Kamis, 28 November 2024

MAHESA EDAN EPISODE RAHASIA LENYAPNYA MAYAT MAHESA

https://matjenuhkhairil.blogspot.com

 SATU

ORANG GILA KETEMU ORANG GILA


KOPI dan gula dalam telapak tangan Randu Ampel langsung mencair.

Air mendidih yang dituangkan mengepulkan asap panas. Lima prajurit

Kadipaten Lumajang mendelik kaget ketika melihat Randu Ampel tetap

tegak berdiri tanpa kesakitan. Tangannya yang disiram air mendidih sama

sekali tidak melepuh atau cidera! Malah genangan air panas bercampur

kopi dan gula di atas kedua telapak tangannya itu enak saja dihirupnya

hingga habis. Sisa-sisa gula dan kopi dijilat-jilatnya dengan ujung lidah.

“Sedap sekali kopi kalian…. Aku minta lagi…!” kata Randu Ampel lalu

ulurkan kedua tangannya.

Prajurit yang tadi menuangkan air mendidih berpaling pada kawan-

kawannya, lalu melangkah mundur.

“Jangan-jangan manusia ini mahkluk jejadian…” berbisik salah seorang

dari lima prajurit itu.

“Sebaiknya kita tinggalkan tempat ini cepat-cepat!” kawannya yang di

samping kiri balas berbisik.

“Hai! Aku minta kopi, kalian malah pergi!” teriak Randu Ampel ketika

melihat lima orang di hadapannya itu mundur, mundur lalu membalikkan

tubuh dan lari berhamburan.

“Keparat! Kalian mempermainkanku! Kalian pasti kaki tangan Mangun

Aryo!” kembali Randu Ampel berteriak. Kali ini disertai kemarahan.

Tubuhnya melompat ke depan, laksana terbang, melayang ke arah lima

prajurit yang lari berserabutan itu.

“Mampus!”

Duk!

Buk!

Dua prajurit mental dan terjerembab di tanah. Yang pertama hancur

tengkuknya di hantam tumit Randu Ampel. Yang kedua patah

pinggangnya kena tendangan kaki kiri lelaki miring itu.

“Dia membunuh Seta dan Gana!” teriak prajurit di ujung kanan.

Bersama kedua tanganya, kalau sebelumnya mereka merasa takut, kini

melihat kematian dua kawannya itu, ketiganya berubah marah dan cabut

golok masing-masing.

Randu Ampel masih menjilati sisa-sisa gula dan kopi di telapak tangan

kanannya ketika ke tiga prajurit itu menyerbunya dari tiga jurusan.

“Jurus ke sembilan!” teriak Randu Ampel coba mengingat jurus silat

yang ke sembilan, yang dipelajarinya di dalam goa. Tangan kanannya

menghantam ke depan. Tubuhnya dirundukkan. Berbarengan dengan itu

kaki kirinya membabat kemuka. Dua lawan yang mengeroyok menjerit.

Yang pertama terbanting ke tanah, muntah darah dan melingkar tak


bergerak lagi begitu dadanya kena jotosan. Tulang iganya patah,

jantungnya ditembus patahan tulang iga sendiri. Yang satu lagi pecah

lambungnya dihantam tendangan. Serangan golok prajurit ke tiga

dielakkan mudah dan lewat di atas kepalanya.

Saat itulah Randu Ampel mulai menyadari bahwa dalam dirinya

tersimpan satu kekuatan hebat luar biasa. Seperti karanjingan untuk

membuktikan kehebatan itu dia menghadang prajurit ke lima yang kini

ketakutan setangah mati dan hendak melarikan diri.

“Mau lari? Ha… ha! Larilah!” sentak Randu Ampel.

Begitu prajurit itu balikkan tubuh dan lari sejauh setengah tombak

Randu Ampel pukulkan tangan kanannya ke depan, ke arah punggung

orang yang lari. Sesaat kemudian orang itu mencelat mental dan terguling

roboh di tanah. Dia hanya sempat mengeluarkan satu jeritan keras, lalu dia

tak berkutik lagi. Mati dengan punggung hancur sampai ke dada!

“Hah?!”

Randu ampel berteriak kaget dan heran! Dia memandang tangan

kanannya lalu memandangi lima sosok tubuh yang mati bergelimpangan.

Begitu berulag kali dengan rasa tak percaya. Tiba-tiba dia berteriak keras.

“Tanganku kuat! Aku jadi orang hebat! aku punya ilmu! Mangun Aryo!

Sekarang mampus kau! Mampus!” lalu Randu Ampel memukul batang

pohon di samping kanannya. Braak! Batang itu patah dan pohonnya

tumbang Randu Ampel tendangkan kaki kiri ke pohon lain di sebelahnya.

Braaak! Pohon itu juga remuk dan tumbang!

“Ha… ha… ha…! Mangun Aryo! Tunggu pembalasanku! Fitnah

kembali kepada fitnah!” teriak Randu Ampel lagi. Diluar sadar, saking

girangnya lelaki ini melompat ke atas. “Hup! Hai! Aneh! Tubuhnya seperti

melayang, tinggi sekali. Karena agak gamang dia menggapai kian kemari

sampai akhirnya dia terduduk di atas sebatang cabang pohon yang sangat

kecil. Janganlah manusia seekor kucingpun jika bertumpanga di atas

cabang kecil itu, pasti cabang tersebut akan terkulai ke bawah bahkan

mungkin patah karena cabang itu selain kecil juga sudah lapuk. Tapi

hebatnya justru Randu Ampel bisa duduk. Bahkan ketika gamangnya

mulai hilang dan dia mulai biasa, lelaki ini duduk sambil uncang-uncang

kaki. Dia ingat pada sulingnya. Keluarkan benda ini dan meniup

melengking-lengking!

Begitulah mulai hari itu dalam benak Randu Ampel hanya ada satu

tekad untuk dilakukan mencari Mangun Aryo, orang yang bukan saja telah

mencelakakan dirinya tetapi juga menjadi penyebab kematian istrinya.

Maka diapun melanjutkan perjalanan menuju Probolinggo.


Meskipun otaknya tidak sehat lagi, namun apa yang terjadi delapan

belas tahun lalu di Probolinggo tak pernah pupus dalam ingatan Randu

Ampel. Peristiwa pembunuhan kejam yang dilakukannya terhadap istrinya

di kota itu membuat lelaki ini tidak mau memasuki kota mendatangi rumah

kediaman Mangun Aryo yang kini menjadi Adipati itu. dia berhanti di

sebuah puncak bukit yang terletak di luar kota. Dia memutuskan

menunggu kemungkinan Mangun Aryo di situ. Memang untuk

Probolinggo ada empat jurusan keluar masuk. Pertama di sebelah utara

yang menghubungkan kota dengan pantai. Di sebelah timur, lalu di sebelah

selatan dan terakhir di sebelah barat. Dari ke empat jurusan itu, yang di

sebelah baratlah paling ramai di lalui. Setiap orang yang mengambil arah

itu pasti akan melewati daerah bebukitan di mana Randu Ampel

melakukan pencegatan. Tetapi sampai beberapa lamakan dia harus

mendekam di situ menunggu kemunculan Mangun Aryo? Hal ini agaknya

tidak menjadi masalah bagi Randu Ampel. Dia akan menunggu sekalipun

sampai gunung Mahameru meletus. Kalau perlu bahkan sampai kiamat!

Belasan hari telah lewat sejak Randu Ampel sampai di puncak bukit di

luar kota. Siang hari dia kepanasan. Malam hari kedinginan berselimut

embun. Keadaan tubuhnya semakin kotor menjijikan. Tampangnya tambah

menyeramkan. Makannya sama sekali tidak menentu. Satu-satunya teman

setianya adalah suling bambu yang acap kali ditiupnya dalam irama aneh

tak menentu. Terkadang dia duduk berteduh di bawah pohon-pohon besar,

atau meringkuk tidur di atas cabang-cabangnya yang rindang. Terkadang

dia menyusup masuk ke balik batang-batang pohon bambu yang banyak

tumbuh di sana. Kalau lagi asyik meniup suling tak jarang dia duduk

seperti bersila, mengapung di udara dengan sepasang lutut dan punggung

menempel pada tiga batang bambu.

Orang-orang yang melewati bukit itu kebanyakan menduga Randu

Ampel hanyalah seorang gila yang datang entah dari mana dan terpesat di

situ. Namun banyak juga yang merasa heran melihat bagaimana dia bisa

duduk secara aneh diantara tiga btang bambu seperti itu. hanya karena

mereka tidak punya banyak waktu untuk menyelidiki maka orang-orang

itu akhirnya berlalu begitu saja. Paling-paling sambil gelengkan kepala.

Kesabaran Randu Ampel menunggu musuh besarnya di puncak bukit

itu ternyata tidak sia-sia. Pada hari ke tiga belas, disuatu rembang petang

Mangun Aryo yang ditemani oleh kepala pengawal Kadipaten yaitu

Rangga baru saja kembali dari perjalanan menemui Embah Bromo

Tunggal di puncak gunung Bromo.


Di bebukitan kedua orang ini mendengar suara tiupan suling aneh.

Semula Rangga menyangka itu hanya tiupan suling seorang penggembala.

Tetapi Mangun Aryo berhadapan meniup suling demikian hingga

menyakitkan liang telinga dan mendebarkan dada. Begitu sampai di

puncak bukit mereka hantikan kuda dan memandang ke arah pohon-pohon

bambu dengan perasaan terkejut, heran tapi sekaligus juga bercampur rasa

tidak enak.

Orang yang meniup suling itu mereka saksikan duduk mengapung

diantara tiga batang pohon bambu. Dia mengenakan celana hitam bergaris

kuning, memakai topi hitam tinggi. Orang ini tidak mengenakan baju. Di

lehernya tergantung sebuah kalung bergambar burung bermahkotakan

yang merentangkan kedua sayapnya. Wajahnya cekung, kotor penuh debu.

Sepasang matanya agak kemerahan. Kumis serta janggutnya meranggas.

Keseluruhan tampangnya mengerikan untuk dipandang.

Karena merasa tidak enak, Mangun Aryo mengajak Rangga untuk

meninggalkan bukit itu cepat-cepat. Tetapi maksud mereka tertahan karena

mendadak orang di atas pohon bambu keluarkan nyanyian aneh. Bait-bait

di dalam nyanyian itu jelas mengungkapkan peristiwa delapan belas tahun

yang silam. Ketika Probolinggo dihebohkan oleh peristiwa pembunuhan

kejam yang dilakukan Randu Ampel. Siapakah sebenarnya orang gila ini,

begitu Mangun Aryo bertanya-tanya. Dalam pada itu orang aneh itu secara

mendadak menyerang kuda yang ditunggangi Mangun Aryo hingga

binatang itu melompat tinggi lalu melarikan diri. Sementara itu Rangga

tiba-tiba pula menjadi kejang karena ditotok secara anreh.

Puncak dari semua keanehan itu meledak ketika orang gila tadi

mengatakan bahwa dia adalah Randu Ampel yang dicelakai oleh Mangun

Aryo delapan belas tahun silam dengan ilmu hitam hanya karena

menginginkan jabatan Adipati Probolinggo.

Sebenarnya Mangun Aryo bukanlah manusia pengecut. Namun

menghadapi orang gila seperti itu yang bisa berbuat nekad semaunya, mau

tak mau dia mementingkan cari selamat lebih dulu. Maka diapun

melarikan diri. Akan tetapi sekali mengejar Randu Ampel berhasil

menangkap tangan kanan Adipati Probolinggo itu. sekali remas saja

hancurlah tulang lengan lelaki itu, persendiannya copot! Satu demi satu

anggota tubuh Mangun Aryo dihancur luluhkan. Kemudian dengan kuku

jarinya yang panjang keras, Randu Ampel merobek perut musuh besarnya

itu hingga isi perutnya berbuaian keluar. Mangun Aryo akhirnya menemui

ajal dalam keadaan mengerikan disaksikan oleh kepala pengawalnya.

(Untuk jelasnya peristiwa ini dapat dibaca dalam episode IV)


Setelah membalaskan dendam kesumat dan membunuh Mangun Aryo

maka kini muncul niat dibenak Randu Ampel untuk mencari Embah

Bromo Tunggal. Dukun jahat inilah yang memegang peranan utama atas

bencana yang menimpa diri dan istrinya. Meskipun Mangun Aryo yang

punya mau, tetapi jika Embah Bromo Tunggal tidak turun tangan,

peristiwa mengerikan itu tak akan terjadi. Karenanya seperti juga Mangun

Aryo, dukun keparat itu juga harus mampus.

Tidak sulit bagi Randu Ampel untuk mencari sang dukun, Bromo

Tunggal yang nama aslinya Roko Nuwu itu meskipun sering berkeliaran di

rimba hijau persilatan tetapi lebih banyak mendekam di tempat

kediamannya di puncak gunung Bromo, menunggu orang-orang yang

datang meminta “tolong” atau menanti berbagai macam ramuan obat aneh.

Suatu hari, dia tengah kedatangan suruhan Rangga. Padahal saat itu dia

sudah siap untuk memasukkan tubuh Mahesa yang berhasil diculiknya ke

dalam sebuah belanga besar untuk digodok bersama obat yang sedang

diramunya. Mendadak muncul Pendekar Muka Tengkorak. Tokoh silat

kelas satu ini sengaja datang ke puncak Bromo untuk menghukum si

dukun jahat. Beberapa waktu yang lalu Embah Bromo Tunggal telah

menipu Pendekar Muka Tengkorak dan mendekam kakek sakti itu

dibawah sebuah arca batu besar. Secara tak sengaja Mahesa kemudian

menolong orang tua itu hingga dia kemudian dihadiahi sepertiga tenaga

dalam. (Baca episode III) Selain menguburnya hidup-hidup dibawah arca

batu itu, Embah Bromo Tunggal juga melarikan sebuah kitab silat yang

mereka temukan bersama.

Perkelahian antara Pendekar Muka Tengkorak dan Embah Bromo

Tunggal tidak terelakan lagi. Meskipun si kakek muka tengkorak memiliki

ilmu silat yang lebih tinggi dari lawannya, namun dia tak berdaya ketika

Embah Bromo Tunggal keluarkan mahkluk jejadiannya yang bernama

Longga. Selagi Pendekar Muka Tengkorak kelabakan menghadapi

mahkluk itu, Embah Bromo Tunggal pergunakan kesempatan untuk

melarikan diri. Dengan susah payah dan dengan kecerdikan akhirnya

Pendekar Muka Tengkorak berhasil memusnahkan Longga.

Baru saja kakek itu berhasil menghancurkan lawan dan sekaligus

menyelamatkan Mahesa dari maksud Embah Bromo Tunggal yang ganas

mendadak muncullah seorang lelaki berpakaian aneh, tubuh kotor dan

muka menyeramkan. Orang ini yang ternyata memiliki kepandaian sangat

tinggi celakanya mengira si Pendekar Muka Tengkorak adalah Embah

Bromo Tunggal yang tegah dicarnya. Bagaimanapun Pendekar Muka


Tengkorak mengatakan bahwa dia bukan Bromo Tunggal si dukun jahat

itu, tetap saja orang tersebut tidak percaya.

Maka terjadilah pertempuran antara keduanya. Orang ini, yang bukan

lain adalah Randu Ampel memiliki kehebatan luar biasa hingga Pendekar

Muka Tengkorak harus bertahan mati-matian. Setelah pukulan jurus

berkelahi kakek ini akhirnya tidak dapat mempertahankan diri. Sesaat lagi

dia hampir menemui ajal oleh cekikan Randu Ampel, Mahesa yang baru

saja siuman dari pingsannya cepat berteriak memberi tahu bahwa si kakek

bukanlah Embah Bromo Tunggal musuh besarnya.

Mendengar teriakan Mahesa itu, apalagi karena dirinya dipanggil

dengan sebutan ayah kagetlah Randu Ampel. Dia lepaskan cekikan

mautnya di leher Pendekar Muka Tengkorak, memandang sejurus pada

Mahesa lalu tanpa berkata apa-apa tinggalkan puncak gunung Bromo.

Keseluruhan peristiwa di tempat kediaman Embah Bromo Tunggal itu

dapat anda ikuti kembali dalam episode V.

Randu Ampel lari meninggalkan puncak gunung Bromo dengan

perasaan campur aduk. Pertama dia masih tidak yakin kalau kakek kurus

bermuka tengkorak itu bukan si dukun jahat yang delapan belas tahun lalu

menjatuhkan musibah keji atas dirinya. Lalu jika dia berkeyakinan begitu

mengapa dia mau mengikuti dan mempercayai ucapan pemuda itu?

Mengapa dia memanggilnya dengan sebutan ayah? Apa benar pemuda itu

anaknya? Seperti ada pancaran hawa aneh dari sepasang mata pemuda itu.

“Seharusnya kubunuh dia! Dia berani menghalangi maksudku

membunuh dukun jahat itu!” kata Randu Ampel dalam hati. Kemudian

terdengar suaranya tertawa tergelak. “Gila! Semua gila! Isi dunia ini sudah

gila semua!”

Lelaki gila berkepandaian tinggi itu tidak sadar entah sudah berapa jauh

dan lama berlari. Dia baru berhenti ketika didapatinya hari yang tadi terang

kini telah berubah mulai gelap. Ternyata siang telah berganti sore dan sore

mulai memasuki malam. Randu Ampel dapatkan dirinya berada di bibir

sebuah lembah yang terletak dalam rimba belantara. Perlahan-lahan dia

dudukkan diri di bawah sebatang pohon. Tenggorokannya terasa kering,

haus. Dia coba memejamkan mata. Kembali seperti terngiang di telinganya

sebutan ayah yang diucapkan pemuda di tempat kediaman Embah Bromo

Tunggal itu. Sebutan itu serta pancaran yang keluar dari sepasang mata si

pemuda tidak pernah pupus dari dalam dirinya, seperti selalu mengikuti ke

mana dia pergi.

Ketika pelahan-lahan Randu Ampel membuka matanya kembali, jauh di

dasar lembah dilihatnya seperti ada nyala api. Diperhatikannya baik-baik.


Memang benar nyala api. Serta merta dia berdiri lalu lari ke bawah

lembah, menuju arah nyala api. Sebentar saja dia sudah sampai di tempat

itu. Di belakang nyala api Randu Ampel melihat seorang perempuan

berambut panjang duduk mencangkung. Meski tidak keseluruhan

wajahnya diterangi nyala api namun jelas dia memiliki paras ayu, berkulit

langsat. Pakaiannya penuh tambalan. Seperti Randu Ampel keadaan

dirinya tidak terpelihara.

Perempuan tidak dikenal ini paling tinggi berusia setengah usia Randu

Ampel. Dia duduk memegangi sebatang ranting kecil, menghadapi

perapian dan asyik membalik-balik benda lonjong berwarna hitam.

Rupanya dia tengah memanggang sesuatu. Tetapi ketika Randu Ampel

memperhatikan benda yang dipanggang perempuan itu diapun jadi

tertawa. Meskipun gila namun Randu Ampel masih dapat membedakan

mana makanan dan mana bukan. Perempuan itu tengah memanggang

sebuah batu!

“Perempuan gila!” kata Randu Ampel dalam hati. Lalu diapun menegur:

Hai! Untuk apa kau memanggan batu itu? Sampai kapanpun tak akan

lunak dan bisa dimakan!”

Orang di depan perapian tidak berpaling ataupun menjawab. Dia terus

saja membalik-balikkan batu hitam itu dengan ujung ranting.

“Orang bertanya apakah kau tidak mendengar? Aku yang tuli atau kau

yang gagu?!” ujar Randu Ampel.

“Aku tidak gagu, kau tidak tuli. Soalnya siapa bertanya siapa?” tiba-tiba

perempuan itu membuka mulut. Suaranya perlahan dingin.

Randu Ampel tertawa.

“Namaku Randu Ampel!” katanya memperkenalkan diri.

“Ada banyak orang bernama seperti itu. Kau Randu Ampel yang

mana?” tanya si perempuan. Dalam bicara dia sama sekali tidak

memandang pada Randu Ampel, melainkan saja menunduk asyik

memandangi batu hitam yang dibalik-baliknya di atas potongan-potongan

kayu perapian.

“Aku… aku Randu Ampel yang mana ya?” kata lelaki itu seperti

bertanya pada diri sendiri. Lalu dijawabnya sendiri. “Mudah saja. Aku

Randu Ampel yang gila! Ha… ha… ha…!”

“Hik… hik…!” Perempuan itu ikut-ikutan tertawa. “Kalau begitu kita

sama!” katanya kemudian.

“Apanya yang sama?” tanya Randu Ampel.

“Gilanya! Kita sama-sama gila!”


Randu Ampel kerenyitkan kening lalu kembali tertawa. Kali ini tertawa

bergelak dan panjang. Perempuan di hadapannya juga ikut tertawa, malah

lebih tinggi dan lebih panjang. Ketika Randu Ampel menghentikan

tawanya, perempuan itupun hentikan tawanya pula.

“Untuk apa kau memanggang batu itu?” bertanya Randu Ampel.

“Perutku lapar!”

“Heh, memangnya batu itu bisa kau makan?”

“Tidak! Semua oran tahu batu tidak bisa dimakan! Jangan diajukan

pertanyaan tolol!”

“Lalu kenapa kau membakarnya?” tanya Randu Ampel. Kalau orang

lain memakinya dengan kata-kata tolol begitu mungkin sudah ditendang

atau ditamparnya.

“Untuk mengurangi rasa lapar,” jawab perempuan itu.

“Aneh, aku tidak mengerti. Bagaimana mungkin bisa mengurangi lapar

dengan jalan membakar batu…?!” Randu Ampel geleng-geleng kepala.

“Kalau begitu rupanya kau memang orang tolol!” kembali perempuan

itu memaki Randu Ampel. “Apa kau tidak mendengar ucapan. Membagi

pikiran untuk menghilangkan pikiran. Membagi perasaan untuk

menghilangkan perasaan….?”

“Ucapan orang gila mana itu?!” ejek Randu Ampel.

“Percuma kau jadi orang gila kalau tidak mengerti ucapan orang gila!”

balas mengejek si perempuan.

Perempuan itu mencibir seolah-olah mengejek. Lalu katanya:

“Pengertiannya mudah saja. Untuk menghilangkan pikiran yang

mengganggu kira harus mengarahkan sebagian pikiran pada hal lain.

Dengan begitu pikiran yang mengganggu jadi terpecah dan lenyap. Jika

ada perasaan yang mengganggu, kita harus mengarahkan perasaan pada

hal lain hingga perasaan yang mengganggu jadi musnah! Begitu…!”

“Lalu apa hubungannya perutmu yang lapar dengan batu yang kau

panggang!” Randu Ampel tetap masih belum mengerti.

“Benar-benar tolol! Perutku lapar. Berarti ada perasaan lapas yang

mengganggu. Lalu kubakar batu ini. Perhatian dan perasaan kini tertuju

pada batu. Berarti aku dapat melupakan rasa lapar yang mengganggu…!”

Randu Ampel geleng-geleng kepala.

“Kalau sekedar melupakan tak ada artinya,” katanya. “Pada saat kau

berhenti membakar batu itu, rasa lapar kembali akan terasa. Malah lebih

hebat lagi. Disamping itu tubuhmu akan terasa letih karena mencengkung

lama-lama di depan api. Menurut pendapatku yang gila, jika ingin


melenyapkan penyakit, harus mencari sumbernya. Kalau tidak percuma

saja…..”

Untuk pertaa kalinya perempuan yang diajak bicara mengangkat

mukanya memandang pada Randu Ampel. Lalu dia tertawa panjang.

“Hai, kenapa kau tertawa?!”

“Ternyata kau tidak keseluruhannya tolol. Kurasa apa yang kau katakan

tadi ada benarnya. Menyembuhkan penyakit dengan memusnahkan

sumbernya. Menghilangkan lapar dengan menelan makanan. Tapi

makanan apa yang bisa didapat dalam rimba belantara keparat ini! Malam-

malam begini pula!”

“Mudah saja!” jawab Randu Ampel. Hatinya gembira karena dipuji

tidak tolol. Lalu dia ulurkan tangan mengambil batu hitam dari atas

perapian.

“Hai! Batu itu panas. Tanganmu melepuh nanti!” seru perempuan itu.

