidak hebat itu...!"
"Kurang ajar...!" geram Mando. "Kita serang
dengan jurus Hujan Darah...!"
"Mari...!" jawab Naroma dengan gemas. Lalu
keduanya memanfaatkan senjata masing-masing lagi.
Jurus Hujan Darah mereka lancarkan, yaitu suatu ju-
rus yang harus menggunakan senjata tajam, di mana
masing-masing senjata telah dialiri tenaga inti. Gera-
kannya begitu cepat, keduanya mempunyai gerakan
yang serupa. Kemudian mereka meluncur bagai sepa-
sang kumbang terbang.
"Heaaat...!!"
Kakek tua itu malah an tenang-tenang saja,
menonton gerakan mereka yang meluncur bagai kum-
bang hendak menyerbu kelopak bunga. Kakek tua itu
hanya memegangi tongkat besinya dan menundukkan
kepala bagai mendapat serangan angin yang bisa
membuat mata pedas. Tapi ia tidak melawan atau
menghindar sama sekali.
"Crak...! Crak...! Juub...! Juub, jub, jub...!!"
Senjata perampok Bergolo dengan rakus meng-
hunjam tubuh tua renta itu. Bertubi-tubi dengan ke
cepatan melebihi derasnya hujan, senjata-senjata itu
menebas dan menusuk ke seluruh tubuh kurus, ting-
gal tulang dan kulit. Anehnya, sejauh ini belum ada
darah dan belum ada luka yang ke luar dari tubuh
yang tinggal tulang terbungkus kulit itu. Bahkan sehe-
lai jenggotnya tak ada yang terpotong. Tapi kedua pe-
rampok kondang dari hutan Bergolo itu masih terus
menghujani tubuh kurus itu dengan senjata mereka
masing-masing.
Pada saat itu, ada sepasang mata yang me-
mandang adegan tersebut. Sepasang mata itu milik
seorang lelaki bertubuh tegap, kekar dan bermata ta-
jam namun meneduhkan. Ia mengenakan ikat kepala
dari kulit macan tutul untuk merapikan rambutnya
yang panjang sebatas punggung, namun tidak menu-
tupi sebilah pedang bergagang kepala ular kobra yang
bertengger di punggungnya. Orang itu, tak lain adalah
Pendekar Pusar Bumi, atau yang bernama asli: Domas
Lanangseta.
"Keterlaluan! Memalukan sekali, seorang kakek
sampai dikeroyok dua dan dihujani senjata bertubi-
tubi!" geram Lanangseta. Ia buru-buru melesat cepat
ke arah mereka. Kemudian dengan bersalto dalam satu
loncatan, kedua kakinya berhasil menendang Naroma
dan Mando dengan keras.
"Lepaskan...! Pengecut kalian!"
Perampok Bergolo terpental lima langkah dari
tempat Si Tongkat Besi berdiri. Naroma sempat men-
cium tanah dengan kasar, akibatnya mulutnya nyo-
nyor dan berdarah. Sedangkan Mando, hanya tergul-
ing-guling ke arah semak-semak. Lalu ia segera bang-
kit dengan pedang bermata duanya di angkat ke atas.
Ia segera menyerang Lanangseta dengan geram
dan buas.
"Bangsat busuk... heeaaat...!"
"Wes, wes...!" Dua kali tebasan diberikan untuk
Lanang. Tapi gerakan Lanang dalam menghindar cu-
kup dengan memiringkan badan ke kanan dan kemu-
dian ke kiri. Lewat sudah sabetan pedang bermata dua
itu. Kini tinggal sebuah pukulan yang selayaknya pan-
tas diberikan di pelipis Mando.
"Aaahkk...!" Mando menjerit kesakitan. Kepa-
lanya menjadi puyeng. Ia tersungkur mencium akar
pohon.
"Jangan turut campur dengan urusan kami!"
bentak Naroma sambil sesekali meludah karena mu-
lutnya berdarah. "Kami tidak punya urusan dengan-
mu, setan kencur!" Lanangseta memandang kakek tua
itu sebentar. Oh, ia tidak terluka, pikir Lanang. Dan
kakek tua itu malahan tetap bersandar di pohon den-
gan tenang, seakan ia menyaksikan suatu pertarungan
yang seru.
"Pergi kau, atau memang ingin mencoba kebua-
san kami: perampok-perampok Bergolo? Iya?!" Naroma
berseru dari arah belakang Lanangseta. Saat itu, La-
nang hanya menyunggingkan senyum tipis. Matanya
yang tajam bergerak-gerak penuh kewaspadaan.
"Kalau boleh kutahu, apa kesalahan kakek tua
itu sehingga kalian menyerangnya sampai membabi
buta?" tanya Lanangseta.
"Kami lapar! Sudan tujuh hari tidak ada orang
lewat sini, sebab itu sudah tujuh hari kami puasa!" ja-
wab Mando.
"O, jadi kalian membunuh manusia untuk di-
makan?!"
"Ha, ha, ha... kau belum tahu kalau daging
manusia itu lebih gurih, lebih manis dan sangat men-
guatkan badan!" Naroma berkata sambil bertolak ping
gang sebelah.
Mando menyahut, "Kalau perlu, tubuh kekar
seperti kamu itulah yang menjadi santapan istimewa
kami! Tetapi, terlebih dulu kami akan menikmati dag-
ing kakek tua peot ini yah... sebagai hidangan kecil
atau buat camilan."
"Biadab!" geram Pendekar Pusar Bumi. "Manu-
sia seperti kalian memang harus di musnahkan...!!"
"Naroma...! Serang...!"
Kedua perampok Bergolo meloncat dan menye-
rang Lanangseta dari arah kiri dan kanan. Lanangseta
bersalto mundur dua loncatan. Kedua perampok Ber-
golo itu hampir saja saling bertabrakan. Namun hal itu
dapat dihindari dengan bergulirnya tubuh Naroma ke
arah samping. Begitu kakinya menjejakkan bumi, ia
berada dalam satu jangkauan di depan Lanangseta.
Tanpa menunggu serangan law an, Lanangseta menye-
rang dengan pukulan kuat yang mengenai rahang Na-
roma. Orang bersenjata tombak itu terdongak dan
memekik kesakitan. Tombaknya yang berujung mata
pedang itu digerakkan menusuk Lanangseta. Tetapi
belum sempat tombak itu menyentuh perut Lanangse-
ta, kaki Pendekar Pusar Bumi itu telah lebih dulu me-
nendang tulang rusuk Naroma hingga terdengar bunyi
berderak, "Kraak...!"
"Aaaoow...!!" Naroma menjerit sambil memegan-
gi tulang rusuknya. Ia terhuyung-huyung dan jatuh.
Lanangseta hendak menendang kepala Naroma, tetapi
sekelebat pedang bermata dua melintas di kepalanya
membuat Lanang terpaksa berguling menghindarinya.
Mando menyusul ikut berguling sembari mene-
baskan pedangnya, tetapi Lanangseta lebih dulu mele-
jit bagai udang. Melambung ke udara dan kembali ber-
diri dalam posisi sigap. Pendekar Pusar Bumi merasa
tak perlu terlalu banyak membuang waktu. Ia harus
segera memberi pelajaran terhadap kedua orang terse-
but. Dan seketika itu pula, "srett..!" Pedang Wisa Kobra
melesat dari sarungnya yang ada di punggung.
Mando tampak paling penasaran, karena sejak
tadi mereka tak dapat menyentuh tubuh Lanangseta.
Maka dengan gerakan jurus Hujan Darah, ia menye-
rang, menebaskan pedangnya dalam berbagai arah dan
berbagai cara. Tetapi pada saat pedang Wisa Kobra
menangkisnya, terdengar bunyi: "Trrakk...!" Mando
terbengong menatap pedang mata duanya. Pedang itu
telah buntung, tinggal beberapa jari dari gagangnya.
Melihat pedang temannya buntung di tebas pe-
dang lawan, Naroma melompat seraya melemparkan
tombaknya dengan cepat. Gerakan tombak itu bagai
tak bisa diikuti oleh pandangan mata manusia. Tetapi
agaknya pedang Wisa Kobra lebih awas, sehingga den-
gan sekali sekelebat saja pedang itu telah berhasil me-
nangkis tombak Naroma.
Agaknya Naroma juga mengalami nasib sama
seperti Mando. Tombaknya itu jatuh ke tanah dalam
keadaan patah terpotong menjadi dua bagian.
"Jahanaaaam...!!" Naroma menyerang dengan
marah. Lanangseta menghindar sambil menyarungkan
pedangnya kembali. Mando menyerang dari arah bela-
kang, tetapi tangan kiri Lanang dengan tangkas berha-
sil memegang pergelangan tangan Mando, tanpa ia
menoleh ke belakang lebih dulu. Dengan satu tarikan
kuat, tubuh Mando melayang dan jatuh di depan La-
nangseta. Secepat itu pula tangan kanan Lanangseta
memukul dada Mando. Kuat dan bertenaga pukulan
itu. Mando memekik kesakitan, dadanya menjadi biru
legam.
Naroma tak bisa tinggal diam. Ia mengeluarkan
jurus tendangan Kipas Rantai. Tendangannya begitu
cepat dan berputar-putar, yang kiri ganti kanan, ganti
kiri, dan sangat cepat. Debu tanah berhamburan. La-
nangseta menghindar beberapa kali, lalu tiba-tiba ia
memperoleh peluang untuk menghantam tulang iga
Naroma. "Kraak...!" Bunyi tulang iga patah. Naroma
melejit sambil mengaduh kesakitan.
Tanpa banyak pertimbangan lagi, Naroma me-
lompat semakin menjauhi Lanangseta. Mando tahu ge-
lagat, Naroma ingin kabur. Lalu ia berkata kepada La-
nangseta;
"Ada saat untuk bertemu dan membalas. Tung-
gulah itu...!" Mando segera melesat dengan memegangi
dadanya yang terkena pukulan hebat dari Lanangseta.
Keduanya kabur dengan cepat, bagai menghilang di
balik tumpukan batu cadas. Lanangseta hendak men-
gejar, tapi tiba-tiba langkahnya terhenti karena kakek
tua itu telah berdiri menghadangnya dengan tongkat
besi di tangan, ujungnya menancap di tanah.
"Hebat...! Pedangmu itu sungguh hebat...!" kata
Tongkat Besi. Janggutnya yang berbulu merah kepu-
tih-putihan itu melambai-lambai dihempaskan semilir-
nya angin. "Kau punya kesaktian di dalam pedangmu
itu, anak muda."
"Hanya sekedar pedang biasa, Kek. Tetapi...."
Belum habis Lanangseta berkata-kata, kakek tua itu
mendadak menyerangnya dengan menggunakan tong-
kat besi tersebut.
"Hei, apa-apaan ini...?!" Lanang terkejut heran.
Ia sempat melompat untuk menghindari sodokan
tongkat besi.
"Cobalah tongkat besiku ini, anak muda...!"
Mampukah kau memotong-motongnya? Heaaahh...!"
Lanangseta berguling di udara. Hempasan an
gin tongkat besi begitu kuat sehingga tubuh Lanangse-
ta bagai terdorong oleh suatu tenaga besar. Lanang se-
dikit menggeragap, ia canggung untuk melawan. Ia
bingung, mengapa kakek ini sudah ditolong . malah
ganti menyerang? Bahkan serangannya amat cepat,
bertubi-tubi sehingga tidak memberi kesempatan ke-
pada Lanangseta untuk bicara. Lanang hanya melom-
pat, menghindar, berguling, berkelit, dan begitu sete-
rusnya sampai-sampai hal itu membuat Si Tongkat
Besi menjadi geram dan dongkol sendiri.
"Keparat...! Seranglah aku jangan hanya berta-
han! "Gunakan pedangmu itu! Ayo...! Ayooo...!"
"Wuss... Wsuuss...!" Tongkat memukul dan me-
nyodok dengan satu kekuatan dalam yang tersalur di
batang tongkat itu. Lanangseta tak berani menangkis
pukulan tongkat yang dialiri tenaga dalam itu. Ia
hanya menghindar terus sampai-sampai keringatnya
membanjir di sekujur tubuh. Untuk menguji kekuatan
tenaga dalam tongkat itu, Lanang sengaja mencari
tempat di dekat pohon, tempat di mana kakek tua itu
tadi bersandar santai. Ternyata dugaan Lanangseta ti-
dak meleset. Ketika tongkat besi itu melayang ke arah
kepalanya, Lanang menyempatkan diri untuk tetap di-
am. Dalam jarak beberapa mili saja ia segera merun-
duk, dan tongkat itu mengenai batang pohon. Tanpa
tanggung-tanggung lagi, kulit batang pohon itu menge-
lupas dan tongkat itu ada di kedalaman batang pohon
tersebut. Bagai sebilah pisau menancap pada gedebong
pisang yang busuk.
"Pukulan yang hebat!" kata Lanangseta. Kakek
tua itu sedang berusaha mencabut kembali tongkatnya
dari batang pohon. Sebab itu ada kesempatan bagi La-
nang untuk bertanya, "Mengapa kakek menyerangku
dengan sungguh-sungguh?"
"Karena kau tolol, tidak mau menyerangku!"
"Aku sudah menolong kakek, dan di antara kita
memang tidak ada masalah? Haruskah aku menyerang
orang tanpa salah dan tanpa persoalan apapun?"
"Ya. Harus...!"
"Beet...!" Tongkat berhasil dicabut, dan segera
dipukulkan ke arah Lanangseta.
Hampir saja perut Lanangseta terkena goresan
dari ujung tongkat itu jika ia tidak berkelit ke bela-
kang. Lalu gerakan tongkat itu cukup mencengangkan
Lanangseta, di mana ia mendapat serangan lagi, tong-
kat itu bergerak bagai hendak menebas perutnya. La-
nang menggerakkan perutnya ke belakang, otomatis
kepalanya maju ke depan. Tapi ternyata tongkat itu ti-
dak menebas melewati depan perut, melainkan berhen-
ti di depan perut, lalu dengan cepat dihentakkan ke
atas menuju muka Lanang. Karena terlatih bergerak
gesit, maka Lanang dapat menghindari gerakan tipuan
itu dengan memiringkan kepala ke kiri pada saat tong-
kat bergerak ke atas. Tapi tongkat itu turun kembali
dengan kecepatan yang luar biasa, sehingga hampir
saja menghantam ubun-ubun Lanangseta jika ia tidak
segera berguling sambil mencabut pedangnya.
Baru saja ia bangun, tahu-tahu tongkat besi itu
berkelebat di depan batang. hidungnya dengan cepat.
Anginnya cukup kuat sehingga ia terjengkang jatuh.
Kakek tua dengan seringai kemenangan segera meng-
hunjamkan tongkatnya ke perut Lanangseta, tetapi
pedang Wisa Kobra menangkisnya. Dengan satu kali
tebasan, pedang itu mampu memotong tongkat terse-
but menjadi dua bagian. Lalu menebas lagi, dan tong-
kat itupun terpotong lagi. Lanang segera melejit bagai
udang, dan bersalto ke belakang menjauhi kakek tua.
Tawa terkekeh dan tepuk tangan terdengar dari
arah Si Tongkat Besi berdiri.
"Hebat...! Bagus...! Itu namanya pendekar sak-
ti...!" puji Tongkat Besi yang sempat membingungkan
pikiran Lanang. Ia benar-benar tak tahu, mengapa ka-
kek tua yang bernafsu membunuhnya itu sekarang
malahan kelihatan gembira setelah senjatanya terpo-
tong-potong menjadi tiga bagian. Ia manggut-manggut
seraya memandang bangga kepada musuhnya. Bahkan
kini ia mengacungkan jempol tanda memuji.
Dengan dahi masih berkerut, Lanangseta me-
nyarungkan kembali pedangnya ke punggung. Tapi
kakek tua itu segera berteriak dengan cemas, "Hei,
hei... jangan sarungkan dulu pedangmu!"
"Aku tidak punya urusan denganmu, Kakek
Tua."
"Namaku Si Tongkat Besi. Kumohon dengan
hormat, bertarunglah denganku. Ku mohon dengan
sangat, jangan kecewakan aku. Ayo, bertarunglah dan
gunakan senjatamu itu. Aku tak akan menggunakan
senjata apa-apa...."
"Itu bahkan tidak adil," seraya Lanang me-
nyunggingkan senyum sinisnya.
"O, tidak. Tidak apa-apa. Aku tidak menuntut
keadilan, aku hanya menuntut suatu pertarungan."
"Aneh!" pikir Lanangseta. "Sudah tua renta,
tinggal tulang terbungkus kulit, kok masih senang
berkelahi? Apa maunya sebenarnya?"
"Ayo, seranglah aku dengan pedangmu. Aku ta-
hu, pedang itulah yang akan mampu memotong kepa-
laku!"
"Tidak!" jawab Lanang. "Tidak ada pertarungan
di antara kita, tidak ada permusuhan dan tidak ada
persoalan. Seharusnya kakek berterima kasih kepada-
ku, karena aku telah menyelamatkan kamu, kek. Tapi
mengapa...?"
"Nah, sekarang kau tahu aku tidak berterima
kasih kepadamu. Sebab itu, marahlah. Tuntutlah aku,
dan bertarunglah bersamaku. Ayo, jangan. sungkan-
sungkan...!"
Lanang menggeleng, ia mendekati kakek tua
itu.
"Kakek Tongkat Besi... jangan memaksa seseo-
rang untuk bertindak jahat, karena dirimu akan digo-
longkan sebagai orang yang lebih jahat dari yang kau
suruh. Nah, sekarang, pertemuan kita cukup sampai
di sini saja. Aku punya urusan penting di tempat
lain...!"
"Tunggu...! Tunggu dulu dan jangan pergi...!"
Tongkat Besi memegangi tangan Lanangseta. "Siapa
namamu, nak?" ia bertanya dengan ramah.
"Lanangseta...!"
"Lanangseta, ooh... nama yang bagus. Kama
yang punya perlambang bahwa kau akan menjadi
orang terkenal di rimba persilatan dari seluruh pelosok
dunia. Tetapi hal itu hanya akan terjadi apabila kau
mau melawanku untuk bertarung. Kau memakai pe-
dangmu dan aku tidak. Bagaimana? Mau...?"
