Rabu, 27 November 2024

191.WIRO SABLENG EPISODE PUSAKA DAPUR SAKTI PANCALA GENI

https://matjenuhkhairil.blogspot.com

 

KARYA : BASTIAN TITO


SATU


Suasana Hutan Alas Mentaok yang biasanya sunyi, pagi ini di tingkahi oleh satu 

siulan kecil. Siulan yang membawakan satu tembang jawa terkenal ini, keluar dari bibir 

perot seorang nenek jangkung namun berbadan agak membungkuk. Sang nenek 

berjalan perlahan mendaki tanjakan di dalam Hutan Mentaok dengan hanya dibantu 

sebuah tongkat butut. sementara itu empat buah tusuk kundai perak terlihat menancap 

di batok kepalanya yang hanya ditumbuhi rambut tipis! Sang nenek terlihat santai 

berjalan melintasi Hutan Mentaok yang terkenal keangkerannya dan menjadi salah 

satu kawasan yang di kuasai oleh para bangsa rampok maupun bandit. Seperti kali ini, 

sang nenek terlihat berjalan acuh seakan tidak menyadari kehadiran puluhan pasang 

mata yang sedang memperhatikan gerak-geriknya. Di atas satu pohon randu yang 

agak kelindungan dua orang dengan tampang sangar terlihat memandang tajam 

kearah sang nenek.

“Bagaimana pendapatmu Suto Kebelet? Apa menurutmu nenek di depan itu 

membawa barang berharga?” bisik orang pertama yang bertampang sangar. 

Rambutnya yang keriting panjang dibiarkan tergerai bebas melambai bersama 

cambang dan jenggot keritingnya yang juga lebat meranggas. Tubuhnya yang gemuk 

berbulu hanya dibiarkan bertelanjang dada sementara celana yang dipakainya adalah 

celana pangsi hitam yang dihiasi Tali Kolor Lawe. lelaki disebelahnya yang dipanggil 

Suto Kebelet bertampang berbalik dari lelaki disebelahnya. Suto Kebelet memiliki 

tubuh kurus kerempeng dan berkulit kuning halus. Dari ujung kepala hingga ujung kaki 

tidak nampak satupun rambut tumbuh di tubuhnya! Kepala bahkan alis matanya tandas 

plontos! Suto Kebelet terlihat menggigit-gigit ujung kukunya sebelum akhirnya 

membalas ucapan orang disebelahnya “Susah Warok Kuntet! Tampaknya nenek satu 

ini bukan nenek sembarangan Warok! Tampangnya juga tidak mungkin membawa 

barang berharga!” “Halaaah…! Kamu itu tahu apa? Perasaan ku mengatakan hari ini 

kita bakalan untung besar! Lihat tusuk kundai yang menancap di kepalanya? Aku 

berani bersumpah itu pasti perak asli! Bukan mustahil nenek di depan itu sumber 

keberuntungan kita hari ini! Iya Toh?”ucap sang Warok yang dipanggil dengan Sebutan 

Warok Kuntet menepis ucapan sahabatnya si Suto Kebelet. Sementara Suto kebelet 

hanya bisa mengiyakan sambil menggaruk-garuk kepalanya. “kalau begitu tunggu 

apalagi? Ayo kita turun sekarang seru sang Warok sembari mengeluarkan suitan 

keras. Begitu suitan keras berkumandang Puluhan lelaki bertampang sangar yang 

merupakan anak buah Warok Kuntet dan Suto Kebelet berserabutan keluar dari 

tempat persembunyian masing-masing, sementara itu Pimpinan mereka yaitu Warok 

Kuntet dan Suto Kebelet sudah lebih dahulu menjejakkan kaki menghadang jalan sang 

Nenek bertusuk kundai perak. Sang Nenek pandangi wajah orang-orang yang 

menghadang di depan jalannya, mulutnya yang perot masih saja mengumandangkan 

siulan-siulan kecil. Warok berdiri sambil menatap keatas kearah suto Kebelet. Hal ini 

dilakukan bukan karena letak berdirinya yang lebih rendah dari Suto Kebelet melainkan 

karena bentuk tubuhnya yang pendek Kuntet! Karena keadaan tubuhnya inilah maka 

Warok satu ini dipanggil dengan Sebutan Warok Kuntet! “Suto Kebelet! Cepat 

perkenalkan diriku pada Nenek didepan ini…!” Ucap Warok Kuntet sengaja dibesar-

besarkan. Suto Kebelet memandang Kearah Warok dibawahnya, kemudian perlahan 

menunduk dan berucap pelan. “tapi Warok, nenek itu kan belum nanya apa-apa...”


Sang Warok mendelikkan mata kearah Sahabatnya tersebut lalu tiba-tiba mencubit 

gemas pinggul “Sang Sahabat” “Adaaouw…!! Iiiih..apaan sih Warok…? Suka gitu 

deh….!” Keluh Suto Kebelet manja! Sang Warok tidak pedulikan Suto Kebelet yang 

menggerutu kian kemari karena dicubit pinggulnya “Hai nenek tua! Saat ini kau 

berhadapan dengan Warok Kuntet! Kalau kau ingin selamat, cepat serahkan seluruh 

barang berharga yang ada padamu termasuk kehormatanmu, Kalau masih ada!” 

Bentak Warok Kuntet garang “Apaan lagi sih Warok minta kehormatan Sagala…? ” 

gemas Suto Kebelet masih sambil mengelus-elus pinggulnya. sementara sang Warok 

hanya ganda tertawa sembari memain-mainkan golok yang dipegangnya. “Suto kamu 

Jangan ngambek begitu, maksudku Nenek ini boleh minggat secara terhormat setelah 

menyerahkan barangnya atau Modar secara terhormat! He.he.he.” ucap Warok Kuntet 

sambil menjawil dagu Suto Kebelet tentunya sambil berjinjit! Sementara itu sang nenek 

yang dihadang hanya menengok sebentar lalu masih sambil bersiul sang nenek 

kembali menajutkan langkahnya! Hal ini tentu membuat rombongan rampok yang 

diketuai oleh Warok Kuntet ini jadi meradang! “Jangkrik! Berani main gila kau nek! Suto 

coba kamu beri pelajaran pada nenek ini!” seru Warok Kuntet. namun saat dilihat 

di samping, Suto kebelet sudah tidak berdiri disisinya! “Maaf Warok! Aku permisi nyetor 

dulu!” teriak Suto Kebelet yang rupanya penyakit kebeletnya kambuh lagi hingga harus 

berlari mencecar ekor ke rerimbunan semak-semak tak jauh dari tempat itu! “Dasar 

Banci tukang berak! Sedikit-sedikit berak!” maki sang Warok dalam hati. “Nenek haram 

jadah! Sekali lagi aku bilang tinggalkan harta dan barang berharga atau lebih baik 

tinggalkan saja nyawamu!” kali ini Warok Kuntet benar-benar kehilangan 

kesabarannya, sementara Sang Nenek terlihat makin cuek! Dengan diiringi dengusan 

keras sang Warok memberikan sinyal kepada anak buahnya untuk serentak 

menyerang sang nenek! Suara riuh bergema di Hutan Alas Mentaok kala puluhan anak 

buah Warok Kuntet menyerbu! Dalam sekejapan mata puluhan orang berangasan 

bersenjatakan bermacam senjata tajam seperti parang, golok, arit, dan Alu lumpang itu 

dengan ganasnya langsung menyarangkan tusukan dan bacokan kearah nenek 

bungkuk yang masih saja berjalan sambil bersiul-siul! Beberapa saat kemudian 

terdengar bunyi logam berdentangan ditingkahi suara orang menjerit dan mengaduh-

aduh! Sementara itu Suto Kebelet yang saat itu masih dalam keadaan berjongkok 

mengejang nikmat terpana sesaat “Apa yang terjadi dengan Warok kuntet ya? Kenapa 

bukan suara Si Nenek yang Menjerit-jerit sih…? Batin Suto Kebelet. Namun “Sahabat” 

Warok Kuntet ini tidak bisa berpikir lebih lama lagi saat didengarnya Suara sang Warok 

Memanggil namanya sambil mengerang-ngerang kesakitan! Secepat Kilat Suto 

Kebelet berusaha mengejan sekuat-kuatnya lalu setelah itu berlari menuju asal suara 

erangan Warok kuntet sambil tergesa-gesa membetulkan tali ikat celananya yang 

kedodoran! “Warok..! ya ampun Waroook…! Kenapa Jadi Begindaaang…!” seru Suto 

Kebelet kala mendapati Tubuh Warok Kuntet dan semua anggotanya bergelimpangan 

dalam keadaan babak-belur! sementara itu bayang sang Nenek sudah tidak terlihat 

lagi, hanya suara siulannya yang masih bergema di sepanjang Hutan Alas Mentaok. 

“Warok! Aduhh…! Kenapa jadi babak belur begini…” ujar Suto Kebelet panik sembari 

membelai-belai wajah Sang Warok yang babak belur. Sang Warok yang terbaring 

lemas ditanah hanya bisa mengerang kala tangan Suto Kebelet membelai wajahnya 

namun tiba-tiba hidungnya mengendus-endus lalu… “Setan Kau Suto!!!! Kau belum 

Cebok…!!!!” teriak Warok Kuntet Sembari mendekap hidung lalu “Hueeeek…!” Sang 

Warok Langsung tumpah! 



