KARYA : BASTIAN TITO
SATU
Suasana Hutan Alas Mentaok yang biasanya sunyi, pagi ini di tingkahi oleh satu
siulan kecil. Siulan yang membawakan satu tembang jawa terkenal ini, keluar dari bibir
perot seorang nenek jangkung namun berbadan agak membungkuk. Sang nenek
berjalan perlahan mendaki tanjakan di dalam Hutan Mentaok dengan hanya dibantu
sebuah tongkat butut. sementara itu empat buah tusuk kundai perak terlihat menancap
di batok kepalanya yang hanya ditumbuhi rambut tipis! Sang nenek terlihat santai
berjalan melintasi Hutan Mentaok yang terkenal keangkerannya dan menjadi salah
satu kawasan yang di kuasai oleh para bangsa rampok maupun bandit. Seperti kali ini,
sang nenek terlihat berjalan acuh seakan tidak menyadari kehadiran puluhan pasang
mata yang sedang memperhatikan gerak-geriknya. Di atas satu pohon randu yang
agak kelindungan dua orang dengan tampang sangar terlihat memandang tajam
kearah sang nenek.
“Bagaimana pendapatmu Suto Kebelet? Apa menurutmu nenek di depan itu
membawa barang berharga?” bisik orang pertama yang bertampang sangar.
Rambutnya yang keriting panjang dibiarkan tergerai bebas melambai bersama
cambang dan jenggot keritingnya yang juga lebat meranggas. Tubuhnya yang gemuk
berbulu hanya dibiarkan bertelanjang dada sementara celana yang dipakainya adalah
celana pangsi hitam yang dihiasi Tali Kolor Lawe. lelaki disebelahnya yang dipanggil
Suto Kebelet bertampang berbalik dari lelaki disebelahnya. Suto Kebelet memiliki
tubuh kurus kerempeng dan berkulit kuning halus. Dari ujung kepala hingga ujung kaki
tidak nampak satupun rambut tumbuh di tubuhnya! Kepala bahkan alis matanya tandas
plontos! Suto Kebelet terlihat menggigit-gigit ujung kukunya sebelum akhirnya
membalas ucapan orang disebelahnya “Susah Warok Kuntet! Tampaknya nenek satu
ini bukan nenek sembarangan Warok! Tampangnya juga tidak mungkin membawa
barang berharga!” “Halaaah…! Kamu itu tahu apa? Perasaan ku mengatakan hari ini
kita bakalan untung besar! Lihat tusuk kundai yang menancap di kepalanya? Aku
berani bersumpah itu pasti perak asli! Bukan mustahil nenek di depan itu sumber
keberuntungan kita hari ini! Iya Toh?”ucap sang Warok yang dipanggil dengan Sebutan
Warok Kuntet menepis ucapan sahabatnya si Suto Kebelet. Sementara Suto kebelet
hanya bisa mengiyakan sambil menggaruk-garuk kepalanya. “kalau begitu tunggu
apalagi? Ayo kita turun sekarang seru sang Warok sembari mengeluarkan suitan
keras. Begitu suitan keras berkumandang Puluhan lelaki bertampang sangar yang
merupakan anak buah Warok Kuntet dan Suto Kebelet berserabutan keluar dari
tempat persembunyian masing-masing, sementara itu Pimpinan mereka yaitu Warok
Kuntet dan Suto Kebelet sudah lebih dahulu menjejakkan kaki menghadang jalan sang
Nenek bertusuk kundai perak. Sang Nenek pandangi wajah orang-orang yang
menghadang di depan jalannya, mulutnya yang perot masih saja mengumandangkan
siulan-siulan kecil. Warok berdiri sambil menatap keatas kearah suto Kebelet. Hal ini
dilakukan bukan karena letak berdirinya yang lebih rendah dari Suto Kebelet melainkan
karena bentuk tubuhnya yang pendek Kuntet! Karena keadaan tubuhnya inilah maka
Warok satu ini dipanggil dengan Sebutan Warok Kuntet! “Suto Kebelet! Cepat
perkenalkan diriku pada Nenek didepan ini…!” Ucap Warok Kuntet sengaja dibesar-
besarkan. Suto Kebelet memandang Kearah Warok dibawahnya, kemudian perlahan
menunduk dan berucap pelan. “tapi Warok, nenek itu kan belum nanya apa-apa...”
Sang Warok mendelikkan mata kearah Sahabatnya tersebut lalu tiba-tiba mencubit
gemas pinggul “Sang Sahabat” “Adaaouw…!! Iiiih..apaan sih Warok…? Suka gitu
deh….!” Keluh Suto Kebelet manja! Sang Warok tidak pedulikan Suto Kebelet yang
menggerutu kian kemari karena dicubit pinggulnya “Hai nenek tua! Saat ini kau
berhadapan dengan Warok Kuntet! Kalau kau ingin selamat, cepat serahkan seluruh
barang berharga yang ada padamu termasuk kehormatanmu, Kalau masih ada!”
Bentak Warok Kuntet garang “Apaan lagi sih Warok minta kehormatan Sagala…? ”
gemas Suto Kebelet masih sambil mengelus-elus pinggulnya. sementara sang Warok
hanya ganda tertawa sembari memain-mainkan golok yang dipegangnya. “Suto kamu
Jangan ngambek begitu, maksudku Nenek ini boleh minggat secara terhormat setelah
menyerahkan barangnya atau Modar secara terhormat! He.he.he.” ucap Warok Kuntet
sambil menjawil dagu Suto Kebelet tentunya sambil berjinjit! Sementara itu sang nenek
yang dihadang hanya menengok sebentar lalu masih sambil bersiul sang nenek
kembali menajutkan langkahnya! Hal ini tentu membuat rombongan rampok yang
diketuai oleh Warok Kuntet ini jadi meradang! “Jangkrik! Berani main gila kau nek! Suto
coba kamu beri pelajaran pada nenek ini!” seru Warok Kuntet. namun saat dilihat
di samping, Suto kebelet sudah tidak berdiri disisinya! “Maaf Warok! Aku permisi nyetor
dulu!” teriak Suto Kebelet yang rupanya penyakit kebeletnya kambuh lagi hingga harus
berlari mencecar ekor ke rerimbunan semak-semak tak jauh dari tempat itu! “Dasar
Banci tukang berak! Sedikit-sedikit berak!” maki sang Warok dalam hati. “Nenek haram
jadah! Sekali lagi aku bilang tinggalkan harta dan barang berharga atau lebih baik
tinggalkan saja nyawamu!” kali ini Warok Kuntet benar-benar kehilangan
kesabarannya, sementara Sang Nenek terlihat makin cuek! Dengan diiringi dengusan
keras sang Warok memberikan sinyal kepada anak buahnya untuk serentak
menyerang sang nenek! Suara riuh bergema di Hutan Alas Mentaok kala puluhan anak
buah Warok Kuntet menyerbu! Dalam sekejapan mata puluhan orang berangasan
bersenjatakan bermacam senjata tajam seperti parang, golok, arit, dan Alu lumpang itu
dengan ganasnya langsung menyarangkan tusukan dan bacokan kearah nenek
bungkuk yang masih saja berjalan sambil bersiul-siul! Beberapa saat kemudian
terdengar bunyi logam berdentangan ditingkahi suara orang menjerit dan mengaduh-
aduh! Sementara itu Suto Kebelet yang saat itu masih dalam keadaan berjongkok
mengejang nikmat terpana sesaat “Apa yang terjadi dengan Warok kuntet ya? Kenapa
bukan suara Si Nenek yang Menjerit-jerit sih…? Batin Suto Kebelet. Namun “Sahabat”
Warok Kuntet ini tidak bisa berpikir lebih lama lagi saat didengarnya Suara sang Warok
Memanggil namanya sambil mengerang-ngerang kesakitan! Secepat Kilat Suto
Kebelet berusaha mengejan sekuat-kuatnya lalu setelah itu berlari menuju asal suara
erangan Warok kuntet sambil tergesa-gesa membetulkan tali ikat celananya yang
kedodoran! “Warok..! ya ampun Waroook…! Kenapa Jadi Begindaaang…!” seru Suto
Kebelet kala mendapati Tubuh Warok Kuntet dan semua anggotanya bergelimpangan
dalam keadaan babak-belur! sementara itu bayang sang Nenek sudah tidak terlihat
lagi, hanya suara siulannya yang masih bergema di sepanjang Hutan Alas Mentaok.
“Warok! Aduhh…! Kenapa jadi babak belur begini…” ujar Suto Kebelet panik sembari
membelai-belai wajah Sang Warok yang babak belur. Sang Warok yang terbaring
lemas ditanah hanya bisa mengerang kala tangan Suto Kebelet membelai wajahnya
namun tiba-tiba hidungnya mengendus-endus lalu… “Setan Kau Suto!!!! Kau belum
Cebok…!!!!” teriak Warok Kuntet Sembari mendekap hidung lalu “Hueeeek…!” Sang
Warok Langsung tumpah!
DUA
Kuto Kebelet pandangi Warok Kuntet dan anak buahnya dengan bibir cemberut,
Sang Warok kala itu terlihat serius berjongkok dikelilingi oleh para anak buahnya masih
di seputaran hutan Alas Mentaok. Sesekali Sang Warok terlihat menuliskan sesuatu
diatas tanah dengan menggunakan ujung goloknya. Suto Kebelet yang merasa tertarik
langsung mendatangi dan turut berjongkok di samping Warok Kuntet, namun Suto
Kebelet tiba-tiba terkejut kala Sang Warok diikuti oleh semua anak buahnya serentak
berdiri lalu beranjak beberapa tombak dari tempat Suto berjongkok, lalu kembali
berkumpul membahas sesuatu seolah-olah tidak terjadi apapun! Suto Kebelet
dianggap angin lalu! Suto terpana dibuatnya! lalu dia pun mengikuti ke tempat Warok
dan anak buahnya berkumpul namun hal yang serupa kembali terjadi! Saat Suto
berjongkok, Warok dan kawan-kawannya berdiri! Berpindah tempat dan melanjutkan
pembahasan mereka dengan serius sekali!
