SATU
ORANG GILA KETEMU ORANG GILA
KOPI dan gula dalam telapak tangan Randu Ampel langsung mencair.
Air mendidih yang dituangkan mengepulkan asap panas. Lima prajurit
Kadipaten Lumajang mendelik kaget ketika melihat Randu Ampel tetap
tegak berdiri tanpa kesakitan. Tangannya yang disiram air mendidih sama
sekali tidak melepuh atau cidera! Malah genangan air panas bercampur
kopi dan gula di atas kedua telapak tangannya itu enak saja dihirupnya
hingga habis. Sisa-sisa gula dan kopi dijilat-jilatnya dengan ujung lidah.
“Sedap sekali kopi kalian…. Aku minta lagi…!” kata Randu Ampel lalu
ulurkan kedua tangannya.
Prajurit yang tadi menuangkan air mendidih berpaling pada kawan-
kawannya, lalu melangkah mundur.
“Jangan-jangan manusia ini mahkluk jejadian…” berbisik salah seorang
dari lima prajurit itu.
“Sebaiknya kita tinggalkan tempat ini cepat-cepat!” kawannya yang di
samping kiri balas berbisik.
“Hai! Aku minta kopi, kalian malah pergi!” teriak Randu Ampel ketika
melihat lima orang di hadapannya itu mundur, mundur lalu membalikkan
tubuh dan lari berhamburan.
“Keparat! Kalian mempermainkanku! Kalian pasti kaki tangan Mangun
Aryo!” kembali Randu Ampel berteriak. Kali ini disertai kemarahan.
Tubuhnya melompat ke depan, laksana terbang, melayang ke arah lima
prajurit yang lari berserabutan itu.
“Mampus!”
Duk!
Buk!
Dua prajurit mental dan terjerembab di tanah. Yang pertama hancur
tengkuknya di hantam tumit Randu Ampel. Yang kedua patah
pinggangnya kena tendangan kaki kiri lelaki miring itu.
“Dia membunuh Seta dan Gana!” teriak prajurit di ujung kanan.
Bersama kedua tanganya, kalau sebelumnya mereka merasa takut, kini
melihat kematian dua kawannya itu, ketiganya berubah marah dan cabut
golok masing-masing.
Randu Ampel masih menjilati sisa-sisa gula dan kopi di telapak tangan
kanannya ketika ke tiga prajurit itu menyerbunya dari tiga jurusan.
“Jurus ke sembilan!” teriak Randu Ampel coba mengingat jurus silat
yang ke sembilan, yang dipelajarinya di dalam goa. Tangan kanannya
menghantam ke depan. Tubuhnya dirundukkan. Berbarengan dengan itu
kaki kirinya membabat kemuka. Dua lawan yang mengeroyok menjerit.
Yang pertama terbanting ke tanah, muntah darah dan melingkar tak
bergerak lagi begitu dadanya kena jotosan. Tulang iganya patah,
jantungnya ditembus patahan tulang iga sendiri. Yang satu lagi pecah
lambungnya dihantam tendangan. Serangan golok prajurit ke tiga
dielakkan mudah dan lewat di atas kepalanya.
Saat itulah Randu Ampel mulai menyadari bahwa dalam dirinya
tersimpan satu kekuatan hebat luar biasa. Seperti karanjingan untuk
membuktikan kehebatan itu dia menghadang prajurit ke lima yang kini
ketakutan setangah mati dan hendak melarikan diri.
“Mau lari? Ha… ha! Larilah!” sentak Randu Ampel.
Begitu prajurit itu balikkan tubuh dan lari sejauh setengah tombak
Randu Ampel pukulkan tangan kanannya ke depan, ke arah punggung
orang yang lari. Sesaat kemudian orang itu mencelat mental dan terguling
roboh di tanah. Dia hanya sempat mengeluarkan satu jeritan keras, lalu dia
tak berkutik lagi. Mati dengan punggung hancur sampai ke dada!
“Hah?!”
Randu ampel berteriak kaget dan heran! Dia memandang tangan
kanannya lalu memandangi lima sosok tubuh yang mati bergelimpangan.
Begitu berulag kali dengan rasa tak percaya. Tiba-tiba dia berteriak keras.
“Tanganku kuat! Aku jadi orang hebat! aku punya ilmu! Mangun Aryo!
Sekarang mampus kau! Mampus!” lalu Randu Ampel memukul batang
pohon di samping kanannya. Braak! Batang itu patah dan pohonnya
tumbang Randu Ampel tendangkan kaki kiri ke pohon lain di sebelahnya.
Braaak! Pohon itu juga remuk dan tumbang!
“Ha… ha… ha…! Mangun Aryo! Tunggu pembalasanku! Fitnah
kembali kepada fitnah!” teriak Randu Ampel lagi. Diluar sadar, saking
girangnya lelaki ini melompat ke atas. “Hup! Hai! Aneh! Tubuhnya seperti
melayang, tinggi sekali. Karena agak gamang dia menggapai kian kemari
sampai akhirnya dia terduduk di atas sebatang cabang pohon yang sangat
kecil. Janganlah manusia seekor kucingpun jika bertumpanga di atas
cabang kecil itu, pasti cabang tersebut akan terkulai ke bawah bahkan
mungkin patah karena cabang itu selain kecil juga sudah lapuk. Tapi
hebatnya justru Randu Ampel bisa duduk. Bahkan ketika gamangnya
mulai hilang dan dia mulai biasa, lelaki ini duduk sambil uncang-uncang
kaki. Dia ingat pada sulingnya. Keluarkan benda ini dan meniup
melengking-lengking!
Begitulah mulai hari itu dalam benak Randu Ampel hanya ada satu
tekad untuk dilakukan mencari Mangun Aryo, orang yang bukan saja telah
mencelakakan dirinya tetapi juga menjadi penyebab kematian istrinya.
Maka diapun melanjutkan perjalanan menuju Probolinggo.
Meskipun otaknya tidak sehat lagi, namun apa yang terjadi delapan
belas tahun lalu di Probolinggo tak pernah pupus dalam ingatan Randu
Ampel. Peristiwa pembunuhan kejam yang dilakukannya terhadap istrinya
di kota itu membuat lelaki ini tidak mau memasuki kota mendatangi rumah
kediaman Mangun Aryo yang kini menjadi Adipati itu. dia berhanti di
sebuah puncak bukit yang terletak di luar kota. Dia memutuskan
menunggu kemungkinan Mangun Aryo di situ. Memang untuk
Probolinggo ada empat jurusan keluar masuk. Pertama di sebelah utara
yang menghubungkan kota dengan pantai. Di sebelah timur, lalu di sebelah
selatan dan terakhir di sebelah barat. Dari ke empat jurusan itu, yang di
sebelah baratlah paling ramai di lalui. Setiap orang yang mengambil arah
itu pasti akan melewati daerah bebukitan di mana Randu Ampel
melakukan pencegatan. Tetapi sampai beberapa lamakan dia harus
mendekam di situ menunggu kemunculan Mangun Aryo? Hal ini agaknya
tidak menjadi masalah bagi Randu Ampel. Dia akan menunggu sekalipun
sampai gunung Mahameru meletus. Kalau perlu bahkan sampai kiamat!
Belasan hari telah lewat sejak Randu Ampel sampai di puncak bukit di
luar kota. Siang hari dia kepanasan. Malam hari kedinginan berselimut
embun. Keadaan tubuhnya semakin kotor menjijikan. Tampangnya tambah
menyeramkan. Makannya sama sekali tidak menentu. Satu-satunya teman
setianya adalah suling bambu yang acap kali ditiupnya dalam irama aneh
tak menentu. Terkadang dia duduk berteduh di bawah pohon-pohon besar,
atau meringkuk tidur di atas cabang-cabangnya yang rindang. Terkadang
dia menyusup masuk ke balik batang-batang pohon bambu yang banyak
tumbuh di sana. Kalau lagi asyik meniup suling tak jarang dia duduk
seperti bersila, mengapung di udara dengan sepasang lutut dan punggung
menempel pada tiga batang bambu.
Orang-orang yang melewati bukit itu kebanyakan menduga Randu
Ampel hanyalah seorang gila yang datang entah dari mana dan terpesat di
situ. Namun banyak juga yang merasa heran melihat bagaimana dia bisa
duduk secara aneh diantara tiga btang bambu seperti itu. hanya karena
mereka tidak punya banyak waktu untuk menyelidiki maka orang-orang
itu akhirnya berlalu begitu saja. Paling-paling sambil gelengkan kepala.
Kesabaran Randu Ampel menunggu musuh besarnya di puncak bukit
itu ternyata tidak sia-sia. Pada hari ke tiga belas, disuatu rembang petang
Mangun Aryo yang ditemani oleh kepala pengawal Kadipaten yaitu
Rangga baru saja kembali dari perjalanan menemui Embah Bromo
Tunggal di puncak gunung Bromo.
Di bebukitan kedua orang ini mendengar suara tiupan suling aneh.
Semula Rangga menyangka itu hanya tiupan suling seorang penggembala.
Tetapi Mangun Aryo berhadapan meniup suling demikian hingga
menyakitkan liang telinga dan mendebarkan dada. Begitu sampai di
puncak bukit mereka hantikan kuda dan memandang ke arah pohon-pohon
bambu dengan perasaan terkejut, heran tapi sekaligus juga bercampur rasa
tidak enak.
Orang yang meniup suling itu mereka saksikan duduk mengapung
diantara tiga batang pohon bambu. Dia mengenakan celana hitam bergaris
kuning, memakai topi hitam tinggi. Orang ini tidak mengenakan baju. Di
lehernya tergantung sebuah kalung bergambar burung bermahkotakan
yang merentangkan kedua sayapnya. Wajahnya cekung, kotor penuh debu.
Sepasang matanya agak kemerahan. Kumis serta janggutnya meranggas.
Keseluruhan tampangnya mengerikan untuk dipandang.
Karena merasa tidak enak, Mangun Aryo mengajak Rangga untuk
meninggalkan bukit itu cepat-cepat. Tetapi maksud mereka tertahan karena
mendadak orang di atas pohon bambu keluarkan nyanyian aneh. Bait-bait
di dalam nyanyian itu jelas mengungkapkan peristiwa delapan belas tahun
yang silam. Ketika Probolinggo dihebohkan oleh peristiwa pembunuhan
kejam yang dilakukan Randu Ampel. Siapakah sebenarnya orang gila ini,
begitu Mangun Aryo bertanya-tanya. Dalam pada itu orang aneh itu secara
mendadak menyerang kuda yang ditunggangi Mangun Aryo hingga
binatang itu melompat tinggi lalu melarikan diri. Sementara itu Rangga
tiba-tiba pula menjadi kejang karena ditotok secara anreh.
Puncak dari semua keanehan itu meledak ketika orang gila tadi
mengatakan bahwa dia adalah Randu Ampel yang dicelakai oleh Mangun
Aryo delapan belas tahun silam dengan ilmu hitam hanya karena
menginginkan jabatan Adipati Probolinggo.
Sebenarnya Mangun Aryo bukanlah manusia pengecut. Namun
menghadapi orang gila seperti itu yang bisa berbuat nekad semaunya, mau
tak mau dia mementingkan cari selamat lebih dulu. Maka diapun
melarikan diri. Akan tetapi sekali mengejar Randu Ampel berhasil
menangkap tangan kanan Adipati Probolinggo itu. sekali remas saja
hancurlah tulang lengan lelaki itu, persendiannya copot! Satu demi satu
anggota tubuh Mangun Aryo dihancur luluhkan. Kemudian dengan kuku
jarinya yang panjang keras, Randu Ampel merobek perut musuh besarnya
itu hingga isi perutnya berbuaian keluar. Mangun Aryo akhirnya menemui
ajal dalam keadaan mengerikan disaksikan oleh kepala pengawalnya.
(Untuk jelasnya peristiwa ini dapat dibaca dalam episode IV)
Setelah membalaskan dendam kesumat dan membunuh Mangun Aryo
maka kini muncul niat dibenak Randu Ampel untuk mencari Embah
Bromo Tunggal. Dukun jahat inilah yang memegang peranan utama atas
bencana yang menimpa diri dan istrinya. Meskipun Mangun Aryo yang
punya mau, tetapi jika Embah Bromo Tunggal tidak turun tangan,
peristiwa mengerikan itu tak akan terjadi. Karenanya seperti juga Mangun
Aryo, dukun keparat itu juga harus mampus.
Tidak sulit bagi Randu Ampel untuk mencari sang dukun, Bromo
Tunggal yang nama aslinya Roko Nuwu itu meskipun sering berkeliaran di
rimba hijau persilatan tetapi lebih banyak mendekam di tempat
kediamannya di puncak gunung Bromo, menunggu orang-orang yang
datang meminta “tolong” atau menanti berbagai macam ramuan obat aneh.
Suatu hari, dia tengah kedatangan suruhan Rangga. Padahal saat itu dia
sudah siap untuk memasukkan tubuh Mahesa yang berhasil diculiknya ke
dalam sebuah belanga besar untuk digodok bersama obat yang sedang
diramunya. Mendadak muncul Pendekar Muka Tengkorak. Tokoh silat
kelas satu ini sengaja datang ke puncak Bromo untuk menghukum si
dukun jahat. Beberapa waktu yang lalu Embah Bromo Tunggal telah
menipu Pendekar Muka Tengkorak dan mendekam kakek sakti itu
dibawah sebuah arca batu besar. Secara tak sengaja Mahesa kemudian
menolong orang tua itu hingga dia kemudian dihadiahi sepertiga tenaga
dalam. (Baca episode III) Selain menguburnya hidup-hidup dibawah arca
batu itu, Embah Bromo Tunggal juga melarikan sebuah kitab silat yang
mereka temukan bersama.
Perkelahian antara Pendekar Muka Tengkorak dan Embah Bromo
Tunggal tidak terelakan lagi. Meskipun si kakek muka tengkorak memiliki
ilmu silat yang lebih tinggi dari lawannya, namun dia tak berdaya ketika
Embah Bromo Tunggal keluarkan mahkluk jejadiannya yang bernama
Longga. Selagi Pendekar Muka Tengkorak kelabakan menghadapi
mahkluk itu, Embah Bromo Tunggal pergunakan kesempatan untuk
melarikan diri. Dengan susah payah dan dengan kecerdikan akhirnya
Pendekar Muka Tengkorak berhasil memusnahkan Longga.
Baru saja kakek itu berhasil menghancurkan lawan dan sekaligus
menyelamatkan Mahesa dari maksud Embah Bromo Tunggal yang ganas
mendadak muncullah seorang lelaki berpakaian aneh, tubuh kotor dan
muka menyeramkan. Orang ini yang ternyata memiliki kepandaian sangat
tinggi celakanya mengira si Pendekar Muka Tengkorak adalah Embah
Bromo Tunggal yang tegah dicarnya. Bagaimanapun Pendekar Muka
Tengkorak mengatakan bahwa dia bukan Bromo Tunggal si dukun jahat
itu, tetap saja orang tersebut tidak percaya.
Maka terjadilah pertempuran antara keduanya. Orang ini, yang bukan
lain adalah Randu Ampel memiliki kehebatan luar biasa hingga Pendekar
Muka Tengkorak harus bertahan mati-matian. Setelah pukulan jurus
berkelahi kakek ini akhirnya tidak dapat mempertahankan diri. Sesaat lagi
dia hampir menemui ajal oleh cekikan Randu Ampel, Mahesa yang baru
saja siuman dari pingsannya cepat berteriak memberi tahu bahwa si kakek
bukanlah Embah Bromo Tunggal musuh besarnya.
Mendengar teriakan Mahesa itu, apalagi karena dirinya dipanggil
dengan sebutan ayah kagetlah Randu Ampel. Dia lepaskan cekikan
mautnya di leher Pendekar Muka Tengkorak, memandang sejurus pada
Mahesa lalu tanpa berkata apa-apa tinggalkan puncak gunung Bromo.
Keseluruhan peristiwa di tempat kediaman Embah Bromo Tunggal itu
dapat anda ikuti kembali dalam episode V.
Randu Ampel lari meninggalkan puncak gunung Bromo dengan
perasaan campur aduk. Pertama dia masih tidak yakin kalau kakek kurus
bermuka tengkorak itu bukan si dukun jahat yang delapan belas tahun lalu
menjatuhkan musibah keji atas dirinya. Lalu jika dia berkeyakinan begitu
mengapa dia mau mengikuti dan mempercayai ucapan pemuda itu?
Mengapa dia memanggilnya dengan sebutan ayah? Apa benar pemuda itu
anaknya? Seperti ada pancaran hawa aneh dari sepasang mata pemuda itu.
“Seharusnya kubunuh dia! Dia berani menghalangi maksudku
membunuh dukun jahat itu!” kata Randu Ampel dalam hati. Kemudian
terdengar suaranya tertawa tergelak. “Gila! Semua gila! Isi dunia ini sudah
gila semua!”
Lelaki gila berkepandaian tinggi itu tidak sadar entah sudah berapa jauh
dan lama berlari. Dia baru berhenti ketika didapatinya hari yang tadi terang
kini telah berubah mulai gelap. Ternyata siang telah berganti sore dan sore
mulai memasuki malam. Randu Ampel dapatkan dirinya berada di bibir
sebuah lembah yang terletak dalam rimba belantara. Perlahan-lahan dia
dudukkan diri di bawah sebatang pohon. Tenggorokannya terasa kering,
haus. Dia coba memejamkan mata. Kembali seperti terngiang di telinganya
sebutan ayah yang diucapkan pemuda di tempat kediaman Embah Bromo
Tunggal itu. Sebutan itu serta pancaran yang keluar dari sepasang mata si
pemuda tidak pernah pupus dari dalam dirinya, seperti selalu mengikuti ke
mana dia pergi.
Ketika pelahan-lahan Randu Ampel membuka matanya kembali, jauh di
dasar lembah dilihatnya seperti ada nyala api. Diperhatikannya baik-baik.
Memang benar nyala api. Serta merta dia berdiri lalu lari ke bawah
lembah, menuju arah nyala api. Sebentar saja dia sudah sampai di tempat
itu. Di belakang nyala api Randu Ampel melihat seorang perempuan
berambut panjang duduk mencangkung. Meski tidak keseluruhan
wajahnya diterangi nyala api namun jelas dia memiliki paras ayu, berkulit
langsat. Pakaiannya penuh tambalan. Seperti Randu Ampel keadaan
dirinya tidak terpelihara.
Perempuan tidak dikenal ini paling tinggi berusia setengah usia Randu
Ampel. Dia duduk memegangi sebatang ranting kecil, menghadapi
perapian dan asyik membalik-balik benda lonjong berwarna hitam.
Rupanya dia tengah memanggang sesuatu. Tetapi ketika Randu Ampel
memperhatikan benda yang dipanggang perempuan itu diapun jadi
tertawa. Meskipun gila namun Randu Ampel masih dapat membedakan
mana makanan dan mana bukan. Perempuan itu tengah memanggang
sebuah batu!
“Perempuan gila!” kata Randu Ampel dalam hati. Lalu diapun menegur:
Hai! Untuk apa kau memanggan batu itu? Sampai kapanpun tak akan
lunak dan bisa dimakan!”
Orang di depan perapian tidak berpaling ataupun menjawab. Dia terus
saja membalik-balikkan batu hitam itu dengan ujung ranting.
“Orang bertanya apakah kau tidak mendengar? Aku yang tuli atau kau
yang gagu?!” ujar Randu Ampel.
“Aku tidak gagu, kau tidak tuli. Soalnya siapa bertanya siapa?” tiba-tiba
perempuan itu membuka mulut. Suaranya perlahan dingin.
Randu Ampel tertawa.
“Namaku Randu Ampel!” katanya memperkenalkan diri.
“Ada banyak orang bernama seperti itu. Kau Randu Ampel yang
mana?” tanya si perempuan. Dalam bicara dia sama sekali tidak
memandang pada Randu Ampel, melainkan saja menunduk asyik
memandangi batu hitam yang dibalik-baliknya di atas potongan-potongan
kayu perapian.
“Aku… aku Randu Ampel yang mana ya?” kata lelaki itu seperti
bertanya pada diri sendiri. Lalu dijawabnya sendiri. “Mudah saja. Aku
Randu Ampel yang gila! Ha… ha… ha…!”
“Hik… hik…!” Perempuan itu ikut-ikutan tertawa. “Kalau begitu kita
sama!” katanya kemudian.
“Apanya yang sama?” tanya Randu Ampel.
“Gilanya! Kita sama-sama gila!”
Randu Ampel kerenyitkan kening lalu kembali tertawa. Kali ini tertawa
bergelak dan panjang. Perempuan di hadapannya juga ikut tertawa, malah
lebih tinggi dan lebih panjang. Ketika Randu Ampel menghentikan
tawanya, perempuan itupun hentikan tawanya pula.
“Untuk apa kau memanggang batu itu?” bertanya Randu Ampel.
“Perutku lapar!”
“Heh, memangnya batu itu bisa kau makan?”
“Tidak! Semua oran tahu batu tidak bisa dimakan! Jangan diajukan
pertanyaan tolol!”
“Lalu kenapa kau membakarnya?” tanya Randu Ampel. Kalau orang
lain memakinya dengan kata-kata tolol begitu mungkin sudah ditendang
atau ditamparnya.
“Untuk mengurangi rasa lapar,” jawab perempuan itu.
“Aneh, aku tidak mengerti. Bagaimana mungkin bisa mengurangi lapar
dengan jalan membakar batu…?!” Randu Ampel geleng-geleng kepala.
“Kalau begitu rupanya kau memang orang tolol!” kembali perempuan
itu memaki Randu Ampel. “Apa kau tidak mendengar ucapan. Membagi
pikiran untuk menghilangkan pikiran. Membagi perasaan untuk
menghilangkan perasaan….?”
“Ucapan orang gila mana itu?!” ejek Randu Ampel.
“Percuma kau jadi orang gila kalau tidak mengerti ucapan orang gila!”
balas mengejek si perempuan.
Perempuan itu mencibir seolah-olah mengejek. Lalu katanya:
“Pengertiannya mudah saja. Untuk menghilangkan pikiran yang
mengganggu kira harus mengarahkan sebagian pikiran pada hal lain.
Dengan begitu pikiran yang mengganggu jadi terpecah dan lenyap. Jika
ada perasaan yang mengganggu, kita harus mengarahkan perasaan pada
hal lain hingga perasaan yang mengganggu jadi musnah! Begitu…!”
“Lalu apa hubungannya perutmu yang lapar dengan batu yang kau
panggang!” Randu Ampel tetap masih belum mengerti.
“Benar-benar tolol! Perutku lapar. Berarti ada perasaan lapas yang
mengganggu. Lalu kubakar batu ini. Perhatian dan perasaan kini tertuju
pada batu. Berarti aku dapat melupakan rasa lapar yang mengganggu…!”
Randu Ampel geleng-geleng kepala.
“Kalau sekedar melupakan tak ada artinya,” katanya. “Pada saat kau
berhenti membakar batu itu, rasa lapar kembali akan terasa. Malah lebih
hebat lagi. Disamping itu tubuhmu akan terasa letih karena mencengkung
lama-lama di depan api. Menurut pendapatku yang gila, jika ingin
melenyapkan penyakit, harus mencari sumbernya. Kalau tidak percuma
saja…..”
Untuk pertaa kalinya perempuan yang diajak bicara mengangkat
mukanya memandang pada Randu Ampel. Lalu dia tertawa panjang.
“Hai, kenapa kau tertawa?!”
“Ternyata kau tidak keseluruhannya tolol. Kurasa apa yang kau katakan
tadi ada benarnya. Menyembuhkan penyakit dengan memusnahkan
sumbernya. Menghilangkan lapar dengan menelan makanan. Tapi
makanan apa yang bisa didapat dalam rimba belantara keparat ini! Malam-
malam begini pula!”
“Mudah saja!” jawab Randu Ampel. Hatinya gembira karena dipuji
tidak tolol. Lalu dia ulurkan tangan mengambil batu hitam dari atas
perapian.
“Hai! Batu itu panas. Tanganmu melepuh nanti!” seru perempuan itu.
Randu Ampel menyeringai. Dia pejamkan mata. Dengan tangan kiri
memberi isyarat pada perempuan itu untuk berdiam diri. Dan si perempuan
menyaksikan dengan heran, tangan Randu Ampel sama sekali tidak
melepuh atau cidera meskipun batu yang dipegangnya panas luar biasa!