Randu Ampel menyeringai. Dia pejamkan mata. Dengan tangan kiri

memberi isyarat pada perempuan itu untuk berdiam diri. Dan si perempuan

menyaksikan dengan heran, tangan Randu Ampel sama sekali tidak

melepuh atau cidera meskipun batu yang dipegangnya panas luar biasa!

“Apa yang hendak kau lakukan?!” tanya perempuan itu.

“Sst… diam. Aku akan mencari obat perutmu yang lapar…” sahut

Randu Ampel. Sambil pejamkan matanya dia memasang telinga tajam-

tajam. Kemudian didengarnya suara itu. Suara desah nafas burung liar

yang masih belum tidur. Datang dari pohon besar disebelah belakangnya.

Tanpa berpaling Randu Ampel lemparkan batu hitam di tangan kanannya.

Terdengar suara batu itu mengenai sesuatu suara burung memcicit lalu

suara tubuhnya jatuh ke tanah.

Randu Ampel menyeringai. Buka kedua matanya lalu lari mengambil

burung yang barusan jatuh akibat lemparan batunya yang tepat. Binatang

itu diperhatikannya pada perempuan di depan perapian, lalu cepat sekali

tangannya bergerak menguliti bulu yang membungkus sekujur tubuh

binatang itu. Sesaat kemudian burung itu telah terpanggang menyebar

menusuk lobang hidung.

“Sudah matang!” kata Randu Ampel tak berapa lama kemudian. Lalu

dia memberikan ranting kayu di ujung mana panggang burung itu

ditusuknya. “Makanlah, penyakit laparmu pasti sembuh!” kata Randu

Ampel dan tertawa gelak-gelak.

“Kau sendiri tidak makan?”

“Aku tidak lapar.”

“Tapi aku tidak suka makan sendirian.”


“Kalau begitu makalah dulu sepuasmu. Kau boleh berikan sisanya

padaku,” jawab Randu Ampel pula.

“Tidak adil begitu. Kita harus makan sama-sama…” lalu entah kapan

tangannya bergerak tahu-tahu burung besar itu telah terbagi dua dan rata.

Yang sepotong diserahkan pada Randu Ampel. Ketika Randu Ampel

hendak menyantap makanan itu tiba-tiba perempuan itu ulurkan tangan

kirinya memegang lengannya.

“Tunggu!” katanya.

“Ada apa?” tanya Randu Ampel. Sentuhan tangan perempuan itu pada

lengannya mendatangkan perasaan aneh.

“Apakah kenal atau ada sangkut paut dengan manusia bernama Lembu

Surah bergelar Datuk Iblis Penghisap Darah?”

Randu Ampel menggeleng.

“Apakah kau kenal dengan orang bernama Suwa Permono, bergelar

Malaikat Maut Berkuda Putih?”

Kembali Randu Ampel menggeleng.

“Siapa kedua orang itu?”

“Yang pertama musuh besarku. Yang kedua guruku.”

“Di mana mereka sekarang?”

“Di mana mereka sekarang itulah yang tengah kuselidiki…”

“Sekarang baiknya kau makan dulu. Tapi sebelum makan aku kepingin

tahu apakah kau punya nama?”

Perempuan itu tertawa panjang. “Setiap manusia tentu punya nama.

Tapi aku tidak akan memberitahu namaku padamu.”

“Kalau begitu kita tidak bersahabat!” ujar Randu Ampel.

“Heh, apakah kau mau bersahabat denganku?”

“Tentu saja. Kau keberatan?”

Kembali perempuan tadi tertawa. “Kita sama-sama gila. Tak ada

salahnya kalau kita bersahabat.”

“Jika begitu katakan namamu!”

“Namaku Puji…”

“Puji apa…?”

“Puji saja…”

“Baiklah. Sekarang mari kita makan.”

Maka kedua orang itupun menyantap burung panggang yang cukup

lezat rasanya.

Selesai makan Puji berkata: “Kulihat tadi kau pandai sekali menangkap

burung dengan melempar . maukah kau mengajarkan ilmu lempar itu

padaku?”


“Tentu saja. Hanya aku ingin tahu dari sini kau mau menuju ke

mana….”

“Aku harus mencari Datuk Iblis itu. tapi tidak tahu harus mencari di

mana….”

Sesaat Randu Ampel nampak termenung. Lalu katanya. “Akupun

tengah mencari musuh besar. Seorang dukun jahat bernama Embah Bromo

Tunggal. Beberapa hari lalu aku datang ke tempat kediamannya di puncak

Bromo. Tapi di situ terjadi banyak keanehan yang otakku tak sanggup

memecahkannya….”

“Jika kau mau menceritakan keanehan apa mungkin aku bisa membantu

memecahkannya…” kata Puji pula.

Randu Ampel menyeringai, “Aku sendiri yang punya persoalan tak

sanggup memecahkannya. Mana mungkin kau yang tak ada sangkut

pautnya…” Perlahan-lahan Randu Ampel berdiri.

“Kau mau ke mana?”

“Aku harus pergi….”

“Kalau begitu aku juga akan pergi. Ikut bersamamu….” Puji pegang

lengan Randu Ampel. Kembali lelaki ini merasakan perasaan aneh akibat

sentuhan itu. keduanya melangkah mendaki lereng lembah menuju ke

timur. Angin malam bertiup dingin. Sambil melangkah Puji keluarkan satu

nyanyian.

Empat tahun mencari guru

Empat tahun tidak ketemu

Empat tahun mencari manusia durjana

Empat tahun tidak bersua

Manusia jahat harus dibunuh

Manusia durjana harus dimusnah

Tidak ada di timur cari ke barat

Tidak ada di selatan cari ke utara

“Nyanyianmu bagus amat,” memuji Randu Ampel. “Apakah kau mau

mendengar nyanyianku?”

“Apakah orang gila sepertimu pandai juga menyanyi?”

Randu Ampel tertawa lalu mulai pula menyanyi.

Delapan belas tahun mencari


Di puncak Bromo tidak ditemui

Keanehan membakar sukma

Boleh lari ke segala penjuru

Tangan berdarah tak pernah lari jauh

Kegilaan harus dibayar dengan kegilaan

Kematian harus dibayar dengan kematian

“Ai, ternyata kaupun seorang penyanyi yang tidak jelek. Mari kita

nyanyikan lagu-lagumu tadi bersama-sama…”

Randu Ampel tidak menyambuti ajakan Puji malah dia memberi isyarat

dan hentikan langkah. “Aku mendengar suara kaki kuda. Ada orang

mendatangi ke jurusan sini. Lekas sembunyi!”

Mendengar ucapan itu Puji segera ke balik batang pohon besar.

Sebaliknya Randu Ampel pegang pinggang perempuan itu. sekali dia

mengenjot tubuh, keduanya melayang ke atas dan sampai di cabang pohon.

Puji hendak tertawa cekikikan karena senangnya diajak melayang

melompat tinggi seperti itu. tapi Randu Ampel tekap mulutnya. Sesaat

kemudian di bawah pohon kelihatan muncul seorang tua berpakaian serba

putih, menunggang seekor kuda putih. Dalam gelapnya malam tak jelas

kelihatan wajahnya.


DUA



PERTEMUAN DENGAN SANG GURU


RANDU AMPEL mendekati mukanya ke telinga kiri Puji dan berbisik:

“Kau kenal orang itu? Sikapnya mencurigakan….”

“Tampangnya tertutup kegelapan. Rasanya aku pernah melihat kuda

putih tunggangnya itu. tapi lupa entah di mana. Kita turun saja dan

menghantam jika memang dia punya miat jahat….”

“Kau punya kepandaian apa hendak menghantam orang? Lelaki itu

menunjukkan gerak-gerik seorang jago silat…”

“Kau takut…?” tanya Puji.

“Gila! Aku tidak pernah takut pada siapapun! “ sahut Randu Ampel

penasaran. “Kau mau lihat aku memisahkan kepala dan badan orang itu?!”

“Cobalah kalau kau bisa melakukannya!”

“Akan kubuktikan!” ujar Randu Ampel.

Namun baru saja dia siap melompat turun tiba-tiba orang di atas kuda

berseru: “Manusia-manusia yang tadi menyanyi. Keluarlah unjukkan diri.

Aku butuh beberapa penjelasan!”

“Manusia sompret!” gerutu Puji. “Dia yang perlu kita, seenaknya

perintah. Eh Randu, katamu kau hendak memisahkan kepalanya. Tunggu

apa lagi?!”

“Kau kurang ajar. Seenaknya saja memanggil aku Randu. Kau tahu

perempuan seusiamu pantas jadi anakku!” kini Randu Amepl yang

mengomel.


Sebaliknya Puji malah tertawa. “Di dunia yang serba ini apakah masih

diperlukan adab sopan santun? Bukankan keterbukaan lebih banyak

baiknya dari pada sengaja peradatan palsu. Lagi pula siapa ya sudi jadi

anakmu? Hik… hik…!”

Penunggang kuda di bawah pohon tampak membuka destar putih yang

membungkus kepalanya. Tiba-tiba kain destar ini dipukulkannya ke atas.

Serangkum angin keras menderu dan braak! Batang pohon yang diduduki

Randu Ampel serta Puji patah. Karena orang sudah mengetahui

persembunyian mereka, keduanya terpaksa meloncat turun. Orang di atas

kuda balikkan diri menyongsong lalu melompat dari punggung kuda.

Sesaat dia memandangi wajah Puji. Dia lain kejap terdengar seruannya.

“Ya Tuhan! Puji! Tadipun aku sudah yakin yang menyanyi itu adalah

suaramu!”

Penunggang kuda berpakaian serba putih dan berjanggut putih ini

melompat hendak memeluk Puji, tapi Randu Ampel cepat menarik tangan

perempuan itu hingga si orang tua memeluk angin.

“Tua bangka kurang ajar! Enak saja kau memeluk sahabatku!” bentak

Randu Ampel.

Sesaat orang itu memandang pada Randu Ampel. Kemudian dia

kembali berpaling pada Puji.

“Puji, muridku! Apakah kau tidak mengenali aku lagi? Aku gurumu….!

Aku Malaikat Maut Berkuda Putih!” orang tua itu berseru.

“Aku tidak kenal kau! Aku tak pernah kenal segala macam malaikat!”

jawab Puji keras.

Kata-kata ini membuat si orang tua yang memang bukan lain adalah

guru perempuan itu seperti terhenyak. “Ah, benar jalan pikirannya sudah

terganggu. Kasihan muridku…. Dia tiak mengenaliku lagi. Bagaimana ini?

Siapa pula lelaki berpakaian tak karuan disebelahnya ini?”

“Orang tua, siapapun kau adanya, sahabatku ini mengatakan tidak kenal

denganmu. Kenapa tidak lekas-lekas berlalu dari sini?”

Ditegur begitu Malaikat Maut Berkuda Putih jadi penasaran.

“Kau sendiri siapa? Apa hakmu menyuruh aku pergi dari sini. Empat

tahun aku mencari meuridku. Setelah bertemu enak saja kau menyuruhku

pergi. Kau yang harus angkat kaki dari sini…!”

“Gila!”

“Kau yang gila! Dan kau membuat muridku tambah gila!” bentak

Malaikat Maut Berkuda Putih. “Lepaskan peganganmu pada lengannya.

Puji, kemarilah. Aku gurumu. Kau harus ikut bersamaku. Kau perlu

dirawat dan diurus baik-baik. Setelah itu kita akan mencari manusia


durjana bergelar Datuk Iblis itu. setelah biang racun malapetaka yang

menimpa dirimu!”

Puji terdiam. Ada sekilas ingatan akan satu peristiwa yang menimpa

dirinya, tapi kesadaran datangnya sangat lambat ke dalam benak dan hati

perempuan ini. Dia hanya tahu tentang seorang musuh besar. Datuk Iblis

Penghisap Darah. Yang harus dibunuhnya. Dia juga tahu seorang bernama

Malaikat Maut Berkuda Putih. Tapi hanya itu. lain dari itu semuanya serba

gelap baginya.

“Puji, kemarilah….” Si orang tua coba memanggil dengan suara lembut.

Yang dipanggil gelengkan kepala. Kemudian Puji mulai menangis.

Melihat perempuan ini menangis, Randu Ampel jadi marah dan

membentak Malaikat Maut Berkuda Putih.

“Kau membuat sahabatku menangis! Kalau kau tidak pergi dari sini

kupatahkan batang lehermu!”

“Manusia gila! Kalau tak berpengaruh olehmu, muridku pasti akan

mengikuti perintahku! Batang lahermu yang harus patah lebih dahulu!”

Habis berkata begitu Malaikat Maut Berkuda Putih langsung menerjang

Randu Ampel. Kedua tangannya meluncur ke arah leher, benar-benar

hendak mematahkan batang leher lelaki gila itu.

Tetapi apa yang terjadi kemudian membuat Malaikat Maut Berkuda

Putih alias Suwo Perwono mengeluarkan seruan tertahan dan kaget

setangah mati. Selagi kedua tangannya meluncur setangah jalan, belum

lagi sempat menyentuh batang leher Randu Ampel, mendadak entah

bagaimana kejadiannya kedua tangan Randu Ampel membuat gerakan

yang sama dan tahu-tahu sepuluh jari berkuku panjang yang kukuh dan

kotor telah mencengkeram lawannya mendadak jadi dua kali lebih panjang

hingga lehernyalah yang kena dicekik lebih dulu.

Orang tua berjanggut putih itu meronta coba lepaskan diri. Namun

cekikan lawan keras sekali. Nafasnya mulai sesak. Lidahnya seperti mau

tercabut keluar dan sepasang matanya mendelik.

“Jangan bunuh dia!” tiba-tiba Puji berteriak.

Disaat yang sama Malaikat Maut Berkuda Putih hantamkan satu jotosan

ke dada Randu Ampel.

Buk!

Jotosan mendarat tepat di pertengahan dada Randu Ampel. Lelaki ini

lepaskan cekikannya. Tubuhnya terpental beberapa langkah tapi kemudian

berdiri lagi seperti tidak terjadi apa-apa.

Suwo Permono usap batang lehernya dan memandang pada Randu

Ampel dengan rasa tak percaya. Pukulan yang dilepaskannya tadi


mengerahkan lebih dari dua pertiga tenaga dalam, tetapi lelaki gila itu

kelihatannya biasa-biasa saja. Orang lain mungkin sudah muntah darah!

Sebenarnya bukan pukulan orang tua itu yang membuat Randu Ampel

melepaskan cekikannya. Tetapi seruan Pujilah yang menyebabkan Randu

Ampel tidak meneruskan menghancur luluhkan batang leher Malaikat

Maut Berkuda Puith.

“Manusia edan! Siapa kau sebenarnya? Apa hubunganmu dengan

muridku?!” bentak orang tua berjanggut putih itu sambil pegangi lehernya

yang terasa sakit.

“Aku hanya seorang gila. Perempuan ini sahabatku!” jawab Randu

Ampel polos.

“Puji! Kau tidak pantas bersahabat dengan lelaki gila ini!”

“Kenapa tidak? Kami senasib. Dan dia menolongku menangkap burung

untuk kami panggang dan santap bersama!”

“Hanya karena panggang burung kau mau bersahabat dengan dia?

Gila!”

“Ini memang persahabatan orang-orang gila. Karenanya orang

sepertimu tak perlu ikut campur!”

Kata-kata Randu Ampel itu membuat Malaikat Maut Berkuda Putih

menjadi marah. Lagi pula dia masih penasaran akibat cekikan tadi. Maka

diam-diam dia kerahkan seluruh tenaga dalamnya ke tangan kanan.

Kemudian lepaskan satu pukulan sakti yang mengeluarkan sinar putih.

Pukulan ini menghantam ke arah kepala Randu Ampel. Puji berteriak

kaget.

“Orang tua jahat!” teriak perempuan itu lalu melompat sambil kirimkan

tendang kaki kanan.

“Puji kau akan kualat berani menyerang gurumu sendiri!” seru Malaikat

Maut.

“Tua bangka edan! Siapa bilang kau guruku!” Puji tetap teruskan

tendangannya ke perut si orang tua. Namun dengan mudah dapat

dielakkan. Sebaliknya pukulan sakti yang dilepaskan Malaikat Maut cepat

sekali datangnya ke arah kepala Randu Ampel. Sekali lagi Puji berteriak.

Seolah-olah baru sadar kalau dirinya diserang orang. Randu Ampel cabut

suling bambu di pinggangnya. Terdengar suara melengking keras ketika

suling itu dibabatnya ke depan menyongsong serangan lawan.

Duus!

Sinar putih pukulan sakti mental ke atas, menghantam cabang-cabang

pohon hingga hancur bertaburan. Randu Ampel tampak melompat ke atas

dan jungkir balik di udara. Dilain kejap terdengar seruan Malaikat Maut


ketika ujung suling tiba-tiba menusuk ke arah batok kepalanya. Masih

untung dia cepat jatuhkan diri ke samping hingga hnaya destar putihnya

saja yang kena disodok robek oleh senjata lawan. Pucatlah paras orang tua

ini.

“Lelaki gila ini bukan manusia sembarangan! Ternyata ilmunya tinggi

sekali! Hamoir tembus batok kepalaku!”

“Sahabat,” kata Randu Ampel pada Puji. “Mari kita tinggalkan tempat

ini. Orang tua itu hanya mengganggu saja. Perjalanan kita masih jauh….”

Sambil berpegangan tangan kedua orang itu tinggalkan Malaikat Maut

Berkuda Putih, membuat si orang tua sesaat itu lagi termangu, namun

kemudian cepat-cepat dia mengejar.

“Tunggu! Kalian mau ke mana?!”

“Ke mana kami mau pergi apa urusanmu?!” hardik Puji.

“Puji,’ membujuk Randu Ampel. “Katakan saja ke mana kita akan

pergi. Biar dia tidak mengganggu lagi!”

“Baiklah, akan kukatakan padamu orang tua. Kami pergi mencari

manusia bergelar Datuk Iblis Penghisap Darah! Empat tahun lalu dia

menimbulkan bencana atas diriku. Begitu bertemu kami akan

membunuhnya!”

“Ah, ternyata muridku ini tidak melupakan peristiwa itu. ternyata dia

menyadari kalau harus membuat perhitungan dengan datuk keparat itu!”

Lalu dia bertanya: “Kalian akan mencari datuk itu ke mana?”

“Ke delapan penjuru angin. Masakan tidak berhasil!” jawab Puji.

“Dia berkepandaian tinggi. Kau dengan mudah dikalahkannya. Malah

dia kana mendatangkan bencana baru atas dirimu Puji,” memperingatkan

sang guru.

“Selama aku pergi dengan sahabatku ini, aku tidak takut dengan

siapapun. Dua orang gila mesakan kalah dengan orang datuk bejat!” jawab

Puji.

Malaikat Maut Berkuda Putih terdiam. Menyaksikan sendiri tadi

kehebatan Randu Ampel dia yakin lelaki gila ini dapat mengalahkan Datuk

Iblis. Tetapi dia tahu betul, sang datuk tidak sendirian. Nenek sakti

bernama Kunti Kendil itu pasti akan membantunya. Mau tak mau orang

tua ini jadi menarik nafas dalam. Lalu berkata: “Kalau kalian berdua

merasa memang telah cocok seiring sejalan, aku tidak akan melarang.

Ketahuialah, aku telah beberapa kali menemui datuk itu. Setiap terjadi

perkelahian dia selalu berhasil mengalahkanku. Karenanya kalian berdua

harus berhati-hati. Akupun akan mencarinya di lain jurusan. Sebelum


manusia bejat itu mampus tidak tentram rasanya hidup ini! Kalian berdua

pergilah….”

Sepasang mata orang tua itu tampak berkaca-kaca. Empat tahun

lamanya dia mencari muridnya. Setelah bertemu tak banyak yang bisa

dilakukannya. Bahkan mereka kini berpisah secara mengecewakan. Yang

amat menyedihkan ialah Puji tidak mengenali dirinya lagi sebagai guru.

“Kasihan anak itu. mungkin sudah suratan jalan hidupnya…” kata

Malaikat Maut Berkuda Putih. Dia bersiul memanggil kudanya. Beberapa

saat dia duduk termenung di punggung binatang ini sebelum akhirnya dia

memutuskan untuk mengikuti perjalanan kedua orang gila itu secara diam-

diam.



TIGA


RAHASIA DIBALIK LENYAPNYA MAYAT MAHESA


DALAM rahasia Makam Mahesa telah dituturkan bagaimana kaena

kurang periksa dan terdorong oleh cintanya terhadap Lembu Surah Datuk

Iblis Penghisap Darah, Kunti Kendil telah menunduh Mahesa yang

menyebabkan celaka atas diri suami si nenek. Pemuda tak berdosa itu

digantungkan kaki ke atas kepala ke bawah.

Pada pagi hari ke tiga, ketika Kunti Kendil menyangka Mahesa telah

menemui ajal, ternyata sosok tubuh pemuda itu lenyap dari cabang pohon

di mana dia digantung.

Kunti Kendil menaruh curiga Pendekar Muka Tengkoraklah yang telah

menyelamatkan atau mencuri mayat Mahesa. Setelah Lembu Surah

sembuh dari lukanya, kedua orang itu meninggalakn puncak Iyang untuk

mencari Pendekar Muka Tengkorak.

Di sebuah lembah sebelumnya si nenek menemukan satu kuburan yang

masih baru. Pada papan makam tertulis sederet kalimat yang menyatakan

bahwa yang dikubur di tempat itu adalah Mahesa, anak manusia malang

yang tak pernah kenal ibu dan kehilangan ayah. Yang menemui kematian

karena disiksa untuk perbuatan yang tidak pernah dilakukannya. Beberapa

hari kemudian ketika Kunti Kendil kembali lagi ke tempat tesebut, makam

Mahesa lenyap. Di situ ditemukan sebuah papan pemberitahuan bahwa

untuk menjaga hal-hal yang tak diinginkan makam Mahesa dipindahkan ke

tempat lain.

Sementara itu dari penjelasan yang didapat Kunti Kendil dari Lembu

Surah kemudian diketahui bahwa bukan Mahesalah yang telah mencelakai


lelaki itu, melainkan Wirapati alias Iblis Gila Tangan Hitam. Rasa

penyesalan yang tidak terkira membuat Kunti Kendil seperti mau gila. Di

samping itu tekadnya sudah bulat untuk mencari dan membunuh Wirapati.

Namun yang dilakukannya lebih dulu ialah mencari tahu di mana jenazah

Mahesa dipindahkan. Bersama Lembu Surah dia pergi menemui Pendekar

Muka Tengkorak untuk mencari keterangan. Karena kakek sakti inilah

orang yang terakhir sekali muncul di puncak Iyang sebelum tubuh Mahesa

lenyap dari tali gantungan!

Adapun Pendekar Muka Tengkorak ketika ditemui di pantai selatan

tampak terkejut begitu mengetahui Mahesa telah meninggal dunia. Karena

Kunti Kendil tetap menuduh kakek itu ada sangkut paut dengan lenyapnya

mayat si pemuda meka pertengkaran yang disusul dengan perkelahian

tidak dapat dihindarkan.

Bagaimanapun hebatnya Kunti Kendil namun perkelahian satu lawan

satu melawan si kakek muka tengkorak tidak mungkin dapat dimenangkan

dengan mudah. Lembu Surah yang mengetahui hal ini segera membantu

istrinya. Dikeroyok dua membuat Pendekar Muka Tengkorak terdesak.

Meski akhirnya dia dapat dirobohkan namun dua lawannya terpaksa

meninggalkan tanpa berminat lagi meneruskan perkelahian.

Sementara Kunti Kendil dan Lembu Surah melanjutkan perjalanan

mencari makam Mahesa, kita ungkapkan dulu apa sebenarnya yang terjadi

dengan pemuda yang digantung di atas pohon itu.

Dini hari menjelang pagi hari ketiga, ketika Mahesa tidak sadarkan diri

lagi, sementara darah mengucur keluar dari hidung dan telinganya,

dikegelapan udara dingin tiba-tiba berkelebat gesit bayangan-bayangan

aneh. Cepat sekali gerakannya hingga dalam waktu singkat bayangan ini

ternyata adalah tujuh manusia katai telah mengelilingi pohon di mana

Mahesa digantung kaki ke atas kepala ke bawah.

“Hitam, lekas panjat pohon. Putuskan tali gantungan!” Orang katai

berbaju merah berkata pada orang katai berpakaian hitam. Suaranya halus

sekali, hampir sehalus hembusan angin. Hingga Kunti Kendil yang ada di

dalam pondok dan masih terbangun sama sekali tidak dapat

mendengarkannya.

