KARYA : BASTIAN TITO
SATU
SANG KETUA TAK BERNAMA
21 TOKOH BERGABUNG INGINKAN KEDUDUKAN
Kunti Kendil yang sejak tadi tidak tenang berbisik
pada suaminya, “Surah, bagaimana kalau saat ini
aku naik saja ke panggung. Menanyakan perihal
muridku itu pada hadirin.”
Lembu Surah alias Datuk Penghisap Darah terkejut.
Cepat-cepat dia menjawab, “Jangan bertindak gila Kunti.
Kita disini sebagai tamu. Jangan mengacau upacara tuan
rumah. Semua orang akan gusar kepadamu!”
“Perduli setan dengan semua orang!” sahut si nenek
yang memang sulit diberi pengertian. “Bukankah kita
datang kemari bukan untuk menghadirin segala macam
upacara kentut busuk ini. Tapi untuk mencari jejak mayat
Mahesa!”
“Aku tahu alasanmu itu. Tapi bagaimanapun aku tidak
setuju maksudmu naik ke panggung. Tunggu saat yang
baik!”
Kuntu Kendil tidak senang mendengar kata-kata Lembu
Surah itu. Namun dia terpaksa menahan diri. Seperti
tetamu lainnya dia lalu memandang panggung.
Saat itu lelaki bungkuk berjubah putih yang menutup
wajahnya dengan cadar hitam, tegak di atas panggung
sambil angkat tangan kanannya. Kemudian terdengar
suaranya. Keras tetapi hanya mengandung hasrat hati yang
keras, sama sekali tidak berwibawa.
“Para hadirin, para sahabat sekalian! Perkenankan aku
atas nama partai yang sebentar lagi akan diumumkan dan
diresmikan, mengucapkan rasa hormat yang setinggi-
tingginya kepada semua orang yang telah sudi datang
kemari dari perbagai penjuru dunia persilatan. Hari ini
adalah hari bersejarah dan hari berbahagia bagi kami
selaku tuan rumah. Semoga kebahagiaan itu menjadi
bagian para sahabat yang hadir di tempat ini.
Seperti para sahabat semua mengetahui, sejak dua
puluh lima tahun terakhir ini tidak ada lagi satu partai
persilatanpun berdiri. Padahal dunia persilatan telah ber-
kembang pesat dengan segala pasang surutnya. Karena
itulah saat ini dirasakan perlu untuk membangun, men-
dirikan dan meresmikan sebuah partai silat baru, demi
persatuan diantara kita orang-orang rimba persilatan.
Aku saat ini memberanikan diri untuk mengundang para
sahabat guna menyaksikan peresmian partai baru yang
akan diberi nama Partai Merapi Perkasa. Namun satu hal
perlu para sahabat ketahui, kalian semua datang kemari
bukan saja untuk menyaksikan dan meresmikan, tetapi
juga untuk turut ambil bagian dalam partai baru ini, dan
menduduki jabatan-jabatan penting yang tersedia….”
Sampai disitu ramailah suasana diantara para hadirin.
Ada yang menunjukkan rasa terkejut, ada yang cukup
senang dengan penjelasan itu karena merasa punya bobot
untuk dapat duduk dalam pengurusan partai. Tetapi lebih
banyak lagi yang merasa tidak senang.
Kunti Kendil berpaling pada Lembu Surah dan berkata
menyatakan ketidak senangnya. “Si bungkuk bertopeng itu
belum lagi memperkenalkan siapa dirinya, apalagi mem-
buktikan bahwa dirinya memang pantas untuk mengatur
peresmian partai baru. Enak saja dia mengajak para
hadirin untuk duduk dalam partai. Manusia bungkuk tidak
tahu diri!”
Lembu Surahpun merasa tidak enak. Sebagai tokoh silat
walaupun dari golongan hitam—tata cara yang dipakai
orang diatas panggung itu tidak layak sama sekali. Seolah-
olah para hadirin adalah kambing-kambing yang dikumpul-
kan bersama-sama lalu diberi tugas ini itu.
Di atas panggung, lelaki berjubah kembali membuka
mulut.
“Para sahabat, kalian tidak usah terkejut. Kalian juga
tidak perlu jengkel atau marah. Kami di sini tidak memaksa
kalian harus duduk dalam partai. Siapa yang suka akan
disambut dengan rasa hormat, tangan terbuka dan terima
kasih. Siapa yang tidak mau, tetap akan menjadi sahabat
kami.”
“Anak setan!” kembali terdengar Kunti Kendil memaki.
“Tidak begini caranya mendirikan partai. Paling tidak harus
melewati ujian baru layak diresmikan…” karena tidak dapat
menahan kejengkelannya Kunti Kendil lantas berteriak.
”Orang berjubah! Perkenalakan dulu siapa dirimu! Apa
kedudukanmu dalam Partai dan siapa yang mensyahkan
kedudukanmu itu!”
Para hadirin ramai terdengar teriakan yang blak-blakan
itu. Banyak yang setuju tapi ada juga menganggap si nenek
terlalu berani nyerocos seperti itu.
Si bungkuk di atas panggung mengangkat kepalanya
memandang ke rah si nenek. Dalam hatinya dia merasa
tidak senang. Namun sambil mengangkat tangan kanan
dia menyambuti.
“Ah, ternyata sahabatku nenek sakti dari pegunungan
Iyang yang bicara. Terima kasih atas kata-katamu tadi
Kunti Kendil.”
“Eh, anak setan ini mengenali diriku!” ujar Kunti Kendil
seraya memegang lengan suaminya.
“Memang ucapan seperti itu pantas dikeluarkan. Dan
aku tidak berkeberatan untuk menjawab memberi
keterangan…” kata lelaki bungkuk berjubah putih. “Tetapi
sebelum aku memberi keterangan, biar aku memberitahu
dulu para hadirin siapa adanya sahabatku itu…”
“Anak setan! Apa maksud orang itu!” kata Kunti Kendil
seraya berdiri tapi cepat dicegah Lembu Surah.
Di atas panggung si jubah putih meneruskan ucapannya.
“Sahabat si nenek bernama Kunti Kendil merupakan tokoh
silat terkenal di daerah ini. Sejak puluhan tahun dia
bertempat tinggal di pegunungan Iyang. Namanya ditakuti
lawan disegani kawan. Hanya sayang saat ini dia datang
kemari bukan saja untuk menghadiri upacara peresmian,
tetapi juga untuk menyirap kabar mengenai muridnya, yang
mayatnya lenyap tak tentu rimba sejak beberapa minggu
lalu. Bukan begitu Kunti Kendil?”
Si nenek ternganga. ”Gila! Bagaimana anak setan itu
tahu apa yang terjadi?!” desis Kunti Kendil. Lembu
Surahpun tampak heran sementara para hadirin banyak
yang memandang padanya dengan wajah bertanya-tanya.
“Jangan-jangan dia yang menculik mayat Mahesa…”
bisik si nenek pada Lembu Surah. “Aku harus
menanyainya!” Dan tanpa dapat dicegah oleh Lembu
Surah, nenek itu sudah meloncat dari tempat duduknya,
secepat kilat lari ke arah panggung, berhadap-hadapan
dengan lelaki bungkuk.
Tiga manusia bertubuh raksasa cepat melompat ke atas
panggung menghadang Kunti Kendil. Orang bungkuk
berjubah putih mengangkat tanganny, memberi isyarat
agar ke tiga orang itu segera meninggalkan panggung.
“Tidak disangka, tamu terhormat Kunti Kendil bersedia
datang ke panggung!” kata si bungkuk. “Ini benar-benar
tanda persahabatan yang luar biasa!”
“Lekas katakan apa yang kau ketahui tentang muridku
bernama Mahesa itu!” kata Kunti Kendil membentak.
Si bungkuk perdengarkan suara tertawa.
“Kalau aku ingin mendirikan partai, sudah selayaknya
aku mengetahui apa yang terjadi di sekelilingku…”
“Sekarang jawab apa yang kau ketahui mengenai
Mahesa. Di mana jenazahnya sekarang berada?!”
“Pengetahuanku belum sampai sejauh itu…..”
“Dusta! Pasti kau ada sangkut pautnya dengan
lenyapnya mayat pemuda itu!” tukas Kunti Kendil.
Si bungkuk berjubah kembali tertawa.
Saat itu seseorang melompat gesit ke atas panggung
dan menarik tangan Kunti Kendil. Ternyata orang ini adalah
Lembu Surah.
“Kunti! Jangan membuat malu! Ikut aku turun lekas!”
Semula si nenek hendak menepis pegangan suaminya.
Tapi ketika Lembu Surah menariknya dengan paksa, mau
tak mau Kunti Kendil turun juga dari panggung meskipun
dengan hati sangat mendongkol.
Pendekar Muka Tengkorak yang hadir di tempat itu juga
terkejut mendengar ucapan orang berjubah putih tadi
tentang Mahesa. Besar dugaannya orang itu tahu lebih
banyak bahkan mungkin terlibat dengan kematian pemuda
yang disukainya itu. Meskipun dia kepingin pula mencari
keterangan namun kakek ini tidak mau bertindak gegabah
seperti yang dilakukan si nenek. Dia menunggu sampai
saat yang baik untuk mendatangi orang berjubah itu.
Di atas panggung, si bungkuk tampak mengangkat
tangan.
“Para sahabat, harap maafkan kalau sahabatku Kunti
Kendil tadi begitu bersemangat. Tadi dia minta agar aku
menerangkan lebih dulu siapa diriku, apa kedudukanku
dalam partai dan siapa yang mengesahkan kedudukanku
itu! Bagus…itu pertanyaan yang bagus. Dan memang saat
serta semestinya aku memberitahu. Aku dilahirkan tidak
bernama karena memang tidak ada yang memberi nama.
Dalam pendirian partai Merapi Perkasa aku menduduki
jabatan sebagai Ketua. Jadi para sahabat bisa
memanggilku dengan sebutan itu. Soal siapa yang
mengesahkan aku sebagai ketua, ini agak lucu juga.
Soalnya aku yang mendirikan partai, apakah tidak pantas
kalau aku menyebut diri sebagai Ketua. Lalu sebagai Ketua
aku punya hak untuk mengangkat para pengurus partai.
Dan semua jabatan yang bakal kuberitahu adalah hak para
sahabat yang suka untuk memegangnya. Aku mengundang
saudara semua ke sini salah satu maksudku adalah untuk
keperluan itu…”
“Apa sebenarnya tujuan partai Merapi Perkasa?’
seorang yang duduk di sebelah timur bertanya.
“Mudah saja jawabnya.” Sahut si jubah putih. “Guna
mempersatukan berbagai aliran dan berbagai tokoh silat di
daerah ini!”
“Kalau ada yang tidak mau menerima undanganmu
duduk dalam partai apa akibatnya?” tanya seseorang lain.
“Tak ada akibatnya. Kita akan tetap bersahabat. Tapi
ketahuilah. Partai Merapi Perkasa akan menjadi partai
besar. Kedudukan dalam pengurusan partai merupakan
kedudukan terhormat!”
“Keampuhan partai baru ini harus perlu diuji!” tiba-tiba
seorang tamu yang duduk di sebelah barat berseru.
Sang ketua melambaikan tangan. “Saudara betul!” kata-
nya. “Saat untuk pengujian itu nanti akan diberkan. Yaitu
setelah para sahabat mencicipi makanan dan minuman
yang telah disediakan di suatu meja besar sana… Sekarang
aku akan teangkan sedikit mengenai nama partai dan
artinya. Merapi merupakan sebuag gunung besar di daerah
ini. Tinggi dan megah. Begitu pulalah kebesaran dan
ketinggian derajat partai. Merapi artinya Merah dan Api.
Merah artinya berani. Api artinya penuh semangat. Lihat
kobaran api ini…!” si jubah putih angkat tangan kanannya
dan bluup!
Tahu-tahu di samping kanannya berkobar nyala api yang
besar dan tinggi. Panasnya luar biasa. Si jubah putih
tertawa mengekeh.
Para tamu terkejut. Ada yang berkata: “Ini ilmu sihir!”
“Ilmu hitam!” kata yang lain.
Sang Ketua angkat kanannya kembali. Kobaran apipun
padam. Lalu cepat berkata, “Jangan salah pengertian. Apa
yang para sahabat saksikan tadi bukan ilmu sihir, bukan
pula ilmu hitam. Api adalah lambang partai. Yang dapat
mempergunakannya dan mau bersahabat dengannya kan
merasakan kehangatan yang menggairahkan. Siapa yang
mencoba membuatnya menjadi lawan, niscaya akan
terbakar hangus! Nah, untuk mempercepat waktu sebelum
partai diresmikan, aku mengundang para sahabat yang
mau bergabung untuk naik ke atas panggung. Undangan
ini bukna paksaan. Silahkan…”
Tak ada seorangpun diantara para tamu bergerak. Si
jubah putih menunggu.
“Silahkan…!” katanya kembali.
Dua sosok tubuh berpakaian kuning melompat ke atas
panggung.
“Ah, terima kasih. Terima kasih. Sahabatku Made Tantre
yang bergelar Tangan Dewa Dari Klungkung serta sahabat-
ku Nyoman Wiratha rupanya bersedia bergabung dengan
kami! Terima kasih. Kalian akan mendapatakan ke-
dudukan yang baik dalam partai!” sang Ketua menyambut
gembira dan menjura dalam-dalam. Made Tantre dan
Nyoman Wiratha balas menjura.
“Nah siapa lagi? Siapa menyusul?!” kata sang Ketua
kemudian.
Beberapa orang lagi melompat ke atas panggung hingga
jumlah keseluruhan mencapai delapan belas orang.
Sang Ketua sangat gembira. Tapi dia masih belum puas.
“Panggung masih lebar. Masih banyak tempat kosong!
Para sahabat silahkan naik dan bergabung!”
Dua orang lagi menyusul naik. Lalu seorang lainnya.
Hingga kini dua puluh satu orang di atas sana.
Di bawah panggung kakek buta yang bergelar Gembel
Cengenga Sakti Mata Buta geleng-gelengkan kepala.
“Mansia-manusia tolol.” Katanya dalam hati.
Dair atas panggung sang ketua kembali membuka
mulut. Dia menyapa Kunti Kendil. “Nenek sakti dari gunung
Iyang, dan juga kawannya yang berambut kelabu apakah
tidak ingin bergabung dengan kami?”
“Siapa sudi!” jawab Kunti Kendil terang-terangan.
Sanga Ketua berpaling pada Pendekar Muka Tengkorak
yang duduk enak-enakan sambil merokok.
“Pendekar Muka Tengkorak, bagaimana dengan kau?”
“Aku pikir-pikir dulu…” jawab si kakek.
“Hai, jangan terlalu lama berpikir-pikir. Nanti tidak
kebagian kedudukan bagus dalam partai!”
“Kau salah sangka! Aku bukan berpikir-pikir untuk
masuk dalam partaimu. Tapi berpikir-pikir apakah bukan
kau orangnya yang punya hutang piutang padaku….!”
Wajah sang Ketua yang terlindung dibalik cadar tampak
berubah. Namun cepat dia perdengarkan suara tertawa
seraya berkata:”Sahabatku Pendekar Muka Tengkorak,
soal hutang piutang itulah soal yang tak pernah kulakukan
dalam hidupku.tapi jika kau anggap begitu, partai nanti
yang akan menyelesaikan setelah upacara peresmian!”
Si muka tengkorak tidak menjawab apa-apa dan
menyedot rokok kawung dalam-dalam.
Orang bungkuk berjubah putih di atas panggung
memandang berkeliling. Dia melihat tamu bersorban itu,
mengenalinya sebagai ketua pesantren Nusa Barung,
maka diapun berseru.
“Ki Sandakan! Naiklah kemari! Mari kita bergabung
dalam Partai Merapi Perkasa!”
“Terima kasih. Saat ini aku belum berminat untuk ber-
gabung. Mungkin kemudian hari. Boleh aku bertanya…?
ujar Ki Sandakan.
“Tentu saja. Tentu saja. Silahkan. Apa yang hendak kau
tanykan…?”
“Pertanyaan tolol. Yaitu bagaimana kau bisa meng-
angkat diri sebagai ketua partai. Padahal pemilihan belum
pernah diadakan…..!”
Si bungkuk berjubah putih mendongkol sekali men-
dengar pertanyaan itu. Namun dia menjawab dengan nada
suara yang sengaja merendah dan dipersabar.
“Katamu pertanyaanmu pertanyaan tolol. Biarlah aku
juga menjawab tolol! Sebetulnya aku tidak serakah untuk
mau-mauan jadi ketua. Tanggung jawabnya tidak kecil.
Benar difitnah, salah dimaki. Selama ini tak ada satu orang
pun yang punya minat serta mau merintis pendirian sebuah
partai. Aku secara diam-diam, dengan susah payah mem-
persiapkannya. Salahkah kalau dari hasil jerih payah itu
aku mendapat hak untuk menjadi Ketua? Nah Ki
Sandakan, itu jawabanku. Coba kau renungkan saja…”
habis berkata begitu sang Ketua kembali memandang ber-
keliling, lalu berseru bertanya: “ Ada lagi diantara para
sahabat yang hendak mengajukan pertanyaan tolol….?!”
Air muka Ki Sandakan tampak menjadi merah oleh
sindiran itu. Jika menurut kehendak hatinya ingin dia me-
ninggalkan tempat tersebut saat itu juga. Namun orang tua
ini tetap tenang sambil permainkan tasbihnya. Kedatangan
ke situ sebenarnya bukan untuk menyaksikan upacara
peresmian partai. Tapi guna yang dilarikan dukun jahat
Embah Bromo Tunggal bebepara waktu lalu.
Sepasang mata sang Ketua yang masih memandang
kian kemari dari atas panggung terpaku pada sososk
seorang tamu yang berpakaian compang-camping, mata
buta. “Kalau manusia ini dapat kuajak bergabung semua
pasti beres. Tapi satu orangpun berani mengganggu
partaiku. Aku harus mendatanginya!” begitu sang Ketua
membathin. Lalu dengan gerakkan enteng, laksana
terbang, tubuhnya melesat ke bawah panggung, melewati
kepala para tetamu. Sesaat kemudian dia sudah tegak di
depan orang tua bermata buta itu. Sambil menepuk-nepuk
bahu si buta, sang Ketua berkata.
“Sungguh tidak disangka, tokoh silat nomor satu ber-
gelar Gembel Cengeng Sakti Mata Buta berkenan pula
datang kemari. Aku menghaturkan rasa hormat dan terima
kasih… Tentu sahabat sudah menanam niat untuk
bergabung dengan kami. Jabatan Wakil Ketua tersedia
untukmu…..”
Gembel Cengeng Sakti Mata Buta mendongak ke langit.
Wajahnya tampak seperti mau menangis. Suaranya per-
lahan saja ketika menjawab. “Mataku buta. Tidak ada
manfaatnya mengambil aku jadi Wakil Ketua. Apa-apa aku
tidak becus!”
“Sahabat, jangan merendah!” kata sang Ketua pula.
“Siapa yang tidak kenal dengan nama besarmu? Mari kita
naik ke panggung!”
“Terima kasih. Biarlah aku duduk di sini saja. Banyak
angin sejuk bertiup di sini. Lagi pula kalau sampai aku
menangis di atas panggung sana akan memalukan saja!”
“Jika begitu aku tidak memaksa.” Kata sang Ketua.
Dengan rasa kecewa dia membalikkan badan tubuh untuk
kembali ke atas panggung. Namun aneh, tiba-tiba saja saat
itu dia tidak dapat menggerakkan kedua kakinya. Se-
pasang kakinya tak mau diangkat atau diseret. Seolah di
paku dan ditancap ke dalam tanah lalu disemen! Manusia
bungkuk ini berusaha tidak panik. Tidak dapat tidak pasti
kakek buta lihay itu telah melakukan sesuatu atas dirinya.
Tapi melakukan apa dan kapan.
“Kurang ajar! Si buta keparat ini pasti telah menotok
jalan darah kedua kakiku! Tapi aneh. Aku tidak meluhat dia
menggerakkan tangan!”
Sang ketua sama sekali tidak tahu, sewaktu tadi dia
menepuk-nepuk bahu orang tua buta itu, si buta langsung
kirimkan tenaga dalamnya yang sangat tinggi melewati
bahu, terus ke tangan sang Ketua dan terus mengbungkus
kedua kakinya hingga dia berada keadaan seperti tertotok.
“Hai! Jangan berdiri juga di sini. Sebagai Ketua kau
harus lekas kembali ke atas panggung!” tiba-tiba si kakek
berkata sambil hentakkan kaki kirinya ke tanah. Ajaib!
Pada saat itu pula kedua kaki sang Ketua mampu bergerak
kembali menuju panggung. Untung saja tidak satu
orangpun mengetahui apa yang terjadi hingga dia tidak
kehilangan muka!
Karena tidak enak dengan adanya kejadian tadi sang
Ketua memutuskan untuk mempercepat saja jalannya
uacara. Maka diapun berkata. “Para sahabat dan semua
yang hadir. Sebenarnya saat ini aku akan sampai pada
acara memberitahukan susunan pengurusan partai.
Semua terdiri dari para sahabat yang telah sudi menyata-
kan bergabung dengan jalan naik ke panggung ini. Namun
aku juga tahu kalau sahabat sekalian datang dari jauh. Ada
yang harus memerlukan waktu berhari-hari untuk sampai
kemari. Karenanya biarlah acara [engumuman pengurus
itu ditunda dahulu. Kita langsung pada acara jamuan. Para
sahabat yang telah sudi bergabung, jadi layak disebut
sebagai tuan rumah, dipersilahkan mengambil tempat di
meja sebelah ujung sana. Lalu para sahabat yang berada
di lapangan silahkanduduk di meja sebelah depan sini.
Silahkan minum dan makan sepuas-puasnya…!”
Para tamu yang berada di lapangan hanaya sekitar dua
puluh orang saja yang tampak bergerak dan melangkah
menuju anggung. Sisanya hampir enam puluh orang tetap
di tempat masing-masing. Entah sungkan entah memang
tidak suka ikut mencicipi jamuan. Sebaliknya dua puluh
satu tokoh silat yang sudah menyatakan diri bersedia ber-
gabung langsung saja mencari tempat di meja sebelah
belakang panggung.
Pada saat itu tiba-tiba terdengar suara seseorang dari
lereng gunung yang terletak di samping kiri panggung dan
lapangan upacara.
“Waw waw! Apakah kami tamu yang duduk di sini tidak
diundang makan dan minum?! Waw waw, tuan rumah
sungguh kerterlaluan!”
Demikian kerasnya suara itu hingga semua yang hadir
termasuk sang Ketua dan delapan orang anak buahnya ter-
kejut lalu serentak memandang ke lereng gunungyang
rapat pepohonan besar bebatuan dan semak lebat.
***
DUA
IBLIS GILA TANGAN HITAM MUNCUL
SEMUA BEREBUTAN UNTUK MEMBUNUH
Dua sosok manusia nampak duduk uncang-uncang
kaki dicabut sebuah pohon besar sambil tertawa-
tawa. Yang pertama, seorang lelaki berusia empat
puluh tahun lebih. Wajahnya tertutup oleh rambut
gondrong awut-awutanserta cambang bawuknya merang-
gas. Kedua tangannya hitam pekat sampai sebatas siku. Di
sebelah dudukseorang perempuan muda berambut
panjang kusut, berpakaian warna kuning. Meskipun
keadaan dirinya kelihatan tida terurus namun kecantikan
asli yang dimiliknya tidaklah pupus.
Puluhan orang, antara lain, Made Tantre alias Tangan
Dewa Dari Klungkung, Ki Sandakan Ketua Pesantren Nusa
Barun, Kunti Kendil serta Lembu Surah terkejut melihat
kehadiran lelaki di atas pohon itu. Mereka semua sama
menggangap orang itu adalah musuh besar mereka karena
perkelahian, sakit hati atau dendam kesumat dimasa
lampau!
“Iblis Gila Tangan Hitam!” seorang berseru dengan lidah
tercekat.
Dan gemparlah suasana di tempat itu.
“Bagus! Dicari-cari tidak ketemu! Sekarang muncul
sendiri anak setan ini!” yang berteriak adalah Kunti Kendil.
Si nenek masih menambahkan: “Wirapati! Murid laknat
murid keparat! Hari ini hari terakhir bagiu untuk hidup! Tak
ada hukuman yang lebih baik dari pada mampus badan
dan kepala terpisah!”
Dari atas panggung, Made Tantre yang tadi telah
mengambil tempat duduk di maja makan serta berdiri.
Pada dasarnya manusia bergelar Tangan Dewa Dari
Klungkung ini tidak memiliki nyali untuk menghadapi
Wirapati, orang yang telah membuat dirinya menjadi cacat.
Namun saat itu dia berada bersama serombongan tokoh-
tokoh silat yang telah bergabung dalam satu partai. Berarti
dia tidak sendirian. Disamping itu dia tahu betul, dari para
tokoh yang tidak bergabung juga terdapat banyak orang
yang memendam permusuhan dengan Iblis Gila Tangan
Hitam. Maka Made Tantrepun berteriak.
“Iblis Gila! Setahun lalu kau membuat hutang! Hari ini
kau bayar berikut bunganya!”
Ki Sandakan, mungkin satu-satunya orang yang memiliki
dendam kesumat paling besar terhadap Iblis Gila Tangan
Hitam. Bagaimana tidak. Seluruh pengurus Pesantren mati
di tangan pemuda gila itu. Lalu dia pula yang mencuik
Sundari, anak murid Pesantre yang kabarnya telah
menemui kematian. Maka pemimpin Pesantren inipun ikut
berdiri dan berteriak: Wirapati! Nyawamu hanya satu! Aku
tidak rela membagi kematianmu dengan siapapun! Aku
bersumpah hari ini untuk mengorek jantungmu,
membasahi gunung ini dengan darahmu!”
Diantara kegemparan tu terdengar suara seseorang
menangis. Ketika diperhatikan, yan sesengukan itu ter-
nyata adalah si kakek buta yang terkenal dengan julukan
Gembel Cengeng Sakti Mata Buta. Dia menangis sambil
mendongak ke langit. Sesaat kemudian terdengar dia
berkata. “Aih… bakalan ramai jadinya. Bakalan ramai jadi-
nya! Kasihan anak gila itu. Seorang diri melawan badai!”
“Siapa bilang dia seorang diri! Aku temannya ada di
sini!” tiba-tiba dara berbaju kuning di atas pohon yang
tentu saja Kemala adanya membuka mulut. Mendengar itu
Wirapati tertawa dan tak hentinya mengeluarkan suara
waw waw!
