Serial : Pendekar Mabuk
Judul : Pertarungan Di Bukit Jagal
Pengarang : ?
Penerbit : ?
Hak cipta dan copy right pada penerbit dibawah
lindungan undang-undang
Dilarang mengcopy atau memperbanyak sebagian
atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit
1
ANGIN laut berhembus guncangkan dahan dan
dedaunan. Suara deru yang timbul dari hembusan angin
itu menandakan di tengah samudera telah terjadi badai
lautan yang melemparkan gulungan-gulungan ombak.
Ketika sampai di tepi pantai, gulungan ombak itu sudah
menjadi anak ombak. Tak begitu besar, namun cukup
kuat berdebur menghantam bebatuan ataupun tebing
karang.
Hembusan angin laut yang masih terasa kencang itu
menerpa dua wajah perempuan disela-sela hutan tepi
pantai. Dua wajah itu sudah semalaman berada di hutan
tepi pantai menunggu mangsanya tiba. Dua wajah
perempuan yang masing-masing mempunyai nilai
kecantikan sendiri-sendiri itu tak lain adalah wajah
Selendang Kubur dan wajah Peri Malam.
Melihat dari bibir-bibir mereka yang tanpa seulas
senyum, terlihat sikap bermusuhan mereka yang
terpendam untuk sementara waktu. Peri Malam sebentar-
sebentar memandang ke arah lorong kecil yang
menyerupai gua, yang ada di atas tebing karang tepi
pantai. Lorong kecil itu hanya bisa dimasuki oleh satu
tubuh manusia dalam keadaan merangkak. Tapi sejak
tadi, bahkan sejak kemarin Peri Malam tidak melihat
sosok tubuh keluar dari lorong tersebut.
Selendang Kubur sering hembuskan napas bersama
desah kekesalan hatinya. Sudah cukup lama dipandangi
lorong kecil itu, lalu ia palingkan wajah kepada Peri
Malam dan berkata dengan nada ketus,
"Mana orang itu?! Sampai sekarang belum juga
muncul dari sana!"
"Jangan-jangan dia mati dibunuh Pendekar Mabuk di
dalam lorong!" ucap Peri Malam dengan wajah
bersungut-sungut.
"Atau mungkin angan-anganku yang mati dibunuh
bualanmu!" Selendang Kubur berkata begitu karena
kecemasan di dalam hatinya semakin kuat, yaitu
kecemasan dipermainkan oleh Peri Malam.
"Kalau aku mau membual, tak perlu membual
untukmu! Tak pernah ada untungnya menebar bualan
untukmu, Selendang Kubur!"
Debur ombak kembali terdengar bergemuruh
panjang, lalu lenyap bagai ditelan sepi. Selendang Kubur
kembali merenungi peristiwa yang membawanya
terpatok di hutan tepi pantai itu. Semua itu terjadi gara-
gara perasaan cintanya terhadap murid sinting Si Gila
Tuak, yaitu Suto Sinting, Pendekar Mabuk. Kalau bukan
karena cinta yang begitu dalam. Selendang Kubur tak
sudi menghadang kemunculan Nyai Lembah Asmara di
hutan tepi pantai itu.
Seperti dikisahkan dalam cerita "Murka Sang Nyai"
sebelum kisah ini, bahwa Pendekar Mabuk terpedaya
oleh tipuan Perawan Sesat yang membuat Suto merasa
gembira karena ingin dipertemukan dengan kekasih
idamannya yang bernama Dyah Sariningrum. Suto sudah
telanjur beranggapan bahwa Nyai Lembah Asmara yang
berkuasa di lereng Bukit Garinda itu adalah perempuan
yang bernama Dyah Sariningrum, yang wajahnya
ditemukan Pendekar Mabuk di alam semadi, maupun di
alam mimpi. Tetapi, ternyata Pendekar Mabuk kecewa.
Nyai Lembah Asmara adalah perempuan yang tidak
mirip sama sekali dengan Dyah Sariningrum.
Suto terjebak dalam Racun Darah Asmara yang
dimiliki oleh sang Nyai itu. Pendekar Mabuk hanya
ingin dijadikan pembenih bagi keturunan sang Nyai. Dan
hal itu membuat murka para perempuan yang mencintai
Suto. Maka, melabraklah Peri Malam, Selendang Kubur
yang dibantu oleh Pujangga Keramat dan Betari Ayu,
guru dari Selendang Kubur. Bukit Garinda diobrak-abrik
oleh keempat orang itu. Sayang, Pujangga Keramat
tewas di tangan Maharani dan Putri Alam Baka, murid
Nyai Lembah Asmara sendiri.
Betari Ayu berhasil mendobrak pintu kamar peraduan
yang menjadi tempat kencan Nyai Lembah Asmara dan
Pendekar Mabuk. Tetapi di dalam kamar itu, Betari Ayu
tidak menemukan Pendekar Mabuk maupun Nyai
Lembah Asmara. Rupanya Nyai Lembah Asmara sudah
lebih dulu melarikan Suto dengan menunda kencan
birahinya yang telah menggebu-gebu itu. Ke mana
larinya, hanya Peri Malam yang bisa menduga, karena
Peri Malam pernah menjadi murid sekaligus pelayan
kamar peraduan Nyai Lembah Asmara. Menurut dugaan
Peri Malam, kamar itu mempunyai pintu rahasia yang
tembus ke tepi pantai. Atau dugaan lain, Nyai Lembah
Asmara membawa lari Suto ke puncak bukit. Karenanya,
tugas pun dibagi. Peri Malam dan Selendang Kubur
menghadang pelarian Nyai Lembah Asmara ke pantai,
dan Betari Ayu mencoba pengejarannya ke puncak
bukit.
Sayangnya Betari Ayu tidak segera menghubungi
Peri Malam dan Selendang Kubur untuk
memberitahukan, bahwa ia sudah berhasil menemukan
Suto yang selamat dari ancaman Nyai Lembah Asmara.
Peri Malam dan Selendang Kubur tidak tahu hal itu,
sehingga mereka berdua masih tetap menunggu di dekat
lorong tembus yang diduga akan menjadi ujung pelarian
Nyai Lembah Asmara dan Suto. Padahal saat itu Nyai
Lembah Asmara sudah dibawa lari oleh Si Mawar
Hitam, nenek keriput peot yang dulu menjadi guru dari
Peri Malam.
Tentu saja penantian mereka adalah penantian yang
sia-sia. Selendang Kubur berulang kali melontarkan
gerutu kejengkelannya, tapi Peri Malam tak pernah mau
peduli. Bahkan Peri Malam berkata,
"Kalau kau bosan menunggu, pergilah sana! Biar
kuhadapi sendiri Nyai. Kau pikir aku tak mampu
merebut Suto dari tangan Nyai?!"
"Dan kau pikir aku tak mampu merebut Suto dari
tanganmu?!"
Peri Malam lemparkan pandang ke wajah Selendang
Kubur dengan tajam. Ia masih duduk dengan kaki kiri
melonjor dan punggung bersandar pada batang pohon
tumbang.
Tatapan mata itu makin ditentang oleh mata
Selendang Kubur. Ia tetap berdiri dengan satu kaki
menumpang di atas batang kayu tumbang, sedangkan
kaki satunya lurus berpijak tanah, badannya sedikit
membungkuk karena lengannya digunakan bertumpu
pada paha kaki.
Setelah mereka saling pandang bermusuhan dan
sama-sama bungkamkan mulut, Peri Malam palingkan
wajah ke arah lain sambil ucapkan kata,
"Kelak, suatu saat, aku yakin satu di antara kita ada
yang terbunuh. Kau membunuhku atau aku
membunuhmu. Sebab tanpa ada satu yang kalah, tak
mungkin Pendekar Mabuk mengawini keduanya."
"Dan yang kalah itu adalah kamu!" kata Selendang
Kubur berlagak acuh tak acuh, memandang dedaunan
pohon di atas.
Terdengar suara tawa Peri Malam yang lirih, disusul
oleh ucapan,
"Jangan merasa yakin dulu bahwa kau bisa
membunuhku. Kau belum menyadari betapa kecilnya
ilmu yang kau miliki itu sebenarnya, betapa ceteknya
kekuatanmu itu untuk melawanku. Sebenarnya kau
memang bukan tandinganku."
Panas hati Selendang Kubur menyengat ubun-ubun.
Kedua tangannya telah menggenggam kuat, menahan
luapan kemarahan yang ingin dihajarkan ke wajah Peri
Malam. Tapi agaknya Peri Malam pun sudah siaga
menghadapi serangan sewaktu-waktu. Posisi kakinya
yang dilipat dengan lutut tegak ke atas itu dapat
menyambar pukulan sewaktu-waktu. Mata Peri Malam
pun tampak tajam melirik penuh waspada.
"Sekali lagi kau memancing kemarahanku, kujadikan
tempat ini sebagai pertarungan kita yang terakhir!"
ancam Selendang Kubur seraya menurunkan kakinya
yang bertengger di batang pohon tumbang.
Peri Malam hanya sunggingkan senyum tipis bernada
sinis. Ia pun segera bangkit dan melangkah dua tindak
membelakangi Selendang Kubur sambil berkata, "Kalau
memang rasanya itu yang terbaik, mengapa harus tunda
pertarungan? Tak keberatan diriku menjadikan tempat
ini sebagai pertarungan kita yang terakhir!"
Sreet...! Selendang Kubur segera mencabut
selendangnya dari pinggang. Peri Malam cepat balikkan
badan dan angkat kedua tangannya ke atas, siap
lancarkan pukulan jarak jauhnya.
"Cobalah serang aku kalau kau ingin kehilangan
nyawa secepatnya!" gertak Selendang Kubur.
"Kau sendiri tak berani menyerangku, karena aku
tahu kau takut kehilangan nyawamu!"
"Keparat kau! Hiaah...!"
Wuuut...!
Kain selendang dikibaskan ke depan. Gerakannya
begitu cepat bagaikan seekor ular yang gesit mematuk
mangsanya. Tapi pada saat itu, Peri Malam tak kalah
gesit. Ia keraskan tangan kanannya dengan jari-jari
terbuka, ia sentakkan ke depan dan melesatlah suatu
kekuatan tenaga dalam yang cukup tinggi.
Weeegh...!
Selendang Kubur sentakkan ujung kakinya hingga
tubuhnya melesat naik lurus ke atas dan hinggap di salah
satu dahan pohon. Peri Malam juga sentakkan kakinya
dan tubuhnya melayang cepat lurus ke atas, lalu hinggap
di salah satu dahan dalam pohon itu juga. Keduanya
sama-sama menghindari pukulan, sehingga kedua
pukulan bertenaga dalam itu tidak mengenai sasaran,
kecuali mengenai benda-benda lain di sekitar mereka.
Peri Malam melihat pukulannya nyasar ke sebongkah
batu dan batu itu menjadi terbelah tiga bagian.
Selendang Kubur melihat tenaga dalam yang keluar dari
ujung selendangnya mengenai bongkahan akar pohon
kering, dan akar pohon itu menjadi hangus seketika.
Kini keduanya sama-sama di atas pohon beda dahan.
Keduanya sama-sama siap lancarkan serangan lagi. Tapi
sebelumnya Peri Malam berkata dengan sungging
senyum sinisnya.
"Kulunakkan pukulanku, karena aku masih
memberimu kesempatan untuk berpikir dalam
menghadapiku. Sekali lagi kuingatkan, aku bukan lawan
tandingmu, Selendang Kubur!"
"Kupikir memang benar, aku bukan lawan
tandingmu. Karena kau merasa tak akan bisa
mengungguli ilmuku, sehingga kau hanya bisa berkoar-
koar seperti itu sejak dulu!"
Hinaan balik itu membuat hati Peri Malam makin
menggeram. Tapi hatinya berkata,
"Memang kuakui dia punya ilmu lumayan tinggi.
Kalau pertarungan ini kulakukan sekarang juga, aku atau
dia yang kalah, dan hal itu akan menguntungkan Ratu.
Untuk merebut Suto dan mengalahkan Ratu, aku masih
membutuhkan bantuannya. Tak cukup imbang ilmuku
jika sendirian dalam melawan Ratu! Sebaiknya, kutunda
dulu dendamku kepadanya."
Melihat tangan kekar Peri Malam mengendurkan
urat-uratnya, Selendang Kubur pun sedikit demi sedikit
mengurangi ketegangannya. Saat itu terucap di dalam
hati Selendang Kubur,
"Kalau kulayani dia sekarang, bisa habis tenagaku
melawan Nyai Lembah Asmara nanti. Sebaiknya
kuhemat dulu tenagaku untuk menghimpun kekuatan.
Tanpa kekuatan yang penuh seperti saat ini, sepertinya
mustahil aku bisa mengalahkan Nyai dan merebut
Pendekar Mabuk dari tangannya!"
Kedua perempuan itu kembali memandang ke arah
lorong di atas tebing karang. Lorong itu masih sepi,
tanpa seekor tikus pun keluar masuk di dalamnya.
Bungkamnya kedua mulut mereka yang menciptakan
keheningan cukup panjang itu telah membuat Selendang
Kubur mempunyai gagasan lain,
"Bagaimana kalau kita periksa saja ke dalam lorong
itu?! Siapa tahu justru Nyai Lembah Asmara sedang
"menggarap' Suto di dalam lorong!"
"Atau mungkin mereka memang tidak lewat pintu
rahasia di dalam kamar itu? Jika Nyai Lembah Asmara
tidak membawa lari Suto melalui pintu rahasia, biar
sampai mampus tak akan kita temukan mereka di sini!"
"Kalau begitu, biarlah kuperiksa sendiri lorong itu
sampai ke bagian dalamnya!" kata Selendang Kubur
bersiap untuk pergi. Tapi Peri Malam segera palingkan
wajah dan pandangannya lebih tajam,
"Pergilah ke sana kalau kau ingin cepat mati dihujam
jebakan maut yang dipasang di dalam lorong itu!"
"Jebakan...?!" gumam perempuan berpakaian merah
dadu itu.
"Nyai memasang banyak jebakan di sana, sehingga
tidak sembarangan orang bisa masuk ke lorong itu!
Siapa yang terkena jebakan di sana tak akan hanya
sekadar menderita luka saja, tapi pasti mati tanpa nyawa
sedikit pun!"
Selendang Kubur menggerutu pelan, "Yang namanya
mati ya tanpa nyawa!" Kemudian, ia menatap lorong
tersebut sambil memutar otaknya, mencari jalan menuju
kepastian; tetap menunggu di situ, atau pergi dengan
kesimpulan lain?
Kejap berikutnya Selendang Kubur melompat ke
dahan yang dipijak Peri Malam. Sambil melompat ia
berkata,
"Bagaimana kalau kita cari di tempat lain? Barangkali
bukan lorong itu yang menjadi tempat keluar mereka?!"
Peri Malam hampir kaget sedikit dan hampir
kibaskan tangannya ketika Selendang Kubur tahu-tahu
ada di sampingnya. Setelah melihat tak ada gelagat
untuk menyerang pada diri Selendang Kubur, Peri
Malam pun turunkan tangannya dan menjawab
pertanyaan tadi,
"Kurasa tak ada jalan keluar lainnya! Cuma lorong
itulah satu-satunya jalan keluar!"
"Atau, barangkali saja mereka tidak melalui pintu
rahasia? Mungkin saja mereka pergi ke puncak bukit?
Dan di sana mereka pasti akan bertemu dengan Nyai
Guru Betari Ayu!"
"Ya. Memang itu satu kemungkinan! Tapi aku tak
yakin apakah gurumu punya ilmu yang cukup untuk
menandingi Nyai Lembah Asmara?!"
Selendang Kubur tersinggung gurunya diremehkan.
Cepat berkelebat tangannya menghantam rusuk Peri
Malam dengan menggunakan punggung telapak tangan.
Tapi, cepat pula tangan Peri Malam menangkisnya
dengan cara mengadu telapak tangannya dengan pukulan
lawan, Plakk...!
"Sekali lagi kau meremehkan guruku, kurobek
jantungmu!" geram Selendang Kubur dengan mata
mendelik garang.
"Kau tak akan bisa, Selendang Kubur!" ucap Peri
Malam dengan senyum sinis. Tapi dalam hatinya ia
membatin,
"Boleh juga pukulan tangannya. Tulang lenganku jadi
ngilu dan telapak tanganku kesemutan akibat menahan
pukulan tangannya."
Selendang Kubur kendurkan urat, lepaskan
ketegangan. Tapi wajahnya masih terlihat kaku dan
penuh kedongkolan. Diam-diam rupanya Selendang
Kubur juga membantin kata,
"Sial! Gerakan tangkisnya begitu cepat! Tak bisa aku
mencuri kesempatan untuk meremukkan tulang
rusuknya. Tenaga dalamnya begitu cepat mengalir ke
telapak tangannya, membuat kulit tanganku terasa panas
sekali mendapat tangkisan telapak tangannya!"
Selendang Kubur mengambil posisi duduk di antara
tiga dahan yang berjajar mirip balai-balai kecil.
Punggungnya dipakai bersandar pada dahan besar
lainnya. Sementara itu, Peri Malam pun merasa perlu
sedikit santai, ia duduk dengan satu kaki berjuntai dan
satunya lagi menapak di salah satu dahan. Punggungnya
yang bersandar di bagian batang utama pohon itu. Ia
memetik segerumbul buah yang mirip duku itu dan
memakannya dengan menyipit-nyipitkan mata karena
kecut.
"Peri Malam," sapa Selendang Kubur setelah
merasakan jenuhnya dilanda sepi dalam keadaan
berduaan seperti itu.
"Hmmm...!" Peri Malam menggumam tak berpaling
memandang.
"Apakah kau benar-benar mencintai Pendekar
Mabuk?!"
"Apa perlunya kau bertanya begitu?" Peri Malam
ganti bertanya.
"Jawab saja pertanyaanku, daripada aku harus
memaksamu dengan ancaman mencekik lehermu!"
Peri Malam lepaskan tawa kecil. "Hi hi hi.... Kalau
aku tidak benar-benar mencintai Suto, untuk apa aku
bersusah payah begini, sampai kubela-bela menjadi
murid murtad dan hidup tanpa naungan! Perasaanku
terhadap Suto begitu dalam, kadang menyenangkan,
kadang menyakitkan. Karena sikap Suto kepadaku tak
pernah punya kepastian."
Selendang Kubur tarik napas panjang, lalu berkata,
"Seingatku sudah dua kali kita bentrok gara-gara lelaki
dan cinta."
"Apakah menurutmu kita ini perempuan-perempuan
bodoh? Apakah menurutmu kita ini wanita yang dungu,
yang mau diperbudak oleh ketampanan seorang lelaki
sehingga mau-maunya bertaruh nyawa untuk
mendapatkannya?"
"Mungkin juga," jawab Selendang Kubur kecil sekali.
Tangannya masih memainkan daun-daun pohon yang
dicabut-cabut tepiannya.
"Apakah menurutmu, seorang perempuan
mempertaruhkan nyawa untuk seorang lelaki itu adalah
tindakan yang keliru?"
"Tergantung lelakinya," jawab Selendang Kubur.
"Kalau lelakinya punya cinta dan kesetiaan kepada kita,
nyawa yang dipertaruhkan adalah suatu kemuliaan yang
tinggi dari seorang wanita."
"Tapi jika ternyata Pendekar Mabuk tidak mencintai
satu di antara kita, apakah kita harus tetap bertaruhkan
nyawa, saling bertarung dan saling berusaha
membunuh?"
"Itu yang kupikirkan sejak tadi, Peri Malam! Kau
atau aku yang mati nantinya, belum tentu ditangisi oleh
Suto. Kau atau aku yang menang nantinya, belum tentu
dicintai oleh Suto!"
"Ya. Aku juga berpikir begitu. Tapi dia sangat
tampan dan menawan hati. Dia punya daya tarik yang
luar biasa, yang membuat hatiku terjerat lekat!"
"Hatiku pun terjerat lekat, Peri Malam. Tak bisa
kubohongi lagi, aku sangat merindukan kehangatan
cintanya!"
"Jadi kesimpulan yang ada ialah, bahwa ketampanan
dan daya tariknya itulah yang membuat kaum wanita
saling bunuh seperti binatang! Ketampanan Pendekar
Mabuk itulah racun bagi kita, Selendang Kubur!"
"Barangkali memang begitu. Sebab kupikir-pikir,
seandainya tak ada Suto, mungkin kita tidak akan
berselisih lagi, mungkin kita tidak saling membunuh
lagi!"
"Bagaimana kalau kita lenyapkan saja dia, Selendang
Kubur?!"
Usul itu membuat Selendang Kubur terperanjat bagai
sadar dari lamunan panjangnya, ia menggumam,
"Maksudmu, kita bunuh dia supaya tidak menjadi racun
permusuhan bagi kita?"
"Ya. Bukan hanya bagi kita, tapi bagi kaum
perempuan lainnya!"
*
* *
2
ANGIN berhembus entah dari mana datangnya.
Pikiran kedua perempuan itu jadi berubah. Hati yang
jatuh cinta menjadi benci. Jiwa yang rindu berubah
menjadi kering. Sikap terpikat menjadi dendam kesumat.
Maka mereka berdua pun bergegas pergi mencari
Suto dengan tujuan membunuh Pendekar Mabuk itu.
Arah pertama yang mereka tuju adalah puncak Bukit
Garinda. Tapi di sana mereka tidak menentukan siapa
pun.
"Tapi aku yakin, Suto beberapa waktu ada di sini
sebelum kita tiba," kata Peri Malam. "Dari mana kau
tahu?"
"Sisa bau keringatnya masih bisa tercium oleh
hidungku!" jawab Peri Malam sambil menghirup-hirup
udara, mendengus-dengus ke sana-sini. Sampai akhirnya
arah hidungnya berhenti menghadap timur.
"Hmm... dia pergi ke arah timur. Kita kejar dia ke
timur, Selendang Kubur!"
Cepat mereka melesat secepat angin dari barat.
Hembusan angin dari barat membuat Peri Malam
kehilangan penciumannya. Bau keringat Pendekar
Mabuk tak terlacak lagi. Mereka kehilangan arah dan
berhenti di salah satu gugusan tanah cadas yang
membukit.
"Aku kehilangan penciumanku," kata Peri Malam.
"Bagaimana kalau kita kejar terus ke timur?"
"Belum tentu dia ke sana. Mungkin membelok arah
utara atau ke selatan, mana kita tahu?"
"Jika begitu, kita berpencar! Kau ke utara aku ke
selatan!"
Usul Selendang Kubur direnungkan sebentar oleh
Peri Malam, sesaat kemudian terdengar suara Peri
Malam berkata,
"Jika aku ke utara, kau ke selatan, lantas siapa yang
timur?"
Tiba-tiba terdengar jawaban di belakang mereka,
"Aku...!"
Serentak kedua perempuan itu palingkan muka ke
belakang, dan terperanjat mereka melihat seraut wajah
cantik dengan rambut acak-acakan telah berdiri tegak
dengan sepasang kaki sedikit merentang. Wajah
berambut acak-acakan itu mengenakan pakaian ketat
warna ungu muda dengan ikat pinggang kuning.
Ia juga menyandang pedang gading di punggungnya,
dengan wajah dan sorot pandangan mata berkesan
beringas.
Selendang Kubur dan Peri Malam tak asing lagi
dengan perempuan berambut jabrik itu, yang tak lain
adalah Perawan Sesat. Selendang Kubur segera sigap
pasang kuda-kuda untuk menyerang. Peri Malam hanya
pasang kewaspadaan yang sewaktu-waktu tangan dan
kakinya siap hadapi serangan pula. Tapi Perawan Sesat
tampak tenang-tenang saja.
"Apa maksudmu ikut menjawab percakapan kami,
Perawan Sesat?!" sentak Peri Malam dengan mata tak
bergeser sedikit pun dari wajah cantik berkesan beringas
itu.
"Aku mengikuti percakapan kalian sejak dari hutan
tepi pantai!" kata Perawan Sesat. "Dan aku sangat
tertarik dengan rencana kalian itu! Pendekar Mabuk
memang harus dilenyapkan, karena dia menyebar racun
cinta yang membuat sesama perempuan saling
membunuh!"
"Rupanya kau mengalami nasib yang sama dengan
kami, Perawan Sesat? Dan kau ingin bergabung dengan
kami?"
"Tak ada salahnya!" Perawan Sesat mengangkat
pundak sambil langkahkan kaki dekati sebuah batu. Di
sana dia duduk dengan kedua sikunya diletakkan di
kedua pahanya, hingga sedikit membungkuk tubuhnya.
Di sana ia perdengarkan kata,
"Aku jatuh cinta pada Pendekar Mabuk. Bahkan lebih
gila dari kalian! Tugasku membawa Pendekar Mabuk
menghadap Nyai Lembah Asmara kuselewengkan. Aku
berani mengkhianati guruku sendiri, yaitu Nyai Lembah
Asmara. Aku berani melawan kekuatan Maharani dan
Putri Alam Baka, sampai aku terluka dalam dan
diselamatkan oleh Peramal Pikun. Semua itu kulakukan
karena kegilaanku terhadap Suto."
Perawan Sesat membayangkan semua itu dalam satu
renungan yang menyimpan bara dendam. (Baca serial
Pendekar Mabuk dalam episode: "Murka Sang Nyai").
Kejap berikutnya ia ucapkan kata lagi.
