Kamis, 28 November 2024

MAHESA EDAN EPISODE SIBUNGKUK BERJUBAH PUTIH

SIBUNGKUK BERJUBAH PUTIH

 KARYA : BASTIAN TITO


SATU


SANG KETUA TAK BERNAMA 

21 TOKOH BERGABUNG INGINKAN KEDUDUKAN 


Kunti Kendil yang sejak tadi tidak tenang berbisik 

pada suaminya, “Surah, bagaimana kalau saat ini 

aku naik saja ke panggung. Menanyakan perihal 

muridku itu pada hadirin.” 

Lembu Surah alias Datuk Penghisap Darah terkejut. 

Cepat-cepat dia menjawab, “Jangan bertindak gila Kunti. 

Kita disini sebagai tamu. Jangan mengacau upacara tuan 

rumah. Semua orang akan gusar kepadamu!” 

“Perduli setan dengan semua orang!” sahut si nenek 

yang memang sulit diberi pengertian. “Bukankah kita 

datang kemari bukan untuk menghadirin segala macam 

upacara kentut busuk ini. Tapi untuk mencari jejak mayat 

Mahesa!” 

“Aku tahu alasanmu itu. Tapi bagaimanapun aku tidak 

setuju maksudmu naik ke panggung. Tunggu saat yang 

baik!” 

Kuntu Kendil tidak senang mendengar kata-kata Lembu 

Surah itu. Namun dia terpaksa menahan diri. Seperti 

tetamu lainnya dia lalu memandang panggung. 

Saat itu lelaki bungkuk berjubah putih yang menutup 

wajahnya dengan cadar hitam, tegak di atas panggung 

sambil angkat tangan kanannya. Kemudian terdengar 

suaranya. Keras tetapi hanya mengandung hasrat hati yang 

keras, sama sekali tidak berwibawa. 

“Para hadirin, para sahabat sekalian! Perkenankan aku 

atas nama partai yang sebentar lagi akan diumumkan dan 

diresmikan, mengucapkan rasa hormat yang setinggi-

tingginya kepada semua orang yang telah sudi datang 

kemari dari perbagai penjuru dunia persilatan. Hari ini 


adalah hari bersejarah dan hari berbahagia bagi kami 

selaku tuan rumah. Semoga kebahagiaan itu menjadi 

bagian para sahabat yang hadir di tempat ini. 

Seperti para sahabat semua mengetahui, sejak dua 

puluh lima tahun terakhir ini tidak ada lagi satu partai 

persilatanpun berdiri. Padahal dunia persilatan telah ber-

kembang pesat dengan segala pasang surutnya. Karena 

itulah saat ini dirasakan perlu untuk membangun, men-

dirikan dan meresmikan sebuah partai silat baru, demi 

persatuan diantara kita orang-orang rimba persilatan. 

Aku saat ini memberanikan diri untuk mengundang para 

sahabat guna menyaksikan peresmian partai baru yang 

akan diberi nama Partai Merapi Perkasa. Namun satu hal 

perlu para sahabat ketahui, kalian semua datang kemari 

bukan saja untuk menyaksikan dan meresmikan, tetapi 

juga untuk turut ambil bagian dalam partai baru ini, dan 

menduduki jabatan-jabatan penting yang tersedia….” 

Sampai disitu ramailah suasana diantara para hadirin. 

Ada yang menunjukkan rasa terkejut, ada yang cukup 

senang dengan penjelasan itu karena merasa punya bobot 

untuk dapat duduk dalam pengurusan partai. Tetapi lebih 

banyak lagi yang merasa tidak senang. 

Kunti Kendil berpaling pada Lembu Surah dan berkata 

menyatakan ketidak senangnya. “Si bungkuk bertopeng itu 

belum lagi memperkenalkan siapa dirinya, apalagi mem-

buktikan bahwa dirinya memang pantas untuk mengatur 

peresmian partai baru. Enak saja dia mengajak para 

hadirin untuk duduk dalam partai. Manusia bungkuk tidak 

tahu diri!” 

Lembu Surahpun merasa tidak enak. Sebagai tokoh silat 

walaupun dari golongan hitam—tata cara yang dipakai 

orang diatas panggung itu tidak layak sama sekali. Seolah-

olah para hadirin adalah kambing-kambing yang dikumpul-

kan bersama-sama lalu diberi tugas ini itu. 

Di atas panggung, lelaki berjubah kembali membuka 

mulut. 

“Para sahabat, kalian tidak usah terkejut. Kalian juga


tidak perlu jengkel atau marah. Kami di sini tidak memaksa 

kalian harus duduk dalam partai. Siapa yang suka akan 

disambut dengan rasa hormat, tangan terbuka dan terima 

kasih. Siapa yang tidak mau, tetap akan menjadi sahabat 

kami.” 

“Anak setan!” kembali terdengar Kunti Kendil memaki. 

“Tidak begini caranya mendirikan partai. Paling tidak harus 

melewati ujian baru layak diresmikan…” karena tidak dapat 

menahan kejengkelannya Kunti Kendil lantas berteriak. 

”Orang berjubah! Perkenalakan dulu siapa dirimu! Apa 

kedudukanmu dalam Partai dan siapa yang mensyahkan 

kedudukanmu itu!” 

Para hadirin ramai terdengar teriakan yang blak-blakan 

itu. Banyak yang setuju tapi ada juga menganggap si nenek 

terlalu berani nyerocos seperti itu. 

Si bungkuk di atas panggung mengangkat kepalanya 

memandang ke rah si nenek. Dalam hatinya dia merasa 

tidak senang. Namun sambil mengangkat tangan kanan 

dia menyambuti. 

“Ah, ternyata sahabatku nenek sakti dari pegunungan 

Iyang yang bicara. Terima kasih atas kata-katamu tadi 

Kunti Kendil.” 

“Eh, anak setan ini mengenali diriku!” ujar Kunti Kendil 

seraya memegang lengan suaminya. 

“Memang ucapan seperti itu pantas dikeluarkan. Dan 

aku tidak berkeberatan untuk menjawab memberi 

keterangan…” kata lelaki bungkuk berjubah putih. “Tetapi 

sebelum aku memberi keterangan, biar aku memberitahu 

dulu para hadirin siapa adanya sahabatku itu…” 

“Anak setan! Apa maksud orang itu!” kata Kunti Kendil 

seraya berdiri tapi cepat dicegah Lembu Surah. 

Di atas panggung si jubah putih meneruskan ucapannya. 

“Sahabat si nenek bernama Kunti Kendil merupakan tokoh 

silat terkenal di daerah ini. Sejak puluhan tahun dia 

bertempat tinggal di pegunungan Iyang. Namanya ditakuti 

lawan disegani kawan. Hanya sayang saat ini dia datang 

kemari bukan saja untuk menghadiri upacara peresmian,


tetapi juga untuk menyirap kabar mengenai muridnya, yang 

mayatnya lenyap tak tentu rimba sejak beberapa minggu 

lalu. Bukan begitu Kunti Kendil?” 

Si nenek ternganga. ”Gila! Bagaimana anak setan itu 

tahu apa yang terjadi?!” desis Kunti Kendil. Lembu 

Surahpun tampak heran sementara para hadirin banyak 

yang memandang padanya dengan wajah bertanya-tanya. 

“Jangan-jangan dia yang menculik mayat Mahesa…” 

bisik si nenek pada Lembu Surah. “Aku harus 

menanyainya!” Dan tanpa dapat dicegah oleh Lembu 

Surah, nenek itu sudah meloncat dari tempat duduknya, 

secepat kilat lari ke arah panggung, berhadap-hadapan 

dengan lelaki bungkuk. 

Tiga manusia bertubuh raksasa cepat melompat ke atas 

panggung menghadang Kunti Kendil. Orang bungkuk 

berjubah putih mengangkat tanganny, memberi isyarat 

agar ke tiga orang itu segera meninggalkan panggung. 

“Tidak disangka, tamu terhormat Kunti Kendil bersedia 

datang ke panggung!” kata si bungkuk. “Ini benar-benar 

tanda persahabatan yang luar biasa!” 

“Lekas katakan apa yang kau ketahui tentang muridku 

bernama Mahesa itu!” kata Kunti Kendil membentak. 

Si bungkuk perdengarkan suara tertawa. 

“Kalau aku ingin mendirikan partai, sudah selayaknya 

aku mengetahui apa yang terjadi di sekelilingku…” 

“Sekarang jawab apa yang kau ketahui mengenai 

Mahesa. Di mana jenazahnya sekarang berada?!” 

“Pengetahuanku belum sampai sejauh itu…..” 

“Dusta! Pasti kau ada sangkut pautnya dengan 

lenyapnya mayat pemuda itu!” tukas Kunti Kendil. 

Si bungkuk berjubah kembali tertawa. 

Saat itu seseorang melompat gesit ke atas panggung 

dan menarik tangan Kunti Kendil. Ternyata orang ini adalah 

Lembu Surah. 

“Kunti! Jangan membuat malu! Ikut aku turun lekas!” 

Semula si nenek hendak menepis pegangan suaminya. 

Tapi ketika Lembu Surah menariknya dengan paksa, mau


tak mau Kunti Kendil turun juga dari panggung meskipun 

dengan hati sangat mendongkol. 

Pendekar Muka Tengkorak yang hadir di tempat itu juga 

terkejut mendengar ucapan orang berjubah putih tadi 

tentang Mahesa. Besar dugaannya orang itu tahu lebih 

banyak bahkan mungkin terlibat dengan kematian pemuda 

yang disukainya itu. Meskipun dia kepingin pula mencari 

keterangan namun kakek ini tidak mau bertindak gegabah 

seperti yang dilakukan si nenek. Dia menunggu sampai 

saat yang baik untuk mendatangi orang berjubah itu. 

Di atas panggung, si bungkuk tampak mengangkat 

tangan. 

“Para sahabat, harap maafkan kalau sahabatku Kunti 

Kendil tadi begitu bersemangat. Tadi dia minta agar aku 

menerangkan lebih dulu siapa diriku, apa kedudukanku 

dalam partai dan siapa yang mengesahkan kedudukanku 

itu! Bagus…itu pertanyaan yang bagus. Dan memang saat 

serta semestinya aku memberitahu. Aku dilahirkan tidak 

bernama karena memang tidak ada yang memberi nama. 

Dalam pendirian partai Merapi Perkasa aku menduduki 

jabatan sebagai Ketua. Jadi para sahabat bisa 

memanggilku dengan sebutan itu. Soal siapa yang 

mengesahkan aku sebagai ketua, ini agak lucu juga. 

Soalnya aku yang mendirikan partai, apakah tidak pantas 

kalau aku menyebut diri sebagai Ketua. Lalu sebagai Ketua 

aku punya hak untuk mengangkat para pengurus partai. 

Dan semua jabatan yang bakal kuberitahu adalah hak para 

sahabat yang suka untuk memegangnya. Aku mengundang 

saudara semua ke sini salah satu maksudku adalah untuk 

keperluan itu…” 

“Apa sebenarnya tujuan partai Merapi Perkasa?’ 

seorang yang duduk di sebelah timur bertanya. 

“Mudah saja jawabnya.” Sahut si jubah putih. “Guna 

mempersatukan berbagai aliran dan berbagai tokoh silat di 

daerah ini!” 

“Kalau ada yang tidak mau menerima undanganmu 

duduk dalam partai apa akibatnya?” tanya seseorang lain.


“Tak ada akibatnya. Kita akan tetap bersahabat. Tapi 

ketahuilah. Partai Merapi Perkasa akan menjadi partai 

besar. Kedudukan dalam pengurusan partai merupakan 

kedudukan terhormat!” 

“Keampuhan partai baru ini harus perlu diuji!” tiba-tiba 

seorang tamu yang duduk di sebelah barat berseru. 

Sang ketua melambaikan tangan. “Saudara betul!” kata-

nya. “Saat untuk pengujian itu nanti akan diberkan. Yaitu 

setelah para sahabat mencicipi makanan dan minuman 

yang telah disediakan di suatu meja besar sana… Sekarang 

aku akan teangkan sedikit mengenai nama partai dan 

artinya. Merapi merupakan sebuag gunung besar di daerah 

ini. Tinggi dan megah. Begitu pulalah kebesaran dan 

ketinggian derajat partai. Merapi artinya Merah dan Api. 

Merah artinya berani. Api artinya penuh semangat. Lihat 

kobaran api ini…!” si jubah putih angkat tangan kanannya 

dan bluup! 

Tahu-tahu di samping kanannya berkobar nyala api yang 

besar dan tinggi. Panasnya luar biasa. Si jubah putih 

tertawa mengekeh. 

Para tamu terkejut. Ada yang berkata: “Ini ilmu sihir!” 

“Ilmu hitam!” kata yang lain. 

Sang Ketua angkat kanannya kembali. Kobaran apipun 

padam. Lalu cepat berkata, “Jangan salah pengertian. Apa 

yang para sahabat saksikan tadi bukan ilmu sihir, bukan 

pula ilmu hitam. Api adalah lambang partai. Yang dapat 

mempergunakannya dan mau bersahabat dengannya kan 

merasakan kehangatan yang menggairahkan. Siapa yang 

mencoba membuatnya menjadi lawan, niscaya akan 

terbakar hangus! Nah, untuk mempercepat waktu sebelum 

partai diresmikan, aku mengundang para sahabat yang 

mau bergabung untuk naik ke atas panggung. Undangan 

ini bukna paksaan. Silahkan…” 

Tak ada seorangpun diantara para tamu bergerak. Si 

jubah putih menunggu. 

“Silahkan…!” katanya kembali. 

Dua sosok tubuh berpakaian kuning melompat ke atas


panggung. 

“Ah, terima kasih. Terima kasih. Sahabatku Made Tantre 

yang bergelar Tangan Dewa Dari Klungkung serta sahabat-

ku Nyoman Wiratha rupanya bersedia bergabung dengan 

kami! Terima kasih. Kalian akan mendapatakan ke-

dudukan yang baik dalam partai!” sang Ketua menyambut 

gembira dan menjura dalam-dalam. Made Tantre dan 

Nyoman Wiratha balas menjura. 

“Nah siapa lagi? Siapa menyusul?!” kata sang Ketua 

kemudian. 

Beberapa orang lagi melompat ke atas panggung hingga 

jumlah keseluruhan mencapai delapan belas orang. 

Sang Ketua sangat gembira. Tapi dia masih belum puas. 

“Panggung masih lebar. Masih banyak tempat kosong! 

Para sahabat silahkan naik dan bergabung!” 

Dua orang lagi menyusul naik. Lalu seorang lainnya. 

Hingga kini dua puluh satu orang di atas sana. 

Di bawah panggung kakek buta yang bergelar Gembel 

Cengenga Sakti Mata Buta geleng-gelengkan kepala. 

“Mansia-manusia tolol.” Katanya dalam hati. 

Dair atas panggung sang ketua kembali membuka 

mulut. Dia menyapa Kunti Kendil. “Nenek sakti dari gunung 

Iyang, dan juga kawannya yang berambut kelabu apakah 

tidak ingin bergabung dengan kami?” 

“Siapa sudi!” jawab Kunti Kendil terang-terangan. 

Sanga Ketua berpaling pada Pendekar Muka Tengkorak 

yang duduk enak-enakan sambil merokok. 

“Pendekar Muka Tengkorak, bagaimana dengan kau?” 

“Aku pikir-pikir dulu…” jawab si kakek. 

“Hai, jangan terlalu lama berpikir-pikir. Nanti tidak 

kebagian kedudukan bagus dalam partai!” 

“Kau salah sangka! Aku bukan berpikir-pikir untuk 

masuk dalam partaimu. Tapi berpikir-pikir apakah bukan 

kau orangnya yang punya hutang piutang padaku….!” 

Wajah sang Ketua yang terlindung dibalik cadar tampak 

berubah. Namun cepat dia perdengarkan suara tertawa 

seraya berkata:”Sahabatku Pendekar Muka Tengkorak,


soal hutang piutang itulah soal yang tak pernah kulakukan 

dalam hidupku.tapi jika kau anggap begitu, partai nanti 

yang akan menyelesaikan setelah upacara peresmian!” 

Si muka tengkorak tidak menjawab apa-apa dan 

menyedot rokok kawung dalam-dalam. 

Orang bungkuk berjubah putih di atas panggung 

memandang berkeliling. Dia melihat tamu bersorban itu, 

mengenalinya sebagai ketua pesantren Nusa Barung, 

maka diapun berseru. 

“Ki Sandakan! Naiklah kemari! Mari kita bergabung 

dalam Partai Merapi Perkasa!” 

“Terima kasih. Saat ini aku belum berminat untuk ber-

gabung. Mungkin kemudian hari. Boleh aku bertanya…? 

ujar Ki Sandakan. 

“Tentu saja. Tentu saja. Silahkan. Apa yang hendak kau 

tanykan…?” 

“Pertanyaan tolol. Yaitu bagaimana kau bisa meng-

angkat diri sebagai ketua partai. Padahal pemilihan belum 

pernah diadakan…..!” 

Si bungkuk berjubah putih mendongkol sekali men-

dengar pertanyaan itu. Namun dia menjawab dengan nada 

suara yang sengaja merendah dan dipersabar. 

“Katamu pertanyaanmu pertanyaan tolol. Biarlah aku 

juga menjawab tolol! Sebetulnya aku tidak serakah untuk 

mau-mauan jadi ketua. Tanggung jawabnya tidak kecil. 

Benar difitnah, salah dimaki. Selama ini tak ada satu orang 

pun yang punya minat serta mau merintis pendirian sebuah 

partai. Aku secara diam-diam, dengan susah payah mem-

persiapkannya. Salahkah kalau dari hasil jerih payah itu 

aku mendapat hak untuk menjadi Ketua? Nah Ki 

Sandakan, itu jawabanku. Coba kau renungkan saja…” 

habis berkata begitu sang Ketua kembali memandang ber-

keliling, lalu berseru bertanya: “ Ada lagi diantara para 

sahabat yang hendak mengajukan pertanyaan tolol….?!” 

Air muka Ki Sandakan tampak menjadi merah oleh 

sindiran itu. Jika menurut kehendak hatinya ingin dia me-

ninggalkan tempat tersebut saat itu juga. Namun orang tua


ini tetap tenang sambil permainkan tasbihnya. Kedatangan 

ke situ sebenarnya bukan untuk menyaksikan upacara 

peresmian partai. Tapi guna yang dilarikan dukun jahat 

Embah Bromo Tunggal bebepara waktu lalu. 

Sepasang mata sang Ketua yang masih memandang 

kian kemari dari atas panggung terpaku pada sososk 

seorang tamu yang berpakaian compang-camping, mata 

buta. “Kalau manusia ini dapat kuajak bergabung semua 

pasti beres. Tapi satu orangpun berani mengganggu 

partaiku. Aku harus mendatanginya!” begitu sang Ketua 

membathin. Lalu dengan gerakkan enteng, laksana 

terbang, tubuhnya melesat ke bawah panggung, melewati 

kepala para tetamu. Sesaat kemudian dia sudah tegak di 

depan orang tua bermata buta itu. Sambil menepuk-nepuk 

bahu si buta, sang Ketua berkata. 

“Sungguh tidak disangka, tokoh silat nomor satu ber-

gelar Gembel Cengeng Sakti Mata Buta berkenan pula 

datang kemari. Aku menghaturkan rasa hormat dan terima 

kasih… Tentu sahabat sudah menanam niat untuk 

bergabung dengan kami. Jabatan Wakil Ketua tersedia 

untukmu…..” 

Gembel Cengeng Sakti Mata Buta mendongak ke langit. 

Wajahnya tampak seperti mau menangis. Suaranya per-

lahan saja ketika menjawab. “Mataku buta. Tidak ada 

manfaatnya mengambil aku jadi Wakil Ketua. Apa-apa aku 

tidak becus!” 

“Sahabat, jangan merendah!” kata sang Ketua pula. 

“Siapa yang tidak kenal dengan nama besarmu? Mari kita 

naik ke panggung!” 

“Terima kasih. Biarlah aku duduk di sini saja. Banyak 

angin sejuk bertiup di sini. Lagi pula kalau sampai aku 

menangis di atas panggung sana akan memalukan saja!” 

“Jika begitu aku tidak memaksa.” Kata sang Ketua. 

Dengan rasa kecewa dia membalikkan badan tubuh untuk 

kembali ke atas panggung. Namun aneh, tiba-tiba saja saat 

itu dia tidak dapat menggerakkan kedua kakinya. Se-

pasang kakinya tak mau diangkat atau diseret. Seolah di


paku dan ditancap ke dalam tanah lalu disemen! Manusia 

bungkuk ini berusaha tidak panik. Tidak dapat tidak pasti 

kakek buta lihay itu telah melakukan sesuatu atas dirinya. 

Tapi melakukan apa dan kapan. 

“Kurang ajar! Si buta keparat ini pasti telah menotok 

jalan darah kedua kakiku! Tapi aneh. Aku tidak meluhat dia 

menggerakkan tangan!” 

Sang ketua sama sekali tidak tahu, sewaktu tadi dia 

menepuk-nepuk bahu orang tua buta itu, si buta langsung 

kirimkan tenaga dalamnya yang sangat tinggi melewati 

bahu, terus ke tangan sang Ketua dan terus mengbungkus 

kedua kakinya hingga dia berada keadaan seperti tertotok. 

“Hai! Jangan berdiri juga di sini. Sebagai Ketua kau 

harus lekas kembali ke atas panggung!” tiba-tiba si kakek 

berkata sambil hentakkan kaki kirinya ke tanah. Ajaib! 

Pada saat itu pula kedua kaki sang Ketua mampu bergerak 

kembali menuju panggung. Untung saja tidak satu 

orangpun mengetahui apa yang terjadi hingga dia tidak 

kehilangan muka! 

Karena tidak enak dengan adanya kejadian tadi sang 

Ketua memutuskan untuk mempercepat saja jalannya 

uacara. Maka diapun berkata. “Para sahabat dan semua 

yang hadir. Sebenarnya saat ini aku akan sampai pada 

acara memberitahukan susunan pengurusan partai. 

Semua terdiri dari para sahabat yang telah sudi menyata-

kan bergabung dengan jalan naik ke panggung ini. Namun 

aku juga tahu kalau sahabat sekalian datang dari jauh. Ada 

yang harus memerlukan waktu berhari-hari untuk sampai 

kemari. Karenanya biarlah acara [engumuman pengurus 

itu ditunda dahulu. Kita langsung pada acara jamuan. Para 

sahabat yang telah sudi bergabung, jadi layak disebut 

sebagai tuan rumah, dipersilahkan mengambil tempat di 

meja sebelah ujung sana. Lalu para sahabat yang berada 

di lapangan silahkanduduk di meja sebelah depan sini. 

Silahkan minum dan makan sepuas-puasnya…!” 

Para tamu yang berada di lapangan hanaya sekitar dua 

puluh orang saja yang tampak bergerak dan melangkah


menuju anggung. Sisanya hampir enam puluh orang tetap 

di tempat masing-masing. Entah sungkan entah memang 

tidak suka ikut mencicipi jamuan. Sebaliknya dua puluh 

satu tokoh silat yang sudah menyatakan diri bersedia ber-

gabung langsung saja mencari tempat di meja sebelah 

belakang panggung. 

Pada saat itu tiba-tiba terdengar suara seseorang dari 

lereng gunung yang terletak di samping kiri panggung dan 

lapangan upacara. 

“Waw waw! Apakah kami tamu yang duduk di sini tidak 

diundang makan dan minum?! Waw waw, tuan rumah 

sungguh kerterlaluan!” 

Demikian kerasnya suara itu hingga semua yang hadir 

termasuk sang Ketua dan delapan orang anak buahnya ter-

kejut lalu serentak memandang ke lereng gunungyang 

rapat pepohonan besar bebatuan dan semak lebat. 

***



DUA


IBLIS GILA TANGAN HITAM MUNCUL 

SEMUA BEREBUTAN UNTUK MEMBUNUH


Dua sosok manusia nampak duduk uncang-uncang 

kaki dicabut sebuah pohon besar sambil tertawa-

tawa. Yang pertama, seorang lelaki berusia empat 

puluh tahun lebih. Wajahnya tertutup oleh rambut 

gondrong awut-awutanserta cambang bawuknya merang-

gas. Kedua tangannya hitam pekat sampai sebatas siku. Di 

sebelah dudukseorang perempuan muda berambut 

panjang kusut, berpakaian warna kuning. Meskipun 

keadaan dirinya kelihatan tida terurus namun kecantikan 

asli yang dimiliknya tidaklah pupus. 

Puluhan orang, antara lain, Made Tantre alias Tangan 

Dewa Dari Klungkung, Ki Sandakan Ketua Pesantren Nusa 

Barun, Kunti Kendil serta Lembu Surah terkejut melihat 

kehadiran lelaki di atas pohon itu. Mereka semua sama 

menggangap orang itu adalah musuh besar mereka karena 

perkelahian, sakit hati atau dendam kesumat dimasa 

lampau! 

“Iblis Gila Tangan Hitam!” seorang berseru dengan lidah 

tercekat. 

Dan gemparlah suasana di tempat itu. 

“Bagus! Dicari-cari tidak ketemu! Sekarang muncul 

sendiri anak setan ini!” yang berteriak adalah Kunti Kendil. 

Si nenek masih menambahkan: “Wirapati! Murid laknat 

murid keparat! Hari ini hari terakhir bagiu untuk hidup! Tak 

ada hukuman yang lebih baik dari pada mampus badan 

dan kepala terpisah!” 

Dari atas panggung, Made Tantre yang tadi telah 

mengambil tempat duduk di maja makan serta berdiri. 

Pada dasarnya manusia bergelar Tangan Dewa Dari


Klungkung ini tidak memiliki nyali untuk menghadapi 

Wirapati, orang yang telah membuat dirinya menjadi cacat. 

Namun saat itu dia berada bersama serombongan tokoh-

tokoh silat yang telah bergabung dalam satu partai. Berarti 

dia tidak sendirian. Disamping itu dia tahu betul, dari para 

tokoh yang tidak bergabung juga terdapat banyak orang 

yang memendam permusuhan dengan Iblis Gila Tangan 

Hitam. Maka Made Tantrepun berteriak. 

“Iblis Gila! Setahun lalu kau membuat hutang! Hari ini 

kau bayar berikut bunganya!” 

Ki Sandakan, mungkin satu-satunya orang yang memiliki 

dendam kesumat paling besar terhadap Iblis Gila Tangan 

Hitam. Bagaimana tidak. Seluruh pengurus Pesantren mati 

di tangan pemuda gila itu. Lalu dia pula yang mencuik 

Sundari, anak murid Pesantre yang kabarnya telah 

menemui kematian. Maka pemimpin Pesantren inipun ikut 

berdiri dan berteriak: Wirapati! Nyawamu hanya satu! Aku 

tidak rela membagi kematianmu dengan siapapun! Aku 

bersumpah hari ini untuk mengorek jantungmu, 

membasahi gunung ini dengan darahmu!” 

Diantara kegemparan tu terdengar suara seseorang 

menangis. Ketika diperhatikan, yan sesengukan itu ter-

nyata adalah si kakek buta yang terkenal dengan julukan 

Gembel Cengeng Sakti Mata Buta. Dia menangis sambil 

mendongak ke langit. Sesaat kemudian terdengar dia 

berkata. “Aih… bakalan ramai jadinya. Bakalan ramai jadi-

nya! Kasihan anak gila itu. Seorang diri melawan badai!” 

“Siapa bilang dia seorang diri! Aku temannya ada di 

sini!” tiba-tiba dara berbaju kuning di atas pohon yang 

tentu saja Kemala adanya membuka mulut. Mendengar itu 

Wirapati tertawa dan tak hentinya mengeluarkan suara 

waw waw! 