Di dalam kegemparan itu pula Mahesa dan Sari yang
tadi meninggalkan lapangan upacara, menyelinap ke
dalam terowongan di bawah tanah, kini tanpa kesulitan
kembali menyelinap dan masuk ke tempat upacara, duduk
lagi diantara para tamu, diuung yang agak terpisah. Tentu
saja Mahesa yang berurusan samap itercengang melihat
kemunculan Wirapati, kakak seperguruannya. Di samping
itu hatinya merasa gembira, terlebih ketika melihat Kemala
meskipun sesaat dia sedikit terharu melihat keadaan gadis
cantik itu. Dalam hatinya Mahesa bertanya-tanya apakah
Kemala dan Wirapati telah menjalani hidup sebagai suami
istri atau bagiaman. Mungkin pula dia akan dapat
mengetahui apa arti sapu tangan putih yang dilemparkan
Kemala kepadanya dulu.
“Kulihat matamu memandang tak berkesip pada si baju
kuning di atas pohon itu… kau kenal dia?” tiba-tiba Mahesa
mendengar suara Sari.
Mahesa menggangguk terus terang.
“Eh, apa hubunganmu dengan dia…?” Sari kelihatannya
seperti cemburu.
“Aku tidak punya hubungan apa-apa. Kami hanyasaling
kenal. Pernah saling tolong-menolong…..”
“Kau juga kenal dengan pemuda yang kelihatannya
seperti gila itu? Aku pernah dengar nama angkernya! Apa
dia benar gila sungguhan? Sepeti aku dia banyak sekali
musuh!”
“Dia memang gila sungguhan,” sahut Mahesa. Lalu
menambahkan: “Dia kakak seperguruanku……!”
Tentu saja ucapan itu membuat Sari kerkejut. “Kalau
begitu…..” katanya. “ika terjadi apa-apa dengan dia, kau
akan membelanya!”
Mahesa kini yang jadi terkejut. Dpegangnya tangan Sari
dan berkata: “Terima kasih Sari…Akupun tak akan mem-
biarkannya dikeroyok orang banyak! Jika terjadi apa-apa di
sini, kau akan melihat sendiri kelihat sendiri kehebatan.
Dibanding dia, kepandaian bukan apa-apa!”
Di atas pohon kembali terdengar suara tertawa dan
suara waw waw Wirapati. Dia menunjuk pada Kunti Kendil
dan tertanya: “Nenek jelek, kelihatannya kau sudah lama
tidak pernah mandi. Waw waw! Siapa sih kau ini yang
sesumbar menentukan hari ini hari terakhir hidupku. Kau
ini Gusti Allah atau Apanya? Hik… hik… hik! Waw waw!”
Wajah Kunti Kendil di balik topeng seperti kepiting
dipanggang. Terlebih lagi ketika dia mendengar dara
berbaju kuning disebelah Wirapati ikut-ikutan mentertawai-
nya dan berkata: “Hik… hik…! Nenek butut! Apa kau tidak
mendengar ucapan kawanku tadi? Kenapa tidak lekas cari
air, pergi mandi dan cebok… Hik…!”
Sekujur tubuh Kunti Kendil menggeletar. Tanah gunung
yang dipijaknya melesat dalam saking marahnya nenek ini.
Disebelahnya, Lembu Surah berdiri sambil mengepalkan
tinju kirinya. Karena tidak dapat menahan amarahnya lagi,
Kunti Kendil langsung menghantam dengan tangan kanan-
nya. Selaris sinar merah menderu menyilaukan.
“Pukulan Api Geledek!” beberapa orang berseru tegang.
Di atas pohon, cabang yang diduduki Wirapati serta
Kemala hancur lebur, terpenggang hitam. Dedaunan yang
terbakar hangus berguguran ke bawah. Tapi Wirapati serta
Kemala sudah lebih dahulu melompat sedang Wirapati
tertawa waw waw.
Ketika Kunti Kendil hendak menggempur kembali, ter-
dengar bentakan.
“Tahan! Kunti Kendil! Nyata anak itu milikku! Aku paling
layak membunuhnya!”
Kunti Kendil hentikan gerakkan dan berpaling dengan
wajah bengis. Yang bicara dilihatnya ternyata adalah kakek
bersorban yang bukan lain ialah Ki Sandakan, pimpinan
Pesantren Nusa Barung.
“Ki Sandakan! Jangan bicara ngacok!” balas membentak
Kunti Kendil. “Anak setan gila itu adalah muridku! Aku satu-
satunya manusia dijagat ini yang berhak menghukumnya!
Aku satu-satunya orang di dunia ini yang berhak atas
nyawanya!”
Ki Sandakan sunggingkan senyum dingin dan mengejak.
“Nenek,” katanya, “saat ini kau hanya mau mencari nama
untuk menutup kelalaimu dimasa silam! Apa yang kau laku-
kan ketika muridmu itu membunuh,menjagal belasan
tokoh silat dan puluhan manusia tidak berdosa?! Kalau
kau merasa dia memang muridmu dan hanya kau yang ber
hak ini itu! Sebelum nya kau sama sekali tidak punya
tanggung jawab apa-apa sebagai guru! Memalukan bagi
seorang tokoh sepertimu!”
Saking marahnya Kunti Kendil sampai menjerit men-
dengar kata-kata Ki Sandakan itu. Sambil menudingkan
telunjuk kirinya ke pada Ketua Pesantren Nusa Barung, si
nenek mengancam: “Bicaramu mulus tapi mulutmu kotor!
Tidak pantas untuk seorang yang menyandang sorban
sepertimu! Semua menyingkir!” Habis berkata begitu si
nenek dorongkan kedua tangannya ke samping. Beberapa
orang yang berada di dekat situ cepat menyingkir sebelum
tersambar sangin deras yang keluar dari kedua tangan
Kunti Kendil. Sekali melompat saja si nenek kemudian
sudah tegak di hadapan Ki Sandakan. Lembu Surah cepat
mendampinginya.
“Ki Sandakan,” desis si nenek dengan muka angker dan
pandangan mata berapi-api. “Jika kau kira kau yang paling
berhak terhadap anak setan gila itu maka kau yang harus
mampus lebih dulu di tanganku!
“Aha! Aku memang sudah lama mendengar nama besar
Kunti Kendil dari gunung Iyang! Kau dan murid-muridmu
juga pernah membuat keonaran dipesantrenku tempo hari!
Hari ini aku akan berterima kasih jika dapat memberi
pelajaran dua kakinya. Tangan kanannya yang memegang
tasbih diangkat ke atas melindungi dada.
Dalam keadaan tegang begitu rupa, dari arah panggung
menggelegar seruan keras.
“Tahan! Ditempat ini aku tuan rumah. Aku tidak suka
terjadi keributan di sini! Aku mengundang kalian bukan
untuk berbuat keonaran! Jika ada yang mau pamer
kehebatan silahkan membuat urusan sesudah peresmian
partai selesai!”
Yang bicara bukan lain orang berjubah putih, Ketua
partai yang hendak diresmikan. Ucapannya ini disambut
oleh gelak tawa dari atas pohon.
“Ketua Partai! Kau benar! Di sini bukan tempatnya mem-
buat segala macam urusan dan memamerkan kehebatan
waw waw! Usir saja manusia-manusia yang tidak tahu
peradatan itu! Waw! Nah sekarang apakah aku dan
kawanku ini tidak diundang untuk ikut makan minum?!
Di atas phon Wirapati memegang lengan Kemala.
Sesaat kemudian keduanya seperti sepasang burung besar
melayang turun, langsung menuju panggung. Ketika
Wirapati dan Kemala hendak mengabil tempat duduk di
meja sebelah depan, sang Ketua cepat berkata; “Silahkan
kalian berdua mengambil tempat di meja sebelah sana!”
“Waw waw! Kenapa musti di meja sebelah sana?
Padahal di meja sini masih kosong? Waw waw!” berkata
Wirapati.
Kemala ikut bicara. “Meja di sana sudah penuh. Kami
tidak suka duduk berdesakan!”
“Seperti kukatakan sebelumnya,” menerangkan Ketua
partai, “Meja sebelah sana adalah untuk para sahabat
yang telah menyatakan ingin bergabung dalam partai.
Sedang yang di sebelah sini untuk para sahabat yang
belum bersedia ikut bersama kami….!”
“Waw waw! Aku dan sahabatku ini tidak saling bilang
kalau kami mau bergabung dengan partaimu! Kami ke sini
hanya ingin makan dan minum!’ menjawab Wirapati.
Dalam hati sang Ketua merutuk. Karena tidak tahu apa
yang hendak dikatakan, sesaat dia jadi termangu. Pada
detik ini pula Ki Sandakan sudk melesat d\ke atas
panggung, menerjang ke arah Wirapati dengan hantaman
tasbih putihnya!
Melihat hal ini dan takut akan kedahuluan, Kunti Kendil
segera pula berkelebat ke atas panggung diikuti oleh Lebu
Surah alias Datuk Iblis. Tangan Dewa Dari Klungkung alias
Made Tantre tidak dapat menahan hati, segera memimpin
dua puluh orang yang barusan menyatakan diri ke arah
Wirapati dan Kemala. Wirapati maupun Kemala nampak
tenang-tenang saja malah masih tertawa-tawa!
“Para sahabat! Jangan bertindak keburu nafsu!” sang
Ketua berteriak dari bawah lalu cepat-cepat naik ke
panggung. Namaun cukup sulit baginya untuk dapat
menyelinap mendekati kedua orang itu. Terpaksa dia per-
gunakan kekerasan dengan jalan menorong, menyikut dan
mencegah kian kemari hingga akhirnya dia sampai di dekat
wirapati dan Kemala. Terbungkuk-bungkuk dan sambil
berkacak pinggang sang Ketua berkta. “Apapun persoalan
kalian dengan kedua orang ini harap diselesaikan
kemudian! Sekarang semua menyingkir. Para sahabat yang
tidak bergabung kami kembali ke lapangan juga kembali ke
meja makan sebelah sana!”
Melihat tak ada satu orangpun yang bergerak maka
sang Ketua terpeaksa memberi isyarat pada kedelapan
orang anak buahnya yakin manusia-manusia bertubuh
raksasa itu!
Kunti Kendil tertawa mengekeh ketika melihat delapan
lelaki tinggi besar itu mendatangi. Dia memberi isyarat
pada Lembu Surah. Maka kedua orang inipun berkelebat
cepat. Tahu-tahu enam orang lelaki raksasa itu sduah
tertegun kaku kena ditotok. Dua lainnya mengamuk marah.
Kunti Kendil menendang yang sebelah kiri sedang Lembu
Surah memukul yang datang dari sebelah kanan.
Buk!
Buk!
Buk!
Baik si nenek maupun si kakek berambut kelabu ini
mengira kedua orang itu bakal trjungkal rubuh dan tak bisa
bangkit lagi. Tetapi mereka jadi terkejut sewaktu
menyaksikan bagaimana kedua makhluk raksasa itu hanya
sempoyongan sebentar lalu mengembor marah dan balsa
menyerang!
“O ladalah! Tuan rumah sengaja mencari sengketa!”
teriak Kunti Kendil marah. Dia memberi isyarat pada
Lembu Surah. Sepasang suami istri ini berkelebat. Laksana
kilat dua jari telunjuk mereka melesat menotok ke arah
mata lelaki-lelaki raksasa itu tanpa keduanya dapat meng-
hindar lagi. Keduanya meraung keras ketika mata masing-
masing kena ditusuk dan memuncratkan darah. Masih
sambil meraung keduanya lari meninggalkan panggung.
Kesunyian di tempat itu diubah oleh suara tawa Kunti
Kendil.
“Siapa lagi yang berani melawan kehendakku?!” katanya
menantang.
Ketua partai yang masih belum sempat diresmikan itu
kini tidak dapat lagi menahan kesabarannya. Dia ber-
kelebat cepat beberapa kali dan dilain kejap enam orang
lelaki tinggi besar yang tadi tertegun kaku, kini tampak ber-
gerak karena sang Ketua telah memusnahkan totokan di-
tubuh mereka.
“Bunuh dua tua bangka itu!” perintah sang Ketua.
Tangan Dewa Klungkung tampak tidak senang dengan
situasi ini. Begitu pula dengan dua puluh orang lainnya
yang telah menyatakan ikut bergabung. Sebelum enam
manusia raksasa itu bergerak Made Tantre segera men-
dekati sang Ketua mewakili kawan-kawannya. Dia cepat
berbisik. “Ketua jika kejadian ini diteruskan banyak di-
antara para sahabat yang bakal tidak senang. Ini bisa men-
jadi pangkal perpecahan diantara kita. Padahal partai
belum sempat diresmikan. Kedudukan belum sempat di-
umumkan. Biarkan saja nenek buruk itu atau siapapun
membunuh pemuda gila itu. Aku sendiri mempunyai
hutang piutang dengan dia dan tak mungkin akan tinggal
diam saja…!”
Mendapat kisikan seperti itu sang ketua menjadi
bimbang. Akhirnya dia berkata: “Terserah pada kalialah!
Kau ambil alih pimpinan Made Tantre. Tapi ingat, begitu
pemuda gila bersama kawannya itu menemui kematian,
lekas tingglakan panggung dan menyingkir ke lereng
sebelah selatan!”
“Kenapa musti menyingkir?” tanya Made Tantre.
“Tidak perlu bertanya. turuti kata-kataku. Aku Ketuamu!”
Made Tantre mengangguk. Lalu dia memberi isyarat
pada dua puluh orang tokoh silat yang berada dalam
kelompoknya. Sementara itu Kunti Kendil dan Lembu
Surah sudah mendesak maju lebih dulu. Ki Sandakan
datang dari sebelah kiri.
Disaat itu pula dua sosok tubuh berpakaian putih yang
memakai penutup kain merah melompat ke atas
panggung, langsung tegak di kiri kanan Wirapati dan
Kemala.
“Keparat berkerudung! Siapa kalian?!” sentak Kunti
Kendil marah.
Maseha salah satu dari dua orang yang berkerudung
merah itu lebih dulu mengubah suaranya sebelum men-
jawab. “Siapa kami bukan urusanmu!”
“Bagus! Rupanya kalian berdua ingin ikut-ikutan
mampus hendak membela pemuda gila dan sesat itu!”
damprat Kunti Kendil.
“Apapun dosa dan kesalahannya dimasa lampau tetap
tidak adil untuk menghukumnya dengan cara mengeroyok
begini rupa! Kalian tokoh-tokoh persilatan harus men-
junjung tinggi keberanian dan kejujuran! Kau nenek yang
banyak mulut! Jika memang merasa berkepandaian paling
tinggi, mengapa tidak berani menghadapi pemuda gila ini
satu lawan satu?!” tukas Mahesa oula.
“Siapa bilang aku tidak berani! Hanya kunyuk-kunyuk
lain ini yang merusak acara!”
“Kalau begitu yang lain harap menyingkir! Biarkan nenek
ini berkelahi satu lawan satu dengan Iblis Gila Tangan
Hitam!” Sari yang ada disamping Kemala berseru.
“Monyet berkerudung! Apa hak dan pangkatmu
menyuruh kami menyingkir!” sentak Made Tantre alias
Tangan Dewa Dari Klungkung.
“Lalu apa hak dan pangkat kalian mengeroyok secara
pengecut begini rupa?!” membalas Sari.
“Waw waw waw!” Wirapati keluarkan suara keras. “Ini
baru hebat! Tidak disangka aku yang jelek ini punya dua
orang kawan yang hendak membela! Waw waw!”
“Kau bukan Cuma punya kawan anak muda! Tapi tiga
dengan aku!” satu suara lantang terdengar dalam suasana
yang keruh itu. Terasa angin menyambar disertai semburan
asap rokok. Tiga orang terpental ke samping. Lembu Surah
dan Kunti Kendil tergontai-gontai tubuhnya, Made Tantre
hampir jatuh terjengkang ditabrak orang yang melompat
dari bawah panggung. Ketika orang itu tegak di depan
Mahesa, semua orang jadi tertegun. Dia bukan lain si
kakek muka jelangkong yang dalam dunia persilatan
dikenal dengan nama besar Pendekar Muka Tengkorak.
Dia tegak dengan muka menyerngai dan sebatang rokok
kawung terselip di sela bibirnya.
“Hemm…” bergumam Kunti Kendil. “Tidak disangka
pendekar yang disegani dan dihormati sepertimu ikut
membela iblis pembunuh yang dosanya sudah selangit
tembus!”
Kakek muka tengkorak tertawa mengekeh. “Aku Cuma
manusia biasa. Malah bisa dikatakan jembel tak berguna.
Aku tidak butuh disegani apa lagi dihormati! Bicara soal
dosa, siapa manusia yang tidak pernah berbuat dosa dan
kesalahan?! Dendam kesumat boleh saja! Tapi memalukan
jika lebih dari dua puluh tokoh menghakimi seorang anak
manusia! Lagi pula kalau pemuda gila ini yang salah
mengapa temannya si baj ukuning itu ikut-ikutan hendak
dibunuh?!”
“Karena dia menjadi bergundal yang hendak membantu
Wirapati!” menjawab Lembu Surah. “Siapa saja yang coba
hendak membantu iblis ini akan sama nasibnya. Mampus!”
Kakek muka tengkorak tertawa gelak-gelak.
“Hebat an aneh!” katanya. “Tuhan sendiri belum
menghukum anak manusia bernama Wirapati ini. Mengapa
kita manusia jelata yang hina dinabertindak lebih berani
dari Tuhan?!”
“Pendekar Muka Tengkorak!” ujar Lembu Surah. “Sudah
selesai pidatomu….?!”
Si kakek cabut rokok kawungnya, mendongak ke atas
dan hembuskan asap rokok ke udara. Serta merta banyak
orang ditempat itu merasakan mata masing-masing men-
jadi perih dan ada pula terbatuk-batuk.
“Maafkan, aku tidak tahu kalau banyak diantara kalian
yang tak tahan asap rokok.” katanya. Lalu dia berpaling
pada Lembu Surah. “Manusia keren berambut kelabu
adalah aneh kau mengenali diriku tapi aku tidak mengenal
dirimu. Coba terangkan dulu siapa kau adanya. Dari mana
asal usulmu! Tak pernah tampang sepertimu kulihat dalam
dunia persilatan sebelumnya!”
Merahlah wajah Lembu Surah mendengar kata-kata
kakek muka tengkorak itu. Tentu saja tak mungkin baginya
menerangkan siapa dirinya. Kehidupannya dimasa lampau
tidak banyak beda dengan Iblis Gila Tangan Hitam. Di
tempat itu dia memiliki musuh sebanyak orang yang mem-
benci Wirapati!
“Siapa dirinya tidak penting!” terdengar Kunti Kendil
menjawab.
Mahesa yang sudah mengetahi siapa adanya lelaki
berambut kelabu itu menimpali. “orang bertanya, mengapa
tidak dijawab? Mengapa tidak penting?!”
Sepasang mata Kunti Kendil berapi-api. “Anak setan
berkerudung!” dampratnya. “Kau akan mampus setelah
kubunuh Wirapati!”
Sari mendengus dari balik kerudung. “Dari tapi kau
hanya mengancam hendakmembunuh! Hendak bikin orang
mampus! Kau cuma bicara! Sama sekali tidak bertindak!”
Marahlah Kunti Kendil. “Kaupun agaknya bukan
manusia baik-baik. Kalau tidak mengapa menutupi wajah
dengan kerudung?!”
Sari tertawa. “Mengapa aku bukan manusia bak-baik.”
sahutnya. “Tapi aku bukan bangsa munafik sepertimu.
Dalam hidup ini aku bukan pula manusia pengecut! Yang
berkedok menghukum padahal hanya melampiaskan sakit
hati belaka!”
Selagi semua orang menaruh perhatian paa silat lidah
antara kelompok Kunti Kendil dengan pihak yang hendak
membela Wirapati, kesempatan ini dipergunakan Ki
Sandakan untuk meluncur serangan ganas kearah
Wirapati. Tasbih di tangan kanannya berkelebat. Sekali
leher itu terbabat pasti remuk berantakan!
Ketika terjadi keributan di Pesantren Nusa Barung
beberapa waktu yang lalu sebenarnya Ki Sandakan jauh
dari mampu untuk menghadapi Wirapati satu lawan satu.
Hanya saja saat itu dia mendapat bantuan dari beberapa
tokoh silat berkepandaian tinggi, satu diantaranya Lembu
Surah alias Datuk Iblis Penghisap Darah. Kini walau
diserang secara mendadak dan sangat mematikan itu,
bukan hal yang susah bagiWirapati untuk mengelak
menyelamatkan diri.
“Waw waw!” seru pemuda gila itu. Tubuhnya berkelebat
kesamping. Sambil menyingkir dia gerakkan tangan kirinya
untuk memukul lengan lawan. Ki Sandakan yang sudah
tahu kehebatan racun di tangan Wirapati tak berani
bentrok, cepat melompat ke kiri justru dari arah ini Kemala
datang membabat dengan tendangan menusuk lambung!
Ketua partai, manusia bungkuk berjubah putih, dalam
jengkel dan marah berteriak pada enam manusia raksasa.
“Bunuh nenek keparat dan lelaki berambut kelabu itu!”
Agaknya perkelahian masal tidak dapat dihindarkan lagi.
Melihat hal ini Made Tantre diikuti oleh dua puluh orang
lainnya segera pula menyerbu ke arah Wirapati.
“Waw waw! Siapa yang inginkan nyawaku akan mampus
lebih dulu!” seru Wirapati. Seluruh tenaga dalamnya
dilahirkan pada kedua lengan hingga tangan itu tampak
berkilat-kilat dan mengeluarkan asap tipis yang panas.
***
TIGA
PANGGUNG DARAH
Bagi Lembu Surah tidak sulit mengelak tendangan
yang dilancarkan Kemala. Tapi tua bangka yang
bertampang masih muda akibat madu putih yang
amat berkhasiat itu, sesaat telah dibawah hanyut pe-
rasaannya. Seperti pernah ditutur Lembu Surah demikian
tergila-gila pada Kemala hingga mengejar dan mencari
gadis itu ke mana-mana. Kenangan ini membuat dia sedikit
ayal. Masih untung tendangan Kemala yang menyerempet
pakaiannya.
Di tengah lapangan, para tamu yang tidak ikut terlibat
dalam perkelahian gila-gilaan di atas panggung, menyaksi-
kan perkelahian dengan tegang. Hanya si kakek mata buta
yang bergelar Gembel Cengeng Sakti Mata Buta tampak se-
sunggukan dan tiada hentinya mengusut air mata. Di sudut
yang lain Malaikat Maut Berkuda Putih tampak duduk
gelisah. Sesekali dia memandang berkeliling seperti men-
cari-cari seseorang atau sesuatu.
Di atas panggung, beberapa sosok tubuh tampak ber-
geletakan. Darah mulai mengalir. Suara pekik kesakitan
dan erangan orang yang meregang nyawa membuat
suasana tambah mengerikan.
Kunti Kendil dan Lembu Surah tidak dapat dengan
mudah mendekati Wirapati karena hampir setiap serangan-
nya disambut oleh orang-orang yang mengelilingi pemuda
gila itu yakni Kemala, Mahesa, Sari dan Pendekar Muka
Tengkorak. Ditambah pula enam manusia raksasa yang
datang menggempur laksana air bah. Enam manusia
raksasa itu tidak memiliki kepandaian silat berarti, tetapi
daya kekuatan pukulan atau tendangannya serta daya
tahan tubuhnya terhadap hantaman sungguh luar biasa.
Sementara itu Made Tantre yang memiliki dendam
kesumat terhadap Wirapati, mengamuk dengan keris di
tangan kiri. Sejak tangan kanannya cacat lumpuh akibat
kena racun tangan Wirapati beberapa waktu yang lalu, dia
telah melatih diri dengan tekun untuk menggunakan
tangan kiri. Hasilnya tidak mengecewakan. Tapi untuk
dapat mengalahkan Wirapati, bukan pekerjaan yang
mudah baginya walau saat itu dia dibantu oleh lebih dari
sepuluh orang!
“Manusia berbaju kuning!” kata Wirapati. “Waw waw!
Dulu kuampuni nyawamu karena seseorang meminta
begitu padaku. Kini kau muncul lagi. Waw waw! Manusia
tak tahu diri sepertimu ini patut jadi umpan cacing tanah!
“Iblis sesat!” balas Made Tantre, “Mencacilah semaumu!
Sebentar lagi nyawamu akan terbang ke akhirat!”
Lalu Made Tantre tusukkan kerisnya ke lambung
Wirapati. Di saat yang sama empat serangan tangan
kosong dari dua serangan senjata tajam ikut menggempur
pemuda gila itu!
Kemala melompat ke udara, tendangan kepala salah
seorang penyerang. Tapi pengeroyok yang di samping kiri
hampir saja berhasil membabat punggungnya. Pakaiannya
robek besar. Kalau dia tidak lekas jatuhkan diri ke depan
pasti punggungnya akan tertembus senjata lawan! Melihat
kekasihnya dilukai marahlah Wirapati. Kedua tangannya
menghantam ke depan silih berganti. Dua pengeroyok ter-
pekik dan mencelat mental jatuh di bawah panggung tak
berkutik lagi. Made Tantre kertakkan rahang dan perhebat
serangannya sememntara dia mendapat bantuan tiga
orang lain. Di bagian lain dua orang manusia raksasa telah
menemui kematian di tangan Lembu Surah dan Kunti
Kendil. Kedua orang ini kini menggempur Pendekar Muka
Tengkorak dengan hebat hingga kakek ini terdesak. Namun
ketika Mahesa dan Sari datang membantu, baik Kunti
Kendil maupun Lembu Surah seperti merasakan tertahan
tembok karang dan tak mampu lagi berbuat banyak.
Beberapa kali Kunti Kendil dan Lembu Surah lapaskan
pukulan sakti tetapi semuanya mengenai sasaran.
Malah sekali pukulan sakti, tetapi semuanya tidak
mengenai sasaran. Malah sekali pukulan Api Geledek yang
dilancarkan Kunti Kendil menghantam dua orang tokoh
silat yang berkelahi disebelah Made Tantre hingga mati
hangus detik itu juga!
Berkelahi di atas panggung Mahesa sama sekali tidak
mengeluarkan ilmu silat yang dipelajarinnya dari Kunti
Kendil. Selain dia memang sudah bersumpah untuk tidak
mempergunakan segala apa yang didapatinya dari si
nenek, dia juga tak ingin gerakan-gerakan silatnya dapat
dibaca sang guru, yang hanya akan membuka kedoknya
saja. Maka Mahesa bertahan dan menyerang dengan
mengeluarkan jurus-jurus silat orang buta yang didapatnya
dari Gembel Cengeng Sakti Mata Buta. Ilmu silat itu, walau
hanya terdiri dari tujuh jurus namun merupakan ilmu silat
langkah. Gerakannya aneh, sulit diduga. Tidak mengheran-
kan banyak lawan yang kena dihajar bahkan Kunti Kendil
serta Lembuh Surah kini mulai terdesak.