Si katai berbaju hitam membuat gerakan aneh. Tubuhnya mencelat ke

atas cabang pohon. Dia menelungkup di atas cabang ini, ulurkan

kepalanya. Dengan gigi-giginya yang kecil-kecil hampir tak dapat

dipercaya, sekali mengigit saja tambang yang besar kuat itu putus. Di

sebelah bawah enam kawannya siap menangkap tubuh Mahesa yang jatuh.


Sesaat pemuda ini dibandingkan di tanah. Si katai berbaju coklat letakkan

telinganya di dada Mahesa.

“Bagaimana, masih hidup?” tanya si baju merah.

“Jantungnya masih berdegup. Tapi perlahan sekali…” jawab si baju

coklat.

“Pemuda malang. Kita harus cepat-cepat membawanya dari sini. Putih,

hentikan darah yang keluar dari hidung dan telinganya. Kau Hijau totok

dadanya agar jantungnya berdegup lebih kencang!”

Sesuai dengan ucapan si katai baju merah maka orang katai berpakaian

putih segera menotok beberapa bagian di belakang kepala Mahesa. Lalu

kawannya yang mengenakan pakaian hijau menotok dada pemuda itu.

“Kita pergi sekarang!” kata si meah. Tubuh Mahesa mereka panggul

beramai-ramai. Cepat dan aneh sekali gerakan mereka. Juga tanpa

menimbulkan suara. Sesaat kemudian mereka sudah lenyap dari tempat

itu.

Hampir fajar menyingsing mereka sudah berada jauh dari kaki

pegunungan Iyang, memasuki rimba belantara rapat di sebelah selatan.

“Sebelum kita sampai di telaga kecil itu, kita tak boleh berhenti!”

berkata si katai baju merah yang lari di sebelah depan. Kawan-kawannya

mejawab dengan lebih mempercepat lari.

Akhirnya mereka sampai disebuah telaga kecil berair warna-warni,

akibat pantulan daun-daun pepohonan disekitarnya. Dari dalam telaga

mengepul asap hangat tanda mata air di telaga itu adalah mata air panas.

Tubuh Mahesa dibaringkan ditepi telaga. Si merah memeriksa degup

jantung Mahesa. Degup jantung pemuda ini ternyata mulai mengencang

namun masih jau dari normal. Ketujuh manusia katai itu tampak berunding

sesaat. Kemudian mereka berpencaran. Tiga orang duduk disisi sebelah

kiri, tiga lainnya di sebelah kanan sedang yang ke tujuh yakni yang

berbaju putih duduk di belakang kepala Mahesa. Ketujuhnya mangulurkan

tangan lalu menempelkan telapak tangan masing-masing di atas tubuh dan

kening si pemuda. Secara serentak mereka memejamkan mata dan

kerahkan tanaga dalam masing-masing untuk kemudian disalurkan pada

kedua telapak tangan.

Tubuh Mahesa tampak mengepulkan asap berbau busuk. Ketika orang

katai berbaju putih memencet pipinya dari mulut Mahesa yang terbuka

membersit keluar darah kental.

Melihat darah yang keluar ini, si katai baju merah merasa lega.

“Nyawanya selamat,” katanya. “Tapi kita masih harus melihat apakah dia

bakalan lumpuh atau tidak. Seperti maklum akan maksud anggukan itu,


orang katai yang disebelahnya yakni yang berpakaian warna biru cepat

berdiri. Dia melangkah mendekati sebatang pohon berbatang tinggi lurus.

Tangan kanannya bergerak menghantam batang pohon sebelah bawah.

Kraak!

Luar biasa. Tangan yang begitu kecil sanggup menghancurkan batang

besar hingga pohon itu tumbang dan jatuh melintang tepat di atas telaga

kecil berair panas.

Tubuh Mahesa kemudian mereka gotong ke tengah telaga. Ketiganya

diikatkan ke belakang pada batang pohon sedang sekujur tubuhnya sebatas

leher ke bawah di masukkan ke dalam air telaga. Dua orang katai duduk di

kiri kanan kepala pemuda itu sambil bergantian menyiramkan air telaga

yang diciduk dengan daun ke atas kepala Mahesa. Sampai sore tiba

pemuda itu masih belum siuman.

Manusia katai berbaju merah menunjukkan wajah khawatir. “Jika

sampai tengah malam nanti dia tidak sadar, berarti seumur hidupnya dia

tetap pingsan dan lumpuh!”

Enam manusia katai lainnya terdiam. Yang berbaju coklat kemudian

membuka mulut. “Bagaimana dengan rencana kita untuk memberi

pelajaran pada nenek-nenek yang ringan tangan itu…?”

“Rencana tetap kita jalankan tapi baru selewatnya tengah malam nanti.

Bila sudah ada kepastian pemuda ini bisa diselamatkan atau tidak. Saat ini

nenek itu pasti sudah mengetahui lenyapnya tubuh pemuda ini…”

“Pasti dia kelabakan!” kata si katai baju hitam.

Menjelang tengah malam si katai yang duduk menyirami kepala

Mahesa dengan air telaga tiba-tiba terdengar berseru: “Kawan-kawan!

Pemuda ini keluarkan suara mengeluh!”

Seruan itu disambut dengan sorak gembira enam manusia katai lainnya.

Mereka lari meniti batang pohon dan memperhatikan Mahesa dari dekat.

Memang saat itu dari mulut pemuda ini mulai terdengar suara seperti

mengerang. Si katai baju merah memijit tubuh Mahesa di beberapa bagian.

Tak lama kemudian meskipun sedikit, kelihatan kedua mata Mahesa

bergerak.

“Dia mulai membuka mata!” seru salah seorang dari tujuh manusia

katai itu.

Si baju merah kembali memijit tubuh Mahesa. Suara erangan pemuda

ini makin keras. Matanya membuka tambah lebar. Kemudian terdengar

suara air telaga bergemeracak.

“Dia menggerakkan kedua kakinya!” seru si katai baju hitam.

Si katai baju merah menarik nafas lega.


“Angkat tubuhnya!”

Ikatan pada kedua tangan Mahesa dilepaskan. Tubuh pemuda ini

diangkat dari dalam air lalu dibaringkan ditepi telaga. Dadanya tampak

turun naik. Si baju merah kembali memijit beberapa bagian tubuh pemuda

itu. Dalam keadaan mulai sadar Mahesa berusaha bangkit. Namun baru

sampai duduk tubuhnya terhempas kembali.

“Orang muda, kau masih lemas. Sebaiknya berbaring saja dulu,” kata si

katai baju merah.

Seumur hidupnya baru sekali itu Mahesa mendengar suara manusia

sehalus suara nyamuk. Benarkah suara manusia atau suara apa? Dibukanya

matanya lebih lebar. Yang dilihatnya mula-mula hanya kegelapan. Lalu

pohon-pohon besar. Di atas pohon sana tampak langit menghitam. Lalu

disampingnya dilihatnya banyak sekali kepala-kepala dan tubuh-tubuh

kecil.

“Di mana aku…. Kalian siapa…?” suara pemuda itu serak parau.

“Kawan tak perlu khawatir. Kau berada di tempat aman. Kami semua

sahabat-sahabatmu…”

“Ka… kalian ini anak-anak atau…? Kalian manusia atau tuyul…?”

Tujuh manusia katai itu tertawa cekikikan.

“Kami bukan tuyul. Kalau tuyul kepalanya gundul!” berkata si katai

baju coklat. Kembali kawan-kawannya tertawa riuh oleh ucapan teman-

temannya.

“Orang muda, sakit kepalamu akan segera hilang. Minum dulu air

telaga ini…” salah seorang dari manusia-manusia katai itu menuangkan air

telaga dari dalam daun ke mulut Mahesa. Rasa hausnya kini terobat.

“Aku lapar…” bisik Mahesa.

“Kami tak punya makanan. Besok kalau sudah terang kami akan

carikan makanan untukmu. Sekarang sebaiknya kau minum dulu obat ini

lalu tidur.”

Si katai baju putih mengeluarkan sebuah obat berbentuk butiran sebesar

ujung kelingking. Obat ini dimasukkannya ke dalam mulut Mahesa. Begitu

tertelan Mahesa merasakan perutnya panas.

“Kau memberiku racun…?”

“Pemuda tolol! Setelah kami tolong masakan kau kami racuni?!” sahut

si katai baju merah. “Sekarang sebaiknya kau tidur,” lalu jari telunjuknya

yang kecil ditekankan ke kening Mahesa diantara dua alis. Aneh begitu

ditekan begitu Mahesa merasakan matanya menjadi berat. Pemuda ini

akhirnya tertidur.


Begitu Mahesa tertidur, si katai baju merah berkata pada kawan-

kawannya: “Sekarang empat orang dari kalian lakukan apa yang menjadi

rencana kita. Dua lainnya tetap bersamaku di sini menjaga pemuda ini.

Hitam, Biru, Coklat dan Hijau, kalian segera berangkat. Cari tempat yang

baik. Harus tidak terlalu jauh dari kaki gunung Iyang. Jangan lupa untuk

menyalakan api agar asapnya dapat menarik perhatian orang yangkita

maksud.”

Maka keempat manusia katai itu segera meninggalkan telaga.

Berkelebat dalamkegelapan malam. Keesokan paginya mereka sampai di

bagian utara kaki pegunungan Iyang. Daerah ini selain berpemandangan

indah, bukit dan lembahnya tidak tertutup rimba belantara rapat seperti di

daerah timur atau barat. Karenanya banyak ditempuh orang dalam

perjalankan. Di sebuah sungai kecil si hitam dan kawan-kawannya

berhenti. Setelah memandang berkeliling sebentar si hitam berkata:

“Tempat ini kurasa cukup baik. Mari kita mulai bekerja.”

Keempat orang itupun menggali tanah merah dari tepi sungai lalu

menumpuknya di bagian tepi sungai yang lain sehingga menyerupai

berbentuk nisan. Lalu si hijau menggurat sederetan tulisan pada papan itu

yang berbunyi:

Di sini dimakamkan

Mahesa

Anak manusia yang malang. Yang tak pernah kenal kenal

ibu dan kehilangan ayah. Yang menemui kematian

dengan pasrah, mati disiksa untuk perbuatan yang

tak pernah dilakukannya.

“Beres! Sekarang nyalakan api. Setiap orang yang lewat disekitar

lembah ini akan melihat kepulan asap. Pasti akan datang kemari. Kita

tunggu saja…”

Empat orang katai itu mengumpulkan kayu-kayu kering. Setelah

terkumpul mereka segera menyalakan api. Kepulan asap mengepul tinggi

ke udara. Selama empat hari menunggu tak seorangpun muncul di tempat

itu. hari kelima seorang penunggang kuda datang. Orang ini kelihatannya

seperti seorang pedagang kerana membawa banyak barang. Dia

memperhatikan kuburan di tepi sungai itu sebentar lalu melanjutkan

perjalanan.

Memasuki hari ke tujuh empat orang katai yang menunggu-nunggu di

tempat itu mulai merasa jenuh.


“Kalau sampai satu bulan nenek peot itu tidak muncul, kita bisa

berlumutan menunggu di sini,” kata si hijau.

“Kayu kering mulai susah dicari. Sejak dua hari ini hujan grimis turun

trus,” menimpali si katai berpakaian hitam.

Tapi si katai berpakaian coklat menjawab memberi semangat. “Kita tak

boleh putus asa. Orang yang kita tunggu pasti muncul. Mungkin nenek itu

masih mengurusi luka si kakek. Maklum masih pengantin baru. Hik…

hik… hil!”

Empat orang katai itu tertawa gelak-gelak.

Pada hari ke delapan, menjelang tengah hari si katai baju hitam yang

duduk uncang-uncang kaki di atas cabang pohon tiba-tiba melesat turun ke

bawah. Pada tiga temannya dia berkata: “Ada orang yang datang dari bibir

lembah sebelah sana. Gerak-gerikanya seperti nenek brengsek itu. lekas

sembunyi!”

Si hijau terlebih dulu menghilangkan jejak-jejak yang bisa

menimbulkan kecurigaan. Lalu dia melompat menyusul tiga kawannya ke

atas pohon besar, bersembunyi dibalik kerapatan dedaunan. Mereka

menunggu. Tak lama kemudian berkelebatlah sesosok berambut putih

panjang awut-awutan, bertubuh bungkuk, melangkah terpincang-pincang

ke arah tumpukan tanah merah berbentuk kuburan.

Nenek ini yang bukan lain adalah Kunti Kendil, guru Mahesa tegak di

depan kubur dengan wajah pucat dan tenggorokan naik turun. Kedua

matanya menyipit ketika membaca apa yang tertera pada papan yang

ditancapkan di kepala kubur. Dadanya kemudian terasa sesak dan sepasang

kakinya bergetar. Mata yang tadi menyipit kini membelalak hampir tak

berkesip.

“Jadi… ternyata anak setan itu sudah mati!” kata Kunti Kendil dalam

hati. “Heran, siapa yang membawa mayatnya ke sini? Siapa yang

menguburkan? Lalu siapa pula yang membuat papan nisan bertuliskan

kata-kata sialan itu? mati disiksa untuk perbuatan yang tidak pernah

dilakukannya! Gila!”

Kunti Kendil melangkah mundar-mandir di depan makam. Ada rasa

menendang kuburan dan papan nisan itu. Namun niat itu tak dilakukannya.

Setelah menggerendeng dalam hati nenek ini akhirnya tinggalkan tempat

itu, kembali ke pondoknya di puncak pegunungan Iyang.

Hampir tiga minggu kemudian Lembu Surah sembuh dari lukanya. Kini

dia menjadi manusia cacat seumur hidup, buntung tangan kanannya

sebatas bahu. Pada saat itulah Kunti Kendil mendapat penjelasan bahwa

yang mencelakakan suaminya itu bukan Mahesa, melainkan Wirapati. Hal


ini sangat mengejutkan si nenek. Berarti dia telah kesalahan tangan. Dan

orang itu Mahesa kini sudah mati. Makamnya ditemuinya di lembah tiga

minggu lalu. Bersama Lembu Surah nenek itu kemudian meninggalkan

tempat kediamannya, pergi ke lembah untuk mengunjungi makam

muridnya yang malang itu.

Namun yang ditemui Kunti Kendil di tempat itu hanyalah sebuah papan

bertuliskan pemberitahuan: Untuk menjaga hal-hal yang tidak di inginkan

makam Mahesa telah dipindahkan ke tempat lain! Makam pemuda

memang tak ada lagi di tempat tersebut. Lenyap entah ke mana!

Kunti Kendil seperti mau gila. Dia memutuskan untuk tidak kembali ke

puncak Iyang. Dia harus mengetahui di mana makam Mahesa kini. Dia

menaruh syak wasangka bahwa Pendekar Muka Tengkoraklah yang

mencuri mayat muridnya itu, menguburkannya lalu bersama Lembu Surah

si nenek mencari kakek muka terngkorak. Sementara itu empat orang katai

yang sesungguhnya melakukan semua itu tertawa gelak-gelak.

“Sekarang dia rasakan,” kata si katai baju hijau. “Sebelum nenek itu

mengetahui apa sebenarnya yang terjadi selama itu pula dia dihantui rasa

menyesal!”



EMPAT


KITAB TUJUH JURUS ILMU SILAT ORANG KATAI


TUJUH manusia katai itu duduk mengelilingi Mahesa. Wajah mereka

yang tadi ceria dan banyak tawa kini tampak redup. Ini karena mereka tahu

bahwa pemuda itu akan segera meninggalkan mereka. Berpisah setelah


hampir selama sepuluh hari mereka berkumpul, menolong dan merawat

pemuda itu. kini Mahesa telah sembuh dan berniat meninggalkan mereka,

pergi untuk berbagai urusan yang harus dilakukannya.

Mahesa pandangi wajah-wajah lucu di hadapannya. Lalu mengeluarkan

rokok kawung, membagi-bagikan pada ketujuh orang katai itu dan masing-

masing mereka mulai menghisap. Dibagi rokok seperti itu biasanya

mereka senang sekali, namun sekali ini nampak wajah mereka tetap

muram.

“Sahabat-sahabat,” kata Mahesa, “Aku tahu kalian ingin sama-sama

terus. Tetapi itu adalah tidak mungkin. Masing-masing kita punya tugas

yang harus dilakukan. Aku pergi tetapi terlebih dulu aku mengucapkan

banyak terima kasih. Kalian telah menyelamatkan nyawaku. Kalian

kemudian merawatku hingga aku sembuh. Berarti aku berhutang budi dan

berhutang nyawa terhadap kalian. Entah kapan aku bisa membalasnya…”

“Kami menolong tidak mengharap balasan. Semua karena kami merasa

itu menjadi kewajiban kami…” menjawab si baju merah.

“Aku mengerti. Aku tidak akan melupakan kalian. Kapanpun kita pasti

akan bertemu lagi…”

Si baju merah dan kawan-kawanya duduk termangu. Lalu si hitam

bertanya: “Apakah kau akan mencari gurumu?”

“Dia pasti tidak ada di puncak Iyang,” jawab Mahesa yang tak mau

menjawab ya atau tidak. Namun dalam hatinya menemui gurunya lagi. Dia

lebih suka sang guru mengganggapnya benar-benar sudah mati. Masih

seperti tergiang di telinganya ucapan Kunti Kendil sebelum dia digantung:

“Aku memungutmu dari comberan di liang kubur. Bukan untuk memberi

pelajaran dusta dan membalas air susu dengan air tuba!” Mengingat kata-

kata sang guru apakah masih ada guna baginya untuk menemui nenek itu?

Mahesa tidak mengetahui kalau sang guru telah menyadari bahwa bukan

dialah yang mencelakai Lembu Surah.

“Sahabat-sahabat,” kata Mahesa pada tujuh orang katai. “Aku harus

pergi. Sebelum pergi apakah ada sesuatu yang bisa kulakukan untuk

kalian. Sekedar sedikit membalas budi hingga hutangku tidak terlalu

berat…?”

Tujuh orang katai itu saling pandang sesaat. Lalu si hijau membuka

mulut: “Karena kau yang berkata lebih dulu, maka kamipun tak sungkan

untuk mengutarakan sesuatu. Tapi apa yang kami minta ini bukan kami

anggap sebagai satu keharusan bagimu untuk melakukannya. Apalagi

kalau kau menganggap sebagai balas budi segala….”

“Katakanlah, apa yang bisa kulakukan.”


“Setahun lalu kami kehilangan sebuah kitab. Kitab pelajaran ilmu silat.

Kitab itu bernama Tujuh Jurus Ilmu Silat Orang Katai. Merupakan ilmu

silat yang sangat langka dan tidak ada duanya di dunia persilatan…”

Mahesa kaget. Dia cabut rokok kawungnya. “Jadi kalian ini memiliki

kepandaian silat? Pasti silat yang sangat aneh…!”

“Ah, manusia-manusia pendek seperti kami ini punya kemampuan

apa…!” ujar si coklat merendah.

“Aku tidak percaya. Kalian harus memperlihatkan kehebatan kalian

padaku!”

Tak satupun orang katai itu bergerak atau menjawab.

“Bukankah kita bersahabat!”

“Apapun ilmu silat atau kepandaian yang kami miliki, bukanlah untuk

dipamerkan…” jawab si hijau.

Diam-diam Mahesa mengerahkan tenaga dalamnya. Kesehatannya

sudah pulih sempurna. Karenanya dia kini dapat mengumpulkan lebih dari

seprti tenaga dalamnya di tangan kanan dan dia siap untuk melepaskan

pukulan Api Geledek Menggusur Makam. Namun sebelum tangannya di

gerakkan untuk memukul, si baju hitam tampak tersenyum dan berkata:

“Ternyata kau benar-benar sudah sembuh. Mengapa tidak melipat

gandakan tenaga dalammu…?”

Mahesa kaget. “Bagaimana anak setan ini mengetahui aku mengerahkan

tenaga dalam!” katanya dalam hati.

Dari samping kiri terdengar si merah berkata: “Sahabat apakah kau

tidak tahu ada sepotong ranting kecil menyusup di pinggang

pakaianmu…?”

Ketika Mahesa memperhatikan pinggang pakaiannya sebelah kiri,

astaga! Sepotong ranting kering telah merobek pakaiannnya. Ranting itu

masih menancap di sana sampai dia kemudian mencabutnya. “Gila!

Bagaimana mereka menusuk pakaianku tanpa aku melihat ataupun

merasa?! Jika mereka musuhku dan menusukkan dengan pisau berarti

ususku sudah membusai!”

“Mahesa, kami tidak punya ilmu apa-apa,” kata si merah. “Yang tadi

kami perlihatkan padamu hanya ilmu sulap kampungan.” Tetapi Mahesa

kini sudah yakin bahwa tujuh manusia katai ini benar-benar memiliki

kepandaian luar biasa. Dan mereka berjumlah tujuh orang. Bukan mustahil

dunia persilatan ada dalam tangan mereka!

“Hai, tadi kalian bicara tentang kitab silat. Cerita kalian teputus.

Lanjutankanlah…” kata Mahesa akhirnya.


“Entah bagaimana kitab itu lenyap setahun lalu. Kami menyelidik

kemudian kami ketahui kitab itu ada pada seorang tokoh silat bergelar

Pendekar Muka Tengkorak…”

“Pendekar Muka Tengkorak!” Mahesa melengak kaget. “Orang itu

mencuri kitab kalian…? Tidak mungkin. Mustahil!”

“Bagaimana kau bisa mengatakan tidak mungkin. Mustahil?!” Tanya si

baju merah.

“Aku kenal baik dengan orang tua itu. Dia bukan pendekar bangsa

pencuri. Dia pernah menyelamatkanku beberapa kali. Memang… aku

pernah mendengar dia menyebut-nyebut kitab silat. Tapi aku yakin dia

tidak mengambilnya dari kalian…”

“Kami juga menduga demikian,” jawab si hitam. “Hanya saja ketika

kami ketahui bahwa kitab itu ada padanya, dia lenyap beberapa lama, tak

bisa kami ketemukan. Ketika dia muncul lagi kami ketahui kitab itu tak

ada padanya. Kami kawatir ada yang telah mencurinya. Kami lihat

pendekar tua itu patah salah satu tangannya. Mungkin akibat perkelahian

dengan pencuri kitab…”

Mahesa ingat penuturan Pendekar Muka Tengkorak sewaktu di puncak

gunung Bromo. Lalu diapun menceritakan. Mendengar keterangan Mahesa

itu maka si baju merahpun berkata: “jadi dukun jahat bernama Embah

Bromo Tunggal itulah yang telah merampas kitab kami dari tangan

Pendekar Muka Tengkorak. Berarti dia yang harus dicari. Sahabat Mahesa,

maukah kau sedikit mencapaikan diri dan membuang waktu untuk mencari

dukun keparat itu? Mendapatkan kitab silat itu kembali dan

menyerahkannya pada kami…?”

“Tidak kalian mintapun aku akan melakukannya!” sahut Mahesa. “Dosa

dan kebejatan dukun itu sudah selangit tembus. Dia juga yang mencuri

Keris Naga Biru, dia pula yang menyebabkan ayah menjadi gila dan

membunuh ibu…”

“Kami sudah tahu semua riwayatmu. Tak usah diceritakan lagi…” kata

si katai baju putih.

Lagi-lagi Mahesa dibikin kaget.

“Bagaimana kalian bisa tahu…?” tanyanya heran.

Si merah tertawa. “Kami bertujuh punya empat belas telinga empat

belas mata. Masakan buta akan apa yang terjadi dalam dunia

persilatan…?!”

Mahesa hanya bisa garuk-garuk kepala mendengar jawaban itu. Dia

berdiri. “Kalau kitab itu berhasil kudapatkan di mana aku akan menemui

kalian?”


“Kami yang akan dating mengambilnya,” jawab si biru.

“Kalau begitu, aku akan pergi sekarang.” Mahesa lalu memeluk satu

demi satu ketujuh manusia katai itu.

****

Bagaimanapun setia dan hormatnya Mahesa terhadap gurunya yaitu

nenek bernama Kunti Kendil itu, namun dengan adanya kejadian luar biasa

yang dialaminya, mau tak mau kini ada perasaan lain di lubuk hati pemuda

ini. Perasaan itu bukan satu perasaan membenci atau mendendam terhadap

sang guru. Sebaliknya justru perasaan membenci pada dirinya sendiri.

