SATU
KI RANGGA WULUNG duduk di kursi goyang sambil
memilin-milin jenggotnya yang cuma sejumput, hampir
memutih. Matanya menatap keluar jendela. Tapi bukan
keadaan diluar rumah itu yang terlihat didepan matanya.
Melainkan dia memandang jauh....! jauh sekali kemasa
dimana dia masih menjabat sebagai seorang Tumenggung
Kerajaan Mataram. Agak lama dia termenung demikian,
hingga didengarnya suara langkah mendekat dibelakang
menghampiri. Dia tahu yang datang adalah anak gadis.
Karena, dirumah itu tak ada siapa-siapa lagi.
"Ayah...! sampai kapan kita akan begini terus? Apakah
tak ada jalan lain selain kau bermenung setiap hari?"
berkata, gadis itu dengan berdiri dibelakang punggung
sang ayah. Gadis yang berwajah cukup cantik ini berna-
ma Jayeng Sari. Lengannya meraba bahu ayahnya, seraya
bergerak memijit-mijit pundak laki-laki tua ini.
Sementara Ki Rangga Wulung masih belum lepaskan
pandangannya keluar jendela. Tapi kali ini yang ditatap-
nya adalah keadaan diluar rumah. Tak lama Ki Rangga
Wulung terdengar menghela nafas. Lalu bangkit berdiri
dari kursinya.
"Sabarlah, anakku...! dalam berdiam diri begini bu-
kannya aku tak berpikir apa-apa. Akan tetapi aku tengah
merencanakan sesuatu....! Yah, dengan diberhentikannya
aku dari jabatan semakin terasa pahitnya hidup!" ujarnya
seraya berpaling menatap pada sang gadis.
"Lalu...? apakah rencana yang telah kau pikirkan itu,
ayah....?"
"Aku sudah cukup usia, anakku. Jadi wajar kalau aku
diberhentikan dari jabatanku. Aku tak memikirkan apa-
apa lagi dengan diriku. Akan tetapi yang kupikirkan kini
adalah kau....!" menyahut Ki Rangga Wulung.
"Aku....?" tukas Jayeng Sari dengan agak terkejut.
"Ya! kau sudah cukup dewasa. Bahkan sudah teramat
dewasa! Kau perlu segera menikah....! agar ada yang me-
rawatmu!" ujar Ki Rangga Wulung dengan suara tegas.
Akan tetapi Jayeng Sari menyahut dengan cepat.
"Aku belum mau menikah, ayah...!"
"Mengapa....?" tanya Ki Rangga Wulung. Alisnya berge-
rak naik, menampakkan kerut-kerut didahinya. Terheran
orang tua ini. Tapi yang ditanya cuma berdiam diri, mena-
tap keluar jendela. Wajahnya tampak kaku. Seperti eng-
gan memberikan jawaban pada ayahnya. Akhirnya kem-
bali Ki Rangga Wulung yang membuka mulut untuk bica-
ra.
"Aneh, kau ini....!" ujarnya. "Laki-laki bernama
SATRYO yang menggantikan kedudukanku sebagai Tu-
menggung itu cukup simpatik. Dia memang pernah
punya istri. Tapi telah lama menduda. Ketika dia kemari
menyambangiku sebelum menerima jabatan Tumenggung
dari Baginda Raja, kunilai dia seorang yang balk. Simpa-
tik, dan berwibawa. Bukankah dia ada bercakap-cakap
dengan kau?"
"Hm, jadi ayah akan menjodohkan aku dengan dia....?"
potong Jayeng Sari. "Maaf ayah, aku tak dapat meneri-
manya. Seperti kukatakan tadi aku belum mau menikah
dengan siapa saja....!" ujar Jayeng Sari
"Bahkan.... aku.... aku amat membencinya!" sambung-
nya lagi.
"Jayeng Sari....? waraskah otakmu?" terkejut Ki Rang-
ga Wulung mendengar kata-kata anak gadisnya itu.
"Otakku masih waras, ayah! Aku tak sudi bersuamikan
laki-laki seperti itu. Apa cuma dia laki-laki didunia ini...?
Aku dapat menentukan siapa jodohku dan calon suamiku
kelak! akan tetapi bukan dia!" sambut Jayeng Sari dengan
celotehnya yang tegas.
"Baik! baik, kalau itu yang kau maui, akan tetapi apa
yang membuat kau membencinya?" berkata Ki Rangga
Wulung.
Akan tetapi Jayeng Sari tak menjawab. Tapi kemudian.
"Ayah, hal itu adalah urusan pribadiku. Membenci saja
kukira tidaklah berdosa kalau tidak mendendam. Kuha-
rap ayah tak mempertanyakan hal itu.!" Selesai berucap,
Jayeng Sari kembali masuk keruang dalam. Memasuki
kamarnya dan mengunci pintu Dan luar kamar, Ki Rang-
ga Wulung mendengar suara isak tersendat anak gadis-
nya. Dia berdiri dipintu kamar. Keningnya berkerut. Len-
gannya bergerak mengeluk pintu. Seraya panggilnya.
"Sari...! Jayeng Sari...! Bukalah pintu, anakku...!
Suara isak itu mendadak lenyap. Namun setelah di-
tunggu sekian lama pintu tetap tak dibuka. Ki Rangga
Wulung tahu kalau anak gadisnya tak mau membukanya
Dia masih marah, dan dia tahu kalau hati Jayeng Sari te-
lah tersinggung dengan niat baiknya itu. Setelah mere-
nung sejenak Ki Rangga Wulung segera beranjak mening-
galkan pintu kamar Jayeng Sari Terdengar lagi suara he-
laan napasnya.
Malam itu keadaan diluar gedung Ki Rangga Wulung
nampak sunyi senyap. Akan tetapi ruangan depan gedung
masih tampak terang dengan lampu gantung berukir yang
terdapat diruangan itu. Suasana sepi di Gedung itu se-
makin terasa oleh Ki Rangga Wulung yang duduk me-
nyandar dikursinya. Alam pikirannya kembali menera-
wang kemasa yang silam. Masa jayanya, dimana dia ma-
sih berusia tiga puluh tahun. Akan tetapi masa itu adalah
masa yang penuh dengan bermacam peristiwa kehidupan
dan kemelut rumah tangga.
Dia bukanlah seorang suami yang baik. Diakuinya dia
sering menyeleweng pada wanita-wanita penjaja cinta. Itu
dikarenakan sang istri tak pernah mempunyai keturunan.
Pertengkaran sering terjadi dalam rumah gedung itu. Dan
bila hal itu terjadi, dia harus segera menyingkir pergi un-
tuk melampiaskan perasaan kesalnya pada wanita-wanita
penghibur. Atau minum arak sampai mabuk. Walau de-
mikian dia tetap menjalankan tugas dengan baik sebagai
seorang Tumenggung Kerajaan Mataram.
Hingga akhirnya meletus pula "perang kecil" dalam
rumah tangganya Sang istri memutuskan untuk berpisah.
Rangga Wulung tak dapat menahan lagi keinginan is-
trinya untuk itu. Dan perpisahanpun terjadi. Akhirnya dia
menikah lagi. Dan dikaruniai seorang anak perempuan.
Dialah Jayeng Sari. Namun sang istri telah meninggal-
kannya terlebih dulu sebelum Jayeng Sari dewasa. Dan
dia hidup menduda hingga sampai saat diberhentikannya
dia dari jabatan tumenggung Kerajaan Mataram.
Dalam masa-masa sepi demikian, laki-laki tua Ini ter-
nyata telah membayangkan kehadiran istrinya yang per-
tama. Betapa dia memang masih amat mencintai Nyi Se-
kar. Dan ada hasrat dia untuk mencarinya. Rupanya hal
itu agak mengganggu pikiran Ki Rangga Wulung. Hingga
dia segera kecilkan lampu depan. Berjingkat-jingkat Ki
Rangga Wulung mendekati kamar anak gadisnya. Dari
lubang kunci dia mengintip kedalam. Jayeng Sari ternyata
telah tidur. Niatnya untuk keluar rumah jadi gagal, kare-
na kain selimut sang anak gadis telah menyingkap hing-
ga menampakkan bagian tubuh gadis itu dalam kereman-
gan cahaya lampu kamar.
Tampak wajah laki-laki tua ini berubah tegang. Sekian
lama dia hidup berdua dengan anak gadisnya tak disadari
kalau Jayeng Sari telah dewasa dan semakin cantik. En-
tah mengapa dia tak mau menikah cepat-cepat? pikirnya.
Padahal dia amat penuju dengan Satryo si Tumenggung
Muda yang menggantikan kedudukannya itu.
Wajah sang ayah ini menampakkan kegelisahannya.
Entah berapa kali dia mondar-mandir didepan pintu ka-
mar anak gadisnya.
Sebentar-sebentar berhenti didepan pintu untuk kem-
bali mengintip dari celah lubang kunci. Akhirnya dengan
tangan gemetar dia membuka pintu kamar dengan perla-
han. Ternyata pintu tak terkunci. Rupanya Jayeng Sari
lupa menguncinya Rasa lelah dan banyak memikir mem-
buat gadis itu tertidur agak cepat.
Lengan tua itu mulai terulur untuk meraba. Dan me-
nyingkapkan apa yang sudah tersingkap itu semakin le-
bar. Gadis itu menggeliat. Dan dia terkejut dengan mata
membelalak. Sang ayah telah berada dipembaringannya
dengan mata membinar dan napas memburu.
"Ayah...!? ada apakah...? mengapa kau masuk keka-
marku....?" sentak Jayeng Sari. Seraya beringsut mundur
kesudut pembaringan. Lengannya bergerak menyambar
kain selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Sari...! Sari, aku.... aku...”
"Ayah! kelakuanmu tak pantas! Sa...sadarlah ayah.....!"
membentak Jayeng Sari. Dari sikap ayahnya tahulah dia
apa yang telah terjadi. Dan apa yang akan dilakukan
ayahnya. Akan tetapi cepat sekali tubuh Ki Rangga Wu-
lung melompat menerkamnya.
"Tidak! tidak...! jangan ayah! kau, kau...telah gila! Le-
paskan aku!"
"Sari....! aku tahu kau kesepian! aku tahu kau men-
dambakan laki-laki! Kalau kau tak mau menikah, menga-
pa kau menolak....? berilah aku kesempatan. Sekali ini
saja....! ya! cuma sekali...." berkata Ki Rangga Wulung
dengan suara tergetar.
"Ayah! apakah kau tak takut kutukan Tuhan? sadar-
lah! aku anakmu! Darah dagingmu...!" berkata Jayeng Sa-
ri menyadarkan ayahnya.
Akan tetapi... "Sari! kalau kau tak menuruti kemaua-
nku, lihatlah! lebih baik kau kubunuh! Ya! kau akan ku-
bunuh...!" ancam Ki Rangga Wulung yang sudah kerasu-
kan setan. Jari-jari lengannya bergerak ke leher Jayeng
Sari untuk mencekik.
"Ayah...!? Oh, ja...jangan ayah...! ampun! ampunkan
aku ayah! hk...hk...hk..jangan ayah! ja jangan..." Pucat
pias wajah Jayeng Sari. Akhirnya dia cuma menyerah. Dia
tak berdaya lagi. Sekujur tubuhnya lemah lunglai. Dan
dia tak mampu berbuat apa apa ketika dengan tersenyum
menyeringai sang ayah mulai melolosi pakaiannya. Lalu
melepaskan pula pakaiannya sendiri.
Akan tetapi tiba-tiba Jayeng Sari yang telah katupkan
sepasang matanya dengan simbahan air mata itu, mem-
buka lagi matanya.
"Ayah! kalau kau mau lakukan, lakukanlah...! Akan te-
tapi ketahuilah, perbuatanmu adalah terkutuk! Dan aku
tak mau menanggung dosanya...! ucap gadis ini dengan
tandas. Dia telah berusaha menahan segala perasaannya,
menghadapi kenekatan sang ayah yang telah kerasukan
setan itu.
"Ba...baik! baik! aku yang akan menanggung dosanya!"
menyahut laki-laki tua. Dan... selesai berkata, dia telah
menindih tubuh anak gadisnya. Dan....terjadilah apa yang
sebenarnya tak boleh terjadi! Manusia yang beriman le-
mah apapun bisa saja dilakukan, kalau setan telah mera-
suki hati dan jiwanya.
Malam semakin kelam! Desah angin diluar gedung ba-
gaikan ribuan iblis yang tertawa. Hitamnya malam ternya-
ta lebih hitam lagi ruangan kamar tempat terjadinya perbuatan terkutuk itu.
D U A
SESOSOK TUBUH tegak berdiri didepan pintu kamar
yang tak tertutup itu. Dilengannya tercekal sebuah
TOMBAK. Dan sebuah buntalan besar berada pula dice-
kalan tangan kirinya.
Buntalan besar itu diletakkan didepan pintu. Dan so-
sok tubuh itu berkelebat lenyap...
Perbuatan terkutuk itupun berlanjut terus tanpa ada
hambatan. Suara desah napas yang membaur dengan rin-
tihan kecil seperti sirna ditelan lengangnya malam. Ma-
nakala Ki Rangga Wulung perdengarkan lenguhannya.
Dan hempaskan tubuhnya kesisi pembaringan dengan
napas tersengal. Selang sesaat, Ki Rangga Wulung bang-
kit untuk duduk. Lengannya mencengkeram rambutnya
yang awut-awutan. Sementara si gadis bernama Jayeng
Sari menelungkup, menekap kepalanya dengan bantal.
Tenggelam dengan sedu sedan yang hampir tak terdengar.
Tiba-tiba sepasang mata Ki Rangga Wulung membela-
lak lebar. Karena terpandang buntalan besar didepan pin-
tu kamar. Dengan heran, disambarnya kain selimut un-
tuk penutup tubuh dan dia beranjak menghampiri. "Siapa
yang meletakkan disini...?" berkata dia dalam hati.
"Aneh...?" desisnya pelahan. Rasa penasaran membuat
dia ulurkan kepala untuk melihat keluar kamar, tapi tak
ada bayangan sosok tubuhpun. Pintu depan masih tertu-
tup rapat. Akhirnya diseretnya buntalan itu ke dekat
pembaringan. Dan, dia segera buka ikatannya untuk me-
lihat apa isi buntalan itu.
Seketika membelalak sepasang mata laki-laki tua itu.
Karena yang berada dalam buntalan tak lain dari berma-
cam senjata dan beberapa kotak perhiasan. "Ah, apakah
tak salah mataku? Ini...ini benda-benda Pusaka Kera-
jaan!" Mendadak tubuh Ki Tumenggung bergetaran. Se-
mentara lengannya membinar, ketika membuka isi kotak
berukir itu benar seperti dugaannya adalah berisi perhia-
san dari berbagai macam, dari emas. Juga terdapat ke-
pingan-kepingan uang emas.
Tiba-tiba meledaklah tertawanya, gelak-gelak. Dan dia
sudah membangunkan anak gadisnya. Mengguncang-
guncang punggungnya.
"Hahahaha... hahaha... Sari! Sari! lihatlah, kita...kita
kaya raya! Lihat perhiasan-perhiasan ini! Kita akan kaya!
Hahaha... hahaha..." Diguncang-guncangkan demikian,
dan suara kata-kata aneh yang didengarnya, membuat
Jayeng Sari terhenti dari sedu sedannya.
Dan.....sepasang mata Jayeng Sari jadi membelalak ke-
tika melihat sang ayah tengah memperlihatkan uang
emas dan bermacam perhiasan dihadapannya.
"Kau lihatlah, Sari...! kita akan kaya....! Kita telah keja-
tuhan rejeki yang jatuh dari langit!" ujar sang ayah. Semakin membelalak lebar mata Jayeng Sari ketika ayahnya
mengangkat buntalan besar, dari bawah pembaringan.
Meletakkannya diatas tempat tidur, lalu menghamburkan
isinya.
"Hah!? dari mana kau dapatkan benda-benda dalam
buntalan ini?" berkata Jayeng Sari dengan wajah pucat.
"Hehehe... tak perlu tanya-tanya! Segera kemasilah pa-
kaianmu! Lalu siapkan kuda. Kita pergi dari sini!" berkata
Ki Rangga Wulung.
"Ayah! apakah ini bukan benda-benda pusaka Kera-
jaan Mataram yang kudengar lenyap dicuri oleh bekas
Senapati bernama Wira Rati itu....?" Akan tetapi sebelum
Ki Rangga menjawab sebuah bayangan berkelebat mema-
suki kamar. Dan satu suara menyahuti, dibelakang Ki
Rangga Wulung.
"Benar! ini memang harta benda milik Kerajaan Mata-
ram. Dan, akulah pencurinya....!" Tentu membuat Ki
Rangga Wulung terkejut, dan cepat balikkan tubuhnya.
Tapi... JROSS! Terhenyak laki-laki bekas Tumenggung ini.
Sepasang matanya membeliak. Karena tahu-tahu seba-
tang Tombak telah terhunjam menembus lambungnya.
Hal kejadian itu demikian cepat. Hingga Jayeng Sari cu-
ma bisa terperangarah dengan mata membeliak dan mu-
lut terperangah.
"Kakk...k...kau...Wi....ra....pp...Patt..i...ii...?" Terdengar
suara Ki Rangga Wulung terputus-putus.
"Hahaha....benar! Nah, berangkatlah kau ke Akhirat,
Rangga Wulung! Kukira kau bisa diajak kerja sama. Anak
gadismu ku kepingini, kau tolak. Tak tahunya kau "ma-
kan" sendiri! Dasar tua bangka rakus!" berkata laki-laki
itu seraya menyentakkan tombaknya. Dan terdengar jeri-
tan parau Ki Rangga Wulung. Tubuhnya terlempar mem-
bentur tembok. Lalu menggabruk dilantai. Darah me-
muncrat. Memercik diruangan kamar itu. Diiringi pekik
histeris Jayeng Sari, laki-laki bekas Tumenggung itu
menggeliat. Lalu terkulai dengan melepaskan nyawanya.
Darah menggelogok dari luka lebar yang menoreh isi pe-
rutnya. Bercampur isi perut yang berhamburan.
"Ayaah...!? ayah....!" memekik Jayeng Sari dengan wa-
jah pucat. Akan tetapi dia cuma berdiri mematung me-
mandang pada ayahnya dan laki-laki itu berganti-ganti.
"Kau....kau...mengapa membunuh dia? mengapa...?" te-
riak wanita muda ini dengan mata membelalak. Sementa-
ra lengannya menutupi bagian tubuhnya yang terbuka.
"Hahaha...! dia sudah pantas masuk kubur! Dan,
kau....? hm, rupanya dari pada menerima lamaranku se-
tahun yang lalu rupanya lebih senang disunting ayahmu
sendiri yang sudah tidak waras ini! Hahaha...dunia me-
mang sudah edan!" tertawa Wira Pati dengan mengham-
burkan kata-kata tajam.
"Wira Pati apakah kau anggap dirimu juga bukan ma-
nusia bejat? Kau sama saja dengan ayahku! Dan aku
amat yakin kalau perbuatan ayah adalah akibat terpenga-
ruh oleh kelakuan burukmu. Karena ayah bersahabat
denganmu!"
"Hm, jangan membawa-bawa aku! perbuatan ayahmu
tak ada sangkut-pautnya dengan diriku!" berkata dingin
Wira Pati. Tiba-tiba pancaran matanya membinar menja-
lari liku-liku tubuh Jayeng Sari. Wira Pati beranjak
menghampiri. Jayeng Sari beringsut mundur. Wajahnya
tampak berubah pias. Dari tatapan mata laki-laki berusia
hampir setengah abad itu, dia telah tahu akan apa yang
bakal dilakukan manusia ini.
"Hm, setelah kau ternoda begini apakah kau masih ju-
ga menolak keinginanku?" berkata Wira Pati dengan wa-
jah sinis, dan tertawa menyeringai. Kakinya terus me-
langkah mendekati Jayeng Sari yang telah merapatkan
tubuh di sudut dinding, tak berkutik.
"Pilih antara dua! apakah kau mau cepat-cepat me-
nyusul ayahmu ke alam Baka ataukah mau melayaniku
secara baik-baik...?" ancam Wira Pati. Ujung tombaknya
yang masih berlumuran darah itu terangkat untuk di
arahkan ke dada wanita muda itu. Tergetar tubuh Jayeng
Sari. Sepasang matanya membeliak menatap ujung mata
tombak. "Aku...aku akan melayanimu, Raden.... tapi, ti-
dak ditempat ini. Aku....aku ngeri melihat jenazah
ayah...." menyahut Jayeng Sari dengan napas tersengal.
"Hmm...." Wira Pati palingkan wajahnya untuk mena-
tap pada mayat Ki Rangga Wulung. Lalu palingkan lagi
pada Jayeng Sari.
