Senin, 16 Desember 2024

PENDEKAR MABUK EPISODE PERTARUNGAN DI BUKIT JAGAL

PENDEKAR MABUK EPISODE PERTARUNGAN DI BUKIT JAGAL

 Serial : Pendekar Mabuk

Judul : Pertarungan Di Bukit Jagal

Pengarang : ?

Penerbit : ?


Hak cipta dan copy right pada penerbit dibawah 

lindungan undang-undang

Dilarang mengcopy atau memperbanyak sebagian 

atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit

1

ANGIN laut berhembus guncangkan dahan dan 

dedaunan. Suara deru yang timbul dari hembusan angin 

itu menandakan di tengah samudera telah terjadi badai 

lautan yang melemparkan gulungan-gulungan ombak. 

Ketika sampai di tepi pantai, gulungan ombak itu sudah 

menjadi anak ombak. Tak begitu besar, namun cukup 

kuat berdebur menghantam bebatuan ataupun tebing 

karang.

Hembusan angin laut yang masih terasa kencang itu 

menerpa dua wajah perempuan disela-sela hutan tepi 

pantai. Dua wajah itu sudah semalaman berada di hutan 

tepi pantai menunggu mangsanya tiba. Dua wajah 

perempuan yang masing-masing mempunyai nilai 

kecantikan sendiri-sendiri itu tak lain adalah wajah 

Selendang Kubur dan wajah Peri Malam.

Melihat dari bibir-bibir mereka yang tanpa seulas 

senyum, terlihat sikap bermusuhan mereka yang

terpendam untuk sementara waktu. Peri Malam sebentar-

sebentar memandang ke arah lorong kecil yang 

menyerupai gua, yang ada di atas tebing karang tepi 

pantai. Lorong kecil itu hanya bisa dimasuki oleh satu 

tubuh manusia dalam keadaan merangkak. Tapi sejak 

tadi, bahkan sejak kemarin Peri Malam tidak melihat 

sosok tubuh keluar dari lorong tersebut.

Selendang Kubur sering hembuskan napas bersama 

desah kekesalan hatinya. Sudah cukup lama dipandangi 

lorong kecil itu, lalu ia palingkan wajah kepada Peri 

Malam dan berkata dengan nada ketus,

"Mana orang itu?! Sampai sekarang belum juga 

muncul dari sana!" 

"Jangan-jangan dia mati dibunuh Pendekar Mabuk di 

dalam lorong!" ucap Peri Malam dengan wajah 

bersungut-sungut. 

"Atau mungkin angan-anganku yang mati dibunuh 

bualanmu!" Selendang Kubur berkata begitu karena 

kecemasan di dalam hatinya semakin kuat, yaitu 

kecemasan dipermainkan oleh Peri Malam.

"Kalau aku mau membual, tak perlu membual 

untukmu! Tak pernah ada untungnya menebar bualan 

untukmu, Selendang Kubur!"

Debur ombak kembali terdengar bergemuruh 

panjang, lalu lenyap bagai ditelan sepi. Selendang Kubur 

kembali merenungi peristiwa yang membawanya 

terpatok di hutan tepi pantai itu. Semua itu terjadi gara-

gara perasaan cintanya terhadap murid sinting Si Gila 

Tuak, yaitu Suto Sinting, Pendekar Mabuk. Kalau bukan

karena cinta yang begitu dalam. Selendang Kubur tak 

sudi menghadang kemunculan Nyai Lembah Asmara di 

hutan tepi pantai itu.

Seperti dikisahkan dalam cerita "Murka Sang Nyai" 

sebelum kisah ini, bahwa Pendekar Mabuk terpedaya 

oleh tipuan Perawan Sesat yang membuat Suto merasa 

gembira karena ingin dipertemukan dengan kekasih 

idamannya yang bernama Dyah Sariningrum. Suto sudah 

telanjur beranggapan bahwa Nyai Lembah Asmara yang 

berkuasa di lereng Bukit Garinda itu adalah perempuan 

yang bernama Dyah Sariningrum, yang wajahnya 

ditemukan Pendekar Mabuk di alam semadi, maupun di 

alam mimpi. Tetapi, ternyata Pendekar Mabuk kecewa. 

Nyai Lembah Asmara adalah perempuan yang tidak 

mirip sama sekali dengan Dyah Sariningrum.

Suto terjebak dalam Racun Darah Asmara yang 

dimiliki oleh sang Nyai itu. Pendekar Mabuk hanya 

ingin dijadikan pembenih bagi keturunan sang Nyai. Dan 

hal itu membuat murka para perempuan yang mencintai 

Suto. Maka, melabraklah Peri Malam, Selendang Kubur 

yang dibantu oleh Pujangga Keramat dan Betari Ayu, 

guru dari Selendang Kubur. Bukit Garinda diobrak-abrik 

oleh keempat orang itu. Sayang, Pujangga Keramat 

tewas di tangan Maharani dan Putri Alam Baka, murid 

Nyai Lembah Asmara sendiri.

Betari Ayu berhasil mendobrak pintu kamar peraduan 

yang menjadi tempat kencan Nyai Lembah Asmara dan 

Pendekar Mabuk. Tetapi di dalam kamar itu, Betari Ayu 

tidak menemukan Pendekar Mabuk maupun Nyai

Lembah Asmara. Rupanya Nyai Lembah Asmara sudah 

lebih dulu melarikan Suto dengan menunda kencan 

birahinya yang telah menggebu-gebu itu. Ke mana 

larinya, hanya Peri Malam yang bisa menduga, karena 

Peri Malam pernah menjadi murid sekaligus pelayan 

kamar peraduan Nyai Lembah Asmara. Menurut dugaan 

Peri Malam, kamar itu mempunyai pintu rahasia yang 

tembus ke tepi pantai. Atau dugaan lain, Nyai Lembah 

Asmara membawa lari Suto ke puncak bukit. Karenanya, 

tugas pun dibagi. Peri Malam dan Selendang Kubur 

menghadang pelarian Nyai Lembah Asmara ke pantai, 

dan Betari Ayu mencoba pengejarannya ke puncak

bukit.

Sayangnya Betari Ayu tidak segera menghubungi 

Peri Malam dan Selendang Kubur untuk 

memberitahukan, bahwa ia sudah berhasil menemukan 

Suto yang selamat dari ancaman Nyai Lembah Asmara. 

Peri Malam dan Selendang Kubur tidak tahu hal itu, 

sehingga mereka berdua masih tetap menunggu di dekat 

lorong tembus yang diduga akan menjadi ujung pelarian 

Nyai Lembah Asmara dan Suto. Padahal saat itu Nyai 

Lembah Asmara sudah dibawa lari oleh Si Mawar 

Hitam, nenek keriput peot yang dulu menjadi guru dari 

Peri Malam.

Tentu saja penantian mereka adalah penantian yang 

sia-sia. Selendang Kubur berulang kali melontarkan 

gerutu kejengkelannya, tapi Peri Malam tak pernah mau 

peduli. Bahkan Peri Malam berkata,

"Kalau kau bosan menunggu, pergilah sana! Biar

kuhadapi sendiri Nyai. Kau pikir aku tak mampu 

merebut Suto dari tangan Nyai?!"

"Dan kau pikir aku tak mampu merebut Suto dari 

tanganmu?!" 

Peri Malam lemparkan pandang ke wajah Selendang

Kubur dengan tajam. Ia masih duduk dengan kaki kiri 

melonjor dan punggung bersandar pada batang pohon 

tumbang.

Tatapan mata itu makin ditentang oleh mata 

Selendang Kubur. Ia tetap berdiri dengan satu kaki 

menumpang di atas batang kayu tumbang, sedangkan 

kaki satunya lurus berpijak tanah, badannya sedikit 

membungkuk karena lengannya digunakan bertumpu 

pada paha kaki. 

Setelah mereka saling pandang bermusuhan dan 

sama-sama bungkamkan mulut, Peri Malam palingkan 

wajah ke arah lain sambil ucapkan kata,

"Kelak, suatu saat, aku yakin satu di antara kita ada 

yang terbunuh. Kau membunuhku atau aku 

membunuhmu. Sebab tanpa ada satu yang kalah, tak 

mungkin Pendekar Mabuk mengawini keduanya."

"Dan yang kalah itu adalah kamu!" kata Selendang 

Kubur berlagak acuh tak acuh, memandang dedaunan 

pohon di atas.

Terdengar suara tawa Peri Malam yang lirih, disusul 

oleh ucapan, 

"Jangan merasa yakin dulu bahwa kau bisa 

membunuhku. Kau belum menyadari betapa kecilnya 

ilmu yang kau miliki itu sebenarnya, betapa ceteknya

kekuatanmu itu untuk melawanku. Sebenarnya kau 

memang bukan tandinganku."

Panas hati Selendang Kubur menyengat ubun-ubun. 

Kedua tangannya telah menggenggam kuat, menahan 

luapan kemarahan yang ingin dihajarkan ke wajah Peri 

Malam. Tapi agaknya Peri Malam pun sudah siaga 

menghadapi serangan sewaktu-waktu. Posisi kakinya 

yang dilipat dengan lutut tegak ke atas itu dapat 

menyambar pukulan sewaktu-waktu. Mata Peri Malam 

pun tampak tajam melirik penuh waspada. 

"Sekali lagi kau memancing kemarahanku, kujadikan 

tempat ini sebagai pertarungan kita yang terakhir!" 

ancam Selendang Kubur seraya menurunkan kakinya

yang bertengger di batang pohon tumbang. 

Peri Malam hanya sunggingkan senyum tipis bernada 

sinis. Ia pun segera bangkit dan melangkah dua tindak 

membelakangi Selendang Kubur sambil berkata, "Kalau 

memang rasanya itu yang terbaik, mengapa harus tunda 

pertarungan? Tak keberatan diriku menjadikan tempat 

ini sebagai pertarungan kita yang terakhir!"

Sreet...! Selendang Kubur segera mencabut 

selendangnya dari pinggang. Peri Malam cepat balikkan 

badan dan angkat kedua tangannya ke atas, siap 

lancarkan pukulan jarak jauhnya. 

"Cobalah serang aku kalau kau ingin kehilangan 

nyawa secepatnya!" gertak Selendang Kubur.

"Kau sendiri tak berani menyerangku, karena aku 

tahu kau takut kehilangan nyawamu!"

"Keparat kau! Hiaah...!"

Wuuut...!

Kain selendang dikibaskan ke depan. Gerakannya 

begitu cepat bagaikan seekor ular yang gesit mematuk 

mangsanya. Tapi pada saat itu, Peri Malam tak kalah 

gesit. Ia keraskan tangan kanannya dengan jari-jari 

terbuka, ia sentakkan ke depan dan melesatlah suatu 

kekuatan tenaga dalam yang cukup tinggi.

Weeegh...!

Selendang Kubur sentakkan ujung kakinya hingga 

tubuhnya melesat naik lurus ke atas dan hinggap di salah 

satu dahan pohon. Peri Malam juga sentakkan kakinya 

dan tubuhnya melayang cepat lurus ke atas, lalu hinggap 

di salah satu dahan dalam pohon itu juga. Keduanya 

sama-sama menghindari pukulan, sehingga kedua 

pukulan bertenaga dalam itu tidak mengenai sasaran, 

kecuali mengenai benda-benda lain di sekitar mereka.

Peri Malam melihat pukulannya nyasar ke sebongkah 

batu dan batu itu menjadi terbelah tiga bagian. 

Selendang Kubur melihat tenaga dalam yang keluar dari 

ujung selendangnya mengenai bongkahan akar pohon 

kering, dan akar pohon itu menjadi hangus seketika.

Kini keduanya sama-sama di atas pohon beda dahan. 

Keduanya sama-sama siap lancarkan serangan lagi. Tapi 

sebelumnya Peri Malam berkata dengan sungging 

senyum sinisnya.

"Kulunakkan pukulanku, karena aku masih 

memberimu kesempatan untuk berpikir dalam 

menghadapiku. Sekali lagi kuingatkan, aku bukan lawan 

tandingmu, Selendang Kubur!"

"Kupikir memang benar, aku bukan lawan 

tandingmu. Karena kau merasa tak akan bisa 

mengungguli ilmuku, sehingga kau hanya bisa berkoar-

koar seperti itu sejak dulu!"

Hinaan balik itu membuat hati Peri Malam makin 

menggeram. Tapi hatinya berkata,

"Memang kuakui dia punya ilmu lumayan tinggi. 

Kalau pertarungan ini kulakukan sekarang juga, aku atau 

dia yang kalah, dan hal itu akan menguntungkan Ratu. 

Untuk merebut Suto dan mengalahkan Ratu, aku masih 

membutuhkan bantuannya. Tak cukup imbang ilmuku 

jika sendirian dalam melawan Ratu! Sebaiknya, kutunda 

dulu dendamku kepadanya."

Melihat tangan kekar Peri Malam mengendurkan 

urat-uratnya, Selendang Kubur pun sedikit demi sedikit

mengurangi ketegangannya. Saat itu terucap di dalam 

hati Selendang Kubur,

"Kalau kulayani dia sekarang, bisa habis tenagaku 

melawan Nyai Lembah Asmara nanti. Sebaiknya 

kuhemat dulu tenagaku untuk menghimpun kekuatan. 

Tanpa kekuatan yang penuh seperti saat ini, sepertinya 

mustahil aku bisa mengalahkan Nyai dan merebut 

Pendekar Mabuk dari tangannya!"

Kedua perempuan itu kembali memandang ke arah 

lorong di atas tebing karang. Lorong itu masih sepi, 

tanpa seekor tikus pun keluar masuk di dalamnya. 

Bungkamnya kedua mulut mereka yang menciptakan 

keheningan cukup panjang itu telah membuat Selendang 

Kubur mempunyai gagasan lain,

"Bagaimana kalau kita periksa saja ke dalam lorong 

itu?! Siapa tahu justru Nyai Lembah Asmara sedang 

"menggarap' Suto di dalam lorong!"

"Atau mungkin mereka memang tidak lewat pintu 

rahasia di dalam kamar itu? Jika Nyai Lembah Asmara 

tidak membawa lari Suto melalui pintu rahasia, biar 

sampai mampus tak akan kita temukan mereka di sini!"

"Kalau begitu, biarlah kuperiksa sendiri lorong itu 

sampai ke bagian dalamnya!" kata Selendang Kubur 

bersiap untuk pergi. Tapi Peri Malam segera palingkan 

wajah dan pandangannya lebih tajam,

"Pergilah ke sana kalau kau ingin cepat mati dihujam 

jebakan maut yang dipasang di dalam lorong itu!"

"Jebakan...?!" gumam perempuan berpakaian merah 

dadu itu.

"Nyai memasang banyak jebakan di sana, sehingga 

tidak sembarangan orang bisa masuk ke lorong itu! 

Siapa yang terkena jebakan di sana tak akan hanya 

sekadar menderita luka saja, tapi pasti mati tanpa nyawa 

sedikit pun!" 

Selendang Kubur menggerutu pelan, "Yang namanya 

mati ya tanpa nyawa!" Kemudian, ia menatap lorong 

tersebut sambil memutar otaknya, mencari jalan menuju 

kepastian; tetap menunggu di situ, atau pergi dengan 

kesimpulan lain?

Kejap berikutnya Selendang Kubur melompat ke 

dahan yang dipijak Peri Malam. Sambil melompat ia 

berkata,

"Bagaimana kalau kita cari di tempat lain? Barangkali

bukan lorong itu yang menjadi tempat keluar mereka?!"

Peri Malam hampir kaget sedikit dan hampir 

kibaskan tangannya ketika Selendang Kubur tahu-tahu 

ada di sampingnya. Setelah melihat tak ada gelagat 

untuk menyerang pada diri Selendang Kubur, Peri 

Malam pun turunkan tangannya dan menjawab 

pertanyaan tadi,

"Kurasa tak ada jalan keluar lainnya! Cuma lorong 

itulah satu-satunya jalan keluar!"

"Atau, barangkali saja mereka tidak melalui pintu 

rahasia? Mungkin saja mereka pergi ke puncak bukit? 

Dan di sana mereka pasti akan bertemu dengan Nyai 

Guru Betari Ayu!"

"Ya. Memang itu satu kemungkinan! Tapi aku tak 

yakin apakah gurumu punya ilmu yang cukup untuk

menandingi Nyai Lembah Asmara?!"

Selendang Kubur tersinggung gurunya diremehkan. 

Cepat berkelebat tangannya menghantam rusuk Peri 

Malam dengan menggunakan punggung telapak tangan. 

Tapi, cepat pula tangan Peri Malam menangkisnya 

dengan cara mengadu telapak tangannya dengan pukulan 

lawan, Plakk...!

"Sekali lagi kau meremehkan guruku, kurobek 

jantungmu!" geram Selendang Kubur dengan mata 

mendelik garang. 

"Kau tak akan bisa, Selendang Kubur!" ucap Peri 

Malam dengan senyum sinis. Tapi dalam hatinya ia 

membatin,

"Boleh juga pukulan tangannya. Tulang lenganku jadi

ngilu dan telapak tanganku kesemutan akibat menahan 

pukulan tangannya."

Selendang Kubur kendurkan urat, lepaskan 

ketegangan. Tapi wajahnya masih terlihat kaku dan 

penuh kedongkolan. Diam-diam rupanya Selendang 

Kubur juga membantin kata,

"Sial! Gerakan tangkisnya begitu cepat! Tak bisa aku 

mencuri kesempatan untuk meremukkan tulang 

rusuknya. Tenaga dalamnya begitu cepat mengalir ke 

telapak tangannya, membuat kulit tanganku terasa panas 

sekali mendapat tangkisan telapak tangannya!" 

Selendang Kubur mengambil posisi duduk di antara 

tiga dahan yang berjajar mirip balai-balai kecil. 

Punggungnya dipakai bersandar pada dahan besar 

lainnya. Sementara itu, Peri Malam pun merasa perlu 

sedikit santai, ia duduk dengan satu kaki berjuntai dan 

satunya lagi menapak di salah satu dahan. Punggungnya 

yang bersandar di bagian batang utama pohon itu. Ia 

memetik segerumbul buah yang mirip duku itu dan 

memakannya dengan menyipit-nyipitkan mata karena 

kecut. 

"Peri Malam," sapa Selendang Kubur setelah 

merasakan jenuhnya dilanda sepi dalam keadaan 

berduaan seperti itu. 

"Hmmm...!" Peri Malam menggumam tak berpaling 

memandang.

"Apakah kau benar-benar mencintai Pendekar 

Mabuk?!"

"Apa perlunya kau bertanya begitu?" Peri Malam

ganti bertanya.

"Jawab saja pertanyaanku, daripada aku harus 

memaksamu dengan ancaman mencekik lehermu!"

Peri Malam lepaskan tawa kecil. "Hi hi hi.... Kalau 

aku tidak benar-benar mencintai Suto, untuk apa aku 

bersusah payah begini, sampai kubela-bela menjadi 

murid murtad dan hidup tanpa naungan! Perasaanku 

terhadap Suto begitu dalam, kadang menyenangkan, 

kadang menyakitkan. Karena sikap Suto kepadaku tak 

pernah punya kepastian."

Selendang Kubur tarik napas panjang, lalu berkata, 

"Seingatku sudah dua kali kita bentrok gara-gara lelaki 

dan cinta."

"Apakah menurutmu kita ini perempuan-perempuan 

bodoh? Apakah menurutmu kita ini wanita yang dungu, 

yang mau diperbudak oleh ketampanan seorang lelaki 

sehingga mau-maunya bertaruh nyawa untuk

mendapatkannya?"

"Mungkin juga," jawab Selendang Kubur kecil sekali. 

Tangannya masih memainkan daun-daun pohon yang 

dicabut-cabut tepiannya.

"Apakah menurutmu, seorang perempuan 

mempertaruhkan nyawa untuk seorang lelaki itu adalah 

tindakan yang keliru?"

"Tergantung lelakinya," jawab Selendang Kubur. 

"Kalau lelakinya punya cinta dan kesetiaan kepada kita, 

nyawa yang dipertaruhkan adalah suatu kemuliaan yang 

tinggi dari seorang wanita."

"Tapi jika ternyata Pendekar Mabuk tidak mencintai

satu di antara kita, apakah kita harus tetap bertaruhkan 

nyawa, saling bertarung dan saling berusaha 

membunuh?" 

"Itu yang kupikirkan sejak tadi, Peri Malam! Kau 

atau aku yang mati nantinya, belum tentu ditangisi oleh 

Suto. Kau atau aku yang menang nantinya, belum tentu 

dicintai oleh Suto!" 

"Ya. Aku juga berpikir begitu. Tapi dia sangat 

tampan dan menawan hati. Dia punya daya tarik yang 

luar biasa, yang membuat hatiku terjerat lekat!"

"Hatiku pun terjerat lekat, Peri Malam. Tak bisa 

kubohongi lagi, aku sangat merindukan kehangatan 

cintanya!" 

"Jadi kesimpulan yang ada ialah, bahwa ketampanan 

dan daya tariknya itulah yang membuat kaum wanita 

saling bunuh seperti binatang! Ketampanan Pendekar 

Mabuk itulah racun bagi kita, Selendang Kubur!"

"Barangkali memang begitu. Sebab kupikir-pikir,

seandainya tak ada Suto, mungkin kita tidak akan 

berselisih lagi, mungkin kita tidak saling membunuh 

lagi!"

"Bagaimana kalau kita lenyapkan saja dia, Selendang 

Kubur?!"

Usul itu membuat Selendang Kubur terperanjat bagai 

sadar dari lamunan panjangnya, ia menggumam, 

"Maksudmu, kita bunuh dia supaya tidak menjadi racun 

permusuhan bagi kita?"

"Ya. Bukan hanya bagi kita, tapi bagi kaum 

perempuan lainnya!"


*

* *

2

ANGIN berhembus entah dari mana datangnya. 

Pikiran kedua perempuan itu jadi berubah. Hati yang 

jatuh cinta menjadi benci. Jiwa yang rindu berubah 

menjadi kering. Sikap terpikat menjadi dendam kesumat.

Maka mereka berdua pun bergegas pergi mencari 

Suto dengan tujuan membunuh Pendekar Mabuk itu. 

Arah pertama yang mereka tuju adalah puncak Bukit 

Garinda. Tapi di sana mereka tidak menentukan siapa 

pun.

"Tapi aku yakin, Suto beberapa waktu ada di sini 

sebelum kita tiba," kata Peri Malam. "Dari mana kau 

tahu?"

"Sisa bau keringatnya masih bisa tercium oleh 

hidungku!" jawab Peri Malam sambil menghirup-hirup 

udara, mendengus-dengus ke sana-sini. Sampai akhirnya 

arah hidungnya berhenti menghadap timur.

"Hmm... dia pergi ke arah timur. Kita kejar dia ke 

timur, Selendang Kubur!"

Cepat mereka melesat secepat angin dari barat. 

Hembusan angin dari barat membuat Peri Malam 

kehilangan penciumannya. Bau keringat Pendekar 

Mabuk tak terlacak lagi. Mereka kehilangan arah dan 

berhenti di salah satu gugusan tanah cadas yang 

membukit.

"Aku kehilangan penciumanku," kata Peri Malam.

"Bagaimana kalau kita kejar terus ke timur?"

"Belum tentu dia ke sana. Mungkin membelok arah 

utara atau ke selatan, mana kita tahu?"

"Jika begitu, kita berpencar! Kau ke utara aku ke

selatan!"

Usul Selendang Kubur direnungkan sebentar oleh 

Peri Malam, sesaat kemudian terdengar suara Peri 

Malam berkata,

"Jika aku ke utara, kau ke selatan, lantas siapa yang 

timur?"

Tiba-tiba terdengar jawaban di belakang mereka, 

"Aku...!"

Serentak kedua perempuan itu palingkan muka ke 

belakang, dan terperanjat mereka melihat seraut wajah 

cantik dengan rambut acak-acakan telah berdiri tegak 

dengan sepasang kaki sedikit merentang. Wajah 

berambut acak-acakan itu mengenakan pakaian ketat 

warna ungu muda dengan ikat pinggang kuning.

Ia juga menyandang pedang gading di punggungnya, 

dengan wajah dan sorot pandangan mata berkesan 

beringas. 

Selendang Kubur dan Peri Malam tak asing lagi 

dengan perempuan berambut jabrik itu, yang tak lain 

adalah Perawan Sesat. Selendang Kubur segera sigap 

pasang kuda-kuda untuk menyerang. Peri Malam hanya 

pasang kewaspadaan yang sewaktu-waktu tangan dan 

kakinya siap hadapi serangan pula. Tapi Perawan Sesat 

tampak tenang-tenang saja.

"Apa maksudmu ikut menjawab percakapan kami,

Perawan Sesat?!" sentak Peri Malam dengan mata tak

bergeser sedikit pun dari wajah cantik berkesan beringas 

itu.

"Aku mengikuti percakapan kalian sejak dari hutan 

tepi pantai!" kata Perawan Sesat. "Dan aku sangat 

tertarik dengan rencana kalian itu! Pendekar Mabuk 

memang harus dilenyapkan, karena dia menyebar racun 

cinta yang membuat sesama perempuan saling 

membunuh!"

"Rupanya kau mengalami nasib yang sama dengan 

kami, Perawan Sesat? Dan kau ingin bergabung dengan

kami?" 

"Tak ada salahnya!" Perawan Sesat mengangkat 

pundak sambil langkahkan kaki dekati sebuah batu. Di 

sana dia duduk dengan kedua sikunya diletakkan di 

kedua pahanya, hingga sedikit membungkuk tubuhnya. 

Di sana ia perdengarkan kata,

"Aku jatuh cinta pada Pendekar Mabuk. Bahkan lebih 

gila dari kalian! Tugasku membawa Pendekar Mabuk 

menghadap Nyai Lembah Asmara kuselewengkan. Aku 

berani mengkhianati guruku sendiri, yaitu Nyai Lembah 

Asmara. Aku berani melawan kekuatan Maharani dan 

Putri Alam Baka, sampai aku terluka dalam dan 

diselamatkan oleh Peramal Pikun. Semua itu kulakukan 

karena kegilaanku terhadap Suto."