Lanangseta merasa berhadapan dengan orang
gila. Kemudian ia menggeleng dan menarik genggaman
tangan Tongkat Besi, dan ia berjalan kembali. Tetapi
kakek tua itu kembali memegang tangan Lanangseta
seraya memohon dengan nada kasihan:
"Tolonglah... ayo, bertarung denganku. Kau
pasti akan menang. Percayalah! Bertarunglah sebentar
saja, dan kujamin dengan sekali tebas kepalaku akan
terpisah dari leher. Kau bisa melanjutkan perjalanan
kembali...."
Lanang jengkel sendiri. "Aku bukan jagoan ten
gik!" bentaknya. Dan tiba-tiba Tongkat Besi menarik
tangan Lanangseta kuat-kuat, kemudian melempar-
kannya tubuh yang kekar dan tegap itu. Dengan sekali
ayun, Lanang terlempar dan jatuh di dekat potongan
tongkat besi itu.
"Gila...!" teriak Lanangseta.
Kakek tua atau Si Tongkat Besi, itu tersenyum.
"Rupanya kau perlu kusiksa dulu supaya mau mela-
wanku...!"
"Kakek gila?! Apa-apaan ini sebenarnya? Men-
gapa kau bernafsu sekali bertarung denganku...?"
Kakek tua tidak menjawab, ia menendang La-
nangseta. Mau tak mau Lanangseta berguling ke kiri,
dan melejit ke atas, dan disambut dengan pukulan be-
rantai dari dua tangan kurus itu. Lanang sempat lim-
bung dan sempoyongan. Pernafasannya sangat sesak,
ia nyaris tak bisa bernafas lagi.
Padahal yang diterimanya adalah pukulan tan-
pa tenaga dan dilancarkan dari kedua tangan kurus
kering.
"Ayo, lawan aku. Jangan dengan tangan ko-
song, nanti kau mati jika melawanku dengan tangan
kosong. Pakai pedangmu!"
"Gila! Betul-betul gila! Apa maunya sebenar-
nya?!" pikir Lanang sambil melangkah mundur. Me-
mandang penuh keheranan.
*
**
2
KAKEK TUA itu memungut kembali potongan-
potongan tongkat besinya. "Barangkali kau mau bela-
jar padaku tentang ilmu Sambung Besi, asal kau janji,
setelah kuajarkan ilmu itu, kau mau bertarung den-
ganku dun harus memakai pedangmu itu."
Karena penasaran, Lanangseta bertanya. "Ke-
napa harus memakai pedangku ini?"
"Menurut dugaanku, pedangmu itu bisa memo-
tong besi, atau benda apapun. Dan itu berarti akan bi-
sa memotong leherku juga."
Mulut Lanangseta masih dalam kebisuan, ma-
tanya memandang potongan tombak besi yang dira-
patkan kembali. Bekas kedua potongan itu digenggam
oleh kakek tua, lalu diurut sambil tersenyum meman-
dang Lanang. Dan kali ini, Lanang jadi terbelalak.
Tongkat Besi yang terpotong itu telah tersambung lagi
tanpa meninggalkan bekas sama sekali. Dua tempat
potongan telah menyatu, rapat dan halus, sepertinya
tongkat itu tak pernah terpotong sebelumnya.
"Hebat...!" gumam Lanangseta. "Memang. Dan
kau bisa mempelajari ilmu Sambung Besi dengan sya-
rat seperti yang kukatakan tadi," kata kakek tua den-
gan suaranya yang serak.
"Keinginan yang aneh," desis Lanangseta.
"Kalau kau melawanku tanpa pedang itu, kau
akan kalah. Aku punya ilmu silat lebih tinggi dari ka-
mu. Juga beberapa jurus tenaga dalam yang lebih he-
bat dari kamu. Aku bisa membuat harimau mati seke-
tika jika aku membentakkan kata mati di hadapannya.
Dan aku bisa menghancurkan gunung sekokoh apa-
pun, jika aku bilang hancur kepada gunung itu. Hebat
kan kesaktianku itu? Kau mau coba?"
Pendekar Pusar Bumi masih tertegun dan ber-
pikir bingung. Kakek tua itu berkata lagi dengan see-
naknya, bagai seseorang sedang membual:
"Kalau pedangmu bisa melukaiku, apalagi sam-
pai bisa memotongku, maka pedangmu itu akan dapat
terbang sendiri dan menuruti kehendakmu. Pedangmu
dapat membunuh siapa saja yang kau perintahkan un-
tuk dibunuh. Kau bisa enak-enak duduk sambil ma-
kan, atau tidur di samping istri mu. Eh, kau sudah
punya istri, anak muda?"
"Belum."
"Nah, kalau kau bisa membunuhku dengan pe-
dangmu, maka oleskanlah darahku pada bibirmu, dan
seumur hidup kau akan menjadi rebutan perempuan-
perempuan cantik. Tak ada perempuan yang mampu
berpaling dan pergi jika memandang bibirmu. Mereka
akan merengek dan kasmaran, lalu bersedia menuruti
perintahmu tanpa punya rasa cemburu."
Senyum Lanangseta tersungging tipis, kaku,
seakan menyepelekan kata-kata Si Tongkat Besi. Ka-
kek tua itu merasa sedang diremehkan oleh pemuda
tegap dan perkasa yang dari tadi berdiri di depannya.
Kemudian Tongkat Besi mengambil sebutir batu kerikil
"Ini apa...?" ia memperlihatkan batu itu kepada La-
nang.
"Batu," jawab Lanang yang semakin seperti
orang bego.
"Iya, yang bilang ini kepalamu siapa?" kakek
tua itu terkekeh. Lanang geli sendiri. Orang ini sangat
aneh dan punya daya tarik tersendiri, pikir Lanang.
Kakek tua itu berkata lagi, "Nah, menurut pen-
glihatan siapa pun, ini adalah batu. Lalu, kugeng-
gam...!" Ia menggenggam batu tersebut. "Ini bukan batu, tapi emas...!"
Tongkat Besi membuka genggamannya, dan
mata Lanangseta terbelalak, bahkan ia sempat merun-
duk untuk memperjelas penglihatannya.
"Gila...! Menjadi emas? Emas betulan...?!"
Dibiarkan tangan Lanangseta memungut batu
yang telah berubah menjadi emas. Lanangseta me-
mandanginya lekat-lekat, nyaris tidak mempercayai
penglihatannya. Kakek tua itu hanya terkekeh-kekeh
dengan gayanya yang sombong dibuat-buat.
"Ambillah kalau kau mau. Dan buktikan, sam-
pai berapa tahun pun ia tetap akan menjadi emas...!"
kata kakek tua.
Lama sekali Lanangseta tertegun dan memper-
hatikan keanehan itu. Kakek tua berkipas-kipas den-
gan menggunakan bagian jubahnya. Rambutnya yang
putih sudah mulai kemerah-merahan itu sudah pasti
amat panjang, namun karena ditekuk dan digulung
menjadi satu di atas kepalanya, maka ia kelihatan ra-
pi. Hanya kumis dan jenggotnya saja yang kelihatan
acak-acakan.
"Kau bisa mempelajari ilmu itu, kalau kau mau
bertarung denganku memakai pedang itu. Ku ajarkan
dulu semua ilmuku, dan kalau sudah habis, baru kita
bertarung. Ku jamin kau pasti menang."
"Dan kakek akan mati?"
"Ya."
"Tidak menyesal mati di tanganku?"
Ia menghela napas. Santai sekali, seakan ogah-
ogahan berbicara. Katanya, "sebetulnya mati di tangan
siapa pun aku mau. Tapi sudah lama aku menunggu
orang yang bisa membunuhku, nyatanya tak ada."
Kata-kata itu kedengarannya sangat aneh dan
ganjil, sehingga Lanangseta merasa perlu ikut duduk
di sebelah Si Tongkat Besi.
"Jadi, apa inti kemauan kakek sebenar-nya?"
tanya Lanangseta setelah membisu beberapa saat
sambil memandangi batu yang telah menjadi emas itu.
"Keinginan mu yang paling utama apa, Kek?"
"Mati!" jawabnya pelan, tapi tegas. Hanya saja
Lanang masih merasa hal itu adalah main-main.
"Aku bertanya dengan sungguh-sungguh, Kek.
Jangan dijawab dengan becanda."
"Hei, kau kira mati itu pekerjaan becanda? Kau
kira orang ingin mati itu lucu? Kau saja yang tolol jika
menganggap begitu. Mati itu suci. Mati itu suatu kegia-
tan yang memerlukan kesungguhan. Tidak main-main.
Dan bagiku, mati itu indah."
"Indah...?" Lanangseta tertawa pendek.
"Nah, sekarang kau yang becanda," ujar Tong-
kat Besi. "Ada pepatah yang mengatakan: mati itu se-
bagian dari pada hidup. Dan hidup itu kodrat!"
Lanang menatap dengan bingung, dan Tongkat
Besi menjelaskan:
"Kamu bisa hidup, itu karena memang kamu
dikodratkan untuk hidup. Jadi hidup itu adalah ko-
drat. Dan di dalam kehidupan mu itu, kau akan me-
nemui berbagai perjalanan yang berujung pada kema-
tian. Jadi, kematian itu adalah sebagian dari pada hi-
dup. Jelas?" Lanangseta menggeleng. Kakek tua meng-
hela nafas. Kesal. Kemudian Lanangseta buru-buru
bertanya:.
"Yang membuatku kurang jelas adalah: menga-
pa kakek ingin mati? Orang-orang berjuang memper-
tahankan hidup dengan berbagai cara, kadang-kadang
cara salah pun dilanggarnya, asal dia bisa tetap hidup.
Nah, sekarang aku menemukan seseorang yang den-
gan cara apa pun ingin mati. Ini aneh. Janggal bagi
alam pikiran saya, Kek."
Tongkat Besi menggumam lirih, merenung se-
bentar, kali ini ia kelihatan lebih serius memandang
Lanangseta.
"Usiaku sudah ratusan tahun. Mungkin empat
ratus tahun, barangkali juga enam ratus tahun. Aku
sendiri tidak jelas dan bingung mengingat-ingatnya."
Pendekar Pusar Bumi berkerut dahi meman-
dang Tongkat Besi dengan keheranan yang menyolok.
Tongkat Besi mengusap-usap jenggotnya seraya berka-
ta:
"Jenggotku sudah bukan putih lagi. Sudah bu-
kan uban lagi, tapi sudah mulai kemerah-merahan.
Jadi ibarat buah anggur, aku ini sudah kelewat ma-
tang dan busuk. Sudah banyak ulatnya. Tapi karena
kesaktianku, aku jadi sulit mati. Padahal aku sudah
bosan hidup. Betul, aku tidak becanda. Aku sudah bo-
san hidup. Sebab itu, aku ingin segera mati."
"Orang lain berusaha untuk mempertahankan
hidup, supaya panjang umur. Tapi, kakek malahan in-
gin memperpendek umur. Bagaimana bisa begitu? Bu-
kankah hidup itu indah?"
"Orang yang tidak memahami kehakikian hi-
dup, akan berkata begitu. Tetapi kalau orang yang su-
dah mengerti betul apa itu hidup dan apa itu mati,
maka akan memilih mati. Sebab di dalam kematian itu
sebenarnya terdapat kehidupan yang langgeng, yang
abadi. Bukankah orang-orang yang cetek pikiran selalu
menghendaki hidup yang langgeng atau yang abadi?
Nah, untuk mencapai itu, dia harus mati. Kalau dia
takut mati, berarti dia takut hidup langgeng. Kalau dia
takut hidup langgeng, untuk apa ia punya cita-cita
panjang umur segala? Kan begitu?"
Lanangseta dihadapkan pada suatu falsafah
yang berputar-putar memusingkan. Ia tertegun, mela-
mun panjang, merenungi kata demi kata. Tapi ia be-
lum juga menemukan suatu pemahaman yang
kongkrit. Tiba-tiba ia berkata:
"Kenapa kakek tidak bunuh diri saja? Dengan
begitu kakak dapat mati sesuai keinginan Kakek itu?"
"Itu kalau bisa," jawabnya kalem. "Seratus kali
aku mencoba bunuh diri dengan berbagai cara, sampai
minum racun yang paling ganas sekalipun pernah ku-
lakukan. Tapi, nyatanya, aku tidak mati. Cuma sakit,
kelojotan, cengap-cengap, ehh... sembuh lagi, sembuh
lagi. Sampai akhirnya aku bosan bunuh diri. Dan se-
cara jujur kuakui, bahwa...." Ia berhenti sebentar lalu
berbisik kepada Lanangseta: "Aku ini orang tolol. Nya-
tanya bunuh diri saja tidak becus. Kalau orang mem-
bunuh dirinya saja tidak bisa, bagaimana dia akan bi-
sa mengatasi hidupnya? Sebab bunuh diri itukan pe-
kerjaan gampang. Guampaaaang... sekali...! Bagi yang
bisa. Nah, kalau pekerjaan yang gampang itu tidak
mampu dikerjakan, apalagi
pekerjaan yang sukar, yaitu hidup. Eh, percaya
atau tidak, kau harus mengakui bahwa hidup itu su-
kar lho? Iya,. kan?"
Lanangseta mengangguk tanpa memahami per-
tanyaan itu. Tapi tiba-tiba ia berkata, "Cuma... saya
rasa sama sukarnya dengan mati, Kek. Memang ada
persamaannya dan ada perbedaannya. Persamaannya
adalah sama-sama membutuhkan waktu dan kesaba-
ran, perbedaannya adalah: beda artinya."
Kakek tua itu tertawa senang. "Nah, sekarang
kau mulai masuk dalam lingkaran hidup dan mati.
Aku senang apabila kaulah orang yang akan membu-
nuhku. Mati di tangan orang pandai itu lebih bermak-
na daripada mati di tangan orang bodoh. Mengerti
maksudku?"
Lanangseta hanya mendesah dalam gumaman
nya. Kemudian ia bergegas bangkit, "Maaf, Kek... se-
nang sekali sebenarnya aku bisa ngobrol panjang-lebar
denganmu. Tapi ada satu keperluan yang harus kuker-
jakan sekarang ini. Aku harus pergi meninggalkan ka-
kek."
"Mungkin aku bisa membantu menyelesaikan
pekerjaanmu. Mari kubantu...! Asal nanti kau bunuh
aku. Setuju?"
"Ini persoalan pribadi. Maaf...!" Setelah bicara
begitu, Pendekar Pusar Bumi melesat cepat dengan
menggunakan peringan tubuhnya yang cukup handal.
Tongkat Besi masih sempat berseru: "Lanangseta...!
Tunggu...!" Kakek tua berjenggot kemerah-merahan itu
ikut mengejar Pendekar Pusar Bumi. Larinya lebih ce-
pat, dan dalam tempo singkat ia dapat mengejar La-
nangseta. Tahu-tahu kakek tua itu sudah berada di
depan Lanangseta. Gawat! Padahal Lanangseta tidak
ingin urusannya dicampuri orang lain. Ia ingin meng-
hadapi resiko itu sendiri, tanpa bantuan siapapun. Se-
bab itu, untuk menghindari Si Tongkat Besi, Lanang
segera mengalihkan arah ke kiri, maka Tongkat Besi
menjadi salah arah. Ia terpaksa menyusul ke arah kiri.
Ia sempat berteriak lagi.
"Akan kubantu segala kesukaranmu! Tunggu-
lah aku, Lanangsetaaa...!"
Melihat Tongkat Besi berkelebat menyusulnya,
Lanangseta segera menggunakan ilmu Lindung Bumi.
Tubuhnya yang tegap, kekar dan perkasa itu tiba-tiba
hilang bagai tersedot ke dasar bumi. Ia berjalan dalam
lapisan tanah tanpa bisa diketahui Tongkat Besi. Ten-
tu saja kakek tua itu merasa kehilangan jejak, dan
menggerutu, menyumpah-nyumpah tak karuan. Padahal ia yakin, pedang yang bertengger di punggung
Lanangseta itulah yang mampu membunuhnya kelak.
Sedangkan bagi Lanangseta, ia merasa tidak
puas jika tugas yang diberikan oleh Rama Sabdawana,
ayah dari Kirana Sari itu, dikerjakan secara bahu-
membahu dengan orang lain. Mengingat tugas itu ada-
lah tugas yang menyangkut harga dirinya, maka harus
dikerjakan secara pribadi.
Lanang masih ingat kata-kata ayah Kirana ke-
tika perempuan itu bicara di depan ayahnya:
"Aku akan kawin dengan Lanangseta, Ayah.
Aku minta izin dan doa restu."
Waktu itu, Lanangseta berdiri di samping Kira-
na dan Sabdawana, ayah Kirana itu, duduk di atas se-
buah batu yang dijadikan tempat duduk antik. Berla-
pis kain halus yang empuk, dan berukir gambar bunga
teratai, sehingga lelaki lanjut usia itu bagaikan duduk
di atas bunga teratai. Sebab itu pula rumah tersebut
dinamakan Griya Teratai Wingit.
"Apakah kalian saling mencintai?"
Pertanyaan itu meluncur dari mulut ayah Kira-
na dengan suara halus, bahkan hampir tidak terden-
gar oleh Lanang. Untuk pertanyaan itu, Kirana menja-
wab lebih dulu:
"Sudah, Ayah."
Sabdawana yang bermata lembut dan bersikap
kalem itu melirik Pendekar Pusar Bumi. Maksudnya ia
ingin mendengar jawaban dari pemuda itu juga. Maka
buru-buru Lanang pun memberi jawaban:
"Sudah, Rama.",
Lelaki tua yang duduk bersila itu tersenyum
sambil memandang ke arah lain.
"Bagaimana dengan Putri Ayu Sekar Pemikat
itu?"