Di dalam kegemparan itu pula Mahesa dan Sari yang 

tadi meninggalkan lapangan upacara, menyelinap ke 

dalam terowongan di bawah tanah, kini tanpa kesulitan 

kembali menyelinap dan masuk ke tempat upacara, duduk 

lagi diantara para tamu, diuung yang agak terpisah. Tentu


saja Mahesa yang berurusan samap itercengang melihat 

kemunculan Wirapati, kakak seperguruannya. Di samping 

itu hatinya merasa gembira, terlebih ketika melihat Kemala 

meskipun sesaat dia sedikit terharu melihat keadaan gadis 

cantik itu. Dalam hatinya Mahesa bertanya-tanya apakah 

Kemala dan Wirapati telah menjalani hidup sebagai suami 

istri atau bagiaman. Mungkin pula dia akan dapat 

mengetahui apa arti sapu tangan putih yang dilemparkan 

Kemala kepadanya dulu. 

“Kulihat matamu memandang tak berkesip pada si baju 

kuning di atas pohon itu… kau kenal dia?” tiba-tiba Mahesa 

mendengar suara Sari. 

Mahesa menggangguk terus terang. 

“Eh, apa hubunganmu dengan dia…?” Sari kelihatannya 

seperti cemburu. 

“Aku tidak punya hubungan apa-apa. Kami hanyasaling 

kenal. Pernah saling tolong-menolong…..” 

“Kau juga kenal dengan pemuda yang kelihatannya 

seperti gila itu? Aku pernah dengar nama angkernya! Apa 

dia benar gila sungguhan? Sepeti aku dia banyak sekali 

musuh!” 

“Dia memang gila sungguhan,” sahut Mahesa. Lalu 

menambahkan: “Dia kakak seperguruanku……!” 

Tentu saja ucapan itu membuat Sari kerkejut. “Kalau 

begitu…..” katanya. “ika terjadi apa-apa dengan dia, kau 

akan membelanya!” 

Mahesa kini yang jadi terkejut. Dpegangnya tangan Sari 

dan berkata: “Terima kasih Sari…Akupun tak akan mem-

biarkannya dikeroyok orang banyak! Jika terjadi apa-apa di 

sini, kau akan melihat sendiri kelihat sendiri kehebatan. 

Dibanding dia, kepandaian bukan apa-apa!” 

Di atas pohon kembali terdengar suara tertawa dan 

suara waw waw Wirapati. Dia menunjuk pada Kunti Kendil 

dan tertanya: “Nenek jelek, kelihatannya kau sudah lama 

tidak pernah mandi. Waw waw! Siapa sih kau ini yang 

sesumbar menentukan hari ini hari terakhir hidupku. Kau 

ini Gusti Allah atau Apanya? Hik… hik… hik! Waw waw!”


Wajah Kunti Kendil di balik topeng seperti kepiting 

dipanggang. Terlebih lagi ketika dia mendengar dara 

berbaju kuning disebelah Wirapati ikut-ikutan mentertawai-

nya dan berkata: “Hik… hik…! Nenek butut! Apa kau tidak 

mendengar ucapan kawanku tadi? Kenapa tidak lekas cari 

air, pergi mandi dan cebok… Hik…!” 

Sekujur tubuh Kunti Kendil menggeletar. Tanah gunung 

yang dipijaknya melesat dalam saking marahnya nenek ini. 

Disebelahnya, Lembu Surah berdiri sambil mengepalkan 

tinju kirinya. Karena tidak dapat menahan amarahnya lagi, 

Kunti Kendil langsung menghantam dengan tangan kanan-

nya. Selaris sinar merah menderu menyilaukan. 

“Pukulan Api Geledek!” beberapa orang berseru tegang. 

Di atas pohon, cabang yang diduduki Wirapati serta 

Kemala hancur lebur, terpenggang hitam. Dedaunan yang 

terbakar hangus berguguran ke bawah. Tapi Wirapati serta 

Kemala sudah lebih dahulu melompat sedang Wirapati 

tertawa waw waw. 

Ketika Kunti Kendil hendak menggempur kembali, ter-

dengar bentakan. 

“Tahan! Kunti Kendil! Nyata anak itu milikku! Aku paling 

layak membunuhnya!” 

Kunti Kendil hentikan gerakkan dan berpaling dengan 

wajah bengis. Yang bicara dilihatnya ternyata adalah kakek 

bersorban yang bukan lain ialah Ki Sandakan, pimpinan 

Pesantren Nusa Barung. 

“Ki Sandakan! Jangan bicara ngacok!” balas membentak 

Kunti Kendil. “Anak setan gila itu adalah muridku! Aku satu-

satunya manusia dijagat ini yang berhak menghukumnya! 

Aku satu-satunya orang di dunia ini yang berhak atas 

nyawanya!” 

Ki Sandakan sunggingkan senyum dingin dan mengejak. 

“Nenek,” katanya, “saat ini kau hanya mau mencari nama 

untuk menutup kelalaimu dimasa silam! Apa yang kau laku-

kan ketika muridmu itu membunuh,menjagal belasan 

tokoh silat dan puluhan manusia tidak berdosa?! Kalau 

kau merasa dia memang muridmu dan hanya kau yang ber


hak ini itu! Sebelum nya kau sama sekali tidak punya 

tanggung jawab apa-apa sebagai guru! Memalukan bagi 

seorang tokoh sepertimu!” 

Saking marahnya Kunti Kendil sampai menjerit men-

dengar kata-kata Ki Sandakan itu. Sambil menudingkan 

telunjuk kirinya ke pada Ketua Pesantren Nusa Barung, si 

nenek mengancam: “Bicaramu mulus tapi mulutmu kotor! 

Tidak pantas untuk seorang yang menyandang sorban 

sepertimu! Semua menyingkir!” Habis berkata begitu si 

nenek dorongkan kedua tangannya ke samping. Beberapa 

orang yang berada di dekat situ cepat menyingkir sebelum 

tersambar sangin deras yang keluar dari kedua tangan 

Kunti Kendil. Sekali melompat saja si nenek kemudian 

sudah tegak di hadapan Ki Sandakan. Lembu Surah cepat 

mendampinginya. 

“Ki Sandakan,” desis si nenek dengan muka angker dan 

pandangan mata berapi-api. “Jika kau kira kau yang paling 

berhak terhadap anak setan gila itu maka kau yang harus 

mampus lebih dulu di tanganku! 

“Aha! Aku memang sudah lama mendengar nama besar 

Kunti Kendil dari gunung Iyang! Kau dan murid-muridmu 

juga pernah membuat keonaran dipesantrenku tempo hari! 

Hari ini aku akan berterima kasih jika dapat memberi 

pelajaran dua kakinya. Tangan kanannya yang memegang 

tasbih diangkat ke atas melindungi dada. 

Dalam keadaan tegang begitu rupa, dari arah panggung 

menggelegar seruan keras. 

“Tahan! Ditempat ini aku tuan rumah. Aku tidak suka 

terjadi keributan di sini! Aku mengundang kalian bukan 

untuk berbuat keonaran! Jika ada yang mau pamer 

kehebatan silahkan membuat urusan sesudah peresmian 

partai selesai!” 

Yang bicara bukan lain orang berjubah putih, Ketua 

partai yang hendak diresmikan. Ucapannya ini disambut 

oleh gelak tawa dari atas pohon. 

“Ketua Partai! Kau benar! Di sini bukan tempatnya mem-

buat segala macam urusan dan memamerkan kehebatan


waw waw! Usir saja manusia-manusia yang tidak tahu 

peradatan itu! Waw! Nah sekarang apakah aku dan 

kawanku ini tidak diundang untuk ikut makan minum?! 

Di atas phon Wirapati memegang lengan Kemala. 

Sesaat kemudian keduanya seperti sepasang burung besar 

melayang turun, langsung menuju panggung. Ketika 

Wirapati dan Kemala hendak mengabil tempat duduk di 

meja sebelah depan, sang Ketua cepat berkata; “Silahkan 

kalian berdua mengambil tempat di meja sebelah sana!” 

“Waw waw! Kenapa musti di meja sebelah sana? 

Padahal di meja sini masih kosong? Waw waw!” berkata 

Wirapati. 

Kemala ikut bicara. “Meja di sana sudah penuh. Kami 

tidak suka duduk berdesakan!” 

“Seperti kukatakan sebelumnya,” menerangkan Ketua 

partai, “Meja sebelah sana adalah untuk para sahabat 

yang telah menyatakan ingin bergabung dalam partai. 

Sedang yang di sebelah sini untuk para sahabat yang 

belum bersedia ikut bersama kami….!” 

“Waw waw! Aku dan sahabatku ini tidak saling bilang 

kalau kami mau bergabung dengan partaimu! Kami ke sini 

hanya ingin makan dan minum!’ menjawab Wirapati. 

Dalam hati sang Ketua merutuk. Karena tidak tahu apa 

yang hendak dikatakan, sesaat dia jadi termangu. Pada 

detik ini pula Ki Sandakan sudk melesat d\ke atas 

panggung, menerjang ke arah Wirapati dengan hantaman 

tasbih putihnya! 

Melihat hal ini dan takut akan kedahuluan, Kunti Kendil 

segera pula berkelebat ke atas panggung diikuti oleh Lebu 

Surah alias Datuk Iblis. Tangan Dewa Dari Klungkung alias 

Made Tantre tidak dapat menahan hati, segera memimpin 

dua puluh orang yang barusan menyatakan diri ke arah 

Wirapati dan Kemala. Wirapati maupun Kemala nampak 

tenang-tenang saja malah masih tertawa-tawa! 

“Para sahabat! Jangan bertindak keburu nafsu!” sang 

Ketua berteriak dari bawah lalu cepat-cepat naik ke 

panggung. Namaun cukup sulit baginya untuk dapat


menyelinap mendekati kedua orang itu. Terpaksa dia per-

gunakan kekerasan dengan jalan menorong, menyikut dan 

mencegah kian kemari hingga akhirnya dia sampai di dekat 

wirapati dan Kemala. Terbungkuk-bungkuk dan sambil 

berkacak pinggang sang Ketua berkta. “Apapun persoalan 

kalian dengan kedua orang ini harap diselesaikan 

kemudian! Sekarang semua menyingkir. Para sahabat yang 

tidak bergabung kami kembali ke lapangan juga kembali ke 

meja makan sebelah sana!” 

Melihat tak ada satu orangpun yang bergerak maka 

sang Ketua terpeaksa memberi isyarat pada kedelapan 

orang anak buahnya yakin manusia-manusia bertubuh 

raksasa itu! 

Kunti Kendil tertawa mengekeh ketika melihat delapan 

lelaki tinggi besar itu mendatangi. Dia memberi isyarat 

pada Lembu Surah. Maka kedua orang inipun berkelebat 

cepat. Tahu-tahu enam orang lelaki raksasa itu sduah 

tertegun kaku kena ditotok. Dua lainnya mengamuk marah. 

Kunti Kendil menendang yang sebelah kiri sedang Lembu 

Surah memukul yang datang dari sebelah kanan. 

Buk! 

Buk! 

Buk! 

Baik si nenek maupun si kakek berambut kelabu ini 

mengira kedua orang itu bakal trjungkal rubuh dan tak bisa 

bangkit lagi. Tetapi mereka jadi terkejut sewaktu 

menyaksikan bagaimana kedua makhluk raksasa itu hanya 

sempoyongan sebentar lalu mengembor marah dan balsa 

menyerang! 

“O ladalah! Tuan rumah sengaja mencari sengketa!” 

teriak Kunti Kendil marah. Dia memberi isyarat pada 

Lembu Surah. Sepasang suami istri ini berkelebat. Laksana 

kilat dua jari telunjuk mereka melesat menotok ke arah 

mata lelaki-lelaki raksasa itu tanpa keduanya dapat meng-

hindar lagi. Keduanya meraung keras ketika mata masing-

masing kena ditusuk dan memuncratkan darah. Masih 

sambil meraung keduanya lari meninggalkan panggung.


Kesunyian di tempat itu diubah oleh suara tawa Kunti 

Kendil. 

“Siapa lagi yang berani melawan kehendakku?!” katanya 

menantang. 

Ketua partai yang masih belum sempat diresmikan itu 

kini tidak dapat lagi menahan kesabarannya. Dia ber-

kelebat cepat beberapa kali dan dilain kejap enam orang 

lelaki tinggi besar yang tadi tertegun kaku, kini tampak ber-

gerak karena sang Ketua telah memusnahkan totokan di-

tubuh mereka. 

“Bunuh dua tua bangka itu!” perintah sang Ketua. 

Tangan Dewa Klungkung tampak tidak senang dengan 

situasi ini. Begitu pula dengan dua puluh orang lainnya 

yang telah menyatakan ikut bergabung. Sebelum enam 

manusia raksasa itu bergerak Made Tantre segera men-

dekati sang Ketua mewakili kawan-kawannya. Dia cepat 

berbisik. “Ketua jika kejadian ini diteruskan banyak di-

antara para sahabat yang bakal tidak senang. Ini bisa men-

jadi pangkal perpecahan diantara kita. Padahal partai 

belum sempat diresmikan. Kedudukan belum sempat di-

umumkan. Biarkan saja nenek buruk itu atau siapapun 

membunuh pemuda gila itu. Aku sendiri mempunyai 

hutang piutang dengan dia dan tak mungkin akan tinggal 

diam saja…!” 

Mendapat kisikan seperti itu sang ketua menjadi 

bimbang. Akhirnya dia berkata: “Terserah pada kalialah! 

Kau ambil alih pimpinan Made Tantre. Tapi ingat, begitu 

pemuda gila bersama kawannya itu menemui kematian, 

lekas tingglakan panggung dan menyingkir ke lereng 

sebelah selatan!” 

“Kenapa musti menyingkir?” tanya Made Tantre. 

“Tidak perlu bertanya. turuti kata-kataku. Aku Ketuamu!” 

Made Tantre mengangguk. Lalu dia memberi isyarat 

pada dua puluh orang tokoh silat yang berada dalam 

kelompoknya. Sementara itu Kunti Kendil dan Lembu 

Surah sudah mendesak maju lebih dulu. Ki Sandakan 

datang dari sebelah kiri.


Disaat itu pula dua sosok tubuh berpakaian putih yang 

memakai penutup kain merah melompat ke atas 

panggung, langsung tegak di kiri kanan Wirapati dan 

Kemala. 

“Keparat berkerudung! Siapa kalian?!” sentak Kunti 

Kendil marah. 

Maseha salah satu dari dua orang yang berkerudung 

merah itu lebih dulu mengubah suaranya sebelum men-

jawab. “Siapa kami bukan urusanmu!” 

“Bagus! Rupanya kalian berdua ingin ikut-ikutan 

mampus hendak membela pemuda gila dan sesat itu!” 

damprat Kunti Kendil. 

“Apapun dosa dan kesalahannya dimasa lampau tetap 

tidak adil untuk menghukumnya dengan cara mengeroyok 

begini rupa! Kalian tokoh-tokoh persilatan harus men-

junjung tinggi keberanian dan kejujuran! Kau nenek yang 

banyak mulut! Jika memang merasa berkepandaian paling 

tinggi, mengapa tidak berani menghadapi pemuda gila ini 

satu lawan satu?!” tukas Mahesa oula. 

“Siapa bilang aku tidak berani! Hanya kunyuk-kunyuk 

lain ini yang merusak acara!” 

“Kalau begitu yang lain harap menyingkir! Biarkan nenek 

ini berkelahi satu lawan satu dengan Iblis Gila Tangan 

Hitam!” Sari yang ada disamping Kemala berseru. 

“Monyet berkerudung! Apa hak dan pangkatmu 

menyuruh kami menyingkir!” sentak Made Tantre alias 

Tangan Dewa Dari Klungkung. 

“Lalu apa hak dan pangkat kalian mengeroyok secara 

pengecut begini rupa?!” membalas Sari. 

“Waw waw waw!” Wirapati keluarkan suara keras. “Ini 

baru hebat! Tidak disangka aku yang jelek ini punya dua 

orang kawan yang hendak membela! Waw waw!” 

“Kau bukan Cuma punya kawan anak muda! Tapi tiga 

dengan aku!” satu suara lantang terdengar dalam suasana 

yang keruh itu. Terasa angin menyambar disertai semburan 

asap rokok. Tiga orang terpental ke samping. Lembu Surah 

dan Kunti Kendil tergontai-gontai tubuhnya, Made Tantre


hampir jatuh terjengkang ditabrak orang yang melompat 

dari bawah panggung. Ketika orang itu tegak di depan 

Mahesa, semua orang jadi tertegun. Dia bukan lain si 

kakek muka jelangkong yang dalam dunia persilatan 

dikenal dengan nama besar Pendekar Muka Tengkorak. 

Dia tegak dengan muka menyerngai dan sebatang rokok 

kawung terselip di sela bibirnya. 

“Hemm…” bergumam Kunti Kendil. “Tidak disangka 

pendekar yang disegani dan dihormati sepertimu ikut 

membela iblis pembunuh yang dosanya sudah selangit 

tembus!” 

Kakek muka tengkorak tertawa mengekeh. “Aku Cuma 

manusia biasa. Malah bisa dikatakan jembel tak berguna. 

Aku tidak butuh disegani apa lagi dihormati! Bicara soal 

dosa, siapa manusia yang tidak pernah berbuat dosa dan 

kesalahan?! Dendam kesumat boleh saja! Tapi memalukan 

jika lebih dari dua puluh tokoh menghakimi seorang anak 

manusia! Lagi pula kalau pemuda gila ini yang salah 

mengapa temannya si baj ukuning itu ikut-ikutan hendak 

dibunuh?!” 

“Karena dia menjadi bergundal yang hendak membantu 

Wirapati!” menjawab Lembu Surah. “Siapa saja yang coba 

hendak membantu iblis ini akan sama nasibnya. Mampus!” 

Kakek muka tengkorak tertawa gelak-gelak. 

“Hebat an aneh!” katanya. “Tuhan sendiri belum 

menghukum anak manusia bernama Wirapati ini. Mengapa 

kita manusia jelata yang hina dinabertindak lebih berani 

dari Tuhan?!” 

“Pendekar Muka Tengkorak!” ujar Lembu Surah. “Sudah 

selesai pidatomu….?!” 

Si kakek cabut rokok kawungnya, mendongak ke atas 

dan hembuskan asap rokok ke udara. Serta merta banyak 

orang ditempat itu merasakan mata masing-masing men-

jadi perih dan ada pula terbatuk-batuk. 

“Maafkan, aku tidak tahu kalau banyak diantara kalian 

yang tak tahan asap rokok.” katanya. Lalu dia berpaling 

pada Lembu Surah. “Manusia keren berambut kelabu


adalah aneh kau mengenali diriku tapi aku tidak mengenal 

dirimu. Coba terangkan dulu siapa kau adanya. Dari mana 

asal usulmu! Tak pernah tampang sepertimu kulihat dalam 

dunia persilatan sebelumnya!” 

Merahlah wajah Lembu Surah mendengar kata-kata 

kakek muka tengkorak itu. Tentu saja tak mungkin baginya 

menerangkan siapa dirinya. Kehidupannya dimasa lampau 

tidak banyak beda dengan Iblis Gila Tangan Hitam. Di 

tempat itu dia memiliki musuh sebanyak orang yang mem-

benci Wirapati! 

“Siapa dirinya tidak penting!” terdengar Kunti Kendil 

menjawab. 

Mahesa yang sudah mengetahi siapa adanya lelaki 

berambut kelabu itu menimpali. “orang bertanya, mengapa 

tidak dijawab? Mengapa tidak penting?!” 

Sepasang mata Kunti Kendil berapi-api. “Anak setan 

berkerudung!” dampratnya. “Kau akan mampus setelah 

kubunuh Wirapati!” 

Sari mendengus dari balik kerudung. “Dari tapi kau 

hanya mengancam hendakmembunuh! Hendak bikin orang 

mampus! Kau cuma bicara! Sama sekali tidak bertindak!” 

Marahlah Kunti Kendil. “Kaupun agaknya bukan 

manusia baik-baik. Kalau tidak mengapa menutupi wajah 

dengan kerudung?!” 

Sari tertawa. “Mengapa aku bukan manusia bak-baik.” 

sahutnya. “Tapi aku bukan bangsa munafik sepertimu. 

Dalam hidup ini aku bukan pula manusia pengecut! Yang 

berkedok menghukum padahal hanya melampiaskan sakit 

hati belaka!” 

Selagi semua orang menaruh perhatian paa silat lidah 

antara kelompok Kunti Kendil dengan pihak yang hendak 

membela Wirapati, kesempatan ini dipergunakan Ki 

Sandakan untuk meluncur serangan ganas kearah 

Wirapati. Tasbih di tangan kanannya berkelebat. Sekali 

leher itu terbabat pasti remuk berantakan! 

Ketika terjadi keributan di Pesantren Nusa Barung 

beberapa waktu yang lalu sebenarnya Ki Sandakan jauh


dari mampu untuk menghadapi Wirapati satu lawan satu. 

Hanya saja saat itu dia mendapat bantuan dari beberapa 

tokoh silat berkepandaian tinggi, satu diantaranya Lembu 

Surah alias Datuk Iblis Penghisap Darah. Kini walau 

diserang secara mendadak dan sangat mematikan itu, 

bukan hal yang susah bagiWirapati untuk mengelak 

menyelamatkan diri. 

“Waw waw!” seru pemuda gila itu. Tubuhnya berkelebat 

kesamping. Sambil menyingkir dia gerakkan tangan kirinya 

untuk memukul lengan lawan. Ki Sandakan yang sudah 

tahu kehebatan racun di tangan Wirapati tak berani 

bentrok, cepat melompat ke kiri justru dari arah ini Kemala 

datang membabat dengan tendangan menusuk lambung! 

Ketua partai, manusia bungkuk berjubah putih, dalam 

jengkel dan marah berteriak pada enam manusia raksasa. 

“Bunuh nenek keparat dan lelaki berambut kelabu itu!” 

Agaknya perkelahian masal tidak dapat dihindarkan lagi. 

Melihat hal ini Made Tantre diikuti oleh dua puluh orang 

lainnya segera pula menyerbu ke arah Wirapati. 

“Waw waw! Siapa yang inginkan nyawaku akan mampus 

lebih dulu!” seru Wirapati. Seluruh tenaga dalamnya 

dilahirkan pada kedua lengan hingga tangan itu tampak 

berkilat-kilat dan mengeluarkan asap tipis yang panas. 

***


TIGA


PANGGUNG DARAH


Bagi Lembu Surah tidak sulit mengelak tendangan 

yang dilancarkan Kemala. Tapi tua bangka yang 

bertampang masih muda akibat madu putih yang 

amat berkhasiat itu, sesaat telah dibawah hanyut pe-

rasaannya. Seperti pernah ditutur Lembu Surah demikian 

tergila-gila pada Kemala hingga mengejar dan mencari 

gadis itu ke mana-mana. Kenangan ini membuat dia sedikit 

ayal. Masih untung tendangan Kemala yang menyerempet 

pakaiannya. 

Di tengah lapangan, para tamu yang tidak ikut terlibat 

dalam perkelahian gila-gilaan di atas panggung, menyaksi-

kan perkelahian dengan tegang. Hanya si kakek mata buta 

yang bergelar Gembel Cengeng Sakti Mata Buta tampak se-

sunggukan dan tiada hentinya mengusut air mata. Di sudut 

yang lain Malaikat Maut Berkuda Putih tampak duduk 

gelisah. Sesekali dia memandang berkeliling seperti men-

cari-cari seseorang atau sesuatu. 

Di atas panggung, beberapa sosok tubuh tampak ber-

geletakan. Darah mulai mengalir. Suara pekik kesakitan 

dan erangan orang yang meregang nyawa membuat 

suasana tambah mengerikan. 

Kunti Kendil dan Lembu Surah tidak dapat dengan 

mudah mendekati Wirapati karena hampir setiap serangan-

nya disambut oleh orang-orang yang mengelilingi pemuda 

gila itu yakni Kemala, Mahesa, Sari dan Pendekar Muka 

Tengkorak. Ditambah pula enam manusia raksasa yang 

datang menggempur laksana air bah. Enam manusia 

raksasa itu tidak memiliki kepandaian silat berarti, tetapi 

daya kekuatan pukulan atau tendangannya serta daya 

tahan tubuhnya terhadap hantaman sungguh luar biasa. 

Sementara itu Made Tantre yang memiliki dendam 

kesumat terhadap Wirapati, mengamuk dengan keris di


tangan kiri. Sejak tangan kanannya cacat lumpuh akibat 

kena racun tangan Wirapati beberapa waktu yang lalu, dia 

telah melatih diri dengan tekun untuk menggunakan 

tangan kiri. Hasilnya tidak mengecewakan. Tapi untuk 

dapat mengalahkan Wirapati, bukan pekerjaan yang 

mudah baginya walau saat itu dia dibantu oleh lebih dari 

sepuluh orang! 

“Manusia berbaju kuning!” kata Wirapati. “Waw waw! 

Dulu kuampuni nyawamu karena seseorang meminta 

begitu padaku. Kini kau muncul lagi. Waw waw! Manusia 

tak tahu diri sepertimu ini patut jadi umpan cacing tanah! 

“Iblis sesat!” balas Made Tantre, “Mencacilah semaumu! 

Sebentar lagi nyawamu akan terbang ke akhirat!” 

Lalu Made Tantre tusukkan kerisnya ke lambung 

Wirapati. Di saat yang sama empat serangan tangan 

kosong dari dua serangan senjata tajam ikut menggempur 

pemuda gila itu! 

Kemala melompat ke udara, tendangan kepala salah 

seorang penyerang. Tapi pengeroyok yang di samping kiri 

hampir saja berhasil membabat punggungnya. Pakaiannya 

robek besar. Kalau dia tidak lekas jatuhkan diri ke depan 

pasti punggungnya akan tertembus senjata lawan! Melihat 

kekasihnya dilukai marahlah Wirapati. Kedua tangannya 

menghantam ke depan silih berganti. Dua pengeroyok ter-

pekik dan mencelat mental jatuh di bawah panggung tak 

berkutik lagi. Made Tantre kertakkan rahang dan perhebat 

serangannya sememntara dia mendapat bantuan tiga 

orang lain. Di bagian lain dua orang manusia raksasa telah 

menemui kematian di tangan Lembu Surah dan Kunti 

Kendil. Kedua orang ini kini menggempur Pendekar Muka 

Tengkorak dengan hebat hingga kakek ini terdesak. Namun 

ketika Mahesa dan Sari datang membantu, baik Kunti 

Kendil maupun Lembu Surah seperti merasakan tertahan 

tembok karang dan tak mampu lagi berbuat banyak. 

Beberapa kali Kunti Kendil dan Lembu Surah lapaskan 

pukulan sakti tetapi semuanya mengenai sasaran. 

Malah sekali pukulan sakti, tetapi semuanya tidak


mengenai sasaran. Malah sekali pukulan Api Geledek yang 

dilancarkan Kunti Kendil menghantam dua orang tokoh 

silat yang berkelahi disebelah Made Tantre hingga mati 

hangus detik itu juga! 

Berkelahi di atas panggung Mahesa sama sekali tidak 

mengeluarkan ilmu silat yang dipelajarinnya dari Kunti 

Kendil. Selain dia memang sudah bersumpah untuk tidak 

mempergunakan segala apa yang didapatinya dari si 

nenek, dia juga tak ingin gerakan-gerakan silatnya dapat 

dibaca sang guru, yang hanya akan membuka kedoknya 

saja. Maka Mahesa bertahan dan menyerang dengan 

mengeluarkan jurus-jurus silat orang buta yang didapatnya 

dari Gembel Cengeng Sakti Mata Buta. Ilmu silat itu, walau 

hanya terdiri dari tujuh jurus namun merupakan ilmu silat 

langkah. Gerakannya aneh, sulit diduga. Tidak mengheran-

kan banyak lawan yang kena dihajar bahkan Kunti Kendil 

serta Lembuh Surah kini mulai terdesak. 