"Baik! kau kemasilah benda-benda ini! malam ini juga
kau harus turut denganku. Hahaha... setelah selesai uru-
san kita tentunya! berkata dia.
"Nah! cepat kerjakan!" bentaknya dengan halus. Lalu
menggeser tubuh untuk memberi jalan pada Jayeng Sari.
"Ba..ba..baik Raden!" menyahut Jayeng Sari. Lalu se-
gera turuti perintah Wira Pati. Sementara hati wanita ini
tak menentu. Sedih, gusar menjadi satu menindih da-
danya.
Selesai wanita muda itu membungkus lagi benda-
benda itu dalam buntalan, Wira Pati perintahkan Jayeng
Sari keluar ruangan, Dan....Bruk! pintu kamar itu segera
ditutup rapat Wira Pati.
"Ke arah sana!" berkata Wira Pati dengan menunjuk
dengan tombaknya! Jayeng Sari mengangguk. Lalu den-
gan tubuh terhuyung melangkahkan kakinya menuju
ruangan dalam. Dia tahu ke arah tempat itu adalah ke
arah kamar ayahnya.
"Ayo! buka pintu kamar itu. Kita bermalam sejenak!
Menjelang pagi dinihari sebentar lagi kita harus sudah
tinggalkan desa ini!"
"Ya... baik, Raden..!" Menyahut Jayeng Sari. Lalu
membuka pintu kamar. Dan melangkah masuk. Diikuti
Wira Pati...
Keadaan diluar gedung masih sunyi seperti tadi. Se-
mua kejadian tak seorangpun dari penduduk itu yang
mengetahui.
Dan, pada malam yang penuh peristiwa itu, Jayeng Sari lagi-lagi harus menerima kenyataan pahit. Menuruti
kemauan iblis Wira Pati untuk memberikan kehangatan
tubuhnya pada laki-laki buronan Kerajaan Mataram
itu......
WIRA PATI sang buronan Kerajaan Mataram itu terka-
par kelelahan. Dengkurnya terdengar memenuhi ruangan.
Laki-laki yang telah melampiaskan keperkasaannya itu
tampaknya amat kelelahan setelah banyak perjalanan dia
lakukan demi meloloskan diri dari kejaran orang-orang
Kerajaan.
Kini dia terlena pulas dengan tidur mendengkur. Sebe-
lah lengannya menempel diatas perut wanita disebelah-
nya. Tidurkah wanita anak Ki Rangga Wulung itu ? Tidak!
Jayeng Sari masih belalakkan matanya. Mata yang telah
berkaca-kaca karena nasib telah menyeretnya hingga
bermacam kejadian, menimpanya. Wajahnya yang cantik
itu kini telah dilumuri dengan simbahan air mata dipi-
pinya. Seakan tertegun dia menatap langit-langit kamar,
menerangi diri yang bernasib buruk.
Sesaat seperti tersadar dia, ketika mendengar suara
dengkur Wira Pati. Dan tercekatlah hatinya untuk bisa
meloloskan diri dari cengkeraman laki-laki buronan Kera-
jaan itu.
Pelahan dia bangkit. Setelah mengangkat dengan hati-
hati tangan Wira Pati yang memeluknya: Laki-laki itu ter-
nyata benar-benar pulas. Jayeng Sari menggeser tubuh-
nya untuk turun dari pembaringan. Dia berhasil. Wira Pa-
ti tetap tak bergerak dari posisi tidurnya.
Degup-degup jantung wanita itu semakin cepat. Se-
mentara dia tak berayal untuk segera merapihkan pa-
kaiannya. Lalu setelah meneliti keadaan Wira Pati, den-
gan pelahan dan berjingkat-jingkat segera beranjak men-
dekati pintu kamar. Membukanya dengan pelahan sekali.
Dan dia menarik napas lega, setelah berada diluar kamar.
Ditutupnya lagi pintu kamar itu. Keringat dingin tam-
pak membasah disekujur tubuh. Setelah mengatur napas,
dan detak jantungnya agak mereda. Barulah Jayeng Sari
bergegas keluar dari dalam gedung itu.
Dia harus cepat kalau tak ingin jadi korban ketelenga-
san laki-laki yang telah mengancam akan membunuhnya
itu, bila dia melarikan diri. Namun segalanya memang
menggembirakan. Tak ada bahaya apa-apa. Suasana da-
lam gedung itu masih tetap seperti tadi. Dan suara deng-
kur laki-laki buronan Kerajaan Itu masih terdengar sa-
mar-samar.
Jayeng Sari membuka pintu belakang gedungnya. Dan
dari ruangan dapur itu, dia berkelebat lari menembus ke-
pekatan malam. Sesaat tubuhnya sudah lenyap ditelan
gelapnya malam yang sial itu... Suara burung hantu ter-
dengar seperti mengantarkan kepergiannya meninggalkan
tempat itu.....
TIGA
Esok harinya...
Seorang laki-laki berbaju putih dari kain kasar. Berce-
lana pangsi warna abu-abu tampak berjalan bergegas
menghampiri kerumunan orang. Dipinggangnya tersoren
sebilah pedang. Dialah Ginanjar adanya. Sementara dibe-
lakang pemuda itu terlihat beberapa ekor kuda melintasi
pula jalan itu. Ternyata rombongan orang-orang Kadipa-
ten. Seorang laki-laki tua yang berada dibagian depan
adalah Adipati Kiduling Kuto. Lima penunggang kuda di-
belakangnya adalah para pengawalnya.
Ginanjar segera menyingkir untuk memberi Jalan, Ke-
tika rombongan itu tiba ditempat kejadian, kerumunan
orang itupun segera. menyibak bubar. Semua mata tertu-
ju pada para penunggang kuda. Mengetahui kalau yang
datang adalah Adipati Kiduling Kuto, mereka menghatur-
kan sembah.
"Selamat datang kanjeng Adipati..."
"Selamat datang Gusti Adipati..!" beberapa orang
membuka suara.
Adipati Kiduling Kuto hentikan kudanya. Matanya me-
nyapu pandangan semua orang yang menunduk dihada-
pannya. Lalu menatap pada sosok tubuh yang terbujur
ditanah itu. Sesosok tubuh wanita yang sudah menjadi
mayat.
"Apakah kalian mengetahui siapakah mayat perem-
puan itu?" tanya sang Adipati.
"Ampun Gusti, hamba mengenalnya. Dia puteri Ki
Rangga Wulung!" menyahut salah seorang dihadapannya.
"Aneh? mengapa bisa berada ditempat ini? Apakah ka-
lian mengetahui siapa yang telah membunuhnya?" tanya
lagi Adipati Kiduling Kuto dengan sapukan pandangannya
pada beberapa orang.
Sementara Ginanjar telah berada pula dikerumunan
orang itu. Matanya menatap pada perempuan yang terbu-
jur kaku itu. Sebuah belati tampak jelas terhunjam dida-
danya. Salah seorang dari kerumunan orang itu tiba-tiba
menyeruak keluar, menghampiri ke hadapan Adipati Ki-
duling Kuto. Seraya menyembah, laki-laki itu berkata.
"Ampun, Gusti.! Nama hamba Wiryo Jembluk. Hamba
tadi malam bertugas meronda. Jelas sekali hamba melihat
sebelum menjelang shubuh, sesosok tubuh berlari-lari ke
arah tengah desa. Merasa curiga kami yang meronda ber-
tiga segera mengejarnya. Ternyata perempuan itu adalah
Nyi Jayeng Sari. Puteri Ki Rangga Wulung. Lalu hamba
menanyai..."
"Aku tanyakan siapakah yang telah membunuhnya!
apakah kau mengetahui?" membentak Adipati Kiduling
Kuto. "Aku tak menanyakan macam-macam!" sambung-
nya.
Dibentak demikian si laki-laki bernama Wiryo Jembluk
ini jadi gelagapan.
"Ya...! Yya.. Gusti. hamba...hamba.." belum lagi habis
kata-katanya tiba-tiba laki-laki itu menjerit keras dan ro-
boh terjungkal. Ternyata dadanya telah tertembus sebuah
belati kecil. Sesaat setelah berkelojotan, Wiryo Jembluk
terkapar tak berkutik, karena nyawanya telah melayang.
Pucatlah wajah semua orang. Juga wajah Adipati Kiduling
Kuto.
Saat itu sesosok tubuh berkelebat diantara kerumu-
nan orang. Ginanjar tersentak kaget. Dia lihat jelas laki-
laki itu yang telah menyambitkan pisau belati itu ke arah
Wiryo Jembluk.
"Dia pembunuhnya...! he! jangan lari!!" membentak
pemuda ini. Tubuhnya berkelebat. Dan dengan gerakan
salto diudara setinggi lima tombak, tubuh Ginanjar mele-
wati kepala-kepala orang. Dilain kejap dia sudah berada
dihadapan laki-laki yang mau melarikan diri itu. SET!
SET!
Dua pisau belati meluncur ke arah leher dan dada Gi-
nanjar yang dilontarkan laki-laki Itu. Namun Ginanjar
berhasil mengelakkan diri dengan gerakan lincah.
Dan...BUK! lengannya telah menghantam dada orang.
Pukulan itu tak terlalu keras, akan tetapi membuat laki-
laki pembunuh itu terdorong mundur hingga jatuh ter-
jengkang.
Ginanjar tak berlaku ayal untuk cepat melompat. Len-
gannya sudah bergerak untuk mengirimkan totokannya.
Dia berpendapat harus meringkus laki-laki itu tanpa ha-
rus membunuhnya.
Akan tetapi tiba-tiba sebatang anak panah telah men-
dahuluinya menembus dada laki-laki itu, yang jadi meng-
geliat sejenak. Setelah mengerang, lalu terguling tak ber-
kutik. Tewas seketika.
"Bagus! kau amat cekatan anak muda! manusia pem-
bunuh ini memang pantas mampus!" terdengar suara
berkata. Ternyata Adipati Kiduling Kuto telah berada di-
hadapannya bersama seorang pengawalnya yang memba-
wa busur dan anak panah. Ginanjar cepat-cepat mengha-
turkan hormat. Diam-diam hatinya membathin. "Hebat!
tak dinyana Adipati ini punya gerakan hebat. Juga pengawalnya..." Ginanjar memang telah melihat jelas kedua
orang Kadipaten itu melompat dari punggung kuda mas-
ing-masing. Si pengawal bersenjata panah itu telah men-
cabut sebatang anak panah dan melemparkannya untuk
membunuh laki-laki itu tanpa menggunakan busur lagi.
"Terima kasih atas pujian anda Adipati...! akan tetapi
sayang, mengapa dia dibunuh?" berkata Ginanjar.
"Apakah maksud anda, sobat? Dan, siapa anda! meli-
hat dari caramu bicara kau pasti orang Rimba Hijau. Si-
lahkan perkenalkan nama dan julukanmu!" Berkata pen-
gawal Adipati itu dengan suara lantang. Ginanjar mena-
tap pada Adipati Kiduling Kuto. Laki-laki tua itu men-
gangguk seraya berkata.
"Benar! coba kau ungkapkan maksud anda, anak mu-
da. Dan akupun ingin mengetahui siapa anda gerangan.
Tentunya seorang pendekar dari pihak golongan Putih,
yang berada dipihak Kerajaan...!"
"Ah, hamba hanya seorang pendekar picisan yang tak
berguna, Adipati! Namaku Ginanjar. Dan julukan-
ku...ngng... aku tak punya julukan!" menyahut Ginanjar
dengan suara datar merendah. Dia sudah mau sebutkan
dirinya berjulukan si Dewa Linglung. Akan tetapi merasa
julukan itu tak sesuai lagi dengan keadaan dirinya yang
sudah kembali waras.
Adipati Kiduling Kuto manggut-manggut. "Nah, seka-
rang jelaskan maksud kata-katamu. Mengapa kau men-
cegah orangku membunuhnya?" Ginanjar tersenyum, se-
raya menyahut.
"Maksudku demikian, Adipati. Kalau orang ini tak di-
bunuh, kita bisa menanyai. Atau memaksanya bicara.
Hamba berpendapat kalau- dia pulalah yang telah mela-
kukan pembunuhan terhadap anak gadis Ki Rangga Wu-
lung itu. Akan tetapi bukan mustahil kalau dia hanya su-
ruhan orang lain. Nah, kita bisa menanyai siapa gerangan
orang yang berada dibelakangnya...!" tutur Ginanjar. Se-
jenak tercenung Adipati ini. Sementara sang pengawal
menatap berganti-ganti pada atasannya dan Ginanjar
dengan wajah kaku. Apakah tindakannya akan disalah-
kan ataukah dibenarkan oleh sang Adipati.
Tampak kemudian Adipati Kiduling Kuto manggut-
manggut seraya mengelus jenggotnya. Lalu berkata.
"Haih! pendapatmu benar, anak muda! Ya! kau telah ber-
tindak salah, Hambali! akan tetapi kejadian ini sudah ter-
lanjur...!"
"Lalu apakah selanjutnya yang akan kita lakukan Gus-
ti Adipati?" tanya Hambali. Wajahnya tampak berubah
merah. Tampaknya laki-laki ini agak mendongkol juga
terhadap Ginanjar yang membuat dia dipersalahkan oleh
Adipati. Untung sang Adipati tak memperpanjang urusan.
"Hm, pergilah empat orang dari kalian ketempat tinggal
Ki Rangga Wulung! Periksa keadaan didalam rumahnya!"
perintah Adipati.
"Daulat, kanjeng Gusti Adipati!" menyahut Hambali.
Dan selanjutnya memberi isyarat pada keempat kawan-
nya, yang telah berdatangan. Salah seorang kawan pen-
gawal itu membawakan pula kudanya. Lalu, setelah me-
lompat keatas kuda, bergegas empat orang pengawal Ka-
dipaten itu memacu kuda masing-masing untuk mening-
galkan tempat itu. Dengan tujuan ke arah tempat kedia-
man Ki Rangga Wulung. Ginanjar menatap kepergiannya.
Sang Adipati mendekati Ginanjar menepuk pundaknya.
"Anak muda, tampaknya kau bisa diajak bekerja sama!
marl ketempat kediamanku...! urusan ini kita serahkan
saja pada keempat pengawalku! Kita kembali ke Kadipa-
ten!"
"Ah, kalau hamba diajak singgah, mana mungkin kuto-
lak? Terima kasih Adipati...!", menyahut Ginanjar. Sang
Adipati melompat kepunggung kuda yang dibawakan oleh
seorang dari pengawal yang tak turut serta. Lalu beri
isyarat pada pengawal itu untuk berikan kudanya pada
Ginanjar.
Tak lama dua ekor kuda sudah mencongklang pelahan
meninggalkan kerumunan ditempat itu. Pengawal yang
seorang diperintahkan menunggu kawan-kawannya di-
tempat itu, sekalian mengurus jenazah wanita anak gadis
Ki Rangga Wulung itu untuk dikuburkan sebagaimana
mestinya.
"Bila tak ada kejadian apa-apa dikediaman Ki Rangga
Wulung ataupun ada terjadi peristiwa, kau katakan pada
keempat pengawal kawanmu untuk segera menghadapku
di Kadipaten!" teriak Adipati Kiduling Kuto sesaat ketika
dia hentikan kudanya dan membalik ke arah pengawal-
nya.
"Daulat kanjeng Gusti Adipati. Perintah akan hamba
laksanakan!" menyahut pengawal ini. Tak lama dia cuma
menatap punggung kedua orang itu hingga lenyap me-
ninggalkan debu mengepul.
"Heh! pemuda bernama Ginanjar itu jangan-jangan bi-
sa menggeser kedudukanku di Kadipaten. Tampaknya
Adipati amat berkenan melihatnya!" gumam pengawal ini.
Dan dengan bersungut-sungut segera dia perintahkan
orang berkerumun itu bubar. Beberapa orang laki-laki di-
perintahkan menggali lubang untuk mengubur jenazah
perempuan itu.
Matahari mulai merayap naik. Tampak kesibukan di-
tempat itu dari para penduduk yang menjalankan perin-
tah menggali kubur.....
Sementara si pengawal Kadipaten itu cuma duduk di
bawah pohon dengan bertopang dagu. Seolah seribu ke-
melut membentang dalam benaknya. Sikap Adipati pada
Ginanjar itu membuat dia takut tergeser sebagai orang-
orang kepercayaan dan andalan sang junjungannya.
EMPAT
"Ampun Gusti Adipati! hamba melaporkan. Keadaan di
rumah kediaman Ki Rangga Wulung tak dapat hamba ce-
ritakan. Segeralah gusti Adipati melihatnya sendiri...!"
melapor salah satu dari keempat pengawal Kadipaten. Di-
alah Hambali.
"Hm, mengapa demikian?" bertanya Adipati Kiduling
Kuto. Keningnya berkerut, dan alisnya naik terjungkat.
Ginanjar yang sedang duduk bercakap-cakap dengan
Adipati ini juga terheran mendengar laporan itu.
"Ampun Gusti Adipati. Terlalu berat mengatakannya,
karena hal ini adalah sesuatu yang diluar dugaan. Dan
hanya gusti Adipati sendirilah yang berhak melihatnya.
Tiga orang kawan kami masih berada disana...!" berkata
lagi pengawal bernama Hambali itu. Setelah termenung
sejurus, laki-laki Adipati ini berpaling pada Ginanjar.
"Sobat Ginanjar, mari kita melihatnya. Kukira pasti
ada kejadian yang luar biasa...!" Ginanjar mengangguk.
"Hamba tak keberatan, Adipati...!" ujar pemuda ini. Nah,
Hambali segeralah kau siapkan kudaku. Juga kuda buat
tetamuku sobat Ginanjar ini!"
"Daulat, Gusti, perintah akan hamba laksanakan...!"
menyahut Hambali. Lalu setelah meminta diri, segera be-
ranjak keluar dari pendopo. Tak lama diluar sudah terse-
dia dua ekor kuda.
"Mari sobat Ginanjar...!" ajak Adipati Kiduling Kuto.
Dan dia melompat terlebih dulu kepunggung kudanya.
Ginanjar mengikuti. Tak lama kedua kuda telah men-
congklang cepat keluar halaman gedung Kadipaten. Ham-
bali memandang disebelah dua orang pengawal Kadipa-
ten, hingga kedua kuda itu lenyap ditikungan jalan.
Diatas kuda, Adipati Kiduling Kuto berkata. "Sobat Gi-
nanjar! anak buahku teramat patuh padaku! lihatlah! un-
tuk satu hal yang amat besar, dia tak mau melancangi
melapor, kecuali menitahkan aku sendiri melihat keja-
dian. Tampaknya hal ini bukan hal biasa! karena dia ta-
kut kesalahan bicara...!" Ginanjar kerutkan aliasnya. "Ada
kejadian apakah sebenarnya, dirumah kediaman Ki Reng-
gana itu ?" berkata Ginanjar dalam hati. Akan tetapi dia
cuma manggut-manggut tanpa memberikan komentar
pada Adipati Kiduling Kuto.
Tak lama mereka sudah berada dihalaman sebuah
rumah gedung model lama yang tampak diluar dijaga oleh
tiga orang pengawal berkuda. Ketika melihat Adipati
muncul bersama Ginanjar, mereka seperti agak terkejut
melihat pemuda itu. Tapi segera turun dari kudanya, se-
raya menyembah hormat. "Syukurlah Gusti Adipati ber-
kenan datang melihat sendiri keadaan didalam. Hamba
takut melancangi kanjeng Gusti...!"
Akan tetapi sambil berkata mata laki-laki yang bicara
ini menatap pada Ginanjar dengan sorot mata tajam. Be-
gitu pula kedua kawannya.
"Hm, kalian tak usah curiga padanya. Dia orang sendi-
ri...!" berkata Adipati. Ginanjar yang tahu diri segera men-
jura hormat pada ketiganya.
"Mari, sobatku! kita lihat keadaan didalam. Apakah ge-
rangan yang telah terjadi...?" Ginanjar mengangguk. Se-
mentara ketiga pengawal cuma menunduk, setelah mem-
persilahkan Adipati Kiduling Kuto untuk menindak ma-
suk. Didepan gedung keduanya hentikan kuda. Setelah
menambatkan kudanya, Adipati melangkah lebar mema-
suki ruangan dalam gedung Ki Rangga Wulung yang be-
kas Tumenggung itu. Ginanjar mengikutinya dari bela-
kang. Sementara dua dari pengawal Kadipaten itu mengi-
kutinya dibelakang Ginanjar. Satu persatu ruangan dipe-
riksa. Ketika melihat pintu kamar terbuka dan bau mayat
menyerang hidung membuat Adipati ini tampak berubah
wajahnya.