"Sampai sekarang hatiku masih disiksa rindu dan
hasrat ingin bercumbu. Semua itu gara-gara Pendekar
Mabuk, si murid sinting itu! Untuk itu aku harus
meleyapkannya!"
Selendang Kubur angkat bicara, "Tapi kau masih
harus berhadapan denganku, Perawan Sesat! Kau masih
hutang banyak nyawa padaku, karena kau telah banyak
menewaskan saudara-saudara seperguruanku!"
"O, kau dari Perguruan Merpati Wingit?!"
"Ya!" jawab Selendang Kubur dengan mata
menantang.
"Mereka mati gara-gara Suto Sinting, jadi tuntutlah
Suto! Jangan aku!"
"Tapi di tanganmu mereka mati, Bangsat!" bentak
Selendang Kubur. Rupanya ia semakin terpancing
dendam kesumatnya hingga bergegas untuk melepas
kain selendang pusakanya.
"Tahan...!" Peri Malam mencoba menengahi
perselisihan itu dengan maju satu tindak berada di antara
Perawan Sesat dan Selendang Kubur. Peri Malam pun
ucapkan kata,
"Kalau kalian berdua punya perhitungan pribadi,
lakukan perhitungan itu setelah kita selesaikan masalah
Suto!"
Perawan Sesat tarik napas sesaat, lalu berkata dengan
suara serak.
"Aku tak keberatan kalau memang kau ngotot ingin
nuntut balas padaku, Selendang Kubur! Aku siap
menghadapimu kapan saja! Tapi jangan salahkan diriku
jika kau harus kehilangan kepalamu!"
Selendang Kubur menggeram. Matanya menyipit
benci saat ia ucapkan kata, "Kalau bukan karena tujuan
yang sama, sudah kuhancurkan mulut busukmu itu,
Perawan Sesat!"
Peri Malam menyahut, "Hancurkan nanti saja!"
Akhirnya Selendang Kubur kendurkan
ketegangannya. Matanya terlempar jauh ke arah utara.
Saat itu, terdengar suara Perawan Sesat berkata,
"Rasa-rasanya memang kita harus berpencar! Dan
untuk menghabisi nyawa Pendekar Mabuk itu, tak
mungkin kita lakukan secara sendiri-sendiri. Perlu kerja
sama yang baik. Karena si tampan sinting itu
mempunyai ilmu yang cukup tinggi, ia hanya bisa
dikalahkan jika kita gempur secara bersama-sama."
"Jadi bagaimana jika salah satu dari kita nanti
menemukan dia?" tanya Peri Malam.
"Bawa dulu dia ke arah kita masing-masing. Jangan
buru-buru bertindak sebelum kita bertiga saling
bertemu!"
"Aku setuju," jawab Peri Malam. "Ada baiknya
kalau...."
"Ssst...!" tukas Selendang Kubur memberi isyarat
dengan tangan. Cepat ia lompatkan tubuh ke balik
pohon. Melihat gelagat bahaya dari Selendang Kubur,
Peri Malam pun bergegas melompat di balik pohon
sebelah Selendang Kubur. Tak ketinggalan Perawan
Sesat juga cepat sentakkan kaki dan melesat
bersembunyi di balik rimbun daun-daun semak berduri.
Jaraknya tak berapa jauh dari Selendang Kubur dan Peri
Malam.
"Ada apa? Suto lewat?!" bisik Perawan Sesat ke arah
Peri Malam.
"Mana aku tahu?! Selendang Kubur yang melihat
nya!" Peri Malam pun menyapa Selendang Kubur
dengan suara lirih,
"Hei, ada apa? Kau melihat Pendekar Mabuk lewat?"
"Bukan Pendekar Mabuk, tapi... lihatlah ke sana!"
tuding Selendang Kubur.
Perawan Sesat dan Peri Malam sama-sama
memandang ke arah tempat yang ditunjuk Selendang
Kubur. Lalu, mereka berdua sama-sama hempaskan
napas panjang bernada dongkol, serta sama-sama
lepaskan ketegangan. Perawan Sesat terdengar
menggerutu,
"Sial! Kupikir ada bahaya datang!"
"Buatku itu memang bahaya. Karena aku muak
ketemu dia!" cetus Selendang Kubur yang segera ikut-
ikutan keluar dari tempat persembunyiannya, karena
dilihatnya Peri Malam juga keluar dari balik
persembunyiannya. Mereka bertiga sama-sama berada di
tempat bebas dan memandang ke satu arah.
Apa yang dipandang mereka tak lain adalah
kemunculan Dirgo Mukti yang mengaku Manusia
Sontoloyo itu. Jaraknya cukup jauh, namun bisa dilihat
mata telanjang mereka bertiga.
"Agaknya dia sedang dikejar oleh seseorang!" kata
Peri Malam.
"Benar! Pasti ia dalam perselisihan," sahut Perawan
Sesat. "Wajahnya terlihat tegang. Keringatnya
mengucur. Hm... siapa orang yang mengejarnya?"
"Mudah-mudahan setan dari neraka yang
mengejarnya!" kata Selendang Kubur.
"Seharusnya aku yang bilang begitu, karena aku
sangat benci kepadanya!" kata Peri Malam.
"Mengapa kalian benci sekali kepadanya?" tanya
Perawan Sesat.
"Dia mengejar-ngejarku dan selalu mendesakku
untuk menerima cintanya! Aku muak sekali!"
Selendang Kubur pun ikut berkata, "Aku juga begitu!
Dia selalu berusaha membujukku agar mau
melayaninya! Aku tak bisa banyak melawan dan
memberontak karena aku berhutang nyawa dengannya!
Menyesal sekali aku karena ditolong dan diselamatkan
olehnya! (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode:
"Perawan Sesat").
Perawan Sesat tertawa serak. "Aku sendiri punya
kedongkolan dengannya, saat dia menipuku dengan
mengaku sebagai Pendekar Mabuk!"
Peri Malam menyahut, "Ya, ya, aku pernah
memergoki kau bercumbu dengannya!"
"Jangan singgung-singgung soal itu! Rasa sesalku
berubah jadi dendam jika aku teringat peristiwa itu!"
kata Perawan Sesat.
"Hei, lihat...!" seru Selendang Kubur sambil
tangannya menunjuk ke arah Dirgo Mukti. "Rupanya
orang itu yang mengejar Dirgo Mukti!"
"Hmmm... siapa orang yang berpakaian hitam itu?"
tanya Perawan Sesat. "Aku hanya bisa menandai bahwa
orang sedikit gemuk itu berilmu tinggi. Terlihat dari
gerakan lompatnya begitu ringan dan cepat! Tapi aku
belum pernah tahu siapa dia?"
"Datuk Marah Gadai!" jawab Selendang Kubur. "Dia
orang sesat dari seberang yang ingin menguasai tanah
Jawa. Dia ingin menjadi raja tertinggi di rimba persilatan
tanah Jawa!"
"Ada persoalan apa Sontoloyo bentrok sama Datuk
Marah Gadai?" tanya Peri Malam.
Selendang Kubur menjawab, "Mana aku tahu?! Tapi
kelihatannya mereka sama-sama tangguh!"
"Kurasa tidak," bantah Perawan Sesat. "Kurasa lebih
tangguh si Datuk Marah Digadai itu!"
"Datuk Marah Gadai! Bukan Datuk Marah Digadai!"
Peri Malam membetulkan ucapan Perawan Sesat. "Ya.
Kurasa orang itu lebih tangguh dari si Sontoloyo. Aku
jadi tertarik ingin menjajal ilmunya!"
"Bodoh!" tukas Selendang Kubur. "Kalau mau, jajal
saja ilmunya si Sontoloyo, jadi kalau kau berhasil
membunuhnya, kau telah membayar tipu muslihatnya
yang merugikan dirimu itu!"
"Membunuh si Sontoloyo lebih mudah! Dalam satu
gebrakan saja dia tidak akan memiliki nyawa lagi!"
"Hem... belum tentu!" Selendang Kubur mencibir.
"Kau pikir ilmu yang kau miliki lebih tinggi darinya?
Ilmu sedangkal itu mau disombongkan di depan si
Sontoloyo, bisa hancur berkeping-keping kau dihajar
habis oleh pukulan tenaga dalamnya yang hebat itu!"
"Hei, kau jangan sepelekan aku, Selendang Kubur!
Saat ini pun aku sanggup meremukkan kepalamu tanpa
harus bergerak dari tempatku!"
"Coba saja!" tantang Selendang Kubur. Perawan
Sesat lemparkan daun kecil yang sejak tadi dibuat
mainan. Lemparan daun itu begitu cepat dan mendesing
bunyinya bagai logam tipis melayang melewati depan
mata Peri Malam. Wiiing...!
Craat...!
Selendang Kubur lengkungkan badan ke samping
sambil berpaling. Daun itu lewat di depan dadanya dan
menancap di batang pohon bagaikan lempengan logam
tajam dari bahan baja. Jika bukan dialiri kekuatan tenaga
dalam yang tinggi, tak mungkin daun itu bisa menancap
di batang pohon sedemikian dalam. Kalau saja tidak
segera menghindar dengan gesitnya, Selendang Kubur
akan mati ditembus daun yang berubah jadi mata pisau
itu.
Sebelum Selendang Kubur memberi balasan, Peri
Malam sudah menghadang di depannya seraya berkata,
"Cukup! Jangan terpancing nafsu!"
"Dia yang menyerangku lebih dulu!"
Perawan Sesat membantah, "Dia menghinaku lebih
dulu!"
"Kalian ini memang seperti anak kecil!" sentak Peri
Malam. "Aku menyesal bergabung dengan kalian
menyusun rencana seperti tadi. Mana bisa orang-orang
berjiwa anak kecil mengalahkan Suto? Untuk
mengalahkan Pendekar Mabuk itu, bukan hanya ilmu
tinggi yang dibutuhkan tapi juga jiwa dewasa dan otak
cerdas!"
Selendang Kubur menghembuskan napas pelan-pelan
walau matanya masih memandang tajam pada Perawan
Sesat. Yang dipandang hanya tersenyum sinis dengan
sikap siap tarung kapan pun juga.
"Jangan dulu kita berselisih sebelum cita-cita kita
bersama tercapai! Jika belum-belum kita sudah saling
bunuh, lantas kapan kita bisa bunuh Suto Sinting itu?!"
omel Peri Malam yang bertindak menjadi orang yang
lebih dewasa dari mereka, walau sebenarnya ia hanya
sebagai penengah saja.
"Lihatlah," kata Peri Malam lagi, "Dirgo Mukti sudah
semakin terpojok oleh serangan-serangan Datuk! Tak
perlu kita memberikan pujian atau penilaian apapun
selain menjadi penonton yang baik!"
Selendang Kubur bahkan berkata, "Seharusnya ia bisa
segera cabut senjatanya itu! Dirgo Mukti mempunyai
senjata kapak yang cukup hebat, sebenarnya!"
"Kalah hebat dengan pedangnya Datuk Marah Gadai!
Kulihat sendiri kehebatan pedang itu saat ia
mengalahkan Cadaspati di tepi sebuah sungai!" kata Peri
Malam. (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode:
"Darah Asmara Gila").
Perawan Sesat kasih pendapat, "Orang-orang seperti
mereka jelas tidak akan semudah itu mencabut
pedangnya! Hanya pada saat-saat terakhir dari
pertarungan itu ia akan mencabut pedangnya!"
"Aku berharap Dirgo Mukti kalah dan mampus di
tangan Datuk!" kata Peri Malam.
"Aku juga!" sahut Selendang Kubur.
"Kuharap juga begitu," sela Perawan Sesat.
"Hai, ternyata kita sama-sama punya kebencian pula
dengan si Sontoloyo itu?! Mengapa kita tidak sepakat
gunakan Sontoloyo untuk melawan Suto?"
Ucapan Peri Malam itu membuat mereka saling
memandang. Perawan Sesat dan Selendang Kubur sama-
sama tatapkan mata ke wajah Peri Malam. Sepertinya
mereka menuntut penjelasan lebih rinci lagi dari kata-
kata Peri Malam tadi. Karenanya, Peri Malam pun
lanjutkan kata,
"Dirgo Mukti lelaki mata keranjang! Dia ingin aku
menerima cintanya. Dia ingin Selendang Kubur
melayani gairahnya. Dia pasti inginkan tubuh dan
kehangatanmu lagi, Perawan Sesat. Sebab dia pernah
merasakan gairahmu. Dia pasti tergiur kembali padamu."
"Lalu, apa rencanamu?" tanya Selendang Kubur.
"Jadikan dia umpan untuk bertarung melawan
Pendekar Mabuk. Beri dia semangat agar bisa
membunuh Suto Sinting. Upah yang akan kita berikan
padanya adalah tubuh kita masing-masing!"
"Aku tidak sudi!" sentak Selendang Kubur bersungut-
sungut.
"Ini hanya siasat saja! Sontoloyo jelas tak akan bisa
mengalahkan Pendekar Mabuk. Tapi dengan mendapat
semangat dari kita, dia akan bertarung melawan
Pendekar Mabuk mati-matian. Hal itu akan membuat
Suto semakin terdesak, sekurang-kurangnya Pendekar
Mabuk akan menguras tenaganya untuk mengalahkan
Sontoloyo. Walaupun pada akhirnya nanti Sontoloyo
mampus di tangan Suto, tapi kita punya peluang bagus
untuk menyerang Suto secara bersama. Kekuatan Suto
yang sudah berkurang karena pertarungannya dengan
Dirgo Mukti, membuat kita lebih mudah menghancurkan
dirinya!"
"Gagasan yang bagus!" sela Perawan Sesat lalu ia
tertawa serak.
"Kebetulan aku ingat bahwa Dirgo Mukti pernah janji
pertarungan dengan Suto di Bukit Jagal! Bulan ini
adalah bulan saat pertarungan itu dilakukan!" tambah
Peri Malam.
"Bagus! Aku setuju dengan rencanamu," kata
Selendang Kubur.
"Kalau begitu, kita bantu Sontoloyo untuk
mengalahkan Datuk Marah Gadai itu! Biar Sontoloyo
tidak mati di tangan Datuk!" kata Peri Malam.
"Aku setuju!" kata Perawan Sesat dengan
menyeringai liar.
"Tapi, tunggu dulu...!" Selendang Kubur mencegah,
sepertinya Datuk Marah Gadai sudah merasa kewalahan
melawan Dirgo Mukti! Datuk Marah Gadai melarikan
diri!"
"Ya, tapi Dirgo Mukti kelihatannya terluka dan tak
bisa mengejarnya! Ada baiknya jika kita tolong dia!"
kata Peri Malam.
Tapi sebelum mereka mencapai tempat Dirgo Mukti
terkapar, orang itu sudah bangkit lebih dulu dan melesat
pergi mengejar lawannya. Rupanya ia tadi terkena
pukulan tenaga dalam dari Datuk Marah Gadai, namun
bisa segera ditawarkan oleh kekuatan batinnya sendiri.
Dan melihat Dirgo Mukti lari mengejar Datuk Marah
Gadai, ketiga perempuan itu juga lari mengejar Dirgo
Mukti.
Apa yang mereka pertarungkan sebenarnya berasal
dari kabar tentang Pusaka Cincin Manik Intan. Datuk
Marah Gadai dan Dirgo Mukti sama-sama ingin
mendapatkan Cincin Manik Intan yang konon masih ada
di dasar telaga, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam
episode: "Murka Sang Nyai"). Mereka saling halang-
menghalangi ketika sama-sama mau menyelam ke dasar
telaga.
Pertarungan itu membuat mereka saling kejar dan
tanpa sadar menjauhi Telaga Manik Intan. Saat mereka
jauh dari telaga itulah, sesosok tubuh masuk dan
menyelam ke dasar telaga. Orang itulah yang
menemukan Pusaka Cincin Manik Intan. Orang itu
adalah Betari Ayu, yang kemudian segera menggunakan
Pusaka Cincin Manik Intan untuk melabrak Nyai
Lembah Asmara yang ingin menjadikan Suto sebagai
pembenih dalam keturunannya.
Datuk Marah Gadai dan Dirgo Mukti sama-sama
tidak tahu, bahwa apa yang mereka rebutkan itu sudah
menjadi milik seseorang. Bahkan ketika Datuk Marah
Gadai meninggalkan Dirgo Mukti, dalam benaknya ia
merasa lebih baik meninggalkan pertarungan dan segera
menyelam ke dasar telaga untuk mencari Cincin Manik
Intan yang dahsyat itu. Jika Cincin Manik Intan berhasil
ditemukan olehnya, maka urusannya dengan Manusia
Sontoloyo itu akan cepat terselesaikan. Pasti lawannya
itu akan mati dan hancur oleh kekuatan Pusaka Manik
Intan itu.
Karena Datuk Marah Gadai tidak tahu bahwa cincin
itu sudah ditemukan Betari Ayu beberasa saat berselang,
maka ketika ia tiba di tepi telaga, ia langsung saja
menceburkan diri ke permukaan air telaga, dan
menyelam di kedalamannya.
Lama kemudian, Dirgo Mukti tiba pula di tepi telaga.
Ia mencari lawannya. Memandangi sekeliling telaga.
Ternyata tak ada sesuatu yang mencurigakan. Air telaga
pun tampak tenang. Pikirnya, sebelum Datuk Marah
Gadai menemukan diriku, ia harus sudah lebih dulu
mencari Cincin Manik Intan di dasar telaga.
"Mampuslah kau, Tukang Gadai! Jika kutemukan itu
lebih dulu akan kuhancurkan mulutmu yang sangat
kubenci itu!" kata Dirgo Mukti. Lalu, ia pun melompat
dan terjun ke dalam genangan air telaga. Byurrr...!
*
* *
3
GEMERISIK dedaunan bambu dihembus angin
siang. Gemerisik itu masuk ke telinga Pendekar Mabuk
ibarat musik penghantar duka. Gundukan tanah di
depannya masih dipandangi dengan wajah duka.
Gundukan tanah itu adalah kuburan bagi si pelayan setia
gurunya. Suto memberi nama pada kayu patok kuburan
itu dengan tulisan besar: Sugiri. Di bawahnya ada tulisan
kecil yang berbunyi: Lahir tak diketahui, mati pun tak
diketahui.
"Kalau saja aku tidak terbujuk oleh anggapan tentang
Dyah Sariningrum di Bukit Garinda, Paman Sugiri tak
akan mati di sana. Kasihan Paman Sugiri, ia mati hanya
untuk membela diriku yang tak berharga ini. Mudah-
mudahan arwahnya diterima di sisi Yang Maha Kuasa,"
kata hati Pendekar Mabuk yang segera bergegas bangkit
dari kesedihan. Ia tak berlarut-larut tenggelam dalam
perasaan duka atas kematian Pujangga Keramat.
Suto memakamkan jenazah Pujangga Keramat di
Jurang Lindu, tak jauh dari pancuran air yang menjadi
pintu masuk menuju persinggahan si Gila Tuak. Sayang
sekali waktu itu si Gila Tuak tak ada di tempat, sehingga
Suto tak bisa melaporkan kematian Pujangga Keramat.
Ke mana arah perginya si Gila Tuak, Suto tak tahu.
Hanya ada satu kemungkinan dalam benak Suto, bahwa
gurunya itu mungkin sedang bertandang ke Limbah
Badai, tempat persinggahan bibi gurunya Suto yang di
kenal dengan nama kondangnya: Bidadari Jalang.
Tiba-tiba Pendekar Mabuk jadi ingat dengan bibi
gurunya. Ingatan itu berkait dengan Pusaka Cincin
Manik Intan yang ditemukan oleh Betari Ayu. Cincin itu
warisan terkubur dari Bidadari Jalang. Sekarang ada di
tangan Betari Ayu, sedangkan Betari Ayu menyimpan
dendam kepada Bidadari Jalang. Pendekar Mabuk belum
sempat meminta cincin itu dari tangan Betari Ayu.
Ketika Pendekar Mabuk selamat dari cengkeraman
Nyai Lembah Asmara, ia segera pergi mengurus jenazah
Pujangga Keramat yang mati di bangsal pertemuan, di
persinggahannya Nyai Lembah Asmara. Pada waktu itu,
Betari Ayu berkata kepada Suto,
"Aku harus pergi membalaskan sakit hatiku kepada
seseorang. Jika kau mau ikut aku, aku tak keberatan. Jika
kau ingin mengurus mayat Pujangga Keramat yang
tergeletak di sana, aku juga tidak melarang. Yang
penting kau ketahui, saat ini adalah saat yang baik untuk
melampiaskan dendamku yang selama ini kupendam
dalam hati!"
Suto masih dalam keadaan mabuk tuak waktu itu,
sehingga ia tidak terlalu peduli dengan kepergian Betari
Ayu. Ia segera bergegas mencari mayat Pujangga
Keramat dan segera membawanya ke Jurang Lindu.
Sekarang Pendekar Mabuk jadi ingat semua kata-kata
Nyai Betari Ayu. Tak salah lagi dugaan Suto, bahwa
dendam yang akan dilampiaskan oleh Betari Ayu itu
adalah dendamnya kepada Bidadari Jalang, karena
Bidadari Jalang dianggap telah merebut kekasih hati
Betari Ayu. Hal itu yang membuat Betari Ayu tidak
pernah mau jatuh cinta lagi dengan seorang lelaki.
Namun kehadiran Suto sempat membuat Betari Ayu
tergugah oleh cinta lagi, meski ia dapat memendamnya.
Tentu saja Nyai Betari Ayu menganggap saat ini
adalah saat yang tepat untuk melampiaskan dendamnya
kepada seseorang, karena Betari Ayu memakai Cincin
Manik Intan. Jelas, cincin itulah yang akan dipakai untuk
melawan Bidadari Jalang, yang namanya masuk dalam
deretan kedua; setelah si Gila Tuak, sebagai nama-nama
tokoh yang sukar ditumbangkan. Tanpa pusaka cincin
dahsyat itu, Nyai Betari Ayu tak akan berani berhadapan
dengan Bidadari Jalang.
"Celaka! Bibi Guru pasti akan hancur oleh pusakanya
sendiri," pikir Pendekar Mabuk. "Seharusnya waktu itu
kurebut dulu Cincin Manik Intan dari tangan Betari Ayu!
Jika begini, sama saja aku membiarkan Bibi Guru
terancam nyawanya! Betari Ayu tidak tahu bahwa Bibi
Guru yang sekarang bukan orang sesat seperti dulu.
Karenanya Bibi Guru Bidadari Jalang tidak mau turun ke
dunia persilatan kembali, karena dia ingin menghabiskan
sisa hidupnya dengan mendekatkan diri kepada sang
Maha Pencipta!"
Suto Sinting sempat terlihat gelisah, ia berjalan
mondar-mandir di depan makam Pujangga Keramat.
Hatinya kembali berkecamuk,
"Apa yang harus kulakukan jika begini? Merampas
cincin itu dari tangan Nyai Betari Ayu? Itu berarti aku
harus bertarung dengan Nyai. Haruskah aku bertarung
dengan orang yang selama ini bersikap baik padaku?
Tapi jika hal itu tidak kulakukan, berarti aku ikut
mendukung rencana Betari Ayu untuk membunuh Bibi
Guru?!"
Sekelebat bayangan melesat di atas pohon.
Banyangan itu mendarat tepat di depan Suto, hingga
Suto terkesiap memandangnya.
"Nyai Betari...?!" gumam Suto dengan hati berdebar.
Orang ini yang sedang dipikirkan oleh Suto, tapi orang
ini pula yang tahu-tahu muncul dalam kenyataan di
depan Suto.
"Kebetulan sekali Nyai datang kembali," kata Suto
menatap perempuan cantik yang menyunggingkan
senyum bersahaja.
"Aku mendengar gemuruh kegelisahanmu, Suto. Jadi
aku kembali menemuimu," kata Nyai Betari Ayu yang
berikat kepala dari tali sutera merah berbintik-bintik
kuning keemasan.
"Nyai mendengar gemuruh kegelisahanku?" Suto
heran.
"Apa yang terjadi pada diri orang yang kusayangi
selalu kudengar lewat telinga hatiku, dan kulihat lewat
mata hatiku, Suto."
"O, jadi... saya orang yang Nyai sayangi?"
"Mungkin lebih dari itu," jawab Betari Ayu pelan
sambil palingkan wajah ke arah curahan air terjun yang
menjadi pintu gerbang persinggahan si Gila Tuak.
Pendekar Mabuk menjadi kikuk mendengar jawaban
itu. Tapi ia segera tenangkan diri dan tetap bersikap
lembut kepada Nyai Betari Ayu. Ia mendekati Betari
Ayu dari samping kanan, ikut memandang jurang berair
terjun itu, tapi mulutnya ucapkan kata tanya,
"Sudahkah dendam Nyai terlampiaskan?"
"Belum," jawab Betari Ayu sambil tetap pandang air
terjun.
"Mengapa tak jadi membalas dendam?" tanya Suto.
"Aku berubah pikiran."
"Berubah bagaimana, Nyai?"
"Untuk apa aku hidup menuruti dendam?" Betari Ayu
palingkan wajah dan lempar pandangan pada Suto.
Lembut sekali pandangannya. Selembut rona kecantikan
sang Nyai.
Katanya lagi, "Aku harus menjadi orang yang bisa
mengalahkan diriku sendiri. Orang hebat adalah orang
yang bisa melawan nafsunya sendiri. Kalau aku masih
turuti dendamku kepada Bidadari Jalang, maka aku
bukan sebagai orang hebat. Aku orang lemah yang tak
mampu melawan nafsuku sendiri."