“Apa yang hendak kau lakukan?!” tanya perempuan itu.
“Sst… diam. Aku akan mencari obat perutmu yang lapar…” sahut
Randu Ampel. Sambil pejamkan matanya dia memasang telinga tajam-
tajam. Kemudian didengarnya suara itu. Suara desah nafas burung liar
yang masih belum tidur. Datang dari pohon besar disebelah belakangnya.
Tanpa berpaling Randu Ampel lemparkan batu hitam di tangan kanannya.
Terdengar suara batu itu mengenai sesuatu suara burung memcicit lalu
suara tubuhnya jatuh ke tanah.
Randu Ampel menyeringai. Buka kedua matanya lalu lari mengambil
burung yang barusan jatuh akibat lemparan batunya yang tepat. Binatang
itu diperhatikannya pada perempuan di depan perapian, lalu cepat sekali
tangannya bergerak menguliti bulu yang membungkus sekujur tubuh
binatang itu. Sesaat kemudian burung itu telah terpanggang menyebar
menusuk lobang hidung.
“Sudah matang!” kata Randu Ampel tak berapa lama kemudian. Lalu
dia memberikan ranting kayu di ujung mana panggang burung itu
ditusuknya. “Makanlah, penyakit laparmu pasti sembuh!” kata Randu
Ampel dan tertawa gelak-gelak.
“Kau sendiri tidak makan?”
“Aku tidak lapar.”
“Tapi aku tidak suka makan sendirian.”
“Kalau begitu makalah dulu sepuasmu. Kau boleh berikan sisanya
padaku,” jawab Randu Ampel pula.
“Tidak adil begitu. Kita harus makan sama-sama…” lalu entah kapan
tangannya bergerak tahu-tahu burung besar itu telah terbagi dua dan rata.
Yang sepotong diserahkan pada Randu Ampel. Ketika Randu Ampel
hendak menyantap makanan itu tiba-tiba perempuan itu ulurkan tangan
kirinya memegang lengannya.
“Tunggu!” katanya.
“Ada apa?” tanya Randu Ampel. Sentuhan tangan perempuan itu pada
lengannya mendatangkan perasaan aneh.
“Apakah kenal atau ada sangkut paut dengan manusia bernama Lembu
Surah bergelar Datuk Iblis Penghisap Darah?”
Randu Ampel menggeleng.
“Apakah kau kenal dengan orang bernama Suwa Permono, bergelar
Malaikat Maut Berkuda Putih?”
Kembali Randu Ampel menggeleng.
“Siapa kedua orang itu?”
“Yang pertama musuh besarku. Yang kedua guruku.”
“Di mana mereka sekarang?”
“Di mana mereka sekarang itulah yang tengah kuselidiki…”
“Sekarang baiknya kau makan dulu. Tapi sebelum makan aku kepingin
tahu apakah kau punya nama?”
Perempuan itu tertawa panjang. “Setiap manusia tentu punya nama.
Tapi aku tidak akan memberitahu namaku padamu.”
“Kalau begitu kita tidak bersahabat!” ujar Randu Ampel.
“Heh, apakah kau mau bersahabat denganku?”
“Tentu saja. Kau keberatan?”
Kembali perempuan tadi tertawa. “Kita sama-sama gila. Tak ada
salahnya kalau kita bersahabat.”
“Jika begitu katakan namamu!”
“Namaku Puji…”
“Puji apa…?”
“Puji saja…”
“Baiklah. Sekarang mari kita makan.”
Maka kedua orang itupun menyantap burung panggang yang cukup
lezat rasanya.
Selesai makan Puji berkata: “Kulihat tadi kau pandai sekali menangkap
burung dengan melempar . maukah kau mengajarkan ilmu lempar itu
padaku?”
“Tentu saja. Hanya aku ingin tahu dari sini kau mau menuju ke
mana….”
“Aku harus mencari Datuk Iblis itu. tapi tidak tahu harus mencari di
mana….”
Sesaat Randu Ampel nampak termenung. Lalu katanya. “Akupun
tengah mencari musuh besar. Seorang dukun jahat bernama Embah Bromo
Tunggal. Beberapa hari lalu aku datang ke tempat kediamannya di puncak
Bromo. Tapi di situ terjadi banyak keanehan yang otakku tak sanggup
memecahkannya….”
“Jika kau mau menceritakan keanehan apa mungkin aku bisa membantu
memecahkannya…” kata Puji pula.
Randu Ampel menyeringai, “Aku sendiri yang punya persoalan tak
sanggup memecahkannya. Mana mungkin kau yang tak ada sangkut
pautnya…” Perlahan-lahan Randu Ampel berdiri.
“Kau mau ke mana?”
“Aku harus pergi….”
“Kalau begitu aku juga akan pergi. Ikut bersamamu….” Puji pegang
lengan Randu Ampel. Kembali lelaki ini merasakan perasaan aneh akibat
sentuhan itu. keduanya melangkah mendaki lereng lembah menuju ke
timur. Angin malam bertiup dingin. Sambil melangkah Puji keluarkan satu
nyanyian.
Empat tahun mencari guru
Empat tahun tidak ketemu
Empat tahun mencari manusia durjana
Empat tahun tidak bersua
Manusia jahat harus dibunuh
Manusia durjana harus dimusnah
Tidak ada di timur cari ke barat
Tidak ada di selatan cari ke utara
“Nyanyianmu bagus amat,” memuji Randu Ampel. “Apakah kau mau
mendengar nyanyianku?”
“Apakah orang gila sepertimu pandai juga menyanyi?”
Randu Ampel tertawa lalu mulai pula menyanyi.
Delapan belas tahun mencari
Di puncak Bromo tidak ditemui
Keanehan membakar sukma
Boleh lari ke segala penjuru
Tangan berdarah tak pernah lari jauh
Kegilaan harus dibayar dengan kegilaan
Kematian harus dibayar dengan kematian
“Ai, ternyata kaupun seorang penyanyi yang tidak jelek. Mari kita
nyanyikan lagu-lagumu tadi bersama-sama…”
Randu Ampel tidak menyambuti ajakan Puji malah dia memberi isyarat
dan hentikan langkah. “Aku mendengar suara kaki kuda. Ada orang
mendatangi ke jurusan sini. Lekas sembunyi!”
Mendengar ucapan itu Puji segera ke balik batang pohon besar.
Sebaliknya Randu Ampel pegang pinggang perempuan itu. sekali dia
mengenjot tubuh, keduanya melayang ke atas dan sampai di cabang pohon.
Puji hendak tertawa cekikikan karena senangnya diajak melayang
melompat tinggi seperti itu. tapi Randu Ampel tekap mulutnya. Sesaat
kemudian di bawah pohon kelihatan muncul seorang tua berpakaian serba
putih, menunggang seekor kuda putih. Dalam gelapnya malam tak jelas
kelihatan wajahnya.
DUA
PERTEMUAN DENGAN SANG GURU
RANDU AMPEL mendekati mukanya ke telinga kiri Puji dan berbisik:
“Kau kenal orang itu? Sikapnya mencurigakan….”
“Tampangnya tertutup kegelapan. Rasanya aku pernah melihat kuda
putih tunggangnya itu. tapi lupa entah di mana. Kita turun saja dan
menghantam jika memang dia punya miat jahat….”
“Kau punya kepandaian apa hendak menghantam orang? Lelaki itu
menunjukkan gerak-gerik seorang jago silat…”
“Kau takut…?” tanya Puji.
“Gila! Aku tidak pernah takut pada siapapun! “ sahut Randu Ampel
penasaran. “Kau mau lihat aku memisahkan kepala dan badan orang itu?!”
“Cobalah kalau kau bisa melakukannya!”
“Akan kubuktikan!” ujar Randu Ampel.
Namun baru saja dia siap melompat turun tiba-tiba orang di atas kuda
berseru: “Manusia-manusia yang tadi menyanyi. Keluarlah unjukkan diri.
Aku butuh beberapa penjelasan!”
“Manusia sompret!” gerutu Puji. “Dia yang perlu kita, seenaknya
perintah. Eh Randu, katamu kau hendak memisahkan kepalanya. Tunggu
apa lagi?!”
“Kau kurang ajar. Seenaknya saja memanggil aku Randu. Kau tahu
perempuan seusiamu pantas jadi anakku!” kini Randu Amepl yang
mengomel.
Sebaliknya Puji malah tertawa. “Di dunia yang serba ini apakah masih
diperlukan adab sopan santun? Bukankan keterbukaan lebih banyak
baiknya dari pada sengaja peradatan palsu. Lagi pula siapa ya sudi jadi
anakmu? Hik… hik…!”
Penunggang kuda di bawah pohon tampak membuka destar putih yang
membungkus kepalanya. Tiba-tiba kain destar ini dipukulkannya ke atas.
Serangkum angin keras menderu dan braak! Batang pohon yang diduduki
Randu Ampel serta Puji patah. Karena orang sudah mengetahui
persembunyian mereka, keduanya terpaksa meloncat turun. Orang di atas
kuda balikkan diri menyongsong lalu melompat dari punggung kuda.
Sesaat dia memandangi wajah Puji. Dia lain kejap terdengar seruannya.
“Ya Tuhan! Puji! Tadipun aku sudah yakin yang menyanyi itu adalah
suaramu!”
Penunggang kuda berpakaian serba putih dan berjanggut putih ini
melompat hendak memeluk Puji, tapi Randu Ampel cepat menarik tangan
perempuan itu hingga si orang tua memeluk angin.
“Tua bangka kurang ajar! Enak saja kau memeluk sahabatku!” bentak
Randu Ampel.
Sesaat orang itu memandang pada Randu Ampel. Kemudian dia
kembali berpaling pada Puji.
“Puji, muridku! Apakah kau tidak mengenali aku lagi? Aku gurumu….!
Aku Malaikat Maut Berkuda Putih!” orang tua itu berseru.
“Aku tidak kenal kau! Aku tak pernah kenal segala macam malaikat!”
jawab Puji keras.
Kata-kata ini membuat si orang tua yang memang bukan lain adalah
guru perempuan itu seperti terhenyak. “Ah, benar jalan pikirannya sudah
terganggu. Kasihan muridku…. Dia tiak mengenaliku lagi. Bagaimana ini?
Siapa pula lelaki berpakaian tak karuan disebelahnya ini?”
“Orang tua, siapapun kau adanya, sahabatku ini mengatakan tidak kenal
denganmu. Kenapa tidak lekas-lekas berlalu dari sini?”
Ditegur begitu Malaikat Maut Berkuda Putih jadi penasaran.
“Kau sendiri siapa? Apa hakmu menyuruh aku pergi dari sini. Empat
tahun aku mencari meuridku. Setelah bertemu enak saja kau menyuruhku
pergi. Kau yang harus angkat kaki dari sini…!”
“Gila!”
“Kau yang gila! Dan kau membuat muridku tambah gila!” bentak
Malaikat Maut Berkuda Putih. “Lepaskan peganganmu pada lengannya.
Puji, kemarilah. Aku gurumu. Kau harus ikut bersamaku. Kau perlu
dirawat dan diurus baik-baik. Setelah itu kita akan mencari manusia
durjana bergelar Datuk Iblis itu. setelah biang racun malapetaka yang
menimpa dirimu!”
Puji terdiam. Ada sekilas ingatan akan satu peristiwa yang menimpa
dirinya, tapi kesadaran datangnya sangat lambat ke dalam benak dan hati
perempuan ini. Dia hanya tahu tentang seorang musuh besar. Datuk Iblis
Penghisap Darah. Yang harus dibunuhnya. Dia juga tahu seorang bernama
Malaikat Maut Berkuda Putih. Tapi hanya itu. lain dari itu semuanya serba
gelap baginya.
“Puji, kemarilah….” Si orang tua coba memanggil dengan suara lembut.
Yang dipanggil gelengkan kepala. Kemudian Puji mulai menangis.
Melihat perempuan ini menangis, Randu Ampel jadi marah dan
membentak Malaikat Maut Berkuda Putih.
“Kau membuat sahabatku menangis! Kalau kau tidak pergi dari sini
kupatahkan batang lehermu!”
“Manusia gila! Kalau tak berpengaruh olehmu, muridku pasti akan
mengikuti perintahku! Batang lahermu yang harus patah lebih dahulu!”
Habis berkata begitu Malaikat Maut Berkuda Putih langsung menerjang
Randu Ampel. Kedua tangannya meluncur ke arah leher, benar-benar
hendak mematahkan batang leher lelaki gila itu.
Tetapi apa yang terjadi kemudian membuat Malaikat Maut Berkuda
Putih alias Suwo Perwono mengeluarkan seruan tertahan dan kaget
setangah mati. Selagi kedua tangannya meluncur setangah jalan, belum
lagi sempat menyentuh batang leher Randu Ampel, mendadak entah
bagaimana kejadiannya kedua tangan Randu Ampel membuat gerakan
yang sama dan tahu-tahu sepuluh jari berkuku panjang yang kukuh dan
kotor telah mencengkeram lawannya mendadak jadi dua kali lebih panjang
hingga lehernyalah yang kena dicekik lebih dulu.
Orang tua berjanggut putih itu meronta coba lepaskan diri. Namun
cekikan lawan keras sekali. Nafasnya mulai sesak. Lidahnya seperti mau
tercabut keluar dan sepasang matanya mendelik.
“Jangan bunuh dia!” tiba-tiba Puji berteriak.
Disaat yang sama Malaikat Maut Berkuda Putih hantamkan satu jotosan
ke dada Randu Ampel.
Buk!
Jotosan mendarat tepat di pertengahan dada Randu Ampel. Lelaki ini
lepaskan cekikannya. Tubuhnya terpental beberapa langkah tapi kemudian
berdiri lagi seperti tidak terjadi apa-apa.
Suwo Permono usap batang lehernya dan memandang pada Randu
Ampel dengan rasa tak percaya. Pukulan yang dilepaskannya tadi
mengerahkan lebih dari dua pertiga tenaga dalam, tetapi lelaki gila itu
kelihatannya biasa-biasa saja. Orang lain mungkin sudah muntah darah!
Sebenarnya bukan pukulan orang tua itu yang membuat Randu Ampel
melepaskan cekikannya. Tetapi seruan Pujilah yang menyebabkan Randu
Ampel tidak meneruskan menghancur luluhkan batang leher Malaikat
Maut Berkuda Puith.
“Manusia edan! Siapa kau sebenarnya? Apa hubunganmu dengan
muridku?!” bentak orang tua berjanggut putih itu sambil pegangi lehernya
yang terasa sakit.
“Aku hanya seorang gila. Perempuan ini sahabatku!” jawab Randu
Ampel polos.
“Puji! Kau tidak pantas bersahabat dengan lelaki gila ini!”
“Kenapa tidak? Kami senasib. Dan dia menolongku menangkap burung
untuk kami panggang dan santap bersama!”
“Hanya karena panggang burung kau mau bersahabat dengan dia?
Gila!”
“Ini memang persahabatan orang-orang gila. Karenanya orang
sepertimu tak perlu ikut campur!”
Kata-kata Randu Ampel itu membuat Malaikat Maut Berkuda Putih
menjadi marah. Lagi pula dia masih penasaran akibat cekikan tadi. Maka
diam-diam dia kerahkan seluruh tenaga dalamnya ke tangan kanan.
Kemudian lepaskan satu pukulan sakti yang mengeluarkan sinar putih.
Pukulan ini menghantam ke arah kepala Randu Ampel. Puji berteriak
kaget.
“Orang tua jahat!” teriak perempuan itu lalu melompat sambil kirimkan
tendang kaki kanan.
“Puji kau akan kualat berani menyerang gurumu sendiri!” seru Malaikat
Maut.
“Tua bangka edan! Siapa bilang kau guruku!” Puji tetap teruskan
tendangannya ke perut si orang tua. Namun dengan mudah dapat
dielakkan. Sebaliknya pukulan sakti yang dilepaskan Malaikat Maut cepat
sekali datangnya ke arah kepala Randu Ampel. Sekali lagi Puji berteriak.
Seolah-olah baru sadar kalau dirinya diserang orang. Randu Ampel cabut
suling bambu di pinggangnya. Terdengar suara melengking keras ketika
suling itu dibabatnya ke depan menyongsong serangan lawan.
Duus!
Sinar putih pukulan sakti mental ke atas, menghantam cabang-cabang
pohon hingga hancur bertaburan. Randu Ampel tampak melompat ke atas
dan jungkir balik di udara. Dilain kejap terdengar seruan Malaikat Maut
ketika ujung suling tiba-tiba menusuk ke arah batok kepalanya. Masih
untung dia cepat jatuhkan diri ke samping hingga hnaya destar putihnya
saja yang kena disodok robek oleh senjata lawan. Pucatlah paras orang tua
ini.
“Lelaki gila ini bukan manusia sembarangan! Ternyata ilmunya tinggi
sekali! Hamoir tembus batok kepalaku!”
“Sahabat,” kata Randu Ampel pada Puji. “Mari kita tinggalkan tempat
ini. Orang tua itu hanya mengganggu saja. Perjalanan kita masih jauh….”
Sambil berpegangan tangan kedua orang itu tinggalkan Malaikat Maut
Berkuda Putih, membuat si orang tua sesaat itu lagi termangu, namun
kemudian cepat-cepat dia mengejar.
“Tunggu! Kalian mau ke mana?!”
“Ke mana kami mau pergi apa urusanmu?!” hardik Puji.
“Puji,’ membujuk Randu Ampel. “Katakan saja ke mana kita akan
pergi. Biar dia tidak mengganggu lagi!”
“Baiklah, akan kukatakan padamu orang tua. Kami pergi mencari
manusia bergelar Datuk Iblis Penghisap Darah! Empat tahun lalu dia
menimbulkan bencana atas diriku. Begitu bertemu kami akan
membunuhnya!”
“Ah, ternyata muridku ini tidak melupakan peristiwa itu. ternyata dia
menyadari kalau harus membuat perhitungan dengan datuk keparat itu!”
Lalu dia bertanya: “Kalian akan mencari datuk itu ke mana?”
“Ke delapan penjuru angin. Masakan tidak berhasil!” jawab Puji.
“Dia berkepandaian tinggi. Kau dengan mudah dikalahkannya. Malah
dia kana mendatangkan bencana baru atas dirimu Puji,” memperingatkan
sang guru.
“Selama aku pergi dengan sahabatku ini, aku tidak takut dengan
siapapun. Dua orang gila mesakan kalah dengan orang datuk bejat!” jawab
Puji.
Malaikat Maut Berkuda Putih terdiam. Menyaksikan sendiri tadi
kehebatan Randu Ampel dia yakin lelaki gila ini dapat mengalahkan Datuk
Iblis. Tetapi dia tahu betul, sang datuk tidak sendirian. Nenek sakti
bernama Kunti Kendil itu pasti akan membantunya. Mau tak mau orang
tua ini jadi menarik nafas dalam. Lalu berkata: “Kalau kalian berdua
merasa memang telah cocok seiring sejalan, aku tidak akan melarang.
Ketahuialah, aku telah beberapa kali menemui datuk itu. Setiap terjadi
perkelahian dia selalu berhasil mengalahkanku. Karenanya kalian berdua
harus berhati-hati. Akupun akan mencarinya di lain jurusan. Sebelum
manusia bejat itu mampus tidak tentram rasanya hidup ini! Kalian berdua
pergilah….”
Sepasang mata orang tua itu tampak berkaca-kaca. Empat tahun
lamanya dia mencari muridnya. Setelah bertemu tak banyak yang bisa
dilakukannya. Bahkan mereka kini berpisah secara mengecewakan. Yang
amat menyedihkan ialah Puji tidak mengenali dirinya lagi sebagai guru.
“Kasihan anak itu. mungkin sudah suratan jalan hidupnya…” kata
Malaikat Maut Berkuda Putih. Dia bersiul memanggil kudanya. Beberapa
saat dia duduk termenung di punggung binatang ini sebelum akhirnya dia
memutuskan untuk mengikuti perjalanan kedua orang gila itu secara diam-
diam.
TIGA
RAHASIA DIBALIK LENYAPNYA MAYAT MAHESA
DALAM rahasia Makam Mahesa telah dituturkan bagaimana kaena
kurang periksa dan terdorong oleh cintanya terhadap Lembu Surah Datuk
Iblis Penghisap Darah, Kunti Kendil telah menunduh Mahesa yang
menyebabkan celaka atas diri suami si nenek. Pemuda tak berdosa itu
digantungkan kaki ke atas kepala ke bawah.
Pada pagi hari ke tiga, ketika Kunti Kendil menyangka Mahesa telah
menemui ajal, ternyata sosok tubuh pemuda itu lenyap dari cabang pohon
di mana dia digantung.
Kunti Kendil menaruh curiga Pendekar Muka Tengkoraklah yang telah
menyelamatkan atau mencuri mayat Mahesa. Setelah Lembu Surah
sembuh dari lukanya, kedua orang itu meninggalakn puncak Iyang untuk
mencari Pendekar Muka Tengkorak.
Di sebuah lembah sebelumnya si nenek menemukan satu kuburan yang
masih baru. Pada papan makam tertulis sederet kalimat yang menyatakan
bahwa yang dikubur di tempat itu adalah Mahesa, anak manusia malang
yang tak pernah kenal ibu dan kehilangan ayah. Yang menemui kematian
karena disiksa untuk perbuatan yang tidak pernah dilakukannya. Beberapa
hari kemudian ketika Kunti Kendil kembali lagi ke tempat tesebut, makam
Mahesa lenyap. Di situ ditemukan sebuah papan pemberitahuan bahwa
untuk menjaga hal-hal yang tak diinginkan makam Mahesa dipindahkan ke
tempat lain.
Sementara itu dari penjelasan yang didapat Kunti Kendil dari Lembu
Surah kemudian diketahui bahwa bukan Mahesalah yang telah mencelakai
lelaki itu, melainkan Wirapati alias Iblis Gila Tangan Hitam. Rasa
penyesalan yang tidak terkira membuat Kunti Kendil seperti mau gila. Di
samping itu tekadnya sudah bulat untuk mencari dan membunuh Wirapati.
Namun yang dilakukannya lebih dulu ialah mencari tahu di mana jenazah
Mahesa dipindahkan. Bersama Lembu Surah dia pergi menemui Pendekar
Muka Tengkorak untuk mencari keterangan. Karena kakek sakti inilah
orang yang terakhir sekali muncul di puncak Iyang sebelum tubuh Mahesa
lenyap dari tali gantungan!
Adapun Pendekar Muka Tengkorak ketika ditemui di pantai selatan
tampak terkejut begitu mengetahui Mahesa telah meninggal dunia. Karena
Kunti Kendil tetap menuduh kakek itu ada sangkut paut dengan lenyapnya
mayat si pemuda meka pertengkaran yang disusul dengan perkelahian
tidak dapat dihindarkan.
Bagaimanapun hebatnya Kunti Kendil namun perkelahian satu lawan
satu melawan si kakek muka tengkorak tidak mungkin dapat dimenangkan
dengan mudah. Lembu Surah yang mengetahui hal ini segera membantu
istrinya. Dikeroyok dua membuat Pendekar Muka Tengkorak terdesak.
Meski akhirnya dia dapat dirobohkan namun dua lawannya terpaksa
meninggalkan tanpa berminat lagi meneruskan perkelahian.
Sementara Kunti Kendil dan Lembu Surah melanjutkan perjalanan
mencari makam Mahesa, kita ungkapkan dulu apa sebenarnya yang terjadi
dengan pemuda yang digantung di atas pohon itu.
Dini hari menjelang pagi hari ketiga, ketika Mahesa tidak sadarkan diri
lagi, sementara darah mengucur keluar dari hidung dan telinganya,
dikegelapan udara dingin tiba-tiba berkelebat gesit bayangan-bayangan
aneh. Cepat sekali gerakannya hingga dalam waktu singkat bayangan ini
ternyata adalah tujuh manusia katai telah mengelilingi pohon di mana
Mahesa digantung kaki ke atas kepala ke bawah.
“Hitam, lekas panjat pohon. Putuskan tali gantungan!” Orang katai
berbaju merah berkata pada orang katai berpakaian hitam. Suaranya halus
sekali, hampir sehalus hembusan angin. Hingga Kunti Kendil yang ada di
dalam pondok dan masih terbangun sama sekali tidak dapat
mendengarkannya.