"Hm, pasti ada yang tidak beres!" berbisik dia pada Gi-
nanjar. Dan... segera terpampang dihadapan mereka, se-
sosok tubuh yang telah jadi mayat terkapar diruangan
kamar. Sosok tubuh dari Ki Rangga Wulung, yang tewas
dengan isi perut robek. Ususnya terburai keluar. "Ah...!?"
tersentak Ginanjar. Adipati inipun kelihatan berubah ka-
get wajahnya.
"Haiiih! inikah kejadian yang tak mau dilaporkan itu?"
berkata Adipati. "Lagi-lagi pembunuhan! siapakah bang-
sat tengik yang telah melenyapkan nyawa bekas Tumeng-
gung Kerajaan ini...?" Menggetar suara Adipati.
"Benar, Gusti Adipati. Akan tetapi bukan ini saja!" me-
nyahut pengawal yang dibelakang Ginanjar.
"Hm, mari kita periksa ruangan lain..!" berkata Adipati
Kiduling Kuto. Lalu beranjak melangkah kelain ruangan.
Dan ketika membuka sebuah pintu kamar yang memang
sudah setengah terbuka pintunya. Segera terpampang la-
gi sebuah pemandangan menyeramkan. Hal ini bukan sa-
ja membuat Ginanjar terkejut, akan tetapi sang Adipati
ini juga belalakkan matanya. Mulutnya ternganga dengan
berteriak kaget.
"Hah!? dia..dia si WIRA PATI,...?"
Tentu saja hal itu membuat Ginanjar terpaku tak ber-
geming, karena melihat seorang laki-laki berusia 40 ta-
hun lebih yang tergantung lehernya oleh seutas tambang
pada langit-langit kamar, Sementara di bawahnya tergele-
tak sebuah buntalan yang setengah terbuka, berisi ben-
da-benda pusaka Kerajaan. Darah membanjir menganak
sungai diatas pembaringan! hingga kelantai. Lambung la-
ki-laki itu sobek memburaikan isi perutnya. Sungguh se-
buah pemandangan yang amat mengerikan.
"Wira Pati....? maksud Adipati, apakah dia si orang bu-
ronan Kerajaan Mataram yang tengah dicari-cari itu...?"
tanya Ginanjar terkejut.
"Tak salah, sobatku....! dia Wira Pati adanya?" menya-
hut Adipati ini. "Akan tetapi aneh! siapakah orang yang
telah membunuhnya, dan menggantungnya dalam kamar
Ki Rangga Wulung ini?"
Wilayah Kota Raja jadi gempar, karena si buronan Ke-
rajaan bernama Wira Pati yang telah merampok harta pu-
saka Kerajaan, telah berhasil dibawa mayatnya oleh Adi-
pati Kiduling Kuto, Tentu saja orang-orang Kerajaan men-
gelu-elukan Adipati Kiduling Kuto yang telah berhasil me-
nyelamatkan harta pusaka Kerajaan Mataram. Benda
benda pusaka itu masih utuh dalam buntalan. Kecuali
sebuah tombak. Yaitu Tombak Pusaka Ratu Shima yang
lenyap tak ketahuan kemana rimbanya. Untuk itu sang
Adipati itu telah menerima penghargaan besar dari bagin-
da Raja Mataram. Selain penghargaan, tentu saja menda-
pat pub hadiah istimewa dari Baginda Raja Kerajaan Ma-
taram atas jasanya itu.
Rakyat tampaknya amat bersuka cita dengan hasil ge-
milang yang dilakukan Adipati Kiduling Kuto yang bertin-
dak cepat meringkus dan membunuh mati si buronan
yang bekas Senapati itu bersama anak-anak buahnya.
Demikianlah. Apa yang memang sudah seharusnya terja-
di, juga telah menjadi kenyataan. Walaupun sebenarnya
bukanlah Adipati Kiduling Kuto yang membunuh buronan
Kerajaan itu. Tapi karena tak seorangpun dari pihak ra-
kyat maupun para pendekar yang buka suara atau men-
getahui kejadian sebenarnya, semua yakin kalau Adipati
Kiduling Kuto yang berjasa...
Hal mana membuat Ginanjar yang telah menjadi teta-
mu di gedung Kadipaten Adipati Kiduling Kuto jadi geleng
kepala tak mengerti. Dua hari dia menjadi tetamu di ge-
dung Kadipaten, Ginanjar merasa tugasnya sudah selesai.
Karena toh biang kerok yang menjadi buronan Kerajaan
telah mati. Walau tak tahu siapa pembunuhnya, namun
mau tak mau sang Adipati Kiduling Kuto itulah yang be-
runtung. Mendapat penghargaan, juga hadiah istimewa
dari Raja.
"Hm, Adipati tentu tak melupakan keempat pengawal
Kadipaten yang telah berjasa dengan "anugerah" besar
itu...!" berdesis Ginanjar dalam duduknya. Sepasang ma-
tanya menatap keluar dari kamar tempat dia bermalam
sebagai tetamu istimewa Adipati Kiduling Kuto.
"Apakah sebaiknya aku meninggalkan gedung Kadipa-
ten ini? Info yang kudapat dari orang Kadipaten, bahwa
penghargaan dan hadiah telah diberikan hari ini oleh ba-
ginda Raja! Menurut seorang pengawal yang bam pulang
dari Kota Raja, Adipati baru kembali sore nanti...." berka-
ta Ginanjar dalam hati. Termenung sesaat pemuda ini se-
perti menimbang-nimbang keputusannya. Akhirnya dia
bangkit dari kursinya, lalu beranjak ke ruangan pendopo.
Saat itu tiba-tiba terdengar suara merintih dari dalam
ruang kamar ditengah gedung. Tersentak pemuda ini.
"Aih, siapakah gerangan yang merintih itu?" pikirnya. Tak
ayal dia sudah hentikan langkah, dan berbalik ke arah
ruang dalam. Itulah ruangan kamar istri Adipati Kiduling
Kuto.
Suara mengerang dan rintihan itu semakin jelas dari
celah daun pintu kamar yang setengah terbuka. Mau tak
mau Ginanjar tertegun bingung.
"Tidak! jangaan! tolooong...! lepaskaaan...!" teriakan itu
semakin jelas. Membuat Ginanjar tak sabar. Dan mem-
buka daun pintu kamar dengan cepat. Dan selanjutnya
sudah melompat kedalam. Kelambu pada tempat tidur is-
tri Adipati Kiduling Kuto tampak tertutup dan bergoyang-
goyang. Orang didalam tak begitu jelas.
"Celaka...!? jangan-jangan ada orang jahat yang masuk
mau memperkosanya. Ataukah anak buah Adipati sendiri
yang mau berbuat kurang ajar?" seru tak hati Ginanjar.
Tak ayal dia sudah berkelebat melompat. Lengannya me-
nyibak kelambu. Akan tetapi tertegun dia, karena istri
Adipati itu tengah mengigau dalam tidurnya. Dia telah
berteriak-teriak dan merintih dengan mata tertutup. Ten-
tu saja dengan pakaian setengah terbuka.
"Aiiih! siang-siang begini mengigau..." memaki Ginan-
jar dalam hati. Seraya garuk-garuk kepala yang tidak gat-
al. Akan tetapi tersentak dia. karena mendengar langkah-
langkah kaki mendekat ke arah kamar. "Celaka! aku bisa
dituduh berbuat tidak senonoh...? Aii! aku harus cepat
menyingkir!" sentaknya dalam hati. Akan tetapi terlam-
bat....'
"Bangsat licik! apa yang kau lakukan disini bocah ke-
parat...?! tahu-tahu telah terdengar suara bentakan. Dan
tiga sosok tubuh dari tiga pengawal Kadipaten telah ber-
lompatan masuk. Pucatlah seketika wajah Ginanjar. Dan
pada saat itu juga tahu-tahu telah berkelebat sesosok tu-
buh dari balik pintu kamar itu. Lengannya bergerak men-
girimkan jotosan kepunggung Ginanjar. Mengetahui ada
bayangan sekilas dibelakang, dan merasa angin pukulan
dibelakanganya, Ginanjar bertindak cepat untuk menge-
lakkan diri. Dia berhasil. Gerakan mengegos itu telah di-
barengi dengan lompatan ke arah pintu. Tapi dua batang
tombak telah meluruk deras mengancam dadanya. Ter-
paksa Ginanjar gunakan kelincahannya. Lengannya ber-
gerak kedepan dengan jari tangan mengembang.
Dan...Krep! Dua batang tombak itu telah kena dicekal.
Selanjutnya yang terdengar adalah suara bergedubrakan-
nya tubuh kedua pengawal Kadipaten itu yang meluncur
ke arah meja.
Membentur keras hingga meja tergelimpang terbalik
patah-patah tertindih dua tubuh pengawal itu. Kiranya
Ginanjar telah gunakan kekuatannya untuk membetot
tubuh lawan.
Selanjutnya dengan gerakan gesit, dia telah berhasil
melompat keluar dari dalam kamar istri Adipati Kiduling
Kuto itu.
"Cegat dia...! cepat! jangan biarkan meloloskan diri...!
membentak orang yang tadi bersembunyi dipintu kamar.
Sementara itu terdengar pula suara jeritan-jeritan kaget
dari istri sang Adipati yang agaknya telah tersadar dari
mimpinya.
Seketika suasana didalam gedung Adipati itu menjadi
hiruk pikuk. Suara bentakan dan teriakan terdengar di
setiap sudut ruangan, sampai ke pendopo.
"Kejaar! tangkaaap! Tangkap bangsat itu! dia mau
memperkosa Kanjeng Ibu Adipati....!"
"Tidak! dusta..! aku tak melakukan apa-apa..!
aku...aku..." teriak Ginanjar seraya melompat keruangan
pendopo. Akan tetapi belasan pengawal Kadipaten telah
bermunculan mengurungnya.
"Tetamu macam beginikah yang menjadi tamu istime-
wa gusti Adipati? Heh! tangkap dia! Cincang sampai
mampus!!" terdengar teriakan-teriakan disana sini. "Ru-
panya kau laki-laki hidung belang ya..? Ayo. kawan-
kawan! ringkus setan bau kencur ini...!"
LIMA
Dua orang pengawal menerjang Ginanjar dengan dua
bilah golok besar. Satu menyerang ganas untuk membe-
lah batok kepala. Sedang satu lagi menabas pinggang.
Pemuda ini jadi gelagapan. Terpaksa dia lakukan gerakan
jatuhkan tubuh kelantai. Kakinya menjejak perut pen-
gawal yang satu. Sedangkan sepasang lengannya me-
nangkap bilah golok yang nyaris membelah tubuhnya.
Dengan sekali sentakan, tubuh si penyerang yang golok-
nya tertangkap itu terlempar membentur dinding
kayu...BRAKK! Dua teriakan terdengar santar. Dan kedua
tubuh pengawal Kadipaten itu terjengkang bergulingan.
Cepat Ginanjar gerakkan tubuh melompat berdiri.
"Tunggu! kalian telah salah menuduh orang! aku akan
berikan penjelasan! berteriak Ginanjar. Akan tetapi per-
cuma. Suara kentongan telah terdengar dipukul bertalu-
talu. Dan diluar gedung puluhan prajurit Kadipaten telah
bermunculan mengurungnya.
"Edan! apa-apaan ini...?" tersentak kaget Ginanjar.
"Kau tak dapat loloskan diri kurcaci tengik! Menyerah-
lah! Kau akan menerima hukuman berat dari Kanjeng
Adipati...!" terdengar bentakan. Dan...enam orang pen-
gawal segera menerjang dengan melontarkan tambang-
tambang atau tali laso untuk menjerat dia. "Celaka...!?"
membathin pemuda ini.
Enam tali laso telah meluncur ke arah Ginanjar untuk
menjeratnya. Pengawal-pengawal Kadipaten itu ternyata
adalah orang-orang yang berkepandaian tinggi. Ginanjar
cepat cabut pedangnya untuk menabas. Namun bersa-
maan dengan itu. Beberapa pisau terbang telah pula me-
luncur deras kearahnya. Dalam keadaan demikian ter-
nyata membuat pemuda ini jadi melengak. Untunglah pa-
da saat itu selarik cahaya perak telah menghantam buyar
semua serangan. Dan... selarik sinar pelangi meluncur ke
arah Ginanjar. Membelit tubuhnya. Saat berikutnya tu-
buh pemuda itu tiba-tiba meluncur deras keluar dari
ruang pendopo. Tentu saja kejadian itu membuat para
pengawal Kadipaten jadi terkejut.
Ternyata bukan mereka saja. Ginanjar pun terkejut
bukan main, karena tahu-tahu dia rasakan tubuhnya
terbetot keluar pendopo. Detik selanjutnya Ginanjar rasa-
kan tubuhnya mengapung ke udara. Ternganga semua
pengawal Kadipaten melihat tubuh Ginanjar melayang
keatas setinggi lebih dari sepuluh tombak. Dan lenyap di-
balik wuwungan gedung Kedipatian itu.
"Kejar.!" mereka hampir serempak. Dan berloncatanlah
tubuh-tubuh para pengawal itu untuk mengejar Ginanjar.
Akan tetapi mereka tak dapatkan lagi pemuda itu disana.
Ginanjar telah lenyap entah kemana bagaikan diterbang-
kan angin....
"RORO...? kau...kau...??? Ah, lagi-lagi kau telah me-
nyelamatkanku! Ilmu Sinar perak-pelangi itu dari mana
kau dapatkan? Ah, ah..sungguh mengagumkan!" berkata
Ginanjar, ketika dapatkan dirinya berada diatas bukit.
Dihadapannya berdiri tegak Roro Centil yang tersenyum
memandangnya.
"Hihihi... Ginanjar! Ginanjar..! kau mengapa membuat
kerusuhan di kediaman Adipati Kiduling Kuto itu?" ujar
Roro dengan suaranya yang merdu. Lalu duduk diatas
batu. Pandangannya dialihkan menatap kebawah bukit.
"Hm, aku tak membuat keasusilaan...!" tugas anak
muda ini.
"Lalu? mengapa pengawal-pengawal Kadipaten mau
meringkusmu?" tanya Roro menyelidik. "Menurut yang
kudengar kau mau mengganggu istri Adipati itu!" Ginan-
jar jadi garuk-garuk kepala kesal.
"Kau percaya?"
"Yah! Setengah percaya setengah tidak!" "Kalau aku ce-
ritakan kejadian sesungguhnya kau mau mempercayai-
ku?" tanya lagi Ginanjar.
"Akan kupertimbangkan dulu, apakah ceritamu be-
nar!" sahut Roro.
"Baik! akan kukatakan sebenarnya. Setelah itu terse-
rah kau, apakah mau mempercayai atau tidak!" berkata
pemuda itu. Lalu tanpa ayal lagi Ginanjar segera cerita-
kan kejadiannya dari awal hingga akhir. Selain itu diceri-
takan pula kejadian sebelumnya mengenai peristiwa di
kediaman Ki Rangga Wulung. Tentang diketemukannya
mayat WIRA PATI sang buronan Kerajaan Mataram yang
telah tewas dalam keadaan tergantung di langit-langit
kamar.
"Jadi sebenarnya bukanlah Adipati Kiduling Kuto yang
telah membunuh Wira Pati! melainkan seorang yang mis-
terius, yang telah bertindak tanpa diketahui siapapun,"
berkata Ginanjar. Roro jadi kerutkan keningnya. Alisnya
bergerak menyatu. Tampaknya dia amat serius memikir-
kan hal kejadian.
"Kejadian itu memang aneh!" berkata Roro, sesaat ke-
mudian setelah lama tercenung. "Hahaha... memang
aneh! apakah kau percaya Adipati itu ataukah percaya
aku?" tertawa hambar Ginanjar seraya menatap Roro da-
lam-dalam.
"Hm, baik! aku percaya padamu! akan tetapi kau ha-
rus membantuku. Aku akan berusaha memecahkan per-
soalan ini. Saat ini kau pasti akan dikejar terus oleh
orang-orang Kadipaten. Sebaiknya kau menyingkir jauh-
jauh. Aku akan coba menyelinap ke gedung Kadipaten
untuk menyelidiki..!" berkata Roro.
"Aku sih setuju saja. Tapi aku akan kemana baiknya
menurut pendapatmu?" tanya Ginanjar. Roro jadi termenung sejurus.
"Yak! kalau begitu sebaiknya kau ke Kota Raja. Temui
Tumenggung SATRYO. Dan ceritakan tentang kejadian
sebenarnya mengenai kematian Wira Pati itu. Dua hari
kemudian aku akan menyusulmu kesana...!" ujar Roro
dengan wajah cerah.
"Hm, baiklah kalau begitu!"
"Bagus! akan tetapi kau harus waspada! setiap saat
nyawamu akan terancam. Karena pengawal-pengawal Ka-
dipaten takkan membiarkan kau hidup. Kukira, kau kini
jadi orang penting. Karena hanya kaulah yang mengeta-
hui kejadian terbunuhnya Wira Pati. Takkan dibiarkan-
nya kau hidup karena amat membahayakan kedudukan-
nya!" ujar Roro dengan serius.
"Kalau begitu aku terpaksa harus menyamar...!" berka-
ta Ginanjar.
"Hihihi, itulah jalan terbaik! akan tetapi hati-hati. Aku
yakin orang-orang Adipati Kiduling Kuto tak akan tinggal
diam dan bertebaran mencarimu!"
"Heh! jangan khawatir! aku dapat menjaga diriku! ber-
kata Ginanjar. Roro Centil manggut-manggut, lalu ujar-
nya kemudian. "Nah, baiklah kalau begitu! Aku segera
pergi. Sampai jumpa lagi dua hari kemudian di Kota Ra-
ja!"
"Kalau tak ada halangan, tentunya...!" sambung Roro.
"Ya, kalau tak ada halangan!" sahut Ginanjar sambil
tersenyum. Roro Centil bangkit berdiri, lalu beranjak me-
langkah. Tak lama dia sudah berkelebat lenyap dari atas
bukit itu. Ginanjar cuma terpaku memandang. Hatinya
membathin. "Haiih, kalau tak ada dia keadaanku bisa le-
bih gawat. Heh, dia benar-benar seorang Dewi Peno-
long...!"
Adipati Kiduling Kuto telah kembali dari Kota Raja sore
itu. Dengan diantar oleh pasukan kehormatan dari Kera-
jaan Mataram. Tentu saja dengan membawa hadiah isti-
mewa dari Kerajaan Mataram. Hadiah istimewa dari Baginda Raja Mataram adalah Tiga hektar sawah dan tanah,
mutlak jadi miliknya. Permintaan hadiah itu adalah atas
dasar baginda menawarkan apa yang diingini oleh Adipati
Kiduling Kuto. Ternyata sang Adipati meminta hadiah ta-
nah dan sawah. Permintaan itu dikabulkan Baginda Raja.
Hingga sang Adipati kembali ke Kadipaten sore itu dengan
membawa surat ditangannya. Surat dari tiga hektar sa-
wah dan tanah yang menjadi hak miliknya secara syah.
Selain itu pula Baginda telah memberi pula uang emas
sebagai imbalan atas jasanya.
Tumenggung Satryo yang memimpin pasukan kehor-
matan untuk mengantar sang Adipati itu cuma mengan-
tar sampai perbatasan Kota Raja. Selanjutnya kembali ke
markas, di Kota Raja. Adapun Adipati Kiduling Kuto den-
gan pengawal-pengawal kadipaten meneruskan perjala-
nan menuju ke Kedipatian. Derap langkah kaki-kaki kuda
terdengar dan terlihat semakin mendekat kewilayah Kadi-
paten. Dan, tak lama mereka tiba dipintu gerbang gedung
Kadipaten.
Beberapa pengawal segera datang menyambut. Juga
istri sang Adipati yang masih berusia muda itu menyam-
but sang Adipati dipintu pendopo.
"Selamat datang, kanda Adipati...!"
"Hm, ya...!ya...! apakah tak ada kejadian apa-apa di-
rumah kita?" bertanya Adipati Kiduling Kuto.
"Marilah kita bicara didalam, kanda!" berkata sang istri
dengan agak berubah wajahnya. Laki-laki Adipati ini
mengangguk. Lalu beranjak memasuki ruang pendopo.
"Celaka, kanda...! tetamu kita, laki-laki muda bernama
Ginanjar itu berhasil meloloskan diri!" tak sabar sang istri
telah buka pembicaraan, sambil melangkah keruangan
tengah. Membelalak sepasang mata Adipati ini. "Bagai-
mana bisa terjadi? bukankah telah kuatur rencana agar
dia dijadikan tawanan!"
"Kanda dapat tanyakan nanti pada pengawal-pengawal
Kadipaten yang telah ditugaskan kanda untuk hal itu
nanti!" berkata sang istri. "Akan tetapi sebaiknya kanda
beristirahat dulu...!" Adipati Kiduling Kuto tak menjawab.