Setelah beberapa saat memperhatikan jurus-jurus silat
yang dimainkan Mahesa, Kunti Kendil bertanya-tanya
dalam hati apa hubungan orang berkerudung itu dengan si
Gembel Cengeng Sakti Mata Buta. Jelas dia mainkan ilmu
silat yang hanya dimiliki oleh kakek buta berkepandaian
tinggi itu. Maka si nenekpun berseru.
“Orang berkerudung! Siapa kau sebenarnya! Apa
hubunganmu dengan Gembel Cengeng Sakti Mata Buta!”
Mahesa tersirat kaget. “Gila! Apakah dia mengenali
diriku?” pikir Mahesa. Dia ingat dulu sewaktu dijajal oleh
gurunya disebuah bukit, yakni setelah keonaran di
Pesantren Barung, dia pernah mengeluarkan jurus-jurus
silat orang buta itu. Juga dia pernah menceritakan dari
mana dia mendapatkan kepanaian tersebut. Jika dia
sampai mengenaliku, celakalah!” Maka Mahesa terpeaksa
berdusta: “Aku memang murid kakek sakti itu. Kau mau
apa…?!”
“keparat! Dimasa muda gurunu itu pernah mem-
perdayaiku! Kini biar muridnya yang menerima balasan!”
“Nenek licik! Rupanya kehidupan masa mudamu penuh
dengan berbagai pengalaman!” ujar Mahesa yang mem-
buat si nenek tersentak dan melompat mundur. Sepasang
matanya memandang tak terkesip pada Mahesa, seolah-
olah hendak menembus kerudung kain merah itu.
“Siapa kau sebenarnya! Buka kerudungmu jika kau
benar-benar laki-laki!”
“Sobat, jangan turuti kata-katanya!“ Sari bicara. “Jika
kau buka kerudungmu, nanti dia suruh kau buka
pakaianmu! Hik… hik… hik…!”
“Manusia rendak bermulut cabul” bentak Kunti Kendil.
“Aku tahu kau sebenarnya perempuan! Biar kurobek mulut-
mu agar kau tetap berkerudung seumur hidup untuk
menyembunyikan kecacatanmu!”
“Jika kau berani melakukan itu, kulit mukamu pun akan
kurobek!” kata Mahesa. Sebenarnya tidak ada maksud
apa-apa dari ucapan pemuda ini selain hanya untuk
membela Sari. Namun si nenek sekali ini melengak pucat.
Dia menganggap kata-kata Mahesa itu seperti kata-kata
seseorang yang mengetahui rahasia dirinya. Rahasia
topeng tipis yang menutupi wajahnya!
“Anak setan ini. Jangan… jangan… Tapi tidak mungkin.
Bukankah dia sudah mampus?!” si nenek merenung
sementara. Lembu Surah terus menempur Pendekar Muka
Tengkorak yang dibantui oleh Kemala. “Anak setan! Siapa
kau sebenarnya! Lekas jawab atau kau akan mampus
dengan sejuta penasaran?!”
Disentak begitu rupa oleh gurunya, bagaimanapun
tabahnya Mahesa namun sesaat membuat pemuda itu
menjadi gugup. “Celaka! Terbukalah kedokku!” membatin
Mahesa.
Disaat itulah sebuah bayangan melesat ke atas
panggung menebar bau yang kurang sedap. Di lain kejap
seorang kakek bermata buta, berpakaian kotor dekil
compang-camping tegak di depan Kunti Kendil. Kakek ini
mendongak ke langit lalu berkata; “ Orang berkerudung itu,
mereka keduanya adalah muridku! Apakah kau ke-
beratan?!”
Kunti Kendil tercekat menghadapi kakek buta ini. Dia
surut mundur dua langkah.
“Tentu saja aku tidak keberatan! Yang aku keberatan
jika dia pergunakan kepandaian untuk menghalangi
maksudku membasmi manusia-manusia jahat termasuk
muridku sendiri bernama Wirapati itu!”
“Ah, itu menyedihkan sekali!” kata Gembel Cengeng. Dia
kembali mulai sesunggukan dan air mata mulai mengalir
ke pipinya. “Dunia ini memang penuh kesedihan!” sebuah
tombak pendek melesat dari samping kiri, siap untuk
menembus kepala kakek buta ini. Tanpa berpaling Gembel
Cengeng Sakti Mata Buta gerakkan tangan kirinya me-
nangkap senjata itu. Masih dengan tangan kiri dia remas
batang tombak hingga melengkung dan patah!
Lalu si buta meneruskan ucapannya yang tadi terpotong.
“Kesedihan di masa lalu belum terobat, kini datang
kesedihan baru semakin menumpuk Kunti Kendil, aku
tidak ingin melihat kau berada di tempat ini lebih lama!
Berlalu dari sini! Bawa lelaki yang datang bersamamu itu!”
“Tidak mungkin!” sahut si nenek keras kepala. “aku
datang kemari untuk mencari murid murtad itu! Setelah
bertemu masakan hendak kulepas begitu saja?!”
Si kakek tersenyum tapi air mata masih terus mem-
basahi wajahnya yang keriput. “Setahuku kau pernah mem-
beritahu pelajaran tentang perasaan dan pikiran pada
murid-muridmu. Yaitu katamu, jangan sekali-kali perasaan
dari pada pikiran sehat!”
“Urusanku dengan muridku tak boleh orang lain ikut
campur!” ujuar Kunti Kendil. “Aku menaruh syak wasangka.
Setahuku kau tidak pernah punya murid. Aku tidak percaya
kedua orang berkerudung itu adalah murid-muridmu! Siapa
mereka?!”
“Urusanku dengan murid-muridku juga tak boleh orang
lain iktu campur!” sahut kakek mata buta meniru ucapan
Kunti Kendil tadi. “Hari makin tinggi, korban makin banyak
berjatuhan. Apa kau masih belum mau pergi dari sini?!”
“Tidak! Sebelum Wirapati mati di tanganku!” jawab Kunti
Kendil terus.
“Kenapa kau begitu ingin membunuhnya? Hingga kau
benar-benar menindih pikiran dengan perasaan?”
“Kejahatannya sudah kelewat batas. Apa salah kalau
hari ini aku harus menghukumnya?!”
“Aku tahu…“ kata kakek buta sambil mengusap air
mata-nya. “Bukan alasan itu membuat kau ingin sekali
membunuh Wirapati. Ada alasan yang lain. Apa perlu
kukatakan padamu saat ini…?”
Paras si nenek sesaat jadi pucat. “Kau membela semua
orang yang ada di sini karena sakit hatimua terhadapku di
masa lalu?!”
“Apa yang sudah lalu tak akan kembali. Tak perlu di-
sakitkan atau disesali…”
Sementara itu karena Kunti Kendil telibat pembicaraan
yang tak jelas baginya, Lembu surah yang menghadapi
Mahesa, Sari serta Pendekar Muka Tengkora dengan
sendirinya lelaki buntung ini terdesak hebat dan berada
dalam keadaan berbahaya.
“Kalau begitu mengapa kau muncul dan sengaja
menghalangi maksudku menghukum murid sendiri!”
“Kunti, muridmu itu tidak pernah salah. Nasibnyalah
yang salah…!”
“Apa maksudmu…?“
“Wirapati menjadi gila larena terserang demam panas.
Bisakah orang gila dituntut untuk semua apa yang dilaku-
kannya?!”
Sesaat Kunti Kendil jadi terdiam.
“Kalau kau tidak segera pargi, kau berdua dengan
kawanmu itu akan celaka…” memperingatkan Gembel
Cengeng Sakti Mata Buta.
“Kau terlalu keras kepala…” si kakek buta usut lagi air
matanya. “Jika terjadi apa-apa denganmu, maafkan kalau
aku tidak dapat membantu…”
“Aku tidak butuh bantuanmu!” sahut Kunti Kendil ketus.
“Terserah padamulah!” kakek itu lantas berkelebat dan
duduk kembali ke tempat semula di tengah lapangan. Di
sini dia menangis lebih sedih lagi.
Di atas panggung Kunti Kendil cepat memasuki
kalangan perkelahian ketika suaminya Lembu Surah ter-
desak hebat dan sempat digebuk hingga melintir oleh
Pendekar Muka Tengkorak.
“Kakek setan! Sudah saatnya kau harus mempus!”
teriak Kunti Kendil lalu menerjang kakek muka jerangkong
itu.
“Nenek sombong! Keras kepala! Kau harus dihajar!”
yang membentak adalah Sari. Habis membentak dia lalu
menebar serangan berantai yang membuat Kunti Kendil
mau tidak mau terpaksa mundur sesaat lalu menggempur
dengan jurus-jurus terhebet dari ilmu silatnya.
Ketua partai Merapi Perkasa yang sejak tadi
menyaksikan jalannya perkelahian di atas panggung tanpa
bisa berbuat apa, kini merasa sudah saatnya dia harus ber-
tindak Nyoman Wirathe sahabat Made Tantre saat itu di-
lihatnya tergeletak mati di atas panggung. Tubuhnya
terinjak-injak mereka yang berkelahi. Made Tantre sendiri
sudah kehilangan kerisnya dan bertahan mati-matian ber-
sama enam orang lainnya terhadap serangan ganas
Wirapati dan Kemala.
“Hentikan pekelahian!” teriak sang Ketua. “Semua yang
sudah memutuskan untuk bergabung dengan partai lekas
menyingkir ke selatan panggung!”
Kalau tadi Made Tantre tidak mau menuruti perintah
yang sama maka kali ini adalah setelah terdesak hebat, dia
memberi isyarat pada teman-temannya lalu melompat
turun dari atas panggun. Sang Ketua sendiri kemudian
menyusul.
“Sekarang saatnya!” kata lelaki bungkuk berjubah putih
yang menutupi wajahnya dengan kain hitam itu. Lalu
hantamkan tangan kanannya ke depan. Satu gelombang
api menderu ke tengah panggung. Oran-orang yang masih
berada di atas panggung terpaksa menyingkir. Kecuali
Lembu Surah. Dia menjangkau kendi berisi tuak yang
terletak si atas meja, lalu semburkan minuman itu ke arah
api. Alam waktu sekejap saja kobaran api menjadi padam.
“Keparat!” maki Ketua partai. Dia lari dan menyusup ke
bawah panggung. Setelah mencari sesat akhirnya
ditemukannya tali besar yang menembus ke dalam tanah
di bawah panggung. Tali itu segera dibakarnya. Begitu tali
menyala dia cepat menyingkir lebih jauh ke lereng sebelah
selatan bersama para pendukungnya, termasuk anak-anak
buahnya yang bertubuh raksasa yang saat itu hanya tinggal
tiga orang.diam-diam dia menghitung. Sampai hitungan ke
lima belas api yang diharapakannya tidak terjadi. “Keparat!
Pasti ada yang tidak beres!” sang Ketua memanggil salah
seorang dari tiga manusia raksasa. Lalu berbisik: “Lekas
kau periksa ke dalam terowongan! Seharusnya lereng
gunung di sebelah lapangan itu sudha meledak! Pergi
lekas!”
Si tinggi besarpun bergerak lakukan perintah. Namun
baru dua langkah dia berjalan menuju mulut terowongan
dari lamping gunung sebelah kiri terdengar suara berbunyi
melengking keras, menusuk liang telinga. Bunyi seruling!
Disaat yang sama sebatang patahan cabang pohon
melesek dan menghujam di punggun manusia raksasa
yang tadi jalankan perintah sang Ketua. Patahan cabang
pohon itu menembus punggung, terus ke jantung. Orang ini
keluarkan suara meraung dahsyat lalu terguling roboh
tanpa nyawa!
Ketegangan yang tadi menggantung, kini kembali
berubah menjadi kegemparan! Semua mata berpaling ke
arah lamping gunung. Ada dua orang tegak di atas batu
besar di sebelah sana. Dan ada dua orang yang terkejut
ketika mengenali siapa adanya lelaki bertopi yang tegak di
sebelah depan. Orang ini ialah Mahesa dan sang Ketua
partai.
***
EMPAT
RAHASIA TERBUKA
Yang tegak di atas batu besar di lamping gunung itu
adalah seorang lelaki dan seorang perempuan muda.
Yang lelaki bertelanjang dada, mengenakan celana
panjang hitam butut dan banyak robeknya. Dia memakai
topi hitam tinggi yang pada beberapa bagian sudah bolong-
bolong. Di lehernya tergantung sehelai kalung burung
berwarna kuning. Yang perempuan mengenakan pakaian
penuh tambalan. Rambutnya hitam panjang tergerai lepas.
Kulitnya kuning. Meskipun keadaannya kotor namun
keayuan parasnya jelas terlihat.
Bak dariraut wajah maupun deri gerak-gerik kedua
orang ini jelas mereka kelihatan kurang waras.
“Ayah…” mulut Mahesa melompat suara mendesis
begitu dia melihat orang lelaki di atas batu.
“Hai, kudengar kau mengatakan sesuatu!” terdengar
Sari menegur. Tapi Mahesa tidak mengacuhkan. Sepasang
matanya memandang tak terkesip pada lelaki itu yang
bukan lain memang adalah Randu Ampel, ayahnya sendiri.
Ayah yang lenyap selama belasan tahun dan muncul dalam
keadaan tidak waras serta menyedihkan. Namun memiliki
ilmu silat dan kesaktian tinggi luar biasa. Mahesa tidak
mengenal siapa perempuan muda yang berdiri di samping
ayahnya. Istrinya atau kekasihya atau apanya.
Hanya dua orang yang tahu jelas siapa adanya
perempuan muda itu. Yang kedua Malaikat Maut Berkuda
Putih Suwo Pernomo. Orang tua ini tampak lega. Sejak
muncul di tempat itu dia merasa gelisah. Seperti ditutur-
kan, sejak pertemuan dengan perempuan itu yakni Pudji—
muridnya sendiri—Malaikat Maut Berkuda Putih terus
menerus menguntit perejalanan Pudji bersama Randu
Ampel. Di kaki gunung Merapi mendadak dia kehilangan
kedua orang itu. Setelah mencari kian kemari tidak
bertemu, Malaikat Maut Berkuda Putih memutuskan
melanjutkan perjalanan ke atas gunung. Harapannya
bahwa kedua orang itu juga akan datang ke sana ternyata
tidak meleset. Randu dan Pudji kini muncul. Yang mem-
buat si orang tua heran dan gelisah ialah mengapa kawan
seperjalanan muridnya itu begitu berani bertindak gegabah
langsung turun tangan membunuh manusia tinggi besar
dan anak buah Ketua Partai Merapi Perkasa. Ini bukan saja
akan membuat dia terlibat dalam urusan berdarah di
tempat itu, tapi juga sekaligus akan menambah keruh
suasana! Dan yang membutanya tambah kuatir ialah
Pudji—muridnya ikut terlibat pula. Kalau sejak tadi dia diam
saja tidak ingin mencampuri urusan di atas panggung, kini
jika terjadi apa-apa dengan muridnya mau tidak mau dia
terpeksa bahakan harus turun tangan. Melihat lelaki
sahabat Pudji telah bertindak membunuh anak buah partai
jelas dia tidak berada dipihak partai.
“Bakalan ruwet tampaknya.” Membatin Malaikat Maut
Berkuda Putih.
Orang lain sangat terkejut dengan kemunculan randu
Ampel adalah sang Ketua partai sendiri.
“Ah… keparat itu masih hidup rupanya. Kuharap saja dia
tidak mengenaliku. Tak mungkin dia mengenaliku! Bagai-
mana kalau kuajak saja dia bergabung….?”
Setelah berpikir ampai di situ maka sang ketuapun ber-
seru sambil angkat tangan kanannya.
“Orang gagah di atas batu! Setelah datang dari jauh
mengapa tidak segera naik panggung sini? Bawa kawanmu
yang cantik itu. Bergabung dengan kami dalam Partai
Merapi pada hari baik bulan baik ini!”
Lelaki di atas batu tampak menyeringai. Dia ketuk-
ketukkan suling bambunya ke telapak tangan kiri lalu ber-
paling pada perempuan muda di sebelahnya.
“Sahabat apa pendapatmu mengenai undangan orang
bungkuk itu?”
Pudji cepat menjawab, “Kami datang kemari bukan
untuk bergabung atau segala urusan tolol seperti yang tadi
kalian lakukan! Kami datang kemari mau mencari seorang
manusia terkutuk bernama Lembu Surah bergelar Datuk
Iblis Penghisap Darah! Apakah dia ada di sini?! Jika ada
lekas tunjukkan diri! Dia harus tahu umurnya hanya tinggal
beberapa saat lagi!”
Semua orang tersentak kaget. Terutama sekali Kunti
Kendil. Di sebelahnya, Lembu Surah tegak dengan tubuh
bergetar.
“Anak itu masih hidup. Ah… Mengapa dulu aku sampai
melakukan perbuatan itu. Masih untung dia tidak
mengenali wajahku…” baru saja Lembu Surah membatin
begitu dan sekilas melirik ke arah Malaikat Maut Berkuda
Putih, didengarnya si nenek berbisik. “Ada hubungan apa
kau dengan perempuan sinting itu?! Mengapa dia mencari
kau?!”
Meski merasa tidak enak tapi Lembu Surah menjawab
juga; “Kami punya silang sengketa dimasa silam. Tak dapat
kukatakan lebih jauh saat ini!”
“Sekarang apa yang hendak kau lakukan?!“ Tanya Kunti
Kendil.
Lembu Surah jadi penasaran seperti itu. Dia menjawab.
“Kumau aku berteriak mengatakan kalau aku Lembu
Surah? Membuka kedokku di tempat ini….?”
Si nenek jadi terdiam. Sementara itu. Ketua partai me-
mandang berkeliling lalu berpaling pada perempuan di atas
batu dan berseru: “Lihat sendiri tak ada yang kau cari di
tempat ini!”
Mendengar itu Randu Ampel berpaling pada Pudji.
“Sahabat bagaimana sekarang?“ Tanyanya.
Pudji tampak tidak senang. Dia memandang tajam
berkeliling. Sesaat pandangannya tertuju tak terkesip pada
gurunya yaitu Malaikat Maut Berkuda Putih. “Mungkin
bangsat itu tak ada di sini. Kau mulai saja dengan
urusanmu Randu!”
MakaRandu Ampel berseru. “Jika tak ada Lembu Surah
atau Datuk Iblis di sini maka aku akan mencari seorang
lain. Apakah ada dukun iblis bernama Embah Bromo
Tunggal diantara para tetamu!”
Suara Randu Ampel keras sekali, menggema beberapa
saat lamanya di lereng gunung itu. Tak ada jawaban.
Hampir tak ada yang bergerak.
Ketua partai balas berteriak: “Lihat orang-orang yang
kalian cari tidak ada di sini. Kalau undanganku untuk ber-
gabung tidak dapat kalian penuhi, apakah juga menampik
untuk ikut makan minum bersama kami?!”
“Makan dan minum?! Hai kami memang haus dan
lapar!” sahut Randu Ampel. “Di meja sebelah mana kami
boleh duduk?!”
Ketua menunjuk ke meja besar di sebelah belakang
panggung. “Silahkan mengambil tempat duduk di sana!”
“Kami tak ingin duduk jauh di belakang sana… Kami
mau duduk di sebelah depan saja!” kata Randu Ampel.
Lalu dia pegang lengan Pudji. Sesaat kemudian keduanya
melayang terjun ke bawah. Tubuh mereka berputar ber-
gulung-gulung, aneh luar biasa. Tetapi begitu sampai di
panggung sepasang keki mereka dengan enteng menjejak
panggung lebih dahulu.
“Manusia-manusia aneh berpandaian tinggi luar biasa!”
kata Ki Sandakan di antara decak orang yang menyaksikan
kejadian itu dengan penuh kagum. Malaikat Maut Berkuda
Putih sendiri tampak terheran-heran. Jika tidak mendapat
tambahan ilmu secara mendesak, tidak mungkin murid
perempuannya itu sanggup melompat dan jungkil balik ber-
putar seperti itu.
Lembu Surah menggamit lengan Kunti Kendil lalu ber-
bisik: “Aku tidak suka melihat suasana ini. Sebaiknya kita
pergi saja dari sini Kunti!”
“Eh, jangan ngacok Lembu. Apa yang ingin kuketahui
belum kudapat. Mana mungkin kita pergi begitu saja!”
Mendengar jawaban istrinya itu Lembu Surah jadi
terdiam meskipun hatinya jengkel sekali. Yang
dikawatirkannya ialah jika sekian banyak musuh-musuhnya
yana ada di situ sempat mengenali siapa dirinya maka
bukan saja dia tapi Kunti Kendil pun bisa celaka!
Sementara itu Randu Ampel dan Pudji melangkah
menuju meja panjang sebelah depan di mana terdapat
berbagai macam makanan yang lezat-lezat serta puluhan
kendi berisi tuak serta minuman lainnya.
“Orang gagah, kau dan kawanmu harap suka duduk di
meja sebelah sana…” Ketua Partai Merapi Perkasa berkata
sambil mendatangi. Tapi baik Randu Ampel maupun Pudji
tidak perdulikan. Keduanya melangkah mengelilingi meja
panjang itu. Kemudian dengan seenaknya Randu Ampel
mencicipi beberapa jenis makanan, mengeragot paha
kambing dengan lahap. Terakhir sekali meneguk dua kendi
tuak sementara Pudji hanya tegak di sebelahnya mem-
perhatikan.
Ketua partai tampak gelisah. “Celaka… celaka. Sebentar
lagi mampuslah orang gila ini. Terbuka rahasiaku!”
Selagi sang Ketua menunggu dengan hati cemas. Randu
Ampel usap-usap perutnya yang gembul lalu meneguk
habis lagi sekendi tuak. “Sedap… sedap sekali…” katanya
seraya usap-usap kembali perutnya. Tiba-tiba dengan satu
gerakan cepat luar biasa orang ini menangkap leher salah
satu dari dua orang manusia raksasa yang masih hidup
dan menariknya ke meja makan. Dia membetot sepotong
paha kambing panggang lalu menyodorkannya pada orang
itu.
“Makan!” bentak Randu Ampel.
Lalu kendi berisi tuak di tangan kiri menyusul
disodorkan.
“Minum!” hardiknya.
Manusia raksasa itu tampak marah dan ulurkan tangan
kanannya untuk mencekik Randu Ampel. Tetapi lelaki gila
ini lebih cepat. Paha kambing itu dimasukkannya secara
paksa ke dalam mulut si raksasa hingga megap-megap dan
tak mau menelan sebagian minyak daging. Sesaat
kemudian Randu Ampel cabut paha kambing, sebagai
gantinya dia guyurkan tuak dalam kendi ke mulut si
raksasa. Manusia tinggi besar ini berusaha berontak ber
usaha memukul dan menendang, namun aneh dia merasa-
kan sekujur tubuhnya lemas. Cekikan pada lehernya mem-
buat dia terpaksa meneguk tuak yang diguyurkan. Randu
Ampel kemudian hempaskan orang itu ke lantai panggung,
lalu habiskan sisa tuak dalam kendi.
Si tinggi besar tampak berusaha bangun. Aneh dari
mulutnya terdengar suara mengerang. Mukanya yang
hitam tampak lebam merah kebiruan. Tiba-tiba dia
membuka mulutnya lebar-lebar.
“Huah!”
Darah kental berbuku-buku menghanbur dari mulutnya.
Detik itu pula tubuhnya roboh di lantai dan diam tak ber-
kutik lagi.
“Dia mampus!” seru Randu Ampel seraya memandang
berkeliling dengan sepasang mata merah membeliak.
“Mampus karena racun jahat yang ditaruh dalam makanan
an minuman itu!”
Maka gemparlah semua orang yang ada di tempat itu. Di
samping gempar puluhan tokoh silat juga menjadi marah.
Terutama mereka yang tidak mau bergabung dan diundang
untuk makan minum di meja itu!
“Kalau begitu sang Ketua hendak meracun kita!” se-
orang tokoh berteriak marah.
Gembel Cengeng Sakti Mata Buta terdengar menangis.
“Bangsat penipu!” seorang tokoh lainnya mendamprat
lalu melompat ke panggung. Yang lain-lain ikut naik ke atas
panggung hingga panggung besar itu penuh ssak dan sang
Ketua terkurung di tengah-tengah.
“Dusta!” teriak lelaki bungkuk berjubah putih. “Jika
daging dan tuak itu beracun, mengapa dia sendiri tidak
mati?!”
Randu Ampel menyeringai. “Karena aku kebal terhadap
segala macam racun! Sang Ketua! Sekarang kau harus
menyantap hidangan dan minuman yang ada di meja ini!”
“Manusia gia! Kedatanganmu hanya mengacau saja!
Teriak sang Ketua marah.
Randu Ampel tertawa aneh. Dia cabut suling yang tadi
diselipkan di pinggang lalu menunding ke arah sang Ketua.
“Aku ke mari bukan untuk mengacau. Tapi hendak meng-
ambil nyawa anjingmu!”
“Manusia sinting gila! Kalau kau dan kawan
perempuanmu itu tidak lekas angkat kaki dari sini kalian
berdua akan mampus dengan tubuh hancur lumat!”
Randu ampel kembali tertawa. “Sahabat.” Katanya pada
Pudji. ‘Lekas kau katakan pada orang banyak di sini apa
yang kau ketahui!”
“Para tamu semua! Dengarkan baik-baik keteranganku
ini!”
Ucapan Pudji itu mendadak dipotong oleh Ketua partai
yang merasa tidak enak. “Jangan dengarkan keterangan
orang gila yang bisa menyesatkan!”
“Aku dan sahabatku memang gila!” tukas Randu Ampel.
Pandangan matanya menyorot ganas. “Tapi apa yang bakal
diterangkan sahabatku bukan sesuatu yang menyesat.
Lekas ceritakan!”
“Pertama!” ujar Pudji pula. “Kalian semua sudah me-
nyaksikan bagaimana makanan dan minuman yang ter-
sedia di meja sana mengandung racun. Karena manusia
berjubah itu memang berniat jahat. Yaitu hendak mem-
bunuh para tokoh yang tidak mau bergabung dalam partai-
nya…!”
“Dusta besar! Kurobek mulutmu!” teriak sang Ketua
marah. Tubuhnya berkelebat. Tangan kanannya melesat ke
depan, ke arah kepala Pudji. Aneh, tangan itu seperti
berubah jadi panjang, hampir dua kali panjang aslinya
hingga Pudji tak punya kesempatan untuk mengelak
sambaran lima jari berkuku panjang hitam yang
mengandung racun jahat!