Si katai berbaju hitam membuat gerakan aneh. Tubuhnya mencelat ke
atas cabang pohon. Dia menelungkup di atas cabang ini, ulurkan
kepalanya. Dengan gigi-giginya yang kecil-kecil hampir tak dapat
dipercaya, sekali mengigit saja tambang yang besar kuat itu putus. Di
sebelah bawah enam kawannya siap menangkap tubuh Mahesa yang jatuh.
Sesaat pemuda ini dibandingkan di tanah. Si katai berbaju coklat letakkan
telinganya di dada Mahesa.
“Bagaimana, masih hidup?” tanya si baju merah.
“Jantungnya masih berdegup. Tapi perlahan sekali…” jawab si baju
coklat.
“Pemuda malang. Kita harus cepat-cepat membawanya dari sini. Putih,
hentikan darah yang keluar dari hidung dan telinganya. Kau Hijau totok
dadanya agar jantungnya berdegup lebih kencang!”
Sesuai dengan ucapan si katai baju merah maka orang katai berpakaian
putih segera menotok beberapa bagian di belakang kepala Mahesa. Lalu
kawannya yang mengenakan pakaian hijau menotok dada pemuda itu.
“Kita pergi sekarang!” kata si meah. Tubuh Mahesa mereka panggul
beramai-ramai. Cepat dan aneh sekali gerakan mereka. Juga tanpa
menimbulkan suara. Sesaat kemudian mereka sudah lenyap dari tempat
itu.
Hampir fajar menyingsing mereka sudah berada jauh dari kaki
pegunungan Iyang, memasuki rimba belantara rapat di sebelah selatan.
“Sebelum kita sampai di telaga kecil itu, kita tak boleh berhenti!”
berkata si katai baju merah yang lari di sebelah depan. Kawan-kawannya
mejawab dengan lebih mempercepat lari.
Akhirnya mereka sampai disebuah telaga kecil berair warna-warni,
akibat pantulan daun-daun pepohonan disekitarnya. Dari dalam telaga
mengepul asap hangat tanda mata air di telaga itu adalah mata air panas.
Tubuh Mahesa dibaringkan ditepi telaga. Si merah memeriksa degup
jantung Mahesa. Degup jantung pemuda ini ternyata mulai mengencang
namun masih jau dari normal. Ketujuh manusia katai itu tampak berunding
sesaat. Kemudian mereka berpencaran. Tiga orang duduk disisi sebelah
kiri, tiga lainnya di sebelah kanan sedang yang ke tujuh yakni yang
berbaju putih duduk di belakang kepala Mahesa. Ketujuhnya mangulurkan
tangan lalu menempelkan telapak tangan masing-masing di atas tubuh dan
kening si pemuda. Secara serentak mereka memejamkan mata dan
kerahkan tanaga dalam masing-masing untuk kemudian disalurkan pada
kedua telapak tangan.
Tubuh Mahesa tampak mengepulkan asap berbau busuk. Ketika orang
katai berbaju putih memencet pipinya dari mulut Mahesa yang terbuka
membersit keluar darah kental.
Melihat darah yang keluar ini, si katai baju merah merasa lega.
“Nyawanya selamat,” katanya. “Tapi kita masih harus melihat apakah dia
bakalan lumpuh atau tidak. Seperti maklum akan maksud anggukan itu,
orang katai yang disebelahnya yakni yang berpakaian warna biru cepat
berdiri. Dia melangkah mendekati sebatang pohon berbatang tinggi lurus.
Tangan kanannya bergerak menghantam batang pohon sebelah bawah.
Kraak!
Luar biasa. Tangan yang begitu kecil sanggup menghancurkan batang
besar hingga pohon itu tumbang dan jatuh melintang tepat di atas telaga
kecil berair panas.
Tubuh Mahesa kemudian mereka gotong ke tengah telaga. Ketiganya
diikatkan ke belakang pada batang pohon sedang sekujur tubuhnya sebatas
leher ke bawah di masukkan ke dalam air telaga. Dua orang katai duduk di
kiri kanan kepala pemuda itu sambil bergantian menyiramkan air telaga
yang diciduk dengan daun ke atas kepala Mahesa. Sampai sore tiba
pemuda itu masih belum siuman.
Manusia katai berbaju merah menunjukkan wajah khawatir. “Jika
sampai tengah malam nanti dia tidak sadar, berarti seumur hidupnya dia
tetap pingsan dan lumpuh!”
Enam manusia katai lainnya terdiam. Yang berbaju coklat kemudian
membuka mulut. “Bagaimana dengan rencana kita untuk memberi
pelajaran pada nenek-nenek yang ringan tangan itu…?”
“Rencana tetap kita jalankan tapi baru selewatnya tengah malam nanti.
Bila sudah ada kepastian pemuda ini bisa diselamatkan atau tidak. Saat ini
nenek itu pasti sudah mengetahui lenyapnya tubuh pemuda ini…”
“Pasti dia kelabakan!” kata si katai baju hitam.
Menjelang tengah malam si katai yang duduk menyirami kepala
Mahesa dengan air telaga tiba-tiba terdengar berseru: “Kawan-kawan!
Pemuda ini keluarkan suara mengeluh!”
Seruan itu disambut dengan sorak gembira enam manusia katai lainnya.
Mereka lari meniti batang pohon dan memperhatikan Mahesa dari dekat.
Memang saat itu dari mulut pemuda ini mulai terdengar suara seperti
mengerang. Si katai baju merah memijit tubuh Mahesa di beberapa bagian.
Tak lama kemudian meskipun sedikit, kelihatan kedua mata Mahesa
bergerak.
“Dia mulai membuka mata!” seru salah seorang dari tujuh manusia
katai itu.
Si baju merah kembali memijit tubuh Mahesa. Suara erangan pemuda
ini makin keras. Matanya membuka tambah lebar. Kemudian terdengar
suara air telaga bergemeracak.
“Dia menggerakkan kedua kakinya!” seru si katai baju hitam.
Si katai baju merah menarik nafas lega.
“Angkat tubuhnya!”
Ikatan pada kedua tangan Mahesa dilepaskan. Tubuh pemuda ini
diangkat dari dalam air lalu dibaringkan ditepi telaga. Dadanya tampak
turun naik. Si baju merah kembali memijit beberapa bagian tubuh pemuda
itu. Dalam keadaan mulai sadar Mahesa berusaha bangkit. Namun baru
sampai duduk tubuhnya terhempas kembali.
“Orang muda, kau masih lemas. Sebaiknya berbaring saja dulu,” kata si
katai baju merah.
Seumur hidupnya baru sekali itu Mahesa mendengar suara manusia
sehalus suara nyamuk. Benarkah suara manusia atau suara apa? Dibukanya
matanya lebih lebar. Yang dilihatnya mula-mula hanya kegelapan. Lalu
pohon-pohon besar. Di atas pohon sana tampak langit menghitam. Lalu
disampingnya dilihatnya banyak sekali kepala-kepala dan tubuh-tubuh
kecil.
“Di mana aku…. Kalian siapa…?” suara pemuda itu serak parau.
“Kawan tak perlu khawatir. Kau berada di tempat aman. Kami semua
sahabat-sahabatmu…”
“Ka… kalian ini anak-anak atau…? Kalian manusia atau tuyul…?”
Tujuh manusia katai itu tertawa cekikikan.
“Kami bukan tuyul. Kalau tuyul kepalanya gundul!” berkata si katai
baju coklat. Kembali kawan-kawannya tertawa riuh oleh ucapan teman-
temannya.
“Orang muda, sakit kepalamu akan segera hilang. Minum dulu air
telaga ini…” salah seorang dari manusia-manusia katai itu menuangkan air
telaga dari dalam daun ke mulut Mahesa. Rasa hausnya kini terobat.
“Aku lapar…” bisik Mahesa.
“Kami tak punya makanan. Besok kalau sudah terang kami akan
carikan makanan untukmu. Sekarang sebaiknya kau minum dulu obat ini
lalu tidur.”
Si katai baju putih mengeluarkan sebuah obat berbentuk butiran sebesar
ujung kelingking. Obat ini dimasukkannya ke dalam mulut Mahesa. Begitu
tertelan Mahesa merasakan perutnya panas.
“Kau memberiku racun…?”
“Pemuda tolol! Setelah kami tolong masakan kau kami racuni?!” sahut
si katai baju merah. “Sekarang sebaiknya kau tidur,” lalu jari telunjuknya
yang kecil ditekankan ke kening Mahesa diantara dua alis. Aneh begitu
ditekan begitu Mahesa merasakan matanya menjadi berat. Pemuda ini
akhirnya tertidur.
Begitu Mahesa tertidur, si katai baju merah berkata pada kawan-
kawannya: “Sekarang empat orang dari kalian lakukan apa yang menjadi
rencana kita. Dua lainnya tetap bersamaku di sini menjaga pemuda ini.
Hitam, Biru, Coklat dan Hijau, kalian segera berangkat. Cari tempat yang
baik. Harus tidak terlalu jauh dari kaki gunung Iyang. Jangan lupa untuk
menyalakan api agar asapnya dapat menarik perhatian orang yangkita
maksud.”
Maka keempat manusia katai itu segera meninggalkan telaga.
Berkelebat dalamkegelapan malam. Keesokan paginya mereka sampai di
bagian utara kaki pegunungan Iyang. Daerah ini selain berpemandangan
indah, bukit dan lembahnya tidak tertutup rimba belantara rapat seperti di
daerah timur atau barat. Karenanya banyak ditempuh orang dalam
perjalankan. Di sebuah sungai kecil si hitam dan kawan-kawannya
berhenti. Setelah memandang berkeliling sebentar si hitam berkata:
“Tempat ini kurasa cukup baik. Mari kita mulai bekerja.”
Keempat orang itupun menggali tanah merah dari tepi sungai lalu
menumpuknya di bagian tepi sungai yang lain sehingga menyerupai
berbentuk nisan. Lalu si hijau menggurat sederetan tulisan pada papan itu
yang berbunyi:
Di sini dimakamkan
Mahesa
Anak manusia yang malang. Yang tak pernah kenal kenal
ibu dan kehilangan ayah. Yang menemui kematian
dengan pasrah, mati disiksa untuk perbuatan yang
tak pernah dilakukannya.
“Beres! Sekarang nyalakan api. Setiap orang yang lewat disekitar
lembah ini akan melihat kepulan asap. Pasti akan datang kemari. Kita
tunggu saja…”
Empat orang katai itu mengumpulkan kayu-kayu kering. Setelah
terkumpul mereka segera menyalakan api. Kepulan asap mengepul tinggi
ke udara. Selama empat hari menunggu tak seorangpun muncul di tempat
itu. hari kelima seorang penunggang kuda datang. Orang ini kelihatannya
seperti seorang pedagang kerana membawa banyak barang. Dia
memperhatikan kuburan di tepi sungai itu sebentar lalu melanjutkan
perjalanan.
Memasuki hari ke tujuh empat orang katai yang menunggu-nunggu di
tempat itu mulai merasa jenuh.
“Kalau sampai satu bulan nenek peot itu tidak muncul, kita bisa
berlumutan menunggu di sini,” kata si hijau.
“Kayu kering mulai susah dicari. Sejak dua hari ini hujan grimis turun
trus,” menimpali si katai berpakaian hitam.
Tapi si katai berpakaian coklat menjawab memberi semangat. “Kita tak
boleh putus asa. Orang yang kita tunggu pasti muncul. Mungkin nenek itu
masih mengurusi luka si kakek. Maklum masih pengantin baru. Hik…
hik… hil!”
Empat orang katai itu tertawa gelak-gelak.
Pada hari ke delapan, menjelang tengah hari si katai baju hitam yang
duduk uncang-uncang kaki di atas cabang pohon tiba-tiba melesat turun ke
bawah. Pada tiga temannya dia berkata: “Ada orang yang datang dari bibir
lembah sebelah sana. Gerak-gerikanya seperti nenek brengsek itu. lekas
sembunyi!”
Si hijau terlebih dulu menghilangkan jejak-jejak yang bisa
menimbulkan kecurigaan. Lalu dia melompat menyusul tiga kawannya ke
atas pohon besar, bersembunyi dibalik kerapatan dedaunan. Mereka
menunggu. Tak lama kemudian berkelebatlah sesosok berambut putih
panjang awut-awutan, bertubuh bungkuk, melangkah terpincang-pincang
ke arah tumpukan tanah merah berbentuk kuburan.
Nenek ini yang bukan lain adalah Kunti Kendil, guru Mahesa tegak di
depan kubur dengan wajah pucat dan tenggorokan naik turun. Kedua
matanya menyipit ketika membaca apa yang tertera pada papan yang
ditancapkan di kepala kubur. Dadanya kemudian terasa sesak dan sepasang
kakinya bergetar. Mata yang tadi menyipit kini membelalak hampir tak
berkesip.
“Jadi… ternyata anak setan itu sudah mati!” kata Kunti Kendil dalam
hati. “Heran, siapa yang membawa mayatnya ke sini? Siapa yang
menguburkan? Lalu siapa pula yang membuat papan nisan bertuliskan
kata-kata sialan itu? mati disiksa untuk perbuatan yang tidak pernah
dilakukannya! Gila!”
Kunti Kendil melangkah mundar-mandir di depan makam. Ada rasa
menendang kuburan dan papan nisan itu. Namun niat itu tak dilakukannya.
Setelah menggerendeng dalam hati nenek ini akhirnya tinggalkan tempat
itu, kembali ke pondoknya di puncak pegunungan Iyang.
Hampir tiga minggu kemudian Lembu Surah sembuh dari lukanya. Kini
dia menjadi manusia cacat seumur hidup, buntung tangan kanannya
sebatas bahu. Pada saat itulah Kunti Kendil mendapat penjelasan bahwa
yang mencelakakan suaminya itu bukan Mahesa, melainkan Wirapati. Hal
ini sangat mengejutkan si nenek. Berarti dia telah kesalahan tangan. Dan
orang itu Mahesa kini sudah mati. Makamnya ditemuinya di lembah tiga
minggu lalu. Bersama Lembu Surah nenek itu kemudian meninggalkan
tempat kediamannya, pergi ke lembah untuk mengunjungi makam
muridnya yang malang itu.
Namun yang ditemui Kunti Kendil di tempat itu hanyalah sebuah papan
bertuliskan pemberitahuan: Untuk menjaga hal-hal yang tidak di inginkan
makam Mahesa telah dipindahkan ke tempat lain! Makam pemuda
memang tak ada lagi di tempat tersebut. Lenyap entah ke mana!
Kunti Kendil seperti mau gila. Dia memutuskan untuk tidak kembali ke
puncak Iyang. Dia harus mengetahui di mana makam Mahesa kini. Dia
menaruh syak wasangka bahwa Pendekar Muka Tengkoraklah yang
mencuri mayat muridnya itu, menguburkannya lalu bersama Lembu Surah
si nenek mencari kakek muka terngkorak. Sementara itu empat orang katai
yang sesungguhnya melakukan semua itu tertawa gelak-gelak.
“Sekarang dia rasakan,” kata si katai baju hijau. “Sebelum nenek itu
mengetahui apa sebenarnya yang terjadi selama itu pula dia dihantui rasa
menyesal!”
EMPAT
KITAB TUJUH JURUS ILMU SILAT ORANG KATAI
TUJUH manusia katai itu duduk mengelilingi Mahesa. Wajah mereka
yang tadi ceria dan banyak tawa kini tampak redup. Ini karena mereka tahu
bahwa pemuda itu akan segera meninggalkan mereka. Berpisah setelah
hampir selama sepuluh hari mereka berkumpul, menolong dan merawat
pemuda itu. kini Mahesa telah sembuh dan berniat meninggalkan mereka,
pergi untuk berbagai urusan yang harus dilakukannya.
Mahesa pandangi wajah-wajah lucu di hadapannya. Lalu mengeluarkan
rokok kawung, membagi-bagikan pada ketujuh orang katai itu dan masing-
masing mereka mulai menghisap. Dibagi rokok seperti itu biasanya
mereka senang sekali, namun sekali ini nampak wajah mereka tetap
muram.
“Sahabat-sahabat,” kata Mahesa, “Aku tahu kalian ingin sama-sama
terus. Tetapi itu adalah tidak mungkin. Masing-masing kita punya tugas
yang harus dilakukan. Aku pergi tetapi terlebih dulu aku mengucapkan
banyak terima kasih. Kalian telah menyelamatkan nyawaku. Kalian
kemudian merawatku hingga aku sembuh. Berarti aku berhutang budi dan
berhutang nyawa terhadap kalian. Entah kapan aku bisa membalasnya…”
“Kami menolong tidak mengharap balasan. Semua karena kami merasa
itu menjadi kewajiban kami…” menjawab si baju merah.
“Aku mengerti. Aku tidak akan melupakan kalian. Kapanpun kita pasti
akan bertemu lagi…”
Si baju merah dan kawan-kawanya duduk termangu. Lalu si hitam
bertanya: “Apakah kau akan mencari gurumu?”
“Dia pasti tidak ada di puncak Iyang,” jawab Mahesa yang tak mau
menjawab ya atau tidak. Namun dalam hatinya menemui gurunya lagi. Dia
lebih suka sang guru mengganggapnya benar-benar sudah mati. Masih
seperti tergiang di telinganya ucapan Kunti Kendil sebelum dia digantung:
“Aku memungutmu dari comberan di liang kubur. Bukan untuk memberi
pelajaran dusta dan membalas air susu dengan air tuba!” Mengingat kata-
kata sang guru apakah masih ada guna baginya untuk menemui nenek itu?
Mahesa tidak mengetahui kalau sang guru telah menyadari bahwa bukan
dialah yang mencelakai Lembu Surah.
“Sahabat-sahabat,” kata Mahesa pada tujuh orang katai. “Aku harus
pergi. Sebelum pergi apakah ada sesuatu yang bisa kulakukan untuk
kalian. Sekedar sedikit membalas budi hingga hutangku tidak terlalu
berat…?”
Tujuh orang katai itu saling pandang sesaat. Lalu si hijau membuka
mulut: “Karena kau yang berkata lebih dulu, maka kamipun tak sungkan
untuk mengutarakan sesuatu. Tapi apa yang kami minta ini bukan kami
anggap sebagai satu keharusan bagimu untuk melakukannya. Apalagi
kalau kau menganggap sebagai balas budi segala….”
“Katakanlah, apa yang bisa kulakukan.”
“Setahun lalu kami kehilangan sebuah kitab. Kitab pelajaran ilmu silat.
Kitab itu bernama Tujuh Jurus Ilmu Silat Orang Katai. Merupakan ilmu
silat yang sangat langka dan tidak ada duanya di dunia persilatan…”
Mahesa kaget. Dia cabut rokok kawungnya. “Jadi kalian ini memiliki
kepandaian silat? Pasti silat yang sangat aneh…!”
“Ah, manusia-manusia pendek seperti kami ini punya kemampuan
apa…!” ujar si coklat merendah.
“Aku tidak percaya. Kalian harus memperlihatkan kehebatan kalian
padaku!”
Tak satupun orang katai itu bergerak atau menjawab.
“Bukankah kita bersahabat!”
“Apapun ilmu silat atau kepandaian yang kami miliki, bukanlah untuk
dipamerkan…” jawab si hijau.
Diam-diam Mahesa mengerahkan tenaga dalamnya. Kesehatannya
sudah pulih sempurna. Karenanya dia kini dapat mengumpulkan lebih dari
seprti tenaga dalamnya di tangan kanan dan dia siap untuk melepaskan
pukulan Api Geledek Menggusur Makam. Namun sebelum tangannya di
gerakkan untuk memukul, si baju hitam tampak tersenyum dan berkata:
“Ternyata kau benar-benar sudah sembuh. Mengapa tidak melipat
gandakan tenaga dalammu…?”
Mahesa kaget. “Bagaimana anak setan ini mengetahui aku mengerahkan
tenaga dalam!” katanya dalam hati.
Dari samping kiri terdengar si merah berkata: “Sahabat apakah kau
tidak tahu ada sepotong ranting kecil menyusup di pinggang
pakaianmu…?”
Ketika Mahesa memperhatikan pinggang pakaiannya sebelah kiri,
astaga! Sepotong ranting kering telah merobek pakaiannnya. Ranting itu
masih menancap di sana sampai dia kemudian mencabutnya. “Gila!
Bagaimana mereka menusuk pakaianku tanpa aku melihat ataupun
merasa?! Jika mereka musuhku dan menusukkan dengan pisau berarti
ususku sudah membusai!”
“Mahesa, kami tidak punya ilmu apa-apa,” kata si merah. “Yang tadi
kami perlihatkan padamu hanya ilmu sulap kampungan.” Tetapi Mahesa
kini sudah yakin bahwa tujuh manusia katai ini benar-benar memiliki
kepandaian luar biasa. Dan mereka berjumlah tujuh orang. Bukan mustahil
dunia persilatan ada dalam tangan mereka!
“Hai, tadi kalian bicara tentang kitab silat. Cerita kalian teputus.
Lanjutankanlah…” kata Mahesa akhirnya.
“Entah bagaimana kitab itu lenyap setahun lalu. Kami menyelidik
kemudian kami ketahui kitab itu ada pada seorang tokoh silat bergelar
Pendekar Muka Tengkorak…”
“Pendekar Muka Tengkorak!” Mahesa melengak kaget. “Orang itu
mencuri kitab kalian…? Tidak mungkin. Mustahil!”
“Bagaimana kau bisa mengatakan tidak mungkin. Mustahil?!” Tanya si
baju merah.
“Aku kenal baik dengan orang tua itu. Dia bukan pendekar bangsa
pencuri. Dia pernah menyelamatkanku beberapa kali. Memang… aku
pernah mendengar dia menyebut-nyebut kitab silat. Tapi aku yakin dia
tidak mengambilnya dari kalian…”
“Kami juga menduga demikian,” jawab si hitam. “Hanya saja ketika
kami ketahui bahwa kitab itu ada padanya, dia lenyap beberapa lama, tak
bisa kami ketemukan. Ketika dia muncul lagi kami ketahui kitab itu tak
ada padanya. Kami kawatir ada yang telah mencurinya. Kami lihat
pendekar tua itu patah salah satu tangannya. Mungkin akibat perkelahian
dengan pencuri kitab…”
Mahesa ingat penuturan Pendekar Muka Tengkorak sewaktu di puncak
gunung Bromo. Lalu diapun menceritakan. Mendengar keterangan Mahesa
itu maka si baju merahpun berkata: “jadi dukun jahat bernama Embah
Bromo Tunggal itulah yang telah merampas kitab kami dari tangan
Pendekar Muka Tengkorak. Berarti dia yang harus dicari. Sahabat Mahesa,
maukah kau sedikit mencapaikan diri dan membuang waktu untuk mencari
dukun keparat itu? Mendapatkan kitab silat itu kembali dan
menyerahkannya pada kami…?”
“Tidak kalian mintapun aku akan melakukannya!” sahut Mahesa. “Dosa
dan kebejatan dukun itu sudah selangit tembus. Dia juga yang mencuri
Keris Naga Biru, dia pula yang menyebabkan ayah menjadi gila dan
membunuh ibu…”
“Kami sudah tahu semua riwayatmu. Tak usah diceritakan lagi…” kata
si katai baju putih.
Lagi-lagi Mahesa dibikin kaget.
“Bagaimana kalian bisa tahu…?” tanyanya heran.
Si merah tertawa. “Kami bertujuh punya empat belas telinga empat
belas mata. Masakan buta akan apa yang terjadi dalam dunia
persilatan…?!”
Mahesa hanya bisa garuk-garuk kepala mendengar jawaban itu. Dia
berdiri. “Kalau kitab itu berhasil kudapatkan di mana aku akan menemui
kalian?”
“Kami yang akan dating mengambilnya,” jawab si biru.
“Kalau begitu, aku akan pergi sekarang.” Mahesa lalu memeluk satu
demi satu ketujuh manusia katai itu.
****
Bagaimanapun setia dan hormatnya Mahesa terhadap gurunya yaitu
nenek bernama Kunti Kendil itu, namun dengan adanya kejadian luar biasa
yang dialaminya, mau tak mau kini ada perasaan lain di lubuk hati pemuda
ini. Perasaan itu bukan satu perasaan membenci atau mendendam terhadap
sang guru. Sebaliknya justru perasaan membenci pada dirinya sendiri.