Dihempaskannya tubuhnya kekursi diruang tengah ber-
bantal empuk itu. Dan dihelanya napasnya panjang-
panjang.
"Walau bagaimanapun anak muda itu harus dile-
nyapkan! Karena hanya dia yang mengetahui kejadian
itu!" berdesis suara sang Adipati. Sepasang matanya tam-
pak membinar. Dan dia tampak gelisah.
"Hal itu dapat diatur nanti kanda! minumlah dulu! kau
tentu haus!" Laki-laki ini tak menolak ketika istrinya me-
nyorongkan nampan berisi minuman segar kehadapan-
nya. Diraihnya cangkir perak berisi minuman segar kesu-
kaannya. Dan direguknya hingga ludas.
ENAM
Malam itu bulan sabit mengambang dilangit... Seekor
kuda pelahan keluar dari belakang gedung Kedipatian.
Sesosok tubuh berpakaian serba hitam telah menyeretnya
keluar dengan gerakan hati-hati. Lalu melompat dengan
sigap. Dan selanjutnya mencongklang pelahan mening-
galkan tempat itu. Laki-laki itu memakai topeng untuk
menutupi wajahnya. Sekejap kemudian telah lenyap diti-
kungan jalan. Ternyata penunggang kuda itu menuju ke
arah utara. Memasuki jalan setapak disisi hutan. Tak la-
ma telah menuruni sebuah bukit kecil. Setelah membelok
ke arah timur, lalu berhenti didepan sebuah candi.
Membelok disisi candi, ada sebuah jalan lurus yang
menuju kesisi bukit. Dan tepat dibelakang candi itu dia
hentikan langkah kudanya. Melompat turun. Menyembu-
nyikan kuda, dan mengikatnya disekitar pohon dibalik
semak. Lalu beranjak melangkah kesisi bukit.
Disini terlihat sebuah pondok terpencil ditempat itu.
Pondok satu-satunya. Tampak dari kejauhan cahaya lam-
pu tersembul dari jendela yang terbuka. Dia terus melangkah menghampiri.
"Kokok Beluk terbang malam...!" berteriak pelahan, la-
ki-laki bertopeng itu. Suasana tampak hening mencekam.
Jarak antara laki-laki itu tinggal beberapa tombak lagi.
"Hehehe... silahkan masuk, sobatku...! aku telah men-
getahui kedatanganmu!" terdengar suara serak dari dalam
pondok. Ternyata laki-laki itu mengucapkan kata-kata
sandi (rahasia).
"Ah, terima kasih, kakek Panembahan!" berkata laki-
laki itu seraya bergegas mendekati pondok. Tak lama pin-
tu terbuka dengan suara berderit. Aneh! pintu itu seperti
terbuka sendiri. Seorang kakek berusia hampir tiga pe-
rempat abad tampak duduk dibalai-balai bambu bera-
laskan tikar. Diatas meja terang bersinar cahaya lampu
tempel menerangi wajahnya yang keriput. Sepasang ma-
tanya terkatup rapat. Kakek ini mengenakan jubah warna
hitam. Berkepala hampir gundul, yang cuma tinggal bebe-
rapa lembar lagi rambutnya.
Dihadapannya terdapat sebuah pedupaan. Dan sebuah
tombak berwarna hitam tergeletak dihadapannya. Itulah
Tombak Pusaka Ratu Shima. Laki-laki ini melangkah ke-
dalam dan menjura hormat, seraya membuka topeng wa-
jahnya. Ternyata dia tak lain dari Adipati Kiduling Kuto.
"Silahkan duduk sobat Adipati...!" berkata si kakek
berjubah hitam itu. Tanpa membuka matanya dan masih
tetap duduk seperti tadi. "Terima kasih...!" sahut laki-laki
ini. Sang Adipati segera beranjak untuk duduk disudut
sisi balai-balai.
"Tampaknya kau gelisah sekali. Bukankah kau baru
terima hadiah dari Baginda Raja? Ada maksud apakah
dengan kedatanganmu?" bertanya si kakek itu.
"Aku perlu bantuanmu, kakek Panembahan...!"
"Heheheh...sudah kuduga! Apakah mengenai pemuda
bernama Ginanjar yang berhasil meloloskan diri itu...?"
Melengak Adipati Kiduling Kuto. "Kakek Panembahan
telah mengetahui?" tanyanya terheran. Akan tetapi juga
kagum.
"Hm, mata bathinku lebih awas dari pada kedua mata-
ku ini!" menyahut si kakek. Lalu nampak membuka mata.
Ternyata kakek ini mempunyai sepasang mata yang amat
kecil alias sipit. Hingga hampir tak terlihat biji matanya.
"Benar sekali apa yang kakek Panembahan katakan
itu. Bocah laki-laki itu amat membahayakan. Dia harus
dilenyapkan secepatnya. Aku khawatir dia membocorkan
hal ini dengan melapor ke Kota Raja!" berkata sang Adipa-
ti.
"Hm, benar apa katamu! Apakah kau tak berupaya un-
tuk berbuat sedini mungkin sebelum anak muda itu
membocorkan rahasia itu?"
"Sudah, kakek Panembahan! Aku telah sebar anak bu-
ahku yang menyamar untuk mengawasinya disekitar wi-
layah Kota Raja. Akan tetapi yang menjadi kekhawatiran-
ku adalah, adanya seseorang sakti yang berada dibela-
kangnya!"
"He? siapa dia? mata bathinku tak dapat menangkap-
nya...!?" tersentak Kakek ini.
"Aku sendiri tak mengetahui, kakek Panembahan.
Yang kutahu adalah para pengawal Kadipaten anak-anak
buahku itu telah menceritakan..." Lalu Adipati Kiduling
Kuto segera menuturkan kejadian aneh hingga lolosnya
pemuda bernama Ginanjar itu dari sergapan anak buah-
nya.
"Sinar perak dan pelangi itu amat luar biasa. Dan telah
menyelamatkan nyawa _muda itu. Kalau bukan seorang
yang sakti yang telah menolongnya, tak mungkin dia da-
pat lolos dari ringkusan anak-anak buahku yang telah
berpengalaman...!"
"Sinar perak dan pelangi....?" menggumam si kakek
mata sipit ini.
"Benar, kakek Panembahan!"
Kakek ini tampak kerutkan keningnya dan tertegun se-
jenak. "Seperti aku pernah mengenai siapa pemilik ilmu
aneh itu! Ya, ya..! aku ingat. Si pemilik ilmu itu tak lain
dari seorang perempuan yang pernah berjulukan si Pen-
dekar Selendang Perak Pelangi! Hm, kalau tak salah ber-
nama MURI ASIH!" berkata si kakek dengan suara berde-
sis. "Mungkinkah perempuan sakti itu!" gumamnya.
Agak lama si kakek Panembahan itu tercenung dengan
serius. Namun tak lama dia berkata. "Sobat Adipati, coba
tolong kau ambilkan aku segelas air putih!"
"Baik, kakek Panembahan..." menyahut sang Adipati,
seraya beranjak menuju ruang belakang pondok.
KAKEK Panembahan itu tampak komat kamit memba-
ca mantera. Dihadapannya segelas air putih yang diberi
asap pedupaan. Diputar-putarkannya pedupaan itu bebe-
rapa kali. Sementara matanya terpejam. Tak lama dia le-
takkan lagi pedupaan itu. Sepasang matanya terbuka.
Memandang kedalam gelas berisi air putih itu. Sementara
sang Adipati menanti dengan hati berdebar.
Tampak wajah kakek itu berubah pucat ketika mena-
tap kedalam air. Namun tak lama wajah berubah membe-
si. Dia membentak keras.
"Kau akan menjadi gila, bila turut campur urusanku!
Siapa kau bocah perempuan...?" Adipati Kiduling Kuto
sampai terlonjak kaget.
PRAKK!
Terkejut dia karena tahu-tahu gelas berisi air itu pe-
cah. Airnya tumpah membanjir ditikar. Ternyata bukan
Adipati itu saja yang terkejut, akan tetapi kakek inipun
terperanjat. Karena satu suara terdengar mendenging di-
telinganya.
"Hihihi... kakek tua bangka! hebat juga ilmu bathinmu!
Aku Roro Centil yang akan memberantas pengacau licik
macam kau!" Tergetar tubuh kakek ini. Tiba-tiba lengan-
nya meraih Tombak Pusaka Ratu Shima. Bibirnya mem-
baca mantra. Dan... PLASH! aneh! tiba-tiba tombak Pusa-
ka itu lenyap. Kakek ini gerakkan lengannya mengibas.
Pintu pondok itu tahu-tahu menjeblak terbuka. Dan tubuh si kakek telah melesat keluar bagaikan terbang. Lalu
lenyap dikegelapan malam.
Adapun Adipati Kiduling Kuto jadi terkejut. Dia jadi
serba salah. Apakah yang akan dilakukannya? Dia pun
memburu keluar dari pondok.
"Sobat Adipati! segeralah kau kembali pulang!" terden-
gar suara ditelinganya, tanpa diketahui dimana adanya si
kakek Panembahan.
"Ah!? ha... baik, kakek Panembahan!" sahutnya den-
gan cemas. Dan.. tak ayal dia segera berlari-lari menuruni
bukit kecil itu. Tak lama telah tiba ditempat dia menam-
batkan kuda. Dan selanjutnya selang sesaat Adipati Ki-
duling Kuto telah melarikan kudanya dengan cepat me-
ninggalkan tempat itu.
Sementara itu diatas Candi sesosok tubuh tegak berdi-
ri mematung bagaikan arca. Sosok tubuh seorang wanita
yang berambut panjang terurai. Cahaya bulan sabit me-
nerangi wajahnya. Siapa lagi wanita itu, kalau bukan
RORO CENTIL.
Ketika langkah kuda melewati sisi Candi, kuda tung-
gangan Adipati itu meringkik panjang. Mengangkat kaki
depannya tinggi-tinggi. Hawa aneh yang membangunkan
bulu roma telah membuat sang kuda mengetahui akan
adanya sesuatu yang menakutkan. Karena dihadapannya
tegak berdiri seekor harimau tutul yang luar biasa besar-
nya.
Akan tetapi harimau tutul itu lenyap, ketika terdengar
bentakan.
"Roro Centil! akulah lawanmu, jangan ganggu dia..!"
Dan segelombang angin menerpa bergulung-gulung ke
arah harimau itu, yang segera lenyapkan diri. Kuda Adi-
pati Kiduling Kuto jadi tenang kembali. Dan bergegas
sang Adipati memacu kudanya untuk segera minggat dari
tempat itu.
"Hihihi... boleh juga ilmu pukulan angin taufanmu,
kakek!" terdengar suara dari atas Candi. Entah sejak kapan di bawah Candi telah berdiri diatas batu, si kakek
Panembahan. kepalanya yang gundul itu berkilat-kilat
kena cahaya rembulan. Laki-laki tua ini menatap keatas
Candi.
"Bocah perempuan! ada hubungan apakah kau dengan
si Pendekar Selendang Perak Pelangi, Muri Asih itu...!"
bertanya dia. Suaranya terdengar dingin. Akan tetapi jelas
mengandung tekanan tenaga dalam hebat.
"Hihihi... dia boleh juga disebut guruku! Sayang, beliau
yang berhati mulia itu telah tak ada didunia ini lagi!"
menjawab Roro.
"Dia telah mati...?" tanya kakek tua ini dengan suara
terkejut.
"Benar! ada apakah kau menanyakannya? Aku datang
untuk meringkusmu, dan tentu saja untuk mengambil
kembali benda Pusaka yang masih ketinggalan dan bera-
da ditanganmu itu!" ujar Roro. Terkejut kakek ini, karena
ternyata Roro dapat mengetahui kalau Tombak Pusaka
Ratu Shima yang telah lenyap sirna itu berada ditangan-
nya. Dengan kekuatan manteranya si kakek ini memang
telah membuat tombak itu tak nampak oleh mata biasa.
"Heheheh... bocah centil! kau terlalu sombong! Walau
kau punya ilmu setinggi langit, apa kau dapat buktikan
kata-katamu?" menantang si kakek dengan mendongkol.
"Hm, akan kucoba! tapi sebelumnya segera kau se-
butkan siapa dirimu! Gelarmu! Bukankah kau yang telah
membunuh si Wira Pati itu? Juga keluarga bekas Tu-
menggung Ki Rangga Wulung...?" cerocos Roro Centil,
memberondong dengan pertanyaan.
"Hehehe... hehehe... Aku digelari si Laba-laba Hitam.
Namaku tak perlu kusebutkan! Memang aku yang telah
membunuh si Wira Pati itu. Dia telah tak kuperlukan lagi.
Hehehe... ketahuilah, pencurian harta pusaka Kerajaan
itu hanya dalihku saja untuk memiliki Tombak Pusaka
Ratu Shima, yang kudengar disimpan di Istana Kerajaan
Mataram!" ujar si kakek yang bergelar si Laba-laba Hitam
itu. "Heh! kalau bekas tumenggung, Ki Rangga Wulung
itu, bukan aku yang membunuh. Akan tetapi si Wira Pati
itu sendiri. Sedangkan anak gadis Ki Rangga Wulung
yang mati itu aku tak mengetahuinya!" sambungnya lagi.
"Hm, begitukah...? Hebat juga rencanamu itu, Laba-
laba Hitam! Kematian gadis bekas Tumenggung itu aku
telah mengetahui. Dia dibunuh si Adipati Kiduling Kuto
yang bekerja sama denganmu! Hebat! Hebat...! Tipu daya
licik yang mengagumkan. Dengan cara demikian, bukan-
kah Adipati Kiduling Kuto dapat penghargaan dari Bagin-
da Raja Kerajaan Mataram. Padahal semua ini adalah
permainan busuk kalian. Wira Pati kau bunuh, setelah
berhasil mencuri benda-benda pusaka Kerajaan Mataram
demi keamanan kalian!"
"Hehehe... Roro Centil! aku telah dengar kehebatanmu!
Dan kau telah mengetahui rahasiaku. Maka jalan yang
baik buat kau adalah segera. berangkat ke Akhirat!"
T U J U H
"Hihihi... gertakanmu lumayan juga, Laba-laba Hitam.
Akan tetapi jangan bertarung disini. Aku khawatir meru-
sak Candi!" berkata Roro dengan suara merdu.
"Persetan dengan Candi!" memaki si kakek Laba-laba
Hitam. Lengannya bergerak menghantam ke arah Roro.
Menggebu angin pukulan si kakek bagaikan angin praha-
ra. Terkejut Roro Centil. "Celaka!" mendesis suara Roro.
Betapa mendongkolnya dia karena si kakek tak menghi-
raukan kata-katanya. Candi itu adalah salah satu dari
peninggalan Kerajaan SRIWIJAYA. Harus dijaga kelesta-
riannya. Berpikir demikian, tiba-tiba Roro berteriak keras.
Sepasang lengannya terangkat. Dan... satu tenaga yang
tak kelihatan melebihi kekuatan angin pukulan si laba-
laba Hitam telah membersit keluar dari sepasang tangan-
nya.
WKHUUUUSSS...! Terkejut Ki Panembahan alias si Laba-laba Hitam. Angin pukulannya telah diterpa sambaran
angin panas yang dahsyat luar biasa. Bahkan kekuatan
anginnya sendiri berbalik menghantam tubuhnya. Da-
tangnya begitu cepat, hingga tak lagi dia sempat berbuat
sesuatu. Tak ampun tubuh si Laba-laba Hitam terlempar
keudara sejauh lebih dari dua puluh tombak.
Dalam keadaan membumbung keudara itu amatlah
beruntung si kakek dapat mengimbangi kekuatan serta
mengkonsentrasikan panca indranya. Hingga dengan rin-
gan dia telah daratkan kakinya keatas bukit.
Terengah-engah si Laba-laba Hitam. Lalu salurkan
hawa murni untuk sebarkan keseluruh tubuh. Hatinya
menggumam. Kakek ini bersyukur karena dia tak terluka
dalam. Angin panas itu cuma membuat tubuhnya tertolak
mental, karena dia telah lindungi tubuhnya dengan tena-
ga dalam inti yang membuat tubuhnya jadi sekeras batu.
"Hebat! luar biasa kekuatan tenaga dalam bocah pe-
rempuan itu. Tak percuma dia bernama besar yang
menggoncangkan jagat!" Diam-diam hatinya memuji dan
terkejut bukan main.
"Nah! disini kita aman untuk bertarung! Sudah
siapkah kau kakek sakti...?" satu suara membuat dia ter-
perangah, karena ketika dia membalik, ternyata Roro
Centil telah berada dibelakangnya.
"Edan...! begitu cepat dia menyusulku?" mendesis sua-
ra si kakek.
"Bagaimana Laba-laba Hitam? apakah kau mau serah-
kan Tombak Pusaka Ratu Shima itu dengan suka rela
ataukah kau tetap berkeinginan mengangkanginya?" ber-
tanya Roro. Namun si Laba-laba Hitam tak menjawab.
Mulutnya komat-kamit membaca mantera. Tiba-tiba tu-
buhnya mendadak lenyap sirna. Tak kelihatan lagi oleh
mata biasa.
"Hihihi... mau kabur kealam haluspun kau percuma
saja, Laba-laba Hitam. Aku takkan melepaskanmu begitu
saja sebelum benda Pusaka itu kau serahkan padaku!"
berkata Roro dengan tertawa mengikik. Dan...tubuh sang
Pendekar Wanita Pantai Selatan itupun sirna pula dari
pandangan. Kini kedua tokoh Rimba Persilatan itu telah
berada dialam halus.
"Bagus! aku memang mau mengajakmu bertarung di-
alam yang tak kelihatan oleh mata manusia biasa", ujar si
kakek. Nah, bersiaplah untuk menghadapi seranganku!"
bentaknya dengan suara dingin mencekam jantung. "Si-
lahkan! aku siap melayanimu, kakek Laba-laba Hitam
menyahut Roro dengan jumawa. Walau diam-diam dia ju-
ga harus waspada. Karena dia yakin kalau sang kakek itu
punya ilmu tinggi yang belum pernah dilihatnya.
Tampak Laba-laba Hitam telah selesai pula membaca
mantera. Lengannya bergerak memutar.
Menimbulkan segulung asap hitam yang menerjang ke
arah Roro. Asap yang bergulung-gulung itu mendadak be-
rubah menjadi seekor Laba-laba Raksasa. Tersentak Roro
Centil. Tahu-tahu dia telah terkurung oleh kaki-kaki hi-
tam berbulu yang menyeramkan. Sementara taring sang
Laba-laba Raksasa telah siap menerkamnya.
WHUUK! WHUUUK...!
Lengan sang pendekar Perkasa ini bergerak menghan-
tam ke arah tubuh makhluk itu. Akan tetapi terkejut Ro-
ro. Karena pukulannya hanya menghantam bayangan sa-
ja. Makhluk itu tetap tak merobah posisi menerkamnya.
PRAASSH! kepala mukluk itu menyerang ganas. Batu
bukit itu hancur beserpihan, Namun Roro berhasil gu-
lingkan tubuhnya untuk menghindar.
"Heheheh...! keluarkan seluruh kesaktianmu, nona
Pendekar Pantai Selatan!" terdengar suara tertawa menge-
jek mendesing ditelinga Roro. Makhluk menyeramkan itu
telah meluruk lagi untuk merencah tubuh Roro Centil
mentah-mentah. Empat pasang kaki makhluk itu berhasil
mencengkram tubuh wanita Pendekar ini. Roro terkejut
bukan main. Segala daya upayanya untuk menyerang La-
ba-laba Raksasa menemui jalan buntu. Hingga dia agak
ayal dan berhasil diterkam makhluk mengerikan itu. Be-
lum lagi dia sempat berbuat sesuatu. Tahu-tahu tubuh-
nya telah kena jerat benang laba-laba, hingga kaki dan
tangannya tak berkutik.
Keringat dingin menebar kesekujur tubuh Roro. Segera
dia berusaha konsentrasikan syaratnya yang membaur
tak keruan. Dengan berguling-guling Roro berusaha men-
jauh dari makhluk itu, walau tubuhnya tak leluasa berge-
rak. Sementara sang Laba-laba Raksasa tampaknya cuma
bertindak mempermainkan korbannya yang hampir tak
berdaya. Karena sekejap kaki-kaki sang makhluk Raksasa
telah kembali menerkamnya. Dan lagi-lagi Roro harus
menerima nasib lebih parah. Benang-benang sutera sang
laba-laba yang lengket itu kembali membelit dan mem-
bungkus tubuhnya. "Celaka! aku tak dapat berpikir nor-
mal, aku tak tahu apa yang harus kulakukan...!" memba-
thin Roro dalam keluh putus asanya.
Dalam keputus asaan itu Roro menjerit sekuatnya.