Lanangseta masih ingat, ketika itu ia sangat
terkejut, sebab tak pernah menyangka sama sekali ka-
lau ayah Kirana ternyata sudah mengetahui hubungan
Lanang dengan Sekar Pamikat. Kirana sendiri meng-
hempaskan nafas, kemudian melirik Lanang, dari pan-
dangan matanya seakan ia mengatakan bahwa ia tidak
tahu kalau ayahnya bisa menyebutkan nama Putri Ayu
Sekar Pamikat. Maka, Lanang pun paham bahwa ayah
Kirana mengetahui hal itu bukan atas dasar informasi
dari putrinya, melainkan karena ilmu yang dimiliki itu
dapat membaca sejarah hidup dan latar belakang La-
nangseta. Barangkali juga ia hanya menuntut kejuju-
ran dari Lanangseta akan hal itu. Dengan tegas dan
polos, Lanang pun menjawabnya:
"Apakah menurut Rama saya masih ada ke-
sempatan mengawani Pendekar Cambuk Naga itu?
Saya memang masih menyimpan cinta kepadanya. Ta-
pi kalau memang dia akan menjadi milik Goa Malaikat
itu, maka saya tak akan memilikinya lagi. Dan pene-
bus kehancuran cinta saya adalah... putri Rama sendi-
ri ini. Saya berusaha mengubur cinta saya kepada Se-
kar Pamikat, asalkan putri Rama bisa memandu hidup
saya. Saya akan mencintai gadis di samping saya ini,
asalkan dia juga mencintai saya. Cuma itu yang ada,
Rama."
Lelaki tua berambut putih semua itu manggut-
manggut. Dalam hati ia mengakui suatu ucapan yang
jujur, yang tidak mempunyai kepalsuan sedikitpun. Ia
bahkan sempat berbisik kepada Kirana, walau tidak
harus mendekatkan mulut ke telinga putrinya: "Dia ju-
jur, dan kau beruntung."
"Aku tahu, Ayah," Kirana mengangguk.
"Jadi, Ayah menyetujui dan merestui perkawi-
nan kami?"
Kali ini Sabdawana turun dari tempat duduk-
nya, melangkah ke tangga teras, memandang alam di
sekitarnya. Lalu dengan sangat berwibawa dan me-
nyimpan kharisma ia berkata:
"Apakah dia sanggup memenuhi persyaratan-
ku?"
Kirana berkerut dahi. Ia tidak suka ayahnya
banyak tingkah begitu. Ia memprotes syarat apa pun
yang akan disampaikan oleh ayahnya.
"Apakah aku harus menunggu beruban baru
boleh kawin?"
"Sekarang pun sudah kelewat waktumu untuk
bersuami."
Itu jawaban ayah Kirana yang tetap kalem, na-
mun tegas. Lalu sambungnya lagi, "Aku hanya ingin
mempunyai menantu yang sesuai dengan seleraku, ta-
pi juga sesuai dengan seleramu."
"Lanangseta sesuai dengan seleraku, Ayah."
Sabdawana mengangguk-angguk. "Yah, me-
mang sesuai dengan seleramu. "Tapi belum tentu se-
suai dengan seleraku. Ingat, Kirana, kalau kau kawin
dengan dia, berarti dialah yang akan menjadi penguasa
tunggal di Bukit Badai ini setelah aku tiada. Jadi, aku
bukan hanya sekedar memilihkan calon suami buat-
mu, tetapi sekaligus memilih calon penggantiku sendi-
ri. Jelas?"
Mau tidak mau, Kirana pun mengangguk. Ia
tahu bahwa kelak, jika ayahnya tidak ada lagi, sua-
minya itulah yang akan menjadi penguasa Bukit Ba-
dai, penjaga makam leluhur mereka, sekaligus pengu-
asa segala isi goa-goa yang ada di sekitar wilayah Bukit
Badai. Hanya Goa Malaikat yang tidak boleh dikuasai,
kecuali dijaga dan dipertahankan menjadi milik lelu-
hur Kirana. Bukit Badai tidak boleh dipimpin oleh seorang perempuan. Harus lelaki. Jadi, bukan Kirana
yang akan menjadi pengganti ayahnya kelak, melain-
kan suaminyalah yang akan menjadi pengganti pengu-
asa Bukit Badai nantinya.
"Rama, boleh saya tahu syarat apa yang harus
saya kerjakan? Dan apakah itu berupa maskawin
buat... putri Rama?"
"Ya. Maskawin dan penobatan.!" jawab Sabda-
wana, tegas.
Suasana hening sejenak. Lanangseta mencoba
mengira-ngira bentuk maskawin yang dikehendaki.
Tapi ia masih kurang berani memastikan. Hanya saja
dalam saat itu juga, ayah Kirana berkata dengan jelas
di depan Lanangseta dan anak gadisnya:
"Lanangseta, kau boleh memperistri putriku, te-
tapi pertama kali yang kuminta: Hancurkan Puri Teb-
ing Neraka, dan carilah bunga teratai di dalam Goa
Malaikat!"
"Ayah...?!" Kirana tersentak kaget.
"Itu sama saja penolakan. Sama saja Ayah ingin
membunuh Lanangseta!" sambung Kirana dengan ce-
mas.
Ayahnya diam saja, tidak mengomentari kata-
kata anaknya. Ia hanya memandang tajam pada La-
nangseta dan bertanya, "Bagaimana? Sanggup?"
Setelah menghempaskan nafas panjang, La-
nangseta menjawab dengan tegas, "Demi menda-
patkan... dia," Lanangseta tak berani menyebutkan
nama Kirana, takut terjadi hujan badai seperti dulu la-
gi (dalam kisah Misteri Goa Malaikat). Lalu ia me-
nyambungnya:
"Saya sanggupi persyaratan itu, Rama."
"Bagus! Lakukanlah mulai sekarang, Nak."
"Aku akan menyertaimu, Lanang," ujar Kirana.
Tapi Ayahnya menyahut:
"Jangan! Berilah kesempatan kepadanya untuk
menunjukkan betapa ia mencintaimu, Ki..."
"Tapi, orang-orang Tebing Neraka itu bukan
orang-orang sembarangan, Ayah. Mereka mempunyai
ilmu yang tinggi dan kekejamannya di luar batas ke-
manusiaan!" debat Kirana.
"Justru itulah letak cinta kasih Lanang kepa-
damu. Kalau dia kusuruh membunuh seekor kerbau,
hargamu hanya seharga seekor kerbau. Dan, maukah
kau mendapat maskawin hanya seekor kerbau?"
"Ayah, orang-orang Tebing Neraka itu...."
"Maskawinmu sangat berharga," sahut ayah-
nya. "Yaitu sejumlah nyawa yang susah dikalahkan.
Untuk itu, kau pun kelak tak akan bertindak sembro-
no terhadap suamimu. Ia telah membelimu dengan
nyawa dan darah. Ini juga demi mengikat dirimu, agar
kau tidak semena-mena terhadap suami!"
Lanangseta masih ingat apa yang dikatakan Ki-
rana pada malam sebelum ia berangkat:
"Kau... kau keberatan sebenarnya dengan ke-
dua syarat itu, bukan?"
Lanangseta menggeleng. "Aku senang. Aku
mempunyai kesempatan untuk menunjukkan cintaku
kepadamu."
"Tebing Neraka, benar-benar neraka bagi setiap
orang asing yang datang ke sana. Selain tempatnya
yang sulit dicapai, juga banyak perintang yang menge-
rikan. Setiap orang asing datang ke sana, ia tak pernah
pulang selamanya. Dan... kau...." Kirana ragu untuk
melanjutkan ucapannya, sedangkan Lanangseta sema-
kin melebarkan senyum.
"Kau menyangsikan cintaku?" tanya Lanangse-
ta.
"Tidak. Tanpa kau ke sana, aku tidak sangsi
dengan kasih setiamu, Lanang."
"Dari mana kau tahu?"
"Aku sering mendengar kata hatimu yang san-
gat mendambakan aku dan sangat menyayangiku. Aku
pernah mendengar kata hatimu, bahwa kelak kau in-
gin memanjakan aku, sebab itu adalah cita-citamu,
yaitu memanjakan seorang istri. Ah, sudahlah lupakan
saja permintaan ayahku, Lanang."
"Itu sama saja kau menyuruh aku untuk melu-
pakan cintamu. Tidak. Aku tidak mau meminta per-
syaratan lain. Aku harus ke Puri Tebing Neraka.
Mungkin memang bahaya, tapi di sana ada cinta yang
ingin kupersembahkan kepadamu."
Kirana menjatuhkan kepalanya dalam pelukan
Lanangseta. Bau harum dari rambut Kirana tercium
oleh Lanang dan menjadikan suatu gelora yang berde-
baran di dalam dadanya. Karena itu, Lanangseta se-
makin mempererat pelukannya. Saat itu pula ia men-
dengar bisikan Kirana dalam keluh.
"Lanang... aku takut kehilangan kamu...."
"Aku juga," bisik Lanangseta. Pelukannya se-
makin mesra, seolah-olah diresapi betul, betapa han-
gat dan mesranya berada dalam kerapatan tubuh Ki-
rana.
"Percayalah, kita tak akan saling kehilangan,"
kata Lanangseta. Dan, Kirana membisikkan kata lain:
"Carilah dulu Sekar Pamikat, mintalah restu
darinya supaya cintanya pun ikut menyertaimu. Bu-
kan mengutukmu!"
Sekar? Mencari dia di dalam Goa Malaikat? Ha-
ruskah itu dilakukan Lanangseta? Betulkan dia akan
terkutuk jika tak direstui Sekar Pamikat? Ah, ada-ada
saja yang mengganggu otaknya kali ini.
*
**
3
DOMAS LANANGSETA menuang minumannya
dari dalam guci. Orang-orang di kedai itu sesekali
mencuri pandang ke arah Lanangseta. Sebenarnya ta-
tapan mata mereka yang secara sembunyi-sembunyi
sudah diketahui Lanangseta. Ia sadar bahwa dirinya
menjadi pusat perhatian di kedai itu. Tetapi itu semua
jelas dikarenakan dia orang asing di situ.
Kecurigaan lain sebenarnya tak ada pada piki-
ran Lanang, kalau saja pemilik kedai itu berbisik pada
saat mengantar makanan yang dipesan Lanang.
"Sebaiknya Tuan lekas makan dan cepat ting-
galkan desa kami."
Bisikan itulah yang membuat Lanang jadi curi-
ga dan memasang kewaspadaannya.
"Memangnya, kenapa?" Lanang balas berbisik.
Ia sendiri tak enak kalau kehadirannya sampai mere-
sahkan pemilik kedai. Tetapi pemilik kedai itu menjadi
ragu-ragu untuk menjawab pertanyaan Lanang.
"Kenapa Bapak kelihatannya gelisah?" desak
Lanang.
"Mereka pasti akan datang, cepat atau lambat."
"Mereka siapa?" Lanang semakin tidak menger-
ti.
"Tuan datang dari Barat, bukan?"
"Betul."
"Tujuannya mau ke mana?" selidik pemilik ke-
dai.
"Mau ke Tebing Neraka. Apakah saya salah jalan?"
Wajah pemilik kedai menjadi pucat. Ia bertam-
bah gelisah, kecemasannya sempat membuat giginya
gemetar.
"Berarti... berarti Tuan datang dari Bukit Ba-
dai?"
Sambil mengangguk Lanangseta menjawab,
"Ya. Benar."
"Celaka...!" desis pemilik kedai yang berbadan
kurus dan berkumis tipis itu.
"Kenapa celaka?"
"Mereka akan semakin bernafsu membunuh
Tuan!" bisikannya semakin tegang. Tapi Lanangseta te-
tap tenang. Ia menikmati paha ayam hutan dan se-
cangkir tuak. Pemilik kedai itu sangat ketakutan. Ia
berbisik lagi:
"Setiap orang yang datang dari Barat, pasti me-
reka bunuh. Tak ada ampun lagi bagi pendatang dari
arah Barat. Apalagi Tuan mengaku dari Bukit Badai,
ooh... pasti mereka tak akan memberi kesempatan ke-
pada Tuan untuk bicara dan meminta maaf."
Aneh pembicaraan pemilik kedai ini, pikir La-
nang. Bagaimana pun aneh dan ganjilnya suasana di
kedai itu, Lanang masih tetap berpenampilan tenang.
Ia ingat pesan Kirana sebelum ia pergi:
"Tenang. dan bersabarlah. Tanpa ketenangan
dan kesabaran yang tinggi, kau tak akan dapat menga-
lahkan orang-orang Tebing Neraka."
Kata-kata Kirana bagai bekal seorang istri ke-
pada suaminya yang akan ke medan tempur. Berbekal
pesan Kirana itulah, maka Lanang tidak ikut gelisah
seperti orang-orang yang berada di kedai itu. Banyak
yang tergesa-gesa pulang, atau berpindah tempat du-
duk menjauhi Lanang. Namun semua itu tidak membuat Lanang berubah sikap.
"Tuan..." bisik pemilik kedai seraya menyajikan
lalap sayuran mentah. "Saya mohon, jika mereka da-
tang, Tuan mau bicara dengan mereka di luar kedai
ya? Terus terang saja, saya takut kedai saya jadi rusak
dan kacau semuanya. Saya tidak ingin terulang untuk
yang kedua kalinya."
"Siapa maksud Bapak yang akan datang itu?
Raja? Kaisar?" tanya Lanangseta sambil mengunyah
makanannya dengan kalem.
"Mereka itu, maksud saya... hem... anak buah
Surobedog! Apa Tuan belum mendengar kabar bahwa
Surobedog itu kaki tangan penguasa Puri Tebing Nera-
ka? Kejam-kejam dan rakus-rakus. Setiap sebulan se-
kali anak perawan dari desa kami selalu dijadikan kor-
ban bakar, sebab memang desa kami inilah desa yang
terdekat dengan Tebing Neraka."
Lanang manggut-manggut. "Apakah Surobedog
penguasa di Tebing Neraka?"
"Memang bukan. Tapi, untuk daerah desa ka-
mi, dialah yang diserahi tugas menjadi ketua pengawa-
san. Kalau ketua pusatnya, Si Cakar Setan, memang
belum pernah datang ke mari. Sebab, anak buahnya
saja sudah cukup mampu menangani pengawasan se-
kaligus penguasaan terhadap rakyat desa ini. Para
pemuda desa ini telah banyak menjadi korban kegana-
san Si Cakar Setan."
"Dijadikan korban bulanan?"
"Bukan. Bukan dijadikan korban, tapi... dipak-
sa untuk menjadi anak buah Cakar Setan. Lalu mere-
ka disuruh menyerang ke mana-mana, tanpa memper-
hitungkan keselamatan nyawa mereka. Jadi, para pe-
muda desa itu banyak yang dijadikan umpan di mana
mereka hendak menyerang."
"Dan Si Cakar Setan sendiri?" "Si Cakar Se-
tan...? Oh, dia tidak pernah ke luar dari Puri Tebing
Neraka. Dia hanya bisa memberi perintah dari tempat
kerjanya."
"Kalau begitu, Si Cakar Setan itulah yang harus
kutemui, sebab dialah penguasa Tebing Neraka," gu-
mam Lanang.
"Eh, bukan. Penguasanya bukan Si Cakar Se-
tan. Ada sendiri, dan kami tidak pernah mendengar
namanya. Yang kami dengar mereka, orang-orang Teb-
ing Neraka itu, Bering menyebut-nyebut nama Gusti
Dalem. Orang yang disebut Gusti Dalem itulah yang
memegang tampuk kekuasaan Tebing Neraka seluruh-
nya. Tapi... kalau Tuan mau menuruti saran saya jan-
gan ke sana. Orang yang pergi ke sana, pasti tidak
pernah kembali lagi."
"Mungkin kali ini hanya aku yang akan kembali
lagi," ujar Lanang setelah meneguk tuaknya satu kali.
Pemilik kedai mendesah dalam resah. Semakin
gelisah lagi setelah ia melihat empat orang berjalan
mendekati kedainya. Pemilik kedai mengenal siapa me-
reka, sebab itu ia menjadi tegang dan berkata:
"Ssstt... Tuan, mereka datang... Betul apa kata
saya tadi, bukan? Wah, gawat...!"
Lanang hanya melirik kehadiran empat orang
bertubuh kekar, dengan pakaian semacam rompi yang
dihiasi dengan logam-logam putih berbentuk bintang
lima. Hiasan itu sangat banyak menempel di dada dan
seluruh baju itu. sehingga mereka bagai mengenakan
pakaian lapis logam.
Orang-orang yang berada di dalam kedai mulai
beranjak meninggalkan tempat, makin menjauhi La-
nangseta. Wajah-wajah mereka penuh ketegangan, te-
rutama wajah pemilik kedai. Lelaki kurus yang masih
berkalung serbet makan itu kelihatan lebih pucat dan
sangat ketakutan.
Lanang tak tega melihat ketakutan pemilik ke-
dai. Pasti yang ditakutkan adalah kehancuran kedai
dan dagangannya. Sebab itu, Lanangseta segera mem-
bayar semua ongkos makan dan minumnya lalu ke
luar lewat pintu samping. Ia berjalan meninggalkan
kedai bagai tak menghiraukan kehadiran keempat
orang kekar itu.
Rupanya keempat orang menyeramkan itu me-
rubah arah, yang semula hendak masuk ke dalam ke-
dai lewat pintu depan, kini berbelok ke arah samping
kedai. Mereka memburu Lanang dengan langkah-
langkah beremosi.
"Berhenti...!" seru salah seorang dari keempat
orang itu. Lanangseta tetap melangkah, sengaja men-
jauhi kedai. Orang-orang di sekitar situ memandan-
ginya dengan tegang dan penuh kecemasan. Ada pula
yang memperhatikan dengan bersembunyi di balik po-
hon atau di balik gerobak sapi.
"Berhenti, congek!" bentak lelaki bermuka tebal,
hitam.
Lanangseta seperti tidak mendengar seruan itu.
Ia tetap melangkah kendati ia tahu orang-orang yang
memperhatikannya semakin ngeri sendiri.
Dengan kecepatan yang hebat dan ketangkasan
yang tinggi, Lanangseta berbalik secara mendadak.