DUA



Kuto Kebelet pandangi Warok Kuntet dan anak buahnya dengan bibir cemberut, 

Sang Warok kala itu terlihat serius berjongkok dikelilingi oleh para anak buahnya masih 

di seputaran hutan Alas Mentaok. Sesekali Sang Warok terlihat menuliskan sesuatu 

diatas tanah dengan menggunakan ujung goloknya. Suto Kebelet yang merasa tertarik


langsung mendatangi dan turut berjongkok di samping Warok Kuntet, namun Suto 

Kebelet tiba-tiba terkejut kala Sang Warok diikuti oleh semua anak buahnya serentak 

berdiri lalu beranjak beberapa tombak dari tempat Suto berjongkok, lalu kembali 

berkumpul membahas sesuatu seolah-olah tidak terjadi apapun! Suto Kebelet 

dianggap angin lalu! Suto terpana dibuatnya! lalu dia pun mengikuti ke tempat Warok 

dan anak buahnya berkumpul namun hal yang serupa kembali terjadi! Saat Suto 

berjongkok, Warok dan kawan-kawannya berdiri! Berpindah tempat dan melanjutkan 

pembahasan mereka dengan serius sekali!

Suto benar-benar keki dibuatnya! “Waroook! Tega benar deh..! kalau aku di 

cuekin terus, lebih baik kau pulangkan saja aku ke kedua orang tuaku…!” Sungut Suto 

Kebelet kesal sambil menghentakkan-hentakkan kedua kakinya. Warok Kuntet yang 

mendengar sungutan Suto Kebelet meledak tawanya “kau mau aku pulangkan ke 

orang tua yang mana Suto? Jeng Wongso Sinden Pleret Atau Nyai Bambang di Taman 

Lawang?” ucap Sang Warok yang langsung dibalas dengan ledakan tawa riuh dari 

para anak buah Warok Kuntet. “Warok Kuntet! Kau benar-benar keterlaluan! Aku tidak 

mau lagi melayanimu main! Biar kau tahu rasa…!” sungut Suto Kebelet sembari 

membalikkan badan. Warok Kuntet angkat satu tangannya ke atas memberi tanda 

agar anak buahnya diam. “ Suto, Jangan Suka marah-marah begitu, aku Cuma main-

main menggodamu, Jangan dimasukan di hati Nanti Cepat Tua! Tapi omong-omong 

Kau benaran sudah cebok Suto? Tidak bau lagi kan?” ucap Sang Warok kali ini 

dengan nada mesra! “Tidak… tidaaak…!” jerit Suto kebelet sambil menghentakkan 

kakinya seperti anak kecil. Warok Kuntet hanya tertawa kecil saat memandang tingkah 

Suto Kebelet. “kemarilah Suto, kami sedang membahas hal penting..” ujar Warok 

Kuntet menenangkan Suto Kebelet. Setelah Suto Kebelet mulai bergabung kembali 

Warok Kuntet membuka pembahasan yang terhenti. “Dengarlah ini para anak buahku, 

dan kau juga Suto Kebelet, kekalahan kita hari ini pada dasarnya hanya terletak pada 

satu kesalahan kecil….” Para anak buah Warok Kuntet dan Suto Kebelet 

mendengarkan dengan penuh perhatian. “Kesalahan itu adalah bahwa kita terlalu lama 

dan terlalu perhitungan sehingga sasaran kita punya waktu untuk menggunakan ilmu 

kepandaiannya!” sambung Warok Kuntet. “Jadi menurut Warok, apa yang harus kita 

lakukan berikutnya?” tanya Suto Kebelet. “langsung Kita Hantam! Tidak perlu 

membuang waktu lebih lama lagi sehingga buruan kita sempat menyusun kekuatan!” 

seru Sang Warok berapi-api. saat itulah terdengar suara burung kulup berbunyi di 

hutan Alas Mentaok. Warok Kuntet yang mendengar Suara Sandi berupa Suara bunyi 

Burung Kulup itu langsung memberi kode kepada seluruh anak buahnya “cepat 

kembali ke pos masing-masing! Ada sasaran yang baru datang, tapi ingat! Begitu 

batang hidung sasaran kita kelihatan, Jangan Beri Ampun!” seluruh anak buah Warok 

Kuntet serempak mengaggukkan kepala dan langsung kembali ke pos masing-masing, 

sementara itu Warok Kuntet dan Suto Kebelet juga sudah kembali ke atas Pohon 

Randu tempat persembunyiannya. Saat Warok Kuntet menjejakkan kakinya keatas 

dahan, seorang anak buah Warok Kuntet telah tampak duduk menunggu. “bagaimana 

keadaannya Sukarta?” tanya Warok Kuntet kepada anak buahnya yang bertugas 

sebagai Telik Sandi tersebut. “Seorang Kakek Warok! Tidak terlihat membawa barang 

berharga, tapi itu Warok…”ucap sang Telik Sandi terputus. “itunya apa..?”tanya sang 

Warok penasaran “itunya panjang ya..?” celetuk Suto Kebelet yang langsung dibalas 

delikkan mata oleh Warok Kuntet! “itu Warok! Mukanya… Mukanya putih pucat! Seperti 

muka Bangkai!” seru sang telik sandi ketakutan. Keadaan sunyi terasa seketika 

sebelum akhirnya dipecahkan oleh suara tersendat suto Kebelet. “Warok...! lebih baik 

dibatalkan saja Warok! Jangan-jangan kakek itu bukan orang, tapi Demit Alas 

Mentaok” ucap Suto Kebelet ketakutan sembari memeluk pinggang Warok Kuntet. 

Warok kuntet tepiskan tangan Suto Kebelet yang memeluk pingangnya. “Aku takut 

Warok… aku punya firasat…” ucap Suto Kebelet terputus-putus “Halaaah! mulai lagi 

lagakmu Suto! Kalo kamu takut sana pergi ke Jurang Mentaok dan Berak sepuasmu


biar rasa takutmu hilang!” dengus Warok Kuntet. Suto Kebelet yang bisa membaca 

kemarahan Warok Kuntet akhirnya hanya bisa mengkirik ketakutan. Beberapa saat 

kemudian di pengkolan jalan mendaki terlihat sosok seorang kakek tua renta sedang 

mendaki tanjakan. Tak terlihat satu hal yang istimewa pada diri sang Kakek kecuali 

wajahnya yang putih seperti bangkai! “inilah saatnya!”ucap Warok Kuntet dalam hati. 

Sang Warok pun serta merta berteriak kencang dan melesat dari pohon randu tempat 

persembunyiannya. “Serbuuuu…!”teriaknya keras. Maka bergeraklah serentak laskar 

Warok Kuntet menyerang dengan serempak pada Kakek “malang” tersebut. “Berani 

kalian pada Si Muka Bangkai, Guru Pangeran Matahari… Huh…?” bentak Sang kakek 

tiba-tiba. Warok Kuntet dan anak buahnya terperanjat dengan apa yang dikatakan oleh 

Sang Kakek Muka Bangkai. Tubuhnya yang meluruk deras kebawah tiba-tiba 

melenting berputar dan berbalik arah. “Kabuuuur….!” Teriaknya tak kurang semangat 

dari teriakannya yang pertama! Bedanya teriakan pertama karena semangat berapi-

api, Sedangkan teriakan kedua karena takut menyala-nyala! Tindakan Warok Kuntet 

juga diikuti oleh semua anak buahnya yang turut gentar mendengar nama yang 

disebutkan oleh sang kakek. Sementara Suto Kebelet yang berada diatas pohon 

jangan ditanya lagi, “Sahabat” Warok Kuntet ini sudah tadi-tadi kecipirit di celana! 

“kalian pikir bisa seenaknya kabur? Terima dahulu oleh-oleh dari Si Muka Bangkai” 

ucap sang kakek sembari menggerakan tangan, maka dari kedua tangannya yang 

ringkuh melesat puluhan kecil lidah api yang menderu kesetiap orang anak buah 

bahkan termasuk kearah Warok Kuntet! Maka melolonglah mereka semua karena 

pantat masing-masing terbakar api! tidak terkecuali Warok Kuntet! Sang Warok berlari 

kesana kemari sembari berusaha memadamkan api yang membakar pantat celananya. 

“Sutooo….! Sutooo…! ambilkan Air…!” teriak Warok Kuntet panik, tanpa mengetahui 

kalau Suto Kebelet Juga saat itu sedang panik mencari air untuk dirinya sendiri…


TIGA


Kademangan Pancala Geni merupakan Salah satu kademangan yang letaknya 

sangat terpencil. Bersebelahan dengan areal Candi Plaosan di sebelah Barat dan 

bersebelahan dengan Kawasan Hutan Alas Mentaok di sebelah Utara, sementara 

sebelah Timur dan Selatan bersebelahan dengan Laut Jawa. Keadaan serta letak 

Topografi wilayah Kademangan tersebut membuat Kademangan ini agak terpencil dari 

keramaian. Meskipun begitu, Kademangan yang masih satu wilayah kekuasaan dengan 

Pajang ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Guna berjaga-jaga terhadap serangan 

yang mungkin saja bisa datang dari gerombolan rampok dan begal dari jurusan Hutan 

Alas Mentaok, dan perompak yang biasanya berkeliaran di seputaran Laut Jawa, maka 

dibangunlah tembok tinggi terbuat dari batang kayu pohon kayu besi mengelilingi areal 

pemukiman dan areal Kademangan sendiri. Sementara itu penjagaan di Kademangan 

Pancala Geni juga sangat ketat. Setiap orang yang masuk maupun keluar dari 

Kademangan ini selalu diperiksa oleh para penjaganya yang bertubuh tinggi tegap. 