Mengapa dia dilahirkan ke dunia ini kalau kemudiannya hanya akan
menyusahkan orang lain. Kalau kemudian dirinya diperlakukan sangat
kejam dan hina, di perlakukan seperti sampah. Malah mungkin sampah
lebih berharga, di buang ada tempatnya, dirinya kemudian bisa dan mudah
saja dijadikan umpan gantungan. Digantung di atas pohon, kaki ke atas
kepala kebawah. Penjahat besarpun tidak akan digantung seperti itu.
Dirinya rupanya lebih keji dari penjahat besar!
Bagaimana hal itu bisa terjadi, Mahesa tak habis piker. Seorang guru
yang telah menyelamatkannya lalu memeliharanya selama belasan tahun,
member pelajaran ilmu silat dan pukulan sakti. Tahu-tahu kemudian
menghukumnya secara biadab seperti itu! Apalagi kalau bukan karena
dirinya memang tidak berharga dibanding sampah sekalipun!
Dalam hatinya pemuda ini mengambil keputusan untuk tidak mau lagi
bertemu dengan gurunya untuk selama-lamanya. Lalu bagaimana dengan
dua tugas utama yang harus dijalankannya? Memikir kesitu Mahesa
merasa kurang enak. Tugas kedua dia memang merasa bebas dan tak perlu
lagi melakukannya. Yakni mencari Lembu Surah alias Datuk Iblis
Penghisap Darah. Kakek itu akhirnya telah bertemu malah kawin dengan
gurunya. Tetapi bagaimana dengan tugas pertama yaitu membunuh
Wirapati alias Iblis Gila Tangan Hitam yang adalah kakak seperguruannya
sendiri? Jangankan membunuh, malah terakhir sekali dia justru
menyelamatkan Wirapati dari serangan membokong yang dilepaskan sang
datuk.
Berlari sambil membekal beban pikiran seperti itu membuat Mahesa
seolah-olah tidak sadar ke mana arah tujuannya. Ketika hari sore beranjak
malam dan udara mulai gelap didapatkannya dirinya berada di hutan
alang-alang. Dia memandang berkeliling. Di ujung sebelah selatan
dilihatnya deretan bukit memanjang dari barat ke timur yang agaknya
tertutup oleh rimba belantara itu dari pada kedinginan di tengah alang-
alang. Maka diapun lari menuju bebukitan.
“Aku harus menjauhi pegunungan Iyang,” katanya dalam hati. “Dari
pada mencari Wirapati lebih baik aku mencari ayahku sendiri. Lalu
mencari kitab ilmu silat orang katai itu. Wirapati mungkin sudah bahagia
bersama Kemala…” mengingat gadis itu Mahesa menjadi menarik nafas
panjang. Dia lalu teringat pula pada sapu tangan putih yang dilemparkan
sang dara. Cepat-cepat dia memeriksa ke balik pakaiannya. Ternyata sapu
tangan putih itu masih ada padanya meski kini kotor lembab.
Mahesa sampai di bukit di ujung selatan. Tenggorokannya kering dan
perutnya terasa lapar. Tubuhnya sangat letih, tetapi keletihan beban pikiran
lebih dari pada keletihan aurat tubuhnya. Pemuda ini naik ke atas pohon,
tetap ketika tiba-tiba diantara kelaeatan semak belukar dia melihat dua titik
menyala. Ketika diperhatikan ternyata sepasang mata seekor harimau
besar. Rupanya binatang ini tadi tempat persembunyiannya. Melihat
mangsanya berada di atas pohon yang tak mungkin lagi dijangkau raja
hutan itu menggerang dan menggaruk-garukkan kaki depannya ke batang
pohon.
“Anak setan!” maki Mahesa. “Kau inginkan dagingku. Ini kuberikan air
hangat sedap untukmu!” dari atas pohon Mahesa lorotan celananya ke
bawah dan sssrrr… Air kencingnya memancur jatuh tepat ke kepala
harimau. Binatang ini mengaum keras, goyangkan kepalanya lalu lari dari
tempat itu. Mahesa tertawa lebar. Setelah kucak-kucak matanya pemuda
ini segera tertidur. Namun tak selang berapa lama dia terbangun ketika
sepasang telinganya menangkap adanya gerakan-gerakan sosok tubuh
manusia di bawah pohon.
LIMA
SURAT MAUT DI MALAM BUTA
KARENA MALAM gelap sekali Mahesa tidak dapat melihat jelas
orang-orang itu, apalagi wajah mereka nasing-masing. Namun setelah
mereka membuat perapian kecil, di bawah nyala api yang cukup terang
Mahesa memperhatikan orang-orang itu.
Mereka berjumlah lima orang. Yang pertama seorang berpakaian
perwira muda, berbadan tidak tinggi tapi memiliki otot-otot menonjol luar
biasa. Orang kedua adalah seorang kakek berpakaian hitam. Rambutnya
putih awut-awutan, mengingatkan Mahesa pada rambut gurunya Kunti
Kendil. Kakek ini memiliki wajah cekung dan rongga mata sangat dalam
hingga tampangnya seperti mayat hidup. Lelaki ke tiga berusia sekitar 40
tahun, bertampang keren berpakaian rapi. Pada pinggangnya terselip
sebatang tongkat rotan yang ujungnya berkeluk. Orang ke empat dan ke
lima berwajah hampir sama karena keduanya memang kembar dan
mengenakan pakaian serta ikat kepala serba merah. Sepasang mata
merekapun tampak merah aneh.
“Hampir satu bulan kita mencari dan menyelidik. Kuharap saja
keterangan terakhir yang kita dapat adalah benar dan tidak menyesatkan.”
Yang bicara adalah lelaki berpakaian perwira muda, berotot kuat.
Namanya Sukat Ragil. Dia seorang perwira muda dari keraton
Banyuwangi yang tengah menjalankan tugas dan menjadi pimpinan dalam
rombongan itu.
Orang berpakaian merah di sebelah kanan, yakni Kembar Merah Tua
mencampakkan rokoknya ke tanah lalu berkata: “Selama ini aku dan
saudaraku hanya mendengar nama dan cerita saja dari manusia itu. Hampir
tak dapat dipercaya ada perempuan sejahat dn sekeji itu.”
“Sahabatku,” bicara lagi Sukat Ragil. “Kau akan segera melihat sendiri
tampang perempuan itu. Kuharap saja kau tidak akan terpikat. Dia sangat
senang pada lelaki-lelaki muda dan gagah. Seperti kawan kita Parit Teguh
ini!”
Orang yang bernama Parit Teguh yaitu lelaki keren berpakaian rapi
tampak merah mukanya. “Akupun ingin sekali ,elihat perempuan itu. Apa
benar cantik luar biasa hingga banyak yang tergoda tapi akhirnya jadi
korban!”
“Dia bukan hanya cantik,” kata Sukat Ragil lagi. “Tubuhnya mulus
menggiurkan, berkulit putih. Serta menghambur bau harm yang membuat
lelaki bias lupa diri…”
“Diantara kita hanya kakek Tulodong Hitam yang pernah melihatnya.
Mungkin bias memberikan keterangan lebih banyak…” kata Kembar
Merah Muda.
Orang yang bernama Tulodong Hitam ialah kakek berpakaian hitam itu.
“Sebenarnya aku tak mau bicara banyak malam ini. Aku punya firasat ada
yang mengintai kita saat ini…”
Karena diantara mereka berlima memang kakek ini yang memiliki
kepandaian paling tinggi maka empat orang lainnya sangat mempercayai
ucapannya. Langsung keempatnya memandang berkeliling, mengawasi
keadaan sekitar ditu dengan teliti.
“Saya mencium bau sesuatu…” kata Parit Teguh.
Di atas pohon Mahesa mendekam tak bergerak. “Apakah orang-orang
itu tahu aku ada di sini…” piker si pemuda.
Terdengar suara berkeresek. Tiba-tiba semak belukar di samping kanan
bergerak menguak dan sesosok tubuh besar kuning berbelang hitam
melompat disertai suara auman dahsyat.
“Raja hutan!” teriak Kembar Merah Tua.
Lima orang itu melompat berpencaran. Parit Teguh cabut tongkatnya.
Sepasang Kembar Merah tampak membungkuk memasang kuda-kuda.
Kakek berpakaian hitam tampak tegak dengan sikap tetap tenang
sementara Sukat Ragil menunggu dengan kedua tinju terkepal. Otot-
ototnya nampak mengembung.
Karena terkamannya yang pertama tidak membawa hasil, harimau besar
yang beberapa saat sebelumnya juga menyerang Mahesa, kini tampak
menggereng. Ekornya bergerak-gerak. Sepasang matanya bergerak kian
kemari seolah-olah menimbang-nimbang siapa diantara kelima manusia itu
yang hendak diterkamnya. Tiba-tiba didahului suara mengaum keras, raja
hutan itu melompat kea rah Parit Teguh. Justru ini kesalahan besar yang
dibuat sang raja hutan karena Parit Teguh adalah satu-satunya orang yang
saat ini memegang senjata.
Begitu harimau besar itu menerkamnya dengan dua kaki depan
menyambar ganas. Parit Teguh menghantam dengan tongkatnya.
Kraak!
Kaki kiri harimau patah. Binatang ini terhempas ke kanan, terguling ke
dekat perapian dan mengaum dahsyat tidak henti-hentinya. Dia bangun
dan siap menyerang kembali. Saat itulah Sukat Ragil melompat dari
samping. Tinju kanannya yang besar dan keras menghantam pelipis kiri
harimau itu. Untuk kedua kalinya sang raja hutan terhempas ke tanah.
Suara aumannya menggelegar dalam rimba belantara itu. Empat kakinya
mencakar-cakar ke atas. Darah tampak mengalir dan pelipisnya yang
rengkah. Tak selang berapa lama harimau ini terkulai tak bergerak lagi.
“Hebat sekali pukulan tenaga luar perwira itu,” kata Mahesa yang
memperhatikan dari atas pohon.
“Sukat Ragil,” kakek Tulodong Hitam berkata, “Aku harus berterima
kasih padamu yang telah memberkan bantal untuk tidur bagiku!” orang tua
ini lalu menyeret bangkai harimau itu ke dekat perapian, lalu
membaringkan tubuhnya dengan kepala diletakkan di atas tubuh harimau
sebagai bantal.
Empat orang lainnya kembali duduk mengelilingi perapian.
“Kakek Tulodong,” berkata Kembar Merah Muda. “Sebelum kau tidur
apa tidak hendak menerangkan dulu tentang perempuan yang tengah kita
buru itu?”
“Apa yang akan kuceritakan,” jawab si orang tua tanpa berubah
berbaringnya. “Aku hanya melihatnya satu kali. Itupun tak lama. Waktu
itu sebelum dia membunuh Tudung Maut. Tubuhnya semampai. Berkulit
puith. Aku yang sudah tua ini harus mengakui belum pernah melihat
perempuan bertubuh sebagus dan semulus itu. Parasnya memang cantik
walau dandannya agak seronok. Dia selalu muncul dengan pakaian merah
tipis hingga bagian-bagian tubuhnya yang terlarang terkadang jelas
kelihatan. Di balik semua kemulusan dan kecantikan itu tersembunyi ilmu
kepandaian yang luar biasa. Sejauh ini tak satu orangpun sanggup
menjatuhkannya. Sebaliknya banyak korban menemui ajal ditangannya.
Kita harus brhati-hati jika menemui dan menghadapinya…”
“Kita berlima dia sendirian, masakan tidak sanggup meringkusnya?”
ujar Sukat Ragil. Sebagai pimpinan rombongan yang menerima tugas dari
keratin Banyuwangi, dia tanggung jawab penuh akan keberhasilan tugas
itu.
Tulodong Hitam tidak mau menjawab langsung kata-kata Sukat Ragil
tadi. Dia berkata memberi ingat: “Perempuan itu bukan saja berilmu
tinggi, tetapi juga licik sekali. Ada satu hal yang harus kalian ingat baik-
baik. Dia memiliki kepandaian meneber bau harum luar biasa. Sekali
seseorang mencium bau itu, tubuhnya akan lemas, jatuh tak mampu
bergerak lagi. Saat itulah biasanya dia menghabisi lawannya. Karenanya
jika bertempur nanti kalian harus selalu menjaga jalan pernafasan. Jangan
sampai mencium bau harum yang ditebarkannya!”
“Turut keterangan yang kita dapat, perempuan itu akan berada di sekitar
daerah ini besok. Satu-satunya desa terdekat adalah Bangsalsari. Kita
sudah memutuskan untuk datang ke situ karena kemungkinan paling besar
dia akan muncul di Bangsalsari. Rencana ini tidak berubah atau ada
gagasan lain?”
Tak ada menjawab.
“Jadi rencana tetap seperti semula,” kata Sukat Ragil menutup
pembicaraan. Lalu dia mencari tempat yang baik untuk memberingkan
tubuh. Namun sebelum sempat memberingkan mata perwira ini tiba-tiba
melompat, disusul Tulodong Hitam di sebelah kiri. Keduanya sama-sama
melihat sesosok bayangan bergerak dalam kegelapan. Sebelum sempat
mengejar bayangan itu telah lanyap. Ketika keduanya melangkah kembali
ke perapian, di situ Kembar Merah Muda tampak tengah memungut
sehelai kertas yang melayang jauth dekat perapian. Empat orang lainnya
segera mengelilinginya. Di atas kertas merah ternyata ada sederet tulisan,
yang justru ditulis oleh orang yang tengah mereka buru.
Aku tahu kalian telah lama mencariku
Sayang malam ini tak punya waktu menemui kalian
Tapi besok akan berjumpa juga
Ratumu menunggu dengan tangan dan paha terbuka
Apakah kalian membekal nyawa cadangan?
“Keparat! Perempuan busuk!” maki Sukat Ragil.
“Benar-benar mesum!” desis Kembar Merah Tua.
Tulodong Hitam hanya tegak merenung sementara Parit Teguh berdiri
sambil menggigit-gigit bibir. Sesaat Kembar Merah Muda mesih
memegang kertas merah itu. Hidungnya mencium bau harum. Tidak sadar
kertas itu didekatkannya ke hidungnya.
“Jangan disium!” seru Tulodong Hitam.
Tapi terlambat.
Bau harum yang mengandung racun pada kertas sudah keburu tercium
dan masuk ke jalan pernafasan Kembar Merah Muda. Dadanya langsung
sesak, pemandangan menjadi gelap, sekujur tubuhnya bergetar goyah.
Orang ini akhirnya roboh dalam pelukan saudara tuanya. Darah keluar dari
mata, hidung dan mulutnya.
“Adikku mati!” teriak Kembar Merah Tua. Suaranya keras sekali tetapi
bergetar.
Di kejauhan, entah dibagian mana dalam rimba belantara yang gelap itu
terdengar suara tertawa perempuan. Panjang menggidikkan.
Kembar Merah Tua lepaskan tubuh adiknya. Melompat untuk mengejar
ke arah datangnya suara tertawa itu. Tapi si kakek Tulodong Hitam cepat
memegang bahunya.
“jangan kejar. Berbahaya!”
“Keparat! Aku akan membunuh perempuan itu. Aku harus
membunuhnya!” kata Kembar Merah Tua dengan dua tinju terkepal.
Di atas pohon Mahesa geleng-gelengkan kepala. Sejak tadi semua yang
terjadi di bawah sana dilihat dan didengarnya dengan seksama tak satupun
yang terlewat. Tapi bagaimana dia bias tidak sempat melihat orang yang
menyelinap melemparkan surat maut itu?
“Anak setan itu pasti tinggi sekali ilmunya. Benarkah dia seorang
perempuan yang cantik? Ingin sekali aku melihatnya. Secantik Kemalakah
dia…?”
ENAM
SI PENCURI JANTUNG TONGKAT SERATUS BAYANGAN
HUJAN lebat turun ketika mereka memasuki Bangsalsari. “Hujan
keparat!” rutuk Kembar Merah Tua. Sejak kematian adiknya yang terpaksa
dikubur pagi tadi dalam rimba belantara lelaki ini menunjukkan sikap
selalu tak sabar dan sering memaki. Semua karena dendam kesumat
terhadap orang yang telah membunuh adiknya.
Bangsalsari merupakan sebuah desa berpenduduk ramai yang terletak
jauh di selatan pegunungan Iyang. Di sini terdapat sebuah masjid besar
dengan menaranya yang tinggi menjadi kebanggaan penduduk. Setelah
mengisi perut di sebuah warung, Kembar Merah Tua, TulodongHitam,
Parit Teguh dan Sukat Ragil mengelilingi desa untuk mencari orang
buruan mereka. Tetapi sampai siang berganti sore perempuan itu tidak
mereka temukan.
“Kita harus bersabar,” kata Tulodong Hitam memberi semangat
rombongannya yang kini tinggal empat orang itu. “Permpuan itu kurasa
memang tidak biasanya muncul di siang hari. Apalagi di tempat ramai
Bangsalsari ini. Kita tunggu sampai malam…”
Sukat Ragil membenarkan ucapan si kakek. “Kalau dia mau
mengirimkan surat malam tadi, hari ini bukan mustahil dia juga mengikuti
gerak-gerik kita. Lalu menanti saat yang baik untuk muncul…”
Hujan yang hampir turun sepanjang hari membuat udara malam itu
terasa dingin. Apalagi angin berhembus kencang. Sukat Ragil dan kawan-
kawannya berada di bagian desa yang berbukit-bukit. Dalam udara
sedingin itu penduduk lebih suka mengunci diri di dalam rumah masing-
masing. Keempat orang itu berlari cepat menuruni bebukitan, menuju
pusat desa yang masih ramai, yakni sepotong jalan pendek di mana
terdapat tiga buah bangunan yang masih terang. Bangunan pertama sebuah
kedai minuman. Sepi, hanya ada seorang tamu duduk menikmati secangkir
kopi. Bangunan kedua sebuah warung menjual kebutuhan sehari-hari. Juga
sepi. Bangunan terakhir adalah kedai gudek. Lagi-lagi sepi. Hanya ada
seorang tamu kelihatan asyik menyantap makanan. Namun ketika
memperhatikan tamu yang seorang itu, Sukat Ragil dan kawan-kawannya
serta merta terpaku di depan pintu. Tamu itu seorang perempuan
berpakaian serba merah duduk menyantap makanan membelakangi pintu.
“Itu dia!” desis Sukat Ragil.
“Kita masuk!” memberi isyarat Tulodong Hitam. Dia melangkah masuk
lebih dahulu. Sukat Ragil di samping belakang, menyusul Kembar Merah
Tua dan Parit Teguh.
Mendekati meja makan itu Kembar Merah Tua melompat mendahului,
langsung menggebrak meja dan menghardik.
“Perempuan iblis! Manusia mesum keparat! Kau harus bayar nyawa
adikku dengan nyawa busukmu!”
Perempuan yang tengah makan palingkan kepalanya.
Astaga!
Perempuan itu ternyata seorang nenek-nenek bermuka pucat.
Kembar Merah Tua terkesiap.
Parit Teguh melengak.
Sukat Ragil mendesis: “Bukan dia….”
Tapi Tulodong Hitam tak bergerak di tempatnya. Sepasang matanya
memandang tak berkesip pada wajah tua beriput itu, lalu turun ke tubuh
dan sepasang lengannya yang tersembul dibalik pakaian. Ada hal yang
aneh disaksikannya. Dan dia segera meklum kalau keanehan itu
mengandung bahaya besar. Perempuan itu memiliki wajah tua seorang
nenek. Tapi sebaliknya sepasang lengan dan tangannya berkulit putih
mulus!
Perempuan yang tengah makan bukannya tidak tahu kalau kakek
berpakaian hitam itu telah mencium keanehan pada dirinya. Maka diapun
pendengarkan suara tertawa tinggi. Sambil tertawa dia bergerak tangan
kirinya ke mukanya.
Sreet!
Wajah tua berkeriput itu ternyata sebuah topeng tipis belaka. Ketika
topeng itu dibukanya, kelihatanlah wajahnya yang asli.
“Hah! Memang dia!” ujar Sukat Ragil terangah.
Parit Teguh gerakkan tangan kanan memegang tongkat rotan. Kembar
Merah Tua kembali hendak menggebrak dan memaki, tetapi perempuan
berbaju merah yang memakai mahkota kecil pada kepalanya mendahului
berkata.
“Aku sudah lama menunggu di sini. Kukira kalian tidak datang!” lalu
perempuan itu berseru memanggil pelayan meminta agar menyiapkan
hidangan untuk empat orang itu.
Melihat sikap yang dibuat-buat dan sengaja menghina itu. Kembar
Merah Tua tidak dapat menahan amarahnya, kini langsung berteriak.
“Perempuan mesum! Kami datang bukan untuk bersantap! Kami kemari
untuk mengambil nyawa busukmu!’
Si baju merah tertawa panjang. Tertawa itu membuat wajahnya tambah
cantik. Barisan gigi-giginya yang putih tampak bagus dan lidahnya yang
merah basah membuat Parit Teguh tercekat.
“Kalian datang dari jauh. Pakaian kalian masih basah. Masakan tak
hendak makan dan minum lebih dulu?!”
“Tidak! Kau telah membunuh adikku malam tadi! Kau harus mampus
detik ini juga!” hardik Kembar Merah Tua. Lalu menghantam dengan
tangan kanan. Sasarannya adalah dada perempuan ini terkejut karena angin
pukulan lawan yang semula dianggap enteng ternyata terasa deras dan
menyambar dingin. Cepat-cepat dia menggerakkan kaki kiri, menendang
hingga meja terpelanting menghalangi gerakan Kembar Merah Tua.
Saking marahnya serangannya dipapasi demikian rupa, Kembar Merah
Tua tendang meja kayu itu hingga hancur berkeping-keping. Disaat yang
sama Parit Teguh dan Sukat Ragil serta Tulodong Hitam sudah
mengepung.
Si baju merah bertolak pinggang, memandang berkeliling dan sambil
tersenyum dia berkata: “Bagus … bagus. Kalian sudah terima suratku
malam tadi? Bagus! Apakah kalian sudah membawa nyawa cadangan?”
“Betina durjana! Untuk mengambil sepotong nyawa busukmu kami tak
perlu membawa nyawa rangkap!”
Yang membentak adalah Sukat Ragil.
Si baju merah berpaling ke arah perwira muda ini. Ada cahaya aneh
pada matanya. Tak pernah dia melihat lelaki yang memiliki otot sehebat
orang ini. Dia lantas tersenyum. “Sejak seminggu lalu aku mengetahui
gerak-gerik kalian. Satu hal yang aku masih buta, kalian ini siapa
sebenarnya dan mengapa menginginkan kematianku. Kenal dengan kalian
pun tidak!”
“kami rombongan dari keraton Banyuwangi,” yang menjawab Sukat
Ragil. “Beberapa bulan lalu kau menculik seorang Pangeran lalu
membunuhnya!”
“Hal kedua mengapa kami menginginkan nyawamu,” buka suara Parit
Teguh, “Kau juga telah membunuh sahabat kami si Tudung Maut!”
“Hal ketiga!” menimpali Kembar Merah Tua dengan mata berapi-api,
“Kau membunuh adikku!”
Si baju merah lagi-lagi tersenyum. Kali ini sambil gelengkan kepala.
“Kalian salah sangka. Biar kuberi penjelasan,” katanya sambil melirik
pada Parit Teguh dan mengerling pada Sukat Ragil. “Aku tidak menculik
Pangeran itu. Dia sendiri yang mau ikut bersamaku. Karena dia tergila-gila
padaku. Ketika kusuruh pulang dia lantas putus asa dan bunuh diri!”
“Dusta!” sentak Sukat Ragil. “Mayatnya ditemui tanpa pakaian. Di
lehernya ada bekas cekikan. Aman ada orang bunuh diri mencekik dirinya
sendiri!”
“Soal dia berpakaian atau tidak ketika mati mana aku tahu. Siapa yang
mencekiknya akupun awam!”
“Kami tahu kau licik dan pandai berdalih!” ujar Parit Teguh.
Kembali perempuan baju merah itu melemparkan kerling dan senyum
pada lelaki ganteng ini. “Soal sahabatmu yang bergelar si Tudung Maut
itu, bukan aku yang membunuh. Dia yang datang malam-malam buta
mengganggu ketenteraman orang dan agaknya memang minta mati. Kalau
saja aku tahu sebelumnya bahwa dia kawanmu, mungkin aku tidak
mengganggunya!” lalu perempuan ini berpaling pada Kembar Merah Tua.