Para tokoh silat yang tidak senang dengan pendirian
partai serta sikap sang Ketua, bahkan mereka yang telah
menyatakan diri bersedia bergabung sama keluarkan
seruan tertahan. Mereka semua tidak atau belum
mengetahui sampai di mana kehebatan manusia bungkuk
berjubah putih yang telah mengangkat diri sebagai Ketua
partai itu. Namun kini menyaksikan gerakan kilat yang
ganas mematikan itu, semua sama menyadari bahwa
manusia tersebut memang memiliki kepandaian yang tidak
sembarangan!
Gembel Cengeng Sakti Mata Buta terdengar menangis
keras. Malaikat Maut Berkuda Putih yang ada di samping
kiri panggung tanpa tunggu lebih lama segera menerjang
sambil lepaskan satu pukulan sakti yang mengeluarkan
sinar putih. Melihat sinar ini orang banyak yang
berkerubung segera menyingkir.
Diserang begitu rupa, dengan sikap acuh tak acuh sang
Ketua angkat tangan kirinya dan mendorong telapak
tangan ke arah pukulah Malaikat Maut. Dari telapak
tangannya menyembur sinar merah yang kemudian ber-
ubah menjadi gulungan api dan menyambar ke arah muka
serta pakaian Malaikat Maut. Hal ini membuat semakin
banyak orang yang menjauhi tempat itu bahkan ada yang
melompat urun dari atas panggung. Tinggal Malaikat Maut
Berkuda Putih tegak sendirian pada bagian panggung di
mana sambaran api datang menderu!
Hanya ada satu jalan bagi guru Pudji itu untuk selamat-
kan diri yakni melompat ke samping atau ke belakang. Dia
memilih melompat ke samping kanan seraya kembali me-
lepaskan pukulan saktidengan mengerahkan hampir
seluruh tenaga dalamnya!
“Bagus Malaikat Maut! Kau membela perempuan muda
itu! Pasti kau ada hubungan apa-apa dengan dia!” kata
Ketua partai. Lalu menambahkan. “Aku tidak sungkan-
sungkan membunuhmu lebih dulu!” sang Ketua goyangkan
tangan kirinya. Semburan api yang tadi seperti sebuah
jaring besar, langsung membuntal Malaikat Maut Berkuda
Putih. Orang tua ini menjerit tinggi ketika pakaiannya dan
sebagian janggutnya terbakar hangus!
“Ilmu sihir busuk!”
Satu suara membentak dari samping. Bersamaan
dengan itu sebuah benda kecil yang ujungnya berapi me-
lesat ke arah cadar yang menutupi wajah Ketua partai. Lalu
menyusul hembusan asap kelabu keras dan panas.
Sang Ketua merasakan tubuhnya tergontai-gontai. Ter-
paksa dia turunkan tangan kirinya. Ini membuat Malaikat
Maut Berkuda Putih selamat dari panggangan api. Sambil
melempar diri ke samping untuk menghindar serangan
benda aneh tadi yang ternyata adalah sebatang rokok
kawung menyala, Ketua partai tetap meneruskan gerakan
tangan kanannya mencengkeram wajah Pudji. Seperti juga
Malaikat Maut Berkuda Putih tadi, perempuan muda inipun
tidak sempat mengelak selamatkan dirinya.
Saat itulah terdengar satu jeritan marah. Menyusul
suara menderu seperti suara seruling ditiup dengan tenaga
raksasa. Sang Ketua merasakan tangan kanannya di-
cengkeram orang dipuntir ke belakang tiap untuk dibikin
patah!
“Keparat! Kalian semua minta mampus!” terdengar
kutuk Ketua. Dia membuat gerakan aneh. Cengkeraman
pada tangannya terlepas lalu dia membalik dan memukul.
Bukk!
Randu Ampel merasakan tubuhnya seperti dihantam
batu besar ketika terkena pukulan itu. Tapi dia tetap tegak
tanpa bergeming, malah menyeringai, membuat sang
Ketua kaget bukan main hingga tak jadi melancarkan
serangan terhadap Pendekar Muka Tengkorak yang tadi
menghantamnya dengan serangan rokok kawung dan
hembusan asap!
Selagi sang Ketua terkesiap menyaksikan lawan yang di-
pukulnya tidak roboh apalagi mati, Randu Ampel berkata
pada Pudji yang baru saja diselamatkannya.
“Sahabat, kau sudah membuka rahasia racun dalam
makanan itu! Mengapa kini tidak membuka rahasia siapa
manusia bungkuk berjubah putih ini sebenarnya?!”
“Ya… ya…! Memang sudah tiba saatnya untuk membuka
kedok manusia iblis ini!” ujar Pudji. “Tapi dengan dulu!
Kalian mungkin tidak tahu! Selain hendak meracuni para
tokoh di sini, dia juga telah menanam bahan peledak di
bawah tanah sana! Dia hendak meledakkan tanah lapang
itu guna membunuh semua orang yang tidak suka ber-
gabung dengannya. Jika tidak percaya silahkan periksa
bagian bawah panggung ini…”
“Gila!” teriak seseorang.
“Benar-benar ganas!” teriak yang lain.
Serentak puluhan orang mengurung dan siap menghajar
sang Ketua tapi Pudji menghardik keras!
“Tidak satu orangpun berhak turun tangan terhadapnya
kecuali sahabatku yang memakai topi butut ini!” yang
dimaksudkannya adalah Randu Ampel.
Seseorang berseru: “Tadi kau mengatakan hendak
membuka keok manusia ini! Katakan siapa dia sebenar-
nya!”
“Siapa aku tidak penting!” berteriak sang Ketua.
Suaranya keras sekali. “Yang penting adalah jubahku ini!”
tanpa disadari ucapannya itu membuat semua orang
tertarik untuk memperhatikan jubah putihnya yang saat itu
tampak dibukanya. Begitu terbuka jubah itu dilemparkan
ke udara. Luar biasa! Jubah putih itu tiba-tiba berubah
menjadi seekor burung rajawali besar. Binatang ini
mengepakkan sayapnya yang lebar. Kepakan sayap ini
mendatangkan angin kencang luar biasa hingga banyak
orang di atas panggung roboh atau terpelanting. Tiba-tiba
burung jejadian ini menukik ke bawah. Mematuk dan men-
cengkeramkan kedua kakinya. Terdengar jeritan susul
menyusul. Lima orang tokoh silat yang tak sempat
menyingkir menemui ajal dengan tubuh atau kepala
hancur!”
“Setan alas!” maki Pendekar Muka Tengkorak. “Jelas,
pasti si keparat itu! Siapa lagi manusia yang memiliki ilmu
sihir terkutuk ini kalau bukan dia!”
Habis berkata begitu kakek muka tengkorak ini me-
mukul ke atas dengan kerahkan hampir dua pertiga tenaga
dalamnya.
Dess!
Burung rajawali jejadian itu sesaat seperti hendak meng-
gelepar tapi tiba-tiba membalik dan menyerbu ke arah si
kakek. Melihat ini hampir saja Mahesa tidak sadar dan
hendak lepaskan pukulan Api Geledek ke arah burung
raksasa itu. Namun saat itu dilihatnya Randu Ampel me-
lompat ke udara. Dilain kejap dia sudah menggayuti burung
raksasa lalu menggeragot leher binatang itu dengan gigi-
giginya ke perut burung.
Menyusul terjadi keanehan yang tidak terduga. Sosok
tubuh burung yang dicekal dan digigit Randu Ampel men-
dadak lenyap hingga Randu Ampel terjatuh keraske
panggung tapi cepat berdiri.
Di saat itu pula semua orang baru menyadari bahwa
sang Ketua yang tadi membuka jubahnya tak ada lagi di
tempat itu!
“Kita tertipu!“ Teriak Ki Sandakan.
“Benar! Jubah dan burung itu hanya untuk mengalihkan
perhatian kita!” Sari ikut berteriak.
“Waw waw! Semua tolol! Semua tolol!” Wirapati alias
Iblis Gila Tangan Hitam ikut-ikutan berteriak.
Pada saat itulah Mahesa merasakan ada seseorang
yang menarik lengannya dan satu suara halus mengiang di
teinganya.
“Anak muda! Lekas ikut aku!”
MAhesa coba sentakkan pegangan orang. Astaga dia tak
berdaya. Malah tubuhnya terseret hingga mau tak mau
harus berlari mengikutu orang yang menariknya. Ketika dia
berpaling ke samping dia jadi tambah kaget bercampur
heran. Yang menariknya ternyata adalah Gembela Cengeng
Sakti Mata Buta. Pemuda ini berpaling ke arah panggng
dan lambaikan tangan pada Sari. Perempuan ini cepat
melompat turun dan lari kejurusan yang ditempuh Mahesa
serta kakek buta itu. Pendekar Muka Tengkorak Suko Inggil
sesaat memandang kearah lenyapnya ke tiga orang ter-
sebut, geleng-geleng kepala lalu tiba-tiba memaki.
“Keparat setan kurap! Pasti dia!” lalu tanpa tunggu lebih
lama diapun berkelebat mengejar!
LIMA
GURU DAN MURID AKHIRNYA SALING TEMPUR
Di atas panggung upacara yang tadi hendak
diledakkan kini tinggallah belasan tokoh silat.
Diantara mereka terdapat beberapa tokoh utama
yang telah menggetarkan dunia persilatan, baik karena
memang oleh kehebatan ilmunya, maupun oleh
pembunuhan-pembunuhan yang pernah dilakukan. Secara
tidak langsung para tokoh itu terpisah dalam kelompok-
kelompok yang saling mendendam dan bermusuhan.
Kelompok pertama adalah Kutni Kendil dan Lembu
Surah yang ingin membunuh Wirapati alias Iblis Gila
Tangan Hitam yang ada disitu bersama Kemala. Kelompok
lain Randy Ampel bersama Pudji yang kini tegak dalam
bingung karena musuh besar yang mereka cari yakni
Embah Bromo Tunggal serta Datuk Iblis Penghisap Darah
alias Lembu Surah berada ditempat itu dalam bentuk
wajah yang asli.
Lalu terdapat pula Ki Sandakan, Ketua pesantren Nusa
Barung. Orang tua berjubah an bersorban putih ini bukan
saja mendendam setengah mati terhadap Wirapati, tetapi
juga sangat benci kepada Kunti Kendil.
Berikut adalah Malaikat Maut Berkuda Putih yang tak
ingin melihat muridnya yakni Pudji mengalami celaka di
tempat itu. Dia merasa heran tidak menjumpai Lembu
Surah. Padahal musuh besar pemerkosa muridnya itu
justru ada di tempat tersebut! Karena otang tua berjanggut
putih yang sebagian janggutnya terbakar oleh api buatan
Ketua partai yang melarikan diri, menumpahkan dendam
kesumatnya pada Kunti Kendil. Dia sudah memutuskan,
jika terjadi perkelahian kembali maka dia akan bergabung
dengan kelompok yang menjadi lawan nenek itu.
“Bagus! Ketua partai yang tak lebih dari kecoak berhati
jahat tapi pengecut itu sudah kabur melarikan diri!
Sekarang tak ada yang menghalangiku lagi untuk
membunuh Wirapati!”
Yang buka suara adalah Kunti Kendil.
“Tunggu dulu.” Ki Sandakan cepat maju ke muka. “
Mana bisa begitu. Sekali aku bilang nyawanya adalah
hakku, tak ada lain orang berani mendahului!”
“Keparat bersorban!” damprat Kunti Kendil. Kali ini si
nenektampaknya tak bisa lagi menahan amarahnya.
“Kalau begitu biar kau kuhabisi lebih dahulu!” lalu Kunti
Kendil berbisik pada Lembu Surah. “Awasi anak setan itu.
Jangan sampai dia kabur!”
Lembu Surah mengangguk dan menggeser tegaknya
untuk dapat lebih mudah mengawasi Wirapati. Ini
membuat dia sekaligus lebih dekat dengan Kemala. Diam-
diam sang Datuk merasakan darahnya menjadi panas.
Sebaliknya emala memandang dengan beringas. Gadis
ini menggertak. “Manusia tangan buntung! Jika kau berani
bergerak, kupatahkan tanganmu yang tinggal satu itu!”
Lembu Surah memang tak bergerak. Tapi kedua
matanya menjelajahi wajah dan tubuh Kemala, dan
melotot kedua melihat keputihan tubuh gadis itu, pada
bagian pakaian yang robek waktu berkelahi sebelumnya.
Sementara itu Suwo Permana alias Malaikat Maut
Berkuda Putih yang ikut memandang ke arah Lembu Surah
mulai menduga-duga siapa adanya kakek berambut
pendek kelabu itu. Melihat kepadanya wajahnya jelas dia
tidak mengenali siapa sesungguhnya orang ini. Namun
perhatikan nada bicaranya, seperti dia pernah mendengar
sebelumnya. Dan melihat kenyataan orang ini datang
bersama Kunti Kendil pastilah dia punya hubungan sangat
rapat dengan si nenek. Setahunya selama puluhan tahun
malang melintang dalam dunia persilatan Kunti Kendil tak
pernah berjalan seiring dengan siapapun, apalagi dengan
seorang lelaki. Maka mau tak mau Malaikat Maut Berkuda
Putih mulai merasa curiga.
“Jangan-jangan orang ini….”
Namun Malaikat Maut Berkuda Putih tidak ber-
kesempatan berpikir lebih jauh karena saat itu antara
Kunti Kendil dan Ki Sandakan telah pecah perkelahian. Si
nenek dengan tangan kosong sedang sang Ketua
pesantren dengan tasbih putih yang dihantamkan kian ke
mari, menahan serangan ganas lawannya. Memang si
nenek ingin sekali membantai Ki Sandakan dalam waktu
singkat. Karena itu dia menyerbu dangan serangan-
serangan mematikan.
Meski Ki Sandakan merupakan seorang tokoh silat
cukup disegani nama besarnya, dan sekalipun dia saat iu
memeangtasbih yang merupakan senjata mustika, namun
kehebatan Kunti Kendil masih berada beberapa tingkat di
atasnya.
Setelah mengimbangi dalam tiga jurus pertama dan
bertahan pada tujuh jurus berikutnya, memasuki jurus ke
sebelas pertahanan Ki Sandakan tergempur berantakan.
Lengan kananya seperti dihantam besi keras ketika
terpukul sambaran lengan kiri Kunti Kendil. Tasbih yang
dipegangnya terlepas dan mental ke bawah panggung.
Selagi Ketua pesantren Nusa Barung ini tersurut menahan
sakit, jotosan kanan lawan bersarang di perutnya!
Ki Sandakan merasakan seolah-olah perutnya pecah
dan ususnya berbusaan. Tubuhnya terlibat ke depan.
Sebelum dia sempat mengimbangi diri, dari depan rambut
putih panjang si nenek tampak menyambar mengeluarkan
suara menderu deras, membabat ke arah batang leher Ki
Sandakan.
Semua orang yang menyaksikan kejadian itu
mengetahui bahwa rambut si nenek merupakan salah satu
senjata maut yang dimilikinya. Sekali menyambar atau
membabat, kehebatanya sama dengan babatan sebilah
pedang. Tidak dapat tidak leher Ki Sandakan akan putus
disambar rambut yang dialiri tenaga dalam tinggi itu!
Wirapati yang berotak miring, melihat tadi Ki Sandakan
berkelahi melawan Kunti Kendil mengira bahwa kakek
bersorban itu membela dan berada dipihaknya, padahal
seperti diketahui Ki Sandakan sebenarnya juga ingin mem-
bunuh Wirapati. Karenanya ketika melihat Ki Sandakan
berada dalam bahaya, Wirapati serta merta menolong
dengan lepaskan pukulan tangan kosong. Sinar hitam
mengandung racun jahat luar biasa menderu dari samping,
menghantam sisi kiri Kunti Kendil.
Semua orang terkesiap tegang. Lembu Surah yang
sudah merasakan keganasan pukulan Iblis Gila Tangan
Hitam itu berseru keras memperingatkan istrinya.
“Anak setan keparat!” maki Kunti Kendil marah sekali.
Dia menggenjot tubuhnya dan melesat ke atas. Meski dia
berhasil lolos dari hantaman pukulan muridnya sendiri itu
namun serangan mautnya terhadap Ki Sandakan menjadi
gagal. Masih trus memaki panjang pendek, dari ats si
nenek lepaskan pukulan Api Geledek Menggusur Makam.
Dalam marahnya nenek ini kerahkan hampir seluruh
tenaga dalamnya!
Sinar merah berkiblat. Hawa panas menyambar
mengerikan. Para tokoh di atas panggung banyak yang
mengeluarkan seruan kaget serta buru-buru menyingkir.
“Kak Wira! Lekas menghindar!” terdengar seruan
Kemala.
Tapi pemuda gila itu tidak mau ambil perduli. Meski
tubuhnya terasa seperti dipanggang dia tetap berdiri di
atas panggung dan kini tampak Wirapati angkat kedua
tangannya lalu hantamkan telapak tangannyake atas, ke
arah tubuh Kunti Kendil yang masih mengapung di udara.
Terjadilah hal hebat luar biasa.
Sinar merah pukulan sakti Kunti Kendil terbelah oleh
dua larik sinar hitam yang menghambur keluar dari tangan
kiri kanan Wirapati. Terdengar dua ledakan keras susul
menyusul. Panggung kayu yang kokoh itu hancur
berantakan dan hangus menghitam. Tubuh Kunti Kendil
tampak jungkil balik di udara. Si nenek lemparkan dirinya
ke arah timur panggung. Dia masih mampu jatuh dan tegak
di atas kedua kakinya, namun begitu berdiri langsung
roboh. Pakaiannya tampak menghitam di sebelah depan.
“Kunti!”
Lambu Surah berteriak, lari memburu dan menubruk
tubuh istrinya, langsung memangkunya.
“Kunti … kau…”
“Aku tidak apa-apa….” Sahut si nenek. Tapi dari sela
bibirnya tampak keluar darah. Pakaiannya disebelah depan
hangus. Dia usap wajahnya lalu bertanya perlahan:
“Topeng kulitku tak apa-apa…?
“Tidak, tak apa-apa Kunti. Tapi kau terluka di dalam!”
sahut Lembu Surah.
“Dadaku memang terasa sesak sedikit….”
“Aku kawatir kau keracunan!”
Kunti Kendil tersenyum. Dari balik pakaiannya dia
keluarkan dua butir benda bulat sebesar kelereng ber-
warna hijau. Benda itu kemudian ditelannya.
“Aku tidak apa-apa,” katanya lagi. “Anak setan itu
memang hebat. Tapi aku tidak puas. Dia tentu sudah
mampu saat ini!” dibantu oleh Lembu Surah si nenek
bangkit berdiri.
Bagaimana dengan Wirapati alias Iblis Gila Tangan
Hitam? Di mana dia berada saat itu? Kemala orang yang
paling cemas memikirkan nasib pemuda itu. Dia tak henti-
hentinya memanggil.
“Kakak Wira…! Kakak Wira!”
Semua mata ikut mencari-cari di mana adanya Wirapati
dan semua ingin tahu apa yang terjadi dengan manusia
gila berkepandaian tinggi itu.
“Kakak Wira!” panggil Kemala lagi.
“Waw waw!”
Terdengar suara pemuda itu tapi orangnya masih tak
kelihatan!
Kemala memandang ke arah reruntuhan panggung yang
kini tinggal tumpukan kayu-kayu hitam hangus.
“Waw waw waw!”
Tumpukan reruntuhan paling tinggi tmpak bergerak lalu
mental kian kemari. Dari bawah tumpukan itu muncul
sosok tubuh bercelemongan hitam dan batuk-batuk.
Sesaat dia tegak terbungkuk-bungkuk sambil pegang dada.
“Kakak Wira!” Kemala menjerit lalu lari ke arah
reruntuhan panggung.
Namun dari samping dua sosok berkelebat mendahului.
Kedua orang ini seperti berebut cepat hendak saling men-
dahului untuk dapat menghantam dan membunuh
Wirapati. Yang satu berjubah putih, satunya lagi berpekaian
serba kuning, memegang sebilah keris di tangan kiri!
Yang berjubah putih bukan lain adalah Ki Sandakan,
Ketua pesantren Nusa Barung yang punya segudang
dendam terhadap Wirapati. Bukan saja Wirapati telah
membantai empat orang pengurus Pesantren, termasuk
salah seorang Ketua yang kini digantikannya.
Kemudian yang berpakaian kuning adalah Made Tantre
alias Tangan Dewa Dari Klungkung. Wirapati telah mem-
buat tubuhnya cacat seumur hidup. Tadi-tadi memang sulit
bahkan tidak mungkin baginya untuk menghadapi manusia
gila berkepandaian tinggi itu. Tapi kini melihat Wirapati
dalam keadaan cidera begitu rupa. Made Tantre merasa
inilah kesempatan paling baik baginya untuk membalaskan
dendam kesumat. Keris di tangan kirinya ditusukkan
langsung ke dada kiri Wirapati, tepat di arah jantung!
Serangan yang benar-benar mematikan!
Ditambah pula dengan sambaran dua tangan Ki
Sandakan ke arah leher maka keadaan Wirapati memang
sulit diselamatkan, jika benar-benar pemuda itu memang
dalam keadaan tak berdaya atau cidera akibat baku
hantam dengan Kunti Kendil tadi.
“Manusia-manusisa pengecut! Menyerang orang yang
tidak berdaya!” triak Kemala. Gadis ini menyerbu ke depan.
Dia agak bingung karena tak mungkin sekaligus
menyelamatkan Wirapati dari dua serangan yang datang
dari dua jurusan terpisah itu. Karena Made Tantre berada
paling dekat, maka Kemala langsung saja menggempur
yang satu ini. Saat itu ujung keris di tangan kiri Made
Tantre hanya tinggal seujung jari saja siap menusuk dada
Wirapati. Karenanya meskipun mengetahui ada yang meng-
hantamnya dari samping. Made Tantre tidak berusaha
untuk menarik pulang serangannya.
Buk!
Pukulan Kemala mendarat di bahu kanan Made Tantre.
Terdengar suara krak! Made Tantre mengeluh kesakitan
ketika tulang bahunya patah, tubuhnya terpental. Tapi dia
puas. Kerisnya berhasil menancap di dada kiri Wirapati!
Kemala menjerit!
Ki Sandakan yang mengira dia telah kedahuluan Made
Tantre dengan sangat gemas dan penuh dendam men-
cengkeram leher Wirapati, siap menghancurkan remukkan-
nya. Tapi sedetik kemudian terjadilah satu hal yang tidak
terduga. Cekikan kedua tangan Ketua pesantren Nusa
Barung itu tampak terlepas dam tubuhnya terhuyung-
huyung ke belakang. Ada bercak merah pada dadanya.
Dan pada dada itu kelihatan menancap sebilah keris. Keris
milik Made Tantre yang tadi telah menikam dada Wirapati!
“Waw waw!”
Apa yang sebenarnya terjadi?
Ketika Made Tantre menikam dengan kerisnya,
sebenarnya senjata itu tidak menghunjam di dada kiri
Wirapati. Dengan kecepatan luar biasa yang hampir tak
satu orangpun melihat bahkan Made Tantre sendiripun
tidak menyadarinya, tusukan senjata itu dapat dielakkan
Wirapati lalu keris dikempitnya di ketiak kirinya! Pukulan
Kemala membuat Made Tantre terpelanting ke samping kiri
sementara keris masih berada dalam kempitan Wirapati.
Lalu sewaktu Ki Sandakan mencengkeram lehernya,
Wirapati cabut keris yang berada dalam kempitan ketiak
kirinya dan menghujamkan senjata ini ke dada Ki
Sandakan!
“Waw waw!”
Ki Sandakan mundur terus sambil pegangi dadanya.
Ketika sepasang kakinya tak sanggup lagi menunjang
tubuhnya, Ketua pesantren Nusa Barung ini terjungkal ke
tanah, terkulai rubuh dan rebah menggeletak. Mulutnya
tampak komat-kamit. Jelas dia mengucapkan sesuatu se-
belum ajalnya sampai. Sesaat kemudian tubuhnya tak ber-
gerak lagi. Dia mati dengan kedua mata memandang ke
langit di atasnya.
“Waw waw! Siapa lagi yang ingin mampus di tangan-
ku?!” Wirapati memandang buas berkeliling. Dia berdiri
sambil berpegangan pada Kemala. Jelas keadaan dirinya
pun mengalami cidera di dalam akibat bentrokan pukulan
sakti dan tenaga dalam tinggi dengan Kunti Kendil tadi.
Kemudian pandangan matanya yang merah mengarah
pada Made Tantre yang masih terduduk di tanah sambil
merintih kesakitan pegangi bahunya tadi.
“Waw waw! Manusia pengecut sepertimu tak layak
hidup lebih lama!“ bentak Wirapati. Dia siap melangkah
untuk menghajar Made Tantre.
Sementara itu Lembu Surah yang tegak memapah Kunti
Kendil, berbisik pada perempuan itu. “Sebaiknya kita pergi
saja dari sini. Lain kali kita buat lagi perhitungan dengan
pemuda gila itu!”
“Mana bisa begitu!” sahut Kunti Kendil keras kepala.
“Tapi kau terluka di dalam Kunti!”
“Aku tidak apa-apa! Kau dengar itu? Malah aku rela mati
asal dapat membunuh murid sesat itu!”
“Atau kau ingin aku yang menghajarnya?” tanya Lembu
Surah.
“Tidak, dia harus mampus di tanganku….”
“kau akan terbunuh sia-sia.”
“Kalau kau takut melihat kematianku, silahkan pergi
dari sini.” ujar Kunti Kendil pula.
Lembu Surah jadi serba salah. Wirapati diketahuinya
memang menderita cidera di dalam akibat bentrokan
dengan istrinya tadi. Tapi keaaannya jauh lebih kuat dari
pada Kunti Kendil. Jika istrinya itu tetap bersikera untuk
melanjutkan niatnya, niscaya dia akan mati di tangan
Wirapati. Dia tidak takut untuk turun tangan membela
istrinya. Namun kalau itupun sia-sia tak ada gunanya. Lebih
baik mencari kesempatan lain. Apalagi dilihatnya ditempat
itu tidak ada yang akan berpihak padanya. Banyak para
tokoh silat lebih suka menjadi penonton dari pada turun
tangan menggempur Wirapati. Dalam pada itu kehadiran
Malaikat Maut Berkuda Putih serta Pudji yang muncul
bersama lelaki aneh bertopi tinggi itu sejak tadi-tadi telah
membuat Lembu Surah merasa was-was. Karenanya ia jadi
penasaran kalau Kunti Kendil tidak mau mengikuti
nasihatnya.
“Kita pergi sekarang Kunti!”
“Kau pergilah sendirian. Tapi dengar. Jangan kau
mencari-cari aku lagi!” kata Kunti Kendil mengancam.