Tangannya bergerak menangkap sebuah pisau yang di-
lemparkan dengan cepat ke arahnya. Pisau itu ter-
genggam erat di tangan Lanangseta, tepat pada bagian
gagang pisau. Orang-orang yang memperhatikan den-
gan sembunyi-sembunyi itu tercengang sendiri. Kaki
Lanangseta berdiri tegap, sedikit renggang, dan tan-
gannya mempermainkan pisau yang berhasil ditangkapnya. Keempat lelaki bengis itu mendekat, lalu men-
gepung Lanang; dua di depan, dua di samping kiri ka-
nan.
"Kamu orang Bukit Badai, ya?!" tanya orang di
depannya.
"Anggap saja begitu. Mau apa kalian?"
Lanang bicara dengan tenang, tanpa menun-
jukkan rasa takut sedikit pun.
"Berarti kamu yang ikut membantai saudara-
saudara kami, yang sedang berusaha mencari Goa Ma-
laikat itu. Iya?"
"Kalau tidak salah, memang akulah yang mem-
bantai mereka. Apa kalian ingin menyusul mereka...?!"
Lanang bicara semakin membakar kemarahan keem-
pat orang bengis itu.
"Kunyuk! Bunuh dia...!" Si Muka Tebal memberi
perintah, dan ketiga temannya segera menyerang La-
nang dalam satu hentakan serempak. Senjata-senjata
mereka di arahkan ke tubuh Lanangseta. Mereka ber-
tiga melayang bagai peluru, meluncur dalam satu te-
riakan: "Heeaaatt...!!!"
Lanangseta melompat ke atas sambil mem-
buang pisau yang berhasil ditangkapnya itu. Ketiga
orang itu berguling, karena senjata mereka menemui
tempat kosong, Tanpa diduga-duga pisau lemparan
Lanang itu menuju ke arah ubun-ubun Si Muka Tebal.
Dengan gerakan bagai mengibas burung terbang, pisau
itu dapat ditangkis oleh Si Muka Tebal.
Lanang sudah berdiri di suatu tempat,
dalam jarak yang tak terlalu jauh dari mereka.
Lelaki bersenjata dua trisula itu segera berlari ke arah
Lanangseta dan menghunjamkan trisula kanannya.
"Waoww...!" Lanang berkelit ke kiri dengan nada
meremehkan serangan itu. Trisula lolos melewati
samping pinggang Lanang. Sementara itu, trisula yang
satunya hendak dilancarkan menghunjam perut La-
nangseta. Namun dengan melompat semakin ke kiri,
senjata itu berhasil dielakkan oleh Lanangseta. Ka-
kinya segera menendang tangan yang memegangi tri-
sula kanan. "Plak...!" Keras sekali tendangan itu se-
hingga pemilik senjata trisula meringis kesakitan. Tu-
lang tangannya terasa ngilu, sampai-sampai ia tak
sanggup mengangkat trisulanya lagi. Kini tinggal satu
trisula di tangan kirinya.
Sementara itu, dari samping kiri datang seran-
gan lelaki bergolok pendek. Kendati pendek namun ge-
rakan golok itu tak dapat dilihat oleh mata penonton
karena cepatnya. Namun pandangan mata Lanang su-
dah terlatih melihat kelebatan senjata apa pun, se-
hingga dapat bersalto ke belakang menghindari baco-
kan golok pendek itu. Posisinya tepat jatuh di depan Si
Muka Tebal, yang tanpa menunggu waktu lama lagi, ia
langsung menyerang Lanangseta dengan pedangnya
yang berujung runcing. Lanang bahkan semakin ber-
gerak mendekati tubuh Muka Tebal sehingga gerakan
pedang runcing yang hendak menusuknya itu terle-
watkan.
Bertepatan dengan lolosnya pedang runcing
yang bagai hendak mengiris pinggang Lanang, pada
saat itu juga kedua pukulan Lanangseta menghantam
keras wajah Si Muka Tebal dengan pukulan ganda. Si
Muka Tebal terpental beberapa langkah. Dan kaki La-
nangseta segera menyambut kehadiran lawan satunya
lagi yang datang dari arah samping kanannya. Ten-
dangan samping itu nyaris beradu dengan pedang
orang itu. Hanya berjarak beberapa inci saja. Tetapi
tendangan samping itu tidak pernah meleset. Tepat
mengenai leher orang itu, sehingga untuk beberapa
saat orang itu tersedak dan sukar bernafas. Keseim-
bangan orang itu mulai limbung, dan Lanangseta tak
tanggung-tanggung lagi, mendekat satu langkah dan
menghantamkan pukulannya di ulu hati lawan dengan
pukulan ganda. Darah tersembur dari mulut orang itu
yang membungkuk kesakitan.
Secepat itu Lanang melompat ke udara, bersal-
to ke depan. Sebuah kilatan senjata melesat ke arah-
nya. Benda kecil yang semula berbentuk bintang lima
itu hampir saja menyerempet pelipisnya, kalau saja
Lanang tidak memiringkan kepala ke arah kanan.
Orang yang habis menyerang dengan lemparan
bintang tajam itu tahu-tahu terpekik tertahan dan ter-
guling-guling di tanah, karena Lanangseta melancar-
kan pukulan jarak jauhnya dengan tepat. Dua orang
yang masih dalam keadaan segar segera maju bersa-
ma. Mereka adalah Si Muka Tebal dan lelaki bersenjata
trisula kembar. Pertama-tama kedua trisula menye-
rang bersamaan dalam posisi sejajar. Tujuannya ke
dada Lanangseta. Tak dapat ditawar lagi, Lanangseta
terpaksa segera berguling ke dengan, tepat di bawah
kaki lawannya. Kemudian sebuah pukulan mengguna-
kan ujung-ujung jari tangannya menyerang paha lelaki
bersenjata trisula. Lelaki itu menjerit, pahanya seperti
ditutul dengan jari tangan Lanangseta. Tapi ia keliha-
tannya sangat kesakitan. Ketika ia berbalik sambil
memegangi salah satu pahanya, Lanangseta meletik
bagai udang, dan melancarkan pukulan totok jari ke
punggung orang itu. Pukulan totok jari tersebut mem-
buat lelaki bertrisula tak mampu bergerak lagi. Tan-
gan, kaki dan bahkan jari-jarinya pun tak mampu di-
gerakkan. Tetapi kepalanya masih bisa menengok kian
ke mari. Ia berteriak kepada Muka Tebal: "Aku... aku
tertotok, tak bisa bergerak! Hancurkan dia!"
"Hiaaaaat...!" Si Muka Tebal berteriak sambil
mengibaskan pedang runcingnya ke arah lengan La-
nangseta. Tubuh kekar itu hanya miring ke depan, dan
pedang runcing tak sempat menggores lengannya. Ia
melancarkan tendangan samping ke wajah Muka Teb-
al, namun Si Muka Tebal menangkis tendangan itu
dengan salah satu tangan yang tidak bersenjata. Ru-
panya gerakan menangkis itu diiringi dengan gerakan
cabut bintang, sehingga ketika tangan itu lempang la-
gi, sekilas benda mengkilat melayang cepat tertuju ke
dada Lanangseta. Hanya dengan cara berguling ke ta-
nah secepatnya senjata kecil itu mampu dihindari La-
nangseta. Namun di luar dugaan, senjata itu melesat
ke belakang Lanang, dan di sana ada orang yang tadi
mengeluarkan darah dari mulutnya akibat pukulan
Lanang. Orang itu tak sadar kalau senjata Si Muka
Tebal melesat ke arahnya, sehingga terpekiklah ia ka-
rena senjata bintang itu menancap di keningnya. Me-
nancap dalam, hampir terbenam seluruhnya. Lalu
orang itu roboh oleh senjata temannya sendiri.
Si Muka Tebal semakin ganas. Ia menyerang
dengan kibasan pedangnya secara bertubi-tubi. La-
nang sempat keteter mundur menghindari kibasan pe-
dang yang cepat itu. Tahu-tahu dari belakang pung-
gungnya, ada tangan yang menyekap kuat leher La-
nang. Tangan itu adalah tangan pemilik golok pendek
Tangan itu begitu kekar, dan Lanang sudah dapat
memperkirakan bahwa sesaat lagi golok pendek itu
akan merobek tubuhnya, mungkin di pinggang, mung-
kin langsung berkelebat ke depan merobek perutnya.
Atau, kalau tidak ia akan ditahan dalam posisi leher
terjepit begitu sehingga Si Muka Tebal dapat memba-
batnya habis-habisan. Maka secara refleks, Lanang
memutar tubuh dengan kuat, sehingga orang bergolok
pendek itu menjadi berbalik ke arah belakangnya.
Punggungnya menghadapi amukan pedang Muka Teb-
al. Tangannya kuat-kuat menghimpit leher Lanang.
Tangan kirinya siap mengayunkan golok ke pinggang
Lanang. Namun perkiraan Lanang cukup tepat, sebe-
lum golok menyentuh kulitnya, pasti punggung orang
itu sudah terbabat lebih dulu oleh pedang Si Muka
Tebal. Dan ternyata benar; "breet...!" Orang itu tersabet
pedang Muka Tebal. Ia menjerit dan melemas, lalu ro-
boh. Sedangkan Muka Tebal semakin garang setelah ia
melihat pedangnya mengenai teman sendiri.
Wajah Muka Tebal semakin kelihatan bermi-
nyak, bagai dibakar oleh kemarahannya.
"Bangsat buruk...!" geram orang itu. "Kau pikir
hanya kaulah orang berilmu silat tinggi, hah?"
Lanangseta tampak tenang, berdiri dengan te-
gap dan bersikap menunggu serangan berikutnya. Ka-
ta-katanya cukup jelas, tegas, tapi santai:
"Kau telah mengakuinya sendiri, bukan?!"
"Manusia busuk! Terimalah jurus Karang Sak-
tiku ini...."
Si Muka Tebal menggerakkan kedua tangannya
ke samping kanan-kiri. Kemudian salah satu tangan
dilipat ke dada dengan menggenggam kuat-kuat, sam-
pai bergetar. Sementara itu kaki kirinya ditarik mun-
dur dan direndahkan hingga lututnya hampir menyen-
tuh tanah. Ia bergerak maju dalam posisi kerendahan
tubuh yang tetap sama dan gerak tangan yang gemetar
ke depan ke belakang bergantian, seperti orang hendak
berenang. Lalu, semua orang yang menyaksikan perta-
rungan itu dengan sembunyi-sembunyi menjadi ter-
cengang melihat tubuh Muka Tebal menjadi putih,
berbintik-bintik. Mirip karang berjalan. Tubuh itu me-
lesat cepat, menghantam Lanangseta. Pendekar Pusar
Bumi tak kalah cepat, ia pun melesat naik ke atas dan
bersalto beberapa kali. Ketika ia berguling-guling di
udara, rupanya Muka Tebal pun mengikutinya, se-
hingga ketika Lanang menapakkan kaki ke tanah, Si
Muka Tebal pun telah berdiri di sampingnya, lalu me-
mukul kuat-kuat.
Lanangseta terpental akibat angin pukulan Ka-
rang Sakti itu, sedangkan pukulan itu sendiri menge-
nai pohon dan robeklah pohon itu bagai selembar kain
dicabik binatang buas. Daun-daun pohon berguguran
dan pohon itupun menjadi gundul seketika. Semua
orang yang melihat dengan sembunyi-sembunyi mulai
terkagum-kagum dan takjub, mereka tak sadar menye-
rukan kata: "Oohh?!" sebagai pelampiasan ketakjuban
mereka.
Lanang baru saja hendak menyerang Muka
Tebal yang sudah berubah menjadi batu karang yang
lentur, namun kakinya bagai tertahan sesuatu. Ra-
sanya perih sekali. Sepintas sebelum itu, ia mendengar
lecutan cambuk dua kali.
Oh, ternyata sebuah cambuk bertali dua telah
membelit salah satu kakinya. Cambuk itu berduri pada
setiap talinya yang agaknya terbuat dari semacam ka-
wat. Tentu saja darah mulai membasah di kaki kiri La-
nangseta dan ia menyeringai menahan sakit. Cambuk
itu ditahan kuat-kuat oleh seorang bertubuh gemuk
tanpa memakai baju. Salah seorang penonton gelap
ada yang berseru;
"Itu dia Surobedog...!!"
Lanangseta mendengar seruan itu, dan ia me-
natap orang yang mengenakan ikat kepala dari bahan
semacam logam perak yang bulat bagaikan pipa kecil.
Di bagian keningnya terdapat semacam simbol berben-
tuk muka raksasa bermulut lebar. Oh, dia yang namanya Surobedog? Pikir Lanang sambil menahan sa-
kit.
Muka Tebal melihat musuhnya terjerat cambuk
Surobedog segera memanfaatkan keadaan. Ia melayang
dan menyerang Lanangseta. Tapi Lanangseta secepat
itu pula menjatuhkan tubuhnya ke samping kendati
kakinya masih terikat cambuk dua tali. Namun ia su-
dah berhasil menghindari goresan tubuh Si Muka Teb-
al yang seperti karang tajam itu. Tubuh Muka Tebal
meluncur dan jatuh beberapa langkah dari tempat La-
nang merobohkan badan. Surobedog menggeret kaki
Lanangseta dengan satu hentakan kuat. Selain luka di
kaki Lanang semakin terluka parah, juga tubuhnya
menjadi lebih dekat dengan Muka Tebal. Menurut per-
kiraan Lanangseta, tubuh yang sudah berubah menja-
di seperti karang itu sangat beracun dan tak boleh ter-
sentuh kulit manusia lain. Buktinya pohon saja bisa
menjadi robek dan daunnya berguguran semua. Lain
tanah tempatnya berpijak dan sekarang diduduki itu
mengepulkan asap dan menjadi hangus.
Karena itu, tak ada jalan lain bagi Lanangseta
kecuali segera mencabut pedang Wisa Kobranya dari
punggung. Kaki semakin dihentakkan oleh Surobedog,
dan dia semakin dekat dengan Muka Tebal. Pada saat
tangan Muka Tebal hendak menjamahnya, tiba-tiba
pedang Wisa Kobra membabat kuat tangan itu. Ter-
dengar teriakan keras dari Muka Tebal ketika tangan-
nya terpotong. Buntung seketika. Karena Lanangseta
menganggap Muka Tebal sangat berbahaya untuk po-
sisinya kali ini, maka dengan satu kali kibasan lagi,
Lanangseta menghantamkan pedangnya ke tubuh Mu-
ka Tebal. Tubuh yang seperti karang itu terbelah men-
jadi dua bagian. Ia tak sempat menjerit atau berseru
sepatahpun. Ia langsung berkelojot sebentar lalu mati
tak berkutik lagi.
"Biadab! Kau bunuh teman baikku, bangsat...!"
teriak Surobedog dengan kemarahan yang meluap.
Dengan keras ia menarik cambuknya yang masih
membelit dan menancap pada kaki Lanangseta. Tari-
kan itu membuat Lanangseta menyeringai kesakitan.
Ia berusaha menahannya walau rasa sakit semakin
meresap sampai ke ubun-ubun. Lalu dengan satu kali
loncatan menggunakan kakinya yang satu lagi, pedang
Wisa Kobra berhasil menebas tali cambuk ganda.
"Breet...!" Tak ayal lagi, cambuk itu pun putus. Ujung-
ujungnya tertinggal di kaki Lanangseta. Pada saat La-
nangseta berusaha melepas potongan cambuk yang
tertinggal, Surobedog diam terbengong memandang
cambuknya telah menjadi pendek.
Rupanya orang yang bernama Surobedog itu
punya ilmu yang cukup tinggi pula. Ia segera mem-
buang cambuknya yang dirasakan tidak berguna lagi
itu. Kini ia berkonsentarasi dengan merapatkan kedua
telapak tangannya di depan dada. Lanangseta selesai
melepasi duri yang menusuk daging kakinya. Ia segera
berdiri hendak menghadapi Surobedog. Namun tiba-
tiba dari ujung-ujung jari yang saling- merapat itu ke
luarlah asap putih. Kedua tangan yang merapat itu di-
arahkan ke tubuh Lanangseta, dan asap putih yang
menyembur dari tiap ujung jarinya membuat tubuh
Lanangseta menggigil. Asap itu semakin banyak men-
gurung Lanangseta, dan akhirnya beku bagaikan es.
Lanangseta makin meringis kesakitan dan kedinginan.
Ia terpaku di tempat, di mana asap putih yang menye-
limutinya itu membeku. Kian lama kian keras, dan La-
nangseta mulai seperti berada dalam lapisan balok es
yang tebal.
"Gawat...! Aku terkurung dalam lapisan es, dan
ini sangat memudahkan Surobedog untuk menghan-
curkan es bersama diriku. Uuhh...! Sialan!" pikir Pen-
dekar Pusar Bumi. Ia ingin menggerakkan salah satu
jarinya saja sukar sekali.
Namun pada saat itu ia sempat mendengar su-
ara keras Surobedog yang masuk di telinganya secara
sayup-sayup: "Kali ini tamatlah riwayatmu, haram ja-
dah! Ha, ha, ha...!"
Surobedog bersiap melancarkan pukulan anda-
lannya ke arah Lanangseta. Lanangseta berusaha be-
rontak, tapi gagal.
*
**
4
BETAPApun juga Lanangseta masih teringat
akan pukulan berbahaya yang dimiliki oleh orang-
orang Tebing Neraka. Sebuah pukulan yang mempu-
nyai kekuatan dahsyat, memancarkan sinar biru tua,
dan membuat korbannya hilang tanpa bekas. Itulah
pukulan maut andalan mereka. Seperti halnya yang
pernah dialami Lanangseta ketika melawan orang-
orang Tebing Neraka yang hendak menguasai Goa Ma-
laikat dulu (dalam seri Rahasia Goa Malaikat).
Dan kali ini agaknya Surobedog juga akan me-
lancarkan ilmu tersebut kepada Lanangseta. Gerak ju-
rus pembukanya masih diingat oleh Lanang, hanya
nama jurus itu yang tidak diketahui oleh Lanangseta.