Setelah beberapa saat memperhatikan jurus-jurus silat 

yang dimainkan Mahesa, Kunti Kendil bertanya-tanya 

dalam hati apa hubungan orang berkerudung itu dengan si 

Gembel Cengeng Sakti Mata Buta. Jelas dia mainkan ilmu 

silat yang hanya dimiliki oleh kakek buta berkepandaian 

tinggi itu. Maka si nenekpun berseru. 

“Orang berkerudung! Siapa kau sebenarnya! Apa 

hubunganmu dengan Gembel Cengeng Sakti Mata Buta!” 

Mahesa tersirat kaget. “Gila! Apakah dia mengenali 

diriku?” pikir Mahesa. Dia ingat dulu sewaktu dijajal oleh 

gurunya disebuah bukit, yakni setelah keonaran di 

Pesantren Barung, dia pernah mengeluarkan jurus-jurus 

silat orang buta itu. Juga dia pernah menceritakan dari 

mana dia mendapatkan kepanaian tersebut. Jika dia 

sampai mengenaliku, celakalah!” Maka Mahesa terpeaksa 

berdusta: “Aku memang murid kakek sakti itu. Kau mau 

apa…?!” 

“keparat! Dimasa muda gurunu itu pernah mem-

perdayaiku! Kini biar muridnya yang menerima balasan!” 

“Nenek licik! Rupanya kehidupan masa mudamu penuh


dengan berbagai pengalaman!” ujar Mahesa yang mem-

buat si nenek tersentak dan melompat mundur. Sepasang 

matanya memandang tak terkesip pada Mahesa, seolah-

olah hendak menembus kerudung kain merah itu. 

“Siapa kau sebenarnya! Buka kerudungmu jika kau 

benar-benar laki-laki!” 

“Sobat, jangan turuti kata-katanya!“ Sari bicara. “Jika 

kau buka kerudungmu, nanti dia suruh kau buka 

pakaianmu! Hik… hik… hik…!” 

“Manusia rendak bermulut cabul” bentak Kunti Kendil. 

“Aku tahu kau sebenarnya perempuan! Biar kurobek mulut-

mu agar kau tetap berkerudung seumur hidup untuk 

menyembunyikan kecacatanmu!” 

“Jika kau berani melakukan itu, kulit mukamu pun akan 

kurobek!” kata Mahesa. Sebenarnya tidak ada maksud 

apa-apa dari ucapan pemuda ini selain hanya untuk 

membela Sari. Namun si nenek sekali ini melengak pucat. 

Dia menganggap kata-kata Mahesa itu seperti kata-kata 

seseorang yang mengetahui rahasia dirinya. Rahasia 

topeng tipis yang menutupi wajahnya! 

“Anak setan ini. Jangan… jangan… Tapi tidak mungkin. 

Bukankah dia sudah mampus?!” si nenek merenung 

sementara. Lembu Surah terus menempur Pendekar Muka 

Tengkorak yang dibantui oleh Kemala. “Anak setan! Siapa 

kau sebenarnya! Lekas jawab atau kau akan mampus 

dengan sejuta penasaran?!” 

Disentak begitu rupa oleh gurunya, bagaimanapun 

tabahnya Mahesa namun sesaat membuat pemuda itu 

menjadi gugup. “Celaka! Terbukalah kedokku!” membatin 

Mahesa. 

Disaat itulah sebuah bayangan melesat ke atas 

panggung menebar bau yang kurang sedap. Di lain kejap 

seorang kakek bermata buta, berpakaian kotor dekil 

compang-camping tegak di depan Kunti Kendil. Kakek ini 

mendongak ke langit lalu berkata; “ Orang berkerudung itu, 

mereka keduanya adalah muridku! Apakah kau ke-

beratan?!”


Kunti Kendil tercekat menghadapi kakek buta ini. Dia 

surut mundur dua langkah. 

“Tentu saja aku tidak keberatan! Yang aku keberatan 

jika dia pergunakan kepandaian untuk menghalangi 

maksudku membasmi manusia-manusia jahat termasuk 

muridku sendiri bernama Wirapati itu!” 

“Ah, itu menyedihkan sekali!” kata Gembel Cengeng. Dia 

kembali mulai sesunggukan dan air mata mulai mengalir 

ke pipinya. “Dunia ini memang penuh kesedihan!” sebuah 

tombak pendek melesat dari samping kiri, siap untuk 

menembus kepala kakek buta ini. Tanpa berpaling Gembel 

Cengeng Sakti Mata Buta gerakkan tangan kirinya me-

nangkap senjata itu. Masih dengan tangan kiri dia remas 

batang tombak hingga melengkung dan patah! 

Lalu si buta meneruskan ucapannya yang tadi terpotong. 

“Kesedihan di masa lalu belum terobat, kini datang 

kesedihan baru semakin menumpuk Kunti Kendil, aku 

tidak ingin melihat kau berada di tempat ini lebih lama! 

Berlalu dari sini! Bawa lelaki yang datang bersamamu itu!” 

“Tidak mungkin!” sahut si nenek keras kepala. “aku 

datang kemari untuk mencari murid murtad itu! Setelah 

bertemu masakan hendak kulepas begitu saja?!” 

Si kakek tersenyum tapi air mata masih terus mem-

basahi wajahnya yang keriput. “Setahuku kau pernah mem-

beritahu pelajaran tentang perasaan dan pikiran pada 

murid-muridmu. Yaitu katamu, jangan sekali-kali perasaan 

dari pada pikiran sehat!” 

“Urusanku dengan muridku tak boleh orang lain ikut 

campur!” ujuar Kunti Kendil. “Aku menaruh syak wasangka. 

Setahuku kau tidak pernah punya murid. Aku tidak percaya 

kedua orang berkerudung itu adalah murid-muridmu! Siapa 

mereka?!” 

“Urusanku dengan murid-muridku juga tak boleh orang 

lain iktu campur!” sahut kakek mata buta meniru ucapan 

Kunti Kendil tadi. “Hari makin tinggi, korban makin banyak 

berjatuhan. Apa kau masih belum mau pergi dari sini?!” 

“Tidak! Sebelum Wirapati mati di tanganku!” jawab Kunti


Kendil terus. 

“Kenapa kau begitu ingin membunuhnya? Hingga kau 

benar-benar menindih pikiran dengan perasaan?” 

“Kejahatannya sudah kelewat batas. Apa salah kalau 

hari ini aku harus menghukumnya?!” 

“Aku tahu…“ kata kakek buta sambil mengusap air 

mata-nya. “Bukan alasan itu membuat kau ingin sekali 

membunuh Wirapati. Ada alasan yang lain. Apa perlu 

kukatakan padamu saat ini…?” 

Paras si nenek sesaat jadi pucat. “Kau membela semua 

orang yang ada di sini karena sakit hatimua terhadapku di 

masa lalu?!” 

“Apa yang sudah lalu tak akan kembali. Tak perlu di-

sakitkan atau disesali…” 

Sementara itu karena Kunti Kendil telibat pembicaraan 

yang tak jelas baginya, Lembu surah yang menghadapi 

Mahesa, Sari serta Pendekar Muka Tengkora dengan 

sendirinya lelaki buntung ini terdesak hebat dan berada 

dalam keadaan berbahaya. 

“Kalau begitu mengapa kau muncul dan sengaja 

menghalangi maksudku menghukum murid sendiri!” 

“Kunti, muridmu itu tidak pernah salah. Nasibnyalah 

yang salah…!” 

“Apa maksudmu…?“ 

“Wirapati menjadi gila larena terserang demam panas. 

Bisakah orang gila dituntut untuk semua apa yang dilaku-

kannya?!” 

Sesaat Kunti Kendil jadi terdiam. 

“Kalau kau tidak segera pargi, kau berdua dengan 

kawanmu itu akan celaka…” memperingatkan Gembel 

Cengeng Sakti Mata Buta. 

“Kau terlalu keras kepala…” si kakek buta usut lagi air 

matanya. “Jika terjadi apa-apa denganmu, maafkan kalau 

aku tidak dapat membantu…” 

“Aku tidak butuh bantuanmu!” sahut Kunti Kendil ketus. 

“Terserah padamulah!” kakek itu lantas berkelebat dan 

duduk kembali ke tempat semula di tengah lapangan. Di


sini dia menangis lebih sedih lagi. 

Di atas panggung Kunti Kendil cepat memasuki 

kalangan perkelahian ketika suaminya Lembu Surah ter-

desak hebat dan sempat digebuk hingga melintir oleh 

Pendekar Muka Tengkorak. 

“Kakek setan! Sudah saatnya kau harus mempus!” 

teriak Kunti Kendil lalu menerjang kakek muka jerangkong 

itu. 

“Nenek sombong! Keras kepala! Kau harus dihajar!” 

yang membentak adalah Sari. Habis membentak dia lalu 

menebar serangan berantai yang membuat Kunti Kendil 

mau tidak mau terpaksa mundur sesaat lalu menggempur 

dengan jurus-jurus terhebet dari ilmu silatnya. 

Ketua partai Merapi Perkasa yang sejak tadi 

menyaksikan jalannya perkelahian di atas panggung tanpa 

bisa berbuat apa, kini merasa sudah saatnya dia harus ber-

tindak Nyoman Wirathe sahabat Made Tantre saat itu di-

lihatnya tergeletak mati di atas panggung. Tubuhnya 

terinjak-injak mereka yang berkelahi. Made Tantre sendiri 

sudah kehilangan kerisnya dan bertahan mati-matian ber-

sama enam orang lainnya terhadap serangan ganas 

Wirapati dan Kemala. 

“Hentikan pekelahian!” teriak sang Ketua. “Semua yang 

sudah memutuskan untuk bergabung dengan partai lekas 

menyingkir ke selatan panggung!” 

Kalau tadi Made Tantre tidak mau menuruti perintah 

yang sama maka kali ini adalah setelah terdesak hebat, dia 

memberi isyarat pada teman-temannya lalu melompat 

turun dari atas panggun. Sang Ketua sendiri kemudian 

menyusul. 

“Sekarang saatnya!” kata lelaki bungkuk berjubah putih 

yang menutupi wajahnya dengan kain hitam itu. Lalu 

hantamkan tangan kanannya ke depan. Satu gelombang 

api menderu ke tengah panggung. Oran-orang yang masih 

berada di atas panggung terpaksa menyingkir. Kecuali 

Lembu Surah. Dia menjangkau kendi berisi tuak yang 

terletak si atas meja, lalu semburkan minuman itu ke arah


api. Alam waktu sekejap saja kobaran api menjadi padam. 

“Keparat!” maki Ketua partai. Dia lari dan menyusup ke 

bawah panggung. Setelah mencari sesat akhirnya 

ditemukannya tali besar yang menembus ke dalam tanah 

di bawah panggung. Tali itu segera dibakarnya. Begitu tali 

menyala dia cepat menyingkir lebih jauh ke lereng sebelah 

selatan bersama para pendukungnya, termasuk anak-anak 

buahnya yang bertubuh raksasa yang saat itu hanya tinggal 

tiga orang.diam-diam dia menghitung. Sampai hitungan ke 

lima belas api yang diharapakannya tidak terjadi. “Keparat! 

Pasti ada yang tidak beres!” sang Ketua memanggil salah 

seorang dari tiga manusia raksasa. Lalu berbisik: “Lekas 

kau periksa ke dalam terowongan! Seharusnya lereng 

gunung di sebelah lapangan itu sudha meledak! Pergi 

lekas!” 

Si tinggi besarpun bergerak lakukan perintah. Namun 

baru dua langkah dia berjalan menuju mulut terowongan 

dari lamping gunung sebelah kiri terdengar suara berbunyi 

melengking keras, menusuk liang telinga. Bunyi seruling! 

Disaat yang sama sebatang patahan cabang pohon 

melesek dan menghujam di punggun manusia raksasa 

yang tadi jalankan perintah sang Ketua. Patahan cabang 

pohon itu menembus punggung, terus ke jantung. Orang ini 

keluarkan suara meraung dahsyat lalu terguling roboh 

tanpa nyawa! 

Ketegangan yang tadi menggantung, kini kembali 

berubah menjadi kegemparan! Semua mata berpaling ke 

arah lamping gunung. Ada dua orang tegak di atas batu 

besar di sebelah sana. Dan ada dua orang yang terkejut 

ketika mengenali siapa adanya lelaki bertopi yang tegak di 

sebelah depan. Orang ini ialah Mahesa dan sang Ketua 

partai. 

***



EMPAT


RAHASIA TERBUKA


Yang tegak di atas batu besar di lamping gunung itu 

adalah seorang lelaki dan seorang perempuan muda. 

Yang lelaki bertelanjang dada, mengenakan celana 

panjang hitam butut dan banyak robeknya. Dia memakai 

topi hitam tinggi yang pada beberapa bagian sudah bolong-

bolong. Di lehernya tergantung sehelai kalung burung 

berwarna kuning. Yang perempuan mengenakan pakaian 

penuh tambalan. Rambutnya hitam panjang tergerai lepas. 

Kulitnya kuning. Meskipun keadaannya kotor namun 

keayuan parasnya jelas terlihat. 

Bak dariraut wajah maupun deri gerak-gerik kedua 

orang ini jelas mereka kelihatan kurang waras. 

“Ayah…” mulut Mahesa melompat suara mendesis 

begitu dia melihat orang lelaki di atas batu. 

“Hai, kudengar kau mengatakan sesuatu!” terdengar 

Sari menegur. Tapi Mahesa tidak mengacuhkan. Sepasang 

matanya memandang tak terkesip pada lelaki itu yang 

bukan lain memang adalah Randu Ampel, ayahnya sendiri. 

Ayah yang lenyap selama belasan tahun dan muncul dalam 

keadaan tidak waras serta menyedihkan. Namun memiliki 

ilmu silat dan kesaktian tinggi luar biasa. Mahesa tidak 

mengenal siapa perempuan muda yang berdiri di samping 

ayahnya. Istrinya atau kekasihya atau apanya. 

Hanya dua orang yang tahu jelas siapa adanya 

perempuan muda itu. Yang kedua Malaikat Maut Berkuda 

Putih Suwo Pernomo. Orang tua ini tampak lega. Sejak 

muncul di tempat itu dia merasa gelisah. Seperti ditutur-

kan, sejak pertemuan dengan perempuan itu yakni Pudji—

muridnya sendiri—Malaikat Maut Berkuda Putih terus 

menerus menguntit perejalanan Pudji bersama Randu 

Ampel. Di kaki gunung Merapi mendadak dia kehilangan


kedua orang itu. Setelah mencari kian kemari tidak 

bertemu, Malaikat Maut Berkuda Putih memutuskan 

melanjutkan perjalanan ke atas gunung. Harapannya 

bahwa kedua orang itu juga akan datang ke sana ternyata 

tidak meleset. Randu dan Pudji kini muncul. Yang mem-

buat si orang tua heran dan gelisah ialah mengapa kawan 

seperjalanan muridnya itu begitu berani bertindak gegabah 

langsung turun tangan membunuh manusia tinggi besar 

dan anak buah Ketua Partai Merapi Perkasa. Ini bukan saja 

akan membuat dia terlibat dalam urusan berdarah di 

tempat itu, tapi juga sekaligus akan menambah keruh 

suasana! Dan yang membutanya tambah kuatir ialah 

Pudji—muridnya ikut terlibat pula. Kalau sejak tadi dia diam 

saja tidak ingin mencampuri urusan di atas panggung, kini 

jika terjadi apa-apa dengan muridnya mau tidak mau dia 

terpeksa bahakan harus turun tangan. Melihat lelaki 

sahabat Pudji telah bertindak membunuh anak buah partai 

jelas dia tidak berada dipihak partai. 

“Bakalan ruwet tampaknya.” Membatin Malaikat Maut 

Berkuda Putih. 

Orang lain sangat terkejut dengan kemunculan randu 

Ampel adalah sang Ketua partai sendiri. 

“Ah… keparat itu masih hidup rupanya. Kuharap saja dia 

tidak mengenaliku. Tak mungkin dia mengenaliku! Bagai-

mana kalau kuajak saja dia bergabung….?” 

Setelah berpikir ampai di situ maka sang ketuapun ber-

seru sambil angkat tangan kanannya. 

“Orang gagah di atas batu! Setelah datang dari jauh 

mengapa tidak segera naik panggung sini? Bawa kawanmu 

yang cantik itu. Bergabung dengan kami dalam Partai 

Merapi pada hari baik bulan baik ini!” 

Lelaki di atas batu tampak menyeringai. Dia ketuk-

ketukkan suling bambunya ke telapak tangan kiri lalu ber-

paling pada perempuan muda di sebelahnya. 

“Sahabat apa pendapatmu mengenai undangan orang 

bungkuk itu?” 

Pudji cepat menjawab, “Kami datang kemari bukan


untuk bergabung atau segala urusan tolol seperti yang tadi 

kalian lakukan! Kami datang kemari mau mencari seorang 

manusia terkutuk bernama Lembu Surah bergelar Datuk 

Iblis Penghisap Darah! Apakah dia ada di sini?! Jika ada 

lekas tunjukkan diri! Dia harus tahu umurnya hanya tinggal 

beberapa saat lagi!” 

Semua orang tersentak kaget. Terutama sekali Kunti 

Kendil. Di sebelahnya, Lembu Surah tegak dengan tubuh 

bergetar. 

“Anak itu masih hidup. Ah… Mengapa dulu aku sampai 

melakukan perbuatan itu. Masih untung dia tidak 

mengenali wajahku…” baru saja Lembu Surah membatin 

begitu dan sekilas melirik ke arah Malaikat Maut Berkuda 

Putih, didengarnya si nenek berbisik. “Ada hubungan apa 

kau dengan perempuan sinting itu?! Mengapa dia mencari 

kau?!” 

Meski merasa tidak enak tapi Lembu Surah menjawab 

juga; “Kami punya silang sengketa dimasa silam. Tak dapat 

kukatakan lebih jauh saat ini!” 

“Sekarang apa yang hendak kau lakukan?!“ Tanya Kunti 

Kendil. 

Lembu Surah jadi penasaran seperti itu. Dia menjawab. 

“Kumau aku berteriak mengatakan kalau aku Lembu 

Surah? Membuka kedokku di tempat ini….?” 

Si nenek jadi terdiam. Sementara itu. Ketua partai me-

mandang berkeliling lalu berpaling pada perempuan di atas 

batu dan berseru: “Lihat sendiri tak ada yang kau cari di 

tempat ini!” 

Mendengar itu Randu Ampel berpaling pada Pudji. 

“Sahabat bagaimana sekarang?“ Tanyanya. 

Pudji tampak tidak senang. Dia memandang tajam 

berkeliling. Sesaat pandangannya tertuju tak terkesip pada 

gurunya yaitu Malaikat Maut Berkuda Putih. “Mungkin 

bangsat itu tak ada di sini. Kau mulai saja dengan 

urusanmu Randu!” 

MakaRandu Ampel berseru. “Jika tak ada Lembu Surah 

atau Datuk Iblis di sini maka aku akan mencari seorang


lain. Apakah ada dukun iblis bernama Embah Bromo 

Tunggal diantara para tetamu!” 

Suara Randu Ampel keras sekali, menggema beberapa 

saat lamanya di lereng gunung itu. Tak ada jawaban. 

Hampir tak ada yang bergerak. 

Ketua partai balas berteriak: “Lihat orang-orang yang 

kalian cari tidak ada di sini. Kalau undanganku untuk ber-

gabung tidak dapat kalian penuhi, apakah juga menampik 

untuk ikut makan minum bersama kami?!” 

“Makan dan minum?! Hai kami memang haus dan 

lapar!” sahut Randu Ampel. “Di meja sebelah mana kami 

boleh duduk?!” 

Ketua menunjuk ke meja besar di sebelah belakang 

panggung. “Silahkan mengambil tempat duduk di sana!” 

“Kami tak ingin duduk jauh di belakang sana… Kami 

mau duduk di sebelah depan saja!” kata Randu Ampel. 

Lalu dia pegang lengan Pudji. Sesaat kemudian keduanya 

melayang terjun ke bawah. Tubuh mereka berputar ber-

gulung-gulung, aneh luar biasa. Tetapi begitu sampai di 

panggung sepasang keki mereka dengan enteng menjejak 

panggung lebih dahulu. 

“Manusia-manusia aneh berpandaian tinggi luar biasa!” 

kata Ki Sandakan di antara decak orang yang menyaksikan 

kejadian itu dengan penuh kagum. Malaikat Maut Berkuda 

Putih sendiri tampak terheran-heran. Jika tidak mendapat 

tambahan ilmu secara mendesak, tidak mungkin murid 

perempuannya itu sanggup melompat dan jungkil balik ber-

putar seperti itu. 

Lembu Surah menggamit lengan Kunti Kendil lalu ber-

bisik: “Aku tidak suka melihat suasana ini. Sebaiknya kita 

pergi saja dari sini Kunti!” 

“Eh, jangan ngacok Lembu. Apa yang ingin kuketahui 

belum kudapat. Mana mungkin kita pergi begitu saja!” 

Mendengar jawaban istrinya itu Lembu Surah jadi 

terdiam meskipun hatinya jengkel sekali. Yang 

dikawatirkannya ialah jika sekian banyak musuh-musuhnya 

yana ada di situ sempat mengenali siapa dirinya maka


bukan saja dia tapi Kunti Kendil pun bisa celaka! 

Sementara itu Randu Ampel dan Pudji melangkah 

menuju meja panjang sebelah depan di mana terdapat 

berbagai macam makanan yang lezat-lezat serta puluhan 

kendi berisi tuak serta minuman lainnya. 

“Orang gagah, kau dan kawanmu harap suka duduk di 

meja sebelah sana…” Ketua Partai Merapi Perkasa berkata 

sambil mendatangi. Tapi baik Randu Ampel maupun Pudji 

tidak perdulikan. Keduanya melangkah mengelilingi meja 

panjang itu. Kemudian dengan seenaknya Randu Ampel 

mencicipi beberapa jenis makanan, mengeragot paha 

kambing dengan lahap. Terakhir sekali meneguk dua kendi 

tuak sementara Pudji hanya tegak di sebelahnya mem-

perhatikan. 

Ketua partai tampak gelisah. “Celaka… celaka. Sebentar 

lagi mampuslah orang gila ini. Terbuka rahasiaku!” 

Selagi sang Ketua menunggu dengan hati cemas. Randu 

Ampel usap-usap perutnya yang gembul lalu meneguk 

habis lagi sekendi tuak. “Sedap… sedap sekali…” katanya 

seraya usap-usap kembali perutnya. Tiba-tiba dengan satu 

gerakan cepat luar biasa orang ini menangkap leher salah 

satu dari dua orang manusia raksasa yang masih hidup 

dan menariknya ke meja makan. Dia membetot sepotong 

paha kambing panggang lalu menyodorkannya pada orang 

itu. 

“Makan!” bentak Randu Ampel. 

Lalu kendi berisi tuak di tangan kiri menyusul 

disodorkan. 

“Minum!” hardiknya. 

Manusia raksasa itu tampak marah dan ulurkan tangan 

kanannya untuk mencekik Randu Ampel. Tetapi lelaki gila 

ini lebih cepat. Paha kambing itu dimasukkannya secara 

paksa ke dalam mulut si raksasa hingga megap-megap dan 

tak mau menelan sebagian minyak daging. Sesaat 

kemudian Randu Ampel cabut paha kambing, sebagai 

gantinya dia guyurkan tuak dalam kendi ke mulut si 

raksasa. Manusia tinggi besar ini berusaha berontak ber


usaha memukul dan menendang, namun aneh dia merasa-

kan sekujur tubuhnya lemas. Cekikan pada lehernya mem-

buat dia terpaksa meneguk tuak yang diguyurkan. Randu 

Ampel kemudian hempaskan orang itu ke lantai panggung, 

lalu habiskan sisa tuak dalam kendi. 

Si tinggi besar tampak berusaha bangun. Aneh dari 

mulutnya terdengar suara mengerang. Mukanya yang 

hitam tampak lebam merah kebiruan. Tiba-tiba dia 

membuka mulutnya lebar-lebar. 

“Huah!” 

Darah kental berbuku-buku menghanbur dari mulutnya. 

Detik itu pula tubuhnya roboh di lantai dan diam tak ber-

kutik lagi. 

“Dia mampus!” seru Randu Ampel seraya memandang 

berkeliling dengan sepasang mata merah membeliak. 

“Mampus karena racun jahat yang ditaruh dalam makanan 

an minuman itu!” 

Maka gemparlah semua orang yang ada di tempat itu. Di 

samping gempar puluhan tokoh silat juga menjadi marah. 

Terutama mereka yang tidak mau bergabung dan diundang 

untuk makan minum di meja itu! 

“Kalau begitu sang Ketua hendak meracun kita!” se-

orang tokoh berteriak marah. 

Gembel Cengeng Sakti Mata Buta terdengar menangis. 

“Bangsat penipu!” seorang tokoh lainnya mendamprat 

lalu melompat ke panggung. Yang lain-lain ikut naik ke atas 

panggung hingga panggung besar itu penuh ssak dan sang 

Ketua terkurung di tengah-tengah. 

“Dusta!” teriak lelaki bungkuk berjubah putih. “Jika 

daging dan tuak itu beracun, mengapa dia sendiri tidak 

mati?!” 

Randu Ampel menyeringai. “Karena aku kebal terhadap 

segala macam racun! Sang Ketua! Sekarang kau harus 

menyantap hidangan dan minuman yang ada di meja ini!” 

“Manusia gia! Kedatanganmu hanya mengacau saja! 

Teriak sang Ketua marah. 

Randu Ampel tertawa aneh. Dia cabut suling yang tadi


diselipkan di pinggang lalu menunding ke arah sang Ketua. 

“Aku ke mari bukan untuk mengacau. Tapi hendak meng-

ambil nyawa anjingmu!” 

“Manusia sinting gila! Kalau kau dan kawan 

perempuanmu itu tidak lekas angkat kaki dari sini kalian 

berdua akan mampus dengan tubuh hancur lumat!” 

Randu ampel kembali tertawa. “Sahabat.” Katanya pada 

Pudji. ‘Lekas kau katakan pada orang banyak di sini apa 

yang kau ketahui!” 

“Para tamu semua! Dengarkan baik-baik keteranganku 

ini!” 

Ucapan Pudji itu mendadak dipotong oleh Ketua partai 

yang merasa tidak enak. “Jangan dengarkan keterangan 

orang gila yang bisa menyesatkan!” 

“Aku dan sahabatku memang gila!” tukas Randu Ampel. 

Pandangan matanya menyorot ganas. “Tapi apa yang bakal 

diterangkan sahabatku bukan sesuatu yang menyesat. 

Lekas ceritakan!” 

“Pertama!” ujar Pudji pula. “Kalian semua sudah me-

nyaksikan bagaimana makanan dan minuman yang ter-

sedia di meja sana mengandung racun. Karena manusia 

berjubah itu memang berniat jahat. Yaitu hendak mem-

bunuh para tokoh yang tidak mau bergabung dalam partai-

nya…!” 

“Dusta besar! Kurobek mulutmu!” teriak sang Ketua 

marah. Tubuhnya berkelebat. Tangan kanannya melesat ke 

depan, ke arah kepala Pudji. Aneh, tangan itu seperti 

berubah jadi panjang, hampir dua kali panjang aslinya 

hingga Pudji tak punya kesempatan untuk mengelak 

sambaran lima jari berkuku panjang hitam yang 

mengandung racun jahat! 