"Saya menyukai kata-kata Nyai," Pendekar Mabuk
sunggingkan senyum yang sangat menawan. Nyai Betari
Ayu pun tundukkan kepala karena merasa teduh hatinya
mendapat senyuman seperti itu. Tapi kejap berikut ia
kembali pandang Suto dan ucapkan kata,
"Ada sesuatu yang lupa kukembalikan padamu."
"Tentang apa itu, Nyai?"
Tangan kiri Nyai melepaskan cincin di jari tangan
kanannya, lalu Pusaka Cincin Manik Intan itu diserahkan
kepada Suto.
"Ambillah cincin ini, Suto."
Pendekar Mabuk tidak segera mengambil cincin itu,
tapi matanya menatap lama pada cincin dan wajah Betari
Ayu yang polos dan lugu itu.
"Mengapa Nyai kembalikan cincin itu kepadaku?
Bukankah Nyai tahu kehebatan Pusaka Cincin Manik
Intan itu?"
"Ya, tapi ini bukan milikku."
"Tapi Nyai yang mengambilnya dari dasar telaga!"
"Benar. Karena ada dua alasan. Pertama, aku takut
Cincin ini jatuh ke tangan Datuk Marah Gadai atau
pemuda tampan yang mengaku punya gelar Manusia
Sontoloyo itu. Kedua, karena waktu itu aku
membutuhkan Cincin ini untuk melawan Nyai Lembah
Asmara. Tanpa bekal pusaka dahsyat ini, aku belum
tentu bisa menyerang Bukit Garinda dan dengan tujuan
membebaskan kamu dari cengkeraman Nyai Lembah
Asmara. Jujur saja kukatakan kepadamu, Suto... aku tak
rela kau tanamkan benih kependekaranmu, benih darah
ksatriamu, ke dalam kandungan Nyai Lembah Asmara!
Aku tak ingin kau punya keturunan sesat, Suto."
"Sejauh itukah Nyai berpikir tentang saya?"
Betari Ayu tak menjawab. Ia alihkan pembicaraan itu
sambil sekali lagi sodorkan cincin tersebut.
"Terimalah cincin ini. Kau yang berhak memiliki.
Bukan aku! Karena kaulah yang punya tugas mengambil
dua pusaka di dasar telaga tersebut, yaitu Pusaka Tuak
Setan dan Pusaka Cincin Manik Intan ini."
"Mengapa Nyai tidak memilikinya saja, atau
membawanya lari?"
"Bukan sifatku menjadi pencuri, Suto."
Senyum Suto melebar, bahkan berubah menjadi tawa
yang mirip orang menggumam. Tawanya itu pun
bagaikan memancarkan daya tarik tersendiri bagi hati
yang sudah berbunga indah itu.
Ketika Pendekar Mabuk menerima cincin itu, tangan
Betari Ayu dipegangnya dengan lembut. Betari Ayu
menatap dan merasakan aliran hawa hangat di sekujur
tubuhnya. Ia segera bertanya dalam nada bisik,
"Suto, apa yang kau salurkan ke dalam tubuhku?"
"Kasih sayang," bisik Suto membalas.
"Apa maksudnya kasih sayang?"
"Sampai kapan pun aku tidak akan melupakan
kebaikanmu, Nyai."
"Tentunya itu bukan berarti sebuah cinta yang lahir
dari hati sanubarimu."
"Memang bukan cinta. Tapi, barangkali kasih sayang
melebihi dari segala cinta yang ada. Kasih sayang boleh
ada di dalam jiwa kita masing-masing, tapi tak harus
memiliki raga kita masing-masing."
"Dalam sekali pengertianmu, Suto. Aku semakin suka
padamu."
Suto tersenyum dengan mata memandang kian
lembut. Seakan kelembutan pandang mata Suto itu
bagaikan sinar halus yang menembus ke dalam dasar
hati Betari Ayu.
Sebelum cincin itu tergenggam oleh Suto, Betari Ayu
lekas-lekas mengambil alih cincin itu. Ia mengangkat
jari manis Suto yang kanan, lalu cincin itu dimasukkan
ke dalam jari manis cincin itu dengan pelan-pelan sekali.
Kedua mata mereka saling memandang ke arah cincin.
"Semoga kau dapat mengenang peristiwa ini
selamanya, Suto."
"Semoga kau pun dapat mengenangnya pula. Nyai."
Kemudian, wajah Nyai Betari Ayu tengadah
memandang Pendekar Mabuk. Matanya yang bening
teduh itu bagai digenangi air. Suto pelan-pelan
mendekatkan wajah dan menempelkan ciumannya di
kening Nyai. Mata itu terpejam, bibir itu merekah, dan
akhirnya Suto tempelkan bibir ke mulut Nyai. Bibir Suto
dilumatnya dengan lembut oleh Nyai Betari Ayu. Suto
membalasnya dengan seribu kali lebih lembut, hingga
Nyai Betari Ayu meremaskan genggaman tangannya di
ujung pundak Suto.
Pelan-pelan pula ciuman dan kehangatan itu
dilepaskan. Senyum mereka saling bermekaran. Suto
berbisik lirih,
"Indah, Nyai?"
"Luar biasa indahnya, Suto," jawab Nyai Betari
semakin lirih. "Sayang sekali bukan aku perempuan
yang kau cintai. Seandainya aku adalah orang yang kau
cintai, mungkin selamanya aku akan merebah di
dadamu, Suto."
"Apakah hal itu membuatmu kecewa, Nyai?"
"Tidak," jawab Nyai dalam ketegasan yang lembut.
"Aku tidak kecewa, karena memang kau dan aku
memiliki garis kehidupan yang berbeda. Aku tak
salahkan dirimu, Suto. Kau bebas memburu cinta dan
kasih sayang untuk dirimu, Suto. Aku hanya ingin
merawat agar cinta ini tetap mekar di hatiku, sampai
masa tuaku tiba."
Tiba-tiba Nyai Betari Ayu memeluk Pendekar Mabuk
erat-erat. Suto pun membalas pelukan itu dengan hangat.
Nyai pasti ingin mencurahkan tangis keharuannya, pikir
Suto. Dan sengaja Suto tidak melarang tangis itu
tercurah karena memang suasana haru tercipta atas dasar
saling menyadari keadaan masing-masing.
Betari Ayu diam. Pelukannya tetap erat. Tak ada
guncangan tangis atau pun suara mengisak. Pastilah
Nyai Betari Ayu tak ingin cucurkan air mata di depan
seorang ksatria. Pastilah Nyai Betari Ayu merasa malu
dan takut wibawa kharismanya jatuh di depan Suto.
Tetapi tubuh Nyai Betari Ayu makin lama semakin
dingin. Suto menjadi curiga. Cepat-cepat ia tarikkan diri
dari tubuh Betari Ayu. Mata Suto terkesiap melihat
wajah Betari Ayu pucat dan kepalanya terkulai lemas.
"Nyai...?!" sentak Suto sambil guncangkan tubuh
Nyai. Namun keadaan Nyai semakin memucat dan
dingin. Matanya terpejam mulutnya terbuka sedikit
bagai menahan rasa sakit yang menyentak.
"Nyai...?! Kenapa kau, Nyai...?!"
Pendekar Mabuk berdebar-debar melihat keadaan
Nyai Betari Ayu seperti itu. Suto buru-buru memeriksa
tubuh Betari Ayu. Ternyata di bagian punggungnya
terdapat noda merah membekas di kulit. Noda merah itu
sebesar biji sawo, tepat bersebelahan dengan pedang
Jalaganda yang sejak tadi disandang di punggungnya.
Noda merah itu menembus jubah kuningnya, yang
terbuat dari kain sutera. Tapi jubah itu tidak membekas
lubang. Hanya sedikit hangus tepat di bagian noda
merahnya itu.
"Kurang ajar! Ada yang menyerang Nyai secara
diam-diam. Hmm...! Siapa orangnya?!" geram Suto
dengan mata memandang liar.
Gemuruh suara air terjun masih terdengar. Di atas
curahan air terjun itu, mata Suto memandang jelas
sesosok tubuh berpakaian kuning ketat. Pendekar Mabuk
mengenal orang itu sebagai orang Bukit Garinda. Orang
tersebut tak lain adalah Putri Alam Baka. Di tangannya
tergenggam seruling kuning. Pasti dialah yang telah
menyerang Nyai Betari Ayu memakai seruling
pusakanya itu.
"Kau...!" geram Pendekar Mabuk dengan wajah
merah. Matanya menatap tajam ke arah Putri Alam
Baka.
Tak sadar kemarahan Pendekar Mabuk itu membuat
tenaga dalamnya mengalir melalui Cincin Manik Intan.
Pada waktu itu, cincin tersebut dalam keadaan
menghadap ke arah Putri Alam Baka. Maka, dengan
tiba-tiba cincin itu mengeluarkan cahaya putih
menyilaukan, melesat bagaikan lidi ke arah perempuan
di atas air terjun. Clappp...! Duarrr...!
Arah cincin tidak tepat persis, sehingga batuan di
samping Putri Alam Baka hancur menjadi serbuk ketika
dihantam sinar putih menyilaukan itu. Ledakan itu
membuat Putri Alam Baka terlempar ke samping dan
jatuh di rerumputan.
"Aku harus menyelamatkan Nyai Betari Ayu dulu!
Aku sudah tahu siapa orang yang menyerangnya!" pikir
Suto.
Secepat kilat ia angkat tubuh yang terkulai lemah itu,
lalu ia jejakkan kaki ke tanah dan tubuhnya bagaikan
terbang melompati batu demi batu, akhirnya menerobos
masuk ke curahan air terjun. Di balik air terjun itu ada
pintu gua. Slaap...! Suto masuk ke dalam gua dan segera
meletakkan Nyai Betari Ayu di atas pembaringan tak
berkaki. Pembaringan itu dulu bekas tempat tidur Suto
selama Pendekar Mabuk menjadi murid si Gila Tuak.
Pendekar Mabuk segera menggenggam telapak kaki
Nyai Betari Ayu, lalu ia menggumam sendiri, "Hmmm...
masih sedikit hangat!"
Segera ia meneguk tuaknya. Sebagian tuak tersimpan
di mulut hingga pipinya menggelembung. Pendekar
Mabuk pejamkan mata sebentar, lalu segera tempelkan
mulutnya ke mulut Nyai Betari Ayu. Tuak dalam
mulutnya itu segera disemburkan ke dalam tenggorokan
Nyai Betari Ayu.
Bruuus...!
Tersentak tubuh Nyai Betari Ayu seketika bagai
mendapat kejutan. Kemudian Suto mengulanginya sekali
lagi.
Bruuus...!
Tersentak lagi tubuh Nyai Betari Ayu, lalu terdengar
suaranya mengerang lirih. Suto merasa lega. Itu pertanda
jiwa Betari Ayu bisa tertolong, tinggal menunggu
kesembuhan berikutnya.
Pendekar Mabuk memiringkan tubuh Nyai Betari
Ayu, memeriksa noda merah di punggung Nyai. Noda
itu makin menipis. Itu tandanya pengaruh tuak bertenaga
dalam yang berguna untuk pendingin hawa panas telah
bekerja. Andaikata Pendekar Mabuk tidak segera
bertindak cepat, maka bagian dalam tubuh Nyai Betari
Ayu akan hangus terbakar ilmu tenaga dalam yang
sangat tinggi dan berbahaya itu.
"Aku harus segera mengejar Putri Alam Baka!"
geram Suto, merasa keasyikannya terganggu oleh
serangan mendadak dari murid Nyai Lembah Asmara
itu.
"Tetapi Nyai Betari Ayu tidak ada yang menunggui.
Jika sewaktu-waktu musuh datang dan mengancam
nyawanya, bisa berbahaya. Untuk sementara dia akan
lumpuh karena pukulan tenaga dalam yang tinggi itu.
Dia hanya akan mempunyai luapan kemarahan namun
tak akan bisa banyak melakukan gerakan. Uuh...!
Kemana Guru?! Mengapa sampai sekarang belum
datang juga?"
Pendekar Mabuk sempat bimbang sebentar. Hatinya
gelisah, dadanya bergemuruh. Hasratnya ingin segera
memburu lawan, tapi cemas meninggalkan Nyai Betari
Ayu.
"Hmmm... begini saja! Cincin ini kusematkan di
jarinya saja! Kalau ada ancaman bahaya datang,
kemarahan Nyai Betari Ayu bisa membuat cincin ini
melancarkan kekuatan tenaga dalamnya dan menyerang
musuh!"
Maka, setelah Suto menyematkan Cincin Manik
Intan, ia pun segera tinggalkan Nyai Betari Ayu. Pada
saat itu keadaan Betari Ayu belum sadar sepenuhnya,
namun napasnya tampak terengah-engah dan kepalanya
bergerak-gerak pelan.
"Sebelum ia lari jauh, aku harus sudah bisa
mendapatkannya!" pikir Pendekar Mabuk saat
meninggalkan gua tersebut.
Dalam kejap berikutnya, Suto sudah berada di tempat
Putri Alam Baka tadi berdiri. Tempat itu telah kosong.
Pendekar Mabuk tak melihat gerakan-gerakan yang
mencurigakan. Tetapi ia melihat patahan daun ilalang
dan beberapa ranting lainnya. Jelas, ranting itu patah
karena terabasan larinya Putri Alam Baka. Maka,
Pendekar Mabuk pun segera mengejarnya ke arah
tersebut.
Pendekar Mabuk mengejar dengan menggunakan
ilmu silumannya, sehingga gerakan Pendekar Mabuk tak
dapat terlihat oleh mata karena kecepatannya yang luar
biasa. Dalam kejap yang singkat, Pendekar Mabuk telah
berada jauh dari Jurang Lindu. Bahkan sekarang
tubuhnya telah hinggap di atas pohon, seperti menunggu
mangsanya lewat.
Dugaan Suto benar. Tak lama kemudian, terlihat dua
sosok manusia berkelebat lari dengan cepat bagai anak
panah yang terlepas dari busurnya.
Duarrr...! Duarrr...!
Pendekar Mabuk hantamkan pukulan tenaga
dalamnya yang membuat dua pohon tumbang seketika,
menghadang langkah kedua sosok yang berlari cepat itu.
Dan pada saat dua sosok itu berhenti, Pendekar Mabuk
pun segera sentakkan ujung jari kakinya pada dahan, lalu
tubuhnya melesat terbang dan bersalto satu kali,
akhirnya mendarat di tanah di hadapan kedua orang itu
Dengan bumbung tuak tersandang di punggung
bagaikan pedang maut, Suto berdiri pancarkan
kemarahan kepada dua orang yang ada di depannya.
Suaranya menggeram saat ia berkata,
"Rupanya kau tidak sendirian, Putri Alam Baka!"
"Ya. Aku yang mendampinginya!" jawab orang yang
ada di samping Putri Alam Baka.
Dia adalah seorang lelaki, berbadan masih segar tapi
kelihatannya sudah cukup umur, antara lima puluh
tahunan. Tak terlalu besar badannya, juga tak terlalu
kurus. Ia mengenakan caping hitam dengan kumis dan
jenggotnya yang mulai ditumbuhi uban. Orang itu
mengenakan pakaian abu-abu dan kancing bajunya tidak
dirapatkan. Orang itu juga menyandang pedang di
punggungnya, dan jari-jari tangannya mempunyai kuku
yang panjang dan runcing. Dari balik capingnya, wajah
itu terlihat angker dan bengis. Suara tuanya terdengar
menggeram jika bicara.
"Aku tidak mengenal siapa dirimu, Pak Tua. Aku
hanya mengenal Putri Alam Baka itu!"
Yang menyahut Putri Alam Baka dengan suara
ketusnya, "Dia suamiku! Aku terpaksa kembali berada di
sampingnya, karena dia bersedia membantuku
melawanmu, juga melawan Betari Ayu untuk menebus
kekalahanku di Bukit Garinda!"
"O, jadi kau menghilang dari Bukit Garinda untuk
meminta bantuan kepada bekas suamimu?! Hmm... ada
berapa orang yang menjadi bekas suamimu? Mengapa
tidak semuanya saja kau bawa kemari untuk menghadapi
aku dan Betari Ayu?!"
"Jangan sesumbar bacotmu, bocah ingusan!" geram
orang bertudung hitam. "Mulutmu bisa kurobek tanpa
ampun lagi jika kau sesumbar di depanku!"
"Pak Tua...!" kata Suto dengan tegas. "Jangan merasa
terlalu mudah merobek mulutku sebelum kau coba dulu
merobek mulutmu sendiri! Karena merobek mulut orang
itu pekerjaan yang sulit, apalagi orang itu mampu
berkelit!"
"Jangan mengguruiku, Setan!" bentak orang
berhidung hitam. "Kau tak patut mengguruiku. Bahkan
gurumu sendiri, Bidadari Jalang, tak punya kepatutan
mengguruiku!"
"Hei, Pak Tua... siapa dirimu sehingga kau bawa-
bawa nama bibi guruku itu?!"
"Apakah gurumu. Bidadari Jalang, tak pernah
bercerita tentang hutang nyawanya dengan guruku?"
"Siapa nama gurumu, Pak Tua?"
"Iblis Pulau Bangkai!"
Suto terkesiap sejenak. Mencoba mengingat cerita
bibi gurunya tentang Iblis Pulau Bangkai. Lalu Suto
berkata,
"Ya. Memang Bibi Guru pernah bercerita tentang
musuhnya yang berjuluk Iblis Pulau Bangkai. Tapi dia
sudah mati dan dengan mudahnya dikalahkan oleh Bibi
Guru!"
"Tapi dia masih punya satu murid lagi, Suto!" kata
orang bertudung hitam, dengan mudahnya menyebut
nama Pendekar Mabuk.
"Hmm... ya, seingatku Bibi Guru pernah bercerita
tentang murid Iblis Pulau Bangkai yang bernama
Nagadipa."
"Akulah Nagadipa...!"
Orang itu berkata dalam geram, kemudian membuka
tudungnya dan menampakkan wajahnya yang ber
tampang bengis itu. Rambutnya sedikit botak di bagian
atasnya, tapi yang lainnya panjang sampai melewati
pundaknya.
"O, jadi kaulah murid tersisa dari Iblis Pulau
Bangkai?!"
"Ya. Dan bagaimana jika murid bertemu murid untuk
membereskan hutang gurunya, hah?! Setelah kubereskan
muridnya, segera akan kubereskan gurunya! Biar sama-
sama meratap di dasar neraka!" geram Nagadipa dengan
matanya yang menampakkan kebengisan. Sepertinya ia
sangat tak sabar ingin segera merobek-robek tubuh
Pendekar Mabuk dengan kuku-kukunya yang panjang
dan runcing itu.
*
* *
4
BIDADARI Jalang memang pernah bercerita kepada
Suto tentang pertarungannya dengan Iblis Pulau
Bangkai. Juga, cerita tentang murid Iblis Pulau Bangkai
yang masih penasaran menuntut balas atas kematian
gurunya.
Tapi seingat Suto, Bidadari Jalang menceritakan
tentang murid Iblis Pulau Bangkai yang bernama
Nagadipa itu sebagai pemuda yang tampan dan
menawan. Waktu Bidadari Jalang terakhir kalinya
melawan Nagadipa di sebuah pantai, orang itu dengan
ketampanannya hampir menjerat Bidadari Jalang, yang
waktu itu terkena racun birahi dari Tiga Pendekar Tibet
(Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode: "Bocah
Tanpa Pusar").
Hati Pendekar Mabuk sempat ragu melihat
penampilan pak tua yang mengaku sebagai Nagadipa itu.
Mulanya Suto menganggap orang itu hanya mengaku-
ngaku saja sebagai Nagadipa supaya punya alasan
bermusuhan dengan Suto. Tapi kejap berikutnya Suto
menyadari, bahwa waktu Nagadipa melawan Bidadari
Jalang di pantai, keadaan Suto masih kecil, masih
berusia delapan tahun.
Terbayang samar-samar dalam ingatan Pendekar
Mabuk waktu ia menyaksikan pertarungan itu dari suatu
tempat bersama gurunya; si Gila Tuak. Wajah Nagadipa
memang masih tampan, berusia tiga puluhan, tapi sudah
mampu membuat Bidadari Jalang terdesak mundur
beberapa kali.
Sekarang, dalam keadaan usia sudah semakin menua,
tentu saja ilmunya semakin tinggi. Dua puluh tahun
Nagadipa tidak pernah bertemu dengan Bidadari Jalang
maupun Suto, tentunya ia sudah punya bekal cukup
banyak untuk mengalahkan Bidadari Jalang.
Agaknya Putri Alam Baka sangat mengunggulkan
bekas suaminya itu. Dengan suaranya yang berat ia
lontarkan kata kepada Pendekar Mabuk,
"Rasa-rasanya usiamu tinggal sejengkal waktu lagi,
Pendekar Mabuk. Sebaiknya pergilah bercinta dengan
mayat Betari Ayu agar kau bisa merasakan kehangatan
tubuhnya yang terakhir kalinya, karena suamiku ini tak
akan lamban dalam mencabut nyawamu!"
"Kau salah duga, Putri Alam Baka! Betari Ayu tidak
mati, justru akan bangkit menghadapimu dan
menghancurkan tubuhmu!"
"Omong kosong! Suamiku telah melepaskan pukulan
dahsyatnya yang bernama 'Mata Iblis'! Tak mungkin ada
lawan yang bisa selamat dari pukulan 'Mata Iblis'-nya!"
Suto sunggingkan senyum meremehkan. Katanya,
"Apa hebatnya pukulan 'Mata Iblis' kalau nyatanya
Betari Ayu masih bisa tertolong?"
"Dusta!" bentak Nagadipa. "Pukulan 'Mata Iblis' tak
bisa diselamatkan oleh ilmu apa pun!"
"Nyatanya bisa!"
Putri Alam Baka mengalihkan pandang pada
Nagadipa dengan tatap kecewa. Kelihatannya ia mulai
tampak bimbang dengan kesanggupan dan kehebatan
Nagadipa. Melihat kebimbangan Putri Alam Baka,
Nagadipa segera unjuk ilmu di depan bekas istrinya itu.
Ia jejakkan kaki kanannya ke tanah satu kali. Jlegg...!
Jejakan kaki itu mempunyai kekuatan tenaga dalam yang
tersalur, membuat tubuh Pendekar Mabuk tersentak naik
ke atas bagai terlonjak. Ilmu seperti itu juga dimiliki
beberapa tokoh sakti, termasuk Datuk Marah Gadai.
Tetapi, Pendekar Mabuk tetap tenang walau ia hampir
tergelincir jatuh saat terlempar ke atas tadi. Ia pun
sentakkan kakinya ke bawah dengan sangat pelan.
Jliggg...! Dan, mendadak tubuh Nagadipa bagaikan
amblas ke bumi sebatas mata kaki.
Putri Alam Baka terkesiap melihat Nagadipa
terbenam sebatas mata kaki. Nagadipa sendiri buru-buru
hentakkan tubuh dan lepas dari tanah penjepit kakinya.
Wiiigh...! Jlegg...!
Kembali ia berdiri di samping Putri Alam Baka dan
membatin,
"Kurang ajar! Dia menguasai ilmu 'Telan Bumi'
rupanya! Ilmu itu jarang dimiliki orang, kecuali si Gila
Tuak! Untung ilmuku cukup tinggi, jika tidak bisa
amblas ke bumi sekujur tubuhku!"
Putri Alam Baka masih memandangi Nagadipa
dengan curiga, ia kecewa melihat Nagadipa bisa tersedot
ke dalam tanah, padahal Pendekar Mabuk hanya
menjejakkan kaki dengan pelan. Jika Pendekar Mabuk
menghentakkan kakinya dengan kuat, habis sudah tubuh
Nagadipa ditelan bumi, pikir Putri Alam Baka.
Perempuan bersenjata seruling itu lalu berbisik,
"Mana kehebatanmu? Jangan-jangan kau tak mampu
melawan Suto!"
Bisikan itu ditangkap Pendekar Mabuk dalam jarak
lima langkah. Tapi Pendekar Mabuk hanya diam saja,
hanya sunggingkan senyum tipis. Nagadipa merasa
diremehkan oleh Suto, lalu ia membalas dengan
lemparan tudungnya ke arah Pendekar Mabuk.
Tudung diambil dari kepala dan dilemparkan
memutar dengan gerakan begitu cepat. Wuuut...!
Pendekar Mabuk merendahkan kepalanya menghindari
hempasan tudung hitam. Tetapi ternyata tudung itu
mempunyai gelombang tenaga dalam yang membuat
tubuh Pendekar Mabuk merunduk jadi tersungkur jatuh
ke tanah. Sementara itu, tudung tersebut berputar terus
dan kembali ke tempatnya semula. Tapp...! Tangan
Nagadipa menangkapnya. Putri Alam Baka tersenyum
lebar dengan wajah ceria. Ia merasa senang dan bangga
melihat kebolehan jurus tudung Nagadipa.
Wajah Pendekar Mabuk hampir saja mencium tanah
karena tersungkur, bagai ada tenaga yang sangat kuat
menghantam tengkuk kepalanya. Kalau saja tangannya
tidak cepat mencagak, maka hidung dan mulutnya habis
terbentur bebatuan yang ada di bawahnya. Pendekar
Mabuk segera bangkit dan berhasil menggenggam
kerikil di tangannya. Kerikil itu segera disentilkan ke
arah tudung Nagadipa yang sudah dipakai di kepala.