Dugaan Lanang ternyata memang benar. Dari telapak
tangan Surabedog yang dihentakkan ke depan itu ke-
luarlah sinar biru tua, terarah kepada Lanangseta
yang tak dapat bergerak karena dibekukan oleh balok-
balok es.
"Oh, tamat betul riwayatku kali ini," keluhnya
dalam hati. Sinar warna biru tua itu meluncur cepat
menghantam balok es yang berisi Lanangseta.
Namun sebelum sinar biru tua itu menyentuh
balok es tersebut, tiba-tiba ada sesosok tubuh yang
melesat dari suatu tempat, langsung berdiri di depan
balok es itu. Sesosok tubuh kurus berjubah kuning
menghalangi penglihatan Lanangseta terhadap sinar
biru tua itu. Yang ia tahu, sinar biru tua yang melesat
cepat itu menghantam tubuh kurus berjubah kuning.
Namun tubuh itu tidak hilang seperti biasanya, me-
lainkan justru sinar biru tua itu yang memantul kem-
bali ke arah Surobedog.
"Bangsat...!" Surobedog kelabakan menghindari
sinar itu.
Surobedog melompat sambil berguling-guling ke
arah kiri, dan sinar biru tua yang memantul ke arah-
nya itu melesat terus, melewati tempat berdiri semula,
lalu menghantam sebuah rumah di mana di situ ba-
nyak orang menonton secara sembunyi-sembunyi. La-
lu, dalam sekejap mata rumah tersebut hilang tanpa
bekas, dan orang-orang yang ada di situ juga hilang
semua tanpa kecuali.
Orang yang berdiri menghalangi serangan sinar
biru tua itu terkekeh-kekeh. Samar-samar Lanangseta
mendengar suara kekehannya. Dan ia yakin, bahwa
orang berjubah kuning dan berjenggot putih kemera-
han itu tak lain dari Si Tongkat Besi. Kakek tua itu
langsung menyerang Surobedog dengan tongkat be-
sinya. Tubuhnya yang kurus melayang seperti kapas
ditiup angin. Surobedog berdiri tegak siap menerima
serangan kakek tua. Namun, ternyata dia tidak mam
pu menahan pukulan Tongkat Besi yang menotok le-
hernya. Ia menjerit dengan leher miring, tanpa bisa
berbalik lagi.
"O, hanya begitu...? Wah, masih harus belajar
lagi kamu, Celeng Mabok!" ucap Si Tongkat Besi. Ke-
mudian ia melesat, dan mendarat di dekat balok es
tempat Lanangseta tersekap di dalamnya. Kakek tua
itu tersenyum, memperlihatkan giginya yang tinggal
beberapa gelintir itu. Kemudian ia memukulkan tong-
katnya pada balok es itu dengan pukulan seakan
iseng-iseng saja. Namun, akibatnya cukup menga-
getkan orang yang masih menyaksikan adegan terse-
but dari balik persembunyian mereka. Balok es itu pe-
cah dan menimbulkan suara letupan kecil. Lalu La-
nangseta ke luar dari dalam pecahan balok es tersebut.
Ia masih menggigil ketika Tongkat Besi berkata, "Din-
gin? Ah, itu biasa. Anggap saja mandi pagi hari. O,
ya... itu musuhmu di sana. Tulang-tulangnya sebentar
lagi akan melemas akibat pukulan tongkat besiku. He-
bat aku, ya?"
Lanangseta melihat Surobedog sedang berusa-
ha melepaskan diri dari kekakuan lehernya. Kepalanya
masih tetap miring. Lanangseta hanya berkata, "Teri-
ma kasih, Kek...." kemudian ia segera mendekati Suro-
bedog. Namun baru saja ia maju selangkah, Surobedog
melancarkan pukulan jarak jauhnya. Lanangseta me-
lompat, dan secara tak sengaja pukulan itu mengenai
Tongkat Besi yang berada di belakang Lanangseta.
Tongkat Besi berjumpalitan sambil mencaci
maki tak karuan. Namun ia segera bangkit, ketika itu
Lanang sudah menyerang Surobedog.
Kedatangan kaki Lanangseta begitu cepat
menghentak kuat dada Surobedog. Lelaki gemuk tanpa
baju itu terpental ke belakang dan terguling-guling beberapa kali. Ia pun menyeringai menahan sakit di da-
danya yang menjadi merah akibat tendangan itu. Su-
robedog merasa tak akan sanggup melawan pedang
Wisa Kobra yang masih di tangan Pendekar Pusar Bu-
mi itu. Ia ketakutan, dan segera berusaha melarikan
diri dengan kepala miring ke kanan.
Lanangseta tak mau tinggal diam begitu saja. Ia
sempat berseru, "Tunggu! Jangan pulang ke pimpi-
nanmu begitu saja. Sampaikan salamku buat dia!
Hihh...!"
Lanangseta meloncat dan berguling di udara,
sambil begitu ia mengibaskan pedangnya dan tepat
memotong telinga Surobedog. Tentu saja lelaki tanpa
baju itu menjerit sekuat tenaga dan berlutut seketika.
Telinga kirinya yang terpotong itu mengucurkan darah
segar. Ia berusaha mencari potongan daun telinganya
sambil menangis kesakitan. Seorang anak kecil yang
bersembunyi di balik gerobak sapi melihat potongan
daun telinga, lalu dengan polos dan seperti orang ke-
bingungan anak itu memungut potongan daun telinga
Surobedog, kemudian menyerahkannya kepada si pe-
milik daun telinga itu.
"Pak... ini Pak, telinganya jatuh di situ...."
Surobedog geram. Segera menyambut daun te-
linganya, dan memukul anak kecil itu dengan keras
sebagai pelampiasan amarahnya. Tentu saja anak kecil
itu terpental jauh dan kepalanya membentur kayu ru-
mah. Anak itu pingsan atau mati, entahlah, tapi yang
jelas Surobedog segera melarikan diri seperti seekor
babi yang ketakutan.
Perhatian orang-orang terpecah menjadi empat
bagian. Ada yang memperhatikan Lanangseta, ada
yang memperhatikan larinya Surobedog yang lucu itu,
ada juga yang memandangi kakek tua Si Tongkat Besi,
dan ada yang memperhatikan anak kecil itu. Agaknya
anak itu mati akibat pukulan Surobedog yang keji itu.
"Tidak kau kejar dia?" tanya Tongkat Besi keti-
ka Lanang duduk di bawah pohon sambil memegangi
kakinya yang berdarah. Lanangseta menggeleng, "Biar
dia lapor kepada ketuanya, bahwa aku telah menan-
tang mereka."
"Mereka, siapa maksudmu?" desak kakek tua
yang ingin tahu tujuan Lanangseta. Tapi Lanang me-
nyadari hal itu, karenanya ia hanya menjawab:
"Siapa mereka itu tidak penting bagimu, Kek.
Hanya akulah yang penting berurusan dengan mereka.
Kuminta jangan ikuti saya...!"
"Aku tidak mengikutimu. Aku hanya sekedar
lewat dan melihat kau terkurung dalam gumpalan es.
Lalu lawanmu akan memusnahkan kamu dengan ilmu
Tapak Musti yang dapat melenyapkan apa saja yang di
serangnya. Lalu, yaah... aku iseng-iseng saja meno-
longmu."
"Kakek tahu itu ilmu Tapak Musti dari mana?"
Kakek tua berjubah kuning dan berjenggot pan-
jang itu menyeringai, memperlihatkan giginya yang
tinggal beberapa biji itu. "Semua ilmu aku kuasai, aku
kenal dan aku pernah miliki. Termasuk ilmu totok
tongkatku yang jarang dimiliki orang ini...." Seketika
itu Tongkat besi menotok luka di kaki Lanangseta aki-
bat goresan cambuk ganda berduri itu. Tentu saja La-
nang menjerit dan berteriak kesakitan. Tubuhnya
mengejang. Totokan tongkat besi pada lukanya sangat
luar biasa sakitnya. Namun itu terasa hanya beberapa
hitungan saja. Setelah itu, tak ada rasa perih, pegal.
sakit ataupun ngilu. Tak ada. Yang ada hanya rasa
dingin, nikmat. Dan ketika Lanangseta kembali me-
mandang luka kakinya, ternyata sudah tak ada. Kaki
itu mulus kembali. Lukanya hilang tanpa bekas. Bah-
kan setetes darah pun tak ada. Baik di kaki maupun di
tangan yang bekas menyapu lelehan darah tadi, sama
sekali bersih, sepertinya tak pernah ada luka di kaki
Lanangseta.
Mata yang memandang kagum pada kaki itu
akhirnya merambat pelan-pelan ke wajah Si Tongkat
Besi yang keriput. Lanang memandangnya dengan ter-
bengong. Tapi Tongkat Besi melengos seraya berkata
pada diri sendiri:
"Dua kali sudah aku menolongnya, apakah ia
tidak tahu berterimakasih?"
Karena Lanangseta mendengar kata-kata itu,
maka ia pun segera berkata, "Terima kasih, Kakek
yang baik hati...!"
"Makanya belajarlah kalau kau belum pintar,"
ujarnya.
Tapi Lanang tak mau membuang-buang waktu
lagi.
Pada saat Si Tongkat Besi berpaling, ia terkejut
karena sudah tidak menemukan Lanangseta duduk di
tempatnya semula. Ia clingak-clinguk sebentar, kemu-
dian menyumpah serapah. "Manusia dungu! Keras ke-
pala! Goblok...! Pergi tanpa pamit! Seenaknya saja!
Kucing kurap dia itu...!" seraya kakek tua itu bersun-
gut-sungut pergi dari situ.
Ke mana Lanangseta sebenarnya? Ia melejit ke
atas pohon dengan ilmu peringan tumbuh yang sem-
purna, yang sampai tak terdengar dan tak terasa an-
ginnya. Ketika Tongkat Besi pergi semakin jauh, berla-
wanan arah dengan larinya Surobedog tadi, maka La-
nangseta pun turun dari atas pohon, kemudian mele-
sat menyusul Surobedog. Ia yakin langkah Surobedog
akan menuju Tebing Neraka. Setidaknya ia harus me
laporkan atas kematian tiga anak buahnya dan satu
anak buahnya lagi masih terdiam kaku tak diurus,
akibat terkena totokan darah dari Lanangseta.
Betul dugaan Lanang. Surobedog lari menuju
arah jurang, yang konon diberi nama Jurang Gempal.
Barangkali di sana tidak jauh dari tempat Puri Tebing
Neraka. Pendekar Pusar Bumi mengamati dari kejau-
han. Ketika Surobedog melompat ke bawah jurang, La-
nangseta terbelalak kaget. "Wah, dia bunuh diri?! Sia-
lan!" gerutu Lanangseta seraya menghambur mendeka-
ti tepian jurang.
Ternyata ia salah duga. Dari tepian jurang ia
melihat Surobedog berjalan pada suatu lereng tebing
yang datar. Tempat itu sepertinya sengaja dibuat datar
sebagai jalan rutin yang akan dilalui oleh beberapa
orang. Dari jalanan datar di lereng tebing sampai ke
tepian jurang mempunyai ketinggian yang cukup men-
gerikan. Tapi, mungkinkah jalanan datar itu menuju
ke Puri Tebing Neraka? Untuk menjaga kepenasaran-
nya, Lanangseta pun turun ke lereng tebing yang cu-
ram. Ia melompat-lompat, menggunakan ilmu peringan
tubuhnya. Namun pada satu kali ia nyaris salah me-
napakkan kaki. Sebuah batu yang diperkirakan cukup
kuat menahan berat badannya, ternyata ambrol. La-
nangseta terpelanting, terguling-guling. Gemuruh batu
berjatuhan terdengar samar-samar. Batu itu mengge-
linding melewati jalanan datar, masuk ke celah jurang
di bawah jalanan datar itu. Batu tersebut hilang, tanpa
bunyi lagi. Dan itu berarti jurang di seberang jalan itu
sangat dalam. Mungkin tak ada manusia yang dapat
selamat jika jatuh ke sana.
Lanangseta segera berhasil menguasai keseim-
bangan tubuhnya kembali. Akhirnya ia pun mampu
mendarat di jalanan datar tersebut dengan baik.
"Woww...! Rupanya jalanan ini cukup panjang,
dan makin lama semakin melebar," pikir Pendekar Pu-
sar Bumi. Ia sempat melihat Surobedog di kejauhan
sana. Hampir seperti setitik yang berjalan cepat.
"Aku harus mengikuti Surobedog. Pasti dia me-
nuju pusat pemerintahan orang-orang Tebing Neraka."
Lanangseta pun meneliti keadaan sekeliling,
ternyata jurang yang di seberang jalanan datar itu pun
makin lama semakin melebar. Ada satu keunikan da-
lam jurang tersebut, yaitu adanya asap tipis, sangat ti-
pis, yang bergerak berputar-putar. Meski jurang itu
berasap tipis, namun tidak mengganggu pemandangan
di dasarnya. Jurang itu tidak setinggi antara jalanan
datar dengan tepian jurang tempat kedatangan Lanang
tadi. Jurang berasap tipis itu cukup rendah. Dasarnya
terlihat mengkilat, bagai berlapis batu-batu permata
warna putih. Bagus dan indah sekali. Dari batas asap
tipis ke bawah, dinding jurang itu pun bagai ber-
hiaskan batu-batu mutiara laut. Berkerelap menak-
jubkan. Barangkali batu-batu permata yang indah itu-
lah yang dipertahankan oleh penguasa Puri Tebing Ne-
raka itu.
Lanangseta bermaksud turun ke dasar jurang
berasap tipis itu. Namun ia takut kehilangan jejak Su-
robedog, sehingga ia membatalkan niatnya, menarik
kakinya yang sudah hendak turun ke tebing jurang be-
rasap. Ia segera lari secepat mungkin, mengejar Suro-
bedog.
"Gila...!" gumam Lanangseta. Ia memandang
sebuah dataran yang berada di tengah jurang berasap.
Dataran itu bagai tersembul dari dasar jurang dan
membentuk bukit, atau pulau kecil terdiri dari beba-
tuan dan cadas merah. Jurang semakin lebar, kedala-
mannya tetap, seperti sebuah kawasan bekas sungai
yang kering. Asapnya tipis mengitari pulau cadas me-
rah itu. Di atas cadas merah yang selebar alun-alun di
depan Kadipaten Nilakencana itu terdapat sebuah
bangunan. Bangunan semacam rumah bersama, atau
lebih tepatnya sebuah asrama itu terbuat dari batu
pualam seluruhnya. Dindingnya jelas amat kokoh.
Bangunan itu agaknya bertingkat dengan genting dari
kayu-kayu berukir. Mewah dan mengagumkan sekali.
Jika orang akan ke sana, ia harus turun ke ju-
rang berasap dan menaiki tangga menuju dalam ban-
gunan tersebut. Tetapi, Lanang tidak melihat ada tang-
ga yang menuju ke sana. Surobedog juga tidak berja-
lan menuruni jurang berasap, tapi dia meniti sebuah
jembatan yang terdiri dari seutas akar pohon yang te-
lah dirajut menjadi seutas tali. Hanya seutas. Jemba-
tan aneh itu terentang dari jalanan datar sampai ke
pintu gerbang bangunan tersebut. Jelas hanya orang-
orang yang punya ilmu peringan tubuh yang dapat
meniti jembatan tersebut.
Pendekar Pusar Bumi segera bersembunyi di
balik suatu celah tebing ketika tubuh Surobedog terli-
hat melayang bagai daun kering melewati seutas jem-
batan itu. "Hemm... ilmu peringan tubuhnya cukup
lumayan," pikir Lanangseta. Semakin dekat Lanangse-
ta mengintai, semakin jelas bahwa bangunan besar di
atas pulau cadas merah itu tidak mempunyai pintu
gerbang seperti layaknya pintu gerbang di sebuah ista-
na, atau sebuah Kadipaten. Pintu gerbang itu hanya
berbentuk sebuah pintu yang tertutup, namun sebe-
narnya itu adalah pagar dari batu pualam yang diukir
menyerupai pintu gerbang. Buktinya sewaktu Surobe-
dog memasuki pintu gerbang, ia mengandalkan ilmu
peringan tubuhnya, meloncat dengan cepat dan masuk
dalam bangunan berpagar batu pualam itu.
Lanangseta manggut-manggut. Sebelum jauh ia
bergerak, memang ada baiknya ia mempelajari kele-
mahan dan kekuatan daerah tersebut. Bagi Lanangse-
ta, masuk ke dalam bangunan itu memang tidak mu-
dah. Resikonya cukup besar, kalau tidak jatuh ke da-
sar jurang, mati dihunjam jebakan. Pasti ada jebakan
di sekitar jembatan seutas itu, atau di depan pintu
gerbang palsu itu. Kalau jatuh ke dasar jurang berasap
masih lumayan, kemungkinan mati tipis, tapi ke-
mungkinan patah tulang besar. Hemm... jadi harus
bagaimana untuk masuk ke sana dan bertemu dengan
Cakar Setan? Pikir Pendekar Pusar Bumi dari tempat
persembunyiannya.
Sebenarnya Lanangseta ingin segera bergerak
mendekati jembatan kecil itu. Namun terpaksa ia ber-
guling sejenak, karena merasa ada angin kencang da-
tang dari arah belakang. Lalu, "craak...!" Sebuah tom-
bak menancap pada batu cadas coklat tempatnya ber-
sembunyi. Ia berpaling, ooh...
Tiga orang berotot dan bertampang sangar ber-
diri tegap dalam jarak kira-kira sepuluh langkah dari
Lanangseta. Mereka memandang dengan sorot mata
yang dingin, menyeramkan. Pastilah mereka itu adalah
pengawal jalanan datar yang tidak pernah mempunyai
belas kasihan sedikitpun. Wajah-wajah mereka, adalah
wajah-wajah pembunuh berdarah dingin yang tidak bi-
sa diremehkan.
Lanangseta mengajaknya tersenyum. Namun
tidak ada balasan. Jelas sudah naluri bermusuhan te-
lah menjalar pada darah mereka, dan nafsu membu-
nuh tak terelakkan lagi.