Para tokoh silat yang tidak senang dengan pendirian 

partai serta sikap sang Ketua, bahkan mereka yang telah 

menyatakan diri bersedia bergabung sama keluarkan 

seruan tertahan. Mereka semua tidak atau belum 

mengetahui sampai di mana kehebatan manusia bungkuk 

berjubah putih yang telah mengangkat diri sebagai Ketua


partai itu. Namun kini menyaksikan gerakan kilat yang 

ganas mematikan itu, semua sama menyadari bahwa 

manusia tersebut memang memiliki kepandaian yang tidak 

sembarangan! 

Gembel Cengeng Sakti Mata Buta terdengar menangis 

keras. Malaikat Maut Berkuda Putih yang ada di samping 

kiri panggung tanpa tunggu lebih lama segera menerjang 

sambil lepaskan satu pukulan sakti yang mengeluarkan 

sinar putih. Melihat sinar ini orang banyak yang 

berkerubung segera menyingkir. 

Diserang begitu rupa, dengan sikap acuh tak acuh sang 

Ketua angkat tangan kirinya dan mendorong telapak 

tangan ke arah pukulah Malaikat Maut. Dari telapak 

tangannya menyembur sinar merah yang kemudian ber-

ubah menjadi gulungan api dan menyambar ke arah muka 

serta pakaian Malaikat Maut. Hal ini membuat semakin 

banyak orang yang menjauhi tempat itu bahkan ada yang 

melompat urun dari atas panggung. Tinggal Malaikat Maut 

Berkuda Putih tegak sendirian pada bagian panggung di 

mana sambaran api datang menderu! 

Hanya ada satu jalan bagi guru Pudji itu untuk selamat-

kan diri yakni melompat ke samping atau ke belakang. Dia 

memilih melompat ke samping kanan seraya kembali me-

lepaskan pukulan saktidengan mengerahkan hampir 

seluruh tenaga dalamnya! 

“Bagus Malaikat Maut! Kau membela perempuan muda 

itu! Pasti kau ada hubungan apa-apa dengan dia!” kata 

Ketua partai. Lalu menambahkan. “Aku tidak sungkan-

sungkan membunuhmu lebih dulu!” sang Ketua goyangkan 

tangan kirinya. Semburan api yang tadi seperti sebuah 

jaring besar, langsung membuntal Malaikat Maut Berkuda 

Putih. Orang tua ini menjerit tinggi ketika pakaiannya dan 

sebagian janggutnya terbakar hangus! 

“Ilmu sihir busuk!” 

Satu suara membentak dari samping. Bersamaan 

dengan itu sebuah benda kecil yang ujungnya berapi me-

lesat ke arah cadar yang menutupi wajah Ketua partai. Lalu


menyusul hembusan asap kelabu keras dan panas. 

Sang Ketua merasakan tubuhnya tergontai-gontai. Ter-

paksa dia turunkan tangan kirinya. Ini membuat Malaikat 

Maut Berkuda Putih selamat dari panggangan api. Sambil 

melempar diri ke samping untuk menghindar serangan 

benda aneh tadi yang ternyata adalah sebatang rokok 

kawung menyala, Ketua partai tetap meneruskan gerakan 

tangan kanannya mencengkeram wajah Pudji. Seperti juga 

Malaikat Maut Berkuda Putih tadi, perempuan muda inipun 

tidak sempat mengelak selamatkan dirinya. 

Saat itulah terdengar satu jeritan marah. Menyusul 

suara menderu seperti suara seruling ditiup dengan tenaga 

raksasa. Sang Ketua merasakan tangan kanannya di-

cengkeram orang dipuntir ke belakang tiap untuk dibikin 

patah! 

“Keparat! Kalian semua minta mampus!” terdengar 

kutuk Ketua. Dia membuat gerakan aneh. Cengkeraman 

pada tangannya terlepas lalu dia membalik dan memukul. 

Bukk! 

Randu Ampel merasakan tubuhnya seperti dihantam 

batu besar ketika terkena pukulan itu. Tapi dia tetap tegak 

tanpa bergeming, malah menyeringai, membuat sang 

Ketua kaget bukan main hingga tak jadi melancarkan 

serangan terhadap Pendekar Muka Tengkorak yang tadi 

menghantamnya dengan serangan rokok kawung dan 

hembusan asap! 

Selagi sang Ketua terkesiap menyaksikan lawan yang di-

pukulnya tidak roboh apalagi mati, Randu Ampel berkata 

pada Pudji yang baru saja diselamatkannya. 

“Sahabat, kau sudah membuka rahasia racun dalam 

makanan itu! Mengapa kini tidak membuka rahasia siapa 

manusia bungkuk berjubah putih ini sebenarnya?!” 

“Ya… ya…! Memang sudah tiba saatnya untuk membuka 

kedok manusia iblis ini!” ujar Pudji. “Tapi dengan dulu! 

Kalian mungkin tidak tahu! Selain hendak meracuni para 

tokoh di sini, dia juga telah menanam bahan peledak di 

bawah tanah sana! Dia hendak meledakkan tanah lapang


itu guna membunuh semua orang yang tidak suka ber-

gabung dengannya. Jika tidak percaya silahkan periksa 

bagian bawah panggung ini…” 

“Gila!” teriak seseorang. 

“Benar-benar ganas!” teriak yang lain. 

Serentak puluhan orang mengurung dan siap menghajar 

sang Ketua tapi Pudji menghardik keras! 

“Tidak satu orangpun berhak turun tangan terhadapnya 

kecuali sahabatku yang memakai topi butut ini!” yang 

dimaksudkannya adalah Randu Ampel. 

Seseorang berseru: “Tadi kau mengatakan hendak 

membuka keok manusia ini! Katakan siapa dia sebenar-

nya!” 

“Siapa aku tidak penting!” berteriak sang Ketua. 

Suaranya keras sekali. “Yang penting adalah jubahku ini!” 

tanpa disadari ucapannya itu membuat semua orang 

tertarik untuk memperhatikan jubah putihnya yang saat itu 

tampak dibukanya. Begitu terbuka jubah itu dilemparkan 

ke udara. Luar biasa! Jubah putih itu tiba-tiba berubah 

menjadi seekor burung rajawali besar. Binatang ini 

mengepakkan sayapnya yang lebar. Kepakan sayap ini 

mendatangkan angin kencang luar biasa hingga banyak 

orang di atas panggung roboh atau terpelanting. Tiba-tiba 

burung jejadian ini menukik ke bawah. Mematuk dan men-

cengkeramkan kedua kakinya. Terdengar jeritan susul 

menyusul. Lima orang tokoh silat yang tak sempat 

menyingkir menemui ajal dengan tubuh atau kepala 

hancur!” 

“Setan alas!” maki Pendekar Muka Tengkorak. “Jelas, 

pasti si keparat itu! Siapa lagi manusia yang memiliki ilmu 

sihir terkutuk ini kalau bukan dia!” 

Habis berkata begitu kakek muka tengkorak ini me-

mukul ke atas dengan kerahkan hampir dua pertiga tenaga 

dalamnya. 

Dess! 

Burung rajawali jejadian itu sesaat seperti hendak meng-

gelepar tapi tiba-tiba membalik dan menyerbu ke arah si


kakek. Melihat ini hampir saja Mahesa tidak sadar dan 

hendak lepaskan pukulan Api Geledek ke arah burung 

raksasa itu. Namun saat itu dilihatnya Randu Ampel me-

lompat ke udara. Dilain kejap dia sudah menggayuti burung 

raksasa lalu menggeragot leher binatang itu dengan gigi-

giginya ke perut burung. 

Menyusul terjadi keanehan yang tidak terduga. Sosok 

tubuh burung yang dicekal dan digigit Randu Ampel men-

dadak lenyap hingga Randu Ampel terjatuh keraske 

panggung tapi cepat berdiri. 

Di saat itu pula semua orang baru menyadari bahwa 

sang Ketua yang tadi membuka jubahnya tak ada lagi di 

tempat itu! 

“Kita tertipu!“ Teriak Ki Sandakan. 

“Benar! Jubah dan burung itu hanya untuk mengalihkan 

perhatian kita!” Sari ikut berteriak. 

“Waw waw! Semua tolol! Semua tolol!” Wirapati alias 

Iblis Gila Tangan Hitam ikut-ikutan berteriak. 

Pada saat itulah Mahesa merasakan ada seseorang 

yang menarik lengannya dan satu suara halus mengiang di 

teinganya. 

“Anak muda! Lekas ikut aku!” 

MAhesa coba sentakkan pegangan orang. Astaga dia tak 

berdaya. Malah tubuhnya terseret hingga mau tak mau 

harus berlari mengikutu orang yang menariknya. Ketika dia 

berpaling ke samping dia jadi tambah kaget bercampur 

heran. Yang menariknya ternyata adalah Gembela Cengeng 

Sakti Mata Buta. Pemuda ini berpaling ke arah panggng 

dan lambaikan tangan pada Sari. Perempuan ini cepat 

melompat turun dan lari kejurusan yang ditempuh Mahesa 

serta kakek buta itu. Pendekar Muka Tengkorak Suko Inggil 

sesaat memandang kearah lenyapnya ke tiga orang ter-

sebut, geleng-geleng kepala lalu tiba-tiba memaki. 

“Keparat setan kurap! Pasti dia!” lalu tanpa tunggu lebih 

lama diapun berkelebat mengejar!



LIMA


GURU DAN MURID AKHIRNYA SALING TEMPUR


Di atas panggung upacara yang tadi hendak 

diledakkan kini tinggallah belasan tokoh silat. 

Diantara mereka terdapat beberapa tokoh utama 

yang telah menggetarkan dunia persilatan, baik karena 

memang oleh kehebatan ilmunya, maupun oleh 

pembunuhan-pembunuhan yang pernah dilakukan. Secara 

tidak langsung para tokoh itu terpisah dalam kelompok-

kelompok yang saling mendendam dan bermusuhan. 

Kelompok pertama adalah Kutni Kendil dan Lembu 

Surah yang ingin membunuh Wirapati alias Iblis Gila 

Tangan Hitam yang ada disitu bersama Kemala. Kelompok 

lain Randy Ampel bersama Pudji yang kini tegak dalam 

bingung karena musuh besar yang mereka cari yakni 

Embah Bromo Tunggal serta Datuk Iblis Penghisap Darah 

alias Lembu Surah berada ditempat itu dalam bentuk 

wajah yang asli. 

Lalu terdapat pula Ki Sandakan, Ketua pesantren Nusa 

Barung. Orang tua berjubah an bersorban putih ini bukan 

saja mendendam setengah mati terhadap Wirapati, tetapi 

juga sangat benci kepada Kunti Kendil. 

Berikut adalah Malaikat Maut Berkuda Putih yang tak 

ingin melihat muridnya yakni Pudji mengalami celaka di 

tempat itu. Dia merasa heran tidak menjumpai Lembu 

Surah. Padahal musuh besar pemerkosa muridnya itu 

justru ada di tempat tersebut! Karena otang tua berjanggut 

putih yang sebagian janggutnya terbakar oleh api buatan 

Ketua partai yang melarikan diri, menumpahkan dendam 

kesumatnya pada Kunti Kendil. Dia sudah memutuskan, 

jika terjadi perkelahian kembali maka dia akan bergabung


dengan kelompok yang menjadi lawan nenek itu. 

“Bagus! Ketua partai yang tak lebih dari kecoak berhati 

jahat tapi pengecut itu sudah kabur melarikan diri! 

Sekarang tak ada yang menghalangiku lagi untuk 

membunuh Wirapati!” 

Yang buka suara adalah Kunti Kendil. 

“Tunggu dulu.” Ki Sandakan cepat maju ke muka. “ 

Mana bisa begitu. Sekali aku bilang nyawanya adalah 

hakku, tak ada lain orang berani mendahului!” 

“Keparat bersorban!” damprat Kunti Kendil. Kali ini si 

nenektampaknya tak bisa lagi menahan amarahnya. 

“Kalau begitu biar kau kuhabisi lebih dahulu!” lalu Kunti 

Kendil berbisik pada Lembu Surah. “Awasi anak setan itu. 

Jangan sampai dia kabur!” 

Lembu Surah mengangguk dan menggeser tegaknya 

untuk dapat lebih mudah mengawasi Wirapati. Ini 

membuat dia sekaligus lebih dekat dengan Kemala. Diam-

diam sang Datuk merasakan darahnya menjadi panas. 

Sebaliknya emala memandang dengan beringas. Gadis 

ini menggertak. “Manusia tangan buntung! Jika kau berani 

bergerak, kupatahkan tanganmu yang tinggal satu itu!” 

Lembu Surah memang tak bergerak. Tapi kedua 

matanya menjelajahi wajah dan tubuh Kemala, dan 

melotot kedua melihat keputihan tubuh gadis itu, pada 

bagian pakaian yang robek waktu berkelahi sebelumnya. 

Sementara itu Suwo Permana alias Malaikat Maut 

Berkuda Putih yang ikut memandang ke arah Lembu Surah 

mulai menduga-duga siapa adanya kakek berambut 

pendek kelabu itu. Melihat kepadanya wajahnya jelas dia 

tidak mengenali siapa sesungguhnya orang ini. Namun 

perhatikan nada bicaranya, seperti dia pernah mendengar 

sebelumnya. Dan melihat kenyataan orang ini datang 

bersama Kunti Kendil pastilah dia punya hubungan sangat 

rapat dengan si nenek. Setahunya selama puluhan tahun 

malang melintang dalam dunia persilatan Kunti Kendil tak 

pernah berjalan seiring dengan siapapun, apalagi dengan 

seorang lelaki. Maka mau tak mau Malaikat Maut Berkuda


Putih mulai merasa curiga. 

“Jangan-jangan orang ini….” 

Namun Malaikat Maut Berkuda Putih tidak ber-

kesempatan berpikir lebih jauh karena saat itu antara 

Kunti Kendil dan Ki Sandakan telah pecah perkelahian. Si 

nenek dengan tangan kosong sedang sang Ketua 

pesantren dengan tasbih putih yang dihantamkan kian ke 

mari, menahan serangan ganas lawannya. Memang si 

nenek ingin sekali membantai Ki Sandakan dalam waktu 

singkat. Karena itu dia menyerbu dangan serangan-

serangan mematikan. 

Meski Ki Sandakan merupakan seorang tokoh silat 

cukup disegani nama besarnya, dan sekalipun dia saat iu 

memeangtasbih yang merupakan senjata mustika, namun 

kehebatan Kunti Kendil masih berada beberapa tingkat di 

atasnya. 

Setelah mengimbangi dalam tiga jurus pertama dan 

bertahan pada tujuh jurus berikutnya, memasuki jurus ke 

sebelas pertahanan Ki Sandakan tergempur berantakan. 

Lengan kananya seperti dihantam besi keras ketika 

terpukul sambaran lengan kiri Kunti Kendil. Tasbih yang 

dipegangnya terlepas dan mental ke bawah panggung. 

Selagi Ketua pesantren Nusa Barung ini tersurut menahan 

sakit, jotosan kanan lawan bersarang di perutnya! 

Ki Sandakan merasakan seolah-olah perutnya pecah 

dan ususnya berbusaan. Tubuhnya terlibat ke depan. 

Sebelum dia sempat mengimbangi diri, dari depan rambut 

putih panjang si nenek tampak menyambar mengeluarkan 

suara menderu deras, membabat ke arah batang leher Ki 

Sandakan. 

Semua orang yang menyaksikan kejadian itu 

mengetahui bahwa rambut si nenek merupakan salah satu 

senjata maut yang dimilikinya. Sekali menyambar atau 

membabat, kehebatanya sama dengan babatan sebilah 

pedang. Tidak dapat tidak leher Ki Sandakan akan putus 

disambar rambut yang dialiri tenaga dalam tinggi itu! 

Wirapati yang berotak miring, melihat tadi Ki Sandakan


berkelahi melawan Kunti Kendil mengira bahwa kakek 

bersorban itu membela dan berada dipihaknya, padahal 

seperti diketahui Ki Sandakan sebenarnya juga ingin mem-

bunuh Wirapati. Karenanya ketika melihat Ki Sandakan 

berada dalam bahaya, Wirapati serta merta menolong 

dengan lepaskan pukulan tangan kosong. Sinar hitam 

mengandung racun jahat luar biasa menderu dari samping, 

menghantam sisi kiri Kunti Kendil. 

Semua orang terkesiap tegang. Lembu Surah yang 

sudah merasakan keganasan pukulan Iblis Gila Tangan 

Hitam itu berseru keras memperingatkan istrinya. 

“Anak setan keparat!” maki Kunti Kendil marah sekali. 

Dia menggenjot tubuhnya dan melesat ke atas. Meski dia 

berhasil lolos dari hantaman pukulan muridnya sendiri itu 

namun serangan mautnya terhadap Ki Sandakan menjadi 

gagal. Masih trus memaki panjang pendek, dari ats si 

nenek lepaskan pukulan Api Geledek Menggusur Makam. 

Dalam marahnya nenek ini kerahkan hampir seluruh 

tenaga dalamnya! 

Sinar merah berkiblat. Hawa panas menyambar 

mengerikan. Para tokoh di atas panggung banyak yang 

mengeluarkan seruan kaget serta buru-buru menyingkir. 

“Kak Wira! Lekas menghindar!” terdengar seruan 

Kemala. 

Tapi pemuda gila itu tidak mau ambil perduli. Meski 

tubuhnya terasa seperti dipanggang dia tetap berdiri di 

atas panggung dan kini tampak Wirapati angkat kedua 

tangannya lalu hantamkan telapak tangannyake atas, ke 

arah tubuh Kunti Kendil yang masih mengapung di udara. 

Terjadilah hal hebat luar biasa. 

Sinar merah pukulan sakti Kunti Kendil terbelah oleh 

dua larik sinar hitam yang menghambur keluar dari tangan 

kiri kanan Wirapati. Terdengar dua ledakan keras susul 

menyusul. Panggung kayu yang kokoh itu hancur 

berantakan dan hangus menghitam. Tubuh Kunti Kendil 

tampak jungkil balik di udara. Si nenek lemparkan dirinya 

ke arah timur panggung. Dia masih mampu jatuh dan tegak


di atas kedua kakinya, namun begitu berdiri langsung 

roboh. Pakaiannya tampak menghitam di sebelah depan. 

“Kunti!” 

Lambu Surah berteriak, lari memburu dan menubruk 

tubuh istrinya, langsung memangkunya. 

“Kunti … kau…” 

“Aku tidak apa-apa….” Sahut si nenek. Tapi dari sela 

bibirnya tampak keluar darah. Pakaiannya disebelah depan 

hangus. Dia usap wajahnya lalu bertanya perlahan: 

“Topeng kulitku tak apa-apa…? 

“Tidak, tak apa-apa Kunti. Tapi kau terluka di dalam!” 

sahut Lembu Surah. 

“Dadaku memang terasa sesak sedikit….” 

“Aku kawatir kau keracunan!” 

Kunti Kendil tersenyum. Dari balik pakaiannya dia 

keluarkan dua butir benda bulat sebesar kelereng ber-

warna hijau. Benda itu kemudian ditelannya. 

“Aku tidak apa-apa,” katanya lagi. “Anak setan itu 

memang hebat. Tapi aku tidak puas. Dia tentu sudah 

mampu saat ini!” dibantu oleh Lembu Surah si nenek 

bangkit berdiri. 

Bagaimana dengan Wirapati alias Iblis Gila Tangan 

Hitam? Di mana dia berada saat itu? Kemala orang yang 

paling cemas memikirkan nasib pemuda itu. Dia tak henti-

hentinya memanggil. 

“Kakak Wira…! Kakak Wira!” 

Semua mata ikut mencari-cari di mana adanya Wirapati 

dan semua ingin tahu apa yang terjadi dengan manusia 

gila berkepandaian tinggi itu. 

“Kakak Wira!” panggil Kemala lagi. 

“Waw waw!” 

Terdengar suara pemuda itu tapi orangnya masih tak 

kelihatan! 

Kemala memandang ke arah reruntuhan panggung yang 

kini tinggal tumpukan kayu-kayu hitam hangus. 

“Waw waw waw!” 

Tumpukan reruntuhan paling tinggi tmpak bergerak lalu


mental kian kemari. Dari bawah tumpukan itu muncul 

sosok tubuh bercelemongan hitam dan batuk-batuk. 

Sesaat dia tegak terbungkuk-bungkuk sambil pegang dada. 

“Kakak Wira!” Kemala menjerit lalu lari ke arah 

reruntuhan panggung. 

Namun dari samping dua sosok berkelebat mendahului. 

Kedua orang ini seperti berebut cepat hendak saling men-

dahului untuk dapat menghantam dan membunuh 

Wirapati. Yang satu berjubah putih, satunya lagi berpekaian 

serba kuning, memegang sebilah keris di tangan kiri! 

Yang berjubah putih bukan lain adalah Ki Sandakan, 

Ketua pesantren Nusa Barung yang punya segudang 

dendam terhadap Wirapati. Bukan saja Wirapati telah 

membantai empat orang pengurus Pesantren, termasuk 

salah seorang Ketua yang kini digantikannya. 

Kemudian yang berpakaian kuning adalah Made Tantre 

alias Tangan Dewa Dari Klungkung. Wirapati telah mem-

buat tubuhnya cacat seumur hidup. Tadi-tadi memang sulit 

bahkan tidak mungkin baginya untuk menghadapi manusia 

gila berkepandaian tinggi itu. Tapi kini melihat Wirapati 

dalam keadaan cidera begitu rupa. Made Tantre merasa 

inilah kesempatan paling baik baginya untuk membalaskan 

dendam kesumat. Keris di tangan kirinya ditusukkan 

langsung ke dada kiri Wirapati, tepat di arah jantung! 

Serangan yang benar-benar mematikan! 

Ditambah pula dengan sambaran dua tangan Ki 

Sandakan ke arah leher maka keadaan Wirapati memang 

sulit diselamatkan, jika benar-benar pemuda itu memang 

dalam keadaan tak berdaya atau cidera akibat baku 

hantam dengan Kunti Kendil tadi. 

“Manusia-manusisa pengecut! Menyerang orang yang 

tidak berdaya!” triak Kemala. Gadis ini menyerbu ke depan. 

Dia agak bingung karena tak mungkin sekaligus 

menyelamatkan Wirapati dari dua serangan yang datang 

dari dua jurusan terpisah itu. Karena Made Tantre berada 

paling dekat, maka Kemala langsung saja menggempur 

yang satu ini. Saat itu ujung keris di tangan kiri Made


Tantre hanya tinggal seujung jari saja siap menusuk dada 

Wirapati. Karenanya meskipun mengetahui ada yang meng-

hantamnya dari samping. Made Tantre tidak berusaha 

untuk menarik pulang serangannya. 

Buk! 

Pukulan Kemala mendarat di bahu kanan Made Tantre. 

Terdengar suara krak! Made Tantre mengeluh kesakitan 

ketika tulang bahunya patah, tubuhnya terpental. Tapi dia 

puas. Kerisnya berhasil menancap di dada kiri Wirapati! 

Kemala menjerit! 

Ki Sandakan yang mengira dia telah kedahuluan Made 

Tantre dengan sangat gemas dan penuh dendam men-

cengkeram leher Wirapati, siap menghancurkan remukkan-

nya. Tapi sedetik kemudian terjadilah satu hal yang tidak 

terduga. Cekikan kedua tangan Ketua pesantren Nusa 

Barung itu tampak terlepas dam tubuhnya terhuyung-

huyung ke belakang. Ada bercak merah pada dadanya. 

Dan pada dada itu kelihatan menancap sebilah keris. Keris 

milik Made Tantre yang tadi telah menikam dada Wirapati! 

“Waw waw!” 

Apa yang sebenarnya terjadi? 

Ketika Made Tantre menikam dengan kerisnya, 

sebenarnya senjata itu tidak menghunjam di dada kiri 

Wirapati. Dengan kecepatan luar biasa yang hampir tak 

satu orangpun melihat bahkan Made Tantre sendiripun 

tidak menyadarinya, tusukan senjata itu dapat dielakkan 

Wirapati lalu keris dikempitnya di ketiak kirinya! Pukulan 

Kemala membuat Made Tantre terpelanting ke samping kiri 

sementara keris masih berada dalam kempitan Wirapati. 

Lalu sewaktu Ki Sandakan mencengkeram lehernya, 

Wirapati cabut keris yang berada dalam kempitan ketiak 

kirinya dan menghujamkan senjata ini ke dada Ki 

Sandakan! 

“Waw waw!” 

Ki Sandakan mundur terus sambil pegangi dadanya. 

Ketika sepasang kakinya tak sanggup lagi menunjang 

tubuhnya, Ketua pesantren Nusa Barung ini terjungkal ke


tanah, terkulai rubuh dan rebah menggeletak. Mulutnya 

tampak komat-kamit. Jelas dia mengucapkan sesuatu se-

belum ajalnya sampai. Sesaat kemudian tubuhnya tak ber-

gerak lagi. Dia mati dengan kedua mata memandang ke 

langit di atasnya. 

“Waw waw! Siapa lagi yang ingin mampus di tangan-

ku?!” Wirapati memandang buas berkeliling. Dia berdiri 

sambil berpegangan pada Kemala. Jelas keadaan dirinya 

pun mengalami cidera di dalam akibat bentrokan pukulan 

sakti dan tenaga dalam tinggi dengan Kunti Kendil tadi. 

Kemudian pandangan matanya yang merah mengarah 

pada Made Tantre yang masih terduduk di tanah sambil 

merintih kesakitan pegangi bahunya tadi. 

“Waw waw! Manusia pengecut sepertimu tak layak 

hidup lebih lama!“ bentak Wirapati. Dia siap melangkah 

untuk menghajar Made Tantre. 

Sementara itu Lembu Surah yang tegak memapah Kunti 

Kendil, berbisik pada perempuan itu. “Sebaiknya kita pergi 

saja dari sini. Lain kali kita buat lagi perhitungan dengan 

pemuda gila itu!” 

“Mana bisa begitu!” sahut Kunti Kendil keras kepala. 

“Tapi kau terluka di dalam Kunti!” 

“Aku tidak apa-apa! Kau dengar itu? Malah aku rela mati 

asal dapat membunuh murid sesat itu!” 

“Atau kau ingin aku yang menghajarnya?” tanya Lembu 

Surah. 

“Tidak, dia harus mampus di tanganku….” 

“kau akan terbunuh sia-sia.” 

“Kalau kau takut melihat kematianku, silahkan pergi 

dari sini.” ujar Kunti Kendil pula. 

Lembu Surah jadi serba salah. Wirapati diketahuinya 

memang menderita cidera di dalam akibat bentrokan 

dengan istrinya tadi. Tapi keaaannya jauh lebih kuat dari 

pada Kunti Kendil. Jika istrinya itu tetap bersikera untuk 

melanjutkan niatnya, niscaya dia akan mati di tangan 

Wirapati. Dia tidak takut untuk turun tangan membela 

istrinya. Namun kalau itupun sia-sia tak ada gunanya. Lebih


baik mencari kesempatan lain. Apalagi dilihatnya ditempat 

itu tidak ada yang akan berpihak padanya. Banyak para 

tokoh silat lebih suka menjadi penonton dari pada turun 

tangan menggempur Wirapati. Dalam pada itu kehadiran 

Malaikat Maut Berkuda Putih serta Pudji yang muncul 

bersama lelaki aneh bertopi tinggi itu sejak tadi-tadi telah 

membuat Lembu Surah merasa was-was. Karenanya ia jadi 

penasaran kalau Kunti Kendil tidak mau mengikuti 

nasihatnya. 

“Kita pergi sekarang Kunti!” 

“Kau pergilah sendirian. Tapi dengar. Jangan kau 

mencari-cari aku lagi!” kata Kunti Kendil mengancam. 