Perawan Sesat membayangkan semua itu dalam satu 

renungan yang menyimpan bara dendam. (Baca serial 

Pendekar Mabuk dalam episode: "Murka Sang Nyai"). 

Kejap berikutnya ia ucapkan kata lagi.

"Sampai sekarang hatiku masih disiksa rindu dan

hasrat ingin bercumbu. Semua itu gara-gara Pendekar 

Mabuk, si murid sinting itu! Untuk itu aku harus 

meleyapkannya!"

Selendang Kubur angkat bicara, "Tapi kau masih 

harus berhadapan denganku, Perawan Sesat! Kau masih

hutang banyak nyawa padaku, karena kau telah banyak 

menewaskan saudara-saudara seperguruanku!" 

"O, kau dari Perguruan Merpati Wingit?!" 

"Ya!" jawab Selendang Kubur dengan mata 

menantang.

"Mereka mati gara-gara Suto Sinting, jadi tuntutlah 

Suto! Jangan aku!" 

"Tapi di tanganmu mereka mati, Bangsat!" bentak 

Selendang Kubur. Rupanya ia semakin terpancing 

dendam kesumatnya hingga bergegas untuk melepas 

kain selendang pusakanya.

"Tahan...!" Peri Malam mencoba menengahi 

perselisihan itu dengan maju satu tindak berada di antara 

Perawan Sesat dan Selendang Kubur. Peri Malam pun 

ucapkan kata,

"Kalau kalian berdua punya perhitungan pribadi, 

lakukan perhitungan itu setelah kita selesaikan masalah

Suto!"

Perawan Sesat tarik napas sesaat, lalu berkata dengan 

suara serak.

"Aku tak keberatan kalau memang kau ngotot ingin 

nuntut balas padaku, Selendang Kubur! Aku siap 

menghadapimu kapan saja! Tapi jangan salahkan diriku

jika kau harus kehilangan kepalamu!"

Selendang Kubur menggeram. Matanya menyipit 

benci saat ia ucapkan kata, "Kalau bukan karena tujuan 

yang sama, sudah kuhancurkan mulut busukmu itu, 

Perawan Sesat!"

Peri Malam menyahut, "Hancurkan nanti saja!"

Akhirnya Selendang Kubur kendurkan 

ketegangannya. Matanya terlempar jauh ke arah utara. 

Saat itu, terdengar suara Perawan Sesat berkata,

"Rasa-rasanya memang kita harus berpencar! Dan 

untuk menghabisi nyawa Pendekar Mabuk itu, tak 

mungkin kita lakukan secara sendiri-sendiri. Perlu kerja 

sama yang baik. Karena si tampan sinting itu 

mempunyai ilmu yang cukup tinggi, ia hanya bisa 

dikalahkan jika kita gempur secara bersama-sama."

"Jadi bagaimana jika salah satu dari kita nanti 

menemukan dia?" tanya Peri Malam.

"Bawa dulu dia ke arah kita masing-masing. Jangan 

buru-buru bertindak sebelum kita bertiga saling 

bertemu!"

"Aku setuju," jawab Peri Malam. "Ada baiknya 

kalau...."

"Ssst...!" tukas Selendang Kubur memberi isyarat 

dengan tangan. Cepat ia lompatkan tubuh ke balik 

pohon. Melihat gelagat bahaya dari Selendang Kubur, 

Peri Malam pun bergegas melompat di balik pohon 

sebelah Selendang Kubur. Tak ketinggalan Perawan 

Sesat juga cepat sentakkan kaki dan melesat 

bersembunyi di balik rimbun daun-daun semak berduri.

Jaraknya tak berapa jauh dari Selendang Kubur dan Peri 

Malam.

"Ada apa? Suto lewat?!" bisik Perawan Sesat ke arah 

Peri Malam.

"Mana aku tahu?! Selendang Kubur yang melihat 

nya!" Peri Malam pun menyapa Selendang Kubur 

dengan suara lirih, 

"Hei, ada apa? Kau melihat Pendekar Mabuk lewat?"

"Bukan Pendekar Mabuk, tapi... lihatlah ke sana!"

tuding Selendang Kubur. 

Perawan Sesat dan Peri Malam sama-sama 

memandang ke arah tempat yang ditunjuk Selendang 

Kubur. Lalu, mereka berdua sama-sama hempaskan 

napas panjang bernada dongkol, serta sama-sama 

lepaskan ketegangan. Perawan Sesat terdengar 

menggerutu, 

"Sial! Kupikir ada bahaya datang!" 

"Buatku itu memang bahaya. Karena aku muak 

ketemu dia!" cetus Selendang Kubur yang segera ikut-

ikutan keluar dari tempat persembunyiannya, karena 

dilihatnya Peri Malam juga keluar dari balik 

persembunyiannya. Mereka bertiga sama-sama berada di 

tempat bebas dan memandang ke satu arah.

Apa yang dipandang mereka tak lain adalah 

kemunculan Dirgo Mukti yang mengaku Manusia 

Sontoloyo itu. Jaraknya cukup jauh, namun bisa dilihat 

mata telanjang mereka bertiga.

"Agaknya dia sedang dikejar oleh seseorang!" kata 

Peri Malam.

"Benar! Pasti ia dalam perselisihan," sahut Perawan 

Sesat. "Wajahnya terlihat tegang. Keringatnya 

mengucur. Hm... siapa orang yang mengejarnya?"

"Mudah-mudahan setan dari neraka yang 

mengejarnya!" kata Selendang Kubur.

"Seharusnya aku yang bilang begitu, karena aku 

sangat benci kepadanya!" kata Peri Malam.

"Mengapa kalian benci sekali kepadanya?" tanya 

Perawan Sesat.

"Dia mengejar-ngejarku dan selalu mendesakku 

untuk menerima cintanya! Aku muak sekali!"

Selendang Kubur pun ikut berkata, "Aku juga begitu! 

Dia selalu berusaha membujukku agar mau 

melayaninya! Aku tak bisa banyak melawan dan 

memberontak karena aku berhutang nyawa dengannya! 

Menyesal sekali aku karena ditolong dan diselamatkan 

olehnya! (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode: 

"Perawan Sesat").

Perawan Sesat tertawa serak. "Aku sendiri punya 

kedongkolan dengannya, saat dia menipuku dengan 

mengaku sebagai Pendekar Mabuk!"

Peri Malam menyahut, "Ya, ya, aku pernah 

memergoki kau bercumbu dengannya!"

"Jangan singgung-singgung soal itu! Rasa sesalku 

berubah jadi dendam jika aku teringat peristiwa itu!" 

kata Perawan Sesat.

"Hei, lihat...!" seru Selendang Kubur sambil

tangannya menunjuk ke arah Dirgo Mukti. "Rupanya 

orang itu yang mengejar Dirgo Mukti!"

"Hmmm... siapa orang yang berpakaian hitam itu?" 

tanya Perawan Sesat. "Aku hanya bisa menandai bahwa 

orang sedikit gemuk itu berilmu tinggi. Terlihat dari

gerakan lompatnya begitu ringan dan cepat! Tapi aku 

belum pernah tahu siapa dia?" 

"Datuk Marah Gadai!" jawab Selendang Kubur. "Dia 

orang sesat dari seberang yang ingin menguasai tanah 

Jawa. Dia ingin menjadi raja tertinggi di rimba persilatan

tanah Jawa!"

"Ada persoalan apa Sontoloyo bentrok sama Datuk 

Marah Gadai?" tanya Peri Malam. 

Selendang Kubur menjawab, "Mana aku tahu?! Tapi 

kelihatannya mereka sama-sama tangguh!"

"Kurasa tidak," bantah Perawan Sesat. "Kurasa lebih

tangguh si Datuk Marah Digadai itu!"

"Datuk Marah Gadai! Bukan Datuk Marah Digadai!"

Peri Malam membetulkan ucapan Perawan Sesat. "Ya. 

Kurasa orang itu lebih tangguh dari si Sontoloyo. Aku 

jadi tertarik ingin menjajal ilmunya!"

"Bodoh!" tukas Selendang Kubur. "Kalau mau, jajal 

saja ilmunya si Sontoloyo, jadi kalau kau berhasil 

membunuhnya, kau telah membayar tipu muslihatnya 

yang merugikan dirimu itu!"

"Membunuh si Sontoloyo lebih mudah! Dalam satu 

gebrakan saja dia tidak akan memiliki nyawa lagi!"

"Hem... belum tentu!" Selendang Kubur mencibir. 

"Kau pikir ilmu yang kau miliki lebih tinggi darinya? 

Ilmu sedangkal itu mau disombongkan di depan si 

Sontoloyo, bisa hancur berkeping-keping kau dihajar

habis oleh pukulan tenaga dalamnya yang hebat itu!"

"Hei, kau jangan sepelekan aku, Selendang Kubur! 

Saat ini pun aku sanggup meremukkan kepalamu tanpa 

harus bergerak dari tempatku!" 

"Coba saja!" tantang Selendang Kubur. Perawan 

Sesat lemparkan daun kecil yang sejak tadi dibuat 

mainan. Lemparan daun itu begitu cepat dan mendesing 

bunyinya bagai logam tipis melayang melewati depan 

mata Peri Malam. Wiiing...!

Craat...!

Selendang Kubur lengkungkan badan ke samping 

sambil berpaling. Daun itu lewat di depan dadanya dan 

menancap di batang pohon bagaikan lempengan logam 

tajam dari bahan baja. Jika bukan dialiri kekuatan tenaga 

dalam yang tinggi, tak mungkin daun itu bisa menancap 

di batang pohon sedemikian dalam. Kalau saja tidak 

segera menghindar dengan gesitnya, Selendang Kubur 

akan mati ditembus daun yang berubah jadi mata pisau 

itu.

Sebelum Selendang Kubur memberi balasan, Peri 

Malam sudah menghadang di depannya seraya berkata,

"Cukup! Jangan terpancing nafsu!" 

"Dia yang menyerangku lebih dulu!" 

Perawan Sesat membantah, "Dia menghinaku lebih 

dulu!"

"Kalian ini memang seperti anak kecil!" sentak Peri 

Malam. "Aku menyesal bergabung dengan kalian 

menyusun rencana seperti tadi. Mana bisa orang-orang 

berjiwa anak kecil mengalahkan Suto? Untuk

mengalahkan Pendekar Mabuk itu, bukan hanya ilmu 

tinggi yang dibutuhkan tapi juga jiwa dewasa dan otak 

cerdas!"

Selendang Kubur menghembuskan napas pelan-pelan 

walau matanya masih memandang tajam pada Perawan 

Sesat. Yang dipandang hanya tersenyum sinis dengan 

sikap siap tarung kapan pun juga.

"Jangan dulu kita berselisih sebelum cita-cita kita 

bersama tercapai! Jika belum-belum kita sudah saling 

bunuh, lantas kapan kita bisa bunuh Suto Sinting itu?!" 

omel Peri Malam yang bertindak menjadi orang yang 

lebih dewasa dari mereka, walau sebenarnya ia hanya 

sebagai penengah saja.

"Lihatlah," kata Peri Malam lagi, "Dirgo Mukti sudah 

semakin terpojok oleh serangan-serangan Datuk! Tak 

perlu kita memberikan pujian atau penilaian apapun 

selain menjadi penonton yang baik!"

Selendang Kubur bahkan berkata, "Seharusnya ia bisa 

segera cabut senjatanya itu! Dirgo Mukti mempunyai 

senjata kapak yang cukup hebat, sebenarnya!"

"Kalah hebat dengan pedangnya Datuk Marah Gadai! 

Kulihat sendiri kehebatan pedang itu saat ia 

mengalahkan Cadaspati di tepi sebuah sungai!" kata Peri 

Malam. (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode:

"Darah Asmara Gila").

Perawan Sesat kasih pendapat, "Orang-orang seperti 

mereka jelas tidak akan semudah itu mencabut 

pedangnya! Hanya pada saat-saat terakhir dari 

pertarungan itu ia akan mencabut pedangnya!"

"Aku berharap Dirgo Mukti kalah dan mampus di 

tangan Datuk!" kata Peri Malam.

"Aku juga!" sahut Selendang Kubur.

"Kuharap juga begitu," sela Perawan Sesat.

"Hai, ternyata kita sama-sama punya kebencian pula 

dengan si Sontoloyo itu?! Mengapa kita tidak sepakat 

gunakan Sontoloyo untuk melawan Suto?"

Ucapan Peri Malam itu membuat mereka saling

memandang. Perawan Sesat dan Selendang Kubur sama-

sama tatapkan mata ke wajah Peri Malam. Sepertinya

mereka menuntut penjelasan lebih rinci lagi dari kata-

kata Peri Malam tadi. Karenanya, Peri Malam pun 

lanjutkan kata,

"Dirgo Mukti lelaki mata keranjang! Dia ingin aku 

menerima cintanya. Dia ingin Selendang Kubur 

melayani gairahnya. Dia pasti inginkan tubuh dan 

kehangatanmu lagi, Perawan Sesat. Sebab dia pernah 

merasakan gairahmu. Dia pasti tergiur kembali padamu."

"Lalu, apa rencanamu?" tanya Selendang Kubur.

"Jadikan dia umpan untuk bertarung melawan 

Pendekar Mabuk. Beri dia semangat agar bisa 

membunuh Suto Sinting. Upah yang akan kita berikan 

padanya adalah tubuh kita masing-masing!"

"Aku tidak sudi!" sentak Selendang Kubur bersungut-

sungut.

"Ini hanya siasat saja! Sontoloyo jelas tak akan bisa 

mengalahkan Pendekar Mabuk. Tapi dengan mendapat 

semangat dari kita, dia akan bertarung melawan 

Pendekar Mabuk mati-matian. Hal itu akan membuat

Suto semakin terdesak, sekurang-kurangnya Pendekar 

Mabuk akan menguras tenaganya untuk mengalahkan 

Sontoloyo. Walaupun pada akhirnya nanti Sontoloyo 

mampus di tangan Suto, tapi kita punya peluang bagus 

untuk menyerang Suto secara bersama. Kekuatan Suto 

yang sudah berkurang karena pertarungannya dengan 

Dirgo Mukti, membuat kita lebih mudah menghancurkan 

dirinya!"

"Gagasan yang bagus!" sela Perawan Sesat lalu ia 

tertawa serak. 

"Kebetulan aku ingat bahwa Dirgo Mukti pernah janji 

pertarungan dengan Suto di Bukit Jagal! Bulan ini 

adalah bulan saat pertarungan itu dilakukan!" tambah 

Peri Malam.

"Bagus! Aku setuju dengan rencanamu," kata 

Selendang Kubur.

"Kalau begitu, kita bantu Sontoloyo untuk 

mengalahkan Datuk Marah Gadai itu! Biar Sontoloyo 

tidak mati di tangan Datuk!" kata Peri Malam.

"Aku setuju!" kata Perawan Sesat dengan 

menyeringai liar.

"Tapi, tunggu dulu...!" Selendang Kubur mencegah, 

sepertinya Datuk Marah Gadai sudah merasa kewalahan 

melawan Dirgo Mukti! Datuk Marah Gadai melarikan 

diri!"

"Ya, tapi Dirgo Mukti kelihatannya terluka dan tak

bisa mengejarnya! Ada baiknya jika kita tolong dia!" 

kata Peri Malam.

Tapi sebelum mereka mencapai tempat Dirgo Mukti

terkapar, orang itu sudah bangkit lebih dulu dan melesat 

pergi mengejar lawannya. Rupanya ia tadi terkena 

pukulan tenaga dalam dari Datuk Marah Gadai, namun 

bisa segera ditawarkan oleh kekuatan batinnya sendiri. 

Dan melihat Dirgo Mukti lari mengejar Datuk Marah 

Gadai, ketiga perempuan itu juga lari mengejar Dirgo 

Mukti.

Apa yang mereka pertarungkan sebenarnya berasal

dari kabar tentang Pusaka Cincin Manik Intan. Datuk 

Marah Gadai dan Dirgo Mukti sama-sama ingin 

mendapatkan Cincin Manik Intan yang konon masih ada 

di dasar telaga, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam

episode: "Murka Sang Nyai"). Mereka saling halang-

menghalangi ketika sama-sama mau menyelam ke dasar 

telaga. 

Pertarungan itu membuat mereka saling kejar dan 

tanpa sadar menjauhi Telaga Manik Intan. Saat mereka 

jauh dari telaga itulah, sesosok tubuh masuk dan 

menyelam ke dasar telaga. Orang itulah yang 

menemukan Pusaka Cincin Manik Intan. Orang itu 

adalah Betari Ayu, yang kemudian segera menggunakan 

Pusaka Cincin Manik Intan untuk melabrak Nyai 

Lembah Asmara yang ingin menjadikan Suto sebagai 

pembenih dalam keturunannya.

Datuk Marah Gadai dan Dirgo Mukti sama-sama 

tidak tahu, bahwa apa yang mereka rebutkan itu sudah 

menjadi milik seseorang. Bahkan ketika Datuk Marah 

Gadai meninggalkan Dirgo Mukti, dalam benaknya ia 

merasa lebih baik meninggalkan pertarungan dan segera

menyelam ke dasar telaga untuk mencari Cincin Manik 

Intan yang dahsyat itu. Jika Cincin Manik Intan berhasil 

ditemukan olehnya, maka urusannya dengan Manusia 

Sontoloyo itu akan cepat terselesaikan. Pasti lawannya 

itu akan mati dan hancur oleh kekuatan Pusaka Manik 

Intan itu.

Karena Datuk Marah Gadai tidak tahu bahwa cincin 

itu sudah ditemukan Betari Ayu beberasa saat berselang, 

maka ketika ia tiba di tepi telaga, ia langsung saja 

menceburkan diri ke permukaan air telaga, dan 

menyelam di kedalamannya.

Lama kemudian, Dirgo Mukti tiba pula di tepi telaga. 

Ia mencari lawannya. Memandangi sekeliling telaga. 

Ternyata tak ada sesuatu yang mencurigakan. Air telaga 

pun tampak tenang. Pikirnya, sebelum Datuk Marah 

Gadai menemukan diriku, ia harus sudah lebih dulu

mencari Cincin Manik Intan di dasar telaga.

"Mampuslah kau, Tukang Gadai! Jika kutemukan itu 

lebih dulu akan kuhancurkan mulutmu yang sangat 

kubenci itu!" kata Dirgo Mukti. Lalu, ia pun melompat 

dan terjun ke dalam genangan air telaga. Byurrr...! 

*

* *

3

GEMERISIK dedaunan bambu dihembus angin 

siang. Gemerisik itu masuk ke telinga Pendekar Mabuk 

ibarat musik penghantar duka. Gundukan tanah di 

depannya masih dipandangi dengan wajah duka. 

Gundukan tanah itu adalah kuburan bagi si pelayan setia 

gurunya. Suto memberi nama pada kayu patok kuburan 

itu dengan tulisan besar: Sugiri. Di bawahnya ada tulisan 

kecil yang berbunyi: Lahir tak diketahui, mati pun tak 

diketahui. 

"Kalau saja aku tidak terbujuk oleh anggapan tentang 

Dyah Sariningrum di Bukit Garinda, Paman Sugiri tak 

akan mati di sana. Kasihan Paman Sugiri, ia mati hanya 

untuk membela diriku yang tak berharga ini. Mudah-

mudahan arwahnya diterima di sisi Yang Maha Kuasa," 

kata hati Pendekar Mabuk yang segera bergegas bangkit 

dari kesedihan. Ia tak berlarut-larut tenggelam dalam 

perasaan duka atas kematian Pujangga Keramat.

Suto memakamkan jenazah Pujangga Keramat di 

Jurang Lindu, tak jauh dari pancuran air yang menjadi 

pintu masuk menuju persinggahan si Gila Tuak. Sayang 

sekali waktu itu si Gila Tuak tak ada di tempat, sehingga 

Suto tak bisa melaporkan kematian Pujangga Keramat. 

Ke mana arah perginya si Gila Tuak, Suto tak tahu. 

Hanya ada satu kemungkinan dalam benak Suto, bahwa 

gurunya itu mungkin sedang bertandang ke Limbah 

Badai, tempat persinggahan bibi gurunya Suto yang di 

kenal dengan nama kondangnya: Bidadari Jalang.

Tiba-tiba Pendekar Mabuk jadi ingat dengan bibi

gurunya. Ingatan itu berkait dengan Pusaka Cincin 

Manik Intan yang ditemukan oleh Betari Ayu. Cincin itu 

warisan terkubur dari Bidadari Jalang. Sekarang ada di 

tangan Betari Ayu, sedangkan Betari Ayu menyimpan 

dendam kepada Bidadari Jalang. Pendekar Mabuk belum 

sempat meminta cincin itu dari tangan Betari Ayu.

Ketika Pendekar Mabuk selamat dari cengkeraman 

Nyai Lembah Asmara, ia segera pergi mengurus jenazah 

Pujangga Keramat yang mati di bangsal pertemuan, di 

persinggahannya Nyai Lembah Asmara. Pada waktu itu, 

Betari Ayu berkata kepada Suto, 

"Aku harus pergi membalaskan sakit hatiku kepada 

seseorang. Jika kau mau ikut aku, aku tak keberatan. Jika

kau ingin mengurus mayat Pujangga Keramat yang 

tergeletak di sana, aku juga tidak melarang. Yang 

penting kau ketahui, saat ini adalah saat yang baik untuk 

melampiaskan dendamku yang selama ini kupendam 

dalam hati!" 

Suto masih dalam keadaan mabuk tuak waktu itu, 

sehingga ia tidak terlalu peduli dengan kepergian Betari 

Ayu. Ia segera bergegas mencari mayat Pujangga 

Keramat dan segera membawanya ke Jurang Lindu.

Sekarang Pendekar Mabuk jadi ingat semua kata-kata 

Nyai Betari Ayu. Tak salah lagi dugaan Suto, bahwa 

dendam yang akan dilampiaskan oleh Betari Ayu itu 

adalah dendamnya kepada Bidadari Jalang, karena 

Bidadari Jalang dianggap telah merebut kekasih hati 

Betari Ayu. Hal itu yang membuat Betari Ayu tidak 

pernah mau jatuh cinta lagi dengan seorang lelaki.

Namun kehadiran Suto sempat membuat Betari Ayu 

tergugah oleh cinta lagi, meski ia dapat memendamnya.

Tentu saja Nyai Betari Ayu menganggap saat ini 

adalah saat yang tepat untuk melampiaskan dendamnya 

kepada seseorang, karena Betari Ayu memakai Cincin 

Manik Intan. Jelas, cincin itulah yang akan dipakai untuk 

melawan Bidadari Jalang, yang namanya masuk dalam 

deretan kedua; setelah si Gila Tuak, sebagai nama-nama 

tokoh yang sukar ditumbangkan. Tanpa pusaka cincin 

dahsyat itu, Nyai Betari Ayu tak akan berani berhadapan 

dengan Bidadari Jalang.

"Celaka! Bibi Guru pasti akan hancur oleh pusakanya 

sendiri," pikir Pendekar Mabuk. "Seharusnya waktu itu 

kurebut dulu Cincin Manik Intan dari tangan Betari Ayu! 

Jika begini, sama saja aku membiarkan Bibi Guru 

terancam nyawanya! Betari Ayu tidak tahu bahwa Bibi 

Guru yang sekarang bukan orang sesat seperti dulu. 

Karenanya Bibi Guru Bidadari Jalang tidak mau turun ke 

dunia persilatan kembali, karena dia ingin menghabiskan 

sisa hidupnya dengan mendekatkan diri kepada sang 

Maha Pencipta!"

Suto Sinting sempat terlihat gelisah, ia berjalan 

mondar-mandir di depan makam Pujangga Keramat. 

Hatinya kembali berkecamuk,

"Apa yang harus kulakukan jika begini? Merampas 

cincin itu dari tangan Nyai Betari Ayu? Itu berarti aku 

harus bertarung dengan Nyai. Haruskah aku bertarung 

dengan orang yang selama ini bersikap baik padaku? 

Tapi jika hal itu tidak kulakukan, berarti aku ikut

mendukung rencana Betari Ayu untuk membunuh Bibi 

Guru?!"

Sekelebat bayangan melesat di atas pohon. 

Banyangan itu mendarat tepat di depan Suto, hingga 

Suto terkesiap memandangnya. 

"Nyai Betari...?!" gumam Suto dengan hati berdebar. 

Orang ini yang sedang dipikirkan oleh Suto, tapi orang 

ini pula yang tahu-tahu muncul dalam kenyataan di 

depan Suto.

"Kebetulan sekali Nyai datang kembali," kata Suto 

menatap perempuan cantik yang menyunggingkan 

senyum bersahaja.

"Aku mendengar gemuruh kegelisahanmu, Suto. Jadi 

aku kembali menemuimu," kata Nyai Betari Ayu yang 

berikat kepala dari tali sutera merah berbintik-bintik 

kuning keemasan.

"Nyai mendengar gemuruh kegelisahanku?" Suto

heran.

"Apa yang terjadi pada diri orang yang kusayangi 

selalu kudengar lewat telinga hatiku, dan kulihat lewat 

mata hatiku, Suto." 

"O, jadi... saya orang yang Nyai sayangi?" 

"Mungkin lebih dari itu," jawab Betari Ayu pelan 

sambil palingkan wajah ke arah curahan air terjun yang 

menjadi pintu gerbang persinggahan si Gila Tuak.

Pendekar Mabuk menjadi kikuk mendengar jawaban 

itu. Tapi ia segera tenangkan diri dan tetap bersikap 

lembut kepada Nyai Betari Ayu. Ia mendekati Betari 

Ayu dari samping kanan, ikut memandang jurang berair

terjun itu, tapi mulutnya ucapkan kata tanya,

"Sudahkah dendam Nyai terlampiaskan?" 

"Belum," jawab Betari Ayu sambil tetap pandang air

terjun.

"Mengapa tak jadi membalas dendam?" tanya Suto.

"Aku berubah pikiran."

"Berubah bagaimana, Nyai?"

"Untuk apa aku hidup menuruti dendam?" Betari Ayu 

palingkan wajah dan lempar pandangan pada Suto. 

Lembut sekali pandangannya. Selembut rona kecantikan 

sang Nyai.