Lembu Surah merutuk dalam hati. Ketika si nenek mulai
melangkah ke arah Wirapati. Lembu Surah cepat gerakkan
tangan kirinya, menusuk ke punggung Kunti Kendil. Serta
merta Kunti Kendil merasakan sekujur tubuhnya menjadi
kaku tegang. Dia tak memapu lagi melangkah atau
menggerakkan bagian tubuhnya yang lain. Tapi mulutnya
masih bisa terbuka dan suara. Maka nenek inipun
membentak.
“Surah! Apa yang kau lakukan ini. Gila! Lekas lepaskan
totokanmu!”
Lembu Surah alias Datuk Iblis Penghisap Darah
tersentak kaget. Mukanya pucat. Cepat dia menotok urat
besar jalan suara di leher si nenek hingga Kunti Kendil kini
tak bisa bersuara lagi. Tetapi terlambat! Kunti kendil di luar
sadar telah keburu menyebut namanya tadi!
***
ENAM
RAHASIA TERBUKA SUDAH!
PAMBALASAN AKHIRNYA DATANG JUGA!
Muka Lembu Surah semakin pucat. Dia memandang
berkeliling dengan tengkuk terasa dingin. Belasan
tokoh-tokoh silat ada di situ dilihatnya seperti ber-
ubah menjadi setan yang hendak mencabik-cabik tubuh-
nya.
“Astaga! Benar dia… Keparat besar!” maki Malaikat
Maut Berkuda Putih. Diam-diam kakek ini salurkan tenaga
dalamnya ke tangan kanan.
Di tempat lain Pudji tegak dan memandang dengan
mata melotot pada lelaki tangan buntung berambut
pendek kelabu itu. Dia seperti tidak percaya akan pen-
dengarannya tadi. Kunti kendil memanggil si rambut kelabu
itu dengan nama Surah!
“Sahabat.” Randu Ampel berkata pada Pudji. “Kau
dengar nenek jelek itu menyebut nama orang tangan
buntung ini?!”
Pudji mengangguk. Matanya memandang tak berkesip.
Mulutnya terbuka. Dan suaranya terdengar keras sekali.
“Manusia tangan buntung! Jadi kau adalah Lembu
Surah! Manusia terkutuk bergelar Datuk Iblis Penghisap
Darah!”
Kata-kata Pudji ini membuat Kemala terkesiap. Lalu ikut
membuka mulut.
“Apa?! Orang ini Datuk Iblis Penghisap Darah?! Sekian
tahun aku mencari! Sekarang kau tak bisa lepas lagi dari
tanganku! Kau yang membunuh ibuku!”
Beberapa tokoh silat yang ada di situ jelas tampak
kaget. Siapa mengira lelaki yang datang bersama Kunti
Kendil itu ternyata adalah lembu Surah. Manusia iblis yang
pernah melang melintang berbuat kejahatan, membunuh
dan memperkosa. Tanpa diatur, mereka bergerak mem-
buat lingkaran dan mengurung Lembu Surah di tengah-
tengah.
“Celaka! Tamtlah riwayatku hari ini!” keluh Lembu
Surah. Dia memutar otak lalu berkata. “Kalian salah
sangka. Aku bukan Lembu Surah. Bukan pula orang yang
kalian sebut dengan gelar Datuk Iblis itu! Aku hanya kawan
seperjalanan Kunti Kendil. Kebetulan saja terpesat ke
gunung ini…” lalu dengan gerakan cepat dia segera me-
manggul tubuh Kunti Kendil. Dia memandang berkeliling
dan berkata: “Sahabatku ini terluka di dalam. Aku harus
membawanya pergi dan mengobatinya….”
“Kau boleh pergi tapi nyawamu tinggalkan di sini!” ter-
dengar ada yang bicara. Ternyata orang ini adalah Malaikat
Maut Berkuda Putih.
“Aku tidak kenal siapa kau!” Lembu Surah coba
berkilah.
Malaikat Maut menyeringai. “Pandang wajahku baik-baik
Surah. Lalu katakan apa benar kau tidak kenal aku…. Lalu
lihat gadis itu. Muridku yang bernama Pudji. Apa kau juga
tidak kenal dia...?”
Sepasang mata Lembu Surah memandang ke jurusan
lain.
“Aku harus pergi! Beri jalan! Atau akan aku bunuh
semua!” teriak Lembu Surah. Dalam keadaan terdesak
seperti itu dia hampir tidak dapat lagi menguasai dirinya.,
tetap dia juga mencemaskan keadaan Kunti Kendil. Jika
pecah perkelahian, bukan mustahil Kunti Kendil akan men-
jadi bulan-bulanan serangan. Dan tampaknya bukan hanya
satu dua orang saja yang bakal dihadapi!
Kunti kendil yang berada di atas bahu Lembu Surah
dalam keadaan tertotok menyumpah tiada henti, “Kalau
dia tidak menotokku sudah dari tadi kuhantam mansia-
manusia keparat itu! Ah, hidup ini kenapa jadi sialan
seperti ini! Surah! Lepaskan totokanku!” tapi mana Lembu
Surah bisa mendengar ucapan tanpa suara itu.
Di saat itu pula kembali terdengar kata-kata Malaikat
Maut Berkuda Putih Suwo Permono. “Surah! Puluhan tahun
kita menggalang persahabatan. Tapi kau khianati diriku.
Kau perkosa muridku hingga dia menjadi gila. Tak ada
hukuman yang lebih patut bagimu dari pada mampus!”
“Gila! Semua gila! Aku bukan Lembu Surah! Aku bukan
Datuk Iblis Penghisap Darah! Aka kalian semua tuli? Tidak
mendengar?!”
Malaikat Maut Berkuda Putih tersenyum angker.
“Mukamu mungkin bisa tukar dengan muka setan. Tapi
suaramu tidak. Walau kau berusaha merubah suaramu.”
“Copot saja kepalanya. Habis perkara!”
Yang mengeluarkan kata-kata itu adalah Randu Ampel.
Dia tegak dekat reruntuhan panggung, sambil mengunyah
paha ayam yang didapatnya berhamburan di tanah.
“Aku memang ingin mencopot kepalanya!” kata Malaikat
Maut Berkuda Putih dan langsung melompat kirimkan
serangan.
Seperti diketahui beberapa kali sebelumnya kedua
orang itu telah terlibat dalam perkelahian. Sebegitu jauh
kakek berjanggut dan berpakaian serba putih itu tidak
pernah berhasil mengalahkan lawannya. Malah dirinya
hampir selalu celaka. Kini Lembu Surah dalam keadaan
cacat, ditambah harus memanggul tubuh Kunti Kendil
maka Malaikat Maut merasa mempunyai peluang untuk
menghajar musuh besarnya itu. Namun bagaimanapun
juga Lembu Surah bukan tokoh silat sembarangan. Gelar
Datuk Iblis yang diberikan padanya bukan merupakan gelar
kosong. Meski tangannya kini cuma satu dirinya dibebani
beratnya tubuh Kunti Kendil tapi dengan sebat dia
menahan serangan lawan, malah kemudian balas meng-
hantam dengan tangan kiri, membuat Malaikat Maut Suwo
Permono terpaksa menghindar penuh penasaran.
Dari samping kiri Pudji telah siap berkelebat untuk
menyerbu. Tapi bahunya tiba-tiba dipegang oleh Randu
Ampel. Lelaki ini berkata.
“Sahabat, manusia seperti ini si tangan buntung itu ter
lalu enak jika langsung dibunuh…”
“Apa maksudmu Randu?” tanya Pudji.
“Kuntung tangannya yang sebelah kiri. Hancurkan
kemaluannnya. Biar dia hidup menderita sengsara seumur-
umur…..!”
“Nasihatmu akan kuturuti Randu!” suhut Pudji. Maka
murid Malaikat Maut Berkuda Putih yang berotak miring
inipun menerkam ke depan. Kaki kanannya meluncur ke
arah selangkangan Lembu Surah.
Walau kini diserang dua orang, tetap saja Lembu Surah
tidak bisa segera didesak. Apalagi dia sengaja mem-
percepat gerakan dan keluarkan jurus-jurus silatnya yang
paling hebat. Pudji dan Malaikat Maut seperti menghadapi
tembok yang sukar ditembus.
“Waw waw! Dewiku! Apa kau tak akan ambil bagian?!
Jangan sampai ketinggalan…” terdengar suara Wirapati.
Ucapannya ditujukan Kemala. Entah dari mana dia men-
dapatkannya, saat itu Wirapati angsurkan sebilah golok
pada Kemala seraya berkata lagi; “Dua orang yang
menyerang lelaki buntung itu berlaku tolol waw waw!
Mereka berkelahi tidak pakai otak! Waw waw, aku tak mau
dewiku juga tolol. Cepat masuk ke kalangan pertempuran.
Tapi jangan serang di buntung. Serang nenek jelek yang
dipanggulnya! Ayo cepat dewiku! Waw waw waw!”
Kemala ambil golok yang disodorkan. Begitu masuk
kalangan pertempuran dia kirimkan bacokan ke kaki Kunti
Kendil. Lembu Surah membuat gerakan berputar setengah
lingkaran. Bacokan golok mengenai tempat kosong. Sang
Datuk coba balas menendang dengan kaki kiri, tapi dari
samping kiri kanan kembali datang serangan yang
dilancarkan dua lawan lainnya. Terpaksa dia tarik
tendangan, melompat ke kiri, dan menghantam. Sekali
membuat gebrakan itu dua serangan tadi dapat dihindar-
kannya. Namun dari belakang kembali menderu golok
Kemala. Kali ini ke arah kepala Kunti Kendil.
Lembu Surah menyumpah.
Jika dia terus melayani ke tiga pengeroyok itu, dirinya
sendiri mungkin bisa bertahan dari serangan lawan.
Namun sulit dijamin dia mampu menghindarkan Kunti
Kendil dari hantaman. Kelihatannya Kemala memang
sengaja mengincar tubuh Kunti Kendil terus menerus. Di
samping itu setiap melihat wajah Kemala – gadis yang
pernah membuatnya tergila-gila setengah mati itu – Lembu
Surah menjadi tidak tenang. Menyadari kenyataan ini sang
Datuk berteriak keras. Bersamaan dengan itu tubuhnya
bersama tubuh Kunti Kendil yang dipanggulnya melesat
tinggi ke udara, lalu laksana seekor burung besar melayang
melewati deretan bangku-bangku di lapangan. Di lain kejap
dia sudah berada di ujung lapangan, terus lari ke arah
lamping gunung sebelah timur.
“Sialan! Hampir aku celaka!” kata Lembu Surah dalam
hati. Dia merasa lega karena berhasil melarikan diri dan
tak satu orangpun kelihatan sanggup mengejar.
Namun baru saja membatin seperti itu, tiba-tiba terasa
ada orang yang menepuk bahunya, menyusul ucapan
mengejek.
“Urusan hutang piutang belum selesai, mengapa cepat-
cepat pergi? Sungguh manusia tidak tahu peradatan!”
Lembu Surah kaget bukan main dan cepat berpaling ke
kri dan jurusan mana dia mendengar datangnya suara
serta gerakan menepuk tadi. Tapi astaga. Dia tidak melihat
siapa-siapa di situ. Lalu tiba-tiba saja ada suara dan
menepuk lagi di sebelah kanan.
“Aku di sini!”
Ketika dia menoleh ke kanan, diapun tidak melihat
siapa-siapa!
“Datuk, aku di belakangmu!”
Kembali terdengar suara serta tepukan pada punggung-
nya. Berpaling ke belakang tetap saja Lembu Surah tidak
menemukan orang yang bicara dan menepuknya itu. Ber-
ubahlah paras sang Datik. Cepat-cepat dia memutar tubuh
untuk meneruskan pelariannya. Namun baru bergerak
mendadak di depannya menghadang sesosok tubuh ber-
telanjang dada. Dan sebuah benda panjang menerima di
kening!
Orang yang di depannya ternayata lelaki tinggi yang
muncul bersama Pudji. Randu Ampel! Dan benda yang
menempel di keningnya adalah suling bambu yang di-
pegang di tangan kanannya.
“Keparat buntung! Kau mau lari kemana….?” Ujar Randu
Ampel menyeringai.
Inilah pertama kali dalam hidupnya Lembu Surah yang
menyandang gelar angker Datuk Iblis Penghisap Darah itu
merasa ketakutan yang amat sangat. Tadi-tadi dia sudah
menyadari bahwa lelaki berotak miring ini memiliki
kepandaian tinggi. Namun dia tidak menduga kalau
kehebatan Randu Ampel begitu luar biasa. Bukan saja
Randu Ampel sanggup mengejar dan mendahuluinya tanpa
diketahuinya, juga lelaki ini memiliki gerakan cepat luar
biasa. Dan suling yang ditempelkan dikeningnya itu setiap
detik bisa tembus masuk ke batok kepalanya! Untuk
beberapa lamanya Lembu Surah hanya bisa tegak, tak
berani bergerak sedikitpun. Sebaliknya di atas panggulan-
nya Kunti Kendil memaki panjang pendek tanpa terdengar,
berteriak agar totokannya dilepas. Nenek ini ingin sekali
menghajar Randu Ampel saat itu.
Beberapa orang berkelebat. Sepasang bola mata Lembu
Surah berputar berkeliling. Dadanya terasa tambah sesak
ketika dia melihat dirinya kini dikurung oleh Malaikat Maut
Berkuda Putih, Kemala, Pudji dan Wirapati.
“Waw waw! Semua kita sudah ada di sini! Tunggu apa
lagi?!” Wirapati berseru.
“Betul!” menyahuti Randu Ampel dan tekanan ujung
sulingnya pada kening Lembu Surah dilipat gandakan.
Lembu Surah merasa seperti keningnya sudah rengkah
dan pemandangannya berkunang. Tetapi baru saja tangan-
nya bergerak, dari samping menyambar golok yang di-
genggam Kemala.
Cras!
Tak ampun lagi bagian tangan di bawah ketiak kiri sang
Datuk terkutung putus. Darah menyembur. Lembu Surah
luka parah dan menahan sakit begitu rupa, dari depan
Pudji ayunkan tangannya, memukul ke bawah selang-
kangan sang Datuk. Untuk kedua kalinya lelaki ini meraung
keras. Anggota rahasianya hancur dan darah merah
tampak membasahi celananya. Seperti belum puas Pudji
bergerak lagi untuk mencengkeram leher Lembu Surah tapi
Randu Ampel cepat menghalangi.
“”Cukup sahabat! Kematian terlalu enak baginya. Lebih
baik dia kita biarkan hidup sengsara seperti ini!”
“Waw waw!” terdengar suara Wirapati. “Kurasa kau
sudah cukup puas. Apa perlu kita berlama-lama di tempat
ini?!” lalu pemuda gila itu sambar pinggang Kemala,
langsung mendukungnya dan membawanya pergi dari
tempat itu.
Tinggal kini Randu Ampel, pudji dan Malaikat Maut
Berkuda Putih. Sementara itu Lembu Surah yang tak
sanggup lagi berdiri, tampak terkapar roboh di tanah.
Tubuh Kunti Kendil yang tadi di panggulnya ikut terhempas
ke tanah menggeletak beberapa langkah jauhnya.
Kedua mata Malaikat Maut Berkuda Putih tampak ber-
kaca-kaca. Orang tua ini merasa terharu. Sekian tahun
mencari dan tapi dengan sebat dia menahan serangan
lawan, malah kemudian balas mengejar mushu besarnya
itu, hari itu dia hanya bisa meyaksikan pembalasan
dilakukan oleh orang lain tanpa dia bisa berbuat apa.
Pudji berdiri di bawah sebatang pohon, menutupi
wajahnya dengan kedua tangan, menangis sesunggukan.
Di tempat lain Kemala juga tampak berusaha dengan
susah payah untuk menahan tangis, ingat akan kematian
ibunya serta ayahnya yang lenyap tanpa diketahui
kabarnya lagi.
“Waw waw! Nenek butut itu! Dia pasti kawan Lembu
Surah. Mau kita apakan dia…?” terdengar Wirapati berkata.
Kunti Kendil menyumpah setengah mati. “Anak setan
keparat. Sampai kiamat aku bersumpah untuk membunuh-
mu!”
“Nenek itu bukan cuma kawan. Dia adalah istri Datuk
Iblis. Aku yakin sekali hal itu….!” Malaikat Maut Berkuda
Putih membuka mulut.
“Waw waw! Kalau dia istrinya, pasti sama jahatnya
dengan suaminya! Sebaiknya dihajar biar tahu rasa!”
Tak ada yang menjawab ataupun bergerak. Tampaknya
semua orang di situ tidak punya hasrat lagi untuk
melakukan kekerasan. Sesaat kemudian Malaikat Maut
Berkuda Putih berkata; “Kita semua adalah orang-orang
gagah dunia persilatan, walaupun dengan segala
kekurangan. Itu berarti tidak menjadi alasan bagi kita
untuk bertindak pengecut manghantam orang yang tidak
berdaya.” orang tua ini kemudian melangkah mendekati
Pudji. “Muridku,” katanya, “Aku tidak tahu apa kau masih
mengenal dirinya diriku atau tidak. Bagaimanapun juga aku
tetap gurumu yang ldulu membesarkanmu dan memberi
pelajaran sesuai dengan kemampuanku. Setelah per-
temuan kali ini apakah kau masih tidak ingin ikut ber-
samaku… Mungkin kita bisa menemukan sesuatu sehingga
kau dapat menempuh kehidupan baru…!”
“Aku tidak kenal kau siap…” menyahut Pudji. “Aku tidak
perduli kau siapa. Saol hidup baru aku sudah menemuinya.
Bersama sahabatku itu…” Pudji menggoyangkan kepalanya
ke arah Randu Ampel. “Kita Pergi sekarang Randu….”
“Ya… ya… Kita pergi sekarang!” sahut Randu.
Malaikat Maut Berkuda Putih mengurut dada. Dia hanya
bisa melepas kepergian muridnya itu dengan pandangan
mata.
“Waw waw! Dewiku, kitapun tak ada gunanya berlama-
lama di tempat ini. Mari kita pergi. Jika menuruti hati, mau
saja aku membunuh Datuk keparat yang dulu membunuh
dewiku yang satu ini. Tapi sudahlah… Waw waw! Dewiku
Sundari saat ini tentu sudah enak hidup di akhirat!”
Maka Kemala dan Wirapati lalu tinggalkan tempat itu.
Tinggal kini Malaikat Maut Berkuda Putih tegak sendirian.
Dia memandang pada Datuk Iblis yang tergeletak di tanah,
merintih tiada henti. Lalu perhatikannya Kunti Kendil yang
terdampar tak bergerak. Hati kecilnya ingin menolong me
lepaskan totokan di tubuh si nenek. Namun jalan
pikirannya menolak. “Buat apa aku menolong! Salah-salah
begitu bebas dari totokan dia akan menyerang diriku! Biar
saja, nantipun totokan itu akan punah sendiri!”
Lalu kakek berjanggut putih inipun putar tubuhnya. Saat
itulah tiba-tiba terdengar satu ledakan dahsyat dari lereng
gunung Merapi sebelah atas. Bumi ambruk dan langit
seolah terbelah. Malaikat Maut Berkuda Putih sampai
terbanting jatuh ke tanah saking hebatnya ledakan itu.
Apakah yang terjadi?
Ketika pukulan Api Geledek dan pukulan yang dilepas-
kan Wirapati menghancurkan lebur dan membakar
panggung, nyala api telah pula membakar ujung tali yang
berhubungan dengan karung-karung itu, maka bahan
peledak itupun meledak. Lamping timur gunung Merapi
tampak berlubang besar. Masih untung semua tokoh silat
yang berada dibekas tempat upacara peresmian partai
sudah meninggalkan tempat itu sehingga tidak satu
orangpun menemui celaka.
Sekarang mari kita ikuti ke mana Mahesa. Gembel
Cengeng Sakti Mata Buta, Sari serta Pendekar Muka
Tengkorak.
***
TUJUH
WAJAH DIBALIK CADAR HITAM
Kakek! Kau mau bawa aku ke mana?!” seru Mahesa
bertanya.
“Anak edan, jangan bicara keras-keras. Nanti
orang yang kita kejar mendengar…” jawab Gembel
Cengeng Sakti Mata Buta.
“Eh, siapa yang kita kejar saat ini?” tanya Mahesa. Dia
masih berusaha melepaskan lengannya dari pegangan si
kakek buta, tapi tetap saja sia-sia.
“Jangan coba engkel-engkelan menarik tanganmu.
Salah-salah yang kita kejar itu bisa merat tanpa bekas!”
“Hai! Aku bertanya siapa sih yang kita kejar?” Mahesa
mengulangi pertanyaannya.
“Kau akan lihat sendiri nanti. Ikuti saja aku. Jangan
banyak tanya!” jawab si kakek.
Orang tua buta itu larinya bukan kepalang cepatnya.
Meskipun Mahesa memiliki kemampuan berlari yang dapat
mengimbangi namun pemuda ini menyadari bahwa
kecepatannya lari saat itu sebagian besar ditambah oleh
daya tarik si gembel buta. Memandang kebelakang dilihat-
nya Sari jauh ketinggal, tapi perempuan itu masih dapat
mengikuti mereka.
“Kau cemas kehilangan perempuan itu eh? Hik-hik-hik…
Sebentar-sebentar kau menoleh ke belakang!”
“Kek, ini pertama kali aku melihat kau tertawa. Biasanya
menangis terus!” kata Mahesa.
“Sekali-sekali hidup itu perlu perubahan. Agar segar!”
jawab si buta.
“Menurutmu kek, apa yang terjadi dengan orang-orang
yang masih berada di tempat upacara tadi itu…?”
“Itu urusan mereka. Jika mereka tolol, mereka boleh
melanjutkan perkelahian. Jika mereka cerdik, mereka akan
cepat-cepat meninggalkan tempat celaka itu. Sebentar lagi
pasti gunung itu meledak…” dan tiba-tiba saja si buta ini
mulai menangis. Mahesa hanya bisa geleng-geleng kepala.
Barusan saja dia tertawa, kini sudh kembali menangis.
“Hai, bagaimana mungkin gunung itu meletus. Maksud-
ku bahan-bahan peledak itu. bukankah aku sudah me-
mutuskan tali pembakarnya?” Mahesa bertenya lagi
dengan perasaan heran.
“Talinya memang kau putus! Tapi apa kua kira bahan
peledak itu tidak bisa meledak tanpa tali? Jangan jadi anak
tolol! Jika mereka berkelahi, saling keluarkan pukulan sakti
yang menimbulakan hawa panas bahkan api! Nah apa
pendapatmu….?”
“Kau betuk kek. Kasihan orang-orang itu…” ujar
Mahesa. Dia teringat pada Kemala dan kakak seper-
guruannya Wirapati. Lalu para tokoh silat yang baik-baik
lainnya, termasuk juga Kunti Kendil, gurunya yang telah
membuatnya kecewa seumur hidup.
“Aku… aku juga kasihan pada mereka.” Berkata Gembel
Cengeng dan makin keras sesunggukannya. “Tapi perduli
amat, mereka tidak kasihan diri sendiri…”
Setelah lari beberapa ratus tombak lagi, Mahesa
kembali buka mulut. “Kek, aku masih belum melihat orang
yang kita kejar…”
“Aku juga belum.” sahut si kakek.
Mahesa dongkol dalam hati. Tentu saja dia tidak
melihat. Matanya buta! Baru saja dia mengomel dalam hati
seperti itu tiba-tiba si kakek mendorongnya memasuki
jalan menurun yang berbelok-belok hingga akhirnya
mereka sampai di sebuah anak sungai yang airnya sangat
dangkal hingga mudah saja diseberangi. Sampai di
seberang Mahesa menoleh lagi ke belakang. Dilihatnya
Sari baru saja mulai menyeberani sungai dangkal itu. lalu
agak jauh di belakang Sari dia melihat ada seorang lain
yang juga lari satu jurusan dengan mereka.
“Kek, ada orang lain di belakang sana yang mengikuti
arah lari kita.” memberitahu Mahesa.
“Aku sudah tahu sejak tadi-tadi!” jawab Gembal
Cengeng Sakti Mata Buta. “Malah aku sudah tahu siapa
orangnya!”
“Kau memang luar biasa kek. Bagaimana kau bisa
tahu?” Mahesa memuji dan bertanya.
“Mudah saja. Dari bau rokok kawung yang dihisapnya.
Sama sepertimu…”
“Jadi orang itu si kakek muka tengkorak?”
“Siapa lagi? Si jerangkong sahabatmu itu!”
“Ah, kalau begitu kita tak usah kawatir…” Mahesa
merasa lega.
“Kalau bukan diapun kita tak perlu kawatir. Mulai
sekarang tutup mulutmu. Orang yang kita kejar semakin
dekat di depan sana. Kita harus mengambil jalan
memotong…” si buta mendorong Mahesa memasuki hutan
kecil. Sekeluarnya dari hutan mereka sampai di sebuah
daerah yang ditumbuhi pohon-pohon kapas. Dekat sebuah
batu besar Gembel Cengeng hentikan lari, membawa
Mahesa berlindung di balik batu itu. tak lama kemudian
Sari sampai di situ. Menyusul Pendekar Muka Tengkorak
Suko Inggil.
“Mengapa berhenti di sini…?” tanya Sari.
“Ssst…. Diam. Semua berlindung di balik batu. Sebentar
lagi monyet tua itu akan samapi di sini. Begitu muncul
cepat potong jalannya dan kurung…”
Seperti Mahesa, Saripun tidak tahu siapa sebenarnya
orang yang mereka kejar. Sementara si kakek muka
tengkorak tenang-tenang saja dan menyedot rokoknya
dalam-dalam. Tiba-tiba rokok ini tercabut dari sela bibirnya
seolah-olah disentakkan oleh tangan yang tidak kelihatan.
Memandang ke samping si kakek dapatkan rokok itu
sudah diremas hancur oleh Gembel Cengeng Sakti Mata
Buta.
“Hai, maafkan aku sudah berlaku tolol.” bisik kakek
muka tengkorak. Dia menyadari kalau bau rokok kawung-
nya bisa membuat orang yang mereka kejar akan me
ngetahui kehadiran mereka di tempat itu!
Tiba-tiba semak belukar di seberang mereka tersibak.
Seseorang tubuh bungkuk menyeruak keluar. Nafasnya
keras memburu. Sesaat dia tegak di tempat terbuka, me-
mandang berkeliling. Wajahnya tertutup cadar. Meskipun
kini tidak lagi mengenakan jubah outih namun baik
Mahesa, maupun Sari serta Pendekar Muka Tengkorak
segera mengenali orang itu bukan lain adalah manusia
yang telah mengangkat dirinya sebagai Ketua Partai Merapi
Perkasa.
“Bangsat! Bangsat semua!” tiba-tiba orang itu memaki.
Nafasnya masih memburu. “Salah kaprah! Aku salah
kaprah. Setan betul!” mendadak dia hentikan makiannya.