Mengapa dia dilahirkan ke dunia ini kalau kemudiannya hanya akan

menyusahkan orang lain. Kalau kemudian dirinya diperlakukan sangat

kejam dan hina, di perlakukan seperti sampah. Malah mungkin sampah

lebih berharga, di buang ada tempatnya, dirinya kemudian bisa dan mudah

saja dijadikan umpan gantungan. Digantung di atas pohon, kaki ke atas

kepala kebawah. Penjahat besarpun tidak akan digantung seperti itu.

Dirinya rupanya lebih keji dari penjahat besar!

Bagaimana hal itu bisa terjadi, Mahesa tak habis piker. Seorang guru

yang telah menyelamatkannya lalu memeliharanya selama belasan tahun,

member pelajaran ilmu silat dan pukulan sakti. Tahu-tahu kemudian

menghukumnya secara biadab seperti itu! Apalagi kalau bukan karena

dirinya memang tidak berharga dibanding sampah sekalipun!

Dalam hatinya pemuda ini mengambil keputusan untuk tidak mau lagi

bertemu dengan gurunya untuk selama-lamanya. Lalu bagaimana dengan

dua tugas utama yang harus dijalankannya? Memikir kesitu Mahesa

merasa kurang enak. Tugas kedua dia memang merasa bebas dan tak perlu

lagi melakukannya. Yakni mencari Lembu Surah alias Datuk Iblis

Penghisap Darah. Kakek itu akhirnya telah bertemu malah kawin dengan

gurunya. Tetapi bagaimana dengan tugas pertama yaitu membunuh

Wirapati alias Iblis Gila Tangan Hitam yang adalah kakak seperguruannya

sendiri? Jangankan membunuh, malah terakhir sekali dia justru

menyelamatkan Wirapati dari serangan membokong yang dilepaskan sang

datuk.

Berlari sambil membekal beban pikiran seperti itu membuat Mahesa

seolah-olah tidak sadar ke mana arah tujuannya. Ketika hari sore beranjak

malam dan udara mulai gelap didapatkannya dirinya berada di hutan

alang-alang. Dia memandang berkeliling. Di ujung sebelah selatan

dilihatnya deretan bukit memanjang dari barat ke timur yang agaknya


tertutup oleh rimba belantara itu dari pada kedinginan di tengah alang-

alang. Maka diapun lari menuju bebukitan.

“Aku harus menjauhi pegunungan Iyang,” katanya dalam hati. “Dari

pada mencari Wirapati lebih baik aku mencari ayahku sendiri. Lalu

mencari kitab ilmu silat orang katai itu. Wirapati mungkin sudah bahagia

bersama Kemala…” mengingat gadis itu Mahesa menjadi menarik nafas

panjang. Dia lalu teringat pula pada sapu tangan putih yang dilemparkan

sang dara. Cepat-cepat dia memeriksa ke balik pakaiannya. Ternyata sapu

tangan putih itu masih ada padanya meski kini kotor lembab.

Mahesa sampai di bukit di ujung selatan. Tenggorokannya kering dan

perutnya terasa lapar. Tubuhnya sangat letih, tetapi keletihan beban pikiran

lebih dari pada keletihan aurat tubuhnya. Pemuda ini naik ke atas pohon,

tetap ketika tiba-tiba diantara kelaeatan semak belukar dia melihat dua titik

menyala. Ketika diperhatikan ternyata sepasang mata seekor harimau

besar. Rupanya binatang ini tadi tempat persembunyiannya. Melihat

mangsanya berada di atas pohon yang tak mungkin lagi dijangkau raja

hutan itu menggerang dan menggaruk-garukkan kaki depannya ke batang

pohon.

“Anak setan!” maki Mahesa. “Kau inginkan dagingku. Ini kuberikan air

hangat sedap untukmu!” dari atas pohon Mahesa lorotan celananya ke

bawah dan sssrrr… Air kencingnya memancur jatuh tepat ke kepala

harimau. Binatang ini mengaum keras, goyangkan kepalanya lalu lari dari

tempat itu. Mahesa tertawa lebar. Setelah kucak-kucak matanya pemuda

ini segera tertidur. Namun tak selang berapa lama dia terbangun ketika

sepasang telinganya menangkap adanya gerakan-gerakan sosok tubuh

manusia di bawah pohon.



LIMA


SURAT MAUT DI MALAM BUTA


KARENA MALAM gelap sekali Mahesa tidak dapat melihat jelas

orang-orang itu, apalagi wajah mereka nasing-masing. Namun setelah


mereka membuat perapian kecil, di bawah nyala api yang cukup terang

Mahesa memperhatikan orang-orang itu.

Mereka berjumlah lima orang. Yang pertama seorang berpakaian

perwira muda, berbadan tidak tinggi tapi memiliki otot-otot menonjol luar

biasa. Orang kedua adalah seorang kakek berpakaian hitam. Rambutnya

putih awut-awutan, mengingatkan Mahesa pada rambut gurunya Kunti

Kendil. Kakek ini memiliki wajah cekung dan rongga mata sangat dalam

hingga tampangnya seperti mayat hidup. Lelaki ke tiga berusia sekitar 40

tahun, bertampang keren berpakaian rapi. Pada pinggangnya terselip

sebatang tongkat rotan yang ujungnya berkeluk. Orang ke empat dan ke

lima berwajah hampir sama karena keduanya memang kembar dan

mengenakan pakaian serta ikat kepala serba merah. Sepasang mata

merekapun tampak merah aneh.

“Hampir satu bulan kita mencari dan menyelidik. Kuharap saja

keterangan terakhir yang kita dapat adalah benar dan tidak menyesatkan.”

Yang bicara adalah lelaki berpakaian perwira muda, berotot kuat.

Namanya Sukat Ragil. Dia seorang perwira muda dari keraton

Banyuwangi yang tengah menjalankan tugas dan menjadi pimpinan dalam

rombongan itu.

Orang berpakaian merah di sebelah kanan, yakni Kembar Merah Tua

mencampakkan rokoknya ke tanah lalu berkata: “Selama ini aku dan

saudaraku hanya mendengar nama dan cerita saja dari manusia itu. Hampir

tak dapat dipercaya ada perempuan sejahat dn sekeji itu.”

“Sahabatku,” bicara lagi Sukat Ragil. “Kau akan segera melihat sendiri

tampang perempuan itu. Kuharap saja kau tidak akan terpikat. Dia sangat

senang pada lelaki-lelaki muda dan gagah. Seperti kawan kita Parit Teguh

ini!”

Orang yang bernama Parit Teguh yaitu lelaki keren berpakaian rapi

tampak merah mukanya. “Akupun ingin sekali ,elihat perempuan itu. Apa

benar cantik luar biasa hingga banyak yang tergoda tapi akhirnya jadi

korban!”

“Dia bukan hanya cantik,” kata Sukat Ragil lagi. “Tubuhnya mulus

menggiurkan, berkulit putih. Serta menghambur bau harm yang membuat

lelaki bias lupa diri…”

“Diantara kita hanya kakek Tulodong Hitam yang pernah melihatnya.

Mungkin bias memberikan keterangan lebih banyak…” kata Kembar

Merah Muda.


Orang yang bernama Tulodong Hitam ialah kakek berpakaian hitam itu.

“Sebenarnya aku tak mau bicara banyak malam ini. Aku punya firasat ada

yang mengintai kita saat ini…”

Karena diantara mereka berlima memang kakek ini yang memiliki

kepandaian paling tinggi maka empat orang lainnya sangat mempercayai

ucapannya. Langsung keempatnya memandang berkeliling, mengawasi

keadaan sekitar ditu dengan teliti.

“Saya mencium bau sesuatu…” kata Parit Teguh.

Di atas pohon Mahesa mendekam tak bergerak. “Apakah orang-orang

itu tahu aku ada di sini…” piker si pemuda.

Terdengar suara berkeresek. Tiba-tiba semak belukar di samping kanan

bergerak menguak dan sesosok tubuh besar kuning berbelang hitam

melompat disertai suara auman dahsyat.

“Raja hutan!” teriak Kembar Merah Tua.

Lima orang itu melompat berpencaran. Parit Teguh cabut tongkatnya.

Sepasang Kembar Merah tampak membungkuk memasang kuda-kuda.

Kakek berpakaian hitam tampak tegak dengan sikap tetap tenang

sementara Sukat Ragil menunggu dengan kedua tinju terkepal. Otot-

ototnya nampak mengembung.

Karena terkamannya yang pertama tidak membawa hasil, harimau besar

yang beberapa saat sebelumnya juga menyerang Mahesa, kini tampak

menggereng. Ekornya bergerak-gerak. Sepasang matanya bergerak kian

kemari seolah-olah menimbang-nimbang siapa diantara kelima manusia itu

yang hendak diterkamnya. Tiba-tiba didahului suara mengaum keras, raja

hutan itu melompat kea rah Parit Teguh. Justru ini kesalahan besar yang

dibuat sang raja hutan karena Parit Teguh adalah satu-satunya orang yang

saat ini memegang senjata.

Begitu harimau besar itu menerkamnya dengan dua kaki depan

menyambar ganas. Parit Teguh menghantam dengan tongkatnya.

Kraak!

Kaki kiri harimau patah. Binatang ini terhempas ke kanan, terguling ke

dekat perapian dan mengaum dahsyat tidak henti-hentinya. Dia bangun

dan siap menyerang kembali. Saat itulah Sukat Ragil melompat dari

samping. Tinju kanannya yang besar dan keras menghantam pelipis kiri

harimau itu. Untuk kedua kalinya sang raja hutan terhempas ke tanah.

Suara aumannya menggelegar dalam rimba belantara itu. Empat kakinya

mencakar-cakar ke atas. Darah tampak mengalir dan pelipisnya yang

rengkah. Tak selang berapa lama harimau ini terkulai tak bergerak lagi.


“Hebat sekali pukulan tenaga luar perwira itu,” kata Mahesa yang

memperhatikan dari atas pohon.

“Sukat Ragil,” kakek Tulodong Hitam berkata, “Aku harus berterima

kasih padamu yang telah memberkan bantal untuk tidur bagiku!” orang tua

ini lalu menyeret bangkai harimau itu ke dekat perapian, lalu

membaringkan tubuhnya dengan kepala diletakkan di atas tubuh harimau

sebagai bantal.

Empat orang lainnya kembali duduk mengelilingi perapian.

“Kakek Tulodong,” berkata Kembar Merah Muda. “Sebelum kau tidur

apa tidak hendak menerangkan dulu tentang perempuan yang tengah kita

buru itu?”

“Apa yang akan kuceritakan,” jawab si orang tua tanpa berubah

berbaringnya. “Aku hanya melihatnya satu kali. Itupun tak lama. Waktu

itu sebelum dia membunuh Tudung Maut. Tubuhnya semampai. Berkulit

puith. Aku yang sudah tua ini harus mengakui belum pernah melihat

perempuan bertubuh sebagus dan semulus itu. Parasnya memang cantik

walau dandannya agak seronok. Dia selalu muncul dengan pakaian merah

tipis hingga bagian-bagian tubuhnya yang terlarang terkadang jelas

kelihatan. Di balik semua kemulusan dan kecantikan itu tersembunyi ilmu

kepandaian yang luar biasa. Sejauh ini tak satu orangpun sanggup

menjatuhkannya. Sebaliknya banyak korban menemui ajal ditangannya.

Kita harus brhati-hati jika menemui dan menghadapinya…”

“Kita berlima dia sendirian, masakan tidak sanggup meringkusnya?”

ujar Sukat Ragil. Sebagai pimpinan rombongan yang menerima tugas dari

keratin Banyuwangi, dia tanggung jawab penuh akan keberhasilan tugas

itu.

Tulodong Hitam tidak mau menjawab langsung kata-kata Sukat Ragil

tadi. Dia berkata memberi ingat: “Perempuan itu bukan saja berilmu

tinggi, tetapi juga licik sekali. Ada satu hal yang harus kalian ingat baik-

baik. Dia memiliki kepandaian meneber bau harum luar biasa. Sekali

seseorang mencium bau itu, tubuhnya akan lemas, jatuh tak mampu

bergerak lagi. Saat itulah biasanya dia menghabisi lawannya. Karenanya

jika bertempur nanti kalian harus selalu menjaga jalan pernafasan. Jangan

sampai mencium bau harum yang ditebarkannya!”

“Turut keterangan yang kita dapat, perempuan itu akan berada di sekitar

daerah ini besok. Satu-satunya desa terdekat adalah Bangsalsari. Kita

sudah memutuskan untuk datang ke situ karena kemungkinan paling besar

dia akan muncul di Bangsalsari. Rencana ini tidak berubah atau ada

gagasan lain?”


Tak ada menjawab.

“Jadi rencana tetap seperti semula,” kata Sukat Ragil menutup

pembicaraan. Lalu dia mencari tempat yang baik untuk memberingkan

tubuh. Namun sebelum sempat memberingkan mata perwira ini tiba-tiba

melompat, disusul Tulodong Hitam di sebelah kiri. Keduanya sama-sama

melihat sesosok bayangan bergerak dalam kegelapan. Sebelum sempat

mengejar bayangan itu telah lanyap. Ketika keduanya melangkah kembali

ke perapian, di situ Kembar Merah Muda tampak tengah memungut

sehelai kertas yang melayang jauth dekat perapian. Empat orang lainnya

segera mengelilinginya. Di atas kertas merah ternyata ada sederet tulisan,

yang justru ditulis oleh orang yang tengah mereka buru.

Aku tahu kalian telah lama mencariku

Sayang malam ini tak punya waktu menemui kalian

Tapi besok akan berjumpa juga

Ratumu menunggu dengan tangan dan paha terbuka

Apakah kalian membekal nyawa cadangan?

“Keparat! Perempuan busuk!” maki Sukat Ragil.

“Benar-benar mesum!” desis Kembar Merah Tua.

Tulodong Hitam hanya tegak merenung sementara Parit Teguh berdiri

sambil menggigit-gigit bibir. Sesaat Kembar Merah Muda mesih

memegang kertas merah itu. Hidungnya mencium bau harum. Tidak sadar

kertas itu didekatkannya ke hidungnya.

“Jangan disium!” seru Tulodong Hitam.

Tapi terlambat.

Bau harum yang mengandung racun pada kertas sudah keburu tercium

dan masuk ke jalan pernafasan Kembar Merah Muda. Dadanya langsung

sesak, pemandangan menjadi gelap, sekujur tubuhnya bergetar goyah.

Orang ini akhirnya roboh dalam pelukan saudara tuanya. Darah keluar dari

mata, hidung dan mulutnya.

“Adikku mati!” teriak Kembar Merah Tua. Suaranya keras sekali tetapi

bergetar.

Di kejauhan, entah dibagian mana dalam rimba belantara yang gelap itu

terdengar suara tertawa perempuan. Panjang menggidikkan.

Kembar Merah Tua lepaskan tubuh adiknya. Melompat untuk mengejar

ke arah datangnya suara tertawa itu. Tapi si kakek Tulodong Hitam cepat

memegang bahunya.

“jangan kejar. Berbahaya!”


“Keparat! Aku akan membunuh perempuan itu. Aku harus

membunuhnya!” kata Kembar Merah Tua dengan dua tinju terkepal.

Di atas pohon Mahesa geleng-gelengkan kepala. Sejak tadi semua yang

terjadi di bawah sana dilihat dan didengarnya dengan seksama tak satupun

yang terlewat. Tapi bagaimana dia bias tidak sempat melihat orang yang

menyelinap melemparkan surat maut itu?

“Anak setan itu pasti tinggi sekali ilmunya. Benarkah dia seorang

perempuan yang cantik? Ingin sekali aku melihatnya. Secantik Kemalakah

dia…?”



ENAM



SI PENCURI JANTUNG TONGKAT SERATUS BAYANGAN


HUJAN lebat turun ketika mereka memasuki Bangsalsari. “Hujan

keparat!” rutuk Kembar Merah Tua. Sejak kematian adiknya yang terpaksa

dikubur pagi tadi dalam rimba belantara lelaki ini menunjukkan sikap

selalu tak sabar dan sering memaki. Semua karena dendam kesumat

terhadap orang yang telah membunuh adiknya.

Bangsalsari merupakan sebuah desa berpenduduk ramai yang terletak

jauh di selatan pegunungan Iyang. Di sini terdapat sebuah masjid besar

dengan menaranya yang tinggi menjadi kebanggaan penduduk. Setelah

mengisi perut di sebuah warung, Kembar Merah Tua, TulodongHitam,

Parit Teguh dan Sukat Ragil mengelilingi desa untuk mencari orang

buruan mereka. Tetapi sampai siang berganti sore perempuan itu tidak

mereka temukan.

“Kita harus bersabar,” kata Tulodong Hitam memberi semangat

rombongannya yang kini tinggal empat orang itu. “Permpuan itu kurasa

memang tidak biasanya muncul di siang hari. Apalagi di tempat ramai

Bangsalsari ini. Kita tunggu sampai malam…”

Sukat Ragil membenarkan ucapan si kakek. “Kalau dia mau

mengirimkan surat malam tadi, hari ini bukan mustahil dia juga mengikuti

gerak-gerik kita. Lalu menanti saat yang baik untuk muncul…”

Hujan yang hampir turun sepanjang hari membuat udara malam itu

terasa dingin. Apalagi angin berhembus kencang. Sukat Ragil dan kawan-

kawannya berada di bagian desa yang berbukit-bukit. Dalam udara

sedingin itu penduduk lebih suka mengunci diri di dalam rumah masing-

masing. Keempat orang itu berlari cepat menuruni bebukitan, menuju

pusat desa yang masih ramai, yakni sepotong jalan pendek di mana

terdapat tiga buah bangunan yang masih terang. Bangunan pertama sebuah

kedai minuman. Sepi, hanya ada seorang tamu duduk menikmati secangkir

kopi. Bangunan kedua sebuah warung menjual kebutuhan sehari-hari. Juga

sepi. Bangunan terakhir adalah kedai gudek. Lagi-lagi sepi. Hanya ada

seorang tamu kelihatan asyik menyantap makanan. Namun ketika

memperhatikan tamu yang seorang itu, Sukat Ragil dan kawan-kawannya

serta merta terpaku di depan pintu. Tamu itu seorang perempuan

berpakaian serba merah duduk menyantap makanan membelakangi pintu.

“Itu dia!” desis Sukat Ragil.


“Kita masuk!” memberi isyarat Tulodong Hitam. Dia melangkah masuk

lebih dahulu. Sukat Ragil di samping belakang, menyusul Kembar Merah

Tua dan Parit Teguh.

Mendekati meja makan itu Kembar Merah Tua melompat mendahului,

langsung menggebrak meja dan menghardik.

“Perempuan iblis! Manusia mesum keparat! Kau harus bayar nyawa

adikku dengan nyawa busukmu!”

Perempuan yang tengah makan palingkan kepalanya.

Astaga!

Perempuan itu ternyata seorang nenek-nenek bermuka pucat.

Kembar Merah Tua terkesiap.

Parit Teguh melengak.

Sukat Ragil mendesis: “Bukan dia….”

Tapi Tulodong Hitam tak bergerak di tempatnya. Sepasang matanya

memandang tak berkesip pada wajah tua beriput itu, lalu turun ke tubuh

dan sepasang lengannya yang tersembul dibalik pakaian. Ada hal yang

aneh disaksikannya. Dan dia segera meklum kalau keanehan itu

mengandung bahaya besar. Perempuan itu memiliki wajah tua seorang

nenek. Tapi sebaliknya sepasang lengan dan tangannya berkulit putih

mulus!

Perempuan yang tengah makan bukannya tidak tahu kalau kakek

berpakaian hitam itu telah mencium keanehan pada dirinya. Maka diapun

pendengarkan suara tertawa tinggi. Sambil tertawa dia bergerak tangan

kirinya ke mukanya.

Sreet!

Wajah tua berkeriput itu ternyata sebuah topeng tipis belaka. Ketika

topeng itu dibukanya, kelihatanlah wajahnya yang asli.

“Hah! Memang dia!” ujar Sukat Ragil terangah.

Parit Teguh gerakkan tangan kanan memegang tongkat rotan. Kembar

Merah Tua kembali hendak menggebrak dan memaki, tetapi perempuan

berbaju merah yang memakai mahkota kecil pada kepalanya mendahului

berkata.

“Aku sudah lama menunggu di sini. Kukira kalian tidak datang!” lalu

perempuan itu berseru memanggil pelayan meminta agar menyiapkan

hidangan untuk empat orang itu.

Melihat sikap yang dibuat-buat dan sengaja menghina itu. Kembar

Merah Tua tidak dapat menahan amarahnya, kini langsung berteriak.

“Perempuan mesum! Kami datang bukan untuk bersantap! Kami kemari

untuk mengambil nyawa busukmu!’


Si baju merah tertawa panjang. Tertawa itu membuat wajahnya tambah

cantik. Barisan gigi-giginya yang putih tampak bagus dan lidahnya yang

merah basah membuat Parit Teguh tercekat.

“Kalian datang dari jauh. Pakaian kalian masih basah. Masakan tak

hendak makan dan minum lebih dulu?!”

“Tidak! Kau telah membunuh adikku malam tadi! Kau harus mampus

detik ini juga!” hardik Kembar Merah Tua. Lalu menghantam dengan

tangan kanan. Sasarannya adalah dada perempuan ini terkejut karena angin

pukulan lawan yang semula dianggap enteng ternyata terasa deras dan

menyambar dingin. Cepat-cepat dia menggerakkan kaki kiri, menendang

hingga meja terpelanting menghalangi gerakan Kembar Merah Tua.

Saking marahnya serangannya dipapasi demikian rupa, Kembar Merah

Tua tendang meja kayu itu hingga hancur berkeping-keping. Disaat yang

sama Parit Teguh dan Sukat Ragil serta Tulodong Hitam sudah

mengepung.

Si baju merah bertolak pinggang, memandang berkeliling dan sambil

tersenyum dia berkata: “Bagus … bagus. Kalian sudah terima suratku

malam tadi? Bagus! Apakah kalian sudah membawa nyawa cadangan?”

“Betina durjana! Untuk mengambil sepotong nyawa busukmu kami tak

perlu membawa nyawa rangkap!”

Yang membentak adalah Sukat Ragil.

Si baju merah berpaling ke arah perwira muda ini. Ada cahaya aneh

pada matanya. Tak pernah dia melihat lelaki yang memiliki otot sehebat

orang ini. Dia lantas tersenyum. “Sejak seminggu lalu aku mengetahui

gerak-gerik kalian. Satu hal yang aku masih buta, kalian ini siapa

sebenarnya dan mengapa menginginkan kematianku. Kenal dengan kalian

pun tidak!”

“kami rombongan dari keraton Banyuwangi,” yang menjawab Sukat

Ragil. “Beberapa bulan lalu kau menculik seorang Pangeran lalu

membunuhnya!”

“Hal kedua mengapa kami menginginkan nyawamu,” buka suara Parit

Teguh, “Kau juga telah membunuh sahabat kami si Tudung Maut!”

“Hal ketiga!” menimpali Kembar Merah Tua dengan mata berapi-api,

“Kau membunuh adikku!”

Si baju merah lagi-lagi tersenyum. Kali ini sambil gelengkan kepala.

“Kalian salah sangka. Biar kuberi penjelasan,” katanya sambil melirik

pada Parit Teguh dan mengerling pada Sukat Ragil. “Aku tidak menculik

Pangeran itu. Dia sendiri yang mau ikut bersamaku. Karena dia tergila-gila

padaku. Ketika kusuruh pulang dia lantas putus asa dan bunuh diri!”


“Dusta!” sentak Sukat Ragil. “Mayatnya ditemui tanpa pakaian. Di

lehernya ada bekas cekikan. Aman ada orang bunuh diri mencekik dirinya

sendiri!”

“Soal dia berpakaian atau tidak ketika mati mana aku tahu. Siapa yang

mencekiknya akupun awam!”

“Kami tahu kau licik dan pandai berdalih!” ujar Parit Teguh.

Kembali perempuan baju merah itu melemparkan kerling dan senyum

pada lelaki ganteng ini. “Soal sahabatmu yang bergelar si Tudung Maut

itu, bukan aku yang membunuh. Dia yang datang malam-malam buta

mengganggu ketenteraman orang dan agaknya memang minta mati. Kalau

saja aku tahu sebelumnya bahwa dia kawanmu, mungkin aku tidak

mengganggunya!” lalu perempuan ini berpaling pada Kembar Merah Tua.