Lembu Surah merutuk dalam hati. Ketika si nenek mulai 

melangkah ke arah Wirapati. Lembu Surah cepat gerakkan 

tangan kirinya, menusuk ke punggung Kunti Kendil. Serta 

merta Kunti Kendil merasakan sekujur tubuhnya menjadi 

kaku tegang. Dia tak memapu lagi melangkah atau 

menggerakkan bagian tubuhnya yang lain. Tapi mulutnya 

masih bisa terbuka dan suara. Maka nenek inipun 

membentak. 

“Surah! Apa yang kau lakukan ini. Gila! Lekas lepaskan 

totokanmu!” 

Lembu Surah alias Datuk Iblis Penghisap Darah 

tersentak kaget. Mukanya pucat. Cepat dia menotok urat 

besar jalan suara di leher si nenek hingga Kunti Kendil kini 

tak bisa bersuara lagi. Tetapi terlambat! Kunti kendil di luar 

sadar telah keburu menyebut namanya tadi! 

***



ENAM


RAHASIA TERBUKA SUDAH! 

PAMBALASAN AKHIRNYA DATANG JUGA!


Muka Lembu Surah semakin pucat. Dia memandang 

berkeliling dengan tengkuk terasa dingin. Belasan 

tokoh-tokoh silat ada di situ dilihatnya seperti ber-

ubah menjadi setan yang hendak mencabik-cabik tubuh-

nya. 

“Astaga! Benar dia… Keparat besar!” maki Malaikat 

Maut Berkuda Putih. Diam-diam kakek ini salurkan tenaga 

dalamnya ke tangan kanan. 

Di tempat lain Pudji tegak dan memandang dengan 

mata melotot pada lelaki tangan buntung berambut 

pendek kelabu itu. Dia seperti tidak percaya akan pen-

dengarannya tadi. Kunti kendil memanggil si rambut kelabu 

itu dengan nama Surah! 

“Sahabat.” Randu Ampel berkata pada Pudji. “Kau 

dengar nenek jelek itu menyebut nama orang tangan 

buntung ini?!” 

Pudji mengangguk. Matanya memandang tak berkesip. 

Mulutnya terbuka. Dan suaranya terdengar keras sekali. 

“Manusia tangan buntung! Jadi kau adalah Lembu 

Surah! Manusia terkutuk bergelar Datuk Iblis Penghisap 

Darah!” 

Kata-kata Pudji ini membuat Kemala terkesiap. Lalu ikut 

membuka mulut. 

“Apa?! Orang ini Datuk Iblis Penghisap Darah?! Sekian 

tahun aku mencari! Sekarang kau tak bisa lepas lagi dari 

tanganku! Kau yang membunuh ibuku!” 

Beberapa tokoh silat yang ada di situ jelas tampak 

kaget. Siapa mengira lelaki yang datang bersama Kunti 

Kendil itu ternyata adalah lembu Surah. Manusia iblis yang


pernah melang melintang berbuat kejahatan, membunuh 

dan memperkosa. Tanpa diatur, mereka bergerak mem-

buat lingkaran dan mengurung Lembu Surah di tengah-

tengah. 

“Celaka! Tamtlah riwayatku hari ini!” keluh Lembu 

Surah. Dia memutar otak lalu berkata. “Kalian salah 

sangka. Aku bukan Lembu Surah. Bukan pula orang yang 

kalian sebut dengan gelar Datuk Iblis itu! Aku hanya kawan 

seperjalanan Kunti Kendil. Kebetulan saja terpesat ke 

gunung ini…” lalu dengan gerakan cepat dia segera me-

manggul tubuh Kunti Kendil. Dia memandang berkeliling 

dan berkata: “Sahabatku ini terluka di dalam. Aku harus 

membawanya pergi dan mengobatinya….” 

“Kau boleh pergi tapi nyawamu tinggalkan di sini!” ter-

dengar ada yang bicara. Ternyata orang ini adalah Malaikat 

Maut Berkuda Putih. 

“Aku tidak kenal siapa kau!” Lembu Surah coba 

berkilah. 

Malaikat Maut menyeringai. “Pandang wajahku baik-baik 

Surah. Lalu katakan apa benar kau tidak kenal aku…. Lalu 

lihat gadis itu. Muridku yang bernama Pudji. Apa kau juga 

tidak kenal dia...?” 

Sepasang mata Lembu Surah memandang ke jurusan 

lain. 

“Aku harus pergi! Beri jalan! Atau akan aku bunuh 

semua!” teriak Lembu Surah. Dalam keadaan terdesak 

seperti itu dia hampir tidak dapat lagi menguasai dirinya., 

tetap dia juga mencemaskan keadaan Kunti Kendil. Jika 

pecah perkelahian, bukan mustahil Kunti Kendil akan men-

jadi bulan-bulanan serangan. Dan tampaknya bukan hanya 

satu dua orang saja yang bakal dihadapi! 

Kunti kendil yang berada di atas bahu Lembu Surah 

dalam keadaan tertotok menyumpah tiada henti, “Kalau 

dia tidak menotokku sudah dari tadi kuhantam mansia-

manusia keparat itu! Ah, hidup ini kenapa jadi sialan 

seperti ini! Surah! Lepaskan totokanku!” tapi mana Lembu 

Surah bisa mendengar ucapan tanpa suara itu.


Di saat itu pula kembali terdengar kata-kata Malaikat 

Maut Berkuda Putih Suwo Permono. “Surah! Puluhan tahun 

kita menggalang persahabatan. Tapi kau khianati diriku. 

Kau perkosa muridku hingga dia menjadi gila. Tak ada 

hukuman yang lebih patut bagimu dari pada mampus!” 

“Gila! Semua gila! Aku bukan Lembu Surah! Aku bukan 

Datuk Iblis Penghisap Darah! Aka kalian semua tuli? Tidak 

mendengar?!” 

Malaikat Maut Berkuda Putih tersenyum angker. 

“Mukamu mungkin bisa tukar dengan muka setan. Tapi 

suaramu tidak. Walau kau berusaha merubah suaramu.” 

“Copot saja kepalanya. Habis perkara!” 

Yang mengeluarkan kata-kata itu adalah Randu Ampel. 

Dia tegak dekat reruntuhan panggung, sambil mengunyah 

paha ayam yang didapatnya berhamburan di tanah. 

“Aku memang ingin mencopot kepalanya!” kata Malaikat 

Maut Berkuda Putih dan langsung melompat kirimkan 

serangan. 

Seperti diketahui beberapa kali sebelumnya kedua 

orang itu telah terlibat dalam perkelahian. Sebegitu jauh 

kakek berjanggut dan berpakaian serba putih itu tidak 

pernah berhasil mengalahkan lawannya. Malah dirinya 

hampir selalu celaka. Kini Lembu Surah dalam keadaan 

cacat, ditambah harus memanggul tubuh Kunti Kendil 

maka Malaikat Maut merasa mempunyai peluang untuk 

menghajar musuh besarnya itu. Namun bagaimanapun 

juga Lembu Surah bukan tokoh silat sembarangan. Gelar 

Datuk Iblis yang diberikan padanya bukan merupakan gelar 

kosong. Meski tangannya kini cuma satu dirinya dibebani 

beratnya tubuh Kunti Kendil tapi dengan sebat dia 

menahan serangan lawan, malah kemudian balas meng-

hantam dengan tangan kiri, membuat Malaikat Maut Suwo 

Permono terpaksa menghindar penuh penasaran. 

Dari samping kiri Pudji telah siap berkelebat untuk 

menyerbu. Tapi bahunya tiba-tiba dipegang oleh Randu 

Ampel. Lelaki ini berkata. 

“Sahabat, manusia seperti ini si tangan buntung itu ter


lalu enak jika langsung dibunuh…” 

“Apa maksudmu Randu?” tanya Pudji. 

“Kuntung tangannya yang sebelah kiri. Hancurkan 

kemaluannnya. Biar dia hidup menderita sengsara seumur-

umur…..!” 

“Nasihatmu akan kuturuti Randu!” suhut Pudji. Maka 

murid Malaikat Maut Berkuda Putih yang berotak miring 

inipun menerkam ke depan. Kaki kanannya meluncur ke 

arah selangkangan Lembu Surah. 

Walau kini diserang dua orang, tetap saja Lembu Surah 

tidak bisa segera didesak. Apalagi dia sengaja mem-

percepat gerakan dan keluarkan jurus-jurus silatnya yang 

paling hebat. Pudji dan Malaikat Maut seperti menghadapi 

tembok yang sukar ditembus. 

“Waw waw! Dewiku! Apa kau tak akan ambil bagian?! 

Jangan sampai ketinggalan…” terdengar suara Wirapati. 

Ucapannya ditujukan Kemala. Entah dari mana dia men-

dapatkannya, saat itu Wirapati angsurkan sebilah golok 

pada Kemala seraya berkata lagi; “Dua orang yang 

menyerang lelaki buntung itu berlaku tolol waw waw! 

Mereka berkelahi tidak pakai otak! Waw waw, aku tak mau 

dewiku juga tolol. Cepat masuk ke kalangan pertempuran. 

Tapi jangan serang di buntung. Serang nenek jelek yang 

dipanggulnya! Ayo cepat dewiku! Waw waw waw!” 

Kemala ambil golok yang disodorkan. Begitu masuk 

kalangan pertempuran dia kirimkan bacokan ke kaki Kunti 

Kendil. Lembu Surah membuat gerakan berputar setengah 

lingkaran. Bacokan golok mengenai tempat kosong. Sang 

Datuk coba balas menendang dengan kaki kiri, tapi dari 

samping kiri kanan kembali datang serangan yang 

dilancarkan dua lawan lainnya. Terpaksa dia tarik 

tendangan, melompat ke kiri, dan menghantam. Sekali 

membuat gebrakan itu dua serangan tadi dapat dihindar-

kannya. Namun dari belakang kembali menderu golok 

Kemala. Kali ini ke arah kepala Kunti Kendil. 

Lembu Surah menyumpah. 

Jika dia terus melayani ke tiga pengeroyok itu, dirinya


sendiri mungkin bisa bertahan dari serangan lawan. 

Namun sulit dijamin dia mampu menghindarkan Kunti 

Kendil dari hantaman. Kelihatannya Kemala memang 

sengaja mengincar tubuh Kunti Kendil terus menerus. Di 

samping itu setiap melihat wajah Kemala – gadis yang 

pernah membuatnya tergila-gila setengah mati itu – Lembu 

Surah menjadi tidak tenang. Menyadari kenyataan ini sang 

Datuk berteriak keras. Bersamaan dengan itu tubuhnya 

bersama tubuh Kunti Kendil yang dipanggulnya melesat 

tinggi ke udara, lalu laksana seekor burung besar melayang 

melewati deretan bangku-bangku di lapangan. Di lain kejap 

dia sudah berada di ujung lapangan, terus lari ke arah 

lamping gunung sebelah timur. 

“Sialan! Hampir aku celaka!” kata Lembu Surah dalam 

hati. Dia merasa lega karena berhasil melarikan diri dan 

tak satu orangpun kelihatan sanggup mengejar. 

Namun baru saja membatin seperti itu, tiba-tiba terasa 

ada orang yang menepuk bahunya, menyusul ucapan 

mengejek. 

“Urusan hutang piutang belum selesai, mengapa cepat-

cepat pergi? Sungguh manusia tidak tahu peradatan!” 

Lembu Surah kaget bukan main dan cepat berpaling ke 

kri dan jurusan mana dia mendengar datangnya suara 

serta gerakan menepuk tadi. Tapi astaga. Dia tidak melihat 

siapa-siapa di situ. Lalu tiba-tiba saja ada suara dan 

menepuk lagi di sebelah kanan. 

“Aku di sini!” 

Ketika dia menoleh ke kanan, diapun tidak melihat 

siapa-siapa! 

“Datuk, aku di belakangmu!” 

Kembali terdengar suara serta tepukan pada punggung-

nya. Berpaling ke belakang tetap saja Lembu Surah tidak 

menemukan orang yang bicara dan menepuknya itu. Ber-

ubahlah paras sang Datik. Cepat-cepat dia memutar tubuh 

untuk meneruskan pelariannya. Namun baru bergerak 

mendadak di depannya menghadang sesosok tubuh ber-

telanjang dada. Dan sebuah benda panjang menerima di


kening! 

Orang yang di depannya ternayata lelaki tinggi yang 

muncul bersama Pudji. Randu Ampel! Dan benda yang 

menempel di keningnya adalah suling bambu yang di-

pegang di tangan kanannya. 

“Keparat buntung! Kau mau lari kemana….?” Ujar Randu 

Ampel menyeringai. 

Inilah pertama kali dalam hidupnya Lembu Surah yang 

menyandang gelar angker Datuk Iblis Penghisap Darah itu 

merasa ketakutan yang amat sangat. Tadi-tadi dia sudah 

menyadari bahwa lelaki berotak miring ini memiliki 

kepandaian tinggi. Namun dia tidak menduga kalau 

kehebatan Randu Ampel begitu luar biasa. Bukan saja 

Randu Ampel sanggup mengejar dan mendahuluinya tanpa 

diketahuinya, juga lelaki ini memiliki gerakan cepat luar 

biasa. Dan suling yang ditempelkan dikeningnya itu setiap 

detik bisa tembus masuk ke batok kepalanya! Untuk 

beberapa lamanya Lembu Surah hanya bisa tegak, tak 

berani bergerak sedikitpun. Sebaliknya di atas panggulan-

nya Kunti Kendil memaki panjang pendek tanpa terdengar, 

berteriak agar totokannya dilepas. Nenek ini ingin sekali 

menghajar Randu Ampel saat itu. 

Beberapa orang berkelebat. Sepasang bola mata Lembu 

Surah berputar berkeliling. Dadanya terasa tambah sesak 

ketika dia melihat dirinya kini dikurung oleh Malaikat Maut 

Berkuda Putih, Kemala, Pudji dan Wirapati. 

“Waw waw! Semua kita sudah ada di sini! Tunggu apa 

lagi?!” Wirapati berseru. 

“Betul!” menyahuti Randu Ampel dan tekanan ujung 

sulingnya pada kening Lembu Surah dilipat gandakan. 

Lembu Surah merasa seperti keningnya sudah rengkah 

dan pemandangannya berkunang. Tetapi baru saja tangan-

nya bergerak, dari samping menyambar golok yang di-

genggam Kemala. 

Cras! 

Tak ampun lagi bagian tangan di bawah ketiak kiri sang 

Datuk terkutung putus. Darah menyembur. Lembu Surah


luka parah dan menahan sakit begitu rupa, dari depan 

Pudji ayunkan tangannya, memukul ke bawah selang-

kangan sang Datuk. Untuk kedua kalinya lelaki ini meraung 

keras. Anggota rahasianya hancur dan darah merah 

tampak membasahi celananya. Seperti belum puas Pudji 

bergerak lagi untuk mencengkeram leher Lembu Surah tapi 

Randu Ampel cepat menghalangi. 

“”Cukup sahabat! Kematian terlalu enak baginya. Lebih 

baik dia kita biarkan hidup sengsara seperti ini!” 

“Waw waw!” terdengar suara Wirapati. “Kurasa kau 

sudah cukup puas. Apa perlu kita berlama-lama di tempat 

ini?!” lalu pemuda gila itu sambar pinggang Kemala, 

langsung mendukungnya dan membawanya pergi dari 

tempat itu. 

Tinggal kini Randu Ampel, pudji dan Malaikat Maut 

Berkuda Putih. Sementara itu Lembu Surah yang tak 

sanggup lagi berdiri, tampak terkapar roboh di tanah. 

Tubuh Kunti Kendil yang tadi di panggulnya ikut terhempas 

ke tanah menggeletak beberapa langkah jauhnya. 

Kedua mata Malaikat Maut Berkuda Putih tampak ber-

kaca-kaca. Orang tua ini merasa terharu. Sekian tahun 

mencari dan tapi dengan sebat dia menahan serangan 

lawan, malah kemudian balas mengejar mushu besarnya 

itu, hari itu dia hanya bisa meyaksikan pembalasan 

dilakukan oleh orang lain tanpa dia bisa berbuat apa. 

Pudji berdiri di bawah sebatang pohon, menutupi 

wajahnya dengan kedua tangan, menangis sesunggukan. 

Di tempat lain Kemala juga tampak berusaha dengan 

susah payah untuk menahan tangis, ingat akan kematian 

ibunya serta ayahnya yang lenyap tanpa diketahui 

kabarnya lagi. 

“Waw waw! Nenek butut itu! Dia pasti kawan Lembu 

Surah. Mau kita apakan dia…?” terdengar Wirapati berkata. 

Kunti Kendil menyumpah setengah mati. “Anak setan 

keparat. Sampai kiamat aku bersumpah untuk membunuh-

mu!” 

“Nenek itu bukan cuma kawan. Dia adalah istri Datuk


Iblis. Aku yakin sekali hal itu….!” Malaikat Maut Berkuda 

Putih membuka mulut. 

“Waw waw! Kalau dia istrinya, pasti sama jahatnya 

dengan suaminya! Sebaiknya dihajar biar tahu rasa!” 

Tak ada yang menjawab ataupun bergerak. Tampaknya 

semua orang di situ tidak punya hasrat lagi untuk 

melakukan kekerasan. Sesaat kemudian Malaikat Maut 

Berkuda Putih berkata; “Kita semua adalah orang-orang 

gagah dunia persilatan, walaupun dengan segala 

kekurangan. Itu berarti tidak menjadi alasan bagi kita 

untuk bertindak pengecut manghantam orang yang tidak 

berdaya.” orang tua ini kemudian melangkah mendekati 

Pudji. “Muridku,” katanya, “Aku tidak tahu apa kau masih 

mengenal dirinya diriku atau tidak. Bagaimanapun juga aku 

tetap gurumu yang ldulu membesarkanmu dan memberi 

pelajaran sesuai dengan kemampuanku. Setelah per-

temuan kali ini apakah kau masih tidak ingin ikut ber-

samaku… Mungkin kita bisa menemukan sesuatu sehingga 

kau dapat menempuh kehidupan baru…!” 

“Aku tidak kenal kau siap…” menyahut Pudji. “Aku tidak 

perduli kau siapa. Saol hidup baru aku sudah menemuinya. 

Bersama sahabatku itu…” Pudji menggoyangkan kepalanya 

ke arah Randu Ampel. “Kita Pergi sekarang Randu….” 

“Ya… ya… Kita pergi sekarang!” sahut Randu. 

Malaikat Maut Berkuda Putih mengurut dada. Dia hanya 

bisa melepas kepergian muridnya itu dengan pandangan 

mata. 

“Waw waw! Dewiku, kitapun tak ada gunanya berlama-

lama di tempat ini. Mari kita pergi. Jika menuruti hati, mau 

saja aku membunuh Datuk keparat yang dulu membunuh 

dewiku yang satu ini. Tapi sudahlah… Waw waw! Dewiku 

Sundari saat ini tentu sudah enak hidup di akhirat!” 

Maka Kemala dan Wirapati lalu tinggalkan tempat itu. 

Tinggal kini Malaikat Maut Berkuda Putih tegak sendirian. 

Dia memandang pada Datuk Iblis yang tergeletak di tanah, 

merintih tiada henti. Lalu perhatikannya Kunti Kendil yang 

terdampar tak bergerak. Hati kecilnya ingin menolong me


lepaskan totokan di tubuh si nenek. Namun jalan 

pikirannya menolak. “Buat apa aku menolong! Salah-salah 

begitu bebas dari totokan dia akan menyerang diriku! Biar 

saja, nantipun totokan itu akan punah sendiri!” 

Lalu kakek berjanggut putih inipun putar tubuhnya. Saat 

itulah tiba-tiba terdengar satu ledakan dahsyat dari lereng 

gunung Merapi sebelah atas. Bumi ambruk dan langit 

seolah terbelah. Malaikat Maut Berkuda Putih sampai 

terbanting jatuh ke tanah saking hebatnya ledakan itu. 

Apakah yang terjadi? 

Ketika pukulan Api Geledek dan pukulan yang dilepas-

kan Wirapati menghancurkan lebur dan membakar 

panggung, nyala api telah pula membakar ujung tali yang 

berhubungan dengan karung-karung itu, maka bahan 

peledak itupun meledak. Lamping timur gunung Merapi 

tampak berlubang besar. Masih untung semua tokoh silat 

yang berada dibekas tempat upacara peresmian partai 

sudah meninggalkan tempat itu sehingga tidak satu 

orangpun menemui celaka. 

Sekarang mari kita ikuti ke mana Mahesa. Gembel 

Cengeng Sakti Mata Buta, Sari serta Pendekar Muka 

Tengkorak. 

***


TUJUH


WAJAH DIBALIK CADAR HITAM


Kakek! Kau mau bawa aku ke mana?!” seru Mahesa 

bertanya. 

“Anak edan, jangan bicara keras-keras. Nanti 

orang yang kita kejar mendengar…” jawab Gembel 

Cengeng Sakti Mata Buta. 

“Eh, siapa yang kita kejar saat ini?” tanya Mahesa. Dia 

masih berusaha melepaskan lengannya dari pegangan si 

kakek buta, tapi tetap saja sia-sia. 

“Jangan coba engkel-engkelan menarik tanganmu. 

Salah-salah yang kita kejar itu bisa merat tanpa bekas!” 

“Hai! Aku bertanya siapa sih yang kita kejar?” Mahesa 

mengulangi pertanyaannya. 

“Kau akan lihat sendiri nanti. Ikuti saja aku. Jangan 

banyak tanya!” jawab si kakek. 

Orang tua buta itu larinya bukan kepalang cepatnya. 

Meskipun Mahesa memiliki kemampuan berlari yang dapat 

mengimbangi namun pemuda ini menyadari bahwa 

kecepatannya lari saat itu sebagian besar ditambah oleh 

daya tarik si gembel buta. Memandang kebelakang dilihat-

nya Sari jauh ketinggal, tapi perempuan itu masih dapat 

mengikuti mereka. 

“Kau cemas kehilangan perempuan itu eh? Hik-hik-hik… 

Sebentar-sebentar kau menoleh ke belakang!” 

“Kek, ini pertama kali aku melihat kau tertawa. Biasanya 

menangis terus!” kata Mahesa. 

“Sekali-sekali hidup itu perlu perubahan. Agar segar!” 

jawab si buta. 

“Menurutmu kek, apa yang terjadi dengan orang-orang 

yang masih berada di tempat upacara tadi itu…?” 

“Itu urusan mereka. Jika mereka tolol, mereka boleh


melanjutkan perkelahian. Jika mereka cerdik, mereka akan 

cepat-cepat meninggalkan tempat celaka itu. Sebentar lagi 

pasti gunung itu meledak…” dan tiba-tiba saja si buta ini 

mulai menangis. Mahesa hanya bisa geleng-geleng kepala. 

Barusan saja dia tertawa, kini sudh kembali menangis. 

“Hai, bagaimana mungkin gunung itu meletus. Maksud-

ku bahan-bahan peledak itu. bukankah aku sudah me-

mutuskan tali pembakarnya?” Mahesa bertenya lagi 

dengan perasaan heran. 

“Talinya memang kau putus! Tapi apa kua kira bahan 

peledak itu tidak bisa meledak tanpa tali? Jangan jadi anak 

tolol! Jika mereka berkelahi, saling keluarkan pukulan sakti 

yang menimbulakan hawa panas bahkan api! Nah apa 

pendapatmu….?” 

“Kau betuk kek. Kasihan orang-orang itu…” ujar 

Mahesa. Dia teringat pada Kemala dan kakak seper-

guruannya Wirapati. Lalu para tokoh silat yang baik-baik 

lainnya, termasuk juga Kunti Kendil, gurunya yang telah 

membuatnya kecewa seumur hidup. 

“Aku… aku juga kasihan pada mereka.” Berkata Gembel 

Cengeng dan makin keras sesunggukannya. “Tapi perduli 

amat, mereka tidak kasihan diri sendiri…” 

Setelah lari beberapa ratus tombak lagi, Mahesa 

kembali buka mulut. “Kek, aku masih belum melihat orang 

yang kita kejar…” 

“Aku juga belum.” sahut si kakek. 

Mahesa dongkol dalam hati. Tentu saja dia tidak 

melihat. Matanya buta! Baru saja dia mengomel dalam hati 

seperti itu tiba-tiba si kakek mendorongnya memasuki 

jalan menurun yang berbelok-belok hingga akhirnya 

mereka sampai di sebuah anak sungai yang airnya sangat 

dangkal hingga mudah saja diseberangi. Sampai di 

seberang Mahesa menoleh lagi ke belakang. Dilihatnya 

Sari baru saja mulai menyeberani sungai dangkal itu. lalu 

agak jauh di belakang Sari dia melihat ada seorang lain 

yang juga lari satu jurusan dengan mereka. 

“Kek, ada orang lain di belakang sana yang mengikuti


arah lari kita.” memberitahu Mahesa. 

“Aku sudah tahu sejak tadi-tadi!” jawab Gembal 

Cengeng Sakti Mata Buta. “Malah aku sudah tahu siapa 

orangnya!” 

“Kau memang luar biasa kek. Bagaimana kau bisa 

tahu?” Mahesa memuji dan bertanya. 

“Mudah saja. Dari bau rokok kawung yang dihisapnya. 

Sama sepertimu…” 

“Jadi orang itu si kakek muka tengkorak?” 

“Siapa lagi? Si jerangkong sahabatmu itu!” 

“Ah, kalau begitu kita tak usah kawatir…” Mahesa 

merasa lega. 

“Kalau bukan diapun kita tak perlu kawatir. Mulai 

sekarang tutup mulutmu. Orang yang kita kejar semakin 

dekat di depan sana. Kita harus mengambil jalan 

memotong…” si buta mendorong Mahesa memasuki hutan 

kecil. Sekeluarnya dari hutan mereka sampai di sebuah 

daerah yang ditumbuhi pohon-pohon kapas. Dekat sebuah 

batu besar Gembel Cengeng hentikan lari, membawa 

Mahesa berlindung di balik batu itu. tak lama kemudian 

Sari sampai di situ. Menyusul Pendekar Muka Tengkorak 

Suko Inggil. 

“Mengapa berhenti di sini…?” tanya Sari. 

“Ssst…. Diam. Semua berlindung di balik batu. Sebentar 

lagi monyet tua itu akan samapi di sini. Begitu muncul 

cepat potong jalannya dan kurung…” 

Seperti Mahesa, Saripun tidak tahu siapa sebenarnya 

orang yang mereka kejar. Sementara si kakek muka 

tengkorak tenang-tenang saja dan menyedot rokoknya 

dalam-dalam. Tiba-tiba rokok ini tercabut dari sela bibirnya 

seolah-olah disentakkan oleh tangan yang tidak kelihatan. 

Memandang ke samping si kakek dapatkan rokok itu 

sudah diremas hancur oleh Gembel Cengeng Sakti Mata 

Buta. 

“Hai, maafkan aku sudah berlaku tolol.” bisik kakek 

muka tengkorak. Dia menyadari kalau bau rokok kawung-

nya bisa membuat orang yang mereka kejar akan me


ngetahui kehadiran mereka di tempat itu! 

Tiba-tiba semak belukar di seberang mereka tersibak. 

Seseorang tubuh bungkuk menyeruak keluar. Nafasnya 

keras memburu. Sesaat dia tegak di tempat terbuka, me-

mandang berkeliling. Wajahnya tertutup cadar. Meskipun 

kini tidak lagi mengenakan jubah outih namun baik 

Mahesa, maupun Sari serta Pendekar Muka Tengkorak 

segera mengenali orang itu bukan lain adalah manusia 

yang telah mengangkat dirinya sebagai Ketua Partai Merapi 

Perkasa. 

“Bangsat! Bangsat semua!” tiba-tiba orang itu memaki. 

Nafasnya masih memburu. “Salah kaprah! Aku salah 

kaprah. Setan betul!” mendadak dia hentikan makiannya. 