Sungguh diluar dugaan. Jeritan yang diraungkan itu ka-
rena kesal akan ketidak berdayaannya ternyata telah me-
nolong Roro dari bahaya maut. Cengkeraman kaki-kaki si
Laba-laba Raksasa mengendur. Bahkan tanpa disadari je-
ritan yang mirip raungan harimau itu telah memutuskan
benang-benang jerat si Laba-laba Raksasa. Tentu saja hal
itu membuat Roro tersentak girang. Tak ayal dia sudah
melompat bangkit. Kejap berikutnya Roro segera satukan
kekuatan bathinnya untuk menindih kekuatan bathin la-
wan yang telah mempengaruhi sirkuit otaknya hingga dia
tak dapat berpikir normal.
Sementara itu si kakek ternyata masih berdiri tegak
dengan Tombak Pusaka Ratu Shima ditangannya. Terhe-
ran dia melihat Roro berhasil melepaskan diri dan memu-
tuskan jerat sutra laba-laba ciptaannya. Herannya cuma
putus oleh suara jeritan yang mirip raungan harimau.
Melihat Roro tegak berdiri menghimpun kekuatan bathin
yang telah menindih kekuatan bathinnya, laki-laki tua ini
segera berkomat-kamit lagi. Sebelah tangannya menyilang
diatas dada. Tiba-tiba dia membentak keras. "ROBOH...!"
Lengan yang menyilang diatas dada itu digerakkan
menghantam Roro. Itulah pukulan ghaib yang dinamakan
Serapah Dewa Maut. Hebat akibatnya! Tubuh Roro tam-
pak tergetar hebat. Laba-laba Raksasa itu telah lenyap.
Namun segelombang angin pukulan telah membuat tu-
lang-tulangnya serasa lumpuh. Hampir saja dia jatuh
menekuk lutut. Untunglah dengan kekuatan tenaga ba-
thin yang telah dapat mengungguli tenaga bathin si kakek
Panembahan itu, Roro cuma terhuyung saja. Bahkan
dengan satu bentakan nyaring, Roro balas menyerang
dengan pukulan Sinar Perak.
"Kakek gundul! jaga seranganku!" WHUUUKK...!
BLUARRR!
Cahaya perak membersit menyambar tubuh si kakek
Laba-laba Hitam. Akan tetapi kakek itu, telah berhasil
lemparkan tubuhnya bergulingan. Pukulan dahsyat itu
menghantam batu dan pohon hingga hancur beserpihan.
Sekejap si kakek itu telah menampakkan diri lagi dialam
nyata. Melihat keadaan yang tak menguntungkan dirinya,
si Laba-laba Hitam angkat langkah seribu menyelamatkan
jiwanya.
Tombak Pusaka Ratu Shima masih tercekal ditangan-
nya. Tampaknya dia tak mau melepaskan senjata itu be-
gitu saja pada Roro.
"Kakek gundul jangan lari...!" membentak Roro. Len-
gannya bergerak lagi. Dan, dari telapak tangan sang dara
perkasa ini membersit sinar Pelangi. Bagaikan sebuah se-
lendang saja layaknya. Sinar Pelangi meluncur untuk
membelit tubuh kakek tua itu.
Akan tetapi tiba-tiba si kakek Panembahan berbalik.
Dan putarkan tombak Pusaka Ratu Shima ditangannya.
Segera membersit segulung angin santar menghantam
buyar sinar Pelangi. Terkejut Roro mengetahui cahaya Pe-
langinya dapat dibuyarkan. "Dia, tak boleh lepas dari tanganku!" membathin Roro dalam hati. Pada saat itu juga
sebuah benda meluncur, ke arah Roro yang disambitkan
oleh si Laba-laba Hitam. Benda itu jatuh tepat dihada-
pannya sejarak dua tombak. Dalam herannya, Roro terke-
jut ketika tiba-tiba terdengar ledakan keras. Asap hitam
membumbung. Untung Roro telah melompat kebelakang
sejauh tiga empat tombak. Roro mengkhawatirkan benda
itu bahan peledak yang membahayakan. Tapi cuma asap
hitam yang membumbung dari ledakan itu. Dan lagi-lagi
terpampang dihadapan Roro Centil seekor laba-laba Rak-
sasa.
"Keparat" ilmu sihir sialan! memaki Roro. Kali ini dia
tak biarkan makhluk itu menerkamnya seperti tadi. Sege-
ra dia merapal mantera. Dan... lengannya bergerak meng-
hantam dengan pukulan Malaikat Gurun Pasir Merambah
Iblis. Makhluk raksasa jejadian itu lenyap sirna tanpa be-
kas. Akan tetapi Roro terpaku membeliak, karena si ka-
kek Laba-laba Hitam telah lenyap melarikan diri tak keta-
huan kemana arahnya.
"Setan alas! aku terkecoh! dia berhasil meloloskan diri!
huh...!" memaki Roro dengan kesal. Dan membanting kaki
dengan wajah cemberut.
"Huuuh! huuuh! Roro! Roro...! mengapa kau masih ju-
ga bodoh dikibuli orang...?" berkata Roro memaki dirinya
sendiri. Namun tubuhnya segera berkelebatan mencari je-
jak si kakek itu dengan rasa penasaran. Akan tetapi per-
cuma saja! si Laba-laba Hitam telah lenyap tak ketahuan
kemana rimbanya... Dengan menggerutu panjang pendek
Roro Centil melesat pergi dari tempat itu. Suasana malam
itupun kembali hening mencekam. Bulan sabit menyeli-
nap dibalik awan hitam. Cuaca menjadi gelap, segelap ha-
ti Roro yang kehilangan jejak manusia buruannya...
DELAPAN
PAGI ITU disebuah penginapan disudut kota, seorang
laki-laki berkumis dan berjenggot lebat keluar dan pintu
kamar. Dan bergegas beranjak menghampiri seorang pe-
layan.
"Mana majikanmu?" bertanya dia dengan menepuk
pundak sang pelayan yang tengah asyik mengelap meja.
"Oh, ada didalam, Raden...! Apakah perlu hamba me-
manggilnya?" menyahut sang pelayan. Laki-laki jembros
itu termenung sejurus.
"Sebaiknya tak usahlah! aku toh sudah membayar se-
wa menginap semalam dipenginapan ini. Eh, apakah kau
tahu kemana arah Kota Raja?" bertanya laki-laki itu.
"Oooh, anda mau ke Kota Raja?" berkata si pelayan. Sua-
ranya agak keras, hingga membuat beberapa tetamu yang
pagi-pagi sudah minum kopi diruang makan itu jadi me-
noleh.
"He? tak usah bicara keras-keras!" berkata laki-laki
itu.
"Oh, maaf, maaf...! sebenarnya hamba bicara biasa.
Tapi ruangan ini memang aneh!" menyahut si pelayan.
"Suara pelahan pun terdengar keras! harap anda maaf-
kan, karena mungkin Raden tak suka...!"
"Sudahlah! apakah kau mengetahui kemana arah yang
harus kutempuh?" berkata laki-laki jembros itu.
"Ya, ya... ngng ... anda ikuti jalan didepan ini sampai
membelok ke arah timur. Anda akan menjumpai jalan
bercabang dua. Nah, arah yang kekanan itulah jalan me-
nuju Kota Raja!" sahut sang pelayan.
"Baik, baik...! terima kasih...!" ujar laki-laki itu. "Dan,
ini untukmu!" berkata laki-laki itu seraya merogoh sa-
kunya. Dan berikan dua keping uang receh pada pelayan
itu. Sang pelayan ucapkan terima kasih dengan wajah gi-
rang.
Laki-laki jembros itu bergegas keluar dari rumah pen-
ginapan itu. Tanpa menoleh lagi. Dan tentu saja mengiku-
ti petunjuk si pelayan tadi menurutkan jalan didepan
penginapan, hingga membelok ke arah timur. Tepat dijalan bercabang dua itu dia berhenti. Tampaknya seperti
memikir.
"Wah, wah aku lupa. Ke arah kiri ataukah kekanan si
pelayan tadi mengatakannya!" menggumam dia sambil
memijit-mijit keningnya. Pada saat itu sebuah bayangan
merah berkelebat kehadapannya. Ternyata seorang wani-
ta.
"Hihihi...kalau mau ke Kota Raja jalan kesana yang
anda harus lalui, sobat Dewa Linglung..! aha! tampaknya
anda bingung ataukah linglung? Tapi pantas bila anda
linglung, karena bukankah julukan anda di Dewa Lin-
glung?" Wanita baju merah sambil gerakkan lengannya
menunjuk. Laki-laki ini jadi melengak, dengan membe-
liakkan matanya. Tentu saja dia mengenai pada wanita
baju merah yang tak lain dari si Iblis Ruyung Emas. Dan
laki-laki itu memang tak lain dari GINANJAR, yang se-
dang dalam penyamaran menuju ke Kota Raja. "He? dia
telah mengetahui penyamaranku? wah, berabe, nih...I"
membathin Ginanjar dalam hati.
"Benar, aku mau ke Kota Raja. Tapi aku bukan si De-
wa Linglung. Dari mana anda mengetahui dengan mener-
ka sembarangan?" berkata Ginanjar. Pemuda jembros ini
mendelikkan matanya. Akan tetapi wanita setengah usia
itu bahkan mengikik tertawa dan mengerling genit. Seraya
ujarnya. "Sudahlah, tak usah pakai pura-pura segala.
Bukankah kita pernah bertemu, dan kau pernah meno-
long diriku. Aku si Ruyung Emas telah mengetahui sama-
ranmu sejak kau injakkan kaki dikota ini!" menyahut wa-
nita itu. Ginanjar jadi merah wajahnya. "Sialan! tak guna
aku melakukan penyamaran lagi!" membathin pemuda
ini. Dan lengannya bergerak mengusap jenggot dan kumis
hingga rontok mengelupas. Selanjutnya dia tertawa.
"Hahahahaha sial dangkalan! memang nasibku sedang
sial! baiklah! aku mengaku. Aku memang si Dewa Lin-
glung. Tapi itu julukanku yang sudah tak kupakai lagi!
aku sudah tidak linglung lagi!" ujar Ginanjar.
"Hihihihi... kau katakan kau sudah tak linglung lagi,
mengapa kau masih ragu-ragu menemui jalan bercabang
dua untuk menentukan arah ke Kota Raja?"
"Hm, aku memang lupa...!" ujar Ginanjar dengan tersi-
pu. Ginanjar memang pernah berjumpa dengan wanita
ini, dan pernah menolongnya memberikan obat gatal un-
tuk kulit pada si Iblis Ruyung Emas, ketika wanita ini di
"kerjai" Surajaya alias si Berandal Edan Mata Satu. (baca:
kisah serial Roro Centil, dalam "Berandal Edan Mata Sa-
tu".)
"Kalau kau mau ke Kota Raja, kita bisa jalan bersama.
Apakah kau tak keberatan kalau aku menemanimu?"
berkata si wanita dengan suara manja. Sikapnya dibuat
sedemikian rupa agar Ginanjar terpikat.
"Mau apa kau kesana?"
"Kau sendiri ada perlu apa ke Kota Raja?" balas ber-
tanya si Iblis Ruyung Emas.
"Hm, itu urusanku!" sahut Ginanjar agak mendongkol.
Saat itu tiba-tiba beberapa sosok tubuh berkelebat ke-
luar dari balik semak kebun tebu dan langsung mengu-
rung mereka.
"He? apa-apaan ini? ada apa? siapa kalian! Apakah
mau membegal orang?!" bentak si wanita baju merah. Se-
raya memutar pandangan dengan wajah menampak ter-
kejut.
"He! silahkan kau menyingkir, dan tak usah turut
campur urusan kami. Kami hanya mengingini laki-laki
ini!" berkata salah seorang. Ternyata kesemua laki-laki itu
memakai topeng menutupi Wajahnya.
"Huh! enak saja! kami akan melakukan perjalanan
bersama ke Kota Raja. Kalau kawanku dikeroyok begini,
masakan aku diam berpeluk tangan..?" menyambut si Ib-
lis Ruyung Emas. Kesemua laki-laki bertopeng yang men-
gurung Ginanjar itu sebelas orang. Salah seorang segera
memberi isyarat. Dan empat orang segera mengurung si
wanita itu. Yang lainnya memecah untuk mengurung Ginanjar.
"Habisi mereka!" berkata dengan suara dingin salah
seorang. Dan, serentak masing-masing segera menerjang
dengan senjata-senjatanya yang telah terhunus.
"Bagus! kalian rupanya inginkan aku bertindak! jan-
gan menyesal!" membentak si wanita baju merah. Dan...
Trang! Trang...! Dia telah cabut senjata Ruyung Emasnya.
Benda berkilauan itu menangkis serangan-serangan go-
lok, kapak dan pedang dari keempat penyerangnya. Ada-
pun Ginanjar tak ayal segera cabut pedangnya yang ter-
bungkus kain dipinggang, Ginanjar membathin dalam ha-
ti. "Heh! mereka pasti orang-orangnya Adipati Kiduling
Kuto yang menginginkan nyawa!" Pertarungan seru segera
terjadi. Kalangan pertarungan menjadi dua rombongan.
Sementara dalam pertarungan itu, Ginanjar memikir.
"Haiih! kedua pihak si wanita dan orang-orang ini bukan
dari golongan baik-baik. Aku harus secepatnya minggat
setelah merobohkan beberapa orang, urusanku tak seo-
rangpun boleh mengetahui!"
Memikir demikian Ginanjar segera robah gerakannya
untuk bertarung lebih cepat. Tak dinyana ketujuh lawan-
nya amat sukar dirobohkan. Mereka tampak terlatih dan
membentuk barisan semacam barisan TIN, yang sukar
baginya meloloskan diri.
Sementara pertarungan empat orang melawan si Iblis
Ruyung Emas telah menemui klimaxnya. Dua orang men-
jerit ngeri, dan roboh terjungkal. Ternyata senjata Ruyung
Emas si wanita itu telah berhasil menghantam batok ke-
pala kedua penyerangnya. Melihat demikian, dua dari
pengeroyoknya segera melompat membantu kedua ka-
wannya yang dicecar oleh serangan-serangan ganas si Ib-
lis Ruyung Emas.
Ginanjar agak bernapas lega. Saat barisan TIN lawan
terbuka, dia tak membuang kesempatan. Pedangnya ber-
kelebat kekiri-kanan seraya melompat ketempat kosong
dari barisan TIN itu.
"TUTUP jalan darah!" membentak salah satu dari orang
bertopeng dalam barisan itu yang agaknya menjadi Ketu-
anya. Tiga orang melompat menghadang seraya mener-
jang ganas. Dua orang melompat kekiri, dan dua orang
lagi melesat kekanan. Ginanjar kertak gigi dengan geram.
Tiba-tiba ingatan Ginanjar mendadak lancar. Seperti dike-
tahui, Ginanjar pernah menjadi murid dari Ketua Rimba
Hijau golongan Putih. Satu bentakan menggeledek dari
pemuda itu mendadak membuat teriakan-teriakan segera
terdengar santar. Bagaikan kilatan-kilatan yang berkre-
depan terkena cahaya Matahari, pedang Ginanjar berke-
lebatan ke beberapa arah. Tubuh laki-laki ini bergulingan
ditanah dengan gerakan aneh yang teramat cepat. Menu-
suk dan menabas.
Tak ampun lima orang dari barisan TIN itu terjungkal
roboh. Dan berkelojotan bagai ayam disembelih. Darah
menghambur berpuncratan.
"Ha!? bagus, sobat Dewa Linglung!" berteriak girang si
Iblis Ruyung Emas. Senjatanya bergerak cepat memutar
disertai kelebatan tubuhnya. Dan dua orang lagi terjung-
kal roboh. Semakin bernafsu si Iblis Ruyung Emas untuk
membunuh habis lawan-lawannya. Dan, lagi-lagi seorang
terjungkal roboh. Terperangah para penyerang bertopeng
itu, melihat kehebatan si wanita baju merah. Sementara
beberapa orang sudah melompat mundur. Barisan TIN ja-
di kacau balau, karena lima orang kawan mereka roboh
berkelojotan meregang nyawa. Tak ayal mereka meng-
hambur melarikan diri.
"Hihihihi... sudah kukatakan, kalian akan tahu rasa
kalau mau main-main terhadap kami!" tertawa mengikik
si wanita. Lengannya bergerak kebalik pakaiannya. Dan...
Serrrr! Ratusan jarum berbisa meluruk ke arah si manu-
sia-manusia bertopeng. Dua orang terjungkal berkelojo-
tan. Dan langsung tewas. Tiga orang sisanya terus mela-
rikan diri dengan luka-luka. Beberapa jarum telah men-
gena dianggota tubuhnya. Mengikik tertawa si Iblis
Ruyung Emas.
Akan tetapi dia terkejut ketika melihat pada Ginanjar
alias si Dewa Linglung itu ternyata sudah tak nampak lagi
batang hidungnya.
"He? kemana pemuda linglung itu...?" sentaknya kaget.
Namun segera dia berkelebat untuk berlari cepat menyu-
suri jalan yang menuju ke arah Kota Raja....
Lewat tengah hari, Ginanjar telah tiba didepan pe-
sanggrahan Tumenggung Satryo. Setelah melapor pada
penjaga pintu, dia dipersilahkan menunggu. Sementara
salah seorang dan pengawal segera masuk ke ruang Pe-
sanggrahan untuk melaporkan maksud kedatangannya
pada Tumenggung. Tak lama Ginanjar dipersilahkan ma-
suk, dengan meninggalkan pedangnya pada penjaga pin-
tu. Puncratan darah mengering pada pakaian Ginanjar
agak membuat pengawal itu curiga. "Apakah anda baru
saja mengalami pertarungan, sobat...?" tanya sang penja-
ga.
"Hm, benar sekali dugaanmu, nyari aku tewas! Aku
perlu melaporkan hal ini pada Tumenggung." berkata Gi-
nanjar.
"Mari kuantar!" ujar penjaga itu. Lalu beranjak men-
gantar Ginanjar menuju ruangan Pesanggrahan. Semen-
tara dari ruangan pendopo Pesanggrahan telah melang-
kah keluar sang Tumenggung Satryo.
"Selamat datang, sobat Ginanjar...! benarkah anda
yang bernama itu?"
"Tak salah, sobat Tumenggung!" ujar Ginanjar seraya
menjura.
Dua orang penjaga tampak dibelakang Tumenggung ini
yang segera masing-masing berdiri berjaga dikedua sisi
pintu pendopo. Sementara Pengawal tadi segera beranjak
kembali kepenjagaan. Sang Tumenggung segera memper-
silahkan Ginanjar masuk keruang dalam. Melihat tak ada
sikap yang mencurigakan kedua prajurit pengawal itu
nampak menarik napas lega.
Demikianlah. Ginanjar segera membentangkan! prihal
sang Adipati Kiduling Kuto yang telah membawa mayat
buronan Kerajaan Mataram bernama Wira Pati itu tanpa
membunuhnya. Dan dia menjadi saksi sendiri akan apa
yang telah dilihatnya. Tentu saja Ginanjar tak lupa men-
ceritakan tentang Roro Centil, yang mengatakan mencuri-
gai sang Adipati Kiduling Kuto. Hingga dia berniat menye-
lidiki ke gedung Kedipatian.
Dalam bercakap-cakap itu terdengar suara ribut-ribut
diluar. Dua prajurit pengawal tampak berlari keluar un-
tuk melihat. Apakah sebenarnya yang tengah terjadi di-
pintu pesanggrahan Ketumenggungan Itu? Seorang wani-
ta berbaju merah tampak mengotot masuk ke Pesanggra-
han pada dua penjaga pintu.
"Kami harus melaporkan dulu pada Kanjeng Tumeng-
gung! Anda tak bisa sembarangan saja masuk! memben-
tak salah seorang dari penjaga.
"Hihihi... dimanapun aku berbuat bebas! tak usah pa-
kai laporan segala macam. Aku adalah sahabat laki-laki
yang tadi bertamu kemari. Aku tak kan mencari keribu-
tan...!"
"Ya, ya...! tapi kami harus melaporkan dulu. Dan anda
harus meninggalkan disini senjata apa saja yang menjadi
milik anda!" Agaknya penjaga telah mengetahui dan telah
menduga kalau wanita baju merah itu adalah orang kaum
Rimba Persilatan.
S E M B I L A N
"Suruh dia masuk, pengawal....!" Terdengar suara dari
dalam ruang pendopo. Dua orang prajurit yang barusan
keluar untuk mengambil tindakan, segera menahan diri
mendengar suara sang Tumenggung. Bahkan Tumeng-
gung Satryo dan Ginanjar telah berada didepan ruang pe-
sanggrahan.