Zlappp...! Kerikil itu melesat tak dapat dilihat, tapi tiba-
tiba tudung Nagadipa terhempas terbang dalam satu
sentakan keras. Prakkk...!
Putri Alam Baka dan Nagadipa sama-sama
terperanjat kaget. Tudung itu jatuh antara tiga langkah
dari tempat Nagadipa berdiri. Ketika diambil kembali,
ternyata ada bagian tepinya yang bolong melompong
sebesar biji salak. Nagadipa semakin terbelalak kaget.
Ia membatin, "Gila! Tudung ini kulapisi dengan satu
kekuatan baja yang tak bisa dirusak oleh kekuatan apa
pun! Pedang setajam apa pun tak akan mampu melukai
tudung ini. Tapi kenapa, sekarang bisa menjadi bolong
begini? Hmmm... tentu ini ulah bocah ingusan itu!
Jahanam...! Ilmunya tak bisa disepelekan!"
Terdengar suara Putri Alam Baka berbisik, "Kenapa
bisa berlubang tudungmu itu?!"
"Entahlah!" jawab Nagadipa. Ia merasa kesal
mendapat pertanyaan seperti itu, karena merasa malu
pada diri sendiri.
Suto berkata dalam hatinya, "Putri Alam Baka ini
agaknya terlalu banyak menuntut dari Nagadipa. Aku
bisa mempengaruhi mereka dengan caraku sendiri agar
mereka tidak saling bantu-membantu."
Tapi sebelum Pendekar Mabuk sempat melakukan
rencananya, Nagadipa sudah lebih dulu berkata,
"Pendekar Mabuk! Sudah waktunya kau menjadi
tumbal kesalahan gurumu, si Bidadari Jalang itu!"
"Aku sudah siap menghadapi kalian berdua!"
"O, tak perlu berdua. Cukup aku saja yang
membereskan dirimu. Biar istriku jadi penonton yang
baik!"
"Majulah, Nagadipa. Tapi aku tak tanggung jika
istrimu kecewa melihat polahmu seperti anak kecil!"
"Bocah tak tahu diuntung!" geram Nagadipa.
"Hiaaat...!"
Cepat sekali tangan Nagadipa bergerak berkelebat
depan seperti orang melemparkan pasir ke atas. Dan
pada saat itu, Pendekar Mabuk segera bersalto mundur
satu kali, karena ia merasakan akan datangnya
gelombang panas yang hampir menyambar tubuhnya.
Dengan bersalto ke belakang satu kali, semburan
gelombang panas itu terhindar darinya. Melesat
mengenai sebatang dahan pohon, dan dahan itu tiba-tiba
menjadi kering dalam sekejap.
Putri Alam Baka kelihatan kagum dan bangga
melihat serangan itu walaupun meleset, ia berkata
kepada Nagadipa,
"Desak terus dia. Jangan kasih kesempatan sedikit
pun!"
Baru saja diam mulut Putri Alam Baka, tiba-tiba Suto
Sinting sudah meraih bumbung tuaknya yang sejak tadi
berselempang di punggung. Bumbung itu dipegang
bagian talinya dan kini diputar-putarkan di atas kepala.
Wuung...! Wuuung....! Wuuung...!. Bunyi putaran
bumbung menggaung bagaikan suara gangsing.
Pada saat itu, tubuh Nagadipa pun ikut berputar-putar
tak bisa dikendalikan berhentinya. Tubuh itu makin lama
makin cepat berputar dan hampir saja menabrak Putri
Alam Baka. Perempuan itu segera melompat ke
samping, dan tubuh Nagadipa tertabrak batang pohon
besar. Brusss...! Bluggg...! Tubuh itu pun jatuh dalam
geram kesakitan dan kemarahan.
"Bangun! Lekas bangun!" sentak Putri Alam Baka
kepada Nagadipa.
Dengan perasaan masih pusing, Nagadipa pun
berusaha untuk bangkit.
"Lemah sekali kau! Baru menghadapi jurus begitu
saja sudah sempoyongan seperti orang mabuk!"
Pendekar Mabuk sengaja melontarkan ejekan,
"Bawalah dia pergi. Aku yakin, dia tak tahu arah pulang
ke rumahnya, Putri Alam Baka!"
Perempuan itu menggeram marah karena bekas
suaminya yang dibanggakan itu dihina oleh Suto. Maka,
sambil mencabut serulingnya perempuan itu berkata,
"Jangan merasa bangga dengan ilmumu itu, Suto!
Tandingilah seruling saktiku ini jika kau berilmu tinggi!"
Tuiiit...! Tulalit, tulalit, tulalit, tuiiii...!
Seruling ditiup dengan suara lengking tinggi,
iramanya tak pasti. Kalau tidak buru-buru Suto menutup
telinganya dengan kedua tangan, maka gendang
telinganya pasti akan pecah.
Suara seruling itu ternyata merupakan suara tenaga
dalam yang merayap melalui gelombang nada seruling.
Bukan hanya membuat gendang telinga pecah,
melainkan juga membuat hidung Suto mulai berdarah.
Tubuhnya limbung karena menahan rasa sakit di setiap
lubang yang ada pada tubuhnya, termasuk pada
mulutnya.
Tetapi anehnya, Nagadipa tidak merasakan sakit
sedikit pun walau ia tidak menutup telinganya. Ia bahkan
berdiri di samping Putri Alam Baka dan memperhatikan
Pendekar Mabuk sempoyongan sambil menggeram
kesakitan. Darahnya makin banyak keluar dari hidung.
"Bunyikan terus serulingmu biar aku yang
menyelesaikannya sekarang juga! Hiaaat...!"
Kedua tangan Nagadipa terangkat dengan gemetar.
Setiap kuku tangannya memercikkan bunga api warna
biru, bagai tali-tali menyala yang berkeliaran
mengelilingi kuku ke kuku, Pendekar Mabuk tak bisa
bersiap menghadapi pukulan Nagadipa, karena
tangannya mendekap lubang telinga kuat-kuat. Hanya
saja, ia masih bisa melihat kelebatan kedua tangan
Nagadipa yang mirip gerakan orang memercikkan
tangan basahnya.
Craaat...!
Berkilap sinar biru yang menyerupai benang-benang
menyala itu. Melesat sinar itu ke arah Suto. Dengan
cepat kaki Suto menjejak ke tanah dan melompat lima
langkah ke samping kanannya. Brukk...! Ia jatuh di sana
dan melompat lima langkah ke samping kanannya.
Brukkk...! Ia jatuh di sana sambil berguling dan tetap
mendekap telinga.
Bleger...!
Suara ledakan menggema keras akibat cahaya biru
dari kuku-kuku Nagadipa itu mengenai sebatang pohon
yang tadi ditumbangkan oleh Pendekar Mabuk. Pohon
itu pecah menjadi serpihan-serpihan kecil tak berbentuk
sedikit pun.
Tulalit, tuiiit... tuiit... tulaliiiit... tuiit...!
Seruling semakin nyaring. Kepala Pendekar Mabuk
bagaikan mau pecah rasanya. Ia menahan tangisnya
kuat-kuat untuk menutup telinga agar tak ditembus suara
seruling itu. Sementara darah sudah mulai banyak keluar
dari lubang hidung, sudut mata dan mulut. Ia terpisah
dari bumbung tuaknya, sehingga ia tidak bisa
meggunakan bumbung itu untuk menangkis atau
melawan serangan Nagadipa dan Putri Alam Baka.
Pendekar Mabuk berdiri dengan lututnya sambil
mulutnya ternganga menahan rasa sakit di kepala. Pada
waktu itu ia melihat Nagadipa melepas tudungnya, dan
melingkari tudung itu dengan jari tangannya. Maka,
tudung itu tersebut menjadi menyala biru.
"Mampuslah kau sekarang, murid sinting! Hiaaat...!"
Nagadipa melemparkan tudung itu ke arah Pendekar
Mabuk. Wusss...!
Suto Sinting yang dalam keadaan tak bisa
menghindar dan menangkis serangan itu akhirnya
menyentakkan napasnya dari mulut.
"Hahhh...!"
Wuuuoosss...!
Terlepaslah badai topan yang begitu mengganas
menyerang Nagadipa dan Putri Alam Baka. Sentakan
napas Pendekar Mabuk itu tak seberapa keras, tapi telah
membuat tubuh Nagadipa terlempar jauh, lebih dari
sepuluh langkah, sedangkan Putri Alam Baka terlempar
lebih jauh, bahkan sampai terseret-seret dan berdarah.
Pohon besar meliuk nyaris tumbang. Sedangkan pohon
yang berukuran sedang telah rubuh ke tanah. Beberapa
pohon berukuran satu pelukan tangan lebih sedikit,
tumbang dengan akarnya terangkat naik, bahkan terseret
ke mana-mana, menghantam apa saja yang ada hingga
dahannya menjadi retak, patah tak karuan.
Gerakan pohon yang patah itu menghantam pula
tubuh Nagadipa beberapa kali. Orang itu berusaha
berpegangan pada salah satu akar pohon yang tumbang.
Tapi karena kuatnya pegangan, pohon itu justru ikut
terseret menjauhi Suto. Akhirnya pegangan tangan itu
terlepas, Nagadipa terguling-guling. Tudungnya entah
ada mana. Sedangkan Putri Alam Baka pun entah ke
mana.
Badai topan yang datang begitu mengerikan.
Sepertinya bumi akan terbelah, langit akan runtuh.
Seketika itu pula kabut hitam mendung menggantung di
angkasa. Gumpalan-gumpalan kabut itu meliuk-liuk
bagai ada topan dahsyat di atas sana. Matahari tertutup
oleh kabut tebal yang bergulung-gulung mengerikan.
Suara gemuruh tak jelas dari jenis apa saja. Binatang-
binatang hutan saling berjeritan membuat suasana alam
menjadi semakin gaduh dan riuh.
Beberapa saat kemudian, badai menjadi reda. Sedikit
demi sedikit kabut hitam di angkasa itu menyisih,
cahaya matahari kembali tampak menyinari bumi. Suara
gemuruh gaduh pun mulai reda. Suto berdiri dengan
mata terbelalak tak berkedip. Ia sama sekali tak
menyangka kalau sentakan napasnya menjadi
sedemikian dahsyat dan mengerikan. Bumi seperti habis
dilanda kiamat setempat. Bahkan Suto melihat tanah
yang longsor pada sebuah lereng. Ada yang terbongkah
dari keadaan aslinya. Batu-batu yang semula terpendam
di tanah dan hanya muncul di permukaan sedikit itu juga
ada yang terpental keluar dan menggelinding jauh dari
tempat awalnya. Entah berapa yang tumbang dan rusak
berat akibat badai dahsyat tadi. Bahkan pohon besar pun
sampai sekarang masih meliuk dan tak bisa kembali
tegak dari posisinya semula.
"Pusaka Tuak Setan...?!" gumam Suto menjadi tegang
dan ngeri sendiri. "Aku telah menghempaskan napasku,
dan napas itu adalah napas Tuak Setan! Oh, mengerikan
sekali?! Lantas bagaimana nasib Nagadipa dan Putri
Alam Baka...?! Di mana mereka?!"
*
* *
5
PUTRI Alam Baka ditemukan oleh Maharani dalam
keadaan sangat menyedihkan. Maharani, satu dari
beberapa orang yang lolos dalam peristiwa 'Murka Sang
Nyai' itu, baru saja tiba dari Pulau Hantu untuk menemui
si Mawar Hitam, tokoh sesat yang sebetulnya sudah
tidak ingin turun ke rimba persilatan kecuali berhadapan
dengan Bidadari Jalang.
Maharani sungguh terkejut dan menjadi berang
melihat teman seperguruannya dalam keadaan terkoyak-
koyak sekujur tubuhnya. Mata kakinya remuk karena
terhimpit batu besar, serulingnya pecah dalam
genggaman sendiri, darah membungkus seluruh bagian
tubuh Putri Alam Baka, hingga hampir-hampir wajahnya
tak dikenalinya lagi. Jika tak melihat seruling pecah di
tangannya, Maharani tak dapat mengetahui siapa tubuh
yang terkapar berlumur darah itu.
"Sumbi!" panggil Maharani menyebut nama asli Putri
Alam Baka. "Apa yang terjadi si sini, Sumbi? Mengapa
jadi begini?!"
Putri Alam Baka masih punya sisa napas walau
sejengkal. Matanya yang kiri nyaris keluar dari
rongganya, namun mata yang kanan masih bisa dipakai
untuk melihat walau hanya terbuka kecil sekali. Bibirnya
yang hancur karena benturan dengan benda keras
beberapa kali itu mencoba bergerak-gerak untuk bicara.
"Oh, Sumbi... tak bisakah kau bicara lebih jelas lagi?"
Maharani terpaksa dekatkan telinga ke mulut Putri Alam
Baka
Samar-samar terdengar Putri Alam Baka ucapkan
kata,
"Su... to...!"
Setelah itu ada napas kecil yang terlepas dari mulut
Putri Alam Baka. Lepasnya napas itu bersamaan dengan
tergoleknya kepala ke samping. Lemas dan lunglai.
Setelah itu, tak ada lagi gerakan maupun suara dari Putri
Alam Baka.
"Sumbi!" seru Maharani menyentak dalam nada
tegang. "Sumbi! Apa maksudmu dengan Suto?!
Jawablah, Sumbi! Sumbiii...!"
Maharani guncangkan tubuh berlumur darah itu. Tapi
si pemilik tubuh tetap diam membisu tanpa napas sedikit
pun. Lalu, meraunglah tangis Maharani begitu
menyadari temannya sudah tidak bernyawa lagi.
Hati Maharani diguncang duka dan kemarahan yang
begitu hebat. Tak tahu pasti apa penyebab kematian satu-
satunya teman yang tersisa dari perguruannya, Maharani
mengamuk tanpa arah dan sasaran. Hanya batang-batang
pohon, bongkahan-bongkahan batu, dan benda-benda di
sekitarnya yang menjadi sasaran kemarahan Maharani.
Benda-benda itu dihancurkan dengan pukulan dan
tendangan bertenaga tinggi. Senjata kipasnya pun ikut
ambil bagian menghantam ke sana-sini hingga timbulkan
suara ledakan yang menggetarkan tanah sekitarnya.
"Hentikan! Hentikan!" seru seseorang dengan suara
gemetar.
Maharani cepat palingkan wajah dengan napas
terengah-engah. Ia segera kenali orang yang tanpa
tudung lagi namun masih berpakaian abu-abu itu.
Pakaiannya compang-camping bagai habis dikoyak
cakar beruang. Kulit tubuhnya pun terluka banyak,
seolah habis dirobek-robek oleh dua ekor harimau
jantan. Orang berkumis dan berambut banyak uban itu
tak lain adalah Nagadipa.
Maharani tertegun melihat keadaan Nagadipa seperti
itu. Setahunya, Nagadipa orang berilmu tinggi yang
jarang bisa dilukai oleh lawan. Tapi mengapa sekarang
keadaan lukanya sedemikian parah? Maka, Maharani
pun segera ajukan tanya kepada Nagadipa yang berdiri
dengan bersandarkan tubuh pada pohon yang masih
tegak berdiri.
"Apa yang terjadi, Nagadipa?! Mengapa bumi
bagaikan habis dilanda banjir dan badai yang buas
begini? Mengapa Putri Alam Baka menderita luka
sebegitu parahnya hingga tak bernyawa lagi?!"
"Bawalah aku pergi ke tempat yang aman. Lekas!
Nanti kuceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Aku
butuh tempat aman untuk mengobati luka-lukaku ini,
Maharani!"
"Nagadipa...."
"Bawalah aku! Tenagaku tak kuat lagi untuk
bertahan!"
Tak ada pilihan lain buat Maharani. Ia harus segera
membawa Nagadipa pergi. Tempat yang dipilihnya juga
tak ada yang lain kecuali ke tempat asal Nagadipa, yaitu
sebuah pulau yang dikenal dengan nama Pulau Bangkai.
Pendekar Mabuk melihat kelebatan Maharani yang
membawa pergi Nagadipa. Tapi Pendekar Mabuk
sengaja tidak mengejarnya. Ia masih ingin memeriksa
keadaan alam sekitarnya, sejauh mana bencana yang
ditimbulkan oleh kekuatan dahsyat dari napas Tuak
Setan.
Sebenarnya Pendekar Mabuk sudah sering
mendengar akibat yang ditimbulkan dari napas Tuak
Setan. Tapi untuk kali ini Suto benar-benar merasa heran
dan juga menyesal. Karena pada waktu ia sentakkan
napas dari mulutnya, ia tidak bermaksud melepaskan
Pusaka Tuak Setan dari dalam napasnya itu. Ia
menyentakkan napas karena ingin membuang rasa sakit
yang tak tertahankan lagi, yang ditimbulkan akibat suara
seruling Putri Alam Baka itu.
Terngiang kembali ucapan gurunya, si Gila Tuak,
saat membicarakan tentang Pusaka Tuak Setan,
"Orang yang menelan atau meminum Pusaka Tuak
Setan, akan mempunyai napas yang luar biasa
dahsyatnya. Sedikit napas tersentak dari mulut orang
yang diliputi kemarahan, maka badai topan yang amat
dahsyat akan menghembus keluar dan memporak-
porandakan alam sekitarnya. Karena itu, aku tak berani
menggunakan Pusaka Tuak Setan, karena aku masih
sering dihinggapi amarah yang walau dipendam tetap
akan menghasilkan napas badai yang dapat membawa
korban tak bersalah...."
Korban tak bersalah memang ada. Bukan harus dalam
wujud manusia, tapi hancurnya sebidang tanah hutan
juga bisa digolongkan sebagai korban tak bersalah.
Binatang-binatang hutan yang mati tergencet pohon,
atau pecah terbentur benda keras dengan kekuatan
tinggi, juga sebagai korban tak bersalah.
Pendekar Mabuk bergidik sendiri melihat seekor babi
hutan pecah kepalanya di dekat bongkahan batu besar.
Kulit babi hutan itu tercabik-cabik terkelupas dari
tubuhnya. Pohon-pohon hutan bagaikan rata dengan
tanah. Ambruk tak tertolong lagi. Akar-akar pohon
terpental keluar dari dalam bumi. Persawahan pun
hancur lebur tak berbentuk barisan tanaman padi lagi.
Badai yang ganas itu untung tak sampai memporak-
porandakan sebuah desa yang letaknya jauh dari lereng
bukit itu. Namun dari tempat Suto berdiri, ia melihat
sebatang pohon kelapa tumbang dan beberapa genteng
melorot dari atap. Suto pun segera lari ke desa untuk
melihat lebih jelas lagi.
Ternyata memang tidak ada korban manusia di sana
kecuali dua ekor kerbau yang sedang dilepas di tepian
sawah dekat tanah lapang. Dua ekor kerbau itu masing-
masing dalam keadaan kepala pecah dan tubuh terkoyak-
koyak. Dua ekor kerbau itu mati dalam keadaan
telentang, keempat kakinya mengeras ke atas.
Dari percakapan orang-orang desa itu terpetik satu
kesimpulan dalam benak Suto, bahwa mereka hanya
mengalami rasa takut yang begitu hebat. Bahkan ada
yang menyangka langit akan rubuh dan bumi akan
mengalami kiamat. Kerugian yang ditimbulkan dan
diderita oleh penduduk desa itu tak seberapa banyak,
kecuali pemilik dua ekor kerbau yang genteng atap
rumahnya hampir melorot semua. Kepada pemilik dua
ekor kerbau itu, Suto memberikan sejumlah uang
sebagai ganti ruginya.
"Uang untuk apa itu, Anak Muda?"
"Terimalah saja, Pak. Kurasa cukup untuk membeli
dua ekor kerbau dan membenahi genteng rumahmu."
Pendekar Mabuk memang tidak jelaskan apa yang
terjadi dan apa yang menjadi penyesalannya. Mereka
belum tentu mau percaya dengan omongan Suto Sinting.
Buatnya yang penting sudah menebus penyesalan itu
dengan memberikan uang ganti rugi secukupnya kepada
korban tak bersalah.
"Mudah-mudahan jangan lagi aku menggunakan
napas Tuak Setan-ku ini. Aku harus bisa mengendalikan
amarahku dan menahan diri untuk tidak melampiaskan
amarah dengan hembusan napas. Kalau tidak sangat
terpaksa dan tak punya jalan lain, jangan lagi kugunakan
napas Tuak Setan-ku ini! Kasihan mereka yang tak
bersalah menjadi korban keganasan napas Tuak Setan!"
pikir Suto sambil langkahkan kaki meninggalkan desa
itu. Ia ingin memeriksa alam di sisi lain, barangkali ada
korban lain yang menderita akibat amukan badai dahsyat
dari napas Tuak Setan-nya itu.
Tiba di pinggiran sungai bertanggul tinggi, langkah
Suto terhenti seketika karena anak panah yang meluncur
cepat dan jatuh menancap tanah di depan langkahnya.
Secara gerak naluri Pendekar Mabuk melenting ke atas
dan bersalto mundur satu kali. Kemudian setelah
sepasang kakinya tegak berdiri di atas sebuah batu besar
yang tingginya dua depa dari tanah, Suto memandang
arah datangnya anak panah itu. Ternyata dari atas
tanggul, dan diluncurkan dari busur seorang lelaki kerdil
berambut jarang. Bagian tengah kepalanya tak
ditumbuhi rambut sedikit pun. Botak polos dan
mengkilap. Tapi dari bagian atas telinga memutar
sampai di telinga satunya lagi ditumbuhi rambut sedikit
lebat. Panjangnya kurang dari batas pundak. Karena tak
terlalu lebat, rambut itu seolah-olah bisa dihitung
jumlahnya.
Lelaki kerdil yang tingginya sebatas perut Suto itu
melompat dengan gerakan lincah dan ringan. Dari atas
tanggul ia bersalto turun dua kali. Kejap selanjutnya ia
sudah berdiri di depan Suto. Kepalanya mendongak
keatas, karena di samping Pendekar Mabuk lebih tinggi,
juga karena keadaan Pendekar Mabuk saat itu di atas
batu tinggi. Ia berseru dengan tangan masih
menggenggam busur panah, sedangkan tempat menaruh
anak panah lainnya ada di punggung. Tempat menaruh
anak panah itu terbuat dari kulit berbentuk kantung
panjang warna hitam kecoklatan, mempunyai tali pengait
yang membuat anak panahnya tidak jatuh berantakan
walau dipakai jungkir balik di udara.
"Kaukah yang... yang... namanya Sut... Suto?!"
serunya sambil menyunggingkan senyum yang lebih
tepat dikatakan sebagai seringai yang konyol.
Suto melompat turun dari atas batu. Wuuttt...! Kejap
berikut ia sudah berada di depan lelaki kerdil yang
bertampang tua itu. Dilihat dari ketuaan wajahnya, Suto
menduga lelaki itu berusia antara lima puluh tahun lebih,
namun belum sampai enam puluh tahun.
Cukup waspada Suto memperhatikan gerak-gerik
orang aneh itu. Yang diperhatikan ternyata tidak
menimbulkan kesan bermusuhan. Orang itu mencabut
anak panahnya yang tadi menancap di tanah sambil
berlari-lari diiringi bibir yang cengar-cengir. Kemudian
kembali menemui Suto setelah mendapatkan anak
panahnya.
"Siapa kau, Pak Tua?"
"He he he... ja... jawab du... dulu pertanyaanku!
Kau... kau yang bernama Sut... Sut... Suto?"
"Ya. Aku Suto, murid sinting si Gila Tuak!" jawab
Suto dengan tegas sambil tetap pandangi orang kerdil
berpakaian serba putih dari bahan kulit binatang berbulu
putih. Bentuk celananya pendek, bentuk bajunya mirip
rompi panjang. Semuanya dari kulit binatang, yang
menurut dugaan Suto adalah kulit beruang putih. Di
pinggang orang itu terselip dua pisau bersarung yang
panjangnya satu setengah jengkal. Masing-masing ada di
pinggang kiri dan kanan.
"Sen... senang sekali aku bis... bisa bertemu
denganmu, Suto!"
Dalam hati Pendekar Mabuk membatin, "Orang ini
bicaranya tersendat-sendat. Apakah karena dia gugup
bertemu denganku atau karena memang begitulah lagak
bicaranya?"
Orang itu segera ucapkan kata lagi, "Nam... nam...
namaku... Gatra Laksana, tap... tapi julukanku... Dewa
Racun!"
Pendekar Mabuk akhirnya tertawa seperti orang
menggumam, ia merasa geli sendiri melihat Dewa Racun
bicaranya seperti orang tertelan biji kedondong. Dan
melihat Suto tertawa, Dewa Racun kerutkan dahi dalam
tatap matanya yang sedikit menyipit itu.
"Ken... ken... kenapa kamu ter... ter... tertawa?"
"Aku menertawakan diriku sendiri. Alangkah
bodohnya aku ini, tak bisa mengenali tokoh tua yang
berjuluk Dewa Racun," jawab Suto mengalihkan
anggapan, walau sebenarnya ia memang tak kenal dan
belum pernah mendengar nama Dewa Racun.
Mendengar jawaban itu, Dewa Racun tampaknya tak
jadi tersinggung, ia segera ucapkan kata gagapnya,
"Kal... kal... kalau begitu, kau termasuk or... orang
beruntung."
"Mengapa beruntung?"
"Kar... karena kau sekarang sudah bisa mengenal dan
berhadapan langsung de... dengan... Dewa Racun!"