Dia mendengar sesuatu. Suara seperti orang sesungukan.
“Eh, setan dari mana yang tersesat dan menangis di
hutan kapas ini!” sentaknya. Baru saja memaki begitu dia
segera menyadari ada tiga orang yang tegak mengurung-
nya. Dua berkerudung merah dan satu lagi kakek
jerangkong yang dikenalinya betul yakni Pendekar Muka
Tengkorak. “Keparat, apa mau ketiga setan alas ini. Dia
pasti mengejarku!” dengan sikap dibuat setenang mungkin,
si bongkok itu menegur: “Para sahabat, kalian menunjuk-
kan sikap yang benar-benar mendukung Partai Merapi
Perkasa. Sampai-sampai menemuiku di tempat ini!
Kakek muka tengkorak tertawa mengekeh.
“Kalau orang gila bicara ngaco masih kuanggap wajar.
Tapi kalau kau yang mengaku punya hak jadi ketua partai
bicara melantur, bener-bener lebih keblinger dari orang
gila! Kami datang kemari bukan untuk bicara segala
macam soal partai. Kami ingin membuktikan siapa kau
sebenarnya manusia bungkuk!”
Orang bungkuk bercadar hitam kini ganti tertawa
mengekeh walau sebenarnya ini hanyalah tawa pura-pura
untuk dapat menutup goncangan hatinya.
“Siapa yang tidak kenal pada jago kawakan bergelar
Pendekar Muka Tengkorak. Tapi hari ini aku juga heran
kalau kau bicara melantur tak tahu ujung pangkal. Siapa
aku apa perdulimu? Jika kau memang ingin bergabung
dalam partai, kau harus tunduk padaku. Jangan banyak
tanya. Tak perlu banyak mau tahu!”
Dari balik batu besar Gembel Cengeng Sakti Mata Buta
keluar sambil usap-usap mata. Sesaat dia mendongak ke
langit. Kemunculan orang yang dianggap nomor satu di
dunia persilatan ini membuat wajah di balik cadar hitam itu
menjadi pucat.
“Celaka, menghadapi si muka tengkorak ini saja sudah
cukup repot, apalagi kini muncul si buta ini!” begitu si
cadar hitam membatin. Agaknya dia sama sekali meng-
anggap remeh Mahesa dan Sari yang sampai saat itu
masih mengenakan kerudung kain merah.
“Ah, tidak disangka sahabatku Gembel Cengeng Sakti
Mata Buta ternayat juga hadir di sini!” si bungkuk lalu men-
jura dan batuk-batuk.
“Bagus… bagus. Jika kau mengganggapku sebagai
sahabat, silahkan buka cadar hitam yang menutui wajah-
mu. Aku tidak begitu suka bicara dengan manusia yang
bermulut manis tapi menutupi wajahnya dengn segala
macam kedok!”
Kembali si bungkuk batuk-batuk. “Tapi dua kawanmu
inipun menutupi wajahnya mereka dengan kain!” katanya
seraya menunjuk pada Mahesa dan Sari.
“Jika aku minta mereka membuka kerudung itu, apakah
kau juga mau membuka cadar hitammu?!” tanya Gembel
Cengeng.
Si bungkuk tak bisa menjawab.
Karena merasa memang tak ada perlunya lagi menutupi
wajah masing-masing maka Mahesa dan Sari lantas mem-
buka kerudung merahnya.
“Nah… nah. Kedua sahabatku telah membuka kerudung
mereka. Sekarang lekas kau buka cadarmu…” yang bicara
kini adalah Pendekar Muka Tengkorak.
“Engg… Tak mungkin cadar ini kubuka. Aku menderita
sejenis penyakit kulit. Tidak tahan terkena sinar
matahari…” si bungkuk menjawab.
“Kalau begitu, terpaksa aku yang melakukannya…” ujar
Gembel Cengeng Sakti. Baru saja dia selesai mengucapkan
kata-kata itu bungkuk merasa ada angin menyambar
wajahnya datang dari samping kiri. Cepat dia
menghindarkan kepalanya ke samping kanan. Tapi dia
tertipu. Justru dari sebelah kanan ini tiba-tiba tangan kakek
buta itu berkelebat cepat.
Sret!
Cadar hitam penutup wajah si bungkuk terbetot lepas
dan kini kelihatanlah wajahnya yang asli. Begitu wajah si
bungkuk, berserulah Pendekar Muka Tengkorak.
“Astaga! Bukan dia!”
Kakek buta mendongak ke langit. “Apa maksudmu
bukan dia?” tanyanya dengan nada sedih, hampir
menangis.
“Bukan dukun keparat dari gunung Bromo itu!” sahut
Pendekar Muka Tengkorak.
“Bukan…?” desis si kakek buta.
“Hai, rupanya kalian menyangkah aku Embah Bromo
Tunggal! Kalian benar-benar keterlaluan. Buka matamu
lebar-lebar Pendekar Muka Tengkorak. Apakah wajahku
sama dengan muka dukun jahat itu?!”
Pendekar Muka Tengkorak tak bisa berkata apa-apa.
Hanya kedua matanya saja yang memandang tak berkesip.
Hatinya menyumpah. Dia melakukan pengejaran tadi
karena menyangka pasti bahwa manusia bungkuk yang
punya rencana besar mendirikan Partai Merapi Perkasa itu
sebenarnya adalah Embah Bromo Tunggal yang bernama
asli Roko Nuwu. Ternayat bukan dia. Mau tidak mau kakek
ini jadi jengkel dan gemas. Mahesa sendiri kini baru
menyadari kalau dia diajak mengejar seseorang karena si
kakek buta maupun si kakek muka tengkorak mengira
Ketua partai yang gagal itu adalah itu adalah Embah Bromo
Tunggal. Manusia yang memang dicari-carinya. Ternyata
kini mereka semua melihat kenyataan bahwa si bungkuk
bukanlah Embah Bromo Tunggal!
Gembel Cengeng Sakti Mata Buta kembali mendongak
ke langit sambil usap-usap dagu. Sementara itu manusia
bungkuk tadi buka mulut berkata: “Jika kalian memang
tidak mau bergabung dalam partaiku, percua aku lama-
lama di sini. Selamat tinggal para sahabat yang tolol!”
Lelaki bungkuk itu siap untuk berkelebat pergi. Tapi tiba-
tiba kakek buta sudah menghadangnya.
“Mataku memang buta. Tapi aku tidak bisa ditipu…’
“Apa maksudmu?!” lelaki bungkuk membentak.
Tampaknya dia sudah kehilangan kesabaran.
“Ada satu hal lagi yang belum kau lakukan!” kata kakek
buta pula.
“Apa?!” sentk si bungkuk masih terus garang.
“Buka topeng tipis yang menutupi wajah aslimu!”
Kagetlah si bungkuk kini.
Mahesa, Sari dan Pendekar Muka Tengkorak juga tak
kalah terkejutnya.
***
DELAPAN
TERNYATA MEMANG DIA!
KACA IBLIS PEMBATAS JAGAT
Kalian semua orang-orang gila!” bentak lelaki
bungkuk marah. “dan aku tidak mau menghabiskan
waktu dengan orang-orang macam kalian!
Menyingkir semua kalau tidak mau mampus!”
Kakek muka tengkorak kembali tertawa mengekeh lalu
hidupkan sebatang rokok kawung. Tak ada satu orangpun
yang tampak mau melepaskan manusia bungkuk yang
hendak mengangkat diri jadi ketua partai itu.
“Bagus! Jadi kalian tidak mau menyingkir! Bersiaplah
untuk mati!”
Lalu si bungkuk hantamkan tangan kanannya ke depan.
Segulung asap kelabu menggebubu.
“Awas! Jangan sampai dia kabur! Gembel Cengeng Sakti
Mata Buta berteriak memberi ingat begitu dia mendengar
suara deru dan bau asap.
Laksana seekor burung elang Sari jatuhkan diri,
menukik dan cepat sekali dia berhasil mencekal sepasang
kaki manusia bungkuk tepat sesaat dia hendak melarikan
diri. Sementara itu Pendekar Muka Tengkorak hembuskan
asap rokoknya ke depan. Asap rokok ini langsung me-
nembus dan mengobrak abrik asap kelabu yang tadi me-
nutupi pemandangan.
Karena ketika hendak lari kedua kakinya dicekal Sari,
orang itu jatuh terbanting ke tanah. Salah satu pegangan
pada kakinya terlepas. Secepat kilat dia hantamkan
tumitnya ke kepala Sari.
Buk!
Sari yang dulunya dikenal sebagai Ratu Mesum, yang
selain cantik juga memiliki kepandaian tinggi dan meng
gegerkan dunia persilatan langsung sambut hantaman kaki
lawan dengan jotosan tangan kiri. Si bungkuk mengeluh
tinggi. Telapak kakinya serasa remuk. Sakit dan juga marah
dia memukul ke bawah, namun hanya mengenai tempat
kosong karena saat itu Sari sentakkan kaki kanannya
hingga tubuh lelaki itu terguling-guling. Begitu gulingan
tubuhnya terhenti, seseorang diraskan menginjak lengan
kanannya, seorang lain menginjak tangan kirinya.
Memandang ke atas yang melakukan ternyata Mahesa dan
Pendekar Muka Tengkorak. Karena Sari masih mencekal
pergelangan kakinya, dengan sendirinya orang itu tak
berkutik lagi.
“Nah, nah!” Gembel Cengeng buka suara. Nadanya
kembali sedih. “Sekarang terpaksa aku membuka kedok-
mu…” dia membungkuk ulurkan tangan ke arah muka
orang yang terkapar tak berkutik di tanah itu justru saat itu
orang tersebut buka mulutnya lebar-lebar dan ulurkan
lidahnya, maka terjadilah satu keanehan luar biasa dan
juga mengerikan.
Lidah itu tampak tambah panjang, tambah panjang dan
berubah menjadi seekor ular merah berbelang hitam.
Binatang jejadian ini bergerak sebat dan tahu-tahu sudha
menggelung leher kakek buta. Karena ini merupakan
binatang buatan, si kakek tidak dapat mengetahui apa
sebenarnya yang menggelung lehernya. Jika saja itu ular
sungguhan maka dia dapat mengetahui walau hanya se-
saat. Setelah menyadari apa yang terjadi dia kerahkan
tenaga dalamnya ke leher. Ular jejadian itu merasa
kepanasan dan lepaskan gelungnya. Namun kemudian
ganti mematuk ke wajah si kakek. Saat itulah Pendekar
Muka Tengkorak cabut rokoknya dan tusukkan bagian yang
berapi ke mata ular.
Cess!
Binatang itu tarik kepalanya. Si kakek tusuk lagi
matanya yang satu. Kesakitan akhirnya binatang ini
jatuhkan diri, menjadi kecil dan akhirnya kembali kebentuk
aslinya yakni lidah yang terjulur.
“Apakah kau ingin menunjukkan ilmu sulapmu yang
lain…?” bertanya kakek mata buta dengan nada mengejak.
“Dengar! Kita semua adalah orang-orang gagah dunia
persilatan. Mari bicara dan berunding secara gagah!” lelaki
bungkuk yang masih terkapar di tanah itu berkata.
Ucapannya disambut gelak mengekeh oleh Pendekar
Muka Tengkorak. “Siapa bilang kau orang gagah! Kau tidak
lain manusia pengecut, penipu ulung, pengkhianat kawan,
mencelakai orang-orang tak berdosa dengan ilmu kejimu.
Aku tidak was-was, kau memang pasti bangsatnya yang
kucari-cari selama ini!”
Begitu ucapannya selesai tangan kanan Pendekar Muka
Tengkorak menyambar ke wajah orang itu.
Bret!
Sehelai topeng kulit yang sangat tipis tersingkap dari
mukanya. Dan kini terlihat tampang yang asli!
“Dukun keparat Embah Bromo Tunggal!” seru Mahesa.
Kakek muka tengkorak kembali tertawa.
Kakek buta keluarkan suara seperti mau menangis.
Mahesa cepat mengeledah tubuh dan pakaian dukun
jahat itu. Apa yang dicarinya segera diketemukan. Yaitu
Keris Naga Biru yang dulu dicuri Embah Bromo Tunggal.
Setelah meneliti sesaat Mahesa memastikan senjata
mustika itu benar-benar asli. Selain itu dia juga menemu-
kan dua buah benda lainnya. Yang pertama sebuah buku
berkulit tebal yang sudha sangat lusuh, penuh dengan
tulisan dan gambar pohon serta dedaunan. Benda kedua
sebuah buku yang hanya terdiri dari beberapa halaman
dan pada bagiannya ada tulisan berjudul “Tujuh Jurus Ilmu
Silat Orang Katai”.
“Anak muda, apa yang kau temukan….?” Gembel
Cengeng Sakti Mata Buta tiba-tiba bertanya.
“Ada tiga benda kek. Aku mohon petunjukmu. Yang per-
tama Keris Naga Biru yang memang aku sudah lama men-
cari-cari. Dukun ini mencurinya sewaktu trjadi bentrokan di
Pesantren Nusa Barung. Benda kedua sebuah kitab
berkulit tebal dan lusuh. Isinya aku belum sempat mem
baca. Selintas ada gambar tanaman. Benda ketiga buku
tipis berjudul Tujuh Jurus Ilmu Silat Orang Katai. Sekali lagi
aku mohon petunjukmu….”
Si kakek buta mendongak ke langit sementara Embah
Bromo Tunggal masih menggeletak di tanah, terjepit di
bawah kaki dan pegangan tangan tiga orang itu.
“Benda pertama yaitu Keris Naga Biru menurut hematku
boleh kau ambil dan simpan. Tapi ini bukan berarti kau
pemiliknya. Bagaimanapun juga senjata itu masih simpang
siur siapa pemiliknya. Sampai kau menemukan pemiliknya
yang sebenarnya, kau kurasa boleh mempergunakan dan
merawatnya seperti milik sendiri. Tapi ingat, senjata itu
setahuku mempunyai pantangan ganas. Tidak boleh di-
cabut sembarangan dari sarungnya. Jika dicabut berarti
harus ada darah tertumpah dan nyawa binasa. Entah
nyawa kawan antah nyawa lawan…”
“Aku mengerti kek. Sekarang bagaimana dengan dua
benda lainnya ini…?” tanya Mahesa seraya melirik pada
kakek muka tengkorak. Dia melirik begitu karena ingin me-
lihat bagaimana air muka si kakek. Seperti dituturkan se-
belumnya, setelah terjadi perkelahian di puncak Bromo
antara Pendekar Muka Tengkorak dengan si dukun jahat,
kakek muka tengkorak itu pernah menceritakan bahwa dia
tengah mencari sebuah buku silat yang dicuri oleh Embah
Bromo Tunggal setelah lebih dulu menipu dan memendam-
nya di bawah sebuah arca. Buku yang dicari kakek muka
tengkorak itu bukan lain adalah buku Tujuh Jurus Ilmu Silat
Orang Katai yang kini berada dalam pegangan Mahesa.
Memperhatikan wajah si kakek nampaknya dia tenang-
tenang saja sambil terus menghisap rokok kawung.
Kemudian Mahesa memandang kembali pada Gembel
Cengeng Sakti Mata Buta. Dia berharap orang buta sakti itu
akan memberikan petunjuk sebagai jalan keluar hingga dia
tak perlu saling bertarikan urat dengan kakek yang baik itu
guna memperebutkan buku.
Setelah mendongak sekali lagi ke langit. Gembel
Cengeng Sakti Mata Buta membuka mulut.
“Benda kedua, buku berkulit tebal itu mungkin…
dengan, kataku mungkin ada manfaatnya jika kau miliki.
Tetapi bagiku jelas seribu kali lebih baik jika segera kau
musnahkan. Bakar jadi abu…”
Sampai di situ tiba-tiba Embah Bromo Tunggal berteriak
memotong: “Jangan… jangan bakar buku itu…. Kalian boleh
ambil Keris Naga Biru itu. buku silat itu, tapi jangan
musnahkan bukuku….”
“Buku celaka itu….” desisinya. “Dengan buku
pengobatan jahat itulah kau telah menebar malapetaka di
delapan penjuru angin!”
“Kalian boleh tukar buku itu dengan sebelah tanganku!
Sebelah telingaku! Malah sebelah mataku! Tapi jangan
musnahkan bukuku!”
Pendekar Muka Tengkorak menyeringai.
“Buat apa bagi kami telinga atau tangan atau matamu?!
Anjingpun tak mau menyantapnya!”
“Jangan, jangan musnahkan buku itu….!” Embah Bromo
Tunggal meminta setengah meratap.
“Mahesa! Bakar buku itu cepat!”
Embah Bromo Tunggal meraung.
Mahesa keluarkan korek api dari balik pakaiannya.
Ketika buku tebal yang berisi petunjuk mengenai seribu
satu macam pengobatan jahat itu mulai terbakar, kembali
Embah Bromo Tunggal melolong-lolong. Tapi tak ada
gunanya. Buku tebal kepunyaannya musnah dimakan api,
berubah jadi debu hitam!
“Kek, kau belum memberi petunjujk mengenai benda
ketiga.” Kata Mahesa ketika dilihatnya kakek buta hanya
tegak diam-diam saja.
Kini tampak si kakek kerenitkan kening.
“Ini hal yang sulit bagiku. Aku tahu sahabatku Pendekar
Muka Tengkorak yang pertama kali memegang kitab tipis
berisi ilmu silat langka itu. asal muasalnya tidak kuketahui
dan aku memang tidak mau tahu…” sampai di situ si kakek
buta mengusap wajahnya seperti menyeka air mata. Lalu
dia meneruskan: “Kemudian sahabat Pendekar Muka
Tengkorak kena dikibuli Embah Bromo Tunggal. Kitab
dibawa kaburnya dan sang pendekar sendiri diperdayai
hingga kena dipendam dibawah arca batu. Bukan begitu
sahabatku…?”
Pendekar Muka Tengkorak hanya bisa manggut-
manggut dan mendehem beberapa kali.
“Aku memang tolol. Mudah saja diperdayai kunyuk
bungkuk ini! Kalau si buyung ini tidak menolongku pastilah
aku sudah jadi cacing tanah saat ini. Ha… ha… ha!” begitu
kata Pendekar Muka Tengkorak yang tetap mengingat budi
pertolongan Mahesa.
“Nah… nah… nah…” kakek buta bicara lagi. “Aku
mengetahui pula kalau anak muda ini harus menjalankan
amanat orang, yakni tujuh manusia katai si pemilik kitab
itu. dia harus menemukan kitab yang hilang lalu menyerah-
kannya pada mereka. Nah… nah, kalau begini urusan bisa
jadi pelik. Kuharap kalian berdua langsung saja
berunding….”
Pendekar Muka Tengkorak ambil buku tipis itu dari
tangan Mahesa, menelitinya beberapa ketikan halaman
demi halaman lalu berkata. “Ini buku yang asli…”
“Hai, apakah kalian sudah berunding bagaimana
baiknya?” tanya kakek buta.
“Kek, sebelum kami berunding, aku ada satu
pertanyan.” kata Mahesa.
“Heh, kau selalu bertanya. Apa yang ingin kau ketahui?”
“Bagaimana kau bisa tahu kalau aku harus menjalankan
amanat dari tujuh manusia katai sakti itu…?
Gembel Cengeng Sakti Mata Buta tersenyum. Dia men-
jawab: “Angin bertiup, dedaunan berdesir. Burung berkicau,
awan berarak. Ombak berdebur, matahari bersinar dan
rembulan tersenyum. Semua menebar kabar dan akhirnya
sampai ke telingaku. Apa susahnya menyirap kabar…?”
Mahesa dan kakek muka tengkorak hanya bisa saling
pandang mendengar ucapan itu sementara Sari geleng-
geleng kapala. Perempuan ini sudah lama mendengar
kehebatan kakek buta tersebut. Dimasa dia gentayangan
dalam kehidupan sesat, maka Gembel Cengeng Sakti Mata
Buta termasuk salah seorang yang selalu dihindarkannya.
Untungnya hari ini bertemu tokoh hebat itu dalam suasana
persahabatan. Kalau tidak mungkin tadi-tadi dia sudah
mendapat celaka.
“Sudah selesaikah kalian berunding?”
“Belum kek. Bagaimana baiknya…?” Mahesa tampak
bingung.
Kakek muka tengkorak usap-usap dagunya lalu cabut
rokok kawungnya dari sela bibir. Sesaat kemudian diapun
hendak berkata, tetapi tiba-tiba Embah Bromo Tunggal
yang masih dicekal dan menggeletak di tanah mendahului;
“Dengar, berikan buku itu padaku. Aku akan berikan satu
peti perhiasan emas. Cukup banyak untuk kalian bagi
berempat…!”
“Dukun busuk!” hardik Gembel Cengeng Sakti Mata
Buta. “Tidak ada yang mengajakmu bicara. Kalau kau tidak
mau menutup mulutmu jangan salahkan kalau kuwuruh
orang mengencingi mulutmu itu…!” habis berkata begitu si
kakek lalu sesunggukan.
Karena jengkelnya kakek muka tengkorak tekankan
kakinya keras-keras ke langan Embah Bromo Tunggal
hingga dukun ini menjerit kesakitan. Dukun ini menjerit
tiada hentinya. Dia baru diam setelah Mahesa menampar
pipinya hingga bibirnya berdarah.
“Hai! Kalian masih belum mengadakan perundingan!
Aku tak punya waktu lama-lama di tempat ini!” seru kakek
mata buta.
Mahesa tak tahu harus berkata apa. Akhirnya terdengar
kakek muka tengkorak berkata: “Buyung, jika kau memang
mendapat amanat dari tujuh orang katai itu, kau ambillah
buku itu dan pulangkan pada mereka. Memang jelas
mereka pemiliknya… Aku hanya menemukan buku itu di
satu tempat. Hanya kebetulan…”
“Bagus! Kalau begitu kata sepakat sudah membentuk
penyelesaian!” kakek buta tampak lega.
“Sekarang apa yang kana kita lakukan dengan kambing
buruk ini?!” tanya Pendekar Muka Tengkorak. “Dia dulu
pernah menipu dan memendamku dalam tanah. Aku
tengah memikirkan pembalasan bagaimana harus
kuberkan…”
“Jangan… jangan bunuh diriku. Sekujur badanku serasa
sudah hancur!” ratap Embah Bromo Tunggal. “Aku mohon
kalian mengampuni selembar nyawaku…!”
Pelipis Mahesa nampak menggembung. Tanpa melepas-
kan jepitan kakinya di lengan Embah Bromo Tunggal,
pemuda ini jambak rambut dukun itu.
“Kau yang menyebabkan ayahku jadi gila! Kau yang
menggunai ayah sampai dia tidak waras. Katakan padaku
apa dan bagaimana pengobatan harus dilakukan hingga
dia bisa sembuh kembali…!”
“Itu soal mudah… Soal mudah anak muda. Jika kowe
berjanji mau melepaskanku, kau akan beritahu…” jawab
Embah Bromo Tunggal.
Kakek buta tampak geleng-gelengkan kepala dan
kembali keluarkan suara sesunggukan.
“Anak muda, jangan kau sampai kena ditipu manusia
licik jahat ini! Jika seseorang sudah rusak oleh guna-guna
hampir tak ada satu obat mujarabpun di dunia ini mampu
mengobatinya. Juga tidak oleh orang yang telah men-
celakainya… Merusak itu mudah, memperbaiki itulah yang
sulit!”
“Kalau begitu biar kubunuh dia detik ini juga!” kata
Mahesa. Tangan kanannya diayunkan ke batok kepala
Embah Bromo Tunggal. Baik Gembel Cengeng Sakti Mata
Buta maupun Pendekar Muka Tengkorak apalagi Sari, tak
satu pun hendak menghalangi apa yang akan dilakukan
Mahesa. Namun pasa saat itu dikejauhan terdengar
ledakan amat dahsyat. Tanah di mana mereka berada
bergoncang keras seperti dilanda gempa. Mahesa ter-
duduk ke tanah. Kakek muka tengkorak terdorong keras ke
samping. Sari jatuh punggung sedang Gembel Cengeng
Sakti Mata Buta terhuyung-huyung. Injakan kaki dan
cekalan orang-orang itu pada tubuh Embah Bromo Tunggal
tanpa sadar terlepas. Kesempatan ini tidak disia-siakan
dukun jahat itu. secepat kilat dia melompat bangun lalu lari
ke arah rimba belangkara. Kakek muka tengkorak dan
Gembel Cengeng Sakti Mata Buta cepat mengejar. Mahesa
begitu bangun hebdak melepaskan pukulan Api Geledek
tapi tidak jadi begitu dia ingat pada janjinya untuk tidak
pernah lai mempergunakan ilmu silat dan kesaktian yang
pernah dipelajarinya dari gurunya Kunti Kendil.
Embah Bromo Tunggal sadar sepenuhnya walaupun
dalam gerakan cepat dia bisa meloloskan diri, namun tak
mungkin dapat lari jauh. Dalam waktu singkat dua kakek
sakti itu pasti akan dapat mengejar dan menangkapnya
kambali. Maka sebelum itu terjadi dia gerakkan tangannya
ke pinggang lalu memukul ke belakang ke arah para
pengejarnya.
Terlihat cahaya menyilaukan menyambar.
Dilain saat kakek buta dan kakek muka tengkorak yang
melakukan pengejaran tiba-tiba laksana menumbuk
tembok tebal keras yang tidak kelihatan. Tubuh keduanya
tertahan bahkan terpental ke belakang.
Buk!
Duk!
Kakek mata buta benjut keningnya.
Pendekar Muka Tengkorak berdarah hidungnya.
Kedua tua renta ini memaki panjang pendek.
Embah Bromo Tunggal lenyap ke dalam hutan.
Sari dan Mahesa kaget bukan main. Keduanya serentak
berdiri dan cepat mengejar. Namun merekapun mengalami
hal yang sama. Mereka tertahan dan menghantam sebuah
tembok yang tidak kelihatan. Empat orang itu menggapai-
gapai ke depan dan masing-masing merasakan menyentuh
benda licin serta keras yang sama sekali tidak dapat dilihat
oleh pandangan mata. Kakek muka tengkorak melompat
setinggi tiga tembok.
Buk! Dia kembali tertumbuk.
Di atas sana ternyata tembok tak kelihatan itu seperti
masih menghadang. Dia lari ke arah kanan, lalu ke kiri.
Juga tembok ini seperti tidak ada batasnya. Seolah-olah
mencuat tinggi ke angkasa dan memanjang tanpa batas!
“Gila!” maki Pendekar Muka Tengkorak.
Kakek mata buta geleng-gelengkan kepala.