“Aku juga tidak merasa membunuh adikmu itu. Salah dia sendiri. Siapa

mau-mauan mencium kertas beracun…?! Hik… hik… hik…!”

“Perempuan keparat! Riwayatmu hanya sampai malam ini!” teriak

Kembar Merah Tua lalu menyerbu, tapi gerakkannya ditahan oleh

Tulodong Hitam. Orang tua ini maju selangkah lalu berkata.

“Ratu Mesum, kami datang memang untuk menghukummu. Dosa dan

kejahatanmu sudah melebihi takaran. Jika kau mau menyerah baik-baik,

kami akan bawa kau hidup-hidup ke Banyuwangi. Tapi jika melawan

terpaksa kau bakal menemui kematian dalam warung ini!”

Si baju merah yang ternyata adalah Ratu Mesum alias Mawar tertawa

panjang. Lidahnya yang basah bergerak kian kemari.

“Orang tua macammu memang layak bicara memakai peradatan. Hanya

saja semua maksudmu tak bisa kulayani. Sayang kalian tidak membawa

nyawa cadangan. Namun aku memberi kesempatan agar kalian pergi saja

dari sini demi keselamatan diri masing-masing. Kecuali jika dua kawanmu

yang berotot hebat serta yang memegang tongkat itu mau ikut bersamaku,

aku tidak keberatan. Hik… hik… hik!”

“Iblis! Kau memang sudah saatnya mampus!” teriak Kembar Merah

Tua. Namun gerakkannya hendak menyerang lagi-lagi dicegah Tulodong

Hitam.

Kakek ini berkata: “Aku tak ingin kau mati tanpa mengetahui siapa

kami ini…”

“Oh, mau perkenalkan diri? Bagus! Ada baiknya agar kalian tidak

menyesal sampai di liang kubur. Ratumu menunggu. Silakan beritahu

siapa kalian….”

“Kawanku si baju merah itu adalah orang tertua dari sepasang Kembar

Merah. Yang memegang tongkat rotan bernama Parit Teguh, bergelar


Tongkat Seratus Bayangan. Yang di sampingku Sukat Ragil, perwira

keraton Banyuwangi. Dan aku yang jelek ini Tulodong Hitam alias Si

Pencuri Jantung. Nah sudah siapkah kau untuk mati?!”

Ratu Mesum kembali perdengarkan suara tawanya yang panjang dan

tinggi. Nama sepasang Kembar Merah ataupun Sukat Ragil sang perwira

dari Banyuwangi itu tidak dikenal dan tidak mengejutkannya. Namun dia

cukup terkesiap ketika mengetahui si kakek baju hitam adalah manusia

yang menyandang gelar Si Pencuri Jantung sedang lelaki gagah berpakaian

rapi ternyata adalah Tongkat Seratus Bayangan! Dia melirik ke arah

sepasang tangan si kakek yang ternyata berkuku panjang hitam. Kuku-

kuku jari itu telah mengorek puluhan jantung lawan yang rata-rata

berkepandaian tinggi. Sedang Tongkat Seratus Bayangan merupakan satu

nama besar menggetarkan daerah timur sejak tiga tahun belakangan ini!

Meskipun sadar menghadapi lawan-lawan tangguh namun Ratu Mesum

yang percaya pada kemampuannya tidak menjadi kecut. Dasar perempuan

hidung belang yang tidak boleh melihat lelaki gagah maka dia berkata

seenaknya.

“Malam begini dingin, mengapa kita tidak ngobrol menghangatkan diri

dengan kopi atau tuak…,” katanya. Lalu menyambung: “Aku bersedia

menganggap selesai perkara inisampai di sini asal saja kau yang bernama

Parit Teguh dan yang berotot hebat ini suka ikut bersamaku!”

Paras Parit Teguh jadi merah. Dia harus mengakui belum pernah

melihat perempuan secantik dan semulus manusia iblis bergelar Ratu

Mesum ini. Sebaliknya Sukat Ragil yang memikul tugas berat tak mau

menunggu lebih lama lagi. Setelah memberi isyarat pada Tulodong Hitam

dia menyergap dari samping kiri.

Seta merta Kembar Merah Tua menerjang pula dari sebelah kanan, Parit

Teguh menusuk dengan tongkat rotannya sedang Tulodong Hitam

menyambarkan kuku-kukunya yang hitam panjang. Sesuai dengan

gelarnya yakni Si Pencuri Jantung maka setiap serangannya selalu berakhir

pada gerakan yang mengarah ke jantung lawan!

Pada gebrakan pertama itu Ratu Mesum segera mengetahui kalau empat

lawannya kali ini benar-benar berat. Dia bukan saja harus mempergunakan

kepandaian untuk menghadapi mereka, tetapi juga harus memutar akal.

Lima jurus pertama perempuan itu dibuat repot oleh gerakan tongkat

Parit Teguh. Tongkat Rotan itu seperti berubah menjadi puluhan

banyaknya. Mendesing, menyambar, menusuk, terkadang mengait ke arah

bagian badan secara tak terduga. Di samping itu sulit pula diterka mana

batang atau bayangan belaka. Beberapa kali ujung tongkat hampir


menusuk bahu atau perutnya. Beberapa kali pula ujung tongkat yang

lainnya hampir mengait lengan atau lehernya!

Sepuluh jari tangan Tulodong Hitam menggapai, mencengkeram,

mengorek tiada henti. Sementara itu pukulan, sikutan dan tendangan yang

dilepaskan Sukat Ragil datang bertubi-tubi. Ditambah pula dengan

serangan Kembar Merah Tua yang sangat nekad berbahaya karena disertai

kebencian dan dendam atas kematian adiknya. Semua itu membuat Ratu

Mesum terdesak hebat. Namun menusia berpengalaman, bermata jeli dan

panjang akal ini masih sanggup melihat titik lemah pada lawan yang

menyeroyoknya. Titik-titik lemah ini adalah Kembar Merah Tua dan si

perwira Sukat Ragil. Kalau dia bisa menghajar dua lawan ini lebih dulu,

rasanya menghadapi si kakek dan Tongkat Seratus Bayanan tidak akan

terlalu menyulitkan. Maka Ratu Mesum sambil bertahan lancarkan

serangan-serangan mematikan ke arah Kembar Merah Tua atau Sukat

Ragil.

Tulodong Hitam yang menghadapi gerakan-gerakan lawan, terpaksa

membagi perhatian untuk melindungi dua kawannya yang digempur

gencar itu. Terutama Kembar Merah Tua. Lelaki ini berkelahi seperti

orang kemasukan setan. Menghamburkan pukulan dan tendangan dengan

tenaga dalam tinggi tanpa memperhatikan lagi pertahanan dirinya.

Tiba-tiba Ratu Mesum kumandangkan tawa melengking. Tubuhnya

merunduk dan berputar seperti titiran. Tangan kanannya dipukulkan ke

depan tetapi terpaksa ditarik karena ujung tongkat Parit Teguh datang

menghantam dengan deras. Tapi dengan tangan kiri lalu bertumpu pada

senjata lawan diayunkan tubuh untuk melompat ke kiri. Dan buuk!

Kaki kirinya mencium dada Kembar Merah Tua keras sekali. Lelaki ini

sampai keluarkan suara seperti muntah. Tubuhnya terlipat ke depan lalu

jatuh berlutut. Ada darah mengalir dari sela bibirnya. Tulodong Hitam

segera berteriak agar Kembar Merah Tua cepat menyingkir. Namun

terlambat. Pukulan tepi telapak tangan sang ratu menghantam lebih dulu.

Kembar Merah Tua terbanting ke lantai warung, mengerang sebentar lalu

tak berkutik lagi.

Berhasilnya Ratu Mesum membunuh salah satu lawannya tidak

didapatnya dengan mudah. Karena untuk itu dia harus menerima jotosan

keras Sukat Ragil pada bahunya sebelah kanan. Perempuan ini menggigit

bibir menahan sakit. Tulang bahunya serasa remuk. Tubuhnya terhuyung

ke kiri. Kalau dia tidak lekas menyingkir menjauhi tiga lawannya,

mungkin kepalanya sudah kena gebuk tongkat rotan di tangan Parit Teguh!


Dengan mata berkilat-kilat, memancarkan hawa pembunuhan Ratu

Mesum alirkan tenaga dalam ke tangan kiri. Begitu lawan mendatangi

maka dia hantamkan ke depan.

“Lekas menyingkir!” teriak Tulodong Hitam ketika dilihatnya sinar

merah muda berkiblat.

Wuss!

Angin pukulan yang memancarkan sinar merah itu menderu lepas,

melabrak dinding warung hingga hangus dan bolong. Begitu pukulan maut

itu berhasil dielakkan, Tulodong dan Parit Teguh lekas menyerbu sebelum

lawan berkesempatan membuat gerakan baru. Kini meskipun mereka

tinggal bertiga, tetapi Tulodong Hitam mamu mengembangkan serangan

sehingga kembali Ratu Mesum terdesak. Beberapa kali perempuan ini

coba mengeluarkan ilmu simpanannya yakni membuat gerakan melompat

ke atas lalu menghamburkan hawa harum beracun tetapi selalu gagal.

Setiap dia siap melompat, ujung tongkat yang berkeluk di tangan Parit

Teguh menyambar ganas menarik bahu atau batang lehernya. Mau tak mau

Ratu Mesum terpaksa batalkan lompatannya. Tetapi dia tidak mau

menyerah begitu saja. Dia yang punya seribu akal harus mampu bertempur

mengatur jarak menjauhi lawan. Kadang-kadang dia sengaja menyerang

tempat-tempat kosong atau membuat gerakan-gerakan aneh lainnya yang

sulit diraba lawan. Tahu-tahu tubuhnya sudah berada di belakang lawan,

siap untuk menjotos, menendang atau mencengkeram. Tetapi tidak terlalu

mudah untuk dapat merobohkan tiga lawan ini. Mempercepat gerakan

sama dengan menguras tenaga. Setelah sembilan jurus berlalu tanpa dapat

menciderai salah seorangpun dari lawannya, kembali Ratu Mesum

terdesak.

Breet!

Jurus ke dua puluh empat kuku jari tangan kiri Tulodong hitam

menyambar ke dada kiri Ratu Mesum. Perempuan ini terpekik. Saat itu dia

masih harus mengelakkan serangan tongkat Parit Teguh yang

mengemplang ke kepalanya. Masih untung kedudukan kedua kakinya pada

posisi yang cukup tangguh hingga dia mampu membuang diri ke belakang

dan hanya baju merahnya saja yang robek. Sebagian dadanya tersingkap.

Sesaat Parit Teguh dan Sukat Ragil terkesiap melihat dada yang putih dan

menonjol besar itu sementara si tua Tulodong Hitam kelihatan menjadi

jengah!

Hal ini cepat terlihat oleh Ratu Mesum maka diapun lemparkan

jeratnya.


“Malam begini dingin dan kita orang-orang tolol pada berkelahi.

Dengar, dibagian belakang warung ini ada kamar dengan tempat tidur

besar. Aku bersedia melayani kalian…”

“Perempuan busuk! Jangan dengarkan tipuan kejinya!” teriak Tulodong

Hitam memotong.

“Aku tidak menipu. Aku memang suka pada kalian. Kau yang tua jika

tak mau silakan pergi. Dua kawanmu ini pasti mau…!”

Khawatir Parit Teguh dan Sukat Ragil terpengaruh maka Tulodong

Hitam cepat kirimkan serangan. Kembali terjadi perkelahian. Ratu Mesum

menyumpah dalam hati. Sementara itu bekas pukulan Sukat Ragil pada

bahu kanannya terasa bertambah sakit.

“Diberi surga mau neraka! Bersiap-siaplah untuk mampus!” teriak Ratu

Mesum. Kembali dia melepaskan pukulan yang mengeluarkan sinar

merah. Lalu tubuhnya di putar seperti gasing. Tetapi gerakan selanjutnya

dihadang oleh tongkat di tangan Parit Teguh. Ujung tongkat yang berkeluk

menyambar batang lehernya hingga dia tak berkesempatan melompat.

“Apa boleh buat! Aku harus menebarkan hawa beracun itu tanpa

melompat!” membatin Ratu Mesum setelah melihat lawan membaca

gerakannya. Maka diapun tutup penciumannya dan singsingkan bagian

bawah pakaian merahnya.

“Awas! Jangan biarkan dia mengangkat pakaiannya!” Tulodong Hitam

berikan peringatan. Dia melompat ke atas untuk mencegah gerakan lawan

jika sekiranya Ratu Mesum memaksakan diri melompat. Sementara Parit

Teguh hantamkan tongkatnya ke arah kedua tangan Ratu Mesum guna

mencegah perempuan ini menyibakkan pakaiannya. Dalam pada itu Sukat

Ragil tidak hentinya kirimkan serangan berantai. Semua ini membuat Ratu

Mesum lagi-lagi terpaksa membatalkan gerakannya dan cari selamat dari

ketiga serangan lawan.

Menyadari dirinya tak punya kesempatan untuk menebarkan hawa

beracun sementara tenaganya mulai terkuras. Ratu Mesum keluarkan

jurus-jurus simpanannya. Gerakannya tidak secepat sebelumnya namun

penuh kekuatan serta tipuan-tipuan mematikan. Dengan cara begini tiga

jurus dimuka dia berhasil memukul roboh Sukat Ragil hingga perwira

muda ini patah tangan kirinya dan melompat keluar dari kalangan

perkelahian. Saat itulah Ratu Mesum melihat adanya kesempatan untuk

menebarkan hawa harum beracunnya. Tubuhnya berputar seperti gasing

lalu mencelat ke atas. Akan tetapi lagi-lagi serangannya di patahkan oleh

tongkat di tangan Parit Teguh. Lelaki ini lebih cepat dan berhasil

mendahului gerakan Ratu Mesum. Ujung tongkatnya yang berkeluk


berhasil menggaet batang leher lawan. Sekali sentak saja tubuh perempuan

ini tertarik keras ke depan. Disaat yang sama Tulodong Hitam sudah

menunggu dengan serangan sepuluh jari. Lima jari tangan kiri membuat

gerakan merobek ke arah dada kiri sedang lima jari tangan kanan siap

membetot isi dada itu.

Ratu Mesum menjerit. Seumur hidupnya baru sekali inilah dia menjerit

dan ketakutan seperti itu. Dia tak dapat berbuat apa-apa. Tongkat lawan

masih terus menjepit. Kali ini dia tidak sanggup menyelamatkan diri

dengan cara apapun. Maka dipusatkannya untuk berjibaku. Kalau

Tulodong Hitam berhasil membunuh dan mencopot jantungnya, maka

orang tua inipun harus mati ditangannya. Ratu Mesum pukulkan kedua

tangannya ke depan, mengarah perut dan batang tenggorokan Tulodong

Hitam. Masih belum cukup, perempuan ini juga miringkan lututnya ke

selangkangan kakek itu.

Parit Teguh kaget melihat kejadian ini. Dia yakin Tulodong Hitam

berhasil membunh perempuan ini lebih dulu, tetapi diri si kakekpun tak

akan lepas dari bahaya. Dia putar tongkatnya yang masih menggeluh di

leher Ratu Mesum. Paling tidak gerakkannya itu akan menahan lajunya

serangan perempuan itu. Justru saat itulah tiba-tiba lampu minyak dalam

warung tersebut mental dan padam dihantam sebuah benda besar.

Terdengar pekik Ratu Mesum. Keadaan dalam warung menjadi galap

gulita. Tulodong Hitam mendadak merasakan ada angin yang menyambar

dari samping. Tubuhnya terdorong keras dan jatuh terpelanting. Dilain

pihak Parit Teguh merasakan ngiku pada tengkuknya. Setelah itu tubuhnya

kaku tak bisa digerakkan lagi. Seseorang telah menotoknya dalam gelap.

“Bangsat! Siapa yang berani membokong!” teriak Parit Teguh.

Tulodong Hitam menghambur ke pintu. Maksudnya untuk mencegah

jalan keluar hingga siapapun yang tadi masuk bisa dihadang dan

dihantamkan di situ. Tetapi dia kecele. Sesosok bayangan putih berkelebat

sangat cepat lewat jendela samping warung. Orang ini memanggul sesosok

tubuh berpakaian merah. Seseorang telah menyelamatkan dan melarikan

Ratu Mesum.


TUJUH


SIPENOLONG TERNYATA…..


RATU MESUM ingin sekali melihat wajah orang yang menolong dan

melarikannya. Namun malam begitu gelap. Di samping itu lehernya masih

terasa sakit dan kaku akibat tarikan keras tongkat Parit Teguh. Sedang luka

dibagian dada akibat cengkeraman kuku-kuku jari Tulodong Hitam masih

mengeluarkan darah dan sakitnya bukan alang kepalang seolah-olah

jantungnya benar-benar sudah dicopot kakek lihay itu! Sekujur tubuhnya

terasa lemas, akhirnya perempuan ini jatuh pingsan di atas bahu

penolongnya.

Sawah itu luas sekali. Sejak panen dua minggu lalu keadaannya kini

tampak gundul dan tak seorang petanipun tampak ketika orang yang

menolong Ratu Mesum sampai di situ. Dia membaringkan tubuh

perempuan itu di atas sebuah dangau bamboo dan memeriksa luka

dibagian dada. Si penolong geleng-gelengkan kepala. Ada dua hal yang

membuat dia begitu. Pertama melihat luka di tubuh perempuan itu yang

berupa empat guratan cukup dalam. Jika luka itu masuk lebih dalam lagi

tidak mustahil akan merobek daging sampai ke tulang iga. Bahkan

jantungnya. Hal kedua ialah payudara yang putih besar dan keras serta

bagian laindari tubuh yang begitu mulus hamper tidak tertutup saking

tipisnya baju merah yang dikenakan.

Setelah menetapkan beberapa totokan darah mudanya yang tergoncang,

lelaki itu melakukan beberapa kekuatan baru pada tubuh yang tampak

lemah itu, si penolong salurkan tenaga dalamnya yang hangat lewat

telapak tangan yang ditempatkan ke bagian perut dan punggung Ratu

Mesum. Ketika matahari pagi mulai naik, kabut lenyap, pemandangan di

persawahan itu bagus sekali. Dan sang ratu tampak menggerak-gerakkan

kedua matanya. Sepasang mata itu kemudian terbuka. Yang pertama

dilihatnya adalah atap dangau di mana dia berada, lalu sosok tubuh

seorang yang duduk memunggunginya, orang ini mengenakan pakaian dan

ikat kepala putih. Rambutnya hitam tebal dan gondrong. Ada asap

kelihatan. Agaknya orang itu tengah merokok. Ratu Mesum dapatkan

kepalanya agak pening tetapi tubuhnya yang semalam sangat lemas kini


terasa sehat dan kuat kembali. Aneh, tentu ada seseorang yang

menolongnya dengan obat atau entah dengan apa. Hanya ada rasa perih

pada bagian dadanya sebelah kiri. Perlahan-lahan Ratu Mesum bangkit dan

duduk lalu menyapa.

”Hai…! Hai…! Apakah kau yang menolongku tadi malam…?”

Orang yang disapa memutar kepalanya.

“Aih…. Wajahnya gagah sekali. Tapi sedikit kebodohan-bodohan

seperti anak-anak…” kata Ratu Mesum dalam hati begitu melihat wajah

lelaki itu.

Yang disapa tersenyum sedikit mengangguk.

“Kau masih belum sembuh benar. Labih baik berbaring terus…”

“Berbaring malah membuatku jadi lemas…” Ratu Mesum ingat pada

rasa peri di dadanya. Ketika diperiksa perempuan ini mengeluarkan

keluhan kecil. Darah telah berhenti mengucur tapi luka itu pasti lama baru

bias sembuh. Tiba-tiba perempuan ini menyingkapkan pakaiannya sebelah

bawah. Lelaki itu jelas dapat melihat sepasang kaki sampai kepaha bahkan

sebagian pinggul yang putih mulus, membuat kedua matanya tak mau

berkedip. Dari balik pakaiannya perempuan itu mengeluarkan sehelai

lipatan kertas kecil. Ketika lipatan kertas dibuka tampak sejenis bubuk

putih. Bubuk ini kemudian ditebarkannya di atas lukanya. Aneh, luka yang

tadi membuka itu kini kelihatan menutup. Ratu Mesum tampak lega.

“Makan ini…” Si gondrong berambut hitam mengeluarkan sebuah

benda hijau bulat sebesar kelereng.

“Apa ini. Tahi kambing…?” Tanya Ratu Mesum.

Lelaki itu tersenyum tapi dalam hati menyumpah. “Ini obat. Bukan tahi

kambing. Apa kau suka makan tahi kambing?”

Ratu Mesum tertawa cekikikan.

“Obat untuk apa…?”

“Agar lukamu cepat sembuh dan kesehatanmu pulih kembali.”

“Apa kau pernah makan obat ini. Dari siapa kau dapat….?”

“Aku pernah makan. Dari siapa aku dapat kau tak usah tahu. Bukankah

kau ingin lekas sembuh…?”

“Kau telah menolongku. Jadi aku harus percaya padamu!” perempuan

itu mengambil obat tersebut, langsung menelannya. Setelah pejamkan

mata beberapa saat dia kemudian berkata: “Hai, obat mujarab sekali.

Pening dikepalaku lenyap. Tubuhku terasa ringan. Masih ada obatnya…?”

“Cukup sekali saja. Terlalu banyak malah bisa jadi penyakit.”

Ratu Mesum manggut-manggut. “Kau telah menolongku. Siapa

namamu orang gagah…?” Ratu Mesum menggeser duduknya lebih dekat.


“Mahesa…”

Ratu Mesum mengangguk lagi. “Mengapa kau menolongku?”

Sesaat si penolong yang bukan lain Mahesa adanya tak bisa menjawab.

“Karena kau terpikat oleh kecantikanku…?” ujar Ratu Mesum.

“Anak setan ini enak saja bicaranya!” maki Mahesa dalam hati. “Kau

memang cantik. Luar biasa. Tak pernah aku melihat perempuan

secantikmu. Malah mungkin kau akan jauh lebih cantik jika tidak

berdandan seronok…?”

Ratu Mesum tertawa. “Begitu…? Karena kau yang berkata aku akan

menuruti nasihatmu.”

“Nasihat apa?”

“Aku akan dandan wajar-wajar saja. Begitu maumu bukan?”

“Terserah padamu,” sahut Mahesa.

“Hai, kau belum menerangkan mengapa kau menolongku!”

“Yang pasti bukan karena kecantikanmu semata,” jawab Mahesa. “Aku

tidak suka melihat ketidak adilan. Seorang dikeroyok lawan. Apalagi

perempuan sepertimu. Mana pantas. Dan saat itu kulihat keselamatanmu

terancam. Kakek berpakaian hitam itu benar-benar hampir mencuri

jantungmu!”

“Aku bersumpah untuk membunuhnya jika bertemu. Juga lelaki keren

bersenjata tongkat itu!” kata Ratu Mesum pula.

“Malam tadi, waktu kau melempar surat merah, aku ada ditempat itu.

Aku dengar semua pembicaraan mereka. Itu sebabnya aku menguntit

gerak-gerik mereka sampai di Bangsalsari. Sebenarnya mengapa mereka

ingin membunuhmu…?”

“Jika kau ada di tempat mereka berkemah, pasti kau dengar semua

pembicaraan mereka. Jadi sudah tahu mengapa mereka ingin

membunuhku!”

Mahesa menggeleng. “Tak banyak yang mereka bicarakan tentang kau.”

“Apa saja?” Tanya Ratu Mesum ingin tahu.

“Bahwa kau seorang perempuan cantik. Lalu banyak lelaki yang

terpikat. Juga keliahayanmu menebar hawa harum yang mengandung

maut…”

“Nah, kau sudah tahu semua…”

“Belum. Satu diantaranya mengapa mereka ingin membunhmu.”

Kalau orang lain yang bicara seperti memaksa itu seperti Ratu Mesum

mungkin sudah naik darah dan menyerang. Tetapi terhadap pemuda ini

sang ratu justru tertawa dan berkata: “Panjang ceritanya. Kelak kau akan

tahu juga.”