Akhir-akhir ini Kademangan Pancala Geni memang sedang banyak dibicarakan oleh 

kalangan dunia persilatan. Hal ini menyangkut sayembara perebutan satu pusaka yang 

disebut dengan yang memang diadakan di Kademangan Pancala Geni. Pemimpin 

Kademangan ini sendiri memang dahulunya adalah seorang Pendekar sakti yang 

mengabdi pada kerajaan Demak. Pada saat terjadi perpecahan yang akhirnya membagi 

Demak menjadi Jipang yang dikuasai oleh Arya Penangsang dan Pajang yang dikuasai 

oleh Karebet, atau yang lebih dikenal dengan panggilan Jaka Tingkir di masa mudanya, 

pendekar Sakti ini akhirnya mengabdikan diri kepada Pajang. Dan pada masa tuanya 

atas pengabdiannya terhadap kerajaan, maka Sang Pendekar Sakti mendapatkan 

penghargaan berupa jabatan sebagai penguasa Kademangan Pancala Geni, kampung 

halamannya. Nama Pendekar Sakti yang menjadi pemimpin Kademangan Pancala Geni 

itu adalah Ki Demang Sulur Suziwardhana. Pada masa mudanya dulu Ki Demang Sulur 

Suziwardhana dalam tugasnya sebagai prajurit Demak sering melanglang buana ke 

banyak tempat. Dan dari beberapa tempat tersebut Ki Demang Sulur Suziwardhana 

banyak mempelajari ilmu Olah Kanuragan dan adat–istiadat serta bahasa yang dipakai 

oleh masyarakat setempat, sehingga tidaklah mengherankan jika Selain pandai dalam 

olah kanuragan, Ki Demang Sulur Suziwardhana juga banyak menguasai bahasa asing 

termasuk bahasa-bahasa Mancanegoro. Ki Demang Sulur Suziwardhana juga banyak 

mengikat persahabatan dengan banyak tokoh dunia persilatan, baik golongan hitam 

maupun golongan putih sehingga tidak satupun orang yang berani mengusik dDemang 

satu ini. Pada masa mudanya, Ki Demang memiliki kegemaran mengumpulkan benda-

benda pusaka. Hal ini tidak bisa dilepaskan akan kesukaan Ki Demang Sulur 

Suziwardhana akan ilmu silat. Koleksi pusakanya benar-benar sangat banyak! Koleksi 

Ki Demang juga bermacam-macam dari kitab-kitab olah kanuragan sampai senjata-

senjata atau Tosan Aji yang mumpuni berjejeran memenuhi gudang penyimpanan 

pusakanya. Ki Demang juga bukan termasuk orang yang pelit dan kikir. Guna 

menyalurkan kesukaannya akan ilmu silat maka setiap tahunnya tepat tanggal Satu 

suro, di Kademangan Pancala Geni selalu diadakan perlombaan atau sayembara yang

berhadiah harta pusaka! Maka hari itu tepat tanggal Satu Suro, keramaian memadati 

alun-alun Kademangan Pancala Geni. Dua buah Panggung arena tanding terlihat 

didirikan diatas regol sebelah barat kademangan. Disekeliling kedua panggung tampak 

banyak penonton yang dengan antusiasnya menyaksikan jalannya pertandingan yang 

tengah berlangsung panas. Di salah satu pangung terlihat dua orang peserta tengah 

bertarung dengan sangat serunya, salah seorang peserta pertandingan itu adalah 

seorang pemuda gondrong berbaju putih. Sementara satunya lagi adalah seorang pria 

hitam dengan tubuh luar biasa gemuknya! Sang pemuda gondrong sudah terlihat


kepayahan menangani serangan-serangan yang dilakukan oleh si pria hitam bertubuh 

gemuk luar biasa itu. Saat satu tamparan keras menghajar punggungnya, sang pemuda 

pun terpelanting hampir keluar panggung! “yaa… kita saksikan pertandingan sudah 

mulai memanas! Pendekar Dua Satu Dua tampaknya tak kuasa melawan serangan-

serangan mematikan yang dilancarkan oleh Buntet Ireng Pendekar Rawa Bangke! 

Apakah Pendekar andalan golongan Putih ini bisa bangkit melanjutkan pertandingan? 

Kita lihat saja…!” ucap Wasit Kademangan yang juga merangkap sebagai Orator ini 

berapi-api! Agar suaranya jelas terdengar, Wasit Kademangan menggunakan sebuah 

corong yang terbuat dari anyaman gedek bambu. “uuh… andaikan aku bisa 

menggunakan kapak sakti atau tenaga dalam, aku pasti bisa mengalahkan buntalan 

kentut itu! Sialan…! Peraturan salah Kaprah…! Bagaimana orang bisa bertarung 

melawan orang ini kalau tidak diperbolehkan menggunakan senjata dan tenaga dalam!” 

batin Pemuda gondrong yang ternyata adalah Pendekar Dua Satu Dua ini. “orang ini 

tidak memiliki kepandaian yang berarti! Tenaga dalamnya juga hampir-hampir tidak ada! 

Tapi Keteknya itu lho! Buseet Bujubune! Rontok bulu hidungku setiap berdekatan 

dengannya!” batin sang pendekar kembali. Namun Sang Pendekar tidak bisa berpikir 

panjang kala Lawannya yang dipanggil Pendekar Rawa Bangke ini kembali 

melancarkan serangannya. (mengenai riwayat Pendekar Rawa Bangke Buntet Ireng, 

silahkan Baca Serial Pangeran Matahari kala terpesat ke Negeri Latanahrantau dalam 

episode: Asmara Darah Setan Ngompol dan Sontoloyo Dari Susukan) Sang pendekar 

terpaksa bergulingan di lantai panggung kala jari-jari sebesar pisang ambon lewat diatas 

kepalanya! Angin berbau dahsyat yang turut serta bersamaan dengan pukulan tangan 

Pendekar gendut yang dipanggil dengan nama Buntet Ireng ini membuat kedua kaki dan 

kedua lubang hidung Pendekar Dua Satu Dua Wiro Sableng sama-sama 

bergemeretakan! Setelah bisa mengendalikan tubuh dan perasaannya yang hampir 

semaput, sang pendekar mulai bersilat aneh. Gerak-geriknya sudah hampir tidak seperti 

orang bersilat lagi, jatuh, terlentang dan kadang-kadang seperti orang mabuk! Wiro 

dengan berkonsentrasi penuh mengeluarkan ilmu yang diberikan oleh Tua Gila yakni 

Ilmu Silat Orang Gila! Saking berkonsentrasinya Sang Pendekar tidak memperhatikan 

kalau Pendekar Gendut dengan bau ketek selangit yang sedari tadi berdiri di depannya 

kini tidak lagi terlihat! Sang pendekar baru tersadar saat satu benda berat sebesar gajah 

jatuh seakan dari langit menimpa tubuhnya! “Tobat…! Mampus Aku Eyang…!” jerit 

Murid Eyang Sinto Gendeng setinggi langit! Ruas-ruas tulangnya berbunyi berkeretekan 

dan rasa sakitnya benar-benar hampir tak tertahankan saat tubuh Pendekar Rawa 

Bangke yang kalau dibandingkan dengan tubuh gendut Bujang Gila Tapak Sakti masih 

jauh lebih Besar ini menghempas keras pungungnya! Bersamaan dengan tertimpanya 

tubuh Wiro oleh Lawannya, satu tawa terbahak-bahak terdengar dari arah panggung 

kedua. “Ha.ha.ha… Jurus apa yang kau mainkan itu Wiro? Jurus Orang Gila Kegencet 

Gajah? Atau kau memang sedang bermain cinta dengan Lawanmu si gajah bunting itu 

Wiro? Bilang sama Tua Gila, ganti saja nama jurus Orang Gilanya dengan Jurus Silat 

Gajah Bunting! Lebih cocok kalau kau yang mainkan seperti sekarang! Ha.ha.ha.” gelak 

tawa seorang pemuda dari panggung sebelah. Kala Wiro dan orang-orang dibawah 

panggung melihat ke arah panggung yang satunya, maka bersorak-sorailah orang 

banyak terkecuali Wiro saat melihat seorang pemuda dengan jubah hitam 

berlambangkan gunung merapi dengan gambar matahari bulat di tengahnya sedang 

enak-enaknya duduk ongkang-ongkang kaki diatas tubuh lawannya yang juga cukup 

besar. “Pangeran Matahari Keparat…” desis Pendekar Dua Satu Dua. Kepalanya 

semakin pening dan pandangan sang pendekar mulai menggelap.


EMPAT


Pemuda yang ternyata adalah Pangeran Matahari Dari Puncak Matahari tersebut 

masih tertawa terbahak-bahak sambil memandang Pendekar Dua Satu Dua yang 

sedang mengerang-ngerang kesakitan karena tubuhnya di himpit tubuh Gendut Buntet 

Ireng. Sementara itu di bangku penonton seorang kakek kurus kering seperti tengkorak 

menggembor keras mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Pangeran Matahari 

“Pangeran Keparat! Enak saja jurus ku dibilang Ilmu Silat Gajah Bunting! Biar aku kawin 

dengan gajah bunting juga tapi apa yang dikatakannya sudah keterlaluan! Benar-benar 

Cah Edan! Benar-benar harus diberi pelajaran anak kurang ajar itu!” geram si Kakek 

yang ternyata adalah Tua Gila! “Oouuuww… jadi kau menyesal kawin dengan Gajah 

Bunting? Kau tersinggung rupanya? Coba bilang siapa yang setiap malam selalu 

menjerit-jerit kenikmatan minta tambah waktu ditindih gajah bunting? Coba bilang 

Siapa?” jawab seorang nenek gemuk yang menggunakan topi tinggi berbentuk tanduk 

kerbau sambil menjewer telinga Tua Gila! “Aduuh…! Aduh… Sabai! Sakiit!... sakit…! 