“Aku juga tidak merasa membunuh adikmu itu. Salah dia sendiri. Siapa
mau-mauan mencium kertas beracun…?! Hik… hik… hik…!”
“Perempuan keparat! Riwayatmu hanya sampai malam ini!” teriak
Kembar Merah Tua lalu menyerbu, tapi gerakkannya ditahan oleh
Tulodong Hitam. Orang tua ini maju selangkah lalu berkata.
“Ratu Mesum, kami datang memang untuk menghukummu. Dosa dan
kejahatanmu sudah melebihi takaran. Jika kau mau menyerah baik-baik,
kami akan bawa kau hidup-hidup ke Banyuwangi. Tapi jika melawan
terpaksa kau bakal menemui kematian dalam warung ini!”
Si baju merah yang ternyata adalah Ratu Mesum alias Mawar tertawa
panjang. Lidahnya yang basah bergerak kian kemari.
“Orang tua macammu memang layak bicara memakai peradatan. Hanya
saja semua maksudmu tak bisa kulayani. Sayang kalian tidak membawa
nyawa cadangan. Namun aku memberi kesempatan agar kalian pergi saja
dari sini demi keselamatan diri masing-masing. Kecuali jika dua kawanmu
yang berotot hebat serta yang memegang tongkat itu mau ikut bersamaku,
aku tidak keberatan. Hik… hik… hik!”
“Iblis! Kau memang sudah saatnya mampus!” teriak Kembar Merah
Tua. Namun gerakkannya hendak menyerang lagi-lagi dicegah Tulodong
Hitam.
Kakek ini berkata: “Aku tak ingin kau mati tanpa mengetahui siapa
kami ini…”
“Oh, mau perkenalkan diri? Bagus! Ada baiknya agar kalian tidak
menyesal sampai di liang kubur. Ratumu menunggu. Silakan beritahu
siapa kalian….”
“Kawanku si baju merah itu adalah orang tertua dari sepasang Kembar
Merah. Yang memegang tongkat rotan bernama Parit Teguh, bergelar
Tongkat Seratus Bayangan. Yang di sampingku Sukat Ragil, perwira
keraton Banyuwangi. Dan aku yang jelek ini Tulodong Hitam alias Si
Pencuri Jantung. Nah sudah siapkah kau untuk mati?!”
Ratu Mesum kembali perdengarkan suara tawanya yang panjang dan
tinggi. Nama sepasang Kembar Merah ataupun Sukat Ragil sang perwira
dari Banyuwangi itu tidak dikenal dan tidak mengejutkannya. Namun dia
cukup terkesiap ketika mengetahui si kakek baju hitam adalah manusia
yang menyandang gelar Si Pencuri Jantung sedang lelaki gagah berpakaian
rapi ternyata adalah Tongkat Seratus Bayangan! Dia melirik ke arah
sepasang tangan si kakek yang ternyata berkuku panjang hitam. Kuku-
kuku jari itu telah mengorek puluhan jantung lawan yang rata-rata
berkepandaian tinggi. Sedang Tongkat Seratus Bayangan merupakan satu
nama besar menggetarkan daerah timur sejak tiga tahun belakangan ini!
Meskipun sadar menghadapi lawan-lawan tangguh namun Ratu Mesum
yang percaya pada kemampuannya tidak menjadi kecut. Dasar perempuan
hidung belang yang tidak boleh melihat lelaki gagah maka dia berkata
seenaknya.
“Malam begini dingin, mengapa kita tidak ngobrol menghangatkan diri
dengan kopi atau tuak…,” katanya. Lalu menyambung: “Aku bersedia
menganggap selesai perkara inisampai di sini asal saja kau yang bernama
Parit Teguh dan yang berotot hebat ini suka ikut bersamaku!”
Paras Parit Teguh jadi merah. Dia harus mengakui belum pernah
melihat perempuan secantik dan semulus manusia iblis bergelar Ratu
Mesum ini. Sebaliknya Sukat Ragil yang memikul tugas berat tak mau
menunggu lebih lama lagi. Setelah memberi isyarat pada Tulodong Hitam
dia menyergap dari samping kiri.
Seta merta Kembar Merah Tua menerjang pula dari sebelah kanan, Parit
Teguh menusuk dengan tongkat rotannya sedang Tulodong Hitam
menyambarkan kuku-kukunya yang hitam panjang. Sesuai dengan
gelarnya yakni Si Pencuri Jantung maka setiap serangannya selalu berakhir
pada gerakan yang mengarah ke jantung lawan!
Pada gebrakan pertama itu Ratu Mesum segera mengetahui kalau empat
lawannya kali ini benar-benar berat. Dia bukan saja harus mempergunakan
kepandaian untuk menghadapi mereka, tetapi juga harus memutar akal.
Lima jurus pertama perempuan itu dibuat repot oleh gerakan tongkat
Parit Teguh. Tongkat Rotan itu seperti berubah menjadi puluhan
banyaknya. Mendesing, menyambar, menusuk, terkadang mengait ke arah
bagian badan secara tak terduga. Di samping itu sulit pula diterka mana
batang atau bayangan belaka. Beberapa kali ujung tongkat hampir
menusuk bahu atau perutnya. Beberapa kali pula ujung tongkat yang
lainnya hampir mengait lengan atau lehernya!
Sepuluh jari tangan Tulodong Hitam menggapai, mencengkeram,
mengorek tiada henti. Sementara itu pukulan, sikutan dan tendangan yang
dilepaskan Sukat Ragil datang bertubi-tubi. Ditambah pula dengan
serangan Kembar Merah Tua yang sangat nekad berbahaya karena disertai
kebencian dan dendam atas kematian adiknya. Semua itu membuat Ratu
Mesum terdesak hebat. Namun menusia berpengalaman, bermata jeli dan
panjang akal ini masih sanggup melihat titik lemah pada lawan yang
menyeroyoknya. Titik-titik lemah ini adalah Kembar Merah Tua dan si
perwira Sukat Ragil. Kalau dia bisa menghajar dua lawan ini lebih dulu,
rasanya menghadapi si kakek dan Tongkat Seratus Bayanan tidak akan
terlalu menyulitkan. Maka Ratu Mesum sambil bertahan lancarkan
serangan-serangan mematikan ke arah Kembar Merah Tua atau Sukat
Ragil.
Tulodong Hitam yang menghadapi gerakan-gerakan lawan, terpaksa
membagi perhatian untuk melindungi dua kawannya yang digempur
gencar itu. Terutama Kembar Merah Tua. Lelaki ini berkelahi seperti
orang kemasukan setan. Menghamburkan pukulan dan tendangan dengan
tenaga dalam tinggi tanpa memperhatikan lagi pertahanan dirinya.
Tiba-tiba Ratu Mesum kumandangkan tawa melengking. Tubuhnya
merunduk dan berputar seperti titiran. Tangan kanannya dipukulkan ke
depan tetapi terpaksa ditarik karena ujung tongkat Parit Teguh datang
menghantam dengan deras. Tapi dengan tangan kiri lalu bertumpu pada
senjata lawan diayunkan tubuh untuk melompat ke kiri. Dan buuk!
Kaki kirinya mencium dada Kembar Merah Tua keras sekali. Lelaki ini
sampai keluarkan suara seperti muntah. Tubuhnya terlipat ke depan lalu
jatuh berlutut. Ada darah mengalir dari sela bibirnya. Tulodong Hitam
segera berteriak agar Kembar Merah Tua cepat menyingkir. Namun
terlambat. Pukulan tepi telapak tangan sang ratu menghantam lebih dulu.
Kembar Merah Tua terbanting ke lantai warung, mengerang sebentar lalu
tak berkutik lagi.
Berhasilnya Ratu Mesum membunuh salah satu lawannya tidak
didapatnya dengan mudah. Karena untuk itu dia harus menerima jotosan
keras Sukat Ragil pada bahunya sebelah kanan. Perempuan ini menggigit
bibir menahan sakit. Tulang bahunya serasa remuk. Tubuhnya terhuyung
ke kiri. Kalau dia tidak lekas menyingkir menjauhi tiga lawannya,
mungkin kepalanya sudah kena gebuk tongkat rotan di tangan Parit Teguh!
Dengan mata berkilat-kilat, memancarkan hawa pembunuhan Ratu
Mesum alirkan tenaga dalam ke tangan kiri. Begitu lawan mendatangi
maka dia hantamkan ke depan.
“Lekas menyingkir!” teriak Tulodong Hitam ketika dilihatnya sinar
merah muda berkiblat.
Wuss!
Angin pukulan yang memancarkan sinar merah itu menderu lepas,
melabrak dinding warung hingga hangus dan bolong. Begitu pukulan maut
itu berhasil dielakkan, Tulodong dan Parit Teguh lekas menyerbu sebelum
lawan berkesempatan membuat gerakan baru. Kini meskipun mereka
tinggal bertiga, tetapi Tulodong Hitam mamu mengembangkan serangan
sehingga kembali Ratu Mesum terdesak. Beberapa kali perempuan ini
coba mengeluarkan ilmu simpanannya yakni membuat gerakan melompat
ke atas lalu menghamburkan hawa harum beracun tetapi selalu gagal.
Setiap dia siap melompat, ujung tongkat yang berkeluk di tangan Parit
Teguh menyambar ganas menarik bahu atau batang lehernya. Mau tak mau
Ratu Mesum terpaksa batalkan lompatannya. Tetapi dia tidak mau
menyerah begitu saja. Dia yang punya seribu akal harus mampu bertempur
mengatur jarak menjauhi lawan. Kadang-kadang dia sengaja menyerang
tempat-tempat kosong atau membuat gerakan-gerakan aneh lainnya yang
sulit diraba lawan. Tahu-tahu tubuhnya sudah berada di belakang lawan,
siap untuk menjotos, menendang atau mencengkeram. Tetapi tidak terlalu
mudah untuk dapat merobohkan tiga lawan ini. Mempercepat gerakan
sama dengan menguras tenaga. Setelah sembilan jurus berlalu tanpa dapat
menciderai salah seorangpun dari lawannya, kembali Ratu Mesum
terdesak.
Breet!
Jurus ke dua puluh empat kuku jari tangan kiri Tulodong hitam
menyambar ke dada kiri Ratu Mesum. Perempuan ini terpekik. Saat itu dia
masih harus mengelakkan serangan tongkat Parit Teguh yang
mengemplang ke kepalanya. Masih untung kedudukan kedua kakinya pada
posisi yang cukup tangguh hingga dia mampu membuang diri ke belakang
dan hanya baju merahnya saja yang robek. Sebagian dadanya tersingkap.
Sesaat Parit Teguh dan Sukat Ragil terkesiap melihat dada yang putih dan
menonjol besar itu sementara si tua Tulodong Hitam kelihatan menjadi
jengah!
Hal ini cepat terlihat oleh Ratu Mesum maka diapun lemparkan
jeratnya.
“Malam begini dingin dan kita orang-orang tolol pada berkelahi.
Dengar, dibagian belakang warung ini ada kamar dengan tempat tidur
besar. Aku bersedia melayani kalian…”
“Perempuan busuk! Jangan dengarkan tipuan kejinya!” teriak Tulodong
Hitam memotong.
“Aku tidak menipu. Aku memang suka pada kalian. Kau yang tua jika
tak mau silakan pergi. Dua kawanmu ini pasti mau…!”
Khawatir Parit Teguh dan Sukat Ragil terpengaruh maka Tulodong
Hitam cepat kirimkan serangan. Kembali terjadi perkelahian. Ratu Mesum
menyumpah dalam hati. Sementara itu bekas pukulan Sukat Ragil pada
bahu kanannya terasa bertambah sakit.
“Diberi surga mau neraka! Bersiap-siaplah untuk mampus!” teriak Ratu
Mesum. Kembali dia melepaskan pukulan yang mengeluarkan sinar
merah. Lalu tubuhnya di putar seperti gasing. Tetapi gerakan selanjutnya
dihadang oleh tongkat di tangan Parit Teguh. Ujung tongkat yang berkeluk
menyambar batang lehernya hingga dia tak berkesempatan melompat.
“Apa boleh buat! Aku harus menebarkan hawa beracun itu tanpa
melompat!” membatin Ratu Mesum setelah melihat lawan membaca
gerakannya. Maka diapun tutup penciumannya dan singsingkan bagian
bawah pakaian merahnya.
“Awas! Jangan biarkan dia mengangkat pakaiannya!” Tulodong Hitam
berikan peringatan. Dia melompat ke atas untuk mencegah gerakan lawan
jika sekiranya Ratu Mesum memaksakan diri melompat. Sementara Parit
Teguh hantamkan tongkatnya ke arah kedua tangan Ratu Mesum guna
mencegah perempuan ini menyibakkan pakaiannya. Dalam pada itu Sukat
Ragil tidak hentinya kirimkan serangan berantai. Semua ini membuat Ratu
Mesum lagi-lagi terpaksa membatalkan gerakannya dan cari selamat dari
ketiga serangan lawan.
Menyadari dirinya tak punya kesempatan untuk menebarkan hawa
beracun sementara tenaganya mulai terkuras. Ratu Mesum keluarkan
jurus-jurus simpanannya. Gerakannya tidak secepat sebelumnya namun
penuh kekuatan serta tipuan-tipuan mematikan. Dengan cara begini tiga
jurus dimuka dia berhasil memukul roboh Sukat Ragil hingga perwira
muda ini patah tangan kirinya dan melompat keluar dari kalangan
perkelahian. Saat itulah Ratu Mesum melihat adanya kesempatan untuk
menebarkan hawa harum beracunnya. Tubuhnya berputar seperti gasing
lalu mencelat ke atas. Akan tetapi lagi-lagi serangannya di patahkan oleh
tongkat di tangan Parit Teguh. Lelaki ini lebih cepat dan berhasil
mendahului gerakan Ratu Mesum. Ujung tongkatnya yang berkeluk
berhasil menggaet batang leher lawan. Sekali sentak saja tubuh perempuan
ini tertarik keras ke depan. Disaat yang sama Tulodong Hitam sudah
menunggu dengan serangan sepuluh jari. Lima jari tangan kiri membuat
gerakan merobek ke arah dada kiri sedang lima jari tangan kanan siap
membetot isi dada itu.
Ratu Mesum menjerit. Seumur hidupnya baru sekali inilah dia menjerit
dan ketakutan seperti itu. Dia tak dapat berbuat apa-apa. Tongkat lawan
masih terus menjepit. Kali ini dia tidak sanggup menyelamatkan diri
dengan cara apapun. Maka dipusatkannya untuk berjibaku. Kalau
Tulodong Hitam berhasil membunuh dan mencopot jantungnya, maka
orang tua inipun harus mati ditangannya. Ratu Mesum pukulkan kedua
tangannya ke depan, mengarah perut dan batang tenggorokan Tulodong
Hitam. Masih belum cukup, perempuan ini juga miringkan lututnya ke
selangkangan kakek itu.
Parit Teguh kaget melihat kejadian ini. Dia yakin Tulodong Hitam
berhasil membunh perempuan ini lebih dulu, tetapi diri si kakekpun tak
akan lepas dari bahaya. Dia putar tongkatnya yang masih menggeluh di
leher Ratu Mesum. Paling tidak gerakkannya itu akan menahan lajunya
serangan perempuan itu. Justru saat itulah tiba-tiba lampu minyak dalam
warung tersebut mental dan padam dihantam sebuah benda besar.
Terdengar pekik Ratu Mesum. Keadaan dalam warung menjadi galap
gulita. Tulodong Hitam mendadak merasakan ada angin yang menyambar
dari samping. Tubuhnya terdorong keras dan jatuh terpelanting. Dilain
pihak Parit Teguh merasakan ngiku pada tengkuknya. Setelah itu tubuhnya
kaku tak bisa digerakkan lagi. Seseorang telah menotoknya dalam gelap.
“Bangsat! Siapa yang berani membokong!” teriak Parit Teguh.
Tulodong Hitam menghambur ke pintu. Maksudnya untuk mencegah
jalan keluar hingga siapapun yang tadi masuk bisa dihadang dan
dihantamkan di situ. Tetapi dia kecele. Sesosok bayangan putih berkelebat
sangat cepat lewat jendela samping warung. Orang ini memanggul sesosok
tubuh berpakaian merah. Seseorang telah menyelamatkan dan melarikan
Ratu Mesum.
TUJUH
SIPENOLONG TERNYATA…..
RATU MESUM ingin sekali melihat wajah orang yang menolong dan
melarikannya. Namun malam begitu gelap. Di samping itu lehernya masih
terasa sakit dan kaku akibat tarikan keras tongkat Parit Teguh. Sedang luka
dibagian dada akibat cengkeraman kuku-kuku jari Tulodong Hitam masih
mengeluarkan darah dan sakitnya bukan alang kepalang seolah-olah
jantungnya benar-benar sudah dicopot kakek lihay itu! Sekujur tubuhnya
terasa lemas, akhirnya perempuan ini jatuh pingsan di atas bahu
penolongnya.
Sawah itu luas sekali. Sejak panen dua minggu lalu keadaannya kini
tampak gundul dan tak seorang petanipun tampak ketika orang yang
menolong Ratu Mesum sampai di situ. Dia membaringkan tubuh
perempuan itu di atas sebuah dangau bamboo dan memeriksa luka
dibagian dada. Si penolong geleng-gelengkan kepala. Ada dua hal yang
membuat dia begitu. Pertama melihat luka di tubuh perempuan itu yang
berupa empat guratan cukup dalam. Jika luka itu masuk lebih dalam lagi
tidak mustahil akan merobek daging sampai ke tulang iga. Bahkan
jantungnya. Hal kedua ialah payudara yang putih besar dan keras serta
bagian laindari tubuh yang begitu mulus hamper tidak tertutup saking
tipisnya baju merah yang dikenakan.
Setelah menetapkan beberapa totokan darah mudanya yang tergoncang,
lelaki itu melakukan beberapa kekuatan baru pada tubuh yang tampak
lemah itu, si penolong salurkan tenaga dalamnya yang hangat lewat
telapak tangan yang ditempatkan ke bagian perut dan punggung Ratu
Mesum. Ketika matahari pagi mulai naik, kabut lenyap, pemandangan di
persawahan itu bagus sekali. Dan sang ratu tampak menggerak-gerakkan
kedua matanya. Sepasang mata itu kemudian terbuka. Yang pertama
dilihatnya adalah atap dangau di mana dia berada, lalu sosok tubuh
seorang yang duduk memunggunginya, orang ini mengenakan pakaian dan
ikat kepala putih. Rambutnya hitam tebal dan gondrong. Ada asap
kelihatan. Agaknya orang itu tengah merokok. Ratu Mesum dapatkan
kepalanya agak pening tetapi tubuhnya yang semalam sangat lemas kini
terasa sehat dan kuat kembali. Aneh, tentu ada seseorang yang
menolongnya dengan obat atau entah dengan apa. Hanya ada rasa perih
pada bagian dadanya sebelah kiri. Perlahan-lahan Ratu Mesum bangkit dan
duduk lalu menyapa.
”Hai…! Hai…! Apakah kau yang menolongku tadi malam…?”
Orang yang disapa memutar kepalanya.
“Aih…. Wajahnya gagah sekali. Tapi sedikit kebodohan-bodohan
seperti anak-anak…” kata Ratu Mesum dalam hati begitu melihat wajah
lelaki itu.
Yang disapa tersenyum sedikit mengangguk.
“Kau masih belum sembuh benar. Labih baik berbaring terus…”
“Berbaring malah membuatku jadi lemas…” Ratu Mesum ingat pada
rasa peri di dadanya. Ketika diperiksa perempuan ini mengeluarkan
keluhan kecil. Darah telah berhenti mengucur tapi luka itu pasti lama baru
bias sembuh. Tiba-tiba perempuan ini menyingkapkan pakaiannya sebelah
bawah. Lelaki itu jelas dapat melihat sepasang kaki sampai kepaha bahkan
sebagian pinggul yang putih mulus, membuat kedua matanya tak mau
berkedip. Dari balik pakaiannya perempuan itu mengeluarkan sehelai
lipatan kertas kecil. Ketika lipatan kertas dibuka tampak sejenis bubuk
putih. Bubuk ini kemudian ditebarkannya di atas lukanya. Aneh, luka yang
tadi membuka itu kini kelihatan menutup. Ratu Mesum tampak lega.
“Makan ini…” Si gondrong berambut hitam mengeluarkan sebuah
benda hijau bulat sebesar kelereng.
“Apa ini. Tahi kambing…?” Tanya Ratu Mesum.
Lelaki itu tersenyum tapi dalam hati menyumpah. “Ini obat. Bukan tahi
kambing. Apa kau suka makan tahi kambing?”
Ratu Mesum tertawa cekikikan.
“Obat untuk apa…?”
“Agar lukamu cepat sembuh dan kesehatanmu pulih kembali.”
“Apa kau pernah makan obat ini. Dari siapa kau dapat….?”
“Aku pernah makan. Dari siapa aku dapat kau tak usah tahu. Bukankah
kau ingin lekas sembuh…?”
“Kau telah menolongku. Jadi aku harus percaya padamu!” perempuan
itu mengambil obat tersebut, langsung menelannya. Setelah pejamkan
mata beberapa saat dia kemudian berkata: “Hai, obat mujarab sekali.
Pening dikepalaku lenyap. Tubuhku terasa ringan. Masih ada obatnya…?”
“Cukup sekali saja. Terlalu banyak malah bisa jadi penyakit.”
Ratu Mesum manggut-manggut. “Kau telah menolongku. Siapa
namamu orang gagah…?” Ratu Mesum menggeser duduknya lebih dekat.
“Mahesa…”
Ratu Mesum mengangguk lagi. “Mengapa kau menolongku?”
Sesaat si penolong yang bukan lain Mahesa adanya tak bisa menjawab.
“Karena kau terpikat oleh kecantikanku…?” ujar Ratu Mesum.
“Anak setan ini enak saja bicaranya!” maki Mahesa dalam hati. “Kau
memang cantik. Luar biasa. Tak pernah aku melihat perempuan
secantikmu. Malah mungkin kau akan jauh lebih cantik jika tidak
berdandan seronok…?”
Ratu Mesum tertawa. “Begitu…? Karena kau yang berkata aku akan
menuruti nasihatmu.”
“Nasihat apa?”
“Aku akan dandan wajar-wajar saja. Begitu maumu bukan?”
“Terserah padamu,” sahut Mahesa.
“Hai, kau belum menerangkan mengapa kau menolongku!”
“Yang pasti bukan karena kecantikanmu semata,” jawab Mahesa. “Aku
tidak suka melihat ketidak adilan. Seorang dikeroyok lawan. Apalagi
perempuan sepertimu. Mana pantas. Dan saat itu kulihat keselamatanmu
terancam. Kakek berpakaian hitam itu benar-benar hampir mencuri
jantungmu!”
“Aku bersumpah untuk membunuhnya jika bertemu. Juga lelaki keren
bersenjata tongkat itu!” kata Ratu Mesum pula.
“Malam tadi, waktu kau melempar surat merah, aku ada ditempat itu.
Aku dengar semua pembicaraan mereka. Itu sebabnya aku menguntit
gerak-gerik mereka sampai di Bangsalsari. Sebenarnya mengapa mereka
ingin membunuhmu…?”
“Jika kau ada di tempat mereka berkemah, pasti kau dengar semua
pembicaraan mereka. Jadi sudah tahu mengapa mereka ingin
membunuhku!”
Mahesa menggeleng. “Tak banyak yang mereka bicarakan tentang kau.”
“Apa saja?” Tanya Ratu Mesum ingin tahu.
“Bahwa kau seorang perempuan cantik. Lalu banyak lelaki yang
terpikat. Juga keliahayanmu menebar hawa harum yang mengandung
maut…”
“Nah, kau sudah tahu semua…”
“Belum. Satu diantaranya mengapa mereka ingin membunhmu.”
Kalau orang lain yang bicara seperti memaksa itu seperti Ratu Mesum
mungkin sudah naik darah dan menyerang. Tetapi terhadap pemuda ini
sang ratu justru tertawa dan berkata: “Panjang ceritanya. Kelak kau akan
tahu juga.”
“Aku tak mengerti mengapa mereka memanggilmu dengan nama Ratu
Mesum. Apakah kau benar-benar seorang ratu…?”