Katanya lagi, "Aku harus menjadi orang yang bisa 

mengalahkan diriku sendiri. Orang hebat adalah orang 

yang bisa melawan nafsunya sendiri. Kalau aku masih 

turuti dendamku kepada Bidadari Jalang, maka aku 

bukan sebagai orang hebat. Aku orang lemah yang tak 

mampu melawan nafsuku sendiri."

"Saya menyukai kata-kata Nyai," Pendekar Mabuk 

sunggingkan senyum yang sangat menawan. Nyai Betari 

Ayu pun tundukkan kepala karena merasa teduh hatinya 

mendapat senyuman seperti itu. Tapi kejap berikut ia 

kembali pandang Suto dan ucapkan kata,

"Ada sesuatu yang lupa kukembalikan padamu."

"Tentang apa itu, Nyai?"

Tangan kiri Nyai melepaskan cincin di jari tangan 

kanannya, lalu Pusaka Cincin Manik Intan itu diserahkan 

kepada Suto.

"Ambillah cincin ini, Suto."

Pendekar Mabuk tidak segera mengambil cincin itu,

tapi matanya menatap lama pada cincin dan wajah Betari 

Ayu yang polos dan lugu itu.

"Mengapa Nyai kembalikan cincin itu kepadaku? 

Bukankah Nyai tahu kehebatan Pusaka Cincin Manik

Intan itu?"

"Ya, tapi ini bukan milikku." 

"Tapi Nyai yang mengambilnya dari dasar telaga!"

"Benar. Karena ada dua alasan. Pertama, aku takut 

Cincin ini jatuh ke tangan Datuk Marah Gadai atau 

pemuda tampan yang mengaku punya gelar Manusia 

Sontoloyo itu. Kedua, karena waktu itu aku 

membutuhkan Cincin ini untuk melawan Nyai Lembah 

Asmara. Tanpa bekal pusaka dahsyat ini, aku belum 

tentu bisa menyerang Bukit Garinda dan dengan tujuan 

membebaskan kamu dari cengkeraman Nyai Lembah 

Asmara. Jujur saja kukatakan kepadamu, Suto... aku tak 

rela kau tanamkan benih kependekaranmu, benih darah 

ksatriamu, ke dalam kandungan Nyai Lembah Asmara! 

Aku tak ingin kau punya keturunan sesat, Suto." 

"Sejauh itukah Nyai berpikir tentang saya?" 

Betari Ayu tak menjawab. Ia alihkan pembicaraan itu 

sambil sekali lagi sodorkan cincin tersebut.

"Terimalah cincin ini. Kau yang berhak memiliki. 

Bukan aku! Karena kaulah yang punya tugas mengambil 

dua pusaka di dasar telaga tersebut, yaitu Pusaka Tuak 

Setan dan Pusaka Cincin Manik Intan ini."

"Mengapa Nyai tidak memilikinya saja, atau 

membawanya lari?" 

"Bukan sifatku menjadi pencuri, Suto."

Senyum Suto melebar, bahkan berubah menjadi tawa 

yang mirip orang menggumam. Tawanya itu pun 

bagaikan memancarkan daya tarik tersendiri bagi hati 

yang sudah berbunga indah itu.

Ketika Pendekar Mabuk menerima cincin itu, tangan 

Betari Ayu dipegangnya dengan lembut. Betari Ayu 

menatap dan merasakan aliran hawa hangat di sekujur 

tubuhnya. Ia segera bertanya dalam nada bisik,

"Suto, apa yang kau salurkan ke dalam tubuhku?"

"Kasih sayang," bisik Suto membalas.

"Apa maksudnya kasih sayang?"

"Sampai kapan pun aku tidak akan melupakan 

kebaikanmu, Nyai."

"Tentunya itu bukan berarti sebuah cinta yang lahir 

dari hati sanubarimu."

"Memang bukan cinta. Tapi, barangkali kasih sayang 

melebihi dari segala cinta yang ada. Kasih sayang boleh 

ada di dalam jiwa kita masing-masing, tapi tak harus 

memiliki raga kita masing-masing."

"Dalam sekali pengertianmu, Suto. Aku semakin suka 

padamu."

Suto tersenyum dengan mata memandang kian 

lembut. Seakan kelembutan pandang mata Suto itu 

bagaikan sinar halus yang menembus ke dalam dasar 

hati Betari Ayu.

Sebelum cincin itu tergenggam oleh Suto, Betari Ayu 

lekas-lekas mengambil alih cincin itu. Ia mengangkat 

jari manis Suto yang kanan, lalu cincin itu dimasukkan 

ke dalam jari manis cincin itu dengan pelan-pelan sekali.

Kedua mata mereka saling memandang ke arah cincin.

"Semoga kau dapat mengenang peristiwa ini 

selamanya, Suto."

"Semoga kau pun dapat mengenangnya pula. Nyai."

Kemudian, wajah Nyai Betari Ayu tengadah 

memandang Pendekar Mabuk. Matanya yang bening 

teduh itu bagai digenangi air. Suto pelan-pelan 

mendekatkan wajah dan menempelkan ciumannya di 

kening Nyai. Mata itu terpejam, bibir itu merekah, dan 

akhirnya Suto tempelkan bibir ke mulut Nyai. Bibir Suto 

dilumatnya dengan lembut oleh Nyai Betari Ayu. Suto 

membalasnya dengan seribu kali lebih lembut, hingga 

Nyai Betari Ayu meremaskan genggaman tangannya di 

ujung pundak Suto.

Pelan-pelan pula ciuman dan kehangatan itu 

dilepaskan. Senyum mereka saling bermekaran. Suto 

berbisik lirih,

"Indah, Nyai?" 

"Luar biasa indahnya, Suto," jawab Nyai Betari 

semakin lirih. "Sayang sekali bukan aku perempuan 

yang kau cintai. Seandainya aku adalah orang yang kau 

cintai, mungkin selamanya aku akan merebah di 

dadamu, Suto."

"Apakah hal itu membuatmu kecewa, Nyai?"

"Tidak," jawab Nyai dalam ketegasan yang lembut. 

"Aku tidak kecewa, karena memang kau dan aku 

memiliki garis kehidupan yang berbeda. Aku tak 

salahkan dirimu, Suto. Kau bebas memburu cinta dan 

kasih sayang untuk dirimu, Suto. Aku hanya ingin

merawat agar cinta ini tetap mekar di hatiku, sampai 

masa tuaku tiba."

Tiba-tiba Nyai Betari Ayu memeluk Pendekar Mabuk 

erat-erat. Suto pun membalas pelukan itu dengan hangat. 

Nyai pasti ingin mencurahkan tangis keharuannya, pikir 

Suto. Dan sengaja Suto tidak melarang tangis itu 

tercurah karena memang suasana haru tercipta atas dasar 

saling menyadari keadaan masing-masing.

Betari Ayu diam. Pelukannya tetap erat. Tak ada

guncangan tangis atau pun suara mengisak. Pastilah 

Nyai Betari Ayu tak ingin cucurkan air mata di depan 

seorang ksatria. Pastilah Nyai Betari Ayu merasa malu 

dan takut wibawa kharismanya jatuh di depan Suto.

Tetapi tubuh Nyai Betari Ayu makin lama semakin 

dingin. Suto menjadi curiga. Cepat-cepat ia tarikkan diri 

dari tubuh Betari Ayu. Mata Suto terkesiap melihat 

wajah Betari Ayu pucat dan kepalanya terkulai lemas.

"Nyai...?!" sentak Suto sambil guncangkan tubuh 

Nyai. Namun keadaan Nyai semakin memucat dan 

dingin. Matanya terpejam mulutnya terbuka sedikit 

bagai menahan rasa sakit yang menyentak. 

"Nyai...?! Kenapa kau, Nyai...?!" 

Pendekar Mabuk berdebar-debar melihat keadaan 

Nyai Betari Ayu seperti itu. Suto buru-buru memeriksa 

tubuh Betari Ayu. Ternyata di bagian punggungnya 

terdapat noda merah membekas di kulit. Noda merah itu 

sebesar biji sawo, tepat bersebelahan dengan pedang 

Jalaganda yang sejak tadi disandang di punggungnya.

Noda merah itu menembus jubah kuningnya, yang

terbuat dari kain sutera. Tapi jubah itu tidak membekas 

lubang. Hanya sedikit hangus tepat di bagian noda 

merahnya itu.

"Kurang ajar! Ada yang menyerang Nyai secara 

diam-diam. Hmm...! Siapa orangnya?!" geram Suto 

dengan mata memandang liar.

Gemuruh suara air terjun masih terdengar. Di atas 

curahan air terjun itu, mata Suto memandang jelas 

sesosok tubuh berpakaian kuning ketat. Pendekar Mabuk 

mengenal orang itu sebagai orang Bukit Garinda. Orang 

tersebut tak lain adalah Putri Alam Baka. Di tangannya 

tergenggam seruling kuning. Pasti dialah yang telah 

menyerang Nyai Betari Ayu memakai seruling 

pusakanya itu.

"Kau...!" geram Pendekar Mabuk dengan wajah 

merah. Matanya menatap tajam ke arah Putri Alam 

Baka.

Tak sadar kemarahan Pendekar Mabuk itu membuat 

tenaga dalamnya mengalir melalui Cincin Manik Intan. 

Pada waktu itu, cincin tersebut dalam keadaan 

menghadap ke arah Putri Alam Baka. Maka, dengan 

tiba-tiba cincin itu mengeluarkan cahaya putih 

menyilaukan, melesat bagaikan lidi ke arah perempuan 

di atas air terjun. Clappp...! Duarrr...!

Arah cincin tidak tepat persis, sehingga batuan di 

samping Putri Alam Baka hancur menjadi serbuk ketika 

dihantam sinar putih menyilaukan itu. Ledakan itu 

membuat Putri Alam Baka terlempar ke samping dan 

jatuh di rerumputan.

"Aku harus menyelamatkan Nyai Betari Ayu dulu! 

Aku sudah tahu siapa orang yang menyerangnya!" pikir 

Suto.

Secepat kilat ia angkat tubuh yang terkulai lemah itu, 

lalu ia jejakkan kaki ke tanah dan tubuhnya bagaikan 

terbang melompati batu demi batu, akhirnya menerobos 

masuk ke curahan air terjun. Di balik air terjun itu ada 

pintu gua. Slaap...! Suto masuk ke dalam gua dan segera 

meletakkan Nyai Betari Ayu di atas pembaringan tak 

berkaki. Pembaringan itu dulu bekas tempat tidur Suto 

selama Pendekar Mabuk menjadi murid si Gila Tuak.

Pendekar Mabuk segera menggenggam telapak kaki 

Nyai Betari Ayu, lalu ia menggumam sendiri, "Hmmm... 

masih sedikit hangat!"

Segera ia meneguk tuaknya. Sebagian tuak tersimpan 

di mulut hingga pipinya menggelembung. Pendekar 

Mabuk pejamkan mata sebentar, lalu segera tempelkan 

mulutnya ke mulut Nyai Betari Ayu. Tuak dalam 

mulutnya itu segera disemburkan ke dalam tenggorokan 

Nyai Betari Ayu.

Bruuus...!

Tersentak tubuh Nyai Betari Ayu seketika bagai

mendapat kejutan. Kemudian Suto mengulanginya sekali 

lagi.

Bruuus...!

Tersentak lagi tubuh Nyai Betari Ayu, lalu terdengar 

suaranya mengerang lirih. Suto merasa lega. Itu pertanda 

jiwa Betari Ayu bisa tertolong, tinggal menunggu 

kesembuhan berikutnya.

Pendekar Mabuk memiringkan tubuh Nyai Betari

Ayu, memeriksa noda merah di punggung Nyai. Noda 

itu makin menipis. Itu tandanya pengaruh tuak bertenaga 

dalam yang berguna untuk pendingin hawa panas telah 

bekerja. Andaikata Pendekar Mabuk tidak segera 

bertindak cepat, maka bagian dalam tubuh Nyai Betari 

Ayu akan hangus terbakar ilmu tenaga dalam yang 

sangat tinggi dan berbahaya itu. 

"Aku harus segera mengejar Putri Alam Baka!" 

geram Suto, merasa keasyikannya terganggu oleh 

serangan mendadak dari murid Nyai Lembah Asmara 

itu. 

"Tetapi Nyai Betari Ayu tidak ada yang menunggui. 

Jika sewaktu-waktu musuh datang dan mengancam 

nyawanya, bisa berbahaya. Untuk sementara dia akan 

lumpuh karena pukulan tenaga dalam yang tinggi itu. 

Dia hanya akan mempunyai luapan kemarahan namun 

tak akan bisa banyak melakukan gerakan. Uuh...! 

Kemana Guru?! Mengapa sampai sekarang belum 

datang juga?"

Pendekar Mabuk sempat bimbang sebentar. Hatinya 

gelisah, dadanya bergemuruh. Hasratnya ingin segera 

memburu lawan, tapi cemas meninggalkan Nyai Betari 

Ayu.

"Hmmm... begini saja! Cincin ini kusematkan di 

jarinya saja! Kalau ada ancaman bahaya datang, 

kemarahan Nyai Betari Ayu bisa membuat cincin ini 

melancarkan kekuatan tenaga dalamnya dan menyerang

musuh!"

Maka, setelah Suto menyematkan Cincin Manik 

Intan, ia pun segera tinggalkan Nyai Betari Ayu. Pada 

saat itu keadaan Betari Ayu belum sadar sepenuhnya, 

namun napasnya tampak terengah-engah dan kepalanya 

bergerak-gerak pelan.

"Sebelum ia lari jauh, aku harus sudah bisa 

mendapatkannya!" pikir Pendekar Mabuk saat 

meninggalkan gua tersebut.

Dalam kejap berikutnya, Suto sudah berada di tempat 

Putri Alam Baka tadi berdiri. Tempat itu telah kosong. 

Pendekar Mabuk tak melihat gerakan-gerakan yang 

mencurigakan. Tetapi ia melihat patahan daun ilalang 

dan beberapa ranting lainnya. Jelas, ranting itu patah 

karena terabasan larinya Putri Alam Baka. Maka, 

Pendekar Mabuk pun segera mengejarnya ke arah 

tersebut. 

Pendekar Mabuk mengejar dengan menggunakan 

ilmu silumannya, sehingga gerakan Pendekar Mabuk tak 

dapat terlihat oleh mata karena kecepatannya yang luar 

biasa. Dalam kejap yang singkat, Pendekar Mabuk telah 

berada jauh dari Jurang Lindu. Bahkan sekarang 

tubuhnya telah hinggap di atas pohon, seperti menunggu 

mangsanya lewat.

Dugaan Suto benar. Tak lama kemudian, terlihat dua 

sosok manusia berkelebat lari dengan cepat bagai anak 

panah yang terlepas dari busurnya. 

Duarrr...! Duarrr...! 

Pendekar Mabuk hantamkan pukulan tenaga 

dalamnya yang membuat dua pohon tumbang seketika,

menghadang langkah kedua sosok yang berlari cepat itu. 

Dan pada saat dua sosok itu berhenti, Pendekar Mabuk 

pun segera sentakkan ujung jari kakinya pada dahan, lalu 

tubuhnya melesat terbang dan bersalto satu kali, 

akhirnya mendarat di tanah di hadapan kedua orang itu

Dengan bumbung tuak tersandang di punggung 

bagaikan pedang maut, Suto berdiri pancarkan 

kemarahan kepada dua orang yang ada di depannya. 

Suaranya menggeram saat ia berkata, 

"Rupanya kau tidak sendirian, Putri Alam Baka!"

"Ya. Aku yang mendampinginya!" jawab orang yang 

ada di samping Putri Alam Baka.

Dia adalah seorang lelaki, berbadan masih segar tapi 

kelihatannya sudah cukup umur, antara lima puluh 

tahunan. Tak terlalu besar badannya, juga tak terlalu 

kurus. Ia mengenakan caping hitam dengan kumis dan 

jenggotnya yang mulai ditumbuhi uban. Orang itu 

mengenakan pakaian abu-abu dan kancing bajunya tidak 

dirapatkan. Orang itu juga menyandang pedang di 

punggungnya, dan jari-jari tangannya mempunyai kuku 

yang panjang dan runcing. Dari balik capingnya, wajah 

itu terlihat angker dan bengis. Suara tuanya terdengar

menggeram jika bicara. 

"Aku tidak mengenal siapa dirimu, Pak Tua. Aku 

hanya mengenal Putri Alam Baka itu!"

Yang menyahut Putri Alam Baka dengan suara 

ketusnya, "Dia suamiku! Aku terpaksa kembali berada di 

sampingnya, karena dia bersedia membantuku 

melawanmu, juga melawan Betari Ayu untuk menebus

kekalahanku di Bukit Garinda!"

"O, jadi kau menghilang dari Bukit Garinda untuk 

meminta bantuan kepada bekas suamimu?! Hmm... ada 

berapa orang yang menjadi bekas suamimu? Mengapa 

tidak semuanya saja kau bawa kemari untuk menghadapi 

aku dan Betari Ayu?!"

"Jangan sesumbar bacotmu, bocah ingusan!" geram 

orang bertudung hitam. "Mulutmu bisa kurobek tanpa 

ampun lagi jika kau sesumbar di depanku!" 

"Pak Tua...!" kata Suto dengan tegas. "Jangan merasa 

terlalu mudah merobek mulutku sebelum kau coba dulu 

merobek mulutmu sendiri! Karena merobek mulut orang 

itu pekerjaan yang sulit, apalagi orang itu mampu 

berkelit!" 

"Jangan mengguruiku, Setan!" bentak orang 

berhidung hitam. "Kau tak patut mengguruiku. Bahkan 

gurumu sendiri, Bidadari Jalang, tak punya kepatutan 

mengguruiku!"

"Hei, Pak Tua... siapa dirimu sehingga kau bawa-

bawa nama bibi guruku itu?!" 

"Apakah gurumu. Bidadari Jalang, tak pernah 

bercerita tentang hutang nyawanya dengan guruku?" 

"Siapa nama gurumu, Pak Tua?"

"Iblis Pulau Bangkai!"

Suto terkesiap sejenak. Mencoba mengingat cerita 

bibi gurunya tentang Iblis Pulau Bangkai. Lalu Suto 

berkata,

"Ya. Memang Bibi Guru pernah bercerita tentang 

musuhnya yang berjuluk Iblis Pulau Bangkai. Tapi dia

sudah mati dan dengan mudahnya dikalahkan oleh Bibi 

Guru!"

"Tapi dia masih punya satu murid lagi, Suto!" kata 

orang bertudung hitam, dengan mudahnya menyebut 

nama Pendekar Mabuk.

"Hmm... ya, seingatku Bibi Guru pernah bercerita 

tentang murid Iblis Pulau Bangkai yang bernama 

Nagadipa."

"Akulah Nagadipa...!"

Orang itu berkata dalam geram, kemudian membuka 

tudungnya dan menampakkan wajahnya yang ber 

tampang bengis itu. Rambutnya sedikit botak di bagian

atasnya, tapi yang lainnya panjang sampai melewati 

pundaknya.

"O, jadi kaulah murid tersisa dari Iblis Pulau 

Bangkai?!"

"Ya. Dan bagaimana jika murid bertemu murid untuk 

membereskan hutang gurunya, hah?! Setelah kubereskan 

muridnya, segera akan kubereskan gurunya! Biar sama-

sama meratap di dasar neraka!" geram Nagadipa dengan 

matanya yang menampakkan kebengisan. Sepertinya ia 

sangat tak sabar ingin segera merobek-robek tubuh 

Pendekar Mabuk dengan kuku-kukunya yang panjang 

dan runcing itu.

*

* *

4

BIDADARI Jalang memang pernah bercerita kepada 

Suto tentang pertarungannya dengan Iblis Pulau 

Bangkai. Juga, cerita tentang murid Iblis Pulau Bangkai 

yang masih penasaran menuntut balas atas kematian 

gurunya.

Tapi seingat Suto, Bidadari Jalang menceritakan 

tentang murid Iblis Pulau Bangkai yang bernama 

Nagadipa itu sebagai pemuda yang tampan dan 

menawan. Waktu Bidadari Jalang terakhir kalinya 

melawan Nagadipa di sebuah pantai, orang itu dengan 

ketampanannya hampir menjerat Bidadari Jalang, yang 

waktu itu terkena racun birahi dari Tiga Pendekar Tibet 

(Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode: "Bocah 

Tanpa Pusar").

Hati Pendekar Mabuk sempat ragu melihat 

penampilan pak tua yang mengaku sebagai Nagadipa itu. 

Mulanya Suto menganggap orang itu hanya mengaku-

ngaku saja sebagai Nagadipa supaya punya alasan 

bermusuhan dengan Suto. Tapi kejap berikutnya Suto 

menyadari, bahwa waktu Nagadipa melawan Bidadari 

Jalang di pantai, keadaan Suto masih kecil, masih 

berusia delapan tahun.

Terbayang samar-samar dalam ingatan Pendekar 

Mabuk waktu ia menyaksikan pertarungan itu dari suatu 

tempat bersama gurunya; si Gila Tuak. Wajah Nagadipa

memang masih tampan, berusia tiga puluhan, tapi sudah 

mampu membuat Bidadari Jalang terdesak mundur 

beberapa kali.

Sekarang, dalam keadaan usia sudah semakin menua, 

tentu saja ilmunya semakin tinggi. Dua puluh tahun 

Nagadipa tidak pernah bertemu dengan Bidadari Jalang 

maupun Suto, tentunya ia sudah punya bekal cukup 

banyak untuk mengalahkan Bidadari Jalang. 

Agaknya Putri Alam Baka sangat mengunggulkan 

bekas suaminya itu. Dengan suaranya yang berat ia 

lontarkan kata kepada Pendekar Mabuk,

"Rasa-rasanya usiamu tinggal sejengkal waktu lagi, 

Pendekar Mabuk. Sebaiknya pergilah bercinta dengan 

mayat Betari Ayu agar kau bisa merasakan kehangatan 

tubuhnya yang terakhir kalinya, karena suamiku ini tak 

akan lamban dalam mencabut nyawamu!"

"Kau salah duga, Putri Alam Baka! Betari Ayu tidak 

mati, justru akan bangkit menghadapimu dan 

menghancurkan tubuhmu!"

"Omong kosong! Suamiku telah melepaskan pukulan 

dahsyatnya yang bernama 'Mata Iblis'! Tak mungkin ada 

lawan yang bisa selamat dari pukulan 'Mata Iblis'-nya!"

Suto sunggingkan senyum meremehkan. Katanya, 

"Apa hebatnya pukulan 'Mata Iblis' kalau nyatanya 

Betari Ayu masih bisa tertolong?"

"Dusta!" bentak Nagadipa. "Pukulan 'Mata Iblis' tak 

bisa diselamatkan oleh ilmu apa pun!" 

"Nyatanya bisa!" 

Putri Alam Baka mengalihkan pandang pada 

Nagadipa dengan tatap kecewa. Kelihatannya ia mulai 

tampak bimbang dengan kesanggupan dan kehebatan 

Nagadipa. Melihat kebimbangan Putri Alam Baka,

Nagadipa segera unjuk ilmu di depan bekas istrinya itu.

Ia jejakkan kaki kanannya ke tanah satu kali. Jlegg...! 

Jejakan kaki itu mempunyai kekuatan tenaga dalam yang 

tersalur, membuat tubuh Pendekar Mabuk tersentak naik 

ke atas bagai terlonjak. Ilmu seperti itu juga dimiliki 

beberapa tokoh sakti, termasuk Datuk Marah Gadai.

Tetapi, Pendekar Mabuk tetap tenang walau ia hampir 

tergelincir jatuh saat terlempar ke atas tadi. Ia pun 

sentakkan kakinya ke bawah dengan sangat pelan. 

Jliggg...! Dan, mendadak tubuh Nagadipa bagaikan 

amblas ke bumi sebatas mata kaki.

Putri Alam Baka terkesiap melihat Nagadipa 

terbenam sebatas mata kaki. Nagadipa sendiri buru-buru 

hentakkan tubuh dan lepas dari tanah penjepit kakinya. 

Wiiigh...! Jlegg...!

Kembali ia berdiri di samping Putri Alam Baka dan 

membatin,

"Kurang ajar! Dia menguasai ilmu 'Telan Bumi' 

rupanya! Ilmu itu jarang dimiliki orang, kecuali si Gila 

Tuak! Untung ilmuku cukup tinggi, jika tidak bisa 

amblas ke bumi sekujur tubuhku!"

Putri Alam Baka masih memandangi Nagadipa 

dengan curiga, ia kecewa melihat Nagadipa bisa tersedot 

ke dalam tanah, padahal Pendekar Mabuk hanya 

menjejakkan kaki dengan pelan. Jika Pendekar Mabuk

menghentakkan kakinya dengan kuat, habis sudah tubuh 

Nagadipa ditelan bumi, pikir Putri Alam Baka. 

Perempuan bersenjata seruling itu lalu berbisik,

"Mana kehebatanmu? Jangan-jangan kau tak mampu

melawan Suto!"

Bisikan itu ditangkap Pendekar Mabuk dalam jarak 

lima langkah. Tapi Pendekar Mabuk hanya diam saja,

hanya sunggingkan senyum tipis. Nagadipa merasa 

diremehkan oleh Suto, lalu ia membalas dengan 

lemparan tudungnya ke arah Pendekar Mabuk.

Tudung diambil dari kepala dan dilemparkan 

memutar dengan gerakan begitu cepat. Wuuut...! 

Pendekar Mabuk merendahkan kepalanya menghindari 

hempasan tudung hitam. Tetapi ternyata tudung itu 

mempunyai gelombang tenaga dalam yang membuat 

tubuh Pendekar Mabuk merunduk jadi tersungkur jatuh 

ke tanah. Sementara itu, tudung tersebut berputar terus 

dan kembali ke tempatnya semula. Tapp...! Tangan 

Nagadipa menangkapnya. Putri Alam Baka tersenyum 

lebar dengan wajah ceria. Ia merasa senang dan bangga 

melihat kebolehan jurus tudung Nagadipa.

Wajah Pendekar Mabuk hampir saja mencium tanah

karena tersungkur, bagai ada tenaga yang sangat kuat 

menghantam tengkuk kepalanya. Kalau saja tangannya 

tidak cepat mencagak, maka hidung dan mulutnya habis 

terbentur bebatuan yang ada di bawahnya. Pendekar 

Mabuk segera bangkit dan berhasil menggenggam 

kerikil di tangannya. Kerikil itu segera disentilkan ke 

arah tudung Nagadipa yang sudah dipakai di kepala. 