"Apa hebatnya orang ini sehingga aku dianggap
beruntung bisa berhadapan dengan Dewa Racun?!" pikir
Suto.
Dewa Racun berkata lagi, "Nam... namamu juga
cuk... cuk... cuk...."
"Cukur?!" sahut Suto
"Bukan. Cuk... cukup dikenal di kalangan rim... rimba
persilatan. Ak... aku dengar kau murid si Gila Tuak yang
cuk... cukup terkenal itu. Dan... dan... aku dengar kau
cari-cari pe... pe..."
"Penyamun?!"
"Bukan. Perempuan! Ya, aku dengar kau cari-cari
pe... perempuan yang ber... bernama Dyah Sariningrum."
Tersentak kaget Pendekar Mabuk mendengarnya.
Senyumnya hilang seketika begitu mendengar nama
Dyah Sariningrum disebutkan oleh Dewa Racun. Ia maju
setindak dan rendahkan badan, setengah jongkok di
depan Dewa Racun agar wajahnya sejajar dengan wajah
si kerdil itu.
"Apakah kau mengenal Dyah Sariningrum?"
"Ya. Ak... aku kenal nama itu," jawab Dewa Racun.
"Tap... tap... tapi aku tidak tahu siapa dia dan di mana
dia."
"Dari siapa kau tahu nama Dyah Sariningrum?"
"Dar... dar... dar... dar...."
"Cepat katakan! Jangan hanya main dar-daran saja?!"
sentak Suto tak sabar.
"Maksudku, dar... dari mulut Peramal Pikun!"
Pendekar Mabuk tertegun sejenak, ia berdiri dari
jongkoknya. Terbayang wajah bermata cekung bertubuh
kurus kering milik Peramal Pikun. Suto hampir saja
melupakan seraut wajah pikun. Dialah orang yang
menjadi kunci tentang rahasia nama Dyah Sariningrum.
Tapi apa perlunya Peramal Pikun memberitahukan
kepada Dewa Racun?
"Apa maksudmu menemuiku, Dewa Racun?" tanya
Suto. "Bukankah kau tidak mengenal siapa Dyah
Sariningrum kekasihku itu, dan tidak tahu di mana dia
berada?"
"Ya. Tap... tap.... Tapi aku disuruh Peramal Pikun
untuk mencarimu. Dia... dia dalam keadaan sakit parah
kar... karena... sebutkan nama Dyah Sariningrum di
depanku."
Pendekar Mabuk kerutkan dahinya tajam-tajam, ia
dekatkan kembali wajahnya kepada Dewa Racun dengan
bungkukkan badan.
"Dia sakit parah karena sebutkan nama Dyah
Sariningrum?"
"Ya. Dia... tak boleh sebutkan nama itu, bah... bahkan
mendengar nama itu pun dia tak... tak boleh. Telinganya
akan ber... ber...."
"Berkumis?"
"Bukan. Akan ber... berdarah jika mendengar nam...
nama Dyah Sariningrum. Sewaktu ia lup... lupa sebutkan
nama itu di depanku, ia langsung meng... meng...."
"Menghilang?!"
"Bukan, ia langsung mengeluarkan darah dari mul...
mulutnya. Dia langsung ter... ter... ter... terluka dalam.
Dia but... butuh bantuanmu secepatnya, Suto!"
"Aneh! Mengapa dia jadi terluka dan berdarah
begitu? Apa hubungannya antara nama Dyah
Sariningrum lengan lukanya itu?"
"Entahlah! Yang... yang... yang jelas dia minta kau
segera da... datang menemuinya!"
Suto menarik napas panjang, ia ambil bumbung tuak,
dan menenggak tuaknya beberapa teguk. Dewa Racun
hanya memperhatikan dengan senyum-senyum tak ada
manisnya sama sekali, tapi tidak berkesan bermusuhan.
"Apa hubunganmu dengan Peramal Pikun?" tanya
Pendekar Mabuk mengawali langkahnya mendaki
tanggul sungai yang tinggi itu.
"Hanya sebagai te... te... tetangga, eh... bukan! Hanya
sebagai teman biasa. Teman baik. Dul... dulu dia pernah
tolong aku dan aku pun pernah selamatkan nyawanya
dari bahaya racun. Sejak itu ka... kami mengikat tali
persahabatan yang cuk... cuk... cukup baik."
"Hmmm...!" Pendekar Mabuk menggumam sambil
manggut-manggut.
Terbayang lagi dalam benak Suto Sinting wajah
seorang perempuan yang pertama kali hadir di alam
semadinya itu. (Baca serial Pendekar Mabuk dalam
episode: "Pusaka Tuak Setan"). Wajah cantik yang
muncul di alam semadinya itu membuat Suto
mencucurkan air mata berdarah. Cucuran air mata
berdarah itu tidak disadari olehnya, namun dipahami
oleh gurunya, si Gila Tuak. Sejak itu, wajah yang
mengaku bernama Dyah Sariningrum itu sering hadir di
alam mimpi Pendekar Mabuk dan membuat Pendekar
Mabuk sering dicekam rindu. Itulah sebabnya Suto tak
bisa menerima cinta Betari Ayu, karena ia sudah telanjur
jatuh cinta pada seraut wajah milik Dyah Sariningrum.
Sayang sekali si Gila Tuak juga tidak menjelaskan, siapa
perempuan itu dan di mana letak persinggahannya. Si
Gila Tuak hanya mengatakan, bahwa wajah yang hadir
di alam semadinya Suto Sinting itu adalah calon jodoh
Suto.
Itulah sebabnya Pendekar Mabuk memburu seraut
wajah cantik bernama Dyah Sariningrum dengan seribu
godaan yang datang dari perempuan-perempuan cantik
lainnya. Perempuan-perempuan itu terang-terangan jatuh
cinta kepada Suto sampai siap korbankan nyawa, tapi
Suto tetap tak bisa menerima cinta dari perempuan
Sikap Suto Sinting yang menutup diri terhadap cinta
perempuan lain itulah yang membuat mereka jadi
kecewa. Yang dulunya cinta kepada Suto, sekarang
berubah menjadi benci. Tetapi Pendekar Mabuk tidak
mengetahui adanya perubahan sikap mereka. Suto
Sinting tidak tahu bahwa jiwanya sedang dalam
ancaman tiga perempuan patah hati, yaitu Peri Malam,
Selendang Kubur, dan Perawan Sesat.
Satu dari tiga perempuan patah hati itu sengaja
menghadang langkah Suto. Sebuah pukulan tenaga
dalam dilancarkan dari jarak jauh. Pukulan itu hanya
sebagai pengganggu langkah saja, tidak bermaksud
menghabisi nyawa Pendekar Mabuk saat itu juga.
Pukulan tersebut segera dihadang dengan kelebatan
tubuh kerdil Dewa Racun yang melompat cepat di depan
Suto. Lalu dengan sentakkan tangan kirinya, Dewa
Racun menghantam kilatan cahaya hijau yang menuju ke
arah Suto.
Wuugh...! Duub...! Kedua tenaga dalam itu beradu di
udara.
Blarr...! Meledaklah benturan tenaga dalam tersebut,
membuat Dewa Racun terpental ke belakang membentur
Suto, membuat keduanya berjumpalitan di tanah.
"Apa-apaan kau ini, Dewa Racun!" sentak Pendekar
Mabuk sedikit dongkol karena matanya hampir tercolok
busur di tangan Dewa Racun.
"Ada yang... yang... yang ingin menghantammu dari
tempat jauh!"
"Aku tahu. Tapi aku bisa atasi sendiri. Tak perlu kau
yang menghalangi pukulan itu."
"Ak... aku... cuma mau selamatkan kam... kam...."
"Kambing?!" sentak Suto.
"Kamu!" Dewa Racun ganti membentak. Keduanya
segera tegak berdiri, karena dari atas pohon meluncur
sesosok tubuh berambut acak-acakan. Siapa lagi dia
kalau bukan Perawan Sesat yang bertampang liar dan
beringas itu.
Dewa Racun segera berkata kepada Pendekar Mabuk,
"Ad... ada... ada perempuan can... can... can..."
"Cantengan?!" sergah Suto Sinting menebak.
"Hmmm... iya," jawab Dewa Racun. "Perempuan
cantik yang mungkin berpenyakit cantengan,
menghadang langkah kita. Ap... apa maksudnya ak... aku
tidak tahu. Sumpah, aku tidak tahu!"
"Siapa yang menuduhmu tahu maksudnya? Tak perlu
pakai sumpah segala!" sentak Suto agak dongkol dengan
sikap gagapnya Dewa Racun. Kemudian, Pendekar
Mabuk maju setindak dan berkata kepada Perawan
Sesat.
"Apa maksudmu menghadang langkahku, Perawan
Sesat?!"
Dengan mata tajam bersikap bermusuhan, Perawan
Sesat menjawab,
"Aku hanya ingatkan kamu, dua hari lagi purnama
tiba!"
"Apa maksudmu dengan purnama tiba?"
"Kau punya janji pertarungan dengan Manusia
Sontoloyo yang bernama Dirgo Mukti itu! Apakah kau
masih ingat dengan pertarungan yang akan terjadi di
Bukit Jagal itu?"
Pendekar Mabuk tertawa berkesan meremehkan. "Ya,
ya... sekarang aku ingat. Hampir saja aku lupa kalau aku
mendapat tantangan dari Dirgo Mukti. Tapi...
sebenarnya hal itu tidak perlu terjadi. Masalahnya tidak
penting dipertarungkan!"
"Buat Dirgo Mukti kau punya urusan dengannya yang
amat penting! Menentukan siapa yang berhak menerima
cinta Peri Malam, itu adalah masalah yang sangat
penting buat Dirgo Mukti!"
Sekali lagi Suto lontarkan tawa meremehkan. "Bilang
kepada Dirgo, suruh dia ambil perempuan itu. Aku tak
akan mempertahankannya!"
"Hmm... kau takut menghadapi tantangan itu
rupanya."
"Ya. Aku memang takut. Takut membunuhnya.
Kasihan dia kalau harus mati sia-sia di tanganku.
Kasihan tanganku kalau harus membunuh orang yang
tidak punya masalah penting denganku!"
"Hadapilah dia kalau kau memang murid sinting si
Gila Tuak! Aku hanya mengingatkan saat
pertarunganmu itu, Suto!"
"Aku tidak akan hadir!"
"Harus hadir! Jangan kecewakan musuhmu, Suto!
Jangan jatuhkan martabat gurumu yang kesohor sebagai
orang sakti di papan teratas!" bujuk Perawan Sesat.
"Pertarungan itu tidak penting, Perawan Sesat! Aku
tidak mau terlibat urusan yang sangat sepele!"
"Kalau begitu, lepaskan gelar kependekaranmu biar
Dirgo Mukti yang menyandangnya!"
Suto hanya tersenyum heran sambil geleng-gelengkan
kepala, ia ucapkan kata pelan tapi penuh tatap pesona
yang membuat hati Perawan Sesat berdebar keras.
"Mengapa kau harus mendesakku bertarung melawan
Dirgo Mukti? Apakah kau punya dendam dengan Dirgo
Mukti dan ingin meminjam tanganku untuk
membunuhnya? Apakah kau tak mampu membunuh
Dirgo Mukti sendiri?"
"Jangan picik otakmu, Suto Sinting! Ini bukan soal
dendam. Ini soal harga diri, antara harga dirimu dengan
harga diri Dirgo Mukti!"
"Tidak. Aku tetap tidak mau hadir dalam pertarungan
nanti!"
"Kau kalah!"
"Biarlah dianggap kalah! Tapi aku punya
kemenangan sendiri di balik kekalahan itu!" kata
Pendekar Mabuk dengan tetap tenang.
"Kau harus menghadapinya, Suto!" bentak Perawan
Sesat yang merasa jengkel karena bujukannya tidak
berhasil.
Akhirnya, Dewa Racun ikut angkat bicara, ia berkata
kepada Perawan Sesat sambil bertolak pinggang.
"Aku yang akan mewakili Suto! Aku yang akan
menghadapi Dirgo Mukti itu!"
"Hmmm...!" Perawan Sesat mencibir sinis, ia sengaja
tidak kasih tanggapan terhadap kata-kata orang kerdil
itu. Ia segera pergi setelah berkata, "Jangan kecewakan
orang-orang yang mencintai dan mengagumi
kehebatanmu, Suto. Kami ingin menyaksikan kehebatan
orang yang kami puji-puji itu!" Lalu, ia melesat pergi
dengan ilmu siluman.
*
* *
6
SUNGGUH tak habis pikir Pendekar Mabuk terhadap
kemunculan Perawan Sesat. Mengapa perempuan itu
begitu besar harapannya agar Suto melaksanakan
pertarungan dengan Dirgo Mukti di Bukit Jagal? Pasti
perempuan itu mempunyai satu alasan dan tujuan lain
yang tersembunyi. Suto merasa bukan hanya ingin
ditonton dan dipuji kehebatan pertarungannya nanti, tapi
karena ada sesuatu yang ingin dilakukan oleh Perawan
Sesat. Ia merasa dirinya akan dijadikan alat oleh
Perawan Sesat, yaitu alat pembantai Dirgo Mukti.
Satu hal lagi yang membuat Pendekar Mabuk heran
adalah pembelaan yang dilakukan oleh Dewa Racun,
baru saja mereka saling kenal, mengapa Dewa Racun
melakukan pembelaan sebesar itu. Saat pukulan tenaga
dalam Perawan Sesat hendak menyerang Suto, Dewa
Racun cepat ambil sikap menahan dan menghancurkan
pukulan tersebut. Mestinya hal itu tidak perlu ia lakukan.
Pada saat Suto ngotot tidak mau melayani tantangan
Dirgo Mukti, tiba-tiba Dewa Racun menyediakan diri
sebagai pengganti Suto dalam pertarungan nanti.
Mestinya Dewa Racun tak perlu ikut campur, toh dia
tidak tahu duduk perkaranya tentang pertarungan dan
tantangan Dirgo Mukti Itu.
Suto sendiri tidak tahu, bahwa sebenarnya Perawan
Sesat hanya bertugas mengingatkan saat pertarungan
yang sebentar lagi akan tiba itu. Tiga perempuan patah
hati telah menugaskan Perawan Sesat untuk
mengingatkan Suto, sementara Peri Malam dan
Selendang Kubur bertugas memberi semangat pada
Dirgo Mukti. Tetapi, agaknya Perawan Sesat kurang
pintar main siasat. Bujukannya terlihat jelas melalui
desakan yang bersifat memaksa, sehingga Suto tetap
berkeputusan untuk tidak melayani tantangan Dirgo
Mukti.
Sementara itu di tempat lain, Peri Malam dan
Selendang Kubur tetap memberi bujukan agar Dirgo
Mukti bersemangat melawan Suto. Sebelumnya, saat
mereka bertiga menunggu kemunculan Dirgo Mukti dan
Datuk Marah Gadai dari dasar telaga, mereka sudah atur
siasat seperti itu.
Mereka sudah menyangka bahwa Dirgo Mukti pasti
bertarung melawan Datuk Marah Gadai, karena
keduanya sama-sama menyelam ke dasar telaga mencari
Cincin Manik Intan. Tetapi tiba-tiba kedua tubuh mereka
tersentak keluar dari dalam telaga dan masing-masing
terlempar tak tentu arah. Air telaga bergolak begitu kuat,
hingga sebagian airnya tumpah ke samping dan
sekelilingnya, mengguyur tubuh tiga perempuan patah
hati itu.
Ketiga perempuan itu berpegangan pada pohon
karena tubuh mereka terhempas badai kencang dari arah
wetan. Bahkan sebagian pohon di dekat telaga ada yang
tumbang ke sana kemari. Hal itu terjadi saat Suto Sinting
melepaskan napas Tuak Setan-nya tadi. Badai itu
ternyata sampai pula di sekitar telaga dan menipis ke
arah barat.
"Pasti ada yang menggunakan ilmu kesaktian tinggi!"
seru Perawan Sesat kala itu. Ia sendiri hampir terbang
terpental oleh hembusan angin badai yang cukup kuat
itu. Seruan tersebut tak mendapat tanggapan dari kedua
temannya, karena masing-masing sibuk bertahan agar
tak ikut terbuang oleh badai keras tersebut.
Pada waktu Dirgo Mukti dan Datuk Marah Gadai
terlempar dari dasar telaga, sang Datuk Marah Gadai
segera terpental bagaikan kapas tertiup angin. Mungkin
karena tenaganya sudah sangat berkurang selama
pertarungan dengan Dirgo Mukti yang berlanjut di dasar
telaga, hingga ia tak mampu bertahan diri dari hembusan
badai. Tubuhnya melayang menerabas semak berduri.
Suaranya pun hilang dari pendengaran tiga perempuan
patah hati itu.
Dirgo Mukti sendiri sebenarnya juga terhempas ke
mana-mana. Mungkin akan lebih jauh terpentalnya
dibanding Datuk Marah Gadai. Tetapi, tangan Peri
Malam berhasil memegangi kaki Dirgo Mukti yang
hampir terbawa terbang hembusan badai dahsyat itu.
Sambil berpegangan pada pohon, Peri Malam
mempertahankan tubuh Dirgo Mukti yang merayap-
rayap bagaikan buaya tanpa kaki.
"Bantu aku menahan tubuhnya!" teriak Peri Malam
saat itu, dan Selendang Kubur pun menahan pundak
Dirgo Mukti dengan kedua kakinya. Pundak itu tak bisa
maju karena mendapat tahanan dua kaki dari depan,
sedangkan kedua tangan dan pundak Selendang Kubur
menahan diri ke salah satu batang pohon. Ia pun
bertahan sekuat tenaga agar tidak ikut terlempar oleh
hembusan angin badai yang menggila itu.
Saat-saat berikutnya, badai itu reda. Suasana di
sekitar telaga persis bumi yang habis mengalami kiamat,
itulah kekuatan dahsyat dari napas Tuak Setan. Padahal
dari tempat Pendekar Mabuk hembuskan napas itu
sampai ke Telaga Manik Intan jaraknya cukup jauh.
Memakan waktu setengah hari untuk berjalan menuju
kesana. Tapi toh badai napas Tuak Setan sempat bikin
gaduh di sekitar telaga itu.
Mereka tidak tahu, pada saat badai mengamuk di
sekitar telaga, keadaan di tempat Suto sudah kembali
tenang. Jadi bentuk badai itu bergulung-gulung yang
makin lama semakin tipis gulungannya dan semakin
pudar hembusannya. Kalau saja mereka tahu, badai
sedahsyat itu datang dari mulut Suto, sudah pasti mereka
urungkan niat untuk mengadukan kesaktian Dirgo Mukti
dengan Suto. Dan karena mereka tidak tahu hal itu, maka
mereka pun akhirnya tetap membujuk Dirgo Mukti
untuk melaksanakan janji pertarungannya dengan Suto
Sinting.
Waktu itu, suasana sudah reda dan tenaga mereka
sudah pulih seperti sediakala. Dirgo Mukti berkata
kepada Peri Malam.
"Tenagaku terkuras habis melawan Datuk Marah
Gadai itu! Rasa-rasanya aku harus menunda pertarungan
sampai purnama mendatang!"
"Itu sama saja kau mengakui kekalahanmu, Dirgo!
Dan berarti Suto-lah yang berhak memiliki cintaku,"
kata Peri Malam mempengaruhi pikiran Dirgo Mukti.
"O, tidak! Kau tidak akan kuserahkan kepada Suto
Sinting! Kau harus kumiliki, Peri Malam!"
"Jika kau ingin memiliki aku, kau harus tunjukkan
kesaktianmu di depanku dengan mengalahkan Pendekar
Mabuk di pertarungan nanti!"
Dirgo Mukti tarik napas panjang-panjang. Matanya
menerawang dalam satu renungan pertimbangan. Pada
saat itu, Selendang Kubur segera angkat bicara dari
samping kanan Dirgo Mukti,
"Aku pun bertaruh untuk dirimu, Dirgo. Kau pasti
menang melawan Suto, dan aku siapkan hadiah untukmu
yang sangat istimewa!"
Cepat-cepat Dirgo Mukti palingkan wajah,
memandang Selendang Kubur dengan senyum berseri,
"Hadiah istimewa apa yang akan kau berikan padaku
jika aku menang melawan Suto Sinting?"
Mata Selendang Kubur melirik nakal sambil ia
berkata, "Apa yang kau harapkan dariku selama ini akan
kuberikan padamu!"
"Betulkah?!" Dirgo Mukti kian berbinar-binar
matanya.
"Ya. Aku hanya ingin menyerahkan tubuhku pada
laki-laki yang benar-benar jantan dan perkasa sebagai
seorang pendekar!"
Perawan Sesat segera lontarkan kata sambil berdiri di
depan Dirgo Mukti, memamerkan belahan dadanya,
merenggangkan kedua kakinya dengan senyum
menggoda.
"Rasa-rasanya aku juga perlu kasih hadiah kepada
siapa yang unggul dalam pertarungan nanti!"
"Kau...?! Kau juga akan kasih hadiah yang sama
seperti Selendang Kubur?"
"Kurasa kau pernah merasakannya, Dirgo! Tapi yang
tempo hari kau rasakan itu belum istimewa. Kau akan
memperoleh yang paling istimewa jika bisa kalahkan
Suto Sinting!"
"Oh, menyenangkan sekali...?!" si Manusia Sontoloyo
berseri-seri dan lebih bersemangat lagi.
Peri Malam berkata kepada Perawan Sesat, "Cari
Suto, ingatkan padanya tentang pertarungan di Bukit
Jagal, supaya dia tidak lupa, dan supaya Dirgo Mukti
tidak kecewa atas ketidakhadirannya nanti!"
"Aku akan cari dia dan akan kuingatkan demi
pendekar pujaan kita itu, Peri Malam!" kata Perawan
Sesat, lalu ia cubitkan tangannya di pipi Manusia
Sontoloyo. Setelah itu, segera tinggalkan tempat untuk
mencari Pendekar Mabuk.
Pada saat itu, Dirgo Mukti sempat ucapkan
kesangsiannya,
"Tapi aku belum menguasai jurus 'Cakar Naga'?
Mana bisa aku mengalahkan dia?"
"Kau pasti punya jurus simpanan lainnya!" sahut
Selendang Kubur. "Gunakan jurus-jurus intimu.
Keluarkan ilmu-ilmu simpananmu. Jangan tanggung-
tanggung kalau melawan Pendekar Mabuk. Dia juga tak
pernah tanggung-tanggung gunakan ilmunya!"
Peri Malam menimpali, "Bila perlu, gunakan pusaka
kapakmu itu! Aku yakin Pendekar Mabuk tak akan
mampu menandingi kesaktian kapakmu itu!"
Dirgo Mukti semakin sombong hatinya. Kepalanya
bagaikan bengkak mendapat sanjungan seperti itu. Lalu,
ia cabut senjata kapaknya dan ia amat-amati beberapa
saat. Kapak bermata dua itu mempunyai ujung mata
tombak yang bisa melesat memburu sasaran dan tumbuh
lagi mata tombak lainnya dari dalam gagang. Kapak itu
mempunyai gagang yang bisa ditarik dan menjadi rantai
sehingga bisa dipakai menebas leher dari jarak dua
tindak atau tiga langkah di depannya.
"Seharusnya Datuk Marah Gadai sudah kuhabisi
nyawanya pakai kapakku ini! Kenapa aku jadi lupa pada
pusaka sendiri?!"
"Itu tak perlu. Melawan Datuk Marah Gadai tidak
harus pakai kapak pusakamu! Tidak terhormat rasanya
jika kapak itu kau gunakan untuk melawan Datuk Marah
Gadai. Akan lebih terhormat lagi jika kau gunakan untuk
membunuh Suto Sinting! Kurasa hanya kapak ini yang
bisa menandingi semua ilmu Pendekar Mabuk!" kata
Peri Malam yang membuat hati Dirgo Mukti menjadi
semakin berbunga-bunga.
"Kurasa kau perlu istirahat banyak, Dirgo," kata
Selendang Kubur dengan senyum manisnya. "Jangan
buang-buang tenaga sebelum hari pertarungan tiba. Mari
kuantar pulang ke Pantai Saru. Kau perlu persiapkan diri
di sana."
"Kau akan menemaniku di sana sebelum pertarungan
tiba?"
"Ya, aku dan Peri Malam akan mendampingi masa
istirahatmu!"
"Dan... dan akan berikan kehangatan padaku di
sana?"
Peri Malam cepat menjawab, "Kehangatan itu akan
tiba jika kemenanganmu tergenggam di tangan. Kurasa
Perawan Sesat juga akan memberikan kehangatan yang
lebih indah lagi setelah kau berhasil membunuh Suto
Sinting!"
Selendang Kubur menambahkan kata, "Kau akan
memperoleh kemenangan ganda, Dirgo! Selain namamu
jadi cepat dikenal di rimba persilatan sebagai seseorang
yang mampu mengalahkan murid si Gila Tuak, juga kau
akan memperoleh kemenangan batin yang luar biasa
tingginya, yaitu memperoleh tiga istri sekaligus!"
"Tiga istri?! Waaah..., ha ha ha ha...!" Dirgo Mukti
tertawa kegirangan. Kedua perempuan itu dirangkulnya
kanan-kiri. Kedua perempuan itu juga membiarkan
dicium wajahnya oleh Dirgo Mukti yang tampak jelas
serakah dengan kemesraannya.