Hei, sobat... aku ingin bertemu dengan Si Cakar
setan, bagaimana caranya?" Lanang tetap bersikap
ramah namun penuh kewaspadaan.
"Kau ingin bertemu pimpinan kami?" tanya se-
seorang dari ketiga manusia berdarah dingin itu.
"Ya, bagaimana caranya untuk mencapai ke
bangunan itu?"
"Dengan melangkahi mayat kami," jawab orang
yang berkumis tebal, paling tebal dari kedua kumis
temannya.
"O, kalau begitu kalian harus mati dulu? Apa
tidak sayang pada nyawa sendiri? Apa tidak menyesal
mati di tanganku?"
"Jangan banyak bacot! Kalau sudah masuk ke
wilayah Tebing Neraka, berarti sudah mati! Ciaaaat..!"
Orang bersenjata semacam clurit itu berteriak
dan melompat menyerang Lanangseta. Tebasan clurit-
nya begitu cepat, dan menimbulkan hentakan angin
yang membuat Lanang terhuyung-huyung ke belakang.
Kemudian dua orang lagi melompat ke dua sisi, kiri
dan kanan. Maka terkepunglah Lanangseta, masuk da-
lam perangkap jurus ketiga penjaga jembatan itu.
Orang di samping kanan Lanangseta mencabut
senjatanya berupa bumerang logam yang tajam dan
mengkilap itu. Sedangkan orang berbaju merah di
samping kiri memegang senjata tombak trisula berga-
gang pendek, kira-kira separoh dari ukuran tombak
biasanya. Trisula itu cukup tajam. Buktinya ketika La-
nang diserang dengan gerakan menebas, dan berhasil
dielakkan oleh Lanang dengan menarik kepala ke bela-
kang, senjata itu menyasar mengenai batu besar di
samping Lanangseta. Batu itu gompal beberapa bagian
dan bunyi denting akibat benturan senjata dengan ba-
tu amat keras dan jelas.
Juga sebuah bumerang besi yang melayang ce-
pat berputar-putar nyaris menebas hidung Lanang,
begitu berhasil dielakkan, senjata itu menyentuh se
buah tonjolan batu hitam. Batu keras itu bagai terkikis
hancur pada bagian ujungnya, dan senjata bumerang
itu kembali lagi ke tangan pemiliknya.
"Busyet...! Tak bisa dibuat malas-malasan ka-
lau begini...." pikir Lanangseta sambil mencabut pe-
dang Wisa Kobra dari punggungnya. Tepat pada waktu
ia mencabut, datangnya serangan dari orang yang ber-
senjata tombak trisula. "Wuuus...!" Benda itu hampir
saja menebas perut Lanangseta kalau tidak segera
berkelit miring ke kiri. Namun rupanya itu suatu gerak
tipuan, di mana saat Lanang berkelit, ia disambut den-
gan satu tendangan amat kuat. "Aaakh...!"
Lanangseta kesakitan, ia terjengkang ke bela-
kang. Tendangan itu cukup keras. Jika orang biasa
yang menerimanya mungkin orang itu akan mati seke-
tika, atau pingsan mendadak. Lanangseta segera
bangkit, tapi sebuah benda melayang ke arah lehernya.
Seinci lagi menggores dada Lanang. Untung dia segera
merebah telentang, lalu dengan gesit kedua kakinya
melengkung ke bagian kepala dan dengan satu henta-
kan kuat ia melentik ke udara. Pedang siap di tangan
pada saat ia disambut oleh lelaki berkumis paling teb-
al. Senjata cluritnya membabat leher Lanang beru-
langkali, namun Lanang menundukkan kepala dan
berguling secepatnya. Ia baru saja hendak mene-
baskan pedangnya, tapi tombak pendek bermata trisu-
la tajam itu telah lebih dulu menancapnya di tanah.
Untung gerakan pedang sangat cepat sehingga trisula
itu mampu ditebasnya dan patah menjadi dua bagian.
Ketiga penjaga tercengang melihat kehebatan
pedang tersebut. "Serang bersamaaa...!" teriak salah
seorang, dan Lanangseta segera menjejakkan kakinya
ke tanah walau dalam keadaan terbaring. Tubuhnya
melesat tinggi, dan serangan ketiga pengawal itu mem
bentur tanah cadas.
Lanang mendarat tepat di bibir tebing berasap.
Pikirnya, kalau keadaan memaksa ia bisa melarikan
diri dengan terjun ke dalam jurang berasap itu. Menu-
rutnya ia lebih baik buru-buru lari ke bawah jurang
dan menunggu mereka menyerang.
Baru saja ia hendak melompat ke bawah, tahu-
tahu ia terpaksa sibuk menangkis serangan bumerang
yang mengagetkan. Bumerang itu diadu dengan pe-
dang Wisa Kobra. Terdengar bunyi: "craang...!!" Dan
bumerang itu pun pecan menjadi tiga bagian. Pemilik-
nya semakin emosi. Ia melayang dengan kaki kanan
lurus menyerang Lanangseta dan kaki kirinya ditekuk
ke arah selangkangan. Gerakan itu sangat cepat, bagai
hembusan angin. Kalau saja dada Lanang terkena ten-
dangan, sudah pasti setidaknya ia akan terjungkal ke
dasar jurang berasap. Tetapi kegesitan Lanang mem-
buktikan bahwa dalam keadaan bagaimanapun sem-
pitnya, ia masih mampu menghindari tendangan maut
itu dengan meloncat ke arah samping depan dan ka-
kinya bergerak memutar seperti kipas. Kaki Lanangse-
ta mengenai kepala orang itu, dan orang itulah yang
terjungkal ke jurang berasap. Ia menjerit ketakutan,
untuk kemudian diam selamanya. Sepi. Kedua teman-
nya membelalakkan mata dan memburu ke tepi ju-
rang, melongok ke bawah, sama seperti Lanang juga.
Lalu Lananglah yang menjadi amat heran melihat tu-
buh orang tadi tidak kelihatan sama sekali. Ia hilang.
Musnah dan di dasar jurang tak tertinggal bekas baju
atau pun sobekan celananya.
Seketika itu merindinglah tubuh Lanangseta.
Ternyata jurang berasap tipis itu bukan jurang yang
ramah. Ia mampu menelan orang atau benda apa pun
tanpa meninggalkan bekas. Uff... untung Lanang tadi
tak sempat nekad terjun ke dasar jurang dan menung-
gu lawannya di sana. Kalau dia tadi sempat terjun ke
dasar jurang berasap, atau berjalan menyusuri dasar
jurang seperti rencananya semula, sudah pasti ia akan
lenyap seperti itu. Iih... selamat, selamat.....pikir La-
nang sambil bergidik.
Itulah saat kelengahan Lanang. Ia tak sadar ka-
lau musuhnya sudah menyiapkan pukulan jarak jauh
secara bersamaan. Pukulan itu melancar keras, men-
genai dada serta ulu hati Lanang. terpentallah tubuh
Pendekar Pusar Bumi yang kekar itu. Ia tak dapat
mengontrol diri sehingga jatuh ke tepian jurang bera-
sap. Kepalanya sudah terjuntai ke arah dasar jurang.
Lawannya bergegas untuk merampungkan serangan
berikutnya, sebagai serangan yang akan melemparkan
Lanang ke dasar jurang berasap. Namun pada saat itu,
sekelebat bayangan berkelit dan menyambar tubuh
Lanangseta. Dengan ringan bayangan warna hijau itu
mengangkat tubuh Lanang dan pergi bagai kilat mele-
sat.
*
* *
5
FAJAR pagi masih menghantarkan butiran em-
bun dingin. Kendati matahari telah bergegas bangkit
dari peraduannya dan memancarkan surya kehanga-
tan, namun udara dingin masih tersisa di kulit tubuh
Pendekar Pusar Bumi. Lelaki tampan yang berbadan
tegap perkasa itu berkejap-kejap matanya. Seluruh tu-
langnya terasa ngilu, pegal, sepertinya ia baru saja
bangkit dari kematian.
Sebuah tangan halus mengusap keningnya. Ia
mulai sadar bahwa saat itu ia sedang merebah dalam
bantalan kedua paha yang hangat. Dan saat itu pula ia
sadar, bahwa ia berada dalam Goa Malaikat, tepat di
persimpangan lorong. Seraut wajah anggun yang
menggetarkan hati terpampang jelas di matanya. Wa-
jah itu, wajah Kirana Sari yang sepanjang perjalanan
menuju Tebing Neraka selalu lekat di pelupuk mata
Lanangseta.
"Lanang...." sapa perempuan berwajah cantik
dan anggun itu. Sapaan itu bagai ucapan selamat pagi
dari sekerat hati yang mencintainya.
Lanangseta bergegas bangkit dari rebahannya.
Tapi ia terpaksa menyeringai karena ada rasa nyeri
pada bagian dada dan ulu hati.
"Pelan-pelan...." bisik Kirana yang ayu. "Kau
baru saja terbebas dari Racun Neraka."
Kirana membantu Lanangseta untuk duduk.
Jemari tangan lentik itu mengusap lembut rambut La-
nangseta dan merapikannya anak rambut yang meriap
di kening.
"Apakah aku terkena Racun Neraka?" Lanang
sedikit parau.
Kirana mengangguk lembut. "Kau terkena pu-
kulan tenaga dalam dari Kumba Kumbi. Pukulannya
itu mengandung racun yang sangat berbahaya, ber-
nama Racun Neraka."
Lanangseta berkerut dahi dan mencoba men-
gingat-ingat apa yang telah terjadi padanya. Lalu, inga-
tannya telah berhasil merekam segala kejadian; jala-
nan datar di lereng tebing, jembatan seutas, jurang be-
rasap tipis yang mampu melenyapkan salah satu mu-
suhnya, dan kedua orang bengis yang melancarkan
pukulan jarak jauh secara tiba-tiba.
"Oh, ya...." Lanangseta mengangguk-angguk da-
lam renungannya. "Tapi mengapa aku bisa berada di
Goa Malaikat ini? Siapa yang membawaku dari Tebing
Neraka itu?"
Senyum manis mekar di bibir Kirana Sari yang
sensual. Pendekar Pusar Bumi merasa diguyur seper-
cik air surgawi yang menyegarkan hati begitu melihat
senyuman itu. Pandangan matanya tak mau terlepas
dari sorot mata Kirana. Dalam bisik yang samar La-
nangseta berkata:
"Kaukah penyelamatku? Yang membawaku ke
mari?"
Dalam kedipan mata bagai kerling permata itu
Kirana mengangguk, senyumnya pun masih menghias
wajah cantik yang anggun. sorot mata tajam yang me-
neduhkan itu masih memandang Lanangseta. Kedip-
kedip. Lalu menjadi sayu. Dan itulah sebuah pertanda
yang dimiliki Kirana Sari. Ia telah meregangkan bibir-
nya yang ranum, merekah pasrah. Lanangseta tak
mau mengecewakan harapan hati Kirana. Maka dike-
cupnya bibir itu perlahan-lahan. Semula hanya tersen-
tuh-sentuh lembut, kemudian menjadi menghangat
dalam dekapan yang mesra. Darah berdesir dan mem-
buat debaran di dalam dada semakin nyata. Itulah de-
baran cinta mereka, dibarengi rindu mereka yang kian
hangat kian membuat sejuta bunga bertaburan me-
rangkai sukma.
Desir kemesraan berhenti di ujung genggaman
tangan mereka. Kirana tersenyum puas, membiarkan
kepalanya bersandar di pundak Pendekar Pusar Bumi.
Jemarinya yang lentik itu bermainkan ujung rambut
kekasihnya. Mereka bungkam sesaat, menikmati de-
rasnya aliran kerinduan. yang tadi sempat berdesir di
dalam darah mereka. Lambat laun, ingatan Lanangseta
kembali menerawang pada tebing maut berpemandan-
gan aneh. Tebing Neraka yang menyeramkan di balik
kesunyiannya, sungguh membuat merinding bulu ku-
duk tiap manusia.
"Baru sekarang seseorang berhasil melukaiku
dengan pukulan jarak jauhnya," ujar Lanangseta bagai
bicara pada diri sendiri.
"Kumba, Kumbi... memang cukup tangguh. Ka-
rena itu mereka ditempatkan sebagai penjaga Jemba-
tan Kubur. Mereka tak dapat mati. Jika seorang mati,
yang seorang menghentakkan kakinya ke tanah, maka
yang mati akan hidup kembali. Mereka kakak beradik
yang mempunyai ilmu tinggi."
Kirana berkata dengan mempermainkan ram-
but Lanangseta.
"Jembatan Kubur itu yang seperti seutas tali?"
tanya Lanangseta seraya berpaling memandang Kira-
na, dan Kirana mengangguk. Lanang bertanya lagi,
"Dari mana kau tahu daerah itu dan seluk-beluk ma-
nusianya?"
Lama sekali Kirana terbungkam, seperti sedang
meresapi suatu kenyerian di hatinya. Beberapa saat
kemudian, ia pun menjawab dengan suara datar:
"Ibuku, tewas di sana...."
"Oh...?!" Lanangseta bagai disengat kelabang. Ia
membelalakkan mata dan memandang Kirana lebih te-
gas lagi.
"Ibumu...?!"
Kirana mengangguk. "Kekuatan kami tidak
seimbang. Mereka orang-orang yang bagaikan tak bisa
mati. Terutama Si Cakar Setan dan...."
"Dan siapa yang dimaksud dengan sebutan
Gusti Dalem itu?" sahut Lanangseta.
"Pucuk pimpinan mereka yang tidak setiap
orang bisa bertemu dengannya. Dia paling jahat dari
semua penjahat di bumi ini. Kabarnya, dia pernah
memakan bayi mentah-mentah dalam keadaan bayi itu
masih hidup, sampai akhirnya mati sebelum habis
termakan semua."
"Gila...!" desis Lanangseta membayangkan ke-
kejaman itu.
"Karena itu, sejak ayah menyuruhmu menum-
pas orang-orang Tebing Neraka, sejak saat itu hatiku
selalu cemas dan gelisah. Kubayang-bayangi kau dari
rumah, dan ternyata kecemasanku menjadi kenyataan.
Kau hampir saja lenyap ditelan waktu."
Berkerut dari Lanang mendengar kata-kata
yang terasa janggal di hatinya.
"Ditelan waktu? Bukankah aku nyaris masuk
ke jurang berasap itu?"
Kirana bangkit, berjalan menatap sinar mata-
hari dari mulut goa. Lalu ia berkata dengan tenang,
tanpa memandang kekasihnya:
"Manusia memandang jurang itu sebagai jurang
berasap yang kelihatannya tidak mempunyai suatu
kedahsyatan. Tetapi di situlah sebetulnya letak pusa-
ran arus waktu. Dari jurang berasap itulah alam ini
terpengaruhi masanya. Semakin mendekati jurang itu,
semakin cepat perbedaan waktu dengan di sini atau di
tempat lain."
"Aku kurang jelas," sergah Lanangseta sambil
berkerut-kerut memandang Kirana. Lalu, Kirana pun
mendekat.
"Berapa hari kau pergi ke Tebing Neraka itu da-
ri rumahku?" tanya Kirana. Ia menyempatkan mengu-
sap-usap pipi Lanangseta dengan lembut.
"Tiga hari sejak keberangkatanku dari rumah
mu itu."
Kirana menggeleng dalam senyum tipis yang
disuguhkan kepada Lanangseta. "Dua hari kau be-
rangkat dari rumah, kau tiba di sebuah desa, bukan?"
"Ya."
"Lalu kau berjalan dari desa itu ke Jurang
Gempal kira-kira hampir satu hari.'"
"Ya. Hampir satu hari aku mengikuti Surobe-
dog," kata Lanangseta sambil mengangguk.
"Dan kau turun pada saat itu juga?".
"Benar. Aku turun ke tebing, mencapai jalanan
datar yang berada di lereng tebing itu."
"Pada saat kau berada di jalanan datar itu, kau
tidak terasa telah melewati empat kali masa matahari
terbenam."
"Hah...?!" Lanangseta terkejut, wajahnya te-
gang, mulutnya melongo. Namun bagi Kirana ia tetap
tampan dalam keadaan seperti itu. Kirana menjelaskan
lagi: "Semakin kamu masuk ke kawasan tebing itu,
semakin cepat waktu berputar. Kau melihat sorot ma-
tahari di sana?"
Setelah berkerut mengingat-ingat, Lanang pun
menggeleng. "Tidak. Aku hanya menemukan alam yang
teduh, mendung tidak, panas tidak. Teduh dan nya-
man sekali tinggal di sana."
"Nah, itulah sebabnya kau tidak akan merasa
bahwa kau telah ada dalam pengaruh perputaran wak-
tu. Kau tidak merasa kalau di permukaan bumi ini su-
dah berjalan 4 hari, empat kali matahari terbit dan
tenggelam."
"Gila...." desis Lanang, sekali lagi dengan mata
terbelalak dan mulut melongo. Kirana tertawa pendek
melihat pendekar tampan tertegun bengong seperti itu.
Lalu ia mencium dengan gemas pipi Lanangseta dalam
tawanya.
"Jadi, aku telah berada empat hari di sana? Ah
rasanya baru beberapa saat saja."
"Kau sudah seminggu berpisah dengan ku, La-
nang." bisik Kirana dalam pelukannya.
"Sukar dipercaya. Sungguh sukar dipercaya hal
itu."
"Memang. Tapi itulah keajaiban alam semesta
ini."
"Oh, jadi... bukan karena bikinan orang-orang
Tebing Neraka itu?"
Kirana menggeleng. "Mereka hanya meman-
faatkan keganjilan yang ada di jagad ray a ini. Dan
memang bukan hanya jurang berasap saja yang men-
jadi keganjilan seperti itu. Sebenarnya banyak keganji-
lan alam lainnya yang bisa dimanfaatkan, tapi umum-
nya manusia bahkan menjauhi dan merasa ngeri. Ber-
beda dengan orang-orang Tebing Neraka itu, mereka
memanfaatkan keganjilan alam tersebut, hanya saja
berada di jalan yang hitam."