Perempuan itu tertawa. “Seorang yang benci pada kita, bisa saja
memberi gelar atau julukan jelek seribu macam. Dengar, aku ingin kau
menolongku tidak kepalang tanggung…”
“Apa maksudmu?” tanya Mahesa lalu menyalakan sebatang rook
kawung.
“Perutku lapar. Aku juga haus. Maukah kau mencarikan air dan
makanan untukku?”
Sebenarnya Ratu Mesum saat itu tidak lapar ataupun haus. Sejak
melihat wajah Mahesa perempuan ini langsung tertarik. Dia hanya ingin
mengetahui apakah pemuda itu juga tertarik padanya. Karena dia sengaja
memancing minta tolong.
Mahesa tak menjawab. Dimana pula bisa mendapatkan air dan makanan
pagi-pagi begini? Dia memandang berkeliling. Jauh diujung pesawahan
sebelah timur tampak sederatan rumah penduduk.
“Aku akan mencoba ke sana!” kata Mahesa menunjuk ke timur.
“Jangan salahkan kalau aku Cuma bisa mendapatkan sejumput nasi basi
tanpa ikan dan sekaleng air!”
Ratu Mesum tersenyum. Ternyata pemuda itu mau menolongnya.
Mungkin diapun suka padany.
“Kau tunggu di sini. Jangan ke mana-mana,” kata Mahesa.
“Tinggalkan dulu rokokmu itu. Ingin tahu bagaimana rasanya
merokok…”
Terpaksa Mahesa serahkan rokok kawungnya pada Ratu Mesum.
Perempuan ini langsung menghisapnya dalam-dalam. “Hai… enak juga…”
katanya.
Hanya sesaat setelah Mahesa meninggalkan dangau di persawahan itu,
sesosok tubuh berkelebat. Ratu Mesum cepat berpaling dan dia jadi
terkejut melihat siapa yang muncul sendirian. Hatinya lega kalau terjadi
apa-apa masakan satu lawan satu dia tak bakal menang.
“Kutemui kau di sini!” orang yang dating buka suara sambil
melintangkan tongkay rotannya di depan dada. “Siapa orang yang
menolongmu itu?”
“Apa perdulimu!” sahut Ratu Mesum. Untuk memastikan bahwa lelaki
itu benar-benar dating sendirian dia bertanya: “Mana kawanmu kakek
jelek baju hitam itu….?”
“Dia mengejar ke jurusan lain. Aku kemari. Aku beruntung ternyata
berhasil menemuimu di sini…”
“Kau tidak beruntung orang gagah. Kau akan mati di tempat ini!”
Lelaki itu tertawa lalu sisipkan tongkatnya ke pinggang.
DELAPAN
BERGANTI PAKAIAN BERGANTI NAMA
PARIT TEGUH naik ke atas dangau dan duduk dekat-dekat Ratu
Mesum.
“Dengar,” katanya hampir berbisik seolah-olah takut ada yang akan
mendengar. “Aku akan menganggap urusan kita selesai jika kau mau ikut
dan tinggal bersamaku di pantai selatan Banyuwangi…”
“Hemmm…. Lelaki ini terpikat padaku. Dia akan membayar mahal…”
kata Ratu Mesum dalam hati.
Orang yang dating ke dangau itu memang adalah Parit Teguh alias
Tongkat Seratus Bayangan Hitam berunding. Diputuskan bahwa si kakek
akan mengejar kea rah timur sedang Parit Teguh kea rah barat. Sebenarnya
lelaki ini sudha melihat arah mana Ratu Mesum dilarikan. Karena itu dia
memilih arah barat karena dia memang dia berharap dapat menemui
perempuan yang sangat memikat hatinya itu meskipun dia baru saja kawin
setahun lalu dengan seorang gadis yang berparas cantik tapi berkulit hitam
manis.
Ratu Mesum tertawa sambil rundukkan kepala hampir menyentuh
wajah Parit Teguh. Tidak dapat menguasai rangsangannya dalam tubuhnya
lantas saja dia mencium pipi Ratu Mesum. Lalu tangan kanannya menjalar
ke dada. Seolah-olah hendak memeriksa luka perempuan itu dia bertanya:
“Bagaimana lukamu…?” tapi yang dibelainya bukan luka di tubuh Ratu
Mesum, melainkan payu dara perempuan itu.
Ratu Mesum menepiskan tangan Parit Teguh.
“Luka itu akan segera sembuh. Sebaiknya kita bicarakan dulu urusan
kita…”
“Kau mau ikut aku…?”
“Tentu saja. Mana ada perempuan yang tidak suka pada lelaki
segagahmu. Tetapi….?”
“Tetapi apa? Katakana syaratmu! Jika kau sampai membantah terpaksa
aku meneruskan niat semula. Membunuhmu…!”
“Apa kau betul-betul tega membunuhku…?” Tanya Ratu Mesum sambil
mengerling. Lalu perempuan ini merubah duduknya sehingga tubuhnya
sebelah bawah tersingkap, membuat silau kedua mata Parit Teguh.
“Kalau kau mau hidup bersamaku, masakan aku akan membunuhmu…”
“Aku bersedia. Hanya saja, apakah yang diharapkan perempuan
sepertimu ini dari seorang lelaki gagah sepertimu? Bukan harta bukan
kekayaan. Tapi kekuatan…”
“Maksudmu?”
“Maksudku, aku harus menguji kejantanan lebih dulu. Aku tak suka
pada lelaki yang akan membuatku merana karena ketagihan…”
Mendengar kata-kata itu Parit Teguh tertawa gelak-gelak.
“Kau akan segera mengetahui. Kita berangkat sekarang. Di rumahku di
Banguwangi akan kubuktikan…”
Ratu Mesum menggeleng sambil tersenyum.
“Aku ingin bukti saat ini juga!” katanya.
“Di sini…?”
“Di kolong dangau ini ada tumpukan jerami kering. Cukup nyaman
untuk kita berdua…”
Parit Teguh terbelalak. Tapi ketika Ratu Mesum meluncur turun dari
dangau dan masuk ke kolong lalu membaringkan diri di atas tumpukan
jerami kering, diapun melompat turun.
“Perempuan luar biasa!” katanya dalam hati. Tubuhnya kejang
dirangsang nafsu. Terlebih ketika dilihatnya perempuan itu menggeliat
tubuh seperti tidak sabaran.
“Hai! Kenapa hanya celanamu yang kau tanggalkan semua
pakaiannya.”
“Bagus begitu… sekarang kemarilah…” Ratu Mesum ulurkan tangan
dan kembangkan kedua kaki.
Parit Teguh yang lupa diri langsung saja menjauhkan diri masuk ke
dalam pelukkan perempuan itu, balas memeluk dengan kuat dan nafsu.
Nafasnya memburu. Tapi tiba-tiba terdengar jerit lelaki ini. Tubuhnya
terlempar ke udara, menghantam bagian perutnya sehingga anggota
rahasianya remuk. Selagi dia melintir kesakitan, Ratu Mesum sambar
tongkat rotannya lalu tekankan batang tongkat tenggorokan Parit Teguh.
Lelaki ini tidak berdaya lagi untuk selamatkan diri. Dia menemui ajal
dengan lidah terjulur dan mata mendelik!
Ratu Mesum ludahi mayat Parit Teguh. Tongkat yang masih
dipegangnya ditusukkan ke perut bugil lelaki itu. Lalu seperti tidak terjadi
apa-apa, setelah merapikan pakaiannya dia naik ke atas dengau kembali.
Tak selang berapa lama Mahesa muncul membawa sebuah kendi tanah
dan nasi serta sepotong kecil ikan yang dibungkus dalam daun pisang.
Tentu saja dia terkejut ketika melihat mayat Parit Teguh yang mati dengan
lidah mencelet mata mendelik, perut tertusuk tongkat miliknya sendiri dan
bugil.
“Apa yang terjadi?” tanyanya.
“Lelaki itu melakukan pengejaran dan menemuiku di sini. Dia berusaha
memikatku, hendak memperkosaku. Dia terima sendiri akibatnya!”
“Gila!” rutuk Mahesa dalam hati. Lalu diserahkannya kendi dan
bungkusan nasi. “Makanlah cepat. Setelah itu tinggalkan tempat ini. Bukan
mustahil kawannya kakek berbaju hitam itu juga muncul di sini.”
“Apa kau takut?”
Mahesa tak menjawab.
“Kau tak menemaniku makan…?”
“Aku tidak lapar.”
“Tapi aku tidak sudi makan kalau tidak bersamamu!”
“Ah, kolokan sekali perempuan ini!” kata Mahesa dalam hati. Tapi
akhirnya dia duduk juga berhadap-hadapan dan menemani perempuan itu
makan dari bungkusan nasi yang sama. Memang lain pula nikmatnya
makan bersama perempuan cantik walau nasi yang dimakan sedikit dan
mulai basi serta ikan hanya secuil, itupun tinggal tulangnya saja.
“Enak makannya…?” tanya Ratu Mesum lalu meneguk air kendi tanah.
“Enak sekali!” jawab Mahesa. Dia menerima kendi yang diulurkan Ratu
Mesum lalu menempelkan bibirnya di mulut kendi, pada bekas bibir Ratu
Mesum menempel waktu minum tadi. Sisa air dalam kendi dipergunakan
perempuan itu untuk mencuci mukanya. Ketika dia mengeluarkan
peralatan untuk berhias, Mahesa berkata: “Kurasa kau tak perlu
berdandan…”
“Eh, memang kenapa?”
“Kau akan lebih cantik tanpa berdandan…!”
Jawaban polos pemuda itu membuat Ratu Mesum terkesiap. Entah
mengapa kemudian dia menyimpan alat-alat kecantikannya kembali. Ada
rasa suka muncul semakin besar dalam hatinya terhadap pemuda ini. Rasa
suka yang sekali ini tidak disertai nafsu bejat seperti yang selalu meracuni
dirinya ini.
“Aku harus pergi sekarang…” kata Mahesa. Suaranya datar seperti
tidak ditunjang oleh hasrat hati yang sesungguhnya.
“Setelah menolongku apakah kau akan meninggalkanku begitu saja?”
tanya Ratu Mesum.
“Aku banyak urusan!” kata Mahesa.
“Aku juga. Kalau kita pergi sama-sama bukankah bisa membagi pikiran
hingga urusan bisa diselesaikan dengan baik?”
Dalam hati Mahesa berkata: “Mungkin begitu, tapi mungkin juga malah
tambah urusan!”
“Aku tahu kau enggan jalan sama-sama. Tapi dengan pakaian seperti ini
aku tak bisa membawamu. Terus terang aku suka melihat pakaian tipis
itu…” kata Mahesa senyum-senyum. “Namun pakaian itu akan lebih
banyak mengundang malapetaka…”
“Kalau saja aku punya pakaian lain…”
Mahesa melemparkan sehelai baju dan celana panjang putih yang selalu
dibawanya dalam kantong perbekalan. “Pakai itu,” katanya.
“Sekarang?” Tanya Ratu Mesum.
“Lalu kapan lagi?”
Ratu Mesum mengambil pakaian itu. Biasanya dia tidak akan malu-
malu membuka pakaiannya dihadapan lelaki yang disukainya. Namun
sekali ini entah mengapa dia merasa jengah dan berkata: “Balikkan
tubuhmu, aku mau ganti pakaian.”
Mahesa tertawa lalu membalikkan tubuh sementara Ratu Mesum
membuka pakaian merahnya dan mengenakan pakaian yang diberikan
Mahesa.
“Nah, dalam pakaian itu kau bukan saja kelihatan cantik, tapi juga
gagah!” Mahesa memuji setelah dilihatnya Ratu Mesum selesai
berpakaian.
Senang menerima pujian itu Ratu Mesum berkata: “Ada satu hal yang
aku kawatirkan mengenakan pakaian seperti ini. Aku tidak bias lagi
menebar hawa harum beracun seperti yang kulakukan dengan baju merha
itu…”
Mahesa belum pernah melihat Ratu Mesum menebar hawa harum
beracun. Tapi dua punya pertimbangan lain. “Kau harus belajar supaya
dapat menebarhawa itu dari kedua ujung lengan pakaianmu. Itu bisa kau
lakukan lebih cepat karena tidak perlu membuat gerakan yang
merepotkan!”
“Astaga! Kau benar. Mengapa aku tidak memikirkannya dari dulu-
dulu…”
“Lalu kau mau panggil aku apa?” Ratu Mesum ingat para Pringgo yang
memberikan nama Mawar Merah padanya. Semula hendak dikatakannya
hal itu namun diputuskannya untuk tidak memberi tahu.
“Masakan kau tidak punya nama?” ujar Mahesa tak percaya.
Ratu Mesum menggigit bibirnya. “Aku memang pernah punya nama.
Ayahku yang memberikan. Tapi aku telah bersumpah untuk tidak
memakai nama itu lagi…?”
“Memangnya kenapa?”
Ratu Mesum hanya geleng-geleng kepala. Kedua matanya tampak
berkaca-kaca. Mahesa terdiam.
“Kalau begitu aku tak akan menanyakan hal itu lagi,” katanya.
“Terserah kau mau memanggil aku apa…” ujar Ratu Mesum.
Mahesa merenung beberapa lama. “Sulit juga memberikan nama yang
serasi untuk perempuan secantikmu,” kata pemuda itu. “Aku menemuimu
di desa Bangsalsari itu. Bagaimana kalau kau kupanggil Sari saja. Pendek,
tapi menawan dan berkesan…”
Sesaat perempuan itu menatap dalam-dalam ke mata Mahesa. Perlahan-
lahan diulurkannya tangannya memegang tangan pemuda itu. Mahesa
balas memegang. Seumur hidupnya baru kali ini perempuan itu merasakan
kebahagiaan berpegang tangan seperti itu. Dan matanya mulai tampak
berkaca-kaca.
“Kau perempuan gagah. Kau tak boleh menangis!” kata Mahesa.
“Aku menangis bukan karena sedih. Atau cengeng. Tapi karena
bahagia. Aku suka padamu… Mahesa,” kata perempuan itu sejujurnya.
Dalam hatinya perempuan ini berjanji jika pemuda itu dapat dijadikan
pautan hidupnya, dia akan merubah seluruh kehidupan sesat yang selama
ini ditempuhnya.
“Kau suka nama itu?” tanya Mahesa.
“Itu nama bagus. Aku menyukainya… Terima kasih…”
“Kalau begitu kita pergi sekarang,” kata Mahesa seraya berdiri dan
ulurkan tangan membimbing Sari.
“Mahesa malam tadi kau menyelamatkanku. Tidak mudah melakukan al
itu. Siapakah kau sebenarnya? Kau pasti seorang pendekar dengan gelar
besar…”
“Namaku Mahesa. Aku adalah aku dan tidak punya segala macam
gelar…”
“Lalu siapakah gurumu?” tanya Sari.
“Guruku adalah nasibku,” jawab pemuda itu. Kalaupun dia tidak ada
masalah dengan Kunti Kendil, tak akan diberitahukannya nama gurunya
itu. Apalagi saat itu dia memang punya masalah besar yang membuat
dirinya mengambil keputusan untuk tidak mau bertemu lagi dengan sang
guru dan untuk selama-lamanya.
Keduanya turun dari dangau. Sesaat Sari memandang pada pakaian
merahnya yang ditinggalkannya di lantai dangau itu dengan perasaan
sedih. Lalu dia membalikkan tubuh, menyusul Mahesa yang telah
melangkah lebih dulu. Namun tiba-tiba perempuan ini berseru: “Mahesa,
ada seseorang menuju kemari!”
SEMBILAN
SI PENCURI JANTUNG MASIH PENASARAN
MAHESA cepat berpaling ke arah yang ditunjuk Sari. Dari arah timur
saat itu memang tampak seseorang berlari cepat menuju ke tempat mereka.
Semakin dekat semakin jelas siapa adanya.
“Rupanya dia tahu juga kalau kita berada di jurusan ini…” kata Sari.
“Kau tetap tenang, biar aku yang melayaninya. Bila urusan ini bias
diselesaikan secara damai itu akan lebih baik…” kata Mahesa. Tapi
pemuda ini yakin urusan tidak semudah itu diselesaikan. Apalagi jika
orang itu nanti melihat mayat Parit Teguh di kolong dangau.
Yang datang adalah si kakek berpakaian hitam, Tulodong Hitam.
Sepasang matanya menatap tajam pada Sari lalu dia menyeringai. “Ratu
Mesum, kau boleh bertukar pakaian seribu kali. Kau boleh menyamar
ribuan kali tapi mataku tak bias ditipu…”
“Apa maumu?!” bentak Sari.
“Apa mauku…?! Ha… ha… ha…!” Kakek itu tertawa gelak-gelak.
“Kau masih bias bertanya begitu? Ha… ha… ha…?”
Mahesa maju selangkah, “Kakek, kalau kau mau menerima usulku, itu
akan lebih baik…”
Tulodong Hitam berpaling pada Mahesa. “Pasti kau manusianya yang
mencampuri urusan malam tadi. Berani berbuat berani bertanggung jawab.
Kau juga harus menyerahkan jantungmu padaku…”
“Dengar kek. Kau dating jauh-jauh mencapaikan diri untuk satu hal
yang tak ada kaitan langsung dengan dirimu!”
“Jelas kau membela perempuan dajal ini! Biar kau kubunuh lebih dulu!”
meradang si kakek.
“Tua bangka tolol!” bentak Sari cepat ketika dilihatnya si kakek hendak
bergerak menyerang. “Kau tidak lihat ada apa di kolong dangau itu?!”
Ucapan Sari ini membuat Tulodong Hitam berpaling kea rah bagian
bawah dangau. Berubahlah parasnya begitu melihat mayat Parit Teguh
dalam keadaan bugil. Perut ditancapi tongkat, mata mendelik dan lidah
mencelet. Rahang si kakek tampak menggembung. Gerahamnya
mengeluarkan suara bergemeletak. Didahului oleh pekik penuh amarah
Tulodong Hitam langsung melompat menerjang Sari. Tapi gebrakannya ini
dipotong oleh Mahesa. Si pemuda dorongkan tangannya ke bahu si kakek
hingga orang tua ini terhuyung-huyungan ke kiri.
“Keparat!”
Tulodong Hitam marah sekali. Dia membalik dan kini menyerbu
Mahesa.
Semula Sari ingin sekali masuk dalam kalangan perkelahian untuk
membantu Mahesa. Selain itu dia juga punya rasa dendam terhadap kakek
baju hitam itu, karena orang tua inilah yang hamper mencelakakannya,
menimbulkan cidera pada dadanya. Namun diam-diam diapun ingin sekali
untuk menyaksikan ketinggian ilmu pemuda yang entah bagaimana sejak
dilihatnya wajahnya pagi tadi langsung saja dia merasa suka kalau tidak
mau dikatakan jatuh cinta!
Tulodong Hitam kaget sekali ketika mendapat semua serangannya yang
bertubi-tubi tak satupun mengenai sasaran. Lain dari pada itu jelas-jelas
dia melihat pemuda lawannya berkelahi tidak sungguh-sungguh. Merasa
dihina dianggap enteng. Kakek ini lipat gandakan tenaga dalamnya.
Serangannya menggebu laksana hujan. Sepuluh jari kukunya
mengeluarkan cahaya hitam dan sambaran angina dingin. Namun sampai
lima jurus dimuka tetap saja dia tidak mampu berbuat apa-apa.
“Ah pemuda ini ternyata benar-benar luar biasa. Si kakek sudah
bertempur habis-habisan sebaliknya dia enak-enak saja!” kata Sari dalam
hati sambil berdecak kagum. Semakin besarlah rasa sukanya terhadap
Mahesa.
Tiba-tiba Tulodong Hitam mengeluarkan suara menggerung seperti
harimau lapar. Tubuhnya mencelat ke atas, langsung menukik dari arah
belakang. Tangan kanan menghantam dengan satu pukulan tangan kosong
yang mengandung tenaga dalam tinggi sedang kaki kiri menyusul
membabat ke kepala Mahesa! Serangan aneh itu membuat Mahesa
merunduk seraya lepaskan pukulan Makam Sakti Meletus dengan tangan
kosong. Karena secara aneh pula laksana seekor ikan dalam tanggok tubuh
Tulodong Hitam mencelat kembali ke atas dan ketika Mahesa menyadari
lawan tahu-tahu dating dari depan, keadaan sudah terlambat.
“Gila!” rutuk Mahesa.
Kaki kanan Tulodong Hitam menyambar cepat sekali ke arah mukanya.
Tak ada kesempatan untuk mengelak. Di sana yang keritis itu pemuda ini
memainkan jurus keempat ilmu silat orang buta yang didapatnya dari
pengemis Cengeng Sakti Mata Buta. Yakni jurus yang bernama: Si Buta
Mencengkeram Langit! Kedua tangan Mahesa melesat ke depan.
Gerakan jurus silat yang dikeluarkan Mahesa memiliki dua keampuhan.
Pertama dia meredam daya kekuatan tendangan lawan dan mengalihkan ke
bagian lain yang kurang berbahaya yakni ke arah bahu. Kedua,
cengkeramannyaitu mencederai pergelangan kaki lawan hingga daging
kaki Tulodong Hitam terkelupas sedang tulang keringnya remuk.
Tulodong Hitam mengeluh, tubuhnya jungkir balik di udara dan tegak
di tanah dengan miring. Sementara Mahesa terdorong keras ke tanah,
mukanya selamat dari tendangan maut, hanya tulang bahunya yang terasa
sakit!
Sari segera menubruk pemuda itu karena manyangka Mahesa cidera
berat. Dia merasa lega ketika dapatkan Mahesa suah lebih dulu melompat
dan berdiri.
Kakek berbaju hitam memandang Mahesa dengan sepasang mata
berkilat-kilat. Melihat kenyataan ini nyalinya menjadi ciut. Pemuda itu
memiliki kepandaian bukan main. Menghadapinya satu lawan satu sulit
baginya untuk menang, apalagi kakinya cidera berat begitu rupa. Kalau
sampai pula Ratu Mesum membantu si pemuda. Celakalah dia. Memikir
sampai disitu, tanpa banyak bicara lagi Tulodong Hitam putar tubuh,
tinggalkan tempat itu.
“Mahesa, aku hanya melibatkanmu pada persoalan yang sama sekali tak
ada sangkut pautnya dengan dirimu…”
Mahesa tersenyum. Kemudian dia termenung. Waktu berkelahi tadi dia
telah mengeluarkan jurus-jurus ilmu silat yang dipelajarinya dari Kunti
Kendil, termasuk pukulan sakti Makam Sakti Meletus. Setelah kejadian si
nenek menggantungkannya tempo hari apakah dia masih berhak
mempergunakan kepandaian yang diterimanya dari perempuan tua itu?
Juga apakah berhak memegang terus kayu hitam berbentuk papan nisan
yang pernah diberikan Kunti Kendil sebagai senjata yang ampuh?
“Mahesa… kau memikirkan sesuatu?” terdengar suara Sari serta
sentuhan pada lengannya.
Pemuda itu sadar kalau dia barusan hanyut dibawa pikiran.
Dipegangnya lengan Sari sesaat. Dia harus mengambil keputusan. Dia
tidak boleh mempergunakan ilmu kepandaian yang didapatkannya dari
Kunti Kendil. Dia tidak boleh melancarkan pukulan-pukulan sakti yang
dipelajarinya dari nenek itu. Segala yang berbau Kunti Kendil harus
dikikis habisnya. Bukankah dengan jalan menggantungkannya
sesungguhnya nenek itu telah memutuskan hubungan mereka sebagai guru
dan murid?!
“Sari, maukah kau mengantarkan aku ke pegunungan Iyang?” Mahesa
ajukan pertanyaan itu.
“Kemanapun kau mengajak aku akan ikut bersamamu Mahesa…”
Namun selintas pikiran muncul pula dibenak Mahesa. Jika dia pergi ke
puncak Iyang untuk mengembalikan Papan Nisan Kayu Hitam, berarti dia
membuka rahasia bahwa sebenarnya dia masih hidup. Bukankan dia lebih
suka kalau si nenek menganggapnya sudah mati? Seperti yang telah diatur
oleh sahabat-sahabat tujuh orang katai itu?
“Tidak jadi Sari. Kita tidak jadi ke sana…”
“Hai, bagaimana kau berubah pikiran secepat itu?”