“Kaca Iblis Pembatas Jagat!” desisnya. “Ternyata dukun
keparat itu memiliki ilmu ini. Tak ada yang bisa kita
lakukan. Kaca iblis itu seolah tidak ada batas tinggi dan
panjang. Tak mungkin sihancurkan dengan pukulan. Kita
harus mennggu sampai hitungan keseratus. Dinding kaca
akan lenyap dengan sendirinya…”
“Anak setan betul!” ikut memaki Mahesa. “Ini semua
gara-gara ledakan keras tadi. Apa yang terjadi…?”
“Bahan peledak yang ditanam dukun jahat itu mungkin
sekali meledak…” menyahuti kakek muka tengkorak.
Paras Mahesa berubah. Jika apa yang dikatakan kakek
muka tengkorak itu betul dan para tokoh silat itu masih
berada di lereng gunung Merapi, niscaya mereka semua
menemui ajal, termasuk Kemala. Memikir sampai di situ
Mahesa segera memutar tubuh. “Aku harus kembali ke
gunung itu!” katanya.
“Buyung! Jangan jadi orang gila! Apa yang hendak kau
lakukan?!” seru si muka tengkorak.
“Aku harus menyelamatkan kawan-kawan dan saudara
seperguruanku. Ayahkupun masih di sana…” sahut
Mahesa, namun yang terbayang olehnya bukan wajah
Wirapati atau Randu Ampel, melainkan wajah Kemala,
gads jelita yang diam-diam selalu dikenangnya.
“Kalau mereka memang celaka, pada saat kau sampai
di sana kau hanya akan menemui timbunan tanah. Tak
mungkin kau akan menggali seluruh lereng gunung untuk
mencari mayat mereka!” kata kakek muka tengkorak.
“Aku tidak perduli.” sahut Mahesa pula.
“Anak muda tolol!” kakek buta ikut bicara. “Kalau orang-
orang itu memang sudah jadi mayat, apakah kedatangan-
mu akan dapat menghidupkan mereka kembali?!”
Sesaat Mahesa jadi ragu kini.
“Manusia-manusia itu bukan orang-orang tolol! Setelah
tahu ada bahan peledak dalam tanah, mereka tentu akan
cepat menyingkir!” Sari bicara untuk pertama kalinya.
Kakek muka tengkorak melirik pada perempuan ini.
Kakek buta mendongak ke langit. Tiba-tiba dia berseru.
“Kaca iblis pembatas jagat sudah lenyap! Lekas kejar
dukun keparat itu!”
Maka si buta dan si muka tengkorak berkelebat pergi.
Sesaat Mahesa masih ragu, namun akhirnya lari juga ke
jurusan lenyapnya dua kakek tadi, diikuti oleh Sari.
Baru saja masuk sekitar dua puluh langkah ke dlam
hutan keempat orang itu mendadak menghentikan lari
masing-masing. Di hadapan mereka tampak Embah Bromo
Tunggal terguling-guling di tanah sambil memegang luka
besar yang mengoyak pipinya sebelah kiri. Di depan sana
tegak menyeringai lelaki bertopi tinggi hitam, di pinggang-
nya terselip sebuah seruling.
“Ayah!” seru Mahesa hampir tak percaya pada
penglihatannya. Orang yang barusan disangkanya sudah
mati tertimbun tanah ledakan gunung kini tegak di
seberang sana. Di seberang sana. Di sebelahnya berdiri
gadsi cantik anak murid Malaikat Maut Berkuda Putih.
***
SEMBILAN
GANASNYA PEMBALASAN
MENGUJI PENDEKAR GILA
BERTEMU DAN BERPISAH LAGI
Sari melengak kaget ketika Mahesa berseru
memanggil ayah. Sambil pegang tangan pemuda itu
tanda bertanya: “Hai! Siapa yang kau panggil ayah?!”
Mahesa hendak menjawab tapi memutuskan akhirnya
untuk diam saja. Matanya memandang ke depan tak ter-
kedip. Sang ayah, yang tangan kanannya tampak merah
bernoda darah, mencabut suling bambu dari pinggang lalu
meniupnya. Demikian kerasnya tiupan suling itu hingga
semua orang yang ada di situ, tak kecuali Gembel Cengeng
Sakti Mata Buta yang sudah sangat tinggi kepandaiannya
merasa telinga masing-masing sakit bukan main seperti
dicucuk jarum!
Sementara itu Embah Bromo Tunggal yang mukanya
berkelukuran luka dan darah merangkak bangun. Selagi
orang itu meniup suling, dan selagi empat orang yang
barusan datang masih berada dalam keadaan tertegun.
Inilah kesempatan baginya untuk melarikan diri. Ini adalah
kesempatan terakhir. Jika diatidak berhasil maka riwayat-
nya pasti akan tamat di tempat itu. dia kumpulkan tenaga.
Tiba-tiba tubuhnya yang terbungkus melenting dan men-
celat seperti bola. Langsung meninggalkan orang-orang
yang mengurungnya sejauh hampir empat tombak.
Mahesa dan Pendekar Muka Tengkorak cepat bergerak
untuk mengejar. Tetapi sungguh luar biasa. Entah kapan
dilakukannya, tahu-tahu lelaki bertopi tinggi butut yang
meniup suling sudah melesat dan menghadang Embah
Bromo Tunggal dangan suling masih menempel di bibir!
Membuat dukun jahat ini tertegun seperti patung.
Randu Ampel tutup tiupan sulingnya dengan satu
lengkingan yang seperti hendak merobek gendang-
gendang telinga. Lalu lelaki malang berotak miring ini
menyanyikan sebuah tembang yang membuat Embah
Bromo Tunggal keluarkan keringat dingin sedang Mahesa
setengah mati berusaha untuk tidak mengucurkan air
mata.
Dua puluh tahun silam
Di satu malam kelam
Tak ada rembulan
Tak ada bintang
Dari puncak Bromo pangkal bahala
Melayang guna-guna durjana
Tak ada dosa tak ada salah
Anak manusia menerima bencana
Membunuh sahabat membunuh istri
Dalam keadaan gila lari membawa diri
Fitnah kembali kepada fitnah
Hutang nyawa dibayar nyawa
Hanya kematian yang pantas baginya
Walau itu terasa masih enak belaka
Jangan dibunuh….jangan dibunuh
Biarkan hidup sengsara seumur hidup
Selesai membawa nyanyian itu, Randu Ampel kembali
tiup sulingnya. Seperti orang gila Embah Bromo Tunggal
melompat kian kemari mencari jalan untuk melarikan diri.
Tetap setiap dia berkelebat, pada saat itu pula Randu
Ampel tahu-tahu sudah menghadang di depannya.
“Dukun jahat dukun keparat, aku akan berikan
kesempatan kabur bagimu. Tapi tubuhmu tak akan kubiar-
kan hidup sempurna!”
Tiba-tiba suling menempel di bibir itu melesat dan cras!
Embah Bromo Tunggal menjerit. Kedua tangannya
menekap mata kirinya yang ditusuk sampai ke dekat
telinga. Darah luka pada pipi yang terkoyak dan kini di-
tambah darah dari luka pada mata mengucur mengerikan.
Gembel Cengeng Sakti Mata Buta mendongak ke langit
dan menangis tersedu-sedu. Embah Bromo Tunggal lari
berputar-putar sambil tiada putus-ptusnya berteriak
kesakitan.
Plak!
Bret!
Satu tamparan yang disertai betotan keras merobek
mulut Embah Bromo Tunggal sampai ke pipi kanan. Suara
jeritannya yang tadi keras mengerikan kini berubah men-
jadi sember seperti kerbau melenguh.
“Mulut yang pandai menjampai telah kurusak! Mana
tangan yang meramu obat durjana itu mana…?!”
Saat itu Embah Bromo Tunggal jatuh tersungkur di
tanah. Dia menggapai-gapai mencoba bangun. Namun satu
injakan keras menghancurkan telapak dan jari-jari tangan
kanannya.
“Baru tangan kiri. Mana yang kanan…. Mana yang
kanan…!” teriak Randu Ampel keras sehingga suara jerit
kesakitan Embha Bromo Tunggal hampir tidak terdengar.
“Ampun… ampuni selembar nyawaku. Tidak… tidak!
Bunuh saja aku saat ini. Cepat…! Cepat!”
Randu Ampel tertawa mengekeh. Di sebelahnya Pudji
tiba-tiba juga ikut tertawa. “Tangannya yang satu lagi
Randu! Tangannya yang satu lagi…!” kata gadis ini.
Randu Ampel membungkuk. Tangan kirinya
mencengkeram telapak dan jari-jari tangan sebelah kiri
Embah Bromo Tunggal.
Kereteeek!
Tulang-tulang tangan itu hancur luluh!
“Bikin lubang di perutnya Randu! Bikin lubang di
perutnya!” teriak Pudji.
Randu Ampel tertawa panjang.
Suling di tangan kanannya ditusukkan ke perut dukun
jahat dari gunung Bromo itu, di bagian pusarnya. Darah
mengucur. Lolongan kesakitan yang keluar dari mulut sang
dukun bukan seperti lolongan manusia lagi, tapi lebih
menyerupai lolongan binatang! Dan belum sampai di situ.
Dengan tumit kirinya Randu Ampel injak tulang kering kaki
Embah Bromo Tunggal.
Kraak!
Kaki itupun patah.
Ketika Randu Ampel hendak menginjak selangkangan
orang yang telah merusak jiwa dan kehidupannya itu.
Pendekar Muka Tengkorak berseru.
“Itu akan memtaikannya Rndu! Bukankah kau tak ingin
dia mampus?!”
Randu Ampel tahan gerakan kakinya.
“Terima kasih kau memberi peringatan. Tapi aku tak
suka ada yang ikut campur urusanku, kecuali sahabatku
Pudji. Jadi kaupun harus mendapat hajaran!”
Selesai mengucapkan kata-kata itu Randu Ampel
langsung menyerang Pendekar Muka Tengkorak dengan
tusukan suling ke arah kening. Demikian cepat dan aneh
gerakan itu hingga si kakek tidak punya kesempatan
mengelak. Kalau tidak tubuhnya cepat didorong oleh
Gembel Cengeng Sakti Mata Buta, pastilah kakek ini akan
mendapat celaka paling tidak robek kulit keningnya!
“Hebat…. hebat!” terdengar si kakek buta berkata. “Aku
tak ingat nama jurusnya. Tapi itu adalah jurus kedua dari
ilmu Keramat Tujuh Belas. Cuma aneh, dimainkan secara
terbalik.
Mendengar kata-kata itu Randu Ampel tahan
serangannya terhadap Pendekar Muka Tengkorak. Dia
berpaling pada si kakek.
“Orang tua buta! Apa hubunganmu dengan Goa Keramat
Tujuh Belas? Apakah kau setan penghuni goa itu…?”
Si kakek buta tertawa perlahan.
“Ditanya malah kau mentertawaiku! Tadipun kau
membantu manusia jerangkong ini! Jelas kau tidak
bersahabat terhadapku. Siapa yang berani bertindak begitu
akan merasakan hajaranku. Kalian berdua boleh maju
bersama!”
“Ah, sombong amat orang gila ini!” tukas Pendekar
Muka Tengkorak dalam hati. Dia mengerling pada Gembel
Cengeng. Dilihatnya kakek buta itu memberikan isyarat
dengan gerakan tangan. Maka serentak kedua maju
menyerbu.
“Jangan keroyok ayahku!” teriak Mahesa. Siapa yang
tidak kawatir. Dua kakek itu memiliki kehebatan luar biasa,
yang jarang ada tandingannya dlam dunia persilatan. Dan
kini mereka mengeroyok ayahnya, seorang yang dia tidak
tahu memiliki kepandaian sampai di mana, tetapi jelas
memiliki otak yang tidak waras.
“Jangan berlaku curang! Dia bukan musuh kita!” Sari
yang merasakan kekawatiran Mahesa ikut berteriak.
Tapi dua kakek sakti itu seperti tidak perduli dan terus
saa menghambur serangan ke arah Randu Ampel.
Sebelumnya Pendekar Muka Tengkorak pernah berkelahi
melawan Randu Ampel di puncak Bromo. Dari pengalaman
itu ditambah serangan mendadak ganas yang tadi dilancar-
kan Randu Ampel sudah cukup membuat si kakek ber-
gerak dengan hati-hati. Dia tidak mau mengirimkan
serangan berupa hembusan asap rokok. Bagi orang lain
hembusan asap itu bisa membutakan mata dan melukai
tubuh. Tapi bagi Randu Ampel, asap itu bisa dipergunakan-
nya untuk melancarkan serangan balik yang dua kali lebih
ganas. Dan ini sudah dirasakan Pendekar Muka Tengkorak
di puncak Bromo dulu.
Mahesa memperhatikan bagaimana Gembel Cengeng
Sakti Mata Buta menyerang dengan jurus-jurus silat orang
buta yang sangat lihay. Bukan saja cepat dan tak terduga,
tetapi disertai tenaga dalam sangat tinggi hingga setiap
gerakan yang dibuat mengeluarkan suara angin bersiuran
dan dingin. Pendekar Muka Tengkorak di dalam kehati-
hatiannya melancarkan jurus-jurus silat yang mematikan.
Untuk beberapa ketika kelihatan Randu Ampel seperti
terkunci di bawah kecamuk serangan. Mahesa tahu sekali
jika orang lain yang dikeroyok seperti itu sudah sejak
gebrakan pertama akan roboh. Diam-diam pemuda ini
mengagumi kehebatan ayahnya itu. namun menyadari
kenyataan bahwa kehebatan sang ayah disertai pula
dengan keadaan otak yang tidak waras maka kedua mata
pemuda ini jadi berkaca-kaca. Sari yang memperhatikan ini
serta merta hendak membuka mulut, tapi Mahesa
memberi isyarat agar perempuan itu diam.
Lima jurus berlalu. Kedua pengeroyok terutama si kakek
buta jadi terheran-heran karena dia dan muka tengkorak
masih belum bisa merobohkan lawan. Jangankan me-
robohkan, sempat memukulpun belum! Maka dengan ilmu
memindahkan suara, yakni bicara tanpa orang lain men-
dengar kecuali orang yang dituju, kakek buta berkata pada
Pendekar Muka Tengkorak.
“Sahabatku, puluhan tahun hidup di dunia persilatan,
sampai jadi tua bangka seperti ini belum pernah aku
menemui manusia berkepandaian seperti ini! Bagaimana
pendapatmu. Maksud kita tadi hanya menguji sampai di
mana kehebatannya. Tapi salah-salah kitabisa celaka!”
Pendekar Muka Tengkorak menjawab: “Kurasa sudah
kepalang tanggung. Kita berhenti dia pasti terus mengejar.
Kita teruskan saja, tetapi hati-hatilah…”
“Aku pernah meyirap cerita tentang manusia ini. Tapi
apakah dia benar bapak moyangnya si buyungmu itu….?”
“Betul,” sahut Pendekar Muka Tengkorak membenar-
kan. Lalu dia cepat-cepat menyingkir ke kiri untuk meng-
hindarkan serangan lawan. Tapi entah bagaimana tahu-
tahu salah satu tangan Randu Ampel berkelebat menusuk
ke arah lambungnya. Pendekar Muka Tengkorak melompat
ke belakang sambil memukul. Akibatnya bentrokan lengan
tak dapat dihindarkan lagi.
Duk!
Tampang kakek muka tengkorak tampak berkerut.
Lengannya seperti dihantam batangan besi! Sakitnya
bukan kepalang hingga dia terpaksa menggigit bibir untuk
tidak sampai mengeluh. Bentrokan lengan itu membuat
tubuhnya miring ke kiri dan hampir jatuh berlutut. Melihat
lawan dalam kuda-kuda yang sangat lemah tanpa
perlindungan, Randu Ampel susul serangannya tadi dengan
satu hantaman tinju kanan ke batok kepala si kakek muka
tengkorak. Randu Ampel seperti tidak memperhatikan
lawannya yang lain yakni kakek buta. Dia hanya
memusatkan perhatian pada pukulan yang dirasakannya
pasti akan memecahkan kepala si muka Gembel Cengeng
Sakti Mata Buta menghantam keras bagian bahu dekat
dada kanannya.
Hantaman tangan kanan Randu Ampel melebar ke
samping dan hanya meyerempet pelipis Pendekar Muka
Tengkorak. Tubuh Randu Ampel roboh ke kanan akibat
hantaman Gembel Cengeng, tetapi hebatnya, dilain kejap
dia sudah berdiri lagi sambil melancarkan serangan
balasan ke arah dada si kakek buta. Justru pada saat itu si
kakek buta masih berdiri tertegun sambil usap-usap tinju
kirinya yang merah dan berdenyut sakit.
“Kek! Awas serangan pada dadamu!”
Mahesa berteriak memberi peringatan.
Cepat si kakek buta menghindar, tapi tak urung dada
pakaiannya yang compang camping masih kena tersambar
serangan Randu Ampel hingga robek. Karuan saja kakek
buta ini keluarkan suara menangis. “Bajuku! Bajuku jadi
tambah buruk! Robek…!”
“Kakek buta.” Kata Pendekar Muka Tengkorak. Seperti
tadi dia bicara tanpa terdengar orang lain. “kini aku
terpaksa menghentikan perkelahian gila ini. Kita tidak
perlu malu. Dari pada celaka…”
“Rasanya sku harus belajar dua puluh tahun lagi…”
sahut Gembel Cengeng Sakti Mata Buta. “Hanya ada satu
cara untuk mengalahkannya…”
“Maksudmu?”
“Memperalat otak gilanya!”
“Sudahlah, aku tak berminat lagi menguji ke-
pandaiannya….” Kata Pendekar Muka Tengkorak pula.
“Terserah padamu, aku tetap ingin mengujinya!” kata
kakek buta pula. Lalu diapun berkelebat dalam gerakan
aneh. Sambil menyerang dari mulutnya tiada henti keluar
ucapan-ucapan yang menggangu jalan pikiran lawan.
“Randu Ampel… Randu Ampel…. Aku datang. Lihat…
lihat, aku datang. Aku istrimu. Apa kau lupa padaku
Randu…”
Wajah Randu Ampel tampak berubah. Suara itu
didengarnya dari sebelah kiri. Berpaling ke jurusan itu dia
tidak melihat siapa-siapa. Lalu suara tadi muncul lagi, kini
datang dari sebelah kanan. “Aku datang membawa
pakaianmu Randu. Pakaian kebesaran untuk
penobatanmu jadi Adipati. Lihat Randu bagusnya pakaian
ini. Kau pasti gagah memakainya…”
Gerakan-gerakan Randu Ampel berubah menjadi
perlahan. Pandangan matanya berputar dan kepalanya
dipalingkan kian kemari. Saat itulah satu pukulan meng-
hantam pertengahan dadanya, tepat dan telak serta keras.
Tubuh Randu Ampel mencelat. Mahesa berseru tegang.
Kakek buta mendongak. Seprti tadi tangannya yang me-
mukul terasa sakit. Naun kini hatinya puas karena ternyata
dia akhirnya dapat merobohkan lawan. Tapi rasa puas si
kakek hanya seketika. Karena tubuh Randu Ampel yang
mental dan jatuh punggung di tanah itu tiba-tiba kelihatan
melayang ke atas, lalu menukik membentuk setengah
lingkaran. Sebelum sempat berbuat sesuatu, kakek buta
merasakan leher pakaiannya dicengkeram orang dan
tubuhnya terangkat ke atas. Secepat kilat kakek ini mem-
balik dan melepaskan tiga kali pukulan berantai tapi aneh!
Walau dia merasa jelas pukulannya itu mengenai tubuh
lawan namun tinju-tinjunya seperti tengelam dalam
tumpukan kapas lembut. Selagi dia terheran-heran, tubuh-
nya tahu-tahu dibantingkan lawan ke bawah hingga ter-
hentak di tanah. Kalau bukan orang tua sakti ini yang
mengalami itu, pasti tulang-tulangnya sudah pada ber-
patahan! Si kakek bangkit dan memandang dengan
sepasang mata butanya pada Randu Ampel. Wajahnya
menunjukkan rasa kagum. Lalu dia geleng-geleng kepala.
“Hebat… hebat! sayang otaknya tidak waras…” kata si
kakek dalam hati.
Randu Ampel sendiri saat itu tampak beringas.
Sepasang matanya tampak bertambah merah. Dia
melangkah mendekati Gembel Cengeng Sakti Mata Buta
dengan sepasang tangan terpentang.
“Ayah! Hentikan perkelahian ini! Kedua orang itu tidak
sungguhan melawanmu! Mereka sahabat dan orang-orang
tua yang aku hormat! Aku banyak berhutang budi padanya!
Hentikan perkelahian!”
Randu Ampel hentikan langkahnya. Sesaat dia masih
memandang pada kakek buta. Perlahan-lahan kemudian
kepalanya dipalingkan pada Mahesa. Lama dia menatap
wajah pemuda itu dengan pandangan garang mula-mula.
Lalu seperti menyelidik, akhirnya pandangannya menjadi
sayu. Suaranya kemudian terdengar bergetar.
“Aku tidak kenal kau. Adalah aneh kalau kau memanggil
aki ayah. Atau…. Mungkin otakmu kurang waras. Ha… ha…
ha! Atau apakah kedua kakek yang katamu sahabatmu itu
yang menyuruh kau berkata begitu dengan kepandaian
bicara tanpa suara…?”
Kakek buta dan kakek mka tengkorak terkejut saling
pandang. Luar biasa dan hampir tak dapat mereka
percaya. Bagaimana Randu Ampel tahu kalau tadi-tadi
mereka telah bicara tanpa suara?
“Manusia gila ini kepandaiannya seperti menyamai
malaikat…!” ujar kakek muka tengkorak berbisik pada
Gembel Cengeng Sakti Mata Buta.
Randu Ampel masih memandangi Mahesa. Dan
meneruskan ucapanya tadi. “Seingatku bukan sekali ini
kita bertemu. Setiap bertemu kau selalu memanggil aku
ayah…”
“Aku memang anakmu…”
“Bagaiman mungkin! Kau pasti gila! Aku tak punya istri.
Istriku meninggal hampir dua puluh tahun yang silam…”
“Istrimu itulah yang melahirkanku. Istrimu itulah
ibuku…”
“Ngacok!” hardik Randu Ampel. Meski menghardik tapi
anehnya wajahnya tidak menunjukkan perasaan marah.
“Bagaimana aku harus menerangkan…” Mahesa jadi
bingung. Mulutnya tercekat. Akhirnya dia berkata juga.
“Kalau… kalau kau tidak mengakuiku sebagai anak, tidak
jadi apa. Tapi bagiku kau tetap ayahku. Kau mau
menghentikan perkelahian bukan?”
Randu Ampel tak menjawab. Dia memandang pada
kakek buta dan kakek muka tengkorak. Kedua tinjunya di-
kepalkan. Dua kakek itu terpaksa berjaga-jaga. Siap
menunggu segala kemungkinan. Mahesa berpaling pada
Pudji dan mengharap perempuan muda itu mau berbuat
sesuatu. Kelihatannya hanya padanya sang ayah mau
menurut.
Pudji yang juga berotak miring ternyata masih mampu
menangkap arti pandangan Mahesa. Maka diapun berkata:
“Randu, aku tak suka lama-lama di tempat ini. Kita pergi
saja sekarang. Apalagi… bukankah kau sudah menemui
musuh besarmu si dukun jahat itu? dan dia sudha
menerima hukumannya?”
Randu Ampel alihkan pandangan pada Pudji. Lalu dia
mengangguk. “Memang kita harus pergi.” Katanya. Dia
cabut suling yang diselipkan di pinggang, sambil memutar
tubuh dia mulai meniup suling itu. lalu sambil berjalan
setengah berlari terdengar dia menyanyi.
Istriku tidurlah dengan tenteram
Istriku tidurlah dengn tenang
Manusia jahat itu telah kutemui
Manusia jahat itu sudah mendapat hukumannya
Tidurlah tenang
Hanya aku ingin bertanya
Apakah dapat kau menjawab dan bercerita
Betulkah kau pernah melahirkan seorang putra?
Betulkah... betulkah….?
Randu ampel dan Pudji lenyap di kejauhan. Mahesa
bergerak hendak mengejar. Sari siap mengikuti. Tapi
Gembel Cengeng Sakti Mata Buta cepat memegang bahu
pemuda itu.
“Jangan kau kejar dia. Saat ini tak ada gunanya, anak
muda. Sulit baginyamenerima kenyataan dengan otak tidak
waras seperti itu. kenyataan bahwa kau adalah anaknya.
Jika kau memaksa, bisa jadi da akan membunuhmu…”
habis berkata begitu si buta ini menangis sesunggukan.
Mahesa pun ikut hanyut. Air mata mengalir ke pipinya. Sari
tertunduk haru sedang Pendekar Muka Tengkorak
memandang ke rah kejauhan. Sesaat suasana di tempat
itu menjadi sunyi, hanya suara erangan Embah Bromo
Tunggal yang mengeletak di tanah yang terdengar.
“Aku harus pergi sekarang.” kata kakek muka
tengkorak.
“Kek, apakah kita masih bertemu…?” tanya Mahesa.
“Heh… apakah kau kira aku akan segera mati? Buyung
selama bumi masih berputar, selama tubuh bobrok ini
masih bernafas kita pasti akan bertemu lagi…” habis ber-
kata begitu kakek ini tepuk-tepuk bahu Mahesa, menjura
pada Gembel Cengeng lalu berkelebat pergi.
“Akupun harus pergi…” kakek buta berkata dengan
wajah sedih. “Namun ada beberapa hal yang perlu ku-
bicarakan denganmu…”
Ucapan kakek buta terputus oleh seruan Sari. “Hai!
Lihat! Dukun jahat itu hendak melarikan diri!”
Kakek buta mendongak ke langit. Mahesa cepat ber-
paling. Memang saat itu merasa dirinya bebas, Embah
Bromo Tunggal cepat berdiri. Namun dengan satu kaki
patah begitu, dia cuma mampu berjalan tiga langkah lalu
roboh terjengkang di tanah tak berkutik selain hanya bisa
mengerang.
“Ada beberapa hal yang perlu kubicarakan denganmu
anak mua.” Mengulang kakek buta. Dipegangnya bahu
Mahesa lalu dibawanya cukup jauh dari Sari. Hal ini
memang disengaja kakek buta karena ada sebagian pem-
bicaraan yang dia tak ingin perempuan itu mendengarnya.
“Pertama ini.” Kata Gembel Cengeng seraya mengeluar-
kan dua buah benda dari balik pakaian rombengnya.
Ketika Mahesa memperhatikan ternyata benda itu adalah
dua batang rokok daun jagung. Rokok kemenyan. Gembel
Cengeng serahkan sebatang rokok pada Mahesa.
“Nyalakan rokokmu, lalu nyalakan rokokku. Mari kita sama-
sama merokok dulu…”
Mahesa menuruti apa yang dikatakan si kakek meski
dia tidak mengerti apa sebenarnya tujuan orang tua itu.