Zlappp...! Kerikil itu melesat tak dapat dilihat, tapi tiba-

tiba tudung Nagadipa terhempas terbang dalam satu 

sentakan keras. Prakkk...!

Putri Alam Baka dan Nagadipa sama-sama

terperanjat kaget. Tudung itu jatuh antara tiga langkah 

dari tempat Nagadipa berdiri. Ketika diambil kembali, 

ternyata ada bagian tepinya yang bolong melompong 

sebesar biji salak. Nagadipa semakin terbelalak kaget.

Ia membatin, "Gila! Tudung ini kulapisi dengan satu

kekuatan baja yang tak bisa dirusak oleh kekuatan apa 

pun! Pedang setajam apa pun tak akan mampu melukai 

tudung ini. Tapi kenapa, sekarang bisa menjadi bolong 

begini? Hmmm... tentu ini ulah bocah ingusan itu! 

Jahanam...! Ilmunya tak bisa disepelekan!"

Terdengar suara Putri Alam Baka berbisik, "Kenapa 

bisa berlubang tudungmu itu?!"

"Entahlah!" jawab Nagadipa. Ia merasa kesal 

mendapat pertanyaan seperti itu, karena merasa malu 

pada diri sendiri.

Suto berkata dalam hatinya, "Putri Alam Baka ini 

agaknya terlalu banyak menuntut dari Nagadipa. Aku 

bisa mempengaruhi mereka dengan caraku sendiri agar 

mereka tidak saling bantu-membantu."

Tapi sebelum Pendekar Mabuk sempat melakukan 

rencananya, Nagadipa sudah lebih dulu berkata,

"Pendekar Mabuk! Sudah waktunya kau menjadi 

tumbal kesalahan gurumu, si Bidadari Jalang itu!"

"Aku sudah siap menghadapi kalian berdua!"

"O, tak perlu berdua. Cukup aku saja yang 

membereskan dirimu. Biar istriku jadi penonton yang 

baik!"

"Majulah, Nagadipa. Tapi aku tak tanggung jika 

istrimu kecewa melihat polahmu seperti anak kecil!"

"Bocah tak tahu diuntung!" geram Nagadipa.

"Hiaaat...!"

Cepat sekali tangan Nagadipa bergerak berkelebat 

depan seperti orang melemparkan pasir ke atas. Dan 

pada saat itu, Pendekar Mabuk segera bersalto mundur 

satu kali, karena ia merasakan akan datangnya 

gelombang panas yang hampir menyambar tubuhnya. 

Dengan bersalto ke belakang satu kali, semburan 

gelombang panas itu terhindar darinya. Melesat 

mengenai sebatang dahan pohon, dan dahan itu tiba-tiba 

menjadi kering dalam sekejap.

Putri Alam Baka kelihatan kagum dan bangga 

melihat serangan itu walaupun meleset, ia berkata 

kepada Nagadipa,

"Desak terus dia. Jangan kasih kesempatan sedikit 

pun!"

Baru saja diam mulut Putri Alam Baka, tiba-tiba Suto 

Sinting sudah meraih bumbung tuaknya yang sejak tadi 

berselempang di punggung. Bumbung itu dipegang 

bagian talinya dan kini diputar-putarkan di atas kepala. 

Wuung...! Wuuung....! Wuuung...!. Bunyi putaran 

bumbung menggaung bagaikan suara gangsing.

Pada saat itu, tubuh Nagadipa pun ikut berputar-putar 

tak bisa dikendalikan berhentinya. Tubuh itu makin lama 

makin cepat berputar dan hampir saja menabrak Putri 

Alam Baka. Perempuan itu segera melompat ke 

samping, dan tubuh Nagadipa tertabrak batang pohon 

besar. Brusss...! Bluggg...! Tubuh itu pun jatuh dalam 

geram kesakitan dan kemarahan.

"Bangun! Lekas bangun!" sentak Putri Alam Baka 

kepada Nagadipa.

Dengan perasaan masih pusing, Nagadipa pun 

berusaha untuk bangkit.

"Lemah sekali kau! Baru menghadapi jurus begitu 

saja sudah sempoyongan seperti orang mabuk!"

Pendekar Mabuk sengaja melontarkan ejekan, 

"Bawalah dia pergi. Aku yakin, dia tak tahu arah pulang 

ke rumahnya, Putri Alam Baka!"

Perempuan itu menggeram marah karena bekas 

suaminya yang dibanggakan itu dihina oleh Suto. Maka, 

sambil mencabut serulingnya perempuan itu berkata,

"Jangan merasa bangga dengan ilmumu itu, Suto! 

Tandingilah seruling saktiku ini jika kau berilmu tinggi!"

Tuiiit...! Tulalit, tulalit, tulalit, tuiiii...!

Seruling ditiup dengan suara lengking tinggi, 

iramanya tak pasti. Kalau tidak buru-buru Suto menutup 

telinganya dengan kedua tangan, maka gendang 

telinganya pasti akan pecah.

Suara seruling itu ternyata merupakan suara tenaga 

dalam yang merayap melalui gelombang nada seruling. 

Bukan hanya membuat gendang telinga pecah, 

melainkan juga membuat hidung Suto mulai berdarah. 

Tubuhnya limbung karena menahan rasa sakit di setiap 

lubang yang ada pada tubuhnya, termasuk pada 

mulutnya.

Tetapi anehnya, Nagadipa tidak merasakan sakit 

sedikit pun walau ia tidak menutup telinganya. Ia bahkan 

berdiri di samping Putri Alam Baka dan memperhatikan

Pendekar Mabuk sempoyongan sambil menggeram 

kesakitan. Darahnya makin banyak keluar dari hidung.

"Bunyikan terus serulingmu biar aku yang 

menyelesaikannya sekarang juga! Hiaaat...!" 

Kedua tangan Nagadipa terangkat dengan gemetar. 

Setiap kuku tangannya memercikkan bunga api warna 

biru, bagai tali-tali menyala yang berkeliaran 

mengelilingi kuku ke kuku, Pendekar Mabuk tak bisa 

bersiap menghadapi pukulan Nagadipa, karena 

tangannya mendekap lubang telinga kuat-kuat. Hanya 

saja, ia masih bisa melihat kelebatan kedua tangan 

Nagadipa yang mirip gerakan orang memercikkan 

tangan basahnya. 

Craaat...! 

Berkilap sinar biru yang menyerupai benang-benang 

menyala itu. Melesat sinar itu ke arah Suto. Dengan 

cepat kaki Suto menjejak ke tanah dan melompat lima 

langkah ke samping kanannya. Brukk...! Ia jatuh di sana 

dan melompat lima langkah ke samping kanannya. 

Brukkk...! Ia jatuh di sana sambil berguling dan tetap 

mendekap telinga.

Bleger...! 

Suara ledakan menggema keras akibat cahaya biru 

dari kuku-kuku Nagadipa itu mengenai sebatang pohon 

yang tadi ditumbangkan oleh Pendekar Mabuk. Pohon 

itu pecah menjadi serpihan-serpihan kecil tak berbentuk 

sedikit pun.

Tulalit, tuiiit... tuiit... tulaliiiit... tuiit...! 

Seruling semakin nyaring. Kepala Pendekar Mabuk

bagaikan mau pecah rasanya. Ia menahan tangisnya 

kuat-kuat untuk menutup telinga agar tak ditembus suara 

seruling itu. Sementara darah sudah mulai banyak keluar 

dari lubang hidung, sudut mata dan mulut. Ia terpisah 

dari bumbung tuaknya, sehingga ia tidak bisa

meggunakan bumbung itu untuk menangkis atau 

melawan serangan Nagadipa dan Putri Alam Baka. 

Pendekar Mabuk berdiri dengan lututnya sambil 

mulutnya ternganga menahan rasa sakit di kepala. Pada 

waktu itu ia melihat Nagadipa melepas tudungnya, dan 

melingkari tudung itu dengan jari tangannya. Maka, 

tudung itu tersebut menjadi menyala biru.

"Mampuslah kau sekarang, murid sinting! Hiaaat...!" 

Nagadipa melemparkan tudung itu ke arah Pendekar 

Mabuk. Wusss...! 

Suto Sinting yang dalam keadaan tak bisa 

menghindar dan menangkis serangan itu akhirnya 

menyentakkan napasnya dari mulut.

"Hahhh...!"

Wuuuoosss...!

Terlepaslah badai topan yang begitu mengganas 

menyerang Nagadipa dan Putri Alam Baka. Sentakan 

napas Pendekar Mabuk itu tak seberapa keras, tapi telah 

membuat tubuh Nagadipa terlempar jauh, lebih dari 

sepuluh langkah, sedangkan Putri Alam Baka terlempar

lebih jauh, bahkan sampai terseret-seret dan berdarah. 

Pohon besar meliuk nyaris tumbang. Sedangkan pohon 

yang berukuran sedang telah rubuh ke tanah. Beberapa 

pohon berukuran satu pelukan tangan lebih sedikit,

tumbang dengan akarnya terangkat naik, bahkan terseret 

ke mana-mana, menghantam apa saja yang ada hingga 

dahannya menjadi retak, patah tak karuan.

Gerakan pohon yang patah itu menghantam pula 

tubuh Nagadipa beberapa kali. Orang itu berusaha 

berpegangan pada salah satu akar pohon yang tumbang.

Tapi karena kuatnya pegangan, pohon itu justru ikut

terseret menjauhi Suto. Akhirnya pegangan tangan itu 

terlepas, Nagadipa terguling-guling. Tudungnya entah 

ada mana. Sedangkan Putri Alam Baka pun entah ke 

mana.

Badai topan yang datang begitu mengerikan. 

Sepertinya bumi akan terbelah, langit akan runtuh. 

Seketika itu pula kabut hitam mendung menggantung di 

angkasa. Gumpalan-gumpalan kabut itu meliuk-liuk 

bagai ada topan dahsyat di atas sana. Matahari tertutup 

oleh kabut tebal yang bergulung-gulung mengerikan. 

Suara gemuruh tak jelas dari jenis apa saja. Binatang-

binatang hutan saling berjeritan membuat suasana alam 

menjadi semakin gaduh dan riuh. 

Beberapa saat kemudian, badai menjadi reda. Sedikit 

demi sedikit kabut hitam di angkasa itu menyisih, 

cahaya matahari kembali tampak menyinari bumi. Suara 

gemuruh gaduh pun mulai reda. Suto berdiri dengan 

mata terbelalak tak berkedip. Ia sama sekali tak 

menyangka kalau sentakan napasnya menjadi 

sedemikian dahsyat dan mengerikan. Bumi seperti habis 

dilanda kiamat setempat. Bahkan Suto melihat tanah 

yang longsor pada sebuah lereng. Ada yang terbongkah

dari keadaan aslinya. Batu-batu yang semula terpendam 

di tanah dan hanya muncul di permukaan sedikit itu juga 

ada yang terpental keluar dan menggelinding jauh dari

tempat awalnya. Entah berapa yang tumbang dan rusak 

berat akibat badai dahsyat tadi. Bahkan pohon besar pun 

sampai sekarang masih meliuk dan tak bisa kembali

tegak dari posisinya semula.

"Pusaka Tuak Setan...?!" gumam Suto menjadi tegang 

dan ngeri sendiri. "Aku telah menghempaskan napasku, 

dan napas itu adalah napas Tuak Setan! Oh, mengerikan 

sekali?! Lantas bagaimana nasib Nagadipa dan Putri 

Alam Baka...?! Di mana mereka?!"

*

* *

5

PUTRI Alam Baka ditemukan oleh Maharani dalam 

keadaan sangat menyedihkan. Maharani, satu dari 

beberapa orang yang lolos dalam peristiwa 'Murka Sang 

Nyai' itu, baru saja tiba dari Pulau Hantu untuk menemui 

si Mawar Hitam, tokoh sesat yang sebetulnya sudah 

tidak ingin turun ke rimba persilatan kecuali berhadapan 

dengan Bidadari Jalang. 

Maharani sungguh terkejut dan menjadi berang 

melihat teman seperguruannya dalam keadaan terkoyak-

koyak sekujur tubuhnya. Mata kakinya remuk karena 

terhimpit batu besar, serulingnya pecah dalam 

genggaman sendiri, darah membungkus seluruh bagian

tubuh Putri Alam Baka, hingga hampir-hampir wajahnya 

tak dikenalinya lagi. Jika tak melihat seruling pecah di 

tangannya, Maharani tak dapat mengetahui siapa tubuh 

yang terkapar berlumur darah itu. 

"Sumbi!" panggil Maharani menyebut nama asli Putri 

Alam Baka. "Apa yang terjadi si sini, Sumbi? Mengapa

jadi begini?!"

Putri Alam Baka masih punya sisa napas walau 

sejengkal. Matanya yang kiri nyaris keluar dari 

rongganya, namun mata yang kanan masih bisa dipakai 

untuk melihat walau hanya terbuka kecil sekali. Bibirnya 

yang hancur karena benturan dengan benda keras 

beberapa kali itu mencoba bergerak-gerak untuk bicara.

"Oh, Sumbi... tak bisakah kau bicara lebih jelas lagi?" 

Maharani terpaksa dekatkan telinga ke mulut Putri Alam 

Baka

Samar-samar terdengar Putri Alam Baka ucapkan

kata,

"Su... to...!"

Setelah itu ada napas kecil yang terlepas dari mulut 

Putri Alam Baka. Lepasnya napas itu bersamaan dengan 

tergoleknya kepala ke samping. Lemas dan lunglai. 

Setelah itu, tak ada lagi gerakan maupun suara dari Putri 

Alam Baka.

"Sumbi!" seru Maharani menyentak dalam nada 

tegang. "Sumbi! Apa maksudmu dengan Suto?! 

Jawablah, Sumbi! Sumbiii...!"

Maharani guncangkan tubuh berlumur darah itu. Tapi 

si pemilik tubuh tetap diam membisu tanpa napas sedikit

pun. Lalu, meraunglah tangis Maharani begitu 

menyadari temannya sudah tidak bernyawa lagi.

Hati Maharani diguncang duka dan kemarahan yang 

begitu hebat. Tak tahu pasti apa penyebab kematian satu-

satunya teman yang tersisa dari perguruannya, Maharani 

mengamuk tanpa arah dan sasaran. Hanya batang-batang 

pohon, bongkahan-bongkahan batu, dan benda-benda di

sekitarnya yang menjadi sasaran kemarahan Maharani. 

Benda-benda itu dihancurkan dengan pukulan dan 

tendangan bertenaga tinggi. Senjata kipasnya pun ikut 

ambil bagian menghantam ke sana-sini hingga timbulkan 

suara ledakan yang menggetarkan tanah sekitarnya.

"Hentikan! Hentikan!" seru seseorang dengan suara 

gemetar.

Maharani cepat palingkan wajah dengan napas 

terengah-engah. Ia segera kenali orang yang tanpa 

tudung lagi namun masih berpakaian abu-abu itu. 

Pakaiannya compang-camping bagai habis dikoyak 

cakar beruang. Kulit tubuhnya pun terluka banyak, 

seolah habis dirobek-robek oleh dua ekor harimau 

jantan. Orang berkumis dan berambut banyak uban itu 

tak lain adalah Nagadipa.

Maharani tertegun melihat keadaan Nagadipa seperti 

itu. Setahunya, Nagadipa orang berilmu tinggi yang 

jarang bisa dilukai oleh lawan. Tapi mengapa sekarang 

keadaan lukanya sedemikian parah? Maka, Maharani 

pun segera ajukan tanya kepada Nagadipa yang berdiri 

dengan bersandarkan tubuh pada pohon yang masih 

tegak berdiri.

"Apa yang terjadi, Nagadipa?! Mengapa bumi 

bagaikan habis dilanda banjir dan badai yang buas 

begini? Mengapa Putri Alam Baka menderita luka 

sebegitu parahnya hingga tak bernyawa lagi?!"

"Bawalah aku pergi ke tempat yang aman. Lekas! 

Nanti kuceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Aku 

butuh tempat aman untuk mengobati luka-lukaku ini, 

Maharani!" 

"Nagadipa...." 

"Bawalah aku! Tenagaku tak kuat lagi untuk 

bertahan!"

Tak ada pilihan lain buat Maharani. Ia harus segera 

membawa Nagadipa pergi. Tempat yang dipilihnya juga 

tak ada yang lain kecuali ke tempat asal Nagadipa, yaitu 

sebuah pulau yang dikenal dengan nama Pulau Bangkai.

Pendekar Mabuk melihat kelebatan Maharani yang 

membawa pergi Nagadipa. Tapi Pendekar Mabuk 

sengaja tidak mengejarnya. Ia masih ingin memeriksa 

keadaan alam sekitarnya, sejauh mana bencana yang 

ditimbulkan oleh kekuatan dahsyat dari napas Tuak 

Setan.

Sebenarnya Pendekar Mabuk sudah sering 

mendengar akibat yang ditimbulkan dari napas Tuak 

Setan. Tapi untuk kali ini Suto benar-benar merasa heran 

dan juga menyesal. Karena pada waktu ia sentakkan 

napas dari mulutnya, ia tidak bermaksud melepaskan 

Pusaka Tuak Setan dari dalam napasnya itu. Ia 

menyentakkan napas karena ingin membuang rasa sakit 

yang tak tertahankan lagi, yang ditimbulkan akibat suara

seruling Putri Alam Baka itu. 

Terngiang kembali ucapan gurunya, si Gila Tuak, 

saat membicarakan tentang Pusaka Tuak Setan, 

"Orang yang menelan atau meminum Pusaka Tuak 

Setan, akan mempunyai napas yang luar biasa 

dahsyatnya. Sedikit napas tersentak dari mulut orang 

yang diliputi kemarahan, maka badai topan yang amat 

dahsyat akan menghembus keluar dan memporak-

porandakan alam sekitarnya. Karena itu, aku tak berani 

menggunakan Pusaka Tuak Setan, karena aku masih 

sering dihinggapi amarah yang walau dipendam tetap 

akan menghasilkan napas badai yang dapat membawa 

korban tak bersalah...."

Korban tak bersalah memang ada. Bukan harus dalam 

wujud manusia, tapi hancurnya sebidang tanah hutan 

juga bisa digolongkan sebagai korban tak bersalah. 

Binatang-binatang hutan yang mati tergencet pohon, 

atau pecah terbentur benda keras dengan kekuatan 

tinggi, juga sebagai korban tak bersalah.

Pendekar Mabuk bergidik sendiri melihat seekor babi 

hutan pecah kepalanya di dekat bongkahan batu besar. 

Kulit babi hutan itu tercabik-cabik terkelupas dari 

tubuhnya. Pohon-pohon hutan bagaikan rata dengan 

tanah. Ambruk tak tertolong lagi. Akar-akar pohon 

terpental keluar dari dalam bumi. Persawahan pun 

hancur lebur tak berbentuk barisan tanaman padi lagi.

Badai yang ganas itu untung tak sampai memporak-

porandakan sebuah desa yang letaknya jauh dari lereng 

bukit itu. Namun dari tempat Suto berdiri, ia melihat

sebatang pohon kelapa tumbang dan beberapa genteng 

melorot dari atap. Suto pun segera lari ke desa untuk 

melihat lebih jelas lagi. 

Ternyata memang tidak ada korban manusia di sana

kecuali dua ekor kerbau yang sedang dilepas di tepian

sawah dekat tanah lapang. Dua ekor kerbau itu masing-

masing dalam keadaan kepala pecah dan tubuh terkoyak-

koyak. Dua ekor kerbau itu mati dalam keadaan 

telentang, keempat kakinya mengeras ke atas. 

Dari percakapan orang-orang desa itu terpetik satu 

kesimpulan dalam benak Suto, bahwa mereka hanya 

mengalami rasa takut yang begitu hebat. Bahkan ada 

yang menyangka langit akan rubuh dan bumi akan 

mengalami kiamat. Kerugian yang ditimbulkan dan 

diderita oleh penduduk desa itu tak seberapa banyak, 

kecuali pemilik dua ekor kerbau yang genteng atap 

rumahnya hampir melorot semua. Kepada pemilik dua 

ekor kerbau itu, Suto memberikan sejumlah uang 

sebagai ganti ruginya.

"Uang untuk apa itu, Anak Muda?"

"Terimalah saja, Pak. Kurasa cukup untuk membeli 

dua ekor kerbau dan membenahi genteng rumahmu."

Pendekar Mabuk memang tidak jelaskan apa yang 

terjadi dan apa yang menjadi penyesalannya. Mereka 

belum tentu mau percaya dengan omongan Suto Sinting. 

Buatnya yang penting sudah menebus penyesalan itu 

dengan memberikan uang ganti rugi secukupnya kepada 

korban tak bersalah.

"Mudah-mudahan jangan lagi aku menggunakan

napas Tuak Setan-ku ini. Aku harus bisa mengendalikan 

amarahku dan menahan diri untuk tidak melampiaskan 

amarah dengan hembusan napas. Kalau tidak sangat 

terpaksa dan tak punya jalan lain, jangan lagi kugunakan 

napas Tuak Setan-ku ini! Kasihan mereka yang tak 

bersalah menjadi korban keganasan napas Tuak Setan!" 

pikir Suto sambil langkahkan kaki meninggalkan desa 

itu. Ia ingin memeriksa alam di sisi lain, barangkali ada 

korban lain yang menderita akibat amukan badai dahsyat 

dari napas Tuak Setan-nya itu.

Tiba di pinggiran sungai bertanggul tinggi, langkah 

Suto terhenti seketika karena anak panah yang meluncur 

cepat dan jatuh menancap tanah di depan langkahnya. 

Secara gerak naluri Pendekar Mabuk melenting ke atas 

dan bersalto mundur satu kali. Kemudian setelah 

sepasang kakinya tegak berdiri di atas sebuah batu besar 

yang tingginya dua depa dari tanah, Suto memandang 

arah datangnya anak panah itu. Ternyata dari atas 

tanggul, dan diluncurkan dari busur seorang lelaki kerdil 

berambut jarang. Bagian tengah kepalanya tak 

ditumbuhi rambut sedikit pun. Botak polos dan 

mengkilap. Tapi dari bagian atas telinga memutar 

sampai di telinga satunya lagi ditumbuhi rambut sedikit 

lebat. Panjangnya kurang dari batas pundak. Karena tak 

terlalu lebat, rambut itu seolah-olah bisa dihitung 

jumlahnya. 

Lelaki kerdil yang tingginya sebatas perut Suto itu 

melompat dengan gerakan lincah dan ringan. Dari atas 

tanggul ia bersalto turun dua kali. Kejap selanjutnya ia

sudah berdiri di depan Suto. Kepalanya mendongak 

keatas, karena di samping Pendekar Mabuk lebih tinggi, 

juga karena keadaan Pendekar Mabuk saat itu di atas 

batu tinggi. Ia berseru dengan tangan masih 

menggenggam busur panah, sedangkan tempat menaruh 

anak panah lainnya ada di punggung. Tempat menaruh 

anak panah itu terbuat dari kulit berbentuk kantung 

panjang warna hitam kecoklatan, mempunyai tali pengait 

yang membuat anak panahnya tidak jatuh berantakan 

walau dipakai jungkir balik di udara.

"Kaukah yang... yang... namanya Sut... Suto?!" 

serunya sambil menyunggingkan senyum yang lebih 

tepat dikatakan sebagai seringai yang konyol.

Suto melompat turun dari atas batu. Wuuttt...! Kejap 

berikut ia sudah berada di depan lelaki kerdil yang 

bertampang tua itu. Dilihat dari ketuaan wajahnya, Suto 

menduga lelaki itu berusia antara lima puluh tahun lebih, 

namun belum sampai enam puluh tahun.

Cukup waspada Suto memperhatikan gerak-gerik 

orang aneh itu. Yang diperhatikan ternyata tidak 

menimbulkan kesan bermusuhan. Orang itu mencabut 

anak panahnya yang tadi menancap di tanah sambil 

berlari-lari diiringi bibir yang cengar-cengir. Kemudian 

kembali menemui Suto setelah mendapatkan anak

panahnya.

"Siapa kau, Pak Tua?"

"He he he... ja... jawab du... dulu pertanyaanku! 

Kau... kau yang bernama Sut... Sut... Suto?"

"Ya. Aku Suto, murid sinting si Gila Tuak!" jawab

Suto dengan tegas sambil tetap pandangi orang kerdil 

berpakaian serba putih dari bahan kulit binatang berbulu 

putih. Bentuk celananya pendek, bentuk bajunya mirip 

rompi panjang. Semuanya dari kulit binatang, yang 

menurut dugaan Suto adalah kulit beruang putih. Di 

pinggang orang itu terselip dua pisau bersarung yang 

panjangnya satu setengah jengkal. Masing-masing ada di 

pinggang kiri dan kanan.

"Sen... senang sekali aku bis... bisa bertemu 

denganmu, Suto!"

Dalam hati Pendekar Mabuk membatin, "Orang ini 

bicaranya tersendat-sendat. Apakah karena dia gugup 

bertemu denganku atau karena memang begitulah lagak 

bicaranya?"

Orang itu segera ucapkan kata lagi, "Nam... nam... 

namaku... Gatra Laksana, tap... tapi julukanku... Dewa 

Racun!"

Pendekar Mabuk akhirnya tertawa seperti orang 

menggumam, ia merasa geli sendiri melihat Dewa Racun 

bicaranya seperti orang tertelan biji kedondong. Dan 

melihat Suto tertawa, Dewa Racun kerutkan dahi dalam 

tatap matanya yang sedikit menyipit itu.

"Ken... ken... kenapa kamu ter... ter... tertawa?"

"Aku menertawakan diriku sendiri. Alangkah 

bodohnya aku ini, tak bisa mengenali tokoh tua yang 

berjuluk Dewa Racun," jawab Suto mengalihkan 

anggapan, walau sebenarnya ia memang tak kenal dan 

belum pernah mendengar nama Dewa Racun.

Mendengar jawaban itu, Dewa Racun tampaknya tak

jadi tersinggung, ia segera ucapkan kata gagapnya, 

"Kal... kal... kalau begitu, kau termasuk or... orang 

beruntung." 