Suto benar-benar keki dibuatnya! “Waroook! Tega benar deh..! kalau aku di
cuekin terus, lebih baik kau pulangkan saja aku ke kedua orang tuaku…!” Sungut Suto
Kebelet kesal sambil menghentakkan-hentakkan kedua kakinya. Warok Kuntet yang
mendengar sungutan Suto Kebelet meledak tawanya “kau mau aku pulangkan ke
orang tua yang mana Suto? Jeng Wongso Sinden Pleret Atau Nyai Bambang di Taman
Lawang?” ucap Sang Warok yang langsung dibalas dengan ledakan tawa riuh dari
para anak buah Warok Kuntet. “Warok Kuntet! Kau benar-benar keterlaluan! Aku tidak
mau lagi melayanimu main! Biar kau tahu rasa…!” sungut Suto Kebelet sembari
membalikkan badan. Warok Kuntet angkat satu tangannya ke atas memberi tanda
agar anak buahnya diam. “ Suto, Jangan Suka marah-marah begitu, aku Cuma main-
main menggodamu, Jangan dimasukan di hati Nanti Cepat Tua! Tapi omong-omong
Kau benaran sudah cebok Suto? Tidak bau lagi kan?” ucap Sang Warok kali ini
dengan nada mesra! “Tidak… tidaaak…!” jerit Suto kebelet sambil menghentakkan
kakinya seperti anak kecil. Warok Kuntet hanya tertawa kecil saat memandang tingkah
Suto Kebelet. “kemarilah Suto, kami sedang membahas hal penting..” ujar Warok
Kuntet menenangkan Suto Kebelet. Setelah Suto Kebelet mulai bergabung kembali
Warok Kuntet membuka pembahasan yang terhenti. “Dengarlah ini para anak buahku,
dan kau juga Suto Kebelet, kekalahan kita hari ini pada dasarnya hanya terletak pada
satu kesalahan kecil….” Para anak buah Warok Kuntet dan Suto Kebelet
mendengarkan dengan penuh perhatian. “Kesalahan itu adalah bahwa kita terlalu lama
dan terlalu perhitungan sehingga sasaran kita punya waktu untuk menggunakan ilmu
kepandaiannya!” sambung Warok Kuntet. “Jadi menurut Warok, apa yang harus kita
lakukan berikutnya?” tanya Suto Kebelet. “langsung Kita Hantam! Tidak perlu
membuang waktu lebih lama lagi sehingga buruan kita sempat menyusun kekuatan!”
seru Sang Warok berapi-api. saat itulah terdengar suara burung kulup berbunyi di
hutan Alas Mentaok. Warok Kuntet yang mendengar Suara Sandi berupa Suara bunyi
Burung Kulup itu langsung memberi kode kepada seluruh anak buahnya “cepat
kembali ke pos masing-masing! Ada sasaran yang baru datang, tapi ingat! Begitu
batang hidung sasaran kita kelihatan, Jangan Beri Ampun!” seluruh anak buah Warok
Kuntet serempak mengaggukkan kepala dan langsung kembali ke pos masing-masing,
sementara itu Warok Kuntet dan Suto Kebelet juga sudah kembali ke atas Pohon
Randu tempat persembunyiannya. Saat Warok Kuntet menjejakkan kakinya keatas
dahan, seorang anak buah Warok Kuntet telah tampak duduk menunggu. “bagaimana
keadaannya Sukarta?” tanya Warok Kuntet kepada anak buahnya yang bertugas
sebagai Telik Sandi tersebut. “Seorang Kakek Warok! Tidak terlihat membawa barang
berharga, tapi itu Warok…”ucap sang Telik Sandi terputus. “itunya apa..?”tanya sang
Warok penasaran “itunya panjang ya..?” celetuk Suto Kebelet yang langsung dibalas
delikkan mata oleh Warok Kuntet! “itu Warok! Mukanya… Mukanya putih pucat! Seperti
muka Bangkai!” seru sang telik sandi ketakutan. Keadaan sunyi terasa seketika
sebelum akhirnya dipecahkan oleh suara tersendat suto Kebelet. “Warok...! lebih baik
dibatalkan saja Warok! Jangan-jangan kakek itu bukan orang, tapi Demit Alas
Mentaok” ucap Suto Kebelet ketakutan sembari memeluk pinggang Warok Kuntet.
Warok kuntet tepiskan tangan Suto Kebelet yang memeluk pingangnya. “Aku takut
Warok… aku punya firasat…” ucap Suto Kebelet terputus-putus “Halaaah! mulai lagi
lagakmu Suto! Kalo kamu takut sana pergi ke Jurang Mentaok dan Berak sepuasmu
biar rasa takutmu hilang!” dengus Warok Kuntet. Suto Kebelet yang bisa membaca
kemarahan Warok Kuntet akhirnya hanya bisa mengkirik ketakutan. Beberapa saat
kemudian di pengkolan jalan mendaki terlihat sosok seorang kakek tua renta sedang
mendaki tanjakan. Tak terlihat satu hal yang istimewa pada diri sang Kakek kecuali
wajahnya yang putih seperti bangkai! “inilah saatnya!”ucap Warok Kuntet dalam hati.
Sang Warok pun serta merta berteriak kencang dan melesat dari pohon randu tempat
persembunyiannya. “Serbuuuu…!”teriaknya keras. Maka bergeraklah serentak laskar
Warok Kuntet menyerang dengan serempak pada Kakek “malang” tersebut. “Berani
kalian pada Si Muka Bangkai, Guru Pangeran Matahari… Huh…?” bentak Sang kakek
tiba-tiba. Warok Kuntet dan anak buahnya terperanjat dengan apa yang dikatakan oleh
Sang Kakek Muka Bangkai. Tubuhnya yang meluruk deras kebawah tiba-tiba
melenting berputar dan berbalik arah. “Kabuuuur….!” Teriaknya tak kurang semangat
dari teriakannya yang pertama! Bedanya teriakan pertama karena semangat berapi-
api, Sedangkan teriakan kedua karena takut menyala-nyala! Tindakan Warok Kuntet
juga diikuti oleh semua anak buahnya yang turut gentar mendengar nama yang
disebutkan oleh sang kakek. Sementara Suto Kebelet yang berada diatas pohon
jangan ditanya lagi, “Sahabat” Warok Kuntet ini sudah tadi-tadi kecipirit di celana!
“kalian pikir bisa seenaknya kabur? Terima dahulu oleh-oleh dari Si Muka Bangkai”
ucap sang kakek sembari menggerakan tangan, maka dari kedua tangannya yang
ringkuh melesat puluhan kecil lidah api yang menderu kesetiap orang anak buah
bahkan termasuk kearah Warok Kuntet! Maka melolonglah mereka semua karena
pantat masing-masing terbakar api! tidak terkecuali Warok Kuntet! Sang Warok berlari
kesana kemari sembari berusaha memadamkan api yang membakar pantat celananya.
“Sutooo….! Sutooo…! ambilkan Air…!” teriak Warok Kuntet panik, tanpa mengetahui
kalau Suto Kebelet Juga saat itu sedang panik mencari air untuk dirinya sendiri…
TIGA
Kademangan Pancala Geni merupakan Salah satu kademangan yang letaknya
sangat terpencil. Bersebelahan dengan areal Candi Plaosan di sebelah Barat dan
bersebelahan dengan Kawasan Hutan Alas Mentaok di sebelah Utara, sementara
sebelah Timur dan Selatan bersebelahan dengan Laut Jawa. Keadaan serta letak
Topografi wilayah Kademangan tersebut membuat Kademangan ini agak terpencil dari
keramaian. Meskipun begitu, Kademangan yang masih satu wilayah kekuasaan dengan
Pajang ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Guna berjaga-jaga terhadap serangan
yang mungkin saja bisa datang dari gerombolan rampok dan begal dari jurusan Hutan
Alas Mentaok, dan perompak yang biasanya berkeliaran di seputaran Laut Jawa, maka
dibangunlah tembok tinggi terbuat dari batang kayu pohon kayu besi mengelilingi areal
pemukiman dan areal Kademangan sendiri. Sementara itu penjagaan di Kademangan
Pancala Geni juga sangat ketat. Setiap orang yang masuk maupun keluar dari
Kademangan ini selalu diperiksa oleh para penjaganya yang bertubuh tinggi tegap.