"Hihihi... apa kataku! kalian tak perlu khawatir, bukankah Tumenggung kalian pun telah mengizinkan aku
masuk...?" berkata si wanita dengan mencibir.
"Huh! silahkan lewat! Tapi awas. Tapi awas! jangan co-
ba-coba anda membuat keonaran dimarkas kami!" men-
gancam sang pengawal. Wanita baju merah ini melangkah
santai tanpa menghiraukan kata-kata pengawal itu. Dua
orang prajurit yang baru datang itupun memberi jalan.
Akan tetapi tertegun dia ketika tahu-tahu mendengar su-
ara tertawa mengikik dihadapannya. "Hihihi... Iblis
Ruyung Emas! ada perlu apakah kau kemari? Tumeng-
gung dan laki-laki itu sedang ada urusan denganku! Ku-
kira kau bisa berkunjung kemari lain waktu saja...!" Seke-
jap wanita ini jadi hentikan tindakannya. Dan sepasang
matanya membeliak, karena tahu-tahu dihadapannya te-
lah berdiri sesosok tubuh semampai. Berpinggang ramp-
ing. Lekuk liku tubuhnya menandakan bahwa sosok tu-
buh dihadapannya adalah seorang perawan asli yang
amat cantik luar biasa. Siapa lagi kalau bukan RORO
CENTIL, sang Pendekar Wanita Pantai Selatan.
"Hah!?" kka... kau... nno... nona Pendekar Ro... ro Cen-
til...?" tergagap si Iblis Ruyung Emas dalam tersentaknya
karena terkejut.
"Benar! sukurlah kalau sudah tahu!" menyahut Roro.
Sementara Ginanjar jadi berseru kaget juga bergirang.
"Roro...! Haiih!? kau sudah berada disini?" teriaknya.
Sedangkan sang Tumenggung Satryo cuma terperangah
terkejut, juga bercampur girang dan kagum. Hatinya
membathin. "Ah, Pendekar perkasa ini sungguh bagaikan
Malaikat saja. Tahu-tahu sudah berada disini. Dari mana
masuknya?" Adapun si Iblis Ruyung Emas jadi serba sa-
lah. Dia pernah melihat Roro Centil, ketika dalam perta-
rungan melawan si Berandal Edan Mata Satu alias Sura-
jaya beberapa hari yang lalu. Hatinya agak jerih dengan
sang Pendekar Wanita ini. Apa lagi kedatangannya adalah
hanya untuk mengejar dan mendekati Ginanjar. Akhirnya
dengan masygul dia "ngeloyor" lagi, keluar dari gedung
Ketumenggungan itu.
"Lho? mengapa balik lagi?" bertanya salah seorang
pengawal penjaga pintu, seraya memberi jalan. Wanita
baju merah ini cuma mendelikkan matanya dengan men-
dongkol. Akan tetapi dia tak lakukan tindakan apa-apa.
Selain bergegas meninggalkan tempat itu. Entah kalau
tak ada Roro Centil, mungkin si penjaga itu sudah kena
tamparannya.
"Aku telah menawan tiga orang prajurit Kadipaten, so-
bat Satryo. Mereka adalah saksi-saksi nyata yang menge-
tahui perbuatan jahat Adipati Kiduling Kuto. Adipati itu
memang bekerja sama dengan seseorang dari tokoh kaum
Rimba Hijau golongan Hitam yang berjulukan si Laba-
laba Hitam....!" berkata Roro. Dia telah tuturkan hasil pe-
nyelidikannya ke gedung Kadipaten dan banyak mengeta-
hui rahasia kejahatan Adipati Kiduling Kuto, yang dengan
kelicikannya berhasil mengelabui orang-orang Kerajaan
termasuk Raja. Bagi Roro amatlah mudah untuk menyeli-
dik keadaan dikediaman Adipati itu karena Roro memper-
gunakan ajian halimunan, hingga tak nampak oleh mata
biasa.
Terangguk-angguk Tumenggung Satryo mendengar pe-
nuturan Roro. Satryo adalah sudah bersahabat dengan
Roro Centil sejak laki-laki ini menjabat sebagai seorang
Senapati di Kerajaan MATSYAPATI yang telah punah.
"Jadi otak dari pencurian harta benda Kerajaan Mata-
ram itu tak lain dari si Laba-laba Hitam!" tegaskan Roro
Centil pada Satryo. "Wira Pati yang bekas Senapati yang
dipecat itu telah dikendalikan kakek tua sakti dari golon-
gan Hitam itu! Tujuannya adalah untuk mengangkangi
Tombak Pusaka Ratu Shima, yang kini berada ditangan-
nya!"
"Wah! kalau begitu tugas kita kaum Pendekar masih
panjang dan cukup berat! Kita harus menyelamatkan
benda Pusaka itu yang telah menjadi milik Kerajaan Ma-
taram..i" berkata Ginanjar.
"Ya, ya..! akan tetapi hal ini juga menjadi tugas kami
sebagai abdi Kerajaan untuk merampas kembali benda
pusaka itu!" ujar Satryo.
"Benar! semua ini menjadi tugas kita, sebagai rakyat
yang berlindung di bawah panji kebesaran Kerajaan Ma-
taram. Tanpa merebut kembali benda pusaka itu akan
merusak "citra" keagungan Kerajaan Mataram. Juga dik-
hawatirkan si Laba-laba Hitam menyalah gunakan benda
Pusaka itu untuk kepentingan pribadinya!" ujar Roro
dengan serius.
Akhirnya perundingan itupun berakhir dengan sing-
kat. Tumenggung Satryo segera akan mengadukan hal itu
pada Maha Patih Cakra Bhuana, yang akan meneruskan
pada Raja. Sedangkan Roro dan Ginanjar segera meminta
diri pada Tumenggung muda itu untuk meninggalkan Ko-
ta Raja....
Tampaknya kemelut di Kerajaan Mataram agak mere-
da, dengan ditangkapnya Adipati Kiduling Kuto. Dan di-
beri hukuman sesuai dengan kejahatannya. Walaupun
sebenarnya masih dalam ketidak puasan, karena salah
satu dari benda Pusaka Kerajaan Mataram belum dikete-
mukan. Yaitu Tombak Pusaka Ratu Shima, yang menjadi
benda sejarah buat Kerajaan Mataram. Seperti dikatakan
Roro Centil bukan karena benda pusaka itu saja yang
menjadi masalahnya. Namun tanpa diketemukannya
kembali benda Pusaka itu akanlah merusak "citra" dan
keagungan Kerajaan Mataram. Seolah tak becus menjaga
pusaka-pusaka Istana. Untuk itulah, dengan diam-diam
orang-orang Kerajaan dan kaum pendekar pembela keadi-
lan telah sama-sama melacak kemana lenyapnya benda
Pusaka itu. Terutama sekali adalah manusianya yang kini
menguasai Tombak Pusaka Ratu Shima itu. Yaitu si Laba-
laba Hitam. Karena dikhawatirkan si manusia dari kaum
Rimba Hijau golongan hitam itu akan mempergunakan
untuk kepentingan pribadinya.
Hari itu adalah pertengahan tahun sejak ditangkapnya
Adipati Kiduling Kuto. Cuaca dalam beberapa bulan yang
telah terlewat itu agak membaik. Petani menggarap sawah
seperti biasa. Kerbau melenguh membajak sawah yang
diolah petani. Suara seruling mengalun merdu disisi-sisi
bukit yang menghijau. Tampaknya suasana di wilayah
Kerajaan Mataram seolah damai tenteram.
Marilah kita melihat keatas puncak sebuah gunung
bernama Argasomala. Seorang kakek berkulit putih, ber-
jenggot panjang terurai dengan kumis bagaikan misai
yang putih bagaikan perak. Tampak duduk disebuah
pondok sederhana. Pondok satu-satunya yang terpencil
dipuncak Argasomala. Kakek inilah yang bergelar Ki Ku-
tut Praja Setha. Seorang tokoh golongan Putih dari kaum
Rimba Hijau yang berilmu tinggi. Peristiwa menggempar-
kan ketika munculnya sebuah Kerajaan Setan yang ber-
nama Kerajaan Pugar Alam ditengah Telaga Berkabut, te-
lah menewaskan banyak tokoh-tokoh Rimba Hijau golon-
gan Putih. Dalam upaya menghancurkan Istana Kerajaan
Pugar Alam ditengah Telaga yang misterius hampir seta-
hun yang silam, dan telah membuat kakek sakti ini kehi-
langan muridnya.
Ya! murid yang amat dikasihinya yang bernama Wibi-
sana. Alias si Penunggang Kuda Setan (baca: Misteri Tela-
ga Berkabut). Kini orang tua sakti ini tampaknya sudah
enggan berkecimpung di Rimba Hijau. Dia cuma duduk
untuk bersemadhi di pondok sederhananya. Menantikan
usia tuanya yang semakin lanjut.
Tak dinyana dalam ketenteraman itu, ternyata masih
ada manusia jahat yang datang menyatroni kepuncak Ar-
gasomala yang tenang dan damai itu.
Sesosok bayangan hitam berkelebatan menaiki puncak
gunung yang sunyi itu. Sekejap kemudian, sosok tubuh
itu telah tiba diatas. Dialah si kakek jubah hitam yang
berjulukan si Laba-laba Hitam. Ditangannya tampak ter-
cekal sebuah tombak yang juga berwarna hitam legam.
Itulah Tombak Pusaka Ratu Shima.
Sepasang mata kakek berusia tiga perempat abad ini
jelalatan memandang tempat sekitar itu yang sunyi men-
cekam.
Saat mana angin berhembus keras menerpa jubahnya.
Kakek ini kerutkan keningnya. Tiba-tiba terdengar suara
pelahan bersuara dengan nada parau dari dalam pondok
sederhana itu.
"Siapakah yang datang mengusik ketenanganku? ha-
rap segera perkenalkan diri..." Tampak sang kakek seperti
terkejut. Akan tetapi kembali wajahnya berubah dingin
membesi.
"Hehehe... aku si tua Ganda Rukmo datang berkun-
jung kepondokmu, Pendekar tua bangka keparat! Lebih
dari lima belas tahun, aku tak pernah berjumpa dengan-
mu! Tak kulihat ada Pesanggrahanmu?" menyahut kakek
ini dengan suara menggembor serak, lantang.
"Heh, tua bangka Edan! kau masih hidup rupanya?
Hahaha.... pesanggrahanku telah hancur musnah dibakar
tiga orang muridku yang murtad! aku membangunnya
kembali dengan mendirikan pondok buruk ini! Ada apa-
kah kau mencariku? Apakah sudah setua ini kau masih
juga mau mengejar keduniawian?" menyahut suara dari
dalam. Dan tahu-tahu Ki Kutut Praja Setha yang menge-
nakan jubah putih bertambalan telah muncul didepan
pintu pondok.
"Heheheheh... dugaanmu tak salah, tua bangka kepa-
rat! aku ingin menjagoi sekolong langit ini. Kau lihatlah
tombak Pusaka ditanganku ini! Dengan senjata andalan-
ku ini mustahil kalau kau mampu bertahan dari sembilan
jurus seranganku! Hehehe ..hehehe..." mengekeh tertawa
si Laba-laba Hitam dengan jumawa. Tampaknya dia amat
berambisi sekali dengan cita-citanya yang boleh dibilang
gila itu. Ki Kutut Praja Setha tampak kerutkan keningnya.
Alisnya bergerak menyatu. Dan agak tersentak kaget me-
lihat senjata tombak hitam itu.
"Ah!? kalau tak salah itulah Tombak Pusaka Ratu
Shima. Tombak sakti yang pernah menggemparkan Rim-
ba Persilatan. Terakhir bukankah benda pusaka itu telah
dikuasai si Dewa Tengkorak, yang menurut berita telah
lama tewas...,! Benda pusaka itu menurut berita beberapa
tahun yang silam telah menjadi milik Kerajaan Mataram.
Dan dijadikan benda pusaka..." membathin Ki Kutut Praja
Setha.
"Kau kenal Tombak Pusaka ini, tua bangka keparat!"
berkata sinis Si Laba-laba Hitam.
"Ya! aku mengenal. Bukankah itu Tombak Pusaka Ra-
tu Shima?"
"Heheheh.... benar! matamu masih jeli juga!"
"Lumayan, sobat tua bangka gila! Kalau benda pusaka
itu bisa berada ditanganmu. tentu mudah sekali aku me-
nerkanya. Pasti kau telah mencurinya dari ruangan ben-
da-benda Pusaka di Istana Kerajaan Mataram...!"
"Hehehe.... tidak salah! mengenai urusan itu aku tak
perlu bentangkan padamu! kedatanganku adalah untuk
meminjam Kitab Pusaka Pulau Tengkorak Hitam yang
kudengar pernah dimilikimu, juga tentunya masih berada
ditanganmu! berkata si Laba-laba Hitam.
"Ganda Rukmo...! tidak sadarkah bahwa kau sudah
tua bangka dan sudah dekat Uang kubur? mengapa ma-
sih mengurusi segala macam ilmu? Haiih! aku telah me-
musnahkan kitab pusaka itu! Aku tidak lagi memiliki
apa-apa. Kecuali aku sedang mendekatkan diri pada Yang
Maha Esa..!" menyahut Ki Kutut Praja Setha.
"Omong kosong! Siapa percaya ucapanmu! Heh! jauh-
jauh aku datang kemari, aku tak mau datang dengan per-
cuma! Apakah kau bicara benar?" membentak dingin si
Laba-laba Hitam yang ternyata bernama Ganda Rukmo
itu.
"Hm, untuk apa aku berdusta? Sudahlah, Ganda
Rukmo, kukira sebaiknya kau mulai menyadari akan apa
yang menjadi ambisimu itu! Kesaktian takkan ada batas-
nya. Karena diatas langit masih ada langit. Juga perlu
kau selami apakah hasilmu selama ini? Apakah cuma me-
lulu mengumbar napsu yang tak ada batasnya? Tiada ke-
hidupan yang kekal dialam Fana ini. Kembalikanlah ben-
da pusaka itu kepada Kerajaan Mataram. Dan kukira
dengan kau kembali kewilayahmu di Perairan Tenggara,
disana cukup membuat kau tenteram menghabiskan sisa-
sisa usia tuamu!" Akan tetapi kata-kata Ki Kutut Praja
Setha telah membuat si Laba-laba Hitam ini jadi merah
mukanya bagai kepiting direbus. Bahkan dia amat mera-
sa terhina dengan nasihat baik bekal sahabat yang sejak
muda memang selalu sering bertengkar itu.
"Kutut Praja Setha! aku bukannya bocah kecil yang
kau nasihati sedemikian rupa. Kau benar-benar amat
menghinaku! Susah payah aku dapatkan Tombak Pusaka
ini, mengapa harus kukembalikan lagi ke Istana Kerajaan
Mataram? Sudahlah tak perlu kau berkhotbah macam-
macam didepanku! Sekali lagi kukatakan, yang kuperlu-
kan adalah Kitab Pusaka Pulau Tengkorak Hitam ditan-
ganmu. Aku mau meminjamnya barang setahun, atau se-
tengah tahunpun cukuplah! Dimana kau simpan benda
itu?
Merahlah wajah Ki Kutut Praja Sheta. Akan tetapi ka-
kek jangkung ini masih bisa menahan diri.
"Ganda Rukmo! seperti kukatakan tadi, Kitab Pusaka
itu telah kumusnahkan. Sudah kubakar menjadi abu se-
jak hampir setahun yang lalu! Apakah kau masih tak
mempercayai?"
"Hm, lima belas tahun kita tak berjumpa, siapa tahu
kau kini pandai ngibul. Karena buktinya kau
menasihatiku macam-macam...! Kalau aku memeriksa
kedalam pondokmu apakah kau mengizinkan?" berkata
Ganda Rukmo.
"Aku tak pernah dihina sedemikian rupa oleh seorang
manusiapun, kecuali seorang tua bangka gila semacam-
mu! Aku sudah tak mencampuri urusan dunia Rimba Hi-
jau lagi, Ganda Rukmo. Pergilah! jangan mengganggu ketenteramanku...!"
SEPULUH
"Hehehe ... kecuali kau mampu menahan sembilan ju-
rus serangan tombakku, barulah aku menyingkir dari si-
ni. Akan tetapi bila kau tak sanggup, jangan kau sesalkan
kalau Tombak Pusaka Ratu Shima ini menghirup darah-
mu! Kecuali kau berikan Kitab Pusaka Pulau Tengkorak
Hitam ...!" berkata dingin Ganda Rikmo yang tampaknya
benar-benar tak mempercayai kata-kata Ki Kutut Praja
Sheta.
"Astaga ...! kau benar-benar manusia yang keterlaluan,
Ganda Rukmo!" Memaki gusar Ki Kutut Praja Sheta.
Agaknya kakek ini sudah tak kuat menahan kesabaran-
nya lagi. Sementara hatinya memikir. "Heh!? jelas kalau si
Ganda Rukmo ini sukar diinsyafkan dari jalan sesat! Aku
telah gagal untuk menyingkirkan diri dari kemelut Rimba
Hijau. Biarlah! kukira inilah jalan terakhir buat aku turut
membantu menegakkan ketentraman manusia. Karena
sudah dapat dipastikan si Ganda Rukmo ini akan jadi
momok yang bakal meyebar kericuhan! Apa lagi dengan
adanya Tombak Pusaka Ratu Shima ditangannya ...! Ka-
lau aku berhasil menumpasnya saat ini, aku termasuk
sudah menyelamatkan manusia dari ancaman kematian.
Juga punya jasa yang kusumbangakan pada Kerajaan
Mataram. Karena aku yakin dia pasti menjadi buronan
Kerajaan Mataram, dengan mencuri benda Pusaka Kera-
jaan itu...!"
Berpikir demikian Ki Kutut Praja Sheta, diam-diam
kumpulkan kekuatannya lahir bathin untuk siap meng-
hadapi segala kemungkinan. Jelas pertarungan takkan
dapat terhindar lagi. Dan Ki Kutut Praja Sheta telah siap
untuk menyambungkan nyawa. Nyawa tuanya, yang ma-
sih cukup berharga. Melihat pendekar tua itu telah siap
dengan kuda-kudanya, Ganda Rukmo tertawa sinis. Dia
yang sejak tadi telah siap diri untuk bertarung, tak ayal
segera mulai membuka serangan.
"Hehehe ... kau jaga serangan pembukaanku! Hati-hati
dengan mata tombak Pusaka ini. Ujungnya telah kuren-
dam dengan racun!" Memperingati Ganda Rukmo.
WHUUT! WHUUT! WHUUT ... . Serangkaian serangan
hebat telah dilancarkan. Senjata Tombak Pusaka itu syi-
urkan hawa dingin yang menembus tulang. Meluncur ke-
tiga jalan darah kematian Ki Kutut Praja Setha ...
Serangan beruntun ini cukup membuat si kakek yang
pernah berjulukan si Pendekar Pedang kayu ini agak ter-
kesiap. karena hawa racun yang bersyiur terasa menye-
sakkan pernapasannya.
Namun sebagai jago kelas tinggi yang pernah meng-
gemparkan Rimba Persilatan, Ki Kutut Praja Sheta dapat
mematahkan serangan-serangan ganas itu. Jurus-jurus
mengelakkan diri yang dipergunakan serta hawa murni
yang telah dihimpun disekujur kulit tubuh, mampu me-
nahan rembesan hawa racun dari Tombak Pusaka Ratu
Shima. Bahkan kakek kosen ini balas lakukan serangan
menghantam dengan tasbih hijaunya. Sejak mengasing-
kan diri dari kemelut Rimba hijau kakek ini memang tak
pernah ketinggalan dengan untaian tasbih ditangannya.
Si laba-laba Hitam ini agak tersentak kaget, karena
ternyata tasbih dari batu giok itu mampu mengusir hawa
racun dari mata tombaknya. Bahkan kakek tua renta itu
masih punya kelincahan untuk menghindari serangan-
serangannya.
"Hehehe... ternyata kau masih punya senjata andalan,
tua bangka keparat! Kemana Pedang Kayumu? mengapa
tak kau pergunakan?" berkata sinis Ganda Rukmo. Den-
gan satu sontekan mata pedangnya, serangan tasbih hi-
jau telah ditarik kembali oleh Ki Kutut Praja Sheta.
Kini Tombak Ratu Shima mulai dimainkan dengan ju-
rus-jurus berikutnya. Hawa racun semakin menggebu
menyambar ke arah Ki Kutut Praja Setha karena dibarengi dengan tiupan ke arah kakek itu. Sementara serangan-
serangan mendadak dari tombak semakin gencar menga-
rah leher dan setiap kulit tubuh lawan.
Melihat serangan Ganda Rukmo semakin hebat, ter-
paksa kakek puncak Argasomala ini segera robah gera-
kannya. Dan mainkan jurus-jurus dari Kitab Pusaka Pu-
lau Tengkorak Hitam.