"Mengapa beruntung?"

"Kar... karena kau sekarang sudah bisa mengenal dan 

berhadapan langsung de... dengan... Dewa Racun!" 

"Apa hebatnya orang ini sehingga aku dianggap 

beruntung bisa berhadapan dengan Dewa Racun?!" pikir 

Suto.

Dewa Racun berkata lagi, "Nam... namamu juga 

cuk... cuk... cuk...." 

"Cukur?!" sahut Suto

"Bukan. Cuk... cukup dikenal di kalangan rim... rimba 

persilatan. Ak... aku dengar kau murid si Gila Tuak yang 

cuk... cukup terkenal itu. Dan... dan... aku dengar kau 

cari-cari pe... pe..." 

"Penyamun?!"

"Bukan. Perempuan! Ya, aku dengar kau cari-cari 

pe... perempuan yang ber... bernama Dyah Sariningrum."

Tersentak kaget Pendekar Mabuk mendengarnya. 

Senyumnya hilang seketika begitu mendengar nama 

Dyah Sariningrum disebutkan oleh Dewa Racun. Ia maju 

setindak dan rendahkan badan, setengah jongkok di 

depan Dewa Racun agar wajahnya sejajar dengan wajah

si kerdil itu.

"Apakah kau mengenal Dyah Sariningrum?" 

"Ya. Ak... aku kenal nama itu," jawab Dewa Racun. 

"Tap... tap... tapi aku tidak tahu siapa dia dan di mana

dia."

"Dari siapa kau tahu nama Dyah Sariningrum?"

"Dar... dar... dar... dar...."

"Cepat katakan! Jangan hanya main dar-daran saja?!" 

sentak Suto tak sabar. 

"Maksudku, dar... dari mulut Peramal Pikun!"

Pendekar Mabuk tertegun sejenak, ia berdiri dari 

jongkoknya. Terbayang wajah bermata cekung bertubuh 

kurus kering milik Peramal Pikun. Suto hampir saja 

melupakan seraut wajah pikun. Dialah orang yang 

menjadi kunci tentang rahasia nama Dyah Sariningrum. 

Tapi apa perlunya Peramal Pikun memberitahukan 

kepada Dewa Racun?

"Apa maksudmu menemuiku, Dewa Racun?" tanya 

Suto. "Bukankah kau tidak mengenal siapa Dyah 

Sariningrum kekasihku itu, dan tidak tahu di mana dia 

berada?"

"Ya. Tap... tap.... Tapi aku disuruh Peramal Pikun 

untuk mencarimu. Dia... dia dalam keadaan sakit parah 

kar... karena... sebutkan nama Dyah Sariningrum di 

depanku." 

Pendekar Mabuk kerutkan dahinya tajam-tajam, ia 

dekatkan kembali wajahnya kepada Dewa Racun dengan 

bungkukkan badan.

"Dia sakit parah karena sebutkan nama Dyah 

Sariningrum?"

"Ya. Dia... tak boleh sebutkan nama itu, bah... bahkan 

mendengar nama itu pun dia tak... tak boleh. Telinganya 

akan ber... ber...." 

"Berkumis?"

"Bukan. Akan ber... berdarah jika mendengar nam... 

nama Dyah Sariningrum. Sewaktu ia lup... lupa sebutkan 

nama itu di depanku, ia langsung meng... meng...."

"Menghilang?!"

"Bukan, ia langsung mengeluarkan darah dari mul... 

mulutnya. Dia langsung ter... ter... ter... terluka dalam.

Dia but... butuh bantuanmu secepatnya, Suto!"

"Aneh! Mengapa dia jadi terluka dan berdarah 

begitu? Apa hubungannya antara nama Dyah 

Sariningrum lengan lukanya itu?" 

"Entahlah! Yang... yang... yang jelas dia minta kau 

segera da... datang menemuinya!"

Suto menarik napas panjang, ia ambil bumbung tuak, 

dan menenggak tuaknya beberapa teguk. Dewa Racun 

hanya memperhatikan dengan senyum-senyum tak ada 

manisnya sama sekali, tapi tidak berkesan bermusuhan.

"Apa hubunganmu dengan Peramal Pikun?" tanya 

Pendekar Mabuk mengawali langkahnya mendaki 

tanggul sungai yang tinggi itu.

"Hanya sebagai te... te... tetangga, eh... bukan! Hanya 

sebagai teman biasa. Teman baik. Dul... dulu dia pernah 

tolong aku dan aku pun pernah selamatkan nyawanya 

dari bahaya racun. Sejak itu ka... kami mengikat tali 

persahabatan yang cuk... cuk... cukup baik."

"Hmmm...!" Pendekar Mabuk menggumam sambil 

manggut-manggut.

Terbayang lagi dalam benak Suto Sinting wajah 

seorang perempuan yang pertama kali hadir di alam 

semadinya itu. (Baca serial Pendekar Mabuk dalam

episode: "Pusaka Tuak Setan"). Wajah cantik yang 

muncul di alam semadinya itu membuat Suto 

mencucurkan air mata berdarah. Cucuran air mata 

berdarah itu tidak disadari olehnya, namun dipahami 

oleh gurunya, si Gila Tuak. Sejak itu, wajah yang 

mengaku bernama Dyah Sariningrum itu sering hadir di 

alam mimpi Pendekar Mabuk dan membuat Pendekar 

Mabuk sering dicekam rindu. Itulah sebabnya Suto tak 

bisa menerima cinta Betari Ayu, karena ia sudah telanjur 

jatuh cinta pada seraut wajah milik Dyah Sariningrum. 

Sayang sekali si Gila Tuak juga tidak menjelaskan, siapa 

perempuan itu dan di mana letak persinggahannya. Si 

Gila Tuak hanya mengatakan, bahwa wajah yang hadir 

di alam semadinya Suto Sinting itu adalah calon jodoh 

Suto.

Itulah sebabnya Pendekar Mabuk memburu seraut 

wajah cantik bernama Dyah Sariningrum dengan seribu 

godaan yang datang dari perempuan-perempuan cantik 

lainnya. Perempuan-perempuan itu terang-terangan jatuh 

cinta kepada Suto sampai siap korbankan nyawa, tapi 

Suto tetap tak bisa menerima cinta dari perempuan

Sikap Suto Sinting yang menutup diri terhadap cinta 

perempuan lain itulah yang membuat mereka jadi 

kecewa. Yang dulunya cinta kepada Suto, sekarang 

berubah menjadi benci. Tetapi Pendekar Mabuk tidak 

mengetahui adanya perubahan sikap mereka. Suto 

Sinting tidak tahu bahwa jiwanya sedang dalam 

ancaman tiga perempuan patah hati, yaitu Peri Malam, 

Selendang Kubur, dan Perawan Sesat.

Satu dari tiga perempuan patah hati itu sengaja 

menghadang langkah Suto. Sebuah pukulan tenaga 

dalam dilancarkan dari jarak jauh. Pukulan itu hanya 

sebagai pengganggu langkah saja, tidak bermaksud 

menghabisi nyawa Pendekar Mabuk saat itu juga.

Pukulan tersebut segera dihadang dengan kelebatan 

tubuh kerdil Dewa Racun yang melompat cepat di depan 

Suto. Lalu dengan sentakkan tangan kirinya, Dewa 

Racun menghantam kilatan cahaya hijau yang menuju ke 

arah Suto.

Wuugh...! Duub...! Kedua tenaga dalam itu beradu di 

udara.

Blarr...! Meledaklah benturan tenaga dalam tersebut, 

membuat Dewa Racun terpental ke belakang membentur 

Suto, membuat keduanya berjumpalitan di tanah.

"Apa-apaan kau ini, Dewa Racun!" sentak Pendekar 

Mabuk sedikit dongkol karena matanya hampir tercolok 

busur di tangan Dewa Racun.

"Ada yang... yang... yang ingin menghantammu dari 

tempat jauh!"

"Aku tahu. Tapi aku bisa atasi sendiri. Tak perlu kau 

yang menghalangi pukulan itu."

"Ak... aku... cuma mau selamatkan kam... kam...."

"Kambing?!" sentak Suto. 

"Kamu!" Dewa Racun ganti membentak. Keduanya 

segera tegak berdiri, karena dari atas pohon meluncur 

sesosok tubuh berambut acak-acakan. Siapa lagi dia 

kalau bukan Perawan Sesat yang bertampang liar dan 

beringas itu.

Dewa Racun segera berkata kepada Pendekar Mabuk, 

"Ad... ada... ada perempuan can... can... can..."

"Cantengan?!" sergah Suto Sinting menebak.

"Hmmm... iya," jawab Dewa Racun. "Perempuan 

cantik yang mungkin berpenyakit cantengan, 

menghadang langkah kita. Ap... apa maksudnya ak... aku 

tidak tahu. Sumpah, aku tidak tahu!"

"Siapa yang menuduhmu tahu maksudnya? Tak perlu 

pakai sumpah segala!" sentak Suto agak dongkol dengan 

sikap gagapnya Dewa Racun. Kemudian, Pendekar 

Mabuk maju setindak dan berkata kepada Perawan 

Sesat.

"Apa maksudmu menghadang langkahku, Perawan 

Sesat?!"

Dengan mata tajam bersikap bermusuhan, Perawan 

Sesat menjawab,

"Aku hanya ingatkan kamu, dua hari lagi purnama 

tiba!"

"Apa maksudmu dengan purnama tiba?"

"Kau punya janji pertarungan dengan Manusia 

Sontoloyo yang bernama Dirgo Mukti itu! Apakah kau 

masih ingat dengan pertarungan yang akan terjadi di 

Bukit Jagal itu?"

Pendekar Mabuk tertawa berkesan meremehkan. "Ya, 

ya... sekarang aku ingat. Hampir saja aku lupa kalau aku 

mendapat tantangan dari Dirgo Mukti. Tapi... 

sebenarnya hal itu tidak perlu terjadi. Masalahnya tidak

penting dipertarungkan!"

"Buat Dirgo Mukti kau punya urusan dengannya yang

amat penting! Menentukan siapa yang berhak menerima 

cinta Peri Malam, itu adalah masalah yang sangat 

penting buat Dirgo Mukti!"

Sekali lagi Suto lontarkan tawa meremehkan. "Bilang 

kepada Dirgo, suruh dia ambil perempuan itu. Aku tak

akan mempertahankannya!"

"Hmm... kau takut menghadapi tantangan itu 

rupanya."

"Ya. Aku memang takut. Takut membunuhnya. 

Kasihan dia kalau harus mati sia-sia di tanganku. 

Kasihan tanganku kalau harus membunuh orang yang 

tidak punya masalah penting denganku!"

"Hadapilah dia kalau kau memang murid sinting si 

Gila Tuak! Aku hanya mengingatkan saat 

pertarunganmu itu, Suto!" 

"Aku tidak akan hadir!"

"Harus hadir! Jangan kecewakan musuhmu, Suto! 

Jangan jatuhkan martabat gurumu yang kesohor sebagai 

orang sakti di papan teratas!" bujuk Perawan Sesat.

"Pertarungan itu tidak penting, Perawan Sesat! Aku 

tidak mau terlibat urusan yang sangat sepele!"

"Kalau begitu, lepaskan gelar kependekaranmu biar 

Dirgo Mukti yang menyandangnya!"

Suto hanya tersenyum heran sambil geleng-gelengkan 

kepala, ia ucapkan kata pelan tapi penuh tatap pesona 

yang membuat hati Perawan Sesat berdebar keras. 

"Mengapa kau harus mendesakku bertarung melawan 

Dirgo Mukti? Apakah kau punya dendam dengan Dirgo 

Mukti dan ingin meminjam tanganku untuk

membunuhnya? Apakah kau tak mampu membunuh 

Dirgo Mukti sendiri?" 

"Jangan picik otakmu, Suto Sinting! Ini bukan soal 

dendam. Ini soal harga diri, antara harga dirimu dengan 

harga diri Dirgo Mukti!"

"Tidak. Aku tetap tidak mau hadir dalam pertarungan 

nanti!"

"Kau kalah!" 

"Biarlah dianggap kalah! Tapi aku punya 

kemenangan sendiri di balik kekalahan itu!" kata 

Pendekar Mabuk dengan tetap tenang.

"Kau harus menghadapinya, Suto!" bentak Perawan 

Sesat yang merasa jengkel karena bujukannya tidak 

berhasil. 

Akhirnya, Dewa Racun ikut angkat bicara, ia berkata 

kepada Perawan Sesat sambil bertolak pinggang.

"Aku yang akan mewakili Suto! Aku yang akan 

menghadapi Dirgo Mukti itu!"

"Hmmm...!" Perawan Sesat mencibir sinis, ia sengaja 

tidak kasih tanggapan terhadap kata-kata orang kerdil 

itu. Ia segera pergi setelah berkata, "Jangan kecewakan 

orang-orang yang mencintai dan mengagumi 

kehebatanmu, Suto. Kami ingin menyaksikan kehebatan 

orang yang kami puji-puji itu!" Lalu, ia melesat pergi 

dengan ilmu siluman.

*

* *

6

SUNGGUH tak habis pikir Pendekar Mabuk terhadap 

kemunculan Perawan Sesat. Mengapa perempuan itu 

begitu besar harapannya agar Suto melaksanakan 

pertarungan dengan Dirgo Mukti di Bukit Jagal? Pasti 

perempuan itu mempunyai satu alasan dan tujuan lain 

yang tersembunyi. Suto merasa bukan hanya ingin 

ditonton dan dipuji kehebatan pertarungannya nanti, tapi 

karena ada sesuatu yang ingin dilakukan oleh Perawan 

Sesat. Ia merasa dirinya akan dijadikan alat oleh 

Perawan Sesat, yaitu alat pembantai Dirgo Mukti.

Satu hal lagi yang membuat Pendekar Mabuk heran 

adalah pembelaan yang dilakukan oleh Dewa Racun, 

baru saja mereka saling kenal, mengapa Dewa Racun 

melakukan pembelaan sebesar itu. Saat pukulan tenaga 

dalam Perawan Sesat hendak menyerang Suto, Dewa 

Racun cepat ambil sikap menahan dan menghancurkan 

pukulan tersebut. Mestinya hal itu tidak perlu ia lakukan. 

Pada saat Suto ngotot tidak mau melayani tantangan 

Dirgo Mukti, tiba-tiba Dewa Racun menyediakan diri 

sebagai pengganti Suto dalam pertarungan nanti. 

Mestinya Dewa Racun tak perlu ikut campur, toh dia 

tidak tahu duduk perkaranya tentang pertarungan dan 

tantangan Dirgo Mukti Itu.

Suto sendiri tidak tahu, bahwa sebenarnya Perawan 

Sesat hanya bertugas mengingatkan saat pertarungan 

yang sebentar lagi akan tiba itu. Tiga perempuan patah 

hati telah menugaskan Perawan Sesat untuk

mengingatkan Suto, sementara Peri Malam dan

Selendang Kubur bertugas memberi semangat pada 

Dirgo Mukti. Tetapi, agaknya Perawan Sesat kurang 

pintar main siasat. Bujukannya terlihat jelas melalui 

desakan yang bersifat memaksa, sehingga Suto tetap 

berkeputusan untuk tidak melayani tantangan Dirgo 

Mukti.

Sementara itu di tempat lain, Peri Malam dan 

Selendang Kubur tetap memberi bujukan agar Dirgo 

Mukti bersemangat melawan Suto. Sebelumnya, saat 

mereka bertiga menunggu kemunculan Dirgo Mukti dan 

Datuk Marah Gadai dari dasar telaga, mereka sudah atur 

siasat seperti itu.

Mereka sudah menyangka bahwa Dirgo Mukti pasti 

bertarung melawan Datuk Marah Gadai, karena 

keduanya sama-sama menyelam ke dasar telaga mencari

Cincin Manik Intan. Tetapi tiba-tiba kedua tubuh mereka 

tersentak keluar dari dalam telaga dan masing-masing 

terlempar tak tentu arah. Air telaga bergolak begitu kuat, 

hingga sebagian airnya tumpah ke samping dan 

sekelilingnya, mengguyur tubuh tiga perempuan patah 

hati itu.

Ketiga perempuan itu berpegangan pada pohon 

karena tubuh mereka terhempas badai kencang dari arah 

wetan. Bahkan sebagian pohon di dekat telaga ada yang 

tumbang ke sana kemari. Hal itu terjadi saat Suto Sinting 

melepaskan napas Tuak Setan-nya tadi. Badai itu 

ternyata sampai pula di sekitar telaga dan menipis ke 

arah barat. 

"Pasti ada yang menggunakan ilmu kesaktian tinggi!"

seru Perawan Sesat kala itu. Ia sendiri hampir terbang 

terpental oleh hembusan angin badai yang cukup kuat 

itu. Seruan tersebut tak mendapat tanggapan dari kedua 

temannya, karena masing-masing sibuk bertahan agar 

tak ikut terbuang oleh badai keras tersebut. 

Pada waktu Dirgo Mukti dan Datuk Marah Gadai 

terlempar dari dasar telaga, sang Datuk Marah Gadai 

segera terpental bagaikan kapas tertiup angin. Mungkin 

karena tenaganya sudah sangat berkurang selama 

pertarungan dengan Dirgo Mukti yang berlanjut di dasar 

telaga, hingga ia tak mampu bertahan diri dari hembusan 

badai. Tubuhnya melayang menerabas semak berduri. 

Suaranya pun hilang dari pendengaran tiga perempuan 

patah hati itu.

Dirgo Mukti sendiri sebenarnya juga terhempas ke 

mana-mana. Mungkin akan lebih jauh terpentalnya 

dibanding Datuk Marah Gadai. Tetapi, tangan Peri 

Malam berhasil memegangi kaki Dirgo Mukti yang 

hampir terbawa terbang hembusan badai dahsyat itu. 

Sambil berpegangan pada pohon, Peri Malam 

mempertahankan tubuh Dirgo Mukti yang merayap-

rayap bagaikan buaya tanpa kaki.

"Bantu aku menahan tubuhnya!" teriak Peri Malam 

saat itu, dan Selendang Kubur pun menahan pundak 

Dirgo Mukti dengan kedua kakinya. Pundak itu tak bisa 

maju karena mendapat tahanan dua kaki dari depan, 

sedangkan kedua tangan dan pundak Selendang Kubur 

menahan diri ke salah satu batang pohon. Ia pun 

bertahan sekuat tenaga agar tidak ikut terlempar oleh

hembusan angin badai yang menggila itu.

Saat-saat berikutnya, badai itu reda. Suasana di 

sekitar telaga persis bumi yang habis mengalami kiamat, 

itulah kekuatan dahsyat dari napas Tuak Setan. Padahal 

dari tempat Pendekar Mabuk hembuskan napas itu 

sampai ke Telaga Manik Intan jaraknya cukup jauh. 

Memakan waktu setengah hari untuk berjalan menuju 

kesana. Tapi toh badai napas Tuak Setan sempat bikin 

gaduh di sekitar telaga itu.

Mereka tidak tahu, pada saat badai mengamuk di 

sekitar telaga, keadaan di tempat Suto sudah kembali 

tenang. Jadi bentuk badai itu bergulung-gulung yang 

makin lama semakin tipis gulungannya dan semakin 

pudar hembusannya. Kalau saja mereka tahu, badai 

sedahsyat itu datang dari mulut Suto, sudah pasti mereka 

urungkan niat untuk mengadukan kesaktian Dirgo Mukti 

dengan Suto. Dan karena mereka tidak tahu hal itu, maka 

mereka pun akhirnya tetap membujuk Dirgo Mukti 

untuk melaksanakan janji pertarungannya dengan Suto 

Sinting.

Waktu itu, suasana sudah reda dan tenaga mereka 

sudah pulih seperti sediakala. Dirgo Mukti berkata 

kepada Peri Malam.

"Tenagaku terkuras habis melawan Datuk Marah 

Gadai itu! Rasa-rasanya aku harus menunda pertarungan 

sampai purnama mendatang!"

"Itu sama saja kau mengakui kekalahanmu, Dirgo!

Dan berarti Suto-lah yang berhak memiliki cintaku," 

kata Peri Malam mempengaruhi pikiran Dirgo Mukti.

"O, tidak! Kau tidak akan kuserahkan kepada Suto 

Sinting! Kau harus kumiliki, Peri Malam!"

"Jika kau ingin memiliki aku, kau harus tunjukkan 

kesaktianmu di depanku dengan mengalahkan Pendekar 

Mabuk di pertarungan nanti!"

Dirgo Mukti tarik napas panjang-panjang. Matanya 

menerawang dalam satu renungan pertimbangan. Pada 

saat itu, Selendang Kubur segera angkat bicara dari 

samping kanan Dirgo Mukti,

"Aku pun bertaruh untuk dirimu, Dirgo. Kau pasti 

menang melawan Suto, dan aku siapkan hadiah untukmu 

yang sangat istimewa!"

Cepat-cepat Dirgo Mukti palingkan wajah, 

memandang Selendang Kubur dengan senyum berseri,

"Hadiah istimewa apa yang akan kau berikan padaku 

jika aku menang melawan Suto Sinting?"

Mata Selendang Kubur melirik nakal sambil ia 

berkata, "Apa yang kau harapkan dariku selama ini akan 

kuberikan padamu!"

"Betulkah?!" Dirgo Mukti kian berbinar-binar 

matanya.

"Ya. Aku hanya ingin menyerahkan tubuhku pada 

laki-laki yang benar-benar jantan dan perkasa sebagai 

seorang pendekar!"

Perawan Sesat segera lontarkan kata sambil berdiri di

depan Dirgo Mukti, memamerkan belahan dadanya, 

merenggangkan kedua kakinya dengan senyum 

menggoda.

"Rasa-rasanya aku juga perlu kasih hadiah kepada

siapa yang unggul dalam pertarungan nanti!"

"Kau...?! Kau juga akan kasih hadiah yang sama 

seperti Selendang Kubur?"

"Kurasa kau pernah merasakannya, Dirgo! Tapi yang 

tempo hari kau rasakan itu belum istimewa. Kau akan 

memperoleh yang paling istimewa jika bisa kalahkan 

Suto Sinting!"

"Oh, menyenangkan sekali...?!" si Manusia Sontoloyo 

berseri-seri dan lebih bersemangat lagi.

Peri Malam berkata kepada Perawan Sesat, "Cari

Suto, ingatkan padanya tentang pertarungan di Bukit 

Jagal, supaya dia tidak lupa, dan supaya Dirgo Mukti 

tidak kecewa atas ketidakhadirannya nanti!"

"Aku akan cari dia dan akan kuingatkan demi 

pendekar pujaan kita itu, Peri Malam!" kata Perawan 

Sesat, lalu ia cubitkan tangannya di pipi Manusia 

Sontoloyo. Setelah itu, segera tinggalkan tempat untuk 

mencari Pendekar Mabuk.

Pada saat itu, Dirgo Mukti sempat ucapkan 

kesangsiannya,

"Tapi aku belum menguasai jurus 'Cakar Naga'? 

Mana bisa aku mengalahkan dia?"

"Kau pasti punya jurus simpanan lainnya!" sahut 

Selendang Kubur. "Gunakan jurus-jurus intimu. 

Keluarkan ilmu-ilmu simpananmu. Jangan tanggung-

tanggung kalau melawan Pendekar Mabuk. Dia juga tak 

pernah tanggung-tanggung gunakan ilmunya!"

Peri Malam menimpali, "Bila perlu, gunakan pusaka 

kapakmu itu! Aku yakin Pendekar Mabuk tak akan

mampu menandingi kesaktian kapakmu itu!" 

Dirgo Mukti semakin sombong hatinya. Kepalanya 

bagaikan bengkak mendapat sanjungan seperti itu. Lalu, 

ia cabut senjata kapaknya dan ia amat-amati beberapa 

saat. Kapak bermata dua itu mempunyai ujung mata 

tombak yang bisa melesat memburu sasaran dan tumbuh 

lagi mata tombak lainnya dari dalam gagang. Kapak itu 

mempunyai gagang yang bisa ditarik dan menjadi rantai 

sehingga bisa dipakai menebas leher dari jarak dua 

tindak atau tiga langkah di depannya.

"Seharusnya Datuk Marah Gadai sudah kuhabisi 

nyawanya pakai kapakku ini! Kenapa aku jadi lupa pada 

pusaka sendiri?!"

"Itu tak perlu. Melawan Datuk Marah Gadai tidak 

harus pakai kapak pusakamu! Tidak terhormat rasanya 

jika kapak itu kau gunakan untuk melawan Datuk Marah 

Gadai. Akan lebih terhormat lagi jika kau gunakan untuk 

membunuh Suto Sinting! Kurasa hanya kapak ini yang

bisa menandingi semua ilmu Pendekar Mabuk!" kata

Peri Malam yang membuat hati Dirgo Mukti menjadi 

semakin berbunga-bunga. 

"Kurasa kau perlu istirahat banyak, Dirgo," kata 

Selendang Kubur dengan senyum manisnya. "Jangan 

buang-buang tenaga sebelum hari pertarungan tiba. Mari 

kuantar pulang ke Pantai Saru. Kau perlu persiapkan diri 

di sana."

"Kau akan menemaniku di sana sebelum pertarungan 

tiba?"

"Ya, aku dan Peri Malam akan mendampingi masa

istirahatmu!"

"Dan... dan akan berikan kehangatan padaku di 

sana?"

Peri Malam cepat menjawab, "Kehangatan itu akan 

tiba jika kemenanganmu tergenggam di tangan. Kurasa 

Perawan Sesat juga akan memberikan kehangatan yang 

lebih indah lagi setelah kau berhasil membunuh Suto

Sinting!"

Selendang Kubur menambahkan kata, "Kau akan 

memperoleh kemenangan ganda, Dirgo! Selain namamu 

jadi cepat dikenal di rimba persilatan sebagai seseorang 

yang mampu mengalahkan murid si Gila Tuak, juga kau 

akan memperoleh kemenangan batin yang luar biasa 

tingginya, yaitu memperoleh tiga istri sekaligus!"

"Tiga istri?! Waaah..., ha ha ha ha...!" Dirgo Mukti 

tertawa kegirangan. Kedua perempuan itu dirangkulnya 

kanan-kiri. Kedua perempuan itu juga membiarkan 

dicium wajahnya oleh Dirgo Mukti yang tampak jelas 

serakah dengan kemesraannya.