Akhir-akhir ini Kademangan Pancala Geni memang sedang banyak dibicarakan oleh
kalangan dunia persilatan. Hal ini menyangkut sayembara perebutan satu pusaka yang
disebut dengan yang memang diadakan di Kademangan Pancala Geni. Pemimpin
Kademangan ini sendiri memang dahulunya adalah seorang Pendekar sakti yang
mengabdi pada kerajaan Demak. Pada saat terjadi perpecahan yang akhirnya membagi
Demak menjadi Jipang yang dikuasai oleh Arya Penangsang dan Pajang yang dikuasai
oleh Karebet, atau yang lebih dikenal dengan panggilan Jaka Tingkir di masa mudanya,
pendekar Sakti ini akhirnya mengabdikan diri kepada Pajang. Dan pada masa tuanya
atas pengabdiannya terhadap kerajaan, maka Sang Pendekar Sakti mendapatkan
penghargaan berupa jabatan sebagai penguasa Kademangan Pancala Geni, kampung
halamannya. Nama Pendekar Sakti yang menjadi pemimpin Kademangan Pancala Geni
itu adalah Ki Demang Sulur Suziwardhana. Pada masa mudanya dulu Ki Demang Sulur
Suziwardhana dalam tugasnya sebagai prajurit Demak sering melanglang buana ke
banyak tempat. Dan dari beberapa tempat tersebut Ki Demang Sulur Suziwardhana
banyak mempelajari ilmu Olah Kanuragan dan adat–istiadat serta bahasa yang dipakai
oleh masyarakat setempat, sehingga tidaklah mengherankan jika Selain pandai dalam
olah kanuragan, Ki Demang Sulur Suziwardhana juga banyak menguasai bahasa asing
termasuk bahasa-bahasa Mancanegoro. Ki Demang Sulur Suziwardhana juga banyak
mengikat persahabatan dengan banyak tokoh dunia persilatan, baik golongan hitam
maupun golongan putih sehingga tidak satupun orang yang berani mengusik dDemang
satu ini. Pada masa mudanya, Ki Demang memiliki kegemaran mengumpulkan benda-
benda pusaka. Hal ini tidak bisa dilepaskan akan kesukaan Ki Demang Sulur
Suziwardhana akan ilmu silat. Koleksi pusakanya benar-benar sangat banyak! Koleksi
Ki Demang juga bermacam-macam dari kitab-kitab olah kanuragan sampai senjata-
senjata atau Tosan Aji yang mumpuni berjejeran memenuhi gudang penyimpanan
pusakanya. Ki Demang juga bukan termasuk orang yang pelit dan kikir. Guna
menyalurkan kesukaannya akan ilmu silat maka setiap tahunnya tepat tanggal Satu
suro, di Kademangan Pancala Geni selalu diadakan perlombaan atau sayembara yang
berhadiah harta pusaka! Maka hari itu tepat tanggal Satu Suro, keramaian memadati
alun-alun Kademangan Pancala Geni. Dua buah Panggung arena tanding terlihat
didirikan diatas regol sebelah barat kademangan. Disekeliling kedua panggung tampak
banyak penonton yang dengan antusiasnya menyaksikan jalannya pertandingan yang
tengah berlangsung panas. Di salah satu pangung terlihat dua orang peserta tengah
bertarung dengan sangat serunya, salah seorang peserta pertandingan itu adalah
seorang pemuda gondrong berbaju putih. Sementara satunya lagi adalah seorang pria
hitam dengan tubuh luar biasa gemuknya! Sang pemuda gondrong sudah terlihat
kepayahan menangani serangan-serangan yang dilakukan oleh si pria hitam bertubuh
gemuk luar biasa itu. Saat satu tamparan keras menghajar punggungnya, sang pemuda
pun terpelanting hampir keluar panggung! “yaa… kita saksikan pertandingan sudah
mulai memanas! Pendekar Dua Satu Dua tampaknya tak kuasa melawan serangan-
serangan mematikan yang dilancarkan oleh Buntet Ireng Pendekar Rawa Bangke!
Apakah Pendekar andalan golongan Putih ini bisa bangkit melanjutkan pertandingan?
Kita lihat saja…!” ucap Wasit Kademangan yang juga merangkap sebagai Orator ini
berapi-api! Agar suaranya jelas terdengar, Wasit Kademangan menggunakan sebuah
corong yang terbuat dari anyaman gedek bambu. “uuh… andaikan aku bisa
menggunakan kapak sakti atau tenaga dalam, aku pasti bisa mengalahkan buntalan
kentut itu! Sialan…! Peraturan salah Kaprah…! Bagaimana orang bisa bertarung
melawan orang ini kalau tidak diperbolehkan menggunakan senjata dan tenaga dalam!”
batin Pemuda gondrong yang ternyata adalah Pendekar Dua Satu Dua ini. “orang ini
tidak memiliki kepandaian yang berarti! Tenaga dalamnya juga hampir-hampir tidak ada!
Tapi Keteknya itu lho! Buseet Bujubune! Rontok bulu hidungku setiap berdekatan
dengannya!” batin sang pendekar kembali. Namun Sang Pendekar tidak bisa berpikir
panjang kala Lawannya yang dipanggil Pendekar Rawa Bangke ini kembali
melancarkan serangannya. (mengenai riwayat Pendekar Rawa Bangke Buntet Ireng,
silahkan Baca Serial Pangeran Matahari kala terpesat ke Negeri Latanahrantau dalam
episode: Asmara Darah Setan Ngompol dan Sontoloyo Dari Susukan) Sang pendekar
terpaksa bergulingan di lantai panggung kala jari-jari sebesar pisang ambon lewat diatas
kepalanya! Angin berbau dahsyat yang turut serta bersamaan dengan pukulan tangan
Pendekar gendut yang dipanggil dengan nama Buntet Ireng ini membuat kedua kaki dan
kedua lubang hidung Pendekar Dua Satu Dua Wiro Sableng sama-sama
bergemeretakan! Setelah bisa mengendalikan tubuh dan perasaannya yang hampir
semaput, sang pendekar mulai bersilat aneh. Gerak-geriknya sudah hampir tidak seperti
orang bersilat lagi, jatuh, terlentang dan kadang-kadang seperti orang mabuk! Wiro
dengan berkonsentrasi penuh mengeluarkan ilmu yang diberikan oleh Tua Gila yakni
Ilmu Silat Orang Gila! Saking berkonsentrasinya Sang Pendekar tidak memperhatikan
kalau Pendekar Gendut dengan bau ketek selangit yang sedari tadi berdiri di depannya
kini tidak lagi terlihat! Sang pendekar baru tersadar saat satu benda berat sebesar gajah
jatuh seakan dari langit menimpa tubuhnya! “Tobat…! Mampus Aku Eyang…!” jerit
Murid Eyang Sinto Gendeng setinggi langit! Ruas-ruas tulangnya berbunyi berkeretekan
dan rasa sakitnya benar-benar hampir tak tertahankan saat tubuh Pendekar Rawa
Bangke yang kalau dibandingkan dengan tubuh gendut Bujang Gila Tapak Sakti masih
jauh lebih Besar ini menghempas keras pungungnya! Bersamaan dengan tertimpanya
tubuh Wiro oleh Lawannya, satu tawa terbahak-bahak terdengar dari arah panggung
kedua. “Ha.ha.ha… Jurus apa yang kau mainkan itu Wiro? Jurus Orang Gila Kegencet
Gajah? Atau kau memang sedang bermain cinta dengan Lawanmu si gajah bunting itu
Wiro? Bilang sama Tua Gila, ganti saja nama jurus Orang Gilanya dengan Jurus Silat
Gajah Bunting! Lebih cocok kalau kau yang mainkan seperti sekarang! Ha.ha.ha.” gelak
tawa seorang pemuda dari panggung sebelah. Kala Wiro dan orang-orang dibawah
panggung melihat ke arah panggung yang satunya, maka bersorak-sorailah orang
banyak terkecuali Wiro saat melihat seorang pemuda dengan jubah hitam
berlambangkan gunung merapi dengan gambar matahari bulat di tengahnya sedang
enak-enaknya duduk ongkang-ongkang kaki diatas tubuh lawannya yang juga cukup
besar. “Pangeran Matahari Keparat…” desis Pendekar Dua Satu Dua. Kepalanya
semakin pening dan pandangan sang pendekar mulai menggelap.
EMPAT
Pemuda yang ternyata adalah Pangeran Matahari Dari Puncak Matahari tersebut
masih tertawa terbahak-bahak sambil memandang Pendekar Dua Satu Dua yang
sedang mengerang-ngerang kesakitan karena tubuhnya di himpit tubuh Gendut Buntet
Ireng. Sementara itu di bangku penonton seorang kakek kurus kering seperti tengkorak
menggembor keras mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Pangeran Matahari
“Pangeran Keparat! Enak saja jurus ku dibilang Ilmu Silat Gajah Bunting! Biar aku kawin
dengan gajah bunting juga tapi apa yang dikatakannya sudah keterlaluan! Benar-benar
Cah Edan! Benar-benar harus diberi pelajaran anak kurang ajar itu!” geram si Kakek
yang ternyata adalah Tua Gila! “Oouuuww… jadi kau menyesal kawin dengan Gajah
Bunting? Kau tersinggung rupanya? Coba bilang siapa yang setiap malam selalu
menjerit-jerit kenikmatan minta tambah waktu ditindih gajah bunting? Coba bilang
Siapa?” jawab seorang nenek gemuk yang menggunakan topi tinggi berbentuk tanduk
kerbau sambil menjewer telinga Tua Gila! “Aduuh…! Aduh… Sabai! Sakiit!... sakit…!