Dia mendengar sesuatu. Suara seperti orang sesungukan. 

“Eh, setan dari mana yang tersesat dan menangis di 

hutan kapas ini!” sentaknya. Baru saja memaki begitu dia 

segera menyadari ada tiga orang yang tegak mengurung-

nya. Dua berkerudung merah dan satu lagi kakek 

jerangkong yang dikenalinya betul yakni Pendekar Muka 

Tengkorak. “Keparat, apa mau ketiga setan alas ini. Dia 

pasti mengejarku!” dengan sikap dibuat setenang mungkin, 

si bongkok itu menegur: “Para sahabat, kalian menunjuk-

kan sikap yang benar-benar mendukung Partai Merapi 

Perkasa. Sampai-sampai menemuiku di tempat ini! 

Kakek muka tengkorak tertawa mengekeh. 

“Kalau orang gila bicara ngaco masih kuanggap wajar. 

Tapi kalau kau yang mengaku punya hak jadi ketua partai 

bicara melantur, bener-bener lebih keblinger dari orang 

gila! Kami datang kemari bukan untuk bicara segala 

macam soal partai. Kami ingin membuktikan siapa kau 

sebenarnya manusia bungkuk!” 

Orang bungkuk bercadar hitam kini ganti tertawa 

mengekeh walau sebenarnya ini hanyalah tawa pura-pura 

untuk dapat menutup goncangan hatinya. 

“Siapa yang tidak kenal pada jago kawakan bergelar 

Pendekar Muka Tengkorak. Tapi hari ini aku juga heran 

kalau kau bicara melantur tak tahu ujung pangkal. Siapa


aku apa perdulimu? Jika kau memang ingin bergabung 

dalam partai, kau harus tunduk padaku. Jangan banyak 

tanya. Tak perlu banyak mau tahu!” 

Dari balik batu besar Gembel Cengeng Sakti Mata Buta 

keluar sambil usap-usap mata. Sesaat dia mendongak ke 

langit. Kemunculan orang yang dianggap nomor satu di 

dunia persilatan ini membuat wajah di balik cadar hitam itu 

menjadi pucat. 

“Celaka, menghadapi si muka tengkorak ini saja sudah 

cukup repot, apalagi kini muncul si buta ini!” begitu si 

cadar hitam membatin. Agaknya dia sama sekali meng-

anggap remeh Mahesa dan Sari yang sampai saat itu 

masih mengenakan kerudung kain merah. 

“Ah, tidak disangka sahabatku Gembel Cengeng Sakti 

Mata Buta ternayat juga hadir di sini!” si bungkuk lalu men-

jura dan batuk-batuk. 

“Bagus… bagus. Jika kau mengganggapku sebagai 

sahabat, silahkan buka cadar hitam yang menutui wajah-

mu. Aku tidak begitu suka bicara dengan manusia yang 

bermulut manis tapi menutupi wajahnya dengn segala 

macam kedok!” 

Kembali si bungkuk batuk-batuk. “Tapi dua kawanmu 

inipun menutupi wajahnya mereka dengan kain!” katanya 

seraya menunjuk pada Mahesa dan Sari. 

“Jika aku minta mereka membuka kerudung itu, apakah 

kau juga mau membuka cadar hitammu?!” tanya Gembel 

Cengeng. 

Si bungkuk tak bisa menjawab. 

Karena merasa memang tak ada perlunya lagi menutupi 

wajah masing-masing maka Mahesa dan Sari lantas mem-

buka kerudung merahnya. 

“Nah… nah. Kedua sahabatku telah membuka kerudung 

mereka. Sekarang lekas kau buka cadarmu…” yang bicara 

kini adalah Pendekar Muka Tengkorak. 

“Engg… Tak mungkin cadar ini kubuka. Aku menderita 

sejenis penyakit kulit. Tidak tahan terkena sinar 

matahari…” si bungkuk menjawab.


“Kalau begitu, terpaksa aku yang melakukannya…” ujar 

Gembel Cengeng Sakti. Baru saja dia selesai mengucapkan 

kata-kata itu bungkuk merasa ada angin menyambar 

wajahnya datang dari samping kiri. Cepat dia 

menghindarkan kepalanya ke samping kanan. Tapi dia 

tertipu. Justru dari sebelah kanan ini tiba-tiba tangan kakek 

buta itu berkelebat cepat. 

Sret! 

Cadar hitam penutup wajah si bungkuk terbetot lepas 

dan kini kelihatanlah wajahnya yang asli. Begitu wajah si 

bungkuk, berserulah Pendekar Muka Tengkorak. 

“Astaga! Bukan dia!” 

Kakek buta mendongak ke langit. “Apa maksudmu 

bukan dia?” tanyanya dengan nada sedih, hampir 

menangis. 

“Bukan dukun keparat dari gunung Bromo itu!” sahut 

Pendekar Muka Tengkorak. 

“Bukan…?” desis si kakek buta. 

“Hai, rupanya kalian menyangkah aku Embah Bromo 

Tunggal! Kalian benar-benar keterlaluan. Buka matamu 

lebar-lebar Pendekar Muka Tengkorak. Apakah wajahku 

sama dengan muka dukun jahat itu?!” 

Pendekar Muka Tengkorak tak bisa berkata apa-apa. 

Hanya kedua matanya saja yang memandang tak berkesip. 

Hatinya menyumpah. Dia melakukan pengejaran tadi 

karena menyangka pasti bahwa manusia bungkuk yang 

punya rencana besar mendirikan Partai Merapi Perkasa itu 

sebenarnya adalah Embah Bromo Tunggal yang bernama 

asli Roko Nuwu. Ternayat bukan dia. Mau tidak mau kakek 

ini jadi jengkel dan gemas. Mahesa sendiri kini baru 

menyadari kalau dia diajak mengejar seseorang karena si 

kakek buta maupun si kakek muka tengkorak mengira 

Ketua partai yang gagal itu adalah itu adalah Embah Bromo 

Tunggal. Manusia yang memang dicari-carinya. Ternyata 

kini mereka semua melihat kenyataan bahwa si bungkuk 

bukanlah Embah Bromo Tunggal! 

Gembel Cengeng Sakti Mata Buta kembali mendongak


ke langit sambil usap-usap dagu. Sementara itu manusia 

bungkuk tadi buka mulut berkata: “Jika kalian memang 

tidak mau bergabung dalam partaiku, percua aku lama-

lama di sini. Selamat tinggal para sahabat yang tolol!” 

Lelaki bungkuk itu siap untuk berkelebat pergi. Tapi tiba-

tiba kakek buta sudah menghadangnya. 

“Mataku memang buta. Tapi aku tidak bisa ditipu…’ 

“Apa maksudmu?!” lelaki bungkuk membentak. 

Tampaknya dia sudah kehilangan kesabaran. 

“Ada satu hal lagi yang belum kau lakukan!” kata kakek 

buta pula. 

“Apa?!” sentk si bungkuk masih terus garang. 

“Buka topeng tipis yang menutupi wajah aslimu!” 

Kagetlah si bungkuk kini. 

Mahesa, Sari dan Pendekar Muka Tengkorak juga tak 

kalah terkejutnya. 

***


DELAPAN


TERNYATA MEMANG DIA! 

KACA IBLIS PEMBATAS JAGAT



Kalian semua orang-orang gila!” bentak lelaki 

bungkuk marah. “dan aku tidak mau menghabiskan 

waktu dengan orang-orang macam kalian! 

Menyingkir semua kalau tidak mau mampus!” 

Kakek muka tengkorak kembali tertawa mengekeh lalu 

hidupkan sebatang rokok kawung. Tak ada satu orangpun 

yang tampak mau melepaskan manusia bungkuk yang 

hendak mengangkat diri jadi ketua partai itu. 

“Bagus! Jadi kalian tidak mau menyingkir! Bersiaplah 

untuk mati!” 

Lalu si bungkuk hantamkan tangan kanannya ke depan. 

Segulung asap kelabu menggebubu. 

“Awas! Jangan sampai dia kabur! Gembel Cengeng Sakti 

Mata Buta berteriak memberi ingat begitu dia mendengar 

suara deru dan bau asap. 

Laksana seekor burung elang Sari jatuhkan diri, 

menukik dan cepat sekali dia berhasil mencekal sepasang 

kaki manusia bungkuk tepat sesaat dia hendak melarikan 

diri. Sementara itu Pendekar Muka Tengkorak hembuskan 

asap rokoknya ke depan. Asap rokok ini langsung me-

nembus dan mengobrak abrik asap kelabu yang tadi me-

nutupi pemandangan. 

Karena ketika hendak lari kedua kakinya dicekal Sari, 

orang itu jatuh terbanting ke tanah. Salah satu pegangan 

pada kakinya terlepas. Secepat kilat dia hantamkan 

tumitnya ke kepala Sari. 

Buk! 

Sari yang dulunya dikenal sebagai Ratu Mesum, yang 

selain cantik juga memiliki kepandaian tinggi dan meng


gegerkan dunia persilatan langsung sambut hantaman kaki 

lawan dengan jotosan tangan kiri. Si bungkuk mengeluh 

tinggi. Telapak kakinya serasa remuk. Sakit dan juga marah 

dia memukul ke bawah, namun hanya mengenai tempat 

kosong karena saat itu Sari sentakkan kaki kanannya 

hingga tubuh lelaki itu terguling-guling. Begitu gulingan 

tubuhnya terhenti, seseorang diraskan menginjak lengan 

kanannya, seorang lain menginjak tangan kirinya. 

Memandang ke atas yang melakukan ternyata Mahesa dan 

Pendekar Muka Tengkorak. Karena Sari masih mencekal 

pergelangan kakinya, dengan sendirinya orang itu tak 

berkutik lagi. 

“Nah, nah!” Gembel Cengeng buka suara. Nadanya 

kembali sedih. “Sekarang terpaksa aku membuka kedok-

mu…” dia membungkuk ulurkan tangan ke arah muka 

orang yang terkapar tak berkutik di tanah itu justru saat itu 

orang tersebut buka mulutnya lebar-lebar dan ulurkan 

lidahnya, maka terjadilah satu keanehan luar biasa dan 

juga mengerikan. 

Lidah itu tampak tambah panjang, tambah panjang dan 

berubah menjadi seekor ular merah berbelang hitam. 

Binatang jejadian ini bergerak sebat dan tahu-tahu sudha 

menggelung leher kakek buta. Karena ini merupakan 

binatang buatan, si kakek tidak dapat mengetahui apa 

sebenarnya yang menggelung lehernya. Jika saja itu ular 

sungguhan maka dia dapat mengetahui walau hanya se-

saat. Setelah menyadari apa yang terjadi dia kerahkan 

tenaga dalamnya ke leher. Ular jejadian itu merasa 

kepanasan dan lepaskan gelungnya. Namun kemudian 

ganti mematuk ke wajah si kakek. Saat itulah Pendekar 

Muka Tengkorak cabut rokoknya dan tusukkan bagian yang 

berapi ke mata ular. 

Cess! 

Binatang itu tarik kepalanya. Si kakek tusuk lagi 

matanya yang satu. Kesakitan akhirnya binatang ini 

jatuhkan diri, menjadi kecil dan akhirnya kembali kebentuk 

aslinya yakni lidah yang terjulur.


“Apakah kau ingin menunjukkan ilmu sulapmu yang 

lain…?” bertanya kakek mata buta dengan nada mengejak. 

“Dengar! Kita semua adalah orang-orang gagah dunia 

persilatan. Mari bicara dan berunding secara gagah!” lelaki 

bungkuk yang masih terkapar di tanah itu berkata. 

Ucapannya disambut gelak mengekeh oleh Pendekar 

Muka Tengkorak. “Siapa bilang kau orang gagah! Kau tidak 

lain manusia pengecut, penipu ulung, pengkhianat kawan, 

mencelakai orang-orang tak berdosa dengan ilmu kejimu. 

Aku tidak was-was, kau memang pasti bangsatnya yang 

kucari-cari selama ini!” 

Begitu ucapannya selesai tangan kanan Pendekar Muka 

Tengkorak menyambar ke wajah orang itu. 

Bret! 

Sehelai topeng kulit yang sangat tipis tersingkap dari 

mukanya. Dan kini terlihat tampang yang asli! 

“Dukun keparat Embah Bromo Tunggal!” seru Mahesa. 

Kakek muka tengkorak kembali tertawa. 

Kakek buta keluarkan suara seperti mau menangis. 

Mahesa cepat mengeledah tubuh dan pakaian dukun 

jahat itu. Apa yang dicarinya segera diketemukan. Yaitu 

Keris Naga Biru yang dulu dicuri Embah Bromo Tunggal. 

Setelah meneliti sesaat Mahesa memastikan senjata 

mustika itu benar-benar asli. Selain itu dia juga menemu-

kan dua buah benda lainnya. Yang pertama sebuah buku 

berkulit tebal yang sudha sangat lusuh, penuh dengan 

tulisan dan gambar pohon serta dedaunan. Benda kedua 

sebuah buku yang hanya terdiri dari beberapa halaman 

dan pada bagiannya ada tulisan berjudul “Tujuh Jurus Ilmu 

Silat Orang Katai”. 

“Anak muda, apa yang kau temukan….?” Gembel 

Cengeng Sakti Mata Buta tiba-tiba bertanya. 

“Ada tiga benda kek. Aku mohon petunjukmu. Yang per-

tama Keris Naga Biru yang memang aku sudah lama men-

cari-cari. Dukun ini mencurinya sewaktu trjadi bentrokan di 

Pesantren Nusa Barung. Benda kedua sebuah kitab 

berkulit tebal dan lusuh. Isinya aku belum sempat mem


baca. Selintas ada gambar tanaman. Benda ketiga buku 

tipis berjudul Tujuh Jurus Ilmu Silat Orang Katai. Sekali lagi 

aku mohon petunjukmu….” 

Si kakek buta mendongak ke langit sementara Embah 

Bromo Tunggal masih menggeletak di tanah, terjepit di 

bawah kaki dan pegangan tangan tiga orang itu. 

“Benda pertama yaitu Keris Naga Biru menurut hematku 

boleh kau ambil dan simpan. Tapi ini bukan berarti kau 

pemiliknya. Bagaimanapun juga senjata itu masih simpang 

siur siapa pemiliknya. Sampai kau menemukan pemiliknya 

yang sebenarnya, kau kurasa boleh mempergunakan dan 

merawatnya seperti milik sendiri. Tapi ingat, senjata itu 

setahuku mempunyai pantangan ganas. Tidak boleh di-

cabut sembarangan dari sarungnya. Jika dicabut berarti 

harus ada darah tertumpah dan nyawa binasa. Entah 

nyawa kawan antah nyawa lawan…” 

“Aku mengerti kek. Sekarang bagaimana dengan dua 

benda lainnya ini…?” tanya Mahesa seraya melirik pada 

kakek muka tengkorak. Dia melirik begitu karena ingin me-

lihat bagaimana air muka si kakek. Seperti dituturkan se-

belumnya, setelah terjadi perkelahian di puncak Bromo 

antara Pendekar Muka Tengkorak dengan si dukun jahat, 

kakek muka tengkorak itu pernah menceritakan bahwa dia 

tengah mencari sebuah buku silat yang dicuri oleh Embah 

Bromo Tunggal setelah lebih dulu menipu dan memendam-

nya di bawah sebuah arca. Buku yang dicari kakek muka 

tengkorak itu bukan lain adalah buku Tujuh Jurus Ilmu Silat 

Orang Katai yang kini berada dalam pegangan Mahesa. 

Memperhatikan wajah si kakek nampaknya dia tenang-

tenang saja sambil terus menghisap rokok kawung. 

Kemudian Mahesa memandang kembali pada Gembel 

Cengeng Sakti Mata Buta. Dia berharap orang buta sakti itu 

akan memberikan petunjuk sebagai jalan keluar hingga dia 

tak perlu saling bertarikan urat dengan kakek yang baik itu 

guna memperebutkan buku. 

Setelah mendongak sekali lagi ke langit. Gembel 

Cengeng Sakti Mata Buta membuka mulut.


“Benda kedua, buku berkulit tebal itu mungkin… 

dengan, kataku mungkin ada manfaatnya jika kau miliki. 

Tetapi bagiku jelas seribu kali lebih baik jika segera kau 

musnahkan. Bakar jadi abu…” 

Sampai di situ tiba-tiba Embah Bromo Tunggal berteriak 

memotong: “Jangan… jangan bakar buku itu…. Kalian boleh 

ambil Keris Naga Biru itu. buku silat itu, tapi jangan 

musnahkan bukuku….” 

“Buku celaka itu….” desisinya. “Dengan buku 

pengobatan jahat itulah kau telah menebar malapetaka di 

delapan penjuru angin!” 

“Kalian boleh tukar buku itu dengan sebelah tanganku! 

Sebelah telingaku! Malah sebelah mataku! Tapi jangan 

musnahkan bukuku!” 

Pendekar Muka Tengkorak menyeringai. 

“Buat apa bagi kami telinga atau tangan atau matamu?! 

Anjingpun tak mau menyantapnya!” 

“Jangan, jangan musnahkan buku itu….!” Embah Bromo 

Tunggal meminta setengah meratap. 

“Mahesa! Bakar buku itu cepat!” 

Embah Bromo Tunggal meraung. 

Mahesa keluarkan korek api dari balik pakaiannya. 

Ketika buku tebal yang berisi petunjuk mengenai seribu 

satu macam pengobatan jahat itu mulai terbakar, kembali 

Embah Bromo Tunggal melolong-lolong. Tapi tak ada 

gunanya. Buku tebal kepunyaannya musnah dimakan api, 

berubah jadi debu hitam! 

“Kek, kau belum memberi petunjujk mengenai benda 

ketiga.” Kata Mahesa ketika dilihatnya kakek buta hanya 

tegak diam-diam saja. 

Kini tampak si kakek kerenitkan kening. 

“Ini hal yang sulit bagiku. Aku tahu sahabatku Pendekar 

Muka Tengkorak yang pertama kali memegang kitab tipis 

berisi ilmu silat langka itu. asal muasalnya tidak kuketahui 

dan aku memang tidak mau tahu…” sampai di situ si kakek 

buta mengusap wajahnya seperti menyeka air mata. Lalu 

dia meneruskan: “Kemudian sahabat Pendekar Muka


Tengkorak kena dikibuli Embah Bromo Tunggal. Kitab 

dibawa kaburnya dan sang pendekar sendiri diperdayai 

hingga kena dipendam dibawah arca batu. Bukan begitu 

sahabatku…?” 

Pendekar Muka Tengkorak hanya bisa manggut-

manggut dan mendehem beberapa kali. 

“Aku memang tolol. Mudah saja diperdayai kunyuk 

bungkuk ini! Kalau si buyung ini tidak menolongku pastilah 

aku sudah jadi cacing tanah saat ini. Ha… ha… ha!” begitu 

kata Pendekar Muka Tengkorak yang tetap mengingat budi 

pertolongan Mahesa. 

“Nah… nah… nah…” kakek buta bicara lagi. “Aku 

mengetahui pula kalau anak muda ini harus menjalankan 

amanat orang, yakni tujuh manusia katai si pemilik kitab 

itu. dia harus menemukan kitab yang hilang lalu menyerah-

kannya pada mereka. Nah… nah, kalau begini urusan bisa 

jadi pelik. Kuharap kalian berdua langsung saja 

berunding….” 

Pendekar Muka Tengkorak ambil buku tipis itu dari 

tangan Mahesa, menelitinya beberapa ketikan halaman 

demi halaman lalu berkata. “Ini buku yang asli…” 

“Hai, apakah kalian sudah berunding bagaimana 

baiknya?” tanya kakek buta. 

“Kek, sebelum kami berunding, aku ada satu 

pertanyan.” kata Mahesa. 

“Heh, kau selalu bertanya. Apa yang ingin kau ketahui?” 

“Bagaimana kau bisa tahu kalau aku harus menjalankan 

amanat dari tujuh manusia katai sakti itu…? 

Gembel Cengeng Sakti Mata Buta tersenyum. Dia men-

jawab: “Angin bertiup, dedaunan berdesir. Burung berkicau, 

awan berarak. Ombak berdebur, matahari bersinar dan 

rembulan tersenyum. Semua menebar kabar dan akhirnya 

sampai ke telingaku. Apa susahnya menyirap kabar…?” 

Mahesa dan kakek muka tengkorak hanya bisa saling 

pandang mendengar ucapan itu sementara Sari geleng-

geleng kapala. Perempuan ini sudah lama mendengar 

kehebatan kakek buta tersebut. Dimasa dia gentayangan


dalam kehidupan sesat, maka Gembel Cengeng Sakti Mata 

Buta termasuk salah seorang yang selalu dihindarkannya. 

Untungnya hari ini bertemu tokoh hebat itu dalam suasana 

persahabatan. Kalau tidak mungkin tadi-tadi dia sudah 

mendapat celaka. 

“Sudah selesaikah kalian berunding?” 

“Belum kek. Bagaimana baiknya…?” Mahesa tampak 

bingung. 

Kakek muka tengkorak usap-usap dagunya lalu cabut 

rokok kawungnya dari sela bibir. Sesaat kemudian diapun 

hendak berkata, tetapi tiba-tiba Embah Bromo Tunggal 

yang masih dicekal dan menggeletak di tanah mendahului; 

“Dengar, berikan buku itu padaku. Aku akan berikan satu 

peti perhiasan emas. Cukup banyak untuk kalian bagi 

berempat…!” 

“Dukun busuk!” hardik Gembel Cengeng Sakti Mata 

Buta. “Tidak ada yang mengajakmu bicara. Kalau kau tidak 

mau menutup mulutmu jangan salahkan kalau kuwuruh 

orang mengencingi mulutmu itu…!” habis berkata begitu si 

kakek lalu sesunggukan. 

Karena jengkelnya kakek muka tengkorak tekankan 

kakinya keras-keras ke langan Embah Bromo Tunggal 

hingga dukun ini menjerit kesakitan. Dukun ini menjerit 

tiada hentinya. Dia baru diam setelah Mahesa menampar 

pipinya hingga bibirnya berdarah. 

“Hai! Kalian masih belum mengadakan perundingan! 

Aku tak punya waktu lama-lama di tempat ini!” seru kakek 

mata buta. 

Mahesa tak tahu harus berkata apa. Akhirnya terdengar 

kakek muka tengkorak berkata: “Buyung, jika kau memang 

mendapat amanat dari tujuh orang katai itu, kau ambillah 

buku itu dan pulangkan pada mereka. Memang jelas 

mereka pemiliknya… Aku hanya menemukan buku itu di 

satu tempat. Hanya kebetulan…” 

“Bagus! Kalau begitu kata sepakat sudah membentuk 

penyelesaian!” kakek buta tampak lega. 

“Sekarang apa yang kana kita lakukan dengan kambing


buruk ini?!” tanya Pendekar Muka Tengkorak. “Dia dulu 

pernah menipu dan memendamku dalam tanah. Aku 

tengah memikirkan pembalasan bagaimana harus 

kuberkan…” 

“Jangan… jangan bunuh diriku. Sekujur badanku serasa 

sudah hancur!” ratap Embah Bromo Tunggal. “Aku mohon 

kalian mengampuni selembar nyawaku…!” 

Pelipis Mahesa nampak menggembung. Tanpa melepas-

kan jepitan kakinya di lengan Embah Bromo Tunggal, 

pemuda ini jambak rambut dukun itu. 

“Kau yang menyebabkan ayahku jadi gila! Kau yang 

menggunai ayah sampai dia tidak waras. Katakan padaku 

apa dan bagaimana pengobatan harus dilakukan hingga 

dia bisa sembuh kembali…!” 

“Itu soal mudah… Soal mudah anak muda. Jika kowe 

berjanji mau melepaskanku, kau akan beritahu…” jawab 

Embah Bromo Tunggal. 

Kakek buta tampak geleng-gelengkan kepala dan 

kembali keluarkan suara sesunggukan. 

“Anak muda, jangan kau sampai kena ditipu manusia 

licik jahat ini! Jika seseorang sudah rusak oleh guna-guna 

hampir tak ada satu obat mujarabpun di dunia ini mampu 

mengobatinya. Juga tidak oleh orang yang telah men-

celakainya… Merusak itu mudah, memperbaiki itulah yang 

sulit!” 

“Kalau begitu biar kubunuh dia detik ini juga!” kata 

Mahesa. Tangan kanannya diayunkan ke batok kepala 

Embah Bromo Tunggal. Baik Gembel Cengeng Sakti Mata 

Buta maupun Pendekar Muka Tengkorak apalagi Sari, tak 

satu pun hendak menghalangi apa yang akan dilakukan 

Mahesa. Namun pasa saat itu dikejauhan terdengar 

ledakan amat dahsyat. Tanah di mana mereka berada 

bergoncang keras seperti dilanda gempa. Mahesa ter-

duduk ke tanah. Kakek muka tengkorak terdorong keras ke 

samping. Sari jatuh punggung sedang Gembel Cengeng 

Sakti Mata Buta terhuyung-huyung. Injakan kaki dan 

cekalan orang-orang itu pada tubuh Embah Bromo Tunggal


tanpa sadar terlepas. Kesempatan ini tidak disia-siakan 

dukun jahat itu. secepat kilat dia melompat bangun lalu lari 

ke arah rimba belangkara. Kakek muka tengkorak dan 

Gembel Cengeng Sakti Mata Buta cepat mengejar. Mahesa 

begitu bangun hebdak melepaskan pukulan Api Geledek 

tapi tidak jadi begitu dia ingat pada janjinya untuk tidak 

pernah lai mempergunakan ilmu silat dan kesaktian yang 

pernah dipelajarinya dari gurunya Kunti Kendil. 

Embah Bromo Tunggal sadar sepenuhnya walaupun 

dalam gerakan cepat dia bisa meloloskan diri, namun tak 

mungkin dapat lari jauh. Dalam waktu singkat dua kakek 

sakti itu pasti akan dapat mengejar dan menangkapnya 

kambali. Maka sebelum itu terjadi dia gerakkan tangannya 

ke pinggang lalu memukul ke belakang ke arah para 

pengejarnya. 

Terlihat cahaya menyilaukan menyambar. 

Dilain saat kakek buta dan kakek muka tengkorak yang 

melakukan pengejaran tiba-tiba laksana menumbuk 

tembok tebal keras yang tidak kelihatan. Tubuh keduanya 

tertahan bahkan terpental ke belakang. 

Buk! 

Duk! 

Kakek mata buta benjut keningnya. 

Pendekar Muka Tengkorak berdarah hidungnya. 

Kedua tua renta ini memaki panjang pendek. 

Embah Bromo Tunggal lenyap ke dalam hutan. 

Sari dan Mahesa kaget bukan main. Keduanya serentak 

berdiri dan cepat mengejar. Namun merekapun mengalami 

hal yang sama. Mereka tertahan dan menghantam sebuah 

tembok yang tidak kelihatan. Empat orang itu menggapai-

gapai ke depan dan masing-masing merasakan menyentuh 

benda licin serta keras yang sama sekali tidak dapat dilihat 

oleh pandangan mata. Kakek muka tengkorak melompat 

setinggi tiga tembok. 

Buk! Dia kembali tertumbuk. 

Di atas sana ternyata tembok tak kelihatan itu seperti 

masih menghadang. Dia lari ke arah kanan, lalu ke kiri.


Juga tembok ini seperti tidak ada batasnya. Seolah-olah 

mencuat tinggi ke angkasa dan memanjang tanpa batas! 

“Gila!” maki Pendekar Muka Tengkorak. 

Kakek mata buta geleng-gelengkan kepala. 