Di Pantai Saru, ketika malam hadirkan sunyi, 

Perawan Sesat renungkan diri, duduk di atas bebatuan 

tak berlumut. Satu persatu Peri Malam dan Selendang 

Kubur mendekat, lalu mereka saling bergunjing tentang 

Suto. Perawan Sesat yang mengawali percakapan itu.

"Lain kali jangan aku yang harus temui Pendekar 

Mabuk sendirian."

"Mengapa?" tanya Peri Malam.

"Aku tak tahan memandang matanya. Gairahku 

terbakar dan rasa cintaku meletup-letup jika bertatap

muka dengannya."

"Apakah kau masih tertarik pada Suto?"

"Justru karena aku masih punya rasa cinta, maka aku 

harus menghadirkannya jika inginkan kematiannya!" 

kata Perawan Sesat sambil menatap Peri Malam. Tapi, 

Selendang Kubur segera angkat bicara,

"Dasar perempuan binal!"

Sreeg...! Perawan Sesat berdiri, Selendang Kubur 

juga sigap menantang. Mata Perawan Sesat tajam 

menembus bola mata Selendang Kubur yang 

memancarkan dendam itu. Lalu, terdengar Perawan 

Sesat menggeram dalam ucapan kata,

"Jangan memancing kemarahanku kalau tak ingin 

kubinasakan di sini sekarang juga!" 

"Lebih baik kita adu nyawa daripada akhirnya nanti 

kamu masih menyukai Suto!"

"Aku tak pungkiri hal itu. Tapi aku toh berusaha 

untuk tidak mau menemuinya secara sendirian?!"

"Bagaimana jika nantinya kau menjadi 

pengkhianat?!" sentak Selendang Kubur. "Lebih baik 

kuhabisi sekarang nyawamu ketimbang nantinya kau 

menjadi pengkhianat!"

"Sudah, sudah...!" Peri Malam menengahi dengan 

suara tegasnya. "Sekarang bukan saatnya bicara soal 

urusan pribadi! Aku ingin kalian bedakan antara urusan 

pribadi dengan urusan bersama!" 

"Dia masih mencintai Suto!" tuding Selendang Kubur 

kepada Perawan Sesat. 

"Kurasa itu hal yang wajar," kata Peri Malam dengan

lantang. "Karena ada cinta itulah maka timbul kebencian 

kepada Suto. Kalau kita tak punya cinta pada Suto, tak 

mungkin kita sakit hati dengan sikap acuh tak acuhnya!"

Selendang Kubur kendorkan ketegangan uratnya, 

demikian pula Perawan Sesat. Keduanya saling bisu, tapi 

Peri Malam tetap bicara dalam keadaan berada di tengah 

mereka.

"Secara jujur aku sendiri mengakui masih punya rasa 

cinta pada Suto Sinting. Tapi cinta ini dibungkus oleh 

kebencian, dan karena itu kita merencanakan untuk 

membunuh Suto. Sekarang yang perlu kita pikirkan, 

andaikata Suto tidak hadir dalam pertarungan nanti, apa

yang harus kita lakukan?"

"Ya. Sejak tadi itulah yang kupikirkan!" kata 

Perawan Sesat. "Karena agaknya dia merasa tidak ada 

perlunya melayani tantangan Dirgo Mukti! Persoalan 

yang dihadapi dianggap persoalan kecil. Bahkan dia tak 

mau peduli akan dirimu, Peri Malam. Dia berniat 

membiar kan dirimu dimiliki oleh Dirgo Mukti!"

"Karena dia tidak mencintaimu, Peri Malam," sahut

Selendang Kubur dengan cepat. Peri Malam 

menggeletukkan giginya menahan kegeraman hati.

"Menurutku," kata Perawan Sesat. "Kaulah yang 

membujuknya agar dia tetap hadir melayani tantangan 

Dirgo Mukti. Kau bisa gunakan kemanjaanmu dan 

mengadu yang bukan-bukan tentang sikap Dirgo!"

"Aku tak berani! Aku takut terjerat cinta yang makin

membara," kata Peri Malam. "Bagaimana jika Selendang 

Kubur saja yang temui dia dengan pengaduan palsu

tentang Dirgo Mukti? Dia pasti ada di pihakmu, 

Selendang Kubur, karena antara dia dan gurumu ada 

hubungan baik! Dia pasti mau membelamu jika kau 

katakan Dirgo Mukti akan mengganggu, juga 

mengganggu gurumu itu!"

"Tidak. Aku juga tidak berani berhadapan sendiri 

dengan Suto. Aku takut semakin mencintainya!"

"Kalau semuanya takut makin jatuh cinta, lantas 

bagaimana kita bisa membunuh dia?!" tukas Peri Malam 

bernada jengkel.

*

* *

7

PERAMAL Pikun memang terluka pada bagian 

dalamnya. Wajahnya yang berkulit hitam memancarkan

rona pucat pias. Bibirnya membiru dengan darah masih 

sesekali keluar dari mulutnya, Peramal Pikun terbaring 

lunglai bagai cucian basah tak terawat.

Ketika ia melihat kehadiran Suto, tampak cahaya 

penuh harapan terpancar dari matanya yang sayu itu. 

Dahi Suto berkerut melihat keadaan Peramal Pikun. 

Separah itukah sakitnya hingga ia sendiri tak dapat 

mengobati? Pikir Suto. Iba hati murid si Gila Tuak itu 

melihat keadaan Peramal Pikun, sepertinya lelaki tua 

renta itu memikul dosa yang amat berat disandangnya.

Terlontarlah kalimat tanya dari mulut Suto yang 

sengaja bernada pelan agar tidak mengganggu

keheningan pondok ini.

"Apa penyebabnya? Katakan saja sejujurnya, Peramal

Pikun?!"

"Sebuah nama yang kau sebutkan." 

"Nama kekasihku?"

"Ya. Mestinya aku tak boleh sebutkan nama itu, Suto.

Aku lupa, dan aku sebutkan nama itu!" 

Pendekar Mabuk memeriksa sesaat tubuh Peramal 

Pikun. Ia terkesiap melihat bagian perut memar biru. 

Dari perutnya itu bergurat garis merah sebesar lidi yang

menuju ke tengah leher, melewati pertengahan ulu 

hatinya. Suto bergumam,

"Apa arti jalur merah ini?"

"Itulah yang dinamakan jalur kutukan. Jalur merah itu 

dikenal julukan ilmu 'Rentang Kutuk'! Hanya dia yang 

memilikinya!"

"Maksudmu...."

"Jangan sebut namanya, Suto! Kumohon, jangan...!" 

sergah Peramal Pikun memelas. Pendekar Mabuk buru-

buru menunda ucapannya, ia segera ingat bahwa 

Peramal Pikun tak bisa mendengar nama Dyah

Sariningrum. Jika ia mendengar nama itu, telinganya 

akan mengucurkan darah lagi.

"Jalur Kutukan atau ilmu 'Rentang Kutuk' ini akan 

merenggut nyawaku pada saat tepat bulan menjadi 

purnama!" tambah Peramal Pikun dengan suara 

lemahnya "Jadi aku mohon bantuanmu untuk 

menghilangkan ilmu 'Rentang Kutuk' ini sebelum 

purnama tiba."

"Sebelumnya aku ingin tahu mengapa ilmu 'Rentang 

Kutuk' itu menimpa dirimu?"

"Apakah Dewa Racun belum bicarakan hal itu 

padamu?"

"Belum! Dewa Racun mendengar nama kekasihku

dari mulutmu, tapi dia tidak kenal siapa orang yang 

punya nama itu dan di mana tempat persinggahannya. 

Dewa Racun hanya bertugas mencari aku dan 

membawaku kemari untuk menolongmu!"

"Dewa gila!" geram Peramal Pikun sambil matanya 

mencari Dewa Racun di dalam pondoknya. Tapi orang 

kerdil itu tidak ada di dalam pondok. Orang kerdil tadi 

menyuruh Suto masuk sendirian dan ia bergegas menuju 

ke sungai, katanya mau mandi sebentar di sana. 

"Siapa Dewa Racun itu sebenarnya, aku belum jelas, 

Peramal Pikun. Dia tidak banyak menceritakan dirinya 

sepanjang perjalanan kemari. Dia bahkan lebih banyak 

membicarakan tentang pertarunganku dengan manusia 

Sontoloyo dua hari lagi." 

Mata Peramal Pikun berkedip-kedip seperti orang 

menunggu ajal. Cukup lama ia bungkamkan mulutnya, 

sampai akhirnya Suto mengulang pertanyaannya yang

tadi,

"Aku ingin tahu mengapa ilmu 'Rentang Kutuk' itu 

menimpa dirimu, Peramal Pikun. Ceritakanlah!"

"Ini rahasia hidupku, Suto." 

"Untuk apa kau simpan rahasia kalau sebentar lagi 

kau mati?"

"Memang benar katamu. Tapi...." Peramal Pikun ragu

sejenak, sehingga Pendekar Mabuk perlu mendesaknya.

"Katakanlah apa adanya, supaya aku bisa mengambil 

sikap bagaimana harus menolongmu, Peramal Pikun."

"Baiklah," katanya, lalu Peramal Pikun mencoba tarik 

napas panjang. Darah keluar lagi dari mulutnya tanpa 

batuk sedikit pun. Ia mengusap darah itu memakai kain

yang kumal dan tak berbentuk kain lain, melainkan 

bentuk kumpulan darah mengering. 

Dengan suara pelan, Peramal Pikun tuturkan kata, 

"Aku melakukan kesalahan semasa mudaku."

"Kesalahan apa?"

"Mencintai guruku sendiri."

"Apakah gurumu seorang perempuan?"

"Ya. Usianya sudah banyak, tapi masih awet muda 

dan cantik. Ia memiliki ilmu kecantikan abadi, seperti 

yang dimiliki oleh tokoh-tokoh sakti lainnya. Rasa 

cintaku kepada Guru begitu dalam, sehingga aku 

menjadi gila, dan nekat ingin memperkosanya. Tapi 

dalam satu jurus aku tumbang, tak bisa mengalahkan 

Guru. Lalu, aku diusir dari Puri Gerbang Surgawi...."

"Apa itu yang dimaksud Puri Gerbang Surgawi?"

"Sebuah negeri Pulau Serindu, jauh dari sini 

letaknya," jawab Peramal Pikun sambil matanya 

menerawang bagai mempunyai sebaris kenangan masa 

lalunya.

Peramal Pikun menyambung ucapannya lagi, "Aku 

diusir dari sana dengan satu kutukan yang membekas 

selamanya dalam hidupku. Aku dianggap murid sesat 

dan sangat tidak terhormat. Karenanya, ilmu 'Rentang

Kutuk' selalu menyertaiku."

"Siapa yang mengusirmu dan siapa yang melancarkan 

kutuk itu?"

"Siapa lagi kalau bukan penguasa tunggal Puri 

Gerbang Surgawi, yang namanya menjadi nama 

kekasihmu itu!"

Terbelalak mata Suto seketika itu. Tertegun ia sampai 

beberapa saat lamanya. Sama sekali tak menyangka 

bahwa Dyah Sariningrum itu adalah penguasa sebuah 

negeri, yang menjadi guru dari Peramal Pikun. Hampir-

hampir Pendekar Mabuk tidak mempercayai kata-kata si 

Peramal Pikun.

Kembali setelah hening tercipta beberapa helaan 

napas, Peramal Pikun melanjutkan ceritanya,

"Aku terancam kutukan itu, tak boleh mendengar 

nama guruku dan tak boleh menyebut nama Nyai Guru. 

Jika aku mendengar nama guruku disebut orang, maka 

telingaku akan luka, dan jika aku menyebutkan nama 

guruku, maka jalur kutukan itu akan bekerja dalam 

diriku dan menancapkan jalur kematian yang akan tiba 

pada saat bulan terang purnama! Itulah hukum kekal 

untuk murid sesat seperti aku ini, Suto! Sekali pun aku 

menyesali tindakan masa mudaku, tapi tetap saja aku 

dibayang-bayangi kutuk yang mematikan!" 

"Hebat sekali!"

"Aku akan mati, mengapa kau katakan hebat?!"

"Yang kumaksud hebat adalah ilmu kutukannya."

"Kuharap kau bisa menolongku, Suto. Karena setingi-

tingginya ilmu Nyai guruku, dia masih tunduk dan takut

kepada gurumu, si Gila Tuak!"

"Jadi, menurutmu guruku mengenal dia?"

"Kurasa mengenalnya! Nyai Guru itu adalah orang 

yang dikenal sebagai Mahkota Sejati, karena sampai saat 

ini, walau usianya sudah menyamai si Gila Tuak, 

gurumu, tapi ia masih sebagai perawan suci yang belum 

pernah ternoda oleh cinta dan birahi lelaki siapa pun 

juga!'

"Ooh...?!" Pendekar Mabuk menggumam kagum, 

jatungnya berdetak-detak bagai ingin melompat keluar 

dari rongga dada. Rasa bangga dan rindu bergumul 

menjadi satu, membuat hati Suto gemetar. 

"Kalau kau ingin tahu lebih banyak tentang Nyai 

Guru, tanyakanlah kepada Dewa Racun."

"Apakah Dewa Racun benar-benar tahu banyak 

tentang penguasa negeri Puri Gerbang Surgawi itu?"

"Jelas banyak tahu, karena dia adalah orang ketujuh 

kepercayaan Nyai Guru!"

"Hahh...?! Jadi dia orang dari Puri Gerbang 

Surgawi?!"

"Benar. Apakah dia tidak bilang begitu padamu?"

"Tidak!"

"Dasar Dewa gila! Terlalu rapat ia menyembunyikan 

ilmunya, terlalu rendah ia menundukkan dirinya. Tapi 

memang begitulah ajaran dari Nyai Guru, agar setiap 

murid menjadi padi, semakin berisi semakin menunduk 

kepada siapa pun!"

"Lalu, untuk apa dia datang kemari menemuimu?"

"Mencari kamu," jawab Peramal Pikun.

"Mencari aku, untuk mengobatimu?"

"Tidak! Hanya kebetulan saja sewaktu aku 

menjelaskan tentang dirimu, aku tak sadar telah 

menyebutkan nama Nyai Guru, lalu aku jatuh sakit 

seperti ini. Tapi tujuannya datang padaku adalah 

menanyakan tentang kamu. Dia mendapat tugas dari 

Nyai Guru untuk membawa pulang seseorang yang 

bernama Suto, murid si Gila Tuak."

"Memang gila dia itu!" geram Suto. "Dia tak pernah 

bilang apa-apa padaku soal itu!"

"Temuilah dia dan bicaralah apa saja yang ingin kau

bicarakan kepada Dewa Racun itu! Tapi terlebih dulu, 

tolonglah aku. Selamatkan aku dari ilmu 'Rentang 

Kutuk' ini, Suto!"

"Apakah kau masih ingin hidup dalam usiamu setua

ini?!"

"Masih," jawab Peramal Pikun dengan sedikit 

dongkol. "Aku ingin mati sebagai ksatria! Aku ingin 

mati dipertarungan, bukan mati karena kutukan!" 

"Tegar sekali pendirianmu, Peramal Pikun. Jika 

memang begitu kemauanmu, aku akan mencoba 

menyembuhkanmu!"

Sementara Suto melakukan penyembuhan terhadap 

diri Peramal Pikun, di luar pondok itu Dewa Racun 

mencoba memancing ikan untuk santapan nanti. Ia 

memancing ikan bukan dengan kail maupun pancingan 

bila, melainkan menggunakan sehelai daun ilalang. Daun 

ilalang itu dibelah menjadi dua pada tiap sisi kanan-

kirinya, tinggal bagian tengahnya yang keras, tapi di tiap

sisa daun kanan-kiri itu tidak dihabiskan belahannya. 

Helai daun di kanan-kiri itu diselipkan di antara jari 

telunjuk dan jari tengah, sisanya yang keras ada di atas 

telunjuk, lalu dengan satu kali tarikan, bagian tengah 

ilalang itu melesat bagai dipanahkan dari dua jari. 

Slaattt...! Jeebbb...!

Ilalang itu menancap pada tubuh seekor ikan, yang 

segera menggelepar-gelepar. Dewa Racun segera 

mengangkatnya dari kedalaman air. Ikan itu ditumpuk di

salah satu tempat berbatu, lalu ia kembali mengambil 

daun ilalang untuk dipanahkan pada ikan-ikan lainnya.

Jika bukan disertai kekuatan tenaga dalam yang 

cukup tinggi, tak mungkin daun ilalang itu bisa sekeras 

dan setajam jarum baja. Tak mungkin pula gerakan 

panah daun ilalang itu sama cepat dan tajamnya dengan

panah biasa. Alhasil, setiap ikan yang dikumpulkan 

mempunyai sisa daun ilalang yang menancap di tubuh 

ikan, kadang tembus kadang hanya sebagian saja yang 

terbenam di daging ikan.

Dewa Racun segera mengumpulkan kayu kering. 

Salah satu ranting kering digosokkan pada salah satu 

anak panahnya. Srettt...! Dan memerciklah bunga api, 

lalu menyala. Dewa Racun membakar ikan-ikan tersebut 

di depan batang kayu tumbang yang tak seberapa jauh 

dari pondok persinggahan Peramal Pikun.

Bau sedap ikan bakar membuat hidung Pendekar 

Mabuk kembang kempis, kemudian ia segera bergegas 

keluar dari pondok, ia dekati Dewa Racun dari arah 

belakang secara diam-diam. Pendekar Mabuk ingin

menjajal ilmu orang kerdil itu. Lalu, dengan serta-merta 

Suto menendang punggung si orang kerdil itu. Wuuttt...!

Plasss...!

Tendangan itu mengenai tempat kosong, karena kejap 

berikutnya Dewa Racun ternyata sudah pindah tempat 

duduknya di seberang tempat duduk semula, ia tetap 

tekun membakar ikan-ikan itu tanpa merasa terganggu 

oleh kedatangan Suto. Sementara, Suto sempat terkesiap 

sebentar melihat gerakan pindah Dewa Racun yang 

begitu cepat, bagaikan menghilang dalam sekejap.

"Boleh, boleh...," Suto manggut-manggut sambil 

membatin, "Tinggi juga ilmunya jika begitu. Kurasa dia 

memang orangnya Dyah Sariningrum yang tak pernah 

mau sombongkan diri di depanku."

Sambil mengamati ikan yang habis dibaliknya dari

pembakaran, Dewa Racun bicara pada Suto tanpa 

memperhatikan Suto,

"Bagaimana sakitnya temanku itu? Bisa kau atasi?"

"Dia sedang tidur."

"Tidur...?!" Dewa Racun memandang Suto dengan

dahi berkerut. 

"Ya. Mengapa?" 

"Orang yang terkena Ilmu 'Rentang Kutuk' tak akan 

bisa tidur, kecuali jalur kutukan yang berwarna merah 

belum tampak di kulit perutnya! Jika jalur merah itu 

sudah kelihatan dari pusar menggaris sampai ke leher, 

orang itu tidak akan bisa tidur sedikit pun!" 

Pendekar Mabuk tersenyum sambil mengambil satu| 

ekor ikan yang sudah matang, lalu ia berkata dengan

santai,

"Nyatanya sekarang Peramal Pikun sudah tertidur."

"Berarti kau berhasil membuat pengaruh kutukan 

menjadi tawar, Suto?!" 

"Mungkin saja!" jawab Suto sambil mengunyah ikan

bakar.

Sejenak dipandanginya Suto, lalu bergumam mulut 

Dewa Racun seperti bicara pada dirinya sendiri, 

"Belum pernah ada orang yang bisa menawarkan 

pengaruh kutukan Nyai Guru itu!"

"Nyai Guru siapa?" tanya Suto sambil lalu, sepertinya

tidak tertarik dengan sebutan 'Nyai Guru' itu.

Dewa Racun menjelaskan sambil tetap mengerjakan 

kesibukannya, bahkan kini ikut-ikutan melahap ikan 

bakarnya,

"Menurut penjelasan Peramal Pikun, sebelum ia

terjebak ilmu 'Rentang Kutuk' kemarin, kau sedang 

mencari-cari kekasihmu yang bernama Dyah 

Sariningrum. Apakah benar begitu, Suto?" 

"Kalau benar mau apa?"

"Dyah Sariningrum adalah guruku, juga termasuk 

gurunya Peramal Pikun itu!"

"Penjelasanmu terlambat!" kata Suto acuh tak acuh, 

karena merasa jengkel atas sikap bungkamnya Dewa 

Racun sejak diperjalanan tadi. Kenapa baru sekarang ia 

mau jelaskan? Kenapa tidak di perjalanan tadi? Itulah 

yang bikin Suto ingin membalas kejengkelannya.

"Nyai Gusti Dyah Sariningrum mengutusku untuk 

mengajukan dua pilihan kepadamu kau mau datang

kesana atau tidak!" 

"Kalau aku bilang tidak mau datang menghadapnya, 

mau apa?"

"Aku pulang, tak boleh aku paksa dirimu."

"Kalau aku mau datang menghadapnya?"

"Aku antar kamu ke sana! Karena Nyai Gusti Dyah 

Sariningrum memang ingin bertemu denganmu. Kau 

sering hadir dalam mimpinya dan memanggil-manggil 

namanya."

Suto tertawa kecil bersikap meremehkan, padahal 

dalam hatinya ia berdebar-debar bahkan berjingkrak-

jingkrak kegirangan. Tapi toh dia mampu menahan 

perasaannya yang jika diluapkan bisa menjadi seperti 

anak kecil itu. Dan tiba-tiba ia berkata,

"Hei, mengapa kegagapanmu hilang? Kau lupa 

bahwa kau bicara dengan gagap!"

Dengan tenang orang kerdil itu sunggingkan senyum 

dan berkata,

"Sebelum kau datang dari dalam pondok, sudah 

kumakan dua ekor ikan bakar kesukaanku ini!"

"Apa hubungannya dua ekor ikan bakar dengan 

bicara gagapmu?"

"Jika mulutku sudah bau ikan bakar, walau secuil 

saja, maka aku sudah bisa bicara dengan lancar. Tapi 

jika aroma ikan bakar hilang dari mulutku, maka 

kegagapan bicaraku timbul kembali."

"Kenapa bisa begitu?" tanya Pendekar Mabuk sambil 

tertawa pelan.

"Entahlah," jawab Dewa Racun sambil sentakkan

pundak sekejap, lalu berkata lagi, "Mungkin memang 

sudah kodratnya aku punya keanehan seperti ini."

Pendekar Mabuk geleng-gelengkan kepala sambil 

tersenyum geli, merasa aneh dengan sifat orang kerdil 

itu.

"Tentukan pilihanmu sekarang juga, Suto, agar aku 

bisa bertindak secara pasti, mana yang harus 

kulakukan!"

"Aku bersedia menghadap gurumu, tapi aku harus 

menunggu lewat dari saat purnama tiba."

"Kenapa? Apakah kau akan memenuhi tantangan 

lawanmu itu?"

Suto menggeleng. "Aku hanya ingin mengetahui 

apakah pengobatanku berhasil atau tidak. Aku harus tahu

nasib Peramal Pikun setelah lewat dari saat purnama 

nanti, apakah dia hidup atau mati!"

"O, ya. Aku paham," Dewa Racun manggut-manggut. 

"Lalu, bagaimana dengan pertarungan di Bukit Jagal itu? 

Apakah kau tetap akan menolak pertarungan itu?"

"Kurasa memang aku tak perlu melayani tantangan 

Dirgo Mukti! Hanya buang-buang waktu dan tenaga 

saja! Aku sendiri sebenarnya tidak berminat untuk 

bertarung dengannya."

"Tapi menurut adat, seseorang yang tidak memenuhi 

tantangan, namanya akan disepelekan dari dunia 

persilatan! Kau dianggap kalah dan tidak jantan, Suto. 

Orang yang telah mundur dari arena pertarungan 

sebelum ia mencoba kalah atau menang, maka ia tak 

berhak menggunakan gelar pendekar lagi!"

"Apakah begitu peraturan adat di rimba persilatan?!"

"Setahuku memang begitu!"

"Guruku tidak pernah mengatakannya begitu!"

"Guruku pernah bilang begitu!"

"Tapi gurumu dan guruku berbeda!"

"Terserah kamu," akhirnya Dewa Racun tak mau 

berdebat lagi. Tapi Suto jadi merenungkan kata-kata 

Dewa Racun. 

Haruskah ia membuktikan kependekarannya melalui 

pertarungan yang tanpa perkara besar itu? Hanya 

masalah cinta dan melindungi kekasaran Dirgo Mukti 

terhadap Peri Malam, haruskah Suto bertarung secara 

tanding laga di Bukit Jagal? Bukankah sebenarnya Peri 

Malam yang menciptakan pertarungan itu dengan 

berlagak menjadi penterjemah bahasa Pendekar Mabuk? 

Sedangkan Pendekar Mabuk sendiri sebenarnya tidak 

bermaksud menyetujui tantangan pertarungan di Bukit 

Jagal. Ini semua ulah Peri Malam, sehingga Suto merasa 

terjebak dalam arena pertarungan yang menurutnya 

dianggap pertarungan konyol. (Baca serial Pendekar 

Mabuk dalam episode: "Darah Asmara Gila").

"Kalau kau tak mau muncul di pertarungan itu, 

biarlah aku yang mewakilimu," kata Dewa Racun.

"Aneh kau ini. Kenapa kau selalu tampil sebagai 

orang yang melindungiku? Kau hanya utusan nyai 

gurumu itu. Kau bukan apa-apaku!"

"Karena perintah Nyai Gusti agar aku membawamu 

datang padanya tanpa luka ataupun lecet sedikit pun!"

"Dia berpesan begitu?!"

"Ya."

"Apa lagi pesannya?"

"Hanya itu, dan hanya tangis yang sering mengalir 

dari matanya yang indah itu."

"Tangis? Mengapa dia menangis?"

"Hasrat ingin bertemu denganmu sangat besar dan 

menyiksa hatinya sepanjang hari. Ia tak sanggup 

menahannya, lalu ia perintahkan aku untuk 

menemuimu!"