Ampuun Sabai…!”jerit Sang Kakek setinggi Langit! “makanya lebih baik kau duduk diam
atau ku sumpal mulutmu sebelum ngomong ngaco lagi!” ucap nenek gemuk yang
ternyata adalah Sabai Nan Rancak sembari menghempaskan tubuh tua Gila yang
mengkeriut ketakutan disebelahnya! Tua Gila akhirnya hanya bisa terdiam sembari
menatap jalannya pertandingan. Sesekali diliriknya sang istri dengan sinar mata
ketakutan. Sementara itu keadaan yang dihadapi oleh Pendekar Dua Satu Dua semakin
lama semakin berbahaya! Pening di kepalanya membuat sang pendekar nyaris
kehilangan kesadaran. Antara sadar dan tidak, Sang Pendekar mulai mengalami
Halusinasi. Pendekar Dua Satu Dua mulai melihat bayangan wajah para gadis cantik
yang selama ini menemani kehidupan asmaranya. Yang pertama sekali dilihatnya
adalah bayangan Anggini murid Dewa Tuak, anggini terlihat tersenyum manis
kepadanya. Wiro perlahan membalas senyum itu namun kemudian dilihatnya anggini
tertawa meninggalkannya sambil berpelukan mesra dengan Panji anak Rajo Tuo Datuk
Paduka Intan! Kemudian Dilihatnya bayangan Bidadari Angin Timur tersenyum begitu
dekat diwajahnya namun saat hendak membalas senyuman tersebut kembali dilihatnya
Sang Bidadari pergi meninggalkannya sambil bercumbu mesra dengan Tubagus
Kesumaputera atau Jatilandak! Pendekar Dua Satu Dua mulai menggeram marah! Wiro
Sableng perlahan mulai pulih kesadarannya, amarah yang dihasilkan karena hawa
cemburu semakin lama semakin meningkatkan tenaga dalamnya. Apalagi saat giliran
bayangan Ratu duyung tersenyum padanya. “sekarang siapa lagi?” geram Wiro dan
benar saja! sesaat kemudian Ratu Duyung dilihatnya melenggang pergi
dengan…Bujang Gila Tapak sakti! (?) pantat si gendut terlihat diogel-ogelkan ke
arahnya sementara tangannya yang gempal dilihatnya mengelus-elus pinggul Sang
Ratu! “Kerbau bunting keparat…!” maki sang Pendekar dalam hati kala dalam
halusinasinya melihat kelakuan Santiko alias Bujang Gila Tapak Sakti. Dan
kesadarannya akhirnya kembali! Tangan Sang Pendekar terkepal kencang lalu dengan
cepat jempol tangannya diacungkan keatas dan… “Maknyak.........!” Tubuh Gendut
Buntet Ireng Si Pendekar Dari Rawa Bangke terlontar tinggi dan terhempas di luar
panggung kala jempol maut Pendekar dua Satu Dua Dengan Suksesnya mendarat di
daerah antara Dua Kantong menyan dan Sumur Kriput! Perasaan Ngilu snut-snut yang
tak bisa dijelaskan dengan kata-kata membuat Buntet Ireng sampai menunging-
nungging di bawah Panggung! Wasit Kademangan lalu membantu Pendekar Dua Satu
dua untuk berdiri sembari mengangkat tingi-tinggi tangan sang Pendekar!
“Pemenangnya adalah Pendekar Dua Satu Dua Wiro Sableng!” teriak Sang wasit keras.
Sorak sorai pendukung Wiro terdengar pecah membahana memenuhi halaman regol
Kademangan! “Dan akhirnya sudah ditetapkan dua orang peserta yang akan bertarung
memperebutkan pada babak final nanti Adalah Pangeran Anom atau Pangeran Matahari
dan gurunya Suto Ageng Kalamenggolo alias Si Muka Bangkai! melawan Pendekar Dua
Satu Dua Wiro Sableng beserta Gurunya Sinto Gendeng! Pertandingan akan
dilangsungkan selepas Isya di alun-alun kademangan!” sambung sang wasit. Para
penonton pun kemudian dengan tertib membubarkan diri. sementara itu Pangeran
Matahari terlihat mendatangi Pendekar Dua Satu Dua Wiro Sableng yang masih berdiri
mengatur Nafas di atas Panggung. “ha.ha.ha. kau benar-benar tidak mengecewakan
aku Wiro! Ku kira kau tadi bakalan mampus melawan Si Gajah Bunting, Eh ternyata kau
hebat juga! Nasibmu benar-benar mujur” ucap Sang Pangeran sembari menepuk-nepuk
bahu Musuh besarnya itu. Sementara itu Wiro yang merasakan tepukan yang dialiri
tenaga dalam tinggi itu kemudian mengerahkan sebagian tenaga dalamnya ke bahunya
lalu ganda tertawa “ha.ha.ha. ya jelas Anom! Aku tidak akan mampus dulu sebelum
teman lama sepertimu mendahului! Aku itu masih menghormatimu Anom, hingga
mempersilahkan dirimu lewat duluan!”gelak Wiro sambil membalas menepuk bahu Sang
Pangeran. Sang Pangeran yang tidak mau kalah kini malah memeluk erat Sang
Pendekar! “kau benar-benar sahabatku yang baik Wiro! Walau biasanya kita selalu tidak
akur, tapi ternyata kau masih juga menghormatiku!”seru Sang Pangeran sambil
mengerahkan tenaga dalam pada Rangkulannya. Jangankan manusia, Kerbau Saja
kalau masuk dalam Rangkulannya pasti akan lumat menjadi Dendeng! Dan Pendekar
Dua Satu Dua pun Tidak mau kalah! Selekasnya dibalasnya Rangkulan Pengeran
matahari sembari mengalirkan tenaga Dalam! “ah tidak Perlu Sungkan Begitu Anom,
kita kan bersahabat. Saling menghormati itu sudah wajarlah!” ucap Wiro sableng
sembari menambah tenaga dalamnya. Maka terjadilah pertandingan kecil yang aneh
dimana dua orang pria sesama jenis saling berpelukan erat sambil tertawa-tawa!
Mereka berdua terus bertanding tanpa menyadari kalau areal pertandingan sudah sepi,
yang tersisa hanyalah dua orang anak kecil umur sembilan dan sepuluh tahun yang
memperhatikan kelakuan mereka dengan seksama. “Kak, mereka lagi ngapain sih? Kok
kayak orang pacaran sambil pelukan segala?”ujar sang adik yang masih menatap
kearah dua orang diatas panggung sambil menghirup arum manis. “mereka itu lagi
sayang-sayangan dik, lagi main papah-mamah!” sambung sang kakak yang juga sedang
asyik menghirup arum manis. “oh jadi, nanti mereka bakalan kayak emak sama bapak
tadi malam itu ya kak? Yang main genjot-genjotan itu ?”tanya sang adik kembali seakan
tanpa dosa. “Ehm! Kayaknya sih begitu dik…”ujar sang kakak menerangkan seakan tak
bersalah. Wiro dan Pendekar Matahari yang sebelumnya tidak memperhatikan kedua
adik-kakak tersebut menjadi pucat wajahnya apalagi saat sang adik kembali bertanya
pada sang kakak. “tapi kan kak, kakak-kakak itu kan laki-laki, kalau mau gitu-gituan
tititnya mau dimasukin dimana ya kak?” Wajah Wiro dan Pangeran matahari semakin
pucat pasi. “ya bisa lah dik, mereka berdua kan gak normal! Tititnya nanti bisa gantian
dimasukan di…”belum sempat sang kakak kembali memberikan penjelasan
gendengnya, langsung terputus oleh bentakan Wiro dan Pangeran Matahari.
“Diiiaaaaaammmmm…!!!!” keduanya langsung melepaskan pelukan masing-masing
sambil termuntah-muntah di pinggiran pangung arena!
5
LIMA
arok Kuntet pandangi satu persatu anak buahnya dengan tatapan tajam. Setiap
kali pandangan matanya membentur pandangan mata anak buahnya, maka seketika itu
juga sang anak buah langsung menundukkan kepalanya. Malangnya karena tubuh Sang
Pimpinan pendek kuntet, maka walaupun sudah menundukkan kepala tetap saja
pandangan mereka bentrok dengan tatapan tajam Sang Warok! Hingga tidak heran
begitu Sang Warok Menatap, banyak anak buahnya yang langsung memejamkan
matanya ketakutan! “Sedari pagi kita belum mendapatkan mangsa satu orang pun!
Dengarkan baik-baik, Satu orang pun! Bagaimana kita bisa menghidupi kehidupan kita,
menghidupi anak istri kita dan membiayai orang tua serta membayar arisan kalau kita
tidak bisa mendapatkan korban?” ucap Sang Warok memecah keheningan. “memang
tidak dapat disalahkan kalau kita tidak mampu melawan orang-orang sakti seperti Sinto
Gendeng maupun si Muka Bangkai, cuma kalau keadaannya terus-terusan seperti ini
maka bisa dipastikan kita semua akan mati kelaparan!” lanjut Sang Warok sambil
berjalan hilir mudik. Setiap kali Sang Warok Berjalan, maka orang yang dilewatinya pasti
langsung menutup mata! “hari ini kita harus segera memecahkan masalah yang kita
hadapi tersebut! oleh karenanya saya meminta kepada kalian semua yang kiranya
punya ide atau pemecahan yang tepat untuk masalah yang kita hadapi ini untuk segera
maju kedepan!” Sambung Sang Warok seraya menatap anak buahnya satu persatu.
“Waroook, saya punya ide…” ucap Suto Kebelet memecah kesunyian. Sang warok pun
langsung memalingkan wajahnya kearah Suto Kebelet. “Ya Suto, ide apa yang kau
punyai? Aku mau dengar…” Suto Kebelet mendehem pelan. “selama ini kita selalu
berhasil merampok setiap orang yang melintasi Hutan alas Mentaok karena orang-orang
itu adalah orang kebanyakan, hari ini kita gagal karena orang-orang yang kita hadapi
adalah orang-orang sakti mandraguna jadi…” Warok Kuntet yang tidak sabaran
langsung memotong “Sudahlah Suto jangan bertele-tele! Langsung ke pokoknya saja!”
“begini Warok Karena kita kurang sakti dari mereka maka kita harus menggunakan otak!
Bagaimana kalau kita mempersiapkan sebuah jebakan?