Di Pantai Saru, ketika malam hadirkan sunyi,
Perawan Sesat renungkan diri, duduk di atas bebatuan
tak berlumut. Satu persatu Peri Malam dan Selendang
Kubur mendekat, lalu mereka saling bergunjing tentang
Suto. Perawan Sesat yang mengawali percakapan itu.
"Lain kali jangan aku yang harus temui Pendekar
Mabuk sendirian."
"Mengapa?" tanya Peri Malam.
"Aku tak tahan memandang matanya. Gairahku
terbakar dan rasa cintaku meletup-letup jika bertatap
muka dengannya."
"Apakah kau masih tertarik pada Suto?"
"Justru karena aku masih punya rasa cinta, maka aku
harus menghadirkannya jika inginkan kematiannya!"
kata Perawan Sesat sambil menatap Peri Malam. Tapi,
Selendang Kubur segera angkat bicara,
"Dasar perempuan binal!"
Sreeg...! Perawan Sesat berdiri, Selendang Kubur
juga sigap menantang. Mata Perawan Sesat tajam
menembus bola mata Selendang Kubur yang
memancarkan dendam itu. Lalu, terdengar Perawan
Sesat menggeram dalam ucapan kata,
"Jangan memancing kemarahanku kalau tak ingin
kubinasakan di sini sekarang juga!"
"Lebih baik kita adu nyawa daripada akhirnya nanti
kamu masih menyukai Suto!"
"Aku tak pungkiri hal itu. Tapi aku toh berusaha
untuk tidak mau menemuinya secara sendirian?!"
"Bagaimana jika nantinya kau menjadi
pengkhianat?!" sentak Selendang Kubur. "Lebih baik
kuhabisi sekarang nyawamu ketimbang nantinya kau
menjadi pengkhianat!"
"Sudah, sudah...!" Peri Malam menengahi dengan
suara tegasnya. "Sekarang bukan saatnya bicara soal
urusan pribadi! Aku ingin kalian bedakan antara urusan
pribadi dengan urusan bersama!"
"Dia masih mencintai Suto!" tuding Selendang Kubur
kepada Perawan Sesat.
"Kurasa itu hal yang wajar," kata Peri Malam dengan
lantang. "Karena ada cinta itulah maka timbul kebencian
kepada Suto. Kalau kita tak punya cinta pada Suto, tak
mungkin kita sakit hati dengan sikap acuh tak acuhnya!"
Selendang Kubur kendorkan ketegangan uratnya,
demikian pula Perawan Sesat. Keduanya saling bisu, tapi
Peri Malam tetap bicara dalam keadaan berada di tengah
mereka.
"Secara jujur aku sendiri mengakui masih punya rasa
cinta pada Suto Sinting. Tapi cinta ini dibungkus oleh
kebencian, dan karena itu kita merencanakan untuk
membunuh Suto. Sekarang yang perlu kita pikirkan,
andaikata Suto tidak hadir dalam pertarungan nanti, apa
yang harus kita lakukan?"
"Ya. Sejak tadi itulah yang kupikirkan!" kata
Perawan Sesat. "Karena agaknya dia merasa tidak ada
perlunya melayani tantangan Dirgo Mukti! Persoalan
yang dihadapi dianggap persoalan kecil. Bahkan dia tak
mau peduli akan dirimu, Peri Malam. Dia berniat
membiar kan dirimu dimiliki oleh Dirgo Mukti!"
"Karena dia tidak mencintaimu, Peri Malam," sahut
Selendang Kubur dengan cepat. Peri Malam
menggeletukkan giginya menahan kegeraman hati.
"Menurutku," kata Perawan Sesat. "Kaulah yang
membujuknya agar dia tetap hadir melayani tantangan
Dirgo Mukti. Kau bisa gunakan kemanjaanmu dan
mengadu yang bukan-bukan tentang sikap Dirgo!"
"Aku tak berani! Aku takut terjerat cinta yang makin
membara," kata Peri Malam. "Bagaimana jika Selendang
Kubur saja yang temui dia dengan pengaduan palsu
tentang Dirgo Mukti? Dia pasti ada di pihakmu,
Selendang Kubur, karena antara dia dan gurumu ada
hubungan baik! Dia pasti mau membelamu jika kau
katakan Dirgo Mukti akan mengganggu, juga
mengganggu gurumu itu!"
"Tidak. Aku juga tidak berani berhadapan sendiri
dengan Suto. Aku takut semakin mencintainya!"
"Kalau semuanya takut makin jatuh cinta, lantas
bagaimana kita bisa membunuh dia?!" tukas Peri Malam
bernada jengkel.
*
* *
7
PERAMAL Pikun memang terluka pada bagian
dalamnya. Wajahnya yang berkulit hitam memancarkan
rona pucat pias. Bibirnya membiru dengan darah masih
sesekali keluar dari mulutnya, Peramal Pikun terbaring
lunglai bagai cucian basah tak terawat.
Ketika ia melihat kehadiran Suto, tampak cahaya
penuh harapan terpancar dari matanya yang sayu itu.
Dahi Suto berkerut melihat keadaan Peramal Pikun.
Separah itukah sakitnya hingga ia sendiri tak dapat
mengobati? Pikir Suto. Iba hati murid si Gila Tuak itu
melihat keadaan Peramal Pikun, sepertinya lelaki tua
renta itu memikul dosa yang amat berat disandangnya.
Terlontarlah kalimat tanya dari mulut Suto yang
sengaja bernada pelan agar tidak mengganggu
keheningan pondok ini.
"Apa penyebabnya? Katakan saja sejujurnya, Peramal
Pikun?!"
"Sebuah nama yang kau sebutkan."
"Nama kekasihku?"
"Ya. Mestinya aku tak boleh sebutkan nama itu, Suto.
Aku lupa, dan aku sebutkan nama itu!"
Pendekar Mabuk memeriksa sesaat tubuh Peramal
Pikun. Ia terkesiap melihat bagian perut memar biru.
Dari perutnya itu bergurat garis merah sebesar lidi yang
menuju ke tengah leher, melewati pertengahan ulu
hatinya. Suto bergumam,
"Apa arti jalur merah ini?"
"Itulah yang dinamakan jalur kutukan. Jalur merah itu
dikenal julukan ilmu 'Rentang Kutuk'! Hanya dia yang
memilikinya!"
"Maksudmu...."
"Jangan sebut namanya, Suto! Kumohon, jangan...!"
sergah Peramal Pikun memelas. Pendekar Mabuk buru-
buru menunda ucapannya, ia segera ingat bahwa
Peramal Pikun tak bisa mendengar nama Dyah
Sariningrum. Jika ia mendengar nama itu, telinganya
akan mengucurkan darah lagi.
"Jalur Kutukan atau ilmu 'Rentang Kutuk' ini akan
merenggut nyawaku pada saat tepat bulan menjadi
purnama!" tambah Peramal Pikun dengan suara
lemahnya "Jadi aku mohon bantuanmu untuk
menghilangkan ilmu 'Rentang Kutuk' ini sebelum
purnama tiba."
"Sebelumnya aku ingin tahu mengapa ilmu 'Rentang
Kutuk' itu menimpa dirimu?"
"Apakah Dewa Racun belum bicarakan hal itu
padamu?"
"Belum! Dewa Racun mendengar nama kekasihku
dari mulutmu, tapi dia tidak kenal siapa orang yang
punya nama itu dan di mana tempat persinggahannya.
Dewa Racun hanya bertugas mencari aku dan
membawaku kemari untuk menolongmu!"
"Dewa gila!" geram Peramal Pikun sambil matanya
mencari Dewa Racun di dalam pondoknya. Tapi orang
kerdil itu tidak ada di dalam pondok. Orang kerdil tadi
menyuruh Suto masuk sendirian dan ia bergegas menuju
ke sungai, katanya mau mandi sebentar di sana.
"Siapa Dewa Racun itu sebenarnya, aku belum jelas,
Peramal Pikun. Dia tidak banyak menceritakan dirinya
sepanjang perjalanan kemari. Dia bahkan lebih banyak
membicarakan tentang pertarunganku dengan manusia
Sontoloyo dua hari lagi."
Mata Peramal Pikun berkedip-kedip seperti orang
menunggu ajal. Cukup lama ia bungkamkan mulutnya,
sampai akhirnya Suto mengulang pertanyaannya yang
tadi,
"Aku ingin tahu mengapa ilmu 'Rentang Kutuk' itu
menimpa dirimu, Peramal Pikun. Ceritakanlah!"
"Ini rahasia hidupku, Suto."
"Untuk apa kau simpan rahasia kalau sebentar lagi
kau mati?"
"Memang benar katamu. Tapi...." Peramal Pikun ragu
sejenak, sehingga Pendekar Mabuk perlu mendesaknya.
"Katakanlah apa adanya, supaya aku bisa mengambil
sikap bagaimana harus menolongmu, Peramal Pikun."
"Baiklah," katanya, lalu Peramal Pikun mencoba tarik
napas panjang. Darah keluar lagi dari mulutnya tanpa
batuk sedikit pun. Ia mengusap darah itu memakai kain
yang kumal dan tak berbentuk kain lain, melainkan
bentuk kumpulan darah mengering.
Dengan suara pelan, Peramal Pikun tuturkan kata,
"Aku melakukan kesalahan semasa mudaku."
"Kesalahan apa?"
"Mencintai guruku sendiri."
"Apakah gurumu seorang perempuan?"
"Ya. Usianya sudah banyak, tapi masih awet muda
dan cantik. Ia memiliki ilmu kecantikan abadi, seperti
yang dimiliki oleh tokoh-tokoh sakti lainnya. Rasa
cintaku kepada Guru begitu dalam, sehingga aku
menjadi gila, dan nekat ingin memperkosanya. Tapi
dalam satu jurus aku tumbang, tak bisa mengalahkan
Guru. Lalu, aku diusir dari Puri Gerbang Surgawi...."
"Apa itu yang dimaksud Puri Gerbang Surgawi?"
"Sebuah negeri Pulau Serindu, jauh dari sini
letaknya," jawab Peramal Pikun sambil matanya
menerawang bagai mempunyai sebaris kenangan masa
lalunya.
Peramal Pikun menyambung ucapannya lagi, "Aku
diusir dari sana dengan satu kutukan yang membekas
selamanya dalam hidupku. Aku dianggap murid sesat
dan sangat tidak terhormat. Karenanya, ilmu 'Rentang
Kutuk' selalu menyertaiku."
"Siapa yang mengusirmu dan siapa yang melancarkan
kutuk itu?"
"Siapa lagi kalau bukan penguasa tunggal Puri
Gerbang Surgawi, yang namanya menjadi nama
kekasihmu itu!"
Terbelalak mata Suto seketika itu. Tertegun ia sampai
beberapa saat lamanya. Sama sekali tak menyangka
bahwa Dyah Sariningrum itu adalah penguasa sebuah
negeri, yang menjadi guru dari Peramal Pikun. Hampir-
hampir Pendekar Mabuk tidak mempercayai kata-kata si
Peramal Pikun.
Kembali setelah hening tercipta beberapa helaan
napas, Peramal Pikun melanjutkan ceritanya,
"Aku terancam kutukan itu, tak boleh mendengar
nama guruku dan tak boleh menyebut nama Nyai Guru.
Jika aku mendengar nama guruku disebut orang, maka
telingaku akan luka, dan jika aku menyebutkan nama
guruku, maka jalur kutukan itu akan bekerja dalam
diriku dan menancapkan jalur kematian yang akan tiba
pada saat bulan terang purnama! Itulah hukum kekal
untuk murid sesat seperti aku ini, Suto! Sekali pun aku
menyesali tindakan masa mudaku, tapi tetap saja aku
dibayang-bayangi kutuk yang mematikan!"
"Hebat sekali!"
"Aku akan mati, mengapa kau katakan hebat?!"
"Yang kumaksud hebat adalah ilmu kutukannya."
"Kuharap kau bisa menolongku, Suto. Karena setingi-
tingginya ilmu Nyai guruku, dia masih tunduk dan takut
kepada gurumu, si Gila Tuak!"
"Jadi, menurutmu guruku mengenal dia?"
"Kurasa mengenalnya! Nyai Guru itu adalah orang
yang dikenal sebagai Mahkota Sejati, karena sampai saat
ini, walau usianya sudah menyamai si Gila Tuak,
gurumu, tapi ia masih sebagai perawan suci yang belum
pernah ternoda oleh cinta dan birahi lelaki siapa pun
juga!'
"Ooh...?!" Pendekar Mabuk menggumam kagum,
jatungnya berdetak-detak bagai ingin melompat keluar
dari rongga dada. Rasa bangga dan rindu bergumul
menjadi satu, membuat hati Suto gemetar.
"Kalau kau ingin tahu lebih banyak tentang Nyai
Guru, tanyakanlah kepada Dewa Racun."
"Apakah Dewa Racun benar-benar tahu banyak
tentang penguasa negeri Puri Gerbang Surgawi itu?"
"Jelas banyak tahu, karena dia adalah orang ketujuh
kepercayaan Nyai Guru!"
"Hahh...?! Jadi dia orang dari Puri Gerbang
Surgawi?!"
"Benar. Apakah dia tidak bilang begitu padamu?"
"Tidak!"
"Dasar Dewa gila! Terlalu rapat ia menyembunyikan
ilmunya, terlalu rendah ia menundukkan dirinya. Tapi
memang begitulah ajaran dari Nyai Guru, agar setiap
murid menjadi padi, semakin berisi semakin menunduk
kepada siapa pun!"
"Lalu, untuk apa dia datang kemari menemuimu?"
"Mencari kamu," jawab Peramal Pikun.
"Mencari aku, untuk mengobatimu?"
"Tidak! Hanya kebetulan saja sewaktu aku
menjelaskan tentang dirimu, aku tak sadar telah
menyebutkan nama Nyai Guru, lalu aku jatuh sakit
seperti ini. Tapi tujuannya datang padaku adalah
menanyakan tentang kamu. Dia mendapat tugas dari
Nyai Guru untuk membawa pulang seseorang yang
bernama Suto, murid si Gila Tuak."
"Memang gila dia itu!" geram Suto. "Dia tak pernah
bilang apa-apa padaku soal itu!"
"Temuilah dia dan bicaralah apa saja yang ingin kau
bicarakan kepada Dewa Racun itu! Tapi terlebih dulu,
tolonglah aku. Selamatkan aku dari ilmu 'Rentang
Kutuk' ini, Suto!"
"Apakah kau masih ingin hidup dalam usiamu setua
ini?!"
"Masih," jawab Peramal Pikun dengan sedikit
dongkol. "Aku ingin mati sebagai ksatria! Aku ingin
mati dipertarungan, bukan mati karena kutukan!"
"Tegar sekali pendirianmu, Peramal Pikun. Jika
memang begitu kemauanmu, aku akan mencoba
menyembuhkanmu!"
Sementara Suto melakukan penyembuhan terhadap
diri Peramal Pikun, di luar pondok itu Dewa Racun
mencoba memancing ikan untuk santapan nanti. Ia
memancing ikan bukan dengan kail maupun pancingan
bila, melainkan menggunakan sehelai daun ilalang. Daun
ilalang itu dibelah menjadi dua pada tiap sisi kanan-
kirinya, tinggal bagian tengahnya yang keras, tapi di tiap
sisa daun kanan-kiri itu tidak dihabiskan belahannya.
Helai daun di kanan-kiri itu diselipkan di antara jari
telunjuk dan jari tengah, sisanya yang keras ada di atas
telunjuk, lalu dengan satu kali tarikan, bagian tengah
ilalang itu melesat bagai dipanahkan dari dua jari.
Slaattt...! Jeebbb...!
Ilalang itu menancap pada tubuh seekor ikan, yang
segera menggelepar-gelepar. Dewa Racun segera
mengangkatnya dari kedalaman air. Ikan itu ditumpuk di
salah satu tempat berbatu, lalu ia kembali mengambil
daun ilalang untuk dipanahkan pada ikan-ikan lainnya.
Jika bukan disertai kekuatan tenaga dalam yang
cukup tinggi, tak mungkin daun ilalang itu bisa sekeras
dan setajam jarum baja. Tak mungkin pula gerakan
panah daun ilalang itu sama cepat dan tajamnya dengan
panah biasa. Alhasil, setiap ikan yang dikumpulkan
mempunyai sisa daun ilalang yang menancap di tubuh
ikan, kadang tembus kadang hanya sebagian saja yang
terbenam di daging ikan.
Dewa Racun segera mengumpulkan kayu kering.
Salah satu ranting kering digosokkan pada salah satu
anak panahnya. Srettt...! Dan memerciklah bunga api,
lalu menyala. Dewa Racun membakar ikan-ikan tersebut
di depan batang kayu tumbang yang tak seberapa jauh
dari pondok persinggahan Peramal Pikun.
Bau sedap ikan bakar membuat hidung Pendekar
Mabuk kembang kempis, kemudian ia segera bergegas
keluar dari pondok, ia dekati Dewa Racun dari arah
belakang secara diam-diam. Pendekar Mabuk ingin
menjajal ilmu orang kerdil itu. Lalu, dengan serta-merta
Suto menendang punggung si orang kerdil itu. Wuuttt...!
Plasss...!
Tendangan itu mengenai tempat kosong, karena kejap
berikutnya Dewa Racun ternyata sudah pindah tempat
duduknya di seberang tempat duduk semula, ia tetap
tekun membakar ikan-ikan itu tanpa merasa terganggu
oleh kedatangan Suto. Sementara, Suto sempat terkesiap
sebentar melihat gerakan pindah Dewa Racun yang
begitu cepat, bagaikan menghilang dalam sekejap.
"Boleh, boleh...," Suto manggut-manggut sambil
membatin, "Tinggi juga ilmunya jika begitu. Kurasa dia
memang orangnya Dyah Sariningrum yang tak pernah
mau sombongkan diri di depanku."
Sambil mengamati ikan yang habis dibaliknya dari
pembakaran, Dewa Racun bicara pada Suto tanpa
memperhatikan Suto,
"Bagaimana sakitnya temanku itu? Bisa kau atasi?"
"Dia sedang tidur."
"Tidur...?!" Dewa Racun memandang Suto dengan
dahi berkerut.
"Ya. Mengapa?"
"Orang yang terkena Ilmu 'Rentang Kutuk' tak akan
bisa tidur, kecuali jalur kutukan yang berwarna merah
belum tampak di kulit perutnya! Jika jalur merah itu
sudah kelihatan dari pusar menggaris sampai ke leher,
orang itu tidak akan bisa tidur sedikit pun!"
Pendekar Mabuk tersenyum sambil mengambil satu|
ekor ikan yang sudah matang, lalu ia berkata dengan
santai,
"Nyatanya sekarang Peramal Pikun sudah tertidur."
"Berarti kau berhasil membuat pengaruh kutukan
menjadi tawar, Suto?!"
"Mungkin saja!" jawab Suto sambil mengunyah ikan
bakar.
Sejenak dipandanginya Suto, lalu bergumam mulut
Dewa Racun seperti bicara pada dirinya sendiri,
"Belum pernah ada orang yang bisa menawarkan
pengaruh kutukan Nyai Guru itu!"
"Nyai Guru siapa?" tanya Suto sambil lalu, sepertinya
tidak tertarik dengan sebutan 'Nyai Guru' itu.
Dewa Racun menjelaskan sambil tetap mengerjakan
kesibukannya, bahkan kini ikut-ikutan melahap ikan
bakarnya,
"Menurut penjelasan Peramal Pikun, sebelum ia
terjebak ilmu 'Rentang Kutuk' kemarin, kau sedang
mencari-cari kekasihmu yang bernama Dyah
Sariningrum. Apakah benar begitu, Suto?"
"Kalau benar mau apa?"
"Dyah Sariningrum adalah guruku, juga termasuk
gurunya Peramal Pikun itu!"
"Penjelasanmu terlambat!" kata Suto acuh tak acuh,
karena merasa jengkel atas sikap bungkamnya Dewa
Racun sejak diperjalanan tadi. Kenapa baru sekarang ia
mau jelaskan? Kenapa tidak di perjalanan tadi? Itulah
yang bikin Suto ingin membalas kejengkelannya.
"Nyai Gusti Dyah Sariningrum mengutusku untuk
mengajukan dua pilihan kepadamu kau mau datang
kesana atau tidak!"
"Kalau aku bilang tidak mau datang menghadapnya,
mau apa?"
"Aku pulang, tak boleh aku paksa dirimu."
"Kalau aku mau datang menghadapnya?"
"Aku antar kamu ke sana! Karena Nyai Gusti Dyah
Sariningrum memang ingin bertemu denganmu. Kau
sering hadir dalam mimpinya dan memanggil-manggil
namanya."
Suto tertawa kecil bersikap meremehkan, padahal
dalam hatinya ia berdebar-debar bahkan berjingkrak-
jingkrak kegirangan. Tapi toh dia mampu menahan
perasaannya yang jika diluapkan bisa menjadi seperti
anak kecil itu. Dan tiba-tiba ia berkata,
"Hei, mengapa kegagapanmu hilang? Kau lupa
bahwa kau bicara dengan gagap!"
Dengan tenang orang kerdil itu sunggingkan senyum
dan berkata,
"Sebelum kau datang dari dalam pondok, sudah
kumakan dua ekor ikan bakar kesukaanku ini!"
"Apa hubungannya dua ekor ikan bakar dengan
bicara gagapmu?"
"Jika mulutku sudah bau ikan bakar, walau secuil
saja, maka aku sudah bisa bicara dengan lancar. Tapi
jika aroma ikan bakar hilang dari mulutku, maka
kegagapan bicaraku timbul kembali."
"Kenapa bisa begitu?" tanya Pendekar Mabuk sambil
tertawa pelan.
"Entahlah," jawab Dewa Racun sambil sentakkan
pundak sekejap, lalu berkata lagi, "Mungkin memang
sudah kodratnya aku punya keanehan seperti ini."
Pendekar Mabuk geleng-gelengkan kepala sambil
tersenyum geli, merasa aneh dengan sifat orang kerdil
itu.
"Tentukan pilihanmu sekarang juga, Suto, agar aku
bisa bertindak secara pasti, mana yang harus
kulakukan!"
"Aku bersedia menghadap gurumu, tapi aku harus
menunggu lewat dari saat purnama tiba."
"Kenapa? Apakah kau akan memenuhi tantangan
lawanmu itu?"
Suto menggeleng. "Aku hanya ingin mengetahui
apakah pengobatanku berhasil atau tidak. Aku harus tahu
nasib Peramal Pikun setelah lewat dari saat purnama
nanti, apakah dia hidup atau mati!"
"O, ya. Aku paham," Dewa Racun manggut-manggut.
"Lalu, bagaimana dengan pertarungan di Bukit Jagal itu?
Apakah kau tetap akan menolak pertarungan itu?"
"Kurasa memang aku tak perlu melayani tantangan
Dirgo Mukti! Hanya buang-buang waktu dan tenaga
saja! Aku sendiri sebenarnya tidak berminat untuk
bertarung dengannya."
"Tapi menurut adat, seseorang yang tidak memenuhi
tantangan, namanya akan disepelekan dari dunia
persilatan! Kau dianggap kalah dan tidak jantan, Suto.
Orang yang telah mundur dari arena pertarungan
sebelum ia mencoba kalah atau menang, maka ia tak
berhak menggunakan gelar pendekar lagi!"
"Apakah begitu peraturan adat di rimba persilatan?!"
"Setahuku memang begitu!"
"Guruku tidak pernah mengatakannya begitu!"
"Guruku pernah bilang begitu!"
"Tapi gurumu dan guruku berbeda!"
"Terserah kamu," akhirnya Dewa Racun tak mau
berdebat lagi. Tapi Suto jadi merenungkan kata-kata
Dewa Racun.
Haruskah ia membuktikan kependekarannya melalui
pertarungan yang tanpa perkara besar itu? Hanya
masalah cinta dan melindungi kekasaran Dirgo Mukti
terhadap Peri Malam, haruskah Suto bertarung secara
tanding laga di Bukit Jagal? Bukankah sebenarnya Peri
Malam yang menciptakan pertarungan itu dengan
berlagak menjadi penterjemah bahasa Pendekar Mabuk?
Sedangkan Pendekar Mabuk sendiri sebenarnya tidak
bermaksud menyetujui tantangan pertarungan di Bukit
Jagal. Ini semua ulah Peri Malam, sehingga Suto merasa
terjebak dalam arena pertarungan yang menurutnya
dianggap pertarungan konyol. (Baca serial Pendekar
Mabuk dalam episode: "Darah Asmara Gila").
"Kalau kau tak mau muncul di pertarungan itu,
biarlah aku yang mewakilimu," kata Dewa Racun.
"Aneh kau ini. Kenapa kau selalu tampil sebagai
orang yang melindungiku? Kau hanya utusan nyai
gurumu itu. Kau bukan apa-apaku!"
"Karena perintah Nyai Gusti agar aku membawamu
datang padanya tanpa luka ataupun lecet sedikit pun!"
"Dia berpesan begitu?!"
"Ya."
"Apa lagi pesannya?"
"Hanya itu, dan hanya tangis yang sering mengalir
dari matanya yang indah itu."
"Tangis? Mengapa dia menangis?"
"Hasrat ingin bertemu denganmu sangat besar dan
menyiksa hatinya sepanjang hari. Ia tak sanggup
menahannya, lalu ia perintahkan aku untuk
menemuimu!"