"Ob, ya... ya... ya... sekarang aku baru tahu,
mengapa lawanku yang terlempar ke dasar jurang be-
rasap itu hilang. Tak ada bekas sesobek pun pakaian-
nya yang terlihat di dasar jurang."
"Ia tak pernah menyentuh dasar jurang. Ia hi-
lang sebelum kulitnya menyentuh dasar jurang. Kare-
na di situlah letak perbedaan waktu yang amat jauh
dengan waktu di permukaan bumi ini. Dan... orang itu
mengalami nasib serupa dengan ibuku. Lenyap, tak
tahu di mana rimbanya. Tapi menurut ayah, ibu bera-
da di alam lain."
"Alam kematian?"
"Tak pasti alam kematian. Tetapi menurut
ayah, ada alam lain yang membentang di jagad raya
ini. Yaitu tempat suatu kehidupan yang tak pernah ter-
jangkau oleh mata dan pikiran manusia, sehingga
hanya disimbolkan dalam sebuah dongeng, dan di go-
longkan sebagai dunia khayalan. Menurut ayah, piki-
ran manusia sangat terbatas, sehingga tidak dapat
menjangkau pengetahuan soal itu. Jadi, sarannya, le-
bih baik kita menerima keganjilan itu sebagai sesuatu
yang aneh, yang tak perlu ditelusuri kehakikiannya.
Saranku pun demikian kepadamu...." "Saran apa?"
"Lebih baik kau cari Sekar Pamikat sekarang
juga, dan mintalah restu darinya. Ingat, saat ini Sekar
Pamikat jauh lebih sakti dari kita, bahkan dari ayahku
sendiri."
"Sekar...?" Lanangseta termenung. Ada guratan
duka di permukaan wajah tampannya. Guratan duka
itu tak jauh dari segenggam kenangan. Kenangan ma-
sa lalu bersama Sekar Pamikat. Dan, kenangan itulah
yang mencipta rindu menyengat hati, lalu menumbuh-
kan kilasan-kilasan duka di wajahnya. Kirana tahu hal
itu, namun ia tidak cemburu. Ia bisa memaklumi pera-
saan orang lain, sebab ia ingin orang lain pun dapat
memaklumi perasaannya.
"Aku khawatir Sekar sudah masuk ke dalam
kenyataan goa ini, seperti yang pernah kau sebut-
sebutkan."
"Memang. Itu tidak salah."
"Tapi di mana letak goa ini sebenarnya? Di ma-
na pusat goa ini yang kau sebut sebagai kenyataan goa
itu?"
Kirana angkat bahu. "Aku belum pernah me-
nemukan. Tetapi, mungkin aku bisa menemanimu
mencarinya."
Lanangseta bangkit dari duduknya. Rasa nyeri
di dada serta ulu hati telah berkurang. Ia mengusap
dadanya sebentar. Kirana berkata: "Mungkin pengoba-
tanku kurang sempurna, ya? Masih sakit?"
Lanangseta tersenyum. "Tak seberapa. Tapi...
terima kasih atas pengobatanmu. Aku kagum padamu,
cantik...." kata Lanangseta dengan menyebut kata
'cantik' sebagai ganti nama Kirana. Perempuan anggun
yang berpandangan dewasa itu tersenyum tipis, lalu
melangkah lebih dulu sebelum Lanangseta bergerak.
Sebenarnya mereka akan melangkah berdua,
mencari pusat goa yang sebenarnya, yang menurut is-
tilah Kirana sebagai 'kenyataan goa' itu. Tetapi mereka
terpaksa membatalkan niatnya untuk melangkah ber-
dua, sebab dari arah depan mereka, terlihat seorang
berlari-lari membawa api pada sebatang kayu. Lanang-
seta menatap di kedalaman lorong, menggumam lirih
pada saat api itu semakin mendekati mereka. Lalu ter-
lontarlah kata panggilan:
"Ludiro...?! Paman Ludirokah itu...?!"
"Ya, aku...! Ada kabar buruk, Lanang...!" suara
Ludiro yang semakin lama menghilang bagaikan biasa-
biasa saja.
"Paman...?! Aku mencemaskan dirimu. Sudah
satu minggu lebih aku mencari kesempatan untuk
mencarimu tapi...."
"Seminggu lebih?!" Ludiro kaget. "Astaga...! Aku
sampai tidak merasa kalau sudah seminggu lebih
mencari Putri Ayu Sekar Pamikat...?! Dan... dan aku
tidak merasa lapar atau dahaga di dalam goa ini?
Aneh!"
Kirana dan Lanangseta juga merasakan keane-
han itu. Lalu Kirana berkata kepada Lanangseta,
"Mungkin itulah keistimewaan Goa Malaikat ini...."
"Maaf, Nona siapa?" Ludiro bertanya.
Lanang menjelaskan kepada Ludiro siapa Kira
na itu, dan juga menceritakan tentang Pendekar Maha
Pedang yang telah selamat serta telah pergi bersama
kekasihnya: Andini, si gadis manja itu. Lanang perlu
menceritakan hal itu, sebab Ludiro tidak ikut dalam
pertempuran melawan serbuan orang-orang Tebing Ne-
raka (dalam kisah Rahasia Goa Malaikat). Sudah tentu
hal itu sangat mengagetkan Ludiro dan membuat lelaki
pendek berbadan kekar itu terheran-heran. Kepada Ki-
rana sendiri. Lanangseta menjelaskan sekali lagi siapa
itu Ludiro, dan apa hubungannya dengan Sekar Pami-
kat. Kirana hanya mengangguk-angguk memahami ke-
terangan tersebut.
"Baiklah, ada yang lebih penting yang harus
kusampaikan kepadamu, Lanang," kata Ludiro.
"Tentang apa?"
"Sekar," katanya terputus karena ia harus me-
nelan ludah. Ludiro kelihatan tegang. "Saya menemu-
kan lorong lain, tempatnya masuk ke dalam melalui
tangga batu. Kemudian di sana aku juga menemukan
ruangan aneh, ada semacam kamar besar yang tertu-
tup batu atau tembok batu amat kokoh. Aku yakin itu
ruangan. Dan di depan ruangan itu, aku menemukan
Cambuk Naga milik Putri Ayu Sekar Pamikat...!"
"Dia sendiri?" Lanang semakin ikut tegang.
"Putri sendiri... tidak kutemukan di mana-
mana. Dan... marilah ikut aku. Coba perhatikan apa-
kah cambuk itu benar milik Putri Ayu atau bukan...."
Lanang dan Kirana mengikuti langkah Ludiro
yang membawa kayu bakar. Nyala api kayu itu cukup
stabil, tidak meliuk-liuk karena hembusan angin. Lu-
diro bahkan berkata: "Semua ini terjadi sangat aneh.
Sudah seminggu lebih aku berada di dalam goa, se-
dangkan api kayu ini belum sempat padam sejak ku-
nyalakan tempo hari itu, Lanang."
Lanang hanya menggumam dan merenungi
keanehan yang ada. Entah berapa lama mereka berja-
lan menyusuri lorong demi lorong. Ludiro yang tahu li-
ku-likunya tempat itu. Rupanya ia sengaja memperta-
jam ingatannya untuk dapat kembali ke tempat yang
dimaksud. Dan ternyata, setelah beberapa saat, mere-
ka tiba di sebuah lorong yang menuju ke bawah. Lo-
rong itu mempunyai tangga batu yang menuju ke ba-
wah dengan ukuran lebar 3 kali ukuran tombok.
"Di dalam sana saya menemukan Cambuk Naga
milik Putri," kata Ludiro kepada Kirana Sari.
"Mari kita ke bawah," bisik Kirana kepada La-
nang, dan Ludiro segera melangkah lebih dulu. Mereka
menuruni anak tangga dari batu yang tersusun rapi.
Jumlahnya lebih dari 100 anak tangga, bahkan La-
nang sendiri sempat berhenti satu kali untuk menga-
tur pernafasannya. Maklum, ia baru saja sembuh dari
sakitnya, sehingga kondisinya tidak seprima biasanya.
Jika tanpa penerangan lampu kayu yang diba-
wa Ludiro, mungkin mereka akan tersasar ke lorong
kiri, sebab di situ ada juga anak tangga yang menuju
lorong kiri. Tetapi berkat bantuan nyala api kayu itu,
mereka akhirnya tiba di ruangan yang lembab. Hawa
dingin menembus tulang. Debu-debu melekat dengan
barang yang ada di sana karena kelembapan. Juga lu-
mut-lumut menghijau pada dinding sebuah ruangan
besar. Menurut Kirana, ruangan itu adalah sebuah ba-
lairung yang disebut oleh sejarah leluhurnya sebagai
Pendopo Agung. Tepat seperti tertulis dalam kitab seja-
rah leluhur Kirana, di situ memang ada sebuah ban-
gunan; menyerupai sebuah kotak atau kamar besar
yang terbuat dari batu. Bangunan itu, dan juga dind-
ing di sekitar Pendopo Agung itu, mempunyai beba-
tuan yang terpotong rapi dan halus. Disusun rapi dengan tanah perekat yang begitu kokoh. Di sisi bangunan
tengah itu terdapat sebuah pintu dari batu berbentuk
lengkung bagian atasnya. Di depan pintu itulah Ludiro
memperlihatkan ada Cambuk Naga tergeletak di sana.
Selain Cambuk Naga, juga Pedang Jalak Pati milik Se-
kar Pamikat. Lanangseta memungut benda itu dan
mengamatinya dengan keharuan hati yang menyayat.
Tak sadar mulutnya mengucap kata: "Sekar...." dalam
desah menghibakan.
"Aku yakin, Putri ada di kamar ini," kata Ludi-
ro.
Lanangseta memandang kamar tersebut, lalu
berusaha membukanya namun berulangkali ia gagal
mendorong pintu tersebut.
Kirana memegang tangan Lanangseta ketika
pendekar itu hendak memukul pintu. Kirana berkata
dengan tenang:
"Jangan bertindak bodoh. Aku tahu tempat ini
tidak seperti tempat lainnya. Banyak jebakan dan pe-
rangkap yang mematikan."
"Aku butuh bertemu dengan Sekar! Paling tidak
untuk minta restu kepadanya seperti saranmu itu."
"Tapi tidak harus dengan kekuatan pisik. Pen-
dopo Agung ini, menurut catatan sejarah leluhurku,
dikerjakan dengan segala kelembutan; pekerjaan yang
lembut, tenaga-tenaga yang lembut, dan hati mereka
pun penuh kelembutan, sehingga dengan kelembutan
pun kita harus bertindak di sini." Kirana memandang
sekeliling, sebuah kesunyian membentang di sana- La-
lu, tiba-tiba ia bicara setelah berpikir beberapa saat:
"Ketuklah pintu itu dengan lembut sebanyak
tujuh kali."
"Apa?!" Lanang merasa heran dengan anjuran
itu. Kirana mengulangi kata-katanya dan Lanangseta
nyata betul menampakkan keheranannya. Namun ke-
mudian ia mengikuti juga saran Kirana. Ia mengetuk
pintu batu yang kokoh itu sebanyak tujuh kali
Ya. Tujuh kali ia mengetuk pintu dengan ke-
lembutan, lalu pintu itu benar-benar terbuka. Bergeser
pelan-pelan bagai langkah seorang putri yang penuh
kelembutan. Lanang dan Kirana tersentak mundur,
demikian juga Ludiro yang merasa ngeri berada di
tempat tersebut. Mata Lanang berkejap-kejap bagai ti-
dak mempercayai apa yang telah dilihatnya pada saat
pintu batu tersebut terbuka semua.
Seorang perempuan cantik. dengan rambut te-
rurai dan mengenakan kain putih yang hanya diba-
lutkan pada tubuhnya itu, kelihatan begitu memukau
dan sempat membuat lutut bergetar. Wajah itu, jelas
wajah yang tak asing bagi Lanangseta maupun Ludiro.
Tetapi ketika Lanang hendak mendekati sambil berse-
ru: "Sekar...?!"
Perempuan itu berkata dengan kelembutan
yang nyata:
"Lanangseta...." Ia tersenyum sambil mengulur-
kan tangan, memberi isyarat agar Lanang jangan men-
dekat. Gemuruh hati Lanangseta menahan gejolak ke-
haruannya. Sekar Pamikat yang berpenampilan jauh
berbeda dari sebelumnya itu berkata bagai perkataan
seorang dewi.
"Aku sudah tahu apa kata hatimu, Lanangseta.
Tapi semua itu adalah garis hidup yang tak terelakkan
oleh siapapun. Berangkatlah ke Tebing Neraka, sele-
saikan urusan mu di sana. Genggamlah cinta kasih
yang ada dan peruntukkan bagi gadis yang kau cinta
itu. Aku tak dapat lama-lama menemui kalian. Hanya
saja, satu yang harus kau ingat, Lanangseta, yaitu
gerhana bulan akan datang tiba. Pada saat gerhana
bulan itu] ah orang-orang Tebing Neraka kehilangan
kekuatan. Serang mereka, jangan izinkan mereka ma-
suk ke tempat semadiku ini. Percayalah, aku tetap
mendampingi kalian. Aku merelakan Cambuk Naga
menjadi milik Paman Ludiro, beserta Pedang Jalak Pati
itu. Tetapi untuk keperluanmu, pakailah dulu pusaka
Cambuk Naga itu, Lanang. Berangkatlah pada saat
gerhana tiba, dan hati-hatilah. Jika kau selamat, kau
pasti akan datang lagi ke mari, dan aku sudah me-
nyiapkan sebuah hadiah perkawinan kalian, yaitu se-
tangkai bunga teratai Goa Malaikat. Aku akan per-
siapkan dan akan kuberikan padamu kelak jika kau
pulang dari Tebing Neraka. Paman Ludiro... bantu La-
nangseta...."
"Ba... baik Putri Ayu...."
Mulut Lanang bagaikan terpatri rapat. Lidah-
nya kelu tak dapat berkata apapun. Sekar Pamikat
masuk ke dalam kamar itu, dan .pintu kamar tertutup
sendiri, rapat, kokoh serta tegar.
Ludiro orang yang pertama kali berani berge-
rak. Ia memungut Pedang Jalak Pati dan Cambuk Naga
dengan hati-hati sekali. Senjata yang diwariskan kepa-
danya itu, bagai sebuah mimpi yang tak pernah me-
nembus di hati. Namun, kali ini ia harus menyerahkan
Cambuk Naga kepada Lanangseta, sesuai dengan
amanat Putri Ayu Sekar Pamikat, yang agaknya sudah
menjadi orang suci, atau seorang resi perempuan yang
muda dan cantik itu.
"Bawalah cambuk ini, dan mari kita hancurkan
Tebing Neraka," kata Ludiro kepada Lanangseta yang
masih terbengong. Lanangseta melangkah menaiki
anak tangga dengan perasaaan haru. Sesekali ia me-
nengok ke belakang, memandang Pendopo Agung itu.
Sedangkan Kirana, dengan penuh kesetiaan menggan
dengnya dan sabar menunggu langkah kaki Lanang
yang sebenar-sebentar berhenti itu. Seperti biasa, Lu-
diro berjalan di belakang, mengawal Lanangseta seba-
gai pengganti Sekar Pamikat.
Langit mulai menampakkan kesuramannya.
Sebentar lagi malam akan menjelma. Di tepi tebing Ju-
rang Gempal, dua sosok berdiri tegap. Mereka adalah
Lanangseta dan Ludiro. Mereka menunggu malam. Me-
reka menunggu rembulan muncul dari balik awan. Me-
reka memandang ke bawah, terlihat juga sempit yang
nantinya akan melebar itu mengepulkan asap tipis.
Jurang itu tampak memerah, bagai nyala bara.
Di bawah sana, ladang pembantaian telah siap
menunggu penggarapnya. Pedang Jalak Pati di ping-
gang Ludiro, dan Pedang Wisa Kobra bertengger di
punggung Pendekar Pusar Bumi. Sementara itu, Cam-
buk Naga tampak terselip di balik ikat pinggang yang
terbuat dari kulit buaya.
Malam telah menyelubungi bumi dan kesu-
nyian begitu mencekam. Sinar bulan muncul dari balik
mega, lalu surut karena gerhana telah tiba.
"Saatnya kita bergerak, Paman! Hati-hati den-
gan jurang berasap itu. Ingat keteranganku tadi."
"Aku siap! Mari...!"
Dengan ilmu peringan tubuh yang cukup sem-
purna, mereka berjumpalitan menuruni tebing Jurang
Gempal, yang menurut banyak orang disebut Tebing
Neraka. Keduanya bergerak dengan gesit dan lincah.
Namun suatu keanehan telah terjadi setibanya mereka
menapak di jalanan datar yang menyusuri tebing itu.
Mereka bagai berada di alam lain, asing. Gelap tidak
teramat pekat, dan terang tidak benderang. Namun
pancaran pijar bara terlihat jelas di jurang berasap.
Dasar jurang yang dulu dilihat Lanangseta sebagai
pemandangan indah, bergemerlap batuan permata,
saat ini menjadi merah, bagai bara neraka yang siap
melumatkan tubuh yang menyentuhnya. Kepulan asap
semakin banyak, tidak seperti dulu saat Lanangseta
melihatnya untuk yang pertama kali. Jalanan keliha-
tan terang. Batu-batuannya terlihat jelas. Mereka bagai
berada di luar malam. Tidak seperti di tepi jurang tadi.
"Kita bergerak ke sana, Paman," kata Lanangse-
ta sambil melesat menuju arah di mana terdapat jem-
batan seutas, yang menurut Kirana sebagai Jembatan
Kubur. Sayup-sayup terdengar suara berdengung. Se-
makin mendekati Jembatan itu, semakin nyata suara
berdengung itu. Lanang dan Ludiro saling tatap, saling
bertanya-tanya dalam hati: suara apakah itu?
"Sebuah gumam orang banyak...." bisik Ludiro
menerka suara dengung itu. Lanangseta menggeleng-
kan kepala.
"Bukan. Sepertinya orang banyak yang sedang
mengucapkan mantra, atau semacam kidung pujaan."
"Arahnya dari bangunan di atas cadas merah
itu."