Kita hanya tinggal tunggu mangsa kita masuk dan kita tidak perlu repot-repot lagi!”
sambung Suto Kebelet. Warok Kuntet yang mendengar penjelasan “sahabatnya”
tersebut terdiam sejenak sebelum akhirnya berlonjak kegirangan! “Suto! Kau memang
betul-betul cerdik! Mengapa tidak terpikirkan sebelumnya dikepalaku yah! Bagus..
usulmu benar benar bagus!”ucap Warok Kuntet seraya menggemgam tangan Suto
Kebelet. “Sarwo dan kamu Juned! Cepat ambil pacul lalu buat lubang yang besar di
tikungan atas! Kita harus cepat mempersiapkan Jebakan! Yang lain cepat kalian tebang
satu pohon Kayu Besi yang tumbuh di sebelah selatan hutan Alas Mentaok…!” seru
Warok Kuntet memberi perintah yang langsung diiyakan dengan cepat oleh para anak
buahnya. “Lihatlah itu Suto, mereka benar-benar penurut! Tadi saja waktu aku mondar-
mandir mereka pada merem! Takut rupanya! he.he.he..” tawa Warok Kuntet riang
“ma..maaf Warok! Mereka sebenarnya bukannya merem karena takut tapi karena…
itu…!” tunjuk Suto Kebelet. “itu apa…?” balas Warok kuntet penasaran “Itu warok…!
Pantatnya keliatan.! Hik.hik.hik..” Ucap Suto sembari menahan tawa saat menunjuk
pantat celana Warok Kuntet yang bolong besar akibat “oleh-oleh” Si Muka Bangkai!
Rupanya Sang Warok Lupa mengganti celananya yang lobang hingga dua kue apem
burik terpampang kemana-mana. “Sialan kau Suto! Kenapa tidak bilang dari tadi!”
bentak Warok Kuntet sembari berlari ke perkemahan untuk mencari celana pengganti.
Setelah beberapa saat, Warok Kuntet pun kembali dengan mengenakan celana yang
baru. “ayo Suto kita awasi pekerjaan mereka.” Ajak Warok Kuntet ke tempat dimana
jebakan dibuat. Beberapa saat kemudian akhirnya sebuah lubang jebakan yang cukup
dalam telah dibuat oleh anak buah Warok kuntet, Lubang jebakan tersebut kemudian
ditutup dengan anyaman gedeg yang dilapisi pasir hingga tak tampak dari luar. Diatas
lubang jebakan juga telah tergantung sebuah gelondongan besar pohon kayu besi yang
terikat sedemikian rupa dan tersambung dengan lubang jebakan! Sehingga andaikata
ada orang yang terjerumus dalam lubang jebakan, maka gelondongan besar pohon
kayu besi yang tergantung diatas jebakan juga akan lepas dan menumbuk orang yang
terjebak! Benar-benar cerdik namun sekaligus keji! Warok Kuntet tersenyum puas
melihat hasil jerih payah anak buahnya. “bagus kerja kalian wahai anak buahku!
Sekarang tugas kita tinggal menunggu mangsa yang datang.. kita tidak perlu capek-
capek lagi! Ha.ha.ha” ucap Warok Kuntet sembari tertawa sementara Suto Kebelet yang
ada disebelahnya turut berucap “yah, semoga rencana kali ini bisa berhasil dengan
begitu kita akan punya uang untuk memenuhi kebutuhan kita” Warok Kuntet terlihat
terdiam sejenak “sesunguhnya aku sudah lama berpikir Suto… aku sudah cukup lelah
menjadi perampok! Jadi seandainya rencana ini juga tidak berhasil aku berpikir ada
baiknya kalau kita tidak usah lagi menjadi perampok…” Suto Kebelet terkejut
mendengar apa yang dikatakan Warok Kuntet “Tidak Jadi Perampok lagi Warok? Lalu
jadi apa? Apa Warok Sudah berpikir untuk bertobat?” seru Suto Kebelet. “Bertobat?
Enak saja! aku masih kepingin kaya! aku berpikir seandainya kita bisa menjadi bajak
laut! Pasti alangkah gagahnya! Dari Perampok menjadi Perompak!” ucap Sang Warok
dengan mata berbinar. Sementara itu para anak buah Warok Kuntet yang mendengar
apa yang dikatakan sang pimpinan menjadi berdebar hatinya. Menjadi bajak laut! Siapa
yang tidak mau? Batin mereka masing-masing dalam hati. Namun mereka tidak bisa
berpikir lama-lama karena kembali terdengar bunyi burung kulup diatas pohon jati.
“sasaran Datang! Ayo sembunyi!” kode Warok Kuntet. Serempak seluruh anak buah
Warok Kuntet langsung bersembunyi di tempat masing-masing diikuti Warok Kuntet dan
Suto kebelet yang kini bersembunyi di balik gerombolan semak belukar. Tidak lama
kemudian dari arah luar Hutan alas Mentaok tiba-tiba melayang satu sosok pemuda
gemuk luar biasa! Kepalanya yang besar ditutupi sebuah peci hitam yang kekecilan
sementara baju yang dipakainya terlihat terpakai terbalik! bagian yang berkancing
terlihat dipakai di sebelah belakang! “Sialan…hari ini kok panas amat ya? Aku kira kalau
sudah masuk dalam hutan, udaranya akan jadi sejuk. Eh ini kok malah lebih panaaas!”
omel si pemuda gemuk sembari mengipas-ngipas wajahnya yang bulat keringatan
dengan sebuah kipas kertas. Si pemuda gemuk kemudian memperlambat laju larinya
hingga akhirnya berhenti tepat diatas Jebakan yang telah disiapkan! Warok Kuntet dan
Suto Kebelet menahan napas seketika “Jatuh!...jatuh…!” sorak mereka dalam hati.
Namun ajaib! Si pemuda yang kalau ditaksir memiliki berat ratusan kati tersebut masih
berdiri tegak! “walaaah! Aku ini sudah dimana ya? Apa Kademangan Pancala Geni
masih jauh dari sini? Waladalaah! Kalau aku terlambat bisa batal aku makan enak! sial
betul!” ucap si pemuda Gemuk. “tampaknya sudah saatnya aku mencoba batu mustika
dagangan Kakek Segala Tahu!” ucap Si Gendut seraya memasukkan tangannya
kedalam kantung celananya yang gombrong. Begitu tangannya dikeluarkan terlihat
sebuah batu berbentuk persegi dengan garis-garis yang melintang dan membujur. Si
Gemuk yang bukan lain Adalah Bujang Gila Tapak Sakti salurkan tenaga dalam kearah
batu. Batu itu terlihat berpendar sesaat lalu kemudian mati! Bujang Gila Kembali
mencoba menyalurkan tenaga dalam namun hasilnya tetap sama. “Kampret gendeng!
Aku ditipu lagi sama Kakek Segala Tahu! GPS nya ndak berfungsi! Sialan Kutu Kupret!”
(GPS: Gubuk Panceng Semesta. Mustika yang bisa melihat keberadaan seseorang
ataupun tempat! Seperti cermin saktinya Ratu Duyung) “dasar kakek buta tak tahu diri!
Masih juga dia jualan barang rusak! Walah! kalau begini caranya bisa-bisa aku tersesat
sampai ke kademangan! Dasar Batu tidak berguna!” ucap Bujang Gila Tapak sakti
seraya melempar asal-asalan batu ditangannya ke gerombolan semak belukar dan tepat
menimpuk kepala botak Suto Kebelet! “Ekhhkk…!” suara jeritan tertahan keluar dari
mulut Suto yang langsung dibekap oleh Warok Kuntet! Sementara itu Si Gemuk Alias
Bujang Gila Tapak Sakti memalingkan kepalanya ke kiri dan kekanan “seperti ada suara
orang!” gumamnya pelan membuat Warok Kuntet dan gerombolannya mengeluarkan
keringat sebesar jagung! “ah… mungkin Cuma perasaanku saja…” batin si gemuk
sembari menerusakan larinya. Sekejapan saja tubuhnya sudah hilang dari pandangan.
Sementara itu Warok Kuntet dan anak buahnya serta Suto Kebelet mulai keluar dari
tempat persembunyiannya. “aneh…!Bagaimana mungkin? Apa jebakannya rusak
ya?”batin warok Kuntet mendekati lubang jebakan. Sementara itu Suto kebelet terlihat
meringis sembari mengelus benjol di kepalanya! Warok Kebelet sudah berdiri di pinggir
jebakan yang tadi diinjak oleh Bujang Gila Tapak Sakti. “sungguh ngkiudahas-jelas si
gendut itu aku lihat berdiri disin…!” ucapan Warok Kuntet terputus kala kakinya yang
coba menginjak lobang jebakan langsung terperosok kebawah! Dan tanpa ampun lagi
tubuhnya langsung meluncur masuk dalam jebakan! Suto Kebelet yang masih meringis
kesakitan dan para anak buah Warok Kuntet langsung terkejut kala mendapati sang
Pimpinan terperosok ke dalam lubang jebakan! “Sutoooooo…….!!!!!!!” Teriak Warok
Kuntet yang berada di dalam lubang kala satu gelondongan besar kayu besi yang
digantung diatas jebakan putus talinya dan menghujam langsung kedalam Lobang!
Senjata Makan Tuan!