Dua batang rokok yang dihisap itu menebar bau menyan
yang santar sekali.
“Seperti bau rumah orang yang kematian. Angker seperti
di kuburan…” kata Mahesa.
“Tepet!” Gembel Cengeng menjawab. “Rokok kawung
tidak pantas untukmu. Rokok menyan ini lebih tepat. Ingat,
kau lahir di perkuburan bukan…?
“Memang benar, kek.”
“Kau seorang pemuda. Seorang pendekar. Karenanya
kau layak mendapat julukan Pendekar Dari Liang Kubur.
Aku mau, jika kau muncul di suatu tempat dan orang men-
cium bau rokok kemenyanmu, maka mereka segera tahu
bahwa Pendekar Dari Liang Kubur ada di tempat itu…”
Mahesa hampir tertawa gelak-gelak.
“Kau ini ada-ada saja kek. Aku tidak menginginkan gelar
atau julukan yang hebat. Apalagi julukan aneh seperti itu…”
“Kau lupa anak muda. Dunia ini memang penuh
keanehan. Banyak manusia yang dilahirkan secara aneh.
Dan berapa saja mereka yang mati dalam keanehan.
Karenanya tidak aneh kalau kau memakai julukan aneh
itu…. Eh, menurutmu bagaimana rasa rokok itu. Enak…?”
“Boleh juga. Lebih mantap dari rokok kawung memang.
Tapi baunya seperti hendak membuatku mabuk!”
“Nantipun kau akan terbiasa. Nah sekarang hal kedua.
Hal terakhir yang ingin ketanyakan padamu…. Sudah lama
kau berhubungan dengan perempuan itu…?”
Mahesa terkejut. “Perempuan mana maksudmu kek…?”
“Anak tolol. Apa ada perempuan lain di tempat ini?”
Sadar kalau yang dimaksudkan si kakek adalah Sari
maka Mahesa menjawab. “Belum berapa lama kek. Baru
beberapa bulan saja. Jangan kau salah sangka. Aku tak
ada hubungan yang tidakbaik dengannya…”
Si kakek menyeringai. “Saat ini memang mungkin tidak.
Tapi jika seiring berjalan ke mana pergi, lama-lama bisa
kejadian. Tapi itu urusan kalianlah. Aku tua bangka begini
tidak mau ikut campur urusan orang-orang muda. Asal saja
kau dapat menjaga diri, anak muda. Hidungku membaui
sesuatu yang harum. Berasal dari tubuh perempuan itu. Ini
mengingatkan aku pada seorang perempuan cantk yang
pernah menggegerkan dunia persilatan. Cantik tapi buas.
Bukankah temanmu itu perempuan yang berjuluk Ratu
Mesum…?”
“Kau… kau benar kek. Tapi dia tidak seperti dulu lagi.
Kurasa dia sudah tobat dan mau menempuh hidup baik-
baik…”
“Aku tak tahu hal itu anak muda. Perjalanan hidup
masih panjang. Kau harus membuktikan sendiri. Hanya
aku menaruh firasat, bukan mustahil dia akan mendatang-
kan bencana bagi dirimu…”
Mahesa terdiam. “Kalau begitu apa yang harus ku-
lakukan…?”
“Perempuan itu menyukaimu anak muda. Mungkin dia
mencintaimu. Sebaliknya aku tak tahu apa kau juga men-
cintainya…” Sesaat wajah Mahesa menjadi merah. Kakek
buta meneruskan kata-katanya: “Kau harus hati-hati
Mahesa. Ingat, banyak orang yang jadi korban karena
kebaikan hatinya sendiri…. Kuharap kau jangan jadi orang
tolol seperti itu!”
“Nasihatmu akan kuperhatikan kek…”
Si kakek tersenyum. Tapi tiba-tiba saja senyumnya
lenyap dan wajahnya berubah sedih. Sesaat kemudian
diapun mulai menangis.
“Aku harus pergi anak muda. Perhatikan kawanmu yang
cantik itu. Yang lebih penting jaga dirimu baik-baik…”
“Kek…” Mahesa ingin minta petunjuk mengenai
hubungannya lebih lanjut dengan gurunya Kunti Kendil.
Tetapi astaga, barusan bicara si kakek buta sudah lenyap!
“Apa yang kalian bicarakan kasak kusuk…?” tanya Sari
sambil melangkah mendekati Mahesa.
“Dia memberikan banyak nasihat padaku. Meminta aku
agar cepat mengembalikan kitab silat milik tujuh orang
kata itu.” Jawab Mahesa berdusta.
“Hemm, begitu..?” ujar Sari, “Kalau begitu apa lagi yang
kita tunggu di sini…”
“Ya, sebaiknya kita pergi. Tapi aku ingin kembali dulu ke
lereng gunung Merapi. Ledakan dahsyat tadi tentu banyak
makan yang celaka…” Mahesa keluarkan kerudung kain
merahnya dan segera mengenakannya. Sari melakukan hal
yang sama. Baru saja keduanya hendak bergerak pergi
tiba-tiba terdengar panggilan Embah Bromo Tunggal me-
rintih-rintih.
“Anak muda, jangan tinggalkan diriku di sini. Tolong…
bawa aku ke mana kalian pergi. Ke desa atau kampong ter-
dekat…”
“Anak setan! Kau pantas mampus busuk di tempat ini!
Biar mayatmu hancur digerogoti binatang hutan!”
“Tolong. Kasihani diriku sekali ini saja. Dudukkan aku di
bawah pohon sana. Hanya itu pintaku. Apakah kalian
begitu tega….?”
Mahesa melangkah pergi. Tapi Sari berpaling sebentar
pada Embha Bromo Tunggal. “Mahesa, kalau cuma minta
tolong brgitu aku tak keberatan melakukannya…”
Ketika Sari hendak menolong dukun jahat itu, selintas
pikiran muncul dibenak Mahesa. Dukun itu bukan saja
jahat tetapi juga sangat licik. Karenanya cepat-cepat dia
melangkah mendekati seraya berkata: “Biar aku yang
menyeretnya ke dekat pohon itu!”
Mahesa lalu tarik salah satu kaki Embah Bromo Tunggal
dan mencampakkan tubuh dukun itu di bawah pohon.
“Terima kasih. Sekali lagi kumintakan kebaikan hatimu.
Sandarkan punggungku ke batang pohon. Kalau aku hidup
kelak au tak akan melupakan kebaikanmu…”
“Anak setan!” maki Mahesa. “Pintamu banyak amat!”
Namun dia membungkuk juga untuk mengangkat tubuh
Embah Bromo Tunggal walaupun dengan gerakan kasar.
Saat itulah secara tidak terduga, tangan kanan sang dukun
menyelinap cepat ke balik pakaian Mahesa. Dilain kejap
dia telah berhasil menarik lepas Keris Naga Biru keluar dari
sarungnya! Berarti ada darah yang tertumpah. Ada nyawa
yang harus melayang!
***
SEPULUH
AKHIRNYA MATI JUGA
REJEKI BESAR TAK TERDUGA
Anak setan!” maki Mahesa marah sekali karena
kebaikannya dibalas dengan pengkhianatan licik dan
keji. Lutut kirinya diangkat menahan ayunan tangan
Embah Bromo Tunggal yang menikam. Begitu serangan lain
orang tertahanMahesa hantamkan tepi telapak tangan
kirinya ke bawah.
Kraak!
Embah Bromo Tunggal menjerit. Tangannya di atas siku
hancur dagingnya dan remuk tulangnya. Keris Naga Biru
terpental lepas. Mahesa cepat menangkapnya dengan
tangan kiri. Begitu hulu keris berada dalam genggamannya,
senjata mustika yang mengandung racun ganas ini
langsung dihunjamkannya ke leher Embah Bromo Tunggal.
Dari tenggorokan dukun jahat itu terdengar suara
seperti ayam disembelih. Mayanya yang masih utuh mem-
beliak, mulutnya yang robek terbuka lebar. Lidahnya ter-
julur. Tubuhnya kemudian tergelimpang roboh di akar
pohon! Bengkak membiru akibat racun ganas Keris Naga
Biru.
“Diberi madu minta racun!” desis Mahesa. “Diberi susu
membalas dengan tuba! Mampuslah!”
“Itu memang pantas baginya.” Sari menimpali. “bagai-
mana sekarang?” tanya perempuan itu kemudian.
“Aku akan kembali ke gunung Merapi…” sahut Mahesa.
“Heh…?”
“Aku akan menyelidiki ledakan dahsyat tadi.” Lalu
tanpa banyak berkata apa-apa lagi Mahesa tinggalkan
tempat itu, berlari kencang menuju lereng gunung Merapi.
Sari mengikuti dari belakang. Karena ingin sampai lebih
cepat Mahesa sengaja menempuh jalan memintas. Tak
selang berapa lama ketika dia sampai dibekas dilangsung-
kannya upacara peresmian Partai Merapi Perkasa itu, yang
ditemuinya hanya sebuah lubang luar biasa besarnya di
lereng gunung. Pohon-pohon dan batu-batu besar serta
bekas panggung yang terbakar dan bekas tempeat duduk
lenyap oleh timbunan tanah gunung. Mahesa memandang
berkeliling. Tak seorangpun yang terlihat. Tak tampak
sesosok tubuh hidup atau mati di tempat ini sebelum
ledakan terjadi? Atau mereka semua telah mati tertimbun
reruntuhan tanah? Pemuda ini coba menggali setumpuk
timbunan tanah yang mencurigainya. Tapi tidak ditemuinya
apa-apa.
“Mungkin mereka semua sudah pergi sebelum ledakan
Mahesa…” kata Sari yang mengetahui apa arti perbuatan
pemuda itu. Cuma dia tidak tahu siapa yang sebenarnya
dikawatirkan pemuda itu. Gurunya atau orang lain…?
“Mungkin Sari… mungkin…” menyahuti Mahesa degnan
suara agak tersendat.
“Kita pergi sekarang…?”
Pemuda itu diam sesaat. Akhirnya mengangguk.
Ketika menuruni lereng gunung Merapi mereka sengaja
menempuh jalan lain. Yakni jalan yang sebelumnya dilalui
orang-orang yang sengejar Lembu Surah. Sekitar beberapa
ratus langkah berlari Mahesa berhenti dan memberi isyarat
pada Sari, seraya berbisik.
“Aku mendengar suara orang menangis…”
“Aku juga. Suara perempuan…” ujar Sari.
Mengendap-endap dibalik belukar keduanya melangkah
kejurusan datangnya suara orang menangis itu. Sesaat
kemudian Sari mencekal lengan Mahesa dan menunjuk ke
depan. Dari balik semak belukar mereka melihat seorang
nenek berambut putih oanjang awut-awutan duduk
menjelepok di tanah sambil menangis dan memangku
sesosok tubuh yang berlumuran darah, diam tak bergerak
entah pingsan entah mati.
“Bukankah… bukankah itu gurunu….?”
Mahesa cepat memberi isyarat agar Sari tidak
mengeluarkan suara ataupun bergerak karena kawatir
akan didengar orang.
Nenek yang duduk menangis itu memang adalah guru-
nya, Kunti Kendil. Manusia yang paling dihormatinya, tetapi
yang telah membuatnya sangat kecewa seumur hidup.
Kunti Kendil menangis sambil memangku sosok Lembu
Surah yang berada dalam keadaan mengerikan. Kedua
tangannya kini tampak buntung. Darah membasahi baju-
nya. Lalu di sebelah bawah, celananyapun basah oleh
darah. Maseha tak dapat memastikan apa yang telah
terjadi.
“Sesuatu terjadi sewaktu kita pergi tadi…” bisik Sari.
“Diamlah, aku tidak ingin nenek itu mengetahui
kehadiran kita di sini!” balas bisik Mahesa.namun dia
setuju dengan ucapan Sari. Rupanya setelah mereka pergi
terjadi perkelahian di lereng Merapi sebelah sana para
tokoh pasti mengeroyok kedua orang itu. Lalu karena
hanya Lembu Surah yang celaka? Sedang Kunti Kendil
tampaknya tak kurang suatu apa.
“Surah…. Surah! Kau dengarlah Surah!” terdengar
ratapan Kunti Kendil diantara tangisannya. “Kau tak boleh
mati…. Kau tak boleh mati! Kau harus menyaksikan pem-
balasanku! Aku bersumpah Surah!”
Seperti dituturkan sebelumnya, setelah Lembu Surah
roboh luka parah, tubuh Kunti Kendil yang berada dalam
keadaan tertotok ikut tergelimpang jatuh ke tanah. Setelah
beberapa lama kemudian totokan yang membuat tubuhnya
kaku terlepas dengan sendirinya. Cepat nenek ini lepaskan
totokan yang menutup jalan suaranya lalu memeluki tubuh
Lembu Surah. Tubuh itu kemudian dipangku dan ditangisi.
“Surah…. Surah suamiku…. Kau tak boleh mati. Kau tak
boleh mati…!” ratap Kunti Kendil kembali. Lalu tangan
kirinya bergerak kemuka, menarik lepas sehelai kulit tipis
yang menutupi wajahnya yang keriput. Dan dibalik wajah
buruk itu kini tampak sebuah wajah perempuan muda yang
cantik sekali. Mahesa sama sekali tidak terkejut melihat
hal ini karena sebelumnya dia telah menyaksikan kejadian
yang sama di puncak pegunungan Iyang. Lain halnya
dengan Sari. Perempuan ini sempat mengeluarkan seruan
tertahan saking kagetnya. Celakanya seruan itu terdengar
oleh Kunti Kendil. Sepasang mata “si nenek” berwajah
cantik membeliak besar. Wajahnya membersit sinar
garang. Dia memandang kejurusan semak belukar di
depannya dan membentak.
“Bangsat! Siapa yang bersembunyi di sana?! Lekas
keluar!”
Mahesa dan Sari tidak bergerak.
“Anak setan! Kurang ajar!” Kunti Kendil memaki. Tubuh
Lembu Surah diturunkannya dari pangkuan dan
dibaringkan di tanah. Perlahan-lahan dia berdiri. Tangan
kanannya diangkat lalu dihantamkan ke depan. Sinar
merah berkiblat. Pukulan Api Geledek merambas semak
belukar, membuatnya hancur berantakan dan beterbangan
ke udara dalam keadaan hangus. Namun tak ada seorang-
pun dilihat Kunti Kendil dibalik semak belukar yang hancur
itu. Pada saat sang guru mengangkat tubuh Lembu Surah
dari pangkuannya. Mahesa yang melihat gelagat tidak baik
cepat menarik lengan Sari dan tinggalkan tempat per-
sembunyian mereka hingga keduanya terhindar dari
pukulan maut tadi.
Penasaran Kunti Kendil melangkah menuju semak
belukar itu. Namun langkahnya tertahan ketika dibelakang-
nya terdengar Lembu Surah merintih.
“Kunti… di mana kau. Jangan tinggalkan aku…. Mungkin
sebentar lagi aku akan mati. Kunti…”
Kunti Kendil hentakkan kaki kanannya ke tanah hingga
tanah berlubang dalam.
“Tidak Surah! Kau tidak akan mati! Kau tidak boleh mati
sebelum melihat pembalasan yang akan aku lakukan…!”
“Bawa aku ke tempat yang sejuk Kunti…. Aku ingin mati
dengan tenang…”
Kunti Kendil kucurkan air mata. “Surah, kau tidak akan
mati. Aku akan bawa kau ke puncak Iyang. Jika ajal
memang akan sampai, kita mati bersama di sana…”
perempuan itu lalu mengangkat tubuh Lembu Surah
setelah terlebih dulu melakukan beberapa kali totokan di
tempat-tempat tertentu. Sesaat sebelum pergi dia masih
memandang kejurusan semak belukar dengan wajah
penasaran. Namun akhirnya dia pergi juga dari tempat itu.
Sari tarik nafas lega.
“Dia sudah pergi. Bagaimana dengan kita….?”
“Kitapun harus pergi.” Jawab Mahesa.
Keduanya keluar dari balik pohon besar tempat mereka
bersembunyi ketika Kunti Kendil lepaskan pukulan sakti-
nya tadi. Tetapi baru saja melangkah mendadak terdengar
suara berisik campur aduk. Ada suara seperti orang bersiul,
ada seperti suara tawa cekikikan. Ketika suara itu sirna
tiba-tiba terndengar suara nyanyian.
Sepasang anak manusia berkerudung merah
Seperti malu menyembunyikan muka pada dunia
Yang satu pemuda gagah
Satu lagi perempuan jelita
Di tengah rimba belantara
Di lereng gunung bencana
Perjalanan nasib membawa kaki ke sini
Peruntungan masa depan di tangan Illahi
Hik… hik… hik… hik… hik…
Mahesa segera mengenali suara ramai yang bernyanyi
itu. Dia mendongak ke arah pohon besar sebelah kiri dari
mana datangnya suara nyanyian tadi. Tapi anehnya dia
tidak melihat apa-apa di sana.
“Aku seperti mengenali suara itu…. Aku pernah men-
dengarnya sebelumnya…” kata Sari. Diapun memandang
ke atas mencari-cari.
Sesaat kemudian kembali terdengar suara orang suara
anak-anak menyanti.
Dulu cantik
Sekarang tetap cantik
Dulu ganas dan keras
Sekarang lembut menawan
Jatuh cinta memang bisa merubah manusia
Hik… hik… hik…
Wajah Sari di balik kerudung menjadi merah. Entah
mengapa dia merasa nyanyian tadi merupakan sindiran
yang ditujukan padanya. Dia cepat membuka mulut hendak
meneriakkan sesuatu. Tapi Mahesa cepat mendahului.
“Kawan-kawan, aku tahu kalian dtang untuk menjemput
kitab itu. Keluarlah. Kitab itu segera akan keserahkan pada
kalian….!”
Tujuh benda seperti bola bergulung keluar dari tujuh
penjuru, lala tegak berdiri di hadapan Mahesa dan Sari,
berjajar rapi membentuk barisan warna warni. Ketujuhnya
memperlihatkan tingkah lucu. Ada yang mengedip-
ngedipkan matanya pada Sari, ada yang menekap hidung.
Lalu ada pula yang menark-narik kedua pipinya. Yang di
ujung kiri sengaja menjuling-julingkan mata. Kawan di
sebelahnya menjulurkan lidah. Lalu yang satu lagi di ujung
kanan menggoyang-goyangkan pinggul seperti menari.
“Tujuh manusia katai! Hai! Kalian pasti yang tempo hari
menggangguku di bangunan gudang tua itu…!” Sari
berseru. Hatinya jengkel tapi diam-diam di balik kerudung
wajahnya tersenyum. “Kalian datang hendak memper-
mainkanku lagi?”
“Hik… hik… hik!” si katai baju putih tertawa. “Dulu lain
sekarang lain. Dulu kami tidak suka padamu, tapi sekarang
suka….”
“Aku tidak butuh rasa sukamu!” jawab Sari.
“Tentu saja!” menyahuti si katai baju merah. “Mana ada
rasa suka terhadap kami dihatimu. Tapi bagaimana kalau
yang suka itu pemuda sahabat kami itu….?”
Tujuh orang katai itu kemudian tertawa riuh rendah. Ada
yang bertepuk-tepuk.
Sari melangkah maju. Tujuh orang katai memencar
menyebar. Si baju biru berkata: ‘Kawan-kawan, dia hendak
mengajak kita menari.”
“Wah! Bagus sekali kalau begitu!” menyahuti si baju
kuning.
Orang katai berbaju putih menimpali. “Aku ingin sekali
memegang tangannya yang halus…”
Kembali tempat itu ramai oleh gelak tawa mereka.
“Tubuhnya masih harum seperti dulu…!” orang katai
berbaju hitam menyeletuk sambil mendongak ke atas dan
mencium-cium.
“Kalian nakal semua! Akan kujewer satu persatu!”
mengancam Sari.
Ketujuh orang katai itu serentak maju ke muka dan
mengangsurkan telinga masing-masing. Seperti ingin
berebut agar dijewer duluan. Hal ini membuat Sari tidak
tahu harus melakukan apa.
Mahesa tersenyum-senyum.
“Kawan-kawan, aku gembira bertemu lagi dengan kalian
semua. Amanat kalian telah kujalankan. Kitab silat itu ada
padaku. Sebenarnya aku memang berniat mencari kalian.
Bagusnya kalian tahu-tahu sudah datang kemari hingga
aku tak usah susah payah….”
Si hijau menjawab. “Bukankah kami berjanji untuk
datang mengambilnya…?”
“Ya… ya aku ingat.” Mahesa lalu mengeluarkan kitab
Tujuh Jurus Ilmu Silat Orang Katai yang berhasil diambilnya
dari tangan Embah Bromo Tunggal. Buku itu diserahkan
pada si katai baju merah.
Tapi si baju merah ini bukan menerima malah me-
mandang pada kawan-kawannya lalu tertawa gelak-gelak.
“Hai! Kenapa kalian tertawa?” tanya Mahesa tak
mengerti.
“Buku itu milikmu!” kata si merah.
Mahesa terkejut heran. “Sahabat. Buku ini jelas milik
kalian. Bukankah kalian dulu mengatakan buku ini lenyap
dan meminta aku mencarinya. Sekarang setelah bertemu
dan hendak kuserahkan kalian mengatakan buku ini
milikku. Bagaimana ini…?”
“Betul. Buku itu milikmu. Karena kami memberikannya
untukmu!” kata si katai baju merah.
“Jangan bergurau! Aku tak berani menerimanya!” kata
Mahesa.
Si katai baju hitam maju mendekati Mahesa.
“Dunia persilatan penuh tantangan. Rimba persilatan
penuh bahaya. Berilmu kepalang tanggung bisa celaka.
Memiliki kepandaian setengah-setengah membawa
sengsara....”
“Sahabat, aku tak mengerti maksdu kata-katamu.”
Mahesa memotong.
“Tentu saja, karena ucapannya belum selesai!”
menyeletuk si katai baju uning.
“Tentu saja, karena ucapannya belum selesai!”
menyeletuk si katai baju kuning.
Si hitam lantas meneruskan. “Kami tahu silang
sengketamu dengan gurumu. Bukankah kau talah me-
mutuskan untuk tidak mempergunakan lagi semua ilmu
silat dan pukulan sakti yang pernah kau pelajari dari Kunti
Kendil…?”
“Heh! Bagaiman kalian bisa tahu hal ini…?!” balik
bertanya Mahesa.
“Mudah saja…” si merah yang menjawab. “Dalam setiap
pertempuran kami tak pernah melihat kau mengeluarkan
jurus-jurus silat yang diajarkan Kunti Kendil. Juga kau tak
pernah melepaskan pukulan sakti seperti api geledek dan
sebaginya….”
“Mahesa!” ikut bicara Sari. “Kalau begitu selama ini
mereka mengikuti perjalanan kita.
“Betul.” Sahut si baju biru. “Kami orang-orang tolol yang
tak pernah ke mana-mana. Tapi ingin jalan-jalan. Dari pada
kesasar bukankah lebih baik mengintip kalian…..?”
“Tapi jangan kawatir. Kami tak pernah mengintip apa-
apa yang kalian perbuat…” yang bicara si katai baju putih.
“Memangnya kami berbuat apa?” kata Sari. Saking
marahnya dia buka kerudungnya.
“Waaaaah!” tujuh orang katai itu sama-sama berseru
dan geleng-geleng kepala. “Cantik sekali… cantik sekali!”
Sari cepat kenakan kerudung merahnya kembali.
Tujuh orang katai tertawa gelak-gelak. Lalu si merah
berkata. “Kami memang tidak ingin mengintip-intip kalian.
Lagi pula bukankah kalian tak pernah bermesraan…?
“Mulutmu usil amat!” pekik Sari.
“Paling-paling cuma pegang-pegangan tangan!” me-
nimpali si katai baju biru. Dan kembali ketujuh manusia
katai itu tertawa gelak-gelak.
“Kami gembira karena sekarang punya tambahan satu
teman.” Berkata si katai baju hitam. “Sesama teman
bukankah boleh bergurau…?
“Tapi kalian nakal dan usil!” sahut Sari.
“Dunia memerlukan orang-orang nakal dan jelek seperti
kami…” jawab si kuning.
“Tidak… tidak …. Kalian tidak jelek. Kalian hanya suka
mengganggu. Kalian gagah semua…” kata Sari pula.
Tujuh orang katai itu gembira sekali dan berjingkrak-
jingkrak. Lalu si hijau berkata. “Kami bergembira buku silat
itu sudah ditemukan. Dan lebih gembira lagi karena kau
sudi menerimanya….”
“Sudah kubilang, aku tak berani menerimanya. Ini bukan
buku silat sembarangan….”
“Justru karena bukan sembarangan maka kami mem-
beri padamu. Kalau cuma ilmu silat picisan buat apa….?”
kata si merah.
Mahesa garuk-garuk kepalanya.
“Bagus! Menggaruk berarti mau menerima!” kata si
merah. “Kami tak ingin mengganggu kalian berdua lebih
lama. Kami minta diri sekarang….”
“Kalian mau ke mana?” tanya Mahesa.
“Ah… orang-orang seperti kami ini pergi ke mana-mana
sipembawa kaki.” sahut si hijua.
“Buku ini…. Aku tak tahu harus bagaimana
mengucapkan terima kasih…” kata Mahesa. “ini benar
benar tidak terduga.”
“Dunia ini penuh dengan hal-hal yang tidak terduga!”
kata si katai baju merah. Lalu dia memberi isyarat pada
kawan-kawannya. Ketujuh manusia katai itu lari
mengelilingi Mahesa dan Sari lalu cepat sekali mereka
melesat ke dalam rimba belantara dan lenyap. Hanya
suara tawa cekikikan mereka yang masih kedengaran di
kejauhan. Sesaat kemudian suara itupun ikut sirna.
Mahesa masukkan kitab silat langka itu ke balik
pakaiannya. Lalu memegang langan Sari dan melangkah
meninggalkan tempat itu. Entah bagaimana tahu-tahu
ketujuh orang katai yang tadi lenyap itu tahu-tahu kini
berkelebat muncul dan mengelilingi mereka kembali.
Ketujuhnya bernyanyi-nyanyi.
Lihat mereka berpegangan tangan
Lihat mereka berpegangan tangan
Asyikkkkkk……
Berikan ini untuk kami
Berikan ini untuk kami
Baik Mahesa maupun Sari merasakan kerudung kain
merah yang menutup kepala dan wajah mereka tahu-tahu
ditarik lepas. Sesaat setelah kerudung itu lepas, tujuh
orang katai itupun lenyap seperti ditelan bumi.
“Anak setan…!” maki Mahesa. Tapi mulutnya tersenyum.
Sari hanya bisa geleng-geleng kepala.
TAMAT
Serial Berikutnya : Ranjang Setan
0 komentar:
Posting Komentar