Mahesa tak menjawab, melainkan keluarkan Papan Nisan Kayu Hitam.
Melihat benda aneh itu Sari kerenyitkan kening keheranan.
“Benda apa itu Mahesa…?”
“Ini senjata aneh pemberian guruku. Tapi sejak beliau memutuskan
hubungan sebagai guru dan murid, aku merasa tidak berhak lagi membawa
apa lagi mempergunakannya…. Aku harus mengubur senjata ini disatu
tempat!”
“Aku tidak mengerti Mahesa!”
“Suatu waktu akan kuceritakan semuanya padamu. Mari…”
Mahesa lari kea rah selatan, diikuti Sari. Disatu tempat di dalam sebuah
hutan kecil, dibawah sebatang pohon lamtorogung Mahesa menggali
sebuah lubang. Kayu hitam berbentuk papan nisan itu kemudian dipendam
di dalam lubang itu. Juga dikeluarkan obat ampuh berbentuk hijau bulat
yang masih bersisa sebuah dari balik pakaiannya dan dicampakkannya ke
dalam lobang. Dibantu oleh Sari lobang itu ditimbunnya kembali.
“Selamat tinggal guru. Maafkan segala kesalahanku. Kini aku tak ada
beban derita apa-apa lagi!” kata pemuda ini dalam hati. Lalu dipegangnya
lengan Sari. Keduanya meninggalkan tempat itu menuju ke barat.
SEPULUH
GEROBAK MISTERIUS
DUA ORANG pejalan kaki berpakaian serba putih dan bertopi lebar itu
terpaksa melompat ke tepi agar tidak ditabrak sebuah gerobak yang
meluncur kencang, ditarik oleh dua ekor kuda besar. Di belakang gerobak
mengikuti dua penunggang kuda maupun kusir gerobak masing-masing
memiliki tampang bengis, mengenakan pakaina serba biru dan membekal
golok besar di punggung masing-masing.
“Anak setan! Manusia-manusia keparat!” maki Mahesa.
“Ingin sekali aku menghajar mereka!” ujar Sari sambil menepuk debu
yang mengotori pakaian putihnya. Saat itu keduanya berada jauh di
tenggara Kawah Ijen, menyusuri jalan kecil menuju barat, kea rah gunung
Merapi. Menjelang tengah hari mereka sampai di sebuah kota kecil
bernama Pasirgambir. Karena perut sama laparnya maka yang pertama
sekali mereka cari adalah kedai makanan.
Satu-atunya kedai makanan di kota kecil itu terletak di pusat kota.
Sampai di depan kedai Mahesa berbisik; “Gerobak yang di bawah pohon
sana, bukanlah yang tadi hampir menabrak kita?”
Sari berpaling ke arah pohon yang dimaksudkan Mahesa. Memang
benar. Di bawah pohon itu tampak gerobak berikut dua kuda penariknya.
Lalu di dekat kereta kelihatan dua orang lelaki berpakaian tegak seperti
berjaga-jaga. Baik Mahesa maupun Sari tidak melihat di mana adanya
kusir gerobak.
“Jelas dua orang itu mengawal gerobak. Rupanya ada barang penting
atau berharga did lam gerobak,” kata Sari. Bersama Mahesa dia kemudian
masuk ke dalam kedai makanan. Ketika mengambil tempat duduk di sudut
kiri, mereka melihat lelaki yang menjadi kusir gerobak duduk di sudut
lain, tengah makan dengan lahap. Selesai makan dia pergi ke pintu dan
melambaikan tangannya. Sesaat kemudian muncul dua kawannya yang
tadi mengawal gerobak.
“Kalian makanlah. Aku akan menjaga gerobak. Cepat. Waktu kita tidak
banyak!”
Dua lelaki berpakaian biru masuk ke dalam kedai. Pengemudi gerobak
keluar dang anti berjaga-jaga dekat gerobak.
“Ingin sekali tahu apa isi gerobak itu,” kata Mahesa.
“Cukup sulit. Selain terus dijaga juga bagian belakang gerobak ditutup
rapat dengan terpal tebal,” sahut Sari.
“Aku ada akal. Habiskan cepat makananmu!” kata Mahesa.
Selesai makan pemuda ini mendekati dua orang berpakaian biru yang
baru pula menghabiskan makanannya.
“Kawan,” ujar Mahesa menegur. “Kulihat kalian membawa barang.
Bias kusewa untuk mengangkut barang milikku?”
“Gerobak sudah penuh. Lagi pula kami ingin cepat!” jawab seorang
lelaki berpakaian biru.
“Ah saying. Aku sanggup membayar mahal. Ke mana tujuan kalian?”
“Ke mana tujuan kami itu bukan urusanmu!”
Kedua orang itu berdiri. Mahesa keluarkan sekeping perak dari saku
pakaiannya. “Perak ini untuk kalian, jika aku bisa ikut dengan gerobak
kalian…”
Melihat kepingan perak yang begitu besar dan tentu mahal harganya
kedua orang itu jadi terkesiap. Keduanya berunding. Yang seorang lalu
melangkah ke pintu memanggil kawannya. Sewaktu kusir gerobak
mendatangi, diam-diam Sari menyelinap keluar.
“Ada apa?” tanya pengemudi gerobak.
Dua kawannya menerangkan maksud Mahesa yang hendak ikut
bersama mereka, membawa sejumlah barang yang membayar dengan
kepingan perak besar itu.
Mendengar keterangan dua kawannya itu, marahlah pengemudi
gerobak.
“Kacoak-kacoak tolol! Jangan mencari penyakit. Urusan kita belum
selesai. Terlambat sampai bukan saja kita tak akan mendapat bayaran!
Tapi juga hukuman berat! Apa kau lupa hal itu?!”
Mendengar kata-kata pengemudi gerobak yang agaknya menjadi
pimpinan dalam rombongan itu dua lelaki berpakaian biru hanya bisa
angkat bahu. Tanpa berpaling lagi pada Mahesa keduanya keluar dari
kedai makanan, diikuti pengemudi gerobak. Sesaat rombongan itupun
berlalu.
Mahesa temui Sari yang tegak di tepi jalan.
“Apa yang kau dapat?” tanya pemuda ini.
Sari membuka tangan kirinya yang dikepalkan. Pada telapak tangan
perempuan ini Mahesa melihat setumpuk kecil bubuk berwarna hitam dan
berkilauan terkena sinar matahari.
“Emas hitam…?” ujar Mahesa sambil perhatikan bubuk itu.
Sari tertawa geli. Perempuan yang lebih banyak pengalaman dari
Mahesa ini berkata: “Mana ada emas hitam. Coba kau cium…” Sari
mendekatkan telapak tangannya ke hidung Mahesa. Ketika pemuda ini
mencium terasa bau menusuk yang membuatnya hampir terbatuk-batuk.
“Bubuk edan celaka apa ini?! Ujar Mahesa lalu gosok-gosok hidungnya.
“Ini bubuk bahan peledak!” kata Sari.
“Bahan peledak?” Mahesa kerenyitkan kening dan perhatian lagi bubuk
di tangan Sari lalu geleng-gelengkan kepala.
“Di gerobak itu kulihat ada delapan karung bubuk seperti ini. Cukup
untuk menghancurkan empat buah kota atau dua buah bukit besar atau
sebuah gunung!” Sari memberi keterangan lagi.
“Bagaimana kalau kita ikuti rombongan itu!”
“Hai! Itulah yang ingin kulakukan! Mari!”
Maka kedua orang itupun berkelebat melakukan pengejaran. Sari yang
berada di depan bertindak cerdik. Dia tidak lari menyusuri jalan biasa
tetapi mengambil jalan memotong menuju puncak sebuah bukit. Dari sini
mereka dapat meneliti daerah di bawah mereka dengan jelas. Dan gerobak
berikut dua pengawalnya segera terlihat di sebelah barat, bergerak menuju
ke timur, menempuh satu-satunya jalan yang ada. Di sebuah timur terlihat
tiga buah gunung yakni gunung Suket, gunung Pendil lalu gunung Merapi.
“Kita bisa sampai di kaki gunung Suket jauh lebih cepat dan menunggu
di suit. Seterusnya kita bayangi gerakan mereka,” kata Sari.
“Kau cerdik!” memuji Mahesa.
“Kau ingat ucapan pengemudi gerobak ketika dua kawannya
mengatakan kita hendak ikut mereka? Kusir gerobak itu marah besar.
Menyebut soal pembayaran dan hukuman! Nah aku punya dugaan keras
ada satu rencana besar dibalik delapan karung bahan peledak itu.”
“Menurutku begitu…”
Kedua berunding terus sambil menuruni bukit menuju ke timur. Mereka
harus menunggu cukup lama di kaki gunung Suket baru rombongan yang
mereka intai sampai di situ lalu terus menguntit menuju ke timur.
Sampai rembang petang, rombongan yang mereka ikuti hanya berganti
satu kali yakni untuk memberi minum empat ekor kuda di sebuah kali
dangkal. Setelah itu rombongan bergerak cepat kembali kea rah timur,
melewati kaki gunung Pendil, berputar di sebuah lemabh lalu terus lagi ke
timur.
“Kurasa mereka menuju gunung Merapi,” kata Mahesa.
Sari hentikan larinya tiba-tiba.
“Ada apa?” tanya Mahesa heran.
“Pernah mendengar rencana pendirian sebuah partai persilatan yang
mangambil tempat di gunung Merapi?”
Mahesa menggeleng.
“Kabar itu tersiar sejak dua bulan lalu. Disiarkan dari mulut ke mulut.
Semua orang dalam rimba diundang tanpa terkecuali. Kurasa
peresmiannya dalam minggu ini juga.”
“Siapa orang yang punya rencana besar itu?”
“Tak satu orangpun tahu. Yang membuat banyak para tokoh gologan
hitam dan putih penasaran ialah terbetiknya berita bahwa yang melakukan
peresmian partai persilatan itu langsung saja mengangkat diri sebagai
ketua. Padahal siapa dirinya dan sampai di mana kehebatannya tidak
diketahuai…”
“Kurasa dia pasti memiliki apa-apa. Kalau tidak masakan berani
bertindak gegabah begitu. Tidak memandang sebelah matapun pada para
tokoh silat di Jawa Timur ini…. Menurutmu siapa yang punya kerja ini?”
Sari geleng-geleng kepala. “Tak bisa kuduga. Selain banyak tokoh-
tokoh silat yang lenyap begitu saja dari rimba persilatan, terdapat pula
tokoh baru yang coba bikin nama dengan membuat gebrakan-gebrakan
tertentu…”
“Seperti kau misalnya!” kata Mahesa menggoda.
Godaan ini membuat Sari menjadi merah wajahnya, terpekik dan
langsung menghujani pemuda itu dengan cubitan hingga Mahesa menjerit
kesakitan lalu tertawa gelak-gelak. Karena Sari belum menghentikan
cubitannya maka Mahesa membalas dengan mengelitik. Kini perempuan
itu yang ganti terpekik-pekik. Kegelian tetapi juga senang. Dia ingat betul
kegembiraan itu hanya dirasakan dulu sewaktu masih kecil, bercanda dan
bergelut dengan kawan-kawan sebaya. Mengalami kegembiraan seperti itu
kembali membuat Sari semakin dalam menyukai Mahesa. Dia tahu
pemuda itupun menyukainya. Dia tahu Mahesa bukan seorang pemuda
bodoh yang tidak mengerti kenikmatan apa yang bisa didapat dari
hubungan antara lelaki dengan perempuan. Sebegitu jauh Mahesa
memperlakukannya dengan baik, malah terlalu sopan. Atau mungkin dia
takut terjerat yang bisa membawa kematian baginya seperti laki-laki
lainnya?
Berpikir sampai di situ Sari menduga-duga apakah Mahesa tahu betul
siapa dirinya di masa lampau? Disamping itu ada satu hal yang membuat
Sari heran pada dirinya sendiri. Sebelum mengenal Mahesa dia selalu
diracuni oleh nafsu hubungan badan serta nafsu membunuh yang keji.
Tetapi sejak dia kenal pemuda ini, sifat itu seperti lenyap tak berbekas. Dia
sudah merasa bahagia kalau dapat saling berpegangan tangan dengan
Mahesa. Lalu bagaimanakah kalau seandainya Mahesa tak ada
disampingnya? Daptakah dia menguasai dirinya?
“Hai! Apa yang kau lamunkan?!”
Teguran itu membuat Sari terkejut dan tersipu.
“Gerobak itu sudah jauh di depan kita. Mari kita kejar lagi…!” kata
Mahesa. Keduanya kembali berlari sementara matahari mulai memasuki
ufuk tengelamnya dan gunung Merapi tampak semakin dekat.
Ketika malam tiba rombongan pembawa delapan karung bahan peledak
itu membelok memasuki sebuah jalan kecil menuju ke lereng gunung
Merapi. Jalan ini kelihatannya baru dan sengaja dibuat. Di situ ketinggian,
dimana kuda-kuda penarik gerobak tidak mungkin lagi terus naik, kusir
gerobak hentikan kendaraannya lalu keluarkan suara bersuit tiga kali
berturut-turut.
Dari kegelapan dari belakang batu-batu gunung yang besar-besar
diantara semak belukar liar muncul delapan sosok tubuh yang luar biasa
besar dan tinggi. Manusia-manusia ini hanya mengenakan semacam cawat,
berambut gondrong, berkumis lebat dan bercambang bawuk. Tampang
mereka ganas sekali.
“Kalian terlambat dua jam dari yang ditentukan!” orang tinggi besar
paling depan keluarkan suara. Suaranya parau besar.
“Mana mungkin!” menyahuti kusir gerobak. “Perjanjaian adalah kami
harus sampai di sini beberapa saat setelah malam tiba!”
“Jangan berani melawan ketentuan yang telah ditetapkan Ketua!”
“Kami tidak melawan. Mana uang pembayaran!” kusir gerobak tampak
jengkel. Tapi baik dia maupun kawannya diam-diam merasa takut. Kalau
pecah perkelahian mereka bertiga walaupun bersenjata golok tidak akan
menang melawan delapan raksasa itu.
“Uang pembayaran kau tak usah kawatir. Kami haurs periksa dulu isi
gerobak itu!” si tinggi besar lalu memberi isyarat pada dua orang
kawannya. Yang dua ini menyingkapkan kain terpal penutup gerobak lalu
memeriksa isinya. Sesaat kemudian mereka melaporkan semuanya beres.
Entah dari mana dia mengambilnya si raksasa yang bertindak sebagai
pemimpin tahu-tahu sudah memegang sebuah kantong kain.
“Ini pembayaran kalian!” katanya seraya melemparkan kantong itu ke
arah tiga lelaki berpakaian biru.
Pengemudi gerobak cepat memungutnya.
“Kalian sudah dapat bayaran. Lekas pergi dari sini!”
Dua pengawal gerobak siap untuk berlalu, tapi pengemudi gerobak
merasa was-was lebih dulu membuka kantong kain itu dan memasukkan
tangannya ke dalam. Ketika tangan itu dikeluarkan, yang terlihat dalam
genggaman jari-jarinya bukan uang atau kepingan logam berharga
melainkan batu-batu kecil!
“Penipu!” bentak pengemudi gerobak marah. Dia hunus goloknya. Dua
kawannya serta merta pula melakukan hal yang sama.
Delapan manusia tinggi besar itu tertawa gelak-gelak. Mereka masih
terus tertawa ketika tiga bilah golok berkelebat ke arah leher, dada dan
pinggang mereka. Tahu-tahu!
Kraak!
Kraak!
Kraak!
Leher pengemudi gerobak dan dua kawannya ditekuk patah. Ketiga
orang itu mati detik itu juga.
“Lepaskan kuda-kuda gerobak! Usir bersama kuda-kuda lainnya.
Masukan gerobak ke jurang. Lenyapkan setiap tanda-tanda yang
mencurigakan. Angkat karung-karung itu ke markas!”
Sesuai dengan perintah pemimpin mereka, dua kuda penarik gerobak
dilepas lalu digebrak pergi bersama dua kuda lainnya. Delapan karung di
turunkan dari gerobak. Gerobak itu sendiri bersama tiga mayat kemudian
ditarik ke satu tempat gelap, lalu diluncurkan ke bawah jurang. Kemudian
seperti hanya mengangkat sebuah buntalan ringan, delapan lelaki bercawat
itu memanggul masing-masing sebuah karung besar dan berlari cepat ke
ats gunung.
SEBELAS
SANG KETUA BERJUBAH PUTIH TEROWONGAN DILERENG
GUNUNG
SEBELUM mengenal Mahesa, soal nyawa manusia atau membunuh
orang bagi Sari adalah semudah dan sesepele membalikkan telapak tangan.
Tidak ada rasa kasihan, apalagi rasa takut. Namun untuk pertama kali tiga
orang berpakaian biru itu dipatahkan leher mereka. Sampai-sampai
perempuan itu memegang lengan mahesa erat-erat dan tak sadara berbisik:
“Aku ngeri, Mahesa…”
“Seorang ratu sepertimu tidak boleh ngeri!” sahut Mahesa.
Kontan saja satu cubitan menyengat pemuda ini. Hampir Mahesa
terpekik kalau tidak cepat-cepat menekap mulutnya sendiri.
“Aku bukan ratu. Namaku Sari!”
Mahesa mengangguk-angguk antara meringis dan tersenyum karena
menahan sakit sekaligus juga geli. Sambil mengelus-elus pinggangnya
yang sakit Mahesa memberi isyarat agar mereka segera mengikuti delapan
orang bercawat yang membawa delapan karung bubuk peledak itu. Mereka
harus bergerak cepat, tetapi juga sangat hati-hati agar tidak menimbulkan
suara.
Makin tinggi ke atas semakin dingin udara. Disuatu lereng terjal,
delapan orang membawa karung membelok ke kanan. Mahesa dan Sari
mengikuti terus. Tak lama kemudian mereka sampai di sebuah lapangan
berdiri semacam pintu gerbang yang dibuat dari batang-batang bambu
diberi hiasan daun-daun kepala dan bendera-bendera besar warna-warni.
Bendera-bendera ini juga ada disepanjang tepi lapangan. Pada ujung
lapangan terdapat sebuah panggung kayu yang dibangun amat kokoh. Lalu
di hadapan panggung tersebut bersusun-susun puluhan batang bambu yang
dibentuk menjadi bangku-bangku panjang.
“Apa yang kau katakan mungkin betul Sari. Agaknya di sini akan
dilakukan upacara peresmian partai itu…”
Sari mengangguk lalu menunjuk ke depan. “Lihat…” bisiknya.
Delapan orang yang membawa karung berisi bubuk peledak berhenti di
tepi lapangan sebelah kiri, dekat samping gunung yang ditumbuhi pohon-
pohon berlumut serta batu-batu besar. Mereka menurunkan karung tadi di
depan kaki masing-masing. Lalu yang bertindak selaku pimpinan
terdengar berteriak.
“Ketua! Kami sudah sampai!”
Suara teriakan orang ini mendtangkan gema yang panjang di seantero
lereng gunung tanda dia memiliki tenaga luar biasa. Tahu-tahu sesosok
tubuh bungkuk berjubah putih muncul di lereng gunung itu.
“Hai, dari mana mahkluk bungkuk itu muncul?” tanya Sari heran.
“Pasti ada pintu rahasia di lereng situ. Mari kita mencari tempat
mengintai lebih dekat agar bisa melihat jelas tampang si bungkuk itu. Tapi
hati-hati…”
Mahesa dan Sari bergerak dibalik-balik pepohonan. Pada jarak paling
dekat yang bisa mereka capai, keduanya kecewa. Ternyata orang bertubuh
bungkuk itu menutupi wajahnya dengan sejenis cadar tipis berwarna
hitam.
“Ketua! Kami menunggu perintahmu selanjutnya!” kembali terdengar
suara di tinggi besar.
“Lakukan pekerjaan kalian sesuai petunjukku sebelumnya. Ingat,
semuanya harus selesai sebelum matahari terbit! Laporkan padaku jika
pekerjaan kalian selesai!
Habis berkata begitu, orang bungkuk berjubah putih itu bergerak ke kiri
dan tahu-tahu tubuhnya lenyap seperti ditelan gunung!
Delapan lelaki bertubuh raksasa mengangkat kembali karung-karung
berisi bahan peledak itu. Mereka melangkah ke ujung lapangan.
Disamping panggung besar terdapat tangga tanah menurun. Di sebelah
bawah tangga terlihat sebuah lobang berkurun dua meter persegi yang
ditutup dengan papan jati. Papan ini terbuka ketika orang terdepan
menekan sebuah tombol rahasia. Lalu satu demi satu ke delapan orang itu
memasuki lobang tersebut dan papan jati menutup kembali.
“Bagaimana menurutmu. Kita ikuti mereka sampai ke dalam lobang
itu?” tanya Sari.
Mahesa gelengkan kepala. “Tunggu saja sampai mereka keluar. Kita
tidak tahu apa yang ada di dalam sana. Sekali terjebak bisa celaka!”
Ternyata keduanya harus menunggu lama. Pada saat langit di sebelah
timur mulai kelihatan kemerahan, papan penutup lobang terbuka. Satu
demi satu delapan lelaki raksasa keluar. Yang tadi bertindak sebagai
pemimpin kembali berseru. Tak lama kemudia manusia bungkuk itu
muncul, si tinggi memberi laporannya.
“Bagus… bagus. Sekarang empat orang dari kalian harus segera ke desa
itu. Bawa kemari semua makanan dan minuman yang telah dipesan.
Sementara itu aku akan menyiapkan ramuanku. Ingat, pada saat matahari
terbit yang berempat itu sudah harus berada di sini!”
Orang bungkuk berjubah putih itu kembali lenyap di lamping gunung.
Empat lelaki tinggi besar meninggalkan tempat itu sedang empat lainnya
berjaga-jaga di empat sudut lapangan. Seorang diantaranya tepat di dekat
lobang yang bertutupkan papan jati.
“Kita harus tahu apa yang ada di bawah lobang itu,” kata Mahesa.
“Penjaga yang satu itu harus disingkirkan dulu!”
“Aku sanggup menotoknya!” kata Sari.
Mahesa punya rencana lain, tapi perempuan itu telah melemparkan
sebutir batu yang tepet mengenai urat besar dipangkalan leher lelaki
raksasa yang ada dekat lobang. Kontan manusia ini tidak bisa buka suara
tidak bisa bergerak. Dengan cepat Mahesa dan sari menyelinap mendekati
lobang. Ketika coba dibuka papan jati yang kokoh itu tak bergerak
sedikitpun.
“Hantam saja biar jebol!” mengusulkan Sari.
“Jangan bodoh. Sekali mereka melihat kerusakan pada papan ini, kita
akan mati konyol di dalam sana. Pasti ada alat rahasia untuk membuka
penutup lobang ini…” Mahesa menyelidik dan meraba-raba kian kemari.
Di sudut kiri penutup lobang, tersenyum diantara kepingan-kepingan batu
gunung kelihatan sebuah kayu hitam menonjol kepermukaan. Mahesa
menggerak-gerakan kayu ini. Tidak trjadi apa-apa. Tetapi begitu kayu
ditekan, perlahan-lahan papan jati penutup lobang membuka. Mahesa
melompat msuk, menyusul Sari. Papan jati kemudian menutup dengan
sendirinya.
“Edan! Gelap sekali!” desis Mahesa. “Manusia-manusia raksasa itu tak
mungkin bergerak leluasa kalau tidak ada penerangan.” Mahesa lalu
keluarkan korek api yang biasa dipakainya untuk menyalakan rokok
kawung. Sesaat lobang itu menjadi terang.
“Ada obor di dinding sana…” bisik Sari.
Ternyata pada dinding lobang sebelah kanan tergantung delapan buah
obor. Mahesa menyalakan dua buah obor. Dengan masing-masing
memegang saru obor kini mereka dapat melihat keadaan dalam lobang itu.
Dari tempat mereka berdiri, lobang itu tampak lurus ke depan sepanjang
dua tombak. Lalu membelok ke kanan. Dari sini lobang membentuk
terowongan lurus sepanjang puluhan tombak dimuka lobang lain di
sebelah kanan. Lalu sepuluh tombak dimuka lobang lain di sebelah kiri.