* * *
ENAM
Selepas sembahyang Isya, alun-alun Kademangan telah kembali dipenuhi oleh para
penonton yang ingin menyaksikan pertandingan final perebutan Pusaka Dapur Sakti
Pancala Geni. Tidak seperti pertandingan sebelumnya di regol Kademangan
pertandingan kini diadakan di tanah lapang alun-alun kademangan. Para tamu
kehormatan diberikan tempat di sebelah timur alun-alun sedangkan para juri dan
petinggi kademangan diberikan tempat di bagian sayap timur. Sementara itu di tengah-
tengah alun-alun terdapat dua buah meja yang ditutupi dengan sehelai kain hitam
panjang dan dibelakang masing-masing meja tersebut berdiri dengan tegak pasangan
Pangeran Matahari dan Gurunya si Muka Bangkai serta Pasangan Pendekar Dua Satu
Dua dan gurunya Eyang Sinto Gendeng. Sementara itu tidak lama kemudian keluarlah
seorang abdi dalem sambil membunyikan sebuah kenongan “Pertandingan akan segera
dimulai! diperkenankan kepada Ki Demang Sulur Suziwardhana untuk memberikan
sambutan dan wejangan singkat.” Ucap sang abdi dalem singkat. Kemudian dari tenda
di sayap bagian timur di satu tempat kehormatan, berdiri seorang pria separuh baya
berblangkon dan berkain lurik hijau. Orang inilah yang dikenal sebagai Ki Demang Sulur
Suziwardhana sang pemimpin Kademangan Pancala Geni. Setelah memberikan
penghormatan kepada para hadirin dan kepada para peserta, Ki Demang mulai
membuka suara. “hadirin yang saya hormati dan saya banggakan! Kini sampailah kita
pada puncak acara pertandingan perebutan satu Pusaka sakti yang bernama Pusaka
Dapur Sakti Pancala Geni! Pusaka satu ini merupakan pusaka yang lain daripada yang
lain! Oleh karenanya pertandingan Final kali ini juga merupakan pertandingan yang lain
daripada yang lain pula!” setiap orang terlihat menahan nafas. “karena pertandingan
yang akan diadakan merupakan pertandingan yang istimewa, maka terlebih dahulu saya
akan memperkenalkan kepada kalian para juri yang telah hadir!” semua orang yang
hadir sontak menatap ke meja juri. “Juri Pertama merupakan orang nomor satu yang di
tuakan dalam dunia persilatan! Beri tepuk tangan buat Ki Gede Tapa Pamungkas dari
Gunung Gede!” tepukan tangan keras terdengar membahana saat seorang tua
berselempang kain putih menganggukan kepalanya di meja juri. “Juri Kedua juga
merupakan orang yang dituakan dalam dunia persilatan, berikan tepuk tangan buat
Datuk Akhirat Penguasa lembah Akhirat!” tepuk tangan kembali terdengar membahana
kala seorang bersarung tangan kulit ular hijau melambaikan tangannya kepada
hadirin.”kini juri yang terakhir… sebenarnya kami sudah meminta Bujang Gila Tapak
Sakti seorang tokoh muda untuk menjadi juri, namun tampaknya ada halangan, maka
juri ke tiga terpaksa kami ganti dan ini lah dia! Syekh Muji dari Blambangan! Berikan
tepuk tangan yang meriah…!” seru Ki Demang Sulur Suziwardhana namun tak ada
seorang pun yang memberikan tepuk tangan pada pria yang menempati meja Juri
terakhir. Di meja terakhir terlihat seorang pria botak bertampang sangar dengan
cambang bawuk meranggas serta alis yang selalu mengkerut duduk dikelilingi beberapa
bocah perempuan. Salah seorang bocah diantaranya bahkan samar-samar terlihat
mendekam dibawah meja diantara kedua kaki Sang Syech. kedua kaki kecilnya
menyembul di balik taplak meja entah sedang berbuat apa! Sementara itu Ki Demang
Sulur Suziwardhana kembali melanjutkan ucapannya. “pertandingan kali ini tidak seperti
pertandingan biasa, oleh karenanya saya akan kembali menanyakan kesiapan para
peserta.” Habis berucap Ki Demang langsung berjalan kedepan kearah meja Pendekar
Dua Satu Dua dan meja Pangeran Matahari. “Pendekar Dua Satu Dua! Apakah kalian
siap menghadapi pertandingan apapun yang akan di laksanakan berikut
resikonya?”tatap Sang Demang. “Siaap…Mang!” seru Sang Pendekar Mantap.
“Bagus… Pangeran Matahari, apakah kau siap menghadapi Pendekar Dua Satu dua
Dalam satu Pertandingan Maut?” Pangeran Matahari menatap pendekar dua satu dua
dengan pandangan penuh kebencian. “Saya juga siap Gan…”ucap sang pangeran tak
mau kalah! “Baiklah! Pertandingan sudah ditetapkan! Sekarang Pertandingan kalian
adalah bukan pertandingan Silat! Tapi pertandingan Masak! Siapkan Celemek Kalian!”
ucap Ki Demang keras sembari menarik kain penutup kedua meja yang ternyata berisi…
peralatan masak dan bahan-bahannya! Pendekar dua satu dua dan gurunya serta
Pangeran Matahari dan gurunya saling memandang kaget “apa-apaan nih? Masak kami
disuruh tanding masak! Yang benar aja Mang!” sergah Wiro Sableng. “iya benar! Ini
keterlaluan namanya ki demang! Kami ini pendekar no satu! Bukan tukang masak no
satu” sambung Pangeran Matahari sementara itu Ki Demang hanya ganda tertawa “mau
pendekar no satu kek! Tukang masak no satu kek! Kalau emang punya nyali ayo
buktikan disini! Atau kalian berdua Cuma punya nyali di kancah pertempuran tapi tidak
di kancah perdapuran? Jangan lupa! Pusaka yang kalian perebutkan adalah Pusaka
Dapur Sakti! Pusaka untuk memasak bukan untuk bertempur! Atau nama Pendekar Dua
Satu Dua Dan Pendekar Matahari Cuma nama kosong belaka?” ejek Pimpinan
Kademangan ini. “Sompret! Sape takut! Nih gue ikut!”geram Pendekar Dua Satu Dua
sambil mengikat celemeknya. “Ente jual Ane borong! Gua juga gak takut Mang!” Ucap
Pangeran Matahari sembari mengenakan celemeknya pula!” Ki Demang Sulur
Suziwardhana tertawa terbahak-bahak! “kalian memang para pendekar yang harus
diacungi jempol! Baiklah! Supaya tidak berlama-lama lagi, inilah bahan dasar yang
sangat dirahasiakan yang harus kalian jadikan makanan terlezat nomer Satu!” Seru Ki
Demang sembari menarik kain penutup tampah ditangannya. “Ayaaam Kampung….!”
Serunya keras. Kedua pendekar pun langsung mendatangi Sang Demang dan
mengambil bagian masing-masing. “Allleeezzz Cuisine…” seru Ki Demang Sulur
Suziwardhana membuka pertandingan. Maka beberapa saat kemudian kesibukan mulai
terlihat jelas di meja kedua kubu, Di Kubu Dua Satu Dua, Wiro Sableng terlihat
menggunakan Kapak Naga Geni Dua Satu Dua untuk mengupas bawang dan
memotong-motong ayam menjadi beberapa bagian sementara Sinto Gendeng terlihat
memanaskan air dalam belanga dengan menggunakan kekuatan ilmu Sepasang Sinar
Inti Roh yang keluar dari sepasang Matanya! “apa yang menjadi strategi anda untuk
memenangkan pertandingan ini?”tanya Wasit Kademangan kala mewawancarai Wiro
sableng di mejanya. “Strategi saya Cuma satu! yakni berserah kepada yang diatas!”
ucap Wiro bersahaja. Namun ucapannya dibalas oleh suara seseorang yang sedang
menjeplok diatas pohon diatas kepalanya. “Enak aja nyerahin sama yang diatas! Kalo
menang iya! nah Kalo kalah?” ucap suara sember Setan Ngompol yang sedang duduk
ongkang-ongkang kaki diatas pohon! “Setan Ngompol Turun Dari Situ! Kau akan
mengencingi makananku!”bentak Wiro Sableng. “iya…iya aku turun!” sungut Setan
Ngompol sembari beranjak turun dari pohon. “Lima Menit Lagi!” Suara abdi dalem
terdengar berbarengan dengan kenongan yang dipukulnya. “Nah Bagaimana dengan
anda Pangeran Matahari, apa Strategi anda melawan Kubu Pendekar Dua Satu Dua?‟”
tanya wasit kademangan yang kini sudah ada pada kubu Pangeran Matahari dan
Simuka Bangkai “saya tidak memiliki strategi khusus karena saya adalah pangeran
segala ilmu, segala cerdik, segala congkak! Saya pasti bisa mengalahkan kecoak dua
satu dua itu!” Ucap Pangeran Matahari sembari memanaskan belanga berisi minyak
dengan senjatanya Lentera Iblis! sementara itu di belakangnya, Sang Guru Si Muka
Bangkai terlihat sedang sibuk menggerus bumbu-bumbu pada sebuah batu Cobek!
Sementara itu waktu terus berlalu, bau sedap mulai tersiar di seputaran arena. “satu
menit lagi!” seru si abdi dalem. “kami sudah Selesai!” teriak Pangeran Matahari tiba-tiba
membuat para hadirin yang sedang berkumpul bersorak keras! “kami juga sudah
selesai!” teriak Pendekar Dua Satu Dua tak mau kalah!
* * *
TUJUH
Pangeran Matahari dan Pendekar Dua Satu Dua menunggu dengan hati berdebar,
sementara itu para Juri tampak sedang berdiskusi dengan alotnya. Sesekali terlihat
Datuk Lembah Akhirat dan Ki Gede Tapa Pamungkas menyeka Keringat yang menetes
di dahi masing-masing. Keduanya berbicara dengan tegangnya namun masih bisa
mengendalikan emosi berlainan dengan Syech Muji dari Blambangan yang sesekali
terlihat menggebrak meja tanda ketidak setujuannya. Akhirnya setelah beberapa saat
yang menegangkan, ketiganya akhirnya mengangguk kepala tanda setuju. Ki Gede
Tapa Pamungkas mewakili ketiganya menyerahkan hasil perhitungan mereka ke tangan
Ki Demang Sulur Suziwardhana. “akhirnya! Pertandingan telah mencapai titik akhir! Di
tangan saya kini sudah ada hasil perhitungan yang telah ditetapkan oleh para juri kita!