Kini dari tubuh kakek ini keluar uap putih. Serangan
tasbihnya menindih serangan lawan. Akan tetapi kelema-
han si kakek jangkung ini adalah dia tak mau mengada-
kan benturan tasbih hijaunya dengan mata tombak la-
wan. Dia masih sangsi apakah tasbihnya mampu meng-
hadapi Tombak Pusaka Ratu Shima itu.
Hal mana adalah amat menguntungkan si Laba-laba
Hitam. Kini jurus keempat mulai dilancarkan. kekuatan
tenaga dalam yang disalurkan semakin diperhebat mem-
buat sambaran tombak semakin menggiriskan hati. Hawa
racun seperti menempel dikulit tubuh kakek ini.
Sayang, Ganda Rukmo tak mengetahui kalau Ki Kutut
Praja Sheta banyak punya jurus lain yang luar biasa. Tu-
buhnya mendadak melesat keudara. Lengannya meng-
hantam batok kepala lawan, ketika sekonyong-konyong
menukik lagi. BHLARR!
Tanah menyemburat keudara. Debu mengepul. Rant-
ing dan semak terbongkar.
Hantaman pukulan mematikan itu nyaris membuat
batok kepala Ganda Rukmo hancur remuk, kalau dia tak
cepat jatuhkan tubuh bergulingan.
Sementara tangannya meraih benda yang selalu terse-
lip dibalik jubahnya.
Dan ... dibantingkan benda itu kedepan Ki Kutut Praja
Sheta yang telah kembali meluncur untuk lakukan han-
taman keduanya. BHUSSS!
Asap hitam mengepul. Dan tubuhnya lenyap terbung-
kus. Kakek puncak Argasomala kertak gigi dengan gusar.
Dia tahu kalau Ganda Rukmo telah mulai main licik.
Benar saja! tahu ditempat itu telah muncul seekor La-
ba-laba Raksasa. Terperangah Ki Kutut Praja Sheta. Ka-
rena dia tak menyangka kalau Ganda Rukmo telah memi-
liki ilmu sihir hitam sedemikian rupa.
Namun cuma sekejap dia terkejut. Segera melompat
mundur.
Akan tetapi saat itu Ganda Rukmo telah berada dibe-
lakangnya. Dalam keadaan tubuh tak terlihat. karena dia
mempergunakan ajian Halimun. Tombak Pusaka Ratu
Shima telah dilancarkan dengan kecepatan kilat.
Dan ... Bless!
Tersentak kaget kakek tua ini. Matanya membeliak ka-
rena terkejut. Sadarlah dia kalau telah kena bokongan
lawan. Namun terlambat sudah! kakek ini balikkan tu-
buh. Sementara tombak itu telah kembali disentakkan si
pemiliknya.
Darah menyemburat. Memancur dari luka di punggung
yang telah menembus sampai ke dada.
"Iblis pengecut! kau ... kau..."
Wajah kakek ini tampak membesi. Betapa geram dia
terhadap Ganda Rukmo sukar dibayangkan. Lengannya
mengepal mencengkeram tasbih hijau ditangannya hingga
berderak hancur. Dan, dengan kekuatan terakhir dia ge-
rakkan tangannnya melontarkan hancuran tasbih itu
dengan kecepatan kilat.
Terdengar jeritan parau si Laba-laba Hitam dihada-
pannya, yang seketika menampakkan dirinya lagi. Apa-
kah yang terjadi?
Ternyata kakek tua berjubah hitam itu tengah ter-
huyung menutupi kedua matanya, yang mengalirkan da-
rah.
Meraung-raung Ganda Rukmo dengan berloncatan tak
tentu arahnya. Sementara si makhluk ciptaan berbentuk
Laba-laba Raksasa itu sekejap telah lenyap lagi karena
tiada lagi pengaruh dari si kakek itu. Sedangkan Ki Kutut
Praja Sheta tak dapat mempertahankan diri lagi. Seketika
tubuhnya ambruk kebumi.
Setelah beberapa kali menggeliat. Kakek perkasa itu-
pun lepaskan nyawanya dengan kulit tubuh berubah hi-
tam. Darah yang juga berwarna hitam menggelogok dari
lukanya. Ternyata dia telah terkena racun yang teramat
hebat, disamping luka parah yang tak memungkinkan
baginya untuk bisa hidup.
Sementara itu Ganda Rukmo masih meraung-raung
menekap wajahnya. Ternyata sepasang matanya telah bu-
ta, tak dapat dipergunakan lagi. Tertatih-tatih dia me-
rayap kesana kemari. Tangannya menggapai mencari
tombak Pusaka Rati Shima yang terlepas dari tangannya.
Keadaannya sungguh amat mengharukan.
Sayang! dia tak tahu lagi dimana adanya benda itu.
Bahkan kakinya melangkah mendekati pondok dipuncak
Argasomala itu. Pondok Ki Kutut Praja Sheta yang me-
mang tak jauh dari tempatnya bertarung.
Saat itu sesosok tubuhnya bertopeng hitam berkelebat
ketempat itu. Gerakannya amat ringan. Cepat sekali len-
gannya menyambar Tombak Pusaka Ratu Shima yang
tergeletak ditanah. Detik selanjutnya sudah melesat lagi
dari atas puncak gunung itu. Dan lenyap dalam sekejap.
Dua sosok tubuh terlihat pula bermunculan ditempat
itu. Akan tetapi cuma sekejap. Karena segera salah seo-
rang berteriak.
"Cepat kejar! Kita keduluan orang ...!"
Dan dua sosok tubuh itu berkelebatan menuruni pun-
cak Argasomala, mengejar sosok tubuh yang telah lebih
dulu menyambar benda pusaka itu.
Tersentak si Laba-laba Hitam ini. Dengan menggerung
keras lengannya menghantam kedepan seraya memben-
tak.
"Manusia-manusia keparat! kalian telah mencuri Tom-
bak Pusakaku...?" BLARRRR!
Puncak bukit itu bagaikan dilanda lautan prahara
yang seketika membuat balang-batang pohon berderak
patah. Semak menyibak, dan menghambur beserpihan.
Akan tetapi sosok-sosok tubuh tadi lelah lenyap dari
puncak gunung itu.
"Manusia-manusia keparat! kembalikan Tombak Pusa-
kaku...! menggembor keras si kakek ini. Tiba-tiba tubuh-
nya melesat kedepan. Lengannya bergerak menghantam
kesana-kemari. Keadaan disekitar tempat itu jadi rusak
binasa diamuk kakek yang kalap ini. Bahkan pondok Ki
Kutut Praja Shetapun rusak binasa.
Keadaan Ganda Rukmo tak lebih bagaikan manusia
setan yang mengerikan. Dengan wajah penuh mengalir-
kan darah. Mulut meyeringai. mengamuk menghantam
apa saja disekelilingnya.
Rasa jengkel membuat dia mengumbar kemarahan se-
jadi-jadinya.
Akhirnya dia keprak kepalanya sendiri dengan kedua
lengannya. Menjerit parau kakek yang telah kehilangan
akal warasnya ini. Suara berderak keras terdengar. Kakek
itu roboh ketanah dengan batok kepala hancur. Dan te-
was seketika. Sesaat puncak Argasomala dicekam kesu-
nyian. Sungguh satu pemandangan yang menyedihkan,
karena sekejap saja puncak yang bersih, aman, tenang
dan damai itu kini bagaikan baru saja dilanda badai tau-
fan yang mengamuk.
Dua mayat terkapar ditempat itu.
Manusia-manusia dijagat ini memang aneh!
Dunia Rimba Hijau juga aneh!
Angin utara bertiup sepoi membauri puncak Argaso-
mala dengan bau anyirnya darah. Ternyata pula Tombak
Pusaka Ratu Shima telah menjadi penyebab penghantar
nyawa dua manusia dipuncak gunung yang sunyi itu.
Sementara Matahari agak meredup, ketika awan hitam
melintas.
Puncak Argasomala semakin lengang...! Teramat len-
gang...
S E B E L A S
SESOSOK TUBUH berkelebat tiba dipuncak gunung
yang sunyi itu. Ternyata seorang gadis muda yang berwa-
jah rupawan. Dipunggungnya tampak terselip sebuah se-
ruling. Dialah si Seruling Gading adanya. Gadis yang
mengenakan baju warna ungu ini tampak tatapkan ma-
tanya memandang kesekitar tempat itu. Dan terbenturlah
pada sosok tubuh yang telah terkapar jadi mayat itu. Wa-
jahnya menampakkan terkejut. Lalu melompat ringan
menghampiri mayat Ki Kutut Praja Setha. Kemudian me-
lompat lagi untuk melihat mayat satunya lagi. Sepasang
matanya semakin membelalak. Mulutnya ternganga. Dan
...
"Guru...!?" Terdengar suaranya tersendat dikerongkon-
gan. Seketika dia telah duduk bersimpuh dihadapan je-
nasah kakek tua itu.
"Guru...! Ah, tak dinyana kau akan tewas! Kalian pasti
bertarung hebat. Kau pernah menyelamatkan nyawaku,
Guru...! Aku belum dapat membalas budimu, kau telah
berangkat terlebih dulu..." Terdengar suara gadis itu
menggumam lirih. Dan setitik air bening tersembul dis-
udut matanya. Lama dia tercenung menundukkan kepala.
Tapi tak lama kemudian tampak dara ini bangkit berdiri.
Mengusap air matanya.
"Sudahlah, adik manis..! mengapa harus menangisi
orang yang sudah tiada? Pandanganlah kedepan! Ta-
tapkan matamu kehari esok yang lebih baik! Dunia ini
cuma sandiwara! Agaknya takdir sudah mengharuskan
gurumu itu mati membunuh diri!" satu suara halus tiba-
tiba terdengar dibelakangnya, Gadis ini menoleh. Dan ter-
tegun dia karena telah melihat siapa adanya yang berdiri
menatapnya."
"Kakak Pendekar Roro Centil...!?" Ah, sejak kapan kau
kemari?"
"Hihihihi ... sejak terjadi pertarungan kedua jago tua
ini. Akan tetapi aku terlambat datang. Ki Kutut Praja She-
ta telah terkena hunjaman tombak pusaka Ratu Shima
ditangan gurumu. Dan belakangan aku melihat dia men-
gamuk hebat karena kedua matanya terluka terkena
sambitan tasbih Ki Kutut Praja Sheta. Seseorang lelah
menyambar Tombak Pusaka Ratu Shima yang menggele-
tak ditanah, lalu melarikan diri. Saat aku mau mengejar,
dua sosok tubuh muncul lagi, dan mengejar orang yang
melarikan benda pusaka itu. Aku segera memburunya.
sayang, pencuri itu tak ketahuan kemana rimbahnya. Ke-
tika aku sedang melacak jejaknya, kudengar suara gaduh
dipuncak gunung ini, Kudapati gurumu tengah menga-
muk, Dan akhirnya dia membunuh diri dengan menghan-
tam kepalanya dengan kedua tangannya..!" tutur Roro.
"Dia adalah orang yang telah menyelamatkan nyawa-
ku, kakak Pendekar Roro...!" ujar Seruling Gading dengan
masygul,
"Yah, kau memang berhutang budi padanya. Akan te-
tapi gurumu ini adalah orang buronan Kerajaan Mataram!
Tentu saja penjelasan Roro itu membuat di gadis ter-
sentak kaget,
"Sudahlah! nanti aku ceritakan hal-ikhwalnya. Kita ba-
ru berjumpa lagi sejak kejadian di CIPATUJAH, adik yang
baik! Banyak hal yang akan kutanyakan padamu. Juga
tentunya aku akan ceritakan mengenai suaminya SAMBU
RUCl ,..!" Ujar Roro yang segera bicara sebelum Seruling
Gading banyak ajukan pertanyaan.
"Marilah kita semayamkan kedua jenazah ini ...!" sam-
bung Roro dengan cepat.
"Oh baik, baik...! girang sekali aku berjumpa dengan
anda kakak Pendekar Roro..." sahut Seru ling Gading
dengan amat hormat. Dia memang amat menyegani pada
Roro. Apalagi mengingat akan nasib Sambu Ruci, ingin
sekali dia mendengar beritanya.
Seperti pernah dikisahkan pada judul: Duel dan Kemelut di Cipatujah; Seruling Gading telah menikah dengan
Sambu Ruci alias si Bujang Nan Elok atau si Pendekar
Selat Karimata. Akan tetapi adanya kemelut di Cipatujah
membuat pernikahan mereka yang telah sempat diresmi-
kan itu jadi berantakan karena ulah dari ayah angkatnya
sendiri.
Demikianlah, mereka segera menggali lubang untuk
penguburan kedua jenazah. Selang tak lama kedua jena-
zah mulai ditimbun. Dan menjelang gelincir matahari pe-
kerjaan itupun selesai sudah. Roro mengajak Seruling
Gading untuk segera meninggalkan tempat itu. Ditepi
sungai mereka berhenti. Setelah mandi, kedua dara itu
tampak duduk saling berhadapan di bawah sebatang po-
hon. Sambil mengeringkan rambut, Roro mulai bercerita
mengenai kejadian di Kota Raja. Mengisahkan semua ke-
jadian di Kota Raja. Mengisahkan semua kejadian dari
awal hingga akhir. Sementara Seruling Gading menden-
garkan dengan serius. Kini giliran Seruling Gadinglah
yang harus bercerita pada Roro.
Begitulah. Dara itu segera cerita kejadian, sejak dia lo-
loskan diri dari sekapan ayah angkatnya di Pesanggrahan
Cipatujah, yang ternyata dikuntit oleh dua orang murid
sang ayah angkat. Terjadilah pertarungan, karena Serul-
ing Gading mau diperkosa oleh kedua manusia brutal itu.
Dalam pertarungan itu seseorang yang tak diketahuinya
diam-diam telah membantunya bertarung. Hingga kedua
murid ayah angkatnya tewas. Sayang dia tak mengetahui
siapa yang telah menolongnya. Namun Seruling Gading
telah putus asa. Dalam keadaan tubuh lemah lunglai dia
menerjunkan diri dari atas tebing curam, dimana diba-
wahnya terbentang jurang yang dalam. Dia tak tahu apa-
apa lagi. Tapi ketika tersadar dia telah dapatkan dirinya
disebuah ruangan goa yang bersih. Dan seorang kakek te-
lah menungguinya. kakek itulah yang Ganda Rukmo alias
si Laba-laba Hitam yang telah menyelamatkan jiwanya.
Dan Seruling Gading telah mengangkat guru padanya.
Roro manggut-manggut mendengarkan dengan penuh
perhatian. Lalu menghela napas. Ujarnya; "Sungguh pri-
hatin aku mendengar kisahmu, adikku...! Akan tetapi
ayah angkatmu telah mendapat ganjaran yang setimpal
dengan perbuatannya!"
Matahari semakin menggelincir pertanda sebentar lagi
akan menjelang senja. Menampak demikian, dan setelah
agak lama bercakap-cakap, Seruling Gading berkata.
"Kakak Pendekar Roro Centil. Sebenarnya aku masih
rindu dengan pertemuan kita. Akan tetapi dengan sangat
terpaksa aku mohon diri. Aku akan berusaha membantu
anda untuk mendapatkan lagi Tombak Pusaka itu dan
menyerahkan ke Istana Kerajaan Mataram ...!"
"Aiihh, sukurlah kalau kau mau membantu. Akan te-
tapi mengapa tampaknya kau terburu-buru? Bukankah
kau masih rindu? Dan ... apakah tak ada hasratmu un-
tuk mencari Sambu Ruci? Kasihan dia! Dia amat bersu-
sah hati memikirkan nasibmu!" berkata Roro. Seruling
gading tundukkan wajahnya. Tampak tersirat perasaan
sedih yang sukar dilukiskan. Dan dara ini tengah berusa-
ha menahan perasaannya.
"Kelak pasti aku akan mencarinya...! menyahut Serul-
ing gading dengan suara lirih. Akan tetapi hatinya mem-
bathin. "Tidak! tak ada muka lagi aku untuk bertemu
dengannya. Apalagi mencarinya! aku merasa malu ...! Aku
sudah tak perlu diharapkan lagi. Karena aku telah terno-
da ...!"
"Hm, sukurlah kalau begitu, Kelak bila berjumpa aku
akan memberi khabar padanya kalau kau dalam keadaan
sehat-sehat saja. Dimanakah kau bertempat tinggal?"
tanya Roro, seraya turut bangkit berdiri mengikuti Serul-
ing Gading.
"Ah, sayang sekali, kakak Pendekar Roro. Aku tak
punya tempat tinggal, Goa tempat bernaungku selama ini
mungkin segera akan kutinggalkan. Seperti juga kakak
tentunya, aku akan mengembara, Menurutkan kemana
langkah kakiku ini..." sahut Seruling Gading dengan sen-
du.
"Baiklah! kalau begitu. Semoga Yang Maha Agung sela-
lu melindungimu dalam perjalanan, dan dimana saja! Se-
lamat jalan, adikku ...!" ujar Roro Centil. Seraya kemu-
dian ulurkan lengannya untuk menjabat tangan Seruling
Gading. Dara ini menyambutnya. Bahkan segera meme-
luk sang Pendekar wanita ini dengan linangan air mata.
"Selamat tinggal kakak Pendekar Roro ...! Kalau masih
ada usia semoga kita bisa jumpa lagi ...!"
"Tentu tentu, adikku hihihi ... dan semoga kalian bisa
cepat bertemu...!" ujar Roro sambil tertawa kecil. Seruling
Gading tersenyum tawar dan manggut-manggut. "Ya,
do'akanlah, kak ...!" sahut dara ini. Bibirnya tersenyum
tetapi hatinya menangis.
Tak lama Seruling Gading segera mohon diri. Lalu be-
ranjak meninggalkan Roro yang masih tercenung meman-
dangnya. Sikap dan rona diwajah dara itu tak dapat men-
gelabui hati Roro. Dia tahu Seruling Gading menyembu-
nyikan kesedihan hatinya diantara senyumnya. Setelah
beberapa kali berkelebat, tubuh Seruling segera lenyap
dibalik tikungan jalan disisi sungai itu,
"Aiih, pengantin baru yang malang..." mengguman Ro-
ro dengan hati trenyuh, lalu diapun berkelebat dari situ...
Akan tetapi baru beberapa saat berlari, Roro kembali
merandek hentikan langkahnya. Lalu berkelebat kebalik
semak. Dua orang laki-laki berpakaian serba singsat ber-
jalan cepat menyusuri jalan setapak disisi hutan itu.
"Kulihat jelas dia seorang perempuan berbaju merah!
Akan tetapi heran? Mengapa cepat sekali dia berlari
menghilangkan...?" berkata salah seorang.
"Heh! Dunia Rimba Hijau ini penuh dengan orang-
orang sakti, Guntar! Kini tombak Pusaka Ratu Shima te-
lah berganti majikan!" menyahut kawannya. Tersentak
Roro, karena segera teringat dia akan kejadian dipuncak
Argasomala. Dua orang itu adalah si pengejar sosok tu
buh baju merah yang berkelebat duluan menyambar
Tombak Pusaka Ratu Shima.
Tanpa mengetahui Roro Centil yang bersembunyi, me-
reka terus lewat sambil bercakap-cakap tiada henti. Dan
menyesali mengapa kurang cepat mereka menyambar
benda pusaka yang tergeletak itu.
Roro Centil tertegun sejenak. "Siapakah kedua orang
itu? apakah dia golongan Pendekar ataukah kaum golon-
gan hitam yang mencari kesempatan untuk mengangkan-
gi Tombak Pusaka?" berkata Roro dalam hati.
Akan tetapi Roro tak bertindak apa-apa. Segera dia
bangkit berdiri. Dan teruskan berlari cepat. Hari telah
menjelang senja. Roro perlukan tempat bermalam. Tentu
saja besok dia harus bekerja keras meneruskan lacakan-
nya mencari si baju merah yang melarikan tombak Pusa-
ka itu.
Dalam berlari-lari cepat itu diam-diam hatinya me-
nyentak kaget ketika teringat akan pembicaraan kedua
laki-laki tadi.
"Eh, kalau sipenyambar benda pusaka itu seorang pe-
rempuan, aku memang melihat. Tapi... hm, ya! Ya ...! je-
las kuingat kini. Sosok tubuh itu tak beda dengan pera-
wakan si Iblis Ruyung Emas! Kalau benar dia, tak sukar
mencarinya..." pikir Roro. Dan tersenyum dalam larinya.
Sekejap dia sudah melesat cepat sekali. Dan sebentar saja
tubuhnya lenyap dikeremangan senja yang semakin temaram.