Ampuun Sabai…!”jerit Sang Kakek setinggi Langit! “makanya lebih baik kau duduk diam 

atau ku sumpal mulutmu sebelum ngomong ngaco lagi!” ucap nenek gemuk yang 

ternyata adalah Sabai Nan Rancak sembari menghempaskan tubuh tua Gila yang 

mengkeriut ketakutan disebelahnya! Tua Gila akhirnya hanya bisa terdiam sembari 

menatap jalannya pertandingan. Sesekali diliriknya sang istri dengan sinar mata 

ketakutan. Sementara itu keadaan yang dihadapi oleh Pendekar Dua Satu Dua semakin 

lama semakin berbahaya! Pening di kepalanya membuat sang pendekar nyaris 

kehilangan kesadaran. Antara sadar dan tidak, Sang Pendekar mulai mengalami 

Halusinasi. Pendekar Dua Satu Dua mulai melihat bayangan wajah para gadis cantik 

yang selama ini menemani kehidupan asmaranya. Yang pertama sekali dilihatnya 

adalah bayangan Anggini murid Dewa Tuak, anggini terlihat tersenyum manis 

kepadanya. Wiro perlahan membalas senyum itu namun kemudian dilihatnya anggini 

tertawa meninggalkannya sambil berpelukan mesra dengan Panji anak Rajo Tuo Datuk 

Paduka Intan! Kemudian Dilihatnya bayangan Bidadari Angin Timur tersenyum begitu 

dekat diwajahnya namun saat hendak membalas senyuman tersebut kembali dilihatnya 

Sang Bidadari pergi meninggalkannya sambil bercumbu mesra dengan Tubagus 

Kesumaputera atau Jatilandak! Pendekar Dua Satu Dua mulai menggeram marah! Wiro 

Sableng perlahan mulai pulih kesadarannya, amarah yang dihasilkan karena hawa

cemburu semakin lama semakin meningkatkan tenaga dalamnya. Apalagi saat giliran 

bayangan Ratu duyung tersenyum padanya. “sekarang siapa lagi?” geram Wiro dan 

benar saja! sesaat kemudian Ratu Duyung dilihatnya melenggang pergi 

dengan…Bujang Gila Tapak sakti! (?) pantat si gendut terlihat diogel-ogelkan ke 

arahnya sementara tangannya yang gempal dilihatnya mengelus-elus pinggul Sang 

Ratu! “Kerbau bunting keparat…!” maki sang Pendekar dalam hati kala dalam 

halusinasinya melihat kelakuan Santiko alias Bujang Gila Tapak Sakti. Dan 

kesadarannya akhirnya kembali! Tangan Sang Pendekar terkepal kencang lalu dengan 

cepat jempol tangannya diacungkan keatas dan… “Maknyak.........!” Tubuh Gendut 

Buntet Ireng Si Pendekar Dari Rawa Bangke terlontar tinggi dan terhempas di luar 

panggung kala jempol maut Pendekar dua Satu Dua Dengan Suksesnya mendarat di 

daerah antara Dua Kantong menyan dan Sumur Kriput! Perasaan Ngilu snut-snut yang 

tak bisa dijelaskan dengan kata-kata membuat Buntet Ireng sampai menunging-

nungging di bawah Panggung! Wasit Kademangan lalu membantu Pendekar Dua Satu 

dua untuk berdiri sembari mengangkat tingi-tinggi tangan sang Pendekar! 

“Pemenangnya adalah Pendekar Dua Satu Dua Wiro Sableng!” teriak Sang wasit keras. 

Sorak sorai pendukung Wiro terdengar pecah membahana memenuhi halaman regol 

Kademangan! “Dan akhirnya sudah ditetapkan dua orang peserta yang akan bertarung 

memperebutkan pada babak final nanti Adalah Pangeran Anom atau Pangeran Matahari 

dan gurunya Suto Ageng Kalamenggolo alias Si Muka Bangkai! melawan Pendekar Dua


Satu Dua Wiro Sableng beserta Gurunya Sinto Gendeng! Pertandingan akan 

dilangsungkan selepas Isya di alun-alun kademangan!” sambung sang wasit. Para 

penonton pun kemudian dengan tertib membubarkan diri. sementara itu Pangeran 

Matahari terlihat mendatangi Pendekar Dua Satu Dua Wiro Sableng yang masih berdiri 

mengatur Nafas di atas Panggung. “ha.ha.ha. kau benar-benar tidak mengecewakan 

aku Wiro! Ku kira kau tadi bakalan mampus melawan Si Gajah Bunting, Eh ternyata kau 

hebat juga! Nasibmu benar-benar mujur” ucap Sang Pangeran sembari menepuk-nepuk 

bahu Musuh besarnya itu. Sementara itu Wiro yang merasakan tepukan yang dialiri 

tenaga dalam tinggi itu kemudian mengerahkan sebagian tenaga dalamnya ke bahunya 

lalu ganda tertawa “ha.ha.ha. ya jelas Anom! Aku tidak akan mampus dulu sebelum 

teman lama sepertimu mendahului! Aku itu masih menghormatimu Anom, hingga 

mempersilahkan dirimu lewat duluan!”gelak Wiro sambil membalas menepuk bahu Sang 

Pangeran. Sang Pangeran yang tidak mau kalah kini malah memeluk erat Sang 

Pendekar! “kau benar-benar sahabatku yang baik Wiro! Walau biasanya kita selalu tidak 

akur, tapi ternyata kau masih juga menghormatiku!”seru Sang Pangeran sambil 

mengerahkan tenaga dalam pada Rangkulannya. Jangankan manusia, Kerbau Saja 

kalau masuk dalam Rangkulannya pasti akan lumat menjadi Dendeng! Dan Pendekar 

Dua Satu Dua pun Tidak mau kalah! Selekasnya dibalasnya Rangkulan Pengeran 

matahari sembari mengalirkan tenaga Dalam! “ah tidak Perlu Sungkan Begitu Anom, 

kita kan bersahabat. Saling menghormati itu sudah wajarlah!” ucap Wiro sableng 

sembari menambah tenaga dalamnya. Maka terjadilah pertandingan kecil yang aneh 

dimana dua orang pria sesama jenis saling berpelukan erat sambil tertawa-tawa! 

Mereka berdua terus bertanding tanpa menyadari kalau areal pertandingan sudah sepi, 

yang tersisa hanyalah dua orang anak kecil umur sembilan dan sepuluh tahun yang 

memperhatikan kelakuan mereka dengan seksama. “Kak, mereka lagi ngapain sih? Kok 

kayak orang pacaran sambil pelukan segala?”ujar sang adik yang masih menatap 

kearah dua orang diatas panggung sambil menghirup arum manis. “mereka itu lagi 

sayang-sayangan dik, lagi main papah-mamah!” sambung sang kakak yang juga sedang 

asyik menghirup arum manis. “oh jadi, nanti mereka bakalan kayak emak sama bapak 

tadi malam itu ya kak? Yang main genjot-genjotan itu ?”tanya sang adik kembali seakan 

tanpa dosa. “Ehm! Kayaknya sih begitu dik…”ujar sang kakak menerangkan seakan tak 

bersalah. Wiro dan Pendekar Matahari yang sebelumnya tidak memperhatikan kedua 

adik-kakak tersebut menjadi pucat wajahnya apalagi saat sang adik kembali bertanya 

pada sang kakak. “tapi kan kak, kakak-kakak itu kan laki-laki, kalau mau gitu-gituan 

tititnya mau dimasukin dimana ya kak?” Wajah Wiro dan Pangeran matahari semakin 

pucat pasi. “ya bisa lah dik, mereka berdua kan gak normal! Tititnya nanti bisa gantian 

dimasukan di…”belum sempat sang kakak kembali memberikan penjelasan 

gendengnya, langsung terputus oleh bentakan Wiro dan Pangeran Matahari. 

“Diiiaaaaaammmmm…!!!!” keduanya langsung melepaskan pelukan masing-masing 

sambil termuntah-muntah di pinggiran pangung arena! 

5


LIMA



arok Kuntet pandangi satu persatu anak buahnya dengan tatapan tajam. Setiap 

kali pandangan matanya membentur pandangan mata anak buahnya, maka seketika itu 

juga sang anak buah langsung menundukkan kepalanya. Malangnya karena tubuh Sang 

Pimpinan pendek kuntet, maka walaupun sudah menundukkan kepala tetap saja 

pandangan mereka bentrok dengan tatapan tajam Sang Warok! Hingga tidak heran 

begitu Sang Warok Menatap, banyak anak buahnya yang langsung memejamkan 

matanya ketakutan! “Sedari pagi kita belum mendapatkan mangsa satu orang pun! 

Dengarkan baik-baik, Satu orang pun! Bagaimana kita bisa menghidupi kehidupan kita, 

menghidupi anak istri kita dan membiayai orang tua serta membayar arisan kalau kita


tidak bisa mendapatkan korban?” ucap Sang Warok memecah keheningan. “memang 

tidak dapat disalahkan kalau kita tidak mampu melawan orang-orang sakti seperti Sinto 

Gendeng maupun si Muka Bangkai, cuma kalau keadaannya terus-terusan seperti ini 

maka bisa dipastikan kita semua akan mati kelaparan!” lanjut Sang Warok sambil 

berjalan hilir mudik. Setiap kali Sang Warok Berjalan, maka orang yang dilewatinya pasti 

langsung menutup mata! “hari ini kita harus segera memecahkan masalah yang kita 

hadapi tersebut! oleh karenanya saya meminta kepada kalian semua yang kiranya 

punya ide atau pemecahan yang tepat untuk masalah yang kita hadapi ini untuk segera 

maju kedepan!” Sambung Sang Warok seraya menatap anak buahnya satu persatu. 

“Waroook, saya punya ide…” ucap Suto Kebelet memecah kesunyian. Sang warok pun 

langsung memalingkan wajahnya kearah Suto Kebelet. “Ya Suto, ide apa yang kau 

punyai? Aku mau dengar…” Suto Kebelet mendehem pelan. “selama ini kita selalu 

berhasil merampok setiap orang yang melintasi Hutan alas Mentaok karena orang-orang 

itu adalah orang kebanyakan, hari ini kita gagal karena orang-orang yang kita hadapi 

adalah orang-orang sakti mandraguna jadi…” Warok Kuntet yang tidak sabaran 

langsung memotong “Sudahlah Suto jangan bertele-tele! Langsung ke pokoknya saja!” 

“begini Warok Karena kita kurang sakti dari mereka maka kita harus menggunakan otak! 

Bagaimana kalau kita mempersiapkan sebuah jebakan? 