“Aku tak mengerti mengapa mereka memanggilmu dengan nama Ratu

Mesum. Apakah kau benar-benar seorang ratu…?”

Perempuan itu tertawa. “Seorang yang benci pada kita, bisa saja

memberi gelar atau julukan jelek seribu macam. Dengar, aku ingin kau

menolongku tidak kepalang tanggung…”

“Apa maksudmu?” tanya Mahesa lalu menyalakan sebatang rook

kawung.

“Perutku lapar. Aku juga haus. Maukah kau mencarikan air dan

makanan untukku?”

Sebenarnya Ratu Mesum saat itu tidak lapar ataupun haus. Sejak

melihat wajah Mahesa perempuan ini langsung tertarik. Dia hanya ingin

mengetahui apakah pemuda itu juga tertarik padanya. Karena dia sengaja

memancing minta tolong.

Mahesa tak menjawab. Dimana pula bisa mendapatkan air dan makanan

pagi-pagi begini? Dia memandang berkeliling. Jauh diujung pesawahan

sebelah timur tampak sederatan rumah penduduk.

“Aku akan mencoba ke sana!” kata Mahesa menunjuk ke timur.

“Jangan salahkan kalau aku Cuma bisa mendapatkan sejumput nasi basi

tanpa ikan dan sekaleng air!”

Ratu Mesum tersenyum. Ternyata pemuda itu mau menolongnya.

Mungkin diapun suka padany.

“Kau tunggu di sini. Jangan ke mana-mana,” kata Mahesa.

“Tinggalkan dulu rokokmu itu. Ingin tahu bagaimana rasanya

merokok…”

Terpaksa Mahesa serahkan rokok kawungnya pada Ratu Mesum.

Perempuan ini langsung menghisapnya dalam-dalam. “Hai… enak juga…”

katanya.

Hanya sesaat setelah Mahesa meninggalkan dangau di persawahan itu,

sesosok tubuh berkelebat. Ratu Mesum cepat berpaling dan dia jadi

terkejut melihat siapa yang muncul sendirian. Hatinya lega kalau terjadi

apa-apa masakan satu lawan satu dia tak bakal menang.

“Kutemui kau di sini!” orang yang dating buka suara sambil

melintangkan tongkay rotannya di depan dada. “Siapa orang yang

menolongmu itu?”

“Apa perdulimu!” sahut Ratu Mesum. Untuk memastikan bahwa lelaki

itu benar-benar dating sendirian dia bertanya: “Mana kawanmu kakek

jelek baju hitam itu….?”

“Dia mengejar ke jurusan lain. Aku kemari. Aku beruntung ternyata

berhasil menemuimu di sini…”


“Kau tidak beruntung orang gagah. Kau akan mati di tempat ini!”

Lelaki itu tertawa lalu sisipkan tongkatnya ke pinggang.



DELAPAN


BERGANTI PAKAIAN BERGANTI NAMA


PARIT TEGUH naik ke atas dangau dan duduk dekat-dekat Ratu

Mesum.

“Dengar,” katanya hampir berbisik seolah-olah takut ada yang akan

mendengar. “Aku akan menganggap urusan kita selesai jika kau mau ikut

dan tinggal bersamaku di pantai selatan Banyuwangi…”

“Hemmm…. Lelaki ini terpikat padaku. Dia akan membayar mahal…”

kata Ratu Mesum dalam hati.

Orang yang dating ke dangau itu memang adalah Parit Teguh alias

Tongkat Seratus Bayangan Hitam berunding. Diputuskan bahwa si kakek

akan mengejar kea rah timur sedang Parit Teguh kea rah barat. Sebenarnya

lelaki ini sudha melihat arah mana Ratu Mesum dilarikan. Karena itu dia

memilih arah barat karena dia memang dia berharap dapat menemui

perempuan yang sangat memikat hatinya itu meskipun dia baru saja kawin

setahun lalu dengan seorang gadis yang berparas cantik tapi berkulit hitam

manis.

Ratu Mesum tertawa sambil rundukkan kepala hampir menyentuh

wajah Parit Teguh. Tidak dapat menguasai rangsangannya dalam tubuhnya

lantas saja dia mencium pipi Ratu Mesum. Lalu tangan kanannya menjalar

ke dada. Seolah-olah hendak memeriksa luka perempuan itu dia bertanya:

“Bagaimana lukamu…?” tapi yang dibelainya bukan luka di tubuh Ratu

Mesum, melainkan payu dara perempuan itu.

Ratu Mesum menepiskan tangan Parit Teguh.

“Luka itu akan segera sembuh. Sebaiknya kita bicarakan dulu urusan

kita…”

“Kau mau ikut aku…?”

“Tentu saja. Mana ada perempuan yang tidak suka pada lelaki

segagahmu. Tetapi….?”


“Tetapi apa? Katakana syaratmu! Jika kau sampai membantah terpaksa

aku meneruskan niat semula. Membunuhmu…!”

“Apa kau betul-betul tega membunuhku…?” Tanya Ratu Mesum sambil

mengerling. Lalu perempuan ini merubah duduknya sehingga tubuhnya

sebelah bawah tersingkap, membuat silau kedua mata Parit Teguh.

“Kalau kau mau hidup bersamaku, masakan aku akan membunuhmu…”

“Aku bersedia. Hanya saja, apakah yang diharapkan perempuan

sepertimu ini dari seorang lelaki gagah sepertimu? Bukan harta bukan

kekayaan. Tapi kekuatan…”

“Maksudmu?”

“Maksudku, aku harus menguji kejantanan lebih dulu. Aku tak suka

pada lelaki yang akan membuatku merana karena ketagihan…”

Mendengar kata-kata itu Parit Teguh tertawa gelak-gelak.

“Kau akan segera mengetahui. Kita berangkat sekarang. Di rumahku di

Banguwangi akan kubuktikan…”

Ratu Mesum menggeleng sambil tersenyum.

“Aku ingin bukti saat ini juga!” katanya.

“Di sini…?”

“Di kolong dangau ini ada tumpukan jerami kering. Cukup nyaman

untuk kita berdua…”

Parit Teguh terbelalak. Tapi ketika Ratu Mesum meluncur turun dari

dangau dan masuk ke kolong lalu membaringkan diri di atas tumpukan

jerami kering, diapun melompat turun.

“Perempuan luar biasa!” katanya dalam hati. Tubuhnya kejang

dirangsang nafsu. Terlebih ketika dilihatnya perempuan itu menggeliat

tubuh seperti tidak sabaran.

“Hai! Kenapa hanya celanamu yang kau tanggalkan semua

pakaiannya.”

“Bagus begitu… sekarang kemarilah…” Ratu Mesum ulurkan tangan

dan kembangkan kedua kaki.

Parit Teguh yang lupa diri langsung saja menjauhkan diri masuk ke

dalam pelukkan perempuan itu, balas memeluk dengan kuat dan nafsu.

Nafasnya memburu. Tapi tiba-tiba terdengar jerit lelaki ini. Tubuhnya

terlempar ke udara, menghantam bagian perutnya sehingga anggota

rahasianya remuk. Selagi dia melintir kesakitan, Ratu Mesum sambar

tongkat rotannya lalu tekankan batang tongkat tenggorokan Parit Teguh.

Lelaki ini tidak berdaya lagi untuk selamatkan diri. Dia menemui ajal

dengan lidah terjulur dan mata mendelik!


Ratu Mesum ludahi mayat Parit Teguh. Tongkat yang masih

dipegangnya ditusukkan ke perut bugil lelaki itu. Lalu seperti tidak terjadi

apa-apa, setelah merapikan pakaiannya dia naik ke atas dengau kembali.

Tak selang berapa lama Mahesa muncul membawa sebuah kendi tanah

dan nasi serta sepotong kecil ikan yang dibungkus dalam daun pisang.

Tentu saja dia terkejut ketika melihat mayat Parit Teguh yang mati dengan

lidah mencelet mata mendelik, perut tertusuk tongkat miliknya sendiri dan

bugil.

“Apa yang terjadi?” tanyanya.

“Lelaki itu melakukan pengejaran dan menemuiku di sini. Dia berusaha

memikatku, hendak memperkosaku. Dia terima sendiri akibatnya!”

“Gila!” rutuk Mahesa dalam hati. Lalu diserahkannya kendi dan

bungkusan nasi. “Makanlah cepat. Setelah itu tinggalkan tempat ini. Bukan

mustahil kawannya kakek berbaju hitam itu juga muncul di sini.”

“Apa kau takut?”

Mahesa tak menjawab.

“Kau tak menemaniku makan…?”

“Aku tidak lapar.”

“Tapi aku tidak sudi makan kalau tidak bersamamu!”

“Ah, kolokan sekali perempuan ini!” kata Mahesa dalam hati. Tapi

akhirnya dia duduk juga berhadap-hadapan dan menemani perempuan itu

makan dari bungkusan nasi yang sama. Memang lain pula nikmatnya

makan bersama perempuan cantik walau nasi yang dimakan sedikit dan

mulai basi serta ikan hanya secuil, itupun tinggal tulangnya saja.

“Enak makannya…?” tanya Ratu Mesum lalu meneguk air kendi tanah.

“Enak sekali!” jawab Mahesa. Dia menerima kendi yang diulurkan Ratu

Mesum lalu menempelkan bibirnya di mulut kendi, pada bekas bibir Ratu

Mesum menempel waktu minum tadi. Sisa air dalam kendi dipergunakan

perempuan itu untuk mencuci mukanya. Ketika dia mengeluarkan

peralatan untuk berhias, Mahesa berkata: “Kurasa kau tak perlu

berdandan…”

“Eh, memang kenapa?”

“Kau akan lebih cantik tanpa berdandan…!”

Jawaban polos pemuda itu membuat Ratu Mesum terkesiap. Entah

mengapa kemudian dia menyimpan alat-alat kecantikannya kembali. Ada

rasa suka muncul semakin besar dalam hatinya terhadap pemuda ini. Rasa

suka yang sekali ini tidak disertai nafsu bejat seperti yang selalu meracuni

dirinya ini.


“Aku harus pergi sekarang…” kata Mahesa. Suaranya datar seperti

tidak ditunjang oleh hasrat hati yang sesungguhnya.

“Setelah menolongku apakah kau akan meninggalkanku begitu saja?”

tanya Ratu Mesum.

“Aku banyak urusan!” kata Mahesa.

“Aku juga. Kalau kita pergi sama-sama bukankah bisa membagi pikiran

hingga urusan bisa diselesaikan dengan baik?”

Dalam hati Mahesa berkata: “Mungkin begitu, tapi mungkin juga malah

tambah urusan!”

“Aku tahu kau enggan jalan sama-sama. Tapi dengan pakaian seperti ini

aku tak bisa membawamu. Terus terang aku suka melihat pakaian tipis

itu…” kata Mahesa senyum-senyum. “Namun pakaian itu akan lebih

banyak mengundang malapetaka…”

“Kalau saja aku punya pakaian lain…”

Mahesa melemparkan sehelai baju dan celana panjang putih yang selalu

dibawanya dalam kantong perbekalan. “Pakai itu,” katanya.

“Sekarang?” Tanya Ratu Mesum.

“Lalu kapan lagi?”

Ratu Mesum mengambil pakaian itu. Biasanya dia tidak akan malu-

malu membuka pakaiannya dihadapan lelaki yang disukainya. Namun

sekali ini entah mengapa dia merasa jengah dan berkata: “Balikkan

tubuhmu, aku mau ganti pakaian.”

Mahesa tertawa lalu membalikkan tubuh sementara Ratu Mesum

membuka pakaian merahnya dan mengenakan pakaian yang diberikan

Mahesa.

“Nah, dalam pakaian itu kau bukan saja kelihatan cantik, tapi juga

gagah!” Mahesa memuji setelah dilihatnya Ratu Mesum selesai

berpakaian.

Senang menerima pujian itu Ratu Mesum berkata: “Ada satu hal yang

aku kawatirkan mengenakan pakaian seperti ini. Aku tidak bias lagi

menebar hawa harum beracun seperti yang kulakukan dengan baju merha

itu…”

Mahesa belum pernah melihat Ratu Mesum menebar hawa harum

beracun. Tapi dua punya pertimbangan lain. “Kau harus belajar supaya

dapat menebarhawa itu dari kedua ujung lengan pakaianmu. Itu bisa kau

lakukan lebih cepat karena tidak perlu membuat gerakan yang

merepotkan!”

“Astaga! Kau benar. Mengapa aku tidak memikirkannya dari dulu-

dulu…”


“Lalu kau mau panggil aku apa?” Ratu Mesum ingat para Pringgo yang

memberikan nama Mawar Merah padanya. Semula hendak dikatakannya

hal itu namun diputuskannya untuk tidak memberi tahu.

“Masakan kau tidak punya nama?” ujar Mahesa tak percaya.

Ratu Mesum menggigit bibirnya. “Aku memang pernah punya nama.

Ayahku yang memberikan. Tapi aku telah bersumpah untuk tidak

memakai nama itu lagi…?”

“Memangnya kenapa?”

Ratu Mesum hanya geleng-geleng kepala. Kedua matanya tampak

berkaca-kaca. Mahesa terdiam.

“Kalau begitu aku tak akan menanyakan hal itu lagi,” katanya.

“Terserah kau mau memanggil aku apa…” ujar Ratu Mesum.

Mahesa merenung beberapa lama. “Sulit juga memberikan nama yang

serasi untuk perempuan secantikmu,” kata pemuda itu. “Aku menemuimu

di desa Bangsalsari itu. Bagaimana kalau kau kupanggil Sari saja. Pendek,

tapi menawan dan berkesan…”

Sesaat perempuan itu menatap dalam-dalam ke mata Mahesa. Perlahan-

lahan diulurkannya tangannya memegang tangan pemuda itu. Mahesa

balas memegang. Seumur hidupnya baru kali ini perempuan itu merasakan

kebahagiaan berpegang tangan seperti itu. Dan matanya mulai tampak

berkaca-kaca.

“Kau perempuan gagah. Kau tak boleh menangis!” kata Mahesa.

“Aku menangis bukan karena sedih. Atau cengeng. Tapi karena

bahagia. Aku suka padamu… Mahesa,” kata perempuan itu sejujurnya.

Dalam hatinya perempuan ini berjanji jika pemuda itu dapat dijadikan

pautan hidupnya, dia akan merubah seluruh kehidupan sesat yang selama

ini ditempuhnya.

“Kau suka nama itu?” tanya Mahesa.

“Itu nama bagus. Aku menyukainya… Terima kasih…”

“Kalau begitu kita pergi sekarang,” kata Mahesa seraya berdiri dan

ulurkan tangan membimbing Sari.

“Mahesa malam tadi kau menyelamatkanku. Tidak mudah melakukan al

itu. Siapakah kau sebenarnya? Kau pasti seorang pendekar dengan gelar

besar…”

“Namaku Mahesa. Aku adalah aku dan tidak punya segala macam

gelar…”

“Lalu siapakah gurumu?” tanya Sari.

“Guruku adalah nasibku,” jawab pemuda itu. Kalaupun dia tidak ada

masalah dengan Kunti Kendil, tak akan diberitahukannya nama gurunya


itu. Apalagi saat itu dia memang punya masalah besar yang membuat

dirinya mengambil keputusan untuk tidak mau bertemu lagi dengan sang

guru dan untuk selama-lamanya.

Keduanya turun dari dangau. Sesaat Sari memandang pada pakaian

merahnya yang ditinggalkannya di lantai dangau itu dengan perasaan

sedih. Lalu dia membalikkan tubuh, menyusul Mahesa yang telah

melangkah lebih dulu. Namun tiba-tiba perempuan ini berseru: “Mahesa,

ada seseorang menuju kemari!”


SEMBILAN


SI PENCURI JANTUNG MASIH PENASARAN


MAHESA cepat berpaling ke arah yang ditunjuk Sari. Dari arah timur

saat itu memang tampak seseorang berlari cepat menuju ke tempat mereka.

Semakin dekat semakin jelas siapa adanya.

“Rupanya dia tahu juga kalau kita berada di jurusan ini…” kata Sari.

“Kau tetap tenang, biar aku yang melayaninya. Bila urusan ini bias

diselesaikan secara damai itu akan lebih baik…” kata Mahesa. Tapi

pemuda ini yakin urusan tidak semudah itu diselesaikan. Apalagi jika

orang itu nanti melihat mayat Parit Teguh di kolong dangau.

Yang datang adalah si kakek berpakaian hitam, Tulodong Hitam.

Sepasang matanya menatap tajam pada Sari lalu dia menyeringai. “Ratu

Mesum, kau boleh bertukar pakaian seribu kali. Kau boleh menyamar

ribuan kali tapi mataku tak bias ditipu…”

“Apa maumu?!” bentak Sari.

“Apa mauku…?! Ha… ha… ha…!” Kakek itu tertawa gelak-gelak.

“Kau masih bias bertanya begitu? Ha… ha… ha…?”

Mahesa maju selangkah, “Kakek, kalau kau mau menerima usulku, itu

akan lebih baik…”

Tulodong Hitam berpaling pada Mahesa. “Pasti kau manusianya yang

mencampuri urusan malam tadi. Berani berbuat berani bertanggung jawab.

Kau juga harus menyerahkan jantungmu padaku…”

“Dengar kek. Kau dating jauh-jauh mencapaikan diri untuk satu hal

yang tak ada kaitan langsung dengan dirimu!”

“Jelas kau membela perempuan dajal ini! Biar kau kubunuh lebih dulu!”

meradang si kakek.

“Tua bangka tolol!” bentak Sari cepat ketika dilihatnya si kakek hendak

bergerak menyerang. “Kau tidak lihat ada apa di kolong dangau itu?!”

Ucapan Sari ini membuat Tulodong Hitam berpaling kea rah bagian

bawah dangau. Berubahlah parasnya begitu melihat mayat Parit Teguh

dalam keadaan bugil. Perut ditancapi tongkat, mata mendelik dan lidah

mencelet. Rahang si kakek tampak menggembung. Gerahamnya

mengeluarkan suara bergemeletak. Didahului oleh pekik penuh amarah

Tulodong Hitam langsung melompat menerjang Sari. Tapi gebrakannya ini


dipotong oleh Mahesa. Si pemuda dorongkan tangannya ke bahu si kakek

hingga orang tua ini terhuyung-huyungan ke kiri.

“Keparat!”

Tulodong Hitam marah sekali. Dia membalik dan kini menyerbu

Mahesa.

Semula Sari ingin sekali masuk dalam kalangan perkelahian untuk

membantu Mahesa. Selain itu dia juga punya rasa dendam terhadap kakek

baju hitam itu, karena orang tua inilah yang hamper mencelakakannya,

menimbulkan cidera pada dadanya. Namun diam-diam diapun ingin sekali

untuk menyaksikan ketinggian ilmu pemuda yang entah bagaimana sejak

dilihatnya wajahnya pagi tadi langsung saja dia merasa suka kalau tidak

mau dikatakan jatuh cinta!

Tulodong Hitam kaget sekali ketika mendapat semua serangannya yang

bertubi-tubi tak satupun mengenai sasaran. Lain dari pada itu jelas-jelas

dia melihat pemuda lawannya berkelahi tidak sungguh-sungguh. Merasa

dihina dianggap enteng. Kakek ini lipat gandakan tenaga dalamnya.

Serangannya menggebu laksana hujan. Sepuluh jari kukunya

mengeluarkan cahaya hitam dan sambaran angina dingin. Namun sampai

lima jurus dimuka tetap saja dia tidak mampu berbuat apa-apa.

“Ah pemuda ini ternyata benar-benar luar biasa. Si kakek sudah

bertempur habis-habisan sebaliknya dia enak-enak saja!” kata Sari dalam

hati sambil berdecak kagum. Semakin besarlah rasa sukanya terhadap

Mahesa.

Tiba-tiba Tulodong Hitam mengeluarkan suara menggerung seperti

harimau lapar. Tubuhnya mencelat ke atas, langsung menukik dari arah

belakang. Tangan kanan menghantam dengan satu pukulan tangan kosong

yang mengandung tenaga dalam tinggi sedang kaki kiri menyusul

membabat ke kepala Mahesa! Serangan aneh itu membuat Mahesa

merunduk seraya lepaskan pukulan Makam Sakti Meletus dengan tangan

kosong. Karena secara aneh pula laksana seekor ikan dalam tanggok tubuh

Tulodong Hitam mencelat kembali ke atas dan ketika Mahesa menyadari

lawan tahu-tahu dating dari depan, keadaan sudah terlambat.

“Gila!” rutuk Mahesa.

Kaki kanan Tulodong Hitam menyambar cepat sekali ke arah mukanya.

Tak ada kesempatan untuk mengelak. Di sana yang keritis itu pemuda ini

memainkan jurus keempat ilmu silat orang buta yang didapatnya dari

pengemis Cengeng Sakti Mata Buta. Yakni jurus yang bernama: Si Buta

Mencengkeram Langit! Kedua tangan Mahesa melesat ke depan.


Gerakan jurus silat yang dikeluarkan Mahesa memiliki dua keampuhan.

Pertama dia meredam daya kekuatan tendangan lawan dan mengalihkan ke

bagian lain yang kurang berbahaya yakni ke arah bahu. Kedua,

cengkeramannyaitu mencederai pergelangan kaki lawan hingga daging

kaki Tulodong Hitam terkelupas sedang tulang keringnya remuk.

Tulodong Hitam mengeluh, tubuhnya jungkir balik di udara dan tegak

di tanah dengan miring. Sementara Mahesa terdorong keras ke tanah,

mukanya selamat dari tendangan maut, hanya tulang bahunya yang terasa

sakit!

Sari segera menubruk pemuda itu karena manyangka Mahesa cidera

berat. Dia merasa lega ketika dapatkan Mahesa suah lebih dulu melompat

dan berdiri.

Kakek berbaju hitam memandang Mahesa dengan sepasang mata

berkilat-kilat. Melihat kenyataan ini nyalinya menjadi ciut. Pemuda itu

memiliki kepandaian bukan main. Menghadapinya satu lawan satu sulit

baginya untuk menang, apalagi kakinya cidera berat begitu rupa. Kalau

sampai pula Ratu Mesum membantu si pemuda. Celakalah dia. Memikir

sampai disitu, tanpa banyak bicara lagi Tulodong Hitam putar tubuh,

tinggalkan tempat itu.

“Mahesa, aku hanya melibatkanmu pada persoalan yang sama sekali tak

ada sangkut pautnya dengan dirimu…”

Mahesa tersenyum. Kemudian dia termenung. Waktu berkelahi tadi dia

telah mengeluarkan jurus-jurus ilmu silat yang dipelajarinya dari Kunti

Kendil, termasuk pukulan sakti Makam Sakti Meletus. Setelah kejadian si

nenek menggantungkannya tempo hari apakah dia masih berhak

mempergunakan kepandaian yang diterimanya dari perempuan tua itu?

Juga apakah berhak memegang terus kayu hitam berbentuk papan nisan

yang pernah diberikan Kunti Kendil sebagai senjata yang ampuh?

“Mahesa… kau memikirkan sesuatu?” terdengar suara Sari serta

sentuhan pada lengannya.

Pemuda itu sadar kalau dia barusan hanyut dibawa pikiran.

Dipegangnya lengan Sari sesaat. Dia harus mengambil keputusan. Dia

tidak boleh mempergunakan ilmu kepandaian yang didapatkannya dari

Kunti Kendil. Dia tidak boleh melancarkan pukulan-pukulan sakti yang

dipelajarinya dari nenek itu. Segala yang berbau Kunti Kendil harus

dikikis habisnya. Bukankah dengan jalan menggantungkannya

sesungguhnya nenek itu telah memutuskan hubungan mereka sebagai guru

dan murid?!


“Sari, maukah kau mengantarkan aku ke pegunungan Iyang?” Mahesa

ajukan pertanyaan itu.

“Kemanapun kau mengajak aku akan ikut bersamamu Mahesa…”

Namun selintas pikiran muncul pula dibenak Mahesa. Jika dia pergi ke

puncak Iyang untuk mengembalikan Papan Nisan Kayu Hitam, berarti dia

membuka rahasia bahwa sebenarnya dia masih hidup. Bukankan dia lebih

suka kalau si nenek menganggapnya sudah mati? Seperti yang telah diatur

oleh sahabat-sahabat tujuh orang katai itu?

“Tidak jadi Sari. Kita tidak jadi ke sana…”

“Hai, bagaimana kau berubah pikiran secepat itu?”