"Kalau begitu, pulanglah sekarang juga ke Pulau 

Serindu dan katakan padanya bahwa aku akan segera 

datang setelah lewat purnama tiba itu!"

"Baik. Aku akan pulang. Tapi apakah kau tahu jalan 

dan arah menuju Pulau Serindu?"

"Tidak!" jawab Suto Sinting polos dan tegas. Dewa 

Racun tertawa sendiri.

*

* *

8

DEWA Racun tetap mengikuti Pendekar Mabuk 

walau Pendekar Mabuk mengatakan akan pergi sebentar. 

Orang kerdil ini agaknya memang berjiwa ngotot. 

Semalam ia juga ngotot menyuruh Suto tidur di dalam 

pondok bersama Peramal Pikun, sementara dia tidur di 

luar pondok. Sekarang ia kembali ngotot dengan 

bicaranya yang mulai gagap lagi karena mulutnya sudah 

kehilangan aroma ikan bakar,

"Ak... aku harus ikut kamu ke... ke... ke mana pun 

kau pergi!"

"Mengapa begitu? Kau bukan pengawalku. Aku 

bukan buronanmu!"

"Pe... pe... perintah Nyai Gusti, aku harus menjaga 

ke... ke...."

"Kepompong?!"

"Bukan! Keselamatanmu!" Dewa Racun terengah-

engah. Suto tersenyum menahan geli dalam hatinya.

Sebenarnya Suto hanya ingin menengok keadaan 

gurunya di Jurang Lindu dan menengok keadaan Betari 

Ayu yang ditinggalkannya dalam keadaan luka pukulan 

dari Nagadipa. Untuk menemui Betari Ayu dan gurunya, 

Suto tak enak hati jika harus dikawal oleh Dewa Racun.

Karenanya, Suto terpaksa menggunakan ilmu yang 

bernama 'Seberang Raga', yaitu ilmu pemberian dari 

Bidadari Jalang. Seonggok batu yang ada di pinggir 

sungai tiba-tiba berubah wujud menjadi dirinya setelah 

Pendekar Mabuk heningkan cipta secara diam-diam di 

belakang pondok.

Dewa Racun tidak mengetahui Pendekar Mabuk 

mempunyai ilmu siluman 'Seberang Raga', sehingga 

ketika ia keluar dari pondok, ia langsung saja mendekati 

Suto yang terlihat duduk merenung di pinggiran sungai. 

Padahal saat itu juga Suto sudah melesat pergi jauh 

menuju Jurang Lindu.

"Men... menurut... menurutku, jiwa Peramal Pikun 

selamat dari bahaya 'Rentang Kutuk'. Ja... ja... jalur 

merahnya telah hilang dan wa... wajahnya kelihatan

kembali segar se... sep... seperti semula!" 

"Bagus," jawab Suto kalem, bahkan berkesan datar.

"Malam purnama be... be... besok, dia akan tetap 

hidup. Ini satu per... per... peristiwa yang luar biasa bagi 

orang-orang Puri Gerbang Surgawi. Nyai Gusti ak... ak... 

akan senang dan ka... kagum jika mendengar ke... ke...

kesaktian ilmumu!"

Pendekar Mabuk masih diam merenung, tidak 

memandang ke arah Dewa Racun. Diam-diam Dewa 

Racun merasakan keanehan itu, tapi tidak terlalu 

dihiraukan, berkata lagi kepada Pendekar Mabuk palsu,

"Tan... tanpa menunggu pur... purnama tiba, kita 

sudah bisa berangkat ke... ke... ke Pulau Serindu. At... 

atau kau mau layani tantangan di Bukit Ja... Jagal itu?"

"Ya."

"Ya, bagaimana maksudmu?" 

"Bagus!" 

"Bagus apa?"

"Ya."

Dewa Racun makin heran dan curiga. Mata Suto 

memandang dengan datar sekali, sepertinya tidak punya 

rasa apa pun. Dewa Racun mencoba menendang

pinggang Suto dengan sulu kali lompatan. Duug...!

Pendekar Mabuk diam saja. Tidak mengadakan 

gerakan menangkis atau menghindar, tidak merasakan 

sakit atau apa pun. Padahal tendangan itu cukup keras.

Menurut perkiraan Dewa Racun, orang akan 

menyeringai kesakitan jika ditendang pinggangnya oleh 

tendangan seperti itu.

Melihat Suto Sinting tidak ada perubahan apa-apa, 

Dewa Racun semakin bertambah heran, ia kembali 

berkata,

"Ma... mau... maukah kau bicara ke dalam pondok?"

"Ya."

"Mari kita bicarakan de... de... dengan Peramal 

Pikun!"

"Bagus!"

Jawaban yang hanya 'ya' dan 'bagus' juga membuat 

Dewa Racun kerutkan dahi. Semakin penasaran hatinya. 

Bahkan ia pun membatin, 

"Jangan-jangan orang ini bukan Suto?"

Dewa Racun segera mundur dua langkah. Tangannya 

diangkat dengan gerakan pelan-pelan seperti orang 

menari, dan tiba-tiba kedua tangan itu menghentak ke 

depan. Wuuuttt...! 

Memerciklah sinar putih ke arah Pendekar Mabuk 

yang masih tetap duduk itu. Dewa Racun sendiri terkejut 

melihat Pendekar Mabuk tidak memberi tangkisan

terhadap pukulan tenaga dalamnya, juga tidak 

menghindar sedikit pun. Bahkan sempat timbul rasa 

sesal di hati Dewa Racun.

Percikan sinar putih itu membuat tubuh Suto pecah 

berasap dan berupa wujud aslinya, yaitu sebongkah batu 

hitam sebesar ukuran orang duduk di tepi sungai. Dewa 

Racun segera menggeram sambil hempaskan napas 

kekesalan hatinya.

"Kurang ajar! Dia mengecohku!" geramnya dalam

hati. "Dia pasti telah pergi dan meninggalkan aku! Hebat

juga ilmu anak muda itu. Tak sia-sia aku diutus jauh-

jauh untuk membawanya menghadap Nyai Gusti. Pasti 

Nyai Gusti sangat kagum kepadanya kalau kuceritakan 

setinggi apa ilmu yang dimiliki Suto Sinting itu! 

Hmmm... tapi tugasku adalah mendampingi dan menjaga 

Pendekar Mabuk. Jika sekarang dia pergi, aku harus 

segera mencarinya. Ke mana arah perginya? Kurasa aku 

bisa bertanya kepada Peramal Pikun. Setidaknya 

Peramal Pikun bisa kasih perkiraan arah yang dituju 

Suto!"

Suto sendiri membayangkan wajah Dewa Racun yang 

terkecoh. Suto tertawa sendiri saat mendekati Jurang 

Lindu, di mana ada air terjun yang cukup tinggi dan 

besar itu. Suto berkata dalam hati,

"Dewa Racun pasti akan mencak-mencak kalau dia 

tahu orang yang disangkanya aku itu adalah seonggok 

batu! Hi hi hi.... Pasti jika ia mengajak bicara orang yang 

disangka aku itu, ia hanya akan menerima jawaban ya 

dan bagus. Karena memang aku hanya menitipkan dua 

kata itu dalam bayangan ragaku di sana! Mudah-

mudahan hal itu tidak membuat Dewa Racun mengamuk

berlarut-larut...!"

Suto segera melesat masuk menembus curah air 

terjun. Dalam kejap berikut, Suto sudah berada di dalam 

gua. Ternyata di sana si Gila Tuak masih belum 

kelihatan. Yang ada hanya Betari Ayu dalam keadaan 

sedang melakukan semadi.

"Ke mana perginya Guru? Sampai sekarang belum 

datang juga?!" pikir Pendekar Mabuk sambil menunggu

Betari Ayu selesaikan semadinya, ia sempat mengisi 

tuak ke dalam bumbungnya dari persediaan tuak di 

dalam gentong besar. Setelah itu, ia mendengar suara 

mendehem dari Nyai Betari Ayu, itu pertanda sang 

Betari Ayu sudah selesaikan semadinya yang dilakukan 

dengan berdiri satu kaki, dan hanya jempol kakinya yang 

berpijak di tanah.

"Bagaimana keadaanmu, Nyai?" tanya Suto 

mengawali percakapan.

"Sejak kemarin sudah terasa segar sekujur tubuh ku. 

Tapi aku tak berani tinggalkan tempat ini."

"Kenapa?"

"Gurumu kasih wanti-wanti padaku agar jangan

tinggalkan tempat ini sebelum ada perintah darimu."

"O, kau sudah bertemu dengan guruku?"

"Ya. Sudah. Beliau tahu aku dalam perawatanmu."

"Hmm... lalu, ke mana beliau?"

"Pergi ke Lembah Badai untuk menemui Bidadari 

Jalang, yang baru kutahu bahwa orang itu ternyata juga 

gurumu."

Suto malu, tak berani tatap mata Nyai Betari Ayu. 

Namun begitu, Pendekar Mabuk tetap berkata,

"Ya, memang sebagian ilmuku adalah pemberian 

darinya. Tapi aku tak enak kepadamu jika aku jelaskan 

bahwa aku adalah juga murid dari Bidadari Jalang. Aku 

tahu kau punya dendam padanya. Aku takut jika 

kukatakan bahwa aku murid Bidadari Jalang, kau jadi 

bermusuhan denganku atau membenciku, Nyai!"

"Sudahlah, lupakan soal itu!" Betari Ayu agaknya

tidak mau mempermasalahkan lagi tentang Bidadari 

Jalang. Suto Sinting pun tidak mau kembali ke 

pembicaraan itu. Ia meneguk tuak, dan duduk di depan 

Betari Ayu. 

"Syukurlah jika kau sudah sehat. Kau tambah 

kelihatan cantik, Nyai!" sambil tatapan mata Suto tertuju 

lurus ke wajah Nyai. Yang ditatap tersipu malu, segera 

palingkan wajah dan berkata,

"Jangan puji aku begitu, nanti aku makin tersiksa tak 

kau rengkuh dalam hatimu, Suto." 

Tawa Pendekar Mabuk berderai yang membuat Betari 

Ayu kian tersipu malu. Maka cepat ia alihkan suasana itu 

kepada pertanyaan mengenai lukanya. 

"Siapa yang menyerangku dari belakang, Suto? Aku 

tidak bisa merasakan datangnya hawa dari pukulan 

melainkan tiba-tiba saja punggungku merasa seperti 

tersengat."

"Pukulan itu memang sangat berbahaya." 

"Siapa pelakunya?" 

"Kurasa kau tak perlu tahu." 

"Kenapa? Kau takut aku membalas dendam pada 

pelakunya? O, tidak. Aku tidak akan membalas dendam, 

Suto. Cukup banyak aku bicara dengan gurumu tentang 

hakikat suatu kehidupan dan kematian. Bahkan aku

sudah sepakat untuk mengasingkan diri dan menjadi 

seorang pertapa yang dibantu oleh gurumu, Ki Sabawana 

itu." 

"Kau ingin menjadi seorang pertapa?"

"Ya. Ki Sabawana mendukung rencanaku itu.

Gurumu banyak kasih saran padaku. Itulah sebabnya aku 

tak ingin mengadakan pembalasan walau aku tahu siapa 

penyerangku itu."

"Baiklah. Kau diserang oleh Putri Alam Baka!"

"Hmmm... berarti dugaanku memang benar." 

"Tapi bukan dia pelakunya, melainkan suaminya!"

"Nagadipa?" 

"Ya. Nagadipa pelakunya."

"Lalu kau mengejarnya?"

"Ya. Karena aku harus menuntut balas atas 

kejahatannya terhadap dirimu. Aku tak bisa tinggal diam 

melihat kamu dilukai, Nyai."

"Lalu... kau bunuh mereka?"

"Secara tak sengaja, Putri Alam Baka mati dan 

Nagadipa terluka parah."

"Kau menggunakan napas Tuak Setan?"

"Dari mana kau tahu. Nyai?"

"Gurumu yang mengatakannya. Dia merasakan ada 

badai aneh dan badai itu pasti datangnya dari napas Tuak 

Setan-mu! Tapi beliau tahu kau menggunakannya secara 

tidak sengaja."

Pendekar Mabuk diam berpikir tentang gurunya, 

Ternyata segala kegiatannya selalu dipantau oleh sang 

gurunya. Suto jadi riskan dan tak enak untuk berbuat 

bebas, ia menjadi gelisah, dan kegelisahan itu dilihat 

oleh Betari Ayu, kemudian Betari Ayu berkata,

"Bukan hanya si Gila Tuak yang memantau 

kegiatanmu, Suto. Tapi aku pun banyak mengikuti 

kegiatanmu dari sini, atau dari tempatku yang jauh.

Semua itu hanya sekadar menjaga kalau-kalau kau dalam 

bahaya yang membutuhkan bantuan. Hanya hal-hal yang 

bersifat berbahaya yang dipantau terus oleh gurumu."

"Apakah Guru juga membicarakan tentang 

pertarunganku di Bukit Jagal, yang akan terjadi esok 

malam?"

"Tidak. Apakah kau akan melakukan pertarungan?"

"Aku ditantang." 

"Siapa yang menantang?" 

"Dirgo Mukti." 

"O...," Nyai Betari Ayu manggut-manggut. "Hati-hati 

kau berurusan dengan Dirgo Mukti." 

"Kenapa?" Suto jadi ingin tahu. 

"Dia murid tunggalnya Pendekar Tanduk Dewa yang 

bersemayam di Gunung Tujuh Batu. Pendekar Tanduk 

Dewa adalah bekas suami dari penguasa Pulau Hantu 

yang dikenal dengan nama si Mawar Hitam, orang ini 

juga menyimpan dendam pada Bidadari Jalang, karena 

merasa suaminya direbut oleh bibi gurumu itu!"

"O, pantas waktu itu Peri Malam dipesan oleh 

gurunya, si Mawar Hitam, agar jangan membuat 

perselisihan dengan Dirgo Mukti!"

"Mungkin karena Mawar Hitam tidak mau berurusan 

dengan mantan suaminya, jika muridnya bentrok dengan 

murid Pendekar Tanduk Dewa itu. Yang jelas, hati-

hatilah jika berhadapan dengan Dirgo Mukti. Pende kar 

Tanduk Dewa bisa turun tangan kalau sampai muridnya 

itu mati."

"Apakah Pendekar Tanduk Dewa berilmu tinggi?!"

"Ya. Tapi tidak lebih tinggi dari gurumu sendiri."

Suto Sinting manggut-manggut dan diam beberapa

saat. Setelah itu baru ia kembali bertanya,

"Apakah menurutmu sebuah tantangan tanding laga 

harus dipenuhi, Nyai? Bagaimana jika aku tidak 

memenuhi tantangan itu?"

"Apakah karena kata-kataku tadi kau jadi takut 

dengan Dirgo Mukti, si Manusia Sontoloyo yang tak 

jelas juntrungannya itu?",

"Bukan karena takut, tapi karena aku merasa 

pertarungan itu bukan merupakan pertarungan yang 

bermasalah penting, Nyai. Urusannya cuma sepele, 

mengapa harus kulayani tantangan itu? Maksudku, aku 

tidak ingin datang pada malam purnama nanti! Kalau 

aku bisa membunuhnya, aku merasa menyesal, hanya 

persoalan anak kecil saja sampai harus membunuhnya. 

Apalagi kalau aku yang kalah, jelas sangat menyesal 

tujuh turunan aku, Nyai!"

"Jika tak mau hadir, mengapa kau buat janji 

pertarungan?"

"Aku terjebak. Bukan aku yang bikin janji, bukan aku 

yang menjawab tantangannya, Nyai! Tapi Perawan 

Sesat!"

Betari Ayu tarik napas panjang, ia bangkit dan 

langkahkan kaki ke mulut gua. Ia memandang curahan 

air terjun dari sana. Kemudian ia palingkan wajah dan 

berkata kepada Suto, 

"Sebagai seorang pendekar, kau harus penuhi 

tantangan itu! Jika tidak, gelar pendekarmu akan

disepelekan oleh mereka yang mendengar 

ketidakhadiranmu."

"Pertarungan ini sungguh pertarungan yang tidak 

punya arti!"

"Walau begitu, kau tetap harus hadir. Toh bukan 

berarti kau harus membunuh Dirgo Mukti. Cukup kau 

beri pelajaran padanya, agar harga diri kependekaranmu 

masih ada."

Seperti apa yang dikatakan Dewa Racun, rupanya 

Pendekar Mabuk tetap tidak bisa menghindari 

pertarungan dengan Dirgo Mukti. Ia harus menjaga 

nama baik kependekarannya, agar dunia persilatan tidak 

memandang rendah terhadap dirinya. Tapi menurut Suto 

pertarungan itu bukan pertarungan demi membela 

kehomatan, pertarungan itu tetap saja pertarungan 

konyol yang harus dihadirinya.

Kalau saja ia tahu rencana di balik pertarungan itu, ia

semakin tidak mau melaksanakannya. Sayang sekali 

Suto tidak tahu rencana tiga perempuan patah hati yang 

ingin memanfaatkan pertarungan itu.

Tetapi niat licik dari tiga perempuan patah hati itu 

tanpa disengaja didengar oleh Dewa Racun. Saat itu, 

Dewa Racun sedang mengejar arah kepergian Suto. Di 

perjalangan, ia berhenti karena melihat tiga kelebat 

banyangan ke arahnya. Dewa Racun bergegas lompat ke 

pohon berdaun rindang. Wuuttt...!

Ternyata, tiga perempuan cantik itu justru berhenti di 

bawah pohon tempat persembunyian Dewa Racun.

Segera Dewa Racun menggunakan ilmu serap

napasnya, supaya hembusan napas tak bisa didengar oleh 

orang yang berilmu tinggi di sekitarnya. Dan dari balik 

kerimbunan pohon itu, Dewa Racun mendengar 

percakapan Selendang Kubur, Peri Malam, dan Perawan 

Sesat. 

"Ke mana kita harus mencari Pendekar Mabuk? Sejak 

kemarin kita tidak temukan dia."

''Apakah masih perlu kita mencarinya?" 

"Nanti kalau dia tidak datang ke pertarungan di Bukit 

Jagal, kita kehilangan kesempatan untuk menyerang 

dia!" 

"Kurasa dia tetap akan datang, walau sekadar

mengatakan penundaan pertarungannya. Dan saat itu kita 

perdaya dia supaya tetap maju melawan Dirgo Mukti. 

Aku nanti yang akan mempengaruhinya," kata 

Selendang Kubur. 

"Baiklah. Kita yakinkan diri saja bahwa dia akan 

datang. Aku capek mencarinya ke mana-mana!" keluh 

Peri Malam. "Yang jelas, kita harus bisa tetap bikin 

Dirgo Mukti bersemangat melawan dia, dan 

mendesaknya terus sampai Suto merasa kehabisan 

tenaga. Walau nantinya Dirgo Mukti mati di tangan Suto 

Sinting, tak jadi masalah. Tapi kita punya kesempatan 

menggempur Pendekar Mabuk yang tenaganya sudah 

banyak berkurang dari pertarungan itu!" 

"Kurasa Dirgo Mukti sekarang sudah bersemangat 

sekali, sebab kita sudah memberi janji-janji gombal, 

bahwa kita bertiga bersedia menjadi istrinya jika dia 

menang melawan Suto. Itu sudah merupakan iming

iming yang sangat berharga sekali buat Dirgo Mukti. 

Setidaknya dia akan berjuang sekuat tenaga 

mengalahkan Pendekar Mabuk!"

Dewa Racun mendengar semua percakapan itu. 

Sampai mereka bertiga pergi, Dewa Racun masih 

termangu-mangu di atas pohon tersebut. Dalam hatinya 

ia berkata, 

"Ternyata perempuan yang mengaku bernama 

Perawan Sesat itu punya komplotan untuk membunuh 

Suto dengan kelicikannya. Benar apa kata Suto,

pertarungan itu sebenarnya tidak punya arti apa-apa. 

Hanya sebagai pertarungan konyol saja. Dan pertarungan 

itu digunakan oleh ketiga perempuan tadi untuk mencari 

kelemahan Pendekar Mabuk. Hmm... sebuah 

pertarungan konyol ada baiknya dibuat semakin konyol 

saja!"

Menurut keterangan Peramal Pikun, Suto mempunyai

tempat persingahan di Jurang Lindu. Tetapi apakah Suto 

ke sana atau tidak, Peramal Pikun tak bisa memastikan. 

Petunjuk itu sudah cukup buat Dewa Racun, karena ia 

punya arah tujuan dalam mencari Suto walau mungkin 

nantinya tidak ditemukan. Tapi dari sanalah Dewa 

Racun akan melacak terus ke mana perginya orang yang 

harus dikawalnya itu.

Di pertengah jalan, Dewa Racun mulai mencium bau 

tuak. Segera ia arahkan larinya ke pusat bau tuak itu. 

Dan akhirnya ia temukan Pendekar Mabuk sedang 

beristirahat di bawah pohon untuk menenggak tuaknya 

dari dalam bumbung bambu.

Jleeg...!

Suto terkejut melihat Dewa Racun sudah berdiri 

didepannya. Wajah Dewa Racun cemberut, Suto nyengir 

tertawa ingat tipuannya. Pasti orang kerdil ini sudah 

mengetahui tipuan di tepi sungai.

'Ku... ku... kurang ajar kau!" maki Dewa Racun yang 

membuat Pendekar Mabuk tak bisa tahan tawanya lagi, 

lalu meledak terbahak-bahak.

"Ka... ka... kalau tidak kuingat, aku harus 

mengawalmu, sudah ku... ku... kurontokkan gigimu 

dengan panahku ini!

"Maafkan aku, Dewa Racun! Aku memang senang 

bercanda denganmu!"

"It... it... itu bukan bercanda, tapi ku... ku...."

"Kunang-kunang?"

"Bukan! Itu kurang ajar namanya! Kau sen... sendiri 

akan dibuat bercanda dalam pertarunganmu nan... nan... 

nanti!"

"Apa maksudmu?"

"Tig... tiga... tiga perempuan ingin ambil bagian 

dalam pertarunganmu nan... nan... nanti! Satu 

perempuan sudah pernah ku... kulihat, yaitu yang 

rambutnya awut-awutan tempo hari."

"Tiga perempuan ambil bagian dalam pertarunganku 

dengan Dirgo Mukti nanti?!"

"Bet... bet... bet...."

"Betot?!"

"Betul! Bukan betot!" Dewa Racun bersungut-sungut, 

merasa jengkel jika omongannya diteruskan dengan kata

yang salah. Kemudian, ia segera jelaskan kepada Suto 

apa yang didengarnya dari ketiga perempuan tadi. 

Mendengar ciri-ciri ketiga perempuan itu, Pendekar 

Mabuk bisa menduga mereka adalah Perawan Sesat, 

Selendang Kubur, dan Peri Malam. Tapi Suto belum 

tahu alasan ketiga perempuan itu, mengapa ingin 

membunuhnya?

Dewa Racun berkata, "Ak... ak... aku jadi punya 

rencana lain! Kau harus ha... ha...." 

"Hamil?"

"Bukan! Kau harus ha... hadir dalam pertarungan itu! 

Harus! Ka, ka, ka... kalau tidak mau, kau akan kupak... 

pak... pak...." 

"Kupakai?!"

"Kupaksa!" bentak Dewa Racun jengkel. "Kau akan 

kupaksa untuk hadir. Karena aku punya rencana bagus 

untuk tiga pe... perempuan itu!" 

"Rencana apa?"

*

* *

9

MALAM bulan purnama, sungguh benderang sinar 

rembulan menyorot ke bumi. Langit bersih, 

memantulkan cahaya makin cerah. Puncak Bukit Jagal 

tampak jelas tanpa pepohonan apa pun di sana. Bukit itu 

adalah bukit yang tandus, yang biasa digunakan untuk 

pertarungan tanding laga bagi para tokoh persilatan.


Bukit Jagal, terletak di sebuah pantai yang bertebing 

curam. Sebagian lapisan tanah bawah adalah bebatuan 

karang, sebagian di atasnya adalah cadas putih yang 

keras. Sebuah pertarungan jika dipandang dari lautan 

akan kelihatan sangat indah dan menawan, karena gerak 

kedua orang yang bertarung akan terlihat jelas tanpa 

penghalang sedikit pun.

Biasanya, orang yang mati dalam pertarungan di atas 

Bukit Jagal, mayatnya akan langsung dibuang ke laut 

yang ganas, bergelombang besar dan konon banyak 

dihuni ikan-ikan buas. Mereka yang terlempar ke laut 

dalam keadaan hidup-hidup pun tak akan bisa selamat 

menghindari keganasan ombak dan ikan-ikannya. Tinggi 

tebing dari puncak bukit sampai ke permukaan laut ada 

lima puluh tombak. Itulah sebabnya orang yang jatuh 

dari atas bukit tak akan bisa selamat dari ancaman maut 

di kaki bukit, karena di sana juga ada karang-karang 

runcing menunggu mangsanya. Di sela karang itu, 

banyak tulang-tulang manusia yang berserakan terselip

di sana-sini. Tengkorak-tengkorak manusia tergeletak 

tak beraturan, tanpa nama dan tanda-tanda semasa 

hidupnya. Tak heran jika Bukit Jagal juga sering disebut 

Kuburan Tanpa Nama.

Dalam siraman cahaya purnama, tampak sesosok 

tubuh kekar berdiri di atas bukit gundul itu. Orang itu 

didampingi tiga perempuan yang masing-masing 

mempunyai gerak kelincahan tersendiri. Siapa lagi orang 

bersenjata kapak dua mata itu kalau bukan Dirgo Mukti 

yang menjuluki dirinya sebagai Manusia Sontoloyo.

"Aku sudah tidak sabar lagi menunggu 

kehadirannya," kata Dirgo Mukti dengan kedua tangan 

meremas-remas bagai melampiaskan kegelisahannya. 

"Percayalah, dia pasti datang!" kata Peri Malam. 

"Kalau beberapa saat lamanya dia tidak datang, 

Selendang Kubur akan menyusul Suto ke tempat 

gurunya, dan melaporkan kebodohan sang murid! Pasti 

gurunya Pendekar Mabuk akan mengamuk dan mencari 

muridnya yang menghadapi tantanganmu!" 