Kita hanya tinggal tunggu mangsa kita masuk dan kita tidak perlu repot-repot lagi!” 

sambung Suto Kebelet. Warok Kuntet yang mendengar penjelasan “sahabatnya” 

tersebut terdiam sejenak sebelum akhirnya berlonjak kegirangan! “Suto! Kau memang 

betul-betul cerdik! Mengapa tidak terpikirkan sebelumnya dikepalaku yah! Bagus.. 

usulmu benar benar bagus!”ucap Warok Kuntet seraya menggemgam tangan Suto 

Kebelet. “Sarwo dan kamu Juned! Cepat ambil pacul lalu buat lubang yang besar di 

tikungan atas! Kita harus cepat mempersiapkan Jebakan! Yang lain cepat kalian tebang 

satu pohon Kayu Besi yang tumbuh di sebelah selatan hutan Alas Mentaok…!” seru 

Warok Kuntet memberi perintah yang langsung diiyakan dengan cepat oleh para anak 

buahnya. “Lihatlah itu Suto, mereka benar-benar penurut! Tadi saja waktu aku mondar-

mandir mereka pada merem! Takut rupanya! he.he.he..” tawa Warok Kuntet riang 

“ma..maaf Warok! Mereka sebenarnya bukannya merem karena takut tapi karena… 

itu…!” tunjuk Suto Kebelet. “itu apa…?” balas Warok kuntet penasaran “Itu warok…! 

Pantatnya keliatan.! Hik.hik.hik..” Ucap Suto sembari menahan tawa saat menunjuk 

pantat celana Warok Kuntet yang bolong besar akibat “oleh-oleh” Si Muka Bangkai! 

Rupanya Sang Warok Lupa mengganti celananya yang lobang hingga dua kue apem 

burik terpampang kemana-mana. “Sialan kau Suto! Kenapa tidak bilang dari tadi!” 

bentak Warok Kuntet sembari berlari ke perkemahan untuk mencari celana pengganti. 

Setelah beberapa saat, Warok Kuntet pun kembali dengan mengenakan celana yang 

baru. “ayo Suto kita awasi pekerjaan mereka.” Ajak Warok Kuntet ke tempat dimana 

jebakan dibuat. Beberapa saat kemudian akhirnya sebuah lubang jebakan yang cukup 

dalam telah dibuat oleh anak buah Warok kuntet, Lubang jebakan tersebut kemudian 

ditutup dengan anyaman gedeg yang dilapisi pasir hingga tak tampak dari luar. Diatas 

lubang jebakan juga telah tergantung sebuah gelondongan besar pohon kayu besi yang 

terikat sedemikian rupa dan tersambung dengan lubang jebakan! Sehingga andaikata 

ada orang yang terjerumus dalam lubang jebakan, maka gelondongan besar pohon 

kayu besi yang tergantung diatas jebakan juga akan lepas dan menumbuk orang yang 

terjebak! Benar-benar cerdik namun sekaligus keji! Warok Kuntet tersenyum puas 

melihat hasil jerih payah anak buahnya. “bagus kerja kalian wahai anak buahku! 

Sekarang tugas kita tinggal menunggu mangsa yang datang.. kita tidak perlu capek-

capek lagi! Ha.ha.ha” ucap Warok Kuntet sembari tertawa sementara Suto Kebelet yang 

ada disebelahnya turut berucap “yah, semoga rencana kali ini bisa berhasil dengan 

begitu kita akan punya uang untuk memenuhi kebutuhan kita” Warok Kuntet terlihat


terdiam sejenak “sesunguhnya aku sudah lama berpikir Suto… aku sudah cukup lelah 

menjadi perampok! Jadi seandainya rencana ini juga tidak berhasil aku berpikir ada 

baiknya kalau kita tidak usah lagi menjadi perampok…” Suto Kebelet terkejut 

mendengar apa yang dikatakan Warok Kuntet “Tidak Jadi Perampok lagi Warok? Lalu 

jadi apa? Apa Warok Sudah berpikir untuk bertobat?” seru Suto Kebelet. “Bertobat? 

Enak saja! aku masih kepingin kaya! aku berpikir seandainya kita bisa menjadi bajak 

laut! Pasti alangkah gagahnya! Dari Perampok menjadi Perompak!” ucap Sang Warok 

dengan mata berbinar. Sementara itu para anak buah Warok Kuntet yang mendengar 

apa yang dikatakan sang pimpinan menjadi berdebar hatinya. Menjadi bajak laut! Siapa 

yang tidak mau? Batin mereka masing-masing dalam hati. Namun mereka tidak bisa 

berpikir lama-lama karena kembali terdengar bunyi burung kulup diatas pohon jati. 

“sasaran Datang! Ayo sembunyi!” kode Warok Kuntet. Serempak seluruh anak buah 

Warok Kuntet langsung bersembunyi di tempat masing-masing diikuti Warok Kuntet dan 

Suto kebelet yang kini bersembunyi di balik gerombolan semak belukar. Tidak lama 

kemudian dari arah luar Hutan alas Mentaok tiba-tiba melayang satu sosok pemuda 

gemuk luar biasa! Kepalanya yang besar ditutupi sebuah peci hitam yang kekecilan 

sementara baju yang dipakainya terlihat terpakai terbalik! bagian yang berkancing 

terlihat dipakai di sebelah belakang! “Sialan…hari ini kok panas amat ya? Aku kira kalau 

sudah masuk dalam hutan, udaranya akan jadi sejuk. Eh ini kok malah lebih panaaas!” 

omel si pemuda gemuk sembari mengipas-ngipas wajahnya yang bulat keringatan 

dengan sebuah kipas kertas. Si pemuda gemuk kemudian memperlambat laju larinya 

hingga akhirnya berhenti tepat diatas Jebakan yang telah disiapkan! Warok Kuntet dan 

Suto Kebelet menahan napas seketika “Jatuh!...jatuh…!” sorak mereka dalam hati. 

Namun ajaib! Si pemuda yang kalau ditaksir memiliki berat ratusan kati tersebut masih 

berdiri tegak! “walaaah! Aku ini sudah dimana ya? Apa Kademangan Pancala Geni 

masih jauh dari sini? Waladalaah! Kalau aku terlambat bisa batal aku makan enak! sial 

betul!” ucap si pemuda Gemuk. “tampaknya sudah saatnya aku mencoba batu mustika 

dagangan Kakek Segala Tahu!” ucap Si Gendut seraya memasukkan tangannya 

kedalam kantung celananya yang gombrong. Begitu tangannya dikeluarkan terlihat 

sebuah batu berbentuk persegi dengan garis-garis yang melintang dan membujur. Si 

Gemuk yang bukan lain Adalah Bujang Gila Tapak Sakti salurkan tenaga dalam kearah 

batu. Batu itu terlihat berpendar sesaat lalu kemudian mati! Bujang Gila Kembali 

mencoba menyalurkan tenaga dalam namun hasilnya tetap sama. “Kampret gendeng! 

Aku ditipu lagi sama Kakek Segala Tahu! GPS nya ndak berfungsi! Sialan Kutu Kupret!” 

(GPS: Gubuk Panceng Semesta. Mustika yang bisa melihat keberadaan seseorang 

ataupun tempat! Seperti cermin saktinya Ratu Duyung) “dasar kakek buta tak tahu diri! 

Masih juga dia jualan barang rusak! Walah! kalau begini caranya bisa-bisa aku tersesat 

sampai ke kademangan! Dasar Batu tidak berguna!” ucap Bujang Gila Tapak sakti 

seraya melempar asal-asalan batu ditangannya ke gerombolan semak belukar dan tepat 

menimpuk kepala botak Suto Kebelet! “Ekhhkk…!” suara jeritan tertahan keluar dari 

mulut Suto yang langsung dibekap oleh Warok Kuntet! Sementara itu Si Gemuk Alias 

Bujang Gila Tapak Sakti memalingkan kepalanya ke kiri dan kekanan “seperti ada suara 

orang!” gumamnya pelan membuat Warok Kuntet dan gerombolannya mengeluarkan 

keringat sebesar jagung! “ah… mungkin Cuma perasaanku saja…” batin si gemuk 

sembari menerusakan larinya. Sekejapan saja tubuhnya sudah hilang dari pandangan. 

Sementara itu Warok Kuntet dan anak buahnya serta Suto Kebelet mulai keluar dari 

tempat persembunyiannya. “aneh…!Bagaimana mungkin? Apa jebakannya rusak 

ya?”batin warok Kuntet mendekati lubang jebakan. Sementara itu Suto kebelet terlihat 

meringis sembari mengelus benjol di kepalanya! Warok Kebelet sudah berdiri di pinggir 

jebakan yang tadi diinjak oleh Bujang Gila Tapak Sakti. “sungguh ngkiudahas-jelas si 

gendut itu aku lihat berdiri disin…!” ucapan Warok Kuntet terputus kala kakinya yang


coba menginjak lobang jebakan langsung terperosok kebawah! Dan tanpa ampun lagi 

tubuhnya langsung meluncur masuk dalam jebakan! Suto Kebelet yang masih meringis 

kesakitan dan para anak buah Warok Kuntet langsung terkejut kala mendapati sang 

Pimpinan terperosok ke dalam lubang jebakan! “Sutoooooo…….!!!!!!!” Teriak Warok 

Kuntet yang berada di dalam lubang kala satu gelondongan besar kayu besi yang 

digantung diatas jebakan putus talinya dan menghujam langsung kedalam Lobang! 

Senjata Makan Tuan! 