Kita akhirnya akan mengetahui, siapa yang berhak atas Pusaka Dapur Sakti Pancala
Geni!” ucap Ki demang keras! Bunyi genderang tiba-tiba terdengar memanjang
membuat setiap orang yang ada menjadi tegang. “Dan… yang menjadi pemenang dan
berhak atas adalah…” bunyi genderang kini bertambah dengan bunyi tambur dan
semakin membuat tegang setiap orang! Tanpa sadar Wiro Sableng dan Pendekar
Matahari yang berdiri bersebelahan mulai saling bergenggaman tangan! “Adalah…”
orang-orang semakin tegang. Sementara itu sepasang kakak-adik yang masih asyik
menghirup arum manis menatap terus kearah Pendekar Dua Satu dua dan Pangeran
Matahari yang tanpa sadar terus berpegangan tangan. “Tuh kan dik! Bener kata kakak!”
ucap sang kakak “ehm…”angguk sang adik .“adalah….” Ketegangan semakin
memuncak. “Ad…” suara ki demang terputus oleh suara omelan Sinto Gendeng. “Sekali
Lagi bilang “Adalah..” makan Tusuk Kondeku! “ Radang Sang Eyang tidak sabaran.
“Pangeran Matahari Dengan resep Ayam Renyah Puncak Merapi….!” Kumandang suara
ki Demang membahana di langit Kademangan Pancala Geni! Sang Pangeran Terpana!
Sementara itu Pendekar Dua Satu Dua duduk menjeplok diatas tanah!
“ Percayalah pada diri..
Dengan Harapan dan Keyakinan….” Lantun beberapa orang sinden diantara sorak
sorai penonton yang gegap gempita!
Beberapa orang gadis cantik kemudian membawa Pangeran Matahari keatas
panggung kehormatan untuk menerima hadiah. “ kau dan muridmu memang hebat!
Kami mengaku kalah..” ucap Sinto Gendeng kepada Si Muka Bangkai sembari
memapah Wiro. “terima kasih Sinto, tapi omong-omong maukah kau ku traktir makan
malam?” ucap sang kakek sambil mengedipkan matanya. “bisa diatur… bisa diatur..!”
balas sang nenek sambil kedipkan mata pula! Sementara itu diatas panggung Pangeran
Matahari diminta untuk membawakan sepatah dua patah kata. “pertama-tama saya
hendak mengucapkan terima kasih kepada Diri saya sendiri… karena kepandaian dan
kecerdikan saya maka saya dapat memenangi pertandingan ini. Kedua juga masih buat
diri saya sendiri… yang…” sang pangeran terus melanjutkan ocehannya tentang dirinya
sendiri hingga akhirnya satu jam kemudian setelah berbicara panjang lebar si Pangeran
berkata. “dan yang terakhir buat guru saya Si Muka Bangkai itu saja!” tutup sang
pangeran. Air mata terlihat jatuh menitik di pipi si muka bangkai. “nih, seka air
matamu…” kata Sinto gendeng seraya memberikan sehelai sapu tangan. “Terima kasih
Sinto…”ucap sang kakek termehek-mehek! Dan akhirnya Pangeran Matahari berhak
mendapatkan yang ternyata berupa satu set peralatan masak berlapis Lapisan Besi anti
lengket berajahkan enam huruf “Teflon”. Dan kemudian dengan menggunakan peralatan
masak ini, pangeran Matahari dan Gurunya akhirnya berhasil merajai dunia masak
nusantara dengan membuka Kedai Ayam Goreng Renyah Puncak Merapi. Kedai
Rumah Makan milik Pangeran Matahari ini terkenal bahkan hingga ratusan tahun. Salah
satu cicit buyut Pangeran Matahari kemudian hijrah ke Mancanegoro yang lebih
tepatnya di daerah Kentucky, Amerika Serikat untuk kawin dengan seorang tentara
bernama kolonel William Sanders.
* * *
Sementara itu kembali ke Kademangan. pertandingan sudah lama berakhir, sudah
tidak ada satupun orang yang terlihat di alun-alun kecuali seorang kakek tua yang
sedang sibuk menyapu. Namun kala itu tiba-tiba didepannya telah berdiri seorang
pemuda dengan tubuh gendut luar biasa dengan nafas ngos-ngosan. tarikan nafasnya
terdengar seperti seekor babi yang menguik-nguik! “paman! Perlombaannya belum
mulai toch? Saya sudah lapar banget nih! Gini-gini saya juri lho!” ucap si gembrot. Sang
kakek Cuma bisa memandang bengong! “Wong edan!” batinnya kemudian!
DELAPAN
arok Kuntet menggenggam kendi berisi tuak di tangannya dengan kencang,
Setelah berkomat-kamit sebentar sang Warok pun dengan kerasnya melemparkan kendi
berisi tuak tersebut hingga pecah ke sebuah lambung kapal! Bersamaan dengan itu
sorak sorai bergemuruh membahana memenuhi udara! tampak para anak buah Warok
kuntet saling bersorak sorai bergembira kala melihat Kapal yang akan mereka naiki
sudah rampung dibuat dan siap untuk diturunkan kelaut! Saking gembiranya bahkan
diantara mereka terlihat ada yang menangis dan saling berpelukan menumpahkan
perasaan mereka selama ini. mereka bukan lagi perampok melainkan peak! Bajak
LaKegeaan juga terpancar dari sepasang mata Suto Kebelet dan Warok Kuntet.
Tampak sesekali Suto Kebelet menyeka air matanya yang menetes di pipi. Sementara
itu setelah acara pelepasan kapal, Ki Ageng Kelapalima seorang Kadi dari Tegalruyub
dipanggil untuk membacakan doa keselamatan bagi kapal Warok Kuntet agar selalu
selamat dari badai dan harta rampokan agar selalu melimpah! Buseet! Alim juga nih
Warok! Acara berikutnya adalah hiburan yang diadakan sang Warok buat para anak
buahnya dan para penduduk pesisir. Acara hiburan yang dimaksud adalah pagelaran
Wayang semalam suntuk dan hiburan Orkes Organ Tunggal! Akhirnya pada keesokan
hari, Tiupan angin yang berhembus kencang ke arah selatan membuat layar dan
bendera Sebuah Kapal berlambang tengkorak berkibar dengan gagahnya. Diatas Kapal
tersebut Dua orang berpenampilan kontras, Yang Satu Pendek Gemuk berbulu lebat
sedangkan satunya kurus krempeng berkepala botak sedang memandangi layar dan
bendera yang sedang berkibar itu. Sepasang mata kedua orang yang tidak lain dan
tidak bukan adalah Warok Kuntet Dan Suto Kebelet terlihat berkaca-kaca! “Suto…
lihatlah bendera itu… dan lihatlah layar ysng terkembang itu.. alangkah gagahnya
Suto…” ucap Warok Kuntet masih menatap Bendera tengkorak. “iya Warok…alangkah
gagahnya… seperti Warok gagahnya…” ucap Suto Kebelet juga masih menatap
bendera namun sesekali melirik kearah Warok Kuntet disampingnya. “kali ini kitalah
penguasa lautan Suto! Kita tak perlu lagi takut terhadap Sinto Gendeng! Kita juga tak
perlu lari terbirit-birit saat melihat Si Muka Bangkai! Juga tak perlu lagi Sembunyi dari
Bujang Gila Tapak Sakti! Kita bukan lagi cecunguk di hutan Alas Mentaok! Kita kini
penguasa lautan! Gerombolan Bajak Laut Warok Kuntet!” ucap Sang Warok berapi-api
masih tetap memandang bendera tengkorak. “benar sekali Warok! Tak ada lagi yang
harus kita takutkan…” ucap Suto Kebelet mesra, kali ini pandangannya tidak lagi tertuju
kearah bendera maupun layar kapal melainkan langsung kearah Warok Kuntet! Tatapan
matanya berubah aneh sementara celananya mulai menonjol kedepan! “Warook…”
desah Suto Kebelet dengan mata agak terpejam. Warok Kuntet mulai palingkan wajah
kearah pria botak disebelahnya “kau kenapa Suto?” tanyanya heran. Suto yang ditanya
hanya mengelendotkan tangannya ke pinggang Warok Kuntet lalu perlahan
dijatuhkannya kepalanya ke bahu Sang Warok. “Warok…kita Ngamar yuk…” desahnya
pelan dengan mata terpejam. Sang warok hanya memandang sejenak lalu derai
tawanya pun pecah! Sembari memeluk pingang Suto Kebelet, Sang Warok pun
melangkah ringan ke dalam kabin kamarnya. “Jaga haluan Kapal, kalau ada kapal lain
mendekat cepat kalian laporkan padaku!” ucap Sang Warok kepada salah seorang anak
buahnya sebelum menutup pintu kamar. Sementara itu tidak jauh dari Kapal bajak Laut
Warok Kuntet yang baru berlayar untuk pertama kalinya, sebuah sampan kecil terlihat
melaju pelan. Diatas sampan kecil itu terlihat seorang wanita yang mendayung
sampannya dengan perlahan. “Kemuning, jangan menangis ya sayang… sebentar lagi
kita akan tiba di daratan, dan sebentar lagi kita akan bertemu dengan bapakmu! Kamu
suka kan? Ibu juga sudah kangen Sudah lama tidak bertemu dengannya, dia pasti akan
kaget melihatmu sudah besar!” ucap wanita bertubuh mungil yang ternyata adalah Nyi
Retno Mantili! Tangan kanannya terlihat sigap menggerakkan tangkai dayung,
sementara tangan kirinya menggendong sebuah boneka kayu yang dipanggilnya
kemuning! (mengenai Nyi Retno Mantili, Janda Cantik yang kurang ingatan ini silahkan
membaca Serial Wiro Sableng berjudul: “Si Cantik Gila Dari Gunung Gede” ) semakin
lama sampan yang dikemudikan oleh Nyi Retno Mantili semakin mendekati kapal Bajak
Laut Warok Kuntet yang baru turun ke laut, hingga akhirnya sampan kecil itu terlihat
juga oleh anak buah Warok Kuntet yang sedang bertugas. Secepatnya anak buah Sang
Warok berlari kearah kamar Sang pimpinan, namun langkahnya terhenti kala
didengarnya dari dalam terdengar suara rintihan dan dengusan Suto Kebelet! Seketika
wajah sang anak buah menjadi merah, nafasnya pun perlahan memburu! Diam-diam
setelah menengok ke kiri dan kekanan Anak buah Warok yang satu ini memberanikan
diri mengintip dari lubang kunci! Dilihatnya satu pemandangan yang menggetarkan!