"Kalau begitu, pulanglah sekarang juga ke Pulau
Serindu dan katakan padanya bahwa aku akan segera
datang setelah lewat purnama tiba itu!"
"Baik. Aku akan pulang. Tapi apakah kau tahu jalan
dan arah menuju Pulau Serindu?"
"Tidak!" jawab Suto Sinting polos dan tegas. Dewa
Racun tertawa sendiri.
*
* *
8
DEWA Racun tetap mengikuti Pendekar Mabuk
walau Pendekar Mabuk mengatakan akan pergi sebentar.
Orang kerdil ini agaknya memang berjiwa ngotot.
Semalam ia juga ngotot menyuruh Suto tidur di dalam
pondok bersama Peramal Pikun, sementara dia tidur di
luar pondok. Sekarang ia kembali ngotot dengan
bicaranya yang mulai gagap lagi karena mulutnya sudah
kehilangan aroma ikan bakar,
"Ak... aku harus ikut kamu ke... ke... ke mana pun
kau pergi!"
"Mengapa begitu? Kau bukan pengawalku. Aku
bukan buronanmu!"
"Pe... pe... perintah Nyai Gusti, aku harus menjaga
ke... ke...."
"Kepompong?!"
"Bukan! Keselamatanmu!" Dewa Racun terengah-
engah. Suto tersenyum menahan geli dalam hatinya.
Sebenarnya Suto hanya ingin menengok keadaan
gurunya di Jurang Lindu dan menengok keadaan Betari
Ayu yang ditinggalkannya dalam keadaan luka pukulan
dari Nagadipa. Untuk menemui Betari Ayu dan gurunya,
Suto tak enak hati jika harus dikawal oleh Dewa Racun.
Karenanya, Suto terpaksa menggunakan ilmu yang
bernama 'Seberang Raga', yaitu ilmu pemberian dari
Bidadari Jalang. Seonggok batu yang ada di pinggir
sungai tiba-tiba berubah wujud menjadi dirinya setelah
Pendekar Mabuk heningkan cipta secara diam-diam di
belakang pondok.
Dewa Racun tidak mengetahui Pendekar Mabuk
mempunyai ilmu siluman 'Seberang Raga', sehingga
ketika ia keluar dari pondok, ia langsung saja mendekati
Suto yang terlihat duduk merenung di pinggiran sungai.
Padahal saat itu juga Suto sudah melesat pergi jauh
menuju Jurang Lindu.
"Men... menurut... menurutku, jiwa Peramal Pikun
selamat dari bahaya 'Rentang Kutuk'. Ja... ja... jalur
merahnya telah hilang dan wa... wajahnya kelihatan
kembali segar se... sep... seperti semula!"
"Bagus," jawab Suto kalem, bahkan berkesan datar.
"Malam purnama be... be... besok, dia akan tetap
hidup. Ini satu per... per... peristiwa yang luar biasa bagi
orang-orang Puri Gerbang Surgawi. Nyai Gusti ak... ak...
akan senang dan ka... kagum jika mendengar ke... ke...
kesaktian ilmumu!"
Pendekar Mabuk masih diam merenung, tidak
memandang ke arah Dewa Racun. Diam-diam Dewa
Racun merasakan keanehan itu, tapi tidak terlalu
dihiraukan, berkata lagi kepada Pendekar Mabuk palsu,
"Tan... tanpa menunggu pur... purnama tiba, kita
sudah bisa berangkat ke... ke... ke Pulau Serindu. At...
atau kau mau layani tantangan di Bukit Ja... Jagal itu?"
"Ya."
"Ya, bagaimana maksudmu?"
"Bagus!"
"Bagus apa?"
"Ya."
Dewa Racun makin heran dan curiga. Mata Suto
memandang dengan datar sekali, sepertinya tidak punya
rasa apa pun. Dewa Racun mencoba menendang
pinggang Suto dengan sulu kali lompatan. Duug...!
Pendekar Mabuk diam saja. Tidak mengadakan
gerakan menangkis atau menghindar, tidak merasakan
sakit atau apa pun. Padahal tendangan itu cukup keras.
Menurut perkiraan Dewa Racun, orang akan
menyeringai kesakitan jika ditendang pinggangnya oleh
tendangan seperti itu.
Melihat Suto Sinting tidak ada perubahan apa-apa,
Dewa Racun semakin bertambah heran, ia kembali
berkata,
"Ma... mau... maukah kau bicara ke dalam pondok?"
"Ya."
"Mari kita bicarakan de... de... dengan Peramal
Pikun!"
"Bagus!"
Jawaban yang hanya 'ya' dan 'bagus' juga membuat
Dewa Racun kerutkan dahi. Semakin penasaran hatinya.
Bahkan ia pun membatin,
"Jangan-jangan orang ini bukan Suto?"
Dewa Racun segera mundur dua langkah. Tangannya
diangkat dengan gerakan pelan-pelan seperti orang
menari, dan tiba-tiba kedua tangan itu menghentak ke
depan. Wuuuttt...!
Memerciklah sinar putih ke arah Pendekar Mabuk
yang masih tetap duduk itu. Dewa Racun sendiri terkejut
melihat Pendekar Mabuk tidak memberi tangkisan
terhadap pukulan tenaga dalamnya, juga tidak
menghindar sedikit pun. Bahkan sempat timbul rasa
sesal di hati Dewa Racun.
Percikan sinar putih itu membuat tubuh Suto pecah
berasap dan berupa wujud aslinya, yaitu sebongkah batu
hitam sebesar ukuran orang duduk di tepi sungai. Dewa
Racun segera menggeram sambil hempaskan napas
kekesalan hatinya.
"Kurang ajar! Dia mengecohku!" geramnya dalam
hati. "Dia pasti telah pergi dan meninggalkan aku! Hebat
juga ilmu anak muda itu. Tak sia-sia aku diutus jauh-
jauh untuk membawanya menghadap Nyai Gusti. Pasti
Nyai Gusti sangat kagum kepadanya kalau kuceritakan
setinggi apa ilmu yang dimiliki Suto Sinting itu!
Hmmm... tapi tugasku adalah mendampingi dan menjaga
Pendekar Mabuk. Jika sekarang dia pergi, aku harus
segera mencarinya. Ke mana arah perginya? Kurasa aku
bisa bertanya kepada Peramal Pikun. Setidaknya
Peramal Pikun bisa kasih perkiraan arah yang dituju
Suto!"
Suto sendiri membayangkan wajah Dewa Racun yang
terkecoh. Suto tertawa sendiri saat mendekati Jurang
Lindu, di mana ada air terjun yang cukup tinggi dan
besar itu. Suto berkata dalam hati,
"Dewa Racun pasti akan mencak-mencak kalau dia
tahu orang yang disangkanya aku itu adalah seonggok
batu! Hi hi hi.... Pasti jika ia mengajak bicara orang yang
disangka aku itu, ia hanya akan menerima jawaban ya
dan bagus. Karena memang aku hanya menitipkan dua
kata itu dalam bayangan ragaku di sana! Mudah-
mudahan hal itu tidak membuat Dewa Racun mengamuk
berlarut-larut...!"
Suto segera melesat masuk menembus curah air
terjun. Dalam kejap berikut, Suto sudah berada di dalam
gua. Ternyata di sana si Gila Tuak masih belum
kelihatan. Yang ada hanya Betari Ayu dalam keadaan
sedang melakukan semadi.
"Ke mana perginya Guru? Sampai sekarang belum
datang juga?!" pikir Pendekar Mabuk sambil menunggu
Betari Ayu selesaikan semadinya, ia sempat mengisi
tuak ke dalam bumbungnya dari persediaan tuak di
dalam gentong besar. Setelah itu, ia mendengar suara
mendehem dari Nyai Betari Ayu, itu pertanda sang
Betari Ayu sudah selesaikan semadinya yang dilakukan
dengan berdiri satu kaki, dan hanya jempol kakinya yang
berpijak di tanah.
"Bagaimana keadaanmu, Nyai?" tanya Suto
mengawali percakapan.
"Sejak kemarin sudah terasa segar sekujur tubuh ku.
Tapi aku tak berani tinggalkan tempat ini."
"Kenapa?"
"Gurumu kasih wanti-wanti padaku agar jangan
tinggalkan tempat ini sebelum ada perintah darimu."
"O, kau sudah bertemu dengan guruku?"
"Ya. Sudah. Beliau tahu aku dalam perawatanmu."
"Hmm... lalu, ke mana beliau?"
"Pergi ke Lembah Badai untuk menemui Bidadari
Jalang, yang baru kutahu bahwa orang itu ternyata juga
gurumu."
Suto malu, tak berani tatap mata Nyai Betari Ayu.
Namun begitu, Pendekar Mabuk tetap berkata,
"Ya, memang sebagian ilmuku adalah pemberian
darinya. Tapi aku tak enak kepadamu jika aku jelaskan
bahwa aku adalah juga murid dari Bidadari Jalang. Aku
tahu kau punya dendam padanya. Aku takut jika
kukatakan bahwa aku murid Bidadari Jalang, kau jadi
bermusuhan denganku atau membenciku, Nyai!"
"Sudahlah, lupakan soal itu!" Betari Ayu agaknya
tidak mau mempermasalahkan lagi tentang Bidadari
Jalang. Suto Sinting pun tidak mau kembali ke
pembicaraan itu. Ia meneguk tuak, dan duduk di depan
Betari Ayu.
"Syukurlah jika kau sudah sehat. Kau tambah
kelihatan cantik, Nyai!" sambil tatapan mata Suto tertuju
lurus ke wajah Nyai. Yang ditatap tersipu malu, segera
palingkan wajah dan berkata,
"Jangan puji aku begitu, nanti aku makin tersiksa tak
kau rengkuh dalam hatimu, Suto."
Tawa Pendekar Mabuk berderai yang membuat Betari
Ayu kian tersipu malu. Maka cepat ia alihkan suasana itu
kepada pertanyaan mengenai lukanya.
"Siapa yang menyerangku dari belakang, Suto? Aku
tidak bisa merasakan datangnya hawa dari pukulan
melainkan tiba-tiba saja punggungku merasa seperti
tersengat."
"Pukulan itu memang sangat berbahaya."
"Siapa pelakunya?"
"Kurasa kau tak perlu tahu."
"Kenapa? Kau takut aku membalas dendam pada
pelakunya? O, tidak. Aku tidak akan membalas dendam,
Suto. Cukup banyak aku bicara dengan gurumu tentang
hakikat suatu kehidupan dan kematian. Bahkan aku
sudah sepakat untuk mengasingkan diri dan menjadi
seorang pertapa yang dibantu oleh gurumu, Ki Sabawana
itu."
"Kau ingin menjadi seorang pertapa?"
"Ya. Ki Sabawana mendukung rencanaku itu.
Gurumu banyak kasih saran padaku. Itulah sebabnya aku
tak ingin mengadakan pembalasan walau aku tahu siapa
penyerangku itu."
"Baiklah. Kau diserang oleh Putri Alam Baka!"
"Hmmm... berarti dugaanku memang benar."
"Tapi bukan dia pelakunya, melainkan suaminya!"
"Nagadipa?"
"Ya. Nagadipa pelakunya."
"Lalu kau mengejarnya?"
"Ya. Karena aku harus menuntut balas atas
kejahatannya terhadap dirimu. Aku tak bisa tinggal diam
melihat kamu dilukai, Nyai."
"Lalu... kau bunuh mereka?"
"Secara tak sengaja, Putri Alam Baka mati dan
Nagadipa terluka parah."
"Kau menggunakan napas Tuak Setan?"
"Dari mana kau tahu. Nyai?"
"Gurumu yang mengatakannya. Dia merasakan ada
badai aneh dan badai itu pasti datangnya dari napas Tuak
Setan-mu! Tapi beliau tahu kau menggunakannya secara
tidak sengaja."
Pendekar Mabuk diam berpikir tentang gurunya,
Ternyata segala kegiatannya selalu dipantau oleh sang
gurunya. Suto jadi riskan dan tak enak untuk berbuat
bebas, ia menjadi gelisah, dan kegelisahan itu dilihat
oleh Betari Ayu, kemudian Betari Ayu berkata,
"Bukan hanya si Gila Tuak yang memantau
kegiatanmu, Suto. Tapi aku pun banyak mengikuti
kegiatanmu dari sini, atau dari tempatku yang jauh.
Semua itu hanya sekadar menjaga kalau-kalau kau dalam
bahaya yang membutuhkan bantuan. Hanya hal-hal yang
bersifat berbahaya yang dipantau terus oleh gurumu."
"Apakah Guru juga membicarakan tentang
pertarunganku di Bukit Jagal, yang akan terjadi esok
malam?"
"Tidak. Apakah kau akan melakukan pertarungan?"
"Aku ditantang."
"Siapa yang menantang?"
"Dirgo Mukti."
"O...," Nyai Betari Ayu manggut-manggut. "Hati-hati
kau berurusan dengan Dirgo Mukti."
"Kenapa?" Suto jadi ingin tahu.
"Dia murid tunggalnya Pendekar Tanduk Dewa yang
bersemayam di Gunung Tujuh Batu. Pendekar Tanduk
Dewa adalah bekas suami dari penguasa Pulau Hantu
yang dikenal dengan nama si Mawar Hitam, orang ini
juga menyimpan dendam pada Bidadari Jalang, karena
merasa suaminya direbut oleh bibi gurumu itu!"
"O, pantas waktu itu Peri Malam dipesan oleh
gurunya, si Mawar Hitam, agar jangan membuat
perselisihan dengan Dirgo Mukti!"
"Mungkin karena Mawar Hitam tidak mau berurusan
dengan mantan suaminya, jika muridnya bentrok dengan
murid Pendekar Tanduk Dewa itu. Yang jelas, hati-
hatilah jika berhadapan dengan Dirgo Mukti. Pende kar
Tanduk Dewa bisa turun tangan kalau sampai muridnya
itu mati."
"Apakah Pendekar Tanduk Dewa berilmu tinggi?!"
"Ya. Tapi tidak lebih tinggi dari gurumu sendiri."
Suto Sinting manggut-manggut dan diam beberapa
saat. Setelah itu baru ia kembali bertanya,
"Apakah menurutmu sebuah tantangan tanding laga
harus dipenuhi, Nyai? Bagaimana jika aku tidak
memenuhi tantangan itu?"
"Apakah karena kata-kataku tadi kau jadi takut
dengan Dirgo Mukti, si Manusia Sontoloyo yang tak
jelas juntrungannya itu?",
"Bukan karena takut, tapi karena aku merasa
pertarungan itu bukan merupakan pertarungan yang
bermasalah penting, Nyai. Urusannya cuma sepele,
mengapa harus kulayani tantangan itu? Maksudku, aku
tidak ingin datang pada malam purnama nanti! Kalau
aku bisa membunuhnya, aku merasa menyesal, hanya
persoalan anak kecil saja sampai harus membunuhnya.
Apalagi kalau aku yang kalah, jelas sangat menyesal
tujuh turunan aku, Nyai!"
"Jika tak mau hadir, mengapa kau buat janji
pertarungan?"
"Aku terjebak. Bukan aku yang bikin janji, bukan aku
yang menjawab tantangannya, Nyai! Tapi Perawan
Sesat!"
Betari Ayu tarik napas panjang, ia bangkit dan
langkahkan kaki ke mulut gua. Ia memandang curahan
air terjun dari sana. Kemudian ia palingkan wajah dan
berkata kepada Suto,
"Sebagai seorang pendekar, kau harus penuhi
tantangan itu! Jika tidak, gelar pendekarmu akan
disepelekan oleh mereka yang mendengar
ketidakhadiranmu."
"Pertarungan ini sungguh pertarungan yang tidak
punya arti!"
"Walau begitu, kau tetap harus hadir. Toh bukan
berarti kau harus membunuh Dirgo Mukti. Cukup kau
beri pelajaran padanya, agar harga diri kependekaranmu
masih ada."
Seperti apa yang dikatakan Dewa Racun, rupanya
Pendekar Mabuk tetap tidak bisa menghindari
pertarungan dengan Dirgo Mukti. Ia harus menjaga
nama baik kependekarannya, agar dunia persilatan tidak
memandang rendah terhadap dirinya. Tapi menurut Suto
pertarungan itu bukan pertarungan demi membela
kehomatan, pertarungan itu tetap saja pertarungan
konyol yang harus dihadirinya.
Kalau saja ia tahu rencana di balik pertarungan itu, ia
semakin tidak mau melaksanakannya. Sayang sekali
Suto tidak tahu rencana tiga perempuan patah hati yang
ingin memanfaatkan pertarungan itu.
Tetapi niat licik dari tiga perempuan patah hati itu
tanpa disengaja didengar oleh Dewa Racun. Saat itu,
Dewa Racun sedang mengejar arah kepergian Suto. Di
perjalangan, ia berhenti karena melihat tiga kelebat
banyangan ke arahnya. Dewa Racun bergegas lompat ke
pohon berdaun rindang. Wuuttt...!
Ternyata, tiga perempuan cantik itu justru berhenti di
bawah pohon tempat persembunyian Dewa Racun.
Segera Dewa Racun menggunakan ilmu serap
napasnya, supaya hembusan napas tak bisa didengar oleh
orang yang berilmu tinggi di sekitarnya. Dan dari balik
kerimbunan pohon itu, Dewa Racun mendengar
percakapan Selendang Kubur, Peri Malam, dan Perawan
Sesat.
"Ke mana kita harus mencari Pendekar Mabuk? Sejak
kemarin kita tidak temukan dia."
''Apakah masih perlu kita mencarinya?"
"Nanti kalau dia tidak datang ke pertarungan di Bukit
Jagal, kita kehilangan kesempatan untuk menyerang
dia!"
"Kurasa dia tetap akan datang, walau sekadar
mengatakan penundaan pertarungannya. Dan saat itu kita
perdaya dia supaya tetap maju melawan Dirgo Mukti.
Aku nanti yang akan mempengaruhinya," kata
Selendang Kubur.
"Baiklah. Kita yakinkan diri saja bahwa dia akan
datang. Aku capek mencarinya ke mana-mana!" keluh
Peri Malam. "Yang jelas, kita harus bisa tetap bikin
Dirgo Mukti bersemangat melawan dia, dan
mendesaknya terus sampai Suto merasa kehabisan
tenaga. Walau nantinya Dirgo Mukti mati di tangan Suto
Sinting, tak jadi masalah. Tapi kita punya kesempatan
menggempur Pendekar Mabuk yang tenaganya sudah
banyak berkurang dari pertarungan itu!"
"Kurasa Dirgo Mukti sekarang sudah bersemangat
sekali, sebab kita sudah memberi janji-janji gombal,
bahwa kita bertiga bersedia menjadi istrinya jika dia
menang melawan Suto. Itu sudah merupakan iming
iming yang sangat berharga sekali buat Dirgo Mukti.
Setidaknya dia akan berjuang sekuat tenaga
mengalahkan Pendekar Mabuk!"
Dewa Racun mendengar semua percakapan itu.
Sampai mereka bertiga pergi, Dewa Racun masih
termangu-mangu di atas pohon tersebut. Dalam hatinya
ia berkata,
"Ternyata perempuan yang mengaku bernama
Perawan Sesat itu punya komplotan untuk membunuh
Suto dengan kelicikannya. Benar apa kata Suto,
pertarungan itu sebenarnya tidak punya arti apa-apa.
Hanya sebagai pertarungan konyol saja. Dan pertarungan
itu digunakan oleh ketiga perempuan tadi untuk mencari
kelemahan Pendekar Mabuk. Hmm... sebuah
pertarungan konyol ada baiknya dibuat semakin konyol
saja!"
Menurut keterangan Peramal Pikun, Suto mempunyai
tempat persingahan di Jurang Lindu. Tetapi apakah Suto
ke sana atau tidak, Peramal Pikun tak bisa memastikan.
Petunjuk itu sudah cukup buat Dewa Racun, karena ia
punya arah tujuan dalam mencari Suto walau mungkin
nantinya tidak ditemukan. Tapi dari sanalah Dewa
Racun akan melacak terus ke mana perginya orang yang
harus dikawalnya itu.
Di pertengah jalan, Dewa Racun mulai mencium bau
tuak. Segera ia arahkan larinya ke pusat bau tuak itu.
Dan akhirnya ia temukan Pendekar Mabuk sedang
beristirahat di bawah pohon untuk menenggak tuaknya
dari dalam bumbung bambu.
Jleeg...!
Suto terkejut melihat Dewa Racun sudah berdiri
didepannya. Wajah Dewa Racun cemberut, Suto nyengir
tertawa ingat tipuannya. Pasti orang kerdil ini sudah
mengetahui tipuan di tepi sungai.
'Ku... ku... kurang ajar kau!" maki Dewa Racun yang
membuat Pendekar Mabuk tak bisa tahan tawanya lagi,
lalu meledak terbahak-bahak.
"Ka... ka... kalau tidak kuingat, aku harus
mengawalmu, sudah ku... ku... kurontokkan gigimu
dengan panahku ini!
"Maafkan aku, Dewa Racun! Aku memang senang
bercanda denganmu!"
"It... it... itu bukan bercanda, tapi ku... ku...."
"Kunang-kunang?"
"Bukan! Itu kurang ajar namanya! Kau sen... sendiri
akan dibuat bercanda dalam pertarunganmu nan... nan...
nanti!"
"Apa maksudmu?"
"Tig... tiga... tiga perempuan ingin ambil bagian
dalam pertarunganmu nan... nan... nanti! Satu
perempuan sudah pernah ku... kulihat, yaitu yang
rambutnya awut-awutan tempo hari."
"Tiga perempuan ambil bagian dalam pertarunganku
dengan Dirgo Mukti nanti?!"
"Bet... bet... bet...."
"Betot?!"
"Betul! Bukan betot!" Dewa Racun bersungut-sungut,
merasa jengkel jika omongannya diteruskan dengan kata
yang salah. Kemudian, ia segera jelaskan kepada Suto
apa yang didengarnya dari ketiga perempuan tadi.
Mendengar ciri-ciri ketiga perempuan itu, Pendekar
Mabuk bisa menduga mereka adalah Perawan Sesat,
Selendang Kubur, dan Peri Malam. Tapi Suto belum
tahu alasan ketiga perempuan itu, mengapa ingin
membunuhnya?
Dewa Racun berkata, "Ak... ak... aku jadi punya
rencana lain! Kau harus ha... ha...."
"Hamil?"
"Bukan! Kau harus ha... hadir dalam pertarungan itu!
Harus! Ka, ka, ka... kalau tidak mau, kau akan kupak...
pak... pak...."
"Kupakai?!"
"Kupaksa!" bentak Dewa Racun jengkel. "Kau akan
kupaksa untuk hadir. Karena aku punya rencana bagus
untuk tiga pe... perempuan itu!"
"Rencana apa?"
*
* *
9
MALAM bulan purnama, sungguh benderang sinar
rembulan menyorot ke bumi. Langit bersih,
memantulkan cahaya makin cerah. Puncak Bukit Jagal
tampak jelas tanpa pepohonan apa pun di sana. Bukit itu
adalah bukit yang tandus, yang biasa digunakan untuk
pertarungan tanding laga bagi para tokoh persilatan.
Bukit Jagal, terletak di sebuah pantai yang bertebing
curam. Sebagian lapisan tanah bawah adalah bebatuan
karang, sebagian di atasnya adalah cadas putih yang
keras. Sebuah pertarungan jika dipandang dari lautan
akan kelihatan sangat indah dan menawan, karena gerak
kedua orang yang bertarung akan terlihat jelas tanpa
penghalang sedikit pun.
Biasanya, orang yang mati dalam pertarungan di atas
Bukit Jagal, mayatnya akan langsung dibuang ke laut
yang ganas, bergelombang besar dan konon banyak
dihuni ikan-ikan buas. Mereka yang terlempar ke laut
dalam keadaan hidup-hidup pun tak akan bisa selamat
menghindari keganasan ombak dan ikan-ikannya. Tinggi
tebing dari puncak bukit sampai ke permukaan laut ada
lima puluh tombak. Itulah sebabnya orang yang jatuh
dari atas bukit tak akan bisa selamat dari ancaman maut
di kaki bukit, karena di sana juga ada karang-karang
runcing menunggu mangsanya. Di sela karang itu,
banyak tulang-tulang manusia yang berserakan terselip
di sana-sini. Tengkorak-tengkorak manusia tergeletak
tak beraturan, tanpa nama dan tanda-tanda semasa
hidupnya. Tak heran jika Bukit Jagal juga sering disebut
Kuburan Tanpa Nama.
Dalam siraman cahaya purnama, tampak sesosok
tubuh kekar berdiri di atas bukit gundul itu. Orang itu
didampingi tiga perempuan yang masing-masing
mempunyai gerak kelincahan tersendiri. Siapa lagi orang
bersenjata kapak dua mata itu kalau bukan Dirgo Mukti
yang menjuluki dirinya sebagai Manusia Sontoloyo.
"Aku sudah tidak sabar lagi menunggu
kehadirannya," kata Dirgo Mukti dengan kedua tangan
meremas-remas bagai melampiaskan kegelisahannya.
"Percayalah, dia pasti datang!" kata Peri Malam.
"Kalau beberapa saat lamanya dia tidak datang,
Selendang Kubur akan menyusul Suto ke tempat
gurunya, dan melaporkan kebodohan sang murid! Pasti
gurunya Pendekar Mabuk akan mengamuk dan mencari
muridnya yang menghadapi tantanganmu!"