* * * 

ENAM



Selepas sembahyang Isya, alun-alun Kademangan telah kembali dipenuhi oleh para 

penonton yang ingin menyaksikan pertandingan final perebutan Pusaka Dapur Sakti 

Pancala Geni. Tidak seperti pertandingan sebelumnya di regol Kademangan 

pertandingan kini diadakan di tanah lapang alun-alun kademangan. Para tamu 

kehormatan diberikan tempat di sebelah timur alun-alun sedangkan para juri dan 

petinggi kademangan diberikan tempat di bagian sayap timur. Sementara itu di tengah-

tengah alun-alun terdapat dua buah meja yang ditutupi dengan sehelai kain hitam 

panjang dan dibelakang masing-masing meja tersebut berdiri dengan tegak pasangan 

Pangeran Matahari dan Gurunya si Muka Bangkai serta Pasangan Pendekar Dua Satu 

Dua dan gurunya Eyang Sinto Gendeng. Sementara itu tidak lama kemudian keluarlah 

seorang abdi dalem sambil membunyikan sebuah kenongan “Pertandingan akan segera 

dimulai! diperkenankan kepada Ki Demang Sulur Suziwardhana untuk memberikan 

sambutan dan wejangan singkat.” Ucap sang abdi dalem singkat. Kemudian dari tenda 

di sayap bagian timur di satu tempat kehormatan, berdiri seorang pria separuh baya 

berblangkon dan berkain lurik hijau. Orang inilah yang dikenal sebagai Ki Demang Sulur 

Suziwardhana sang pemimpin Kademangan Pancala Geni. Setelah memberikan 

penghormatan kepada para hadirin dan kepada para peserta, Ki Demang mulai 

membuka suara. “hadirin yang saya hormati dan saya banggakan! Kini sampailah kita 

pada puncak acara pertandingan perebutan satu Pusaka sakti yang bernama Pusaka 

Dapur Sakti Pancala Geni! Pusaka satu ini merupakan pusaka yang lain daripada yang 

lain! Oleh karenanya pertandingan Final kali ini juga merupakan pertandingan yang lain 

daripada yang lain pula!” setiap orang terlihat menahan nafas. “karena pertandingan 

yang akan diadakan merupakan pertandingan yang istimewa, maka terlebih dahulu saya 

akan memperkenalkan kepada kalian para juri yang telah hadir!” semua orang yang 

hadir sontak menatap ke meja juri. “Juri Pertama merupakan orang nomor satu yang di 

tuakan dalam dunia persilatan! Beri tepuk tangan buat Ki Gede Tapa Pamungkas dari 

Gunung Gede!” tepukan tangan keras terdengar membahana saat seorang tua 

berselempang kain putih menganggukan kepalanya di meja juri. “Juri Kedua juga 

merupakan orang yang dituakan dalam dunia persilatan, berikan tepuk tangan buat 

Datuk Akhirat Penguasa lembah Akhirat!” tepuk tangan kembali terdengar membahana 

kala seorang bersarung tangan kulit ular hijau melambaikan tangannya kepada 

hadirin.”kini juri yang terakhir… sebenarnya kami sudah meminta Bujang Gila Tapak 

Sakti seorang tokoh muda untuk menjadi juri, namun tampaknya ada halangan, maka 

juri ke tiga terpaksa kami ganti dan ini lah dia! Syekh Muji dari Blambangan! Berikan 

tepuk tangan yang meriah…!” seru Ki Demang Sulur Suziwardhana namun tak ada 

seorang pun yang memberikan tepuk tangan pada pria yang menempati meja Juri 

terakhir. Di meja terakhir terlihat seorang pria botak bertampang sangar dengan 

cambang bawuk meranggas serta alis yang selalu mengkerut duduk dikelilingi beberapa 

bocah perempuan. Salah seorang bocah diantaranya bahkan samar-samar terlihat 

mendekam dibawah meja diantara kedua kaki Sang Syech. kedua kaki kecilnya 

menyembul di balik taplak meja entah sedang berbuat apa! Sementara itu Ki Demang


Sulur Suziwardhana kembali melanjutkan ucapannya. “pertandingan kali ini tidak seperti 

pertandingan biasa, oleh karenanya saya akan kembali menanyakan kesiapan para 

peserta.” Habis berucap Ki Demang langsung berjalan kedepan kearah meja Pendekar 

Dua Satu Dua dan meja Pangeran Matahari. “Pendekar Dua Satu Dua! Apakah kalian 

siap menghadapi pertandingan apapun yang akan di laksanakan berikut 

resikonya?”tatap Sang Demang. “Siaap…Mang!” seru Sang Pendekar Mantap. 

“Bagus… Pangeran Matahari, apakah kau siap menghadapi Pendekar Dua Satu dua 

Dalam satu Pertandingan Maut?” Pangeran Matahari menatap pendekar dua satu dua 

dengan pandangan penuh kebencian. “Saya juga siap Gan…”ucap sang pangeran tak 

mau kalah! “Baiklah! Pertandingan sudah ditetapkan! Sekarang Pertandingan kalian 

adalah bukan pertandingan Silat! Tapi pertandingan Masak! Siapkan Celemek Kalian!” 

ucap Ki Demang keras sembari menarik kain penutup kedua meja yang ternyata berisi… 

peralatan masak dan bahan-bahannya! Pendekar dua satu dua dan gurunya serta 

Pangeran Matahari dan gurunya saling memandang kaget “apa-apaan nih? Masak kami 

disuruh tanding masak! Yang benar aja Mang!” sergah Wiro Sableng. “iya benar! Ini 

keterlaluan namanya ki demang! Kami ini pendekar no satu! Bukan tukang masak no 

satu” sambung Pangeran Matahari sementara itu Ki Demang hanya ganda tertawa “mau 

pendekar no satu kek! Tukang masak no satu kek! Kalau emang punya nyali ayo 

buktikan disini! Atau kalian berdua Cuma punya nyali di kancah pertempuran tapi tidak 

di kancah perdapuran? Jangan lupa! Pusaka yang kalian perebutkan adalah Pusaka 

Dapur Sakti! Pusaka untuk memasak bukan untuk bertempur! Atau nama Pendekar Dua 

Satu Dua Dan Pendekar Matahari Cuma nama kosong belaka?” ejek Pimpinan 

Kademangan ini. “Sompret! Sape takut! Nih gue ikut!”geram Pendekar Dua Satu Dua 

sambil mengikat celemeknya. “Ente jual Ane borong! Gua juga gak takut Mang!” Ucap 

Pangeran Matahari sembari mengenakan celemeknya pula!” Ki Demang Sulur 

Suziwardhana tertawa terbahak-bahak! “kalian memang para pendekar yang harus 

diacungi jempol! Baiklah! Supaya tidak berlama-lama lagi, inilah bahan dasar yang 

sangat dirahasiakan yang harus kalian jadikan makanan terlezat nomer Satu!” Seru Ki 

Demang sembari menarik kain penutup tampah ditangannya. “Ayaaam Kampung….!” 

Serunya keras. Kedua pendekar pun langsung mendatangi Sang Demang dan 

mengambil bagian masing-masing. “Allleeezzz Cuisine…” seru Ki Demang Sulur 

Suziwardhana membuka pertandingan. Maka beberapa saat kemudian kesibukan mulai 

terlihat jelas di meja kedua kubu, Di Kubu Dua Satu Dua, Wiro Sableng terlihat 

menggunakan Kapak Naga Geni Dua Satu Dua untuk mengupas bawang dan 

memotong-motong ayam menjadi beberapa bagian sementara Sinto Gendeng terlihat 

memanaskan air dalam belanga dengan menggunakan kekuatan ilmu Sepasang Sinar 

Inti Roh yang keluar dari sepasang Matanya! “apa yang menjadi strategi anda untuk 

memenangkan pertandingan ini?”tanya Wasit Kademangan kala mewawancarai Wiro 

sableng di mejanya. “Strategi saya Cuma satu! yakni berserah kepada yang diatas!” 

ucap Wiro bersahaja. Namun ucapannya dibalas oleh suara seseorang yang sedang 

menjeplok diatas pohon diatas kepalanya. “Enak aja nyerahin sama yang diatas! Kalo 

menang iya! nah Kalo kalah?” ucap suara sember Setan Ngompol yang sedang duduk 

ongkang-ongkang kaki diatas pohon! “Setan Ngompol Turun Dari Situ! Kau akan 

mengencingi makananku!”bentak Wiro Sableng. “iya…iya aku turun!” sungut Setan 

Ngompol sembari beranjak turun dari pohon. “Lima Menit Lagi!” Suara abdi dalem 

terdengar berbarengan dengan kenongan yang dipukulnya. “Nah Bagaimana dengan 

anda Pangeran Matahari, apa Strategi anda melawan Kubu Pendekar Dua Satu Dua?‟” 

tanya wasit kademangan yang kini sudah ada pada kubu Pangeran Matahari dan 

Simuka Bangkai “saya tidak memiliki strategi khusus karena saya adalah pangeran 

segala ilmu, segala cerdik, segala congkak! Saya pasti bisa mengalahkan kecoak dua 

satu dua itu!” Ucap Pangeran Matahari sembari memanaskan belanga berisi minyak


dengan senjatanya Lentera Iblis! sementara itu di belakangnya, Sang Guru Si Muka 

Bangkai terlihat sedang sibuk menggerus bumbu-bumbu pada sebuah batu Cobek! 

Sementara itu waktu terus berlalu, bau sedap mulai tersiar di seputaran arena. “satu 

menit lagi!” seru si abdi dalem. “kami sudah Selesai!” teriak Pangeran Matahari tiba-tiba 

membuat para hadirin yang sedang berkumpul bersorak keras! “kami juga sudah 

selesai!” teriak Pendekar Dua Satu Dua tak mau kalah! 

* * *


TUJUH


Pangeran Matahari dan Pendekar Dua Satu Dua menunggu dengan hati berdebar, 

sementara itu para Juri tampak sedang berdiskusi dengan alotnya. Sesekali terlihat 

Datuk Lembah Akhirat dan Ki Gede Tapa Pamungkas menyeka Keringat yang menetes 

di dahi masing-masing. Keduanya berbicara dengan tegangnya namun masih bisa 

mengendalikan emosi berlainan dengan Syech Muji dari Blambangan yang sesekali 

terlihat menggebrak meja tanda ketidak setujuannya. Akhirnya setelah beberapa saat 

yang menegangkan, ketiganya akhirnya mengangguk kepala tanda setuju. Ki Gede 

Tapa Pamungkas mewakili ketiganya menyerahkan hasil perhitungan mereka ke tangan 

Ki Demang Sulur Suziwardhana. “akhirnya! Pertandingan telah mencapai titik akhir! Di 

tangan saya kini sudah ada hasil perhitungan yang telah ditetapkan oleh para juri kita! 