'Ya...." Lanang mengangguk. "Kita harus masuk
ke gedung tersebut dan memukul mereka pada saat
seperti ini. Pasti mereka tak berani keluar, karena ke-
kuatan mereka hilang pada saat ini. Pasti mereka tabu,
bahwa saat ini di atas jurang terjadi gerhana bulan."
"Sekarang kita bergerak, sebelum bulan menja-
di purnama kembali."
"Hati-hati...." bisik Lanangseta. "Ada dua penja-
ga tangguh yang berada di ujung jembatan seutas itu.
Dulu aku terkena pukulan beracunnya."
"Aaah... dulu mereka memang kuat. Tapi seka-
rang kan tidak. Mereka dalam keadaan lemah."
Pendekar Pusar Bumi membenarkan kesimpulan Ludiro. Lalu mereka bergerak, melesat bagai se-
buah cahaya hitam. Ketika mereka tiba di ujung jem-
batan, dugaan Lanangseta memang benar, mereka di-
hadang dua orang bertampang bengis. Lanangseta
kenal betul, dua orang itu adalah Kumba dan Kumbi,
yang konon jika mati, salah satu menghentakkan kaki
akan menjadi hidup lagi. Tapi apakah ilmu itu berguna
untuk saat gerhana begini?
"Mau apa kau datang lagi, kunyuk?!" bentak
Kumba.
"Mereka masih menjaga wibawa, walau sudah
kehilangan tenaga," bisik Ludiro.
"Manusia memang kadang bersifat begitu," ba-
las Lanang. Kemudian ia berkata kepada kedua penja-
ga jembatan itu:
"Kau pikir akan apa aku ke sini kalau bukan
akan membunuh kalian? Semua orang-orang Tebing
Neraka ini!"
Sepintas Lanang dan Ludiro sama-sama meli-
hat Kumba dan Kumbi tercengang. Ketakutan tampak
di permukaan wajah mereka, namun sengaja ditutupi
dengan kebengisan yang ada.
"Kuingatkah kepadamu, pulanglah daripada
mati di Tebing Neraka ini. Lihat, jurang berasap itu,
betapa panas pijar bara di dasarnya. Kalian akan mati
hangus di sana!"
"Bukankah setiap orang datang ke mari tak
pernah boleh hidup lagi? Bukankah kalian pasti akan
membunuhnya? Kenapa sekarang kalian justru meme-
rintahkan kami untuk pulang? Sejak kapan kalian
menjadi murah kasih?!"
Agaknya Kumbi masih bertahan untuk menjaga
kewibawaan, sekaligus mengulur waktu. Ia berkata
dengan sombongnya: "Kau tidak tahu, kunyuk.... bahwa kami ini sukar dikalahkan. Seorang dari kami mati,
seorang lagi akan menghentakan tanah dan dia yang
mati akan hidup lagi."
"O, ya?! Apakah hal itu berlaku pula di saat
gerhana bulan seperti ini?!" kata Lanang dengan terse-
nyum sinis. Kedua orang bengis itu semakin gelisah.
Saling memandang, saling mencari kesempatan untuk
berbuat sesuatu, saling kebingungan. Dan hal itu tak
bisa dibiarkan oleh Ludiro.
"Mereka sengaja mengulur waktu supaya ger-
hana cepat sirna, serang sekarang juga...!" Kemudian
Ludiro maju menyerang sambil menghunus Pedang Ja-
lak Pati. Kumbi yang diserang berjumpalitan menghin-
dar tebasan pedang. Sementara itu, Lanangseta segera
mencabut Pedang Wisa Kobra dan membabat leher
Kumba. Kegesitan memang masih ada pada mereka,
terbukti mereka bisa menghindar serangan Ludiro dan
Lanangseta, namun sejauh ini mereka tak melakukan
serangan balasan. Ludiro berteriak:
"Lanang, mereka hanya mengulur waktu! Ger-
hana hanya sebentar, cepat selesaikan urusan ini, aku
akan menerjang ke bangunan kokoh itu...!!"
Ludiro melentik meniti jembatan dengan tiga
kali kakinya menyentuh seutas tali panjang itu. Me-
nyadari kata-kata Ludiro, Lanangseta segera bergerak
cepat. Pedang Wisa Kobra menebas kian ke mari, dan
akhirnya menyentuh leher salah seorang dari mereka.
Kepala orang itu terlepas dari lehernya. Salah seorang
menghentak-hentakkan kaki ke tanah dengan bin-
gung, namun yang terpenggal tetap saja mati. Dengan
satu tendangan menyamping yang cukup kuat, La-
nangseta berhasil membuat tubuh Kumba terpental ja-
tuh, terguling-guling dan akhirnya masuk ke jurang
berasap itu. Tubuh Kumba hilang tak berbekas, sementara dengan kasar Lanangseta menendang kepala
Kumbi yang terpotong itu, lalu menyeret tubuhnya dan
memasukkan ke dalam jurang, dan tubuh serta kepala
itu pun lenyap. Lanang tak mau bertahan di situ terla-
lu lama, ia segera menyusul Ludiro yang sudah berada
di tanah cadas merah. Ia berseru, "Paman Ludiro...
tunggu!"
Dalam sekejap tubuh Lanangseta sudah berada
di depan Ludiro. Ludiro sempat berkata, "Kita masuk
lewat pintu gerbang saja!"
"Jangan. Itu bukan pintu gerbang sebenarnya.
Bangunan ini tidak mempunyai pintu gerbang. Mereka
semua menggunakan ilmu peringan tubuh untuk me-
masuki bangunan itu."
"Kalau begitu, cepat kita bertindak...!" kata Lu-
diro setelah memandang ke arah rembulan dalam ger-
hana di langit. Rembulan itu kelihatan sangat samar-
samar, bagai tersapu kabut tebal. Dan dalam satu kali
hentakan, tubuh mereka melejit, bersalto satu kali dan
sampailah mereka pada bagian dalam halaman ban-
gunan tersebut.
Suara orang menggumam bagai mengucapkan
mantra dan kidung yang tetap itu semakin jelas. Arah-
nya dari ruangan di sebelah kanan. Sekali lagi Ludiro
mengingatkan, "Gunakan jurus-jurus pamungkas.
Keadaan ini tidak bisa diulur-ulur. Mereka harus bina-
sa sebelum gerhana sirna!"
Lanangseta mengangguk, kemudian ia segera
mencabut Cambuk Naga.
"Hiaaaatt...!"
Gelegar suara cambuk membahana. Bangunan
itu goyah. Suara ricuh dan kalang kabut terjadi di da-
lam gedung. Kemudian satu persatu mereka berham-
buran keluar dalam keadaan ketakutan. Lanangseta
melecutkan Cambuk Naga dengan gerakan asal saja. Ia
tidak menyadari bahwa gerakan itu sebenarnya jurus-
jurus pamungkas dari Sekar Pamikat. Sementara La-
nang mengibaskan cambuk berulangkali dan menim-
bulkan ledakan bergema, Ludiro menerjang masuk ke
arah lain, membantai setiap orang yang ditemuinya
dengan Pedang Jalak Pati. Ludiro sendiri juga merasa
heran, mengapa dirinya bisa bermain pedang seperti
yang pernah dimainkan oleh Sekar Pamikat. Tapi, hal
itu tidak terlalu dipikirkan. Ia melompat, bagai terbang
di atas mereka yang panik, lalu pedang Jalak Pati me-
nebas beberapa kepala. Jerit dan teriakan histeris ter-
jadi membisingkan. Terbayang di benak Ludiro, mung-
kin beginilah keadaan di neraka sebenarnya. Jerit,
tangis dan rintihan saling berpacu dalam lengking ke-
matian yang membuat bulu kuduk merinding.
Orang-orang itu, benar seperti orang-orang
tanpa ilmu silat apapun. Mereka tak dapat mengguna-
kan ilmu dan kekuatan tenaga dalam mereka. Bahkan
ketika seorang lelaki bermata buta sebelah berdiri di
depan Lanangseta, ia pun menyembunyikan rasa ta-
kut. Melihat kukunya yang tajam pada setiap ujung ja-
ri, Lanangseta yakin, dialah Si Cakar Setan, pimpinan
mereka setelah Gusti Dalem.
"Cakar Setan...! Ayo, bergeraklah...!" bentak
Lanang.
Cakar Setan berusaha tetap tenang. "Kami me-
nunggu perintah dari Gusti Dalem. Kalau kau memang
seorang kesatria tangguh, mari kita bertarung satu la-
wan satu di lain tempat. Tentukan waktunya. Silakan
kau yang menentukan waktu dan tempat untuk adu
tanding denganku!"
"Sekarang waktunya, dan di sini!" teriak La-
nangseta.
Cakar Setan kelihatan gugup. "Tidak. Jangan di
sini. Ini tempat suci, tak baik untuk...."
Belum habis Cakar Setan bicara, Cambuk Naga
melecut dirinya dengan satu ledakan yang menggema.
"Blegaarr...!!"
Jerit kematian menggema pula, tubuh Cakar
Setan yang konon sadis dan sakti itu meliuk-liuk sam-
bil menjerit kesakitan. Kemudian Lanangseta men-
cambuknya sekali lagi sambil tubuhnya melayang ting-
gi menuju ke arah serambi bangunan tersebut. Untuk
yang kedua kali Cakar Setan meliukkan tubuh, namun
kali ini ia terbelah menjadi dua bagian pada perutnya.
Lanangseta segera masuk ke dalam, mengobrak-abrik
tempat itu dengan lecutan Cambuk Naga berulangkali.
Jerit kematian semakin riuh dan mengerikan.
Pada saat itu, muncullah seorang perempuan
yang berdiri tanpa mengenakan busana kecuali bagian
bawah pusarnya. Dia sangat mengenal Lanangseta,
dan Lanangseta pun mengenalnya. Sebelum ia bicara,
beberapa orang telah bersujud menyembahnya sambil
meratap:
"Gusti Dalem... tolonglah kami...! Bertindaklah
Gusti Dalem...!"
Lanangseta tersenyum sinis, "Oh, kau rupanya
yang disebut Gusti Dalem? Kau, Peri Sendang Bang-
kai?! Hah...! Sekarang pun kau akan binasa seperti
mereka!"
"Tunggu...! Kuakui kau menang terhadap me-
reka, tapi belum tentu dapat mengalahkan aku!"
Peri Sendang Bangkai, yang dulu pernah me-
rencanakan menjadikan Lanangseta sebagai 'bibit un-
ggul' dari sebuah pembuahan keturunan, kini sedang
melayang menyerang Lanangseta. Dari kedua tangan-
nya terpancar sinar biru tua yang dulu nyaris merenggut jiwa Lanangseta. Tapi sekali lagi, sesuatu yang di
luar dugaan terjadi sangat mencengangkan Lanangse-
ta. Kali ini ia merasa dihalang-halangi oleh seseorang
berpakaian serba putih. Orang itu yang mengembali-
kan sinar biru tua ke arah Peri Sendang Bangkai. Si-
nar biru tua itu nyaris mengenai tubuh Peri sendiri,
namun ia segera melesat ke samping dan sinar terse-
but menghantam orang- orang yang panik. Lalu, mere-
ka pun hilang, lenyap begitu saja tanpa bekas.
Peri Sedang Bangkai menggeram, "Lagi-lagi kau
muncul Sekar Pamikat. Bah...!"
"Sekar...." desah Lanangseta yang tercengang.
Namun Sekar Pamikat yang berpakaian putih itu me-
nerjang Peri Sendang Bangkai. Dalam kesempatan itu,
perempuan bugil tersebut berubah diri menjadi
bayang-bayang yang bergaris tipis. Serangan Sekar
Pamikat bagai menembus udara hampa. Lalu terden-
gar suara Peri Sendang Bangkai sebelum ia menghi-
lang lenyap bagai ditelan bumi:
"Tunggulah... saat pembalasanku pasti akan ti-
ba untuk kalian...!!" Dan Lanangseta kelabakan men-
cari di mana sosok Gusti Dalem atau Peri Sendang
Bangkai itu. Namun ia juga kebingungan lagi, karena
Sekar Pamikat pun hilang begitu saja tanpa mening-
galkan pesan apapun.
"Dewiii...?!" teriak Lanangseta. Kemarahannya
bagai meluap, ia melesat ke luar dan menemukan Lu-
diro sedang sibuk membantai beberapa orang. Lanang
berseru:
"Kiranaaaa...!!"
Badai pun datang. Ludiro dipegang erat-erat
oleh Lanangseta. "Bertahanlah, Paman...!"
Alam mengamuk. Guntur menggelegar di ang-
kasa. Yang mati maupun yang masih hidup terlempar
dan. terhempas. Seperti yang sudah-sudah, jika nama
Kirana disebutkan, maka langit pun bergemuruh, me-
merah bagai terbakar kilatan petir yang sahut-
menyahut. Badai begitu kencang sehingga tembok ba-
tu pualam roboh. Mayat-mayat dan mereka yang berla-
rian dengan panik terlempar ke jurang berasap. La-
nang dan Ludiro saling berdekapan menahan diri agar
tidak ikut terlempar oleh hembusan angin maha ken-
cang itu.
"Kita harus segera menyingkir dari sini, sebe-
lum bangunan ini rubuh semua...!" teriak Ludiro.
"Dapatkah kita menyeberangi jembatan seutas
itu?" Lanangseta sangsi. Mereka sudah berdiri di tepi
tebing jurang berasap. Ternyata keadaannya semakin
mengerikan. Dasar jurang itu menyala dan asap men-
gepul berputar-putar bagai membentuk satu pusaran
mengerikan. Mereka nyaris ikut terlempar ke dasar ju-
rang itu karena hempasan badai amat kencang. Un-
tung pada waktu itu, tangan Lanangseta menancapkan
Pedang Wisa Kobra ke tanah dan pedang itulah yang
dipakai sebagai pegangan mereka berdua.
Bangunan tersebut benar-benar rubuh. Bumi
semakin terasa berguncang keras. Langit masih meme-
rah menyemburkan petir bertubi-tubi. Batu-batu pua-
lam bergelimpangan. Dan tanah cadas merah yang di-
pakai berdirinya bangunan itu perlahan-lahan berge-
rak miring, seakan hendak menuang seluruh penghuni
di atasnya. Gawat! Mereka pasti ikut tertuang ke ju-
rang berasap.
Namun pada saat itu, badai mulai reda. Alam
kembali tenang, dan sekarang tenang sekali. Kepulan
asap reruntuhan, hancurnya alam, begitu mengerikan
dipandang mata. Sedangkan posisi pulau cadas merah
sangat miring. Jembatan seutas telah hilang, mungkin
tersapu badai saat tadi. Tinggal Ludiro dan Lanangseta
yang masih bertahan berpegangan Pedang Wisa Kobra.
"Kita harus melompati jurang itu...." bisik La-
nang.
"Perbuatan gila...." balas Ludiro. Namun mere-
ka berdua tetap berusaha untuk bangkit dalam kemi-
ringan. Lanang mencoba lebih dulu menggunakan ilmu
peringan tubuhnya, "wesss...!" Ia menjejakkan kaki ke
tanah dan tubuhnya melayang di udara, berguling be-
berapa kali dan dengan mulus sampai di jalanan datar.
Lalu Ludiro melentikkan tubuh, bersalto beberapa kali,
dan nyaris terpeleset jatuh di bibir jurang berasap.
Tangan Lanangseta meraih baju Ludiro sehingga sela-
matlah ia. Keduanya saling tertawa dalam pelukan.
Setibanya di atas Jurang Gempal, mereka dis-
ambut oleh seorang perempuan cantik yang anggun:
Kirana Sari. Perempuan itu tersenyum tipis, namun
menyembunyikan kebanggaan yang luar biasa. Ia sege-
ra memeluk Lanangseta erat-erat, dan membiarkan
pendekar muda itu mencium pipinya.
"Dari mana kau tahu kalau tugasku sudah se-
lesai, Cantik?" bisik Lanangseta.
Kirana menjawab dalam bisikan, "Kau me-
manggil namaku, bukan?"
Lanangseta hanya tertawa pelan, seperti dalam
gumam. Pelukannya semakin erat melekat. Kirana me-
nyelusupkan kepalanya di dalam dekapan Pendekar
Pusar Bumi. Sementara itu Ludiro sibuk menggerutu
karena bajunya sobek pada saat Lanangseta menarik-
nya dari bibir jurang berasap.
Terlepas dari kewaspadaan mereka bertiga, se-
kelebat bayangan melesat dan menyambar Pedang Wi-
sa Kobra. Spontan Lanangseta terpekik sambil meraba
punggungnya.
"Ooh... pedangku...?!"
Dan seorang kakek berjubah kuning telah ber-
diri di atas pohon. Kakek tua itu memegang Pedang
Wisa Kobra dan Tongkat Besi. Jenggotnya yang pan-
jang berwarna putih kemerahan dihempaskan angin
bagai melambai-lambai mengejek Lanangseta. Dia ada-
lah Si Tongkat Besi yang susah mati.
Setelah terkekeh panjang, Tongkat Besi berka-
ta; "Lanang... sudah sebulan aku mencarimu, rupanya
kau sedang memadu kasih, ya? Eh, Nang... aku pinjam
pedangmu ini. Percayalah, dia akan kembali sendiri se-
telah aku mati dalam tikamannya. Selamat jumpa...!
He, he, hee...!"
Kakek tua itu melesat bagai bayangan, hilang
entah ke mana. Kirana hendak mengejar, tapi tangan
Lanangseta menggenggamnya kuat-kuat.
"Tak usah kau kejar...! Dia bukan orang jahat!
Dia akan menemuiku sendiri. Dia tak akan bisa meng-
gunakan pedang itu. Percayalah...!"
"Tapi... tapi kau akan kehilangan senjatamu...!
Kau kehilangan pusakamu dan..."
Dan kaulah kini pusakaku, Cantik...!"
Lanangseta tertawa dalam gumam. Kirana se-
makin tersipu. Lalu ia membiarkan keningnya dikecup
Pendekar Pusar Bumi. Dan pada. saat itu Ludiro ber-
paling dengan gerutu tak jelas.
TAMAT
0 komentar:
Posting Komentar