“Kaca Iblis Pembatas Jagat!” desisnya. “Ternyata dukun 

keparat itu memiliki ilmu ini. Tak ada yang bisa kita 

lakukan. Kaca iblis itu seolah tidak ada batas tinggi dan 

panjang. Tak mungkin sihancurkan dengan pukulan. Kita 

harus mennggu sampai hitungan keseratus. Dinding kaca 

akan lenyap dengan sendirinya…” 

“Anak setan betul!” ikut memaki Mahesa. “Ini semua 

gara-gara ledakan keras tadi. Apa yang terjadi…?” 

“Bahan peledak yang ditanam dukun jahat itu mungkin 

sekali meledak…” menyahuti kakek muka tengkorak. 

Paras Mahesa berubah. Jika apa yang dikatakan kakek 

muka tengkorak itu betul dan para tokoh silat itu masih 

berada di lereng gunung Merapi, niscaya mereka semua 

menemui ajal, termasuk Kemala. Memikir sampai di situ 

Mahesa segera memutar tubuh. “Aku harus kembali ke 

gunung itu!” katanya. 

“Buyung! Jangan jadi orang gila! Apa yang hendak kau 

lakukan?!” seru si muka tengkorak. 

“Aku harus menyelamatkan kawan-kawan dan saudara 

seperguruanku. Ayahkupun masih di sana…” sahut 

Mahesa, namun yang terbayang olehnya bukan wajah 

Wirapati atau Randu Ampel, melainkan wajah Kemala, 

gads jelita yang diam-diam selalu dikenangnya. 

“Kalau mereka memang celaka, pada saat kau sampai 

di sana kau hanya akan menemui timbunan tanah. Tak 

mungkin kau akan menggali seluruh lereng gunung untuk 

mencari mayat mereka!” kata kakek muka tengkorak. 

“Aku tidak perduli.” sahut Mahesa pula. 

“Anak muda tolol!” kakek buta ikut bicara. “Kalau orang-

orang itu memang sudah jadi mayat, apakah kedatangan-

mu akan dapat menghidupkan mereka kembali?!” 

Sesaat Mahesa jadi ragu kini. 

“Manusia-manusia itu bukan orang-orang tolol! Setelah


tahu ada bahan peledak dalam tanah, mereka tentu akan 

cepat menyingkir!” Sari bicara untuk pertama kalinya. 

Kakek muka tengkorak melirik pada perempuan ini. 

Kakek buta mendongak ke langit. Tiba-tiba dia berseru. 

“Kaca iblis pembatas jagat sudah lenyap! Lekas kejar 

dukun keparat itu!” 

Maka si buta dan si muka tengkorak berkelebat pergi. 

Sesaat Mahesa masih ragu, namun akhirnya lari juga ke 

jurusan lenyapnya dua kakek tadi, diikuti oleh Sari. 

Baru saja masuk sekitar dua puluh langkah ke dlam 

hutan keempat orang itu mendadak menghentikan lari 

masing-masing. Di hadapan mereka tampak Embah Bromo 

Tunggal terguling-guling di tanah sambil memegang luka 

besar yang mengoyak pipinya sebelah kiri. Di depan sana 

tegak menyeringai lelaki bertopi tinggi hitam, di pinggang-

nya terselip sebuah seruling. 

“Ayah!” seru Mahesa hampir tak percaya pada 

penglihatannya. Orang yang barusan disangkanya sudah 

mati tertimbun tanah ledakan gunung kini tegak di 

seberang sana. Di seberang sana. Di sebelahnya berdiri 

gadsi cantik anak murid Malaikat Maut Berkuda Putih. 

***


SEMBILAN


GANASNYA PEMBALASAN 

MENGUJI PENDEKAR GILA 

BERTEMU DAN BERPISAH LAGI



Sari melengak kaget ketika Mahesa berseru 

memanggil ayah. Sambil pegang tangan pemuda itu 

tanda bertanya: “Hai! Siapa yang kau panggil ayah?!” 

Mahesa hendak menjawab tapi memutuskan akhirnya 

untuk diam saja. Matanya memandang ke depan tak ter-

kedip. Sang ayah, yang tangan kanannya tampak merah 

bernoda darah, mencabut suling bambu dari pinggang lalu 

meniupnya. Demikian kerasnya tiupan suling itu hingga 

semua orang yang ada di situ, tak kecuali Gembel Cengeng 

Sakti Mata Buta yang sudah sangat tinggi kepandaiannya 

merasa telinga masing-masing sakit bukan main seperti 

dicucuk jarum! 

Sementara itu Embah Bromo Tunggal yang mukanya 

berkelukuran luka dan darah merangkak bangun. Selagi 

orang itu meniup suling, dan selagi empat orang yang 

barusan datang masih berada dalam keadaan tertegun. 

Inilah kesempatan baginya untuk melarikan diri. Ini adalah 

kesempatan terakhir. Jika diatidak berhasil maka riwayat-

nya pasti akan tamat di tempat itu. dia kumpulkan tenaga. 

Tiba-tiba tubuhnya yang terbungkus melenting dan men-

celat seperti bola. Langsung meninggalkan orang-orang 

yang mengurungnya sejauh hampir empat tombak. 

Mahesa dan Pendekar Muka Tengkorak cepat bergerak 

untuk mengejar. Tetapi sungguh luar biasa. Entah kapan 

dilakukannya, tahu-tahu lelaki bertopi tinggi butut yang 

meniup suling sudah melesat dan menghadang Embah 

Bromo Tunggal dangan suling masih menempel di bibir! 

Membuat dukun jahat ini tertegun seperti patung.


Randu Ampel tutup tiupan sulingnya dengan satu 

lengkingan yang seperti hendak merobek gendang-

gendang telinga. Lalu lelaki malang berotak miring ini 

menyanyikan sebuah tembang yang membuat Embah 

Bromo Tunggal keluarkan keringat dingin sedang Mahesa 

setengah mati berusaha untuk tidak mengucurkan air 

mata. 

Dua puluh tahun silam 

 Di satu malam kelam 

 Tak ada rembulan 

 Tak ada bintang 

 Dari puncak Bromo pangkal bahala 

 Melayang guna-guna durjana 

 Tak ada dosa tak ada salah 

 Anak manusia menerima bencana 

 Membunuh sahabat membunuh istri 

 Dalam keadaan gila lari membawa diri 

 Fitnah kembali kepada fitnah 

 Hutang nyawa dibayar nyawa 

 Hanya kematian yang pantas baginya 

 Walau itu terasa masih enak belaka 

 Jangan dibunuh….jangan dibunuh 

 Biarkan hidup sengsara seumur hidup 

Selesai membawa nyanyian itu, Randu Ampel kembali 

tiup sulingnya. Seperti orang gila Embah Bromo Tunggal 

melompat kian kemari mencari jalan untuk melarikan diri. 

Tetap setiap dia berkelebat, pada saat itu pula Randu 

Ampel tahu-tahu sudah menghadang di depannya. 

“Dukun jahat dukun keparat, aku akan berikan 

kesempatan kabur bagimu. Tapi tubuhmu tak akan kubiar-

kan hidup sempurna!” 

Tiba-tiba suling menempel di bibir itu melesat dan cras! 

Embah Bromo Tunggal menjerit. Kedua tangannya 

menekap mata kirinya yang ditusuk sampai ke dekat 

telinga. Darah luka pada pipi yang terkoyak dan kini di-

tambah darah dari luka pada mata mengucur mengerikan.


Gembel Cengeng Sakti Mata Buta mendongak ke langit 

dan menangis tersedu-sedu. Embah Bromo Tunggal lari 

berputar-putar sambil tiada putus-ptusnya berteriak 

kesakitan. 

Plak! 

Bret! 

Satu tamparan yang disertai betotan keras merobek 

mulut Embah Bromo Tunggal sampai ke pipi kanan. Suara 

jeritannya yang tadi keras mengerikan kini berubah men-

jadi sember seperti kerbau melenguh. 

“Mulut yang pandai menjampai telah kurusak! Mana 

tangan yang meramu obat durjana itu mana…?!” 

Saat itu Embah Bromo Tunggal jatuh tersungkur di 

tanah. Dia menggapai-gapai mencoba bangun. Namun satu 

injakan keras menghancurkan telapak dan jari-jari tangan 

kanannya. 

“Baru tangan kiri. Mana yang kanan…. Mana yang 

kanan…!” teriak Randu Ampel keras sehingga suara jerit 

kesakitan Embha Bromo Tunggal hampir tidak terdengar. 

“Ampun… ampuni selembar nyawaku. Tidak… tidak! 

Bunuh saja aku saat ini. Cepat…! Cepat!” 

Randu Ampel tertawa mengekeh. Di sebelahnya Pudji 

tiba-tiba juga ikut tertawa. “Tangannya yang satu lagi 

Randu! Tangannya yang satu lagi…!” kata gadis ini. 

Randu Ampel membungkuk. Tangan kirinya 

mencengkeram telapak dan jari-jari tangan sebelah kiri 

Embah Bromo Tunggal. 

Kereteeek! 

Tulang-tulang tangan itu hancur luluh! 

“Bikin lubang di perutnya Randu! Bikin lubang di 

perutnya!” teriak Pudji. 

Randu Ampel tertawa panjang. 

Suling di tangan kanannya ditusukkan ke perut dukun 

jahat dari gunung Bromo itu, di bagian pusarnya. Darah 

mengucur. Lolongan kesakitan yang keluar dari mulut sang 

dukun bukan seperti lolongan manusia lagi, tapi lebih 

menyerupai lolongan binatang! Dan belum sampai di situ.


Dengan tumit kirinya Randu Ampel injak tulang kering kaki 

Embah Bromo Tunggal. 

Kraak! 

Kaki itupun patah. 

Ketika Randu Ampel hendak menginjak selangkangan 

orang yang telah merusak jiwa dan kehidupannya itu. 

Pendekar Muka Tengkorak berseru. 

“Itu akan memtaikannya Rndu! Bukankah kau tak ingin 

dia mampus?!” 

Randu Ampel tahan gerakan kakinya. 

“Terima kasih kau memberi peringatan. Tapi aku tak 

suka ada yang ikut campur urusanku, kecuali sahabatku 

Pudji. Jadi kaupun harus mendapat hajaran!” 

Selesai mengucapkan kata-kata itu Randu Ampel 

langsung menyerang Pendekar Muka Tengkorak dengan 

tusukan suling ke arah kening. Demikian cepat dan aneh 

gerakan itu hingga si kakek tidak punya kesempatan 

mengelak. Kalau tidak tubuhnya cepat didorong oleh 

Gembel Cengeng Sakti Mata Buta, pastilah kakek ini akan 

mendapat celaka paling tidak robek kulit keningnya! 

“Hebat…. hebat!” terdengar si kakek buta berkata. “Aku 

tak ingat nama jurusnya. Tapi itu adalah jurus kedua dari 

ilmu Keramat Tujuh Belas. Cuma aneh, dimainkan secara 

terbalik. 

Mendengar kata-kata itu Randu Ampel tahan 

serangannya terhadap Pendekar Muka Tengkorak. Dia 

berpaling pada si kakek. 

“Orang tua buta! Apa hubunganmu dengan Goa Keramat 

Tujuh Belas? Apakah kau setan penghuni goa itu…?” 

Si kakek buta tertawa perlahan. 

“Ditanya malah kau mentertawaiku! Tadipun kau 

membantu manusia jerangkong ini! Jelas kau tidak 

bersahabat terhadapku. Siapa yang berani bertindak begitu 

akan merasakan hajaranku. Kalian berdua boleh maju 

bersama!” 

“Ah, sombong amat orang gila ini!” tukas Pendekar 

Muka Tengkorak dalam hati. Dia mengerling pada Gembel


Cengeng. Dilihatnya kakek buta itu memberikan isyarat 

dengan gerakan tangan. Maka serentak kedua maju 

menyerbu. 

“Jangan keroyok ayahku!” teriak Mahesa. Siapa yang 

tidak kawatir. Dua kakek itu memiliki kehebatan luar biasa, 

yang jarang ada tandingannya dlam dunia persilatan. Dan 

kini mereka mengeroyok ayahnya, seorang yang dia tidak 

tahu memiliki kepandaian sampai di mana, tetapi jelas 

memiliki otak yang tidak waras. 

“Jangan berlaku curang! Dia bukan musuh kita!” Sari 

yang merasakan kekawatiran Mahesa ikut berteriak. 

Tapi dua kakek sakti itu seperti tidak perduli dan terus 

saa menghambur serangan ke arah Randu Ampel. 

Sebelumnya Pendekar Muka Tengkorak pernah berkelahi 

melawan Randu Ampel di puncak Bromo. Dari pengalaman 

itu ditambah serangan mendadak ganas yang tadi dilancar-

kan Randu Ampel sudah cukup membuat si kakek ber-

gerak dengan hati-hati. Dia tidak mau mengirimkan 

serangan berupa hembusan asap rokok. Bagi orang lain 

hembusan asap itu bisa membutakan mata dan melukai 

tubuh. Tapi bagi Randu Ampel, asap itu bisa dipergunakan-

nya untuk melancarkan serangan balik yang dua kali lebih 

ganas. Dan ini sudah dirasakan Pendekar Muka Tengkorak 

di puncak Bromo dulu. 

Mahesa memperhatikan bagaimana Gembel Cengeng 

Sakti Mata Buta menyerang dengan jurus-jurus silat orang 

buta yang sangat lihay. Bukan saja cepat dan tak terduga, 

tetapi disertai tenaga dalam sangat tinggi hingga setiap 

gerakan yang dibuat mengeluarkan suara angin bersiuran 

dan dingin. Pendekar Muka Tengkorak di dalam kehati-

hatiannya melancarkan jurus-jurus silat yang mematikan. 

Untuk beberapa ketika kelihatan Randu Ampel seperti 

terkunci di bawah kecamuk serangan. Mahesa tahu sekali 

jika orang lain yang dikeroyok seperti itu sudah sejak 

gebrakan pertama akan roboh. Diam-diam pemuda ini 

mengagumi kehebatan ayahnya itu. namun menyadari 

kenyataan bahwa kehebatan sang ayah disertai pula


dengan keadaan otak yang tidak waras maka kedua mata 

pemuda ini jadi berkaca-kaca. Sari yang memperhatikan ini 

serta merta hendak membuka mulut, tapi Mahesa 

memberi isyarat agar perempuan itu diam. 

Lima jurus berlalu. Kedua pengeroyok terutama si kakek 

buta jadi terheran-heran karena dia dan muka tengkorak 

masih belum bisa merobohkan lawan. Jangankan me-

robohkan, sempat memukulpun belum! Maka dengan ilmu 

memindahkan suara, yakni bicara tanpa orang lain men-

dengar kecuali orang yang dituju, kakek buta berkata pada 

Pendekar Muka Tengkorak. 

“Sahabatku, puluhan tahun hidup di dunia persilatan, 

sampai jadi tua bangka seperti ini belum pernah aku 

menemui manusia berkepandaian seperti ini! Bagaimana 

pendapatmu. Maksud kita tadi hanya menguji sampai di 

mana kehebatannya. Tapi salah-salah kitabisa celaka!” 

Pendekar Muka Tengkorak menjawab: “Kurasa sudah 

kepalang tanggung. Kita berhenti dia pasti terus mengejar. 

Kita teruskan saja, tetapi hati-hatilah…” 

“Aku pernah meyirap cerita tentang manusia ini. Tapi 

apakah dia benar bapak moyangnya si buyungmu itu….?” 

“Betul,” sahut Pendekar Muka Tengkorak membenar-

kan. Lalu dia cepat-cepat menyingkir ke kiri untuk meng-

hindarkan serangan lawan. Tapi entah bagaimana tahu-

tahu salah satu tangan Randu Ampel berkelebat menusuk 

ke arah lambungnya. Pendekar Muka Tengkorak melompat 

ke belakang sambil memukul. Akibatnya bentrokan lengan 

tak dapat dihindarkan lagi. 

Duk! 

Tampang kakek muka tengkorak tampak berkerut. 

Lengannya seperti dihantam batangan besi! Sakitnya 

bukan kepalang hingga dia terpaksa menggigit bibir untuk 

tidak sampai mengeluh. Bentrokan lengan itu membuat 

tubuhnya miring ke kiri dan hampir jatuh berlutut. Melihat 

lawan dalam kuda-kuda yang sangat lemah tanpa 

perlindungan, Randu Ampel susul serangannya tadi dengan 

satu hantaman tinju kanan ke batok kepala si kakek muka


tengkorak. Randu Ampel seperti tidak memperhatikan 

lawannya yang lain yakni kakek buta. Dia hanya 

memusatkan perhatian pada pukulan yang dirasakannya 

pasti akan memecahkan kepala si muka Gembel Cengeng 

Sakti Mata Buta menghantam keras bagian bahu dekat 

dada kanannya. 

Hantaman tangan kanan Randu Ampel melebar ke 

samping dan hanya meyerempet pelipis Pendekar Muka 

Tengkorak. Tubuh Randu Ampel roboh ke kanan akibat 

hantaman Gembel Cengeng, tetapi hebatnya, dilain kejap 

dia sudah berdiri lagi sambil melancarkan serangan 

balasan ke arah dada si kakek buta. Justru pada saat itu si 

kakek buta masih berdiri tertegun sambil usap-usap tinju 

kirinya yang merah dan berdenyut sakit. 

“Kek! Awas serangan pada dadamu!” 

Mahesa berteriak memberi peringatan. 

Cepat si kakek buta menghindar, tapi tak urung dada 

pakaiannya yang compang camping masih kena tersambar 

serangan Randu Ampel hingga robek. Karuan saja kakek 

buta ini keluarkan suara menangis. “Bajuku! Bajuku jadi 

tambah buruk! Robek…!” 

“Kakek buta.” Kata Pendekar Muka Tengkorak. Seperti 

tadi dia bicara tanpa terdengar orang lain. “kini aku 

terpaksa menghentikan perkelahian gila ini. Kita tidak 

perlu malu. Dari pada celaka…” 

“Rasanya sku harus belajar dua puluh tahun lagi…” 

sahut Gembel Cengeng Sakti Mata Buta. “Hanya ada satu 

cara untuk mengalahkannya…” 

“Maksudmu?” 

“Memperalat otak gilanya!” 

“Sudahlah, aku tak berminat lagi menguji ke-

pandaiannya….” Kata Pendekar Muka Tengkorak pula. 

“Terserah padamu, aku tetap ingin mengujinya!” kata 

kakek buta pula. Lalu diapun berkelebat dalam gerakan 

aneh. Sambil menyerang dari mulutnya tiada henti keluar 

ucapan-ucapan yang menggangu jalan pikiran lawan. 

“Randu Ampel… Randu Ampel…. Aku datang. Lihat…


lihat, aku datang. Aku istrimu. Apa kau lupa padaku 

Randu…” 

Wajah Randu Ampel tampak berubah. Suara itu 

didengarnya dari sebelah kiri. Berpaling ke jurusan itu dia 

tidak melihat siapa-siapa. Lalu suara tadi muncul lagi, kini 

datang dari sebelah kanan. “Aku datang membawa 

pakaianmu Randu. Pakaian kebesaran untuk 

penobatanmu jadi Adipati. Lihat Randu bagusnya pakaian 

ini. Kau pasti gagah memakainya…” 

Gerakan-gerakan Randu Ampel berubah menjadi 

perlahan. Pandangan matanya berputar dan kepalanya 

dipalingkan kian kemari. Saat itulah satu pukulan meng-

hantam pertengahan dadanya, tepat dan telak serta keras. 

Tubuh Randu Ampel mencelat. Mahesa berseru tegang. 

Kakek buta mendongak. Seprti tadi tangannya yang me-

mukul terasa sakit. Naun kini hatinya puas karena ternyata 

dia akhirnya dapat merobohkan lawan. Tapi rasa puas si 

kakek hanya seketika. Karena tubuh Randu Ampel yang 

mental dan jatuh punggung di tanah itu tiba-tiba kelihatan 

melayang ke atas, lalu menukik membentuk setengah 

lingkaran. Sebelum sempat berbuat sesuatu, kakek buta 

merasakan leher pakaiannya dicengkeram orang dan 

tubuhnya terangkat ke atas. Secepat kilat kakek ini mem-

balik dan melepaskan tiga kali pukulan berantai tapi aneh! 

Walau dia merasa jelas pukulannya itu mengenai tubuh 

lawan namun tinju-tinjunya seperti tengelam dalam 

tumpukan kapas lembut. Selagi dia terheran-heran, tubuh-

nya tahu-tahu dibantingkan lawan ke bawah hingga ter-

hentak di tanah. Kalau bukan orang tua sakti ini yang 

mengalami itu, pasti tulang-tulangnya sudah pada ber-

patahan! Si kakek bangkit dan memandang dengan 

sepasang mata butanya pada Randu Ampel. Wajahnya 

menunjukkan rasa kagum. Lalu dia geleng-geleng kepala. 

“Hebat… hebat! sayang otaknya tidak waras…” kata si 

kakek dalam hati. 

Randu Ampel sendiri saat itu tampak beringas. 

Sepasang matanya tampak bertambah merah. Dia


melangkah mendekati Gembel Cengeng Sakti Mata Buta 

dengan sepasang tangan terpentang. 

“Ayah! Hentikan perkelahian ini! Kedua orang itu tidak 

sungguhan melawanmu! Mereka sahabat dan orang-orang 

tua yang aku hormat! Aku banyak berhutang budi padanya! 

Hentikan perkelahian!” 

Randu Ampel hentikan langkahnya. Sesaat dia masih 

memandang pada kakek buta. Perlahan-lahan kemudian 

kepalanya dipalingkan pada Mahesa. Lama dia menatap 

wajah pemuda itu dengan pandangan garang mula-mula. 

Lalu seperti menyelidik, akhirnya pandangannya menjadi 

sayu. Suaranya kemudian terdengar bergetar. 

“Aku tidak kenal kau. Adalah aneh kalau kau memanggil 

aki ayah. Atau…. Mungkin otakmu kurang waras. Ha… ha… 

ha! Atau apakah kedua kakek yang katamu sahabatmu itu 

yang menyuruh kau berkata begitu dengan kepandaian 

bicara tanpa suara…?” 

Kakek buta dan kakek mka tengkorak terkejut saling 

pandang. Luar biasa dan hampir tak dapat mereka 

percaya. Bagaimana Randu Ampel tahu kalau tadi-tadi 

mereka telah bicara tanpa suara? 

“Manusia gila ini kepandaiannya seperti menyamai 

malaikat…!” ujar kakek muka tengkorak berbisik pada 

Gembel Cengeng Sakti Mata Buta. 

Randu Ampel masih memandangi Mahesa. Dan 

meneruskan ucapanya tadi. “Seingatku bukan sekali ini 

kita bertemu. Setiap bertemu kau selalu memanggil aku 

ayah…” 

“Aku memang anakmu…” 

“Bagaiman mungkin! Kau pasti gila! Aku tak punya istri. 

Istriku meninggal hampir dua puluh tahun yang silam…” 

“Istrimu itulah yang melahirkanku. Istrimu itulah 

ibuku…” 

“Ngacok!” hardik Randu Ampel. Meski menghardik tapi 

anehnya wajahnya tidak menunjukkan perasaan marah. 

“Bagaimana aku harus menerangkan…” Mahesa jadi 

bingung. Mulutnya tercekat. Akhirnya dia berkata juga.


“Kalau… kalau kau tidak mengakuiku sebagai anak, tidak 

jadi apa. Tapi bagiku kau tetap ayahku. Kau mau 

menghentikan perkelahian bukan?” 

Randu Ampel tak menjawab. Dia memandang pada 

kakek buta dan kakek muka tengkorak. Kedua tinjunya di-

kepalkan. Dua kakek itu terpaksa berjaga-jaga. Siap 

menunggu segala kemungkinan. Mahesa berpaling pada 

Pudji dan mengharap perempuan muda itu mau berbuat 

sesuatu. Kelihatannya hanya padanya sang ayah mau 

menurut. 

Pudji yang juga berotak miring ternyata masih mampu 

menangkap arti pandangan Mahesa. Maka diapun berkata: 

“Randu, aku tak suka lama-lama di tempat ini. Kita pergi 

saja sekarang. Apalagi… bukankah kau sudah menemui 

musuh besarmu si dukun jahat itu? dan dia sudha 

menerima hukumannya?” 

Randu Ampel alihkan pandangan pada Pudji. Lalu dia 

mengangguk. “Memang kita harus pergi.” Katanya. Dia 

cabut suling yang diselipkan di pinggang, sambil memutar 

tubuh dia mulai meniup suling itu. lalu sambil berjalan 

setengah berlari terdengar dia menyanyi. 

Istriku tidurlah dengan tenteram 

 Istriku tidurlah dengn tenang 

 Manusia jahat itu telah kutemui 

 Manusia jahat itu sudah mendapat hukumannya 

 Tidurlah tenang 

Hanya aku ingin bertanya 

Apakah dapat kau menjawab dan bercerita 

 Betulkah kau pernah melahirkan seorang putra? 

 Betulkah... betulkah….? 

Randu ampel dan Pudji lenyap di kejauhan. Mahesa 

bergerak hendak mengejar. Sari siap mengikuti. Tapi 

Gembel Cengeng Sakti Mata Buta cepat memegang bahu 

pemuda itu. 

“Jangan kau kejar dia. Saat ini tak ada gunanya, anak 

muda. Sulit baginyamenerima kenyataan dengan otak tidak


waras seperti itu. kenyataan bahwa kau adalah anaknya. 

Jika kau memaksa, bisa jadi da akan membunuhmu…” 

habis berkata begitu si buta ini menangis sesunggukan. 

Mahesa pun ikut hanyut. Air mata mengalir ke pipinya. Sari 

tertunduk haru sedang Pendekar Muka Tengkorak 

memandang ke rah kejauhan. Sesaat suasana di tempat 

itu menjadi sunyi, hanya suara erangan Embah Bromo 

Tunggal yang mengeletak di tanah yang terdengar. 

“Aku harus pergi sekarang.” kata kakek muka 

tengkorak. 

“Kek, apakah kita masih bertemu…?” tanya Mahesa. 

“Heh… apakah kau kira aku akan segera mati? Buyung 

selama bumi masih berputar, selama tubuh bobrok ini 

masih bernafas kita pasti akan bertemu lagi…” habis ber-

kata begitu kakek ini tepuk-tepuk bahu Mahesa, menjura 

pada Gembel Cengeng lalu berkelebat pergi. 

“Akupun harus pergi…” kakek buta berkata dengan 

wajah sedih. “Namun ada beberapa hal yang perlu ku-

bicarakan denganmu…” 

Ucapan kakek buta terputus oleh seruan Sari. “Hai! 

Lihat! Dukun jahat itu hendak melarikan diri!” 

Kakek buta mendongak ke langit. Mahesa cepat ber-

paling. Memang saat itu merasa dirinya bebas, Embah 

Bromo Tunggal cepat berdiri. Namun dengan satu kaki 

patah begitu, dia cuma mampu berjalan tiga langkah lalu 

roboh terjengkang di tanah tak berkutik selain hanya bisa 

mengerang. 

“Ada beberapa hal yang perlu kubicarakan denganmu 

anak mua.” Mengulang kakek buta. Dipegangnya bahu 

Mahesa lalu dibawanya cukup jauh dari Sari. Hal ini 

memang disengaja kakek buta karena ada sebagian pem-

bicaraan yang dia tak ingin perempuan itu mendengarnya. 

“Pertama ini.” Kata Gembel Cengeng seraya mengeluar-

kan dua buah benda dari balik pakaian rombengnya. 

Ketika Mahesa memperhatikan ternyata benda itu adalah 

dua batang rokok daun jagung. Rokok kemenyan. Gembel 

Cengeng serahkan sebatang rokok pada Mahesa.


“Nyalakan rokokmu, lalu nyalakan rokokku. Mari kita sama-

sama merokok dulu…” 

Mahesa menuruti apa yang dikatakan si kakek meski 

dia tidak mengerti apa sebenarnya tujuan orang tua itu. 