Mahesa tak menjawab, melainkan keluarkan Papan Nisan Kayu Hitam.

Melihat benda aneh itu Sari kerenyitkan kening keheranan.

“Benda apa itu Mahesa…?”

“Ini senjata aneh pemberian guruku. Tapi sejak beliau memutuskan

hubungan sebagai guru dan murid, aku merasa tidak berhak lagi membawa

apa lagi mempergunakannya…. Aku harus mengubur senjata ini disatu

tempat!”

“Aku tidak mengerti Mahesa!”

“Suatu waktu akan kuceritakan semuanya padamu. Mari…”

Mahesa lari kea rah selatan, diikuti Sari. Disatu tempat di dalam sebuah

hutan kecil, dibawah sebatang pohon lamtorogung Mahesa menggali

sebuah lubang. Kayu hitam berbentuk papan nisan itu kemudian dipendam

di dalam lubang itu. Juga dikeluarkan obat ampuh berbentuk hijau bulat

yang masih bersisa sebuah dari balik pakaiannya dan dicampakkannya ke

dalam lobang. Dibantu oleh Sari lobang itu ditimbunnya kembali.

“Selamat tinggal guru. Maafkan segala kesalahanku. Kini aku tak ada

beban derita apa-apa lagi!” kata pemuda ini dalam hati. Lalu dipegangnya

lengan Sari. Keduanya meninggalkan tempat itu menuju ke barat.


SEPULUH


GEROBAK MISTERIUS


DUA ORANG pejalan kaki berpakaian serba putih dan bertopi lebar itu

terpaksa melompat ke tepi agar tidak ditabrak sebuah gerobak yang

meluncur kencang, ditarik oleh dua ekor kuda besar. Di belakang gerobak

mengikuti dua penunggang kuda maupun kusir gerobak masing-masing

memiliki tampang bengis, mengenakan pakaina serba biru dan membekal

golok besar di punggung masing-masing.

“Anak setan! Manusia-manusia keparat!” maki Mahesa.

“Ingin sekali aku menghajar mereka!” ujar Sari sambil menepuk debu

yang mengotori pakaian putihnya. Saat itu keduanya berada jauh di

tenggara Kawah Ijen, menyusuri jalan kecil menuju barat, kea rah gunung

Merapi. Menjelang tengah hari mereka sampai di sebuah kota kecil

bernama Pasirgambir. Karena perut sama laparnya maka yang pertama

sekali mereka cari adalah kedai makanan.

Satu-atunya kedai makanan di kota kecil itu terletak di pusat kota.

Sampai di depan kedai Mahesa berbisik; “Gerobak yang di bawah pohon

sana, bukanlah yang tadi hampir menabrak kita?”

Sari berpaling ke arah pohon yang dimaksudkan Mahesa. Memang

benar. Di bawah pohon itu tampak gerobak berikut dua kuda penariknya.

Lalu di dekat kereta kelihatan dua orang lelaki berpakaian tegak seperti

berjaga-jaga. Baik Mahesa maupun Sari tidak melihat di mana adanya

kusir gerobak.

“Jelas dua orang itu mengawal gerobak. Rupanya ada barang penting

atau berharga did lam gerobak,” kata Sari. Bersama Mahesa dia kemudian

masuk ke dalam kedai makanan. Ketika mengambil tempat duduk di sudut

kiri, mereka melihat lelaki yang menjadi kusir gerobak duduk di sudut

lain, tengah makan dengan lahap. Selesai makan dia pergi ke pintu dan

melambaikan tangannya. Sesaat kemudian muncul dua kawannya yang

tadi mengawal gerobak.

“Kalian makanlah. Aku akan menjaga gerobak. Cepat. Waktu kita tidak

banyak!”


Dua lelaki berpakaian biru masuk ke dalam kedai. Pengemudi gerobak

keluar dang anti berjaga-jaga dekat gerobak.

“Ingin sekali tahu apa isi gerobak itu,” kata Mahesa.

“Cukup sulit. Selain terus dijaga juga bagian belakang gerobak ditutup

rapat dengan terpal tebal,” sahut Sari.

“Aku ada akal. Habiskan cepat makananmu!” kata Mahesa.

Selesai makan pemuda ini mendekati dua orang berpakaian biru yang

baru pula menghabiskan makanannya.

“Kawan,” ujar Mahesa menegur. “Kulihat kalian membawa barang.

Bias kusewa untuk mengangkut barang milikku?”

“Gerobak sudah penuh. Lagi pula kami ingin cepat!” jawab seorang

lelaki berpakaian biru.

“Ah saying. Aku sanggup membayar mahal. Ke mana tujuan kalian?”

“Ke mana tujuan kami itu bukan urusanmu!”

Kedua orang itu berdiri. Mahesa keluarkan sekeping perak dari saku

pakaiannya. “Perak ini untuk kalian, jika aku bisa ikut dengan gerobak

kalian…”

Melihat kepingan perak yang begitu besar dan tentu mahal harganya

kedua orang itu jadi terkesiap. Keduanya berunding. Yang seorang lalu

melangkah ke pintu memanggil kawannya. Sewaktu kusir gerobak

mendatangi, diam-diam Sari menyelinap keluar.

“Ada apa?” tanya pengemudi gerobak.

Dua kawannya menerangkan maksud Mahesa yang hendak ikut

bersama mereka, membawa sejumlah barang yang membayar dengan

kepingan perak besar itu.

Mendengar keterangan dua kawannya itu, marahlah pengemudi

gerobak.

“Kacoak-kacoak tolol! Jangan mencari penyakit. Urusan kita belum

selesai. Terlambat sampai bukan saja kita tak akan mendapat bayaran!

Tapi juga hukuman berat! Apa kau lupa hal itu?!”

Mendengar kata-kata pengemudi gerobak yang agaknya menjadi

pimpinan dalam rombongan itu dua lelaki berpakaian biru hanya bisa

angkat bahu. Tanpa berpaling lagi pada Mahesa keduanya keluar dari

kedai makanan, diikuti pengemudi gerobak. Sesaat rombongan itupun

berlalu.

Mahesa temui Sari yang tegak di tepi jalan.

“Apa yang kau dapat?” tanya pemuda ini.


Sari membuka tangan kirinya yang dikepalkan. Pada telapak tangan

perempuan ini Mahesa melihat setumpuk kecil bubuk berwarna hitam dan

berkilauan terkena sinar matahari.

“Emas hitam…?” ujar Mahesa sambil perhatikan bubuk itu.

Sari tertawa geli. Perempuan yang lebih banyak pengalaman dari

Mahesa ini berkata: “Mana ada emas hitam. Coba kau cium…” Sari

mendekatkan telapak tangannya ke hidung Mahesa. Ketika pemuda ini

mencium terasa bau menusuk yang membuatnya hampir terbatuk-batuk.

“Bubuk edan celaka apa ini?! Ujar Mahesa lalu gosok-gosok hidungnya.

“Ini bubuk bahan peledak!” kata Sari.

“Bahan peledak?” Mahesa kerenyitkan kening dan perhatian lagi bubuk

di tangan Sari lalu geleng-gelengkan kepala.

“Di gerobak itu kulihat ada delapan karung bubuk seperti ini. Cukup

untuk menghancurkan empat buah kota atau dua buah bukit besar atau

sebuah gunung!” Sari memberi keterangan lagi.

“Bagaimana kalau kita ikuti rombongan itu!”

“Hai! Itulah yang ingin kulakukan! Mari!”

Maka kedua orang itupun berkelebat melakukan pengejaran. Sari yang

berada di depan bertindak cerdik. Dia tidak lari menyusuri jalan biasa

tetapi mengambil jalan memotong menuju puncak sebuah bukit. Dari sini

mereka dapat meneliti daerah di bawah mereka dengan jelas. Dan gerobak

berikut dua pengawalnya segera terlihat di sebelah barat, bergerak menuju

ke timur, menempuh satu-satunya jalan yang ada. Di sebuah timur terlihat

tiga buah gunung yakni gunung Suket, gunung Pendil lalu gunung Merapi.

“Kita bisa sampai di kaki gunung Suket jauh lebih cepat dan menunggu

di suit. Seterusnya kita bayangi gerakan mereka,” kata Sari.

“Kau cerdik!” memuji Mahesa.

“Kau ingat ucapan pengemudi gerobak ketika dua kawannya

mengatakan kita hendak ikut mereka? Kusir gerobak itu marah besar.

Menyebut soal pembayaran dan hukuman! Nah aku punya dugaan keras

ada satu rencana besar dibalik delapan karung bahan peledak itu.”

“Menurutku begitu…”

Kedua berunding terus sambil menuruni bukit menuju ke timur. Mereka

harus menunggu cukup lama di kaki gunung Suket baru rombongan yang

mereka intai sampai di situ lalu terus menguntit menuju ke timur.

Sampai rembang petang, rombongan yang mereka ikuti hanya berganti

satu kali yakni untuk memberi minum empat ekor kuda di sebuah kali

dangkal. Setelah itu rombongan bergerak cepat kembali kea rah timur,


melewati kaki gunung Pendil, berputar di sebuah lemabh lalu terus lagi ke

timur.

“Kurasa mereka menuju gunung Merapi,” kata Mahesa.

Sari hentikan larinya tiba-tiba.

“Ada apa?” tanya Mahesa heran.

“Pernah mendengar rencana pendirian sebuah partai persilatan yang

mangambil tempat di gunung Merapi?”

Mahesa menggeleng.

“Kabar itu tersiar sejak dua bulan lalu. Disiarkan dari mulut ke mulut.

Semua orang dalam rimba diundang tanpa terkecuali. Kurasa

peresmiannya dalam minggu ini juga.”

“Siapa orang yang punya rencana besar itu?”

“Tak satu orangpun tahu. Yang membuat banyak para tokoh gologan

hitam dan putih penasaran ialah terbetiknya berita bahwa yang melakukan

peresmian partai persilatan itu langsung saja mengangkat diri sebagai

ketua. Padahal siapa dirinya dan sampai di mana kehebatannya tidak

diketahuai…”

“Kurasa dia pasti memiliki apa-apa. Kalau tidak masakan berani

bertindak gegabah begitu. Tidak memandang sebelah matapun pada para

tokoh silat di Jawa Timur ini…. Menurutmu siapa yang punya kerja ini?”

Sari geleng-geleng kepala. “Tak bisa kuduga. Selain banyak tokoh-

tokoh silat yang lenyap begitu saja dari rimba persilatan, terdapat pula

tokoh baru yang coba bikin nama dengan membuat gebrakan-gebrakan

tertentu…”

“Seperti kau misalnya!” kata Mahesa menggoda.

Godaan ini membuat Sari menjadi merah wajahnya, terpekik dan

langsung menghujani pemuda itu dengan cubitan hingga Mahesa menjerit

kesakitan lalu tertawa gelak-gelak. Karena Sari belum menghentikan

cubitannya maka Mahesa membalas dengan mengelitik. Kini perempuan

itu yang ganti terpekik-pekik. Kegelian tetapi juga senang. Dia ingat betul

kegembiraan itu hanya dirasakan dulu sewaktu masih kecil, bercanda dan

bergelut dengan kawan-kawan sebaya. Mengalami kegembiraan seperti itu

kembali membuat Sari semakin dalam menyukai Mahesa. Dia tahu

pemuda itupun menyukainya. Dia tahu Mahesa bukan seorang pemuda

bodoh yang tidak mengerti kenikmatan apa yang bisa didapat dari

hubungan antara lelaki dengan perempuan. Sebegitu jauh Mahesa

memperlakukannya dengan baik, malah terlalu sopan. Atau mungkin dia

takut terjerat yang bisa membawa kematian baginya seperti laki-laki

lainnya?


Berpikir sampai di situ Sari menduga-duga apakah Mahesa tahu betul

siapa dirinya di masa lampau? Disamping itu ada satu hal yang membuat

Sari heran pada dirinya sendiri. Sebelum mengenal Mahesa dia selalu

diracuni oleh nafsu hubungan badan serta nafsu membunuh yang keji.

Tetapi sejak dia kenal pemuda ini, sifat itu seperti lenyap tak berbekas. Dia

sudah merasa bahagia kalau dapat saling berpegangan tangan dengan

Mahesa. Lalu bagaimanakah kalau seandainya Mahesa tak ada

disampingnya? Daptakah dia menguasai dirinya?

“Hai! Apa yang kau lamunkan?!”

Teguran itu membuat Sari terkejut dan tersipu.

“Gerobak itu sudah jauh di depan kita. Mari kita kejar lagi…!” kata

Mahesa. Keduanya kembali berlari sementara matahari mulai memasuki

ufuk tengelamnya dan gunung Merapi tampak semakin dekat.

Ketika malam tiba rombongan pembawa delapan karung bahan peledak

itu membelok memasuki sebuah jalan kecil menuju ke lereng gunung

Merapi. Jalan ini kelihatannya baru dan sengaja dibuat. Di situ ketinggian,

dimana kuda-kuda penarik gerobak tidak mungkin lagi terus naik, kusir

gerobak hentikan kendaraannya lalu keluarkan suara bersuit tiga kali

berturut-turut.

Dari kegelapan dari belakang batu-batu gunung yang besar-besar

diantara semak belukar liar muncul delapan sosok tubuh yang luar biasa

besar dan tinggi. Manusia-manusia ini hanya mengenakan semacam cawat,

berambut gondrong, berkumis lebat dan bercambang bawuk. Tampang

mereka ganas sekali.

“Kalian terlambat dua jam dari yang ditentukan!” orang tinggi besar

paling depan keluarkan suara. Suaranya parau besar.

“Mana mungkin!” menyahuti kusir gerobak. “Perjanjaian adalah kami

harus sampai di sini beberapa saat setelah malam tiba!”

“Jangan berani melawan ketentuan yang telah ditetapkan Ketua!”

“Kami tidak melawan. Mana uang pembayaran!” kusir gerobak tampak

jengkel. Tapi baik dia maupun kawannya diam-diam merasa takut. Kalau

pecah perkelahian mereka bertiga walaupun bersenjata golok tidak akan

menang melawan delapan raksasa itu.

“Uang pembayaran kau tak usah kawatir. Kami haurs periksa dulu isi

gerobak itu!” si tinggi besar lalu memberi isyarat pada dua orang

kawannya. Yang dua ini menyingkapkan kain terpal penutup gerobak lalu

memeriksa isinya. Sesaat kemudian mereka melaporkan semuanya beres.

Entah dari mana dia mengambilnya si raksasa yang bertindak sebagai

pemimpin tahu-tahu sudah memegang sebuah kantong kain.


“Ini pembayaran kalian!” katanya seraya melemparkan kantong itu ke

arah tiga lelaki berpakaian biru.

Pengemudi gerobak cepat memungutnya.

“Kalian sudah dapat bayaran. Lekas pergi dari sini!”

Dua pengawal gerobak siap untuk berlalu, tapi pengemudi gerobak

merasa was-was lebih dulu membuka kantong kain itu dan memasukkan

tangannya ke dalam. Ketika tangan itu dikeluarkan, yang terlihat dalam

genggaman jari-jarinya bukan uang atau kepingan logam berharga

melainkan batu-batu kecil!

“Penipu!” bentak pengemudi gerobak marah. Dia hunus goloknya. Dua

kawannya serta merta pula melakukan hal yang sama.

Delapan manusia tinggi besar itu tertawa gelak-gelak. Mereka masih

terus tertawa ketika tiga bilah golok berkelebat ke arah leher, dada dan

pinggang mereka. Tahu-tahu!

Kraak!

Kraak!

Kraak!

Leher pengemudi gerobak dan dua kawannya ditekuk patah. Ketiga

orang itu mati detik itu juga.

“Lepaskan kuda-kuda gerobak! Usir bersama kuda-kuda lainnya.

Masukan gerobak ke jurang. Lenyapkan setiap tanda-tanda yang

mencurigakan. Angkat karung-karung itu ke markas!”

Sesuai dengan perintah pemimpin mereka, dua kuda penarik gerobak

dilepas lalu digebrak pergi bersama dua kuda lainnya. Delapan karung di

turunkan dari gerobak. Gerobak itu sendiri bersama tiga mayat kemudian

ditarik ke satu tempat gelap, lalu diluncurkan ke bawah jurang. Kemudian

seperti hanya mengangkat sebuah buntalan ringan, delapan lelaki bercawat

itu memanggul masing-masing sebuah karung besar dan berlari cepat ke

ats gunung.



SEBELAS


SANG KETUA BERJUBAH PUTIH TEROWONGAN DILERENG

GUNUNG


SEBELUM mengenal Mahesa, soal nyawa manusia atau membunuh

orang bagi Sari adalah semudah dan sesepele membalikkan telapak tangan.

Tidak ada rasa kasihan, apalagi rasa takut. Namun untuk pertama kali tiga

orang berpakaian biru itu dipatahkan leher mereka. Sampai-sampai

perempuan itu memegang lengan mahesa erat-erat dan tak sadara berbisik:

“Aku ngeri, Mahesa…”

“Seorang ratu sepertimu tidak boleh ngeri!” sahut Mahesa.

Kontan saja satu cubitan menyengat pemuda ini. Hampir Mahesa

terpekik kalau tidak cepat-cepat menekap mulutnya sendiri.

“Aku bukan ratu. Namaku Sari!”

Mahesa mengangguk-angguk antara meringis dan tersenyum karena

menahan sakit sekaligus juga geli. Sambil mengelus-elus pinggangnya

yang sakit Mahesa memberi isyarat agar mereka segera mengikuti delapan

orang bercawat yang membawa delapan karung bubuk peledak itu. Mereka

harus bergerak cepat, tetapi juga sangat hati-hati agar tidak menimbulkan

suara.

Makin tinggi ke atas semakin dingin udara. Disuatu lereng terjal,

delapan orang membawa karung membelok ke kanan. Mahesa dan Sari

mengikuti terus. Tak lama kemudian mereka sampai di sebuah lapangan

berdiri semacam pintu gerbang yang dibuat dari batang-batang bambu

diberi hiasan daun-daun kepala dan bendera-bendera besar warna-warni.

Bendera-bendera ini juga ada disepanjang tepi lapangan. Pada ujung

lapangan terdapat sebuah panggung kayu yang dibangun amat kokoh. Lalu

di hadapan panggung tersebut bersusun-susun puluhan batang bambu yang

dibentuk menjadi bangku-bangku panjang.

“Apa yang kau katakan mungkin betul Sari. Agaknya di sini akan

dilakukan upacara peresmian partai itu…”

Sari mengangguk lalu menunjuk ke depan. “Lihat…” bisiknya.

Delapan orang yang membawa karung berisi bubuk peledak berhenti di

tepi lapangan sebelah kiri, dekat samping gunung yang ditumbuhi pohon-

pohon berlumut serta batu-batu besar. Mereka menurunkan karung tadi di

depan kaki masing-masing. Lalu yang bertindak selaku pimpinan

terdengar berteriak.

“Ketua! Kami sudah sampai!”

Suara teriakan orang ini mendtangkan gema yang panjang di seantero

lereng gunung tanda dia memiliki tenaga luar biasa. Tahu-tahu sesosok

tubuh bungkuk berjubah putih muncul di lereng gunung itu.


“Hai, dari mana mahkluk bungkuk itu muncul?” tanya Sari heran.

“Pasti ada pintu rahasia di lereng situ. Mari kita mencari tempat

mengintai lebih dekat agar bisa melihat jelas tampang si bungkuk itu. Tapi

hati-hati…”

Mahesa dan Sari bergerak dibalik-balik pepohonan. Pada jarak paling

dekat yang bisa mereka capai, keduanya kecewa. Ternyata orang bertubuh

bungkuk itu menutupi wajahnya dengan sejenis cadar tipis berwarna

hitam.

“Ketua! Kami menunggu perintahmu selanjutnya!” kembali terdengar

suara di tinggi besar.

“Lakukan pekerjaan kalian sesuai petunjukku sebelumnya. Ingat,

semuanya harus selesai sebelum matahari terbit! Laporkan padaku jika

pekerjaan kalian selesai!

Habis berkata begitu, orang bungkuk berjubah putih itu bergerak ke kiri

dan tahu-tahu tubuhnya lenyap seperti ditelan gunung!

Delapan lelaki bertubuh raksasa mengangkat kembali karung-karung

berisi bahan peledak itu. Mereka melangkah ke ujung lapangan.

Disamping panggung besar terdapat tangga tanah menurun. Di sebelah

bawah tangga terlihat sebuah lobang berkurun dua meter persegi yang

ditutup dengan papan jati. Papan ini terbuka ketika orang terdepan

menekan sebuah tombol rahasia. Lalu satu demi satu ke delapan orang itu

memasuki lobang tersebut dan papan jati menutup kembali.

“Bagaimana menurutmu. Kita ikuti mereka sampai ke dalam lobang

itu?” tanya Sari.

Mahesa gelengkan kepala. “Tunggu saja sampai mereka keluar. Kita

tidak tahu apa yang ada di dalam sana. Sekali terjebak bisa celaka!”

Ternyata keduanya harus menunggu lama. Pada saat langit di sebelah

timur mulai kelihatan kemerahan, papan penutup lobang terbuka. Satu

demi satu delapan lelaki raksasa keluar. Yang tadi bertindak sebagai

pemimpin kembali berseru. Tak lama kemudia manusia bungkuk itu

muncul, si tinggi memberi laporannya.

“Bagus… bagus. Sekarang empat orang dari kalian harus segera ke desa

itu. Bawa kemari semua makanan dan minuman yang telah dipesan.

Sementara itu aku akan menyiapkan ramuanku. Ingat, pada saat matahari

terbit yang berempat itu sudah harus berada di sini!”

Orang bungkuk berjubah putih itu kembali lenyap di lamping gunung.

Empat lelaki tinggi besar meninggalkan tempat itu sedang empat lainnya

berjaga-jaga di empat sudut lapangan. Seorang diantaranya tepat di dekat

lobang yang bertutupkan papan jati.


“Kita harus tahu apa yang ada di bawah lobang itu,” kata Mahesa.

“Penjaga yang satu itu harus disingkirkan dulu!”

“Aku sanggup menotoknya!” kata Sari.

Mahesa punya rencana lain, tapi perempuan itu telah melemparkan

sebutir batu yang tepet mengenai urat besar dipangkalan leher lelaki

raksasa yang ada dekat lobang. Kontan manusia ini tidak bisa buka suara

tidak bisa bergerak. Dengan cepat Mahesa dan sari menyelinap mendekati

lobang. Ketika coba dibuka papan jati yang kokoh itu tak bergerak

sedikitpun.

“Hantam saja biar jebol!” mengusulkan Sari.

“Jangan bodoh. Sekali mereka melihat kerusakan pada papan ini, kita

akan mati konyol di dalam sana. Pasti ada alat rahasia untuk membuka

penutup lobang ini…” Mahesa menyelidik dan meraba-raba kian kemari.

Di sudut kiri penutup lobang, tersenyum diantara kepingan-kepingan batu

gunung kelihatan sebuah kayu hitam menonjol kepermukaan. Mahesa

menggerak-gerakan kayu ini. Tidak trjadi apa-apa. Tetapi begitu kayu

ditekan, perlahan-lahan papan jati penutup lobang membuka. Mahesa

melompat msuk, menyusul Sari. Papan jati kemudian menutup dengan

sendirinya.

“Edan! Gelap sekali!” desis Mahesa. “Manusia-manusia raksasa itu tak

mungkin bergerak leluasa kalau tidak ada penerangan.” Mahesa lalu

keluarkan korek api yang biasa dipakainya untuk menyalakan rokok

kawung. Sesaat lobang itu menjadi terang.

“Ada obor di dinding sana…” bisik Sari.

Ternyata pada dinding lobang sebelah kanan tergantung delapan buah

obor. Mahesa menyalakan dua buah obor. Dengan masing-masing

memegang saru obor kini mereka dapat melihat keadaan dalam lobang itu.

Dari tempat mereka berdiri, lobang itu tampak lurus ke depan sepanjang

dua tombak. Lalu membelok ke kanan. Dari sini lobang membentuk

terowongan lurus sepanjang puluhan tombak dimuka lobang lain di

sebelah kanan. Lalu sepuluh tombak dimuka lobang lain di sebelah kiri.