Kita akhirnya akan mengetahui, siapa yang berhak atas Pusaka Dapur Sakti Pancala 

Geni!” ucap Ki demang keras! Bunyi genderang tiba-tiba terdengar memanjang 

membuat setiap orang yang ada menjadi tegang. “Dan… yang menjadi pemenang dan 

berhak atas adalah…” bunyi genderang kini bertambah dengan bunyi tambur dan 

semakin membuat tegang setiap orang! Tanpa sadar Wiro Sableng dan Pendekar 

Matahari yang berdiri bersebelahan mulai saling bergenggaman tangan! “Adalah…” 

orang-orang semakin tegang. Sementara itu sepasang kakak-adik yang masih asyik 

menghirup arum manis menatap terus kearah Pendekar Dua Satu dua dan Pangeran 

Matahari yang tanpa sadar terus berpegangan tangan. “Tuh kan dik! Bener kata kakak!” 

ucap sang kakak “ehm…”angguk sang adik .“adalah….” Ketegangan semakin 

memuncak. “Ad…” suara ki demang terputus oleh suara omelan Sinto Gendeng. “Sekali 

Lagi bilang “Adalah..” makan Tusuk Kondeku! “ Radang Sang Eyang tidak sabaran. 

“Pangeran Matahari Dengan resep Ayam Renyah Puncak Merapi….!” Kumandang suara 

ki Demang membahana di langit Kademangan Pancala Geni! Sang Pangeran Terpana! 

Sementara itu Pendekar Dua Satu Dua duduk menjeplok diatas tanah! 

“ Percayalah pada diri.. 

Dengan Harapan dan Keyakinan….” Lantun beberapa orang sinden diantara sorak 

sorai penonton yang gegap gempita! 

Beberapa orang gadis cantik kemudian membawa Pangeran Matahari keatas 

panggung kehormatan untuk menerima hadiah. “ kau dan muridmu memang hebat! 

Kami mengaku kalah..” ucap Sinto Gendeng kepada Si Muka Bangkai sembari 

memapah Wiro. “terima kasih Sinto, tapi omong-omong maukah kau ku traktir makan 

malam?” ucap sang kakek sambil mengedipkan matanya. “bisa diatur… bisa diatur..!” 

balas sang nenek sambil kedipkan mata pula! Sementara itu diatas panggung Pangeran 

Matahari diminta untuk membawakan sepatah dua patah kata. “pertama-tama saya 

hendak mengucapkan terima kasih kepada Diri saya sendiri… karena kepandaian dan 

kecerdikan saya maka saya dapat memenangi pertandingan ini. Kedua juga masih buat 

diri saya sendiri… yang…” sang pangeran terus melanjutkan ocehannya tentang dirinya 

sendiri hingga akhirnya satu jam kemudian setelah berbicara panjang lebar si Pangeran 

berkata. “dan yang terakhir buat guru saya Si Muka Bangkai itu saja!” tutup sang 

pangeran. Air mata terlihat jatuh menitik di pipi si muka bangkai. “nih, seka air 

matamu…” kata Sinto gendeng seraya memberikan sehelai sapu tangan. “Terima kasih 

Sinto…”ucap sang kakek termehek-mehek! Dan akhirnya Pangeran Matahari berhak 

mendapatkan yang ternyata berupa satu set peralatan masak berlapis Lapisan Besi anti 

lengket berajahkan enam huruf “Teflon”. Dan kemudian dengan menggunakan peralatan 

masak ini, pangeran Matahari dan Gurunya akhirnya berhasil merajai dunia masak 

nusantara dengan membuka Kedai Ayam Goreng Renyah Puncak Merapi. Kedai 

Rumah Makan milik Pangeran Matahari ini terkenal bahkan hingga ratusan tahun. Salah 

satu cicit buyut Pangeran Matahari kemudian hijrah ke Mancanegoro yang lebih


tepatnya di daerah Kentucky, Amerika Serikat untuk kawin dengan seorang tentara 

bernama kolonel William Sanders. 

* * * 

Sementara itu kembali ke Kademangan. pertandingan sudah lama berakhir, sudah 

tidak ada satupun orang yang terlihat di alun-alun kecuali seorang kakek tua yang 

sedang sibuk menyapu. Namun kala itu tiba-tiba didepannya telah berdiri seorang 

pemuda dengan tubuh gendut luar biasa dengan nafas ngos-ngosan. tarikan nafasnya 

terdengar seperti seekor babi yang menguik-nguik! “paman! Perlombaannya belum 

mulai toch? Saya sudah lapar banget nih! Gini-gini saya juri lho!” ucap si gembrot. Sang 

kakek Cuma bisa memandang bengong! “Wong edan!” batinnya kemudian!


DELAPAN


arok Kuntet menggenggam kendi berisi tuak di tangannya dengan kencang, 

Setelah berkomat-kamit sebentar sang Warok pun dengan kerasnya melemparkan kendi 

berisi tuak tersebut hingga pecah ke sebuah lambung kapal! Bersamaan dengan itu 

sorak sorai bergemuruh membahana memenuhi udara! tampak para anak buah Warok 

kuntet saling bersorak sorai bergembira kala melihat Kapal yang akan mereka naiki 

sudah rampung dibuat dan siap untuk diturunkan kelaut! Saking gembiranya bahkan 

diantara mereka terlihat ada yang menangis dan saling berpelukan menumpahkan 

perasaan mereka selama ini. mereka bukan lagi perampok melainkan peak! Bajak 

LaKegeaan juga terpancar dari sepasang mata Suto Kebelet dan Warok Kuntet. 

Tampak sesekali Suto Kebelet menyeka air matanya yang menetes di pipi. Sementara 

itu setelah acara pelepasan kapal, Ki Ageng Kelapalima seorang Kadi dari Tegalruyub 

dipanggil untuk membacakan doa keselamatan bagi kapal Warok Kuntet agar selalu 

selamat dari badai dan harta rampokan agar selalu melimpah! Buseet! Alim juga nih 

Warok! Acara berikutnya adalah hiburan yang diadakan sang Warok buat para anak 

buahnya dan para penduduk pesisir. Acara hiburan yang dimaksud adalah pagelaran 

Wayang semalam suntuk dan hiburan Orkes Organ Tunggal! Akhirnya pada keesokan 

hari, Tiupan angin yang berhembus kencang ke arah selatan membuat layar dan 

bendera Sebuah Kapal berlambang tengkorak berkibar dengan gagahnya. Diatas Kapal 

tersebut Dua orang berpenampilan kontras, Yang Satu Pendek Gemuk berbulu lebat 

sedangkan satunya kurus krempeng berkepala botak sedang memandangi layar dan 

bendera yang sedang berkibar itu. Sepasang mata kedua orang yang tidak lain dan 

tidak bukan adalah Warok Kuntet Dan Suto Kebelet terlihat berkaca-kaca! “Suto… 

lihatlah bendera itu… dan lihatlah layar ysng terkembang itu.. alangkah gagahnya 

Suto…” ucap Warok Kuntet masih menatap Bendera tengkorak. “iya Warok…alangkah 

gagahnya… seperti Warok gagahnya…” ucap Suto Kebelet juga masih menatap 

bendera namun sesekali melirik kearah Warok Kuntet disampingnya. “kali ini kitalah 

penguasa lautan Suto! Kita tak perlu lagi takut terhadap Sinto Gendeng! Kita juga tak 

perlu lari terbirit-birit saat melihat Si Muka Bangkai! Juga tak perlu lagi Sembunyi dari 

Bujang Gila Tapak Sakti! Kita bukan lagi cecunguk di hutan Alas Mentaok! Kita kini 

penguasa lautan! Gerombolan Bajak Laut Warok Kuntet!” ucap Sang Warok berapi-api 

masih tetap memandang bendera tengkorak. “benar sekali Warok! Tak ada lagi yang 

harus kita takutkan…” ucap Suto Kebelet mesra, kali ini pandangannya tidak lagi tertuju 

kearah bendera maupun layar kapal melainkan langsung kearah Warok Kuntet! Tatapan 

matanya berubah aneh sementara celananya mulai menonjol kedepan! “Warook…” 

desah Suto Kebelet dengan mata agak terpejam. Warok Kuntet mulai palingkan wajah 

kearah pria botak disebelahnya “kau kenapa Suto?” tanyanya heran. Suto yang ditanya 

hanya mengelendotkan tangannya ke pinggang Warok Kuntet lalu perlahan 

dijatuhkannya kepalanya ke bahu Sang Warok. “Warok…kita Ngamar yuk…” desahnya 

pelan dengan mata terpejam. Sang warok hanya memandang sejenak lalu derai


tawanya pun pecah! Sembari memeluk pingang Suto Kebelet, Sang Warok pun 

melangkah ringan ke dalam kabin kamarnya. “Jaga haluan Kapal, kalau ada kapal lain 

mendekat cepat kalian laporkan padaku!” ucap Sang Warok kepada salah seorang anak 

buahnya sebelum menutup pintu kamar. Sementara itu tidak jauh dari Kapal bajak Laut 

Warok Kuntet yang baru berlayar untuk pertama kalinya, sebuah sampan kecil terlihat 

melaju pelan. Diatas sampan kecil itu terlihat seorang wanita yang mendayung 

sampannya dengan perlahan. “Kemuning, jangan menangis ya sayang… sebentar lagi 

kita akan tiba di daratan, dan sebentar lagi kita akan bertemu dengan bapakmu! Kamu 

suka kan? Ibu juga sudah kangen Sudah lama tidak bertemu dengannya, dia pasti akan 

kaget melihatmu sudah besar!” ucap wanita bertubuh mungil yang ternyata adalah Nyi 

Retno Mantili! Tangan kanannya terlihat sigap menggerakkan tangkai dayung, 

sementara tangan kirinya menggendong sebuah boneka kayu yang dipanggilnya 

kemuning! (mengenai Nyi Retno Mantili, Janda Cantik yang kurang ingatan ini silahkan 

membaca Serial Wiro Sableng berjudul: “Si Cantik Gila Dari Gunung Gede” ) semakin 

lama sampan yang dikemudikan oleh Nyi Retno Mantili semakin mendekati kapal Bajak 

Laut Warok Kuntet yang baru turun ke laut, hingga akhirnya sampan kecil itu terlihat 

juga oleh anak buah Warok Kuntet yang sedang bertugas. Secepatnya anak buah Sang 

Warok berlari kearah kamar Sang pimpinan, namun langkahnya terhenti kala 

didengarnya dari dalam terdengar suara rintihan dan dengusan Suto Kebelet! Seketika 

wajah sang anak buah menjadi merah, nafasnya pun perlahan memburu! Diam-diam 

setelah menengok ke kiri dan kekanan Anak buah Warok yang satu ini memberanikan 

diri mengintip dari lubang kunci! Dilihatnya satu pemandangan yang menggetarkan! 