Dua batang rokok yang dihisap itu menebar bau menyan 

yang santar sekali. 

“Seperti bau rumah orang yang kematian. Angker seperti 

di kuburan…” kata Mahesa. 

“Tepet!” Gembel Cengeng menjawab. “Rokok kawung 

tidak pantas untukmu. Rokok menyan ini lebih tepat. Ingat, 

kau lahir di perkuburan bukan…? 

“Memang benar, kek.” 

“Kau seorang pemuda. Seorang pendekar. Karenanya 

kau layak mendapat julukan Pendekar Dari Liang Kubur. 

Aku mau, jika kau muncul di suatu tempat dan orang men-

cium bau rokok kemenyanmu, maka mereka segera tahu 

bahwa Pendekar Dari Liang Kubur ada di tempat itu…” 

Mahesa hampir tertawa gelak-gelak. 

“Kau ini ada-ada saja kek. Aku tidak menginginkan gelar 

atau julukan yang hebat. Apalagi julukan aneh seperti itu…” 

“Kau lupa anak muda. Dunia ini memang penuh 

keanehan. Banyak manusia yang dilahirkan secara aneh. 

Dan berapa saja mereka yang mati dalam keanehan. 

Karenanya tidak aneh kalau kau memakai julukan aneh 

itu…. Eh, menurutmu bagaimana rasa rokok itu. Enak…?” 

“Boleh juga. Lebih mantap dari rokok kawung memang. 

Tapi baunya seperti hendak membuatku mabuk!” 

“Nantipun kau akan terbiasa. Nah sekarang hal kedua. 

Hal terakhir yang ingin ketanyakan padamu…. Sudah lama 

kau berhubungan dengan perempuan itu…?” 

Mahesa terkejut. “Perempuan mana maksudmu kek…?” 

“Anak tolol. Apa ada perempuan lain di tempat ini?” 

Sadar kalau yang dimaksudkan si kakek adalah Sari 

maka Mahesa menjawab. “Belum berapa lama kek. Baru 

beberapa bulan saja. Jangan kau salah sangka. Aku tak 

ada hubungan yang tidakbaik dengannya…” 

Si kakek menyeringai. “Saat ini memang mungkin tidak.


Tapi jika seiring berjalan ke mana pergi, lama-lama bisa 

kejadian. Tapi itu urusan kalianlah. Aku tua bangka begini 

tidak mau ikut campur urusan orang-orang muda. Asal saja 

kau dapat menjaga diri, anak muda. Hidungku membaui 

sesuatu yang harum. Berasal dari tubuh perempuan itu. Ini 

mengingatkan aku pada seorang perempuan cantk yang 

pernah menggegerkan dunia persilatan. Cantik tapi buas. 

Bukankah temanmu itu perempuan yang berjuluk Ratu 

Mesum…?” 

“Kau… kau benar kek. Tapi dia tidak seperti dulu lagi. 

Kurasa dia sudah tobat dan mau menempuh hidup baik-

baik…” 

“Aku tak tahu hal itu anak muda. Perjalanan hidup 

masih panjang. Kau harus membuktikan sendiri. Hanya 

aku menaruh firasat, bukan mustahil dia akan mendatang-

kan bencana bagi dirimu…” 

Mahesa terdiam. “Kalau begitu apa yang harus ku-

lakukan…?” 

“Perempuan itu menyukaimu anak muda. Mungkin dia 

mencintaimu. Sebaliknya aku tak tahu apa kau juga men-

cintainya…” Sesaat wajah Mahesa menjadi merah. Kakek 

buta meneruskan kata-katanya: “Kau harus hati-hati 

Mahesa. Ingat, banyak orang yang jadi korban karena 

kebaikan hatinya sendiri…. Kuharap kau jangan jadi orang 

tolol seperti itu!” 

“Nasihatmu akan kuperhatikan kek…” 

Si kakek tersenyum. Tapi tiba-tiba saja senyumnya 

lenyap dan wajahnya berubah sedih. Sesaat kemudian 

diapun mulai menangis. 

“Aku harus pergi anak muda. Perhatikan kawanmu yang 

cantik itu. Yang lebih penting jaga dirimu baik-baik…” 

“Kek…” Mahesa ingin minta petunjuk mengenai 

hubungannya lebih lanjut dengan gurunya Kunti Kendil. 

Tetapi astaga, barusan bicara si kakek buta sudah lenyap! 

“Apa yang kalian bicarakan kasak kusuk…?” tanya Sari 

sambil melangkah mendekati Mahesa. 

“Dia memberikan banyak nasihat padaku. Meminta aku


agar cepat mengembalikan kitab silat milik tujuh orang 

kata itu.” Jawab Mahesa berdusta. 

“Hemm, begitu..?” ujar Sari, “Kalau begitu apa lagi yang 

kita tunggu di sini…” 

“Ya, sebaiknya kita pergi. Tapi aku ingin kembali dulu ke 

lereng gunung Merapi. Ledakan dahsyat tadi tentu banyak 

makan yang celaka…” Mahesa keluarkan kerudung kain 

merahnya dan segera mengenakannya. Sari melakukan hal 

yang sama. Baru saja keduanya hendak bergerak pergi 

tiba-tiba terdengar panggilan Embah Bromo Tunggal me-

rintih-rintih. 

“Anak muda, jangan tinggalkan diriku di sini. Tolong… 

bawa aku ke mana kalian pergi. Ke desa atau kampong ter-

dekat…” 

“Anak setan! Kau pantas mampus busuk di tempat ini! 

Biar mayatmu hancur digerogoti binatang hutan!” 

“Tolong. Kasihani diriku sekali ini saja. Dudukkan aku di 

bawah pohon sana. Hanya itu pintaku. Apakah kalian 

begitu tega….?” 

Mahesa melangkah pergi. Tapi Sari berpaling sebentar 

pada Embha Bromo Tunggal. “Mahesa, kalau cuma minta 

tolong brgitu aku tak keberatan melakukannya…” 

Ketika Sari hendak menolong dukun jahat itu, selintas 

pikiran muncul dibenak Mahesa. Dukun itu bukan saja 

jahat tetapi juga sangat licik. Karenanya cepat-cepat dia 

melangkah mendekati seraya berkata: “Biar aku yang 

menyeretnya ke dekat pohon itu!” 

Mahesa lalu tarik salah satu kaki Embah Bromo Tunggal 

dan mencampakkan tubuh dukun itu di bawah pohon. 

“Terima kasih. Sekali lagi kumintakan kebaikan hatimu. 

Sandarkan punggungku ke batang pohon. Kalau aku hidup 

kelak au tak akan melupakan kebaikanmu…” 

“Anak setan!” maki Mahesa. “Pintamu banyak amat!” 

Namun dia membungkuk juga untuk mengangkat tubuh 

Embah Bromo Tunggal walaupun dengan gerakan kasar. 

Saat itulah secara tidak terduga, tangan kanan sang dukun 

menyelinap cepat ke balik pakaian Mahesa. Dilain kejap


dia telah berhasil menarik lepas Keris Naga Biru keluar dari 

sarungnya! Berarti ada darah yang tertumpah. Ada nyawa 

yang harus melayang! 

***


SEPULUH


AKHIRNYA MATI JUGA 

REJEKI BESAR TAK TERDUGA


Anak setan!” maki Mahesa marah sekali karena 

kebaikannya dibalas dengan pengkhianatan licik dan 

keji. Lutut kirinya diangkat menahan ayunan tangan 

Embah Bromo Tunggal yang menikam. Begitu serangan lain 

orang tertahanMahesa hantamkan tepi telapak tangan 

kirinya ke bawah. 

Kraak! 

Embah Bromo Tunggal menjerit. Tangannya di atas siku 

hancur dagingnya dan remuk tulangnya. Keris Naga Biru 

terpental lepas. Mahesa cepat menangkapnya dengan 

tangan kiri. Begitu hulu keris berada dalam genggamannya, 

senjata mustika yang mengandung racun ganas ini 

langsung dihunjamkannya ke leher Embah Bromo Tunggal. 

Dari tenggorokan dukun jahat itu terdengar suara 

seperti ayam disembelih. Mayanya yang masih utuh mem-

beliak, mulutnya yang robek terbuka lebar. Lidahnya ter-

julur. Tubuhnya kemudian tergelimpang roboh di akar 

pohon! Bengkak membiru akibat racun ganas Keris Naga 

Biru. 

“Diberi madu minta racun!” desis Mahesa. “Diberi susu 

membalas dengan tuba! Mampuslah!” 

“Itu memang pantas baginya.” Sari menimpali. “bagai-

mana sekarang?” tanya perempuan itu kemudian. 

“Aku akan kembali ke gunung Merapi…” sahut Mahesa. 

“Heh…?” 

“Aku akan menyelidiki ledakan dahsyat tadi.” Lalu 

tanpa banyak berkata apa-apa lagi Mahesa tinggalkan 

tempat itu, berlari kencang menuju lereng gunung Merapi. 

Sari mengikuti dari belakang. Karena ingin sampai lebih


cepat Mahesa sengaja menempuh jalan memintas. Tak 

selang berapa lama ketika dia sampai dibekas dilangsung-

kannya upacara peresmian Partai Merapi Perkasa itu, yang 

ditemuinya hanya sebuah lubang luar biasa besarnya di 

lereng gunung. Pohon-pohon dan batu-batu besar serta 

bekas panggung yang terbakar dan bekas tempeat duduk 

lenyap oleh timbunan tanah gunung. Mahesa memandang 

berkeliling. Tak seorangpun yang terlihat. Tak tampak 

sesosok tubuh hidup atau mati di tempat ini sebelum 

ledakan terjadi? Atau mereka semua telah mati tertimbun 

reruntuhan tanah? Pemuda ini coba menggali setumpuk 

timbunan tanah yang mencurigainya. Tapi tidak ditemuinya 

apa-apa. 

“Mungkin mereka semua sudah pergi sebelum ledakan 

Mahesa…” kata Sari yang mengetahui apa arti perbuatan 

pemuda itu. Cuma dia tidak tahu siapa yang sebenarnya 

dikawatirkan pemuda itu. Gurunya atau orang lain…? 

“Mungkin Sari… mungkin…” menyahuti Mahesa degnan 

suara agak tersendat. 

“Kita pergi sekarang…?” 

Pemuda itu diam sesaat. Akhirnya mengangguk. 

Ketika menuruni lereng gunung Merapi mereka sengaja 

menempuh jalan lain. Yakni jalan yang sebelumnya dilalui 

orang-orang yang sengejar Lembu Surah. Sekitar beberapa 

ratus langkah berlari Mahesa berhenti dan memberi isyarat 

pada Sari, seraya berbisik. 

“Aku mendengar suara orang menangis…” 

“Aku juga. Suara perempuan…” ujar Sari. 

Mengendap-endap dibalik belukar keduanya melangkah 

kejurusan datangnya suara orang menangis itu. Sesaat 

kemudian Sari mencekal lengan Mahesa dan menunjuk ke 

depan. Dari balik semak belukar mereka melihat seorang 

nenek berambut putih oanjang awut-awutan duduk 

menjelepok di tanah sambil menangis dan memangku 

sesosok tubuh yang berlumuran darah, diam tak bergerak 

entah pingsan entah mati. 

“Bukankah… bukankah itu gurunu….?”


Mahesa cepat memberi isyarat agar Sari tidak 

mengeluarkan suara ataupun bergerak karena kawatir 

akan didengar orang. 

Nenek yang duduk menangis itu memang adalah guru-

nya, Kunti Kendil. Manusia yang paling dihormatinya, tetapi 

yang telah membuatnya sangat kecewa seumur hidup. 

Kunti Kendil menangis sambil memangku sosok Lembu 

Surah yang berada dalam keadaan mengerikan. Kedua 

tangannya kini tampak buntung. Darah membasahi baju-

nya. Lalu di sebelah bawah, celananyapun basah oleh 

darah. Maseha tak dapat memastikan apa yang telah 

terjadi. 

“Sesuatu terjadi sewaktu kita pergi tadi…” bisik Sari. 

“Diamlah, aku tidak ingin nenek itu mengetahui 

kehadiran kita di sini!” balas bisik Mahesa.namun dia 

setuju dengan ucapan Sari. Rupanya setelah mereka pergi 

terjadi perkelahian di lereng Merapi sebelah sana para 

tokoh pasti mengeroyok kedua orang itu. Lalu karena 

hanya Lembu Surah yang celaka? Sedang Kunti Kendil 

tampaknya tak kurang suatu apa. 

“Surah…. Surah! Kau dengarlah Surah!” terdengar 

ratapan Kunti Kendil diantara tangisannya. “Kau tak boleh 

mati…. Kau tak boleh mati! Kau harus menyaksikan pem-

balasanku! Aku bersumpah Surah!” 

Seperti dituturkan sebelumnya, setelah Lembu Surah 

roboh luka parah, tubuh Kunti Kendil yang berada dalam 

keadaan tertotok ikut tergelimpang jatuh ke tanah. Setelah 

beberapa lama kemudian totokan yang membuat tubuhnya 

kaku terlepas dengan sendirinya. Cepat nenek ini lepaskan 

totokan yang menutup jalan suaranya lalu memeluki tubuh 

Lembu Surah. Tubuh itu kemudian dipangku dan ditangisi. 

“Surah…. Surah suamiku…. Kau tak boleh mati. Kau tak 

boleh mati…!” ratap Kunti Kendil kembali. Lalu tangan 

kirinya bergerak kemuka, menarik lepas sehelai kulit tipis 

yang menutupi wajahnya yang keriput. Dan dibalik wajah 

buruk itu kini tampak sebuah wajah perempuan muda yang 

cantik sekali. Mahesa sama sekali tidak terkejut melihat


hal ini karena sebelumnya dia telah menyaksikan kejadian 

yang sama di puncak pegunungan Iyang. Lain halnya 

dengan Sari. Perempuan ini sempat mengeluarkan seruan 

tertahan saking kagetnya. Celakanya seruan itu terdengar 

oleh Kunti Kendil. Sepasang mata “si nenek” berwajah 

cantik membeliak besar. Wajahnya membersit sinar 

garang. Dia memandang kejurusan semak belukar di 

depannya dan membentak. 

“Bangsat! Siapa yang bersembunyi di sana?! Lekas 

keluar!” 

Mahesa dan Sari tidak bergerak. 

“Anak setan! Kurang ajar!” Kunti Kendil memaki. Tubuh 

Lembu Surah diturunkannya dari pangkuan dan 

dibaringkan di tanah. Perlahan-lahan dia berdiri. Tangan 

kanannya diangkat lalu dihantamkan ke depan. Sinar 

merah berkiblat. Pukulan Api Geledek merambas semak 

belukar, membuatnya hancur berantakan dan beterbangan 

ke udara dalam keadaan hangus. Namun tak ada seorang-

pun dilihat Kunti Kendil dibalik semak belukar yang hancur 

itu. Pada saat sang guru mengangkat tubuh Lembu Surah 

dari pangkuannya. Mahesa yang melihat gelagat tidak baik 

cepat menarik lengan Sari dan tinggalkan tempat per-

sembunyian mereka hingga keduanya terhindar dari 

pukulan maut tadi. 

Penasaran Kunti Kendil melangkah menuju semak 

belukar itu. Namun langkahnya tertahan ketika dibelakang-

nya terdengar Lembu Surah merintih. 

“Kunti… di mana kau. Jangan tinggalkan aku…. Mungkin 

sebentar lagi aku akan mati. Kunti…” 

Kunti Kendil hentakkan kaki kanannya ke tanah hingga 

tanah berlubang dalam. 

“Tidak Surah! Kau tidak akan mati! Kau tidak boleh mati 

sebelum melihat pembalasan yang akan aku lakukan…!” 

“Bawa aku ke tempat yang sejuk Kunti…. Aku ingin mati 

dengan tenang…” 

Kunti Kendil kucurkan air mata. “Surah, kau tidak akan 

mati. Aku akan bawa kau ke puncak Iyang. Jika ajal


memang akan sampai, kita mati bersama di sana…” 

perempuan itu lalu mengangkat tubuh Lembu Surah 

setelah terlebih dulu melakukan beberapa kali totokan di 

tempat-tempat tertentu. Sesaat sebelum pergi dia masih 

memandang kejurusan semak belukar dengan wajah 

penasaran. Namun akhirnya dia pergi juga dari tempat itu. 

Sari tarik nafas lega. 

“Dia sudah pergi. Bagaimana dengan kita….?” 

“Kitapun harus pergi.” Jawab Mahesa. 

Keduanya keluar dari balik pohon besar tempat mereka 

bersembunyi ketika Kunti Kendil lepaskan pukulan sakti-

nya tadi. Tetapi baru saja melangkah mendadak terdengar 

suara berisik campur aduk. Ada suara seperti orang bersiul, 

ada seperti suara tawa cekikikan. Ketika suara itu sirna 

tiba-tiba terndengar suara nyanyian. 

Sepasang anak manusia berkerudung merah 

 Seperti malu menyembunyikan muka pada dunia 

 Yang satu pemuda gagah 

Satu lagi perempuan jelita 

Di tengah rimba belantara 

Di lereng gunung bencana 

Perjalanan nasib membawa kaki ke sini 

Peruntungan masa depan di tangan Illahi 

Hik… hik… hik… hik… hik… 

Mahesa segera mengenali suara ramai yang bernyanyi 

itu. Dia mendongak ke arah pohon besar sebelah kiri dari 

mana datangnya suara nyanyian tadi. Tapi anehnya dia 

tidak melihat apa-apa di sana. 

“Aku seperti mengenali suara itu…. Aku pernah men-

dengarnya sebelumnya…” kata Sari. Diapun memandang 

ke atas mencari-cari. 

Sesaat kemudian kembali terdengar suara orang suara 

anak-anak menyanti.


Dulu cantik 

Sekarang tetap cantik 

Dulu ganas dan keras 

Sekarang lembut menawan 

Jatuh cinta memang bisa merubah manusia 

Hik… hik… hik… 

Wajah Sari di balik kerudung menjadi merah. Entah 

mengapa dia merasa nyanyian tadi merupakan sindiran 

yang ditujukan padanya. Dia cepat membuka mulut hendak 

meneriakkan sesuatu. Tapi Mahesa cepat mendahului. 

“Kawan-kawan, aku tahu kalian dtang untuk menjemput 

kitab itu. Keluarlah. Kitab itu segera akan keserahkan pada 

kalian….!” 

Tujuh benda seperti bola bergulung keluar dari tujuh 

penjuru, lala tegak berdiri di hadapan Mahesa dan Sari, 

berjajar rapi membentuk barisan warna warni. Ketujuhnya 

memperlihatkan tingkah lucu. Ada yang mengedip-

ngedipkan matanya pada Sari, ada yang menekap hidung. 

Lalu ada pula yang menark-narik kedua pipinya. Yang di 

ujung kiri sengaja menjuling-julingkan mata. Kawan di 

sebelahnya menjulurkan lidah. Lalu yang satu lagi di ujung 

kanan menggoyang-goyangkan pinggul seperti menari. 

“Tujuh manusia katai! Hai! Kalian pasti yang tempo hari 

menggangguku di bangunan gudang tua itu…!” Sari 

berseru. Hatinya jengkel tapi diam-diam di balik kerudung 

wajahnya tersenyum. “Kalian datang hendak memper-

mainkanku lagi?” 

“Hik… hik… hik!” si katai baju putih tertawa. “Dulu lain 

sekarang lain. Dulu kami tidak suka padamu, tapi sekarang 

suka….” 

“Aku tidak butuh rasa sukamu!” jawab Sari. 

“Tentu saja!” menyahuti si katai baju merah. “Mana ada 

rasa suka terhadap kami dihatimu. Tapi bagaimana kalau 

yang suka itu pemuda sahabat kami itu….?” 

Tujuh orang katai itu kemudian tertawa riuh rendah. Ada 

yang bertepuk-tepuk.


Sari melangkah maju. Tujuh orang katai memencar 

menyebar. Si baju biru berkata: ‘Kawan-kawan, dia hendak 

mengajak kita menari.” 

“Wah! Bagus sekali kalau begitu!” menyahuti si baju 

kuning. 

Orang katai berbaju putih menimpali. “Aku ingin sekali 

memegang tangannya yang halus…” 

Kembali tempat itu ramai oleh gelak tawa mereka. 

“Tubuhnya masih harum seperti dulu…!” orang katai 

berbaju hitam menyeletuk sambil mendongak ke atas dan 

mencium-cium. 

“Kalian nakal semua! Akan kujewer satu persatu!” 

mengancam Sari. 

Ketujuh orang katai itu serentak maju ke muka dan 

mengangsurkan telinga masing-masing. Seperti ingin 

berebut agar dijewer duluan. Hal ini membuat Sari tidak 

tahu harus melakukan apa. 

Mahesa tersenyum-senyum. 

“Kawan-kawan, aku gembira bertemu lagi dengan kalian 

semua. Amanat kalian telah kujalankan. Kitab silat itu ada 

padaku. Sebenarnya aku memang berniat mencari kalian. 

Bagusnya kalian tahu-tahu sudah datang kemari hingga 

aku tak usah susah payah….” 

Si hijau menjawab. “Bukankah kami berjanji untuk 

datang mengambilnya…?” 

“Ya… ya aku ingat.” Mahesa lalu mengeluarkan kitab 

Tujuh Jurus Ilmu Silat Orang Katai yang berhasil diambilnya 

dari tangan Embah Bromo Tunggal. Buku itu diserahkan 

pada si katai baju merah. 

Tapi si baju merah ini bukan menerima malah me-

mandang pada kawan-kawannya lalu tertawa gelak-gelak. 

“Hai! Kenapa kalian tertawa?” tanya Mahesa tak 

mengerti. 

“Buku itu milikmu!” kata si merah. 

Mahesa terkejut heran. “Sahabat. Buku ini jelas milik 

kalian. Bukankah kalian dulu mengatakan buku ini lenyap 

dan meminta aku mencarinya. Sekarang setelah bertemu


dan hendak kuserahkan kalian mengatakan buku ini 

milikku. Bagaimana ini…?” 

“Betul. Buku itu milikmu. Karena kami memberikannya 

untukmu!” kata si katai baju merah. 

“Jangan bergurau! Aku tak berani menerimanya!” kata 

Mahesa. 

Si katai baju hitam maju mendekati Mahesa. 

“Dunia persilatan penuh tantangan. Rimba persilatan 

penuh bahaya. Berilmu kepalang tanggung bisa celaka. 

Memiliki kepandaian setengah-setengah membawa 

sengsara....” 

“Sahabat, aku tak mengerti maksdu kata-katamu.” 

Mahesa memotong. 

“Tentu saja, karena ucapannya belum selesai!” 

menyeletuk si katai baju uning. 

“Tentu saja, karena ucapannya belum selesai!” 

menyeletuk si katai baju kuning. 

Si hitam lantas meneruskan. “Kami tahu silang 

sengketamu dengan gurumu. Bukankah kau talah me-

mutuskan untuk tidak mempergunakan lagi semua ilmu 

silat dan pukulan sakti yang pernah kau pelajari dari Kunti 

Kendil…?” 

“Heh! Bagaiman kalian bisa tahu hal ini…?!” balik 

bertanya Mahesa. 

“Mudah saja…” si merah yang menjawab. “Dalam setiap 

pertempuran kami tak pernah melihat kau mengeluarkan 

jurus-jurus silat yang diajarkan Kunti Kendil. Juga kau tak 

pernah melepaskan pukulan sakti seperti api geledek dan 

sebaginya….” 

“Mahesa!” ikut bicara Sari. “Kalau begitu selama ini 

mereka mengikuti perjalanan kita. 

“Betul.” Sahut si baju biru. “Kami orang-orang tolol yang 

tak pernah ke mana-mana. Tapi ingin jalan-jalan. Dari pada 

kesasar bukankah lebih baik mengintip kalian…..?” 

“Tapi jangan kawatir. Kami tak pernah mengintip apa-

apa yang kalian perbuat…” yang bicara si katai baju putih. 

“Memangnya kami berbuat apa?” kata Sari. Saking


marahnya dia buka kerudungnya. 

“Waaaaah!” tujuh orang katai itu sama-sama berseru 

dan geleng-geleng kepala. “Cantik sekali… cantik sekali!” 

Sari cepat kenakan kerudung merahnya kembali. 

Tujuh orang katai tertawa gelak-gelak. Lalu si merah 

berkata. “Kami memang tidak ingin mengintip-intip kalian. 

Lagi pula bukankah kalian tak pernah bermesraan…? 

“Mulutmu usil amat!” pekik Sari. 

“Paling-paling cuma pegang-pegangan tangan!” me-

nimpali si katai baju biru. Dan kembali ketujuh manusia 

katai itu tertawa gelak-gelak. 

“Kami gembira karena sekarang punya tambahan satu 

teman.” Berkata si katai baju hitam. “Sesama teman 

bukankah boleh bergurau…? 

“Tapi kalian nakal dan usil!” sahut Sari. 

“Dunia memerlukan orang-orang nakal dan jelek seperti 

kami…” jawab si kuning. 

“Tidak… tidak …. Kalian tidak jelek. Kalian hanya suka 

mengganggu. Kalian gagah semua…” kata Sari pula. 

Tujuh orang katai itu gembira sekali dan berjingkrak-

jingkrak. Lalu si hijau berkata. “Kami bergembira buku silat 

itu sudah ditemukan. Dan lebih gembira lagi karena kau 

sudi menerimanya….” 

“Sudah kubilang, aku tak berani menerimanya. Ini bukan 

buku silat sembarangan….” 

“Justru karena bukan sembarangan maka kami mem-

beri padamu. Kalau cuma ilmu silat picisan buat apa….?” 

kata si merah. 

Mahesa garuk-garuk kepalanya. 

“Bagus! Menggaruk berarti mau menerima!” kata si 

merah. “Kami tak ingin mengganggu kalian berdua lebih 

lama. Kami minta diri sekarang….” 

“Kalian mau ke mana?” tanya Mahesa. 

“Ah… orang-orang seperti kami ini pergi ke mana-mana 

sipembawa kaki.” sahut si hijua. 

“Buku ini…. Aku tak tahu harus bagaimana 

mengucapkan terima kasih…” kata Mahesa. “ini benar


benar tidak terduga.” 

“Dunia ini penuh dengan hal-hal yang tidak terduga!” 

kata si katai baju merah. Lalu dia memberi isyarat pada 

kawan-kawannya. Ketujuh manusia katai itu lari 

mengelilingi Mahesa dan Sari lalu cepat sekali mereka 

melesat ke dalam rimba belantara dan lenyap. Hanya 

suara tawa cekikikan mereka yang masih kedengaran di 

kejauhan. Sesaat kemudian suara itupun ikut sirna. 

Mahesa masukkan kitab silat langka itu ke balik 

pakaiannya. Lalu memegang langan Sari dan melangkah 

meninggalkan tempat itu. Entah bagaimana tahu-tahu 

ketujuh orang katai yang tadi lenyap itu tahu-tahu kini 

berkelebat muncul dan mengelilingi mereka kembali. 

Ketujuhnya bernyanyi-nyanyi. 

 

Lihat mereka berpegangan tangan 

 Lihat mereka berpegangan tangan 

 Asyikkkkkk…… 

 Berikan ini untuk kami 

 Berikan ini untuk kami 

Baik Mahesa maupun Sari merasakan kerudung kain 

merah yang menutup kepala dan wajah mereka tahu-tahu 

ditarik lepas. Sesaat setelah kerudung itu lepas, tujuh 

orang katai itupun lenyap seperti ditelan bumi. 

“Anak setan…!” maki Mahesa. Tapi mulutnya tersenyum. 

Sari hanya bisa geleng-geleng kepala. 


TAMAT 


Serial Berikutnya : Ranjang Setan















0 komentar:

Posting Komentar