DUA BELAS
Sementara disaat kepergian Roro Centil sesosok tubuh
muncul dari ujung jalan. Tepat pada ujung jalan yang
bakal dilalui kedua laki-laki pencari Tombak Pusaka Ratu
Shima.
Sosok tubuh ini sungguh sukar untuk dibayangkan,
karena ternyata sesosok tubuh wanita yang tak mengena
kan selembar pakaianpun pada tubuhnya. Tentu saja ke-
dua laki-laki itu jadi melengak melihat tahu-tahu dihada-
pannya muncul sesosok tubuh wanita dalam keadaan
membugil.
"Hah..? Sssi... siapakah kka...kau...?" tergagap seorang
dari dua laki-laki itu. Keduanya menatap dengan mata
membelakak. Belum lagi mereka tersadar, kedua laki-laki
itu rasakan angin berkesyiur menerpa tubuhnya. Teren-
duslah bau harum semerbak. Seketika kedua laki-laki ini
jadi terpana. Dan belum lagi mereka sempat berbuat se-
suatu, keduanya perdengarkan keluhan. Karena yang me-
reka rasakan adalah mata mereka berkunang-kunang.
Pandangannya memutar. Serta kepala terasa pening. Te-
rakhir, kedua laki-laki itu jatuh menggeloso tak ingat apa-
apa lagi.
"Hihihi...hihi.. ternyata kalian adalah para pendekar
picisan. Akan tetapi kalian adalah laki-laki bertubuh ke-
kar yang menggairahkan! Malam ini kalian harus mene-
mani aku tidur. Kalian sungguh bernasib mujur, laki-laki
gagah...!" berbisik wanita bugil itu. Sepasang matanya
membinar memandang kedua tubuh yang menggeletak
pingsan dihadapannya. Dilain kejap dan sungguh diluar
dugaan, kalau wanita bertubuh semampai itu mampu
mengangkat kedua tubuh laki-laki itu sekaligus pada ke-
dua pundaknya. Dan detik selanjutnya dia telah memba-
wanya berkelebat dari tempat itu.
Dalam keremangan cahaya rembulan itu, terjadilah sa-
tu pemandangan yang menjijikkan. Karena kedua laki-
laki itu bagaikan dua buah robot manusia yang telah di-
kendalikan otaknya. Tampak menggeluti tubuh perem-
puan bugil itu silih berganti dengan napsu birahi yang
menggelora. Suara dengus napas dan rintihan nikmat da-
ri manusia-manusia yang dimabuk asmara gila itu ter-
dengar dalam desah-desahnya angin malam....
Malam semakin melarut...
Dua tubuh laki-laki itu dalam keadaan membugil terkapar menggeletak diatas rerumputan dilereng bukit. Ke-
duanya telah mendengkur pulas tak ingat apa-apa lagi.
Bahkan mungkin tengah bermimpi melayang ke angkasa.
Dari balik semak perempuan itu muncul lagi, dan baru
saja mengenakan pakaiannya Ya! siapa lagi perempuan
itu kalau bukan si iblis Ruyung Emas! Tak lama si wanita
cantik ini telah melompat keluar mendekati kedua laki-
laki yang terkapar itu. Ditangannya tercekal sebatang
tombak. Itulah Tombak Pusaka Ratu Shima.
"Hihihi... malam ini terlampias sudah hasratku. Aku
benar-benar amat puas!" mendesis suara wanita ini. Bi-
birnya nampak menyunggingkan senyuman. Lalu setelah
memandang kebawah bukit, kakinya beranjak untuk me-
ninggalkan tempat itu. Akan tetapi tiba-tiba dia meran-
dek. Kembali dia menoleh pada kedua laki-laki yang ma-
sih mendengkur pulas itu.
Lengannya bergerak kebalik baju merahnya. Dan...
Serrr! belasan jarum meluruk deras ke arah kedua laki-
laki bugil itu
Tampak kedua laki-laki itu tersentak kaget seperti di-
gigit kala. Tapi sekejap setelah menggeliat, keduanya
kembali terkulai. Kali ini untuk terus tidur selamanya.
Karena nyawanya seketika langsung melayang...
Kemudian dengan mengikik tertawa si Iblis Ruyung
Emas segera berkelebat meninggalkan tempat itu.
Malam itu Ginanjar tak dapat memicingkan matanya di
ruangan Pendopo Kedipatian yang telah kosong, bekas
tempat kediaman Adipati Kiduling Kuto yang telah dipen-
jarakan. Sampai saat ini ternyata belum terisi lagi. Belum
ada pengganti Adipati Kiduling Kuto. Hingga sampai saat
ini jabatan Adipati di wilayah itu masih kosong. Karena
tetap tak dapat memicingkan matanya, akhirnya Ginanjar
bangkit untuk duduk, disisi pembaringan. Sementara pi-
kirannya menerawang jauh. Sampai saat ini Ginanjar
agak aneh dengan sikap Roro Centil. Sejak lebih dari tiga
bulan yang lalu dia tinggal menetap di Kedipatian itu. Ginanjar layaknya bagaikan putera mahkota saja, karena
segala Keperluannya dicukupi oleh para pembantu di Ka-
dipatian itu. Pengawal-pengawal Kadipaten masih tetap
berjaga seperti biasa.
Dia masih ingat pesan Roro Centil agar tak meninggal-
kan Kedipatian sebelum ada perintah dari Raja Mataram
yang akan disampaikan oleh Tumenggung Satryo. Walau-
pun Ginanjar dapat berbuat bebas untuk keluar masuk
dari pintu gerbang Kedipatian, akan tetapi lama-lama di-
rasakan bosan juga. Entah apa maksudnya dia disuruh
menunggu gedung Kedipatian itu, sementara Roro Centil
jarang menampakkan diri.
Tiba-tiba Ginanjar teringat akan pertemuan dua hari
yang lalu ketika dia tengah keluar dari Gedung Kedipa-
tian. Dia berjumpa dengan seorang wanita baju merah
yang tak lain dari si Iblis Ruyung Emas. Mengingat demi-
kian, pemuda ini menggumam." Haiih perempuan itu se-
lalu saja menguntitku...! tampaknya dia selalu mengejar-
ngejar aku...! Wah, gawat kalau dia jatuh cinta padaku!
aku sudah berjanji takkan main perempuan lagi. Roro
yang kugandrungi setengah mati ternyata sulit diduga isi
hatinya. Entah, apakah dia diam-diam mengujiku, atau-
kah memang tak ada secuilpun perasaannya terhadap.!.?"
Termangu-mangu pemuda ini sambil meremas ram-
butnya. Akhirnya dia beranjak mendekati jendela. Dibu-
kanya jendela kamar tidurnya untuk melihat keluar. Kea-
daan diluar sunyi mencekam. dua orang penjaga masih
tetap berjaga menjalankan tugasnya didepan pintu ger-
bang Kedipatian. Terlihat berdiri mematung. Tiba-tiba dia
mengendus bau harum semerbak. "Aiii, wangi benar. Pas-
ti bau wangi bunga disamping gedung yang terbawa an-
gin..." berkata Ginanjar dalam hati. Akan tetapi seko-
nyong-konyong dia rasakan kepalanya pening. Pandangan
matanya memutar. "Ah, aku harus cepat tidur! Selama ini
aku kurang tidur setiap malam..." berdesis Ginanjar se-
raya memijit keningnya. Dihempaskannya tubuhnya ke
pembaringan. Agak lama dia berbaring, tiba-tiba tersen-
tak pemuda ini karena merasa ada sesuatu yang kurang
beres. "Heh! jangan-jangan bau harum itu baru obat bius.
Celaka aku kalau ada yang sengaja mau mengerjaiku...!
Dan jangan-jangan kedua penjaga itu telah ditotok
orang..!" sentaknya dalam hati. Cepat-cepat dia kerahkan
kekuatan tenaga dalamnya untuk salurkan hawa murni
kesekujur tubuh. Dicobanya melawan kekuatan hawa
mengantuk yang luar biasa itu. Dia yakin kalau itu bukan
mengantuk sewajarnya.
Saat mana tiba-tiba pintu kamar yang tak terkunci itu
berderit terbuka. Dan sesosok tubuh memasuki pintu
kamarnya. Sosok tubuh wanita.
"Roro...? kaukah itu...?" tanya Ginanjar tersentak. Ma-
tanya menatap wajah orang. Karena pandangannya ten-
gah berputar akibat hawa aneh yang membuat mata
mengantuk itu, hingga dia perlu membeliakkan matanya
lebar-lebar.
"Hihihi... aku yang datang Dewa Linglung.." menyahut
wanita itu. Tentu saja membuat Ginanjar terlonjak kaget.
Segera dia bangkit untuk duduk.
"Kau... kkau.. si Ruyung Emas...?" tergagap Ginanjar
seraya mengucak-ucak matanya. "Hihihi... benar, aku si
Ruyung Emas, kekasihku..." ucapnya. Suaranya tergetar
seperti mengandung hawa cinta berahi yang menggebu.
Tiba-tiba lengan wanita itu mengibas. Dan bersyiurlah
bau harum yang lebih semerbak. Tersentak Ginanjar.
Cuping hidungnya kembang kempis terendus bau wangi
itu. Akan tetapi kali ini tergetar hatinya, karena sekejap
hawa birahi telah menimbulkan rangsangan hebat. Mem-
buat tubuh Ginanjar jadi bergetar dan dada bergemuruh,
Apa lagi wanita dihadapannya mulai membuka pakaian-
nya. Sementara sepasang matanya tak berkedip menatap
Ginanjar. Bibirnya berkemak-kemik membaca mantera.
Wanita ini tengah salurkan kekuatan ilmu hitamnya un-
tuk menundukkan hati si pemuda.
Berkali-kali Ginanjar meneguk air liurnya. Hawa rang-
sangan yang hebat telah mempengaruhi sirkuit otaknya
untuk menuruti kata-kata wanita itu.
"Dewa Linglung...! ayolah, kekasihku...! aku amat
mendambakanmu! aku mencintaimu setengah mati. Aku
kedinginan malam ini...! peluklah aku. Dekaplah diriku,
kekasihku yang tampan..." berkata si Iblis Ruyung Emas
dengan mengeluarkan bisikan ketelinga Ginanjar. Tu-
buhnya telah beranjak semakin mendekat. Akan tetapi
pada saat itu terdengar suara sesuatu yang terhempas
pecah diruangan depan pendopo. Tersentak wanita ini.
Dan seketika mencabut lagi kekuatan ilmu hitamnya yang
telah dipergunakan mempengaruhi Ginanjar. "Tombak-
ku...?" desis wanita ini seperti tersentak." Agaknya dia te-
ringat pada Tombak Pusaka Ratu Shima yang disandar-
kan di dinding diluar pintu kamar.
Sementara itu sesosok tubuh ramping baru saja berke-
lebat melompat dari atas tembok. Karena kurang hati-hati
kakinya menyentuh pot bunga yang tergantung hingga ja-
tuh pecah kelantai. Namun tanpa memperdulikan dengan
cepat dia berkelebat kedepan pintu kamar. Sepasang ma-
tanya tertuju pada Tombak Pusaka Ratu Shima yang ter-
sandar didinding.
Sayang dia terlambat. Karena dengan cepat si Iblis
Ruyung Emas telah melompat keluar untuk menyambar
terlebih dulu tombak pusaka itu.
"Heh?" tersentak sosok tubuh itu. Namun dengan ge-
rakan cepat dia lancarkan serangan menghantam wanita
telanjang bulat itu. Mulutnya membentak nyaring.
"Lepaskan benda itu!" Dan... WHUUUK! benda yang
panjangnya hampir tiga jengkal itu bergerak menghantam
ke arah kepala si Iblis Ruyung Emas mengeluarkan suara
mendesing. Itulah sebuah senjata seruling. Bahkan dia
hantamkan pula telapak tangannya untuk menjotos dada
wanita itu.
Namun dengan terkejut si wanita bugil itu dapat hindarkan serangan. Dengan gerakan sebat dia menangkis
Pletak! Bhuk!
Menjerit si Iblis Ruyung Emas karena terasa tulang
lengannya berderak patah. Dibarengi rasa sakit pada da-
danya yang terlambat dia mengelakkannya. Seketika tu-
buhnya terjengkang menggabruk kedalam kamar. Tom-
bak Pusaka itu cepat disambut sosok tubuh itu. Dan se-
gera tercekal ditangan
"Berhasil!" terdengar suara sosok tubuh itu berdesis.
Dan tak ayal dia sudah berkelebat melompat untuk ke-
luar dari ruangan itu.
"Bangsat licik! kembalikan tombakku.!" melengking
suara si Iblis Ruyung Emas. Tubuhnya telah melompat
cepat untuk mengejar... Akan tetapi sosok tubuh itu ba-
likkan tubuhnya. Dan. Serr! tiga pisau terbang telah me-
luruk deras ke arah si Iblis Ruyung Emas.
"Bedebah!" memaki wanita itu. Segera dia melompat
untuk menghindarkan diri dengan miringkan tubuh, dan
lakukan salto keudara. Serangan itu lolos. Akan tetapi dia
tak dapat menghindari serangan berikutnya. Karena baru
dia jejakkan kaki kelantai, kembali membersit dua pisau
terbang mengarah kedadanya. Menjerit wanita ini seketi-
ka. Dan tubuhnya menggabruk jatuh setelah terhuyung
beberapa langkah kebelakang.
Sementara dengan cepat sosok tubuh ramping itu ber-
kelebat melompat keatas tombak. Akan tetapi menjerit
dia... Dan tubuh itu kembali terjatuh kebawah tembok
pagar gedung. Apakah yang terjadi? Tampak dua sosok
tubuh berkelebat melompat ketembok. Salah seorang
berkata.
"Kena...!" Dia seorang laki-laki yang memegang busur
dan anak panah dalam bumbung dibelakang punggung-
nya Sosok tubuh satu lagi adalah seorang wanita yang
berambut panjang terurai. Dia melompat lebih dulu un-
tuk memburu sang korban yang terjatuh. Ternyata dia
Roro Centil.
"Hah!?...kau ...kau Seruling Gading?" tersentak Roro
ketika mengenali siapa yang telah terkena panah itu. La-
ki-laki berpanah itu cepat melompat kesisi Roro.
"Siapa maksudmu, nona Roro...? apakah dia bukan si
Iblis Ruyung Emas?" Tersentak laki-laki ini. Dan berdiri
memandang pada sosok tubuh yang barusan dipanahnya.
"Kau telah salah membunuh orang, sobat Satryo...!
dia... dia sahabatku. Ya! dia Seruling Gading!" sahut Roro
mengeluh. Tiba-tiba pada saat itu terdengar suara benta-
kan dibelakang mereka.
"Bangsat licik! kembalikan tombak Pusaka i...itu...!"
Tersentak mereka ketika menoleh, sesosok tubuh wanita
yang membugil telah berada dihadapannya. Dialah si Iblis
Ruyung Emas yang jadi tujuan sasaran anak panah laki-
laki itu, yang tak lain dari Tumenggung Satryo. Ternyata
si Iblis Ruyung Emas masih mampu untuk bangkit dan
mengejar si pencuri Tombak Pusaka itu. Kini dengan kea-
daan tubuh yang amat memalukan dia berdiri terhuyung
dihadapan kedua orang itu. Wajahnya tampak mengeri-
kan. Tampak dua buah belati terhunjam didadanya yang
mengucurkan darah. Ketika memandang Roro, wajah wa-
nita itu jadi semakin pucat. "Aah... kkau... kau..." tak
sempat lagi dia meneruskan kata-katanya. Karena tu-
buhnya segera terhuyung jatuh menggabruk ketanah. Se-
telah menggeliat, tubuh wanita itupun terkulai karena
nyawanya telah lepas dari raganya.....
Roro dan Satryo jadi saling pandang. Akan tetapi Roro
cepat balikkan tubuhnya ketika mendengar keluhan dibe-
lakangnya. Seruling Gading tampak berusaha bangkit
dengan mengerang. Didadanya tertancap anak panah
yang telah dl lepaskan Tumenggung Satryo.
Cepat Roro memburunya. Memeluknya dan menyangga
tubuhnya dipakuan.
"Seruling Gading...? aiih, kami tak menduga akan ke-
datanganmu kemari. Maafkan kami adikku...!" berkata
Roro dengan terharu. Air matanya telah menyembul dari
sudut kelopak matanya.
"Aku yang telah memanahmu, adik...! karena kukira
kau si wanita Iblis Ruyung Emas itu..." berkata Satryo se-
raya berjongkok menekuk lutut dihadapan Seruling Gad-
ing yang terlentang dipangkuan Roro. Dara cantik ini ter-
senyum, terdengar suaranya yang lemah.
"Tak apa...! Tak usah kalian sesali semua ini. Bukan-
kah kata kakak Pendekar Roro setiap manusia tak dapat
menghindari takdir? Agaknya inipun sudah menjadi tak-
dir buatku untuk pulang kealam Baka..." Roro mengang-
guk-angguk. Air matanya semakin deras mengalir.
"Kakak Roro... maukah kau menyampaikan pesanku
pada... pada ssua..miku?" berkata Seruling Gading den-
gan suara kian melemah.
"Tentu! tentu adikku...!" sahut Roro dengan isak ter-
sendat.
"Terima kasih, kakak Pendekar...! Aku amat bahagia,
karena aku telah turut ambil bagian membantu kalian
untuk merebut kembali benda Pusaka Kerajaan Mataram
itu. Aku berhasil membunuh si Iblis Ruyung Emas. Dia...
dia adalah perempuan jahat berhati kotor...! aku.. aku te-
lah mengenalnya..!" berkata Seruling Gading. "dan... aku
telah berhasil pula mengambil kembali Tombak Pusaka
itu! walau aku harus korbankan... nyawa..!" Roro mang-
gut-manggut. Satryo tak bergeming. Sementara Ginanjar
berdiri terpaku pada jarak tiga tombak menyaksikan se-
mua itu dengan terlongong.
"Apakah pesanmu itu, adikku...?" bertanya Roro, "ka-
kak pasti akan menyampaikan pada Sambu Ruci suami-
mu...", bertanya Roro dengan mengguncang-guncang tu-
buh Seruling Gading, karena wanita ini sudah menga-
tupkan matanya. Dan sepasang mata yang kian sayu itu
kembali membuka pelahan. Bibirnya menampakkan se-
nyum.
"Ka... takan padanya... bahwa aku amat mencin-
tainya..." ujarnya lirih. Dan kepala itupun terkulai. Pengantin baru yang tak sempat mereguk nikmatnya cinta itu
telah hembuskan napasnya yang terakhir dipangkuan Ro-
ro. Tertunduk wajah Roro dalam-dalam. Air matanya me-
nitik membasahi wajah Seruling Gading. Bibir Roro ter-
dengar bersuara lirih. "Aku pasti akan sampaikan pesan-
mu itu, adikku..!" teramat lirih suara itu bercampur isak
tertahan.
"Dia telah tiada..." ujar Roro seraya menengadah me-
mandang Satryo. Roro kembali menunduk untuk men-
cium pipinya. Lalu gerakkan lengannya mengatupkan ma-
ta sang jenazah. Seraya berkata lirih.
"Tuhan! semoga Engkau ampunkan dosanya dan me-
nerima amal kebaikannya...!"
Suasana dicekam keheningan. Cuma suara jengkerik
yang bersahutan. Saat itu Ginanjar lambat-lambat meng-
hampiri.
Keduanya menoleh. Ginanjar bagaikan orang bisu me-
natap pada Roro. Pada Satryo, juga pada layon (jenazah)
Seruling Gading. Terakhir pada mayat si Iblis Ruyung
Emas. Akan tetapi cepat-cepat dia palingkan wajahnya
karena tubuh bugil itu membuat darahnya kembali ber-
desir. Tersipu-sipu Ginanjar bertanya.
"Ada apakah yang terjadi sebenarnya...?" ucapnya agak
kaku. Roro jadi tersenyum.
"Pergilah katakan pada pembaca! Sampai disini saja
kisah dalam judul Geger Tombak Pusaka Ratu Shima...!"
ucap Roro sambil tersenyum. Lalu saling pandang dengan
Tumenggung Satryo. Keduanya sama-sama tersenyum.
"Haiiih! kalau sudah begini apakah aku yang linglung
ataukah pendekar kita ini yang linglung...???" berkata Gi-
nanjar sambil garuk-garuk kepala. Sementara rembulan
dilangit semakin meninggi jua...
Lapat-lapat dikejauhan terdengar suara kokok ayam
memanjang. Pertanda hari hampir menjelang shubuh.
Tumenggung Satryo raih tombak Pusaka Ratu Shima
yang tergeletak ditanah. Terdengar suaranya menghelanapas. Dan setitik air bening tersembul dari sudut pelu-
puk matanya.
T A M A T
0 komentar:
Posting Komentar