Begitu terus berselang saling sampai delapan lobang. Empat di kiri, empat
di kanan. Pada setiap lobang yang delapan ini Mahesa dan Sari
menemukan sebuah karung berisi bubuk peledak itu. Setiap karung
dihubungkan satu dengan lainnya dengan seuntai tali yang dibasahi dengan
senjata minyak yang mudah terbakar.
“Hati-hati Sari,” memperingatkan Mahesa. “Tali-tali ini mengandung
minyak yang mudak terbakar. Jauhkan obormu!”
Delapan tali dari delapan karung dibuhul menjadi satu, dihubungkan
dengan sebuah tali besar. Tali besar ini melintang sepanjang atap
terowongan. Ketika diteliti ternyata menembus ke atas pada ujung sebelah
selatan.
“Apa arti semua ini Mahesa…?” tanya Sari.
“Akupun tak dapat menerka,” jawab Mahesa. Otaknya bekerja keras.
“Jika kuukur-ukur, delapan karung berisi bubuk peledak itu semuanya
berada diatas deretan bangku-bangku panjang yang terbuat dari bambu.
Lalu tali besar ini menembus ke atas kira-kira disekitar panggung kayu.
Eh, kau benar. Apa artinya semua ini…?”
Saripun berpikir keras. Namun kedua orang itu belum dapat
memecahkan rahasia di balik apa yang mereka saksikan di dalam
terowongan itu. Dari tiga manusia raksasa itu menemukan kawan mereka
yang dekat pintu lobang berada keadaan tertotok mereka mungkin akan
menyelidik sampai ke sini.
“Sebaiknya kita cepat-cepat kembali ke lobang jalan masuk tadi.”
Mahesa menyetujui ucapan Sari itu. Keduanya bergegas menuju lobang
keluar. Justru pada saat itu di ujung lobang tampak cahaya menyeruak.
“Celaka! Ada yang masuk!” bisik Sari.
“Kurasa mereka sudah mengetahui ada kawan yang dibokong. Matikan
obor!”
Sari dan Mahesa meniup pada obor yang mereka bawa. Mahesa lalu
menancapkan kayu obor ke tempat semula di dinding terowongan. Di
ujung sana kelihatan dua pasang kaki-kaki besar menuruni lobang. Dua
orang lelaki bertubuh raksasa masuk ke dalam terowongan. Mereka
menyalakan dua buah obor lalu bergerak lebih ke dalam. Jelas keduanya
melakukan penyelidikan. Tak berapa lama keduanya kembali menuju ke
lobang keluar. Yang disebelah belakang berkata pada temannya.
“Aneh, tak ada siapa-siapa di dalam sini. Tak ada yang mencurigakan.
Semua dalam keadaan semula. Lalu bagaimana si jelek satu itu bisa kaku
dan bisu kalau tidak ditotok orang?!”
“Jangan-jangan dia mempermainkan kita!”
“Terlalu edan kalau saat seperti ini ada yang berani bergurau. Apa perlu
kejadian ini diberitahu pada Ketua?”
“kalau diberitahu kita yang bakal didamprat!”
“Jika begitu kurasa ada baiknya kita meneliti sekali lagi seluruh
terowongan!”
“Gila! Kita sudah memeriksa setiap jengkal dari terowongan itu. Tikus
bahkan setanpun tak bakal luput dari penglihatan kita. Kita tak punya
waktu banyak. Hari sudah terang. Lagi pula tidaklah kau lihat sudah ada
beberapa tamu yang muncul walau mereka masih belum masuk ke dalam
lapangan upacara?”
“Baiklah. Kita keluar saja dari sini!”
Kedua orang itu memadamkan api obor lalu membuka papan jati
penutup lobang dan keluar satu demi satu.
Kembali ke dalam terowongan.
Mahesa dan Sari melompat turun dari langit-langit terowongan di mana
tadi mereka memepetkan diri serata mungkin dengan bersitekan pada dua
telapak tangan serta ujung kaki ke dinding paling atas terowongan. Tubuh
masing-masing mandi keringat kerena tegang.
“Bagaimana sekarang?” tanya Sari.
“Kita harus menunggu kesempatan. Kita harus keluar dari sini. Jika hari
ini benar diadakan upacara peresmian partai itu, pada puncak acara, ketika
semua perhatian tertuju pada upacara, kurasa kita punya kesempatan untuk
menyelinap keluar dari tempat ini…”
“Lalu kita bergabung dengan para tamu, ikut duduk menyaksikan
jalannya upacara!” menyambung Sari.
“Bisa saja begitu. Tapi…” mendadak Mahesa ingat sesuatu. Upacara
peresmian partai itu merupakan satu kejadian besar dalam dunia persilatan.
Mungkin hanya sekali dalam sepuluh bahkan mungkin sekali dalam dua
puluh lima tahun. Tidak dapat tidak akan banyak tetamu yang datang,
terdiri dari tokoh-tokoh silat di delapan penjuru angin. Bukan mustahil
gurunya Mahesa lebih suka menyebut sebagai bekas gurunya yaitu si
nenek bernama Kunti Kendil akan datang ke tempat itu. Jika dia muncul
pula di antara para tamu, pasti si nenek akan melihatnya. Padahal dia lebih
suka bahwa nenek itu menganggapnya sudah mati. Lain dari pada itu besar
kemungkinan si dukun jahat Embah Bromo Tunggal ikut hadir. Berarti dia
bisa memenuhi permintaan tujuh manusia katai untuk mendapatkan
kembali kitab silat yang dicuri kakek tersebut. Sekaligus dia juga harus
berusaha mendapatkan kembali Keris Naga Biru yang tempo hari dilarikan
sang dukun.
Kalau dia tidak ingin dikenali oleh gurunya, hanya ada satu jalan. Dia
harus melindungi wajahnya dengan sesuatu. Mungkin dengan topeng atau
kain penutup muka. Tetapi di tempat seperti itu di mana pula dia akan
mendapatkan topeng atau kain?!
“Hai! Kau seperti memikirkan sesuatu atau melamun?” menegur Sari.
“Tadi kau mengatakan tapi. Tapi apa…?”
“Jika kita muncul di antara para tamu, aku tak ingin tampangku dikenali
orang.”
“Hai! Kau malu karena mukamu jelek?!” menggoda Sari.
“Amggap saja begitu,” sahut Mahesa.
“Lalu apa yang hendak kau lakukan?”
“Aku butuh topeng, cadar, kain! Pokoknya apa saja yang bisa
menyembunyikan wajahku…”
“Hemm… kalau Cuma begituan mengapa haurs kawatir?!” ujar Sari.
“Apa meksudmu?” tanya Mahesa.
Dari balik pakaiannya perempuan itu mengeluarkan secarik lembar kain
berwarna merah.
“Dari mana kau dapat kain itu?” Mahesa bertanya heran.
“Bekas pakaianku. Waktu melepaskan pakaian merahku di sawah itu,
aku sengaja merobek salah satu bagiannya. Sekedar untuk kenang-
kenangan. Siapa tahu saat ini besar gunanya!” lalu jari-jari tangan yang
halus mungil perempuan itu bergerak cepat. Merobek, membuhul,
merobek lalu membuhul lagi. Tak lama kemudian potongan kain itu telah
berubah menjadi kantong. Setiap memiliki dua lobang.
“Kau mau yang mana?” tanya Sari seraya mengoyang-goyangkan
kantong itu. Satu di tangan kiri satu lagi di tangan kanan.
“Kau bener-bener cerdik. Pandai dan… dan cantik!” ujar Mahesa lalu
menyambar kantong merah di tangan kiri Sari. Kantong langsung
disusupkannya ke kepala. Keseluruhan kepalanya mulai dari rambut
sampai ke pangkal leher kecuali sepasang mata kini tertutup, tak mungkin
dikenali!
Sari menyusul menutupi kepalanya dengan kantong kain yang satu lagi.
“Terus terang aku banyak musuh. Sekali mereka mengenali wajahku,
mereka akan mencegatku seusai upacara. Lain dari itu, aku tak mau ke
ucemburu kalau ada pendekar-pendekar muda yang terus-terusan
memandangku. Hik… hik… hik…” perempuan itu tertawa cecikikan.
“Kalau bukan di sini tempatnya, pasti kau kugelitik sampai terkencing-
kencing!” kata Mahesa pula. Lalu dia memberi isyarat agar Sari mengikuti.
Dengan hati-hati Mahesa mengungkit papan jati penutup lobang dan
mengintai.
Di atas panggung saat itu dilihatnya makanan dan minuman terletak dua
buah meja panjang. Di sebelah depan meja panjang terdapat satu meja
kecil berikut kursi. Baik kursi maupun meja bentuknya bagus sekali.
Terbuat dari kayu jati berukiran halus.
Saat itu lebih dari separuh bangku-bangku panjang yang terbuat dari
batang-batang bambu telah terisi oleh tamu. Sayang dari tempat mengintai
Mahesa tak dapat melihat dengan jelas wajah-wajah para tamu itu.
Kemudian dilihatnya pula delapan lelaki bercawat bertubuh raksasa tegak
di delapan sudut lapangan, berarti lobang keluar masuk terowongan itu
tidak ada penjaga. Setelah meneliti keadaan beberapa lamanya, Mahesa
buka lebar-lebar papan jati dan melompat keluar. Sari mengikuti dari
belakang. Keduanya lari menuruni lereng gunung menjauhi tempat itu lalu
berputar ke selatan akhirnya kembali lagi ke tempat upacara dari arah
pintu masuk. Orang-orang yang sudah lebih dulu hadir di tempat itu,
termasuk delapan manusia raksasa menganggap kedua orang ini adalah
dua tamu yang baru datang dan dipersilakan mengambil tempat duduk.
Akan hal kain-kain merah penutup kepala mereka atau penampilan yang
aneh-aneh merupakan hal yang terbiasa di kalangan tokoh-tokoh
persilatan.
DUA BELAS
MISTERI DELAPAN KARUNG BAHAN PELEDAK
MAHESA DAN SARI sengaja mengambil tempat duduk agak ke
belakang. Hal ini agar orang banyak yang telah lebih dulu datang tidak
memperhatikan keduanya, sebaliknya mereka bisa memperhatikan para
tetamu itu dari belakang.
“Banyak yang kau kenal…?” tanya Mahesa berbisik.
Sari mengangguk. “Banyak, tapi hampir semua orang-orang yang
selama ini mencariku. Musuh-musuhku!”
Mahesa melihat Pendekar Muka Tengkorak Suko Inggil duduk lima
bangku di depannya. Kakek ini duduk tenang-tenang sambil menghisap
rokok kawungnya. Setelah sekian lama tidak bertemu, ingin sekali Mahesa
mendatangi orang tua itu. Tetapi tentu saja dia tidak mau dirinya diketahui
orang.
Du jurusan lain dilihatnya dua orang lelaki berpakain kuningmembekal
keris di pinggang masing-masing. Ketika diperhatikan Mahesa segera
mengenali salah seorang diantaranya yakni Made Tantre, pendekar Bali
yang bergelar Tangan Dewa Dari Klungkung. Seperti diceritakan dalam
jilid ke-6 pendekar ini telah menjadi hitam dan cacat tangan kanannya
ketika berkelahi melawan Wirapati.
Mahesa juga melihat kakek berjanggut putih berjuluk Malaikat Maut
Berkuda Putih. Kakek itulah dulu yang pernah menyelamatkan jiwanya
dari tangan Datuk Iblis Penghisap Darah ketika bertempur di Bukit
Akhirat. (Baca jilid ke-2). Si kakek kelihatan semakin tua. Apakah dia
telah berhasil menemui muridnya yang hilang tak tentu rimbanya itu, tanya
Mahesa dalam hati.
Sepasang mata Mahesa mencari-cari orang yang paling tak ingin
ditemuinya tetapi justru ingin mengetahuinya apakah juga berada di situ.
Orang ini bukan lain adalah si nenek gurunya sendiri yakni Kunti Kendil.
Mahesa merasa pasti nenek itu tidak ada di situ.
Ada rasa kecewa, tetapi hatinya juga agak lega. Selanjutnya Mahesa
coba menemukan apakah dukun jahat Embah Bromo Tunggal berada di
tempat tersebut. Diapun tidak melihat manusia satu ini, juga tidak tampak
Datuk Iblis Penghisap Darah. Jelas jika tak ada si nenek, Kunti Kendil, tak
akan ada pula sang datuk. Bukankah mereka sudah menjadi suami istri?
Mahesa memegang tangan Sari. “Ingat dukun jahat bernama Embah
Bromo Tunggal yang kuceritakan padamu itu? Juga pemuda gila
berkepandaian tinggi bernama Wirapati bergelar Iblis Gila Tangan
Hitam?”
“Mereka ada di sini…?” balik bertanya Sari yang ingin sekali melihat
langsung orang-orang itu.
“Mereka tidak ada…” menjelaskan Mahesa. Lalu diapun teringat pada
Kemala. Apalagi gadis cantik berbaju kuning yang pernah menjadi
kenangannya itu masihbersama-sama Wirapati?
Seorang tamu baru memasuki tempat upacara. Orang ini mengenakan
jubah putih dan sorban tinggi. Di tangan kirinya tergenggam seuntai tasbih
hijau. Mahesa segera mengenalinya yaitu Ki Sandakan, ketua pesantren
Nusa Barung.
“Tak banyak yang menerimaku di sini. Bagaimana kalau kita pergi
saja…” kata Mahesa.
Sari tampaknya tidak menyetujui ajakan itu. “Jauh-jauh kita datang
kemari. Sudah sampai hendak pergi begitu saja. Bukankah kita ingin tahu
partai apa yang akan diresmikan di tempat ini. Siapa ketuanya. Siapa
manusia bungkuk misterius bercadar yang membuat acara ini. Lalu kitapun
belum memecahkan rahasia terowongan itu.”
“Kalau kau memang suka tetap di sini, aku hanya menurut saja,” kata
Mahesa mengalah walau dia kecewa tidak melihat Embah Bromo Tunggal
di tempat itu. Berarti dia tidak akan dapat menemukan Keris Naga Biru.
Lebih penting dari itu dia tak mungkin mendapatkan kitab ilmu silat tujuh
orang katai yang harus dicarinya itu.
“Ada sepasang tamu yang datang…” tiba-tiba Sari berbisik.
Mahesa berpaling. Lututnya bergetar. Dadanya berdebar. Bagaimana
tidak. Salah seorang dari tamu itu adalah bekasa gurunya, si nenek Kunti
Kendil! Perempuan tua ini tampak semakin tua. Pakaiannya kotor,
rambutnya awut-awutan. Dia melangkah terpincang-pincang diikuti
seorang lelaki gagah berusia sekitar empat puluh lima tahun, berambut
pendek warna kelabu. Mahesa bertanya-tanya dalam hati saja dia ingat!
Lelaki itu bukan lain adalah Lembu Surah alias Datuk Iblis Penghisap
Darah, suami si nenek yang muncul tanpa topeng! Dan Mahesa merasa
dadanya lebih sesak karena kedua orang itu duduk hanya terpisah dua
bangku di depan mereka!
“Kulihat kau tidak tenang,” berkata Sari sambil menyentuh lengan
Mahesa. “Kau kenal kedua tamu yang baru datang itu…?”
Mahesa cepat menggeleng.
“Hai, aku tahu kau gugup. Aku tahu kau pasti kenal nenek jelek dan
lelaki gagah berambut kelabu itu!” kata Sari lagi.
Mahesa merasakan tenggorokannya kering dan mulutnya asam. Maka
dia keluarkan rokok kawungnya. Ketika hendak menyulut rokok ini
mendadak dia mendengar suara halus seperti ngiangan nyamuk di
telinganya.
“Pemuda tolol! Dengan merokok begitu sama saja kau membuka kedok
siapa dirimu!”
Astaga! Mahesa tersentak kaget. Rokok kawung yang hendak
dinyalakan terlepas jatuh dari tangannya. Dia memandang berkeliling.
Mencari-cari. Siapa orang yang tadi bicara dengan mengerahkan
kepandaian menyampaikan suara jarak jauh! Tak mungkin Kunti Kendil.
Tak mungkin pula Lembu Surah. Apalagi si kakek muka tengkorak yang
duduk jauh di ujung sana. Lalu siapa? Mahesa kembali memandang
berkeliling.
“Siapa yang tengah kau cari?” tanya Sari.
“Ada seseorang bicara dari jauh padaku…” menerangkan Mahesa. Dan
pemuda ini memandang berkeliling mencari-cari. Tiba-tiba dia lihat orang
itu. Seorang kakek berpakaian compang-camping. Bermata buta dan duduk
seperti acuh tak acuh.
“Gembel Cengeng Sakti Mata Buta!” seru Mahesa dalam hati begitu dia
mengenali siapa adanya kakek itu. Tokoh sakti yang diketahuinya
merupakan tokoh silat nomor satu saat itu. Kakek yang bersifat aneh,
mudah menangis inilah yang dulu pernah mengajarkannya jurus-jurus silat
yang luar biasa yakni jurus ilmu silat orang buta!
“Ah, dia masih seperti dulu-dulu juga. Apakah masih suka main catur?
Aku harus menemuinya!” Mahesa lalu berdiri. Namun saat itu pula
kembali terdengar suara mengiang di kedua telinganya.
“Lagi-lagi kau bertindak tolol. Tetap duduk di tempatmu! Sekarang
bukan saatnya untuk mengobrol!”
Mau tak mau Mahesa terpaksa duduk kembali. Kalau saja dia bisa
menyampaikan suara jarak jauh seperti kakek itu banyak hal yang akan
ditanyakannya. “Manusia luar biasa! Kedua matanya buta. Kepalaku
tertutup kain merah. Aku duduk cukup jauh dari dia. Bagaimana kakek itu
bisa mengenali dan mengenali dan mengetahui aku ada di sini? Bagaimana
pula dia bisa sampai di tempat upacara ini tanpa ada yang membawanya?
Benar-benar luar biasa! Apakah adiknya si mata biru juga hadir di tempat
ini?”
Selagi berkata-kata dalam hati seperti itu Mahesa kembali memandang
berkelilingnya. Dilihatnya Pendekar Muka Tengkorak tengah menyalakan
lagi sebatang rokok kawung. Semakin asam rasanya mulut Mahesa.
“Anak setan betul! Aku tak bisa merokok. Aku tak bisa mendekati
kakek cengeng itu. Bagaimana kalau aku menemui si muka tengkorak?”
Mahesa melirik pada gembel Cengeng Sakti Mata Buta lalu memamdang
lagi pada kakek muka tengkorak yang asyik menyedot rokok kawungnya
tanpa melepaskan rokok itu dari sela bibirnya. Angin di lereng gunung itu
keras sekali hingga rokok yang baru dinyalakan si kakek padam apinya.
Ketika melihat nyala api penyulut rokok itu mendadak Mahesa teringat
pada delapan karung peledak yang dihubungkan dengan tali berminyak.
Kalau ujung tali itu dibakar…
Delapan karung itu berada di dalam tanah, tepat di bawah lapangan di
mana hampir seratus tamu duduk menghadiri upacara, termasuk dia dan
Sari!
“Gila!” seru Mahesa.
“Hai, siapa yang gila?!” bisik Sari.
Mahesa pegang tangan perempuan itu lalu membawanya duduk
menjauh ke sudut lapangan. Diceritakannya apa yang tadi
dibayangkannya. Wajah Sari dibalik kain merah jadi berubah.
“Astaga, kalau begitu…. Siapapun yang mengadakan acara peresmian
ini pasti mempunyai maksud keji luar biasa! Dia hendak meledakkan
gunung ini! Membunuh kita semua!”
Mahesa berdiri, memandang berkeliling dengan cepat. Delapan lelalki
bertubuh raksasa dilihatnya masih tegak di tempatnya semula, pada sisi-
sisi lapangan.
“Kita harus menyelinap kembali ke dalam terowongan itu,” bisik
Mahesa. “Ikuti aku!”
Keduanya segera berdiri, melangkah cepat menuju pintu lapangan.
Seorang lelaki tinggi besar bercawat yang berjaga-jaga di sana serta merta
menghadang mereka.
“Celaka, agaknya kita terpaksa membuat urusan,” ujar Sari.
“Tenang saja…” sahut Mahesa.
“Dua tamu berkerudung! Kalian mau ke mana?” penjaga itu bertanya.
“Ada barang penting yang harus kami ambil di kaki gunung.”
Orang itu menyeringai. Ternyata gigi-giginya pun besar luar biasa.
“Kami taun rumah punya aturan. Setiap tamu yang sudah datang tidak
boleh meninggalkan tempat ini! Kembali ke tempat kalian!”
“Anak setan!” maki Mahesa dalam hati. Tapi dia coba tersenyum. Lalu
menjawab. “Memamg kami tahu aturan itu. Ketua juga telah memberitahu
pada kami…”
“Ketua? Ketua siapa maksudmu?” tanya si raksasa.
“Ketua siapa lagi kalau bukan ketua kami dan juga ketua kalian! Jangan
berpura-pura bodoh!” Mahesa membual dan sekaligus menggertak. Sesaat
orang di hadapannya itu tampak terkesiap. Mahesa segera menyambung:
“Barang yang akan kami ambil itu adalah milik dan untuk keperluan
Ketua. Akan dipergunakan dalam upacara nanti. Jika kau berani
melarangnya kami akan melapor pada Ketua!”
“Ketua tidak pernah mengatakan ada petugas-petugas lain selain aku
dan tujuh kawanku!”
“Ketua tidak sebodohmu! Tidak semua urusan diberitahukan pada anak
buah. Apa kau tidak percaya?!”
Orang itu semakin ragu.
Mahesa kembali menggertak. Dia berpaling pada Sari berkata: “Bertahu
Ketua. Kita mendapat halangan dari orang dalam sendir!”
Sari segera melangkah.
“Tunggu!” kata si tinggi besar bercawat. “Kalian boleh pergi, tapi lekas
kembali. Upacara akan segera dimulai!”
“Nah, begitu lebih baik bagimu!” ujar Mahesa. Diikuti oleh Sari dia
segera meninggalkan tempat upacara. Menuruni gunung ke arah selatan
lalu membelok ke timur, mengambil jalan berputar dan akhirnya muncul
kembali di lereng gunung tepat di belakang panggung. Karena tak ada
yang menjaga lobang terowongan tanah, dengan mudah dan cepat
keduanya bisa memasuki pintu atau lobang terowongan itu.
Di tempat upacara, mengatahui Mahesa dan kawannya pergi
meninggalkannya, si kakek yang bergelar Gembel Cengeng Sakti Mata
Buta mulai sesenggukan, lalu menangis tersedu-sedu. Para tamu yang
duduk didekatnya tak satupun yang berani menegur. Mereka semua
memaklumi kalau yang bersifat dan bersikap aneh itu biasanya adalah
tokoh-tokoh kelas satu dalam dunia persilatan.
Entah dari mana sumbernya, saat itu terdengar suara gong dipukul tujuh
kali berturut-turut. Para hadirin segera mengarahkan perhatian ke
panggung kayu, ke araas mana saat itu melangkah cepat seorang lelaki
berpakaian putih. Sulit untuk memperhatikan wajahnya karena tertutup
cadar hitam.
Manusia bungkuk ini mengangkat kedua tangannya ke atas. Gong
terdengar lagi bertalu delapan kali. Disusul oleh suara tiupan terompet
nyarig sekali. Begitu orang bungkuk itu menurunkan kedua tangannya
kembali, maka suara terompetpun sirna. Lalu orang ini duduk ke atas kursi
berukir yang terletak di belakang sebuah meja kecil.
Diantara para tamu mulai terdengar suara berisik kasak kusuk. Kunti
Kendil berpaling pada Lembu Surah dan berbisik: “Lembu, kau tahu siapa
adanya orang di atas panggung itu?”
“Sulit diduga. Wajahnya tertutup cadar yang sulit ditembus pandangan
mata. Sosok tubuhnya tidak mengatakan apa-apa. Banyak orang yang
bungkuk seperti dia. Entah kalau dia bicara nanti. Mungkin aku mengenali
suaranya,” jawab Lembu Surah alias Datuk Iblis Penghisap Darah yang
saat itu hadir dengan wajah aslinya, tanpa topeng tipis.
Tiba-tiba terompet berbuyi lagi. Tinggi dan panjang. Begitu lenyap,
orang yang berada di atas panggung tegak dari kursinya.
TAMAT
Serial berikutnya:
RAHASIA SI BUNGKUK BERJUBAH PUTIH
0 komentar:
Posting Komentar