Suto kebelet terlihat mendesah dan merintih bagai orang kepedasan! Tangan-tangannya 

yang jenjang menggengam dan meremas Rambut gondrong Warok Kuntet! Sementara 

sang warok yang hanya dapat dilihat punggungnya terlihat bergerak naik turun! Keringat 

memercik di dahi si anak buah yang sedang mengintip! Nafasnya terhenti seketika! anak 

Buah Warok Kuntet yang sedang mengintip ini terus melanjutkan perbuatannya sampai 

akhirnya menyumpah panjang pendek. „Kampret Semprul…! Ketipu aku!” makinya 

dalam hati. Bagaimana tidak, sesaat setelah tubuh Warok Kuntet bergerak naik turun 

sang warok kemudian terlihat berdiri sambil memegang sebuah Jepitan besi kecil di 

tangan kanan dan beberapa helai rambut yang agak keriting di tangan kiri! “Selesai 

Suto! Ketekmu kini licin dan mengkilap! He.he.he” tawa Sang Warok memperhatikan 

hasil kerjanya sementara Suto Kebelet hanya tersenyum malu-malu, Sang Warok 

ternyata hanya sedang mencabuti bulu ketiak Suto Kebelet! Anak buah Warok Kuntet 

yang berdiri di depan pintu pun akhirnya memberanikan diri mengetuk pintu kamar

pimpinannya. “Warok! Ada kapal mendekat Warok!” Warok Kuntet yang berada didalam 

kamar selekasnya merapikan pakaiannya. Dipandangnya Suto kebelet disampingnya 

dengan wajah gembira. “akhirnya datang juga Suto! Korban pertama kita! Ayo Suto 

lekas kita ke anjungan!” ucap Warok kuntet setelah berbenah lalu bergegas menuju 

anjungan seraya menggenggam Suto Kebelet. Sesampainya dianjungan dilihatnya dari 

kejauhan sebuah sampan kecil mendekat dengan perlahan, seorang anak buahnya 

kemudian memberikan kepada Warok Kuntet dan Suto Kebelet masing-masing Sebuah 

Teropong “Hemm, Wanita kecil itu cantik juga… dan hei lihatlah Suto! Perhiasan emas 

yang dipakainya! Aha! Inilah rejeki kita yang pertama Suto! Ha.ha.” lonjak Sang Warok 

Kegirangan sementara Suto Kebelet masih terus memperhatikan sampan kecil itu 

dengan teropongnya. “Entahlah Warok aku kuatir kalau Sampan Itu ada apa-apanya, 

firasat ku mengatakan ka…” ucapan Suto Kebelet terputus oleh umpatan Warok Kuntet. 

“Halalah… lagi-lagi firasat! Sudahlah Suto Kau jangan terlalu kuatir! Sekarang kita 

berada dilautan! Kitalah Penguasa Lautan! Tidak ada lagi orang-orang sakti seperti 

Sinto Gendeng, Si Muka Bangkai, Bujang Gila Tapak Sakti dan orang rimba persilatan


muda itu terus berbicara dan tertawa-tawa sendiri pada boneka kayu! Dia pasti orang 

sedeng alias gila! Apa yang perlu ditakutkan! Ini akan semudah merebut permen dari 

tangan anak-anak!” ucap Warok Kuntet bersemangat “Hooiii…! Dekatkan kapal ke 

sampan itu! Kita dapat mangsa pertama!” teriak Warok Kuntet ke pada Jurumudi. Kapal 

besar berlambang dan berbendera tengkorak itu pun mulai mendekat ke sampan kecil 

yang dikemudikan Nyi Retno Mantili “hoi! Wanita di dalam Sampan! Aku Warok Kuntet 

Penguasa Tujuh Lautan! Aku memerintahmu untuk segera menyerahkan barang-barang 

berharga yang ada padamu!”teriak Warok Kuntet Kencang, sementara itu beberapa 

anak buah Warok kuntet matanya terlihat nyalang menatap wanita muda diatas sampan. 

Sementara Suto Kebelet kembali kambuh penyakitnya! Perutnya terasa mules tak 

terkira! “Warok, Se..sebaiknya lepaskan saja wanita itu… aku punya takut ka…” ucap 

Suto Kebelet terbata-bata namun kali ini Warok Kuntet tidak menggubrisnya Sama 

sekali kali. Kembali Sang Warok Membentak keras, Suaranya yang besar terdengar 

menggelegar. “Hei apa kau tak dengar apa yang kubilang tadi? Lekas serahkan 

perhiasanmu atau kutenggelamkan sampan kecilmu itu!” Sementara itu diatas sampan 

kecil, Nyi Retno Mantili memandang kearah Warok Kuntet dengan bibir cemberut. 

“Orang jahat! Suaramu terlalu ribut hingga membangunkan anakku! Coba diam sedikit, 

gara-gara kalian sekarang aku harus memberikan susu kepadanya!” Ucap Nyi Retno 

Mantili. lalu Enak saja janda Patih Wirabumi ini memelorotkan kembennya lalu 

mendekatkan buah dadanya yang putih bagus ke mulut boneka kayunya! Warok Kuntet 

dan anak buahnya seketika terpana melihat pemandangan di depannya! Bagaimana 

tidak? sepasang buah dada putih kencang terlihat menyembul dihadapan mata! Tubuh 

anak buah Warok kuntet termasuk pimpinannya langsung panas dingin! Apalagi Warok 

Kuntet yang setiap harinya hanya bisa menikmati dada kerempeng Suto Kebelet! Air liur 

berpercikan dari mulutnya! Hanya Suto Kebelet yang memandang dengan wajah 

cemberut. Tanpa sadar tangannya membelai dadanya yang kerempeng seakan 

membandingkan dada miliknya dengan dada wanita didepannya! Diatas sampan sendiri 

Nyi Retno mantili terlihat memandang kurang senang kearah kapal Gerombolan Bajak 

Laut Warok Kuntet. “Kemuning, ibu tidak suka melihat muka mereka! Coba lihat mereka 

semua, jelek-jelek ya? Apalagi yang cebol berewokan dan yang gundul itu! 

Hik.hik.hik.”ucap Nyi Retno mantili sembari tertawa. “Kamu sudah Kenyang ya 

Kemuning? Anak baik, sekarang bantu ibu ya..!” ucapnya kembali lalu tiba-tiba wanita 

Cantik diatas sampan ini mengarahkan boneka kayunya kearah kapal Warok Kuntet 

sembari kedua tangannya meremas sisi kanan dan kiri Boneka Kayu. Tiba-tiba Satu 

sinar menyilaukan menghampar dari sepasang mata Boneka Kayu dan Sinar putih 

tersebut langsung melabrak Lambung Kapal Warok Kuntet! Kengerian langsung 

melanda seluruh penumpang kapal! Termasuk Warok Kuntet dan Suto Kebelet kala 

Kapal kebanggaan mereka yang baru beberapa saat lalu diresmikan kini telah terbelah 

menjadi dua! Hampir sebagian besar anak buah Warok Kuntet melompat kedalam Laut 

sementara Warok Kuntet dan Suto Kebelet langsung berpelukan berpegangan pada 

tiang layar! Nyi Retno Mantili hanya tertawa-tawa melihat Kapal besar itu karam 

perlahan-lahan. Wanita Yang dijuluki Si Cantik Gila Dari Gunung Gede ini kembali 

menggerakkan dayungnya meninggalkan kapal yang mulai karam itu. sementara itu 

langit senja yang menaungi kaki cakrawala mulai berwarna merah merona. Sang Raja 

Siang perlahan mulai condong kearah barat. Ditengah matahari yang menjelang masuk 

ke peraduannya tersebut, terlihatlah siluet dua orang yang sedang berpegangan erat di 

sebuah tiang Layar yang perlahan mulai tenggelam “Suto, kau bisa Berenang?” tanya 

Warok Kuntet pelan. Wajahnya terlihat bergetar kala dilihatnya Suto Menggeleng pelan 

“Tidak Bisa Warok… kau sendiri bisa berenang Warok?” balas Suto Kebelet, sang 

Warok pun terlihat menggeleng Pelan. Suto Kebelet menenggak air ludahnya. Tanpa 

terasa perutnya yang mulas kembali berputaran, Suto Kebelet berusaha untuk menahan


sebisa mungkin. Namun akhirnya tembok pertahanan itu jebol juga! Warok Kuntet yang 

berada pada tiang sebelah bawah hanya bisa terisak kala cairan kuning kental mulai 

menetes di kepalanya! Malang nian Nasibmu Warok…! 



                                   T A M A T


0 komentar:

Posting Komentar