Begitu terus berselang saling sampai delapan lobang. Empat di kiri, empat

di kanan. Pada setiap lobang yang delapan ini Mahesa dan Sari

menemukan sebuah karung berisi bubuk peledak itu. Setiap karung

dihubungkan satu dengan lainnya dengan seuntai tali yang dibasahi dengan

senjata minyak yang mudah terbakar.

“Hati-hati Sari,” memperingatkan Mahesa. “Tali-tali ini mengandung

minyak yang mudak terbakar. Jauhkan obormu!”


Delapan tali dari delapan karung dibuhul menjadi satu, dihubungkan

dengan sebuah tali besar. Tali besar ini melintang sepanjang atap

terowongan. Ketika diteliti ternyata menembus ke atas pada ujung sebelah

selatan.

“Apa arti semua ini Mahesa…?” tanya Sari.

“Akupun tak dapat menerka,” jawab Mahesa. Otaknya bekerja keras.

“Jika kuukur-ukur, delapan karung berisi bubuk peledak itu semuanya

berada diatas deretan bangku-bangku panjang yang terbuat dari bambu.

Lalu tali besar ini menembus ke atas kira-kira disekitar panggung kayu.

Eh, kau benar. Apa artinya semua ini…?”

Saripun berpikir keras. Namun kedua orang itu belum dapat

memecahkan rahasia di balik apa yang mereka saksikan di dalam

terowongan itu. Dari tiga manusia raksasa itu menemukan kawan mereka

yang dekat pintu lobang berada keadaan tertotok mereka mungkin akan

menyelidik sampai ke sini.

“Sebaiknya kita cepat-cepat kembali ke lobang jalan masuk tadi.”

Mahesa menyetujui ucapan Sari itu. Keduanya bergegas menuju lobang

keluar. Justru pada saat itu di ujung lobang tampak cahaya menyeruak.

“Celaka! Ada yang masuk!” bisik Sari.

“Kurasa mereka sudah mengetahui ada kawan yang dibokong. Matikan

obor!”

Sari dan Mahesa meniup pada obor yang mereka bawa. Mahesa lalu

menancapkan kayu obor ke tempat semula di dinding terowongan. Di

ujung sana kelihatan dua pasang kaki-kaki besar menuruni lobang. Dua

orang lelaki bertubuh raksasa masuk ke dalam terowongan. Mereka

menyalakan dua buah obor lalu bergerak lebih ke dalam. Jelas keduanya

melakukan penyelidikan. Tak berapa lama keduanya kembali menuju ke

lobang keluar. Yang disebelah belakang berkata pada temannya.

“Aneh, tak ada siapa-siapa di dalam sini. Tak ada yang mencurigakan.

Semua dalam keadaan semula. Lalu bagaimana si jelek satu itu bisa kaku

dan bisu kalau tidak ditotok orang?!”

“Jangan-jangan dia mempermainkan kita!”

“Terlalu edan kalau saat seperti ini ada yang berani bergurau. Apa perlu

kejadian ini diberitahu pada Ketua?”

“kalau diberitahu kita yang bakal didamprat!”

“Jika begitu kurasa ada baiknya kita meneliti sekali lagi seluruh

terowongan!”

“Gila! Kita sudah memeriksa setiap jengkal dari terowongan itu. Tikus

bahkan setanpun tak bakal luput dari penglihatan kita. Kita tak punya


waktu banyak. Hari sudah terang. Lagi pula tidaklah kau lihat sudah ada

beberapa tamu yang muncul walau mereka masih belum masuk ke dalam

lapangan upacara?”

“Baiklah. Kita keluar saja dari sini!”

Kedua orang itu memadamkan api obor lalu membuka papan jati

penutup lobang dan keluar satu demi satu.

Kembali ke dalam terowongan.

Mahesa dan Sari melompat turun dari langit-langit terowongan di mana

tadi mereka memepetkan diri serata mungkin dengan bersitekan pada dua

telapak tangan serta ujung kaki ke dinding paling atas terowongan. Tubuh

masing-masing mandi keringat kerena tegang.

“Bagaimana sekarang?” tanya Sari.

“Kita harus menunggu kesempatan. Kita harus keluar dari sini. Jika hari

ini benar diadakan upacara peresmian partai itu, pada puncak acara, ketika

semua perhatian tertuju pada upacara, kurasa kita punya kesempatan untuk

menyelinap keluar dari tempat ini…”

“Lalu kita bergabung dengan para tamu, ikut duduk menyaksikan

jalannya upacara!” menyambung Sari.

“Bisa saja begitu. Tapi…” mendadak Mahesa ingat sesuatu. Upacara

peresmian partai itu merupakan satu kejadian besar dalam dunia persilatan.

Mungkin hanya sekali dalam sepuluh bahkan mungkin sekali dalam dua

puluh lima tahun. Tidak dapat tidak akan banyak tetamu yang datang,

terdiri dari tokoh-tokoh silat di delapan penjuru angin. Bukan mustahil

gurunya Mahesa lebih suka menyebut sebagai bekas gurunya yaitu si

nenek bernama Kunti Kendil akan datang ke tempat itu. Jika dia muncul

pula di antara para tamu, pasti si nenek akan melihatnya. Padahal dia lebih

suka bahwa nenek itu menganggapnya sudah mati. Lain dari pada itu besar

kemungkinan si dukun jahat Embah Bromo Tunggal ikut hadir. Berarti dia

bisa memenuhi permintaan tujuh manusia katai untuk mendapatkan

kembali kitab silat yang dicuri kakek tersebut. Sekaligus dia juga harus

berusaha mendapatkan kembali Keris Naga Biru yang tempo hari dilarikan

sang dukun.

Kalau dia tidak ingin dikenali oleh gurunya, hanya ada satu jalan. Dia

harus melindungi wajahnya dengan sesuatu. Mungkin dengan topeng atau

kain penutup muka. Tetapi di tempat seperti itu di mana pula dia akan

mendapatkan topeng atau kain?!

“Hai! Kau seperti memikirkan sesuatu atau melamun?” menegur Sari.

“Tadi kau mengatakan tapi. Tapi apa…?”


“Jika kita muncul di antara para tamu, aku tak ingin tampangku dikenali

orang.”

“Hai! Kau malu karena mukamu jelek?!” menggoda Sari.

“Amggap saja begitu,” sahut Mahesa.

“Lalu apa yang hendak kau lakukan?”

“Aku butuh topeng, cadar, kain! Pokoknya apa saja yang bisa

menyembunyikan wajahku…”

“Hemm… kalau Cuma begituan mengapa haurs kawatir?!” ujar Sari.

“Apa meksudmu?” tanya Mahesa.

Dari balik pakaiannya perempuan itu mengeluarkan secarik lembar kain

berwarna merah.

“Dari mana kau dapat kain itu?” Mahesa bertanya heran.

“Bekas pakaianku. Waktu melepaskan pakaian merahku di sawah itu,

aku sengaja merobek salah satu bagiannya. Sekedar untuk kenang-

kenangan. Siapa tahu saat ini besar gunanya!” lalu jari-jari tangan yang

halus mungil perempuan itu bergerak cepat. Merobek, membuhul,

merobek lalu membuhul lagi. Tak lama kemudian potongan kain itu telah

berubah menjadi kantong. Setiap memiliki dua lobang.

“Kau mau yang mana?” tanya Sari seraya mengoyang-goyangkan

kantong itu. Satu di tangan kiri satu lagi di tangan kanan.

“Kau bener-bener cerdik. Pandai dan… dan cantik!” ujar Mahesa lalu

menyambar kantong merah di tangan kiri Sari. Kantong langsung

disusupkannya ke kepala. Keseluruhan kepalanya mulai dari rambut

sampai ke pangkal leher kecuali sepasang mata kini tertutup, tak mungkin

dikenali!

Sari menyusul menutupi kepalanya dengan kantong kain yang satu lagi.

“Terus terang aku banyak musuh. Sekali mereka mengenali wajahku,

mereka akan mencegatku seusai upacara. Lain dari itu, aku tak mau ke

ucemburu kalau ada pendekar-pendekar muda yang terus-terusan

memandangku. Hik… hik… hik…” perempuan itu tertawa cecikikan.

“Kalau bukan di sini tempatnya, pasti kau kugelitik sampai terkencing-

kencing!” kata Mahesa pula. Lalu dia memberi isyarat agar Sari mengikuti.

Dengan hati-hati Mahesa mengungkit papan jati penutup lobang dan

mengintai.

Di atas panggung saat itu dilihatnya makanan dan minuman terletak dua

buah meja panjang. Di sebelah depan meja panjang terdapat satu meja

kecil berikut kursi. Baik kursi maupun meja bentuknya bagus sekali.

Terbuat dari kayu jati berukiran halus.


Saat itu lebih dari separuh bangku-bangku panjang yang terbuat dari

batang-batang bambu telah terisi oleh tamu. Sayang dari tempat mengintai

Mahesa tak dapat melihat dengan jelas wajah-wajah para tamu itu.

Kemudian dilihatnya pula delapan lelaki bercawat bertubuh raksasa tegak

di delapan sudut lapangan, berarti lobang keluar masuk terowongan itu

tidak ada penjaga. Setelah meneliti keadaan beberapa lamanya, Mahesa

buka lebar-lebar papan jati dan melompat keluar. Sari mengikuti dari

belakang. Keduanya lari menuruni lereng gunung menjauhi tempat itu lalu

berputar ke selatan akhirnya kembali lagi ke tempat upacara dari arah

pintu masuk. Orang-orang yang sudah lebih dulu hadir di tempat itu,

termasuk delapan manusia raksasa menganggap kedua orang ini adalah

dua tamu yang baru datang dan dipersilakan mengambil tempat duduk.

Akan hal kain-kain merah penutup kepala mereka atau penampilan yang

aneh-aneh merupakan hal yang terbiasa di kalangan tokoh-tokoh

persilatan.



DUA BELAS



MISTERI DELAPAN KARUNG BAHAN PELEDAK


MAHESA DAN SARI sengaja mengambil tempat duduk agak ke

belakang. Hal ini agar orang banyak yang telah lebih dulu datang tidak

memperhatikan keduanya, sebaliknya mereka bisa memperhatikan para

tetamu itu dari belakang.

“Banyak yang kau kenal…?” tanya Mahesa berbisik.

 Sari mengangguk. “Banyak, tapi hampir semua orang-orang yang

selama ini mencariku. Musuh-musuhku!”

Mahesa melihat Pendekar Muka Tengkorak Suko Inggil duduk lima

bangku di depannya. Kakek ini duduk tenang-tenang sambil menghisap

rokok kawungnya. Setelah sekian lama tidak bertemu, ingin sekali Mahesa

mendatangi orang tua itu. Tetapi tentu saja dia tidak mau dirinya diketahui

orang.

Du jurusan lain dilihatnya dua orang lelaki berpakain kuningmembekal

keris di pinggang masing-masing. Ketika diperhatikan Mahesa segera

mengenali salah seorang diantaranya yakni Made Tantre, pendekar Bali

yang bergelar Tangan Dewa Dari Klungkung. Seperti diceritakan dalam


jilid ke-6 pendekar ini telah menjadi hitam dan cacat tangan kanannya

ketika berkelahi melawan Wirapati.

Mahesa juga melihat kakek berjanggut putih berjuluk Malaikat Maut

Berkuda Putih. Kakek itulah dulu yang pernah menyelamatkan jiwanya

dari tangan Datuk Iblis Penghisap Darah ketika bertempur di Bukit

Akhirat. (Baca jilid ke-2). Si kakek kelihatan semakin tua. Apakah dia

telah berhasil menemui muridnya yang hilang tak tentu rimbanya itu, tanya

Mahesa dalam hati.

Sepasang mata Mahesa mencari-cari orang yang paling tak ingin

ditemuinya tetapi justru ingin mengetahuinya apakah juga berada di situ.

Orang ini bukan lain adalah si nenek gurunya sendiri yakni Kunti Kendil.

Mahesa merasa pasti nenek itu tidak ada di situ.

Ada rasa kecewa, tetapi hatinya juga agak lega. Selanjutnya Mahesa

coba menemukan apakah dukun jahat Embah Bromo Tunggal berada di

tempat tersebut. Diapun tidak melihat manusia satu ini, juga tidak tampak

Datuk Iblis Penghisap Darah. Jelas jika tak ada si nenek, Kunti Kendil, tak

akan ada pula sang datuk. Bukankah mereka sudah menjadi suami istri?

Mahesa memegang tangan Sari. “Ingat dukun jahat bernama Embah

Bromo Tunggal yang kuceritakan padamu itu? Juga pemuda gila

berkepandaian tinggi bernama Wirapati bergelar Iblis Gila Tangan

Hitam?”

“Mereka ada di sini…?” balik bertanya Sari yang ingin sekali melihat

langsung orang-orang itu.

“Mereka tidak ada…” menjelaskan Mahesa. Lalu diapun teringat pada

Kemala. Apalagi gadis cantik berbaju kuning yang pernah menjadi

kenangannya itu masihbersama-sama Wirapati?

Seorang tamu baru memasuki tempat upacara. Orang ini mengenakan

jubah putih dan sorban tinggi. Di tangan kirinya tergenggam seuntai tasbih

hijau. Mahesa segera mengenalinya yaitu Ki Sandakan, ketua pesantren

Nusa Barung.

“Tak banyak yang menerimaku di sini. Bagaimana kalau kita pergi

saja…” kata Mahesa.

Sari tampaknya tidak menyetujui ajakan itu. “Jauh-jauh kita datang

kemari. Sudah sampai hendak pergi begitu saja. Bukankah kita ingin tahu

partai apa yang akan diresmikan di tempat ini. Siapa ketuanya. Siapa

manusia bungkuk misterius bercadar yang membuat acara ini. Lalu kitapun

belum memecahkan rahasia terowongan itu.”

“Kalau kau memang suka tetap di sini, aku hanya menurut saja,” kata

Mahesa mengalah walau dia kecewa tidak melihat Embah Bromo Tunggal


di tempat itu. Berarti dia tidak akan dapat menemukan Keris Naga Biru.

Lebih penting dari itu dia tak mungkin mendapatkan kitab ilmu silat tujuh

orang katai yang harus dicarinya itu.

“Ada sepasang tamu yang datang…” tiba-tiba Sari berbisik.

Mahesa berpaling. Lututnya bergetar. Dadanya berdebar. Bagaimana

tidak. Salah seorang dari tamu itu adalah bekasa gurunya, si nenek Kunti

Kendil! Perempuan tua ini tampak semakin tua. Pakaiannya kotor,

rambutnya awut-awutan. Dia melangkah terpincang-pincang diikuti

seorang lelaki gagah berusia sekitar empat puluh lima tahun, berambut

pendek warna kelabu. Mahesa bertanya-tanya dalam hati saja dia ingat!

Lelaki itu bukan lain adalah Lembu Surah alias Datuk Iblis Penghisap

Darah, suami si nenek yang muncul tanpa topeng! Dan Mahesa merasa

dadanya lebih sesak karena kedua orang itu duduk hanya terpisah dua

bangku di depan mereka!

“Kulihat kau tidak tenang,” berkata Sari sambil menyentuh lengan

Mahesa. “Kau kenal kedua tamu yang baru datang itu…?”

Mahesa cepat menggeleng.

“Hai, aku tahu kau gugup. Aku tahu kau pasti kenal nenek jelek dan

lelaki gagah berambut kelabu itu!” kata Sari lagi.

Mahesa merasakan tenggorokannya kering dan mulutnya asam. Maka

dia keluarkan rokok kawungnya. Ketika hendak menyulut rokok ini

mendadak dia mendengar suara halus seperti ngiangan nyamuk di

telinganya.

“Pemuda tolol! Dengan merokok begitu sama saja kau membuka kedok

siapa dirimu!”

Astaga! Mahesa tersentak kaget. Rokok kawung yang hendak

dinyalakan terlepas jatuh dari tangannya. Dia memandang berkeliling.

Mencari-cari. Siapa orang yang tadi bicara dengan mengerahkan

kepandaian menyampaikan suara jarak jauh! Tak mungkin Kunti Kendil.

Tak mungkin pula Lembu Surah. Apalagi si kakek muka tengkorak yang

duduk jauh di ujung sana. Lalu siapa? Mahesa kembali memandang

berkeliling.

“Siapa yang tengah kau cari?” tanya Sari.

“Ada seseorang bicara dari jauh padaku…” menerangkan Mahesa. Dan

pemuda ini memandang berkeliling mencari-cari. Tiba-tiba dia lihat orang

itu. Seorang kakek berpakaian compang-camping. Bermata buta dan duduk

seperti acuh tak acuh.

“Gembel Cengeng Sakti Mata Buta!” seru Mahesa dalam hati begitu dia

mengenali siapa adanya kakek itu. Tokoh sakti yang diketahuinya


merupakan tokoh silat nomor satu saat itu. Kakek yang bersifat aneh,

mudah menangis inilah yang dulu pernah mengajarkannya jurus-jurus silat

yang luar biasa yakni jurus ilmu silat orang buta!

“Ah, dia masih seperti dulu-dulu juga. Apakah masih suka main catur?

Aku harus menemuinya!” Mahesa lalu berdiri. Namun saat itu pula

kembali terdengar suara mengiang di kedua telinganya.

“Lagi-lagi kau bertindak tolol. Tetap duduk di tempatmu! Sekarang

bukan saatnya untuk mengobrol!”

Mau tak mau Mahesa terpaksa duduk kembali. Kalau saja dia bisa

menyampaikan suara jarak jauh seperti kakek itu banyak hal yang akan

ditanyakannya. “Manusia luar biasa! Kedua matanya buta. Kepalaku

tertutup kain merah. Aku duduk cukup jauh dari dia. Bagaimana kakek itu

bisa mengenali dan mengenali dan mengetahui aku ada di sini? Bagaimana

pula dia bisa sampai di tempat upacara ini tanpa ada yang membawanya?

Benar-benar luar biasa! Apakah adiknya si mata biru juga hadir di tempat

ini?”

Selagi berkata-kata dalam hati seperti itu Mahesa kembali memandang

berkelilingnya. Dilihatnya Pendekar Muka Tengkorak tengah menyalakan

lagi sebatang rokok kawung. Semakin asam rasanya mulut Mahesa.

“Anak setan betul! Aku tak bisa merokok. Aku tak bisa mendekati

kakek cengeng itu. Bagaimana kalau aku menemui si muka tengkorak?”

Mahesa melirik pada gembel Cengeng Sakti Mata Buta lalu memamdang

lagi pada kakek muka tengkorak yang asyik menyedot rokok kawungnya

tanpa melepaskan rokok itu dari sela bibirnya. Angin di lereng gunung itu

keras sekali hingga rokok yang baru dinyalakan si kakek padam apinya.

Ketika melihat nyala api penyulut rokok itu mendadak Mahesa teringat

pada delapan karung peledak yang dihubungkan dengan tali berminyak.

Kalau ujung tali itu dibakar…

Delapan karung itu berada di dalam tanah, tepat di bawah lapangan di

mana hampir seratus tamu duduk menghadiri upacara, termasuk dia dan

Sari!

“Gila!” seru Mahesa.

“Hai, siapa yang gila?!” bisik Sari.

Mahesa pegang tangan perempuan itu lalu membawanya duduk

menjauh ke sudut lapangan. Diceritakannya apa yang tadi

dibayangkannya. Wajah Sari dibalik kain merah jadi berubah.

“Astaga, kalau begitu…. Siapapun yang mengadakan acara peresmian

ini pasti mempunyai maksud keji luar biasa! Dia hendak meledakkan

gunung ini! Membunuh kita semua!”


Mahesa berdiri, memandang berkeliling dengan cepat. Delapan lelalki

bertubuh raksasa dilihatnya masih tegak di tempatnya semula, pada sisi-

sisi lapangan.

“Kita harus menyelinap kembali ke dalam terowongan itu,” bisik

Mahesa. “Ikuti aku!”

Keduanya segera berdiri, melangkah cepat menuju pintu lapangan.

Seorang lelaki tinggi besar bercawat yang berjaga-jaga di sana serta merta

menghadang mereka.

“Celaka, agaknya kita terpaksa membuat urusan,” ujar Sari.

“Tenang saja…” sahut Mahesa.

“Dua tamu berkerudung! Kalian mau ke mana?” penjaga itu bertanya.

“Ada barang penting yang harus kami ambil di kaki gunung.”

Orang itu menyeringai. Ternyata gigi-giginya pun besar luar biasa.

“Kami taun rumah punya aturan. Setiap tamu yang sudah datang tidak

boleh meninggalkan tempat ini! Kembali ke tempat kalian!”

“Anak setan!” maki Mahesa dalam hati. Tapi dia coba tersenyum. Lalu

menjawab. “Memamg kami tahu aturan itu. Ketua juga telah memberitahu

pada kami…”

“Ketua? Ketua siapa maksudmu?” tanya si raksasa.

“Ketua siapa lagi kalau bukan ketua kami dan juga ketua kalian! Jangan

berpura-pura bodoh!” Mahesa membual dan sekaligus menggertak. Sesaat

orang di hadapannya itu tampak terkesiap. Mahesa segera menyambung:

“Barang yang akan kami ambil itu adalah milik dan untuk keperluan

Ketua. Akan dipergunakan dalam upacara nanti. Jika kau berani

melarangnya kami akan melapor pada Ketua!”

“Ketua tidak pernah mengatakan ada petugas-petugas lain selain aku

dan tujuh kawanku!”

“Ketua tidak sebodohmu! Tidak semua urusan diberitahukan pada anak

buah. Apa kau tidak percaya?!”

Orang itu semakin ragu.

Mahesa kembali menggertak. Dia berpaling pada Sari berkata: “Bertahu

Ketua. Kita mendapat halangan dari orang dalam sendir!”

Sari segera melangkah.

“Tunggu!” kata si tinggi besar bercawat. “Kalian boleh pergi, tapi lekas

kembali. Upacara akan segera dimulai!”

“Nah, begitu lebih baik bagimu!” ujar Mahesa. Diikuti oleh Sari dia

segera meninggalkan tempat upacara. Menuruni gunung ke arah selatan

lalu membelok ke timur, mengambil jalan berputar dan akhirnya muncul

kembali di lereng gunung tepat di belakang panggung. Karena tak ada


yang menjaga lobang terowongan tanah, dengan mudah dan cepat

keduanya bisa memasuki pintu atau lobang terowongan itu.

Di tempat upacara, mengatahui Mahesa dan kawannya pergi

meninggalkannya, si kakek yang bergelar Gembel Cengeng Sakti Mata

Buta mulai sesenggukan, lalu menangis tersedu-sedu. Para tamu yang

duduk didekatnya tak satupun yang berani menegur. Mereka semua

memaklumi kalau yang bersifat dan bersikap aneh itu biasanya adalah

tokoh-tokoh kelas satu dalam dunia persilatan.

Entah dari mana sumbernya, saat itu terdengar suara gong dipukul tujuh

kali berturut-turut. Para hadirin segera mengarahkan perhatian ke

panggung kayu, ke araas mana saat itu melangkah cepat seorang lelaki

berpakaian putih. Sulit untuk memperhatikan wajahnya karena tertutup

cadar hitam.

Manusia bungkuk ini mengangkat kedua tangannya ke atas. Gong

terdengar lagi bertalu delapan kali. Disusul oleh suara tiupan terompet

nyarig sekali. Begitu orang bungkuk itu menurunkan kedua tangannya

kembali, maka suara terompetpun sirna. Lalu orang ini duduk ke atas kursi

berukir yang terletak di belakang sebuah meja kecil.

Diantara para tamu mulai terdengar suara berisik kasak kusuk. Kunti

Kendil berpaling pada Lembu Surah dan berbisik: “Lembu, kau tahu siapa

adanya orang di atas panggung itu?”

“Sulit diduga. Wajahnya tertutup cadar yang sulit ditembus pandangan

mata. Sosok tubuhnya tidak mengatakan apa-apa. Banyak orang yang

bungkuk seperti dia. Entah kalau dia bicara nanti. Mungkin aku mengenali

suaranya,” jawab Lembu Surah alias Datuk Iblis Penghisap Darah yang

saat itu hadir dengan wajah aslinya, tanpa topeng tipis.

Tiba-tiba terompet berbuyi lagi. Tinggi dan panjang. Begitu lenyap,

orang yang berada di atas panggung tegak dari kursinya.


                                    TAMAT


Serial berikutnya:


RAHASIA SI BUNGKUK BERJUBAH PUTIH



0 komentar:

Posting Komentar