"Kau harus menang, Dirgo!" kata Selendang Kubur
sambil mengusap-usap punggung Dirgo Mukti. "Kami
akan bersedih tiada habisnya jika kau kalah. Tapi jika
kau menang dan bisa membunuh Suto, kami akan
bersorak kegirangan, karena itu berarti kami bertiga
dengan senang hati menjadi istrimu, Dirgo!"
"Itulah semangatku!" kata Dirgo Mukti yang
kemudian disusul dengan tawa terbahak-bahak.
Perawan Sesat yang sejak tadi mondar-mandir,
memandang sekeliling bagai orang memeriksa keamanan
lingkungan, tiba-tiba berkata dengan suara seraknya,
"Seseorang sedang menuju kemari! Bersiaplah!"
Kedua mata teman sekongkolnya itu segera
lemparkan pandangan ke arah yang ditunjuk Perawan
Sesat. Peri Malam segera berkata,
"Itu dia! Dia telah datang!"
"Lantas bagaimana dengan kita?" Selendang Kubur
berdebar-debar.
"Kita... kita bersembunyi saja di balik batu itu!"
"Terlalu rendah ke lereng, nanti kita tidak bisa jelas
melihat pertarungan ini!"
Perawan Sesat cepat ucapkan kata tegas, "Kita tetap
di sini! Mengapa harus sembunyi? Justru kita tunggu
kesempatan baik untuk menyerang Pendekar Mabuk
pada saat ia tampak terdesak oleh Dirgo Mukti!"
"O, benar! Benar sekali pendapatmu!" Peri Malam
menepuk-nepuk pundak Perawan Sesat, namun tangan
Perawan Sesat cepat kibaskan tangan Peri Malam.
Agaknya ia tak suka ditepuk-tepuk begitu oleh orang
sejenisnya.
"Kurasa kalian tak perlu jauh-jauh. Diam saja di
pinggiran sana dan saksikan kemenanganku!" kata Dirgo
Mukti. "Akan kutumbangkan dia dalam dua jurus saja!"
"Tak perlu malu-malu menggunakan lebih dari
sepuluh jurus, yang penting kau bisa menang
melawannya, Dirgo Mukti!" kata Peri Malam.
Orang yang ditunggu datang. Pendekar Mabuk
muncul dengan badan terbungkuk-bungkuk, seperti
keberatan bumbung tuak yang disandang di
punggungnya. Peri Malam berbisik kepada Selendang
Kubur yang berdiri di samping kirinya.
"Dia dalam keadaan mabuk!''
"Bahaya! Justru dalam keadaan mabuk begitulah
ilmunya semakin tinggi," bisik Selendang Kubur.
"Diamlah!" hardik Perawan Sesat yang merasa
terganggu dengan kasak-kusuk mereka.
Pendekar Mabuk berwajah kaku saat itu. Tak ada
sapa dan senyum untuk ketiga perempuan yang sudah
dikenalnya. Bahkan Peri Malam sempat berbisik kepada
Perawan Sesat.
"Dia acuh tak acuh pada kita. Tak menyapa sedikit
pun!"
"Mungkin dia sudah tahu persekongkolan kita, atau
dia sedang memusatkan perhatiannya kepada Dirgo
Mukti!"
"Ssst...! Diamlah!" Selendang Kubur ganti
menghardik.
Terdengar suara Dirgo Mukti menyapa kasar kepada
Suto,
"Sudah siapkah kau menemui ajalmu, Suto?!"
"Sudah!" jawab Suto datar dan berkesan ketus.
"Kau siap menderita malu di depan tiga perempuan
ini?!"
"Sudah!"
"Bagus. Tapi sebelum kau menemui ajalmu,
barangkali kau punya pesan untuk ketiga perempuan
yang menjadi saksi pertarungan ini?"
"Tidak!"
"Kalau begitu, kita mulai saja pertarungan kita,
Suto!"
"Baik!"
Dirgo Mukti segera kembangkan tangannya.
Langsung saja di tangan kanannya sudah tergenggam
kapak bermata dua yang mempunyai ujung mata tombak
kecil. Tapi tidak secepat itu ia menggunakan senjata
tersebut, ia masih mencari celah baik untuk menyerang
Suto dengan pukulan jarak jauhnya. Ia bergerak pelan
mengelilingi Suto, sementara Suto sendiri hanya diam
sambil melirik dengan mata sayu yang tidak meyakinkan
sebagai mata seorang pendekar tangguh.
"Aih, gila! Semakin tampan saja dia!" pikir
Selendang Kubur. "Hatiku berdebar-debar digelitik
bayangan indah dalam cumbuannya. Oh, apakah
nantinya aku akan tega menyerang dia?"
Hati Perawan Sesat pun membatin, "Kurang ajar!
Semakin terkena cahaya rembulan, semakin
menggairahkan wajahnya. Aku jadi gundah
membayangkan cumbuannya. Oh, sepertinya aku tak
sampai hati jika harus menyerangnya!"
Peri Malam bahkan palingkan wajah, tak berani
menatap Pendekar Mabuk. Dalam hatinya ia membatin,
"Celaka kalau begini! Dia semakin memikat hatiku! Aku
terbayang saat dia menciumku di pantai. Oh, luar biasa
indahnya kala itu. Kakiku sekarang pun jadi gemetaran
membayangkannya. Lantas, bagaimana nanti jika aku
harus menyerangnya? Apakah aku bisa menyerang
seorang kekasih yang kucintai dan kurindukan itu?"
Sementara hati ketiga perempuan itu berkecamuk
sendiri-sendiri, Dirgo Mukti segera sentakkan tangan
kosongnya ke depan bagai mencakar perut harimau.
Wuuttt..!
Pendekar Mabuk melompat, namun terlambat.
Tubuhnya tersentak ke belakang dan berguling dua kali.
Lalu ia segera berdiri sambil menggeram. Ia bergerak
kembali, bersamaan dengan itu Dirgo pun bergerak
berkeliling. Langkah demi langkah ia perhatikan. Sedang
Suto masih tetap membungkuk-bungkuk dengan kedua
tangan lurus ke bawah dan menggantung, seakan
sewaktu-waktu siap melompat untuk menerkam
lawannya.
Dirgo Mukti segera jejakkan kakinya ke tanah,
tubuhnya pun cepat melesat terbang dalam satu putaran
salto ke depan.Wuuttt...!
Pendekar Mabuk mundur satu tindak. Di belakangnya
jurang maut. Suto bagaikan tidak menyadari hal itu.
Ketika Dirgo Mukti pijakkan kaki ke tanah di depan
Pendekar Mabuk dalam jarak empat langkah, cepat-cepat
ia sentakkan tangan kanannya ke depan, dan ujung kapak
yang dipegangnya itu melesat lepas dari tangkai. Ujung
kapak yang berupa mata tombak kecil itu mempunyai
nyala pijar api merah. Zuuittt...!
Pendekar Mabuk tak bisa mengelak kecepatan mata
tombak itu. Langsung mata tombak bergerak tanpa
ampun, menembus dada Suto. Jruub....! Tubuh Suto
seketika menjadi berasap. Sebelum tumbang dan hancur,
Dirgo Mukti segera lompatkan kaki dan memberi
tendangan samping yang cukup keras.
"Hiaaattt...!"
Beeg...! .
"Aaahg...!" Suto mengerang, tubuhnya terlempar ke
belakang dan jatuh ke jurang yang amat dalam itu. Suara
jeritannya menggema bagai memecah sepi di malam
purnama. Sementara itu, ujung kapak Dirgo Mukti yang
sudah kehilangan mata tombaknya itu kembali muncul
mata tombak baru. Creekk...!
Tetapi kapak itu hanya digenggamnya dengan hati
puas. Ia berseru geram,
"Mampuslah kau, Suto Sinting! Ternyata
kehebatanmu tak seperti apa yang digembar-gemborkan
tiap manusia!"
Segera Dirgo Mukti balikkan badan. Ia menatap
ketiga perempuan itu dengan senyum lebar dan tawa pun
terdengar berkumandang. Sedangkan ketiga perempuan
itu sama-sama terpaku tak bergerak di tempatnya. Mata
mereka tak berkedip sama sekali. Karena mereka
terpukau melihat kematian Suto yang begitu cepat dan
mudahnya dikalahkan oleh Dirgo Mukti.
"Celaka...!" bisik Peri Malam kepada kedua teman di
kanan-kirinya. "Dirgo Mukti menang melawan Pendekar
Mabuk! Ini berarti kita bertiga bakal menjadi istrinya!"
"Aku tidak sudi!" bisik Selendang Kubur dengan
tegang.
"Aku juga tidak bergairah dengan dia!" bisik Perawan
Sesat.
"Lantas bagaimana?"
"Kita serang saja dia! Bunuh!" geram Selendang
Kubur.
"Kalau begitu, biarlah aku yang maju melawannya!"
bisik Perawan Sesat dengan dada naik turun. Dalam
hatinya ia berkata,
"Bangsat si Dirgo Mukti ini! Dia telah membunuh
orang yang kuharapkan kemesraannya! Dia telah
menghancurkan gairahku! Dia harus kubunuh juga!"
Sedangkan Selendang Kubur berkata pula dalam
hatinya, "Aku tak rela! Sungguh tak rela Suto
ditumbangkan begitu saja! Aku harus membalas
kematian Suto, karena dialah yang telah menghilangkan
orang yang kucintai! Dia telah menghancurkan cintaku!
Jahanam kau, Dirgo Mukti!"
Mata perempuan bertahi lalat di sudut dagunya juga
menjadi nanar penuh kobaran api amarah. Peri Malam
berkata geram dalam hati,
"Orang ini benar-benar memuakkan! Akan kutebus
kematian Pendekar Mabuk dengan nyawanya! Akan
kubela orang yang kucintai itu, walau aku harus
korbankan nyawa dalam pertarungan ini!"
Dirgo Mukti melangkah dengan gagahnya mendekati
ketiga perempuan itu. Tawanya masih berkepanjangan
sambil ia serukan kata,
"Kalian sekarang menjadi istri-istriku! Harapan
kalian terkabul! Aku melihat sendiri mayat Pendekar
Mabuk tertancap bebatuan karang di bawah sana! Ha ha
ha...! Dekatlah kemari istri-istriku! Mari kita rayakan
kemenangan ini dengan sejuta kemesraan dan
kehangatan bercinta, ha ha ha...!"
Perawan Sesat maju dua tindak, tangannya siap untuk
melancarkan pukulan jarak jauhnya. Tapi kain selendang
putih telah lebih dulu berkelebat menghantam tubuh
Dirgo Mukti. Wuuugh...!
Selendang Kubur melepaskan pukulan tenaga
dalamnya menggunakan kibasan selendang putihnya.
Pukulan itu membuat Dirgo Mukti tersentak ke samping
dan oleng mencari keseimbangan.
"Hai...! Mengapa kalian menyerangku?!"
Wuuttt...! Perawan Sesat sentakkan tangan kirinya
dan sebuah pukulan tenaga dalam cukup tinggi tak dapat
dihindari Dirgo Mukti. Pukulan itu tepat mengenai dada
Dirgo Mukti. Beeegh...!
"Heegh...?!" Dirgo Mukti memekik tertahan.
Tubuhnya tersentak ke belakang, tiga langkah jauhnya.
Mulutnya mulai mengeluarkan darah. Tapi ia belum
jatuh, ia masih berdiri dengan terbungkuk-bungkuk. Ia
menarik gagang kapaknya, sreekkk...! Gagang itu
mengulurkan rantai, sehingga mata kapak bisa diputar-
putarkan di atas kepala.
"Jahanam kalian semua! Kalian ingkar janji! Kalian
hanya pergunakan aku untuk membunuh Suto!"
"Tak perlu banyak bicara, Dirgo Mukti! Kami
memang gunakan kamu sebagai alat! Tak satu pun dari
kami yang sudi menjadi istrimu!" sentak Peri Malam
yang segera melompat ke atas dan menghantamkan
pukulan jarak jauhnya.
Bangng...! Pukulan itu tertangkis oleh kibasan kapak
yang berputaran cepat di atas kepala. Memercikkan
cahaya merah menyala dalam sekejap. Lalu, tiba-tiba
kapak itu bagaikan terbang dalam ikatan rantainya yang
bisa mulur panjang. Wungng...! Sreekkk...!
Kalau saja kepala Perawan Sesat tidak segera
merunduk dan berguling di tanah, sudah pasti akan
terpenggal mata kapak itu. Juga kalau Selendang Kubur
yang berdiri sejajar dengan Perawan Sesat itu tidak
segera gulingkan badan ke tanah, lehernya akan putus
seketika karena ditebas kilasan kapak terbang itu.
Peri Malam yang berada tepat di garis lurus depan
Dirgo itu segera keluarkan sumpit bambunya dari
belahan dadanya yang montok itu. Lalu, ia tiupkan
napasnya melalui lubang sumpit yang panjangnya hanya
sejengkal. Slup...! Maka meluncurlah senjata andalannya
yang bernama Jarum Iblis itu ke arah Dirgo Mukti.
Crasss...! Duaarrr...!
Jarum Iblis tak berhasil menembus sasaran, karena
kapak Dirgo Mukti yang mengeluarkan bunyi dengung
berkumandang itu menangkis jarum tersebut.
Tangkisannya itu menimbulkan percikkan nyala api
bersama bunyi ledakan yang menggema.
Pada kesempatan lengah sedikit itu, Selendang Kubur
segera sabetkan selendangnya dengan satu hentakkan
kaki ke bumi. Jurus 'Selendang Petir' diganaskan. Dari
ujung kain selendang itu keluar percikkan api yang
mampu membakar lawan.
Craapp... craapp...!
Melihat datangnya bahaya dari samping, Dirgo Mukti
segera sentakkan kaki dan melenting di udara dengan
kapaknya tetap berputar membentengi dirinya.
Wuusss...! Sabetan 'Selendang Petir' hanya membuat
nyala api sekejap, menyambar tempat kosong.
Sementara itu, ujung kapak Dirgo Mukti keluarkan sinar
merah membara yang meluncur cepat ke arah Peri
Malam. Sinar merah membara itulah yang tadi
digunakan menghantam Suto.
Wuusssh...! Cepat sekali gerakan sinar merah
membara dari logam berbentuk mata tombak itu.
Sebelum mencapai tubuh Peri Malam, Perawan Sesat
cepat sentakkan tangan kanannya dan melesatlah sinar
kuning menghantam logam membara itu.
Duaarrr...!
Pecah logam membara itu tepat di atas kepala Peri
Malam. Dentumannya membuat tubuh Peri Malam
tersentak dan jatuh tersungkur. Tetapi ia segera bangkit
lagi dan dalam posisi duduk ia luncurkan Jarum Iblis di
kaki Dirgo Mukti. Slaappp...!
"Uuhf...!" Dirgo Mukti menahan rasa sakit yang
mengagetkan, karena begitu ia mendaratkan kakinya ke
tanah, jarum beracun itu telah menyambut betisnya
dengan empuk. Jruubb...!
Dua pasang mata yang memperhatikan pertarungan
tak imbang itu menjadi tegang. Dua pasang mata itu ada
di atas pohon, di lereng bukit agak ke bawah. Karena
posisinya ada di atas pohon, jadi kedua pasang mata
milik dua manusia itu dapat melihat dengan jelas
pertarungan tersebut.
"Dirgo Mukti bisa mati! Dia terdesak terus dan telah
berkena Jarum Iblis milik Peri Malam!"
"Jar... jar... jarum itu kulihat mempunyai serbuk
racun! Sangat ber... ber... berbahaya racun itu. Kedipan
serbuknya dapat tertangkap oleh mat... mata... mataku!"
"Kasihan Dirgo Mukti! Bagaimana kalau aku
membantunya, meleraikan pertarungan itu?"
"Jang... jang... jangan! Kkkau... kau sudah dianggap
mat... mati oleh mereka!"
Ya, Suto telah dianggap mati oleh tiga perempuan
patah hati. Tapi sebenarnya dia sedang menjadi
penonton pertarungan di atas Bukit Jagal itu bersama
Dewa Racun.
Ini semua gagasan Dewa Racun, si kerdil yang cerdik
itu. Ia berhasil menemukan seekor orang hutan. Ia cepat
jinakkan orang hutan itu. Lalu, ia suruh Suto
menggunakan ilmu 'Seberang Raga'-nya sehingga orang
hutan itu bisa menjadi wujud dirinya di mata orang-
orang yang ada di atas bukit tadi. Orang hutan yang
sudah berubah wujud Suto itu masuk arena pertarungan
dan tentu saja dengan mudahnya dikalahkan Dirgo
Mukti. Dengan begitu, Dirgo Mukti berhak menuntut
janji dari ketiga perempuan licik itu, dan ketiga
perempuan licik menjadi kebingungan, karena tidak
menyangka bahwa Dirgo Mukti benar-benar dapat
membunuh Pendekar Mabuk.
Pendekar Mabuk tertawa geli melihat tiga perempuan
licik itu berontak, tak mau ditagih janjinya oleh Dirgo
Mukti. Rupanya mereka benar-benar bernafsu untuk
membunuh Dirgo Mukti. Sehingga, walaupun keadaan
Dirgo Mukti sudah lemah dan parah, mereka masih terus
menyerangnya. Sampai akhirnya Dirgo Mukti
tersungkur jatuh dengan luka dalam dan luar, namun ia
masih bisa berlutut dan mencoba berdiri lagi.
"Habislah nyawamu sekarang juga, Jahanam!" geram
Perawan Sesat sambil lancarkan pukulan pamungkasnya
yang amat berbahaya itu. Tapi tiba-tiba kilatan cahaya
merah dari tangan Perawan Sesat tersentak ke samping,
didorong oleh kilatan cahaya hijau yang datang secara
tiba-tiba.
Glegaaar...!
Tabrakan cahaya bertenaga dalam tinggi itu membuat
bukit bagaikan mau rubuh. Dentumannya mengguncang
bumi, membuat ketiga tubuh perempuan itu terpental
berlainan arah. Jatuh telentang dengan erangan yang
lirih. Ketiganya cepat berusaha untuk bangkit kembali.
"Hi hi hi hi...!" terdengar suara tawa mirip kuntilanak
yang berdiri di depan mereka bertiga. Suara itu berasal
dari seorang nenek berjubah biru lusuh, pakaiannya
serba abu-abu. Badannya agak bungkuk, rambutnya
digulung naik, berwarna abu-abu juga. Di pinggangnya
terselip tengkorak kambing bergagang tulang ikan
berukuran antara dua jengkal.
Peri Malam tak asing lagi dengan wajah bermata
cekung angker itu. Karena dulu ia pernah menjadi murid
nenek keriput bergigi ompong dan tak bisa menyebutkan
huruf 'r'.
"Guru,..?!"
"Hei, jangan sebut aku gulumu lagi, Peli Malam!"
kata nenek angker yang dikenal dengan nama Mawar
Hitam dari Pulau Hantu itu. "Kamu sudah bukan lagi
mulidku! Kamu sesat, dan perlu kuhajal juga lupanya!"
"Tunggu!" sentak Perawan Sesat ketika Mawar Hitam
ingin menghantamkan pukulan jarak jauhnya. "Apa
urusanmu ikut campur pertarungan kami ini, Nenek
Peot!"
"Aku memang cali-cali anak muda ini! Dia punya
kesaktian cukup lumayan buat kuselap, sama dengan
kesaktian gulumu si Nyai Lembah Asmara itu! Aku akan
jadi olang yang paling tinggi ilmunya setelah kuselap
banyak ilmu dali olang-olang yang kuselamatkan dali
peltalungan!"
Wuttt...! Dengan sekali sentak kaki, tubuh Dirgo
Mukti sudah melesat sendiri dan jatuh di pundak Mawar
Hitam. Badannya yang bungkuk semakin bungkuk lagi
menggendong tubuh Dirgo Mukti yang sudah nyaris
mati itu.
"Akan kau bawa ke mana dia? Kami harus
membunuhnya lebih dulu, baru kamu boleh membawa
mayatnya pergi!" sentak Selendang Kubur.
"Benar, Guru!" sahut Peri Malam yang sudah terbiasa
memanggil 'guru' kepada Mawar Hitam. "Kami harus
hancurkan Dirgo Mukti, karena dia telah membunuh
Suto!"
"Hik hik hik hik...! Pendekal Mabuk belum mati! Dia
masih sembunyi! Kalian telah dikecohkan oleh Pendekal
Mabuk! Hi hi hi hi...! Kalian tidak akan sanggup
melawan Suto, kalena Suto itu adalah lawanku! Aku
halus tebus kekalahanku dalam lebutan Pusaka Tuak
Setan, setelah aku tebus kekalahanku tempo hali, aku
halus bunuh gulunya yang belnama Bidadali Jalang!
Tapi itu lanti, kalau aku sudah selap banyak ilmu dali
olang-olang bodoh macam Dilgo Mukti ini! Hik hik
hik...!"
Mawar Hitam bergerak mau tinggalkan tempat. Tapi
Perawan Sesat cepat lompat dan hadang langkah Mawar
Hitam. Dengan berani ia menyentak Mawar Hitam.
"Tinggalkan manusia itu di sini!"
"Ah, kamu mau cali-cali mati lupanya?"
Mawar Hitam segera kibaskan tangannya bagai
menyambar nyamuk. Wuuttt...! Tepat pada saat itu sinar
merah berbentuk bulat seperti bola kecil itu melesat dari
siku Mawar Hitam, melesat ke dada Perawan Sesat.
Kejap berikut, Dewa Racun lepaskan anak panahnya
dari atas pohon. Wuuttt....! Panah itu meluncur bagai
kilat menyambar bola merah.
Blaarrr...!
Tubuh Mawar Hitam tersentak mundur karena
hempasan angin dari ledakan bola merahnya itu.
Perawan Sesat terpentang dan nyaris jatuh ke jurang
dalam itu.
Ledakan itu menimbulkan hentakkan gelombang
yang cukup besar. Mawar Hitam sendiri segera berpaling
ke arah datangnya anak panah tadi.
"Kulang ajal...!" geramnya dengan beringas. Slapp...!
Tiba-tiba tubuh Pendekar Mabuk sudah berada di
samping Mawar Hitam dalam satu lompatan
berkecepatan tinggi sekali itu. Pendekar Mabuk
langsung berkata,
"Kalau kau mau hadapi aku, sekaranglah kita
tentukan pertarungan kita di sini, Mawar Hitam!"
Yang terkejut bukan hanya Mawar Hitam, tapi ketiga
perempuan itu sama-sama tersentak kaget dan mundur
dalam jarak tertentu.
"Dia masih hidup!" bisik Selendang Kubur kepada
Peri Malam. Tapi yang diajak bicara hanya terbengong.
Perawan Sesat juga hanya berdiri mematung tak
berkedip.
"Suto, saatnya belum tiba untuk peltalungan kita!
Tunggu bebelapa waktu lagi! Akan kuhanculkan kamu
sampai selembut selbuk tepung! Jangan sangka aku tidak
bisa ungguli ilmumu, Suto!"
"Telselah kamu!" tak sadar Pendekar Mabuk ikut
cadel bicaranya, namun buru-buru ia perbaiki lagi,
"Terserah kamu, Mawar Hitam! Kapan saja kau
menghendaki pertarungan kita, aku siap menunggumu!"
"Tunggu saatnya!" dan tiba-tiba, Mawar Hitam
seperti membanting sesuatu. Wuugh...! Asap mengepul
tebal dari sebuah letupan. Asap itu menipis, Mawar
Hitam ternyata sudah hilang dari pandangan bersama
tubuh Dirgo Mukti.
"Ada yang masih bernafsu membunuhku?!" tantang
Pendekar Mabuk kepada ketiga perempuan itu. Tapi tak
satu pun menyahut, tak satu pun bergerak. Bahkan ketika
Suto tertawa sambil tinggalkan tempat itu, mereka hanya
bisa mengikuti dengan pandangan mata bengong.
Dewa Racun datang menyambut langkah Suto. Orang
kerdil itu tersenyum-senyum sambil berkata,
"Kkku... kurasa sudah tidak adalah masalah dengan
Bukit Jagal ini, Suto. Kit... kkkit... kita langsung saja
pergi ke sana!"
"Baik! Aku sependapat denganmu, Dewa Racun!"
"Nyai Gusti pas... pass... pasti akan sen... sen... sen..."
"Seneb?!"
"Bukan! Akan sen... senang menerima
kedatanganmu. Nyai Gusti pasti sudah tidak sabar men...
men... men...."
"Menungging?"
"Menunggumu! Bukan menungging!" sentak Dewa
Racun yang segera ditertawakan oleh Suto.
Langkah kaki Suto begitu cepat, seiring dengan
langkah kaki Dewa Racun. Dalam kejap berikut
Pendekar Mabuk dan Dewa Racun sudah sama-sama
menghilang dari pandangan tiga perempuan salah
tingkah itu.
"Hei, mengapa kita tidak membunuhnya? Suto sudah
ada di depan kita!" kata Peri Malam.
Selendang Kubur berkata. "Adakah dari kita yang
tega membunuhnya?"
Tak satu pun ada yang menjawab dari mulut mereka.
Semua diam, bingung, dan hanya bisa saling pandang
satu dengan yang lainnya.
SELESAI
PENDEKAR MABUK
Ikuti kisah selanjutnya!!!
serial Pendekar Mabuk
Suto Sinting
dalam episode :
UTUSAN SILUMAN TUJUH NYAWA
0 komentar:
Posting Komentar