"Kau harus menang, Dirgo!" kata Selendang Kubur 

sambil mengusap-usap punggung Dirgo Mukti. "Kami 

akan bersedih tiada habisnya jika kau kalah. Tapi jika 

kau menang dan bisa membunuh Suto, kami akan 

bersorak kegirangan, karena itu berarti kami bertiga 

dengan senang hati menjadi istrimu, Dirgo!" 

"Itulah semangatku!" kata Dirgo Mukti yang 

kemudian disusul dengan tawa terbahak-bahak. 

Perawan Sesat yang sejak tadi mondar-mandir, 

memandang sekeliling bagai orang memeriksa keamanan

lingkungan, tiba-tiba berkata dengan suara seraknya, 

"Seseorang sedang menuju kemari! Bersiaplah!"

Kedua mata teman sekongkolnya itu segera 

lemparkan pandangan ke arah yang ditunjuk Perawan 

Sesat. Peri Malam segera berkata, 

"Itu dia! Dia telah datang!"

"Lantas bagaimana dengan kita?" Selendang Kubur

berdebar-debar.

"Kita... kita bersembunyi saja di balik batu itu!"

"Terlalu rendah ke lereng, nanti kita tidak bisa jelas

melihat pertarungan ini!"

Perawan Sesat cepat ucapkan kata tegas, "Kita tetap 

di sini! Mengapa harus sembunyi? Justru kita tunggu 

kesempatan baik untuk menyerang Pendekar Mabuk

pada saat ia tampak terdesak oleh Dirgo Mukti!"

"O, benar! Benar sekali pendapatmu!" Peri Malam

menepuk-nepuk pundak Perawan Sesat, namun tangan

Perawan Sesat cepat kibaskan tangan Peri Malam.

Agaknya ia tak suka ditepuk-tepuk begitu oleh orang 

sejenisnya.

"Kurasa kalian tak perlu jauh-jauh. Diam saja di 

pinggiran sana dan saksikan kemenanganku!" kata Dirgo 

Mukti. "Akan kutumbangkan dia dalam dua jurus saja!"

"Tak perlu malu-malu menggunakan lebih dari 

sepuluh jurus, yang penting kau bisa menang 

melawannya, Dirgo Mukti!" kata Peri Malam.

Orang yang ditunggu datang. Pendekar Mabuk 

muncul dengan badan terbungkuk-bungkuk, seperti 

keberatan bumbung tuak yang disandang di 

punggungnya. Peri Malam berbisik kepada Selendang 

Kubur yang berdiri di samping kirinya. 

"Dia dalam keadaan mabuk!'' 

"Bahaya! Justru dalam keadaan mabuk begitulah 

ilmunya semakin tinggi," bisik Selendang Kubur.

"Diamlah!" hardik Perawan Sesat yang merasa 

terganggu dengan kasak-kusuk mereka. 

Pendekar Mabuk berwajah kaku saat itu. Tak ada 

sapa dan senyum untuk ketiga perempuan yang sudah

dikenalnya. Bahkan Peri Malam sempat berbisik kepada

Perawan Sesat.

"Dia acuh tak acuh pada kita. Tak menyapa sedikit 

pun!"

"Mungkin dia sudah tahu persekongkolan kita, atau 

dia sedang memusatkan perhatiannya kepada Dirgo 

Mukti!"

"Ssst...! Diamlah!" Selendang Kubur ganti 

menghardik.

Terdengar suara Dirgo Mukti menyapa kasar kepada 

Suto,

"Sudah siapkah kau menemui ajalmu, Suto?!"

"Sudah!" jawab Suto datar dan berkesan ketus. 

"Kau siap menderita malu di depan tiga perempuan

ini?!"

"Sudah!"

"Bagus. Tapi sebelum kau menemui ajalmu, 

barangkali kau punya pesan untuk ketiga perempuan 

yang menjadi saksi pertarungan ini?" 

"Tidak!"

"Kalau begitu, kita mulai saja pertarungan kita, 

Suto!"

"Baik!"

Dirgo Mukti segera kembangkan tangannya. 

Langsung saja di tangan kanannya sudah tergenggam 

kapak bermata dua yang mempunyai ujung mata tombak 

kecil. Tapi tidak secepat itu ia menggunakan senjata 

tersebut, ia masih mencari celah baik untuk menyerang 

Suto dengan pukulan jarak jauhnya. Ia bergerak pelan 

mengelilingi Suto, sementara Suto sendiri hanya diam

sambil melirik dengan mata sayu yang tidak meyakinkan 

sebagai mata seorang pendekar tangguh.

"Aih, gila! Semakin tampan saja dia!" pikir 

Selendang Kubur. "Hatiku berdebar-debar digelitik 

bayangan indah dalam cumbuannya. Oh, apakah 

nantinya aku akan tega menyerang dia?"

Hati Perawan Sesat pun membatin, "Kurang ajar!

Semakin terkena cahaya rembulan, semakin 

menggairahkan wajahnya. Aku jadi gundah 

membayangkan cumbuannya. Oh, sepertinya aku tak 

sampai hati jika harus menyerangnya!"

Peri Malam bahkan palingkan wajah, tak berani 

menatap Pendekar Mabuk. Dalam hatinya ia membatin, 

"Celaka kalau begini! Dia semakin memikat hatiku! Aku 

terbayang saat dia menciumku di pantai. Oh, luar biasa 

indahnya kala itu. Kakiku sekarang pun jadi gemetaran 

membayangkannya. Lantas, bagaimana nanti jika aku 

harus menyerangnya? Apakah aku bisa menyerang 

seorang kekasih yang kucintai dan kurindukan itu?"

Sementara hati ketiga perempuan itu berkecamuk 

sendiri-sendiri, Dirgo Mukti segera sentakkan tangan 

kosongnya ke depan bagai mencakar perut harimau.

Wuuttt..! 

Pendekar Mabuk melompat, namun terlambat. 

Tubuhnya tersentak ke belakang dan berguling dua kali. 

Lalu ia segera berdiri sambil menggeram. Ia bergerak 

kembali, bersamaan dengan itu Dirgo pun bergerak 

berkeliling. Langkah demi langkah ia perhatikan. Sedang 

Suto masih tetap membungkuk-bungkuk dengan kedua

tangan lurus ke bawah dan menggantung, seakan 

sewaktu-waktu siap melompat untuk menerkam 

lawannya.

Dirgo Mukti segera jejakkan kakinya ke tanah, 

tubuhnya pun cepat melesat terbang dalam satu putaran 

salto ke depan.Wuuttt...!

Pendekar Mabuk mundur satu tindak. Di belakangnya 

jurang maut. Suto bagaikan tidak menyadari hal itu. 

Ketika Dirgo Mukti pijakkan kaki ke tanah di depan 

Pendekar Mabuk dalam jarak empat langkah, cepat-cepat 

ia sentakkan tangan kanannya ke depan, dan ujung kapak

yang dipegangnya itu melesat lepas dari tangkai. Ujung 

kapak yang berupa mata tombak kecil itu mempunyai 

nyala pijar api merah. Zuuittt...!

Pendekar Mabuk tak bisa mengelak kecepatan mata 

tombak itu. Langsung mata tombak bergerak tanpa 

ampun, menembus dada Suto. Jruub....! Tubuh Suto 

seketika menjadi berasap. Sebelum tumbang dan hancur, 

Dirgo Mukti segera lompatkan kaki dan memberi 

tendangan samping yang cukup keras. 

"Hiaaattt...!" 

Beeg...! .

"Aaahg...!" Suto mengerang, tubuhnya terlempar ke 

belakang dan jatuh ke jurang yang amat dalam itu. Suara 

jeritannya menggema bagai memecah sepi di malam 

purnama. Sementara itu, ujung kapak Dirgo Mukti yang 

sudah kehilangan mata tombaknya itu kembali muncul 

mata tombak baru. Creekk...!

Tetapi kapak itu hanya digenggamnya dengan hati

puas. Ia berseru geram,

"Mampuslah kau, Suto Sinting! Ternyata 

kehebatanmu tak seperti apa yang digembar-gemborkan 

tiap manusia!"

Segera Dirgo Mukti balikkan badan. Ia menatap 

ketiga perempuan itu dengan senyum lebar dan tawa pun 

terdengar berkumandang. Sedangkan ketiga perempuan 

itu sama-sama terpaku tak bergerak di tempatnya. Mata 

mereka tak berkedip sama sekali. Karena mereka 

terpukau melihat kematian Suto yang begitu cepat dan 

mudahnya dikalahkan oleh Dirgo Mukti.

"Celaka...!" bisik Peri Malam kepada kedua teman di 

kanan-kirinya. "Dirgo Mukti menang melawan Pendekar 

Mabuk! Ini berarti kita bertiga bakal menjadi istrinya!"

"Aku tidak sudi!" bisik Selendang Kubur dengan 

tegang. 

"Aku juga tidak bergairah dengan dia!" bisik Perawan 

Sesat.

"Lantas bagaimana?" 

"Kita serang saja dia! Bunuh!" geram Selendang 

Kubur.

"Kalau begitu, biarlah aku yang maju melawannya!" 

bisik Perawan Sesat dengan dada naik turun. Dalam 

hatinya ia berkata,

"Bangsat si Dirgo Mukti ini! Dia telah membunuh 

orang yang kuharapkan kemesraannya! Dia telah 

menghancurkan gairahku! Dia harus kubunuh juga!"

Sedangkan Selendang Kubur berkata pula dalam 

hatinya, "Aku tak rela! Sungguh tak rela Suto

ditumbangkan begitu saja! Aku harus membalas 

kematian Suto, karena dialah yang telah menghilangkan 

orang yang kucintai! Dia telah menghancurkan cintaku! 

Jahanam kau, Dirgo Mukti!"

Mata perempuan bertahi lalat di sudut dagunya juga 

menjadi nanar penuh kobaran api amarah. Peri Malam 

berkata geram dalam hati,

"Orang ini benar-benar memuakkan! Akan kutebus 

kematian Pendekar Mabuk dengan nyawanya! Akan 

kubela orang yang kucintai itu, walau aku harus 

korbankan nyawa dalam pertarungan ini!"

Dirgo Mukti melangkah dengan gagahnya mendekati 

ketiga perempuan itu. Tawanya masih berkepanjangan 

sambil ia serukan kata,

"Kalian sekarang menjadi istri-istriku! Harapan 

kalian terkabul! Aku melihat sendiri mayat Pendekar 

Mabuk tertancap bebatuan karang di bawah sana! Ha ha 

ha...! Dekatlah kemari istri-istriku! Mari kita rayakan 

kemenangan ini dengan sejuta kemesraan dan 

kehangatan bercinta, ha ha ha...!"

Perawan Sesat maju dua tindak, tangannya siap untuk 

melancarkan pukulan jarak jauhnya. Tapi kain selendang 

putih telah lebih dulu berkelebat menghantam tubuh 

Dirgo Mukti. Wuuugh...!

Selendang Kubur melepaskan pukulan tenaga 

dalamnya menggunakan kibasan selendang putihnya. 

Pukulan itu membuat Dirgo Mukti tersentak ke samping 

dan oleng mencari keseimbangan.

"Hai...! Mengapa kalian menyerangku?!"

Wuuttt...! Perawan Sesat sentakkan tangan kirinya 

dan sebuah pukulan tenaga dalam cukup tinggi tak dapat 

dihindari Dirgo Mukti. Pukulan itu tepat mengenai dada 

Dirgo Mukti. Beeegh...!

"Heegh...?!" Dirgo Mukti memekik tertahan. 

Tubuhnya tersentak ke belakang, tiga langkah jauhnya. 

Mulutnya mulai mengeluarkan darah. Tapi ia belum 

jatuh, ia masih berdiri dengan terbungkuk-bungkuk. Ia 

menarik gagang kapaknya, sreekkk...! Gagang itu 

mengulurkan rantai, sehingga mata kapak bisa diputar-

putarkan di atas kepala.

"Jahanam kalian semua! Kalian ingkar janji! Kalian 

hanya pergunakan aku untuk membunuh Suto!"

"Tak perlu banyak bicara, Dirgo Mukti! Kami 

memang gunakan kamu sebagai alat! Tak satu pun dari 

kami yang sudi menjadi istrimu!" sentak Peri Malam 

yang segera melompat ke atas dan menghantamkan 

pukulan jarak jauhnya.

Bangng...! Pukulan itu tertangkis oleh kibasan kapak 

yang berputaran cepat di atas kepala. Memercikkan 

cahaya merah menyala dalam sekejap. Lalu, tiba-tiba 

kapak itu bagaikan terbang dalam ikatan rantainya yang 

bisa mulur panjang. Wungng...! Sreekkk...!

Kalau saja kepala Perawan Sesat tidak segera 

merunduk dan berguling di tanah, sudah pasti akan 

terpenggal mata kapak itu. Juga kalau Selendang Kubur

yang berdiri sejajar dengan Perawan Sesat itu tidak 

segera gulingkan badan ke tanah, lehernya akan putus 

seketika karena ditebas kilasan kapak terbang itu.

Peri Malam yang berada tepat di garis lurus depan 

Dirgo itu segera keluarkan sumpit bambunya dari 

belahan dadanya yang montok itu. Lalu, ia tiupkan 

napasnya melalui lubang sumpit yang panjangnya hanya 

sejengkal. Slup...! Maka meluncurlah senjata andalannya 

yang bernama Jarum Iblis itu ke arah Dirgo Mukti. 

Crasss...! Duaarrr...!

Jarum Iblis tak berhasil menembus sasaran, karena 

kapak Dirgo Mukti yang mengeluarkan bunyi dengung 

berkumandang itu menangkis jarum tersebut. 

Tangkisannya itu menimbulkan percikkan nyala api 

bersama bunyi ledakan yang menggema.

Pada kesempatan lengah sedikit itu, Selendang Kubur

segera sabetkan selendangnya dengan satu hentakkan 

kaki ke bumi. Jurus 'Selendang Petir' diganaskan. Dari 

ujung kain selendang itu keluar percikkan api yang 

mampu membakar lawan.

Craapp... craapp...! 

Melihat datangnya bahaya dari samping, Dirgo Mukti 

segera sentakkan kaki dan melenting di udara dengan 

kapaknya tetap berputar membentengi dirinya. 

Wuusss...! Sabetan 'Selendang Petir' hanya membuat 

nyala api sekejap, menyambar tempat kosong. 

Sementara itu, ujung kapak Dirgo Mukti keluarkan sinar 

merah membara yang meluncur cepat ke arah Peri 

Malam. Sinar merah membara itulah yang tadi 

digunakan menghantam Suto. 

Wuusssh...! Cepat sekali gerakan sinar merah 

membara dari logam berbentuk mata tombak itu.

Sebelum mencapai tubuh Peri Malam, Perawan Sesat 

cepat sentakkan tangan kanannya dan melesatlah sinar 

kuning menghantam logam membara itu.

Duaarrr...!

Pecah logam membara itu tepat di atas kepala Peri 

Malam. Dentumannya membuat tubuh Peri Malam 

tersentak dan jatuh tersungkur. Tetapi ia segera bangkit 

lagi dan dalam posisi duduk ia luncurkan Jarum Iblis di 

kaki Dirgo Mukti. Slaappp...!

"Uuhf...!" Dirgo Mukti menahan rasa sakit yang 

mengagetkan, karena begitu ia mendaratkan kakinya ke 

tanah, jarum beracun itu telah menyambut betisnya 

dengan empuk. Jruubb...!

Dua pasang mata yang memperhatikan pertarungan 

tak imbang itu menjadi tegang. Dua pasang mata itu ada 

di atas pohon, di lereng bukit agak ke bawah. Karena 

posisinya ada di atas pohon, jadi kedua pasang mata 

milik dua manusia itu dapat melihat dengan jelas 

pertarungan tersebut.

"Dirgo Mukti bisa mati! Dia terdesak terus dan telah 

berkena Jarum Iblis milik Peri Malam!"

"Jar... jar... jarum itu kulihat mempunyai serbuk 

racun! Sangat ber... ber... berbahaya racun itu. Kedipan 

serbuknya dapat tertangkap oleh mat... mata... mataku!"

"Kasihan Dirgo Mukti! Bagaimana kalau aku 

membantunya, meleraikan pertarungan itu?"

"Jang... jang... jangan! Kkkau... kau sudah dianggap

mat... mati oleh mereka!" 

Ya, Suto telah dianggap mati oleh tiga perempuan

patah hati. Tapi sebenarnya dia sedang menjadi 

penonton pertarungan di atas Bukit Jagal itu bersama 

Dewa Racun. 

Ini semua gagasan Dewa Racun, si kerdil yang cerdik 

itu. Ia berhasil menemukan seekor orang hutan. Ia cepat 

jinakkan orang hutan itu. Lalu, ia suruh Suto 

menggunakan ilmu 'Seberang Raga'-nya sehingga orang 

hutan itu bisa menjadi wujud dirinya di mata orang-

orang yang ada di atas bukit tadi. Orang hutan yang 

sudah berubah wujud Suto itu masuk arena pertarungan

dan tentu saja dengan mudahnya dikalahkan Dirgo 

Mukti. Dengan begitu, Dirgo Mukti berhak menuntut 

janji dari ketiga perempuan licik itu, dan ketiga 

perempuan licik menjadi kebingungan, karena tidak 

menyangka bahwa Dirgo Mukti benar-benar dapat 

membunuh Pendekar Mabuk.

Pendekar Mabuk tertawa geli melihat tiga perempuan 

licik itu berontak, tak mau ditagih janjinya oleh Dirgo 

Mukti. Rupanya mereka benar-benar bernafsu untuk 

membunuh Dirgo Mukti. Sehingga, walaupun keadaan 

Dirgo Mukti sudah lemah dan parah, mereka masih terus 

menyerangnya. Sampai akhirnya Dirgo Mukti 

tersungkur jatuh dengan luka dalam dan luar, namun ia 

masih bisa berlutut dan mencoba berdiri lagi. 

"Habislah nyawamu sekarang juga, Jahanam!" geram 

Perawan Sesat sambil lancarkan pukulan pamungkasnya 

yang amat berbahaya itu. Tapi tiba-tiba kilatan cahaya 

merah dari tangan Perawan Sesat tersentak ke samping, 

didorong oleh kilatan cahaya hijau yang datang secara

tiba-tiba. 

Glegaaar...! 

Tabrakan cahaya bertenaga dalam tinggi itu membuat 

bukit bagaikan mau rubuh. Dentumannya mengguncang 

bumi, membuat ketiga tubuh perempuan itu terpental 

berlainan arah. Jatuh telentang dengan erangan yang 

lirih. Ketiganya cepat berusaha untuk bangkit kembali.

"Hi hi hi hi...!" terdengar suara tawa mirip kuntilanak 

yang berdiri di depan mereka bertiga. Suara itu berasal 

dari seorang nenek berjubah biru lusuh, pakaiannya 

serba abu-abu. Badannya agak bungkuk, rambutnya 

digulung naik, berwarna abu-abu juga. Di pinggangnya 

terselip tengkorak kambing bergagang tulang ikan 

berukuran antara dua jengkal.

Peri Malam tak asing lagi dengan wajah bermata 

cekung angker itu. Karena dulu ia pernah menjadi murid 

nenek keriput bergigi ompong dan tak bisa menyebutkan 

huruf 'r'. 

"Guru,..?!"

"Hei, jangan sebut aku gulumu lagi, Peli Malam!" 

kata nenek angker yang dikenal dengan nama Mawar 

Hitam dari Pulau Hantu itu. "Kamu sudah bukan lagi 

mulidku! Kamu sesat, dan perlu kuhajal juga lupanya!"

"Tunggu!" sentak Perawan Sesat ketika Mawar Hitam 

ingin menghantamkan pukulan jarak jauhnya. "Apa 

urusanmu ikut campur pertarungan kami ini, Nenek 

Peot!"

"Aku memang cali-cali anak muda ini! Dia punya 

kesaktian cukup lumayan buat kuselap, sama dengan

kesaktian gulumu si Nyai Lembah Asmara itu! Aku akan 

jadi olang yang paling tinggi ilmunya setelah kuselap 

banyak ilmu dali olang-olang yang kuselamatkan dali

peltalungan!"

Wuttt...! Dengan sekali sentak kaki, tubuh Dirgo 

Mukti sudah melesat sendiri dan jatuh di pundak Mawar 

Hitam. Badannya yang bungkuk semakin bungkuk lagi 

menggendong tubuh Dirgo Mukti yang sudah nyaris 

mati itu.

"Akan kau bawa ke mana dia? Kami harus 

membunuhnya lebih dulu, baru kamu boleh membawa 

mayatnya pergi!" sentak Selendang Kubur.

"Benar, Guru!" sahut Peri Malam yang sudah terbiasa 

memanggil 'guru' kepada Mawar Hitam. "Kami harus 

hancurkan Dirgo Mukti, karena dia telah membunuh

Suto!"

"Hik hik hik hik...! Pendekal Mabuk belum mati! Dia 

masih sembunyi! Kalian telah dikecohkan oleh Pendekal 

Mabuk! Hi hi hi hi...! Kalian tidak akan sanggup 

melawan Suto, kalena Suto itu adalah lawanku! Aku 

halus tebus kekalahanku dalam lebutan Pusaka Tuak 

Setan, setelah aku tebus kekalahanku tempo hali, aku 

halus bunuh gulunya yang belnama Bidadali Jalang! 

Tapi itu lanti, kalau aku sudah selap banyak ilmu dali 

olang-olang bodoh macam Dilgo Mukti ini! Hik hik 

hik...!"

Mawar Hitam bergerak mau tinggalkan tempat. Tapi 

Perawan Sesat cepat lompat dan hadang langkah Mawar 

Hitam. Dengan berani ia menyentak Mawar Hitam.

"Tinggalkan manusia itu di sini!" 

"Ah, kamu mau cali-cali mati lupanya?"

Mawar Hitam segera kibaskan tangannya bagai

menyambar nyamuk. Wuuttt...! Tepat pada saat itu sinar 

merah berbentuk bulat seperti bola kecil itu melesat dari 

siku Mawar Hitam, melesat ke dada Perawan Sesat.

Kejap berikut, Dewa Racun lepaskan anak panahnya 

dari atas pohon. Wuuttt....! Panah itu meluncur bagai 

kilat menyambar bola merah.

Blaarrr...!

Tubuh Mawar Hitam tersentak mundur karena 

hempasan angin dari ledakan bola merahnya itu. 

Perawan Sesat terpentang dan nyaris jatuh ke jurang 

dalam itu.

Ledakan itu menimbulkan hentakkan gelombang 

yang cukup besar. Mawar Hitam sendiri segera berpaling 

ke arah datangnya anak panah tadi. 

"Kulang ajal...!" geramnya dengan beringas. Slapp...! 

Tiba-tiba tubuh Pendekar Mabuk sudah berada di 

samping Mawar Hitam dalam satu lompatan 

berkecepatan tinggi sekali itu. Pendekar Mabuk 

langsung berkata, 

"Kalau kau mau hadapi aku, sekaranglah kita 

tentukan pertarungan kita di sini, Mawar Hitam!"

Yang terkejut bukan hanya Mawar Hitam, tapi ketiga 

perempuan itu sama-sama tersentak kaget dan mundur 

dalam jarak tertentu.

"Dia masih hidup!" bisik Selendang Kubur kepada 

Peri Malam. Tapi yang diajak bicara hanya terbengong.

Perawan Sesat juga hanya berdiri mematung tak 

berkedip.

"Suto, saatnya belum tiba untuk peltalungan kita!

Tunggu bebelapa waktu lagi! Akan kuhanculkan kamu 

sampai selembut selbuk tepung! Jangan sangka aku tidak 

bisa ungguli ilmumu, Suto!" 

"Telselah kamu!" tak sadar Pendekar Mabuk ikut 

cadel bicaranya, namun buru-buru ia perbaiki lagi, 

"Terserah kamu, Mawar Hitam! Kapan saja kau 

menghendaki pertarungan kita, aku siap menunggumu!"

"Tunggu saatnya!" dan tiba-tiba, Mawar Hitam 

seperti membanting sesuatu. Wuugh...! Asap mengepul 

tebal dari sebuah letupan. Asap itu menipis, Mawar 

Hitam ternyata sudah hilang dari pandangan bersama 

tubuh Dirgo Mukti.

"Ada yang masih bernafsu membunuhku?!" tantang 

Pendekar Mabuk kepada ketiga perempuan itu. Tapi tak 

satu pun menyahut, tak satu pun bergerak. Bahkan ketika 

Suto tertawa sambil tinggalkan tempat itu, mereka hanya 

bisa mengikuti dengan pandangan mata bengong.

Dewa Racun datang menyambut langkah Suto. Orang 

kerdil itu tersenyum-senyum sambil berkata,

"Kkku... kurasa sudah tidak adalah masalah dengan 

Bukit Jagal ini, Suto. Kit... kkkit... kita langsung saja 

pergi ke sana!" 

"Baik! Aku sependapat denganmu, Dewa Racun!"

"Nyai Gusti pas... pass... pasti akan sen... sen... sen..."

"Seneb?!"

"Bukan! Akan sen... senang menerima

kedatanganmu. Nyai Gusti pasti sudah tidak sabar men... 

men... men...."

"Menungging?"

"Menunggumu! Bukan menungging!" sentak Dewa

Racun yang segera ditertawakan oleh Suto.

Langkah kaki Suto begitu cepat, seiring dengan 

langkah kaki Dewa Racun. Dalam kejap berikut 

Pendekar Mabuk dan Dewa Racun sudah sama-sama 

menghilang dari pandangan tiga perempuan salah 

tingkah itu.

"Hei, mengapa kita tidak membunuhnya? Suto sudah 

ada di depan kita!" kata Peri Malam.

Selendang Kubur berkata. "Adakah dari kita yang 

tega membunuhnya?" 

Tak satu pun ada yang menjawab dari mulut mereka. 

Semua diam, bingung, dan hanya bisa saling pandang 

satu dengan yang lainnya.

SELESAI

PENDEKAR MABUK

Ikuti kisah selanjutnya!!!

serial Pendekar Mabuk

Suto Sinting

dalam episode :

UTUSAN SILUMAN TUJUH NYAWA



0 komentar:

Posting Komentar