Suto kebelet terlihat mendesah dan merintih bagai orang kepedasan! Tangan-tangannya
yang jenjang menggengam dan meremas Rambut gondrong Warok Kuntet! Sementara
sang warok yang hanya dapat dilihat punggungnya terlihat bergerak naik turun! Keringat
memercik di dahi si anak buah yang sedang mengintip! Nafasnya terhenti seketika! anak
Buah Warok Kuntet yang sedang mengintip ini terus melanjutkan perbuatannya sampai
akhirnya menyumpah panjang pendek. „Kampret Semprul…! Ketipu aku!” makinya
dalam hati. Bagaimana tidak, sesaat setelah tubuh Warok Kuntet bergerak naik turun
sang warok kemudian terlihat berdiri sambil memegang sebuah Jepitan besi kecil di
tangan kanan dan beberapa helai rambut yang agak keriting di tangan kiri! “Selesai
Suto! Ketekmu kini licin dan mengkilap! He.he.he” tawa Sang Warok memperhatikan
hasil kerjanya sementara Suto Kebelet hanya tersenyum malu-malu, Sang Warok
ternyata hanya sedang mencabuti bulu ketiak Suto Kebelet! Anak buah Warok Kuntet
yang berdiri di depan pintu pun akhirnya memberanikan diri mengetuk pintu kamar
pimpinannya. “Warok! Ada kapal mendekat Warok!” Warok Kuntet yang berada didalam
kamar selekasnya merapikan pakaiannya. Dipandangnya Suto kebelet disampingnya
dengan wajah gembira. “akhirnya datang juga Suto! Korban pertama kita! Ayo Suto
lekas kita ke anjungan!” ucap Warok kuntet setelah berbenah lalu bergegas menuju
anjungan seraya menggenggam Suto Kebelet. Sesampainya dianjungan dilihatnya dari
kejauhan sebuah sampan kecil mendekat dengan perlahan, seorang anak buahnya
kemudian memberikan kepada Warok Kuntet dan Suto Kebelet masing-masing Sebuah
Teropong “Hemm, Wanita kecil itu cantik juga… dan hei lihatlah Suto! Perhiasan emas
yang dipakainya! Aha! Inilah rejeki kita yang pertama Suto! Ha.ha.” lonjak Sang Warok
Kegirangan sementara Suto Kebelet masih terus memperhatikan sampan kecil itu
dengan teropongnya. “Entahlah Warok aku kuatir kalau Sampan Itu ada apa-apanya,
firasat ku mengatakan ka…” ucapan Suto Kebelet terputus oleh umpatan Warok Kuntet.
“Halalah… lagi-lagi firasat! Sudahlah Suto Kau jangan terlalu kuatir! Sekarang kita
berada dilautan! Kitalah Penguasa Lautan! Tidak ada lagi orang-orang sakti seperti
Sinto Gendeng, Si Muka Bangkai, Bujang Gila Tapak Sakti dan orang rimba persilatan
muda itu terus berbicara dan tertawa-tawa sendiri pada boneka kayu! Dia pasti orang
sedeng alias gila! Apa yang perlu ditakutkan! Ini akan semudah merebut permen dari
tangan anak-anak!” ucap Warok Kuntet bersemangat “Hooiii…! Dekatkan kapal ke
sampan itu! Kita dapat mangsa pertama!” teriak Warok Kuntet ke pada Jurumudi. Kapal
besar berlambang dan berbendera tengkorak itu pun mulai mendekat ke sampan kecil
yang dikemudikan Nyi Retno Mantili “hoi! Wanita di dalam Sampan! Aku Warok Kuntet
Penguasa Tujuh Lautan! Aku memerintahmu untuk segera menyerahkan barang-barang
berharga yang ada padamu!”teriak Warok Kuntet Kencang, sementara itu beberapa
anak buah Warok kuntet matanya terlihat nyalang menatap wanita muda diatas sampan.
Sementara Suto Kebelet kembali kambuh penyakitnya! Perutnya terasa mules tak
terkira! “Warok, Se..sebaiknya lepaskan saja wanita itu… aku punya takut ka…” ucap
Suto Kebelet terbata-bata namun kali ini Warok Kuntet tidak menggubrisnya Sama
sekali kali. Kembali Sang Warok Membentak keras, Suaranya yang besar terdengar
menggelegar. “Hei apa kau tak dengar apa yang kubilang tadi? Lekas serahkan
perhiasanmu atau kutenggelamkan sampan kecilmu itu!” Sementara itu diatas sampan
kecil, Nyi Retno Mantili memandang kearah Warok Kuntet dengan bibir cemberut.
“Orang jahat! Suaramu terlalu ribut hingga membangunkan anakku! Coba diam sedikit,
gara-gara kalian sekarang aku harus memberikan susu kepadanya!” Ucap Nyi Retno
Mantili. lalu Enak saja janda Patih Wirabumi ini memelorotkan kembennya lalu
mendekatkan buah dadanya yang putih bagus ke mulut boneka kayunya! Warok Kuntet
dan anak buahnya seketika terpana melihat pemandangan di depannya! Bagaimana
tidak? sepasang buah dada putih kencang terlihat menyembul dihadapan mata! Tubuh
anak buah Warok kuntet termasuk pimpinannya langsung panas dingin! Apalagi Warok
Kuntet yang setiap harinya hanya bisa menikmati dada kerempeng Suto Kebelet! Air liur
berpercikan dari mulutnya! Hanya Suto Kebelet yang memandang dengan wajah
cemberut. Tanpa sadar tangannya membelai dadanya yang kerempeng seakan
membandingkan dada miliknya dengan dada wanita didepannya! Diatas sampan sendiri
Nyi Retno mantili terlihat memandang kurang senang kearah kapal Gerombolan Bajak
Laut Warok Kuntet. “Kemuning, ibu tidak suka melihat muka mereka! Coba lihat mereka
semua, jelek-jelek ya? Apalagi yang cebol berewokan dan yang gundul itu!
Hik.hik.hik.”ucap Nyi Retno mantili sembari tertawa. “Kamu sudah Kenyang ya
Kemuning? Anak baik, sekarang bantu ibu ya..!” ucapnya kembali lalu tiba-tiba wanita
Cantik diatas sampan ini mengarahkan boneka kayunya kearah kapal Warok Kuntet
sembari kedua tangannya meremas sisi kanan dan kiri Boneka Kayu. Tiba-tiba Satu
sinar menyilaukan menghampar dari sepasang mata Boneka Kayu dan Sinar putih
tersebut langsung melabrak Lambung Kapal Warok Kuntet! Kengerian langsung
melanda seluruh penumpang kapal! Termasuk Warok Kuntet dan Suto Kebelet kala
Kapal kebanggaan mereka yang baru beberapa saat lalu diresmikan kini telah terbelah
menjadi dua! Hampir sebagian besar anak buah Warok Kuntet melompat kedalam Laut
sementara Warok Kuntet dan Suto Kebelet langsung berpelukan berpegangan pada
tiang layar! Nyi Retno Mantili hanya tertawa-tawa melihat Kapal besar itu karam
perlahan-lahan. Wanita Yang dijuluki Si Cantik Gila Dari Gunung Gede ini kembali
menggerakkan dayungnya meninggalkan kapal yang mulai karam itu. sementara itu
langit senja yang menaungi kaki cakrawala mulai berwarna merah merona. Sang Raja
Siang perlahan mulai condong kearah barat. Ditengah matahari yang menjelang masuk
ke peraduannya tersebut, terlihatlah siluet dua orang yang sedang berpegangan erat di
sebuah tiang Layar yang perlahan mulai tenggelam “Suto, kau bisa Berenang?” tanya
Warok Kuntet pelan. Wajahnya terlihat bergetar kala dilihatnya Suto Menggeleng pelan
“Tidak Bisa Warok… kau sendiri bisa berenang Warok?” balas Suto Kebelet, sang
Warok pun terlihat menggeleng Pelan. Suto Kebelet menenggak air ludahnya. Tanpa
terasa perutnya yang mulas kembali berputaran, Suto Kebelet berusaha untuk menahan
sebisa mungkin. Namun akhirnya tembok pertahanan itu jebol juga! Warok Kuntet yang
berada pada tiang sebelah bawah hanya bisa terisak kala cairan kuning kental mulai
menetes di kepalanya! Malang nian Nasibmu Warok…!
T A M A T
0 komentar:
Posting Komentar